Kamis, 10 Januari 2013

Mengenalkan Anak Tentang Bahaya

Waktu Chi posting tentang main lempar pisau ternyata ada beberapa teman blogger yang berkomentar kalo permainan itu mengerikan.. Sekarang Chi mau coba posting mengenalkan anak tentang bahaya.. Karena Chi menulis ini berdasarkan pandangan Chi sebagai orang tua Keke dan Nai dengan melihat karakter Keke dan Nai, jadi bisa aja pendapat Chi ini gak selalu cocok untuk anak-anak lain.. Semuanya kembali ke kebijakan masing-masing.. Disini Chi hanya ingin berbagi pengalaman aja :)

Membuka kembali postingan lama di 2008 yang berjudul Fun Cooking, Chi menulis seperti ini..
"Gak salahnya kok mereka pegang benda tajam. Karena semua benda tajam itu bisa bersahabat asal penggunaannya tepat. Dan yang penting jangan pernah bosen untuk selalu mengingatkan & mengawasi."
Di postingan itu Chi juga menulis untuk TIDAK MENCIPTAKAN KETAKUTAN. Karena di sana tidak di tulis alasannya jadi Chi mau tulis di sini kenapa sebaiknya tidak menciptakan ketakutan.. Alasannya adalah kalo sering menciptakan ketakutan, misalnya "hiii jangan pegang pisau serem nanti berdarah", "hiii.. jangan pegang gelas beling nanti kamu jatuh trus luka", Chi khawatir anak-anak malah jadi penakut bahkan takut untuk hal-hal yang seharusnya gak perlu di takutin..

Tapi pada dasarnya anak-anak itu kan rasa ingin tahunya tinggi. Seringkali walopun udah di takutin mereka tetep penasaran, malah bisa jadi tambah penasaran. Yang sangat di khawatirkan kalo mereka mencoba menjawab rasa penasarannya sendiri karena kalo minta tolong orang tuanya pasti bakal dilarang. Mencoba sendiri justru jauh lebih berbahaya. Makanya buat Chi lebih baik mengenalkan kepada mereka berikut resikonya biar mereka tau..

Di postingan main lempar pisau Chi menulis di poin no 4..
Sudah bisa menyadari kalo ini termasuk PERMAINAN BERBAHAYA. Sudah mengerti resikonya..
Untuk membuat mereka sadar tentu aja harus di lakukan komunikasi terus menerus.. Komunikasi gak melulu bicara tentang nasihat, tapi bisa juga dengan cara berdiskusi bahkan dengan menggunakan media seperti buku cerita misalnya..

Di sini Chi coba mau bikin beberapa kejadian yang pernah di alami. Karena ini ada kaitannya dengan pisau jadi Chi cerita yang berhubungan sama pisau aja ya..

Kejadian #1 - Mengenalkan pisau kepada Keke dan Nai

Keke sudah Chi bolehin pegang pisau tajam sejak berumur 2 tahunan. Sedangkan Nai baru-baru aja, ketika dia berumur 6 tahun. Melihat perbedaan antara mereka berdua cukup jauh ya.. Tapi kalo melihat tulisan poin #4 yang Chi kutip memang kembali kepada kesiapan anak..

Keke itu anak yang selalu berhati-hati. Dia harus yakin dulu untuk melakukan sesuatu sendiri.. Berbeda dengan Nai yang penting action dulu, resiko urusan belakangan :p Makanya walopun Nai juga udah di kenalin sama pisau sedini mungkin tapi tetep aja Chi baru berani melepas setelah dia berumur sekitar 6 tahun..

Pengertian melepas disini bukan berarti mereka bebas megang pisau sendirian. Chi tetep mendampingi, hanya saja Chi udah gak pegangin tangan mereka tapi cukup ngawasin aja..

Kejadian #2 - Di usia berapa anak-anak siap?

Gak ada rumus bakunya kalo kata Chi... Kapanpun anak bisa siap kalo memang mereka sudah siap.. Seperti kejadian #1, usia kesiapan Keke dan Nai memegang pisau aja berbeda-beda..

Ada temen yang terheran-heran melihat Keke dan Nai suka nonton Tom and Jerry. Temen Chi ini awalnya gak pernah kasih ijin anaknya nonton kartun itu karena kawatir anaknya akan suka berantem dan kekerasan.

Disini Chi berbeda pendapat. Chi merasa kalo Chi dan K'Aie dari kecil juga suka Tom and Jerry tapi gak suka sama yang namanya kekerasan. Kami pikir kalo kami aja bisa kenapa anak-anak enggak? Cara yang kami lakukan adalah terus mengajak berkomunikasi. Ingatkan terus apa yang mereka tonton itu hanya tontonan, jangan di praktekkan. Sejauh ini sih anak-anak bisa mengerti dan gak ada yang aneh-aneh..

Suatu hari anaknya temen Chi ini nonton Tom and Jerry, dan temen Chi tau kok.. O'ya usia anak ini seumuran sama Keke.. Ketika si anak ngambek, dia ambil pisau dapur untuk di lempar! Ketika di hukum dikamar, ternyata si anak melempar kaca rias ibunya sampai pecah dan tangannya berdarah-darah. Akhirnya si anak di larang keras nonton Tom and Jerry..

Masalahnya si anak pernah cerita ke Keke kalo dia pas ibunya kerja diem-diem masih suka nonton Tom and Jerry. Di televisi ada kartunnya trus buka internet juga bisa.. Dan si anak kalo di tanya sama ibunya gak ngaku.. Artinya dia berbohong..

Seperti yang Chi tulis di atas, itu yang paling di kawatirkan.. Larangannya orang tua pasti maksudnya baik, tapi kalo terlalu melarang tanpa adanya komunikasi bisa-bisa si anak nanti cari trik-trik di belakang kita..

Walopun begitu sekali lagi kembali ke kondisi keluarga masing-masing ya.. Setiap orang tua pasti mengenal anak-anaknya. Dan tau bagaimana untuk bersikap :)

Mengenalkan anak tentang bahaya

Cara Chi mengenalkan Keke dan Nai tentang bahaya itu seperti ini :

1. Mengenalkan apa itu bahaya, termasuk benda-benda yang "berlabel" benda berbahaya
2. Mengenalkan bagian-bagian dari benda-benda yang berbahaya. Misalnya ketika memegang pisau, Chi mengenalkan bagian mana yang tajam dan yang tidak
3. Mengenalkan fungsi dan cara menggunakan. Benda yang berbahaya pun mempunyai fungsi. Pisau misalnya, Chi kasih tau ke mereka apa fungsinya pisau. Kapan mereka boleh menggunakan pisau. Dan bagaimana cara megang yang benar..
4. Mengenalkan pada rasa sakit. Tentu aja bukan berarti Chi sengaja mengiris bagian tubuh mereka dengan pisau supaya mereka tau apa itu rasa sakit. Anak-anak pasti pernah merasakan luka, misalnya karena jatuh. Mereka paham rasanya itu sakit. Nah di situ bisa di jelaskan kalo terkena pisau juga bisa terluka dan sakit. Bahkan mereka pun pernah terkena irisan pisau, tapi Chi dan K'Aie gak malah jadi mengajarkan mereka untuk kapok dengan melarang-melarang. Ketika mereka terluka, kami minta mereka untuk belajar lebih berhati-hati. Dan JANGAN PERNAH juga menyalahkan benda-benda ketika anak-anak terluka. Misalnya dengan bilang "pisaunya nakal ya.. nanti bunda buang pisaunya". Hal seperti hanya membuat anak belajar menyalahi pihak lain dan mereka tidak belajar lebih hati-hati karena kelalaian mereka..

Di poin #1 di postingan main lempar pisau, Chi juga menulis HARUS di dampingin orang dewasa. Yang mau Chi tambahkan disini adalah orang dewasa yang MENGERTI permainan itu. Karena Chi juga orang dewasa tapi karena Chi gak ngerti tentu aja Chi gak mau duluan memperkenalkan..

Yang ngenalin itu HARUS mereka yang mengerti. Bisa kasih tau anak-anak bagaimana caranya, mulai dari memegang sampai melempar. Biar gak asal megang dan gak asal lempar. Tempat yang di cari juga tempat yang aman. Misalnya bukan di tempat yang banyak orang bersliweran.. Pokoknya di buat seaman mungkin dengan tujuan meminimalkan resiko bagi diri sendiri ataupun orang lain.. 

Awalnya Nai di ajarin main lemparnya pake batu. Nai pun sempet main pake batu.. Tapi melempar pake batu walopun kecil dan tidak tajam seperti pisau pun kalo kita gak mengkomunikasikan dengan dia, bisa-bisa nanti main sembarangan juga. Tiap ada batu main lempar sana-sini.. Kuncinya sih memang di KOMUNIKASI selain pengawasan tentunya. Bikin mereka paham, jangan hanya sekedar nurut dan tau.. Dan itu harus dilakukan terus menerus apalagi mereka masih anak-anak, kadang yang udah gede sekalipun masih selalu di ingatkan :)

post signature

61 komentar:

  1. yub,bener bunda chi....terkadang hal yang berbahaya perlu kita informasikan ke anak2..bukan kita mengajari tapi memberi mereka pemahaman,pengertian,dan informasi tentunya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak.. apalagi anak2 itu rasa ingin tahunya tinggi dan seringkali mengabaikan arti keselamatan.. jd buat sebaiknya di kenalkan sekaligus mengajarkan mereka untuk paham

      Hapus
    2. Ya benar juga ya. Saya rasa anak anak juga perlu diperkenalkan dengan BAHAYA baik dalam permainan dan atau alat alat lainnya yang berpotensi mengundang bahaya. Sang Anak akan terbuka wawasan pengetahuannya, dan akan mawas diri karenanya. Salut dengan cara membimbing dan mendidik mba Myra terhadap anak anaknya. Kami mempelajari teknik ini dengan seksama.

      Hapus
    3. krn sy merasa anak2 itu rasa ingin tahunya besar trus blm lagi pecicilan kayak anak sy yg kedua.. hrs sering2 di ingatkan ttg bahaya drpd mereka cari tau sendiri..

      sama2 ya pak :)

      Hapus
  2. selalu dapat ilmu parenting yang bermanfaat dari mba chi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mbak.. sama2 belajar juga ya.. :)

      Hapus
  3. kedekatan orangtua pada anaknya sangat perlu agar sang orangtua tw apa yg dipikirkan anak.
    makasi inpohnya.. ^^d

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2.. setuju juga.. atau bisa juga kita mempunyai org yang bisa kita percaya untuk mengajarkan anak2 ttg hal ini :)

      Hapus
  4. jadi inget, kok pascal sama alvin gak punya mainan pistol ya, karena emaknya parno kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kl pistol2an yg kayak gitu saya gak mau kasih sama sekali :D

      Hapus
  5. sesuatu yang berbahaya memang perlu diketahui oleh sang anak, dan tentunya itu tergantung dengan daya tangkap dan pemahaman si anak, namun sebaiknya kita tidak mengajarkan tentang bahaya tersebut, biarkanlah naluri sang anak yang berbicara, orang tua cukup mengawasi dan mengarahkan saja...karena pada tubuh kita ada semacam gerakan refleks untuk melawan bahaya tersebut serta ada zat tertentu yang akan keluar saat kita terkena bahaya, dan konon kabarnya,,zat ini bisa membuat kita kecanduan, seperti hal yang dialami oleh penggemar olahraga extreme :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya baru tau ttg zat ini.. sy simpan infonya dan coba cari tau lebih dalam lagi.. thx ya pak..

      tp mnrt sy kalopun anak2 sy menjadi penggemar olahraga extreme gak ada salahnya juga selama semua rule ttg cara bermain dan ttg keselamatan buat dirinya dan org lain di patuhi.

      Hapus
  6. Nice writing, Mba Myra...dan tentu saja bermanfaat. Makasih ya Mba, aku juga sangt setuju dengan pendapat Mba tersebut secara keseluruhan...

    BalasHapus
  7. memang kudu gitu bu
    anak anak yang diamankan malah kadi ga peka terhadap potensi bahaya
    emangnya kita mau seumur umur ngejagain dia 24 jam kan engga
    pentingnya anak sekarang emang bisa dibilangin..?
    kalo belum kejeduk belum percaya kalo tebok itu keras
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kadang belajar dr oengalaman juga penting.. hehehe..

      Hapus
  8. waduh, sejak saya kecil juga, sudah takut banget dengan pistol mainan satu tuh. nyaring banget suaranya. bikin kaget.

    BalasHapus
  9. Anak teman saya kurang nilai keterampilannya saat sekolah di TK B. TErnyata karena tidak bisa menggunakan gunting. Teman saya memang tidak pernah memperkenalkan gunting pada anaknya. Boro2 pisau. Dapur saja dianggap sebagai zona berbahaya bagi si anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terlalu menakut2i juga bikin anak jd gak terampil ya..

      tp kembali ke kebijakan masing2 keluarga.. Sy gak tau bagaimana situasi keluarga temennya kakaakin. Cuma kl sy seorang pekerja trus anak sy sehari2nya hanya bersama PRT/baby sitter mungkin sy juga akan menetapkan beberapa zona berbahaya apalagi kl sy blm percaya bgt sm yg mengasuh anak2 sy..

      Hapus
  10. dulu waktu lebaran pasti beli pistol2an yang ada pelurunya buat tembak2an tapi dasar anak kecil nembaknya sembarangan bikin orang lewat pada ngomel semua :D

    BalasHapus
  11. Uraian yang bisa diambil ilmunya. Sbg org tua kita sering KELEPASAN dlm hal menakut2i anak. Kita sadar itu akan berdampak buruk tapi tanpa kita sadari kita melakukannya.
    Mmg kita hrs terus mengingatkan diri akan larangan2 yg malah berdampak anak menjadi berjiwa kerdil dan penakut.
    Suka sekali dgn tulisan mbak myra ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak.. kadang sy juga masih suka kelepasan sih.. Tp saling mengingatkan aja sm suami..

      sama2 ya mbak :)

      Hapus
  12. makasi bun Chy :) saya belum sampai ke sini nih si Bev masih 2 tahun. tapi betul bun Niken bilang, seringnya kita melarang anak, malah menakut nakutin. hiksss

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup jd org tua kadang sesekali harus introspeksi juga ya.. jangan2 maksud kita baik malah di salah artiin sama anak

      Hapus
  13. saya perbolehkan anak saya yang usianya masih 1 tahun gunting kecil. beberapa orang tua memang nggak boleh, karena bahaya katanya. saya pegangkan, sebentar, dengan pengawasan, lalu diambil lagi. bener kata mbak myra, anak kecil itu penasarannya tinggi. masa kita mau membunuh rasa penasaran mereka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu yg saya gak mau mbak.. sy takut membunuh rasa penasaran mereka.. atau takut juga kalo mereka malah cari tau sendiri tanpa pengawasan dr org dewasa.. Takut kl cara yg mereka dapatkan itu salah..

      Hapus
  14. aaaakk... setuju banget Mba Myra soal tidak mengenalkan anak pada ketakutan. Jadi ga ada ceritanya melarang karena nanti ada akibat yang ga enak dengan nakut-nakutin. Kalo kek gitu kan jadinya ga bisa belajar ya anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup kadang pengalaman guru yg terbaik :)

      Hapus
  15. Bear, anak-aak memang harus diajak dan diberitahu ap[a saja dengan cara yang bear, jangan bohong, jangan menakut-nakuti secara tidak proporsional.
    Kalimat " Awas itu ada pak polisi, nanti kalau kamu nangis akan dibawa pak polisi ", jelas tak baik.

    Setanpun gak pernah bilang " Kalau kamu nakal nanti tak serahkan manusia baru yahok", ha ha ha ha

    Komunikasi itu penting say.

    Salam hangat dari Surabaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw... iya bener pakde bikin image polisi jd jelek. pdhl apa salah polisi dlm hal ini? :D

      kl setan ngomong gitu nanti setan2 bakal takut sm manusia trus gak godain lagi :D

      komunikasi bisa jadi kunci utama ya pakde :)

      Hapus
  16. Yg soal nyalah2in benda itu, sebel bgt aku kalo ada ibu yg bilang begitu ke anaknya mba *ups*, sepakat sm mba Chi, itu mengajarkan mereka selalu menyalahkan selain diri mereka sendiri >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama aja ngajarin untuk gak introspeksi ya..

      Hapus
  17. suka ama pemikiran mbak yg ga konservatif soal ngurus anak.
    ortu jaman skrng masih suka larang ini itu berlebihan, kadang malah ngelarang ga pake alesan.
    I-Pub

    BalasHapus
    Balasan
    1. krn setiap larangan dan anjuran pasti ada alasannya dan anak2 hrs tau :)

      Hapus
  18. TOP.. dan selalu paling telat koment..

    maaf ya <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak selalu paling telat kok.. kemana aja nih bak? kayaknya udah agak lama gak bikin postingan ya?

      Hapus
  19. Beberapa postingan di sini terlewatkan. ;)

    Saya suka dengan uraian di atas, Teh.
    Benar sekali, mengenalkan benda2 serta fungsinya kepada anak tuh memang sangat penting.
    Terlebih tentang bahaya menggunakan barang2 atau benda2 yang tajam setajam silet. ;)

    Sekarang kartun tom and jerry yang di RCT sudah ada stempel BO lho, teh. (Bimbingan Orang Tua). :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh udah ada tulisa BO bagus deh.. emang hrs di dampingin juga :)

      Hapus
  20. kalo aq sih kurang setuju jika langsung benda aslinya bu.
    kalo bisa mainan nya dulu.
    agak ngeri lihat anak kecil pegang yang tajem.

    yang tumpul2 aja berbahaya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa sih sebetulnya.. krn sy termasuk yg males beli yg mainan.. hehehe..
      cuma seperti yg sy tulis di atas.. walopun langsung pake benda tajam semua ada tahap2nya.. dan di lihat dr karakter anaknya juga.. Buktinya antara Keke dan Nai berbeda tahapannya. Krn melihat kesiapan mereka juga :)

      Hapus
  21. klao thifa baru aku kasih pisau yang dr plastik mba.. kadang dia nemu pisau dapur tajem yang suka ditaruh ayahnya sembarangan krn lupa trus dia nanya ke saya "Mah ini apa?" kayaknya sih dia tau kalo itu pisau yang tajam makanya tanya gitu, mungkin maksudnya mau bilang "Ma.. ini apa kok ditaruh smbarangan?!" gt kali ya hihihi ngarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thifa pinter karena memilih untuk bertanya dulu.. Karena di biasain seperti itu kali ya mbak? :)

      Hapus
  22. Kuncinya adalah komunikasi, pengawasan & juga kepercayaan pada anak ya Chi... dan tentunya untuk masing2 anak berbeda sesuai karakternya.. saya setuju sekali.., tidak bisa menerapkan suatu teori tanpa melihat karakter seorang anak atau menyamaratakannya.. hasilnya mungkin tak akan sesuai dg yg diharapkan.. Trims sudah berbagi tips ini Chi.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mbak.. Karena karakter anak pastinya macem2 ya mbak :)

      Hapus
  23. Setuju sama mbak, kalau sesuatu yang berbahaya itu diingatkan terus menerus. Nanti kalau sudah 'siap' baru kemudian dikenalkan. Justru kalau ditakut2i malah jadi penakut. Aku gak mau anakku penakut :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu juga yg sy gak mau.. kasian juga anak2 kalo mereka jd penakut ya :)

      Hapus
  24. suka deh baca postingannya mba.. wlpn belom nikah, palagi punya anak, aku seneng baca2 artikel ttg parenting.. persiapan bwt ntarnya.. hihihi :p

    BalasHapus
  25. Walau saya belum punya anak, bolehkan saya SETUJU mbak.

    BalasHapus
  26. Saya sepakat mbak, memang saat mengenalkan sesuatu pada anak harus dilihat kesiapan dan karakter anaknya. Kalau model anak kita yang geragasan, mungkin harus ditunggu sampai umur tertentu untuk memperkenalkannya pada benda tajam.
    Vaya juga sekarang makin aktif latihan dengan gunting, selain diberitahu bahwa itu bisa berbahaya bila dia tidak hati-hati. Jadi dia dengan sendirinya akan mengerti bahwa dia harus benar-2 mnggunakan dengan benar gunting itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, liat anaknya juga.. makanya Nai umur 6 tahunan baru sy berani kasih sendiri.. hehee...

      Kl anak2 di kasih pengertian, biasanya mereka akan terampil dan berhati2 ya :)

      Hapus
  27. ikutan nyimak aja mbak lagian aq juga belom punya anak kok

    BalasHapus
  28. Anak memang perlu tahu benda2 yang membahayakan.. tapi tanpa harus menakut-nakuti mereka.
    Semoga saja Keke dan Nai dapat memakai benda2 tajam sesuai peruntukannya dan tidak melukai diri mereka sendiri, mbak.
    Nice post... I like it.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kl mereka tau manfaatnya insya Allah malah jd bermanfaat ya mbak :)

      Hapus
  29. Dunia anak adalah dunia main dan pengenalan dalam segala hal. Dan bila segala sesuatunya dapat diarahkan dengan benar, maka rasa penasaran anak akan suatu benda akan terarah dengan suatu tindakan yang lebih positif.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju.. lebih baik menjawab rasa penasaran mereka ya :)

      Hapus
  30. Betul mba, saya sangat setuju caranya termasuk tentang kesiapan anak yang berbeda - beda. Disinilah peran orang tua untuk memahami perkembangan anaknya lebih jauh.

    Melarang anak melakukan sesuatu bisa membuat dia tidak percaya diri. Atau ketika dewasanya malah melakukan hal menyimpang. Lebih baik kenalkan sejak dini mengenai resiko atau dampak sesuatu kegiatan tanpa harus melarangnya

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge