Monday, August 29, 2016

[Wacana] Full Day School. Setuju Aja, Asalkan ...

[Wacana] Full Day School. Setuju Aja, Asalkan ...

Wacana Full Day School setuju

CATATAN:

  1. Postingan ini murni berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi. Chi tidak membanding-bandingkan Full Day School (FDS) dengan keadaan negara lain atau apapun yang Chi kurang/tidak paham.
  2. Chi tau kalau FDS yang dilontarkan pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy baru wacana. Tapi, boleh dong sesekali Chi berwacana juga menanggapinya. Di beberapa media pun diberitakan kalau FDS baru sebatas jualan ide. Dan pak menteri ingin respon dari masyarakat untuk jualannya ini. :)
  3. Di salah satu media, pak menteri mengatakan kalau wacana ini lebih tepat disebut Ko-Kurikuler bukan FDS. Chi sempat berpikir kalau jangan-jangan media yang salah kutip. Tapi kemudian Chi membaca salah satu artikel di website Sahabat Keluarga Kemdikbud. Di sana masih menggunakan istilah FDS. Jadi, Chi tetap pakai istilah FDS karena di web Kemdikbud saja masih menggunakan istilah itu *Sayangnya begitu postingan ini publish, artikel di web tersebut sudah tidak ada. Keterangannya Error 400 :)*

 

    Reguler, Full Day, Pesantren, Home Schooling, dan lain sebagainya, manakah model sekolah yang paling baik?

    Menurut Chi, tidak ada satupun model sekolah yang bisa meng-klaim paling baik dibanding yang lain.

    Setiap sekolah punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan kecocokan setiap anak dengan model sekolah bisa berbeda-beda. Tidak bisa digeneralisir. Anak A cocok dengan homeschooling, belum tentu anak B juga. Anak C cocok banget dengan full day school, anak D mungkin lebih bahagia dengan reguler school.

    Setiap kali memilihkan sekolah buat Keke dan Nai, Chi selalu membutuhkan waktu yang panjang. Bisa lebih dari 1 tahun. Keke baru masuk TK, Chi udah mencari SD. Keke baru naik kelas 5, Chi udah cari SMP. Mungkin nanti Keke kelas 8, Chi udah mulai cari SMA. Malah udah dari sekarang, ding hehehe. Semua model sekolah yang Chi tulis di atas pun sudah pernah ditawarkan ke Keke dan Nai.

    Setelah pertimbangan yang cukup banyak dan panjang, Keke dan Nai pun bersekolah dasar di salah satu SD islam swasta. Tadinya, Chi menawarkan Keke untuk melanjutkan di SMP yang sama dengan SDnya. Tapi memang akhirnya dia berada di SMP Negeri yang tentu saja sudah melalui berbagai pertimbangan.


    Seandainya Keke sekarang lanjut di SMP islam swasta yang sama dengan SDnya mungkin Chi akan tergelitik untuk mengatakan/nyetatus kalau FDS itu asik. Buktinya Keke dan Nai selalu betah di sekolah. Sejak TK, sudah seringkali mereka sulit diajak pulang saking betah di sekolah. Kalau sekolah belum sepi banget kayaknya belum mau pulang. Bahkan salah satu tujuan Keke bersepeda ke sekolah saat itu adalah supaya gak diburu-buru pulang ma bundanya. Suasana sekolah, kegiatan belajar-mengajar, hingga guru-gurunya banyak yang asik bagi mereka. Sampe sekarang pun Keke mengakui kalau guru-guru SDnya adalah yang terbaik. Bukan hanya pengajar tetapi juga pembimbing.


    [Silakan baca: Keke Mulai Bersepeda ke Sekolah]

    Ya, Chi mungkin akan tergelitik untuk mengatakan kalau FDS itu asik banget. Tapi, sepertinya akan Chi tahan untuk tetap keep silent juga karena kalau Keke kembali bersekolah di tempat yang sama berarti gak punya pembanding. Gak tau seperti apa kondisi sekolah negeri, pesantren, atau home schooling. Hanya sebatas katanya dan katanya. Bahkan sesama sekolah swasta yang menerapkan FDS pun kondisinya belum tentu sama. Tapi karena sekarang punya pembanding, maka lahirlah tulisan ini. Dan, seperti yang tertulis di disclaimer nomor 1 memang tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi.

    Kegiatan Belajar Mengajar vs Ekstra Kurikuler


    Bunda: "Ke, misalnya sekolah Keke itu jadi FDS. Pulangnya jam 5 sore setiap harinya. Senin sampe Jum'at aja, sih. Belajarnya juga setengah hari aja, selebihnya ekskul. Udah gitu ekskulnya asik, misalnya fotografi, videography, atau apapun yang menurut Keke menarik, lah. Keke mau gak FDS?"

    Keke: "Hmmm ... menarik. Tapi, trus kapan Keke ngerjain PR kalau FDS?"

    Krik ... krik ... krik ... krik ... Kami pun pun saling nyengir karena sudah saling tahu jawabannya

    Jadi gini, ketika SD, sepulang sekolah adalah jam bermain Keke dan Nai. Terserah deh mau main di sekolah atau rumah. Yang penting Chi tau mereka dimana, main sama siapa, dan sebagainya. Selepas maghrib, mereka baru mulai belajar. Itupun gak setiap hari. Kalau mereka sudah bisa menangkap pelajaran di kelas, Chi merasa gak perlu belajar lagi di rumah. Bahkan peraturan ini juga berlaku saat menghadapi UH, UTS, dan UAS. Kalau merasa sudah bisa ya gak perlu belajar lagi di rumah. Untuk tahu mereka sudah bisa atau enggak, bisa dnegan cara bertanya secara acak, mendengar laporan dari wali kelas, meminta mereka bercerita tentang apa aja kegiatan di sekolah pada hari itu, dan lain sebagainya.

    [Silakan baca: Nilai Rapor Tetap Bagus Walaupun Tidak Belajar Saat UAS]

    Ketika SMP, PR Keke itu menumpuk. Hampir setiap hari ada PR. Sering kali waktu mengerjakan PR sangat kurang kalau baru dikerjakan usai maghrib. Mau gak mau Keke harus mengorbankan jam bermainnya kalau lagi banyak banget. Kadang guru absen pun, tetep aja PRnya ada.

    Bunda: "Tenang, Nak. Bunda yang akan menemani dan mengajari Keke pelajaran yang belum ngerti. Termasuk juga untuk PR."

    Emang Chi jago matematika? Bahasa Indonesia? IPA? IPS? Atau lainnya? Enggak. Chi biasa aja, kok. Tapi, Chi bicara seperti itu untuk menyemangati Keke. Coba kalau Chi ikutan suntuk juga? *paling sesekali ngerutu doang wkwkwk.*  Bisa tambah berat beban Keke kalau Chi ikutan suntuk. Konsekuensinya, Chi harus belajar lagi. Pusyiiinngg ... Ketika Keke sekolah, Chi coba pakai buat belajar di rumah. Biar siap kalau ngajarin Keke hehehe.

    Bersyukurlah juga ada social media. Seperti beberapa hari lalu, Chi pusing sama PR IPA Keke tentang percampuran asam dan basa. Banyak teman-teman yang bersedia membantu mengajari cari jawabannya. Chi memang sengaja minta diajari mencari jawabannya bukan langsung jawabannya supaya Chi dan Keke mengerti cara mengerjakannya. Chi bener-bener terharu sama kesediaan teman-teman. Terima kasih banyak, ya :)

    Bunda: "Ayo tidur, Nak."
    Keke: "Tapi, PR Keke belum selesai, Bun."
    Bunda: "Keke udah mengorbankan jam bermain. Tidur pun beberapa kali mulai larut malam. Semua demi PR. Gak bisa begini terus. Di usiamu sekarang masih sangat berhak untuk main dan tidur cukup."
    Keke: "Tapi kalau Keke ditegur guru gimana?"
    Bunda: "Jelaskan dan terima konsekuensinya. Setidaknya guru-guru mu juga harus tau alasan kenapa PRmu gak selesai. Selama konsekuensinya masih masuk akal, terima aja."
    Keke: "Tapi kalau enggak?"
    Bunda: "Bunda yang akan ke sekolah untuk menjelaskan."

    Tenaaaanngg ... Chi gak akan seperti berbagai kasus yang akhir-akhir terjadi, kok. Gak akan main hakim sendiri. Tapi kalau ajak ngobrol aja boleh, dong? Sampai saat ini sih belum pernah kejadian. Keke masih bisa menanganinya sendiri dengan baik.

    [Silakan baca: Menyiasati Beban Pendidikan]

    Nah, kalau waktu bermain Keke sudah mulai terpakai untuk mengerjakan PR. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan Keke di atas? Kapan Keke ngerjain PR kalau FDS? Pertanyaan seorang siswa yang merasakan langsung, lho. Chi bolak-balik cari berita di berbagai portal, kali aja ada janji tidak boleh ada PR di sekolah. Sampe sekarang belum ketemu ;)

    Katanya, kalau FDS maka jam istirahat anak juga akan lebih banyak. Tapi buat Chi, istirahat tuh tetap lebih enak di rumah. Mau tiduran, mau nonton tv, atau mau apapun silakan aja. Lagipula apa harus ekskul tiap hari? Apakah ekskul yang diinginkan ada? Kualitasnya bagaimana? Di luar sekolah juga banyak kegiatan atau tempat kursus dengan kualitas baik, lho. Kursus renang, musik, bela diri, dan masih banyak lagi dengan pelatih yang berkualitas. Syukurlah kalau sekolah memang bisa menyediakan pelatih yang sama kualitasnya kalau FDS. Tapi, trus biayanya gimana? Hmmm ... Katanya kalau sampai jadi berarti sekolah negeri gak jadi gratis, ya? ;)

    Pengalaman pribadi aja, nih. Keke sempat privat drum di rumah selama beberapa tahun. Sekarang sudah berhenti karena jam sekolahnya kan bertambah lalu waktu kursusnya jadi gak klop ma gurunya. Dari tentang musik aja, apakah sekolah bisa menyediakan ruangan musik dengan alat yang lengkap? Karena bicara tentang musik gak hanya tentang suling dan pianika, lho.


    Belajar Karakter, Pahami Karakter


    Ibu memiliki selembar roti yang akan dibagi sama rata untuk 4 anaknya. Berapa bagiankah masing-masing anak mendapatkan roti?

    Untuk contoh soal matematika di atas, bagaimana cara yang tepat mengajarkan kepada anak? Pengalaman Chi, kalau ke Keke itu tinggal kasih tau aja. Caranya 1 dibagi empat. Tapi kalau sama Nai gak bisa begitu. Chi harus menggambar roti lalu roti tersebut dibagi empat. Bersyukur kalau setelah itu selesai. Tiba-tiba dia bertanya begini ...

    Nai: "Bunda yakin rotinya itu kotak? Kalau ibunya punya roti bulet gimana?"

    Gubrak!!

    Tapi ya begitulah, mereka punya karakter masing-masing bahkan dalam hal belajar. Keke lebih ke auditori sedangkan Nai ke visual untuk gaya belajar. Walaupun saudara kandung, bukan berarti mereka punya karakter yang sama. Bahkan Chi sebagai ibu kandung mereka pun seringkali harus cenat-cenut memahami mereka. 2 anak dengan 2 karakter berbeda.

    [Silakan baca: Menjadi Cerdas dengan Gaya Masing-Masing]

    Itulah kenapa Chi gak gampang protes ke guru termasuk kalau anak-anak belum mengerti. Kebayang sekian puluh murid harus diajar secara bersamaan. Pastinya gak mudah banget karena setiap anak punya karakter berbeda. Selama gurunya masih ramah sama anak-anak, Chi masih respons positif ajalah. Enggak banget sama guru yang main hukuman fisik, ya. Walaupun mungkin guru zaman dulu ada yang seperti itu. Tapi zaman udah beda. Gak main hukuman fisik, bukan berarti bikin anak jadi lemah, kok :)

    Keke lebih suka kelas yang aktif. Dia lebih suka berdiskusi dengan guru atau teman ketimbang hanya mencatat, menyalin, atau hal-hal seperti itu. Dia sempat mengeluh karena di SMP kesempatan dia untuk berdiskusi nyaris gak ada.

    Chi juga lebih suka dengan kelas aktif, sih. Justru kelas aktif bisa sekalian menanamkan pendidikan karakter. Tapi, Chi juga bilang kalau keadaan gak memungkin jangan memaksa. Biar gimana sekolah di sekolah negeri rasio murid per kelasnya banyak. Wajar kalau Keke sulit untuk berdiskusi. Lebih baik Keke mengalah saja. Nanti kalau diskusi sama bundanya di rumah. Mau berdebat tentang pelajaran juga silakan aja kalau sama bunda hehehe.

    Ketika Kurikulum 2013 (kurtilas) mulai dikenalkan, Chi termasuk yang setuju. Karena kurtilas lebih menekankan pendidikan karakter. Anak-anak pun makin senang belajar di sekolah setelah kurikulumnya diganti jadi kurtilas. Memang buat orang tua jadi sedikit merepotkan karena text book aja gak cukup. Harus cari ilmu dari berbagai sumber. Tapi buat Chi asalkan anaknya senang, gak apa-apa.

    Tidak hanya karakter guru yang ramah anak. Karakter anak juga banyak ragamnya. Kalau sekolah benar-benar tempat yang aman, maka seharusnya gak mungkin ada bully di sekolah, kan?

    [Silakan baca: Kurikulum 2013, Siapkah Kita?]

    Wajar banget kalau sampe ada pro kontra. Selain sesuatu yang baru juga mendidik karakter itu sulit. Seperti jabaran tadi, mendidik karakter 2 anak kandung aja kadang bikin Chi jungkir balik. Apalagi mendidik anak orang lain? Tapi bisa banget asalkan mau berusaha. Paling tidak di SD Keke dulu, sebelum ikut kurtilas kegiatan belajar-mengajarnya tetap menyenangkan, kok. Ramah anak. Apapun kurikulumnya, kalau para pengajarnya bisa ramah anak, bisa tetap asik dan disukai anak. Ya, kalau Chi boleh meminta, sebelum berencana FDS apa gak sebaiknya kegiatan belajar dan mengajar yang sudah ada dibikin menyenangkan dulu?


    Jam Sibuk


    Pernah merasakan trafik lalu-lintas di jam sibuk? Maceeeettt ... Apalagi jalur ke sekolah Keke memang jalur macet. Bisa-bisa Chi pusing urusan transportasi umum kalau jadi FDS. Gak mungkin Chi jemput karena susah banget parkirnya. Lahannya sangat sempit lagian gak boleh parkir di jalan.

    Sejak SMP, Keke naik ojek online. Tapi apa iya di jam sibuk ojek online mudah didapat? Pengalaman pribadi, nih, beruntung banget kalau begitu order pada saat jam sibuk trus langsung dapat. Biasanya lebih dari 30 menit atau malah 1 jam-an baru dapet. Cobain aja, deh hehehe. Trus mau sampe rumah jam berapa?

    Salah satu tujuan FDS kan biar anak dijemput orang tua. Chi jelas gak mungkin jemput. Begitupun K'Aie yang setiap hari pulang dari kantor itu malam hari. Pekerjaannya bukan tipe 9 to 5. Ya, kalau Chi lebih memilih menciptakan benteng yang kuat untuk anak. Dijemput atau tidak, mereka akan bisa bertahan untuk tidak aneh-aneh. Memang bukan proses yang mudah, tapi Chi tetap memilih seperti itu. Biar anak juga belajar mandiri.

    [Silakan baca: Keke dan Transportasi Pulang Sekolah]



    Bonding


    Chi belum pernah merasakan Full Day School. Tapi ketika SMP mungkin bisa dikatakan Chi merasakan FDS ala-ala. Maksudnya, setiap hari selalu berangkat dan pulang bersama orang tua. Itu karena saat SMP udah resmi jadi warga Bekasi sedangkan sekolah masih di Jakarta Pusat. Kelas 1 kan masuk siang, sedangkan orang tua belum mengizinkan naik angkot. Jadi, setiap pagi diantar ke rumah almarhum uwa yang dekat sekolah.

    Berangkat dan pulang bersama orang tua dijamin lebih aman. Setidaknya dibanding naik angkot atau bis. Chi beberapa kali mengalami kecopetan. Adik Chi malah dipalak sepatunya di bis kota. Belum lagi kalau ketemu orang yang aneh kelakuannya. Tapi bagaimana dengan bonding orang tua dan anak?

    Inget banget kalau mamah pernah bertanya kenapa Chi selalu terlihat ceria saat bersama teman, sedangkan begitu masuk mobil terlihat sangat diam. Chi gak marah atau kesal sama orang tua, kok. Chi hanya cape. Pagi-pagi sebelum pukul 6 sudah harus ikut orang tua untuk diantar ke rumah uwa. Saking paginya, masuk mobil gak pake mandi dan sarapan juga seringkali di mobil. Kadang malah ngelanjutin tidur.

    Kalau lagi gak ada PR, Chi bisa melanjutkan tidur lagi di rumah uwa. Tapi kalau ada, berarti harus belajar. Menjelang tengah hari, Chi jalan kaki ke sekolah. Pulang sore dan beruntung  banget kalau orang tua gak lembur. Kalau lembur ya berarti maleman pulangnya. Kemudian esok harinya rutinitas kembali terulang. Dulu mah boro-boro punya handphone, telepon rumah aja gak ada. Jadi keseharian jarang ngobrol ma orang tua walaupun sekadar tanya kabar.

    Tapi, setelah Chi jadi orang tua mulai menyadari kalau bonding susah terjalin bila hanya dibentuk saat weekend saja. Bukan gak bisa, tapi lebih sulit. Chi beruntung orang tua masih suka ajak jalan-jalan kalau weekend. Atau biasanya mamah masak masakan yang spesial saat weekend. Setdaknya di saat weekend durasi obrolan orang tua -anak lebih banyak. Walaupun begitu, tetap aja sebaiknya bonding dijalin secara kontinyu setiap hari.

    Chi membayangkan seandainya jadi FDS, ketika Keke pulang ke rumah dia akan bahagia karena makanan favorit buatan bunda sudah tersedia untuk makan malam. Etapi kemudian Chi mikir lagi. Apa dia akan beneran tetap bahagia? Kalau dia kayak Chi dulu gimana? Sampe rumah cuma diam, masuk kamar, trus tidur dengan alasan cape? Trus kalau ada PR gimana? Tambah diem, deh. Huaaa ... Chi bingung harus bagaimana kalau begitu. Udah kebayang bebannya Keke.



    Siapa yang Makan Masakan Bunda


    "Bunda, hari ini bekalnya apa?"
    "Bunda, hari ini masak apa?"

    Bekal adalah pertanyaan Keke dan Nai setiap pagi. Sedangkan masak apa adalah pertanyaan mereka begitu melihat wajah Chi setelah pulang sekolah. Begitu terus pertanyaan rutin mereka setiap hari. Kalau masakannya favorit, mereka akan bersorak kegirangan. Tapi kalau kurang mereka suka biasanya suka nanya, "Gak ada makanan lain?" Kalau udah gitu biasanya ceramahan Chi keluar hahaha.

    Siapa yang makan masakan Bunda kalau sampe FDS? Mungkin kesannya Chi becanda ketika berpikir begitu, ya? Keke dan Nai setiap hari masih dibawain bekal buatan Chi. Tapi tetap aja makan di rumah itu lebih nikmat dibandingkan makan di sekolah walaupun sama-sama buatan bunda.

    [Silakan baca: Seporsi Soto Ayam untuk Bekal Sekolah]

    Kalau di rumah kan bisa lebih santai. Gak dikejar waktu ma bel sekolah. Makan di rumah juga suasana kekeluargaannya dapet banget. Sambil makan bisa saling bercerita. Chi banyak tau kegiatan mereka saat sekolah, salah satunya saat makan. Kalau sampai FDS, tentu aja suasana kekeluargaan ini akan hilang atau berkurang.

    Chi gak menentang bulat-bulat FDS, kok. Buat Chi, Full Day School sih setuju aja asalkan banyak syarat yang harus dipikirkan. FDS gak sebatas bicara berapa lama ada di sekolah. Mampukah menciptakan sekolah yang ramah anak? Mampukah menjawab pertanyaan Keke tentang PR bila harus FDS? Dan, masih banyak lagi yang harus dipertimbangkan.

    Lebih mudah memerintahkan anak untuk diam dengan gaya yang yang galak kalau perlu memberi hukuman. Daripada menjadi pengajar berkarakter yang mengerti anak itu butuh proses panjang. Mampukah para pengajar menjadi ramah anak menghadapi karakter anak yang rupa-rupa? Ya, Chi pun sering kali tergoda untuk bilang, "Dengerin, Bunda! Ini tuh caranya begini. Masa' gak paham, sih!" Tapi nyatanya gak bisa, setiap anak punya karakter masing-masing yang harus dipahami Chi.

    Belum lagi kalau bicara biaya. Sekolah swasta umumnya mahal karena memiliki fasilitas yang lebih. Fasilitas yang bisa dinikmati anak. Bagaimana dengan sekolah negeri yang gratis? Etapi katanya kalau FDS jadi diterapkan sekolah gak gratis lagi, ya?

    Ah, banyak lah yang harus dipikirin. Chi cuma ibu rumah tangga yang hanya berpikir dari sisi Chi aja, kok. Percaya deh banyak yang lebih ahli di luaran sana. Seperti biasa, Chi gak akan mengeluh berkepanjangan. Sekadar wacana ibu rumah tangga aja. Seandainya FDS diterapkan di sekolah Keke, paling Chi mengamati dulu. Kalau ternyata oke, ya lanjut. Gak oke, ya pindahin. Tapi, (sekali lagi) ini hanya rencana Chi ya. Bukan saran untuk semua orang kalau gak cocok tinggal pindah. Tidak mengeneralisir seperti itu.

    Sumber:


    1. http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=3455

    Friday, August 26, 2016

    Nai dan Kehilangan Handphone Kesayangan

    Nai dan Kehilangan Handphone Kesayangan

    Nai dan Kehilangan Handphone Kesayangan 
    Nai kehilangan handphone kesayangan minggu lalu. Handphone yang selalu menemani aktivitasnya termasuk belajar motret makanan.

    Ini cerita sedih. Ya, paling gak buat Chi masih ada rasa sedihnya sedikit.

    Sabtu lalu (20/8), Keke dan ayahnya berencana ke GIIAS. Tadinya mau tanggal 17 ke sananya. Tapi PR Keke banyak banget *hari libur ada PR, sih. -_-* Jadi aja dimundur ke tanggal 20, hari terakhir GIIAS.

    [Silakan baca: GIIAS 2015 - Grand New Veloz, si Stylish yang Siap Berpetualang]

    Dari awal memang rencananya hanya Keke dan ayahnya yang akan ke GIIAS. Harga tiket masuk sebesar Rp70.000,00 per orang rasanya lumayan mahal untuk Chi dan Nai yang tidak terlalu antusias melihat pameran mobil. Kecuali kalau emang ada niatan beli hahaha. Tapi buat K'Aie apalagi Keke yang (dari kecil) memang senang banget mengamati mobil dan motor, harga tiket segitu tentu tidak terlalu dimasalahkan. Mereka bisa betah dari pagi sampe sore kali di sana.

    Keke dan ayahnya berencana naik shuttle daripada bawa mobil pribadi. Jauh aja ke ICE BSD tempat GIIAS diselenggarakan. Mending naik shuttle dari mall terdekat. Di bis tinggal nyantai, deh. Tadinya, Chi pun kepikiran untuk ikutan naik shuttle tapi tujuannya bukan ke GIIAS melainkan ke AEON. Kan, deketan tuh lokasinya. Mumpung ada shuttle selama event berlangsung, kenapa gak dimanfaatkan hehehe

    Wednesday, August 24, 2016

    Inilah Alasan Memiliki Asuransi Jiwa

    Inilah Alasan Memiliki Asuransi Jiwa

    inilah alasan memiliki asuransi jiwa

    Chi sempat kapok sama asuransi. Bertahun-tahun lalu *ketika masih lajang* pernah tertipu sama asuransi. Gara-gara terpengaruh dengan janji-janji menggiurkan dari sales asuransi. Ya, salah Chi juga, sih. Saat itu lagi jenuh karena mengantre cukup panjang. Ketika sedang antre, didatangi sales asuransi. Pikiran lagi jenuh trus dengar janji-janji manis berasa segar, dong. Gak pake lama langsung Chi iyain aja.

    Setelah premi diterima baru deh Chi baca kata per kata. Setelah membaca, Chi merasa ada yang aneh, ya? Langsung telepon untuk curhat sama salah seorang sahabat. Yaelah ternyata dia lebih dulu ngalamin hal yang sama. Malah sahabat Chi ini taunya rada telat dan merugi yang lumayan banyak.

    Masih ingin memastikan lagi, Chi pun tanya ke papah yang lebih mengerti urusan seperti ini. Sudah ditebak, Chi langsung kena tegur karena main setuju aja sama penawaran asuransi tanpa berpikir panjang. Chi juga harusnya banyak konsultasi dulu sama yang lebih ngerti. Kalau di keluarga Chi, papah lah yang paling mengerti. Sehari-harinya kan kerja di bank *kalau sekarang sih udah pensiun hehehe.* Untung aja Chi cepat nyadarnya, jadi gak terlalu banyak kerugian finansial yang sudah dikeluarkan.

    Eits! Tapi kejadian tersebut gak bikin Chi jadi anti dengan asuransi, ya. GAk juga bikin Chi mengeneralisir kalau semua asuransi itu merugikan. Memang sih sejak kejadian itu, Chi lumayan lama gak mau tau dengan yang namanya asuransi. Pokoknya gak tertarik lagi. Padahal beberapa teman selalu membicarakan tentang pentingnya asuransi.

    Chi baru mulai berurusan asuransi lagi sejak menikah dan punya anak pertama. K’Aie yang lebih dulu melontarkan ide ingin punya asuransi. Alasannya adalah ingin melindungi keluarga. Chi sih nurut aja asalkan K’Aie yang pilihin. Chi masih rada takut salah memilih lagi.

    Kalau K’Aie memang lebih teliti. Semua penawaran dari berbagai perusahaan asuransi dibaca dengan teliti. Beberapa kali ngobrol dengan agen asuransi. Pokoknya bukan perjalanan singkat sampai kemudian memilih asuransi yang pas.

    Salah satu bentuk asuransi yang terpikirkan adalah asuransi jiwa. Kalau dulu, Chi pasif untuk urusan memilih. Abis belum tau yang namanya asuransi jiwa online, sih.

    Maksudnya, coba dulu Chi udah sering internetan. Chi bakalan banyak cari info tentang asuransi jiwa jadi bisa ikut kasih masukan ke K’Aie. Salah satu manfaat yang Chi barusan baca itu di asuransi jiwa online yaitu Futuready.com.


    inilah alasan memiliki asuransi jiwaSumber gambar: Futuready.com

    Futuready.com adalah broker asuransi online pertama yang memegang lisensi resmi dari OJK dengan nomor KEP-518/NB.1/2015 tanggal 18 Juni 2015.

    Sedia payung sebelum hujan menjadi salah satu alasan kami tertarik memiliki asuransi jiwa. Pepatah tersebut bisa dikatakan juga sebagai bentuk melindungi diri sendiri atau keluarga. Kita gak pernah apa yang terjadi di depan bahkan dalam hitungan detik sekalipun. Kami pikir, boleh lah membuat asuransi sebagai salah satu upaya melindungi keluarga.

    Setelah memiliki asuransi, Chi merasa lebih tenang. Bukan berarti Chi mengharapkan kejadian yang tidak enak, lho. Sesuatu yang tidak diharapkan. Jangan sampe, ah.

    Teman-teman, sudah punya asuransi jiwa belum, nih? Kalau belum, mulai cari tahu dulu aja, yuk!

    Tuesday, August 23, 2016

    Belanja Apa di Alfamart?

    Belanja Apa di Alfamart?

    http://www.kekenaima.com/2016/08/belanja-apa-di-alfamart.html

    Pertengahan bulan, paling pas irit-irit uang belanja, ya. Tunggu akhir atau awal bulan tiba. Tiba saatnya untuk gajian hehehe. Antara pasar, supermarket/hypermarket, dan minimarket, mana tempat belanja tersebut yang teman-teman pilih?

    Kalau berdasarkan kebutuhan, tentu tergantung butuhnya apa. Kalau beli sayur-mayur, bumbu dapur, atau kebutuhan harian lainnya, Chi lebih suka belanja di pasar. Supermarket atau Hypermarket biasanya Chi cari daging selain kebutuhan keluarga lainnya. Sedangkan memilih minimarket biasanya kalau ada kebutuhan di rumah yang sudah habis. Tentunya gak termasuk sayur dan daging, ya.

    Es Krim

    Makanan satu ini menjadi daftar wajib yang harus dibeli. Anak-anak terutama Nai sangat senang es krim. Apalagi zaman Nai TK. Ada alfamart dekat sekolah. Wajib deh tiap hari ke Alfamart untuk beli 2 es krim. Jatah makan es krim sehari memang 2 kali. Beberapa hari lalu, Alfamart ada promo salah satu es krim. Langsung aja kami beli banyak hehehe

    Obat-Obatan

    Paling sering beli obat pusing sama obat untuk mencegah masuk angin. Nsnggung amat kan, ya kalau harus ke supermarket cuma untuk membuktikan mendukung negara.

    Pembalut

    Ya kali Chi lupa kalau stok pembalut sudah habis. Biasanya sih beli di Supermarket karena termasuk kebutuhan bulanan. Tapi, kadang suka lupa nyetok. Kalau cuma beli pembalut doang, malas lah ke supermarket. Langsung aja meluncur ke minimarket.

    Garam, Gula, Kecap, dan Lain Sebagainya

    Sayangnya di Alfamart gak ada bumbu dapur segar kayak lengkuas, kunyit, dan lainnya hehehe. Tapi bolehlah kalau mendadak butuh garam, gula, kecap, atau lainnya.

    Susu Cair dan Yoghurt

    Keke minum susu cair setiap hari setiap sarapan. Kalau Nai kadang-kadang aja. Tergantung hari itu dia sarapannya apa. Chi juga suka nyetok yoghurt karena anak-anak suka banget dengan yoghurt. Sehari bisa sampe 1-2 kotak yoghurt setiap anak.

    Roti

    Roti jadi menu sarapan harian buat Nai kecuali Sabtu dan Minggu. Nai memang suka roti atau beragam camilan lainnya. Kadang-kadang aja dia minta ganti menu. Pengen makan nasi atau sekadar minum susu.

    Sebetulnya kalau ke Alfamart gak cuma itu belanjanya. Masih ada beberapa item lainnya. Cuma yang paling sering ya yang ditulis di atas. Apalagi untuk susu cair, es krim, dan roti.

    Di Alfamart juga bisa beli tiket. Waktu itu Chi beli tiket expo Doraemon yang diadakan di Ancol. Lumayan banget diskonnya dibanding beli langsung di lokasi. Ya walaupun beberapa kali dalam prosesnya harus terkendala dengan koneksi internet yang sangat lambat. Tapi lega rasanya setelah tiket di tangan. Mudah-mudahan, untuk urusan koneksi internet bisa diperbaiki. Karena pesan tiket di Alfamart itu menguntungkan.

    Lihat situs Alfamartku, banyak promo dan diskon yang menarik. Apalagi kalau punya kartu Alfamart. Bisa lebih banyak lagi keuntungannya. Gak hanya kalau belanja di Alfamart saja.

    Kalau Chi, sekarang lagi tertarik melihat promo berenang di Ancol. Kalau beli tiketnya di Alfamart, harganya menarik banget hihihi. Cek kalender, ah. Tanggal berapa bisa berenang bareng sekeluarga. Yuhuuuu!

    Friday, August 19, 2016

    Pahami dan Atasi Pencernaan Peka si Kecil

    Pahami dan Atasi Pencernaan Peka si Kecil

    pahami dan atasi pencernaan sensitif si kecil

    Pahami dan Atasi Pencernaan Peka si Kecil


    Nai: “Bunda, perut Ima sakit.”

    Setelah Chi usap-usap perutnya, kadang dioles dengan minyak tawon, biasanya Nai kembali pulih dan ceria lagi. Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali, tapi beberapa kali. Tidak ada sebab yang jelas mengapa Nai mengeluh sakit perut. Hanya butuh sedikit usapan dan dipeluk sejenak, gangguan di perutnya langsung lenyap. Chi rasa itu akibat gangguan psikologis. Ya, mungkin saat itu Nai sedang lelah sehingga butuh perhatian. Atau bisa juga sedang sedih karena beberapa sebab.

    Kok, bisa karena psikologis tapi larinya ke perut?

    Bisa banget. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun bisa mengalaminya. Sering kan kejadian ketika stress melanda, mendadak perut mengalami gangguan? Misalnya, ketika sedang dikejar waktu, ternyata di jalan terkena macet total. Rasanya perut langsung mendadak mules. Atau melihat kejadian gak enak di media sosial, langsung merasa mual.


    Pencernaan adalah otak kedua manusia

    Beberapa ahli mengatakan kalau pencernaan adalah otak kedua manusia. Otak dan pencernaan saling berkaitan dengan erat. Kecerdasan berkaitan dengan kesehatan pencernaan. Sekitar 80% sistem imun ada di pencernaan. Sehingga apabila orang tua ingin memiliki anak yang cerdas, jangan hanya fokus pada otak si kecil saja tetapi sangat penting untuk memperhatikan kesehatan pencernaannya sejak si kecil masih bayi.


    Si Kecil dan Berbagai Gangguan Pencernaan


    1000 hari pertama kehidupan adalah masa-masa terpenting bagi janin hingga balita berusia sekitar 2 tahun. Asupan gizi untuk si kecil harus sangat diperhatikan. ASI Eksklusif adalah asupan terbaik bagi si kecil di tahap awal kehidupannya hingga usia 6 bulan.

    Tetapi, pencernaan si kecil yang baru lahir belum terbentuk sempurna. Sehingga si kecil yang diberi ASI eksklusif pun tetap bisa mengalami gangguan pada pencernaannya. Bagi ibu baru, beberapa gangguan pada pencernaan si kecil bisa menimbulkan kepanikan. Untuk itu, ada baiknya bagi ibu untuk aktif mencari info tentang kesehatan anak atau bertanya langsung kepada ahlinya.

    Indikasi gangguan pencernaan pada si kecil bisa di lihat dari fesesnya. Apakah terlihat normal atau tidak.

    Beberapa gangguan pencernaan bagi si kecil antara lain:


    Perut Kembung

    Pencernaan si kecil yang masih berkembang serta kemampuan makan yang masih terbentuk bisa mengakibatkan gas berlebih di saluran pencernaan. Akibatnya perut si kecil menjadi kembung dan rewel. Membuat si kecil bersendawa, meletakkan handuk hangat di perut si kecil, atau faktor suasana hati bisa membantu mengatasi dan mencegah perut kembung. Tetapi perut kembung juga bisa berarti sebagai tanda awal kalau si kecil mengalami gangguan pencernaan.

    Sering Buang Angin

    Hampir sama seperti perut kembung, terlalu sering buang angin juga karena banyaknya gas di dalam pencernaan si kecil. Pertolongan pertama bisa dilakukan dengan cara menepuk punggung si kecil, memberi minyak telon di perut, atau mengganti ukuran dotnya bila diberi susu formula.

    Diare

    Kondisi dimana si kecil buang air besar secara terus menerus atau lebih sering dari biasanya dengan kondisi feses yang sangat lembek, berair, berlendir, dan (kadang) berdarah. Bisa juga diawali dengan muntah dan demam. Penyebabnya bisa dari makanan yang terkontaminasi virus atau bakteri. Sensitif terhadap laktosa dan alergi terhadap susu sapi juga dapat menjadi penyebab si kecil terkena diare. Apabila berkepanjangan tidak hanya mengganggu tumbuh kembang dan kecerdasan si kecil, tetapi juga dapat mengganggu keselamatannya.

    Konstipasi

    Selain diare, si kecil juga bisa mengalami konstipasi dimana frekuensi buang air besarnya sangat jarang, tekstur feses yang keras, serta merasa kesakitan setiap kali buang air besar. Frekuensi buang air besar yang jarang juga biasa terjadi pada bayi yang diberi ASI. Asalkan fesesnya tidak keras dan si kecil tidak kesakitan ketika buang air besar, maka bukanlah masalah. Kurangnya asupan cairan, makanan yang dikonsumsi, tidak cocok susu formula, serta kondisi medis tertentu merupakan beberapa penyebab si kecil bisa mengalami konstipasi

    Gumoh

    Umumnya, si kecil yang berusia di bawah 2 tahun akan mengalami hal gumoh karena sistem pencernaannya masih berkembang. Untuk mencegahnya bisa dengan cara membuat si kecil bersendawa setelah menyusui, posisikan si kecil tegak selama lebih kurang 30 menit usai makan, dan bila sudah MPASI maka bisa sesuaikan porsinya (kecilkan porsi makannya tapi lebih banyak frekuensinya). Orang tua bisa mulai waspada bila mulai timbul beberapa tanda yang mencurigakan seperti muntah dengan frekuensi yang sering dan jumlah yang banyak, si kecil terlihat kesakitan, dan lain sebagainya. Segera konsultasikan ke dokter anak bila menemukan tanda-tanda tersebut.

    Kolik

    Salah satu cara si kecil berkomunikasi adalah dengan menangis. Tapi, bagaimana bila si kecil menangis selama 3 jam tanpa henti? Kemudian berulang selama 3-4 hari dalam sepekan serta berlangsung selama lebih kurang 3 minggu? Tentu saja hal ini sangat membuat orang tua khawatir, kan?

    Apabila itu terjadi, kemungkinan si kecil mengalami kolik, yaitu sakit perut yang hebat. Si kecil yang mengalami kolik bukan berarti tidak sesehat bayi lain. Banyak bayi yang mengalami kolik. Asalkan tumbuh kembangnya normal dan nafsu makannya baik, bayi yang mengalami kolik tetap termasuk bayi sehat. Agar tidak panik dan salah langkah, sebaiknya ibu paham juga mitos dan fakta tentang kolik pada bayi

    Ketenangan ibu sangat diperlukan untuk menangani si kecil yang sedang kolik. Usapan lembut ibu bisa menenangkan si kecil. Tunjukkan kasih sayang ibu dengan cara menggendong, mengusap, serta bisikkan kata-kata sayang untuk si kecil merupakan salah satu tips mengatasi kolik pada bayi.

    Mengubah pola makan juga bisa meringankan kolik. Bila si kecil masih ASI eksklusif, maka pola makan ibu yang harus diperhatikan.

    Ibu harus tetap tetap waspada dengan kolik. Segera hubungi dokter anak bila menemukan tanda-tanda berikut ini saat si kecil sedang kolik


    1. Si kecil sulit ditenangkan 
    2. Mengalami demam 
    3. Diare atau poop berdarah 
    4. Bercak kebiruan di kulit atau bibir si kecil 
    5. Tidak bisa tidur


    Bila Perut Si Kecil Peka


    Beberapa gangguan pencernaan terjadi pada malam hari saat waktu tidur bagi si kecil. Malam hari di saat si kecil tidur adalah waktu terbaik untuk mengoptimalkan tumbuh kembang serta otaknya. Apabila gangguan ini terus- menerus terjadi, maka akan mempengaruhi tumbuh kembang serta perkembangan otaknya.

    Si kecil yang sering mengalami gangguan pencernaan juga akan banyak kehilangan kesempatan untuk belajar dan beraktivitas. Berbagai upaya harus dilakukan oleh ibu agar si kecil tidak terus mengalami gangguan pencernaan. Apabila si kecil mengkonsumsi susu formula, maka dibutuhkan formula yang mudah dicerna bagi perutnya yang peka.

    Setelah memahami berbagai gangguan pencernaan si kecil, mulai sekarang coba untuk tidak panik, ya. Tapi, segera atasi pencernaan peka si kecil. Jaga pencernaan si kecil untuk dukung kecerdasannya, ya :)
    Keke dan Transportasi Pulang Sekolah

    Keke dan Transportasi Pulang Sekolah

    http://www.kekenaima.com/2016/08/keke-dan-transportasi-pulang-sekolah.html


    Sekarang, Keke udah SMP *Cieee anak SMP hehehe* Karena udah gak satu lokasi dengan Nai, urusan transportasi pulang sekolah sempat bikin pusing. Kalau berangkatnya sih gak pusing karena Keke tetap diantar setiap hari sama Ayahnya. Abis itu ayahnya pulang lagi buat antar Nai.

    Tadinya, kami sempat bagi tugas. Ayahnya kebagian antar Keke sekalian ngantor. Sedangkan, Chi jadi dapat tugas baru yaitu antar Nai ke sekolah. Tapi, lama-kelamaan K’Aie memilih balik dulu ke rumah. Terlalu pagi ke kantor kalau sekalian antar Keke. Macet berat di jalan kalau masih pagi hehehe.

    Giliran pulangnya nih yang bingung. Jam pulang Keke memang setengah jam lebih cepat dari Nai. Jarak sekolahnya pun gak terlalu jauh. Tapi jalur maceeeett … Apalagi kalau jam sibuk. Trus di sekolah Keke gak ada parkiran buat mobil. Repot kalau Chi harus jemput.

    Enaknya gimana, ya?

    Sepeda

    Kelebihan naik sepeda adalah irit ongkos. Keke juga tetap berolahraga karena sepedaan. Makanya Chi sempat nawarin Keke untuk pulang-pergi pakai sepeda lagi. Gak terlalu jauh juga jaraknya dari rumah.

    Tapi ya itu, deh. Karena harus melewati jalan raya, Keke gak berani. Semrawut lalu-lintasnya, apalagi sama pengendara motor. Apalagi sekarang jalan raya ini lagi pembangunan jalan tol. Sepanjang jalan semrawut. Chi aja suka males banget lewat kalau gak terpaksa banget.

    Antar Jemput

    Antar jemput menjadi pilihan pertama. Chi pikir lumayan aman, lah kalau antar jemput walaupun harus keluar biaya bulanan yang lumayan.

    "Anak ibu dulu SDnya dimana?"

    Chi langsung heran ketika bertanya tentang biaya bulanan antar jemput yang ditanyain balik duluan oleh orang jemputannya adalah Keke dulu SDnya dimana. Hubungannya apa, ya? Rada males juga mau tanya balik, Chi langsung nyebutin aja nama SD Keke. Abis itu baru ditanya Keke rumahnya dimana. Kemudian baru deh dikasih tau bulanannya.

    Oke, gak usah pakai jemputan. *baper* :p

    Angkot (Angkutan Kota)

    Keke pernah naik angkot, tapi belum pernah naik sendiri. Makanya Chi sempat ragu untuk kasih dia naik angkot. Tapi kalau hanya itu masalahnya bisa dibiasakan. Cepat atau lambat mungkin dia akan merasakan juga pergi naik angkot tanpa didampingi orang tua.

    Masalahnya, kalau memilih transportasi umum ini, dia harus turun-naik angkot sampe 3x. Itupun gak sampe rumah, cuma di depan atau belakang komplek. Sisanya dia bisa jalan kaki atau naik ojek pangkalan.

    Lumayan juga ongkos bulanannya kalau diitung-itung. Apalagi kalau sampe dilanjut ojek pangkalan. Selain itu sampe rumah juga lebih lama. Jam sibuk kan susah cari angkot karena selalu penuh.

    Ojek

    Tadinya kepikiran untuk langganan per bulan ojek pangkalan. Kebetulan udah kenal baik dengan salah seorang ojek pangkalan. Biasanya kalau Chi lagi gak bisa jemput, tinggal telepon bapak ojek ini. Anak-anak juga udah kenal. Masalahnya, ojek pangkalan di komplek Chi pada gak punya helm buat penumpang. Gak tau lah kenapa. Makanya cuma maunya jarak dekat aja. Gak yang sampe ke jalan raya. Takut ditilang polisi kali.

    Mulai beralih memilih ojek online. Kalau dari pengeluaran sih lebih murah dibanding ojek pangkalan. Tarif ojek pangkalan bisa 3x lipat ojek online. Menggunakan jasa ojek online juga menjadi pilihan termurah dibanding beberapa alternatif transportasi. *Buat ibu-ibu, itung-itungan harga itu penting hehehe*

    Tapi gimana ordernya, ya? Kan, harus pakai aplikasi di handphone. Apa harus kasih izin bawa handphone ke sekolah? Salah seorang teman menyarankan supaya Chi aja yang orderin.

    Boleh juga idenya temen Chi ini. Trus, taunya Keke udah pulang gimana caranya? Ya, siapa tau dia harus pulang rada telat. Hahaha jadi pusing begini! Setelah diskusi sama K’Aie, kami sepakat mengizinkan Keke bawa handphone. Tapi, handphone jadul aja yang cuma bisa telpon dan sms-an. Gak berani ah kasih handphone yang bagus. Bisa nyesek banget kalau sampe hilang hehehe …

    Begini cara orderin ojek online buat Keke:


    1. Keke sms ke Chi, kasih tau kalau udah pulang 
    2.  Chi langsung orderin ojek online. Masukkan lokasi penjemputan (sekolah Keke) dan tujuan (rumah) 
    3. Ketika driver menelpon Chi kasih tau ciri-ciri Keke dengan detil. Jenis kelamin, warna tas, hingga lokasi penjemputan (biasanya Keke menunggu di gerbang sekolah) 
    4. Kalau perlu kasih nomor telepon Keke ke drivernya karena jam pulang sekolah, siswa yang naik ojek online sangat banyak :D

      Selama ini lancar aja. Malah sering dapat driver yang sama. Kalau kayak gitu, Chi udah gak perlu jelasin detil, tinggal bilang, “Biasa, Mas. Jemput anak saya.” Drivernya udah tau siapa yang harus dijemput hihihi. Pernah sih sekali bermasalah saat aplikasinya error. Panik sesaat karena gak bisa juga order. Akhirnya Keke pulang naik ojek pangkalan. Eh, begitu Keke sampe rumah, aplikasinya udah bener hahaha …

      Transportasi pulang sekolah udah ada solusinya. Paling Chi setiap hari harus ngecek handphone Keke. Pastikan battere selalu penuh. Minimal 3/4 , lah. Selalu disilent biar gak mengganggu kegiatan belajar. Pastikan juga selalu ada pulsa.

      Chi orangnya pelupa makanya suka khawatir kalau sampe lupa ngecek. Tapi kalau lupa isi pulsa sekarang solusinya gampang. Tinggal beli paket pulsa secara online aja di MatahariMall.com. Dalam waktu singkat pulsa pun bertambah lagi. Teman-teman pernah coba?

      Chi juga udah kasih tau Keke kalau sampe aplikasi error lagi. Atau sampe kejadian handphonenya hilang. Tetap dikasih tau buat jaga-jaga. Tapi semoga gak sampai terjadi. Mudah-mudahan pulangnya lancar terus. Aamiin


      Thursday, August 18, 2016

      Tang … Ting … Tung … Mari Berhitung Sebelum Membeli Rumah

      Tang … Ting … Tung … Mari Berhitung Sebelum Membeli Rumah

      http://www.kekenaima.com/2016/08/mari-berhitung-sebelum-membeli-rumah.html

      Bekasi tuh adem, tapi sepi banget. Masih ada sawah dan kali di dekat rumah. Kadang kalau malam juga suka ada kodok yang lagi nongkrong di teras rumah. Jangankan malam, kalau siang hari aja sunyi senyap. Jauuuuhhh … dari Jakarta hihihi …

      Etapi itu suasana lebih dari 20 tahun lalu, ya. Saat untuk pertama kalinya Chi pindah rumah ke Bekasi. Masih kelas 5 SD hihihi. Saat itu Bekasi memang masih sepi banget. Jauh dari mana-mana. Mall aja gak ada. Gak kayak sekarang yang menjamur mall dan perumahan.

      Walaupun wajah Bekasi sudah sangat berubah, dari daerah yang sangat sepi menjadi ramai dan tidak jauh beda dengan Jakarta, Chi tetap betah. I love Bekasi huahahaha!

      Friday, August 12, 2016

      "Time Please" Peluncuran Gerakan Kerjasama Peduli Lingkungan Antara Pramuka, Disney, dan Microsoft

      "Time Please" Peluncuran Gerakan Kerjasama Peduli Lingkungan Antara Pramuka, Disney, dan Microsoft

       

      Time Please. #WaktunyaBeraksi

      sumber foto: timeplease.id

      Salam Pramuka!

      "Kami di Walt Disney Indonesia sering mengadakan kegiatan sosial. Biasanya mengajak beberapa karakter Disney mengunjungi berbagai rumah sakit untuk menghadirkan keceriaan bagi anak-anak yang sedang sakit. Seringkali keluarga dilibatkan dalam kegiatan sosial ini. Anak-anak biasanya merasa senang. Dan dari situlah timbul ide untuk membuat Time Please, " ujar Mochtar Sarman, Country Director - Disney Consumer Product, The Walt Disney Company Indonesia.

      Lebih lanjut, Mochtar Sarman mengatakan kalau program Time Please ingin mengajak anak-anak untuk berkontribusi kepada masyarakat dalam kegiatan sosial. Keluarga pun diminta untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang dipilih oleh anak. Sifat-sifat Pramuka, yaitu gotong-royong, kekeluargaan, dan kebersamaan sama dengan sifat-sifat yang ada di keluarga besar Disney. Atas kesamaan tersebut pada hari Sabtu, 30 Juli 2016 bertempat di Gandaria City diluncurkan kerjasama antara Pramuka, Disney, dan Miscrosoft yang bernama Time Please.




      “Melalui Time Please, kami ingin mendorong dan menginspirasi anak-anak serta keluarga Indonesia untuk mulai melakukan perubahan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar mereka dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Bersama dengan Gerakan Pramuka, yang merupakan gerakan kepanduan dengan jumlah anggota terbesar di Asia Tenggara, kami berharap kompetisi ini dapat mendorong nilai-nilai sosial dan menanamkan jiwa kepemimpinan sejak dini,” ujar Mochtar Sarman, Country Director – Disney Consumer Products, The Walt Disney Company Indonesia. 

      Program Time Please akan berlangsung kurang lebih 3 bulan. Bertepatan dengan hari ulang tahun pramuka (14 Agustus 2016) hingga 10 November 2016 yang akan berlangsung di 5 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, dan Surabaya. Pemenang dari kompetisi ini akan diumumkan pada Januari 2017. Pada tahun 2018, program ini akan diperluas dengan menjangkau berbagai kota lainnya di Indonesia.


      Nai sudah meletakkan cap tangannya di sini. Bisa tebak mana cap tangan Nai? :)

      Time Please adalah sebuah kompetisi yang akan mengajak anak untuk lebih peduli dengan berbagai isu sosial di sekeliling mereka. Dari sisi teknologi, kerjasama ini juga menggandeng Microsoft Indonesia. Berbagai kegiatan sosial yang dilakukan bisa diupload ke website www.timeplease.id.

      “Kami sangat senang bisa menjadi bagian dari program Time Please di Indonesia karena program ini membuka kesempatan bagi anak-anak untuk turut mengajarkan coding dan kemampuan komputasi lainnya kepada keluarga, teman, serta komunitas mereka. Kami berharap pengalaman yang akan mereka dapatkan selama program ini bisa menciptakan pengaruh positif untuk komunitas dan masa depan mereka,” jelas Ruben Hattari, Corporate Affairs Director, Microsoft Indonesia.

      “Kegiatan ini merupakan inisiatif transformasional penting yang Microsoft jalankan bersama dengan Disney, Gerakan Pramuka, dan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) karena kami percaya setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan memiliki akses terhadap ilmu komputer. Dengan demikian, para penerus bangsa tidak hanya bisa menggunakan, tetapi juga menciptakan pembaruan melalui teknologi,” tambah Ruben.




      Acara ini dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan. Diawali oleh penampilan GAC hingga adik-adik pramuka SMP dan SMA. Ada juga berbagai game yang bertemakan dengan lingkungan. Selain penandatangan kerjasama dan meresmikan website Time Please, di saat dan tempat yang sama juga Gramedia merilis komik Donald Bebek edisi spesial Kwak Kwik Kwek "Pramuka Siaga". Teman-teman sudah bisa mendapatkannya mulai tanggal 10 Agustus 2016 di toko buku Gramedia.

      “Gerakan Pramuka sangat senang bermitra dengan Disney, yang memahami pentingnya membudayakan rasa peduli terhadap masyarakat dan memupuk karakter positif anak-anak. Saya sangat gembira karena inisiatif ini akan segera dimulai bertepatan dengan Hari Pramuka pada tanggal 14 Agustus mendatang. Nilai-nilai yang dianut oleh Pramuka Gaul (Gerakan Aksi Untuk Lingkungan), dan motto kami; Keren, Gembira, Asyik, akan ditampilkan melalui stan interaktif yang bertemakan lima kategori dalam kompetisi Time Please; Lingkungan, Pendidikan, Kepedulian Sosial, Kesehatan, dan Sanitasi, dengan cara yang seru dan menyenangkan untuk anak-anak. Bersama dengan Disney, kami ingin mendorong anak-anak untuk belajar nilai-nilai penting dari kegiatan sebagai relawan yang sejalan dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka,” ujar Adhyaksa Dault , Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Kompetisi ini berhadiah paket liburan bersama keluarga ke Hong Kong Disneyland selama dua malam untuk 4 orang untuk kategori individu. Sedangkan pemenang untuk sekolah di setiap kategorinya akan ada hadiah dengan nominal Rp.50.000.000,00 untuk membiayai fasilitas sekolah. Hadiahnya menarik banget, kan?

      Untuk info lebih lanjut, teman-teman bisa lihat mekanismenya di video di bawah ini atau meluncur ke website www.timeplease.id. Siap-siap ikutan, ya!

      Time Plese. #WaktunyaBeraksi


       

      Monday, August 8, 2016

      Keke dan Pencernaan Sensitif

      Keke dan Pencernaan Sensitif

      Pencernaan Sensitif 

      Keke dan pencernaan sensitif


      Makan dan istirahat yang cukup, benar, dan tepat waktu adalah 2 hal yang selalu rutin Chi ingatkan kepada Keke dan Nai. Kadang-kadang, Chi agak keras mengingatkan 2 hal itu kalau dirasa mereka mulai gak disiplin. Buat Chi, kalau Keke dan Nai bisa disiplin dengan 2 hal itu, aktivitas apapun yang mereka lakukan termasuk belajar, insya Allah akan lancar.

      "Enak kalau ketitipan Keke. Mamah gak resah karena dia kalau waktunya makan bakal jalan sendiri ke dapur. Gak perlu disuruh-suruh," kata Neneknya Keke.

      Keke memang termasuk yang cukup disiplin untuk urusan makan dan istirahat tanpa Chi harus terus-menerus mengingatkan. Chi gak resah kalau Keke menginap di rumah neneknya atau dimanapun. Karena Chi percaya kalau Keke tetap akan disiplin urusan makan dan istirahat.

      Contoh lainnya adalah ketika acara perpisahan sekolah yang diadakan di The Highland Park Resort, Bogor. Ketika ada jam bebas di hari pertama, Keke memilih untuk bersantai-santai dengan ngobrol ma beberapa temannya sambil cari camilan sore hehehe. Sebetulnya di jam bebas, boleh pada berenang tapi Keke gak mau karena sejak pagi hari sudah ikut berbagai game kemudian malamnya masih lanjut acara lagi. Makanya Keke memilih bersantai tanpa berenang. Malam harinya, acara berlanjut hingga larut malam. Katanya sih Keke memilih tidur sebelum acara selesai dengan alasan daripada besoknya kecapekan.

      Keke pun sakit selama hampir 1 bulan ...

      Hari ketiga Ramadhan lalu, Keke mengeluh kalau kurang enak badan. Kami pikir Keke cuma masuk angin. Biasanya sih disuruh istirahat sejenak dan (kalau perlu) dikasih paracetamol juga udah sembuh. Tapi, ini sampe besok kok belum sembuh juga? Malah tambah berat sakitnya.

      Setelah 4 hari demamnya gak turun, kami pun bawa Keke ke dokter. Harusnya setelah 3 hari demamnya gak turun udah harus dibawa ke dokter. Makanya, kami sempet diomelin dokter hehehe. Setelah diambil darah dan periksa lab, hasilnya positif Typus. Berarti ini kedua kalinya Keke terkena Typus.

      (Silakan baca postingan saat Keke terkena Typus beberapa tahun lalu)

      Kali ini Keke gak mau dirawat. Alasannya karena Chi gak setiap saat bisa menemani. Keke dan Nai sampe sekarang kalau lagi sakit memang masih harus ditemani. Dalam artian benar-benar ditemani. Chi gak boleh kemana-mana, harus selalu di samping mereka. Manja akut lah kalau lagi pada sakit hihihi. Sedangkan saat itu Chi harus beberapa kali ke sekolah mengurus kelulusan Keke. Keke gak mau ditinggal-tinggal begitu. Padahal ayahnya juga beberapa kali cuti buat jagain Keke. Tapi tetep aja harus ada bunda. Karena bersikeras gak mau dirawat, terpaksa rawat jalan.

      Selama sakit, Keke cuma bisa makan bubur cair. Itupun beruntung banget kalau gak dimuntahin lagi. Kasihan banget melihatnya. Istirahatnya pun gak nyenyak. Setengah jam atau sejam sekali bisa terbangun dan menangis karena kesakitan. Duh :'(

      Keke baru mulai enakan menjelang lebaran. Udah mulai bisa makan nasi lembut dan tidur yang lama. Menjelang lebaran malah mulai tidur melulu. Bisa sampe 18 jam kalau udah tidur. Itupun terpaksa dibangunin karena belum makan. Setelah itu, dia tidur lagi. Kayaknya ngebayar waktu tidurnya yang selama beberapa minggu hilang. Karena lumayan lama sakitnya, berat badannya lumayan susut banget. Sampai lebih dari 6 kg. Kurus banget badannya.

      Kalau dipikir-pikir lagi, Keke itu jarang banget sakit. Tapi sekalinya sakit suka lama dan paling sering menyerang pencernaan. Waktu usia 2 tahunan, Keke pernah terkena diare parah sampe badannya kurus banget. Pernah juga terkena Leptospirosis yang membutuhkan penyembuhan lumayan lama. Kebanyakan pencernaan Keke yang kena. Itulah kenapa Chi juga makin disiplin untuk urusan makan dan istirahat.

      (Silakan baca: Jangan Sampai Tumbuh Kembang Anak Terganggu Karena Pencernaannya yang Sensitif)

      Tapi waktu itu memang kelihatan Chi maupun Keke agak kurang kontrol. Seminggu sebelum UN, kami sekeluarga mendaki gunung Prau. Minggu depan dilanjut UN. Kemudian gak lama perpisahan sekolah di The Highland Park Resort. Selesai perpisahan, kami gak langsung pulang. Tapi langsung camping ke Tanakita. Bener-bener rangkaian kegiatan yang bikin capek sebetulnya. Untungnya Keke masih disiplin makan dan istirahat.

      [Silakan baca: Traveling Sebelum Ujian]
       
      Seminggu setelah pulang dari Tanakita, tibalah bulan Ramadhan. Di hari pertama, Keke ketemu sepupunya. Happy banget dia ketemu sepupunya. Main terus sampe lumayan larut malam. Chi gak melarang karena dipikir udah mulai libur. Tapi, makannya gak disiplin. Ketika menginap di rumah neneknya, Keke cuma sahur sama mie instant. Sempet bolak-balik juga ke rumah neneknya buat main. Selama ini Chi gak pernah larang, sih. Hanya saja mungkin kali ini Keke sedang capek ditambah pola makan gak bener padahal lagi puasa, akhirnya tumbang deh di hari ke-3 dan gak puasa terus hingga lebaran tahun ini.

      Sekarang Keke udah masuk sekolah. *Cieeee ... Anak SMP! :D* Nafsu makannya udah mulai normal. Dia tetep pengennya dibekalin sama Bunda. Asiiikkk ... Biar kata rempong, tapi Chi seneng kalau anak-anak masih mau dibikinin bekal. Iyalah apalagi kalau anaknya punya pencernaan sensitif gitu. Kayaknya lebih lega kalau bawa bekal dari rumah. Abis ini terus disiplin ya, Nak :)

      Oiya, ini juga yang bikin Chi gak aktif menulis akhir-akhir ini. Dimulai dari persiapan UN buat Keke hingga ngurusin masuk SMP Negeri yang sempat bikin kapok hahaha. Tadinya, Chi pikir selama Ramadhan bisa produktif menulis. Eh, gak taunya Keke sakit. Selama sakit, kegiatan Chi lebih banyak nemenin di sampingnya. Susah buat ngapa-ngapain. Setelah Keke keterima di SMPN, vakum menulis masih berlanjut karena Keke butuh penyesuaian yang cukup banyak di sekolah barunya. Nanti lah satu per satu Chi ceritain di postingan lain :)

      Wednesday, August 3, 2016

      Gadget Sebagai Teman Si Kecil

      Gadget Sebagai Teman Si Kecil

      gadget teman anak, samsung galaxy tab a, samsung, tablet

      Gadget sebagai teman si kecil


      Duh, mendingan berpikir ulang, deh! Bikin anak jadi gak bergerak, nanti obesitas. Bikin anak jadi menatap layar melulu. Bisa-bisa masih kecil udah pake kacamata. Belum lagi banyak konten yang gak pantas! Bisa ditiru ma anak-anak, nih.

      Etapi ...

      Trus, ada tugas dari sekolah yang sumbernya bisa dicari di internet. Ada tugas kelompok juga tapi cari waktu ngumpulnya sulit banget. Padahal kalau diskusinya lewat LINE pasti udah beres.

      Jadinya gimana, nih? Mulai mengenalkan gadget ke anak atau enggak, ya? Binguuuuungg!

      Cerita yang di atas hanya ilustrasi aja ya, Teman-teman. Tapi, apakah teman-teman pernah mengalami kegalauan yang sama? Sebelum memutuskan, mendingan baca artikel ini dulu lalu ditimbang-timbang perlu atau tidak mengenalkan anak dengan gadget.


      Sedini Apa Orang Tua Mengenalkan Gadget Pada Anak?


      "Sedini apa orang tua mengenalkan gadget pada anak?" Begitu pertanyaan awal dari mbak Anna Surti Nina S.Psi., M.Si, Psikolog pada acara "Jadikan Gadget Teman Si Kecil bersama Samsung Galaxy Tab A" di Letter D, Jakarta (23/7).

      Usia 2 tahun? 3 tahun? Atau di atas 5 tahun? Kenyataannya, disadari atau tidak, banyak orang tua yang mengenalkan gadget pada anak sejak lahir. Begitu bayi lahir, difoto dan langsung diupload ke social media. Saat itulah orang tua mulai mengenalkan anak pada gadget.

      Lalu bagaimana orang tua menghadapi rasa parno terhadap efek negatif gadget? Penggunaan gadget memang bisa merugikan bila penggunaannya


      1. Berlebihan
      2. Tidak cerdas
      3. Tidak tahu aturan 

      Minim batasan Efek merugikan dari penggunaan gadget pada anak bisa mempengaruhi kemampuan fisik dan motorik, kognitif dan bahasa, serta emosi dan sosial. Keterlembatan tumbuh kembang, insomnia, obesitas, gangguan sensori, kesulitan menulis menjadi permasalahan untuk kemampuan fisik dan motorik. Prestasi menurun, kesulitan konsentrasi, daya ingat bermasalah, muncul berbagai ide yang tak sesuai usia, keterlambatan bicara, dan kesulitan komunikasi menjadi masalah untuk kempuan kognitif dan bahasa anak. Sedangkan untuk masalah di bagian sosial dan emosi antara lain kurang kenali dan kendalikan emosi diri, kesepian, kecanduan, lebih agresif, gangguan kecemasan, depresi, lebih rentan terkena cyber bullying, dan lebih sulit bahagia.

      Tapi, sebelum berkesimpulan kalau gadget sudah pasti buruk, ternyata sisi positifnya pun ada, yaitu


      1. Memperluas wawasan
      2. Mudah mencari informasi
      3. Cara aman untuk bereksplorasi
      4. Meningkatkan kemampuan berpikir strategis
      5. Memunculkan ide kreatif
      6. Lebih mudah belajar bahasa
      7. Mudah berkomunikasi dengan orang lain
      8. Menghibur 
       
      Mbak Nina bercerita ketika putranya ingin melihat mulut buaya tentu saja tidak mungkin mengajaknya melihat buaya lalu membuka mulutnya. Sangat berbahaya. Yang dilakukan adalah melihat mulut buaya melalui gadget. Rasa ingin tahu anak terpenuhi tapi tetap aman.

      Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik Termasuk dalam hal penggunaan gadget. Positif atau negatif tergantung bagaimana menggunakannya. Di setiap rentang usia ada durasi menggunakan gadget. Usia 0-2 tahun memang tidak disarankan untuk diberi gadget. Selain masih dalam masa keemasan untuk pertumbuhannya, di rentang usia tersebut biasanya kebiasaannya adalah amati, menggigit, pukul, dan banting. Bila ada anak usia 0-2 tahun membanting gadget tentu saja jangan anaknya yang disalahkan, ya. Karena membanting memang masih jadi salah satu kebiasaan anak di usia tersebut.

      Sering berinteraksi dengan anak, seperti mengajak diskusi, bermain, dan lain sebagainya. Adakan waktu tanpa gadget pada saat tertentu seperti waktu makan, belajar, beribadah, dan lainnya. Perbanyak berinteraksi dengan alam dengan cara mengajak liburan, olahraga, kumpul keluarga, dan lain-lain. Cara-cara tersebut bisa dilakukan untuk meminimalkan efek negatif dari gadget.

      Asalkan tepat menggunakan gadget, maka tidak perlu terlalu khawatir akan pengaruh buruk dari gadget Menurut mbak Nina, orang tua bisa memaksimalkan pengaruh baik gadget dengan cara


      1. Mengenalkan fitur apa saja yang boleh dimainkan anak
      2. Carikan anti virus terbaik
      3. Aktifkan Kids Mode
      4. Minta anak membuat karya yang disukai dari dunia digital
      5. Bantu anak belajar bedakan mana yang boleh diklik dan tidak  
       
       

      Samsung Galaxy Tab A - Tablet yang Ramah Anak


      Semakin banyak anak yang mulai mengenal gadget, maka mulai dirasa perlu gadget yang ramah anak. Tidak semua gadget memiliki fitur Kids Mode. Apabila teman-teman ingin mengenalkan gadget kepada putra-putrinya, bisa diberikan tablet Samsung Galaxy Tab A.

      Tablet Samsung Galaxy Tab A sudah memiliki fitur Kids Mode. Orang tua bisa mengontrol dan mensetting penggunaan gadget bagi anak. Dimulai dari setting durasi hingga memilihkan aplikasi apa saja yang ada bila fitur Kids Mode diaktifkan. Tersedia pula kamera dengan aneka stiker yang lucu.

      Fitur Kids Mode ini tentu bisa membantu orang tua dalam melakukan kontrol terhadap anak dalam hal penggunaan gadget. Yang penting jangan sampai anak tau password untuk mengaktifkan Kids Mode. Kalau sampai tau, percuma aja. Langsung ganti passwordnya kalau anak udah tau, ya :D

      Monday, August 1, 2016

      Fish Express untuk Menu Bekal Sekolah

      Fish Express untuk Menu Bekal Sekolah

      fish express, bekal sekolah 

      Fish Express untuk Menu Bekal Sekolah


      Antara ikan, ayam, bebek, daging sapi, atau daging kambing, mana yang teman-teman paling suka? Kalau keluarga kami, berdasarkan urutan paling suka adalah

      1. Ikan
      2. Daging kambing
      3. Bebek
      4. Daging sapi 
       
      Ayam Ikan yang kami maksud ini bisa ikan laut atau air tawar, ya. Pokoknya yang namanya ikan, kami pasti suka dan bisa makan dengan sangat lahap. Aneka seafood seperti udang, cumi, atau kerang bolehlah dimasukkan ke urutan ikan. Tapi karena memang paling jarang dibandingkan kelima lauk tadi makanya gak dimasukkan ke daftar.

      Diantara kelima lauk tadi, mana yang paling asik dibawa buat bekal?

      Jawabannya, tinggal di balik aja. Ayam berada di peringkat paling atas dan ikan ada di peringkat terakhir. Alasannya adalah karena ayam paling mudah dimakan. Padahal kalau Chi bawain ayam, mereka suka komen, "Ayam lagi?" Itu karena mereka gak terlalu suka ayam. Sesekali boleh bawain ayam, tapi kalau keseringan bosan. Herannya kalau ikan gak pernah bosan. Etapi gak heran, sih. Karena Chi juga lebih suka ikan.

      Sayangnya kalau ikan suka banyak durinya. Ngerepotin kalau dibikin bekal. Etapi kalau ikan laut biasanya gak banyak duri, ding. Cuma memang lebih sering juga makan ikan air tawar dibanding ikan laut. Salah satu alasannya adalah lebih mudah didapat di pasar :)

      Kemudian, Chi pun berkenalan dengan Fish Express...


      Fish Express menyediakan produk daging ikan yang sudah difilet dan dicuci bersih. Produk unggulan kami adalah daging Ikan Lele. Produk lainnya adalah ikan Gurame, Golden Dory (Patin), dan Babyfish. - sumber: Fanpage Fish Express - 
       
       

      Gurame


      Biasanya kalau Chi beli gurame di pasar, Mamah suka rada heboh mengingatkan. Bagus gak tuh guramenya? Hati-hati kalau milih gurame. Bla ... bla ... bla ...

      Intinya, sih, kalau gak bisa milih, ikannya bakal terasa bau tanah. Mau dikasih bumbu kayak apapun, susah buat menghilangkan rasa tanahnya itu. Makanya mamah suka melarang beli gurame di sembarang tukang ikan. Ujung-ujungnya nyaranin konsumsi ikan gurame dari kolam sendiri di Ciamis sana. Yaaa belum tentu setahun sekali konsumsi gurame kalau kayak gitu. Apalagi Chi udah lama banget gak ke Ciamis hehehe. Atau kalau mau beli di tukang ikan langganan di mana mamah biasa beli gurame itu jauh aja. Bukan di pasar yang dekat rumah :D

      Gurame di Fillet Express, dijamin gak bau tanah. Udah difillet juga. Jadi Chi tinggal kasih sedikit garam lalu digoreng. Kalau mau ada sedikit rasa crunchy, dikasih tepung sedikit. Jadi fillet gurame goreng tepung, deh. Tambahin sambal dabu-dabu atau sambal bawang plus nasi hangat, bakalan banyak banget makannya, deh hehehe.


      Golden Dory


      Sama kayak gurame Fish Express, golden dory pun sudah difillet. Tinggal diolah aja. Mengolahnya pun sama, dikasih garam dikit atau ditepungin dulu baru digoreng. Chi memang agak jarang mengolah ikan dengan banyak bumbu. Karena semakin minimalis pengolahan ikan justru biasanya makin enak.


      Baby Fish


      Orang Sunda biasanya bilangnya ikan benteur. Itu loh ikan kecil-kecil yang digoreng garing. Berbeda dengan kedua ikan di atas, kalau baby fish ini udah digoreng setengah matang baru dikemas. Untuk mengolahnya tinggal digoreng sebentar aja di minyak yang panas.

      Chi sempat cobain sebelum digoreng, ternyata udah enak hahaha. Bumbunya berasa. Walaupun baru setengah matang, rasanya tetap krispi. Mungkin karena proses kemasannya yang tertutup rapat. Tapi akhirnya Chi tetap goreng lagi. Nasi hangat ketemu ikan hangat, wuiihhh mantaaap!

      Chi juga penggemar kemasan yang unyu-unyu. Dan, kemasan Fish Express ini sederhana tapi unyu-unyu. Gak banyak tulisan ini-itu di kemasannya. Tapi jelas terbaca mana itu baby fish, golden dory, gurame, atau lele.

      Produk Fish Express gak menggunakan bahan pengawet. Setelah difillet dan dicuci bersih, langsung dikemas dengan mesin vakum. Kemasan plastiknya sangat rapat. Jadi, sangat disarankan untuk langsung masukkan ke dalam freezer bila gak langsung diolah. Bisa tahan sampai 3 bulan kalau difreezer. Produksi ikannya juga berasal dari kolam sendiri. Karena ownernya adalah peternak ikan. Jadi, kualitas ikannya sudah pasti lebih terkontrol. Dan pastinya mendukung produk lokal, dong.

      Teman-teman, berminat mencoba Fish Express? Kalau Chi masih penasaran dengan Lele filletnya. Lagipula, anak-anak suka banget kalau dibekelin ikan. Order, ah! :)


      Fish Express


      SMS dan WA 0812.2005.4556
      BBM 7CBDAA49
      Email di filet.ikan@gmail.com

      Fanpage: Fish Express
      Instagram: FishExpress_Id