Selasa, 27 Februari 2018

Susu UHT Bergizi yang Menjadi Kesukaan Anak

susu uht bergizi untuk anak

K'Aie: "Kok ini susu masih di sini, Bun?"
Chi: "Oiya, lupa!"

Beberapa waktu lalu, K'Aie beli susu UHT. Biasanya langsung Chi masukin ke kulkas. Tapi karena lupa, susu UHT yang dbeli K'Aie masih tergeletak di kantong belanjaan. Chi sempat agak cemas karena itu susu mau diminum ma Keke dan Nai di pagi hari. Kira-kira basi gak ya kalau sekitar 24 jam berada di suhu ruang? Alhamdulillah, ternyata enggak.

Kok bisa gak basi? Pakai pengawet, kah? Eits! Daripada ambil kesimpulan sendiri yang belum tentu benar, mendingan baca dulu di postingan ini kenapa susunya gak basi. Pastinya gak pakai bahan pengawet, lho.

Continue Reading
14 komentar
Share:

Selasa, 20 Februari 2018

Ketika Keke Bercita-Cita Menjadi Pembalap Motor Profesional

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Catatan: Saat ini Keke berusia 13 tahun. Sebelum menghakimi kenapa kami membolehkan Keke belajar mengendarai motor, lebih baik baca dulu artikel ini hingga tuntas ya 😊

Anak di bawah umur udah belajar mengendarai motor? Awalnya Chi gak setuju banget, apapun alasannya. Apalagi di komplek tempat kami tinggal ini sering bersliweran anak-anak kecil udah pada mengendarai motor. Tidak pernah memakai helm dan kebut-kebutan pula. Kalau diingetin kayak yang ngeledek. Makin kesel kan ngelihatnya. Pernah coba dikejar tapi mereka malah makin ngebut sambil ketawa-tawa. Akhirnya Chi berhenti mengejar karena di komplek juga banyak anak kecil main di luar. Bahaya banget kalau bocah-bocah yang udah mengendarai motor itu makin gak fokus bawa kendaraan.

Continue Reading
72 komentar
Share:

Senin, 12 Februari 2018

Tips Memilih Tas Sekolah Anak

Tips Memilih Tas Sekolah Anak

Tips Memilih Tas Sekolah Anak


Bila berbagai benda bisa berbicara, mungkin tas sekolah dan botol minum yang paling memiliki banyak cerita. Sejak kelas 3 SD, Keke belum berganti tas sekolah. Botol minum malah lebih lama lagi usianya. Kalaupun ganti tas bukan karena rusak tapi karena bosan. Tas sekolahnya masih bagus, malah gak hanya dibawa ke skeolah saja. Kalau kami lagi jalan-jalan ke luar kota, termasuk naik gunung, tasnya sering dipakai.

Ketika mencari tas, kadang-kadang suka bingung pilihnya. Pilihannya banyak banget tapi juga pengennya yang awet. Makanya harus mempertimbangkan beberapa hal supaya tasnya awet. Apalagi anak-anak masih dalam masa pertumbuhan. Penting banget memilih tas dengan kualitas baik biar gak berimbas pada kesehatan mereka. Chi punya tips memilih tas sekolah anak.

[Silakan baca: Tips Belajar Asyik dan Menyenangkan Bagi Anak]

Tas Karakter atau Tidak?

Kalau Chi lebih suka tas yang polos aja biar awet tapi anak-anak kan biasanya senang yang berkarakter. Biasanya dipilih karakter idolanya. Kalau anaknya bisa dibujuk untuk pilih yang polos sih gak apa-apa. Tapi kalau anaknya bersikeras ingin yang karakter, harus dipertimbangkan juga karena yang akan pakai kan dia. Punya tas sekolah sesuai dengan yang diinginkan bisa membuat anak jadi semakin semangat ke sekolah.

Waktu baru masuk SD, Keke lagi suka karakter Thomas. Jadi tas dan peralatan tulisnya ada karakter Thomas. Dia seneng banget pakai tasnya meskipun cuma sampai kelas 2 SD aja. Setelah itu dia minta ganti yang polos. Alasannya udah gede, malu pakai tas yang berkarakter. Padahal Chi gak pernah bilang pakai tas berkarakter itu bikin malu, lho hehehe.

Tas Trolley atau Ransel?

Udah bukan rahasia lagi ya kalau pelajaran anak-anak zaman sekarang banyak banget. Bikin tasnya jadi berat. Dulu, tas trolley mungkin hanya dipakai untuk traveling. Tapi sekarang, tas trolley juga banyak dipakai anak sekolah biar mereka gak keberatan membawa tas.

Tas Keke waktu pertama kali masuk SD pun begitu. Tetapi ketika kelasnya mulai di lantai atas, memakai tas trolley malah lebih merepotkan daripada ransel. Keke dan Nai sendiri yang bilang seperti itu. Alasannya kalau pakai ransel, meskipun berat tapi masih gampang dibawa. Tas trolley malah lebih ribet kalau dibawa ke lantai atas.

Bahan Tas

Ketika baru masuk TK, Keke pernah dikasih tas sama sekolahnya. Dia seneng banget, dong. Maunya pakai tas yang dikasih padahal Chi udah bilang kayaknya kualitasnya kurang bagus. Tapi karena Keke ngotot pengen pakai, Chi turutin deh. Bener aja, kayaknya cuma sekitar 2x pakai udah jebol.

Tas sekolah anak yang Chi pilih berbahan kanvas. Tas berbahan tersebut termasuk yang bagus, tahan lama, dan ringan. Pilih juga yang waterproof. Apalagi namanya anak-anak, kadang-kadang naro tasnya suka sembarangan. Ada lantai yang basah, main taro tas aja. Untung tasnya waterproof, jadi gak masuk ke dalam airnya.

Ukuran Tas

Ada berbagai ukuran tas. Kalau beli tas anak laki-laki secara online, lebih bagus yang spesifikasinya detil termasuk dalam hal ukuran. Sebaiknya jangan beli tas yang kekecilan atau kebesaran.

Tidak hanya ukuran tas saja, tapi lebar selempang tas juga harus dipertimbangkan. Sebaiknya cari selempang tas berukuran lebar. Semakin kecil ukurannya bisa bikin pundak menjadi sakit. Apalagi kalau tasnya semakin berat.

Spesifikasi Lainnya

Biasanya Chi lihat bagian dalamnya. Minimal ada 2 bagian biar rapi isi tasnya. Lebih suka yang bagian belakangnya ada busa tipis. Jadi ketika tas bersentuhan dengan punggung tetap berasa empuk. Selempang tas juga sebaiknya tidak hanya lebar tapi juga ada busa empuk supaya bahu semakin nyaman. Lebih bagus lagi kalau ada tali di bagian pinggang, sehingga beban semakin tebagi.

Ada Kartu Jaminan

Tas yang dimiliki anak-anak ada garansi seumur hidupnya. Alhamdulillah sampai detik ini belum kepake sama sekali kartu jaminannua. Berarti kira-kira udah 7 tahunan tas sekolahnya dipakai. Selama itu pula belum beli tas sekolah lagi. Lumayan awet, kan? Tapi tentang kartu jaminan sih hanya opsi tambahan. Bukan berarti yang gak ada jaminan kualitasnya jelek, lho. Jadi pertimbangkan juga berbagai tips di atas.

Salah satu tas sekolah anak-anak yang awet itu ada yang dibeli secara online. Paling enak memang beli di toko online yang kasih spesifikasi detil. Tapi kalaupun enggak, jangan sungkan untuk bertanya. Namanya juga pembeli, pastinya gak mau kecewa.

Kalau teman-teman adakah spesifikasi lain dalam memilih tas?

[Silakan baca: Bangga dengan Prestasi Akademis Anak, Yay or Nay?]

Continue Reading
41 komentar
Share:

Minggu, 04 Februari 2018

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?


"Udah berhenti nangisnya! Anak laki-laki kok menangis, kayak perempuan aja!"

Seorang anak laki-laki berusia sekitar 5-6 tahun sedang menangis. Chi gak tau apa yang membuatnya menangis. Chi juga gak tau sudah berapa lama dia menangis. Tapi yang pasti, seorang ibu membentaknya untuk berhenti menangis.

Kalau melihat situasi begitu suka bikin serba salah yang lihat. Rasanya pengen langsung negur. Idealnya begitu, kan? Kita tegur baik-baik supaya si ibu sadar. Tapi apa iya selalu begitu hasilnya? Manusia kadang suka defensif kalau ditegur. Suka malah jadi balik marahin yang menegur. Atau bisa juga hanya diam, tapi anaknya bakal tambah dimarahin karena dianggap udah bikin malu dan ibunya ditegur orang. Padahal kita udah negurnya baik-baik. Serba salah kalau begini, ya.

Chi kemudian berpikir, apa iya laki-laki gak boleh menangis? Keke pernah menangis. Bahkan ayahnya pun pernah menangis. Terakhir kali Chi lihat K'Aie menangis itu saat mamahnya wafat sekitar 4 bulan yang lalu. Apakah mereka terlihat jadi seperti perempuan saat menangis? Enggak sama sekali.

Menangis adalah salah satu cara untuk mengungkapkan emosi. Biasanya manusia menangis karena sedih atau marah. Walaupun ada juga menangis karena bahagia atau terharu. Laki-laki menangis? Wajar aja, sih. Laki-laki kan juga manusia punya rasa dan punya hati. *trus nyanyi*
Chi gak pernah melarang Keke untuk menangis. Chi hanya selalu mengingatkan untuk jangan berlebihan ketika menangis. Kalau ini sih gak hanya untuk Keke. Naima pun suka Chi ingatkan untuk tidak berlebihan saat menangis. Cuma mungkin mungkin porsi menangis antara laki-laki dan perempuan aja yang berbeda, ya. Selain karena urusan hormonal, perasaan perempuan memang lebih peka daripada laki-laki. Jadi wajar saja kalau perempuan lebih banyak atau mudah menangis.

[Silakan baca: Memahami Arti Tangisan Bayi]

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Kadang gak hanya menangis, terlihat sedih aja udah semacam hal yang tabu buat laki-laki. Kalau kayak gitu, Chi malah khawatir nanti gak punya atau minim rasa empati. Bagaimana laki-laki bisa mengerti rasa sedih perempuan kalau dia sendiri dilarang untuk bersedih, apalagi sampai menangis? Sering kan kita mendengar atau mungkin merasakan sendiri kalau laki-laki tuh makhluk yang paling gak peka? Ya penyebabnya mungkin berbagai macam. Bisa jadi cara laki-laki dan perempuan mengungkapkan rasa sayang memang berbeda, makanya kelihatan gak peka. Tapi bisa saja beneran gak peka dalam artian terlalu cuek, gak bisa jaga perasaan pasangan, hingga melakukan kekerasan terhadap perempuan. Duh, jangan sampai terjadi, ya 😖

Bayi yang baru lahir aja, normalnya semua menangis, kan? Apa iya ada larangan kalau sebaiknya bayi laki-laki gak boleh menangis? Jadi ya gak apa-apa lah laki-laki menangis tapi beri pengertian supaya jangan menangis berlebihan. Kadang Chi juga suka menegur Keke kalau menangisnya berlebihan. Tapi jangan sampai dia berpikir kalau menangis udah pasti cengeng.

Seorang laki-laki memang harus kuat, tidak hanya dalam artian fisik. Laki-laki harus kuat dan tangguh menghadapi berbagai hal dalam hidup. Apalagi kelak, seorang laki-laki akan menjadi pemimpin. Paling tidak menjadi pemimpin keluarga.

Seorang pemimpin yang kuat bukan berarti yang gak  punya perasaan. Jadi biarkan sesekali laki-laki mengungkapkan perasaannya dengan menangis. Jangan lupa memberikan anak pelukan dan usapan sebagai tanda kalau orang tua mengerti kesedihannya. Bertanya apa yang membuatnya menangis setelah tangisannya reda, supaya anak juga merasa diperhatikan. Kalau perlu, tawarkan bantuan untuk mencari solusi.

Dengan tidak menghakimi anak laki-laki menangis sebagai anak yang cengeng apalagi kayak perempuan, tidak membuat perasaannya semakin down. Dan dengan tidak menghakiminya juga menandakan kalau orang tua akan selalu berusaha mengerti perasaannya. Setidaknya itu yang Chi lakukan untuk Keke. Ya semoga aja Keke menjadi laki-laki yang peka terhadap siapa pun. Aamiin.

[Silakan baca: Beri Mereka Penjelasan]

Continue Reading
40 komentar
Share: