Tuesday, February 27, 2018

Susu UHT Bergizi yang Menjadi Kesukaan Anak

Susu UHT Bergizi yang Menjadi Kesukaan Anak - K'Aie: "Kok ini susu masih di sini, Bun?"
Chi: "Oiya, lupa!"

Beberapa waktu lalu, K'Aie beli susu UHT. Biasanya langsung Chi masukin ke kulkas. Tapi karena lupa, susu UHT yang dbeli K'Aie masih tergeletak di kantong belanjaan. Chi sempat agak cemas karena itu susu mau diminum ma Keke dan Nai di pagi hari. Kira-kira basi gak ya kalau sekitar 24 jam berada di suhu ruang? Alhamdulillah, ternyata enggak.


susu uht bergizi untuk anak

Kok bisa gak basi? Pakai pengawet, kah? Eits! Daripada ambil kesimpulan sendiri yang belum tentu benar, mendingan baca dulu di postingan ini kenapa susunya gak basi. Pastinya gak pakai bahan pengawet, lho.

Sabtu, 24 Februari 2018 di Blue Jasmine, Jakarta, Tetra Pak Indonesia mengadakan blogger gathering dengan tema "Susu Bergizi Kesukaan Anak". Gabrielle Angriani, Communications Manager Tetra Pak Indonesia, mengatakan bahwa konsumsi susu seharusnya sejak lahir hingga dewasa. Diawali dengan ASI eksklusif selama 6 bulan kemudian dilanjutkan ke produk susu.


Indonesia adalah negara dengan populasi penduduk terbesar ke-4 setelah China, India, dan AS. Sayangnya tingkat konsumsi susunya terendah dibanding negara ASEAN.

Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi susu menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia. Padahal susu mengandung berbagai nutrisi penting diantaranya adalah kalsium, vitamin B, protein, fosfor, vitamin A, dan lain sebagainya. Berbagai kandungan ini juga ada di bahan makanan lain. Tapi kadang-kadang ada bahan makanan yang masih belum mudah dinikmati oleh anak.

Meskipun demikian, ada berbagai kendala yang biasanya terjadi ketika memberikan susu kepada anak yaitu


  1. Sering gak habis
  2. Terlalu memilih rasa susu
  3. Takaran air saat membuat susu belum tentu tepat sehingga kebutuhan anak untuk sekali minum susu belum tentu terpenuhi
  4. Kualitas air yang kurang baik. Misalnya banyak bakteri sehingga anak malah diare setelah minum susu atau sirnya terlalu panas
  5. Sulit memberi susu ketika anak sedang tidak berada di rumah. Biasanya anak-anak zaman sekarang banyak beraktivitas di luar rumah misalnya ikut berbagai macam les

Susu UHT bisa menjadi solusi dari berbagai kendala di atas. Nutrisinya sudah pas, praktis karena tinggal minum, dan rasanya pun bervariasi. Kan, kadang-kadang ada anak yang senang gonta-ganti pilihan rasa susu. Kalau minum susu UHT, orang tua gak perlu memaksa karena memiliki berbagai varian rasa yang disukai anak. Meskipun yang plain tetap paling baik karena tidak mengandung gula, tetapi sebagai alternatif biar anak gak bosan beberapa varian rasa ini bisa dipilih oleh anak. Susu UHT juga awet sehingga tidak perlu disimpan di kulkas.

Susu UHT yang belum dibuka kemasannya bisa tahan lama hingga 9-12 bulan tanpa dimasukkan ke kulkas. Bila sudah dibuka, bisa bertahan hingga 3-4 hari tergantung kondisi kulkas. Tetapi bila susu UHT diminum menggunakan sedotan, biasanya susu kemasan kecil, sebaiknya segera dihabiskan paling lambat 4 jam karena sedotan bisa menjadi jalan masuk bakteri yang membuat susu menjadi mudah basi.
susu uht bergizi untuk anak
Merk susunya berbeda-beda tapi kemasannya mengunakan Tetra Pak. Kemasan Tetra Pak tidak hanya untuk susu tapi diberbagai produk makanan atau minuman lain. Coba cek deh makanan atau minuman kemasan yang biasa dikonsumsi teman-teman. 😊


Susu UHT tidak menggunakan pengawet. Susu UHT bisa bertahan lama karena diawali dengan berbagai proses sehingga nutrisi tetap terjaga dan mengeliminasi semua bakteri jahat. Kualitas kemasan juga berpengaruh terhadap daya tahan susu. Kualitas yang baik juga membuat susu UHT tetap awet selama belum dibuka.

Pada dasarnya berbagai macam bahan pangan sangat mudah rusak. Apalagi bila tidak ditangani dengan baik. Oleh karenanya sejak dulu yang namanya pengawetan makanan sudah mulai dilakukan agar umur bahan makanan menjadi lebih panjang. Tetapi kadang-kadang ada beberapa bahan pangan yang tampilannya menjadi kurang baik bila diawetkan. Misalnya ikan segar selalu terlihat lebih baik dari ikan asin meskipun daya tahannya tidak seawet ikan asin.

Ada juga yang kandungan nutrisinya berkurang setelah bahan pangan diawetkan. Oleh karenanya teknologi membuat bahan makanan agar lebih tahan lama tanpa mengurangi tampilan dan nutrisinya tetap terjaga terus dikembangkan.


Susu merupakan media yang disukai oleh mikro organisme. Bakteri mudah bertumbuh dengan baik sehingga susu mudah sekali basi. Susu yang sudah tidak layak minum bisa menimbulkan berbagai macam penyakit seperti diare, typus, dan lain sebagainya.

Teknologi pemrosesan pada susu yang bisa tahan lama dan nutrisi tetap terjaga adalah dengan UHT (Ultra-High Temperature). Susu segar dipanaskan dalam suhu 135 derajat Celcius selama 2-4 detik. Setelah pemanasan, proses pendingingannya juga dilakukan dnegan cepat. Proses yang sangat singkat ini membuat rasa susu tetap terasa segar, nutrisi terjaga, dan seluruh bakteri jahat tereliminasi.

susu uht bergizi untuk anak

Susu yang sudah melalui proses pengolahan langsung ditransfer menggunakan proses aseptik. Tetra Pak merupakan pionir kelas dunia yang sudah beroperasi sejak tahun 1952 untuk pengemasan aseptik. Kemasan ini memungkin susu tetap bisa didistribusikan tanpa menggunakan pendingin dan awet kualitasnya.

Menurut Lisa Suhanda, Food Technologist Tetra Pak Indonesia, proses pengemasan aseptik ini tidak ada kontak dengan tangan manusia. Tujuannya untuk menghindari masuknya mikro organisme ke dalam susu. Sebelum susu dimasukkan, seluruh alat disterilisasi terlebih dahulu. Mikro organisme yang tidak bisa masuk serta kemasan yang dibuat kedap membuat susu menjadi tahan lama.

Kemasan aseptik terdiri dari 6 lapis yaitu 3 lapisan plastik, alumunium foil, dan karton. Semua lapisan memiliki fungsi masing-masing. Misalnya melindungi nutrisi dari cahaya karena ada beberapa nutrisi dalam susu yang sensitif terhadap cahaya hingga membuat kemasan menjadi kedap. Komposisinya terdiri dari karton (74%), plastik (21%), dan karton (5%).


Penggunaan bahan kemasan pada kemasan aseptik sudah mengikuti regulasi global maupun nasional. Sehingga tidak terjadi migrasi dari bahan kemasan ke bahan pangan meskipun disimpan dalam waktu yang lama.

Dengan teknologi kemasan aseptik bila masih ditemukan kasus susu yang basi, penyebabnya bukan pada kualitas kemasannya. Tetapi penyebabnya bisa jadi karena ada bocor kecil pada kemasan misalnya kemasan tertusuk sehingga ada lubang kecil. Memang lubang kecil tidak menyebabkan kebocoran tetapi tetap mengundang mikro organisme masuk ke dalam susu.

Jadi terjawab kan ya kenapa susu tetap dibiarkan dalam suhu ruang dalam waktu lama tidak menjadi basi? Di keluarga kami, biasanya kemasan 1 lt habis dalam waktu 2-3 hari. Itu dengan catatan kalau hanya untuk minum. Biasanya Keke dan Nai sarapan dengan segelas susu sebelum berangkat ke sekolah. Kadang-kadang susu juga dipakai untuk membuat pancake. Setiap akhir pekan, K'Aie juga rutin bikin cappuccino untuk Chie. *Dia sendiri memilih black coffee* Kalau udah begitu, paling lama 2 hari juga udah habis.

Bisa dikatakan penggunaan susu UHT di keluarga kami lumayan banyak. Chi sih seneng aja karena praktis. Chi gak perlu masak dan menakar air panas. Yah pagi hari kan biasanya waktu yang paling ribet. Kalau anak-anak minum susu UHT mereka tinggal tuang ke gelas trus minum. Mereka seringnya minum susu UHT yang plain. Kadang-kadang aja ganti rasa lain supaya gak bosan atau dicampur ke cereal. Selain praktis, gizinya udah pasti pas. Makin seneng aja kan Chi jadinya.

Bagaimana dengan teman-teman, suka susu UHT juga? Oiya, susu UHT sebaiknya diminum setelah anak berusia 2 tahun ke atas.

Continue Reading
18 comments
Share:

Tuesday, February 20, 2018

Ketika Keke Bercita-Cita Menjadi Pembalap Motor Profesional

Ketika Keke Bercita-Cita Menjadi Pembalap Motor Profesional - Catatan: Saat ini Keke berusia 13 tahun. Sebelum menghakimi kenapa kami membolehkan Keke belajar mengendarai motor, lebih baik baca dulu artikel ini hingga tuntas ya 😊

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Anak di bawah umur udah belajar mengendarai motor?

Awalnya Chi gak setuju banget, apapun alasannya. Apalagi di komplek tempat kami tinggal ini sering bersliweran anak-anak kecil udah pada mengendarai motor. Tidak pernah memakai helm dan kebut-kebutan pula. Kalau diingetin kayak yang ngeledek. Makin kesel kan ngelihatnya. Pernah coba dikejar tapi mereka malah makin ngebut sambil ketawa-tawa. Akhirnya Chi berhenti mengejar karena di komplek juga banyak anak kecil main di luar. Bahaya banget kalau bocah-bocah yang udah mengendarai motor itu makin gak fokus bawa kendaraan.

Pernah juga di depan sekolah anak-anak terjadi tabrakan antara 2 motor yang semuanya dikendarai anak-anak. Saat kejadian tabrakan, mereka cuma saling planga-plongo. Gak ada yang terluka tapi akhirnya butuh orang dewasa juga yang membantu. Bahkan sekadar naik ke motor aja harus diangkat orang dewasa. Kaki mereka belum napak ketika mengendarai motor! Eeerrggh!


Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Ketika Keke mulai menunjukkan minat ingin belajar mengendarai motor, Chi langsung menolak. Saat itu Keke masih kelas 7, usianya 12 tahun. Masih jauh lah untuk belajar mengendarai motor. Sepedahan aja dulu seperti yang selama ini dia lakukan. Tapi Keke bersikeras dengan alasan mau jadi pembalap. Dan Chi tetap bersikeras menolak.

Hampir tiap hari obrolannya hanya tentang motor. Ya kalau untuk yang satu ini, Chi memang gak aneh. Sejak kecil, Keke udah tertarik banget sama dunia otomotif. Mungkin kalau anak-anak lain  beli berbagai macam mainan, Keke gak begitu. Mainan yang ingin dan selalu dibeli cuma diecast mobil dan biasanya yang bentuknya seperti mobil beneran. Keke gak suka diecast mobil-mobilan yang fantasi. Dari dulu pun dia lebih semangat dibeliin majalah otomotif daripada buku cerita anak. Bisa sampai keriting itu berbagai majalah otomotif karena dibaca terus. Bisa berjam-jam pula ngomongin otomotif kalau diladenin.

Chi selalu berbeda pendapat untuk hal ini dengan K'Aie. Keke malah diizinin belajar mengendarai motor sama ayahnya. Makanya Chi suka agak ngomel saat Keke diajarin mengendarai motor. Masih kecil gitu, lho! Tapi K'Aie mengatakan mengajari Keke naik motor bukan berarti nanti dia bebas naik motor sesukanya. Atau bikin kami jadi mudah menyuruh Keke untuk belanja di minimarket. Kalau itu sih Keke biasa naik sepeda. Memang gak sesepele itu juga alasan Keke diajarin mengendarai motor.

Singkat cerita, sekitar bulan September lalu kami ke Tanakita untuk hadir di acara RRREC Fest In The Valley. K'Aie bilang kalau ada temannya - seorang pembalap motocross nasional -, yang juga hadir di acara ini. Keke pun dikenalin sama temen ayahnya.

Chi gak ikut saat mereka kenalan. Chi memilih untuk keliling Tanakita melihat festival. Kalau denger dari cerita K'Aie, temennya ini berpendapat Keke sudah mengerti teknik bermotor tapi jiwanya masih pengen ngebut melulu. Pembalap profesional mah tau aja meskipun cuma dari hasil ngobrol 😄 Keke disaranin untuk ikut sekolah balap dulu kalau ingin terjun ke dunia balap profesional.

[Silakan baca: Piknik Lagi di RRREC Fest In The Valley - Hari Kedua]


Tentang Mencari dan Menggali Potensi Anak (Lagi)


Beberapa waktu lalu Chi pernah menulis postingan tentang bagaimana mengetahui potensi anak. Postingan sebelumnya adalah hasil seminar parenting di sekolah Nai. Pembicaranya adalah Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd, dan Tika Bisono M.Psi.T. Jauh sebelum ada seminar parenting itu, tema potensi anak sudah sering menjadi bahasan antara Chi dan K'Aie. Setelah seminar, jadi menambah bekal ilmu ketika kami kembali mendiskusikan potensi anak. Termasuk tentang minat Keke untuk menjadi seorang pembalap.

[Silakan baca: Bagaimana Mengetahui Potensi Anak?]

   

Tidak Selalu Mengabulkan Apa yang Anak Mau

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Saat kelas 5 SD, Keke pernah suka dengan yang namanya beatbox. Keke pernah beberapa kali minta dimasukin ke sekolah beatbox.

Ketertarikannya untuk belajar musik jugs bukan hal baru. Saat TK hingga kelas 2 SD, Keke memang pernah privat drum di rumah. Dia berhenti privat karena aktivitas di sekolah dan privat mulai bentrok hingga akhirnya gak menemukan solusi. Tapi untuk beatbox, kami masih ragu untuk menyekolahkannya. Kami minta ke Keke untuk konsisten dulu belajar secara otodidak dan itu dilakukannya. Setiap hari mulutnya gak pernah berhenti ngoceh ala beatbox. Dia belajar teknik beatbox dari YouTube.

Terkejut sekaligus terharu saat acara wisuda dan perpisahan sekolah, Keke perform ngebeatbox. Chi jadi inget lagi saat wisuda playgroup di mana Keke jadi satu-satunya anak yang naik ke panggung didampingi bundanya. Itupun dengan wajah memerah karena menangis. Ketika pensi pun masih harus dibujuk dulu supaya gak nangis.

Ketika TK, Keke sudah gak nangis lagi tapi masih gak pede kalau harus tampil menonjol. Saat SD malah pernah kebagian peran jadi pohon aja dia udah senang. Pokoknya gak mau jadi pusat perhatian. Makanya saat lihat Keke solo perform ngebeatbox atas kemauan sendiri, Chi antara deg-degan hingga terharu.  😂


Tidak Semua Bisa Otodidak

Ternyata konsistennya Keke ngebeatbox hanya sampai kelas 6 SD. Begitu masuk SMP, dia kembali menggemari dunia otomotif.

Selain saran dari teman K'Aie, kegemarannya terhadap otomotf sejak kecil juga menjadi pertimbangan kami untuk menyekolahkan Keke ke sekolah balap motor. Keke dan ayahnya pun sempat diajak ke salah satu tempat di mana para pembalap suka berkumpul. Dan semuanya berpendapat kalau mau jadi pembalap memang sebaiknya sekolah dulu. Alasannya pada saat perlombaan biasanya akan kelihatan teknik para pembalap yang pernah sekolah balap sama yang otodidak. Yup! Balapan kan gak hanya sekadar bisa cepat tapi juga ada teniknya.


Mantapkan Hati dan Mulai Mendukung

Bagaimana kalau cita-cita anak bertentangan dengan keinginan orang tua? Chi mulai mengalami perasaan itu. Antara setuju dan tidak mengizinkan Keke ikut sekolah balap.

Hati Chi masih galau antara mendukung anak untuk menjadi pembalap dan prinsip kalau anak kecil gak boleh mengendarai motor. Belum lagi kalau mikirin risiko balapan. Bener-bener udah kayak berantem di hati dan pikiran.


Cita-cita anak menjadi pembalap nasional
Salah seorang pembalap cilik yang kami temui di sana. Dia bukan murid 43 Racing School. Chi lupa namanya, usia 11 tahun, sudah beberapa kali ikut balapan. Ayahnya memiliki bengkel motor.  Ayah dan kakaknya yang menjadi mekaniknya


Chi lalu teringat pernah sedikit menulis profil Sheva Anela Ardiansyah - crosser perempuan cilik -, yang usianya 2 tahun lebih muda dari Keke tapi sejak tahun 2012 sudah menuai banyak prestasi. Chi juga mencari berbagai info tentang para pembalap dunia seperti Valentino Rossi hingga Marc Marquez. Ternyata mereka semua mulai belajar motor di usia yang masih sangat muda. Bahkan di usia yang seperti Keke saat ini mereka sudah mulai berprestasi. Sedangkan Keke malah baru mulai belajar.

Dari membaca profil beberapa pembalap, Chi mulai mantap kalau gak apa-apa mengajarkan anak untuk mengendarai motor sejak kecil asalkan ada tujuannya yang jelas. Seperti yang Chi tulis di awal, kalau ngajarin mengendarai motor bukan sekadar supaya si anak bisa disuruh belanja ke minimarket atau ke sekolah pakai motor, apalagi untuk kebut-kebutan gak jelas. Dan yang terpenting juga dari beberapa profil yang Chi baca, semuanya mendapatkan dukungan penuh dan diarahkan oleh orang tua.

Dukungan orang tua memang Chi kasih garis merah. Sebagai orang tua, tentu pengen anaknya berprestasi. Tapi bicara prestasi tentu sebuah perjalanan panjang. Ada atau tanpa prestasi setidaknya si anak sudah menemukan passionnya. Ya daripada nanti beraktivitas yang gak jelas. Apalagi zaman sekarang, banyak godaannya. Makanya Chi harus memantapkan hati untuk mendukung dulu.


Ketika Mulai Serius Menjadi Pembalap

"Ini seriusan Keke dibolehin jadi pembalap? Gak main-main persiapannya lho, Yah."

Menjadi seorang pembalap modalnya gak hanya bisa mengendarai motor. Butuh fisik yang prima, mental yang kuat, pengetahuan tentang otomotif, dan biaya yang tidak sedikit.

Alhamdulillah sejak masuk sekolah balap, Keke jadi semakin rajin berolahraga. Biasanya dia olahraga cuma saat Taekwondo dan ekskul bulutangkis aja. Sama pas pelajaran sekolah, ding. Kalau sekarang, tiap hari dia lari atau sepedaan dengan jarak yang lumayan jauh.

Pola makan Keke sejak dulu termasuk teratur dan gak picky eater. Sekarang makin teratur lagi. Konsumsi berasnya sudah diganti jadi beras merah. Semakin peduli dengan healthy food. Kelihatan banget tekadnya kuat untuk menjadi pembalap.

Mental juga udah pasti harus disiapkan. Keke pernah beberapa kali jatuh saat latihan. Kalau dari ceritanya kelihatan nyalinya sempat agak ciut. Gimana enggak, balap motor kan termasuk olahraga keras. Kalau di sirkuit, motor kelihatan cepat banget trus tau-tau jatuh. Untung pelatihnya bisa memotivasi supaya berani lagi.


Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Chi pun setiap kali lihat Keke latihan, rasanya deg-degan. Chi belum pernah lihat dia jatuh. Tapi mendengar ceritanya kalau dia abis jatuh aja udah bikin deg-degan. Bahkan temannya sampai ada yang terpelanting. Makanya  harus benar-benar aman segala perlengkapannya.

Pembalap sebaiknya jangan hanya tau mengendarai motor tapi juga belajar mesin meskipun ada mekanik yang menangani. Di 43 Racing School memang ada beberapa mekanik andal. Tapi pada saat balapan kan pembalap harus punya feel terhadap motor yang dikendarainya.

Untuk biaya, selama latihan 2 minggu itu kami mengeluarkan dana hampir 30 juta. Rinciannya untuk biaya sekolah dan segala perlengkapan balap. Gak termasuk bolak-balik nyamperin Keke kemudian pulangnya nge-mall ya hehehe. Apalagi biaya beli motor. Sampai sekarang Keke belum punya motor pribadi makanya belum ikut balapan. *Insya Allah di postingan berikutnya Chi akan menulis tentang 43 Racing School, sekolah balap motor yang dimiliki oleh M. Fadli, seorang pembalap motor nasional.


Cita-cita anak menjadi pembalap nasional
Foto milik 43 Racing School


Hal positif lain yang Chi rasakan adalah sifat Keke yang mulai bikin tenang. Sejak masuk masa puber, emosinya suka bikin Chi deg-degan. Tau lah ya gimana anak-anak yang sedang puber. Sepertinya ada aja yang bikin Chi sakit kepala dengan beberapa pemberontakannya. Tapi sejak masuk sekolah balap, Chi melihat Keke lebih tenang. Ngeyelnya jauh berkurang dan semakin ceria.

[Silakan baca: Jumpalitan dan Tips Menghadapi Anak Puber]

Berimbas juga ke pelajaran sekolahnya. Dia jadi lebih rajin belajar tanpa Chi harus suruh-suruh. Sekarang mau berangkat sekolah aja pakai cium pipi bundanya dulu. Sesuatu yang udah agak lama Chi kangenin karena sejak SMP, Keke agak sering kelihatan murung setiap kali berangkat sekolah. Baru mulai ceria lagi saat pulang atau lagi libur.

Kalau ingat lagi tentang seminar parenting yang tentang potensi diri anak, Chi jadi mikir apa ini karena Keke merasa senang akhirnya potensinya dilihat dan didukung penuh oleh orang tuanya, ya? Semoga aja begitu. Pokoknya akhir-akhir Chi lagi sering bersyukur dengan perubahan sifat Keke. Alhamdulillah.


Cita-cita anak menjadi pembalap nasional
Foto milik 43 Racing School

Continue Reading
68 comments
Share:

Monday, February 12, 2018

Tips Memilih Tas Sekolah Anak

Tips Memilih Tas Sekolah Anak

Tips Memilih Tas Sekolah Anak - Bila berbagai benda bisa berbicara, mungkin tas sekolah dan botol minum yang paling memiliki banyak cerita. Sejak kelas 3 SD, Keke belum berganti tas sekolah. Botol minum malah lebih lama lagi usianya. Kalaupun ganti tas bukan karena rusak tapi karena bosan. Tas sekolahnya masih bagus, malah gak hanya dibawa ke skeolah saja. Kalau kami lagi jalan-jalan ke luar kota, termasuk naik gunung, tasnya sering dipakai.

Ketika mencari tas, kadang-kadang suka bingung pilihnya. Pilihannya banyak banget tapi juga pengennya yang awet. Makanya harus mempertimbangkan beberapa hal supaya tasnya awet. Apalagi anak-anak masih dalam masa pertumbuhan. Penting banget memilih tas dengan kualitas baik biar gak berimbas pada kesehatan mereka. Chi punya tips memilih tas sekolah anak.

[Silakan baca: Tips Belajar Asyik dan Menyenangkan Bagi Anak]


Tas Karakter atau Tidak?


Kalau Chi lebih suka tas yang polos aja biar awet tapi anak-anak kan biasanya senang yang berkarakter. Biasanya dipilih karakter idolanya. Kalau anaknya bisa dibujuk untuk pilih yang polos sih gak apa-apa. Tapi kalau anaknya bersikeras ingin yang karakter, harus dipertimbangkan juga karena yang akan pakai kan dia. Punya tas sekolah sesuai dengan yang diinginkan bisa membuat anak jadi semakin semangat ke sekolah.

Waktu baru masuk SD, Keke lagi suka karakter Thomas. Jadi tas dan peralatan tulisnya ada karakter Thomas. Dia seneng banget pakai tasnya meskipun cuma sampai kelas 2 SD aja. Setelah itu dia minta ganti yang polos. Alasannya udah gede, malu pakai tas yang berkarakter. Padahal Chi gak pernah bilang pakai tas berkarakter itu bikin malu, lho hehehe.


Tas Trolley atau Ransel?


Udah bukan rahasia lagi ya kalau pelajaran anak-anak zaman sekarang banyak banget. Bikin tasnya jadi berat. Dulu, tas trolley mungkin hanya dipakai untuk traveling. Tapi sekarang, tas trolley juga banyak dipakai anak sekolah biar mereka gak keberatan membawa tas.

Tas Keke waktu pertama kali masuk SD pun begitu. Tetapi ketika kelasnya mulai di lantai atas, memakai tas trolley malah lebih merepotkan daripada ransel. Keke dan Nai sendiri yang bilang seperti itu. Alasannya kalau pakai ransel, meskipun berat tapi masih gampang dibawa. Tas trolley malah lebih ribet kalau dibawa ke lantai atas.


Bahan Tas


Ketika baru masuk TK, Keke pernah dikasih tas sama sekolahnya. Dia seneng banget, dong. Maunya pakai tas yang dikasih padahal Chi udah bilang kayaknya kualitasnya kurang bagus. Tapi karena Keke ngotot pengen pakai, Chi turutin deh. Bener aja, kayaknya cuma sekitar 2x pakai udah jebol.

Tas sekolah anak yang Chi pilih berbahan kanvas. Tas berbahan tersebut termasuk yang bagus, tahan lama, dan ringan. Pilih juga yang waterproof. Apalagi namanya anak-anak, kadang-kadang naro tasnya suka sembarangan. Ada lantai yang basah, main taro tas aja. Untung tasnya waterproof, jadi gak masuk ke dalam airnya.


Ukuran Tas


Ada berbagai ukuran tas. Kalau beli tas anak laki-laki secara online, lebih bagus yang spesifikasinya detil termasuk dalam hal ukuran. Sebaiknya jangan beli tas yang kekecilan atau kebesaran.

Tidak hanya ukuran tas saja, tapi lebar selempang tas juga harus dipertimbangkan. Sebaiknya cari selempang tas berukuran lebar. Semakin kecil ukurannya bisa bikin pundak menjadi sakit. Apalagi kalau tasnya semakin berat.


Spesifikasi Tas Lainnya


Biasanya Chi lihat bagian dalamnya. Minimal ada 2 bagian biar rapi isi tasnya. Lebih suka yang bagian belakangnya ada busa tipis. Jadi ketika tas bersentuhan dengan punggung tetap berasa empuk. Selempang tas juga sebaiknya tidak hanya lebar tapi juga ada busa empuk supaya bahu semakin nyaman. Lebih bagus lagi kalau ada tali di bagian pinggang, sehingga beban semakin tebagi.


Ada Kartu Jaminan


Tas yang dimiliki anak-anak ada garansi seumur hidupnya. Alhamdulillah sampai detik ini belum kepake sama sekali kartu jaminannua. Berarti kira-kira udah 7 tahunan tas sekolahnya dipakai. Selama itu pula belum beli tas sekolah lagi. Lumayan awet, kan? Tapi tentang kartu jaminan sih hanya opsi tambahan. Bukan berarti yang gak ada jaminan kualitasnya jelek, lho. Jadi pertimbangkan juga berbagai tips di atas.

Salah satu tas sekolah anak-anak yang awet itu ada yang dibeli secara online. Paling enak memang beli di toko online yang kasih spesifikasi detil. Tapi kalaupun enggak, jangan sungkan untuk bertanya. Namanya juga pembeli, pastinya gak mau kecewa.

Kalau teman-teman adakah spesifikasi lain dalam memilih tas?

[Silakan baca: Bangga dengan Prestasi Akademis Anak, Yay or Nay?]

Continue Reading
34 comments
Share:

Sunday, February 4, 2018

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis? - "Udah berhenti nangisnya! Anak laki-laki kok menangis, kayak perempuan aja!"

Seorang anak laki-laki berusia sekitar 5-6 tahun sedang menangis. Chi gak tau apa yang membuatnya menangis. Chi juga gak tau sudah berapa lama dia menangis. Tapi yang pasti, seorang ibu membentaknya untuk berhenti menangis.

Kalau melihat situasi begitu suka bikin serba salah yang lihat. Rasanya pengen langsung negur. Idealnya begitu, kan? Kita tegur baik-baik supaya si ibu sadar. Tapi apa iya selalu begitu hasilnya? Manusia kadang suka defensif kalau ditegur. Suka malah jadi balik marahin yang menegur. Atau bisa juga hanya diam, tapi anaknya bakal tambah dimarahin karena dianggap udah bikin malu dan ibunya ditegur orang. Padahal kita udah negurnya baik-baik. Serba salah kalau begini, ya.

Chi kemudian berpikir, apa iya laki-laki gak boleh menangis? Keke pernah menangis. Bahkan ayahnya pun pernah menangis. Terakhir kali Chi lihat K'Aie menangis itu saat mamahnya wafat sekitar 4 bulan yang lalu. Apakah mereka terlihat jadi seperti perempuan saat menangis? Enggak sama sekali.

Menangis adalah salah satu cara untuk mengungkapkan emosi. Biasanya manusia menangis karena sedih atau marah. Walaupun ada juga menangis karena bahagia atau terharu. Laki-laki menangis? Wajar aja, sih. Laki-laki kan juga manusia punya rasa dan punya hati. *trus nyanyi*

Chi gak pernah melarang Keke untuk menangis. Chi hanya selalu mengingatkan untuk jangan berlebihan ketika menangis. Kalau ini sih gak hanya untuk Keke. Naima pun suka Chi ingatkan untuk tidak berlebihan saat menangis. Cuma mungkin mungkin porsi menangis antara laki-laki dan perempuan aja yang berbeda, ya. Selain karena urusan hormonal, perasaan perempuan memang lebih peka daripada laki-laki. Jadi wajar saja kalau perempuan lebih banyak atau mudah menangis.

[Silakan baca: Memahami Arti Tangisan Bayi]


Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Kadang gak hanya menangis, terlihat sedih aja udah semacam hal yang tabu buat laki-laki. Kalau kayak gitu, Chi malah khawatir nanti gak punya atau minim rasa empati. Bagaimana laki-laki bisa mengerti rasa sedih perempuan kalau dia sendiri dilarang untuk bersedih, apalagi sampai menangis?

Sering kan kita mendengar atau mungkin merasakan sendiri kalau laki-laki tuh makhluk yang paling gak peka? Ya penyebabnya mungkin berbagai macam. Bisa jadi cara laki-laki dan perempuan mengungkapkan rasa sayang memang berbeda, makanya kelihatan gak peka. Tapi bisa saja beneran gak peka dalam artian terlalu cuek, gak bisa jaga perasaan pasangan, hingga melakukan kekerasan terhadap perempuan. Duh, jangan sampai terjadi, ya 😖

Bayi yang baru lahir aja, normalnya semua menangis, kan? Apa iya ada larangan kalau sebaiknya bayi laki-laki gak boleh menangis? Jadi ya gak apa-apa lah laki-laki menangis tapi beri pengertian supaya jangan menangis berlebihan. Kadang Chi juga suka menegur Keke kalau menangisnya berlebihan. Tapi jangan sampai dia berpikir kalau menangis udah pasti cengeng.

Seorang laki-laki memang harus kuat, tidak hanya dalam artian fisik. Laki-laki harus kuat dan tangguh menghadapi berbagai hal dalam hidup. Apalagi kelak, seorang laki-laki akan menjadi pemimpin. Paling tidak menjadi pemimpin keluarga.

Seorang pemimpin yang kuat bukan berarti yang gak  punya perasaan. Jadi biarkan sesekali laki-laki mengungkapkan perasaannya dengan menangis. Jangan lupa memberikan anak pelukan dan usapan sebagai tanda kalau orang tua mengerti kesedihannya. Bertanya apa yang membuatnya menangis setelah tangisannya reda, supaya anak juga merasa diperhatikan. Kalau perlu, tawarkan bantuan untuk mencari solusi.

Dengan tidak menghakimi anak laki-laki menangis sebagai anak yang cengeng apalagi kayak perempuan, tidak membuat perasaannya semakin down. Dan dengan tidak menghakiminya juga menandakan kalau orang tua akan selalu berusaha mengerti perasaannya. Setidaknya itu yang Chi lakukan untuk Keke. Ya semoga aja Keke menjadi laki-laki yang peka terhadap siapa pun. Aamiin.

[Silakan baca: Beri Mereka Penjelasan]

Continue Reading
32 comments
Share: