Friday, November 29, 2013

Impian Yang (Terlalu Cepat) Menjadi Nyata

Impian yang (Terlalu Cepat) Menjadi Nyata. Lebih dari 1 tahun yang lalu... 

K'Aie bawa kerjaan ke rumah. Kerjaan berupa foto-foto salah satu klien kantornya. Chi lihat foto-fotonya keren-keren banget. Pengen banget suatu saat bisa ke sana. Tapi karena Chi lihat tempatnya rada-rada ekstrim, antara yakin dan gak yakin bisa ke sana. Apalagi anak-anak masih kecil kayak gini? Pasti gak akan mungkin, pikir Chi saat itu. Makanya Chi gak tanya-tanya ke K'Aie, dimana lokasi foto-foto itu.

Juli 2013...

Chi : "Kita mau kemana aja, sih?"

K'Aie lalu menyebutkan beberapa tempat yang kemungkinan akan kami kunjungi.

Chi     : "Goa Jomblang? Dimana, tuh?"
K'Aie : "Cari aja di google." *hmmmm simple banget jawabannya

Chi langsung cari di google. Lho... lho... ini, kan tempat yang Chi pengen banget dateng? Yang Chi lihat dari foto-foto klien kantor K'Aie? Tapi, masa sih? Anak-anak gimana? Emang bisa? Kayaknya bukan tempat untuk anak-anak?

Perasaan Chi campur aduk. Seneng, gak percaya, dan bingung. Tentu aja Chi pengen banget bisa kesana. Gak percaya kalau akan kesampean dalam waktu deket. Tapi gimana dengan anak-anak?

K'Aie bilang kalau anak-anak udah bisa ikutan. Awalnya, Chi masih ragu. Tapi ngelihat K'Aie nyiapin helm dan harness untuk Nai, Chi mulai percaya kalau anak-anak memang bisa (Nai badannya masih kecil, jadi harus bawa perlengkapan sendiri).


Perlengkapan Nai yang dibawa dari rumah


Chi pun nyiapin mental anak-anak. Jaga-jaga siapa tau mereka mendadak takut pas sampe di sana. Caranya, Chi kasih lihat foto-foto yang ada di internet. Awalnya mereka kayak takut-takut gimana. Tapi Chi coba jelasin semenarik mungkin dan lama-lama mereka mulai tertarik.

Bromo memang menakjubkan. Dan Semeru itu megah. Tapi menikmati Goa Jomblang juga punya sensasi sendiri. Yang pasti bikin Chi spechless!

Cerita lengkap tentang Goa Jomblang, nanti ya. Tapi kalau mau lihat kayak apa, sih, Goa Jomblang itu. Silakan ke postingan Chi yang berjudul Kangen. Ada fotonya di sana :)

Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :


  1. Liburan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
  4. Perjalanan Menuju Bromo
  5. Lava View Lodge - Bromo
  6. Bromo yang Menakjubkan 
  7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane 
  8. Semalam di Blitar 
  9. Sang Fajar Suite 
  10. Menuju Jomblang

Continue Reading
20 comments
Share:

Menuju Jomblang

Menuju Jomblang. Lanjutin lagi cerita jalan-jalan setengah nekatnya :)

Kelaperan lagi.... Kelaperan lagi.... Kembali kami rasakan ketika menuju Jomblang. Mirip kayak perjalanan menuju Bromo. Sama-sama lewat jalur alternatif dan kelaperan :D Oiya, kami check out dari hotel Tugu Lestari, Blitar pukul 11 siang.

Bedanya di perjalanan menuju Bromo, kami melewati jalur alternatif utara, karena mengikuti petunjuk GPS. Sedangkan yang menuju Jomblang, kami mengikuti saran pegawai tempat kami menginap di Jomblang nanti. Bedanya lagi, jalur alternatif selatan jalannya lebih enak. Lebih sejuk, jalanannya besar dan mulus. Bebas macet, tapi tetep aja gak ada rumah makan. Sepanjang jalan lebih didominasi sama bukit-bukit :D


Hanya di sini kami berhenti agak lama. Hampir 1 jam karena ada pelebaran jalan (pengerukan dinding bukit). Pas bisa melintas juga ngeri banget karena sempitnya jalan dan licin pula. Semenatra di bawahnya sungai besar. Takut tergelincir. Hiii...
Nai lagi ngebujukin Angel, boneka teddynya yang udah mulai mutung karena laper kayaknya.
Di sebelah kiri mobil, ada sungai besar. Udaranya juga sejuk banget. Sayang hujan mulai turun lagi. Jadi kami lebih banyak di dalam mobil. Padahal kalau gak hujan, jalan-jalan di sekitar sana, sambil nunggu jalan dibuka lagi kayaknya enak.

Untung, ada oleh-oleh khas Blitar dari Pak Ies. Oleh yang banyak itu langsung habis selama diperjalanan. Laper beraaaaatttt hahaha. Seinget Chi, tinggal bumbu pecel aja yang gak kami makan. Mungkin kalau ada sayur rebusan udah kami makan juga itu bumbu pecel :D Terima kasih banyak, ya, Pak. Oleh-olehnya menyelamatkan perut kami yang kelaperan :)

Salah satu dari banyaknya oleh-oleh yang Pak Ies berikan untuk kami.Yang paling jadi rebutan adalah kripik nangka dan jamur. Enak :)


Jalur alternatif selatan ini memang bagus banget jalannya. Lebar dan mulus, cuma jarang sekali rumah penduduk. Jadi untuk yang mau lewat jalur ini, mending bawa bekal, ya.

Menjelang malam, anak-anak (terutama Keke) udah mulai rewel kelaperan. Oleh-oleh khas Blitar udah habis. Belum satupun keliatan ada rumah makan. Menjelang Wonosari, baru keliatan ada rumah makan. Bu Titik Karisma, nama rumah makannya. Kami pun langsung parkir. Ada 1 keluarga yang lagi makan di sana.

Chi              : "Permisi, Pak. Bisa minta daftar menunya?"
Pemilik RM : "Cuma ayam bakar, Bu. Dan sebentar lagi juga mau ditutup, karena saya ada undangan. Gak apa-apa?"
Chi              : "Gak apa-apa, Pak."

Chi pikir, gak apa-apa lah. Bahkan kalaupun kami harus makan di mobil karena rumah makannya titip pun gak apa-apa. Yang penting bisa makan nasi. Terutama anak-anak. Biar mereka gak rewel lagi. Kasian lapar mereka :) 

Rumah makan Bu Titik Karisma ini terlihat bersih. Duduknya lesehan gitu. Menu ayam bakarnya? Enak bangeeeeettt! Ayam bakar kampung muda. 1 porsi isinya 1/2 ekor ayam. Enak, deh, pokoknya.


Kalau lewat jalur alternatif selatan, jangan lup[a makan di sini. Ayam bakarnya enak banget. Deket sama Wonosari lokasinya.


Ketika menghidangkan makanan yang kami pesan, bapak pemilik rumah makan itu (aduh Chi lupa namanya siapa) tanya kami datang dari mana dan tujuannya kemana. Ketika kami bilang datang dari Bekasi dan tujuannya sekarang ke Jomblang, bapak tersebut langsung duduk dekat kami dan bertanya-tanya gimana kabarnya Jakarta? Udah bertahun-tahun gak ke Jakarta, kangen juga katanya.

Bapak itu lalu cerita kalau dulu pernah tinggal di Tangerang. Beliau punya beberapa konter minuman di beberapa tempat di Tangerang (termasuk di mall). Dari 'hanya' jualan minuman aja, untungnya itu lumayan besar. (Beliau menceritakan lumayan detil, tentang pengalamannya jualan).

Sampe kemudian terjadilah kerusuhan 1998 itu. Seluruh dagangannya ludes dijarah massa. Modalnya pun habis. Bahkan harta bendanya banyak dijual untuk mengembalikan modal. Dan 'memaksanya' untuk kembali ke kampung karena sudah tidak punya lagi modal untuk jualan.

Usahanya mungkin ludes, tapi jiwa usahanya tidak mati. Salut, deh! Di kampung, katanya bantuin usaha katering kakak iparnya sambil belajar masak. Ketika tau, jalur alternatif selatan akan dibangun, beliau langsung berpikir untuk mendirikan restoran.

Awalnya, rencana tersebut sangat ditentang istri dan keluarga besar istrinya. Mereka pikir, apa untungnya buka rumah makan di kampung? Apalagi waktu itu jalur alternatif selatan memang belum dibangun, baru kabar-kabarnya aja. Tapi beliau tetap yakin dengan pendiriannya. Beliau tetap mendirikan rumah makan.

Perlahan-lahan, usahanya mulai membuahkan hasil. Apalagi setelah jalur lintas selatan dibangun. Karena baru satu-satunya rumah makan yang ada di jalur itu, jadi setiap kendaraan yang cari rumah makan pasti berhenti di sana.Yang paling banyak setiap harinya adalah kendaraan travel yang membawa banyak penumpang.

Gak cuma cerita tentang usahanya, sih. Beliau juga  banyak tanya-tanya tentang perkembangan Jakarta sekarang. Ada rasa kangen, karena biar gimana pernah tinggal di sekitar Jakarta, kan. Tapi untuk kembali lagi usaha di Jakarta rasanya gak mungkin.

Yang katanya gak bisa berlama-lama, malah akhirnya kami cukup lama di rumah makan itu. Menyenangkan sekali ngobrol sama bapak pemilik rumah makan itu. Selain sangat ramah, jalan hidupnya juga penuh hikmah bagi kami.

Jangan menyerah! Itu yang langsung Chi tangkap hikmahnya. Kehilangan harta benda sekian banyak dalam sekejap karena dijarah pasti bikin syok, ya. Alhamdulillah, Bapak tersebut termasuk orang-orang yang bisa bangkit. Semoga selalu berkah usahanya, ya, Pak. Aamiin

Dan senang juga karena rasa lapar yang kami rasakan berakhir dengan cerita hikmah yang bahagia. Setelah makan, kami pun menuju penginapan, yaitu... (bersambung)

Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :


  1. Liburan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
  4. Perjalanan Menuju Bromo
  5. Lava View Lodge - Bromo
  6. Bromo yang Menakjubkan 
  7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane 
  8. Semalam di Blitar 
  9. Sang Fajar Suite

Continue Reading
20 comments
Share:

Wednesday, November 27, 2013

Kualitas Tidur Keke dan Nai

Kualitas Tidur Keke dan Nai. Di postingan sebelumnya tentang Kualitas Tidur dan Kecerdasan Anak, dijelaskan kalau anak sebaiknya tidur cepat (sekitar pukul 7) supaya besok pagi mereka bangun dengan segar. Anak yang bangun dengan segar, kecerdasannya pun meningkat. Chi setuju dengan pendapat itu, tapi Keke dan Nai sebetulnya pernah ada masa dimana kalau belum pukul 1 atau 2 tengah malam belum tidur, lho. Lalu bagaimana dengan kecerdasan mereka?

Yang namanya membentuk pola tidur anak memang gak bisa sekali jadi, ya. Perasaan, sih, Chi udah selalu menerapkan disiplin sedini mungkin tapi tetep aja ada masa-masanya penuh cobaan hehe. Yuk, simak masa-masa di bawah ini...


Bayi

Waktu bayi masih mudah mengatur pola tidur mereka. Termasuk di malam hari. Dan karena Keke-Nai dikasih ASI jadi kalau mereka malam-malam terbangun, tinggal dikasih aja. Gak perlu nunggu nyiapin susu formula dulu. Jadi mereka gak perlu berlama-lama terjaga. Tinggal jleb, langsung tidur lagi, deh.


Setelah Disapih s/d Masa Sebelum Sekolah

Di masa ini pola tidur mereka berubah-ubah. Pernah sore-sore (menjelang maghrib) udah gak tahan ngantuk akhirnya tidur, tapi menjelang tengah malem bangun dan kayak hp yang baru dicharge. Langsung semangat, padahal Chi dan K'Aie udah ngantuk berat.

Setiap pola tidur mereka gak bener, tentu kami langsung berusaha perbaiki. Tapi sekalinya udah bener, paling bertahannya cuma beberapa minggu atau hitungan bulan aja. Misalnya, udah bener tidurnya pukul 7 malam. Beberapa bulan kemudian, nambah jadi pukul 8 malam. Trus berikutnya pukul 9, 10, 11, dan seterusnya.

Yang paling berat buat Chi itu ketika Keke-Nai baru bisa tidur pukul 1 atau 2 lewat tengah malam. Kami cuma punya waktu sekitar 2-3 jam sebelum subuh untuk istirahat. Pas bulan puasa lebih berat lagi. Seringkali Chi dan K'Aie suka galau antara pilih tidur atau enggak.

Kalau pilih tidur, paling 1 jam aja. Terlalu sedikit. Tapi kalau gak tidur, berarti begadang. Sementara pagi-pagi harus beraktifitas. Kebayang banget capenya, kan? Kalau udah gitu abis subuh suka nyempetin tidur lagi.

Matiin lampu, matikan tv, dab berbagai tips mengajak anak supaya cepat tidur udah kami lakukan. Tapi gak berhasil juga. Menurut Chi, sih, penyebabnya karena Keke dan Nai merasa saling menemani. Mereka keliatannya gak peduli kalau seluruh ruangan di gelapin, tv juga dimatiin, selama mereka masih bisa saling ngobrol.

Apalagi Keke-Nai itu umurnya cukup dekat. Dan mereka waktu itu masih usia balita (bahkan Nai batita), kalau udah ngobrol rame. Jadi, gimana Chi dan K'Aie mau istirahat? Kalau salah satu dari mereka udah ngantuk, baru kompakan tidur, deh.

Lalu gimana dengan kecerdasan mereka kalau suka tidur larut gitu? Hmmm... Chi merasa mereka tetep anak-anak yang cerdas. Keke dan Nai memang tidurnya terlalu larut, tapi kalau dari segi waktu jumlah waktu tidur setiap harinya itu cukup. Tidur pukul 1 atau malam. Bangun antara pukul 9 atau 10 pagi. Jadi, setiap harinya mereka tidur sekitar 8-9 jam. Belom lagi dengan tidur siang, sekitar 1 jam.

Karena waktu tidur malamnya panjang, mereka tetap merasa segar ketika bangun. Jadi, kalau dilihat dari jumlah waktu tidur, Chi rasa mereka cukup. Tapi yang harus diperbaiki adalah pola tidurnya. Tidur terlalu larut tentu aja bukan hal yang bagus. Begitu juga dengan bangun yang nyaris hampir siang hari. Tapi cukup susah memperbaiki pola tidur mereka yang terlalu larut ini. Apalagi yang harus diberesekan gak cuma 1 tapi 2 anak yang saling bersekongkol :p


Masa Sekolah

Chi semakin khawatir dengan pola tidur mereka setelah mereka mulai didaftarin untuk sekolah. Seringkali, Chi nasehatin mereka untuk tidur cepet biar bisa bangun pagi buat sekolah. Tapi, mereka tetep aja tidur larut.

Akhirnya, Chi pun terpaksa melakukan pemaksaan. Jam berapapun mereka tidur, tetep harus bangun pagi. Hasilnya? Rewel berat! Membangunkan mereka itu udah perjuangan sendiri. Belom nyuruh mandi, apke seragam, sarapan. Aaahhh pokoknya udah kayak perang :r

Pemaksaan bangun pagi, ternyata 'berbuah manis' juga. Pelan-pelan tidur mereka mulai cepat. Memang, sih, gak langsung drastis perubahannya. Jadi sekitar pukul 11 malam, deh. Tetep masih termasuk larut.

Pelan-pelan, mereka mulai gak terlalu susah dibangunin. Tapi, tetep aja telat terus kalau sekolah. Masuk sekolah harusnya pukul 07.30, tapi Keke-Nai pasti selalu dateng pukul 08.00. Dan itu sampe mereka lulus TK. Untungnya sekolahnya ngerti hehehe. Chi, sih, terus terang aja ke sekolah kalau ini karena pola tidur mereka. Karena gak mungkin juga bohong, lah sekolahnya deket banget sama rumah. Jalan kaki juga paling 5 menitan. Jadi, gak mungkin banget pake alasan macet :p

Menjelang Keke masuk SD, Chi mulai khawatir lagi. Kayaknya gak mungkin anak-anak masuk telat kalau SD. Apalagi kalau terus-terusan telatnya. Trus gimana? Apa harus sedikit dipaksa lagi untuk bangun lebih pagi? Pemaksaan mungkin bisa aja dilakukan lagi. Tapi, Chi merasa juga harus cari cara lain. Jaga-jaga siapa tau kurang berhasil. Dan siapa tau memang ada solusi lain.

Setelah Chi coba amatin, kayaknya masalahnya di tidur siang. Keke dan Nai kalau tidur siang, pasti malamnya tidur terlalu larut. Padahal tidur siangnya juga gak lama-lama banget. Cuma 1-2 jam aja. Kalau lebih, suka Chi bangunin.

Chi coba tes gak kasih mereka tidur siang. Awalnya, sih, Keke dan Nai kayak kepayahan pas udah masuk waktunya tidur siang. Mata udah ngantuk berat, tapi gak dibolehin tidur sama Chi. Untuk menlupakan rasa ngantuk, Chi coba kasih kegiatan-kegiatan yang bikin mereka lupa sama ngantuknya. Walopun ada kalanya gak berhasil kalau mereka udah terlalu ngantuk :D

Disitu, Chi lihat perbedaannya. Kalau mereka gak tidur siang, malamnya mereka lebih cepat lagi tidurnya. Lama-lama, mereka terbiasa gak tidur siang. Salah satu penyebabnya juga, pas SD mereka lumayan lama jam sekolahnya. Sampe rumah udah lewat tengah hari. Jadi, mereka memilih main.

Lama-lama, Keke dan Nai tidurnya mulai cepet. Antara pukul 8-9 malam. Malah kadang-kadang pukul 7 juga udah tidur. Dan itu teratur sampe sekarang. Alhamdulillah. Semoga jangan berubah-ubah lagi. :)

Banyak yang mengatakan kalau tidur siang itu bagus buat anak-anak. Tidur siang bisa menambah kecerdasan anak dan membantu pertumbuhan badan anak. Mungkin teori tersebut memang benar. Trus gimana dengan Keke-Nai yang justru sama Chi malah gak dibolehin tidur siang?

Semua orang tua pasti pengen anaknya cerdas dan pertumbuhan badannya optimal. Tapi setiap orang tua juga punya 'racikan' sendiri untuk memaksimalkan hal tersebut, kan? Seperti yang Chi tulis di atas, kalau Keke dan Nai tidur siang, malamnya pasti akan larut banget tidurnya. Kalau malamnya udah terlalu larut, pagi harinya mereka akan terpaksa bangun. Kalau bangunnya terpaksa, pasti akan sangat rewel. Mood juga jadi gak bagus. Kalau udah gitu gimana mereka mau semangat belajar di sekolah? Dan kalau semangatnya hilang, gimana mereka bisa konsentrasi belajar? Ya, semua itu berhubungan!

Jadi, dengan segala pertimbangan baik-buruk, Chi lebih memilih untuk melarang mereka tidur siang di hari sekolah. Kalau libur, Chi agak melonggarkan aturan tidur. Tapi karena mereka sekarang udah tertib dan udah bisa dikasih tau, selarut-larutnya paling pukul 10 malam juga udah tidur. Kalau bangun, sih, mereka tetep pagi. :)

Tapi, ya gitu deh. Setiap habis libur panjang, pasti Chi harus mulai mendisiplinkan lagi. Harus agak ditata lagi mood mereka. Tapi sebentar, kok. Paling lama semingguan :)

Kalau dipikir-pikir, PRnya orang tua kayak gak brenti-brenti, ya. Untuk urusan tidur aja, penyelesaiannya gak instant dan begitu ketemu solusinya belom tentu bertahan lama. Jadi, orang tua dituntut untuk terus ngerjain PR dengan tema yang sama.

Padahal urusan tidur baru 1 tema. Belum urusan lain. Tentang makan, sekolah, sakit, dan lain-lain. PRnya banyak banget! Hehehe. Ya, coba dibawa enjoy adalah. Walopun sesekali rasanya pengen juga 'teriak' :p

 

Continue Reading
22 comments
Share:

Tuesday, November 26, 2013

Kualitas Tidur dan Kecerdasan Anak

Kualitas Tidur dan Kecerdasan Anak. Apakah kualitas tidur seorang anak bisa mempengaruhi kecerdasan mereka? Berikut Chi dapet dari salah satu tayangan Jo Frost.

Di episode tersebut, dikumpulkan beberapa anak usia 9-11 tahun untuk dilakukan test oleh ahli mata. Selama 1 minggu penuh mereka dibolehkan untuk tidur larut malam, asal jangan lebih dari pukul 11 malam. Untuk membuat mereka tetap terjaga, kamar mereka diberi segala fasilitas seperti tv, konsol game, dan lainnya. Tapi mereka tetap harus bangun pagi-pagi.

“Kebebasan” ini disambut gembira oleh anak-anak, tapi tidak dengan orang tua hehehe. Segala fasilitas yang ada di kamar membuat mereka semakin terjaga. Malah semakin malam, mereka semakin semangat bermainnya. Sementara orang tua udah semakin ngantuk dan stress. Bisa diduga ketika sudah pukul 11 malam mereka tetap menolak untuk diminta tidur. Dan pagi harinya mereka susah untuk dibangunin.

Besok paginya, anak-anak tersebut harus mengikuti serangkaian tes sederhana. Ternyata untuk tes yang sederhana sekalipun mereka kesulitan untuk menyelesaikan. Bahkan ada yang ketiduran saat tes!

Seminggu berlalu, anak-anak diminta untuk tidur cepat. Sekitar pukul 7. Kali ini, orang tua yang menyambut gembira dan tidak bagi anak-anak. Bahkan ada yang sampe marah-marah :D Segala fasilitas di kamar di cabut, makan malam dipercepat, dan ketika waktu tidur cukup nyalakan lampu tidur aja.

Seperti yang sebelumnya, anak tersebut juga harus melakukan serangkaian tes sederhana. Hasilnya, mengalami kemajuan yang sangat terlihat perbedaannya dari tes di minggu pertama. Mereka pun mengerjakannya dengan bersemangat.

Menurut ahli mata di acara itu, sekarang ini banyak orang tua yang mengkursuskan anak-anak supaya mereka cerdas. Padahal yang anak-anak tersebut butuhkan untuk cerdas adalah tidur yang cukup. 

Masuk akal juga juga, sih. Kita aja yg orang dewasa kalau kurang tidur kayaknya gak semangat untuk memulai aktifitas. Otak juga perasaan jadi rada lemot. Begitu juga anak kecil. Iya, kan :)

Jo Frost itu tayangan di Inggris. Tapi, menurut Chi, di sini pun banyak orang tua yang mengkursuskan anak-anaknya dengan tujuan supaya cerdas. Oke, Chi gak akan ngatur-ngatur boleh atau enggak kursus tambahan. Kembali ke orang tua masing-masing, lah. Semua pasti punya alasan masing-masing.

Tapi pendapat ahli mata di acara Jo Frost itu rasanya perlu juga dipertimbangkan. Apakah kita udah tau anak kita tidur cukup atau enggak? Jangan-jangan yang mereka butuhkan sebetulnya memang hanya tidur cukup. Kalau itu yang mereka butuhkan, kan sayang kalau harus mengeluarkan uang lebih untuk mengkursuskan mereka. Mendingan berikan mereka tidur yang cukup :)

Continue Reading
22 comments
Share:

Monday, November 25, 2013

Sirkus Waterplay - Bermain Air Saat Hujan Pun Tetep Asyik!

Sirkus Waterplay. Namanya tempat bermain anak memang harus didatengin :D Silakan lihat label jalan-jalan di blog ini, ada beberapa tempat bermain yang pernah kami datengi. Ya, walopun gak banyak-banyak amat. Tapi kami memang suka tempat bermain. Bikin Keke dan Nai seneng :)

Dunia anak adalah dunia bermain, Chi rasa semua orang udah tau itu, ya. Apalagi yang namanya main air. Semua anak-anak kayaknya suka main air. Begitu juga Keke dan Nai. Tapi kalau musim hujan biasanya orang tua suka agak khawatir ngasih anak-anak main air apalgi berenang. Biasanya alasannya itu takut sakit. Kalau Chi sebetulnya gak masalah anak-anak main air saat hujan. Kalau perlu mandi hujan sekalian selama tubuh mereka sehat dan gak ada petir yang cetar membahana saat hujan.

Kalau tempat bermain yang semua areanya itu air trus indoor pula (jadi orang tua gak perlu khawatir anaknya bakal kehujanan atau kepanasan), kira-kira ada gak, ya? Ada, dong! Namanya Sirkus Waterplay.

Chi pertama kali tau tempatnya lewat twitter. Trus coba cari info tambahan lewat google. Ternyata, Sirkus Waterplay ini area bermain untuk anak tapi keseluruhan areanya adalah air. Wah, kayaknya bakal asik banget! Pikir Chi saat itu. Apalagi ternyata lokasinya lumayan deket rumah. Yipppiiieeee!

Jadilah hari Sabtu kemarin kami sekeluarga kesana. Karena pas buka webnya, ada promo diskon 50% sampe tanggal 30 Desember 2013. Harga normal tiketnya adalah IDR70ribu per orang. Kalau didiskon 50% kan lumayan banget :)

Pukul 11 siang kami berangkat dari rumah. Agak macet sedikit, tapi gak lama kemudian kami sampai lokasi. Yang sempet bikin Chi ragu untuk dateng ke Sirkus Waterplay adalah kenapa tema waterparknya harus badut? Keke dan Nai gak takut badut, tapi setau Chi banyak anak-anak yang takut badut. *Badut emang nyeremin :D Chi khawatir di dalam bakal banyak anak-anak yang nangis karena takut.


Patung yang sangat besar dan tinggi ini ada di depan gerbang masuk Sirkus Waterplay. Seprti menyambut para pengunjung.


Kekhawatiran Chi yang kedua adalah waterpark tersebut masih dalam taraf pembangunan (makanya diskon 50%). Kayaknya males banget pas lagi main air, banyak tukang bangunan dengan segala materialnya mondar-mandir dan juga mengotori area waterpark.

Alhamdulillah kekhawatiran Chi gak terjadi. Semua anak yang berenang di sana terlihat senang. Mungkin karena main air jadi mereka gak peduli dengan wajah-wajah badut (termasuk beberapa karyawannya juga ada yang pakai setengah topeng badut).


 
Area sirkus waterplay
Di area waterplay juga


Pembangunan waterpark memang sangat terlihat dari arena parkiran yang sempit (gak tau deh kalau udah jadi semua bakal tetep sesempit itu gak parkirannya). Tapi di area waterpark bebas yang namanya pekerjaan bangunan, kok.

 
Pembangunan waterpark masih terus berlangsung tapi di area luar
Alas kaki harus ditaro ditempat penitipan. Gak boleh dibawa masuk
 
Ada beberapa alat fitness yang bisa dipakai disana. Dan bisa juga karaokean. Seperti bapak yang difoto itu. Nyanyi lagu You Are Beautifull - Cherrybelle sambil jogel ala Chibi-chibi *tepok jidat

Kesan plus Chi tentang Sirkus Waterplay adalah

  1. Bisa jadi waterplay yang asik buat anak-anak. Gak ada kolam dalem di sana. Yang paling dalem cuma sedada Keke. Tapi kolam yang lain dangkal-dangkal. Perosotannya juga memang untuk anak-anak. Kata K'Aie, "Ini sih bener-bener tempat untuk main air bukan untuk berenang." Makanya K'Aie gak jadi nyebur dan memilih tidur di kursi yang kami sewa hehehe.
  2. Deket sama rumah lokasinya
  3. Rubber flooring. Jadi aman banget kalau anak-anak mau lari-larian juga. Tapi bukan berarti lepas pengawasan, ya :)
  4. Beberapa sudut menggunakan pengaman.


    Sudutnya diberi pengaman


  5. Kamar bilasnya termasuk favorit Chi, nih. Selain bersih (ya iyalah namanya juga msih baru hehehe), kamar bilasnya juga tertutup. Chi suka males kalau kamar bilas yang pintunya cuma setengah atau malah cuma pake tirai aja. Walaupun didalamnya perempuan semua tapi kayaknya males aja kalau pas kita mandi ada resiko keliatan. Oiya tempat bilas sama tempat berpakaiannya jadi satu. Tapi kalau Chi lebih suka yang kayak gitu. Kita gak perlu keluar kamar bilas sambil handukan untuk kemudian pindah tempat buat berpakaian. Tempatnya juga lumayan luas, jadi gak terlalu khawatir pakaian kita akan kebasahan saat mandi.
  6. Gak perlu takut kehujanan atau kepanasan karena area bermainnya indoor. 
  7. WiFi ada. Hmmm... sebetulnya Chi bingung untuk WiFi dimasukkan ke plus atau minus. Karena di sana tertulis ada fasilitas WiFi. Tapi pas K'Aie coba belom bisa (Makanya K'Aie akhirnya milih tidur :D). Akan jadi nilai plus kalau memang ada. :)

Kesan minusnya juga ada :

  1. Airnya terlalu dingin buat Chi. Karena tempatnya tertutup, jadi air gak kena sinar matahari makanya dingin. Apalagi kl trus ada angin, bbrrrr... jadi bikin menggigil. Tapi ini sih selera, ya. Chi memang gak suka berenang di air yang terlalu dingin. Sementara Keke-Nai nyantai aja. 3 jam mereka main air di sana. Itu juga kalau gak diminta terus untuk udahan kayakya gak bakal selesai-selesai main airnya.


    Kolam air hangat cuma secuil. Paling 10-15 anak duduk disini juga udah penuh :D


  2. Mahal. Chi gak masalahin harga tiketnya. Harga tiket IDR70ribu tapi trus bisa main air sepuasnya buat Chi masih standar, lah. Yang mahal itu harga makanannya. Harga makanan rata-rata IDR20ribu ke atas. Bahkan eskrim aja IDR20ribu. Memang sih mahal atau murah relatif. Tapi Chi akhirnya pilih beli aneka camilan (tahu isi, lontong, dan lainnya) yang harganya antara IDR4-6ribu satunya, rasa dan ukurannya nya biasa banget Jadi, siap-siap aja merogoh kocek yang lumayan dalem untuk makan karena di sirkus waterplay gak boleh bawa makanan masuk (diperiksain hehe). Kalau Chi waktu itu ngakalinnya beli camilan aja (masing-masing makan 2). Selesai berenang baru puas-puasin makan di Pasar Festival :D


    Lantai di restonyanya licin. Chi agak khawatir kalo ada anak-anak mondar-mandir dengan badan yang basah


  3. Kursi nunggu pun bayar. Waktu baru dateng, Chi sempet kaget, kok kursinya dihargain semua? IDR50ribu untuk sewa kursi tanpa ada batasan waktu. Chi tanya ke salah satu petugas sana, kalau yang di area kolam memang harus bayar. Kalau mau yang gratis, ada di resto di lantai atas. Setelah nimbang-nimbang, kami terpaksa pilih yang bayar. Alasannya, yang namanya anak-anak itu pasti mondar-mandir. Kalau harus turun naik, ribet. Apalagi di atas itu lantainya licin, gak rubber flooring. Chi khawatir kalau mereka mondar-mandir dengan badan yang basah akan kepeleset. Ada pengunjung yang milih untuk taro tas-tasnya dijalan begitu aja di bawah. Mungkin males mau nunggu di atas tapi di bawah juga gak mau bayar. Sebetulnya disediain loker penyimpanan, tapi Chi gak tau harga sewanya.

    Bayar dulu IDR50ribu kalau mau duduk di sini :D


  4. Berenang gak berenang bayarnya sama. Masih tentang bayar membayar hehehe. K'Aie gak jadi berenang karena gak ada kolam dewasanya. Untungnya masih diskon 50%. Lumayan banget kalau udah harga normal tapi gak ikut berenang. Dan selama di sana K'Aie lebih memilih tidur :D

    Itu plus-minus Sirkus Waterplay menurut Chi. Selain diskon, kemarin itu ada juga promo jual 6 tiket (berbentuk voucher) seharga IDR100ribu saja. Dan berlaku hingga bulan Juni 2014. Chi sempet tertarik untuk beli. Apalagi Juni udah masuk masa libur sekolah. Kayaknya asik ngajak sodara-sodara yang masih kecil main air di sini. Tiket promonya memang murah banget, tapi karena harga makanannya yang mahal bikin Chi berpikir ulang untuk beli vouchernya :D

     
    Silakan untuk yang berminat. Mumpung tiket masuknya lagi promo, nih! :)


    Untuk makanan mungkin Chi agak sedikit rewel, ya. Karena yang namanya berenang itu bikin laper. Setiap pengelola kolam renang pasti punya kebijakan masing-masing. Tapi kalau Chi coba kasih saran untuk pengelola Sirkus Waterplay (siapa tau dibaca sama pengelolanya :D), Chi akan membandingkan dengan kolam renang umum yang juga dekat sama rumah. Untuk urusan makanan yang ada di kolam renang lain yang juga deket rumah adalah :

    1. Harga makanannnya kurang lebih sama dengan di Sirkus Waterplay. Tapi porsinya cukup banyak. Dan rasanya memang enak-enak. Sepadan lah pokoknya
    2. Boleh bawa makanan dari luar. Jadi akhirnya semua terserah pengunjung. Kalau mau makan enak tapi murmer, mending bawa bekel sendiri. Tapi mau pilih makanan di retso itupun terserah. Kalau Chi sih gimana mood. Kalau lagi rajin, suka bawa bekel. Tapi kalau lagi males mending pesen di restonya hehehe
    3. Kita bisa memanggil pelayan resto dan pesan di tempat. Jadi gak perlu basah-basahan masuk ke resto. Restonya juga jadi gak becek. Kalau di sirkus waterplay kita harus datengin restonya. Ya, dengan lantai yang licin, baju basah, plus harus naik tangga pula rasanya udah males duluan :D

    Ya, mungkin suatu saat kami bakal balik ke sini lagi. Apalagi melihat Keke dan Nai seneng. Tapi, ya semoga aja harga makanannya bisa turun *teteeeeuuuuupppp :p


    Sirkus Waterplay

    Jl. Wibawa Mukti II no 36
    Jati Asih - Bekasi

    Telp : 021-68564679

    www.sirkusindoorwaterpark

    Continue Reading
    28 comments
    Share:

    Thursday, November 21, 2013

    Sang Fajar Suite

    Sang Fajar Suite. Di postingan sebelumnya,  Chi cerita kalau kamar tempat kami menginap ada di bagian belakang. Di area depan dekat pintu masuk adalah resto dan juga front office. Lalu ada satu bangunan kayak rumah gitu yang terlihat  cantik. Waktu itu Chi mikirnya, bangunan itu adalah sebuah ruang pertemuan atau sejenisnya.

    Foto milik Hotel Tugu. Chi gak sempet fotoin bangunan ini pas malam hari


    Pagi harinya, seperti yang udah Chi ceritain di postingan sebelumnya, kami kayaknya hari itu males banget buru-buru check out. Jadi, setelah sarapan Chi dan Nai memilih untuk jalan-jalan di area hotel sambil foto-foto.

    [Silakan baca: Semalam di Blitar]


    Awalnya cuma pengen jalan-jalan mengelilingi hotel sambil foto-foto
    Salah satu sudut yang kami foto :)


    Bangunan yang terlihat cantik pas malam hari, ternyata begitu pagi terlihat gelap. Gak ada satupun lampu yang nyala. Walopun begitu, Chi dan Nai tetep foto-foto di teras bangunan yang cantik itu. Pas lagi foto-foto, ada karyawan Hotel Tugu yang menyapa. Kita sebut aja namanya Mas Teguh, ya (Chi lupa namanya :p)

    Rencananya cuma pengen foto-foto di depan bangunan ini. Ternyata malah ditawarin masuk :)


    Mas Teguh : "Selamat pagi. Ibu tamu di hotel ini?"
    Chi             : "Selamat pagi, Mas. Iya, saya nginep di sini. Bolehkan numpang foto-foto di sini."
    Mas Teguh : "Oh, gak apa-apa. Atau mau sekalian masuk ke dalam?"
    Chi             : "Emangnya di dalam itu apa, ya?"
    Mas Teguh : "Di dalam itu ada beberapa kamar suite. Yang paling mahal itu Sang Fajar dan cuma ada satu. Ibu mau lihat? Sebentar ya, saya ambilkan kunci kamarnya dulu."

    Belum juga Chi jawab mau atau enggak, Mas Teguh udah pergi untuk mengambil kunci. Setelah Mas Teguh datang kami pun diajak melihat Sang Fajar Suite.

    Kesan pertama yang Chi lihat dari kamar tersebut adalah luas dan mewah *Ya iyalah namanya juga kamar paling mahal :D Tapi kemewahan yang Chi lihat di kamar ini yang bisa membedakan dengan kamar mewah di hotel-hotel lainnya adalah Sang Fajar Suite mewah karena seperti melihat galeri yang ada nilai sejarahnya juga.

    Banyak benda-benda, termasuk furniture dari kayu jati yang merupakan peninggalan alm Bung Karno. Chi upload beberapa fotonya di bawah ini, ya :)


    Masuk ke Sang Fajar Suite. Ruang pertama adalah ruang tamu plus ruang kerja. Furniturenya adalah milik Bung Karno
    Meja kerja Bung Karno. Sayang buram, euy fotonya :(
    Kliping kumpulan perjalanan Bung Karno
    Lemari dan berbagai benda yang berharga
    Tempat tidur peninggalan Bung Karno ini sangat besar dan tinggi. Gak cocok buat Keke-Nai yang tidurnya masih suka muter. Takut jatoh hehehe
    Sebelum pulang, cobain duduk di kursi tamu dulu :D


    Mas Teguh cerita kalau keluarga besar Soekarno rutin menginap di sana. Bahkan saat kami menginap itu, biasanya keluarga Bung Karno menginap di sana. Cuma karena Pak Taufik Kemas baru saja wafat, mereka kali ini tidak ke Blitar. Hmmm... pantas aja di hotel ini banyak sekali lukisan-lukisan Bung Karno di berbagai ruangan, ya.

    Chi juga sempet tanya, di kamar tempat kami menginap tertulis hotel Sri Lestari saja (tanpa ada kata Tugu). Tapi, di bagian front office kenapa ada tulisan Tugu. Menurutnya, dulu memang namanya hotel Sri Lestari. Kemudian di beli oleh grup Tugu. Tapi kalau kita berkunjung ke Blitar trus bertanya tentang hotel Sri Lestari, masyarakat sana tau, kok :)

    Mas Teguh juga bercerita panjang lebar tentang aneka tempat pariwisata Blitar. Mulai dari makam Bung Karno hingga Candi Panataran. Bercerita juga tempat oleh-oleh Blitar. Banyak, deh pokoknya. Sayangnya, kami memang tidak berniat lama-lama di Blitar saat itu. Padahal semakin menarik untuk mengunjunginya setelah denger cerita mas Teguh. Semoga kapan-kapan kami bisa ke Blitar lagi. Aamiin

    Cukup lama juga Chi dan Nai ada di dalam Sang Fajar Suite. "Menikmati" ruangan Sang Fajar Suite walopun tidak menginap dan mendengarkan segala cerita Mas Teguh tentang kamar tersebut dan kota Blitar. Bali ke kamar, K'Aie langsung tanya "Dari mana aja?" Dan Chi pun langsung cerita. Sepertinya K'Aie dan Keke 'menyesal' karena menolak untuk diajak foto-foto tadi :p

    Setelah hujan reda, kami pun segera check out. Sekitar pukul 11 siang kami check out. Oiya, untuk Sang Fajar Suite rate per malamnya gak tercantum di sana. Tapi kalau Chi buka webnya, tertulis harga IDR 2,9juta per malam.

    Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :


    1. Liburan Setengah Nekat
    2. Gagal ke Masjid Demak
    3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
    4. Perjalanan Menuju Bromo
    5. Lava View Lodge - Bromo
    6. Bromo yang Menakjubkan 
    7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane 
    8. Semalam di Blitar

    Continue Reading
    22 comments
    Share:

    Tuesday, November 19, 2013

    Semalam Di Blitar

    Semalam di Blitar
    Chi     : "Rencananya malam ini kita nginep di mana, yah?"
    K'Aie : "Rencananya di Malang. Atau Bunda pengen lewat Surabaya kayak kemaren?"
    Chi     : "Kemaren, kita gak lewat Malang, ya? Chi terserah aja, deh."

    Setelah bebersih, beres-beres, kami pun check out (sekitar pukul 12 siang). Hampir sepanjang jalan Chi dan anak-anak tidur. Kecapean hehehe. Bangun-bangun udah mau masuk kota Malang.

    K'Aie : "Bun, tolong liatin di Tab. Alamat Klub Bunga dimana, ya? Aie lupa lagi."

    Sambil browsing, kami pun cari makan sore. Udah kangen sama nasi. Dari kemaren belom ketemu nasi. Kasian yeeeeee :p Setelah diskusi sejenak, kami putusin gak jadi menginap di Malang. Masih pukul 3 sore di Malang, kami mau ngapain? Mana perjalanan masih panjang. Mending setelah makan, lanjut ke kota berikutnya. Kalau lihat Tab, perkiraan kami malam hari akan ada di Blitar. Jadi cari penginapan di Blitar aja.

    Pukul 7 malam, kami sampai di Blitar. Mulai muter-muter cari penginapan. Ada salah satu jalan yang cukup ramai dengan banyaknya toko kecil dan di sana ada salah satu papan nama bertuliskan hotel (tapi lupa namanya hotel apa). K'Aie ragu untuk nginep di sana. Disekelilingnya ramai banget. Jadi khawatir hotelnya pun berisik dan bikin kami gak bisa istirahat.

    Setelah muter-muter (bahkan beberapa kali lewat jalan yang sama), ketemu lagi papan nama hotel (lagi-lagi lupa namanya apa). Kali ini gak ramai jalanannya. Hotelnya terlihat besar tapi agak-agak gelap gitu. Kesannya kok rada-rada horor, ya? Hehehe pemilih banget, ya kami ini :D

    Akhirnya kami muter-muter lagi. Rencananya kalau sampe gak ketemu hotel lagi, kami memilih hotel yang di jalanannya ramai itu aja. Pas lagi cari-cari, ketemu lagi papan nama hotel. Awalnya K'Aie gak yakin karena papan namanya agak sembunyi. Trus penampakan dari luar gak kayak hotel. Lebih mirip kayak restoran.

    Chi lalu minta supaya masuk aja dulu. Kalau ternyata gak asik, cari lagi. Kami pun masuk tapi yang turun duluan K'Aie. Chi sama anak-anak nunggu di mobil. Gak lama K'Aie dateng dan bilang kalau kami menginap. Nama hotelnya Tugu Lestari.


    Pintu masuk hotel Tugu Lestari berupa lorong seperti ini. Kalau malem, terang benderang sama lampu-lampu kecil dari sulur-sulurnya itu. Tapi karena gak keliatan bangunannya, jadi sempet bikin kami ragu.
    Penginapannya ada di bagian belakang. Yang depan pintu masuk itu restoran sama kamar yang harganya mahal :)


    Kamar hotel yang kami pilih sederhana, gak besar tapi bersih. Lagipula masih cukup buat nambah extra bed. Jadi gak perlu sempit-sempitan di satu kasur. Dan yang terpenting WIFInya kenceng :D

    Kamar gak seberapa besar, tapi cukuplah buat kami :)
    Keliatannya serius sama laptop masing-masing, padahal mulut Keke-Nai juga seru ngobrol. Gak brenti ngoceh :D


    Sampe hotel, kami udah males keluar untuk makan malam. Masih kenyang juga karena makan terakhir di hari itu udah cukup sore. Cukuplah welcome drink, teh dengan gula batu, bikin kami kenyang malam itu. Selama di kamar kami juga gak langsung istirahat. Mungkin karena belum terlalu larut. Jadi asik ngobrol sama jalan-jalan di dunia maya :)

    Teh hangat, cukup buat ngisi perut kami malam itu :)


    Sarapan paginya, enaaaaakkkk :L Menunya Indonesia semua. Salah satunya adalah pecel Blitar. Hmmm... lupakan diet. Chi nambah terus. Abis enak, sih :O

    Suka deh sama menu sarapan pagi di hotel ini


    Biasanya pagi-pagi kami udah check out dan melanjutkan perjalanan ke kota lain. Tapi di Blitar, kami males banget buru-buru check out. Pengennya tidur-tiduran aja di kamar. Mana abis itu hujan turun. Wah, tambah males aja untuk lanjutin perjalanan. Pengennya lanjutin tidur, kalau aja gak inget masih ada destinasi berikutnya :)

    Tapi untung aja kami gak buru-buru meninggalkan kota Blitar karena Chi dan Nai "menikmati" beberapa benda peninggalan Bung Karno. Apa aja itu, nanti aja di postingan berikutnya, ya :)


    Pas check out, kami baru tau kalau di hotel Tugu Lestari juga ada spa. Wah, tau gitu sempetin dulu, deh. Siapa tau pegel-pegel di badan setelah beberapa hari diperjalanan bisa hilang
    Kami pilih kamar deluxe. Tapi, pagi harinya sempat diajak melihat mewahnya Sang Fajar Suite. Ceritanya di postingan berikutnya, ya :)


    Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :

    1. Liburan Setengah Nekat
    2. Gagal ke Masjid Demak
    3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
    4. Perjalanan Menuju Bromo
    5. Lava View Lodge - Bromo
    6. Bromo yang Menakjubkan 
    7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane

    Continue Reading
    20 comments
    Share:

    Monday, November 18, 2013

    Apakah Keke dan Nai Termasuk Picky Eater?

    Masih ngomongin tentang picky eater, nih. Sekarang pertanyaannya adalah, apakahKeke-Nai termasuk anak yang picky eater? Kalau menurut Chi, sih enggak. Tapi, ada kalanya untuk beberapa waktu mereka suka memilih-milih makanan.

    Contohnya sekarang ini, Keke lagi suka makan ayam goreng tepung. Setiap hari maunya disediain ayam goreng tepung. Kalau gak dibikinin, suka ada sedikit manyun. Walopun tetep aja dia makan makanan yang udah disediain, sih :) Trus, Nai juga pernah ada masanya susah disuruh makan daging. Alasannya, takut gemuk (gak tau juga dia dapat pemahaman seperti itu dari mana. Tiap ditanya, Nai cuma nyengir).

    Langkah yang Chi ambil ketika Keke-Nai mulai pterlalu pilih-pilih makanan udah Chi tulis lengkap di postingan Gerakan Tutup Mulut Tips Jo Frost di postingan Chi yang berjudul Mengatasi Picky Eater juga Chi lakukan. Dan, alhamdulillah tips-tips di 2 postingan itu terbukti berhasil untuk Keke-Nai.

    Yang (kadang sampe sekarang) suka Chi khawatirkan ketika praktekin tips-tips tersebut saat Keke-Nai lagi terlalu pilih-pilih makanan adalah tips untuk tidak memberikan alternatif makanan lain. Anak harus makan apa yang sudah disediakan. Saat itu seperti menghadapi sebuah pertarungan (walopun kesannya lebay tapi emang bener :p). Keke-Nai tentu akan berkeras dengan keinginannya, begitu juga dengan Chi. Tapi di sisi lain Chi juga khawatir kalau Keke-Nai terus ngotot dengan keinginannya, mereka akan kelaparan. Kalau udah kelaparan, Chi khawatir mereka sakit. Nah, rasa-rasa kayak gini sebetulnya meluluhkan hati kita untuk memenuhi keinginan anak, kan? Trus siapa yang menang?

    Yang menang bisanya Chi hehehe. Chi tetep minta mereka makan apa yang ada. Kekhawatiran mereka bakal sakit kalau tetep memilih gak mau makan selama makanan yang mereka mau gak disediakan itu nyaris gak pernah terbukti, kok. Anak-anak juga sebetulnya mampu menahan rasa lapar yang cukup panjang. Lagipula kalaupun ahirnya mereka lapar, mau gak mau kan 'terpaksa' makan makanan yang ada di rumah :)

    Walopun gitu kadang Chi liat sikon juga. Ada kalanya memenuhi keinginan mereka. Ada kalanya memaksa mereka untuk makan. Kalau lagi jalan-jalan ke mall, anak-anak (terutama Nai) lebih suka milih resto fast food. Seringkali Chi dan K'Aie mengalah padahal bosen juga makan fast food. Tapi daripada ada yang mogok untuk makan pas jalan-jalan, merusak suasana.

    Kalau pemaksaan biasanya suka Chi lakukan saat Keke lagi gak mau sarapan. Dari dulu kalau Keke gak sarapan itu suka jadi panas badannya. Mungkin karena masuk angin, akhirnya demam. Padahal ke sekolah juga dibekelin makanan sama Chi. Jadi Chi harus paksa Keke untuk makan walaupun sedikit kalau lagi menolak untuk sarapan.

    Pernah Chi turutin kemauannya untuk gak sarapan. Pulang sekolah badannya panas. Kalau udah gitu paling Chi suka tanya, "Sakit enak, gak? Masih menolak untuk sarapan?" Keke suka jadi kapok untuk beberapa saat.

    Ada 1 nasehat dari Papah yang juga jadi pegangan buat Chi untuk urusan makanan.


    Punya makanan favorit boleh aja. Tapi, jangan juga terlalu manjakan lidah cuma bisa makan makanan kesukaan kamu. Makan itu utamanya adalah untuk kebutuhan bukan untuk kesukaan. Suatu saat, mungkin kita pergi ke suatu daerah dimana gak ada satupun makanan favoritmu di sana. Kalau kita biasa makan untuk kebutuhan, lidah kita gak akan masalah makan apa aja.

    Papah Chi ngomong gitu waktu mau berangkat haji sama mamah beberapa tahun lalu. Dan saat papah-mamah naik haji, ada kasus catering Indonesia yang bermasalah saat wukuf di Arafah. Banyak media di Indonesia mengabarkan kalau jamaah haji Indonesia tidak mendapat pasokan makanan. Padahal yang sebetulnya terjadi jamaah haji memang tidak mendapat pasokan makanan berupa nasi dan lauk-pauknya. Tapi masih mendapatkan roti.

    Ya, mungkin bagi perut orang Indonesia gak ketemu nasi artinya belum makan :D Tapi kalau terbiasa untuk tidak memanjakan lidah, roti pun gak masalah. Apalagi papah-mamah cerita, saat tersendatnya pasokan makanan dari catering, mereka dan rombongannya justru berlimpah makanan. Karena jamaah dari berbagai negara banyak yang sukarela memberikan makanan tanpa diminta sama sekali.

    Bisa jadi rasa makanan dari negara lain seleranya lain dengan lidah Indonesia. Tapi sekali lagi kalau kita terbiasa makan untuk kebutuhan, insya Allah gak akan bermasalah makan makanan apapun. Dan itu yang Chi coba ajarin juga ke Keke dan Nai :)

    Catatan tambahan (19/11) :

    Kalau Chi dan K'Aie termasuk yang gak setuju sufor itu bisa jadi pengganti makanan utama. Jadi, kalau Keke-Nai lagi susah makan, susu bukan juga dijadikan sebagai alternatif pengganti untuk dikonsumsi. Mereka tetep harus makan makanan seimbang :)

    Continue Reading
    6 comments
    Share:

    Saturday, November 16, 2013

    Mengatasi si Picky Eater

    Mengatasi si Picky Eater. Tips parenting dari tayangan Jo Frost lagi, nih. Kali ini tentang picky eater alias anak yang terlalu milih-milih makanan.

    Sebelumnya, Chi juga pernah nulis postingan yang berjudul "Gerakan Tutup Mulut". Postingan yang berisi tip untuk mengatasi anak yang sedang susah makan alias melakukan gerakan tutup mulut. Tulisan itu juga Chi ikutin lomba yang diadakan oleh penerbit byPass. Alhamdulillah waktu itu dapet juara 1.

    Oke, balik ke cerita picky eater. Dalam tayangan itu, ada anak laki-laki (kalau gak salah usia 4 tahun) yang sukanya makan itu-itu aja. Untuk makanan utama, dia hanya mau makan roti dengan mentega setiap harinya. Udah pasti selera makannnya yang seperti itu bikin orang tuanya stress.

    Berikut, tips dari Jo Frost :


    1. Orang tua yang memilihkan makanan untuk anak yang picky eater. Kalau anak yang dibiarkan memilih, pasti dia akan memilih yang dia suka aja. Caranya adalah berikan piring yang sudah diisi dengan makanan, minta anak untuk memakannya.
    2. Jangan jadikan anak yang picky eater jadi fokus utama saat makan. Ketika anak yang picky eater tidak diberikan pilihan menu, pasti dia akan merajuk dan menolak untuk makan. Orang tua sebaiknya tidak lantas terus membujuk si anak untuk tetap makan selama waktu makan bersama. Menjadikan anak yang picky eater sebagai fokus utama hanya akan bikin si anak terus merajuk hingga permintaannya dituruti. Kalau anak terus merajuk, orang tua bisa jadi stress dan akhirnya menyerah dengan permintaan anak. Jadi, orang tua sebaiknya berusaha untuk mengabaikan. Caranya, mengobrol bersama anggota keluarga lain dengan topik-topik yang menyenangkan.
    3. Tegas. Tanpa perlu terlihat emosi, katakan dengan tegas kepada anak kalau dia harus makan yang sudah disediakan. Menolak untuk makan? Jangan tawarkan makanan pengganti. Kalau perlu beri sedikit sanksi, misalnya tidak boleh makan es krim kalau tidak mau makan yang sudah disediakan atau tidak boleh main keluar untuk jangka waktu tertentu.
    4. Beri pujian apabila anak mau makan makanan yang disediakan

    Di acara tersebut, terlihat si anak terus merajuk dan menolak untuk makan. Alasannya macem-macem. Gak enak makannya, perutnya sakit, pokoknya macem-macem, deh. Prosesnya gak instant, Sampe berminggu-minggu dan turun-naik. Menguras emosi orang tua juga. Kadang si anak akhirnya mau makan walaupun cuma sedikit banget, tapi berikutnya ngerajuk lagi.

    Setelah beberapa minggu si anak pun akhirnya udah gak pilih-pilih makan lagi (catet ya, prosesnya gak instant :)). Yang bikin Chi ngikik itu pas si anak ditanya sama Jo Frost kenapa udah gak pilih-pilih makan lagi. Kira-kira begini katanya, "Aku sekarang udah gak terlalu suka sama roti dan mentega. Aku senang makan apa aja sekarang, karena setelahnya orang tuaku akan memuji."

    Tuh, ibu-ibu jangan sampe pelit pujian untuk anak, ya :D

    Bagaimana dengan Keke-Nai? Pernah praktekin tips dari Jo Frost itu, gak? Jawabannya, pernah. Trus berhasil atau enggak? Hmmm... Postingan berikutnya, ya. Pegel nggetik terus dan udah ngantuk juga :p

    Continue Reading
    18 comments
    Share:

    Thursday, November 14, 2013

    Dewasa Sebelum Waktunya

    Dewasa Sebelum Waktunya. Ceritanya lagi seneng banget nonton acara Jo Frost : Extreme Parental Guide, nih. Seminggu yang lalu, salah satunya adalah tentang anak yang dewasa sebelum waktunya.

    Jadi, ada anak berumur 13 tahun yang seneng banget berdandan dewasa. Seneng dandan, pakai-pakaian ala orang dewasa yang serba terbuka dan minim. Bahkan dia pun cukup sering pergi ke klub-klub malam.

    Jo Frost lalu bertanya ke anak tersebut tentang sikapnya yang dewasa sebelum waktunya. Menurut si anak, dia seneng menjadi dewasa karena dunia orang dewasa itu asik. Gak seperti dunia anak seumurannya. Bahkan berbicara dengan orang dewasa pun lebih mengasyikkan.

    Jo Frost lalu bertanya ke ibu anak tersebut tentang ulang putrinya. Si ibu mengakui kalau dia sebetulnya dilema. Dalam hatinya dia gak mau putrinya itu berpenampilan dewasa sebelum waktunya. Tapi di sisi lain dia berprinsip komunikasi dengan anak harus terjalin dengan baik. Dia gak mau putrinya melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.

    Makanya walaupun gak setuju dengan tingkah laku putrinya, si ibu lebih memilih untuk mengalah. Karena kalau kemauannya gak diturutin akan bikin putrinya ngambek. Bikin pusing kalau udah ngambek, katanya. Ditambah lagi, si ibu takut kalau melarang putrinya malah melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya ibunya memilih untuk mengabulkan semua keinginan putrinya selama putrinya mau terbuka dengannya walaupun hati kecilnya gak menyetujui tingkah laku putrinya.

    Jo Frost bertanya ke ibu tersebut, apa gak merasa khawatir dengan pergaulan orang dewasa? Apalagi si anak suka pergi klub. Kalau sampe ada pria dewasa yang ngegodain gimana? Si ibu menjawab kalau dia gak khawatir karena anaknya selalu bercerita di klub malam itu ngapain aja, minum apa aja, dan sebagainya. Lagipula si ibu merasa anaknya tetap aman dan gak macem-macem di dalam klub karena selalu menemani putrinya ke klub walopun hanya mengantar dan menunggu di parkiran aja.

    Berikutnya, Jo Frost kembali bertanya ke si anak. Kalau ibunya sekarang melarang dia untuk tampil dewasa, bersedia gak? Jawaban anak adalah, kalau memang ingin melarang kenapa gak dulu pas dia masih anak-anak? Kenapa baru sekarang?

    Gak ada kelanjutan cerita apakah anak tersebut 'kembali' ke usianya. Walopun begitu tetap ada pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut. Kesimpulan yang Chi tangkap dari ucapan Jo Frost tentang masalah tersebut adalah:


    Menjalin komunikasi baik dengan anak itu harus. Tapi belum tepat waktu melakukan komunikasi terlalu terbuka dengan anak yang masih usia anak-anak. Orang tua masih harus mengontrol bahkan kalau perlu mendikte apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh anak.


    Bener juga, untuk membentuk karakter anak memang sebaiknya sedini mungkin. Usia anak-anak masih harus dibimbing dan diarahkan. Kalau enggak, nanti bisa-bisa kayak anak di acara Jo Frost yang dewasa sebelum waktunya itu. Ketika ditanya mau berubah atau enggak, malah dijawab, "Kenapa gak dari dulu dilarangnya?" Bisa pusing deh kalau udah kayak gitu :)

    Mendadak jadi inget juga seminar parenting yang beberapa lalu Chi datengin. Kata Pak Arif Rahman, pembentuk karakter anak sebaiknya pada periode keemasan anak (lahir hingga 5 tahun) :)

    Continue Reading
    28 comments
    Share:

    Wednesday, November 13, 2013

    Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane

    Ranu Pane


    Mas Yanto : “Semeru, Mas? Waduh! Jauh itu. Nambah, ya?”

    Kemudian terjadi tawar menawar. Mas Yanto meminta IDR1,2juta, sementara K’Aie menawar IDR1juta. Sambil menunggu kesepakatan, Chi memilih menikmati keindahan Savana dari balik kaca Jeep. Mau keluar males, udara mulai panas. Baju yang Chi pake baru berasa tebel :D

    Akhirnya terjadi kesepakatan di angka 1,1 (ini total keselurah pembayaran, ya. Bukan harga untuk lanjut ke Bromo). Ngomong-ngomong tentang harga Jeep memang lumayan berasa hehehe. Kalau baca info lewat google, harganya lebih rendah dari yang kami bayar saat itu. Tapi waktu kami liburan itu, BBM baru aja naik. Bisa jadi harga sewa Jeep pun ikut naik atau mungkin kami yang kurang 'kenceng' nawarnya.Gak apa-apa lah, selama perjalanannya asik trus supir Jeepnya juga baik :)

    Bawa kendaraan sendiri tidak disarankan oleh perkumpulan Jeep di sana. Alasannya medannya lumayan berat. Itu pun harus mobil 4WD. Tapi kalau ada yang tetap ngotot ingin bawa kendaraan sendiri, silakan aja. Cuma kalau sampe terjadi sesuatu, perkumpulan Jeep males ngebantuin karena sebelumnya kan udah dikasih peringatan. Salah sendiri gak nurut.

    Lumayan jauh juga perjalanan ke Semeru. Jalannya muter-muter dan sempit. Beberapa kali Chi merasa ngeri kalau Jeep lagi papasan sama Jeep dari arah berlawanan. Kalau sampe tergelincir ke bawah. Hiiiii ngeri! Di sepanjang perjalanan kami sering menemui segerombolan anak muda membawa tas-tas besar. Mungkin baru turun dari Semeru atau ada juga yang baru mau mendaki.

    Kami juga melewati perkebunan suku tengger. Enak banget kayaknya kalau liat perkebunan. Hasilnya seger-seger. Oiya, waktu di Bromo, selain banyak yang menawarkan jaket, di sana banyak juga yang menjajakan cabe. Chi gak tau cabe apa. Bentuknya kayak paprika, gendut-gendut gitu tapi lebih kecil. Warnanya merah. Rasanya Chi baru liat cabe seperti itu.

    Sampai juga kami di Ranu Pane. Kalau di papan petunjuk, tertulis “Ranu Pani”. Tapi sepertinya orang lebih banyak yang menyebutnya Ranu Pane. Katanya, sih, sama aja. Ranu Pane saat itu sepi. Hanya ada kami. Dari Ranu Pane, kami bisa melihat megahnya gunung Semeru yang sesekali ‘batuk’.


    Dari balik pepohonan itu terlihat kemegahan Semeru. Subhanallah.


    Chi, tuh, emang selalu aja merinding kalau lihat gunung apalagi gunung berapi. Gimana, ya, cantik tapi misterius. Ah, pokoknya merinding, lah! Sementara itu K’Aie juga bernostalgia karena pernah beberapa kali mendaki Semeru.

    K’Aie : “Kapan-kapan kita ke sana, ya, berempat.” *sambil menunjuk Semeru.

    Chi senyum-senyum aja dengernya sambil dalam hati berkata, “Aamiin.”

    Chi tau mendaki Semeru bukanlah suatu hal yang gampang. Jangan mentang-mentang ada film 5cm trus kita semua merasa bisa mendaki Semeru. Pasti butuh persiapan yang sangat matang. Belum tentu juga Chi sanggup. Mendaki bukit kecil aja udah ngos-ngosan :D Tapi gak ada salahnya kita mengaminkan sebuah harapan baik, kan? Lagipula Chi pikir kalaupun gak akan pernah bisa ke Semeru, minimal dengan adanya harapan tersebut siapa tau suatu saat kami akan kembali lagi ke Bromo.

    Setelah menikmati Ranu Pane, kami pun memutuskan kembali ke Lava View Lodge. Rasanya masih belum rela meninggalkan Semeru begitu cepat, sepanjang perjalanan Chi pun menikmati kemegahan Semeru. Tau-tau… DUARR!! Ya, saking terpukaunya dengan kemegahan Semeru yang sesekali ‘batuk’, Chi gak sadar kalau posisi kepala terlalu dekat sama kaca Jeep. Akhirnya kejedot, deh. Benjol lumayan besar heuuuuu.


     
    Di parkiran Ranu Pane
     Belum pengen meninggalkan Semeru sebetulnya. Makanya dipandangin terus tapi akhirnya bikin kepala benjol :p
    Berhenti sejenak. Menikmati Savana dari atas sambil foto-foto


    Pasir Berbisik


    2 pemandangan yang kontras. Yang hijau adalah Savana dengan padang rumputnya. Sedangkan yang abu-abu adalah hamparan pasir dimana ada pasir berbisik di sana.


    Dalam perjalanan menuju penginapan kami melewati Pasir Berbisik. Tadinya Chi pikir yang namanya pasir berbisik adalah lautan pasir yang banyak kudanya itu. Ternyata bukan. Pasir berisik itu gundukan-gundukan yang seperti bukit kecil dari pasir. Kalau angin bertiup terdengar seperti suara berbisik. Tapi memang harus hati-hati, kalau bisa pakai masker takut kena mata pas angin bertiup.

    Mas Yanto sempat menawarkan kami untuk berhenti dan berfoto-foto. Sayang, pas sampe sana Keke-Nai udah tidur. Mereka mungkin kecapean karena harus bangun dari malam trus tidurnya juga kurang. Kalau Chi paksain bangun, bisa-bisa rewel nanti.

    Sampai penginapan sekitar pukul 11 siang. Walaupun udara udah mulai gerah tapi tetep gak berani mandi pake air dingin, ah. Berlama-lama di kamar mandi dengan shower air hangat setelah cape jalan-jalan itu memang nikmaaaattt :D Pukul 12.00, kami check out. Kembali menyantap pop mie untuk makan siang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Malang. Rencananya mau nginep di Malang.

    Perjalanan ke Bromo dan Semeru berkesan, walopun kami masih ingin kembali ke sini. Gak puas kalau Cuma sekali. Hanya sedikit disayangkan, perjalanan kemanapun selalu ada aja yang kurang bertanggung jawab, ya. Kayak, Chi liat ada salah satu batu yang besar tapi penuh coret-coretan pylox :(

    Dah Bromo dan Semeru! Semoga suatu saat kami bisa ke sana lagi dan bisa lebih lama. Masih pengen punya foto bertaburan bintang, pengen menikmati pemandangan dari penginapan, pokoknya masih banyak pengennya.


    Titip jejak sepatu Nai di lautan pasir Bromo. Insya Allah, suatu saat kami akan kembali. Aamiin


    Bersambung...

    Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :


    1. Liburan Setengah Nekat
    2. Gagal ke Masjid Demak
    3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
    4. Perjalanan Menuju Bromo
    5. Lava View Lodge - Bromo
    6. Bromo yang Menakjubkan

    Continue Reading
    20 comments
    Share: