Monday, March 31, 2014

Pekerjaan Rumah

Sekolah Keke dan Nai sebetulnya termasuk yang jarang kasih PR. Kalaupun kasih, gak banyak. Pokoknya masih cukup nyantai lah kalau urusan PR.

Hari Kamis lalu (27/3), Nai ngasih Chi 1 pertanyaan tentang agama.

Bunda : "Pasti, itu PR agama, ya?"
Nai      : "Iya."
Bunda : "Guru agama Ima yang sekarang pasti kalau kasih PR itu gak pernah ada di buku jawabannya. Harus cari tau sendiri. Untung ada internet."
Nai      : "Bunda itu waktu kecil gak pernah dapet PR, ya?"
Bunda : "Pernah, lah. Kenapa gitu?"
Nai      : "Abis Bunda sering keliatan jutek kalau udah ngomongin PR."
Bunda : "Masa, sih? Enggak, ah... Trus apa hubungannya sama Bunda waktu kecil?"
Nai      : "Karena dapet PR itu enak. Tapi, karena Bunda gak pernah dapet PR waktu kecil, jadi gak bisa ngerasain enaknya dapet PR. Makanya jutek."

*^&#^%%(&^&%&&&*^)& *baru kali ini denger yang namanya dapet PR itu enak hihihi. Etapi, seharusnya Chi bersyukur, ya :D

Continue Reading
24 comments
Share:

Thursday, March 27, 2014

Dunia Anak Adalah Dunia Bermain

Salah status fanpage Ayahbunda, menarik perhatian Chi. Menarik perhatian bukan tentang cara mengajarkan agar anak rajin sikat gigi, tapi tertarik kalimat 'dengan membuat suasana yang menyenangkan.'

Chi 100% setuju dengan potongan kalimat tersebut. Gak hanya berlaku untuk mengajarkan anak sikat gigi, tapi dalam banyak hal, mengajarkan anak itu harus dibuat dengan suasana menyenangkan. Alasannya hanya 1, yaitu dunia anak adalah dunia bermain.

Namanya juga dunia bermain, pasti identik dengan hal-hal yang menyenangkan. Iya, kan? Makanya gak heran kalau anak-anak bisa betah berlama-lama bermain, bahkan sampai susah untuk diajak makan, tidur, mandi, dan aktivitas lainnya. Karena yang mereka tau dan mereka suka itu adalah bermain. Anak-anak, utamanya usia sampai 5 tahun, belum terlalu paham konsep hak dan kewajiban.
Sebagai orang tua, kitalah yang harus berusaha masuk ke dunia mereka. Bukan sebaliknya. Contohnya ketika mengajak mereka makan. Orang dewasa mungkin akan berpikir, "Ya elaaahh! Ribet amat, sih! Mau makan aja pake harus bilang ada helikopter mau parkir supaya anak mau makan. Padahal makan ya makan aja."

Tapi, itu lah anak-anak. Cara mereka berpikir yang masih penuh imajinasi tentu berbeda dengan orang dewasa. Berpikir bahwa mulut mereka adalah helipad akan memudahkannya untuk membuka mulut dan menikmati makanan. Dan, sekali lagi lebih baik orang tua yang mengikuti jalan pikiran mereka. Ya, daripada dipaksa trus ujung-ujungnya nangis dan gak ada makanan yang masuk juga? Malah tambah stress nanti kitanya.

Chi selalu berusaha menerapkan itu ke Keke dan Nai, Termasuk ketika mengajak mereka belajar. Chi gak anti mengajarkan mereka berhitung, mengenal huruf, dan lainnya sedini mungkin, yang penting harus diperhatikan adalah cara mengajarkannya. Bikin dengan cara bermain dan disesuaikan juga dengan tipe belajar serta daya tangkap mereka.

Alasan kenapa Chi gak anti mengajarkan Keke dan Nai pelajaran akademis sedini mungkin adalah karena selain dunia bermain, anak-anak juga memiliki masa periode emas (hingga usia 5 tahun). Sayang banget kalau di masa periode emas, kita gak optimasi kecerdasan mereka. Chi selalu berusaha mengkombinasikan masa periode emas tersebut dengan dunia bermain mereka.  Lebih lengkapnya tentang pengalaman Chi menciptakan suasana menyenangkan bagi Keke dan Nai, bisa dilihat di file Metode Belajar. Atau di file Parenting juga ada :)

Walaupun sudah berusaha membuat semenyenangkan mungkin, belum tentu langsung berhasil, lho. Jawaban sederhananya, sih, yang menarik buat kita kan belum tentu menarik buat mereka. Tapi, jangan berputus asa. Kesel-kesel sedikit sambi garuk-garuk tembok bolehlah hihihi. Tetap terus semangat untuk membuat suasana yang menyenangkan bagi anak-anak. Karena dunia anak adalah dunia bermain. :D

Continue Reading
36 comments
Share:

Wednesday, March 26, 2014

Mengajarkan Nai Tentang Pembagian

Memasuki semester kedua di kelas dua ini, Nai mulai belajar tentang pembagian. Sebelum belajar tentang pembagian, tentu aja Nai harus belajar perkalian. Alhamdulillah, gak terlalu sulit mengajarkannya perkalian selama dia gak terburu-buru.

Ketika memasuki pelajaran pembagian, Nai mulai mengalami kesulitan. Terutama kalau angka yang harus dibagi sudah ratusan. Misalnya, 153 : 3 = ...

Mengajarkan pembagian ke Nai dengan cara tahapan-tahapan konvensional, bikin dia tambah bingung. Cara yang tepat adalah dengan bercerita. Nai yang gaya belajarnya lebih ke visual dan bercerita memang lebih mudah menangkap sesuatu dengan cara bercerita. Biar, gampang jelasinnya, Chi kasih contohnya, ya..

153 : 3 = ...

Penyelesaian : Ada 1 orang penumpang, ingin naik kereta. Tapi, menurut peraturan, kereta baru bisa jalan minimal kalau ada 3 orang yang naik. Setelah ditunggu, terkumpulah 15 penumpang. 1 gerbong hanya boleh diisi 3 penumpang, kalau ada 15 orang yang naik berarti butuh 5 gerbong kereta.

Setelah kereta pertama jalan, kemudian datang 3 penumpang lagi. Karena jumlahnya sudah ada 3 orang, maka kereta kedua pun bisa langsung jalan dengan 1 gerbong saja.

Jadi, 153 : 3 = 51

Buat Nai, cara bercerita seperti itu memudahkannya untuk belajar pembagian. Malah kalau dia lagi seru, suka ditambahin berbagai dialog seperti layaknya sebuah cerita, misalnya "Aku ikuuuuttt!" atau "Ya, terpaksa menunggu, deh."

Kadang, Chi dan Nai bercerita bersama. Tapi, kadang Nai ngoceh-ngoceh sendiri dengan ceritanya. Gak apa-apa juga, sih, biar gimana kalau di sekolah kan dia gak bakal dibantu sama Chi. Harus ngerjain sendiri.

Cara ini berlaku untuk Nai. Kalau untuk Keke beda lagi. Chi ngajarin biasa aja, mengajari tahapan-tahapan pembagian seperti umumnya. Ya, setiap anak kan memang berbeda-beda gaya belajarnya. Bahkan untuk kakak-adik sekandung pun gaya belajarnya berbeda-beda :)

Continue Reading
18 comments
Share:

Tuesday, March 25, 2014

Benteng Van Der Wijck

Rencana di hari kedua, dari Gombong kami akan menuju ke Jogja. Bermain seharian di Jogja kemudian sore atau malam harinya pulang ke Bandung. Pengalaman hanya sekejap di Jogja saat liburan sekolah lalu, bikin Chi ngebayangin bakal bisa memuaskan diri lagi di Jogja walaupun gak menginap.

Chi pengen ngajak Keke keliling Jogja naik becak karena Keke suka banget naik becak. Trus pengen ngajak Keke juga melewati tantangan melintasi 2 pohon beringin kembar. Waktu liburan sekolah lalu, gak kesampaian merasakan tantangan ini.

Tapi, rencana tinggal rencana...

Mamang Chi gak menyarankan kami ke Jogja pakai bis saat itu. Alasannya, karena masih perayaan agustusan. Biasanya jalanan akan tersendat karena banyak pawai agustusan. Dan, di Jogja biasanya suka ada kirab. Pakai bis, bikin kita jadi gak leluasa bergerak nanti. Mamang Chi menawarkan kendaraannya. Tapi, berarti gak semuanya bisa ikut kalau menggunakan mobil. Rencana ke Jogja pun batal.

Hmmm... agak sedikit kecewa, tapi sebagai gantinya Chi ngajak anak-anak dan beberapa anggota keluarga lainnya main ke Benteng Van Der Wijck yang lokasinya deket sama rumah mamang. Paling sekitar 5 menit aja.



Dengan HTM Rp10.000,00 per orang (3 tahun ke atas, bayar full), kami pun memasuki benteng ini. Di dalam ada berbagai macam permainan. Setiap wahana permainan harga tiketnya antara Rp5.000,00 s/d Rp10.000,00. Sebetulnya kalau dipikir-pikir jadi mahal juga habisnya, ya. Apalagi anak-anak kan gak bisa sekali main ke sana.


Benteng yang dicat merah ini berdiri kokoh.Tapi, entah memang disengaja atau tidak, terlihat sangat kusam. Padahal kalau kata Chi, sih, gak apa-apa juga dibikin kinclong tanpa menghilangkan bentuk aslinya.


Chi sempet terpisah sama rombongan. Anak-anak gak terlalu betah di Benteng. Pengennya langsung ke arena bermainnya. Jadi deh, Chi jalan-jalan sendirian di Benteng. Gak berasa serem ternyata. Chi baru bergabung lagi setelah puas mengelilingi benteng dan ketemu di arena permainan.


Gak semua wahana dimainin anak-anak. Sebetulnya Keke minta berenang, tapi karena gak bawa baju renang, Chi gak kasih izin. Di sana, mereka cuma main bom-bom car sama perahu bebek. Memang sengaja gak dibolehin main banyak karena kami kan harus pulang lagi ke Bandung.


Selesai bermain, ngebakso dulu di sana. Bakso seharga Rp10.000,00 per porsi (kalau gak salah), rasanya enak juga. Udah gitu, ada yang jual dawet ireng. Asiiikk! Puas deh, makan di sana. Kalau anak-anak malah masih ditambah jajan es krim lagi.


Oiya, di area depan Benteng Van Der Wijck ini juga ada penginapannya. Tapi, kayaknya rada spooky, ya kalau nginep di sana :p


Selesai makan, kami pun pulang ke rumah mamang untuk berpamitan. Sempet nungguin bibi-bibi Chi beli oleh-oleh. Padahal di perjalanan pulang, beli oleh-oleh lagi hihihi. Alhamdulillah, sampe rumah hampir subuh.

Continue Reading
14 comments
Share:

Monday, March 24, 2014

Menuju Gombong


Seminggu setelah kumpul keluarga saat syukuran sunatan Keke, keluarha besar Chi kembali berkumpul di Bandung. Kali ini, kami berencana menuju Gombong. Bukan untuk jalan-jalan, tapi membesuk mamang Chi (adik kandung mamah) yang baru aja pulang dari rumah sakit. Lebaran lalu, mamang Chi dan keluarganya gak ikut berlebaran Bandung. Mamang Chi harus dirawat di rumah sakit saat lebaran karena kesehatannya.

Dengan menyewa bis, kami berangkat dari Bandung. Jalan-jalan sama keluarga besar emang paling enak kalau pake bis. Rame, seru, dan kebersamaannya berasa banget. Perjalanan Bandung-Gombong yang seharusnya gak terlalu lama, saat itu membutuhkan nyaris 12 jam karena macet total di daerah Gentong. Tapi, karena perginya rame-rame, berasa seneng aja.

Untuk makan siang, kami gak berhenti di rumah makan tapi istirahat di dekat salah satu masjid yang kami temui. Jum'atan, sholat dzuhur, sekaligus ngebotram (makan bersama-sama) di sana. Bekel buatan Bi ati memang maknyuuusss :)

Sepanjang jalan, banyak diantara kami pengen minum cendol. Seinget Chi, di sekitar Purworejo itu banyak sekali penjual dawet ireng. Tapi, gak tau kenapa, saat itu Chi gak ngeliat satupun warung dawet ireng yang berjejer di speanjang jalan. Yang ada malah dawet hijau.

Karena gak ketemu juga, kami pun berhenti di salah satu penjual. Hmmm... rasanya kurang mantap, nih. Gelasnya besar, tapi dawetnya sedikit. Kebanyakan air dan rasanya kurang manis. Anak-anak sampe minta tambahan gula lagi.

Sampe sekarang, Chi suka mikir kenapa waktu itu gak nemuin satupun penjual dawet ireng, ya? Perasaan sepanjang jalan gak tidur :D

Memasuki maghrib, kami pun sampai di Gombong. Alhamdulillah, kondisi mamang Chi sudah terlihat lebih baik.Setelah berbincang-bincang lumayan lama, sebagian dari kamipun terutama yang anak-anak dan remaja pamit. Bukan pamit untuk balik ke Bandung, tapi pamit untuk tidur di rumah keluarga yang lain. Masih di Gombong juga. Kasihan yang sakit kalau semua nginep di sana, nanti malah gak bisa istirahat.

Segitu aja dulu, dilanjut ceritanya di postingan berikutnya :)

Continue Reading
16 comments
Share:

Saturday, March 22, 2014

Masih Kecil Sudah Mencuri

Pohon Mangga

Dihalaman depan rumah, ada pohon mangga. Pohonnya pendek, tapi buahnya banyak. Sampe itu pohon sekarang udah gak ada, Chi gak pernah nyicipin mangganya sekalipun. Diambilin sama anak-anak kecil yang lewat, dan kalau kepergok kabur. Pohonnya udah gak ada karena terserang rayap.


Pohon Rambutan

Setelah ditebang, diganti dengan pohon rambutan. Pohonnya juga pendek dan mulai berbuah. Tapi, sekarang juga buahnya mulai diambilin sama anak-anak kecil lagi yang lewat.


Kolam Koi

Menyenangkan melihat gerombolan ikan koi berukuran besar-besar ini kalau lagi ngumpul


Kolam Koi yang ada di halaman depan rumah ini udah ada sejak bertahun-tahun. Tapi, baru kali ini ngalamin ikannya dicuri oleh anak-anak kecil. Ceritanya, kemaren sore Chi mau tidur. Terdengar suara-suara anak kecil lagi ngobrol. Chi pikir, anak-anak lewat sambil ngobrol, gak sadar kalau suara mereka terlalu dekat. Mungkin karena ngantuk.

Sampe kemudian, Chi mendengar bunyi 'klik', tanda ada yang membuka pagar. Dan, Chi mendengar salah satu anak bilang, "Eh, ayo cepetan, nanti ketauan." Chi langsung melihat dari jendela, ternyata ada beberapa anak kecil, kira-kira umur 8-10 tahun sedang membuka pintu pagar!

Chi langsung keluar. Spontan melihat ke arah teras, udah becek dan batu koral keluar dari kolam. Wah, ada yang nyemplung, nih! Chi keluar pagar dan melihat diantara gerombolan anak tadi ada yang membawa serokan besar buat nangkap ikan. Feeling Chi udah gak enak.

"Hei!!" Chi teriak sekencang-kencangnya. Anak-anak tersebut nengok ke belakang dan Chi langsung mengepalkan tangan. Pengen sebetulnya Chi kejar saat itu juga, tapi gak pake sandaaaaalll. Kalau maksain sama aja dengan cari penyakit. Chi masuk ke rumah, pake sendal, tapi anak-anak itu udah semakin jauh :(

Chi masuk ke rumah, trus ceritain kejadian itu sama mamah. Ternyata, Chi baru tau kalau itu kejadian kedua. Waktu yang pertama, gerombolan anak kecil itu nyebur ke kolam, berusaha menangkap ikan tapi ketahuan tetangga. Dimarahin sama tetangga, mereka kabur. Kejadian kedua, mereka berhasil menangkap seekor ikan koi :(

Chi sempet kepikiran. Gak tega sama nasib itu ikan. Ikan Koi itu kan termasuk ikan yang membutuhkan oksigen danir mengalir. Bisa cepet mati kalau gak di air mengalir. Trus, ikan koi bukanlah ikan buat dikonsumsi. Gak tega ngebayangin itu ikan kalau buat konsumsi.

Akhirnya, Chi ketiduran juga. Tapi, baru sebentar, kedengeran lagi suara anak-anak kecil. Chi langsung bangun. Ya ampuunn! Anak-anak tadi! Mereka cuma numpang lewat, sih. Tapi, bisa ya lewat rumah dimana mereka abis mengambil sesuatu tanpa izin sambil becanda-canda gitu.


Udah ikhlasin ajah!

Buat Chi ini bukan masalah ikhlas atau enggak. Insya Allah, berusaha ikhlas. Tapi, mengambil sesuatu tanpa izin, walopun sepele tetaplah mencuri. Bukan berarti karena yang mengalami kecuriannya ikhlas, trus pelakunya kita biarkan. Udah gitu yang mereka ambil, seringkali untuk dibuang-buang.

Seperti buah, mereka selalu mengambil buah yang masih kecil banget. Buat apa coba? Dimakan juga belum bisa, paling akhirnya dibuang. Sia-sia banget. Kalau udah matang trus diambil, setidaknya kan masih bisa dimakan. Walopun makan dari hasil mencuri juga gak dibenarkan.


Keisengan anak kecil

K'Aie sempet berpikir mungkin ini hanya anak-anak kecil yang iseng pengen tau. Chi agak gak sependapat. Kalau cuma 1-2 kali, mungkin iya itu untuk menjawab rasa ingin tahu mereka. Tapi, kalau terus berulang, masa' sih? Apalagi mereka juga bukan anak kecil banget. Umur 8-10 tahun termasuk yang sudah bisa membedakan apakah yang mereka ambil itu bisa dimakan atau enggak.


Peran orangtua

Chi sempet mikir, orang tua mereka itu tau gak, ya, kelakuan anak-anak ini? Apalagi kalau kemudian salah satu anak itu pulang bawa ikan koi. Seharusnya sebagai orang tua curiga itu anak dapet ikan darimana. Karena gak mungkin juga ikan koi dapet dari pasar, kali, atau got.

Gak perlu buru-buru menyalahkan tetangga, Pak RT, Pak RW, Preside, dan negara. Sebagai orang tua kita introspeksi dulu. Udah selalu mengingatkan dan mengajari mereka untuk berbuat baik, belum?

Karena gak bisa tidur lagi, Chi milih online aja. Sempet kepikiran, mau bilang satpam blok untuk lebih perhatiin kalau ada anak-anak dari luar komplek yang masuk bergerombol. Chi memang yakin, itu anak-anak dari luar komplek.

Gak lama bel berbunyi... ternyata satpam. Tau aja kalau Chi niat mau lapor :p

"Bu, ikan ini punya Ibu bukan, ya?" tanya satpam. Kita sebut aja satpam Anto. Mamah yang saat itu menerima satpam Anto, langsung mengiyakan dan menceritakan semua kejadian yang terjadi. Satpam Anto lalu bilang kalau dia menemukan ikan itu di taman. Awalnya, curiga melihat ada ember di taman. Pas dideketin ternyata isinya ikan. Satpam Anto coba tanya ke satpam lain tentang ikan ini. Tapi, gak ada yang tau. Lalu dia inget kalau keluarga kami punya kolam ikan koi.

Satpam Anto bilang kalau dia memang sempat lihat beberapa anak kecil bergerombol di taman sebelumnya. Begitu dia lewat anak-anak tersebut langsung lari. Dugaan satpam Anto, anak-anak tersebut takut melihat satpam lewat, jadi ember berisi ikan pun langsung mereka tinggal begitu aja.

Ikan Koi yang mereka ambil kelihatan lemes bangeeett. Ditaro di kolam, langsung tenggelam ke dasar dan gak bisa bangkit. Kalau kami gak lihat mulutnya yang masih megap-megap, mungkin kami berpikir ikan tersebut udah mati.Jadi, kami biarkan aja dulu di kolam, walopun harus tenggelam di dasar.

Malamnya, Chi lihat ikan tersebut udah bisa berenang. Walopun masih kelihatan sempoyongan banget, gak selincah koi lainnya. Alhamdulillah, masih bisa bertahan hidup.

Sekali lagi, Chi menulis ini bukan karena gak ikhlas. Tapi, menyayangkan aja, melihat kelakuan mereka yang masih kecil sudah mencuri. Anak-anak memang rasa ingin tahunya tinggi, tapi kalau harus mencuri itu tidak boleh dibenarkan.

Yuk, ah, kita ingatkan terus anak-anak masing-masing. Supaya jangan melakukan perbuatan seperti. Kalau udah jadi kebiasaan, kasihan masa depannya.

Continue Reading
28 comments
Share:

Friday, March 21, 2014

Bangku Guru

Bangku guru. Sesuatu yang sempet bikin Chi kesel hari rabu lalu, tapi hari ini bikin Chi ngikin setelah mengetahui cerita lengkapnya.

Hari Rabu lalu, Chi sempet bingung kenapa Keke kok gak keluar juga dari kelas. Biasanya dia udah nunggu di pintu gerbang sekolah. Karena gak keluar juga, akhirnya Chi samperin ke kelasnya. Dan, ternyata dia lagi asik menulis sementara seluruh teman-temannya udah pulang.

Dalam hati, Chi udah menduga kalau Keke pasti lagi dihukum. Karena rasanya belum pernah Keke serajin itu kalau bukan karena lagi dapet hukuman hehe.

Bunda : "Dihukum, ya?"
Keke   : "Iya. Hukumannya disuruh menulis surat Al Fajr di buku tulis."
Bunda : "Emang Keke berbuat apa?"
Keke   : "Keke ketahuan duduk di bangku guru."
Bunda : "Emang dilarang? Trus guru Keke lagi gak ada?"
Keke   : "Iya, dilarang. Pak guru lagi ke ruang guru sebentar."

Lalu keluarlah segala nasihat Chi. Tapi, gak sampe marah, sih, karena Keke kali ini agak diam. Chi pikir, tumben juga. Biasanya Keke suka ada pembelaannya. Bahkan ketika Chi memberikan hukuman dengan tidak jadi memberikannya hadiah berupa jam bermain tambahan karena mendapat nilai 100 untuk pelajaran Bahasa Arab, Keke gak protes.

Chi memang menjanjikan hadiah kalau nilai Bahasa Arabnya bagus. Karena semester lalu, nilai Bahasa Arab Keke agak mendekati KKM. Mungkin dia kaget juga karena ini pertama kalinya belajar bahasa Arab. Chi juga waktu itu agak kesulitas ngajarin, karena buku pelajarannya isinya tulisan Arab semua. Gimana Chi ngajarin kalau gak ada terjemahannya? :D

Alhamdulillah, semester ini Keke bisa mengejar. Bahkan, untuk UTS jadi satu-satunya anak yang dapat nilai 100.

Bunda : "Keke tau gak kenapa Bunda marah dan akhinya gak jadi kasih hadiah?"
Keke   : "Karena Keke gak menurut."
Bunda : "Dan, Keke tau kenapa dihukum?"
Keke   : "Supaya Keke gak berleha-leha. Gak menyepelekan himbauan."

Mendengar itu, emosi Chi mereda. Alhamdulillah, Keke mengerti dan semoga dia bisa ambil pelajaran dari hukumannya.

Tadi pagi, Chi ambil rapor. Wali kelas Keke, menjelaskan tentang nilai hingga sikap Keke selama di sekolah. Kapan-kapan Chi ceritain secara komplit terutama tentang sikapnya selama di sekolah. Kali ini Chi mau cerita tentang hukuman yang dialami Keke karena duduk di bangku guru.

Wali kelas bercerita kalau beliau menghimbau ke anak-anak muridnya untuk tidak boleh duduk di bangku guru kalau guru lagi gak ada.

Keke         : "Kalau murid gak boleh duduk di bangku guru, berarti guru juga gak boleh duduk di bangku murid, dong?"
Wali kelas : "Kalau Bapak boleh duduk di bangku murid. Karena sebagai guru, Bapak harus memahami perasaan dan sudut pandang murid. Salah satunya dengan duduk di bangku murid sesekali."
Keke         : "Kalau gitu, gimana Keke bisa memahami perasaan dan sudut pandang Bapak sebagai guru kalau Keke dilarang duduk di bangku Bapak?"

Spontan, Chi langsung ngakak mendengar cerita wali kelas Keke. Ya, itulah Keke. Dari dulu, dia gak bisa langsung menerima ajakan atau larangan kalau belum bisa dipahami oleh akalnya. Pasti dia akan menuntut diberikan alasan.

Wali kelas lalu menjelaskan, kalau alasan lainnya adalah bangku guru cuma 1. Kalau didudukin oleh murid, khawatir rusak. Mana kalau bangku guru itu kan selain empuk juga ada rodanya dan bisa muter. Jadi, anak-anak suka duduk di bangku guru. Makanya, wali kelas lalu menghimbau supaya anak-anak jangan lagi duduk di bangkunya.

Tapi, walaupun sudah mendapatkan penjelasan, Keke rupanya masih penasaran. Dia tetap duduk di bangku guru dan akhirnya kepergok. Dihukum deh jadinya.

Di satu sisi, Chi bisa memahami perdebatan dan rasa ingin tahu Keke terhadap bangku guru. Tapi, di sisi lain Chi juga setuju kalau Keke mendapatkan hukuman karena biar gimana dia harus taat pada peraturan.

Sampai rumah, Chi tanya lagi ke Keke sekaligus menceritakan obrolan Chi dengan wali kelasnya itu.

Chi   : "Emang kenapa Keke sampe nekat tetep pengen duduk di bangku guru? Kan, udah dijelasin alasannya sama Pak Guru? Penasaran, pengen tau apa rasanya jadi guru?"
Keke : "Engga juga, sih."
Chi    : "Nah, trus?"
Keke : "Abis bangku pak guru keliatannya enak buat di dudukin. Apalagi kalau Keke capek abis main futsal. Udah gitu bangku pak guru bisa muter sama ada rodanya, jadi seru aja bisa dimainin."

Teteuuuuppp, intinya Keke pengen bermain hihihi.

Continue Reading
28 comments
Share:

Wednesday, March 19, 2014

Syukuran Sunatan Keke

rumah makan mang engking

Kayaknya untuk urusan yang kayak gini, Chi dan K'Aie termasuk lempeng hehe. Waktu Keke disunat, kami bersyukur kalau akhirnya Keke mau disunat. Tapi, ya udah begitu aja. Malah yang ada, pulang dari rumah sunatan, di rumah Mamah udah menyambut dengan menu ayam panggang yang nikmat.

Ketika memasuki bulan Ramadhan, Papah Chi bilang pengen  mengadakan syukuran sunatan untuk Keke, cucu pertamanya, itu. Kemungkinan, dilakukan setelah hari raya Idul Fitri. Dipilih setelah lebaran, karena keluarga besar Chi dan K'Aie biasanya masih pada ngumpul di Bandung. Tempat udah booking, kami tinggal datang aja, alias makan gratis :p

Tepat tanggal 12 Agustus 2013, jam makan siang, syukuran sunatan diadakan. Kami semua kumpul di rumah makan Mang Engking, Kopo-Bandung. Kami datang, sekitar pukul 10.00. Memang sengaja datang sebelum makan siang, biar bisa ngobrol-ngobrol dulu sambil menanti anggota keluarga lain yang belum datang.

Setelah semua berkumpul, kami berdo'a bersama dipimpin sama Papah Chi, dan sepatah dua patah kata dari mamah mertua. Setelah itu lanjut dengan yang ditunggu-tunggu, apalagi kalau bukan makan bersama hehe.

Di rumah makan Mang Engking ini, pengunjung bisa makan di dalam atau memilih saung-saung. Saungnya pun terdiri dari berbagai ukuran. Orang tua Chi memilih yang paling besar dan 1 saung yang berukuran sedang.


Saatnya makaaannnn! Enak-enak semua makanannya :D


Seneng banget bisa kumpul rame-rame bareng keluarga Chi dan keluarga K'Aie kayak gitu. Chi bersyukur banget keluarga besar Chi dan keluarga besar K'Aie selalu akrab sejak dulu. Tepatnya sejak kami menikah :)

Semoga akan ada terus keakraban-keakraban seperti ini. Selebihnya, silakan nikmati foto-fotonya aja, ya :p


Anak-anak pada seneng main di kolam ini. Geli kali, kakinya di gigitin ikan. Tapi, baru-baru ini, kami kesana kolam ikannya udah kering.
Foto-foto lagi sebelum pulang. Pas baru-baru ini, kami ke sana, area ini udah dipagar. Mungkin, untuk mencegah supaya jangan ada yang kecebur kali, ya.
Sepatu Chi jadi satu-satunya korban pas syukuran sunatan Keke. Kecebur dan basah kuyup. Untung panas terik, jadi sebentar aja udah kering lagi itu sepatu :D

Continue Reading
24 comments
Share:

Monday, March 17, 2014

Suami Saya...


Judul postingan ini, sengaja Chi samain dengan judul tulisan yang masuk ke majalah Good Housekeeping Indonesia, sekitar 1 tahun lalu. Tulisan pertama Chi yang masuk media cetak, dan setelah itu belom ada lagi *karena gak ngirim-ngirim lagi :p

Tulisan itu menceritakan tentang kejadian dimana Chi dan beberapa orang teman lama ngobrol-ngobrol di dumay. Karena udah lama gak ngumpul, kami berencana untuk ketemuan. Chi bilang kalau mau ngumpul sebaiknya hari Sabtu atau Minggu. Karena Chi cuma bisa di 2 hari itu. Alasannya, kalau wiken K'Aie libur, jadi anak-anak bisa ditemenin sama K'Aie.

Setelah Chi komen gitu, salah seorang temen berkomentar, "Kamu, kok, anggap suami kayak pembantu aja. Masa' disuruh ngasuh anak."

Chi kaget banget baca komen tersebut. Gak tau, deh, apa temen Chi itu becanda atau enggak. Chi gak tanya, lebih memilih untuk menjelaskan. Sama sekali Chi gak menganggap kalau K'Aie itu seorang PRT. Mengasuh anak memang sudah jadi kesepakatan kami bersama sejak awal. Chi memang pengen banget K'Aie itu dekat dengan Keke dan Nai.
 
Walopun Chi gak merasa seperti itu, tapi gara-gara komen tersebut, bikin Chi jadi bertanya ke K'Aie. Gak bermaksud menuduh, sih. Tapi, siapa tau aja, K'Aie lama-lama keberatan sama yang namanya mengasuh anak.

K'Aie : "Apa-apan, sih. Ya, enggak lah! Masa' kayak gitu keberatan."
Chi    : "Ya, kali aja..."
K'Aie : "Enggak, lah. Namanya juga berumah tangga, ya sama-sama lah."

Alhamdulillah, K'Aie gak pernah ada rasa keberatan. Tetap menjadi suami dan ayah yang mau sama-sama mengurus rumah tangga dan anak-anak

Sebetulnya, tanpa diminta pun, sejak masih pacaran Chi udah yakin. Kelak kalau kami menikah dan punya anak, K'Aie akan menjadi ayah yang dekat dengan anak-anaknya. Tidak hanya ingin mencari nafkah, sementara urusan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri. Chi yakin K'Aie gak seperti itu. Alhamdulillah, terbukti sampai sekarang.

Buat, Chi penting banget bagi seorang anak untuk dekat dengan sosok ayah. Ketika setahun lalu lihat Nai asyik berlama-lama ngobrol berdua sama ayahnya tentang perayaan ulang tahun yang Nai inginkan. Chi memang sengaja gak ikut nimbrung. Chi cuma duduk dekat mereka, sambil tersenyum senang melihat ayah dan putrinya saling berdiskusi. Keke pun begitu. Seringkali Chi biarkan Keke ngobrol berdua dengan ayahnya. Dan, Chi hanya jadi pengamat sambil tersenyum mendengar obrolan mereka.

Ketika Keke dan Nai masih bayi, K'Aie pun rajin ngemandiin mereka setiap pagi bahkan bantu nyuapin sarapan. Menggendong anak-anak pake gendongan bayi. Hingga cuti kerja untuk membantu Chi dalam proses menyapih.

K'Aie juga andal dalam urusan rumah tangga. Rajin banget bebersih rumah, memasak juga oke. Tentu aja itu semua dilakukan saat lagi gak ke kantor, lah. Karena kegiatan utamanya kan mencari nafkah.Dan, K'Aie termasuk suami yang bertanggung jawab.

Chi merasa jadi perempuan yang sangat beruntung punya suami seperti K'Aie. Sekali lagi, Chi sama sekali gak menganggap K'Aie itu seorang PRT karena selalu membantu urusan rumah tangga. Jauh-jauh, deh, dari pikiran itu! Chi tetap menghargainya sebagai suami, ayah Keke-Nai, dan kepala rumah tangga.

Tapi, kalau ada orang lain yang berpikiran seperti itu. Biarkan itu jadi urusannya. Yang penting, keluarga kami asyik-asyik aja dengan keadaan ini :)

Continue Reading
60 comments
Share:

Tuesday, March 11, 2014

Tidur Sendiri? Mulai Kapan?

Mulai umur berapakah sebaiknya anak dibiasakan tidur sendiri? Menurut beberapa sumber, ada yang bilang sejak lahir, sebaiknya sebelum adiknya lahir, setelah usia 2 tahun, dan lain sebagainya. Jawabannya beragam dengan segala alasannya. Sementara Keke dan Nai baru mulai tidur sendiri setelah mereka diusia SD hehehe.

Dari lahir, Keke dan Nai memang gak Chi biasain tidur sendiri. Pernah, sih, waktu Keke lahir dibeliin ranjang bayi sama orang tua Chi. Tapi, jarang dipake. Chi kan kalau nyusuin Keke lebih suka sambil tidur. Dan, Keke juga nyamannya seperti itu. Pake ranjang bayi malah repot. Kalau Keke pengen nyusu, Chi harus bangun. Selesai nyusu, gendong lagi ke ranjangnya. Mending kalau udah gitu dia tidur, biasanya malah jadi kebangun. Jadi, mendingan tidur seranjang aja, deh. Ranjang bayi dipake buat naro beberapa baju gantinya :D

Dan, itu terulang lagi saat Nai lahir. Apalagi Nai, sempet ngerasain yang namanya bau tangan. Kalau dipindahin ke ranjang bayi malah gak bakal tidur, pengennya digendong. Jadi, mending satu kasur aja bareng-bareng.

Ketika mulai mensosialisasikan *halah bahasanya :p ke anak-anak untuk tidur sendiri, reaksi mereka berbeda-beda. Keke itu terus menolak awalnya. Alasannya, gak bisa peluk bunda. Trus, dia pernah tanya kenapa kamarnya tanpa AC, sedangkan kamar ayah-bunda pakai. Chi jelaskan kalau kamar Keke, ventilasinya bagus. Tanpa AC pun terasa sejuk. Apalagi kalau hujan, bukan sejuk lagi tapi dingiiiinnn padahal gak pake AC.

Sedangkan, Nai sebaliknya. Reaksinya langsung girang saat dia tau saatnya tidur sendiri. Nai memang sudah menanti-nantikan saat itu. Paling pernah beberapa kali dia bertanya pertanyaan sama, "Kenapa Ayah dan Bunda tidur berdua padahal udah pada gede? Kita yang masih anak-anak malah disuruh tidur sendiri?" atau pernah juga dia tanya gini, "Ayah dan Bunda itu kan laki-laki sama perempuan. Kok, boleh tidur bareng? Harusnya perempuan sama perempuan lagi, laki-laki sama laki-laki lagi." Huaaaaa... :r

Berarti, proses Nai lebih mudah, dong? Enggak juga. Keke memang awalnya terus menolak, tapi entah angin darimana, tiba-tiba dia bilang mau tidur sendiri. Dan, sejak itu dia bisa tidur sendiri. Sedangkan, Nai memang semangat banget, tapi begitu masuk kamar, gelisah terus. Susah diajak tidur. Dan, tengah malam, dia masuk ke kamar ayah-bundanya minta ditemenin :r

Kalau Keke langsung sukses, Nai kadang-kadang masih suka masuk ke kamar ayah bundanya. Tapi, akhir-akhir ini frekuensinya udah semakin jarang, sih.

Tips dari Chi kalau mau menyiapkan anak untuk tidur sendiri, adalah:


  1. Sosialisasikan ke anak-anak terlebih dahulu. Apalagi kalau anaknya udah terbiasa tidur dengan orang tua dan bisa diajak komunikasi. Mungkin akan berbeda kalau sejak bayi, si anak dibiasakan untuk tidur sendiri.
  2. Setiap anak penanganannya beda-beda. Mempercantik kamar anak-anak dengan ini-itu supaya mereka mau tidur sendiri, belum tentu berhasil, lho. Terbukti sama Keke dan Nai hehe. Chi justru lebih sering ngajak mereka berpikir. Misalnya nanya, "Kalau kalian udah tidur, pada tau gak kalau Bunda lagi makan atau ke luar kamar?" Mereka jawab gak tau. Di situ Chi trus jelasin kalau itu artinya, gak usah takut tidur sendiri. Buktinya kalau udah tidur, ya tidur aja.
  3. Temani mereka tidur dikamarnya kalau perlu. Kalau Keke sih udah langsung sukses. Jadi, gak perlu ditemani. Tapi, kalau Nai di awal-awal, Chi masih sempet nemenin dia tidur di kamarnya sampai pagi. Ya, biar gimana anak perlu penyesuaian dengan ruangan barunya, kan? Jadi, gak apa-apa kalau harus ditemani.
  4. Rutinitas lain harus tetap ada. Walopun mereka udah tidur sendiri, rutinitas sebelum tidur misalnya membaca buku cerita, memeluk, dan lainnya jangan langsung dihilangkan. Tetaplah membacakan mereka buku cerita sampai tertidur atau rutinitas lainnya. Kasian kalau semuanya langsung dihilangkan hanya karena mereka tidur sendiri.
  5. Silakan kalau mau tidur sama ayah-bunda sesekali. Waktu Chi belum nikah, sesekali masih suka tidur sama orang tua, lho. Memang gak satu ranjang, biasanya Chi gelar kasur lagi. Dan, itu gak apa-apa sama papah-mamah. Chi juga gak ngerasain apa-apa *yang aneh-aneh maksudnya. Jadi, kalau Keke dan Nai sesekali mau tidur sama orang tuanyanya juga gak apa-apa. Kalau sakit, mereka pasti minta tidur sekamar. Malah mereka minta khusus Sabtu-Minggu tidur bareng ayah-bunda. Silakan aja. Kan, enak juga kruntelan di kamar rame-rame sambil becanda atau nonton film :)
  6. Menata hati. Huaaaa... Ini kejadiannya mirip sama pengalaman weaning with love. Biar gimana, berpisah tidur sama anak itu bikin mellow. Gak tau ya kalau orang tua lain apa kayak Chi juga :p Tapi, sekali lagi Chi harus konsisten di sini. Kalau anak dianggap udah mampu tidur sendiri, mending mulai dibiasakan. Kalau enggak kapan lagi?
  7. Pastikan anak tidur tertib sesuai waktunya. Memang sebaiknya di kamar anak, gak ada fasilitas bermain seperti tv, game, dan komputer. Chi pernah mengulas tentang ini di postingan "Kualitas Tidur dan Kecerdasan Anak". Tapi, kalopun di kamar ada fasilitas-fasilitas tersebut, seperti yang dialami oleh Keke dan Nai, Chi benar-benar harus memastikan kalau mereka tidur tepat waktu. Di waktu yang udah ditentukan, semua udah harus mati. saatnya tidur, ya tidur.

Begitulan kira-kira tips dari Chi. Silakan dicoba kalau dirasa cocok. Tapi, kalau enggak juga gak apa-apa :)

Continue Reading
28 comments
Share:

Monday, March 10, 2014

Pengumuman Pemenang 2nd Giveaway

Sebelumnya, Chi mau mengucapkan terima kasih banyak untuk 62 teman yang sudah berpartisipasi dalam 2nd Gievaway: Ayo Nge-bebek Di Resto Bebek Judes. Dan, berdasrarkan penilaian, inilah daftar para pemenang:

Juara I : Uang tunai Rp500.000,00 dan Paket Terjudes senilai Rp400.000,00
Yuniar Nukti - Bebek Judes, Sensasi Pedasnya Juara

Juara II : Uang tunai Rp300.000,00 dan Paket Perawan senilai Rp350.000,00
Dwiyani Arta - Nikmatnya Si Perawan Nan Judes

Juara III : Uang tunai Rp200.000,00 dan Paket Kramaz senilai Rp250.000,00
Tanti Amelia - Fakta Si Perawan Judes

10 tulisan pilihan : mendapatkan paket cantik dan kece badai


  1. Moocen Susan
  2. Indah Nuria Savitri
  3. Farichatul Jannah
  4. Mei Wulandari
  5. Ika Koentjoro
  6. Natalia Diah Pitaloka
  7. Fadlun Arifin
  8. Lusiana
  9. Waluyo
  10. Euis Sri Nurhasannah

Selamat untuk para pemenang! Untuk yang belum beruntung, tetap semangat, ya ;)

Untuk para pemenang, silakan kirim data diri (nama + alamat) dan nomor rekening (untuk yang mendapat uang tunai) ke bundake2nai@gmail.com. Alamat pengiriman di Indonesia, yaaa. Kalau sampe keluar mahalan ongkirnya :D

Oiya, maaf kalau akhir-akhir Chi jarang BW. Lagi riweuh sama perhelatan Srikandi Blogger 2014. Sekarang udah selesai acaranya. Jadi, saatnya Blogwalkiiiiinnnnggg. *kangen BW :)

Continue Reading
No comments
Share:

Friday, March 7, 2014

Weaning With Love

Weaning with love (WWL) atau menyapih dengan cinta. Sejujurnya, kalau ditanya apakah Chi melakukan WWL ke Keke dan Nai, agak bingung juga jawabnya. Setelah baca sana-sini, Chi berkesimpulan kalau WWL itu kan katanya menyapih secara alami dengan cinta. Artinya tanpa ada paksaan sama sekali.  Orang tua sering mengajak anak untuk berkomunikasi tentang menyapih. Maksudnya, biar si anak mau menyapih dengan keinginan sendiri.

Chi juga pengennya begitu. Makanya dari jauh-jauh hari, Chi udah melakukan persiapan seperti di bawah ini:


  1. Tidak menawarkan menyusui dan mengalihkannya dengan melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Supaya Keke lupa sama kegiatan menyusuinya.
  2. Kalau Keke tetap meminta, Chi mencoba mengajaknya ngobrol. Misalnya dengan bilang, "Keke udah mulai besar, mending main aja, yuk!"
  3. Mengajaknya ngobrol tentang rencana menyapih. Kasih penjelasan positif, disesuaikan dengan daya tangkap anak juga tentunya
  4. Menata perasaan. Karena saat menyapih, sebetulnya gak cuma anaknya yang sedih, bundanya juga.

Awalnya, berhasil. Keke seperti mengerti. Kalau malam, dia udah bisa nyenyak tanpa terbangun minta nenen. Siang hari pun bisa dialihkan dengan berbagai permainan. Tapi, keberhasilan itu cuma sementara...

Pelan-pelan, Keke mulai sering minta menyusui lagi. Malah gak mau brenti. Dialihkan perhatiannya dengan cara apapun gak mempan. Pengennye nempel terus, sampe Chi susah ngapa-ngapain. Bahkan, ketika lagi makan pun, Keke minta menyusui. Makan dan menyusuui bisa dilakukan berbarengan. Ampun, deh!

Perasaan, sebelum ada rencana menyapih, Keke gak sampai segitu ketergantungannya. Bahkan, ketika Nai lahir dan Chi melakukan tandem nursing pun Keke gak sampe segitunya. Kenapa juga setelah dibicarakan baik-baik, dia malah makin menjadi ketergantungan? Sempet terpikir, jangan-jangan dia udah ngerti kalau sebentar lagi gak boleh menyusui?

Chi lalu kepikiran buat sedikit 'memaksa'. Sebetulnya gak rela juga, sih. Apalagi ASI Chi masih banyak. Udah gitu, sempet baca beberapa info parenting kalau anak yang disapih dengan cara memaksa atau 'menipu' misalnya dengan dipahitin atau dikasih betadine putingnya, akan membuat anak mengalami luka batin, Dan, hubungan batin antara ibu-anak menjadi rusak karena anak merasa haknya dirampas. Atau anak merasa ditipu sama ibunya.

Wuiiihhh, serem banget baca efeknya! Makanya, Chi sempet ragu berat mau menyapih dengan paksa. Tapi, kalau gak disapih, Keke semakin gak bisa lepas. Malah makin menjadi. Setelah ditimbang-timbang dan diskusi dengan K'Aie, kami pun sepakat untuk sedikit memaksa Keke. Caranya seperti ini:


  1. Beberapa hari sebelum hari H, sudah dikasih tau kalau akan disapih.
  2. Ketika hari H, Keke benar-benar gak dibolehin menyusui sama sekali.
  3. Di Hari H, K'Aie ambil cuti.

Kenapa K'Aie sampe harus cuti, karena saat benar-benar dilarang untuk nenen, Keke menjadi rewel luar biasa. Seharian itu, dia nangis dan minta digendong terus. Chi tentu aja kerepotan kalau harus nanganin Keke sendirian. Apalagi saat itu udah ada Nai yang masih bayi. Jadi, memang perlu kerjasama.

Melihat Keke seharian menangis, Chi jadi merasa bersalah banget. Apalagi setelah itu, Keke demam. Tinggi juga panasnya. Makin merasa bersalah, deh. Apalagi, Chi tetep harus konsisten untuk tidak menawarkan Keke untuk menyusui lagi. Untungnya cuma sehari demamnya. Setelah itu, dia udah lupa sama kegiatan menyusuinya. Keke kembali ceria tanpa ingin menyusui. Bahkan 2 minggu setelah disapih, Chi pernah coba-coba nawarin, Keke menolak sambil ketawa-ketawa. Keke pun resmi disapih, saat umurnya sekitar 2,5 tahun.

Bagaimana dengan Nai. Sama aja ternyata. Setelah Chi bilang mau nyapih, awal-awalnya berhasil tapi lama-lama jadi ketergantungan. Pokoknya persis kayak yang Keke lakuin dulu. Dan, Chi pun kembali terpaksa menyapih.

K'Aie kembali cuti. Untungnya walaupun ngamuk banget, tapi Nai gak sampe demam. Besoknya, Nai udah ceria dan gak minta nenen lagi. Nai disapih wkatu umurnya mendekati 3 tahun.

Ya, mungkin Chi tidak melakukan weaning with love. Walopun, Chi merasa begitu. Karena paksaan yang Chi lakukan cuma sedikit. *membela diri :p Tapi, apakah Keke dan Nai memiliki luka batin karena pemaksaan tersebut? Hmmm... kayaknya enggak, ya. Mereka memang menangis hampir seharian. Bahkan, Keke sempat demam. Tapi, Chi pikir wajar aja. Namanya anak suka menangis kalau keinginannya ditolak, kan?

Walopun begitu, Chi gak merasa hubungan antara Chi dan anak-anak jadi rusak karena urusan ini. Kami baik-baik aja. Bahkan tetap akrab sampai sekarang, kok. Ketika menyusui memang hubungan batin antara ibu dan anak terjalin. Chi merasakan banget, makanya selalu mellow tiap kali mau menyapih. Tapi, kalau kita bisa memberikan kasih sayang dengan kualitas yang sama bagusnya, anak juga lama-lama akan mengerti. Dan, tetap akan merasa disayang. :)

Continue Reading
20 comments
Share:

Tuesday, March 4, 2014

Photographer Alay

Kemarin sore, kami bertiga membuat jus strawberry. Setelah mencicipi sedikit jusnya, Nai pun mulai memotret jus yang ada di gelasnya.

Keke : "Ima! Ngapain sih, mau minum jus aja pake difoto dulu?"
Nai    : "Gak apa-apa juga kali. Kan, salah satu cita-cita Ima pengen jadi photographer makanan."
Keke : "Iya, tapi tadi pas nyicipin jusnya udah berdo'a belom?"
Nai    : "Ya, udah lah."
Keke : "Oh, bagus kalau gitu. Berarti Ima beneran kepengen jadi photographer makanan."
Nai    : "Emang kalau Ima belom berdo'a kenapa?"
Keke : "Kalau belom berdo'a, berarti Ima cuma pengen jadi photographer alay. Yang foto-foto makanannya cuma buat diupload di FB sama Instagram, tapi lupa berdo'a."

*Mendadak bundanya merasa kesentil :D


Continue Reading
20 comments
Share:

Monday, March 3, 2014

Berlibur Di Hotel Impian

Bermula dari permainan iseng buat mengisi waktu antara Chi dan Nai di parkiran kalau lagi nungguin Keke pulang. Lumayan lama nunggunya sekitar 1 jam-an. Supaya gak bosen, salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah permainan kata. Contohnya seperti ini:

Bunda : "Bulan, sayap, terbang."
Nai     : "Rina ingin sekali terbang ke bulan kalau punya sayap."

Intinya, bikin kalimat dimana ada 3 kata yang diharuskan. Nanti, kami saling bergantian memberikan ketiga kata petunjuk. Biasanya di awal permainan, kalimatnya suka normal aja. Lama-lama imajinasi kami semakin ajaib dan sering bikin kami berdua ngakak. Bikin waktu menunggu jadi gak berasa.

Dari permainan iseng itu, Chi terpikir untuk membuat cerpen berantai. Masing-masing dikasih waktu 1 hari untuk meneruskan cerita tersebut. Tidak boleh ada yang protes dengan cerita yang ditulis sebelumnya. Jadi, kalau gak setuju, sebaiknya kita belokkan ceritanya. Bikin sekreatif kita.

Yang akan Chi tulis di postingan ini, sebetulnya cerita berantai kami yang kedua. Yang pertama, Chi cari dulu fotonya, deh :D

Ini cerita buatan kami....




Chi

"27... 28... 29.... Yes! 3 hari lagi!" seru Daffa. Hatinya sedang senang, karena 3 hari lagi libur sekolah akan tida. Walaupun demikian, dia masih belum bisa memutuskan akan menghabiskan liburan kemana. Menerima ajakan Sari, sepupunya, berlibur di desa? Jalan-jalan ke mall bersama Tyo, sahabatnya? Pergi ke negeri para naga? Atau ke tempat lain? Daffa masih bingung.


Nai

"Aha! Aku ingin ke desa saja, deh, ikut Sari, Tapi, di desa 10 hari aku akan lupa sama Elmo. Di sana kan tidak ada First Media hanya ada tv biasa," Akhirnya Daffa tidak jadi ikut Sari. "Aha! Aku ke Ancol aja, ah." Daffa bilang ke ayahnya saat ayahnya pulang. "Ayah, liburan kita ke Ancol, yuk!"


Keke

Saat di perjalanan, tiba-tiba Daffa ingin ke Jepang. Dan, akhirnya ayahnya ke bandara. Dan, saat sudah menunggu akhirnya mereka naik pesawat Air Asia. Dan, saat sudah sampai di Jepang mereka ke hotel, mereka tidur. Dan, saat pagi, Korea menyerang. Dan, anak-anak dan dewasa harus ikut perang. Jepang dibantu Amerika dan Korea dibanti China. Dan Daffa melihat anak dari Jepang bernama Keke.


Chi

Hai! Aku, Keke," kata anak laki-laki berbadan besar dan berambut ikal. Daffa menduga, usia Keke sepantaran dengannya. "Ayo, ikut aku!" seru Keke sambil berlari menuju sebuah pintu. Daffa pun mengikuti.

Seketika suasana perang pun berubah setelah Daffa dan Keke memasuki pintu tersebut. ruangan yang mereka masuki seperti sugar land. rumah-rumah terbuat dari kue dan salju dari whipped cream. Beberapa anak terlihat bermain seluncur dari es krim.

Hmmm... enak sekali. Daffa memetik sehelai daun yang ternyata terbuat dari coklat. Tapi, apakah ini mimpi? Atau...? Daffa mengucek-ucek matanya.

"Selamat datang di hotel impian," kata Keke. Keke sepertinya bisa mengerti kebingungan Daffa.

"Hotel impian?" tanya Daffa.

"Ya, kamu tahu, kan, kalau di Jepang itu termausk negara pencipta banyak game keren? Nah, di hotel ini kita gak cuma menginap, tapi bisa bermain game seperti kenyataan. Asik, kan? Banyak pilihan game di hotel ini."

"Wah, Asik! Rasanya aku akan betah di hotel ini." Senyum Daffa mengembang.


Nai

"Hei! Bolehkah aku bertanya padamu?" kata Daffa pada Keke

"Tentu saja," jawab Keke

"Dimana kau tinggal?" Daffa bertanya.

"Aku tinggal di jalan apple no. 8 dan aku berusia 8 tahun." Keke menjawabnya. Ternyata Keke tidak sepantaran dengan Daffa. "Karena kau orang pertama yang datang ke sini, aku akan memberimu PS3 dengan gratis. Apa kau mau?"

"Kau bercanda. Tentu aku mau," jawab Daffa.

Setelah itu, Daffa kembali ke hotel. Lalu, ayah Daffa bertanya, "Darimana kau dapat PS3 itu?" kata ayah Daffa.

"Aku bertemu anak laki-laki itu lalu aku diajak ke hotel impian. Di sana seperti sugar land. Lalu dia bilang, 'karena kau orang pertama yang datang ke sini, aku akan memberimu PS3 dengan gratis. Apa kau mau?'" jawab Daffa.


Keke

Akhirnya Daffa main PS3. Dia senang dan saat dia tidur, Keke membangunkannya, "Ayo kita ke sugar land lagi. Aku membuatkan seluncur untukmu dari kayu manis."

Dan saat di Sugar Land, ada boneka es krim setinggi 30 meter yang dari mulutnya ada tempat bermain seluncuran es. Dan saat selesai mainnya, Daffa ke hotel tidur dan besoknya pulang

----------------------

Begitulah cerpen kami bertiga. Maaf, kalau ada yang bingung sama bahasanya, ya :D Ada beberapa manfaat yang bisa Chi rasakan dengan bermain cerita bersambung, yaitu:

  1. Mempererat kebersamaan - kami ketawa-ketawa membaca setiap kali ada yang selesai bercerita
  2. Mengeluarkan imajinasi anak
  3. Mengasah kreatifitas - contohnya waktu di awal, Nai bikin ceritanya jalan-jalan ke Ancol. Keke gak setuju, tapi karena persyaratannya gak boleh protes jadi dia dengan caranya membelokkan cerita tersebut ke Jepang. Padahal kalau dipikir-pikir apa mungkin ke luar negeri bisa seketika? Hehehe. Tapi, Chi biarin aja. Biarkan mereka bermain dengan imajinasinya dulu
  4. Chi jadi tahu apa yang dipikirkan anak-anak. Seperti Keke, kelihatan kalau saat ini imajinasinya kebanyakan ke cerita action.
  5. Cara berbahasa melalui tulisan juga kelihatan. Keke kebanyakan memakai kata 'dan' dan 'akhirnya'. Sedangkan Nai kata seru, seperti aha! Walopun bukan ahli bahasa, Chi bisa sedikit-sedikit membantu mereka untuk memperbaiki bahasa tulisan. Bermain sambil belajar ini namanya :)

Asik banget main seperti ini. Kami akan mengulanginya lagi. Seru! Cobain, deh :)

Continue Reading
34 comments
Share: