Monday, June 24, 2013

Tips Liburan Bersama Anak

Tips Liburan Bersama Anak

Yipppiiee, liburan t'lah tiba! Udah ada yang punya rencana jalan-jalan? Atau cuma di rumah aja? Semua pilihan oke, kok, asal kita bisa menikmatinya. Betul, gak?

Tahun ini, insya Allah kami sekeluarga akan melakukan sedikit perjalanan. Kemanakah itu? Rahasiaaaa ...! Tunggu tanggal mainnya, ya :p

Sekarang, Chi mau nulis tentang tips mempersiapkan liburan bersama anak-anak, ah. Apa aja, sih, yang harus dibawa dan dipersiapkan? Oiya, kalo pengalaman, Chi persiapan liburan outdoor atau indoor, gak terlalu beda. Ya, emang untuk yang outdoor agak sedikit banyak persiapannya. Jadi, Chi nulisnya digabungin aja, ya. :)


Pakaian

  1. Kalau masih punya anak kecil sebaiknya bawa pakaian lebih banyak. Namanya anak-anak, kan, bajunya lebih gampang kotor. Apalagi, Chi termasuk yang gak suka kegiatan mencuci baju ketika liburan. Yaiyalaaaahhh, lagi libur gitu, lho. :p
  2. Jangan semua pakaian di taro di koper atau tas besar. Bawa 1-2 stel pakaian di tas kecil. Karena siapa tau mendadak harus ganti baju, daripada ribet buka tas besar (apalagi kalo ditaronya di bagasi), mending ambil di tas kecil, kan? Ini juga berlaku kalo ke mall. Dulu waktu anak-anak masih TK, Chi suka bawa 1-2 stel baju ganti untuk mereka walopun jalan-jalannya ke mall. Kalau sekarang, sih, udah enggak.
  3. Bawa baju hangat. Apalagi kalau perginya ke tempat yang dingin
  4. Celana - Kalau udah dewasa, celana kayaknya gak harus setiap hari ganti. Celana jeans kan bisa dipake untuk 2-3 hari. Tapi kalau masih anak-anak biasanya setiap hari ganti. 


Makanan-Minuman

  1. Botol minum. Biasanya kami bawa minimal 1 liter air minum.
  2. Camilan kalau perlu makan berat. Contohnya kayak waktu ngajak Keke-Nai ke pantai Ancol beberapa waktu lalu. Chi bawa bihun goreng lumayan banyak, biar gak usah jajan. Kan jadi irit :D 


Obat-obatan


Idealnya, sih, kalau lagi pergi-pergian semua sehat, ya. Tapi kan kita gak tau, siapa tau saat liburan justru sakit. Jadi Chi tetep persiapin obat-obatan 


  1. Obat-obatan umum, seperti obat demam, batpil, pusing, anti mabok, dan obat supaya gak masuk angin.
  2. Obat-obatan khusus (kalau ada)
  3. Minyak angin
  4. Vitamin
  5. Plester dan betadine
  6. Buku kesehatan pribadi 

 

 Lain-lain

  1. Mainan anak-anak - Sekarang, Chi selalu bawain PSP sama NDS. Bisa bikin mereka anteng kalau lagi jenuh di perjalanan. Trus, suka bawa kertas sama alat tulis karena Nai suka ngegambar. Dan kalau dulu, Keke suka bawa mobil-mobilan koleksinya.
  2. Kamera - Jalan-jalan kalo gak bawa kamera kayaknya garing, ya :D
  3. HP dan gadget lainnya
  4. Kaos kaki - tempat bermain di mall juga ada yang mengharuskan pakai kaos kaki. Daripada harus ngeluarin uang buat beli kaos kaki, mendingan pakai dari rumah, kan?
  5. Sepatu atau sendal. - Kalau lagi ke luar kota biasanya Chi bawa dua-duanya
  6. Senter
  7. Aneka charger
  8. Buku
  9. Perlengakapan mandi - handuk, sabun, shampoo, dan lainnya. Untuk jalan-jalan indoor pun ada lho yang sebaiknya kita bawa perlengkapan mandi. Contohnya waktu kami main di Giggle
  10. Selimut - kalo pergi ke tempat dingin, Chi suka bawa selimut. Di mobil dingiiiinnn, walopun udah pake jaket. Brrrr ...
  11. Bantal kecil - buat anak-anak tidur kalau di mobil
  12. Stop kontak - Di era gadget bawa stop kontak itu perlu. Karena biasanya kamar hotel cuma ada 1 colokan. 

Itu persiapan umum untuk barang bawaan. Bisa ditambahi atau dikurangi sesuai kebutuhan masing-masing keluarga.Nah, kalau sebelum liburan, apa aja yang harus dipersiapkan?


Rencana

Rasanya kami sekeluarga jarang pergi-pergian tanpa rencana, bahkan ke mall sekalipun. Biasanya suka direncanain dari 2-3 hari sebelumnya. Bukannya 'sok' sibuk, tapi Chi emang kurang nyaman aja kalau pergi mendadak, walopun cuma ke mall. Malah kalau mendadak suka mikir, di mall mau ngapain, akhirnya udah males duluan hehe.


Cari info sebanyak-banyaknya


Tanya ke sodara, temen, bahkan om gugel (hari gini nyari info banyak jalannya) tentang tempat yang mau kita tuju 

  1. Kayak apa serunya di sana? - Chi suka baca juga blog-blog tentang jalan-jalan. Paling enggak bisa dapet sedikit gambaran kayak apa tempat yang bakal kita tuju
  2. Kira-kira butuh biaya berapa? - Termasuk tentang blog. Chi lebih suka liat blog yang gak cuma menjelaskan jalan-jalannya tapi juga biayanya.
  3. Dan lainnya - Pokoknya cari info sebanyak-banyaknya

 

Biaya

Termasuk mempersiapkan biaya tak terduga. Jadi memang sebaiknya jangan bawa uang pas banget dan juga siapin uang cash karena gak setiap saat bisa atau ada ATM termasuk juga pakai kartu kredit.


Waktu 

  1. Musim liburan biasanya memang lebih ramai, tapi gak semua orang dewasa yang sudah bekerja bisa berlibur di musim liburan. Tentu harus mempersiapkan cuti, kan?
  2. Waktu tempuh juga harus diperhitungkan 


Penginapan

Apalagi kalo nginepnya bukan di rumah keluarga alias cari penginapan kayak hotel, villa, dan lainnya. Tentu aja harus booking. Jangan sampe udah di sana susah cari penginapan.


Tanya pendapat anak-anak

Biasanya Chi suka tanya ke anak-anak kalau ada rencana jalan-jalan, termasuk pergi ke mall sekalipun. Karena Chi pengen semuanya senang, termasuk anak-anak.Enak kalo ternyata anak-anak langsung setuju dengan rencana orang tuanya, tapi kalo enggak harus berdiskusi lagi. Dan itu sering kami lakukan. Contohnya kayak rencana liburan kali ini. Udah dari seminggu sebelumnya Chi dan K'Aie kasih tau ke anak-anak.

Chi ceritain gimana asiknya di sana. Padahal Chi sendiri juga belom pernah ke sana :r Trus Chi ajak juga mereka lihat foto-foto tempat yang bakal kami tuju di google.Chi kasih gambaran atau kadang mereka baca sendiri kayak apa nanti di sana. Alhamdulillah sampe Chi nulis postingan ini mereka antusias, malah gak sabar pengen cepet-cepet pergi ke sana. Tenang, Nak. Etapi Bunda juga ikutan gak sabar, sih :p


Sesuaikan dengan usia anak

Yang namanya jalan-jalan harusnya semua seneng. Liburan sama anak pastinya akan terjadi perbedaan selera. Apalagi kalau anaknya masih bayi, balita, atau dibawah 12 tahun. Sebasai orang tua jelas kita harus pertimbangkan dengan usia mereka, lah. Jangan mereka yang menyesuaikan. Misalnya, nih, kita pergi ke tempat-tempat yang ektrim bawa bayi. Kasian, dong, bayi (plus emaknya) cuma jadi penonton. Ya, mungkin ada yang seperti itu, terserah aja. Tapi kalau Chi gak bisa. :)

Itu aja tips dari Chi. Semoga berkenan, ya. 'Met liburaaaaannn! :)

Wednesday, June 19, 2013

Belajar Memanah

Belajar Memanah

Cara yang Chi lakuin ini belom bener banget karena tangan kiri yang megang busur gak lurus. Tapi biar gitu, anak panahnya mendekati titik tengah, lho. Walopun hanya keberuntungan, karena berikutnya hasilnya gak sedekat itu. Lagian lumayan, lah, buat cover foto di FB :p


Di postingan acara ulang tahun Wanadri, Chi menulis kalau Keke-Nai suka banget belajar memanah sampe susah diajak pulang. Beberapa bulan sebelumnya, Keke-Nai juga pernah bermain lempar pisau. Semuanya permainan yang kelihatan berbahaya, ya? Tapi menurut Chi gak perlu terlalu khawatir selama peraturannya dipatuhi. Oke, Chi akan nulis lagi tentang peraturannya ...


Nah, ini baru bener caranya. Badan menghadap 90 derajat dari sasaran, hanya kepalanya saja melihat ke arah sasara. Tangan harus tegak lurus. Tarik busur sampai anak panah yang udah ada tandanya *hadeuuh ini gimana jelasinnya, ya :D


  • Harus didampingin orang dewasa yang gak cuma mengawasi tapi juga mengerti. Di belajar memanah ini anak-anak yang ikut didampingi oleh seorang marinir sekaligus menjadi instruktur mereka.
  • Harus tertib. Ketika ada yang lagi memanah, yang menunggu gak boleh pecicilan. Yang memanah juga harus hati-hati, liat sekeliling dulu. Makanya untuk anak-anak harus bener-bener didampingi.
  • Harus di tempat yang aman. Apalagi namanya baru belajar, seringkali anak panah melenceng. Gak nancep di sasaran. Itulah kenaa harus di tempat yang aman banget
  • Harus udah mengerti kalau di kasih tau. Mengerti kalau permainan seperti berbahaya dan gak akan dilakukan di sembarang tempat apalagi tanpa pengawasan.
 


Nai lagi dilatih sama kakak dari marinir


Ada manfaat yang bisa didapat ketika mereka bermain lempar pisau dan terutama ketika belajar memanah, yaitu :


  • Belajar sabar. Memanah itu ternyata gak asal tarik busur. Tapi posisi badan dan tangan harus benar. Setelah itu kita mulai membidik. Setelah oke semua baru lepas anak panah. Jadi bener-bener harus sabar. Marinir yang mengajarkan anak-anak juga sabar banget. Anak laki-laki dibilang cowok-cowok ganteng. Kalo yang anak-anak perempuan dipanggil Srikandi cilik *Jadi inget pemilihan Srikandi Blogger hehe
  • Belajar fokus. Ketika membidik, kan, kita dituntut untuk fokus. Kalau kita sudah yakin dengan arah bidikan, baru anak panah dilepas. Walopun hasilnya belom tentu kena sasaran. Tapi setidaknya udah belajar untuk fokus. Marinir yang ngajarin anak-anak, selalu tepat ke sasaran di tengah ketika dia lagi memperagakan. Tapi Chi yakin banget itu pasti karena dia terus berlatih :)
  • Merasa keren buat Keke-Nai. Nai lagi suka nonton film Brave, makanya pas ada belajar memanah ini dia merasa kayak di film Brave :D Kalo Keke sempet tanya, kenapa umat Islam disarankan untuk belajar berenang, memanah, dan berkuda. Chi pun coba jelasin filosofi sederhananya. Ujung-ujungnya Keke minta dikursusin memanah dan minta dibeliin peralatan memanah hihihih. Nanti, ya, Ke, tunggu Bunda punya pohon uang dulu :p

Nah, kesimpulannya, semua yang terlihat berbahaya juga bisa jadi aman bahkan bermanfaat selama kita tau caranya, kan? :)

K'Aie in action :D

Sunday, June 16, 2013

Ulang Tahun Wanadri ke 49 (at) Nitas's Resort

Ulang Tahun Wanadri ke 49 (at) Nitas's Resort

Selesai makan siang di resto Puncak Pass, kami pun melanjutkan perjalanan. Mungkin karena kekenyangan, mata Chi dan anak-anak jadi kriyep-kriyep trus kami pun tidur. Cuma K'Aie yang gak tidur *Ya iya lah. Kan nyetir :p

Pas Chi bangun ... lho, kok, kayak udah mau masuk kota Cianjur? *Ditandai dengan mulai ada beberapa toko yang jual manisan & asinan hehe. Setelah sms-an, ternyata bener, jalan masuknya kelewat. Untung belom terlalu jauh.

Kirain setelah masuk ke jalan kecil, lokasi yang kami tuju udah deket, gak taunya belom. Masih jauuuuuhhh :D Awalnya masuk perkampungan, masih banyak rumah. Lama-lama sepi, hanya pemandangan kebun teh di kiri-kanan jalan. Jalanannya pun makin lama makin jelek. Dan mobil kami yang imut-imut pun berkorban knalpotnya. Hadeeuuuhhh ....

Di tengah kebun teh, mobil kami berhenti. Sepi banget tempatnya. Gak ada satupun mobil yang lewat, motor juga cuma sesekali aja. Udah menjelang maghrib pula. Sempet was-was kalo urusan knalpot ini gak selesai. Kalo udah malem pasti gelap banget. Mana hujan mulai turun. Akhirnya untuk sementara diikat pakai tali sepatu K'Aie dulu.


Jalanan yang sepi ini menjadi saksi bisu tempat mobil kami bermasalah *haiyaaahhh :p


Sampai juga kami di tempat acara, namanya Nita's Resort. Dan ternyata mobil kami mungil sendiri. Yang lainnya mobil-mobil besar. Kalopun bukan jenis jeep, paling gak mobil seperti Avanza.

Setelah mengisi pendaftaran, kami pun menuju  tenda yang udah disediakan. Ternyata semua tendanya sama! Ribet juga kalau sampe salah masuk. Untung Chi bawa gantungan kunci, jadi talinya dipake untuk nandain tenda kami.

Kalo sama semua begini, bisa-bisa salah kamar kalo gak ditandain :D


Keke dan Nai sempet bingung liat tendanya. Kata mereka, kok, mungil banget tendanya? Ya, selama ini mereka campingnya di Tanakita yang tendanya besar dan luas. Bahkan orang dewasa aja umumnya tetep bisa berdiri tegak kalau di dalam tenda. Sedangkan di sini, mereka aja harus gak bisa berdiri kalau di dalam tenda. Tapi gak apa-apa, namanya juga nyobain suasana baru. Yang penting masih ada lampu, cuma sayang gak ada stop kontak. Jadi gak bisa ngecharge. Dan kalau udah gitu, bukulah menjadi penyelamat :D

Setelah menaro barang, K'Aie ngumpul sama temen-temennya. Kami bertiga pilih di tenda aja. Abis hujan, males mau ke luar. Gak lama K'Aie dateng lagi ngajakin makan, katanya hujan juga udah brenti. Ya, udah, kami pun keluar.


 
Kata salah seorang temen K'Aie, piring makannya mengingatkan mereka waktu ikutan PDW
Menu makan malam


Karena makan di Puncak Pass itu udah hampir menjelang sore, kami pun masih kenyang. Jadi gak ada ada kepengen makan malem. Apalagi udaranya juga gak dingin-dingin banget ternyata, jadi gak bikin laper. Chi juga cuma ambil colenak. Itupun bukan karena lapar, tapi karena penasaran kayak apa rasa colenak. Karena Chi belom perna ngerasain colenak :D

Ketika K'Aie upacara, Chi dan anak-anak milih masuk tenda aja


Setelah makan, kami memilih naik ke parkiran untuk liat suasana tenda dari atas sekaligus menikmati acara. Ketika upacara dimulai, seluruh anggota Wanadri diminta turun ke arena tenda untuk ikut upacara. Karena K'Aie ikut upacara, kami bertiga pun memilih masuk tenda.

Gak berapa lama, Keke-Nai pun ngantuk. Chi juga ngantuk sebetulnya, tapi batuk ini bikin Chi gak bisa tidur sama sekali. K'Aie bingung liat anak-anak bisa tidur nyenyak, karena setelah serangkaian upacara, diskusi, terakhir adalah live music. Band yang didatangkan, membawakan lagu-lagu rock jadul angkatannya Rolling Stone gitu, deh. Dan untungnya anak-anak tetep nyenyak. Mungkin mereka kecapean juga.

Sempet nyesel juga karena gak bawa selimut, karena lewat tengah malam dinginnya baru berasa. Anak-anak beberapa kali gelisah tidurnya karena kedinginan. Chi kasih mereka kaos kaki, jaket, supaya bisa tidur nyenyak. Chi juga akhirnya baru bisa tidur setelah mukanya ditutup jilbab panjang. Brrrr ... dingin.


Yang jadi instruktur rame plus celetukan-celetukan yang pada ikut senam. Jadi kami gak bisa lanjutin tidur hehe


Pagi-pagi, ada acara senam. Kami mending di tenda aja, ah. Walopun tetep aja gak bisa tidur lagi karena senamnya di area tenda. Setelah itu dilanjut dengan acara sarapan. Kalau waktu makan malam, menu dan cara penyajiannya mengingatkan Chi sama prasmanan ala kaki lima. Sedangkan untuk sarapan ala hotel. Dan memang order dari hotel. Jadi menu dan penayjiannya juga khas kayak di hotel. Chi sendiri lupa dari hotel mana, perasaan udah foto nama hotelnya, tapi dicari gak ketemu :D

Suasana sarapan


Selesai sarapan, ada acara pertandingan untuk anggota Wanadri. Lombanya per angkatan. Untuk anak-anak juga ada kegiatannya. Nai tadinya pengen ikut, tapi karena Keke gak mau akhirnya gak jadi. Keke memilih di tenda, sementara Chi dan Nai jalan-jalan aja keliling resort sambil foto-foto.

Air soft gun
Gak tau ini namanya lomba apa. Pokoknya masing-masing tim saling bantu meloloskan anggotanya lolos dari jaring tali itu
Balap bakiak. Kalo ini, sih, di Agustusan juga ada, ya :D
Lomba belah kayu. Kalo gak salah harus membelah 10 batang kayu dalam waktu 5 menit
Lempar pisau
Lempar tapal kuda
Memanah
Panco
Lomba penutupan adalah tarik tambang. Paling rame karena semua angkatan berkumpul. Diawali dengan angkatan paling senior di Wanadri. Udah pada sepuh, ya :)
Kalau ini angkatan K'Aie


Setelah pertandingan selesai, dilanjut dengan foto bersama. Lalu foto per angkatan. Setelah itu acara bebas.

Foto seluruh angkatan


Di sini udah mulai ada yang pulang, mungkin takut kena macet kali, ya. Sementara anak-anak baru nemuin asiknya, yaitu belajar memanah. Dan akhirnya susah diajak pulang. Padahal Chi udah ngajakin pulang terus, bukannya gak betah, tapi was was sama knalpot. Takutnya kalo kesorean pulangnya, susah cari bantuan kalo mobil kenapa-napa.

Di sana juga ketemu temen K'Aie yang suka ikut festival layang-layang. Pernah ketemu beberapa tahun lalu di festival layang-layang internasional, di Ancol. Pas di acara ulang tahun Wanadri sempet dibawa juga layang-layangnya. Keren! Chi tanya ke K'Aie, kenapa di Ancol gak ada lagi festival layang-layang? Kata K'Aie, sih, karena areanya udah gak ada. Udah berubah jadi mall. duh, sedih dengernya :(


Semoga suatu saat, kami bisa melihat festival layang-layang internasional lagi. Aamiin


Kami memutuskan pulang lewat tol Cipularang. Jadi rencana awal, kalo pulang mau beli oleh-oleh sayur atau buah segar yang banyak dijual di puncak, dibatalkan. Malah sempet berencana pengen makan lagi di resto Puncak Pass atau mampir ke Chimory, juga batal. Udah males duluan mikirin macetnya hehehe. Untung aja jalan pulang lewat tol Cipularang itu lancar abis.

Oiya, katanya Nita's Resort ini bakal disewakan untuk umum. Tapi Chi gak tau berapa ratenya. Dan apa udah mulai dibuka dari sekarang, karena kalau Chi liat masih pembangunan, sih. Cuma ada 1 yang Chi rasa agak kurang. Di camping area, yang berdekatan dengan deretan toilet itu juga berdekatan dengan kandang sapi. Jadi sesekali Chi suka mencium aroma sapi. Kurang nyaman kayaknya kalau buat Chi. Untung tenda kami cukup jauh jadi gak kecium aroma sapi. Tapi secara keseluruhan enak, kok, tempatnya. :)


Upacara penutupan


Denger-denger acara ulang Wanadri yang ke-49 ini, merupakan rangkaian awal menuju ulang tahun emas Wanadri tahun depan. Dan katanya tahun depan bakal ada PDW lagi. Jadi untuk yang berminat ikut Wanadri, siapin mental, fisik, dan juga coba cari info resminya :) 

Tuesday, June 11, 2013

Tidak Mau Terlalu Melarang

Tidak Mau Terlalu Melarang

Pernah atau suka nonton serial NCIS? Yang belom tau, silakan nonton kalo penasaran. Chi, sih, suka banget serial ini. :D Beberapa waktu lalu, NCIS season awal di putar ulang. Ceritanya Leroy Jethro Gibss dan para anak buahnya menangani satu kasus di kota asal Gibbs. Akhirnya para anak buahnya tau kalau Gibbs ternyata masih punya ayah *Silakan cari tau sendiri kenapa hubungan Gibbs dan ayahnya seperti turun-naik :)

Ketika melihat ada 1 senjata laras panjang di rumah ayah Gibbs, dia pun kira-kira bilang gini ke anak buah Gibbs, "laranglah anak kita memegang senjata, maka dia akan jadi sniper andal." Ya, tokoh Gibbs memang seorang mantan marinir dan sniper yang sangat andal, sebelum menjadi agent NCIS.

Di sini Chi mau bahas tentang kalimat ayah Gibbs itu, tapi sebelumnya Chi mau kasih beberapa ilustrasi lagi ...


Ilustrasi 1

Beberapa tahun lalu, kami sekeluarga pernah dateng ke rumah teman Chi yang baru aja melahirkan. Di sana teman Chi ngajak kami masuk ke kamar melihat anaknya yang sedang tidur. Teman Chi lalu bilang, "Anak-anak lo anteng banget, ya. Kemaren temen gue ke sini bawa anaknya juga. Ampun, deh! Pas masuk kamar, mereka langsung loncat-loncatan di kasur gue."

Chi cuma nyengir aja saat itu. Dan temen Chi terus cerita kalau anak temennya itu banyak banget dapat larangan. Gak bole begini-begitu, jadi mungkin itu sebabnya pas keluar jadi merasa bebas banget.


Ilustrasi 2

Ada keluarga yang Chi juga kenal dekat. Orang tuanya terlalu melarang, serba gak boleh pokoknya. Dan si anak harus nurut tanpa ada penjelasan dan gak boleh membantah sedikitpun. Suatu hari neneknya mengeluh, kalo orang tuanya lagi kerja, cucunya kayak merasa bebas merdeka. Semua yang dilarang diabaikan. Nenek dan kakeknya gak kuasa untuk kasih tau karena cucunya pasti melawan.

Menurut Chi, sih, anak memang jangan terlalu banyak dilarang. Karena pada dasarnya anak selalu ingin tahu. Semakin dilarang mereka malah semakin penasaran. Mending di kasih dengan batasan-batasan tertentu kalau perlu dan tetap diawasi.

Tapi bukan berarti kita gak boleh melarang. Untuk hal-hal tertentu dengan pertimbangan masing-masing orang tua, mungkin melarang memang harus dilakukan. Cuma apapun peraturan yang kita buat, sebaiknya dibarengi dengan penjelasan. Apalagi kalau peraturan itu berupa larangan. Jangan cuma bilang, "Pokoknya kamu harus nurut nurut apa kata orang tua! Gak boleh banyak tanya, apalagi ngebantah!"

Bisa jadi di depan kita anak keliatannya nurut, tapi kalo tanpa penjelasan gak menutup kemungkinan si anak akan mencari tahu dari pihak lain. Bersyukur kalo kejadiannya seperti di cerita NCIS. Karena dilarang memegang senjata, malah jadi sniper andal. Tapi bagaimana kalau malah mendapat info yang salah dari pihak luar. Malah bisa berakibat buruk sama anak kita nanti, kan? Naudzubillah min dzalik.

Jadi bagian terpentingnya adalah jangan berhenti untuk terus kasih penjelasan. Kenapa mereka dibolehkan dan kenapa mereka sampai dilarang keras. Karena biarpun anak-anak, tapi mereka tetap manusia yang punya rasa ingin tahu. Kalau perlu kita kasih juga kegiatan alternatif yang menyenangkan, supaya anak tidak melakukan apa yang dilarang.

Keke-Nai itu kalo Chi larang biasanya gak akan mau langsung terima atau nurut gitu aja. Pasti, deh, keluar kalimat, "Emang kenapa gak boleh, Bunda?" Itu juga gak langsung nurut setelah dijelasin. Mereka juga punya pembelaan dengan alasan-alasan sendiri, yang kadang suka masuk akal atau bisa dimengerti juga sebetulnya. Akhirnya beberapa kali juga terjadi win-win solution.

Jujur, kadang Chi suka mangkel juga, sih, dengan sikap mereka yang selalu bertanya kenapa harus begini-begitu terhadap peraturan yang udah dibuat. Mau Chi, udahlah nurut, aja, gak usah banyak protes :p Tapi kalo dipikir-pikir sikap mereka bagus juga, daripada keliatan nurut di depan Chi tapi trus cari tahu dari pihak lain. Atau bisa juga sebaliknya, ngambek bahkan (mungkin) ngamuk sama orang tua karena merasa dilarang.

Keke dan Nai juga pernah, kok, ngambek karena dilarang. Tapi masih termasuk batasan yang cukup wajar, lah. Biasanya kalo udah 'debat' dengan peraturan yang udah diterakan dan ternyata hasilnya gak win-win solution. Peraturan tetap harus dijalankan :D Tapi tetep Chi kasih penjelasan biar mereka ngerti alasannya. Walopun mungkin mereka gak saat itu juga mengerti :)

Oiya, terkadang ketika kita tidak melarang ada manfaat yang bisa Chi lihat dari Keke-Nai :


  1. Rasa penasaran mereka terpenuhi
  2. Ketika permintaan mereka terenuhi, mereka akan langsung merasakan sendiri apakah yang mereka mau itu baik atau buruk, gagal atau berhasil.
  3. Ketika mereka merasakan buruk atau gagal, mereka jadi belajar untuk menyikapi hal tersebut

Sunday, June 9, 2013

Mati Listrik di Mall

Mati Listrik di Mall

Mati Listrik di Mall
Fotonya pake blitz, jadi keliatan agak terang


Bulan Maret lalu, Keke ikut Abah-Mamah ke Bandung. Untuk menghibur Nai yang sedih karena belom Chi kasih izin untuk pergi tanpa ayah dan bunda, kami pun berencana nge-mall.

Pergi ke mall deket rumah aja, yaitu MM, yang penting saat itu kami memanjakan Nai. Kami langsung menuju Gramedia. Di sana Nai beli glass deco dan beberapa alat kreasi lainnya. Setelah bayar, Chi ngajak ke bagian buku.

Chi berdua Nai asik memilih beberapa buku, sementara K'Aie di bagian tas. Setelah mendapat beberapa buku pilihan tau-tau ... jleb! Mati listrik! Dan, untuk sesaat gelap total. Petugas Gramedia pun dengan sigap menurunkan rolling door toko dan ada beberapa yang langsung berjaga di pintu keluar, mungkin untuk meminimal kehilangan barang, ya.

Sekitar 15 menit kami berada di Gramedia, gak ada tanda-tanda listrik menyala. Padahal bukankah yang namanya gedung, baik itu perkantoran atau mall harusnya ada genset yang bisa langsung menyalakan listrik untuk sementara hingga listrik dari PLN kembali berfungsi? Tapi, sebetulnya Chi dan K'Aie nyaman-nyaman aja tetap ada di Gramedia, karena walopun gak bisa bayar, tapi lampu-lampu daruratnya menyala. Lumayan terang, lah, bisa baca-baca. Cuma Nai jadi rewel pengen cepet-cepet pulang.

Buku-buku yang udah dipilih tentu aja gak jadi dibeli karena transaksi ditiadakan. Petugas Gramedia yang berjaga di depan pintu masuk, mewanti-wanti kami untuk berhati-hati, malah menyarankan untuk tetap di dalam saja karena di luar Gramedia itu gelap. Chi agak heran juga, sih. Apa yang namanya mall kalo mati listrik gak ada lampu darurat, ya? Biar gak gelap-gelap banget. Minimal lampu ke arah pintu darurat. Dan karena Nai udah gak bisa dibujuk juga, kami pun memutuskan untuk pulang.

Jalannya lumayan hati-hati karena gelap, walopun terlihat sedikit cahaya (dari lampu-lampu hp). Banyak pengunjung yang berdiri di luar. Mereka gak bisa ke mana-mana. Masuk toko jelas gak boleh, karena semua toko langsung menurunkan rolling door. Pilihannya kalo gak tetap di sana, ya, pulang. Pas lagi jalan pulang, tau-tau listrik nyala. Langsung, deh, pada bersorak. Tapi, baru juga beberapa langkah listriknya mati lagi, langsung kedengeran juga suara "huuuuuu" berjamaah.

Mobil kami parkir di MM gedung 2. Lah, begitu sampe sana terang benderang. Padahal masih satu gedung hihihi. Tapi, udah males juga buat nerusin jalan-jalannya. Pas masuk gedung parkir, ternyata di sana listriknya juga mati. Dan banyak sekali kendaraan yang keluar. Akhirnya macet bangeeeett. Menurut Chi itu pengalaman keluar parkiran terlama yang pernah dirasain. Macet banget! Dan ternyata area sekitar keliatannya lagi mati listrik, jadi jalanan juga rada gelap.

Maksudnya mau belama-lama di mall, jadinya malah sebentar. Tapi setidaknya Nai udah membeli beberapa barang yang dia mau. Tadinya kami mau makan di mall, tapi karena mati listrik jadi makan di resto padang deket rumah aja. Ketika lagi makan, kami mendengar, keluarga besar yang duduk dekat kami tadinya mau ngumpul buat makan-makan di MM tapi karena pas masuk sana mati listrik akhirnya di putusin pindah ngumpulnya.

Baru kali itu Chi ngerasain mati listrik di Mall. Bahkan lama juga mati listriknya. Gak tau, deh, kenapa bisa selama itu. Cuma mikir aja, gimana nasib pengunjung yang lagi di lift, ya? Beruntung banget kami saat itu lagi di Gramedia.

Ada yang punya pengalaman mati listrik saat di Mall?

Wednesday, June 5, 2013

Gak Mau Jadi Besar

Gak Mau Jadi Besar

Akhir-akhir ini Nai susah banget disuruh makan. Selalu alasannya belum lapar. Bekalnya juga jarang habis. Seperti biasa, kalo anak lagi susah makan, Chi selalu cari tau penyebabnya. Dan Chi pernah tulis tuntas tentang penyebab anak melakukan Gerakan Tutup Mulut di blog ini.

Bunda : "Dek, kenapa, sih akhir-akhir ini gak mau makan?"
Naima : "Ya, gak laper, aja"
Bunda : "Jangan gitu, dong, Dek! Nanti sakit, lho."
Naima : "Ima gak mau aja"
Bunda : "Ya, tapi kenapa, Dek? Biasanya juga gak begitu banget."
Naima : "Karena Ima gak mau jadi besar, Bunda"
Bunda : "Tapi badanmu sekarang terlalu kurus, Dek. Gemukin dikit, lah. Atau paling gak makan biar gak sakit."
Naima : "Nanti kalo makan, badan Ima jadi besar. Trus Ima kayak Keke gak boleh digendong lagi. Ima pengennya Bunda bisa gendong Ima terus sampe Ima besar."

Terharu gak, sih, kalo anak ngomong gitu? Jangan-jangan aja Chi yang cengeng :p Tapi Chi emang terharu banget dengernya.

Chi trus jelasin ke Nai, kalo gak gendong lagi bukan berarti gak sayang tapi karena udah gak kuat. Keke itu beratnya udah 45kg, sementara Chi 54kg *Oot : yeaaaayyy berat badan Chi mulai turuuuuunnn :D Dengan selisih yang gak sampe 10kg, mana kuat Chi gendong Keke sekarang? Walopun hati, sih, rasanya masih pengen banget gendong anak, bahkan kalo bisa sampe kapanpun. Tapi akhirnya harus tau diri kalo udah berurusan sama berat badan :)

Nai, sekarang udah mulai mau makan walopun belum sebanyak biasanya, sih. Dan Chi terus kasih tau dia sampe sekarang :)

Kalo kayak gini jadi merasa waktu cepet banget berlalu, ya ....