Rabu, 26 Oktober 2016

Tentang Aksi Damai IDI


Senin, 24 Oktober 2016, bertepatan dengan HUT ke-66 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggelar aksi damai secara serentak di seluruh tanah air dengan berpusat di depan istana negara, Jakarta. IDI ingin menyuarakan tentang Reformasi Sistem Kesehatan dan Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran yang Pro Rakyat.

Oke, sebelum Chi membahas tentang aksi damai IDI ini, mau cerita dulu tentang 'keakraban' keluarga kami dengan tenaga medis di 2 tahun terakhir ini. Sekitar 2 tahun lalu, papah mertua pernah terjatuh ketika sedang membuka pagar. Karena sempat tidak sadarkan diri setelah terjatuh menyebabkan harus dirawat selama sebulanan di rumah sakit. Penyakit diabetes yang sudah menahun memang mambuat papah mertua menjadi lebih lama dirawat rumah sakit.

Setelah pulang dibolehkan pulang hingga kini, setiap 1-2 minggu sekali, papah mertua harus rutin melakukan terapi dan kontrol di rumah sakit. Kondisinya memang belum kembali seperti semula. Hanya bisa berbaring di kasur dan perlu banyak bantuan. Progress ada tetapi perlahan.

Kondisinya yang demikian tidak memungkin papah mertua untuk jalan sendiri ke rumah sakit. Biasanya selain mamah mertua, K'Aie dan kakaknya ikut menemani. Berangkat pagi-pagi dan di rumah sakit bisa seharian. Paling tidak sampai pukul 1 atau 2 tapi kadang sampai sore.

Kok, bisa selama itu? Menurut K'Aie yang bikin lama itu antreannya. Untuk pengobatan dan terapi ini kami menggunakan BPJS. Ya, kalau mau cepat sih bisa tapi biayanya juga lebih tinggi, ujar Chi dalam hati. Prihatin dan sedih sebetulnya. Tapi, mau gimana lagi? Cuma bisa pasrah dan berharap yang terbaik.

Menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan, lho. K'Aie yang sehat setidaknya masih bisa berjalan-jalan sejenak atau sekadar menggerakkan badan untuk mengusir bosan. Masih bisa lihat smartphone untuk online. Bagaimana dengan papah mertua yang hanya bisa duduk di kursi roda selama menunggu, Pastinya melelahkan. Berjam-jam lho menunggunya. Hiks :(

Seringkali Chi berpikir, mungkin gak ya suatu saat nanti ada solusi yang lebih baik? Dari sisi keluarga pasien, keberadaan BPJS memang sudah membantu. Bersyukur tenaga medisnya cukup ramah. Tapi, berharap suatu saat antreannya gak selama itu. Gak minta dikasih fasilitas macam-macam, kok. Hanya berharap supaya antreannya bisa lebih dipersingkat. Berharap boleh, kan?

Aksi damai IDI beberapa hari lalu, menarik perhatian. Apa saja yang disuarakan oleh IDI dalam aksi damai ini?



Pendidikan Kedokteran


  1. Program studi Dokter Layanan Primer (DLP) dengan segala bentuk pelaksanaannya bertentangan dengan UU Praktik Kedokteran.
  2. Program studi DLP mengingkari peran dokter dari hasil pendidikan fakultas kedokteran se-lndonesia.
  3. Pendidikan kedokteran saat ini semakin mahal, lama, dan tidak pro-rakyat.
  4. lnstitusi pendidikan kedokteran saat ini telah bergeser dari lembaga pendidikan terprofesi yang luhur menjadi profit oriented.


Pelayanan Kesehatan


  1. Rakyat membutuhkan perbaikan sarana prasarana, obat dan alat kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer
  2. Distribusi dokter saat ini belum proporsional
  3. Diperlukan perbaikan sistem pembiayaan kesehatan


Pernyataan Sikap


  1. Menolak Program Studi Dokter Layanan Primer (DLP )
  2.  Merekomendasikan:
    • Meningkatkan kualitas dokter di pelayanan primer dengan program Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (P2KB) terstruktur.
    • Perbaikan proses akreditasi pendidikan kedokteran akuntabel, adil dan transparan.
    • Menghadirkan pendidikan kedokteran yang berkualitas dan terjangkau

Selain berharap suatu saat ada sesuatu yang lebih manusiawi untuk urusan antrean pasien BPJS, Chi juga beberapa kali berpikir tentang pendidikan kedokteran. Gimana ya kalau suatu saat Keke atau Nai ingin menjadi dokter? Denger sana-sini, pendidikan kedokteran itu sangat mahal. Ya, kita memang gak pernah bisa menebak misteri rezeki, tapi kalau sekarang dengar berapa dana yang dibutuhkan rasanya bikin merinding.

Hal ini pun yang membuat IDI angkat suara. Saat ini sudah sangat jarang anak bangsa yang memiliki kemampuan akademis tapi dengan latar belatang sebagai anak petani, anak nelayan, dan anak dari kalangan kurang mampu lainnya yang bisa menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran.


Mahasiswa Kedokteran saat ini sudah terkelompok dalam strata sosial dan ekonomi yang relatif sama hal ini akan menimbulkan dokter yang bermental elit yang lambat laun akan menyebabkan dokter Indonesia tidak mampu "membumi" yaitu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, tidak dapat merespon kebutuhan masyarakat dan pada akhirnya tidak memiliki arah dan tujuan profesionalisme kebangsaan untuk masa depan. Mereka hanya siap di sarana kesehatan yang telah mapan dan menjanjikan kehidupan ekonomi yang lebih baik, padahal saat ini masih banyak daerah yang membutuhkan dokter yang sanggup menjadi pionir dan memiliki struggle for life.

Belum lagi kalau bicara infrastruktur serta sarana dan prasarana di berbagai daerah. Masih banyak  fasilitas di beberapa daerah yang belum memadai. Hal ini pula yang dijadikan alasan bagi beberapa dokter di Indonesia untuk tetap memilih hidup di perkotaan.

Dokter spesialis di lndonesia jumlahnya selalu kurang. Sistem pendidikan spesialis di lndonesia yang sifatnya "University Based " mengakibatkan program pendidikan spesialis di lndonesia menjadi mahal dan kursinya terbatas sesuai jumlah fakultas kedokteran di lndonesia. Biaya pendidikan yang mahal dan keterbatasan kursi ini mengakibatkan sangat sedikit dokter umum yang bisa meneruskan pendidikan spesialisasi. Kondisi ini berbeda jauh dengan negara lain di dunia yang menerapkan sistem " Hospital based" dokter umum yang ingin memperdalam spesialisasi tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, mereka justru dibayar karena kerjanya selama proses pendidikan. Sistem pendidikan dokter spesialis seperti ini semestinya menjadi alternatif solusi bagi lndonesia

Sejatinya, urusan kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Semoga IDI dan pemerintah dapat duduk bersama untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan pro rakyat. Jangan sampai masyarakat jadi enggan ke dokter karena belum apa-apa sudah pusing karena takut biaya yang mahal. Atau masyarakat di daerah sulit mendapatkan dokter serta fasilitas kesehatan yang minim. Jangan sampai pula, banyak anak bangsa yang menguburkan impiannya menjadi seorang dokter karena terkendala biaya. Semoga ada solusi terbaik yang benar-benar pro rakyat untuk smeua masalah ini, ya

Kesehatan masyarakat di suatu negara itu penting. Bangsa yang sehat karena masyarakatnya juga sehat.

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Senin, 24 Oktober 2016

Tips Berburu Tiket Pesawat Murah



Tiket Murah tentunya menjadi buruan bagi siapapun yang hobi traveling. Bahkan tak jarang rela begadang untuk menunggu waktu dibukanya promo mendapat tiket pesawat murah. Namun usaha yang dilakukan kadang hasilnya menyakitkan. Sudah rela begadang tapi masih kalah cepat dengan traveler lainnya yang juga berburu tiket pesawat murah

Sekarang, teman-teman gak perlu khawatir kehabisan tiket murah di waktu-waktu tertentu. Pada dasarnya setiap maskapai atau Online Travel Agent selalu menyediakan promo-promo atau potongan-potongan harga untuk para pelanggannya asal teman-teman tahu tips dan trik nya. Mau tahu tips dan trik berburu tiket murah? Berikut ini tipsnya! Check this out!



Booking Online, Dong!



tips pertama untuk mendapat tiket pesawat murah adalah booking online. Booking online sudah terbukti lebih murah dibandingkan dengan kamu direct booking. Bahkan terkadang selisih harganya bisa hampir setengahnya. Apalagi jika teman-teman menggunakan Online Travel Agent baik itu di aplikasi maupun webnya, biasanya banyak promo dan diskon yang bisa didapatkan.

Mungkin, teman-teman bertanya mengapa booking online itu bisa lebih murah? Jawabannya, karena data penjualan online lebih banyak dan keuntungannya dikembalikan kembali kepada konsumen. Sehingga tak heran banyak promo dan diskon saat booking online terutama jika lewat Online Travel Agent (OTA).



Cermati dan Ketahui 3 Waktu Promo ini!



Jika teman-teman adalah pemburu tiket murah sejati, maka wajib tahu waktu-waktu dimana biasanya maskapai atau OTA memberikan promo besar-besaran. Waktu yang pertama adalah akhir tahun. Menjelang akhir tahun merupakan peak season untuk maskapai dan OTA, biasanya banyak diskon dan promo yang diberikan. So, pantau terus website maskapai atau aplikasi OTA satu bulan sebelum akhir tahun!

Waktu kedua adalah saat lebaran. Meskipun lebaran merupakan hari raya umat islam, namun manfaat dan euforianya juga ikut dirasakan umat lainnya. Tak heran jika lebaran juga menjadi peak season bagi maskapai atau OTA. Siap siap berburu tiket murah menjelang lebaran!

Waktu ketiga adalah hari ulang tahun dari maskapai atau OTA tersebut. Sebagai pemburu tiket murah, teman-teman memang harus mengetahui kapan hari ulang tahun dari maskpai atau OTA agar tak kehabisan ketika ada promo dan diskon besar-besaran di hari ulang tahunnya.



Lewat Jalur Khusus

tips dan trik lainnya untuk bisa mendapatkan harga tiket pesawat yang murah adalah dengan jalur khusus. Apa yang dimaksud dengan jalur khusus ini? Jalur khusus adalah jalur dimana teman-teman bisa mendapatkan harga tiket pesawat murah dengan cara daftar sebagai member di situs maskapai atau OTA. Jika sudah terdaftar sebagai member, biasanya banyak private pricing yang didapatkan.

Bukan sekedar menjadi member, teman-teman juga harus menjadi konsumen yang loyal agar bisa mendapat privat pricing dari maskapai atau OTA. Selain daftar sebagai member, teman-teman juga bisa berlangganan info dan newsletter maskapai atau OTA lewat email. Dengan begitu teman-teman akan dianggap sebagai pelanggan yang loyal, tentunya juga diiringi dengan seringnya bertransaksi dengan maskapai atau OTA tersebut.



Pesan Lewat Mobile App



Mungkin banyak yang belum tahu bahwa memesan tiket dengan mobile application bisa dapat harga lebih murah. tips ini bisa langsung dipraktekan dengan cara download mobile application maskapai dan juga OTA. Harga tiket lebih murah, pesannya juga mudah, siapa yang enggak mau coba?


Pilih Bandara Sekunder

tips terakhir yang bisa dicoba untuk mendapatkan tiket pesawat murah adalah dengan memilih bandara sekunder di kota tujuan. Misalkan di kota tujuan terdapat dua bandara, maka pilihlah bandara sekunder karena biasanya tarif penerbangannya lebih murah. Sebagai contoh jika teman-teman ingin ke Jakarta, maka bandara yang harus sebaiknya dipilih adalah Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma daripada Bandara International Soekarno Hatta

Itulah tips dan trik agar untuk mendapatkan tiket pesawat murah. Ayo praktekan langsung dan raih tiket murahnya!

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Sabtu, 22 Oktober 2016

Setelah Memasak, Peralatan Memasaknya Dicuci, Ya!

 
 Setelah memasak, peralatan memasaknya dicuci, ya! Asalkan pakai sabut spons Scotch-Brite, mau deh nyuci. Eits! Itu alat masak yang teflon bukan karena tergores tapi bekas dipakai untuk bikin pancake. Kalau yang tray dipakai untuk memanggang roti :D


"Gak usah beli peralatan masak teflon, lah. Kalau si mbak yang nyuci pasti gak apik. Malah jadi banyak goresan."

Bertahun-tahun, Mamah pernah pesan seperti itu ke Chi. Memang iya, sih, walaupun udah berkali-kali dikasih tau tapi tetap aja digosok dengan keras setiap kali mencuci peralatan masak teflon. Akibatnya jadi banyak goresan yang merusak lapisan teflon. Akhirnya, kembali ke penggorengan yang biasa aja. Yang gak masalah digosok sekeras apapun. Peralatan masak teflonnya lebih banyak disimpan di lemari.

Kalau khawatir gores bila si mbak yang nyuci, kenapa gak nyuci sendiri aja? Masalahnya, Chi itu suka masak tapi gak suka beberesnya. Termasuk mencuci segala perabotan masak dan makan hehehe. Pengennya, ada tongkat Harry Potter yang sekali digerakkan udah bersih segala peralatan masak dan makan :D

Karena malas beberes, Chi jadi lebih sering pakai peralatan masak biasa. Bahkan sekarang pun setelah gak pakai asisten rumah tangga, tetap lebih sering memakai peralatan masak yang biasa aja. Gak masalah sebetulnya. Hanya saja, kalau lagi pengen masak yang sedikit banget minyak/margarine lebih suka pakai teflon. Misalnya, bikin pancake, panggang ikan, atau sekadar bikin telur ceplok.
Untuk bebersih segala peralatan memasak, makan, dan minum, Chi pun tertarik menggunakan Scotch-Brite. Pertama beli Scotch-Brite karena penasaran. Dibanding produk sabut spons lain, harga Scotch-Brite agak lebih tinggi. Hmmm ... kenapa, ya? Buat menjawab rasa penasaran, Chi pun membelinya.

Kelebihan sabut spons Scotch-Brite itu 3x lebih cepat dan 3x tahan lama. Mencuci peralatan memasak, makan, dan minum memang menjadi lebih cepat. Dan 3 x tahan lama alias awet banget. Sponsnya gak mudah kempes walaupun sudah berkali-kali dipakai. Terbukti, kalau ada harga memang ada kualitas.

Spons sabut Scotch-Brite™ memang dibuat dengan teknologi yang ampuh membersihkan kotoran. Sabut mengandung serat dan mineral yang berkualitas. Sehingga mencuci lebih sempurna dan tidak merusak peralatan masak dan makan yang dicuci. Kalau teman-teman perhatikan, bentuk spons sabut Scotch-Brite™ juga unik. Meliuk-liuk seperti hurus S. Gunanya agar mudah digenggam dan awet.



Sabut Scotch-Brite™ ada beberapa macam. Teman-teman jangan sampai salah pilih, lho. Karena setiap sabut berbeda fungsinya


Sabut Spons Hijau (ID30)


Kalau sabut warna hijau ini warnanya klasik banget, ya. Sabut spons hijau Scotch-Brite™ini untuk peralatan memasak. Seperti wajan atau panci alumunium yang gak masalah kalau digosok dengan keras. Kadang, Chi juga pakai untuk membersihkan tray karena suka dipakai untuk manggang roti hingga ikan. Bagian gosongnya suka melekat di tray.


Sabut Spons Anti Gores (ID37)


Sabut spons anti gores  Scotch-Brite™untuk mencuci alat makan atau alat masak atau alat masak teflon/ anti gores. Selain berbeda fungsi, warnanya pun berbeda. Sabut spons anti gores ini memiliki warna yang lebih eye-catching. Seperti yang Chi punya ini waranya pink. Tapi, ada juga yang warnanya kuning.


 
Sumber gambar:  Fanpage Scotch-Brite™Indonesia


Walaupun sudah memakai sabut spons yang berkualitas, jangan sampai mengabaikan perawatannya, ya. Kan, biar lebih tahan lama serta terhindar dari bakteri. Perawatannya mudah, kok

  1. Bilas spons di air yang mengalir hingga bersih dari sabun
  2. Tekan-tekan hingga air yang terserap di spons berkurang
  3. Gantung spons setelah dibersihkan

Nah, perawatannya juga gampang, kan? Jadi, setelah memasak, peralatan memasaknya dicuci, ya! Maksudnya, jangan malas mencuci lagi kalau sabutnya udah berkualitas. Oke, deeehh hehehe. Teman-teman punya cerita atau tip apa seputar mencuci peralatan masak dna makan?



Scotch-Brite


www.britequeen.com

Fanpage: ScotchBrite.Indonesia
Twitter: @ScotchBriteID

Continue Reading
8 komentar
Share:

Rabu, 19 Oktober 2016

Pilih Sekolah Swasta atau Negeri?

Pilih Sekolah Swasta atau Negeri?

Pilih sekolah swasta atau negeri? 



Ketika memilih sekolah untuk anak-anak, Chi gak pernah mendadak. Selalu dari jauh-jauh hari. Diskusi panjang pun dilakukan. Anak tentu saja dilibatkan karena dialah yang akan merasakan langsung proses belajar-mengajarnya.

Kami sudah mulai memikirkan dan berdiskusi Keke akan masuk sekolah mana sejak Keke kelas 5 SD. Saat itu, anatara Chi dan K'Aie mempunyai pendapat yang berbeda. Alasan kami sama, hanya saja sudut pandangnya yang berbeda.



Usia SMP adalah Masa Pencarian Jati Diri


Chi dan K'Aie sama-sama berpikir kalau usia SMP adalah masa pencarian jati diri. Di usia ini mungkin akan banyak terjadi 'gelombang' dalam pola asuh. Maka, kami pun merasa harus mencari sekolah yang tepat. Sayangnya, sudut pandang kami untuk mencari solusinya berbeda.

Chi berpendapat, sekolah swasta adalah jawaban yang paling tepat. Sekolah swasta umumnya jumlah murid per kelasnya tidak banyak. Sehingga para guru pun akan lebih mudah mengenal karakter anak didiknya. Apalagi, sekolah swasta yang Chi pilih adalah lanjutannya dari SDnya Keke. Setidaknya kami udah akrab dengan lingkungan sekolahnya. Gak perlu meraba-raba lagi.

Chi bukan bermaksud memindahkan urusan pola asuh ke sekolah. Teteplah yang namanya pola asuh, orang tua yang paling bertanggung jawab. Tapi memang lebih baik kalau bisa menemukan sekolah yang bersahabat. Karena sekian jam anak berada di sekolah. Tentunya lebih bagus menemukan sekolah yang bisa menjadi wakil orang tua selama anak di sana.

Sedangkan K'Aie memilih negeri. Menurutnya, sudah saatnya Keke bergaul dengan lingkungan yang lebih heterogen. Kalau terus di swasta kan secara ekonomi hampir homogen. Ada kekhawatiran kalau kelamaan berada di lingkungan yang sama, Keke akan menjadi anak yang borju.


Bukan berarti kami tidak pernah mengajarkan tentang kesederhanaan. Chi rasa samalah seperti banyak orang tua lainnya yang selalu berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Begitupun dengan sekolah termasuk pertemanan Keke di sekolah. Semuanya anak baik-baik. Tapi Chi sebetulnya juga setuju kalau memang sudah saatnya Keke mengenal lingkungan yang lebih beragam.

Ya, Chi pun punya kekhawatiran yang sama. Tapi, tetap saja buat Chi sebaiknya Keke di swasta. K'Aie pun sependapat dengan Chi tentang pentingnya pembentukan karakter. Tapi, K'Aie tetap berpendapat bahwa sudah saatnya Keke masuk sekolah negeri.


Bertanya Kepada Keke


Kami pun bertanya ke Keke. Kami sebutkan kelebihan dan kekurangan sekolah negeri dan swasta. Keke mengatakan kalau dia tidak masalah meu sekolah di manapun. Asalkan jumlah muridnya tidak banyak. Alasannya, Keke kurang bisa konsentrasi belajar kalau terlalu banyak murid.

Tentu sekolah swasta bisa menjawab keinginan Keke. Kalaupun tetap mau di negeri, berarti sebaiknya masuk kelas international. Keke pun mau juga di negeri asalkan masuk kelas internasional. *Belakangan kami baru tau kalau kelas internasional ternyata udah gak ada. Kudet banget kami, ya hahaha.



Masa Pendaftaran yang Gak Sama


Keke sudah memutuskan mau negeri atau swasta gak masalah asalkan jumlah murid di kelas jangan kebanyakan. Chi pun berpikir, sebaiknya coba negeri dulu, deh. Kalau gak keterima baru ke swasta. Selesai masalahnya? Ternyata enggak.

Masa pendaftaran yang gak sama antara swasta dan negeri membuat masalah baru. Sekolah swasta umumnya sudah buka pendaftaran sejak bulan Oktober - November yang terbagi dalam 3 gelombang. Sedangkan sekolah negeri biasanya baru buka pendaftaran sekitar bulan Juli. Menunggu hasil UN keluar dulu. Sekolah swasta juga tetap ada yang buka pendaftaran sampai Juli tapi sudah terbatas banget pilihannya. Biasanya sekolah favorit sudah tutup pendaftaran di bulan April - Mei.

Kalau mendaftar di sekolah swasta, setelah lulus ujian masuk, akan diminta melakukan daftar ulang dan melunasi pembayaran. Biasanya jangka waktunya 2 minggu setelah dinyatakan lulus. Bagaimana bila tidak melakukan daftar ulang dan melunasi pembayaran? Dianggap batal masuk ke sekolah tersebut. Kalau mau masuk lagi maka harus melakukan tes lagi. Bila sudah daftar dan lunas, trus memilih sekolah lain bagaimana? Boleh aja memilih sekolah lain, tapi uang yang sudah masuk biasanya dianggap hangus alias tidak dikembalikan.

Masa pendaftaran yang gak sama antara swasta dan negeri jadinya ngeselin. Pengennya kan daftarin Keke ke sekolah swasta dulu. Kalau sudah dinyatakan diterima, ada kebijakan boleh gak langsung bayar. Tunggu sampai si anak ada kepastian masuk negeri atau enggak. Tapi, gak ada sekolah yang kayak gitu.

UNTUNGNYA (sengaja dicapslock, karena memang merasa beruntung banget) sekolah swasta yang Chi pilih adalah lanjutan dari SDnya Keke. Dan, siswa yang berasal dari dalam dapat keuntungan pembayaran. Pertama, gak perlu beli formulir. Lumayan banget bisa hemat Rp300.000,00. Kedua, gak perlu ikut tes masuk. Ketiga, cukup membayar salah satu itemnya aja. Chi pilih bayar SPP Juli aja karena paling murah dibanding item lain. Resikonya kalau Keke gak jadi masuk sana, uang Rp900.000,00 yang sudah dibayar akan dianggap hangus. Sebetulnya sayang, sih tapi daripada hangus sampai puluhan juta? Anggap aja uang Rp900.000,00 itu untuk membeli ketenangan. Setidaknya kalau Keke gak bisa masuk negeri, sudah ada sekolah swasta yang menerimanya.



Plus-Minus Sekolah Negeri dan Swasta


Keke pun akhirnya bersekolah di sekolah negeri. Awalnya, Keke sempat menolak begitu tahu kalau kelas internasional udah gak ada. Kami pun kembali ajak Keke berdiskusi tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing sekolah.

Sekolah swasta memang jumlah murid per kelasnya lebih sedikit. Bisa setengah dari jumlah murid di sekolah negeri. Sehingga Keke jadi bisa lebih konsentrasi belajar. Para pengajar pun kemungkinan bisa lebih mengerti karakter anak didiknya, tapi jam sekolahnya lebih panjang. Kayaknya, Keke cuma bisa main di hari Sabtu dan Minggu saja karena hari lainnya sudah dihabiskan di sekolah. Biaya di sekolah swasta juga lebih mahal.

Sekolah negeri, jam sekolahnya lebih pendek. Bahkan lebih pendek dari jam sekolah Nai yang sekarang masih di SD. Kemungkina Keke jadi punya banyak waktu bermain. Tapi, Keke harus berusaha lebih keras berkonsentrasi kalau di sekolah negeri karena jumlah muridnya yang banyak. SPP di sekolah negeri gratis, berasa banget lah penghematannya.

Setelah diskusi cukup panjang, Keke akhirnya mau coba berusaha masuk negeri dulu. Tapi, dia tetep kasih syarat. Katanya kalau sampe bisa dapet negeri, harus dibeliin PS4 dan game Uncharted 4. Baiklaaaah. Deal! :D

Usaha Keke untuk mendapatkan NEM yang baik sudah Chi publish tulisannya beberapa waktu lalu. Kapan-kapan Chi tulis proses pendaftaran ke sekolah negeri. Sekarang Chi akan bercerita tentang pengalaman Keke selama di negeri yang ternyata prosesnya jumpalitan.

[Silakan baca: Tanpa Ikut Bimbel, Nilai UN Bisa Tetap Bagus? Bisa!]



Adaptasi di Sekolah Negeri


Keke mengawali masa awal sekolah dengan rasa marah. Berkali-kali dia minta pindah lagi ke sekolahnya yang lama. Kadang dia menangis. Agak kaget juga melihat Keke menangis. Seingat Chi, Keke sudah lama gak menangis.

Kami meminta Keke untuk coba bertahan dan terus beradaptasi. Kenyataannya, Keke gak sendiri menghadapi hal ini. Chi bertanya dengan beberapa saudara dan teman yang anaknya pernah sekolah di swasta kemudian ke negeri. Ternyata, banyak yang mengalami hal sama. 

Proses adaptasi dari swasta ke negeri yang gak mudah. Ada yang cuma tahan 1 hingga beberapa hari saja lalu pindah lagi ke swasta. Ada juga yang berproses panjang bahkan hingga setahun sampai anaknya mulai bisa beradaptasi. Tentu saja masing-masing punya alasan kenapa memilih balik lagi ke swasta atau terus bertahan. Alasan yang tidak bisa kita hakimi tetapi harus saling menghormati.

Swasta dan negeri memang berbeda. Baik dari fasilitasi dan kegiatan belajar-mengajar. Gak heran kalau anak swasta sempat terkaget-kaget. Hal-hal kecil misalnya seperti buku pelajaran. Kalau di swasta setiap tahun beli buku baru. Di sekolah Negeri bukunya lungsuran yang kondisi ... begitulah hehehe. Keke juga sempat keteteran untuk berbagai informasi. Karena ketika di swasta biasanya selalu ada surat resmi, buku penghubung, atau wali kelas yang akan WA orang tua bila ada info. Di negeri mah jarang ada kayak gitu. Siswa harus aktif mencari tahu. Jadi, Chi mulai minta Keke untuk lebih aktif cari tahu. Termasuk aktif mendatangi guru yang bersangkutan bila ada ulangan susulan atau apapun.

Di minggu pertama sekolah, Keke pernah meninggalkan seluruh isi tasnya di kelas. Katanya di taro di bawah meja. Chi sempat ngomel karena khawatir bukunya hilang semua. Mana di sekolah negeri kan hampir tiap hari ada PR. Belajar pake apa kalau bukunya gak ada? Rupanya, Keke masih merasa kayak di sekolah swasta yang sebagian bukunya disimpan di loker. Sekarang, sih kalau inget itu Chi ngikik hehehe.

Kalau untuk fasilitas, Keke gak begitu ambil pusing. Dia gak masalah kelasnya gak pake AC lagi. Paling dia cuma bilang kalau lebih suka kelasnya gak usah pake apapun daripada pake kipas angin. Kipas angin beberapa kali bikin badannya masuk angin. Kelas Keke ada di lantai atas. Ventilasi ruang kelasya kelihatannya cukup baik. Menurutnya, angin sering masuk ke kelasnya sehingga gak terlalu gerah. Jadi, tanpa kipas atau AC pun gak masalah.

Keke sempat kesal dengan kegiatan belajar-mengajar (KBM). Kalau di sekolahnya dulu, kan banyak berdiskusi. Murid punya banyak kesempatan untuk bertanya dan berpendapat. Biasanya, guru justru senang dengan siswa yang aktif karena membuat kelas lebih hidup. Nah, di negeri kebanyakan menulis. Kalau kata Keke, sekarang dia jadi boros bolpen. Bukan karena sering hilang, tapi tintanya habis karena dipake terus.


"Buku pelajaran ada, kenapa juga harus nyatet lagi yang ada di papan tulis? Padahal bahasannya sama. Kenapa juga harus merangkum buku? Biar ingat sama pelajarannya? Cara belajar setiap anak kan beda-beda."

Chi seringkali speechless kalau Keke udah ngomong kayak gitu. Ada benarnya apa yang Keke bilang. Untuk beberapa anak, banyak merangkum dan menulis memang bisa membantu. Tapi, buat Keke yang gaya belajarnya cenderung auditori malah jadinya mengesalkan. Paling kalau udah gitu, Chi cuma bisa bilang sabar dan ikutin aja prosesnya. Meskipun ada kalanya Chi juga kurang sabar ngasih taunya. Karena perasaan Chi yang juga ikut campur aduk gara-gara urusan ini.

Jumlah murid yang banyak serta durasi jam belajar yang lebih sedikit memang kurang memungkinkan bagi Keke untuk lebih aktif. Jauh sebelum masuk ke negeri, Chi udah mengingatkan tentang hal ini. Meminta Keke untuk lebih luwes. Kalau memang masih belum puas untuk bertanya, lampiaskan aja di rumah. Banyak bertanya sama bunda *Trus Chi pun pusing kalau Keke udah mulai banyak tanya hahaha*

Di Negeri itu PRnya banyaaaakk! Dulu, jarang banget ada PR. Pulang lebih cepat pun akhirnya gak bikin jadi lebih banyak waktu bermain kalau PRnya lagi menumpuk. Untung aja sepulang sekolah, Keke gak ada kursus apapun selain latihan Taekwondo yang cuma seminggu sekali.

[Silakan baca: (Wacana) Full Day School Setuju Saja, Asalkan ...]

Ada kalanya, dia tidur sampai larut malam karena urusan PR. Sesekali gak apa-apa, lah. Tapi, pernah beberapa hari berturut-turut PRnya sangat banyak. Chi pun langsung tegas mengatakan gak bisa terus begitu. Keke tetap harus sudah tidur pukul 9 malam. Bukan berarti Chi mengajarkan Keke untuk menyepelekan PR. Tapi, istirahat yang cukup juga sangat penting. Apalagi Keke masih dalam usia pertumbuhan. Urusan PR yang belum selesai, biar dia belajar bertanggung jawab.

[Silakan baca: Kualitas Tidur dan Kecerdasan Anak]

Bukan hanya Keke yang stress. Chi pun ikutan stress. Kalau ikutin rasa gak tega, pengennya langsung nurutin keinginan Keke untuk pindah sekolah. Khawatir juga dengan makan dan minum Keke selama di sekolah. Biasanya kalau di sekolah Keke bisa minum 1 liter lebih. Setiap hari dia bawa botol minum ukuran 1 liter. Nanti biasanya dia isi lagi dari dispenser yang ada di sekolah.

Di sekolah Negeri gak ada fasilitas dispenser. Keke jadi bawa 2 botol minum ke sekolah yang akibatnya beban tasnya semakin berat. Tapi, Chi perhatiin, dia seringkali minum gak sampe 1 liter. Alasannya, kalau minum banyak khawatir bakal sering pipis. Keke khawatir tulisan di papan tulis keburu dihapus kalau ditinggal ke wc. Keke janji banyak minumnya kalau udah di rumah aja. Ya, Chi pun akhirnya nurutin kemauan Keke. Paling dia bawa 2 botol minum kalau lagi ada pelajaran olahraga aja.

Di masa adaptasi tentu aja berimbas ke nilai-nilainya. Chi mulai akrab dengan kata remedial. Sebetulnya bukan karena Keke gak bisa. Chi yakin Keke bisa. Hanya saja semangat belajarnya di masa adaptasi ini memang menurun sekali. Kadang, Chi harus tegas meminta Keke untuk tidak berlarut-larut dalam masalah. Harus mulai terpicu untuk beradaptasi. Tapi, Chi pun mencoba untuk memahami hal ini. 

Masih ada beberapa keluhan lain. Walaupun begitu, progress tetap ada. Keke sudah mulai bisa beradaptasi. Sudah mulai lebih banyak cerita senengnya. Sudah mulai ada semangat untuk belajar lagi. Alhamdulillah. Insya Allah, akan semakin membaik.

Diskusi dilakukan setiap hari. Gak hanya antara Chi dan Keke. Tapi juga antara Chi dan K'Aie. Ya, K'Aie juga yang selalu optimis dengan proses ini. K'Aie yang setiap malam selalu menyabarkan Chi. Ya, apalagi yang dihadapi ini anak abege. Tau sendiri lah gimana sifat anak abege. Dan, Keke juga tipe yang cukup keras. Kalau dia udah gak suka dengan sesuatu akan bersikap masa bodoh atau melawan. Makanya harus sering diajak ngobrol dari hati ke hati kalau udah kayak gitu. K'Aie juga  ajak Keke ngobrol. Biasanya dilakukan di jalan menuju sekolah.



Benarkah Anak Swasta Manja-Manja?


Nah, ini pro-kontra yang baru-baru ini Chi dengar setelah merasakan sekolah negeri. Beberapa bilang kalau anak-anak dari swasta itu manja-manja. Menurut Chi, terlalu cepat kalau langsung menuduh anak-anak yang berasal dari swasta itu manja. Kasih kesempatan bagi mereka untuk beradaptasi. Biar gimana, selama 6 tahun bahkan lebih mereka terbiasa dengan fasilitas yang nyaman. Selain itu, para pendidik di sekolah swasta juga lebih ngemong.

Kalau di negeri, murid yang harus lebih aktif. Kalau ulangan harian di bawah KKM  nilainya, maka murid yang harus 'mengejar' guru bersangkutan untuk minta remedial. Kalau di swasta, sering dapat surat. Libur cuma sehari aja atau ada info ulangan, orang tua dapat surat resmi atau minimal ada info di buku penghubung. Kalau di negeri enggak. Malah kalau perlu harus aktif cari info.

Jadi kalau di awal tahun ajaran, murid dari swasta terlihat pontang-panting ya harus dimaklumi. Mereka belum terbiasa dengan kultur seperti di sekolah negeri. Chi sempat sedih juga mendengar judging seperti itu. Tapi, lama-kelamaan bodo amat lah. Setidaknya Chi tau persis kalau Keke dan mungkin banyak anak dari swasta sedang terus berproses.

Jadi pilih sekolah swasta atau negeri? Apapun pilihannya selalu ada plus-minusnya, kok. Karena sekarang Keke sudah memilih maka yang dilakukan sekarang adalah berusaha terus beradaptasi. Memang prosesnya harus saling mendukung sesama keluarga, sih. Keke gak bisa dibiarkan menjalankan sendiri. Insya Allah, bisa. Semangat! ^_^

Continue Reading
54 komentar
Share:

Senin, 17 Oktober 2016

Karena #UsiaCantik Perlu Dirayakan

Karena #UsiaCantik Perlu Dirayakan, L'oreal paris Skin Expert, dermalift revitalift

Usia 25 tahun menikah. Kerja cukup sampai usia 35-40 tahun saja. Rajin menabung selama masih kerja. Setelah itu resign dan membuka usaha kecil-kecilan sambil mengasuh anak.

Itu adalah rencana terideal Chi ketika masih lajang. Tercapai, kah? Enggak hehehe. Nyatanya, Chi menikah di usia 26 tahun. Mundur setahun dari rencana. Tapi, rencana untuk resign di atas usia 35 tahun menjadi maju sekitar 9 tahun lebih awal. Beberapa bulan sebelum menikah, Chi putuskan untuk resign. Sempat bikin online shop kecil-kecilan tapi karena belum sepenuh hati ngejalaninnya jadinya sekarang berhenti. Pokoknya, gak sesuai rencana, lah!

Sempet ada penyesalan sedikit. Biasa punya penghasilan sendiri sama mengandalkan gaji suami memang beda rasanya. Walaupun K’Aie bukan suami yang pelit. Tapi tetep aja beda. Apalagi kalau lagi kangen sama suasana kerja. Rasanya pengen banget ngantor lagi.

Tapi itu dulu ….

Waktu masih belum dikaruniai anak. Setelah punya anak, cerita bahagianya lain lagi. Ribet tapi bahagia. Kelihatannya klise banget, ya. Tapi memang seperti itu rasanya. Dan setiap saat ada tantangannya. Ketika mereka masih bayi, balita, hingga sekarang mulai abege. Tantangannya bisa bikin jumpalitan, tapi Chi bersyukur karena bisa terus mendampingi anak-anak.

Selain bisa terus dekat dengan Keke dan Nai, di usia yang 39 ini Chi juga lagi bahagia-bahagianya. Keke dan Nai yang mulai besar, sudah bisa dijadikan teman main, teman curhat, dan teman jalan. Chi masih bisa mengimbangi mereka untuk ber-adventure termasuk naik gunung. Rasanya itu pencapaian terbesar Chi, deh.

Memang di luar dugaan dan rencana. Naik gunung itu bukan Chi banget. Chi dan K’Aie memang punya hobi yang berbeda. K’Aie anak gunung, Chi anak kota. Tapi, gak pengen anak-anak cuma kenal hobi bundanya aja, Chi pun mulai mengalah untuk mulai naik gunung. Dan, Chi baru mulai melakukan itu di saat usia 35 tahun hehehe.



Iyess, buat Chi termasuk pencapaian seru bisa mulai naik gunung di saat berusia 35 tahun. Demi anak. Padahal, Chi selalu jadi yang paling ngos-ngosan, paling lambat sampai tujuan. Tapi, seru banget lah. :D

Kalau lagi ber-adventure gitu, Chi gak khawatir kulit akan lecet-lecet, jadi kering, atau apalah. Tapi memang Chi rasain kalau kulit wajah mengalami perubahan. Sekarang jadi gampang jerawatan kalau lagi PMS. Padahal dulu mah mana kenal ma jerawat. Udah gitu mulai ada flek hitam sama kayaknya mulai kering gini kulitnya. Trus mulai mikirin gimana kalau sampe mulai ada kerutan. Waduuuhh!

Akhir-akhir ini, Chi mulai kepikiran pengen punya kulit kayak dulu lagi. Kulit yang mulus dan sehat. Simpel sih alasannya, pengen dianggap awet muda padahal anak udah mulai gede. Hayooo … Perempuan mana yang gak bahagia kalau dianggap awet muda? Seperti yang banyak orang bilang kalau bahagia itu sederhana. Rasanya gak ada salahnya pengen tetap awet muda.


Tidak ingin kembali ke masa muda, tapi ingin awet muda

Chi gak pengen kembali ke masa muda walaupun jalan hidup gak sesuai dengan rencana. Tapi, kalau pengen terus awet muda boleh, dong. Chi merasa bahagia banget sekarang. Banyak bersyukur dan menikmati hidup adalah salah satu self healing yang ampuh. Sekarang juga harus ditambah dengan perawatan kulit wajah. Selain biar tetap terlhat awet muda, kulit yang sehat juga jadi dambaan setiap perempuan.


Beberapa Masalah Pada Kulit Wajah di Atas Usia 35 Tahun



Flek Hitam

Ada beberapa penyebab kulit wajah mulai ada flek hitam. Untuk yang sering bepergian, paparan sinar UV tanpa adaperlindungan anti UV bisa langsung masuk ke dalam kulit dan menyebabkan timbulnya flek hitam.


Jerawat

Urusan jerawat memang tidak mengenal usia. Tapi, Chi baru mengalami problem jerawat justru setelah usia 35++. Faktor hormon dan produksi minyak berlebihan serta terjadinya penyumbatan di pori-pori wajah bisa menyebabkan terjadi jerawat.


Kerutan Halus

Faktor usia serta paparan sinar matahari langsung yang dapat mengurangi kelembapan kulit wajah


Kulit Kasar dan Kusam

Paparan sinar ultraviolet dapat mempercepat penuaan pada kulit


Kulit Bersisik dan Kering

Faktor usia menyebabkan pasokan minyak sebagai pelembap kulit alami berkurang

Dari beberapa masalah yang bisa dihadapi saat usia 35 tahun ke atas penyebabnya adalah faktor usia dan paparan langsung sinar ultraviolet. Chi pun mulai mengalaminya dan sempat menyesal kenapa dulu cuek sama urusan perawatan wajah. Sayangnya kita tidak bisa memperlambat usia. Tapi, bisa melindungi kulit agar masalah-masalah tersebut tidak segera muncul atau diperlambat.

Caranya dengan mencoba Revitalift Dermalift dari L'Oreal Paris Skin Expert. Produk ini menjadi pilihan karena Chi merasa produk #LorealDermalift bisa memahami setiap perempuan untuk mengapresiasi #usiacantik.


Kandungan tanaman Centella Asiatica, Pro-Retinol A, dan Dermalift Technology yang dapat mengurangi kerutan sebanyak 27% dan meningkatkan kekencangan sebanyak 35% di 8 zona utama wajah (dahi, di antara alis, kontur mata, kerutan ujung luar mata, pipi, garis senyum, rahang, dan leher)
 

Ada 3 produk Revitalift Dermalift dari L'Oreal Paris Skin Expert yang Chi pake secara rutin. Night cream dipakai menjelang tidur dan day cream pada pagi harinya. Tentu saja harus dipakai dalam keadaan wajah sudah bersih. Untuk membersihkan wajah, Chi pakai milk cleansing foam. Day cream mengandung SPF 23 PA++.

Teman-teman tau apa itu artinya? SPF dan PA dianggap mampu melindungi kulit dari paparan sinar UVA dan UVB. Nah, cocok banget dengan yang Chi butuhkan. Untuk mengatasi beberapa masalah di wajah yang mulai timbul.

Setelah pakai ketiga produk #RevitaliftDermalift, rasanya enak aja di wajah. Jadi lebih lembab dan kenyal. Kalau terus rutin dipakai bisa menghilangkan flek hitam dan menyamarkan kerutan.  Etapi Chi belum ada kerutan, sih baru flek aja. Tetep dong sebaiknya dirawat, jangan nunggu kerutan muncul duluan. Ketiga produk skin care ini juga bisa teman-teman beli secara online di Blibli, ya

Hidup sudah bahagia. Harus terlihat di wajah kebahagiaannya. Ya, usia cantik memang perlu dirayakan. Bagaimana dengan teman-teman? Pakai produk dari #LorealSkinExpert juga?


Continue Reading
162 komentar
Share:

Minggu, 16 Oktober 2016

Tentang Berita Kekinian


Seberapa update teman-teman dengan berita yang kekinian? Beberapa tahun lalu, Chi termasuk update. Apalagi kalau berita gosip hahaha. Nonton infotaintment, langganan tabloid, dan pastinya nge-gossip tetang artis sama teman pastinya seru hehehe.

Gimana dengan berita politik, kriminal, dan lain sebagainya? Termasuk update juga. Sama lah kayak pengamat gosip, juga rajin nonton tv, baca koran, dan lain sebagainya biar selalu update kejadian terbaru. Sama biar bisa nyambung kalau ngomong sama tukang sayur *eh, gimana?* Ya, abis kalau yang namanya bahas politik itu di manapun dan kapanpun, ya. Ngumpul sama siapapun selalu ada bahasan politik hehehe.

Kalau sekarang, Chi rada males-malesan ngikutin berita kekinian. Bahkan udah berenti nonton berita dan infotaintment di tv. Mending nonton MacGyver terbaru aja. Ganteng tuh pemeran MacGyver nya hehehe. Chi memang suka nonton berbagai serial detektif, kriminal, atau action. Bisa juga nonton berbagai kompetisi memasak, seperti masterchef.

Walaupun sudah nyaris tidak pernah mengikuti berita-berita tersebut di media televisi atau cetak, bukan berarti Chi kudet. Di social media, segala ada. Dari pertemanan, jualan, hingga update berita terbaru. Komplit ... plit ... plit ... Saking komplitnya, tiap hari ada aja berita kekinian.

Ada berita kekinian yang lucu tapi yang nyebelin juga banyak. Bahkan ada yang sampai memicu 'war'. Ada yang Chi tanggapi dengan santai. Ada juga yang Chi ahkirnya terpaksa memutuskan untuk unfriend dan unfollow karena gerah membacanya. Selain buat kerjaan, Chi pengen suasana yang adem aja di social media.

Kadang Chi juga suka ngikutin berita ekonomi. Duh, jadi malu, ya. Lulusan ekonomi tapi ngikutin beritanya kadang-kadang. Gak sesering dulu. Kalau sekarang lebih sering perhatiin harga cabe, tomat, sayur-mayur, dan daging. Termasuk ekonomi juga, kan? Hehehe

Ngikutin secukupnya aja, lah. Yang penting tahu. Seperti baru-baru ini ramai diberitakan tentang Tax Amnesty. Kalau teman-teman mau tau lebih banyak tentang ini sebaiknya melalui media yang terpercaya. Salah satunya yaitu update terbaru tax amnesty Okezone. Di portal berita ini banyak berita tentang tax amnesty.

Kalau berita yang seperti itu sih gak boleh cuek, ya. Biar kita bisa taat dengan pajak. Kan, pengennya jadi warga negara yang baik. Setuju, kan? :)

Continue Reading
8 komentar
Share:

Sabtu, 15 Oktober 2016

Tas Wanita Favorit


Apa jenis tas favorit teman-teman? Kalau Chi sih udah pasti jawabannya Ransel / Backpack. Trus? Gak ada lagi kayaknya. Eh, ada ding satu lagi. Chi suka dengan model Messenger Bag. Walaupun favorit pertamanya sih tetap ransel karena lebih nyaman dipakai dna lebih bisa muat banyak.

Chi termasuk yang cuek untuk urusan tas. Maksudnya, gak terlalu mikirin apakah baju yang Chi pakai akan matching dengan tas. Kemana-mana selalu pakai ransel. Atau sesekali ganti pakai messenger bag.

Kecuali ke acara nikahan, ya. Biasanya Chi memilih untuk gak bawa tas. Gak punya tas yang feminin, sedangkan kalau pakai ransel atau messenger bag kayaknya kurang pas hehehe. Ribet sih kalau gak bawa tas, karena tangan jadi harus pegangin hape. Biasanya Chi suka titip ke K'Aie aja hapenya. Atau kalaupun lagi pengen bawa tas, berarti Chi pinjem mamah yang memang punya beberapa 'tas wanita.'

Bagi sebagian wanita, tas memang termasuk bagian dari fashion. Bajunya apa, trus tasnya disesuaikan. Malah ada yang sampe senada warnanya. Kalau padanannya pas, Chi suka seneng aja lihatnya. Kelihatan pada modis dan cantik. Kadang, Chi suka pengen ikutan kayak gitu. Tapi malas melakukannya. Berasa buka Chi banget hehehe.
Malah tas juga tidak hanya bagian dari fashion. Bagi sebagian wanita, tas bisa jadi investasi, lho. Takjub aja melihat harga tas yang WOW! Semakin cetar harganya juga bisa menunjukkan dari kalangan mana. Ada juga sih beberapa tempat penyewaan tas. Jadi bisa gonta-ganti tanpa harus beli tas baru. Tapi, untuk yang berniat investasi, tas yang harganya mahal (pake) banget itu memang katanya bisa dijual lagi. Walaupun Chi pernah baca, harganya tentu aja sedikit lebih turun dari harga baru tapi lumayan lah masih punya nilai jual tinggi.

Mau berapapun harga beli tas, yang penting untuk dipertimbangkan adalah fungsi dari tas. Apa sesuai dengan yang teman-teman butuhkan? Mungkin itulah kenapa Chi tetap bertahan dengan ransel karena Chi selalu bawa banyak barang. Ransel pun lebih nyaman dipakai serta Chi gak khawatir diletakkan di manapun karena ransel yang Chi miliki mudah perawatannya. Tinggal dicuci biasa, gak perlu dirawat khusus.

Ya, walaupun Chi cuma suka ma tas ransel, tapi sering juga melihat koleksi tas wanita terbaru. Seringnya melihat secara online. Banyak banget tas wanita yang keren-keren. Termasuk ranselnya juga banyak yang Chi suka. Jadi, pengen beli tas baru, nih :)

Continue Reading
8 komentar
Share:

Jumat, 14 Oktober 2016

Berbagai Jenis Asuransi di Indonesia


Bicara tentang asuransi, tadinya Chi gak pernah berpikir bakal punya asuransi. Urusan keuangan mah Chi taunya cuma menabung hehehe. Setelah menikah dan punya anak, baru punya asuransi. Tapi, semua yang urus asuransinya K'Aie. Pokoknya Chi pasrah aja, lah.

Nah, apa aja sih jenis asuransi yang di Indonesia?



Asuransi Jiwa

Asuransi ini akan memberikan sejumlah finansial apabila tertanggung meninggal dunia. Misalnya, apabila seorang suami meninggal dunia dalam masa kebijakan, maka istri atau pihak keluarga lain yang jadi tertanggung akan mendapatkan sejumlah uang.


Asuransi Kesehatan

Tidak ada satu orangpun yang ingin sakit. Sayangnya, untuk beberapa penyakit membutuhkan biaya yang (sangat) mahal. Asuransi kesehatan bisa dipakai untuk meringankan biaya kesehatan atau apabila mengalami kecelakaan


Asuransi Pendidikan


Biaya pendidikan juga bisa bikin kepala cenat-cenut kalau lihat biayanya. Memang benar ada program wajib belajar 9 tahun dimana kalau sekolah negeri bebas SPP. Tapi kalau sekolah swasta kan enggak. Trus, bagaimana dengan biaya saat SMA? Kuliah? Bila khawatir dengan hal ini, bisa memilih asuransi pendidikan sebagai salah satu investasi pendidikan anak.


Asuransi Kendaraan

Kalau memiliki asuransi kendaraan, maka apabila terjadi kecelakaan biaya service dan lainnya ditanggung oleh perusahaan asuransi. Tidak hanya kecelakaan, asuransi kendaraan juga bisa menanggung bila kendaraan yang dimiliki hilang.


Asuransi Dana Pensiun


Yang sering dikhawatirkan bila sudah bekerja adalah tidak ada lagi pemasukan rutin. Untuk menghilangkan kekhawatiran itu, kita bisa memiliki asuransi dana pensiun. Teman-teman sudah tau tentang dana pensiun Astra Life? Coba deh cari tahu lebih lanjut di webnya.

Masih banyak jenis asuransi di Indonesia. Umumnya alasan memiliki asuransi adalah untuk ketenangan dan kenyamanan. Chi rasanya mulai berpikir untuk asuransi dana pensiun. Blogger bisa kali ya punya asuransi ini :)

Continue Reading
4 komentar
Share:

Kamis, 13 Oktober 2016

Happy Mom, Happy Traveling

Happy Mom, Happy Traveling, Libur Ceria bersama anak, tempra

Happy Mom, Happy Traveling. Iya, quote itu terinspirasi dari film Rio 2, yaitu Happy Wife, Happy Life. Tapi, kalau ingin jalan-jalan ceria bersama anak-anak, salah satu tip penting yang gak boleh diabaikan adalah ibunya harus happy dulu. Mau tau kenapa alasannya?

K'Aie: "Bun, kalau anak-anak diajak naik Gunung Gede, kira-kira bakal mereka pada seneng gak, ya?"

Itu pertanyaan K'Aie sekitar 3-4 tahun lalu dan kami belum pernah sekalipun naik gunung. Kalau K'Aie aja sih udah beberapa kali, apalagi saat masih lajang, karena itu hobinya. Tapi, kalau sekeluarga, saat itu kami belum pernah.

Sebetulnya, pertanyaan K'Aie itu tersirat karena pertanyaan tepatnya adalah, "Bun, kalau anak-anak diajak naik Gunung Gede, kira-kira Bunda bakal sanggup dan senang, gak?" Anak-anak yang mau diajak naik gunung tapi kenapa Chi yang harus ditanya perasaan dan kemampuannya? Karena Chi gak akan pernah mau ditinggal. Ya, iya lah Keke dan Nai jalan-jalan ma ayahnya masa' Chi gak ikutan. Tapi, kalau naik gunung rasanya Chi harus narik napas panjang dulu untuk berpikir apakah sanggup atau tidak.

Pergi naik gunung bersama anak-anak tentu bukan perkara apakah fisik Chi kuat atau tidak. Fisik anak-anak juga harus dipikirkan. Apalagi kata K'Aie, masing-masing anak wajib bawa tas. Trus gimana dengan mood mereka? Kalau di tengah jalan cape, turun gunung juga rasanya belum tentu jadi pilihan tepat. Lebih khawatir lagi kalau mereka sakit, bagaimana?

Chi memang harus siap dulu. Harus bahagia dulu. Kalau Chi udah siap dan bahagia, segala persiapan dan selama perjalanan pun bisa lebih lancar. Anak-anak pun akan berlibur dengan ceria, lho.



Ibu yang Bahagia, Siap ...



Ibu yang Bahagia, Siap Jaga Mood Anak

Namanya anak-anak, mood mereka bisa dengan cepat berubah, kan? Jangankan naik gunung, pergi jalan-jalan di dalam kota aja mood mereka bisa sekejap berubah. Yang tadinya senang karena mau jalan-jalan mendadak kesal karena macet dan lama sampai tujuan. Di sinilah peran orang tua dituntut supaya anak-anak tetap senang.

Ajak mereka nyanyi, ngobrol, becanda, kalau perlu dan memungkinkan berhenti sejenak untuk ajak mereka main. Tante Chi pernah bilang kalau mau ikut jalan-jalan bersama kami sekeluarga itu santai banget. Karena Chi dan K'Aie memang mengutamakan mood anak :D

Sebelum naik gunung, kami pernah beberapa kali trekking jarak pendek. Salah satunya ke Tangkuban Perahu. Waktu itu, Keke dan Nai masih sering bilang cape, masih sering minta berhenti. Kadang, kami berhenti tapi kadang bergantian digendong K'Aie. Chi sih nyerah banget deh kalau harus gendong. Tapi kalau sampe pas naik gunung, Keke dan Nai minta gendong gimana, ya? Pingsan kayaknya hahaha.


Happy Mom, Happy Traveling, Libur Ceria bersama anak, tempra 
Dulu, Keke dan Nai suka gantian minta digendong ma ayahnya. Tapi kalau naik gunung harus digendong juga, kasihan K'Aie hahaha

Itulah kenapa Chi harus bahagia dulu supaya siap menghadapi mood mereka. Kebayang kan kalau badan udah cape karena naik gunung, mood juga jelek, eh anak-anak ngambek. Pengen ngomel gak sih kalau kayak gitu? Beresiko buyar jalan-jalannya kalau semua pada ngambek. Tapi kalau hati Chi udah senang, biasanya bisa lebih sabar kalau mood anak-anak lagi jelek. Malah bisa bikin mereka ceria lagi karena Chi juga percaya kalau mood ibu bisa menular ke anak :)


Ibu yang Bahagia, Siap Packing

Sejujurnya, aktivitas yang paling membosankan dari traveling adalah packing. Pengennya ada tongkat Harry Potter yang tinggal digerakin langsung masuk semua barang yang dibutuhkan hehehe. Jalan-jalan bersama anak butuh persiapan yang lebih matang. Malah ketika Keke dan Nai masih balita, kalau jalan-jalan udah kayak mau pindahan. Yang dibawa banyak banget. Sampe pernah segala panci dan peralatan makan dibawa supaya mereka tetep bisa makan buatan bundanya :D

Kalau sekarang sih udah lebih praktis. Keke dan Nai juga sudah mulai bisa bawa perlengkapan pribadi sendiri. Yang penting jangan sampe kurang bawa pakaian, camilan, peralatan mandi, hingga barang kebutuhan pribadi seperti mainan, buku gambar, atau lainnya.

Walaupun udah beberapa kali jalan-jalan, biasanya Chi tetap bikin daftar bawaan. Tapi, kalau belum jalan aja udah gak semangat, bikin daftar bawaan aja rasanya males. Dan, biasanya ada aja yang ketinggalan. Huff!



Bagaimana Kalau Anak Sampai Sakit Saat Traveling?


Happy Mom, Happy Traveling, Libur Ceria bersama anak, tempra 
Goa Jomblang jadi salah satu destinasi saat kami keliling pulau Jawa. Alhamdulillah, berhari-hari di perjalanan, anak-anak selalu dalam keadaan sehat.

Pengennya sih kalau jalan-jalan gak ada yang sakit. Disiplin makan dan istirahat adalah hal yang wajib kami lakukan ketika melakukan perjalanan. Saat tour keliling pulau Jawa menggunakan mobil, kami memilih jalan siang. Malam hari saatnya nge-charge tenaga dengan istirahat yang cukup di penginapan. Gak ada deh yang namanya begadang. Makan yang benar dan tepat waktu juga kami lakukan.

Happy Mom, Happy Traveling, Libur Ceria bersama anak, tempra 
Saat ke Gunung Padang, Keke sempat sakit selama di perjalanan 

Tapi, walaupun gak sering,  kejadian yang gak diinginkan itu pernah terjadi. Seperti saat kami jalan-jalan ke Gunung Padang, Keke badannya demam. Hampir sepanjang perjalanan dia menangis karena pusing dan mual. Penyebabnya karena terlambat sarapan. Keke memang wajib banget sarapan dan gak boleh telat. Kalau sampe telat, biasanya dia masuk angin dan demam.

Kalau anak lagi sakit, rewelnya pasti ke ibunya. Kalau mood ibunya lagi jelek, nanti malah panikan. Jadi, harus bahagia biar tetap tenang. Untungnya selalu bawa obat P3K setiap kali jalan-jalan. Salah satunya adalah Tempra, obat penurun demam yang bekerja langsung di pusat panas. Sehingga bisa menurunkan demam lebih cepat. Langsung Chi kasih sesuai dosis, Keke pun kembali tenang dan mulai bisa tidur.

Keke udah berusia 12 tahun, berarti udah seusia itu pula perkenalan kami dengan Tempra. Pertama kali mengenal Tempra saat Keke masih bayi. Sejak dia imunisasi pertama kali, dokter anaknya lah yang merekomendasikan untuk selalu sedia Tempra di rumah. Alasannya karena Tempra cepat menurunkan demam.

Keke dan Nai juga lambungnya sensitif. Jadi, gak bisa minum sembarangan obat penurun demam. Obat penurunan demam dengan kandungan paracetamol seperti Tempra paling cocok untuk Keke dan Nai. Gak menimbulkan iritasi lambung. Kasihan banget melihat mereka kesakitan karena pernah salah kasih obat. Makanya, kalau berobat, Chi selalu tanya obat penurun demamnya dan ceritakan kondisi lambung mereka. Kalau udah gitu, biasanya dokter anak akan kasih Tempra.


Happy Mom, Happy Traveling, Libur Ceria bersama anak, tempra

Abis nulis ini, Chi jadi pengen jalan-jalan lagi. Enaknya kemana, ya? Kemanapun itu yang penting Happy Mom, Happy Traveling :)

Continue Reading
54 komentar
Share:

Selasa, 11 Oktober 2016

Jangan Abaikan Kesehatan Daerah Kewanitaan Terutama Saat Menstruasi

Jangan Abaikan Kesehatan Daerah Kewanitaan Terutama Saat Menstruasi, betadine feminine hygine

Jangan abaikan kesehatan daerah kewanitaan terutama saat menstruasi




6 Oktober 2016, Letter D Cuisine and Bar - Jakarta. Sejak kecil mungkin saja kita semua, para perempuan, sudah diajarkan bagaimana menjaga kesehatan daerah kewanitaan oleh ibu. Tetapi, apakah yang diajarkan itu berupa fakta? Atau jangan-jangan bercampur dengan mitos?

Padahal setiap hari kita membersihkan daerah kewanitaan. Tapi masih banyak yang belum memahami bagaimana cara membersihkannya. Sehingga masalah daerah kewanitaan erat dengan keseharian perempuan terutama pada saat menstruasi.


"Organ perempuan itu dari bawah bisa ada saluran kecil yang menyambung ke dalam rongga perut. Sehingga bila terjadi infeksi dari bawah dan naik ke atas mausk ke dalam rahim kemudian ke saluran telur bisa menyebabkan infeksi daerah panggul," ujar dr. Liva Wijaya, SpOG

Berbagai infeksi memang bisa terjadi. Selain infeksi panggul, infeksi yang berulang juga akan meningkatkan resiko infeksi saluran kencing, infertilitas, kanker serviks, kerusakan sistem imun tubuh, dan infeksi menyeluruh. Tidak hanya 'menyerang' daerah kewanitaan, tapi seluruh tubuh hingga ke otak pun bisa terkena dampaknya bila mengabaikan kesehatan daerah kewanitaan. Saluran buang air kecil dan saluran buang air besar itu berdekatan. Apabila tidak dijaga, bakteri dari saluran buang air besar bisa berpindah ke saluran buang air kecil begitu pula sebaliknya.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan daerah kewanitaan, yaitu


  1. Cuci daerah vulva dengan air bersih dan sabun yang tidak menimbulkan iritasi
  2. Tidak melakukan praktek douching / internal cleaning secara mandiri
  3. Cuci cebok dari arah depan ke belakang, dikeringkan dnegan handuk / tissue dengan arah sama dan tidak berulang
  4. Gunakan handuk / tissue sekali pakai
  5. Underwear yang nyaman terbuat dari katun yang dapat menyerap keringat dan tidak terlalu ketat
  6. Bila lembab segera ganti
  7. Ganti pembalut / pantyliners secara berkala maksimal 3-4 jam sekali
  8. Tidak menggunakan bahan-bahan, lotion, atau cairan bila tidak direkomendasi oleh dokter
  9.  Tidak memberi bedak atau minyak
  10. Ganti tampon atau cup secara berkala setiap 3-4 jam
  11. Cuci tangan dengan sabun sebelum cebok
  12. Cuci pakaian dan underwear yang baru dibeli sebelum dipakai
  13. Tidak saling pinjam handuk atau pakaian dalam
  14. Save sex
  15. Tidur cukup, olahraga, nutrisi baik, menghindarkan rokok dna alkohol
  16. Bila terdapat keluhan daerah vulva vagina segera cek
  17. Perempuan yang sudah berhubungan seksual, lakukan pengecekan genitalia interna dan pap smear secara berkala

Daerah kewanitaan yang sehat memiliki pH 3,8-4,5. Kondisi pH ini harus dipertahankan agar tetap sehat. Tetapi ada beberapa faktor yang bisa mengubah pH, salah satunya adalah saat menstruasi. Dengan meningkatnya pH, jumlah bakteri di daerah kewanitaan semakin bertambah. Akibatnya kontaminasi bakteri meningkat dan bisa mengakibatkan berbagai gangguan seperti rasa terbakar, iritasi, bau tak sedap, dan keputihan.

"Salah satu pembersih yang terbukti dapat mengurangi jumlah bakteri buruk sekaligus mengembalikan kondisi flora bakteri natural pada daerah kewanitaan adalah Povidone - Iodine. BETADINE Feminine Hygiene yang mengandung Povidone - Iodine 10% merupakan salah satu solusi yang telah terbikti secara medis dalam menjaga kebersihan kewanitaan saat resiko infeksi meningkat termasuk saat periode menstruasi," ujar Merry Sulastri, Educator and Trainer Mundipharma

BETADINE termasuk antiseptik yang lengkap karena dapat membunuh patogen bakteri, virus, dan jamur. Povidone - Iodine pada BETADINE memiliki manfaat yaitu

  1. Mempunyai riwayat panjang sebagai antisepsis yang ampuh - sejak dulu BETADINE sudah dikenal sebagai antiseptik yang ampuh
  2. Tidak menimbulkan resistensi yang bermakna secara klinis - Kuman tidak akan menjadi kebal bila menggunakan BETADINE
  3. Lingkup formulasi yang luas - Produk BETADINE ada berbagai macam, termasuk di dalamnya BETADINE Feminine Hygine. Dan ke depannya akan ada berbagai inovasi baru

Jangan Abaikan Kesehatan Daerah Kewanitaan Terutama Saat Menstruasi

Andra Alodita, blogger,  bercerita tentang pengalamannya saat Tuba Fallopi-nya harus diangkat dan memiliki bayi tabung. Di usia yang saat itu masih muda (26 tahun), perasaan Andra campur-aduk. Sejak itu, Andra lebih peduli untuk menjaga kesehatan daerah kewanitaannya.

BETADINE Feminine Hygine bukanlah antiseptik yang harus dipakai secara terus-menerus. Tetapi digunakan hanya saat perlu. Biasanya, saat menstruasi resiko infeksi meningkat. Pada saat itulah BETADINE Feminine Hygine bisa digunakan.

Untuk perempuan yang sudah menopause juga bisa tetap menggunakan pembersih antiseptik ini asalkan ada indikasi gangguan di daerah kewanitaan, seperti keputihan, gatal-gatal, dan lain sebagainya. Ibu hamil pun aman menggunakannya karena BETADINE Feminine Hygine adalah obat luar atau tidak dimasukkan ke dalam daerah kewanitaan.

Kalau lihat berbagai resikonya yang bisa mengerikan, memang sebaiknya mulai saat ini juga lebih perhatian dengan kesehatan daerah kewanitaan, ya.


Jangan Abaikan Kesehatan Daerah Kewanitaan Terutama Saat Menstruasi

Continue Reading
10 komentar
Share:

Rabu, 05 Oktober 2016

Redup atau Terang?

lampu philips sceneswitch led

K'Aie: "Bun, matiin lampunya."

Kalau sekarang K'Aie minta tolong matiin lampu, Chi sih nyantai aja. Tinggal matiin trus nyalain lampu baca. Malah udah lama juga gak nyalain lampu baca. Penerangan mengandalkan lampu terang di luar kamar yang cahayanya masuk melalui jendela kecil di atas pintu kamar. Jadi, walaupun kamar dimatiin lampunya tetap gak akan terlalu gelap.

Urusan gelap dan terang di kamar tidur memang sempat jadi perbedaan di antara kami. Untung dulu masih jadi pengantin baru, jadi gak ada perang besar hehehe. Enggak, ding. Gak perlu sampe ribut juga tapi memang biasanya K'Aie yang awalnya mengalah. Biasanya, K'Aie akan menutup matanya dengan bantal kalau lampu kamar masih menyala. Lama-lama, Chi juga yang pengap lihat cara tidur K'Aie.

Tapi, buat tidur gelap-gelapan, Chi juga gak bisa. Susah aja buat tidur. Walaupun sekarang udah biasa tidur dengan lampu redup tapi kalau tiba-tiba mati listrik di malam hari, bisa bikin Chi spontan bangun. Padahal K'Aie mah tetep aja tidur nyenyak. Gak suka tidur dengan suasana yang terlalu gelap. Solusinya pakai lampu baca atau mengandalkan lampu di ruangan lain yang cahanya sedikit masuk ke kamar.

Teman-teman ngalamin hal sama kayak gitu, gak?

Kalau iya, santai aja karena selalu ada solusinya. Seperti yang tulis di awal itu bisa jadi salah satu solusinya. Tapi .... Sekarang Chi pake Philips SceneSwitch LED. Semua lampu di rumah Chi udah pake lampu Philips karena udah terbukti awet dan hematnya. Sekarang ada inovasi terbaru dari Philips yaitu SceneSwitch LED.


"Hanya 10% dari konsumen global yang bisa meredupkan cahaya lampu di rumah mereka. Rangkaian LED baru kami memberikan solusi untuk mengatasi hal ini. Membuat Anda dapat dengan mudah mengubah pengaturan dari cahaya yang terang untuk konsentrasi detail, kemudian cahaya normal, hingga cahaya redup. Semua kini hanya dengan jentikan tombol lampu yang sudah ada. Tidak perlu memasang dimmer atau membuat perubahan lain untuk mengubah sebuah ruang benar-benar menjadi ruang serbaguna, "sahut Mahesh Iyer, Leader of Philips Lighting LED Business Group.

Jadi, dalam 1 bohlam Philips SceneSwitch LED ini memiliki 3 tingkatan cahaya, yaitu terang, normal, dan redup. Sebelumnya teman-teman mungkin sudah mengenal dimmer, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk mengatur tingkatan cahaya pada lampu. Tapi, masangnya kan cukup ribet, ya. Bahkan berdasarkan survei di Jerman, sekitar 22% hasil survei mengatakan kalau memasang dimmer itu terlalu rumit. Nah, kalau pakai Philips SceneSwitch LED ini gak ada bedanya seperti pasang bohlam biasa. Chi aja bisa kok kalau cuma pasang bola lampu aja.  Setelah terpasang, tinggal jentikan tombol lampu sampai dapat tingkat cahaya yang diinginkan.

Faktor melonjaknya harga perumahan saat ini membuat banyak orang memiliki rumah kecil. Tentu saja dengan luas rumah yang kecil, jumlah ruangan pun terbatas. Sehingga keinginan banyak orang saat ini adalah memiliki ruang yang serbaguna. Padahal untuk setiap fungsi ruangan tingkat pencahayaan sebaiknya berbeda-beda.

Contohnya di dalam kamar, biasanya aktivitas yang dilakukan selain tidur adalah berdandan dan membaca. Bagaimana dengan kebutuhan cahayanya?


  • Terang - Biasanya Chi butuh cahaya yang terang kalau lagi dandan walaupun sekadar pake bedak.  Biar gak belang-belang di muka. Jangan sampe hasil dandanan terlalu menor atau gak rata di sana-sini.
  • Normal - Kalau untuk membaca buku atau nge-blog, pencahayaan alami rasanya cukup. Terlalu terang malah silau.
  • Redup - Biasanya butuh cahaya redup kalau udah mau istirahat. Nonton tv dulu lah sebelum tidur sampai akhirnya tidur. Lama-lama Chi juga mulai terbiasa tidur dengan cahaya redup. Malahan lebih nyenyak.

Tes Philips SceneSwitch LED yang berwarna putih di rumah. Di ruangan ini biasanya ada 3 lampu. Tapi kali ini coba nyalain 1 lampu aja untuk nge-test. 

Cukup punya 1 lampu jadi berasa kayak punya 3 lampu kalau pakai lampu Philips SceneSwitch LED. Tersedia dalam 2 warna pilihan, yaitu putih dan kuning. Tinggal teman-teman sesuaikan saja berdasarkan ruangannya. Cahaya dapat memiliki peran yang berbeda di setiap ruangan.

Pencahayaan memainkan peran emosional dalam rumah tangga Indonesia, membantu untuk merasa betah di rumah dan menciptakan rasa kesejahteraan.

Sumber: penelitian Ipsos di Indonesia dilakukan oleh Philips Lighting Hue Mei 2016

Continue Reading
44 komentar
Share: