Friday, October 31, 2014

Sudah Menikah Tapi Masih Tinggal Dengan Orang Tua

Sudah Menikah Tapi Masih Tinggal Dengan Orang Tua

Kalau di luar sana, beberapa ibu sibuk melakukan 'Moms War', kalau 'war' Chi adalah bersama orang tua. Hehehe enggak, ding. Nanti dianggap anak durhaka kalau war sama orang tua :p

Sampe saat ini Chi memang masih tinggal sama orang tua. Dulu Chi suka males bercerita kalau masih tinggal orang tua. Abis suka ada aja yang merasa berhak menceramahi kalau sudah menikah sebaiknya tinggal terpisah. Idealnya memang begitu, tapi setiap orang kan punya alasan masing-masing. Bahkan ada yang alasannya pribadi banget. Dan gak perlu juga kita woro-woro ke semua orang alasannya.

Sesungguhnya tinggal bersama orang tua juga ada suka dukanya. Sukanya tentu banyak. Paling tidak kalau Chi lagi membutuhkan bantuan keluarga, gak perlu terlalu pusing karena sudah dikelilingi orang-orang terdekat.

Katanya kalau sudah menikah sebaiknya hanya ada 1 nakhoda. Tapi, itu kan hanya berlaku untuk pasangan suami istri. Kalau disini kondisinya dalam 1 atap ada 2 rumah tangga. Gak apa-apa juga ada 2 nakhoda karena tiap rumah tangga punya kapal masing-masing. Intinya, biarpun kami masih tinggal bersama orang tua Chi, tetep aja untuk urusan rumah tangga ya masing-masing. Chi dan K'Aie kan juga mau belajar mandiri.

Tapi, kali ini Chi mau cerita tentang dukanya. Cuma sebelum bercerita, Chi harus menjelaskan dulu alasannya biar gak ada yang salah paham. Alasannya adalah:


  1. Yang Chi posting ini bukan bermaksud untuk menceritakan aib keluarga. Chi hanya menceritakan beberapa permasalahan yang mungkin saja secara umum dirasakan oleh keluarga yang masih tinggal dengan orang tua. Tentu aja dibarengi dengan solusi yang pernah Chi lakukan.
  2. Chi hanya membatasi 3 masalah saja. Kalau kebanyakan nanti disangka curhat hehehe. 3 masalah yang ditulis ini karena Chi pernah ngalamin. Dan kemungkinan juga yang lain pun pernah ngalamin


Berbagai Masalah yang Timbul Saat Masih Tinggal Bersama Orang Tua



Menyalahkan benda mati

Beberapa waktu lalu, Chi menulis status di FB kalau kita sebaiknya tidak membiasakan untuk selalu menyalahkan benda mati (ada juga yang menyalahkan kodok, padahal kodoknya gak ada), setiap kali anak mengalami kecelakaan kecil. Chi pun kembali membahas masalah ini di postingan yang berjudul "Mungkinkah Orang Tua Yang Menjadi Sumber Penyebab?"

Dari komentar yang masuk, beberapa mengatakan kalau tidak pernah melakukan hal itu. Sayangnya orang-orang sekitar yang melakukan hal tersebut. Chi asumsikan orang-orang terdekat yang dimaksud adalah kakek-nenek, pengasuh, atau tetangga. Tapi, rasanya kecil kemungkinan kalau itu tetangga, ya? Kecuali kalau si anak memang rajin nenangga tiap hari :D

Apalagi kebiasaan menyalahkan benda mati itu termasuk model pola asuh jaman dulu. Ya walopun gak semua orang jaman dulu kayak begitu.

Kesal rasanya kalau kita sudah berusaha mengajarkan anak dengan tidak menyalahkan benda mati ketika mereka mengalami 'kecelakaan kecil'. Orang-orang sekitar malah mengajarkan seperti itu. Chi pun pernah ngalamin seperti ini. Duh rasanya...



Kakek dan Nenek dijadikan tempat berlindung

Sepertinya sudah umum kalau yang namanya Kakek atau Nenek lebih memanjakan cucu ketimbang mendisiplinkan. Ketika Chi berusaha bersikap tegas sama anak-anak, mereka akan mendekat ke kakek-neneknya seperti meminta perlindungan. Akhirnya, bisa ketebak lah. Chi suka ditegur (biar kata udah menikah, tetep aja di mata orang tua kita tetep anak yang bisa ditegur hehe).

Kalau udah begini, rasanya tambah berat usaha Chi untuk mendisiplinkan anak. Karena merasa seperti 'dimentahkan' usaha untuk mendidik anak-anak.



Dianggap menjauhkan cucu

Ketika masih sekitar umur 4-6 tahunan, Keke suka kepengen tidur sama kakek-neneknya. Chi hanya membolehkan tidur bersama kakek-nenek kalau wiken atau lagi libur sekolah. Kalau Keke sudah keburu tidur dikamar kakek-neneknya, biasanya suka Chi gendong ke kamar.

Nah, biasanya orang tua Chi suka rada sensi. Disangkanya ingin menjauhkan cucu dari mereka. Padahal bukan begitu. Saat itu, Keke masih suka terbangun di tengah malam. Biasanya Chi dan K'Aie udah hapal gelagat kalau Keke mau bangun di tengah malah. Kalau udah gitu, jangan nunggu sampe Keke benar-benar bangun. Langsung usap-usap punggungnya supaya Keke langsung tidur lagi.

Kalau gak langsung ditidurin lagi, bisa-bisa Keke keburu segar. Dan, baru tidur 2-3 jam kemudian. Akibatnya besok paginya dia akan susah dibangunkan buat sekolah. Kalau udah susah banget, akhirnya bolos. Makanya, Chi hanya mengizinkan Keke tidur bersama kakek-neneknya kalau lagi libur aja.

Chi beberapa kali coba mengalah dengan mengizinkan Keke tidur bersama kakek-neneknya. Tapi, ketika tengah malah dia terbangun, gak ada yang langsung usap-usap punggungnya. Karena kakek-neneknya udah nyenyak tidur. Diam-diam, Keke pindah ke kamar orang tuanya tanpa kakek dan neneknya tau. Kalau udah pindah kamar, Chi gak pernah berhasil bikin Keke langsung tidur lagi. Keke udah terlanjur segar dan baru bisa tidur lagi 2-3 jam kemudian.



Solusi Tinggal Bersama Orang tua Setelah Menikah



Komunikasi dengan orang tua

Komunikasi dan diskusikan masalah yang mengganjal tersebut dengan orang tua. Jelaskan kenapa kita merasa kurang setuju. Tinggal boleh satu atap, tapi sudah ada 2 nakhoda di dalamnya. Dan, untuk urusan anak-anak, kita sebagai orang tualah yang wajib menjadi nakhoda mereka. Tentu saja dalam hal ini, antara suami dan istri harus kompak dulu. Jangan sampai udah sama orang tua gak sepakat, dengan pasangan juga begitu. Jadi dobel masalahnya.


Komunikasikan juga dengan anak

Ada lebih dari 1 peraturan untuk hal yang sama bisa mengakibatkan anak menjadi bingung. Kalau udah begitu anak akan memilih mana yang enak buat mereka dan bukan karena benar atau salah. Seperti contoh kasus kedua, Chi atau K'Aie berusaha mendisiplinkan atau sesekali menegur, mereka akan segera berlindung dibalik kakek-nenek. Bukan tentang benar atau salah, tapi mendapat perlindungan dan pembelaan memang lebih enak ketimbang mendapat disiplin apalagi teguran. Tunjukkan kalau kita gak setuju dengan sikap anak. Ajarkan anak-anak bagaimana mereka harus bersikap yang benar menurut kita.


Cara Berkomunikasi



Hormati orang tua

Ketika kita mengajak orang tua berdiskusi yang harus kita lakukan pertama kali adalah menghormati mereka. Biar gimana mereka orang tua kita. Kita juga gak mau kan kelak anak-anak sampe gak menghormati kita?


Hati boleh panas, tapi otak harus tetap dingin

Chi juga pernah mengalami diskusi dengan emosi. Tapi, memang apapun masalahnya, gak akan pernah berhasil kalau diskusinya pake emosi. Jadi kalau ada ketidakcocokan, redakan dulu emosinya. Jangan juga berpikir menang-kalan. Usahakan win-win solution :)


Jangan berharap proses instan

Orang tua mungkin punya ego, merasa lebih banyak makan asam garam dalam urusan mengurus anak. Jadi ketika mendapat masukan belum langsung terima. Apalagi yang menjadikan kita bisa seperti ini kan juga andil besar orang tua. Dimaklumi aja dulu, tapi jangan juga langsung putus komunikasi karena kita kesal.

Kalau sama anak hambatannya kemungkinan cara berpikir. Apalagi kalau anak masih balita. Walopun sudah berusaha menyesuaikan dengan cara berpikir mereka, mengajarkan anak balita tentang hal seperti ini bukan sesuatu yang mudah. Seringkali bikin kita gregetan.

Pokoknya jangan berharap proses instan, deh. Tarik-ulur aja kayak main layangan. Cari waktu yang tepat. Kalau sikon lagi gak memungkinkan untuk berdiskusi, jangan dipaksain. Jangan paksakan ego orang tua bisa luluh secara langsung. Ego berbenturan dengan ego malah bisa saling meninggikan ego. Jangan juga memaksakan anak untuk langsung paham dengan yang kita mau.

Komunikasinya bisa berkali-kali untuk kemudian bisa bikin masing-masing pihak saling mengerti dan menghargai. Pelan-pelan tapi konsisten. Lagian yang namanya instan itu cuma enak di awal, kedepannya belum tentu baik :D

Apabila tejadi perbedaan pola asuh dengan pihak lain, yang perlu diingat adalah harus ada yang dominan dalam hal pola asuh. Menurut Chi, orang tua lah yang seharusnya paling dominan. Karena orang tua selain paling punya hak  juga harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Kalaupun ada keterbatasan waktu untuk mengurus anak, tetap jadi tanggung jawab orang tua untuk mencari orang yang paling dipercaya untuk mengasuk anak-anak. Jangan sampe ketika perilaku anak ada yang kurang sreg trus kita dengan entengnya bilang, "Itu gara-gara diasuh sama kakek-neneknya, makanya anak saya jadi kayak gitu." Lha, trus peran kita sebagai orang tua gimana?

Sekali lagi, postingan bukan bermaksud untuk menjelekkan orang tua sendiri, ya. Hanya ingin berbagi pengalaman karena masalah-masalah seperti ini cukup umum terjadi. Sayangnya, gak semua bisa diselesaikan dengan baik. Silakan kalau memang ada masukan lain dari teman-teman. Kita saling berbagi pengalaman di sini ;)

Tuesday, October 28, 2014

Raport Bayangan Semester Ganjil 2014

Raport Bayangan Semester Ganjil 2014

Hari Sabtu lalu (25/10), Keke dan Nai terima raport bayangan. Hasilnya adalah sebagai berikut...

Nai

Biasanya, Chi cerita tentang Keke dulu. Kali ini, Nai aja dulu. Menurut wali kelas, Nai bisa dibilang 'perfect'. Nilai akademis, sikap, keaktifan di kelas, tata tertib di sekolah, dan lainnya semua jempolan. Wali kelas sampai bilang seandainya semua muridnya seperti Nai, rasanya bakal bahagia banget :)

Alhamdulillah, Chi seneng banget dengernya. Paling sedikit catatan kecil aja, Nai suka terlihat agak gak pede kalau sedang ulangan. Padahal untuk hal-hal lain dia pede. Lagipula nilai-nilainya selalu bagus-bagus, hampir semuanya perfect.


Keke

Di pengambilan rapor kali ini, ceritanya lebih berwarna-warni ketimbang pengambilan raport yang dulu-dulu. Nilainya ada beberapa yang turun. Mulai ada beberapa nilai di angka 8 dan 7 (kalau gak salah 76), walopun tetep masih banyak nilai 9 komanya, sih. Diantara murid laki-laki sekelasnya, masih tetap termasuk yang menonjol nilai-nilainya. Hanya saja kalau dibandingkan secara keseluruhan, paling tidak ada 3 anak perempuan yang unggul di kelas.

Sifatnya juga mulai berwarna-warni, mulai ada cerita-cerita dihukum karena melakukan kesalahan. Keke masih tetap anak yang berani bertanya dan berdiskusi. Hanya saja ketika melakukan debat pelajaran dengan anak perempuan, Keke suka terlihat agak mengalah.

Untuk nilai akademis, Keke nyaris sempurna di pelajaran Matematika dan IPA. Cuma, perlu dikasih perhatian untuk pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris (bahasa Arab dan Sundanya malah bagus hihi). Beberapa kali dia mendapat nilai 8 koma sekian ketika ulangan bahasa Indonesia atau Inggris.

Untuk bahasa Inggris, memang lagi sering belajar kata lampau, sih. Jadi memang Chi rasa kuncinya harus sering dibiasakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kata lampau. Sedangkan untuk pelajaran Bahasa Indonesia, Keke agak lemah kalau harus bikin pantun. Hahaha... Kalau itu Chi garuk-garuk kepala aja, deh. Chi juga agak kesulitan kalau harus bikin pantun :p

Yang paling harus dikasih catatan adalah pelajaran Aqidah dan Akhlak. Banyak bacaan hadist dan artinya yang kurang Keke kuasai. Kayaknya Chi harus kejar untuk pelajaran ini.


Evaluasi

Chi coba evaluasi satu per satu, ya. Penyebab Nai gak suka terlihat gak pede mungkin karena dia selalu khawatir Chi akan marah kalau dia mendapatkan nilai dibawah 9. Ketika anak-anak mendapatkan nilai dibawah 9, Chi memang selalu bertanya "Kok, dibawah 9 nilainya?"

Chi itu gak marah sebetulnya. Cuma kenapa Chi tanya kayak gitu, karena Chi tau mereka sudah belajar. Udah Chi tes juga di rumah. Kalau nilainya sampai di bawah 9, kemungkinan ada penyebab lain. Bisa jadi karena soalnya yang di luar dari apa yang udah dipelajari. Chi akan memperlihatkan rasa kecewa kalau hasilnya kurang memuaskan karena sebelumnya waktu disuruh belajar mereka lagi susah banget. Kepengen main terus. Kalau udah gitu biasanya gak cuma rasa kecewa, nasehat (baca: omelan) panjang pun akan keluar hehe.

Nah, rupanya Nai suka agak sensi. Dia khawatir banget mengecewakan Chi. Chi suka ngerasain, sih, setiap kali selesai ulangan di hari itu trus Chi tanya gimana ulangannya, dia suka mengeluh susah dan gak bisa. Padahal ternyata hasilnya bagus banget. PR buat Chi untuk coba memperbaikin komunikasi dengan anak-anak untuk hal ini. Dan, berusaha membangkitkan rasa percaya diri Nai.

Kalau Keke, Chi lihat lagi masanya, nih. Lagi seneng-senengnya main dan bergaul. Sebetulnya gak cuma Keke, umumnya teman-temannya juga begitu sekarang. Makanya walopun Chi tetap berusaha mengajarkan anak sesuai dengan karakter mereka dan dengan cara menyenangkan, tetep aja ada kondisi dimana Keke mulai agak susah diajak belajar.

Rasanya Chi harus mulai cari cara baru lagi. Untuk usia Keke rasanya udah gak cukup kalau kita hanya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Rasanya Chi juga harus semakin menanamkan motivasi ke Keke tentang pentingnya belajar. Biar dia ada kesadaran dan semangat untuk belajar.Dalam pikiran Chi, kalau dia bisa semangat untuk bergaul, maka pasti ada cara untuk bikin dia juga semangat untuk belajar.

Bisa dan harus bisa! Optimis aja dulu. Iya, gak? Mudah-mudahan nilai akademis dan laporan sikap di raport semester ganjil sudah lebih baik lagi. Aamiin ;)

Thursday, October 23, 2014

Mungkinkah Orang Tua Yang Menjadi Sumber Penyebabnya?

Mungkinkah Orang Tua Yang Menjadi Sumber Penyebabnya?

Bullying, pelecehan pada anak, pornografi anak, kekerasan pada anak, dan tawuran. Apa yang ada di benak kita ketika mendengar atau membaca 5 kata tadi? Yang jelas buat Chi semuanya itu sesuatu yang negatif. Kalau mau lebih jelas lagi definisi masing-masing kata tadi, silakan cari di Google.

Buat Chi, kelima hal yang disebut diatas adalah ancaman yang nyata. Bahkan sejak dulu, misalnya bullying. Zaman kita sekolah suka ada yang namanya senior-junior. Trus yang senior suka ada yang 'ngegencet' junior. Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah sebetulnya itu salah satu bentuk bullying? Cuma bahasanya aja gak sekeren sekarang. Dulu kita bilangnya 'gencet', sekarang 'bully'.

Jadi, tanpa perlu Chi menunggu ada heboh kasus tertentu, tanpa perlu melihat video tertentu, proteksi dini dimulai dari rumah sejak mereka lahir itu suatu kewajiban. Memproteksi bukan berarti memberatkan langkah anak-anak. Tapi, kita berusaha untuk membimbing mereka agar jangan jadi pelaku atau korban.

Ketika terjadi suatu kasus dimana si anak menjadi pelaku, mungkin gak sih orang tua juga ikut menjadi sumber penyebab? Padahal kejadian bukan di rumah. Misalnya, di sekolah. Seharusnya sepenuhnya jadi tanggung jawab pihak sekolah, kan? Hmmm... Coba lihat beberapa hal dibawah ini, ya...



"Sini, Bunda pukul lantainya. Nakal, ya, lantainya"


Pernah gak ketika anak terjatuh, kejedot, atau mengalami kecelakaan kecil lainnya, kemudian kita menyalahkan benda mati? Kalau gak pernah, mungkin kita pernah melihat kejadian kayak gitu? Menurut Chi, sebaiknya mulai brenti deh menyalahkan benda-benda mati ketika anak mengalami 'kecelakaan'. Alasannya:

  1. Anak belajar menyalahkan pihak lain yang belum tentu bersalah - Apa salah benda mati? Dari dulu lantai memang ada disitu, tembok juga tetap disana. Kalau mereka bersalah, apa kita robohkan temboknya? Bongkar lantainya? Atau buang mejanya?
  2. Anak juga harus belajar dari rasa sakit - Yang namanya jatuh, kejedot, dan kecelakaan kecil lainnya memang sakit. Wajar kalau anak menangis. Tapi, kalau kita bisa secara tepat mencari akar permasalahannya, anak juga bisa belajar dari pengalaman tersebut. Misalnya, anak jatuh karena lari-larian, padahal udah dibilangin kalau lantai baru di pel. Setelah tangisnya reda, kita bisa menjelaskan dengan bahasa yang bisa diterimanya supaya lain kali lebih hati-hati.
  3. Anak belajar menyelesaikan masalah secara instan. - Ketika orang tua menyalahkan benda-benda mati, biasanya diikuti dengan memukul benda mati tersebut. Umumnya anak-anak akan cepat berhenti nangis setelah melihat orang tuanya memukul benda yang dianggap bersalah. Orang tua pun lega karena anak berhenti menangis. Tapi, itu solusi instant. Anak tidak diajarkan untuk menganalisa masalah dan introspeksi dari persoalan. Yang  namanya instant itu memang enak. Tapi, kalau terus dibiasakan gak baik untuk jangka panjang.
  4. Anak belajar membully - melihat orang tuanya memukul benda mati, biasanya anak kepengen ikutan. Jadilah orang tua dan anak sama-sama memukul benda yang tidak bersalah. Biasanya mukulnya pake nafsu. Plak! Plak! Plak! Disadari atau tidak yang kayak gitu mengajarkan anak untuk membully, lho.


"Gara-gara kodok, ya? Nanti kalau kodoknya dateng lagi, Bunda usir."


Mirip dengan menyalahkan benda-benda mati, tapi kali ini kodok yang jadi sasaran kesalahan. Apa salah kodooookk???

Efeknya bisa sama kayak contoh yang menyalahkan benda-benda mati itu. Bahkan ada tambahan lagi, anak bisa belajar berbohong. Karena, seringkali kodoknya itu gak ada! Orang tua cuma cari-cari kesalahan dari sesuatu yang gak ada supaya anak brenti nangisnya.



    "Jangan nonton Tom and Jerry. Mengajarkan kekerasan."


    Seorang teman, pernah mengingatkan Chi supaya jangan pernah memberi anak tontonan Tom and Jerry. Anak-anak bisa belajar kekerasan, termasuk membully dari film tersebut.

    Pendapat temen Chi ada benarnya. Tapi, Chi juga sebetulnya pengen bilang kalau waktu kecil, Chi pun kenyang dengan tontonan seperti Tom and Jerry, Google Five, Megaloman, dan lain-lain. Dan, gak bikin Chi jadi berandalan atau suka ngebully. Murni menonton tayangan seperti itu hanya untuk hiburan. Cuma di depan temen, Chi nyengir aja. Karena kalau Chi bantah, bakal jadi perdebatan panjang hehehe.

    Chi rasa, kuncinya itu di komunikasi. Sebagai orang tua, kita harus tau persis apa aja yang ditonton sama anak-anak. Jangan pernah lelah untuk mengingatkan mereka supaya jangan ditiru. Tunjukkan mana yang baik dan buruk.

    Bukan berarti Chi gak memfilter tontonan Keke dan Nai, ya. Tetep ada tontonan yang terlarang buat mereka sampai saat ini karena memang belum saatnya. Cuma setiap keluarga kan punya standar masing-masing tentang mana yang boleh ditonton dan tidak. Dan, itu gak usah diperdebatkan. Kalau ada keluarga yang benar-benar ingin anaknya bersih dari segala tontonan, silakan aja. Cuma, kalau suatu saat, anak ke luar rumah dan melihat sesuatu yang gak baik padahal selama ini dia hanya melihat yang baik, sebagai orang tua kita juga harus mampu menjelaskan. Jalin komukasi yang baik pokoknya. :)

    Children See, Children Do.

    Banyak yang bilang kalau anak adalah seorang peniru ulung. Ibarat spons, kualitas spons anak adalah terbaik. Kemampuan daya serapnya masih sangat tinggi. Itu karena kemampuan alamiah seorang anak adalah meniru. Children see, children do. Bukan mengerti benar atau salah. Anak bisa mengerti benar atau salah karena diberi tahu.

    Ketika Chi mau masukkin Keke ke ekskul Taekwondo, salah seorang kerabat mengingatkan untuk mengimbangi dengan memberikan pengertian untuk apa itu Taekwondo. Maksud orang tua mengkursuskan anak-anak ke kursus bela diri (gak hanya Taekwondo) pasti baik. Biar anak punya ilmu untuk melindungi dirinya.

    Tapi, kadang orang tua suka ada yang lupa untuk menjelaskan. Mungkin merasa udah memberikan yang terbaik untuk anak, maka anak akan mengerti dengan sendirinya. Padahal kalau anak gak dikasih penjelasan tentang manfaat punya ilmu bela diri, bisa-bisa malah anak menyalahgunakan ilmu yang dia punya. Apalagi kalau ditambah dengan hobinya menonton film kekerasan dan tidak pernah mendapat bimbingan. Jadi, sesuatu yang baik buat orang tua, belum tentu dianggap baik bagi anak. Itu karena anak gak ngerti.

    Chi juga pernah cerita di blog ini kalau Keke pernah marah besar dan mendorong salah seorang temannya yang selalu ingin memeluk dan menciumnya. Sebelumnya Keke udah bilang kalau dia gak suka diperlakukan seperti itu. Ketika temannya gak juga nurut dan terus berusaha memeluk serta mencium, maka Keke pun melakukan perlawanan.

    Tapi setelah Chi ngobrol dengan wali kelas Keke, Chi pun jadi paham kenapa teman Keke seperti itu. Kemungkinan, selama ini temen Keke diajarkan kalau menunjukkan rasa sayang itu dengan peluk dan cium oleh orang tuanya. Memang benar, peluk dan cium itu bentuk kasih sayang. Chi juga sering kasih pelukan dan ciuman ke Keke dan Nai. Tapi, sebagai orang tua juga harus menjelaskan ke anak, kepada siapa aja kita boleh menunjukkan rasa sayang dengan cara memberi pelukan dan ciuman. Tentu aja gak boleh ke semua orang menunjukkan rasa sayang seperti itu.

    Mungkin kalau dirinci bisa lebih banyak lagi 'kesalahan' orang tua? Orang tua yang justru menjadi penyebab utama segala masalah anak. Padahal umumnya orang tua ingin melakukan yang terbaik bagi anak. Tapi, mungkin gak ngerti caranya. Apalagi anak-anak kan bukan robot. Belum tentu bisa menerapkan formula yang sama ke semua anak. Bahkan ke semua anak kandung sekalipun. Masing-masing anak punya karakter.

    Fiuuuhh! Berat jadi orang tua, ya *Lap keringet Padahal yang namanya orang tua gak ada sekolahnya. Seumur hidup belajar, seumur hidup dapet PR tentang anak-anak. Tapi, bukan berarti harus ditakuti. Rasa khawatir wajar banget, asal kemudian diolah menjadi waspada. Yuk, kita sama-sama introspeksi. Dan, sama-sama berbagi pengalaman menjadi orang tua. Sesama orang tua harus saling support. Apalagi gerbang awal pendidikan bagi anak adalah orang tua

    Tuesday, October 21, 2014

    Lebih Pede Senyum Karena Jakarta Smile

    Lebih Pede Senyum Karena Jakarta Smile

    Buat Chi yang namanya ke dokter gigi itu semacam uji nyali dan pertarungan gengsi. Jujur aja, Chi itu takut ke dokter gigi. Ups! *lirak-lirik, berharap Keke dan Nai gak tau hehe

    Mendengar kata dokter gigi aja udah bikin Chi horror dan ngilu. Rasanya, Chi belum pernah nemuin dokter gigi yang menyenangkan. Walopun udah bertahun-tahun berlalu, masih ingat banget gimana sakitnya saat dicabut padahal katanya udah dibius. Ketika gigi geraham kanan bawah ditambal karena berlubang, bukannya sembuh malah jadi tambah sakit. Akhirnya, Chi cabut sendiri tambalannya. Memang sih sakitnya jadi hilang. Tapi, lama kelamaan graham Chi pun jadi rusak bahkan mulai habis.

    Seringkali ketika bercermin, Chi pengen mencabut graham tersebut. Gemas banget lihatnya karena tinggal sepotong. Tapi, setiap kali pula, rasa takut untuk ke dokter gigi itu masih ada. Akhirnya, nyali ini ciut lagi. Lagian, kalau dipikir-pikir, gigi Chi baik-baik aja dalam artian udah lama sekali gak pernah sakit gigi. Rasanya gak perlu ke dokter gigi, kan?

    Pembenaran Chi itu sebetulnya gak tepat . Ke dokter gigi kan sebaiknya jangan sampai menunggu sakit. Gigi yang gak pernah sakit pun bukan berarti gak bermasalah. Kalau nunggu sampe sakit malah gak enak.



    Hari Sabtu (27/9), Chi melakukan me time dengan jalan-jalan sendirian ke Plaza Semanggi. Lha, ada Jakarta Smile. Masuk… gak… masuk… gak…? Antara pengen banget tapi takut. Ketika Chi akhirnya memutuskan untuk masuk artinya lagi uji nyali hehe.

    Chi juga katakan ini sebagai sebuah pertarungan gengsi karena selama ini Chi selalu berusaha meyakinkan Keke dan Nai untuk jangan takut ke dokter gigi. Chi tanamkan pikiran segala manfaat datang ke dokter gigi kepada mereka. Dan, mereka memang lebih berani ke dokter gigi daripada Chi, sih. Selama ini mereka tuh gak tau kalau Chi sebetulnya takut sama dokter gigi *gengsi dong jadi harus pencitraan haha

    Awalnya, Chi pengen melakukan pit & fissure sealant + aplikasi fluoride untuk mencegah gigi berlubang. Jadi, gigi diberi lapisan pelindung agar bakteri perusak gigi tidak bisa masuk ke celah-celah permukaan gigi. Karena, sikat gigi saja seringkali tidak bisa menjangkau sisa makanan dan bakteri yang ada di permukaan gigi karena ukurannya yang terlalu kecil. Geraham Chi kan udah habis 1, masa gigi yang lain juga harus ikutan habis. Rasanya harus mulai melindungi gigi yang lain, deh.


    Gigi geraham biasanya ada cerukan ke dalam. Supaya gak gampang kemasukan bakteri, cerukan ini dilapisi dengan pelindung.

    Setelah masuk ke ruang periksa, drg. Putri yang cantik bilang kalau karang gigi Chi cukup banyak. Jadi, harus dibersihkan dulu. Karena salah satu penyebab gusi sering berdarah itu adalah karena karang gigi. Duh! Asli deg-degan! Chi bahkan sempet bilang kalau ada rasa takut *Tutup muka, ah. Malu hehe. Drg. Putri sih bilang kalau paling cuma ngilu sedikit.

    Kiri: kondisi gigi Chi sebelum dibersihkan karang giginya.
    Kanan: setelah dibersihkan. Jangan khawatir dengan warna merah pada gusi. Itu karena karangnya sudah dihilangkan semua. Nanti juga lama-lama akan normal karena membentuk jaringan baru.

    Ternyata, bener apa yang dibilang sama drg Putri. Ngilunya cuma sedikit banget. Gak seperti yang Chi takutkan selama ini. Trus, ketika drg Putri menawarkan untuk mencabut gigi graham yang udah ancur, Chi sempet nolak. Rasa takut kembali melanda hahaha. Rasa sakit dan gak nyaman saat dicabut gigi beberapa tahun lalu kembali terbayang. Chi takut kesakitan, apalagi setelah dari dokter gigi kan harus pergi ke acara Mom’s Time Out. Masa iya nanti diundangan harus nangis gara-gara sakit. Tapi, dokternya memang selain ramah, pinter sekali meyakinkan Chi untuk akhirnya mau dicabut.

    Drg. Putri : “Ya, selesai dicabutnya.”
    Chi: “Hah? Udah, Dok? Kok, gak berasa?”

    Prosesnya beneran gak berasa sama sekali. Bahkan, Chi juga gak sadar kapan pit & fissure sealant + aplikasi fluoride dilakukan. Pokoknya udah selesai aja. Yang berasanya memang cuma saat membersihkan karang gigi. Itupun rasanya biasa aja, kok. Ngilu sedikit.


    Itu foto gigi geraham Chi yang tinggal sepotong dan belum dicabut. Bagian yang Chi lingkari adalah gigi geraham yang udah dikasih lapisan pelindung. Gak berasa sama sekali prosesnya

    Menurut drg. Putri, sebaiknya pembersihkan karang gigi itu dilakukan 6 bulan sekali. Ah, karena sekarang ketakutan Chi sama dokter gigi udah hilang, kayaknya pengen, deh, rutin melakukan pembersihan karang gigi. Biar makin pede kalau senyum.

    Chi juga tertarik untuk melakukan pit & fissure sealant + aplikasi fluoride buat Keke dan Nai. Kayaknya bagus kalau dilakukan sejak dini. Jangan sampai kayak Chi, nih yang giginya udah keburu hancur. Untung cuma 1 hancurnya.

    Kata drg. Putri sebaiknya dilakukan setelah anak usia 15 tahun. Setelah gigi susu digantikan semuanya oleh gigi tetap. Keke masih 10 tahun, Nai 8 tahun, berarti masih ada beberapa tahun ke depan. Tapi, bukan berarti abai sama kesehatan gigi. Rasanya, Chi juga harus semakin mendisiplinkan lagi tentang pentingnya kesehatan gigi.

    Tagline Jakarta Smile (dibagian kiri bawah di websitenya) adalah “Semua Warga Jakarta Bisa Terus Tersenyum.” Chi kan warga Bekasi, tapi sekarang juga bisa terus tersenyum karena Jakarta Smile, tuh. Berarti siapapun, terutama warga Jakarta, mulai periksa giginya deh biar senyum terus

    Mulai sekarang, Chi berani deh kalau disuruh rutin periksa gigi. Apalagi di Jakarta Smile lagi ada promo keren banget. Berasa banget deh promonya. Coba hubungi aja Jakarta Smile untuk tau lebih lanjut atau mau bikin appointment. Yang jelas sampai sekarang sih promonya masih.

    Brosur promo yang Chi scan

    Jakarta Smile ada di


    Website: www.jakartasmile.com
    FB: Jakarta Smile
    Twitter: @thejakartasmile

    Saturday, October 18, 2014

    Ternyata Keke Suka Menulis

    Ternyata Keke Suka Menulis

    Di blog ini beberapa kali Chi membuat postingan yang mengatakan kalau Keke itu agak susah kalau urusan tulis-menulis. Butuh perjuangan sendiri yang kadang dibumbui dengan 'perang-perang kecil' kalau menyuruh Keke menulis. Keke sepertinya lebih suka berbicara panjang lebar, ketimbang menulis walopun cuma beberapa baris.

    Tapi, sepertinya Chi agak salah menduga.... Beberapa hari lalu...

    Keke:"Bun, Keke mau nulis tentang Clash of Clans (COC), ah"
    Bunda: "Ya, tulis aja."

    Chi waktu itu gak terlalu menanggapi keinginan Keke. Tapi, beberapa hari ini Chi perhatiin dia seperti asik di depan komputer, mengetik sesuatu di Word. Karena penasaran, Chi pun tanya ke Keke. Soalnya dia jarang banget buka Word kecuali tugas sekolah hehe. Ternyata, dia benar-benar menulis!

    Setiap hari Keke menulis tentang game favoritnya ini. Tulisan semacam diary gitu. Pengalamannya ketika bermain COC. Dan, semuanya dia tulis dalam bahasa Inggris.

    COC adalah game strategi tentang membangun dan memperluas desa. Masing-masing pemain, dianggap sebagai pemimpin desa harus punya strategi. Strateginya tidak hanya tentang membangun  dan mengembangkan desa yang dipimpin, tapi juga harus bisa bertahan dari serangan desa lain untuk memperebutkan daerah. Desa yang kita pimpin bisa juga menjalin kerjasama dengan desa lain. Bagus, sih. Karena anak juga belajar membuat strategi.

    Keke udah lama banget mainin game COC. Nah, semua pengalamannya itu Keke tuangkan ke dalam tulisan-tulisannya. Dari apa yang dilakukan Keke itu, Chi mendapatkan beberapa pelajaran baru untuk Chi sendiri, yaitu:



    Jangan mudah menjudge

    Chi berusaha untuk tidak mudah menjudge anak-anak. Misalnya, ketika anak malu-malu bertemu dengan orang baru, jangan langsung dijudge kalau anak kita kuper. Chi masih inget kalau Nai itu dulu susah banget diajak menulis. Jangakan menulis, disuruh pegang alat tulis aja menolak melulu. Maunya loncat-loncatan aja. Tapi, Chi berusaha untuk gak menjudge dalam hal apapun. Cuma, ya, kadang suka sedikit kelepasan. Kayak, sekarang ini Chi suka bilang kalau Keke gak suka menulis. Kenyataannya, Keke suka juga menulis.


    Passion itu perlu

    Keinginan untuk menulis tentang COC datang dari Keke sendiri. Dan, dia benar-benar menulis COC selama beberapa hari terakhir ini. Tulisannya bisa berlembar-lembar dalam bahasa inggris. Buat Chi itu semakin membuktikan kalau passion memang berperan penting. Ketika kita sudah memiliki passion, biasanya apa yang kita lakukan itu lebih ringan dan dengan senang hati mengerjakannya. PR Chi untuk lebih menggali passion Keke dan Nai. Mengembangkannya kalau udah ketemu passionnya selama itu positif. Dan, gak sebatas tentang dunia tulis-menulis, lho.


    Keke tetap harus menulis yang lain

    Passion kelihatannya sangat mempengaruhi semangat Keke untuk menulis. Tapi, masih sebatas tentang COC. Sementara untuk menulis hal lain masih suka susah. Chi tetep akan meminta Keke untuk mau menulis hal lain. Karena walopun mungkin bukan passionnya, tapi kadang kan harus juga menulis hal lain misalnya untuk tugas sekolah. Jadi, sesekali harus dilatih juga menulis yang lain. Dan, tetep aja jadi PR Chi supaya Keke mau menulis hal lain seringan seperti ketika Keke menulis tentang COC hehe. Bisa, lah. Semangat! :)

    Thursday, October 16, 2014

    My Idiot Brother - Bukan Review Film

    My Idiot Brother - Bukan Review Film

    Keke: "Bun, Sabtu besok, boleh nonton film My Idiot Brother sama temen-temen, gak?"

    Walopun, Keke terus mengulang permintaannya, Chi gak langsung mengiyakan. Alasannya adalah...

    1. Chi harus nonton trailernya dulu di youtube supaya tau ini film bagus atau enggak
    2. Walopun Keke uidah menjelaskan secara singkat isi film tersebut dari yang dia lihat di youtube, tapi  buat Chi ini film bukan 'Keke banget'. Maksudnya, selama ini kalau kami nonton film ke bioskop kan film kartun. Tumben-tumbenan Keke kepengen nonton drama. Apalagi katanya, nonton film My Idiot Brother bersama teman-teman adalah ide Keke.
    3. Chi sempet berpikir kalau jangan-jangan Keke cuma biar bisa kumpul sama teman-temannya. Bukannya gak boleh ngumpul sama temen-temennya. Tapi, kalau memang mau ngumpul, jangan di bioskop. Makan di mana, main ke rumah teman, atau teman yang main ke rumah Keke.

    Chi lihat di youtube, filmnya bagus dan sedih. Chi sampe nangis nontonnya. Cerita singkatnya dari yang Chi lihat di youtube, tentang kakak-beradik dimana di kakak terkena down syndrom. Awalnya, adiknya ini sayang sama kakaknya. Sampe kemudian, si adik suka dibully sama temen-temen di sekolah karena punya kakak 'idiot'. Si adik jadi malu, dan mulai benci kakaknya. Apalagi, si adik mulai jatuh cinta. Pokoknya drama banget deh ceritanya. Walopun pesan moralnya juga ada. Tapi, Chi tetep masih merasa kalau ini film bukan 'Keke banget', masih berpikir apa Keke ada maunya?

    Bunda: "Bunda udah nonton trailernya. Keke boleh nonton, tapi gak di GM. Nonton di BCP aja."
    Keke: "Ya... Kenapa, Bun? Temen-temen pada mau nontonnya disana?"
    Bunda: "Pertama, harga tiket di GM itu 3x lipat dari BCP. Kalau cuma nonton film yang sama apa gak sayang uang? Lagian kita kan udah sering nonton di BCP, bagus bioskopnya. Kalau ada yang murah tapi bagus, ngapain juga pilih yang mahal."
    Keke: "Iya juga sih, mending buat yang lain uangnya."

    Chi lalu baca di Line grup Keke kalau dia bilang mau nonton di BCP aja, terserah kalau temen-temennya tetep mau di GM. Eh, gak taunya, temen-temennya pada mau ngikutin Keke nonton di BCP.

    Bunda: "Masih ada lagi syaratnya. Keke harus membuat tulisan sebanyak minimal 4 halaman tentang My Idiot Brother."
    Keke: "Isinya kayaknya gimana, Bun?"
    Bunda: "Mulai dari sinopsis, moral story, cerita pengalaman kamu waktu nonton film itu. Pokoknya, apapun tentang My Idiot Brother."
    Keke: "Oke, setuju. Yeaaayyy, nontooonn!!"

    Chi mengajukan syarat itu untuk membuktikan kalau Keke memang beneran niat pengen nonton film itu. Keke memang langsung mengiyakan syarat yang Chi minta. Tapi, feeling Chi mengatakan kalau prakteknya nanti gak akan mudah.

    Hari Sabtu, 2 minggu lalu, kami mengantar Keke ke BCP. Ada 1 orang temen sekolah Keke yang juga ikut berangkat bareng. Sampe lokasi udah ada 3 orang temen Keke yang sudah datang. Di jalan, lucu juga denger obrolan-obrolan Keke sama temennya. Salah satunya yang ini...

    Temen Keke: "Gue bingung sama girls, katanya abis nonton mereka mau lanjut ke GM cuma buat nongkrong di Starbuck doang."
    Keke: "Gue daripada ke Starbuck mending ke Sour Sally, deh."
    Temen Keke: "Ah, gue mending beli es teh manis. Harganya cuma Rp3.000,00 tapi udah enak, dingin."
    Keke: "Wkwkwk... Iya, bener.."

    Pas, masuk ke bioskop ada 6 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. Dua diantaranya Keke dan Nai. Menjelang film mulai, Chi lihat ada beberapa temen Keke yang baru dateng. Jadi, lumayan banyak juga yang dateng.

    Chi dan K'Aie gak ikutan nonton. Jadi, ini kali pertama Keke dan Nai nonton tanpa orang tua. Alasan Chi ngizinin Keke dan Nai boleh nonton tanpa ditemani, yaitu:


    1. Chi lihat Keke sudah bisa dipercaya jaga adiknya. Nai juga nurut sama kakaknya.
    2. Sudah cukup sering kami nonton di BCP, dan selama yang kami tau bioskop ini aman. Mudah-mudahan kami gak salah menilai, ya
    3. Keke dan Nai gak cuma nonton berdua, tapi dengan banyak teman. Jadi, Chi rasa bisa saling menjaga dan sudah pada tau etika di bioskop.

    Baru juga masuk ke area penonton, Keke udah nelpon katanya tiketnya hilang. Dia khawatir gak boleh masuk ke dalam bioskop. Chi bilang kalau pas masuk ke area penonton kan tiket udah diperiksa, harusnya boleh masuk. Chi minta Keke telpon lagi kalau ternyata gak boleh masuk.

    Telpon pun masuk lagi, kali ini dia bilang gak dapet tempat duduk. Kok, bisa? Kan, masing-masing udah ada tiketnya? Keke gak menjelaskan secara rinci karena kelihatan bingung dari nadanya. Chi lalu tanya suasana di bioskop rame atau enggak? Setelah Keke bilang enggak, Chi minta dia cari tempat duduk lain. Yang penting, jangan pisah jauh dari teman dan adiknya. Chi minta Keke telpon lagi kalau masih ada masalah. Tapi, ditunggu-tunggu gak ada juga telpon dari Keke. Chi WA dan SMS gak dibales-bales. Berarti Chi artikan itu sudah aman.

    Sekitar 1,5 jam, chi dan K'Aie nungguin yang nonton. Pas keluar, ternyata matanya banyak yang merah dan bengkak! Huaaa... Ini pasti pada nangis di bioskop. Keke ditanya macem-macem sama Chi tentang filmnya, cuma diem dan nunduk. Kelihatan kalau dia lagi sedih banget biasanya banyak diam. Sementara Nai cuma senyum tipis aja. Chi lihat popcorn caramel berukuran jumbo yang Chi beliin masih ada setengahnya, padahal biasanya masih ditengah film juga udah habis. Ini pasti gak bisa nelen makanan karena pada sedih.

    Setelah nonton, semua temen Keke lanjut ke GM, kecuali kami sekeluarga dan temen Keke yang ikut kami. Mending cari makan siang di rumah makan padang aja, lha. Pas makan siang Keke mulai ada suaranya plus udah lahap makannya.

    Mulai deh cerita-cerita mengalir dari mulut mereka. Yang tempat duduk itu ternyata karena ada 1 orang temen Keke yang baru datang kepengen duduk sederetan sama Keke dan temen-temennya. Tapi, karena udah gak ada bangku kosong lagi, akhirnya Keke gak kebagian. Tapi, jadinya salah seorang temen Keke yang mengalah.

    Waktu nonton, anak perempuan atau laki-laki banyak yang heboh nangisnya. Meraung-raung gitu. Kalau Keke sih katanya enggak heboh nangisnya, tapi dia tetep ikutan nangis. Keke memang kalau nangis di depan umum biasanya cuma diam dan keluar air mata.

    Bunda: "Adek kayaknya gak nangis, ya?"
    Temen Keke: "Iya tuh, Ke. Adek lo padahal cewek, tapi kuat banget gak nangis."
    Keke: "Ima mah dari awal nanya melulu ke Keke. 'Ke, nangis gak?' Berkali-kali dia nanya kayak gitu. Keke jawab aja enggak."
    Nai: "Trus, pas Ima tanya lagi dan Keke gak jawab-jawab, berarti Keke udah nangis. Iya, kan?"
    Keke: "Iya lah, lagi nangis ditanya-tanya."

    Hahahaha... Chi jadi ngebayangin Nai nanya-nanya melulu ke Keke. :p

    Seperti feeling Chi, menagih janji Keke untuk menulis 4 halaman tentang film My Idiot Brother bukanlah hal mudah. Selalu ditunda-tunda dan banyak alasan. Memang sih dari awal dia udah mulai nulis, tapi lama banget nyicil-nyicilnya sampe beberapa hari. Chi pun jadi marah.

    Sebagai hukuman, Chi minta Keke menulis 1 halaman tentang arti sebuah janji. Melihat tugasnya yang bertambah banyak, mau gak mau Keke harus mengerjakan. Daripada nanti tambah banyak tugasnya?

    Setelah tugas menulis My Idiot Brother selesai, Chi pun mengajak anak-anak untuk berdiskusi. Chi minta Keke dan Nai jangan hanya sekedar menonton, tapi harus ada hikmah yang bisa diambil dari tontonan tersebut. Misalnya, sesama sodara kandung harus saling menyayangi apapun kelebihan dan kekurangan sodaranya, jangan suka membully, dan lain sebagainya.

    Tugas menulis tambahan tentang sebuah janji juga Chi minta Keke jangan hanya sekedar tulisan. Tapi, juga harus dipahami dan dipraktekkan kalau janji itu adalah utang. Harus dilunasi.


    Karena susah ngajak K'Aie foto berdua, jadi cukup foto makanan dan minuman yang menjadi saksi bisu, saat Chi dan K'Aie nungguin Keke dan Nai yang lagi nonton. Ada colenak, cappucino, dan otak-otak. Karedok sama siomay lupa difotoin :D

    Sunday, October 12, 2014

    Imajinasi Si Peniru Ulung Di Kidzania

    Imajinasi Si Peniru Ulung Di Kidzania

    Imajinasi anak benar-benar luar biasa. Coba aja beri mereka kertas dan biarkan mereka menggambar atau menulis sesuka hati. Bagi kita yang dewasa, mungkin yang mereka gambar itu seperti benang kusut. Tapi, ketika bertanya kepada mereka, kita akan takjub mendengar penjelasannya. Bisa jadi yang mereka gambar itu adalah kupu-kupu, bunga, mobil balap, dan lain sebagainya.

    Coba beri mereka sapu, bisa jadi kemudian anak akan berimajinasi menjadi seorang gitaris dimana gagang sapunya dianggap sebagai gitar. Atau pernahkah selendang yang kita miliki dipakai oleh anak lalu anak berimajinasi menjadi seorang putri raja?

    Selain imajinasi, anak juga seorang peniru ulang. Anak akan dengan mudah meniru apa yang mereka lihat. Oleh karenanya sebagai orang tua kita wajib memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. Anak-anak juga bisa mempunyai impian atau imajinasi juga karena melihat sekelilingnya.

    Nai kadang suka pengen ikutan dandan karena beberapa kali melihat bundanya dandan. Ketika balita, Keke pernah bercita-cita ingin menjadi tukang becak karena Chi sering menyanyikan lagu 'Becak' untuknya. Anak-anak memang selalu meniru dan terinspirasi dari sekelilingnya terutama orang terdekat. Kalau orang tua bisa mengolah imajinasi serta daya spons anak dengan baik, itu akan sangat baik bagi mereka di masa depan.


    Dari batita, Nai suka pengen ikut-ikutan dandan karena suka lihat Chi dandan. Anak memang peniru ulung :)
    Anak juga penuh rasa ingin tahu. Seringkali kita dikasih pertanyaan yang bertubi-tubi dari anak. Termasuk pertanyaan-pertanyaan yang orang dewasa lakukan, misalnya bertanya tentang pekerjaan dan lain sebagainya.

    Kira-kira, ada gak ya tempat dimana si peniru ulung yang serba ingin tahu itu bisa memuaskan imajinasinya? Ada, namanya KidZania. Kalau di Indonesia adanya di Jakarta. Tepatnya di Pacific Place, Jakarta.

    KIDZANIA adalah sebuah pusat rekreasi berkonsep EDUTAINMENT yang unik bagi anak-anak usia 2-16 tahun serta orang tua nya.
    KIDZANIA dibangun khusus menyerupai replika sebuah kota yang sesungguhnya, namun dalam ukuran anak-anak, lengkap dengan jalan raya, bangunan, ritel juga berbagai kendaran yang berjalan di sekeliling kota.
    Di kota ini, anak-anak memainkan peran orang dewasa sambil mempelajari berbagai profesi. Misalnya, menjadi seorang dokter, pilot, pekerja konstruksi, detektif swasta, arkeolog, pembalap F1 dan lebih dari 100 jenis PROFESI dan PEKERJAAN orang dewasa lainnya.
    Di KIDZANIA terdapat bangunan-bangunan yang umumnya terdapat di sebuah kota, seperti Rumah Sakit, Supermarket, Salon, Teater, Kawasan Industri, dan banyak lagi (Lihat “Tur Kota”).
    Dalam rangka memungkinkan anak-anak untuk mengambil inisiatif dan melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan, orang dewasa tidak boleh masuk establishment atau berpartisipasi dalam kegiatan. Namun, orang dewasa didorong untuk memjadi bagian dari penonton di Teater dan Stasiun TV, dan kami menyambut orang dewasa untuk melihat aktivitas dan prestasi anak-anak mereka dari daerah luar di establishment masing-masing.

    Parents Lounge adalah tempat untuk Dewasa untuk bersantai ketika Anak-anak bermain.

    Urbano's House adalah tempat bermain khusus yang tersedia untuk anak-anak 6 tahun kebawah
    . orang dewasa dapat masuk daerah ini dengan anak-anak mereka.  dan ruang menyusui serta tempat penggantian popok juga tersedia.
    KIDZANIA adalah tempat yang AMAN, INTERAKTIF dan MEMILIKI UNSUR PENDIDIKAN YANG TINGGI dimana anak-anak mengenakan seragam dan melakukan peran yang mereka mainkan. Dipandu oleh Zupervizor kami, anak-anak dapat menyelami langsung dunia, profesi atau pekerjaan orang dewasa yang selama ini mereka impikan, serta belajar menghargai nilai uang, seperti di dunia yang sesungguhnya.
    Di KIDZANIA, anak-anak menggunakan mata uang resmi, KIDZOS. Dengan demikian, selain anak-anak dapat belajar mengenai profesi, mereka juga belajar menghargai nilai uang dengan cara memilih profesi yang mereka inginkan lalu mendapatkan upah atas jerih payah mereka. Upah yang mereka dapatkan ini kemudian bisa digunakan untuk membeli barang atau menggunakan jasa yang ada di KIDZANIA (Lihat “Ekonomi”).
    KIDZANIA adalah sebuah fasilitas indoor, yang berlokasi di Pacific Place Shopping Mall lt 6, Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53, Kawasan Niaga Sudirman (SCBD), Jakarta 12190

    Sumber: www.kidzania.co.id

    Keke dan Nai sudah 2x ke KidZania. Sekali bersama keluarga, 1x lagi bersama sekolah. Selalu menyenangkan dan belum pernah ada bosannya-bosannya pergi ke KidZania. Pengalaman Keke dan Nai ke KidZania udah pernah Chi bikin postingannya. Silakan kalau mau baca, judul postingannya "KidZania dan Plangi".


    Word of Mouth


    "Harga tiket masuk KidZania itu Rp150.000,00"

    "Mahal aja!"

    "Mahal, ya? Tapi, Rp150.000,00 itu untuk main selama 5 jam, lho."

    "Hmmm...."

    "KidZania itu seperti kota anak-anak. Mereka bisa menjalani berbagai profesi, digaji, pokoknya banyak pelajaran berharga yang bisa anak-anak dapat di KidZania. Yang pasti menyenangkan banget buat anak-anak."

    "Oiya? Trus... truss..??" *Mulai tertarik...

    Dialog diatas hanyalah dialog imajiner. Tapi, Chi juga mengakui kalau kekuatan KidZania adalah marketing Word to Mouth (WOM). Awal Chi tau KidZania dari media mainstream, tapi info tersebut rasanya belum cukup. Harga tiket Rp150.000,00 per anak itu lumayan juga buat Chi. Belum lagi orang tua kalau mau nemenin harus bayar juga Rp90.000,00 pe orang. Lumayan bangeeettt. Rugi kalau sampe tempatnya gak asik. Jadi, sebelum memutuskan ke Kidzania, Chi harus banyak cari tahu dulu supaya gak merasa rugi, lah.


    1. Mendengar cerita dari kenalan yang pernah ke KidZania. Ini sih cara klasik, ya. Tapi, dengan mendengar langsung dari yang dikenal, kita bisa banyak tanya-tanya sebelum memutuskan ke KidZania atau enggak.
    2. Mendengar cerita dari Keke. Nah, ini WOM yang paling asik! Karena yang cerita kan anak sendiri. Sebelum Chi ajak anak-anak ke KidZania, Keke memang lebih dahulu kesana bersama sekolahnya. Keke ceritanya seru banget, trus ujung-ujungnya dia ngajak kesana lagi. Ya, kalau anaknya sendiri udah bilang seru, berarti Chi makin tertarik untuk ajak anak-anak kesana
    3. Membaca postingan para blogger yang sudah pernah ke KidZania. Udah jadi kebiasaan Chi kalau mau aja anak-anak ke suatu tempat yang baru berusaha cari info sebanyak mungkin dari postingan para blogger. Biasanya postingan para blogger itu umumnya jujur. Kalau seru dibilang seru, enggak ya enggak. Ketika Chi membaca beberapa postingan tentang keseruan di KidZania, Chi semakin yakin untuk ajak anak-anak ke sana.

    Warga baru KidZania wajib bikin ATM dulu karena gaji yang di dapat biasanya ditransfer
    Kalau di rumah, Nai bisa acak-acak peralatan kosmetik Chi. Di KidZania, Nai bisa lebih menyalurkan rasa ingin tahunya. Dia bisa mendandani warga lain (menjadi karyawan salon) atau didandani.

    Ternyata bener. Gak rugi sama sekali bermain di KidZania. Dari berbagai profesi dicobain sama Keke dan Nai. Dari mulai tukang semir sepatu hingga menjadi petugas CSI. Imajinasi mereka terpuaskan disana. Malah Keke dan Nai minta diajak lagi ke KidZania. Seru, asik, banyak pelajaran yang bisa mereka dapat, pokoknya keren banget deh. Makanya, setelah smapai rumah, Chi bikin postingan tentang pengalaman kami ke Kidzania. Siapa tau ada belum pernah ke KidZania, bisa baca-baca dulu deh gimana serunya Kidzania di blog Chi ini, ya.

    Chi suka banget nonton serial CSI. Di KidZania, Keke merasakan jaid petugas CSI. Bikin Chi ngiri aja hahaha. Kata Keke ada eksperimennya juga di sana. Asik, kan!

    Marketing Word of Mouth memang powerfull, sih. Karena pembicaraan dari mulut ke mulut umumnya lebih jujur dan lebih ada rasa. Malah lebih komplit juga isi ceritanya. Makanya kalau mau kemana-mana Chi juga lebih suka cari tahu dari yang pernah merasakan. Termasuk ketika mau ke KidZania.

    Yang jelas, Kidzania juga mengajarkan anak-anak untuk berani mempunyai cita-cita melalui banyaknya profesi yang diajarkan. Anak juga diajarkan menghargain uang dan kalau mencari uang itu tidak mudah karena harus ada usaha. Ya karena kadang anak-anak berpikir kalau uang orang tua itu otomatis udah ada di ATM. Padahal supaya ada di ATM, orang tua juga harus bekerja. Dengan bermain di KidZania, Keke dan Nai juga jadi lebih tahu.



    "Bunda, ke KidZania lagi, yuk!


    Udah beberapa hari ini, Keke dan Nai merengek minta ke Kidzania lagi. Chi sih mau aja, tapi tunggu UTS selesai, ya. Gak lama kok, cuma seminggu ini UTSnya. Lagipula di akhir bulan ini bakal ada "Inagurasi dan Sidang Penutupan CONGREZZKID 2014"

    Karena KidZania itu ibarat sebuah negara, tentunya perlu ada dewan legislatif. Dan, terbentuklah KidZania CONGREZZ dimana akan terpilih 14 putra-i terbaik di Indonesia untuk menjadi anggota legislatif CONGREZZKID.

    Keke dan Nai belum ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tapi, Chi yakin acara ini bagus untuk mereka ketahui dan lihat. Apalagi sekarang ini banyak orang yang harus belajar bagaimana belajar berpendapat yang baik. Termasuk para anggota dewan kita, tuh. Rasanya harus banyak belajar dari para CONGREZZKID, deh. Ups! :D

    Masa kerja CONGREZZKID itu 2 tahun. Jadi, kayaknya mending mereka nonton sekarang daripada harus nunggu 2 tahun lagi. Siapa tahu 2 tahun ke depan, Keke atau Nai berani berpartisipasi. Atau paling gak mereka bisa semakin belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin dan belajar berpendapat yang baik.

    Sampai tanggal 1 November 2014, Kidzania diskon 30%, lho. Caranya gampang banget, tinggal tunjukkin barcode di bawah ini ke petugas airport KidZania.

    Friday, October 10, 2014

    Aku Anak Yang Payah

    Aku Anak Yang Payah

    "Ya ampun.. masa' begini aja gak bisa?"

    Pernah ngomong seperti itu ke anak? Chi pernah. Ups! Jangan diikuti ya, karena Chi tau itu salah. Tapi, kadang pernah ada salah dengan ngomong seperti itu. Walopun setelahnya Chi berusaha memperbaiki dengan meminta maaf dan menjelaskan ke Keke atau Nai. Supaya mereka mengerti dan kami sama-sama introspeksi.

    Mbak Nina, psikolog yang berbicara di talkshow Parenthood Style Di Era Digital menjelaskan kalau idak baik anak terlalu sering mendengar perkataan seperti itu untuk dirinya. Misalnya, nih, ada anak yang ketika menaruh gelas di atas meja malah gelasnya jatuh. Kalau cuma sekali, ibunya masih maklum. Tapi ketika dilakukan berulang kali, ibunya mulai kesal trus keluar deh kata-kata "Masa' gini aja gak bisa?"

    Mungkin sepintas terlihat wajar si ibu kesal, ya. Abis naruh gelas di meja aja masa jatoh terus. Itu kan hal sepele. Iya, memang sepele bagi kita yang bisa. Tapi, sebetulnya untuk bisa menaruh gelas dengan baik di meja aja perlu latihan motorik terus menerus.

    Anak yang gak pernah dilatih, gak otomatis bisa menruh gelas dengan baik di atas meja. Salah satu penyebab anak yang mengalami kesulitan itu adalah anak yang sejak kecil terlalu akrab dengan gadget sehingga gak pernah dapat atau minim latihan-latihan motorik kasar maupun halus.

    Jadi, memang jangan langsung menyalahkan anak. Orang tua juga harus bertanggung jawab karena tidak pernah mengajarkan. Kalau anak yang terus disalahkan, lama-lama akan tercipta di otak anak pemikiran kalau "aku anak yang payah". Efeknya bisa jelek kalau anak sudah berpikiran seperti itu.

    Hmmm... kalau suatu saat nanti anak kita merasa dirinya payah, mungkin sebaiknya kita introspeksi juga ya. Jangan-jangan kita juga sebagai orang tua yang justru paling punya andil membuat anak berpikir kalau dirinya adalah anak yang payah.

    Monday, October 6, 2014

    SMA Atau SMK?

    SMA Atau SMK?

    Keke sekarang udah kelas 5 SD. Pembicaraan tentang akan melanjutkan ke SMP mana, mulai sering dibicarakan antara Chi, K'Aie, dan Keke. Terlalu kecepetan? Enggak juga. Dari dulu Chi memang lebih suka menyiapkan sekolah dari jauh-jauh hari.

    Ketika Keke baru masuk TK, Chi udah mulai mebidik kira-kira bakal masuk SD mana aja atau memilih homeschooling. Chi mulai mencari tau lebih detil tentang sekolah yang dipilih begitu juga dengan metode homeschooling. Sampai akhirnya, pilihan pun jatuh di sekolah Keke sekarang. Alhamdulillah, sejauh ini kami semua masih cocok sama sekolah ini.

    Keke tentu aja dilibatkan, karena pada akhirnya dia juga yang akan sekolah. Tapi, jangan lupa pertimbangkan juga Nai. Karena Chi sih pengennya mereka tetep satu sekolah, paling gak sampai SMP. Udah ada beberapa sekolah yang dijadikan pilihan. Sedang kami pilih-pilih plus-minusnya. Pokoknya diusahan detil, dinilai dari banyak aspek. Sebelum akhirnya nanti memutuskan.

    Kenapa mempertimbangkan sekolah dari jauh-jauh hari? Alasannya, sekolah itu seperti 'jodoh-jodohan'. Kami mencoba meminimalisir kejadian salah pilih sekolah dengan mencari sejak jauh-jauh hari. Apalagi kelas 6 nanti, Chi berharap Keke udah fokus sama ujian akhir aja. Gak usah diribetin lagi harus cari sekolah dimana.

    Keke: "Bun, memangnya Keke harus SMA, ya?"
    Bunda: "Ya iyalah. Kan dari SMP ke SMA."
    Keke: "Maksud Keke, kalau pilih SMK kayak Icha boleh, gak?"
    Bunda: "Boleh aja, asal Keke udah jelas minatnya kemana."
    Keke: "Maksudnya?"
    Bunda: "Icha itu dari dulu kan kelihatan minatnya ke seni. Ketika dia milih SMK yang sesuai sama minatnya, kita semua gak kaget. Nah, kalau Keke udah jelas minatnya kemana, gak apa-apa milih SMK."
    Keke: "Emang kalau SMA gak apa-apa ya kalau kita gak punya minat?"
    Bunda: "Gak gitu juga, sih. Sebaiknya kita memang sedari awal punya minat. Cita-citanya mau jadi apa. Tapi kalau SMK itu lebih khusus lagi."

    Chi lalu menjelaskan perbedaan SMA dan SMK ke Keke dan juga Nai. Lho, kok jadi ngomongin jenjang SMA, ya? Padahal SMP aja belum? Hehehe, kami sekeluarga bahkan suka melakukan obrolan-obrolan ringan sampe nanti bakal kuliah apa dan dimana?

    Buat Chi dan K'Aie, penting bagi kami untuk menyiapkan grand design pendidikan Keke dan Nai. Termasuk sesekali mengajak Keke dan Nai berdiskusi untuk urusan pendidikan.Penting untuk melibatkan Keke dan Nai. Karena yang akan menikmati hasilnya nanti adalah mereka. Orang tua mengarahkan berdasarkan pengalaman.

    Belajar dari pengalaman pribadi, sih. Ketika lulus SMA, Chi sempet bingung mau kemana dan ngapain. Cita-cita sejaik kecil yang selalu bilang pengen jadi arsitek, mendadak lenyap keinginannya. Padahal orang tua mendukung. Tapi, ketika memilih jurusan lain, ada beberapa yang gak didukung. Akhirnya milih yang penting kuliah. Sedangkan, K'Aie kalau menurut cerita mertua dari kecil selalu jelas minatnya. Berhubungan dengan alam. Sekarang dunia kerjanya pun masih berhubungan dengan alam. Bukan untuk menyesali yang udah terjadi, tapi semoga Keke dan Nai gak mengalami kebingung-kebingungan seperti itu.

    Memang seiring berjalan waktu, segala sesuatu bisa aja terjadi. Misalnya, kami berencana menyekolahkan Keke di SMP A, SMA B, lalu kuliah di Universitas C. Bisa aja semua itu buyar karena berbagai faktor. Tapi, selama perubahan rencananya itu karena alasan yang masuk akal, bukan karena kurang persiapan dan akhirnya 'yang penting bisa sekolah', rasanya yang namanya perubahan masih bisa dimaklumi.

    Chi dan K'Aie sih pengennya paling lambat setelah lulus SMA mereka tau mau kemana tujuannya. Lebih bagus lagi kalau sejak lulus SMP. Untuk itu kan perlu dibimbing. Rasanya susah kalau mereka harus cari-cari sendiri apalagi tanpa dukungan orang tua.

    Keke dan Nai sering diingatkan kalau tugas utama mereka dalam pendidikan adalah belajar sebaik-baiknya. Tugas orang adalah membimbing mereka belajar dan bekerja sebaik-baiknya. Mudah-mudahan apa yang sudah kami sekeluarga rencanakan bisa berjalan dengan lancar. Aamiin

    Friday, October 3, 2014

    Pelajaran Berinternet Sehat

    Pelajaran Berinternet Sehat

    Kasus Dinda, Flo, dan kakak yang menupload PR matematika adiknya (lebih dikenal sebagai kasus 4x6 dan 6x4), menurut Chi punya kesamaan benang merah, yaitu sama-sama tidak dewasa dan tidak bijak dalam dunia maya. Ketika kasusnya sudah merebak, banyak yang larut dalam emosi, sesama anak manusia saling berdebat, lalu pelaku pun meminta maaf, dan kasusnya hilang bagai ditelan angin. Huff...

    Gak cuma itu, ketika anak-anak ABG dengan santainya mengupload foto kemesraan bersama 'pacar'. Kemesraannya terlihat berlebihan. Belum lagi status-status yang lebay. Kalau lagi jatuh cinta, kalimat sayang-sayangannya dahsyat. Tapi, begitu putus, berantemnya juga dahsyat. Dan,. semua itu dipertontokan di social media dengan bebasnya.

    Dunia maya seperti dua sisi mata pisau. Ada sisi positif dan negatif, tapi keduanya bisa sama-sama tajam. Berbagai tampilan negatif itu memang mencemaskan. Tapi, melarang Keke dan Nai untuk jauh dari dunia digital, buat Chi rasanya sulit. Apalagi era mereka memang era digital.

    Chi sering mengawasi dan mengingatkan Keke-Nai untuk berhati-hati dengan dunia maya. Jangan suka sembarangan klik link gak jelas, hati-hati bergaul di dunia maya, dan lain sebagainya. Walopun begitu, sempet juga Chi merasa kecolongan sampai 2x.

    Kecolongan pertama adalah ketika Keke masih aktif BBMan dengan teman-temannya. Dia mengirim 1 broadcast ke beberapa temannya dan jadi heboh. Beberapa temannya ketakutan menerima broadcast tersebut dan marah ke Keke. Kebetulan isi broadcastnya itu rada horor. Dan seperti umumnya broadcast, diakhir kalimat yang panjang itu selalu ada kata ancaman "Kirim ke 10 temanmu kalau tidak bla... bla.. bla.."

    Chi sebetulnya udah berkali-kali mengingatkan Keke itu tidak percaya dengan broadcast di BB. Langsung hapus saja. Karena selain menipu, seringkali jadinya musyrik. Tapi kali itu Keke mungkin takut dengan broadcast horror itu, sehingga diapun mengirim ke beberapa temannya.

    Kecolongan kedua adalah ketika Keke bertengkar dengan temannya di FB. Memang sih berantemnya di inbox. Tapi, tetap aja itu salah. Berantem di dunia maya bisa mengakibatkan ucapan kita di screenshot. Kalau lawan berantem kita masih belum puas (walopun sudah baikan), bisa saja pertengkaran yang sudah di screenshot itu di upload sewaktu-waktu. Apalagi kalau kemudian terlontar tulisan kasar atau umpatan lainnya. Bahaya sekali itu.

    Chi sudah menegur keras Keke atas 2 kejadian itu. Itu kejadian sudah lama berlalu. Dan, kelihatannya setelah itu, Keke gak melakukan lagi. Dia mulai berhati-hati di dunia maya. Malah udah brenti BBMan, alasannya berisik. Tapi, akhir-akhir ini dia lagi asik sama Line. Ya, jadi berisik lagi, deh hehehe.

    Karena pernah merasa 2x kecolongan dan melihat efek negatif dunia maya yang bikin was-was. Chi merasa harus bikin waktu khusus untuk Keke dan Nai. Semacam pelajaran berinternet sehat gitu. Memang selama ini Chi udah sering mengingatkan dan mengawasi, tapi rasanya kok masih belum cukup.

    Biasanya, Chi lakukan setiap malam, sehabis maghrib. Tapi, sepulang sekolah juga gak apa-apa. Lihat sikon aja. Gak juga harus setiap hari, sih. Kalau kebetulan mereka lagi ada tugas atau harus belajar untuk ulangan, pastinya Chi lebih prioritaskan ke urusan sekolah. Kalau masih ada waktu, lanjutin dengan pelajaran berinternet sehat. Kalau enggak, ya, tidur.

    Cara ngajarinnya gak kaku. Lebih banyak berdiskusi. Dimulai dari jangan menulis status atau share info sembarangan. Biar gimana banyak yang melihat. Ada orang tua dan para guru juga bisa menilai. Chi juga pernah melihat ketika ada anak kelas 6 SD asik berbicara dengan salah satu akun di FB. Chi pikir lagi berbicara dengan teman sebaya. Gak taunya dengan ibunya. Tapi setiap kali mention nama ibunya, gak diiring dengan kalimat Mah/Bun/Bu atau apalah. Kesannya jadi kayak manggil nama doang. Kalau buat Chi agak kurang sedap dipandang. Tapi, gak tau deh buat yang lain.

    Oiya, Keke dan Nai memang punya akun FB. Tapi, seperti salah seorang psikolog anak bilang, kalau orang tua memang membuatkan akun FB dengan berbagai alasan untuk kebaikan, orang tua harus tau password mereka. Dan, gak cuma FB, sih. BBMan, Line, dan apapun yang Keke-Nai lakukan, Chi terang-terangan bilang harus dibolehkan membaca. Gak ada yang namanya rahasia-rahasiaan. Chi jelaskan kalau mereka masih dibawah umur. Kalau umur mereka sudah matang, baru Chi kasih privasi lebih.

    Kasus-kasus heboh di dunia maya juga gak luput dari diskusi kami. Salah satu contohnya pernah Chi posting di blog ini, yaitu kasus Loom Band, Dinda, Flo, 4x6, sampai berita FB berbayar pun kami bahas bersama-sama. Chi mendengarkan mereka, mereka mendengarkan Chi. kami sama-sama berdiskusi dengan santai.

    Bagaimana dengan kasus-kasus anak abege yang mesra-mesraan atau bahkan pernah ada kasus anak SMP yang sudah melakukan hubungan gak pantas? Tentunya Chi harus berhati-hati disini. Pentingnya mengajarkan mereka rambu-rambu berinternet sekaligus sex education bukan berarti harus menunjukkan foto-foto atau video yang gak pantas dilihat oleh mereka, kan? Sebagai orang tua, kita bisa paham bagaimana berbahasa dengan anak masing-masing.

    Atau bisa juga diawali dengan pertanyaan. Apa sih pacar? Mesra itu apa? Ada teman yang 'usil' suka megang-megang, gak? Dan, lain sebagainya. Dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita gali jadi diskusi, deh.

    Semoga apa yang Chi lakukan ini juga bisa membantu memproteksi mereka dan membuat mereka berhati-hati di dunia maya. Buang jauh-jauh efek negatif dunia maya. Ambil sebanyak-banyaknya manfaat dari dunia maya.

    Wednesday, October 1, 2014

    Ketika Keke Mulai Jatuh Cinta

    Ketika Keke Mulai Jatuh Cinta

     Sumber dari Path

    Mommy war dari zaman dulu sampai sekarang gak ubahnya seperti pertempuran tiada akhir. Cara untuk mengakhiri mommy war menurut Chi adalah engan tidak melibatkan diri dan memihak salah satu. Ya, namanya juga lagi perang, keberpihakan justru seringkali bukan menyelesaikan masalah.

    Kalaupun, Chi rutin menulis kisah sehari-hari tentang Keke dan Nai di blog ini bukan bermaksud untuk menunjukkan pilihan seorang ibu untuk berumah tangga saja tanpa karir adalah paling tepat. Chi hanya ingin mendokumentasikan seluruh perjalanan hidup Keke dan Nai melalui tulisan. Silakan saja kalau ada yang ikut jejak Chi, tapi enggak pun gak apa-apa. Mama Chi juga dulunya ibu bekerja. Dan, semua baik-baik aja. Every mom has story.

    Every mom has her own battle, itu juga benar adanya. Daripada energinya dihabiskan untuk perang sama ibu-ibu lain, mendingan 'berperang' untuk rumah tangga sendiri. Maksudnya, berusaha yang terbaik untuk keluarga masing-masing. Lagian, lucu dong kalau kita selalu mengajarkan anak cinta damai, bertoleransi, dan lain sebagainya, sementara kita sendiri gak bisa mempraktekkan itu.

    Happy Mom, Happy Family. Berperang itu bikin kepala mumet, pikiran stress. Kalau kayak begitu, masih bisakah kita bikin keluarga sendiri bahagia? *Self Note

    ------------------

    Usia Keke dan Nai sudah lumayan jauh dari usia balita. Problem Chi sekarang, mungkin bukan lagi bagaimana melatih motorik halus dan kasar, bagaimana mereka belajar makan, belajar membaca, dan lainnya. Tapi, bukan berarti juga udah bebas dari yang namanya cerita 'seru'.

    Salah satunya adalah ketika Keke mulai jatuh cinta. Sebetulnya urusan naksir cewek, pacaran, atau putus cinta pernah Keke alamin sejak TK. Eits! Jangan keburu heboh, ya. Kalau Chi ajak bicara, yang ada dipikiran Keke tentang naksir hingga putus cinta pun sebetulnya lucu. Bikin ngikik. Tapi, kali ini Chi merasa jatuh cinta Keke memang berbeda.

    Sebetulnya pemikiran Keke tentang jatuh cinta juga masih anak-anak banget. Sesuai dengan usianya, lah. Misalnya, suka dengan teman perempuan yang kebetulan lagi akrab dengannya karena punya kesamaan nonton kartun. Malah sebetulnya banyak cerita lucu dengan urusan jatuh cinta Keke ini. Salah satunya ketika Keke pengen bilang suka sama teman ceweknya, Nai dengan santai terus menempel di samping Keke. Sehingga bikin Keke jadi keki dan rencana 'nembak' pun batal. Di mobil mereka ribut tentang rencana penembakan yang batal. Tapi, ributnya juga lucu. Malah bikin Chi terpingkal-pingkal dengernya.

    Keke: "Bun, jangan pernah cerita tentang Keke yang mulai jatuh cinta di blog, ya."
    Bunda: "Oke."

    Gak lama kemudian...

    Keke: "Bunda, gak apa-apa deh kalau Bunda mau ceritain di blog. Cerita aja."
    Bunda: "Beneran gak apa-apa?"
    Keke: "Beneran, Bun. Lagian Keke udah move on sekarang."
    Bunda: "Hahahaha! Ada-ada aja nih Keke."

    Sebetulnya, tanpa Keke membolehkan atau melarang, Chi memang udah niat gak akan menceritakan pengalaman jatuh cinta Keke di blog. Walaupun rasanya 'gatal' pengen berbagi cerita, apalagi pas bagian cerita lucunya. Tapi, walopun pengertian jatuh cinta bagi Keke itu masih anak-anak banget, usia Keke sudah mulai pra-ABG. Usia segitu biasanya sudah timbul rasa malu, grogi, dan mulai mengenal privasi. Bisa jadi jatuh cinta juga mulai menjadi privasi Keke. Setidaknya walopun Keke sendiri masih berubah-ubah pendapatnya, Chi mulai ingin menghargai kalau jatuh cinta adalah sebuah privasi yang tidak akan Chi tulis secara detil di blog ini.

    Kalaupun Chi menulis ini, sebetulnya ingin berbagi tips dari sisi parenting aja. Dan, siapa tau kita bisa berbagi pengalaman. Sebagai ibu, tau anaknya mulai jatuh cinta, selalu ada rasa 'anak saya udah besar'. Rasanya gak pengen anak cepat besar. Masih kepengen timang-timang mereka :)

    Usia Keke yang mulai memasuki pra-ABG juga bikin Chi khawatir kalau dia sampai salah mengartikan jatuh cinta. Deg-degan juga sebetulnya. Jangan sampai salah pergaulan. Beberapa kali Chi melihat anak-anak dibawah umur, pacarannya udah dua-duaan sampe peluk-pelukan segala. Dan, dengan santai diupload di FB. Ngerii. Tapi, anak juga kalau terlalu diiket juga bisa lebih kencang berontaknya. Huff!

    Oke lah kalau di rumah, Keke dan Nai memang aman dari yang namanya sinetron (mereka gak pernah nonton). Tapi, teman-temannya kan belum tentu. Dna, tidak menutup kemungkinan, yang tidak pernah nonton sinetron dan selalu menonton sinetron saling mempengaruhi dalam pergaulan. Iya kalau mempengaruhi untuk hal baik, kalau enggak?

    Keke dan Nai memang bersih dari sinetron. Tapi, mereka kan akrab dengan dunia internet. Walopun beberapa kata 'membahayakan' memang sudah diprotect di internet rumah, gak jamin 100% aman. Banyak keyword yang kelihatan aman, gak taunya isinya 'berbahaya'. 

    Idealnya orang tua memang mendampingi ketika anak berinternet. Tapi, menurut Chi bukan berarti kita harus terus duduk disamping mereka. Kan, Chi juga ada kegiatan lain. Lagipula mereka juga harus belajar diberi kepercayaan.

    Keke pernah protes, karena Chi khawatir dia jatuh waktu jalan sendiri di Tangkuban Perahu

    Berikut adalah hal-hal yang coba Chi lakukan ketika Keke mulai jatuh cinta. Mungkin cara ini juga akan Chi praktekan ke Nai kalau memang sudah waktunya:

    1. Jangan panik. Jatuh cinta sebetulnya hal wajar. Berbahagia dan bersyukur aja dulu, kalau anak kita bisa punya rasa suka kepada lawan jenis. Lagipula, definisi jatuh cinta seorang anak bisa beda, lho dengan orang dewasa. Malah bikin kita senyum-senyum dengernya.
    2. Jadi teman bicara yang asik bagi anak.Yang bikin enggan untuk terbuka sama orang tua adalah takut kalau sampe obrolannya seperti diinterogasi. Akhirnya, malah lebih suka bicara sama teman daripada orang tua.
    3. Kalau mau memberi rambu-rambu larangan, usahakan dengan bahasa yang enak didengar oleh mereka. Dan, jangan lupa memberi penjelasan. Kalau cuma melarang, anak akan bingung kenapa dilarang. Darah muda mereka bisa menggelegak dan melakukan perlawanan.
    4. Beri mereka kepercayaan. Chi pernah ditegur sama Keke karena terlalu khawatir sama dia. Katanya, kasih lah Keke kepercayaan. Anak akan bangga kalau dikasih kepercayaan. Tapi, tunjukkan juga rasa kecewa kalau sampai mereka melanggar kepercayaan yang sudah diberikan.
    5. Jangan kaku dengan pemikiran kita. Seringkali Chi berpikir, anak-anak sekarang cepat dewasa berpikirnya lalu tergoda untuk memaksakan Keke supaya berpikir seperti zaman Chi kecil dulu. Tapi, rasanya bakal susah banget. Chi belajar untuk meluweskan pikiran. Bagaimanapun zamannya udah beda. Coba memahami cara berpikir mereka, walopun tetap aja rambu-rambu kita jaga.
    6. Mengajak berdiskusi. Kalau Keke mendengar, melihat, melakukan sesuatu yang salah, Chi berusaha untuk mendengarkan dulu cerita dan alasannya. Coba menilai dan hargai sudut pandangnya. Cepat-cepat memvonis juga bisa bikin anak jadi ciut nyalinya untuk terbuka. 
    7. Berikan ruang untuk menikmati rasanya. Yang namanya jatuh cinta itu berbunga-bunga. Kalau patah hati itu sakiiitt. Walopun Keke masih sebatas jatuh cinta ala anak-anak, tapi tetep aja dia merasakan senang dan sedih. Chi berusaha untuk gak menggurui, misalnya dengan berkata, "Ya elah gitu aja bikin sedih," atau "Tau apa sih kamu tentang cinta?"

    Itu aja sih 7 tips yang Chi coba praktekin. Sejauh ini Keke masih terbuka, termasuk tentang jatuh cinta. Bahkan tanpa Chi tanya-tanya pun, seringkali udah muncul duluan curhatan dari Keke.Ya, biar gimana Chi kan pernah remaja kayak Keke. Pernah juga merasakan jatuh cinta. Dari yang namanya cinta monyet sampe cinta beneran. Jadi, ketujuh tips itu sebetulnya berkaca dari pengalaman pribadi juga.

    Oiya, kalau bisa para ayah juga mempraktekkan hal yang sama. Karena ada kalanya seorang anak laki-laki butuh saran dari sisi ayah. Atau anak perempuan akan menjadikan ayahnya sebagai contoh bila kelak memilih pasangan :)

    Pernah suatu malam, Chi tanya ke Keke..

    Bunda: "Ke, merasa disayang Bunda, gak?"
    Keke: "Iya, lah."
    Bunda: "Kapan sih Keke merasa kalau Bunda itu sayang sama Keke? Setiap kali dibeliin mainan, ya?"
    Keke: "Enggak, lah. Keke itu merasa paling disayang Bunda kalau sebelum tidur dibacain buku cerita trus dipeluk."

    Huaaaa.. Meleleh gak sih dengernya?? Ya, semoga aja 7 tips yang Chi coba praktekkan itu juga bisa bikin Keke juga berpikir kalau yang dilakukan Bundanya ini karena sayang banget sama dia