Friday, January 31, 2014

Menertawakan Kesalahan Anak

Menertawakan Kesalahan Anak

Kalo anak berbuat salah boleh gak, sih, kita ketawain? Kalo kata Chi, sih, tergantung situasi dan masalahnya. Kalau anak kita berbuat kasar tentu aja gak boleh ngetawain apa yang udah dia lakuin. Trus, gimana kalo anak salah menjawab soal ulangan? Bole diketawain, gak? Tergantung .... *Haiyaaahh jawabannya malah tergantung terus hihihi

Jadi gini, waktu kelas 1, Chi lihat hasil UKK math Nai. Di pelajaran geometri, harusnya Nai menulis 'square' untuk gambar bujur sangkar. Tapi, Nai malah nulisnya 'qsuare'. Kata 'qsuare' buat Chi terasa lucu, makanya langsung ngakak.

Walopun gitu, Chi jelasin juga ke Nai dimana letak salahnya. Dan, Chi tau kalo Nai sebetulnya ngerti bahkan pengucapannya juga bener. Hanya saja, untuk penulisan dia memang harus lebih banyak berlatih lagi. Seperti yang Chi tulis di postingan Baju Badut dan Rapor.

Menurut Chi, sesekali kita perlu juga belajar menertawakan kesalahan sendiri. Biar gak usah terlalu serius, belajar untuk santai. Contohnya, waktu Chi baru-baru ini kejedot dan membuat jidat benjol lumayan besar. Sakit sih,  malah sampe rada puyeng dan ngeluarin sedikit air mata. Tapi abis itu ketawa aja. K'Aie dan anak-anak juga ngetawain benjol Chi yang emang lumayan besar. Malah mereka usil pengen coba-coba mijit benjol Chi. :D
Chi tau persis, mereka ngetawain bukan berarti gak peduli sama Chi. Buktinya pas baru kejedot mereka langsung tanya keadaan Chi, walopun abis itu ngetawain. Tapi Chi malah merasa jadi lebih santai. Daripada meratap-rata 'hanya' karena benjol hihihi. Trus, bukan berarti gak bisa belajar dari pengalaman, kan? Chi tetep belajar supaya lain kali harus lebih berhati-hati.

Begitu juga dengan Nai. Dia tetep bisa ikut ngetawain kesalahan menulisnya itu. Dia tau kalo Chi ngetawain kesalahannya bukan bermaksud untuk mengejek apalagi sampe menjatuhkan mentalnya. Dan, Chi juga tau walopun kami tertawa bersama-sama, Nai juga tetep belajar memperbaiki kesalahannya. Malah Chi pikir ketawa itu kadang bikin pikiran jadi santai. Kalo udah santai, biasanya lebih cepat belajar dari kesalahan. Menurut Chi, sih, begitu :)

Tuesday, January 28, 2014

Rapor Semester Ganjil Nai Di Kelas 2

Rapor Semester Ganjil Nai Di Kelas 2

Sekarang giliran cerita tentang rapor Nai. Kalau Keke sudah pakai rapor kurikulum baru, Nai belum. Silakan baca di postingan Kurikum 2013, Siapkah Kita? kalau pengen tahu kenapa Nai masih pake kurikulum lama padahal dia satu sekolah ma Keke.

Banyak cerita selama semester ganjil kemarin. Dari awal tahun ajaran pernah mogok sekolah sampe seminggu lebih.Sampe terang-terangan minta keluar sekolah. Chi tau penyebabnya adalah karena mulai tahun ajaran ini Keke dan Nai pisah gedung sekolah. Nai khawatir kesepian kalau gak ada kakaknya. Padahal temennya juga banyak, cuma kadang-kadang dia masih suka ke kelas Keke buat ikut kakaknya.

Setelah proses tarik-ulur. akhirnya Nai mau juga sekolah. Prosesnya dengan cara kasih penjelasan, sesekali ditegasin, sesekali dicuekin ketakutannya. Tapi, gak dikasih iming-iming apapun. Karena Chi pikir itu hanya ketakutan Nai yang sebetulnya belum terbukti.Alhamdulillah, akhirnya dia mau sekolah lagi. Dan, apa yang dia takutin emmang gak terbukti. Nai tetep betah di sekolah.
Beberapa hari setelah selesai UTS, Nai memberikan seluruh hasil ulangan dan hadiah dari wali kelasnya. Katanya nilai-nilai UTSnya paling banyak dapet 100nya. Ada 5 mata pelajaran yang dapet 100, sisanya disekitar 95-an ke atas, deh. Nai pun dapat hadiah 1 set spidol isi 12 buah dari wali kelas. Gembiranya minta ampun.

Hasil rapor semester ganjil, nilai-nilainya agak sedikit turun. Nai memang sempet agak susah diajak belajar. Terutama saat UAS. Maunya main terus. Udah gitu saat itu Chi emang lagi rada ribet kondisinya, jadi terserah anak-anak, deh. Tapi, alhamdulillah di rapor tetep bagus nilai-nilainya, kok.

Oiya, menurut wali kelas kekurangan Nai adalah dia kurang gerak. Nai itu hobi banget menggambar, kalau tugas di kelas udah selesai daripada ngobrol dan bikin berisik kelas, dia lebih suka menggambar. Anteng banget kalau udah menggambar. Apalagi teman sekelasnya juga ada yang suka menggambar, jadi klop. Istirahat pun begitu, dia lebih suka menggambar daripada lari-larian di halaman.

Wali kelas merasa kurang sreg, menurutnya anak-anak sebaliknya juga banyak bergerak. Kalau di kelas memang sikap Nai itu bikin tenang wali kelas, karena gak ikutan bikin berisik kelas hehe. Tapi, kalau jam istirahat, wali kelas maunya semua anak-anak keluar untuk bermain.

Beliau lalu minta izin Chi, supaya Nai dibolehin bermain. Chi sih terserah aja. Memang sebaiknya Nai juga banyak bergerak kalau di sekolah. Jadi, sekarang wali kelas Nai bikin peraturan baru, kalau jam istirahat gak boleh ada yang di kelas setelah selesai makan.Ternyata, Nai gak protes dengan peraturan baru itu. Santai aja.

Itu aja, sih. Ya, sejauh ini masih belum ada 'catatan merah' baik nilai dan kelakuaknnya di sekolah. Semoga terus dipertahankan, ya, Nak

Thursday, January 23, 2014

Mommychi dan 1000 hari pertama kehidupan

Mommychi dan 1000 hari pertama kehidupan

Pernahkah kita mendengar istilah gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan?

Menurut Menkes, istilah 1000 hari pertama kehidupan atau the first thousand days mulai diperkenalkan pada 2010 sejak dicanangkan Gerakan Scalling-up Nutrition di tingkat global. Hal ini merupakan upaya sistematis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan khususnya pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil sampai anak usia 2 tahun, terutama kebutuhan pangan, kesehatan, dan gizinya.

Sumber: depkes.go.id

1000 hari pertama kehidupan memang sangat penting karena bisa menentukan kualitas hidup di masa depan. Alasannya, proses tumbuh kembang terjadi sangat cepat pada periode masa janin hingga anak berusia 2 tahun. Itulah kenapa asupan gizi harus benar-benar diperhatikan sejak bayi dalam kandungan, bukan sejak dilahirkan.

Untuk memantau apakah asupan gizi selama mencukupi, biasanya saya rajin bertanya ketika konsultasi ke dokter kandungan. Selain itu, rumah sakit tempat saya mengecek kandungan dan melahirkan juga memberikan buku catatan medis.


Salah satu buku catatan medis yang saya punya


Buku catatan medis adalah buku yang didalamnya berisi perkembangan berat badan dan tensi saya setiap bulan bahkan minggu, catatan dari dokter, foto USG, serta aneka tips untuk ibu hamil. Buku catatan medis ini juga bisa membuat seorang ibu terhindar dari stress. Karena seluruh catatan medis dirinya selama kehamilan dan juga anak-anaknya tercatat lengkap di buku tersebut.

Buku catatan medis ini, selalu saya bawa kemanapun. Terutama buku catatan medis untuk anak. Menurut saya, membawa catatan medis kemanapun termasuk kalau lagi di luar kota itu sangat penting. Kalau suatu waktu kita harus ke dokter, catatan medis ini bisa membantu dokter yang menangani kita dengan melihat riwayat kesehatan yang ada di buku tersebut.


Mommychi = Catatan medis digital


Catatan medis yang saya punya memang masih berupa buku. Ada 3 buku yang saya punya, yaitu catatan medis ibu, dan 2 buku catatan medis untuk anak (Kan, anak saya 2 orang :)). Bentuknya yang sebesar buku tulis, gak memungkinkan kalau dibawa ke dalam tas perempuan yang kecil. Memang, jadi kurang praktis.
 
Tapi, kalau sekarang serba digital. Bahkan catatan medis pun dibuat digital. Adalah Mommychi, sebuah aplikasi mobile gratis yang berfungsi sebagai asisten pribadi untuk memberikan catatan medis digital bagi 1000 hari pertama kehidupan (sejak masa kehamilan dan tumbuh kembang anak). Fitur-fitur didalamnya terlengkap dan mudah untuk digunakan.

Penasaran kayak apa aplikasi Mommychi? Yuk, kita 'bedah' satu per satu.


mommychi 1000 hari pertama kehidupan
3 fitur utama Mommychi


Secara garis besar, aplikasi Mommychi terbagi dalam 3 fitur, yaitu:

  • Fitur Umum
  • Fitur Kehamilan
  • Fitur Anak

 

Fitur Umum


Di dalam fitur umum terdapat :

  • Galeri - Dimana kita bisa menyimpan foto-foto masa kehamilan dan foto anak
  • Direktori alamat - Terkadang kalau kita sedang berada di suatu tempat lalu harus ke rumah sakit, dokter, atau apotek, kita suka gak tau harus cari dimana. Direktori alamat akan membantu kita mencari fasilitas kesehatan yang dibutuhkan
  • Fitur menyenangkan - semua orang butuh hiburan. Di aplikasi Mommychi juga ada hiburannya, seperti mewarnai, kumpulan lagu anak, hingga musik klasik. Dan, musik klasik itu katanya bagus buat kecerdasan bayi, lho :)
  • Belanja online - Belanja online di sini, bukan belanja pakaian tapi belanja berbagai nutrisi yang dibutuhkan di Kalbe Store. Jangan khawatir kita akan mendapatkan obat yang sudah kadaluarsa. Kalbe sudah memiliki nama besar, harusnya tetap akan menjaga nama baiknya.

 

Fitur Kehamilan

mommychi 1000 hari pertama kehidupan

  • Ibu hamil seharusnya rutin konsultasi ke dokter kandungan atau bidan. Dan, setiap kunjungan harus dicatat penambahan berat badan dan perkembangan janin untuk menggambarkan seperti apa status gizi ibu hamil dan janin yang dikandungnya

  • Ibu hamil harus banyak membaca informasi seputar kehamilan serta tips-tipsnya. Aplikasi Mommychi akan selalu meng-update berbagai info penting tentang kehamilan termasuk video senam hamil. Ibu hamil juga bisa menyimpan foto-foto selama kehamilan, termasuk foto USG. Bingung karena belum menemukan nama bagi sang buah hati? Ada aplikasi Baby Namerator yang akan membantu orang tua menemukan nama bayi yang pas untuk buah hati tercinta.


Fitur Anak

mommychi 1000 hari pertama kehidupan 

  • Mengamati dan mencatat tumbuh kembang anak terutama hingga usia balita adalah hal penting. Perkembangan yang diukur adalah berat badan, panjang tubuh, dan lingkar kepala. Orang tua bisa menilai apakah gizi yang sudah diberikan seimbang dengan melihat tumbuh kembang si anak. Imunisasi juga harus dicatat, supaya jangan terlewat atau dobel. Ada reminder, supaya orang tua tidak terlewat waktunya mengimunisasi anak.

  • Selalu meng-update informasi tentang anak juga penting. Terutama buat orang tua muda, terkadang masih suka panik tentang tumbuh kembang anak, terlebih kalau anaknya sakit. Dengan banyak mendapatkan info tentang anak, bisa mengurangi rasa panik orang tua, lho.


    Bagus banget aplikasinya, kan? Trus, kelebihannya sama buku catatan medis apa? Perbedaannya adalah:

    1. Info-info penting tentang kehamilan dan tumbuh kembang anak akan selalu di update di aplikasi Mommychi. Sedangkan kalau buku kan tidak mungkin.
    2. Hanya membutuhkan 1 akun saja, pengguna sudah bisa mendapatkan fitur kehamilan dan juga fitur anak. Sedangkan untuk buku tidak. Saya aja sampe punya 3 buku.
    3. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kehilangan gadget, kita tidak akan kehilangan catatan medis digital. Asalkan mempunyai lagi gadget yang berbasis Android atau iOS. Sedangkan kalau buku, apabila hilang atau koyak (misalnya kebasahan) maka sebagian catatan pun bisa ikut hilang. Kalaupun ada, catatan cadangannya biasanya untuk arsip rumah sakit.
    4. Tidak ada fitur-fitur yang menyenangkan, seperti album foto, musik, dan game di duku catatan medis
     

    Untuk informasi lebih lanjut silakan lihat ke web Mommychi. Bisa juga langsung download di AppStore atau Google Play.

    Jangan lupa untuk bikin akunnya dulu. Gratis, kok! Registrasi bisa menggunakan akun FB atau email

    Coba applikasi Mommychi udah dari dulu, ya. Kayaknya Bunda Chi dan Mommychi bakal jadi sahabat baik Apa perlu hamil lagi? Hmmmm... ;)
    Yuk! ibu-ibu yang lagi hamil, yang baru melahirkan download aplikasi ini, ya. Yang baru menikah juga boleh, kok. Karena 1000 hari pertama kehidupan itu sangat penting. lho :)

    Keterangan : Seluruh foto yang ada di postingan ini, kecuali foto buku catatan medis, adalah milik Mommychi

Sunday, January 19, 2014

Kita Semua Sama

Kita Semua Sama


Zakius : "Ibu..., ini anak hebat. Salut. Biasanya anak kecil kalau lihat orang-orang berkulit hitam seperti kami pasti nangis, karena tidak terbiasa. Begitu juga dengan anak-anak di Papua, mereka kalau lihat orang berkulit putih biasanya pasti nangis. Seperti anak saya. Tapi anak ini hebat, dia tidak takut apalagi menangis. Malah dia ikut makan dan ngobrol bersama dengan kami. Anak ini calon pemimpin".

Itu adalah komentar teman K'Aie terhadap Keke. Postingan tahun 2008, yang berjudul "Keola & Orang Papua", dimana untuk pertama kalinya Keke dan Nai bertemu langsung dengan 4 orang Papua. Dan kemudian kami mengajak mereka jalan-jalan. Mumpung mereka lagi ada di Jakarta.
Tidak ada tangisan ketakutan dari Keke dan Nai. Bahkan Keke bisa berakrab-akrab dengan mereka. Padahal dari 4 orang tersebut, hanya 1 orang yang bisa berbahasa Indonesia. Kemana jalan-jalannya dan seperti apa keakrabannya, silakan klik postingan Chi yang berjudul "Keola & Orang Papua" itu.

Postingan ini gak cuma sekedar ingin bernostalgia. Tapi, juga ingin melengkapi postingan yang sebelumnya.

Chi pikir, seandainya saat itu Keke dan Nai menangis pun, rasanya masih wajar. Mereka masih anak-anak (Keke saat itu berumur 3 tahun, Nai umurnya 1 tahun). Seperti kata Zakius, salah satu tamu dari Papua, anak kecil menangis mungkin karena tidka terbiasa. Anak-anak di Papua pun (termasuk putrinya) kalau melihat orang kulit putih akan menangis. Pelan-pelan, sebagai orang tua, kita bisa mengajarkan kepada mereka supaya jangan takut.

Nah, trus gimana kalau orang dewasa yang seperti itu. Maksudnya memandang aneh (rasanya kalau menangis, sih, enggak ya) orang yang 'tidak sama' dengannya? *Sengaja Chi kasih tanda kutip kata tidak samanya. Nah! Itu baru yang tidak bisa dianggap biasa.

Memang kenapa kalau mereka berkulit hitam, putih, coklat, bahkan albino sekalipun? Memang kenapa kalau mata mereka sipit, belo, atau juling? Memang kenapa kalau rambut mereka keriting, lurus, panjang, pendek, bahkan botak? Ah, memang ada yang salah dari itu semua, sehingga kita merasa berhak untuk menertawakan?

Sejak pertemuan beberapa tahun lalu, Keke dan Nai belum pernah bertemu dengan lagi dengan teman-teman K'Aie dari Papua itu. Semoga kalau suatu saat bertemu, Keke dan Nai jangan jadi anak yang takut hanya karena kulit mereka hitam. Semoga Chi bisa terus mengingatkan Keke dan Nai tentang hal ini.

Kenapa Chi merasa harus terus mengingatkan hal seperti ini? Karena manusia berubah. Mungkin wkatu kecil dulu, Keke dan Nai santai aja bahkan bisa berakrab-akrab. Tapi siapa tau, seiring perjalanan waktu, mereka berubah. Faktor penyebab banyak. Bisa kaena pengaruh teman, saudara, televisi, dunia maya, dan lain sebagainya. Udah gitu, sebagai orang tua kami lupa untuk mengingatkan. Akhirnya, Keke dan Nai terpengaruh hal negatif, melakukan bully misalnya. Makanya, Chi merasa perlu untuk terus mengingatkan. Agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kita semua sama. Jadi, jangan membeda-bedakan dari fisik seseorang.

Thursday, January 16, 2014

Buku Sebagai Kebutuhan Pokok

Buku Sebagai Kebutuhan Pokok

Salah satu hal yang saya ingat tentang pelajaran waktu SD adalah tentang sandang, pangan, dan papan. Nah, kalau buku, kira-kira masuk ke kategori mana? Saya rasa, gak masuk kedalam ketiga kategori itu. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, buku juga merupakan kebutuhan pokok bagi saya.

Sejak kecil, saya sudah sering dibelikan buku oleh orang tua. Jadi, saya memang sudah akrab dengan buku sejak kecil. Rasanya, tiada hari tanpa membaca buku. Kemana-manapun saya selalu membawa buku. Karena buku itu teman yang paling setia. Gak perlu khawatir sama urusan low bat kalau baca buku.

Kebiasaan membaca, juga coba saya tularkan ke Keke dan Nai. Saya ajak mereka membaca sedini mungkin. Yang awalnya dibacakan, sekarang mereka sudah bisa membaca sendiri. Tapi, kalau tiap malam, saya masih suka membacakan untuk mereka.

Membaca itu banyak manfaatnya. Yang paling saya rasakan adalah kebersamaan. Kebersamaan saat mendongengkan mereka maupun saat berdiskusi membahsa buku yang sedang dibaca. Bahkan Keke dan Nai pun bisa membaca karena rajin membaca buku. Jadi, bukan karena paksaan.
Secara rutin, paling gak sebulan sekali, saya selalu berusaha membeli buku baru. Terutama untuk Keke dan Nai. Rasanya, saya lebih kalap kalau membeli buku daripada membeli pakaian :)

Beberapa tahun lalu, saat masih jadi orang kantoran, membeli buku bahkan gak hanya sebulan sekali. Tergoda terus untuk ke toko buku. Gimana, gak tergoda kalau kantor saya dulu dekat sekali sama mall. Tinggal jalan kaki, makan siang pun di mall. :D

Sekarang, waktu saya lebih terbatas. Paling, cuma wiken atau hari libur lainnya baru bisa ke toko buku. Makanya, seneng banget kalau ada toko online yang khusus jualan buku kayak Mizan Store.

Familiar dengan nama Mizan store? Iya, karena Mizan store adalah salah satu toko online dari Mizan Digital Publishing. Jualan utamanya tentu aja buku-buku. Walopun begitu, ada juga produk lain seperti gadget, apparel muslim, edutoys, dan lainnya.

Kalau melihat buku-buku di Mizan store, rasanya pengen borong semua! Apalagi buku anak-anaknya. Kebetulan Nai juga lagi suka banget baca buku KKPK, terutama KKPK Next G. Dia lagi ngumpulin semua buku KKPK Next G. Makanya, saya sering lihat web Mizan store. Kali aja ada terbitan baru dari KKPK Next G.

Belanja di Mizan store juga mudah banget. Yang pertama kali harus kita lakukan adalah melakukan registrasi. Ikutin aja perintah-perintahnya. Gak sulit, kok, tinggal klak-klik. Kalaupun masih bingung juga, lihat kolom FAQ. Akan ada penjelasannya disana.

Ada yang mau ikut saya belanja buku di Mizan store, malam ini? :)



Deretan buku yang ada di Mizan store dan masih banyak pilihan buku lainnya

Monday, January 13, 2014

Rapor Kurikulum Baru

Rapor Kurikulum Baru

Akhir Desember 2013, Keke dan Nai terima rapor semester 1. Tahun ini, Keke mendapatkan kurikulum baru 2013. Jadi, rapornya pun baru. Di bawah ini penampakan rapor barunya.

Kiri - rapor kurikulum baru. Kanan - rapor lama


Rapor baru 2013 lebih besar dan lebih tebal daripada rapor lama. Penyebabnya :


  1. Rapor kurikulum baru isinya seperti rapor TK lagi. Penuh dengan deskripsi. Semua tingkah laku anak kita ditulis. Karena penialain kurikulum 2013 adalah karakter bukan angka.
  2. Ada halaman untuk nilai akademisnya juga. Kalau ini, sebetulnya inisiatif sekolah. Karena rapor kurikulum baru harusnya murni berisi tentang karakter anak selama di sekolah. Tapi kenyataannya, gak semua orang tua setuju dengan penilaian murni karakter. Ada beberapa orang tua yang kurang sreg kalau dalam rapor anaknya mendapatkan 'catatan khusus'. Ada kemungkinan jadinya nanti guru-guru dianggap pilih kasih. Untuk menghindari hal tersebut, sekolah berinisiatif untuk memberikan nilai akademis juga diraport. Setidaknya orangtua dapat menilai sendiri kecerdasan anaknya secara karakter maupun akademis.

Ngomong-ngomong tentang nomor 2, Chi setuju sama inisiatif sekolah. Kurikulum 2013 ini menurut Chi lebih baik daripada kurikulum sebelumnya. Tapi, prakteknya lebh sulit. Resikonya juga lebih besar. Oiya, info lengkap seperti apa kurikulum yang baru, silakan baca tulisan Chi yang berjudul "Kurikulum 2013, Siapkah Kita?"

Menilai karakter anak itu gak semudah memberi penilaian akademis. Di penilaian akademis, guru tinggal menilai melalui hasil ulangan harian, UTS, dan UAS. Semua hasil tes itu pun diberikan ke orang tua setelah dinilai. Jadi, orang tua bisa menilai apakah anaknya bisa mengikuti atau tidak.

Sementara karakter gak sesimpel itu. Kita menilai karakter anak sendiri aja seringkali masih terus mencari. Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda. Bahkan sesama saudara kandung sekalipun. Nah, kabayang kan kalau setiap wali kelas harus bisa memahami semua karakter anak muridnya satu per satu?

Kalau gak sesuai dengan harapan orangtua, bisa jadi mereka akan menuduh gurunya pilih kasih. Padahal mungkin guru-guru sudah berusaha menilai karakter masing-masing anak seobjektif mungkin. Makanya, akhirnya sekolah berinisiatif untuk memberi penilaian akademis juga di rapor.

Satu lagi yang suka bikin Chi gregetan kalau ngobrol dengan sesama orangtua yang anaknya juga mendapat kurikulum baru (gak cuma orangtua murid di sekolah Keke aja). Sebelum ada kurikulum baru, suka ada aja yang protes katanya pendidikan di kita ini terlalu mementingkan nilai akademis, bukan karakter. Pelajaran anak-anak semakin susah, bikin anak-anak jadi stress sejak kecil. Materi pelajaran SD aja udah berat banget kayak anak SMA jaman orangtuanya dulu. Belom lagi beban tas sekolah yang sangat berat, saking banyaknya buku pelajaran yang harus dibawa.

Tapi, di kurikulum baru banyak hal yang selama ini jadi protes diperbaiki. Yang diutamakan adalah karakter, materi pelajaran lebih mudah (pas untuk anak SD), dan tas sekolah jadi jauh lebih ringan. Eits, ternyata tetep aja ada yang protes, lho.

Katanya, kenapa bobot pelajaran harus diturunkan. Itu sama aja mundur ke belakang karena gak bikin anak jadi pinter. Kenapa karakter? Nanti gak ketauan anak kita pinter atau enggak. Dan, segala protes lainnya. Yang bikin Chi gregetan, yang protes tuh orangnya itu-itu ajah. Duh, ibu-ibu, bapak-bapak, maunya apa, siiiihhhh? Tapi, ya, sudahlah biar itu jadi problem yang suka serba salah hehehe :p

Gimana dengan Keke? Alhamdulillah, penilaian wali kelasnya baik-baik aja. Sebetulnya, rapor Keke diambil sama K'Aie. Chi ambil rapor Nai. Menurut K'Aie dan juga catatan di rapor, secara umum Chi ambil kesimpulan kalau Keke baik-baik aja selama di sekolah.

Penilaian akademisnya pun alhamdulillah juga bagus-bagus. Mayoritas di atas angka 90. Yang lumayan drop adalah pelajaran bahasa Arab. Keke dapet 78, mendekati KKM. Tapi, Chi coba mengerti penyebabnya, yaitu:


  1. Ini pertama kalinya Keke belajar bahasa Arab
  2. Chi juga selama ini gak pernah belajar bahasa Arab. Jadi, Chi dan Keke sebetulnya sama-sama belajar dari nol hehehe. Sekedar info, bahasa Arab tentu aja beda dengan belajar iqro dan membaca Al-Qur'an, ya.
  3. Di sekolah, menurut cerita Keke, untuk pelajaran bahasa Arab sempet gonta-ganti guru. Awalnya guru yang seharusnya mengajar bahasa Arab, cuti melahirkan. Padahal tahun ajaran baru dimulai. Setelah cuti melahirkan, gak taunya resign. Jadinya, gonta-ganti guru pengganti. Namanya juga gonta-ganti guru pengganti, walopun yang diajarkan sama tetep aja akan beda-beda hasilnya. Dan, mungkin sedikit menimbulkan kebingungan. Udah gitu materi UAS juga salah info. Katanya cuma sampe bab 2, tapi gak taunya sampe bab 3.
    Chi gak menyalahkan sekolah, kok. Chi cuma memaklumi kalau Keke dapet nilai 78 untuk bahasa Arab. Sekarang, tinggal gimana caranya mengajarkan Keke mengejar ketinggalannya dlama bahasa Arab. Walopun Chi juga msih sangat belajar untuk bahasa Arab.

Jadi, seperti itu lah kira-kira rapor kurikulum baru di sekolah Keke. Ada yang udah dapet kurikulum baru juga? :)

Sunday, January 12, 2014

Sekolah Di Atas Awan

Sekolah Di Atas Awan

"Enak, ya, sekolah-sekolah di daerah. Halamannya masih pada luas. Berasa sejuk banget," kata K'Aie waktu kami berjalan-jalan keliling Jawa saat liburan kenaikan lalu.

Spontan, Chi inget dengan foto sekolah putra mbak Dey di FBnya. Sekolah dimana terlihat jelas pegunungan, berhalaman luas, dan langit biru cerah. Makanya, postingan ini pun Chi kasih judul dengan "Sekolah Di Atas Awan". 

Sekolah-sekolah yang kami lewati dan K'Aie suka itu (Chi juga suka, sih) bukanlah sekolah dengan gedung mentereng. Apalagi menyandang kata 'internasional'. Hanya gedung sekolah sederhana. Tapi, halaman luas dengan banyak pepohonannya yang bikin kami suka setiap kali meihatnya. Kadang kami melihat beberapa anak sedang bermain di halaman sekolah.

Beruntung sekali anak-anak yang masih memiliki halaman luas di sekolahnya. Sebagai perbandingan, Chi pernah mengunjungi beberapa sekolah, dimana minim sekali halaman tapi sebagai pengganti tersedia ruangan bermain indoor. Cuma, tetep aja buat kami, sekolah yang masih memiliki halaman itu bisa dijadikan salah satu nilai plus ketika memilih sekolah. Dan bersyukur, Keke-Nai masih memiliki halaman di sekolahnya walaupun mungkin tidak seperti "sekolah di atas awan" :)

Tuesday, January 7, 2014

Superwoman Pun Ada Di Sekitar Kita

Superwoman Pun Ada Di Sekitar Kita

Temans, siapa sosok superwoman bagimu? Supergirl? Batgirl? Xena the warrior princess? Atau Wonder Woman? Wah, kejauhan. Kita cari yang dekat-dekat di sekitar kita aja dan yang pasti sosoknya nyata. Adakah? Pasti ada!

Buat saya, sosok superwoman itu harus enerjik, mempunyai kharisma, bisa mempengaruhi, dan selalu ceria. Sosok yang inspiratif, deh, pokoknya! Sosok superwoman, gak selalu harus orang terkenal, kok. Selama sosok tersebut memang menginspirasi kita (kegiatannya, cerita hidupnya, mempunyai pengaruh terhadap kehidupan orang lain, atau lainnya), sosok tersebut layak kita katakan superwoman. Tua atau muda bisa menjadi superwoman.

Bagaimana? Sudah tau siapa tokoh superwoman mu? Kalau sudah, mendingan kita ikut kontes Parkway Superwomen Indonesia aja. Daftarkan superwoman favoritmu.

Caranya gampang, kok, yaitu : 



Gimana? Gampang, kan? Ada hadiah tiket PP Singapura dan check-up kesehatan khusus perempuan di Parkway Hospital. Yang dapat gak cuma peserta yang menominasikan, sosok superwoman yang dinominasikan juga berhak mendapatkan hadiah tersebut.

Lomba berlangsung dari tanggal 6 Desember 2013 s/d 19 Januari 2014. Pemenang ditentukan berdasarkan vote terbanyak, ya.

Kalau saya, akan menominasikan mamah mertua. Beliau memang bukan orang terkenal, tapi superwoman bagi saya. Karena diusianya yang sudah senja (72 tahun), tetap usaha kecil-kecilan berjualan kue, aktif di lingkungan sekitar, mengurus papah mertua yang sudah sakit-sakitan karena diabetes, dan mengurus ibundanya yang sudah mulai bertingkah seperti anak kecil. Bukan pekerjaan yang mudah pastinya. Apalagi semua dilakukan sendiri (mamah gak mau ditawarin asisten). Sangat menginpirasi saya terutama kesabarannya yang luar biasa.

Hei! Mamah mertua saya hari ini ulang tahun. Semoga selalu diberi kesehatan dan kesabaran. Tetap menjadi sosok inspirasi bagi saya, ya, Mah :L


Monday, January 6, 2014

Garut Itu Ternyata...

Garut Itu Ternyata...

K'Aie : "Nanti malem, kita mau nginep di Garut atau Lembang, Bun?"
Chi     : "Terserah aja. Enaknya dimana?"

Garut atau Lembang memang akan jadi kota terakhir yang akan kami datangi dalam jalan-jalan Tour D' Java, liburan kenaikan kelas lalu. Setelah menempuh perjalanan panjang selama beberapa hari, rasanya akan sangat nikmat kalau perjalanan ini ditutup dengan mandi air hangat alami. Pilihannya kalau gak Lembang, ya Garut. Dengan pertimbangan, jarak Garut lebih dekat, kami pun memilih Garut.

K'Aie pengennya menginap di Sabda Alam, Garut. Dari Jogja, Chi udah berkali-kali telpon ke Sabda Alam tapi gak diangkat terus telponnya. Chi tawarin penginapan lain, K'Aie gak mau. Tetep pengennya Sabda Alam. Dan, karena gak bisa ditelpon juga, kami memutuskan tetap berangkat ke Garut.

Berangkat dari Jogja sekitar pukul 11.00 siang. Perjalanan menuju Garut gak bisa dibilang cepat juga. Entah karena lagi musim liburan plus menjelang malam Minggu pula, banyak sekali motor yang bersliweran. Banyak yang jalannya lambat tapi posisi di tengah, bikin kami kagok kalau mau nyusul.

Menjelang tengah malam, kami baru masuk Garut. Kota Garut udah sangat sepi. Ada kejadian yang bikin Chi sempet tegang di sini. Tiba-tiba aja, ada sebuah sepeda motor mepetin mobil kami dari arah kanan. Pengendara motor selain mepetin terus, juga menunjuk-nunjuk dengan memasang muka garang, meminta kami meminggirkan kendaraan. Sesekali dia ngegerungin gas motornya.
Di dalam mobil, Chi udah jerit-jerit plus ngomel gak karuan. *Untung anak-anak udah tidur. K'Aie minta Chi tetap tenang. Tapi, gimana Chi bisa tenang? Itu motor terus mepet, sesekali kayak mau nyerempet. Muka pengendaranya keliatan garang banget, melotot-melotot kayak orang marah. Sambil terus nunjuk-nunjuk, minta kami meminggirkan kendaraan.

Perasaan, dari tadi mobil kami berjalan sangat pelan. Kota Garut pun terasa udah sepi banget karena udah menjelang tengah malam. Kondisi mobil kami juga gak kenapa-napa. Jadi, kami gak ngerti kenapa tiba-tiba ada motor yang kesannya mau cari gara-gara *beneran, sampe sekarang kalau inget ekspresi dan cara dia mepetin motornya ke mobil kami, susah buat Chi untuk berpikiran positif sama yang pengendara motor itu lakukan. Apalagi lagi marak cerita tentang genk motor. Asli, Chi takut banget saat itu.

K'Aie gak meladeni keinginan pengendara motor tersebut. Mobil terus melaju. Sampai kemudian kami melihat ada mobil polisi di depan. K'Aie langsung mengarahkan mobil mendekati mobil polisi. Setelah mobil kami mendekati mobil polisi, si pengendara motor pun menjauh. Mengambil jalan lain. Alhamdulillah. Dan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Kota Garut yang terasa sangat sepi, berbanding terbalik ketika kami sampai Cipanas. Rameeee... Padahal udah tengah malam. Sayangnya semua penginapan penuh. Bahkan, boro-boro kami bisa masuk penginapan. Baru sampe depan pos satpam aja, udah dicegat satpam yang bilang udah gak ada kamar kosong. Dan semua penginapan seperti itu. Sama sekali gak bisa masuk.

Garut itu ternyata kecil. Terutama daerah Cipanas. Chi memang baru kali itu ke Garut. Selama ini Chi pikir Garut itu kayak Puncak atau Lembang. Dimana daerahnya cukup luas dengan banyaknya pilihan penginapan. Ternyata, Cipanas-Garut gak segede itu.

Chi sempet kecewa karena akhirnya gak jadi nginep di Garut. K'Aie sempet nawarin ke Lembang. Tapi saat itu udah pukul 01.00 dinihari, mau sampe jam berapa di Lembang? Kalopun dapet, kayaknya rugi banget. Siangnya kan udah harus check out.

K'Aie nawarin alternatif lain, yaitu cari hotel di Bandung. Chi udah males. Di Bandung itu banyak sodara, kalau nginep di hotel rasanya kurang enak. Mau numpang tidur di rumah sodara juga Chi males. Bukan gak mau silaturahmi, tapi saat itu yang Chi pengen adalah beristirahat di hotel sepuasnya. Apalagi udah sampe ngebayangin berendam air panas pula hahaha.

Akhirnya, kami mutusin pulang aja. Pukul 03.00 pagi kami sampai di rumah. Bener-bener cape. Ditambah lagi perjalanan yang berkesan ini harus ditutup dengan sedikit kekecewaan. Yang paling kecewa memang Chi, sih. *pengakuan :p Untungnya K'Aie dan anak-anak selalu punya cara untuk bisa bikin Chi ketawa lagi hihihi :L

Semoga lain kali masih dikasih rezeki untuk liburan lagi. Aamiin

Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :
  1. Liburan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
  4. Perjalanan Menuju Bromo
  5. Lava View Lodge - Bromo
  6. Bromo yang Menakjubkan 
  7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane 
  8. Semalam di Blitar 
  9. Sang Fajar Suite 
  10. Menuju Jomblang
  11. Impian Yang (Terlalu Cepat) Menjadi Nyata  
  12. Jomblang Resort 
  13. Melihat 'Cahaya Surga' di Goa Jomblang 
  14. Sekejap di Jogja
Tontonan Murah Bukan Berarti Harus Murahan

Tontonan Murah Bukan Berarti Harus Murahan

Beberapa tahun lalu...

Chi : "Heran, tayangan televisi lokal mulai dari berita, infotainment, musik, sinetron, dan lainnya, kualitasnya mirip-mirip. Gak layak tonton. Bikin cape hati ngeliatnya.Tapi, keliatannya semakin 'aneh' justru semakin banyak peminatnya, ya?"

Teman : "Mungkin karena yang namanya manusia itu pada dasarnya butuh hiburan. Televisi masih jadi hiburan termurah. Kita tinggal nyalain tv, gak perlu dandan atau keluar uang untuk nonton tv. Gratis! Dan, masih banyak yang berpikir, 'gak perlu protes kalau dikasih gratis.' Jadi, sebetulnya yang nonton mungkin ada yang tau kualitasnya gak bagus. Makanya, kadang suka ada yang nonton sinetron sambil ngomel-ngomel, misalnya.Tapi, tetep aja nonton hahaha."

Chi cuma manggut-manggut saat itu. Walopun tetep aja dalam hati masih ada yang ngeganjel. Setuju, kalau TV memang hiburan termurah bagi masyarakat. Tapi, apakah harus dibikin murahan kualitasnya? Apakah karena gratis, artinya kita gak boleh kritis terhadap setiap tayangan yang kita anggap gak layak?

Dan, pertanyaan yang selalu berulang-ulang dalam hati adalah, apa peran KPI? Iya, Chi tau, KPI seringkali melakukan peneguran terhadap tayangan maupun artis yang dianggap keterlaluan. Tapi, rasanya hanya sebatas teguran. Acara atau artisnya tetap aja laris manis.

Tapi, sebelum Chi dinyinyirin, "Kalau gak suka, mending gak usah nonton atau bikin acara sendiri ajah!". Jadi, Chi pun milih diam. Hehehhe becanda, ding! Temen Chi ini baik, kok. Gak ada yang namanya nyinyir-nyiriran ;)

Dan, bukan berarti Chi diam pasrah. Menurut Chi, menyikapi tayangan yang tidak layak, ada langkah-langkah solusi yang bisa kita lakukan :


  1. Matikan atau meniadakan keberadaan TV di rumah. Kalau mematikan tv di rumah, seringkali Chi lakukan. Biasanya kalau lagi ada kegiatan lain, misalnya internetan. Boros listrik kalau semuanya nyala. Untuk menggantikan kegiatan nonton tv memang harus ada kegiatan lain yang menyenangkan. Tapi, kalau meniadakan tv di rumah, Chi dan keluarga rasanya belum sanggup. Mematikan, memindahkan channel, atau bahkan meniadakan sekalipun harus diganti dengan kegiatan yang tidak hanya positif. Kegiatan tersebut juga harus menyenangkan, malah kalau perlu harus lebih menyenangkan dari menonton televisi.
  2. Langganan tv kabel. Di rumah kami berlangganan tv kabel. Memang gak semua tayangan di tv kabel bisa dianggap layak. Tapi setidaknya, pilihan tayangan yang layak tonton pun lebih banyak. Dan, jujur aja, kami (termasuk Keke dan Nai), semakin gak pernah nonton tayangan lokal kalau di rumah.
  3. Ikut petisi. Akhir-akhir banyak pihak yang menandatangani petisi agar televisi yang bersangkutan
    segera menghetikan penayangan YKS. Walaupun, Chi gak pernah nonton karena begitu tau kalau konsep acaranya joged dangdut (maaf, bukan Chi melecehkan dangdut. Tapi, sayangnya dangdut jaman sekarang lirik maupun goyangannya itu banyakan gak layaknya) plus artis pendukungnya 4L (Lo Lagi, Lo Lagi), udah bikin Chi ilfil duluan. Tentu aja Chi ikut senang kalau karena petisi ini YKS dihentikan atau diubah konsepnya menjadi layak tonton. Walopun begitu, kalau bisa jangan hanya YKS. Karena sebetulnya yang gak layak itu banyaaakkkk. Tapi, biar gimana petisi ini langkah awal yang harus diapresiasi. Silakan klik link ini kalau mau ikut petisinya http://www.change.org/id/petisi/transtv-corp-segera-hentikan-penayangan-yks
  4. Bentengi dengan komunikasi yang baik dari keluarga. Ada seorang teman pernah menyatakan keheranannya ke Chi melihat Keke dan Nai suka nonton Tom and Jerry. Menurutnya, Tom and Jerry itu tayangan yang gak layak, karena ngajarin anak-anak untuk berantem dan ngebully. Makanya, dia melarang keras anaknya untuk menonton Tom and Jerry.
    "Gue juga waktu kecil nonton Tom and Jerry, kok." Chi jawab begitu sambil ketawa-ketawa. Tentu aja, Chi gak menyalahkan pilihan temen. Semua punya kebijakan masing-masing. Tapi, Chi juga mau menjelaskan kalaupun kita nonton Tom and Jerry bukan berarti otomatis akan membuat kita jadi anak yang suka berantem atau membully. Seperti halnya Chi, Keke dan Nai kalau nonton Tom and Jerry itu bisa ngakak-ngakak, tapi Chi rutin mengingatkan mereka untuk jangan pernah meniri apa yang dilakukan di kartun. Termasuk juga tertawa ketika melihat teman sedang bertengkar atau di bully. Chi rutin melakukan komunikasi seperti itu dengan cara yang terbuka dan sesantai mungkin.
    Chi bisa mengatakan, kalau di rumah tontonan mereka sudah sangat selektif. Tapi, bagaimana dengan pengaruh di luar? Kan, gak mungkin juga mengawasi anak-anak 24 jam dalam sehari. Chi setuju, kalau perilaku anak juga bisa dipengaruhi pihak-pihak lain. Karena biar gimana manusia itu bersosialisasi. Untuk meminimalisi kemungkinan 'kecolongan' perilaku yang tidak diinginkan, semaksimal mungkin Chi membentengi mereka dengan komunikasi yang baik dengan anak-anak.
    Komunikasi yang baik harus terus dilakukan. Kita sendiri malas, kan, kalau ngobrol sama seseorang yang gak asik diajak ngobrol? Makanya, Chi berusaha terus untuk mencoba masuk dengan cara mereka berkomunikasi. Supaya mereka merasa nyaman kalau mau bercerita bahkan curhat. Walopun ada saat-saat tertentu dimana sebagai orang tua, Chi harus mendikte mereka.

Itu beberapa solusi yang coba Chi terapkan. Urutan solusi di atas bukan skala prioritas, Yang artinya, solusi nomor 1 lebih baik dari nomor 2. Semua sama baiknya, kok Atau ada solusi lain selain 4 solusi di atas? Ya, silakan saja kalau itu memang terbaik buat kita.

Mau menyelesaikan hanya dengan 1 solusi atau banyak solusi sekaligus. Juga, kembali ke pilihan masing-masing. Gak perlu saling nyinyir.


  1. Ketika ada yang menandatangi petisi - "Ngapain juga tandatangan petisi. Matiin aja televisinya atau pindah channel, gitu aja repot!"
  2. Ketika kita hanya memilih mematikan televisi - "Kenapa gak mau tanda-tangan petisi? Emang gak peduli, ya, sama kecerdasan bangsa?"
  3. Gak perlu juga maksa-maksa atau ngeledekin orang lain dengan mengatakan, "Makanya berlangganan tv kabel."

Saling nyinyir malah (mungkin) akan membuat kita ditertawakan oleh pihak lain yang bertentangan tujuannya. Lah, tujuan kita kan sama sebetulnya. Sama-sama merasa tayangan tersebut gak layak dan meresahkan. Jadi, sebetulnya gak masalah apapun solusi yang kita pilih, selama memang kita tidak mendukung tayangan tersebut atau tayangan-tayangan lainnya yang yang dianggap gak layak.

Ya, itu 4 solusi yang Chi lakukan. Apa solusi yang teman-teman lakukan. Boleh, dong, Chi kepo? :p

Friday, January 3, 2014

Sekejap Di Jogja

Sekejap Di Jogja

Setelah menikmati 'cahaya surga' di goa Jomblang, kami pun bergegas menuju Jogja. Tentunya, setelah membersihkan badan (walopun tanpa sabun :p).

Masih di daerah Gunung Kidul, kami cari tempat untuk makan siang. Ada rumah makan kecil, rumah makan padang. Begitu tulisan yang tertulis di depan rumah makannya. Tapi, tidak seperti rumah makan padang yang seperti ini kami datangi. Yang dijual di sana, semuanya lauk-pauk goreng crispy. Ayam goreng, bandeng goreng, dan lauk-pauk lainnya yang diberi tepung trus digoreng. Paling yang mirip rumah makan padangnya adalah sambel hijaunya, itu aja.

Awalnya, jalanan cukup lancar. Sampai kemudian di daerah Bukit Bintang, sempet macet total. Gak tau kenapa. Kalau melihat Bukit Bintang, Chi langsung teringat Punclut di Bandung. Mirip-mirip tempatnya.

Di Jogja, kami gak menginap di hotel. Tapi, di rumah temen K'Aie, yang juga pemilik Resort Jomblang itu. Temen K'Aienya, sih, lagi di Jakarta. Jadi, pas kami disana, gak ada siapa-siapa di rumah itu. Serasa rumah sendiri. Halah! *minta dikeplak :p
Karena, menginap di rumah pribadi, jadi gak ada foto-foto di rumah, ya. Gak enak sama pemilik rumah kalau isi rumahnya di foto-foto apalagi sampe di upload. Yang jelas rumahnya nyaman. Terima kasih banyak udah menawarkan rumahnya untuk kami menginap :)

Malam hari, K'Aie ngajak untuk cari makan malam. Tapi, males bawa mobil. Maceeettt.... Mendingan cari becak. Awalnya, K'Aie pengen cari 2 becak, tapi kata tukang becaknya 1 aja cukup untuk kami berempat. Becaknya gede.

Jadi, kami pun naik 1 becak. Anak-anak dipangku tentunya. Kami minta dianter ke alun-alun selatan. Tukang becaknya minta tarif IDR 20 ribu. Setuju aja, lah. Keke dan Nai ternyata seneng banget naik becak. Enak kayaknya malem-malem kena angin hihihi.

Di Alun-Alun Selatan, bingung juga mau ngapain. Keke sempet bingung kenapa alun-alun terlihat meriah sekali. Ada becak warna-warni, dengan musik yang ingar-bingar. Ada yang duduk lesehan. Ada yang yang main lampu-lampu. Banyak, lah. Meriah!

Chi bilang ke Keke, nikmatnya tinggal di daerah itu alun-alunnya masih rame. Orang-orang gak melulu jalan ke mall. Cukup dengan main di alun-alun aja kayaknya udah asik. Ya, semoga aja yang namanya alun-alun gak tergerus kemajuan zaman. Diganti dengan gedung-gedung. Keke juga kelihatannya tertarik pengen cobain tutup mata buat ngelewatin phon beringin kembar. Tapi, pas Chi tawarin malah gak mau.

Anak-anak gak mau makan lesehan yang ada di alun-alun selatan. Akhirnya, kami memilih pulang. Tapi, susah juga ternyata cari becak. Jadi, kami memilih jalan kaki. Sambil cari-cari tempat buat makan malam.


Salah satu kemeriahan di alun-alun selatan


Setelah lumayan ngos-ngosan hehehe. Kami, pun, memilih resto Pendopo nDalem buat makan malem. Sayang banget, ternyata Keke dan Nai gak suka sama makanannya. Keke, sih, tetep makan walopun gak terlalu nafsu. Sementara Nai gak mau. Dia cuma mau makan aneka jajanan pasarnya aja. Ya, udah lah gak apa-apa.

Besok paginya, kami cari sarapan. Sebetulnya cuma Chi dan Keke. K'Aie sama Nai milih nunggu di rumah. Rumah temen K'Aie itu deket banget sama jalan Wijilan, pusatnya gudeg. Sepanjang jalan gudeg. Tinggal ngesot kalau mau ke pusat gudeg, saking deketnya hihihi. Tapi, Keke gak mau makan gudeg. Bukannya gak suka, tapi Keke ketagihan naik becak :r

Jadi, kami pun cari becak minta dianter ke alun-alun selatan (lagi). Ternyataaaaaa.... alun-alun selatan itu deket bangeeeetttt! Waktu malam hari itu, tukang becaknya bawa kami jalan memutar. Melewati tempat oleh-oleh. Mungkin biar kami sekalian belanja kali, ya.

Chi minta tukang becaknya untuk nungguin kami beli sarapan. Beli nasi kuning, soto ayam, trus lupa beli apa lagi. Yang pasti Chi inget, semuanya ada tahu bacemnya. Keke pun minta diajak main ke pohon beringin kembar itu. Sayang karena mungkin masih pagi tukang sewa kain buat nutup matanya belom ada. Sementara Chi juga gak bawa sapu tangan atau apalah buat nutup matanya. Jadi gagal, deh.

Setelah sarapan, santai-santai sejenak di rumah, sekitar pukul 11 kami melanjutkan perjalanan lagi. Tujuan kami selanjutnya adalah Garut. Rasanya kurang puas banget kalau ke Jogja cuma sekejap kayak gini. Semoga lain kali bisa ada kesempatan bisa berlama-lama di Jogja. Aamiin.

Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :
  1. Liburan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
  4. Perjalanan Menuju Bromo
  5. Lava View Lodge - Bromo
  6. Bromo yang Menakjubkan 
  7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane 
  8. Semalam di Blitar 
  9. Sang Fajar Suite 
  10. Menuju Jomblang
  11. Impian Yang (Terlalu Cepat) Menjadi Nyata  
  12. Jomblang Resort 
  13. Melihat 'Cahaya Surga' di Goa Jomblang