Sabtu, 30 Januari 2016

Acer Liquid Z320, Ponsel Android Sahabat Anak Dambaan Ibu

Acer Liquid Z320, Ponsel Android, Fitur kids center
 Acer Iiquid Z320 adalah ponsel android yang bisa menjadi sahabat anak dambaan ibu. Mengingat dampak negatif berinternet memang bisa sangat mengerikan, maka sebaiknya orangtua memilih ponsel yang tidak hanya pintar tapi juga aman bagi anak.

Bukan satu atau dua kali, Keke dan Nai meminta dibelikan ponsel. Hingga saat ini, kami masih menolak. Tidak langsung ditolak begitu saja, tapi kami selalu meminta Keke dan Nai untuk mengungkapkan alasan ingin memiliki ponsel pribadi.

Selama ini, alasan yang paling sering mereka ungkapkan adalah sekadar ingin punya karena teman mereka satu per satu mulai memiliki ponsel pribadi. Alasan seperti ini, tentu saja kami tolak. Mereka harus punya alasan kuat untuk bisa memiliki ponsel pribadi. Kalau hanya sekadar ikut-ikutan, mendingan gak usah. Lagipula selama ini mereka selalu pakai ponsel milik kami.

Walaupun saat ini kami masih menolak permintaan mereka, bukan berarti tidak dipertimbangkan. Di bawah ini beberapa pertimbangan yang kami lakukan berdasarkan urutan.


Perlukah Anak Mengenal Internet?


 
Kegiatan lain saat sedang tidak internetan


Ponsel saat ini erat kaitannya dengan internet. Rasanya sudah sangat jarang memiliki ponsel hanya untuk menelpon dan SMS-an saja. Paling tidak di setiap ponsel ada 2 hingga 3 media sosial yang di-install, bahkan bisa lebih. Sebut saja FB, WA, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Yang sedang digemari oleh Keke dan Nai adalah LINE. Tapi, apakah anak-anak memang sudah saatnya mengenal internet?

Sebelum menjawab perlu atau tidak, kami harus mempertimbangkan dampak negatif serta positifnya terlebih dahulu. Selain untuk memutuskan perlu atau tidak mengenalkan internet, juga untuk mempertimbangkan kesiapan kami sebagai orang tua saat anak sudah mengenal internet.


Dampak Negatif Internet Bagi Anak

  • Pedofil
  • Pornografi
  • Konsumerisme
  • Akses Keamanan Finansial
  • Cyber bullying
  • Cyber criminal
  • Serangan terhadap privasi

Siapa yang anaknya pernah mengalami salah satu dari kasus di atas? Semoga anak-anak selalu dilindungi oleh Nya dari semua bahaya di atas. Aamiin. Tidak hanya itu, ada ancaman lain yang juga harus diperhatikan secara serius, yaitu

  • Anak menjadi kurang sabar karena pengaruh internet yang menyajikan sesuatu serba cepat
  • Obesitas akibat anak lebih banyak terpaku di depan gadget daripada melakukan aktivitas fisik
  • Kurang mampu menunda keinginan
  • Kurang sensitif terhadap orang lain
  • Anti Sosial 
  • Gangguan pada mata

Duh! Kalau sudah begini, apa gak usah aja mengenalkan anak-anak dengan internet? Bikin parno orang tua. Rasanya ingin terus memeluk mereka. Tapi, apa iya internet gak ada positifnya sama sekali?


Dampak Positif Internet Bagi Anak

 
Pizza buatan Nai. Hasil berguru dari YouTube

 

  • Bahagia. Kenapa internet sangat digandrungi oleh anak-anak hingga dewasa? Karena internet memang bisa menciptakan kebahagiaan. Bersosialisasi dengan banyak orang, berbagai aplikasi menarik, hingga ribuan game yang bisa dimainkan secara online
  • Membantu kegiatan belajar dan mengajar. Kurikulum 2013 di sekolah Keke dan Nai seringkali menuntut anak-anak untuk lebih aktif mencari ilmu di luar jam sekolah. Beruntung sekarang sudah zaman internet. Mereka bisa lebih cepat mendapatkan informasi yang dicari.
  • Bersosialisi dan bersilaturahmi. Dengan adanya internet, anak-anak bisa lebih mudah bersosialisasi sekaligus silaturahmi dengan teman-teman atau keluarga yang tinggal berjauhan.
  • Punya hobi baru. Gara-gara mengenal internet, Keke dan Nai punya hobi baru. Nai senang memasak dan dia lebih suka berguru dari YouTube daripada diajarkan bunda. Sedangkan Keke jadi rajin belajar Beat Box. Sama seperti Nai, Keke pun banyak belajar Beat Box dari YouTube. Hobi yang positif, kan?
 

Maksimalkan Dampak Positif dan Minimalkan Dampak Negatif Internet


Acer Liquid Z320, Ponsel Android, Fitur kids center
Saat sedang kumpul keluarga di salah satu villa. Usai berenang bersama, generasi bibi dan paman saya memilih untuk mengobrol sambil makan. Sedangkan generasi anak-anak saya lebih memilih untuk sibuk dengan gadget masing-masing. Untung aja mereka gak terus-menerus seperti itu. Mereka lakukan saat sedang lelah saja. Tapi, jadinya malah gak beristirahat.


Kalau baca dampak negatifnya memang bikin parno. Tapi setelah menimbang semua dampak yang mungkin terjadi, kami memutuskan untuk mengenalkan anak terhadap internet. Dampak positif dari internet terlalu sayang untuk dilewatkan. Lagipula saat ini memang eranya internet. Kalaupun kami melarang, tidak menutup kemungkinan mereka tetap akan mengenal internet.

Beberapa waktu lalu, Keke cerita kalau teman-teman perempuannya sedang menyukai salah satu sinetron yang tayang di salah satu televisi swasta. Dengan lancar Keke menceritakan isi dari sinetron itu. Saya sempat agak kaget karena Keke, kok, bisa tau sinetron itu? Padahal di rumah anak-anak gak dibiasakan menonton sinetron. Saya pun berkesimpulan kalau melarang saja sepertinya gak cukup. Anak juga harus dilatih untuk bisa menjaga dirinya sendiri.

Katakanlah, kami tetap melarang anak-anak untuk mengenal internet. Tapi nyatanya anak-anak bisa mengenal internet dari pelajaran komputer di sekolah. Malah Keke pernah cerita kalau lagi istirahat kadang suka memilih ke ruang komputer kalau lagi malas main di halaman sekolah. Apalagi di ruang komputer ada WiFinya, bisa bebas internetan. Tuh, gimana coba kalau kayak begitu? Sekadar melarang saja rasanya tidak mungkin.

Beberapa Langkah Mengontrol Penggunaan Internet Untuk Anak


Membatasi Jam Berinternet

Hari Senin hingga Jum'at, Keke dan Nai gak terlalu lama internetan. Biasanya, mereka internetan setelah pulang sekolah. Tapi, pulang sekolahnya sudah menjelang sore. Itupun kadang lebih memilih kegiatan lain daripada internetan. Keke akhir-akhir ini lagi senang main sepeda bersama beberapa temannya. Kalau Nai asik di dapur membuat berbagai camilan sore hari. Otomatis jam berinternet anak-anak cuma sebentar. Paling saat weekend atau libur sekolah aja yang agak lama internetannya. Dengan catatan kalau gak lagi jalan-jalan. Ada juga waktu tertentu dimana anak-anak dilarang pegang ponsel, misalnya saat sedang makan. Anak harus dibuat sadar dan paham kapan saatnya mereka boleh berinternet dan tidak.


Mengawasi Aktivitas Anak di Dunia Maya

Suatu hari, saya pernah baca LINE Keke. Ada salah seorang temannya yang bertanya kenapa Keke membiarkan orangtuanya membaca seluruh isi LINEnya? Apa gak pernah diajarkan tentang privasi? Saya juga membaca jawaban Keke. Dia bilang ke temannya kalau boleh internetan asalkan tidak merahasiakan apapun kepada ayah dan bundanya. Keke masih anak-anak, jadi kami masih wajib tau seluruh aktivitasnya. Termasuk ketika berinternet, salah satunya adalah membaca seluruh isi akun LINEnya.

Mengetahui aktivitas anak di dunia maya itu sangat penting. Jangan sampai anak sengaja atau tidak klik link yang tidak pantas untuknya. Jangan sampai anak melakukan cyber bullying walaupun sekadar ikut-ikutan. Pokoknya jangan sampai anak melakukan sesuatu yang tidak diharapkan orang tua.


Alihkan dengan Kegiatan Lain yang Tidak Kalah Menyenangkan

 
Membaca buku bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan usai internetan.


Berinternet itu menyenangkan. Bahkan saking menyenangkannya ada gejala baru bernama Nomophobia. Termasuk salah satu jenis kecanduan juga dalam berinternet. Lebih tepatnya adalah rasa takut yang berlebihan kalau sampai jauh dari ponsel. Dan sebentar-sebentar buka pegang ponsel untuk berinteraksi di dunia maya.

Internet memang mengasyikkan serta bermanfaat. Tapi jangan sampai kecanduan. Coba aja perhatikan, saat ini anak yang terancam obesitas akibat kurang bergerak semakin banyak. Begitu juga dengan anak yang berkacamata. Rata-rata penyebabnya adalah karena terlalu banyak waktu dihabiskan untuk berinternet.

Setelah jam berinternetnya dibatasi, sebaiknya anak dikasih aktivitas lain yang tidak kalah menyenangkan. Karena pada dasarnya, anak itu butuh beraktivitas. Kalau hanya sekadar dibatasi, anak bisa uring-uringan. Bersepeda atau fun cooking adalah 2 contoh aktivitas lain yang disukai oleh Keke dan Nai. Apabila malam hari sudah tiba, menggambar, menonton tv, membaca buku, atau ngobrol bersama juga menjadi aktivitas yang menyenangkan.


Rutin Berdiskusi dan Kenalkan Dengan Rambu-Rambu

Anak-anak cepat sekali belajar, lho. Kadang untuk urusan internet malah mereka lebih update. Saya tidak malu bertanya kepada anak tentang segala sesuatu yang sedang kekinian. Bahkan saya belajar LINE juga dari anak-anak. YouTube udah jadi guru mereka. Keke belajar beat box dari YouTube. Sedangkan Nai banyak belajar masak dari YouTube. Saya bukannya gak mau ngajarin. Kalau beat box, jelas saya gak bisa. Tapi kalau masak, sih, saya bisa. Hanya saja anak-anak memang lebih suka berguru kepada YouTube.

Keke dan Nai boleh belajar darimana saja, termasuk dari YouTube. Malah bagus, jadinya lebih irit. Coba kalau saya harus masukkan ke lembaga kursus. Tapi, saya wajib mengenalkan rambu-rambu kepada mereka. Serta bagaimana beretika di dunia maya. Kadang kami berdiskusi tentang ini karena anak-anak juga punya sudut pandang sendiri. Apalagi zaman sekarang, banyak ponsel yang mengklaim pintar. Kalau ponselnya saja pintar, penggunanya juga harus pintar.


Biasakan Meminta Izin

"Bunda, Keke install game ini boleh?"
"Bunda, ini ada tulisan kayak gini. Diklik atau jangan?"

Keke dan Nai sampai sekarang masih minta izin. Kemanapun atau melakukan apapun, selalu minta izin. Sedikit-sedikit minta izin. Mau mandi aja mereka minta izin hahaha. Tapi, bagusnya adalah saya jadi tau apa yang mereka lakukan. Termasuk berurusan dengan internet. Rasanya hingga saat ini belum pernah mengalami kejadian tagihan bulanan bengkak karena mereka install sesuatu yang berbayar tanpa izin. Atau mereka melakukan hal lain tanpa izin. Semoga jangan sampai kejadian, ya.


Cari Gadget yang Bisa Menjadi Sahabat Anak

Jadinya boleh atau tidak Keke dan Nai mengenal internet? Boleh.

Beberapa langkah antisipasi supaya mereka gak kecanduan dan memperkecil dampak negatif berinternet sudah dan akan terus kami laksanakan. Masih ada satu langkah lagi yaitu mencari gadget yang bisa menjadi sahabat anak yang didambakan orang tua. Itu artinya gadgetnya harus yang ramah anak. Gadget yang ramah anak diharapkan membuat orang tua lebih tenang. Kira-kira ada, gak, ya?


Acer Liquid Z320, Ponsel Android Sahabat Anak Dambaan Ibu


Ketika pertama kali mengenal internet termasuk membolehkan mereka menggunakan ponsel, saya gak terpikir untuk pilih perangkat. Bagi saya yang penting pengawasan. Tapi setelah itu, saya semakin merasa kalau pengawasan saja belum cukup. Apalagi gak mungkin mengawasi mereka selama 24 jam setiap harinya. Ada kalanya mereka dibiarkan sendiri ketika sedang asik dengan ponsel. Sudah saatnya mencari ponsel yang bisa menjadi sahabat anak.

Sejatinya ponsel adalah suatu perangkat yang bisa membantu manusia termasuk anak. Tapi, mengingat resiko negatifnya juga harus semakin diwaspadai, sudah saatnya memilih ponsel yang bisa menjadi sahabat bagi anak. Sebagai sahabat tentunya harus berdampak positif bagi anak, dong.


 


Screenshot di atas adalah spesifikasi Acer liquid Z320.  Lalu apa istimewanya Acer Liquid Z320 dibandingkan yang lain? Istimewanya adalah ponsel Acer Liquid Z320 ini memiliki fitur Kids Center.

Sebetulnya, sudah mulai bermunculan aplikasi yang mengklaim bisa membantu memproteksi anak dari berbagai dampak negatif internet. Tapi, rasanya baru Acer Liquid Z320 ini ponsel yang di dalamnya justru sudah pre-install fitur Kids Center. Orang tua sudah tidak perlu repot install aplikasi sejenis. Itu juga artinya sebagai produsen ponsel, Acer mengerti kalau anak-anak zaman sekarang umumnya sudah akrab dengan ponsel. Acer ikut memikirkan serta membantu para orangtua agar anak-anaknya tetap aman saat berponsel.


Acer Liquid Z320, Ponsel Android, Fitur kids center 
Sentuh dulu ikon Acer apabila ingin mengaktifkan fitur Kids Center


Apabila anak-anak ingin menggunakan ponsel Acer Liquid Z320, yang pertama kali harus spAcer lakukan adalah klik ikon Acer lalu pilih Kids Center. Setelah itu tampilan homepage pun berubah. Menjadi warna-warni dan eye catching di mata anak-anak.

Acer Liquid Z320, Ponsel Android, Fitur kids center

Tidak hanya tampilannya yang eye catching. Fitur ini juga mudah digunakan oleh anak-anak. Berbagai aplikasi, web, serta game yang menyenangkan dan aman juga tersedia. Kita lihat satu persatu keamanan fitur Kids Center yang berlapis ini, yuk!


1. Parental Control

Dengan mengaktifkan fitur Kids Center, orangtua bisa mengontrol segala aktivitas anak saat berinternet. Di fitur Kids Center ini juga bisa diatur pembatasan waktu sehingga anak tidak terus-menerus menggunakan ponsel.


2. Time Out

Salah 2 ancaman dari ketergantungan gadget adalah obesitas dan bermasalah dengan penglihatan. Acer Liquid Z320 pada fitur Kids Center bisa diatur waktunya. Misalnya, spAcer mengatur 1 jam sehingga anak bisa menggunakan ponsel dalam waktu 1 jam saja. Dengan adanya time out, anak-anak bisa dialihkan dengan kegiatan lain usai menggunakan ponsel. Sehingga meminimalkan resiko kecanduan yang bisa mengakibatkan obesitas atau gangguan penglihatan pada anak.


3. Berbagai Game dan Fitur Menarik


Suka mewarnai secara online? Di fitur Kids Center sudah disediakan. Gak hanya itu, berbagai game lain yang menarik untuk anak juga sudah ada di sana. Pastinya game yang tersedia juga sudah disesuaikan untuk usia anak, sehingga orang tua tidak perlu cemas kalau anak akan bermain game dewasa. Anak akan tau game terbaru dengan adanya update content. Dengan adanya update content, anak gak akan bosan karena banyak pilihan baru yang menarik.


4. Berbagai Situs Web yang Aman dan Menarik bagi Anak

Acer Liquid Z320, Ponsel Android, Fitur kids center

Sejak sekolah Keke dan Nai menggunakan kurikulum 2013, kebutuhan akan internet semakin meningkat. Itu karena di kurikulum baru, siswa dituntut aktif untuk mencari berbagai informasi yang dibutuhkan. Tidak hanya mengandalkan buku pelajaran sekolah saja.

Saya dan suami tidak bisa selalu menjadi kamus bagi anak. Menjadi orang tua yang serba tau. Ada kalanya, kami bersama-sama mencari jawabannya di internet. Kadang anak-anak kami minta untuk mencari sendiri agar mereka juga mandiri. Masalahnya, kalau mencari sendiri beresiko  bisa sengaja atau tidak membuka website dewasa yang tidak layak bagi anak.

Di fitur Kids Center ini, situs yang tersedia tentu saja yang aman bagi anak-anak. Begitu juga dengan beragam aplikasi edukasi yang tersedia. Anak-anak tinggal memilih situs atau aplikasi apa saja yang dibutuhkan. Apabila anak butuh melihat video pun, yang tersedia adalah video yang aman bagi anak.


5. Selfie yang Aman


Saat masih bayi hingga balita, saya masih bisa sepuas mungkin fotoin Keke dan Nai. Kemudian masuk masa dimana mereka susah sekali untuk difoto. Sampai saya gregetan sendiri karena masih ingin fotoin mereka. Sekarang, Keke dan Nai lagi senang ber-selfie ria. Apabila selfie pakai kamera yang di fitur Kids Center, ada berbagai bingkai lucu yang bisa dipilih. Galeri fotonya juga terpisah dari galeri utama.

 
Keke dan Nai lagi hobi selfie, nih


Tentang galeri foto, saya pernah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Ada seorang teman, upload foto tidak senonoh di grup WA. Saya tidak langsung menghapus karena sudah tidur. Besoknya, begitu buka ponsel, saya sempat panik melihat foto tersebut. Panik karena biasanya anak-anak suka lebih dahulu pegang ponsel. Huff! Untungnya gak sampai kejadian. Buru-buru saya hapus sebelum anak-anak melihatnya. Gak sanggup membayangkan kalau mereka sampai melihat.


6. Safe Environtment

Acer Liquid Z320, Ponsel Android, Fitur kids center

Fitur Kids Center benar-benar aman bagi anak dan bisa membuat orang tua menjadi tenang. Yup! Begitu fitur Kids Center diaktifkan, tidak hanya tampilan homepage yang berubah. Tapi juga tidak bisa keluar dari fitur Kids Centre bila orangtua mengunci Extra Safe Zone, walaupun ponsel sudah dinyalakan ulang. Ketika anak-anak menyalakan ponsel, yang langsung dilihat adalah fitur Kids Center.

Anak-anak tidak bisa men-download konten semau mereka. Atau membeli aplikasi lain sesukanya. Semuanya harus ada izin dari spAcer terlebih dahulu. Jadi, gak ada cerita kalau tau-tau tagihan membengkak dan ternyata anak mendownload tanpa izin.


Andai Fitur Kids Center Sudah Ada Sejak 5 Tahun Lalu ...


Sekarang, Keke berusia 11 tahun dan Nai 9 tahun. Coba fitur Kids Center ini sudah ada sejak 5 tahun lalu, ya. Memang, sih, selama ini mereka masih tetap aman berinternet. Masih terkontrol menggunakannya. Tapi, seandainya fitur Kids Center ini sudah ada sejak 5 tahun lalu tentunya saya senang banget karena sangat bisa membantu mengawasi anak-anak beraktivitas internet. Di rumah juga masih ada keponakan berusia 5 tahun yang mulai akrab dengan ponsel. Rasanya, memang harus mulai punya Acer Liquid Z320, nih.

Fitur Kids Center juga sekarang tetap bisa dipakai karena Keke dan Nai tetap masih harus diawasi. Apalagi zaman sekarang semakin banyak saja kasus karena berinternet. Ya, seperti yang sudah saya tulis di atas, yaitu kasus pornografi, cyber bullying, akses keamanan finansial, dan lain sebagainya.

Selain fitur Kids Center, masih ada fitur spesial lainnya yang ada di Acer Liquid Z320, yaitu


Acer BluelightShield

Seringkali pengguna ponsel tidak menyadari kalau terlalu lama menatap layar ponsel akan membuat mata lelah. Baru sadar setelah penglihatan mulai bermasalah dan harus pakai kacamata. Anak-anak zaman sekarang sudah banyak yang berkacamata sejak dini karena terlalu lama menatap layar ponsel. Teknologi BluelightShield akan mengurangi emisi cahaya biru dari layar ponsel sehingga mata tidak cepat lelah. Tapi, tetap saja lama penggunaan ponselnya harus dibatasi, ya. Karena sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.


DTS Studio Sound

Bermain games dan mendengarkan musik adalah 2 hal yang paling disukai Keke dan Nai saat berinternet.  Kedua hal itu berkaitan erat dengan suara. Gak asik banget kalau main game atau musik tapi suaranya kayak kaleng rombeng. Suaranya harus jernih, dong! :)


Gourmet Mode

Saya suka memotret makanan ketika makan di resto. Hasil fotonya gak hanya diupload di social media tapi juga saya upload di blog untuk review resto. Sekarang, Keke dan Nai mulai ikutan. Kami selalu bergantian memotret makanan sebelum disantap. Lebih seringnya pakai kamera ponsel karena gak ribet. Kabarnya, kalau spAcer menggunakan Gourmet Mode untuk memotret makanan, kamera akan fokus serta menyesuaikan temperature warna makanan sehingga hasil foto makanannya bisa terlihat lebih lezat.

Internet memang seperti hutan belantara. Kita yang sudah dewasa saja bisa tersesat di dalamnya. Apalagi anak-anak. Oleh karenanya, penting sekali diberikan rambu-rambu. Terutama bagi anak-anak karena masih tanggung jawab orangtua. Kewajiban orangtua untuk terus mengawasi anak ketika beraktivitas internet.

Keberadaan fitur yang bisa menjadi sahabat anak tentu saja menjadi dambaan orangtua. Karena fitur seperti Kids Center pada Acer Liquid Z320 ini bisa membantu. Dengan adanya fitur ini, anak menjadi senang dan orang tua tetap tenang.

Teman-teman, fitur Kids Center pada Acer Liquid Z320 ini spesial banget, ya. Untuk harga, gak usah khawatir. Dengan harga Rp999.000,00 spAcer sudah bisa memiliki ponsel android Acer Liquid Z320. Asik banget, kan?


Acer Liquid Z320, Ponsel Android, Fitur kids center 
Status saya 1 tahun yang lalu. Yuk, jangan hanya bisa membeli tapi juga mampu mengawasi. Pengawasan terhadap ponsel bisa semakin terbantu apabila ponselnya sendiri sudah memiliki parental control seperti fitur Kids Center di Acer Liquid Z320.

Continue Reading
2 komentar
Share:

Rabu, 27 Januari 2016

3 Favorite Quotes


Teman-teman, punya favorite quotes? Chi punya. Sebetulnya, Chi suka dengan banyak quote. Ya, mungkin karena pernah hidup di masa tuker-tukeran menulis data diri di buku kenangan. Dan biasanya di bagian terakhir dari buku kenangan adalah menulis kata mutiara hehehe. Dari banyak quote yang Chi suka ada beberapa yang menjadi favorit


Happy Wife, Happy Life


Quotes yang paling disuka, sejak nonton film Rio 2 hahaha. Kesannya egois banget, ya. Emang cuma istri aja yang harus disenengin? Padahal gak gitu juga maksud quotesnya. Kalau istri dibikin seneng rasanya keluarga memang jadi ikutan seneng. Karena pusat segala cerewet adalah istri. Anak-anak juga bisa ikut kena dicerewetin ibunya. Makanya, buatlah istri bahagia. Iya, gak? Iya, gak? Wkwkwk. Udah, lah, pokoknya Chi suka dengan quotes ini.


Ukirlah diatas Batu setiap kebaikan yang kita terima, namun ukirlah diatas pasir pantai jika keburukan yang kita terima dari orang lain


Entah siapa yang pertama kali mengungkapkan quote ini. Tapi beberapa tahun lalu, salah seorang teman seringkali mengucapkan quote tersebut. Kalau dimundurkan jauh ke belakang lagi, dimana masih zaman menulis di diary,  salah seorang psikolog pernah berbicara di salah satu televisi swasta tentang hal ini. Katanya, kalau punya diary sebaiknya nulis yang bagus aja. Kalaupun ingin menulis tentang kemarahan juga boleh saja karena terkadang rasa marah perlu dituangkan. Tapi setelah itu kertasnya disobek lalu dibuang. Karena kalau cerita buruk terus disimpan, beberapa bulan atau tahun kemudian dibaca lagi, gak menutup kemungkinan rasa marah akan datang lagi padahal masalahnya udah selesai. Jadi, buang jauh-jauh kenangan buruk.

Chi rasa quote di atas masih bisa dipakai untuk zaman sekarang. Malah harus dijadikan pegangan. Abis sekarang adalah zaman dimana banyak orang dengan mudah menuangkan segala rasa di dunia maya. Merasa menulis di waal sendiri, padahal sebetulnya puluhan bahkan ribuan orang bisa melihat. Kata-kata yang sudah terlanjur ditulis di dunia maya bukan berarti gak memiliki efek. 

Menulis status di social media atau blog, seperti mengukir di atas batu. Tulisan kita bisa awet sampai kapanpun, walaupun sudah dihapus. Sebuah status bahagia, bisa membuat orang lain bahagia (walaupun ada juga yang merasa iri). Begitu juga dengan status marah-marah atau mencela. Chi coba berusaha untuk terus pegang quote tersebut. Jangan sampai ada tersakiti karena kata-kata yang Chi tulis. Semoga begitu, ya.


We Don't See Things As They Are, We See Things As We Are - Anais Nin -


Ini juga yang kerap menjadi masalah. Tentang prasangka. Kadang kita merasa yang namanya berpendapat sah aja kalau berbeda-beda. Dengan alasan setiap manusia punya pendapat dan pikiran masing-masing.

Ya, Chi juga setuju dengan hal itu. Tapi seringkali yang menjadi masalah adalah apa yang kita pikirkan menjadi sebuah standar agar orang lain mengikuti. Kalau orang lain punya pendapat sendiri, kita langsung berprasangka, deh. Lebih parah lagi kalau kita sudah mempunyai standar menilai orang lain padahal belum pernah mengalaminya. Menilai dari balik kaca. Hadeuuuhh ... Kalau menghadapi yang begini, Chi mendingan mojok aja, deh.

Quote yang jadi favorit kayaknya serius semua? Ya, karena hidup memang harus serius hehehe. Enggak, ding. Tapi 3 hal itu memang yang sering Chi pegang. Apalagi 2 quote terakhir, tuh. Harus sering diingat, deh, supaya berhati-hati.

Chi penyuka banyak quote, kok. Termasuk quote yang lucu-lucu. Karena quote lucu bisa bikin Chi ketawa. Misalnya, Behind Every Mom is a Basket of Dirty Laundry wkwkwkwkw ... *Sekarang udah jaman laundry kiloan :p*

Continue Reading
2 komentar
Share:

Selasa, 26 Januari 2016

"Ima Curang Tuh, Bun!"


Keke: "Ima curang, tuh, Bun!"
Bunda: "Curang kenapa?"
Keke: "Di kelas, dia ranking 1. Lomba mewarnai di sekolah, Ima juara 1 terus."
Bunda: "Trus, apa itu artinya Ima curang?"
Keke: "Abis Keke gak pernah juara."
Bunda: "Gini, ya ... Keke tahun ini terpilih ikut lomba apa?"
Keke: "Lomba pidato."
Bunda: "Keke juga cerita kalau pilih materi pidato yang panjang, kan? Tanpa dipaksa?"
Keke: "Iya."
Bunda: "Tapi, abis itu Keke latihan di rumah, gak?"
Keke: "Hmm ... Hehehe ..."
Bunda: "Nah, nyegir kalau udah gitu. Jadi, apa iya adekmu curang?"
Keke: "Enggak. Tapi, Ima juara terus, sih."
Bunda: "Lha, Keke lihat sendiri, kan, bagaimana usaha adekmu di rumah?"
Keke: "Iya hehehe."

Kalau membaca bahasa tubuh serta gaya bicara Keke saat itu, Chi merasa dia gak benar-benar menuduh Nai curang. Sepertinya Keke hanya iri melihat adiknya yang lagi sering juara.

Saat itu, Keke juga ikut lomba di sekolah. Tahun ini, dia terpilih untuk ikut lomba pidato. Tapi, setiap kali dia terpilih ikut lomba, dia tetap aja bersikap sangat santai. Bahkan saking santainya nyaris tidak terlihat melakukan persiapan.

Keke: "Keke bisa, Bun. Tenaaang ..."
Begitu selalu jawabannya. Chi gak bisa memaksa juga supaya latihan. Kalau dipaksa nantinya malah bersungut-sungut. Chi cuma pesan kalau jangan sampai mengecewakan. Harusnya menolak kalau gak sanggup atau gak ingin ikut kompetisi. Keke selalu bilang sanggup dan (kembali) minta bundanya untuk tenang. Duh, anak-anak, ya hehe.

Tapi, Chi percaya kalau Keke memang sanggup. Cuma kurang maksimal aja. Karena kalau beneran gak tertarik ikut berkompetisi biasanya Keke akan terang-terangan menolak. Kalau terpaksa melalukan, dia akan sengaja disalah-salahkan. Seperti beberapa waktu lalu, ada audisi Spelling Bee di sekolahnya. Yang terpilih akan mewakili sekolah untuk berkompetisi. Keke gak mau terpilih, trus dia cerita kalau jawabannya sengaja disalah-salahkan. Duh, anak-anak hehehe.

Walaupun tidak memaksa, tapi bukan berarti Chi lepas begitu saja. Setiap hari, Chi ajak ngobrol tentang persiapan menghadapi kompetisi. Kasih motivasi seperti apa untungnya berkompetisi. Kasih semangat juga. Serta kasih beberapa tip tentang tentang kompetisi yang akan mereka ikuti. Misalnya, Nai bisa dikasih saran bagaimana mewarnai yang bagus. Sedangkan untuk Keke, Chi bantu kasih garis besar tentang pidato yang akan dia bawakan.

Tahun ini, Nai tetap tekun berlatih mewarnai. Setiap sore, dia mengeluarkan peralatan mewarnainya dan berlatih mewarnai. Sedangkan untuk Keke memang nyantai banget. Chi udah bantu kasih saran tentang garis besar pidato. Maksudnya biar dia gak usah ngapalin keseluruhan isi pidato. Hapalin garis besarnya aja, sehingga dia bisa berimprovisasi. Tapi karena dia santai banget, akhirnya ketika perlombaan tiba, dia memilih berpidato dengan membaca teks.

Coba ambil positifnya aja. Setidaknya mereka sudah berani berkompetisi. Apalagi berpidato, walaupun baca teks tapi tetep aja butuh keberanian karena harus berbicara di depan orang. Mengenai hasil, anggap aja sepadan dengan usaha. Saat itu, Nai lebih tekun dalam persiapan menghadapi kompetisi. Gak heran kalau akhirnya dapat juara :)

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Minggu, 24 Januari 2016

Obat Tradisional untuk Anak

 
Ini Keke, saat dia terkena thypus. Penyembuhan gak kami kasih obat tradisional apapun, sih. Ikut obat yang dikasih dokter aja :)


Obat tradisional untuk anak kadang Chi pakai ketika Keke dan Nai sedang sakit. Walaupun tetep obat lainnya selalu disediakan untuk berjaga-jaga. Dibawah ini adalah beberapa obat tradisional yang pernah kami coba. Ada diantaranya yang kami konsumsi hingga sekarang.


Bawang merah dan minyak telon


Ketika demam atau masuk angin saat mereka masih bayi dan balita, suka dikasih parutan bawang merah dan minyak telon. Bawang merah diparut (biasanya Chi pake parutan keju), trus dikasih sedikit minyak telon. Setelah dicampur rata, kemudian dioles ke ubun-ubun, punggung, perut, dan telapak kaki.

Mamah pernah menyarankan bawang merah yang bagus untuk dijadikan obat herbal adalah bawang merah tunggal. Maksudnya yang cuma satu gitu. Kadang bawang merah, kan, suka ada 2 yang menempel. Tapi, kadang Chi pake bawang merah apa aja, sih. Pilih minyak telon juga karena diantara minyak penghangat tubuh lainnya gak terlalu panas. Kayaknya kasihan kalau Keke atau Nai dikasih campuran bawang merah dengan minyak angin lainnya. Bawnag merah aja, kan, udah bikin panas.

Gak enak kalau pakai obat herbal ini adalah badan anak jadi bau bawang hahaha. Tapi biasanya anak jadi nyenyak tidurnya. Apalagi sambil dioles, kan, dipijat juga. Mereka nyaris gak pernah dikerok, ya. Walaupun dengan bawang sekalipun. Karena bundanya dikerok pake bawang merah aja bisa jejeritan. Jadi gak kepengen anak-anak dikerok, deh :D

Bicara tentang demam, biasanya dicek dulu suhu tubuh anak pakai thermometer. Kalau masih di bawah 37,5 derajat celcius, biasanya dioles parutan bawang merah dan minyak telon saja sudah cukup. Kalau sudah mendekati angka 38, baru dikasih paracetamol (sambil tetep dikasih obat tradisional juga kadang-kadang). Tunggu 3x24 jam baru ke dokter.

Kenapa harus tunggu 3x24 jam? Karena saat Keke masih bayi dan demam, Chi dan K'Aie pernah ditegur oleh dokter anak. Katanya, kalau anak baru demam sehari jangan dibiasain langsung ke dokter. Cek dulu suhu tubuhnya. Kalau masih antara 37,5 hingga 39 derajat celcius, dikasih paracetamol dengan takaran sesuai umur sudah cukup. Kalau sudah 3x24 jam belum turun juga baru dibawa ke dokter, biasanya langsung diminta cek darah. Kecuali kalau suhu tubuhnya sudah di atas 39, gak usah nunggu 3x24 jam. Tapi harus dibawa saat itu juga ke dokter. Pesan itu yang selalu kami praktekkan hingga sekarang.


Air tape ketan


Saat balita (lupa tepatnya usia berapa), Keke pernah sering bisulan. Awalnya, kami kasih salep hitam supaya bisulnya cepat 'matang'. Kalau udah 'matang', maka tugas K'Aie yang pecahin. Chi gak berani mendekat karena gak tega banget melihat Keke jejeritan. Pasti sakit banget itu.

Sampai pernah Keke demam tinggi. Karena sudah di atas 39 suhu tubuhnya, kami langsung bawa ke dokter anak. Tapi bukan dokter anak yang biasa menangani Keke dan Nai. Karena saat itu dokter anak mereka sudah lewat jam prakteknya. Sama dokter anak lain, tetep dikasih resep salep hitam dan obat racikan untuk penurun panas. Panasnya memang turun. Tapi, bisulnya masih juga tumbuh yang baru.

Karena terus bisulan, kami pun konsultasi ke dokter anak. Kali ini, sama dokter anak yang biasa menangani mereka. Eh, gak taunya kami ditegur karena udah kasih Keke salep hitam. Menurut beliau, anak kecil yang bisulan gak boleh dikasih salep hitam. Kasihan kalau sampai harus dipecahin. Pasti tersiksa banget anaknya.

Sama dokter, diresepin cream untuk kulit. Chi sebetulnya udah akrab dengan cream ini karena terbiasa dipakai ketika alergi kulit. Baru tau kalau bisa buat bisul juga. Kalau dikasih cream ini, bisulnya gak akan membesar dan pecah. Tapi mengecil, lalu hilang tanpa bekas. Prosesnya memang jadi agak lebih lama daripada dikasih salep hitam. Tapi gak bikin Keke kesakitan.

Dokter juga menyarankan supaya Keke secara rutin dikasih air tape ketan. Katanya, kandungan air tape bagus untuk mencegah bisulan. Sebetulnya makan tapenya juga gak apa-apa. Tapi karena Keke maish kecil, disarankan minum airnya saja. Itupun cukup 1 sdt per hari. Kalau kebanyakan bisa diare nanti. Bener, lho. Setelah rutin konsumsi air tape ketan, Keke udah gak pernah bisulan lagi.


Jeruk nipis dan kecap manis


Ketika balita, saat anak-anak terkena batuk biasanya dikasih 1 sdm air jeruk nipis dan kecap manis. Ampuh juga ternyata.


Sop jagung manis


Saat mereka lagi batuk atau pilek, Chi juga suka bikinin sop. Sebetulnya sop apa aja juga bisa. Tapi, biasanya paling sering bikin sop jagung. Enak bikin hangat ke badan.


Jahe


Nah, ini juga salah satu obat batuk pilek paling ampuh. Kalau Chi lagi batuk atau pilek suka bikin sambal jahe ditambah dengan rawit merah dan bawang merah, kemudian digerus kasar. Makan dengan nasi hangat. Biasanya pilek dan batuk lekas sembuh. Insya Allah.

Keke mulai suka sambal seperti ini, tapi belum pernah cobain yang dikasih jahe. Hanya rawit dan bawang merah saja. Tapi dia mulai suka minum air rebusan jahe. Hampir setiap hari, Chi dan Keke minum air rebusan jahe. Nai belum bisa karena dia belum kuat sama rasa pedas.

Obat tradisional memang bisa membantu. Malah banyak yang bilang lebih sehat karena lebih alami. Tapi ada baiknya juga banyak cari info. Sesuatu yang alami kalau berlebihan konsumsinya juga gak baik.

Pernah Chi terkena DBD dan harus dirawat. Karena menurut banyak orang jus jambu bagus buat yang DBD, Chi pun ikut minum. Gak taunya maag Chi kambuh. Sakitnya minta ampun. Menurut dokter, jus jambu memang bagus buat yang DBD. Asalkan tidak ada maag. Kalau ada maag, sebaiknya hindari buah dulu selama pengobatan. Tuh, memang sebaiknya konsultasi dulu.

Kalau teman-teman, obat tradisional untuk anak, apa saya yang pernah dikonsumsi atau dipakai?

Continue Reading
2 komentar
Share:

Jumat, 22 Januari 2016

Dear, Bunda. Jangan Lakukan 3 Hal Ini Saat Anak Sedang Berkompetisi, Ya.

Jangan Lakukan 3 Hal Ini Saat Anak Sedang Berkompetisi

Dear, Bunda. Jangan lakukan 3 hal ini saat anak sedang berkompetisi, ya. Karena efeknya bisa gak baik untuk anak. Bukankah orang tua ingin melakukan yang terbaik untuk anak? :)

Teman-teman, pernahkah putra atau putrinya berkompetisi? Keke dan Nai pernah beberapa kali ikut kompetisi. Kompetisi di sekolah atau di luar sekolah. Sejauh ini, Chi memberi dukungan setiap kali mereka ikut berkompetisi. Dukungan yang Chi dan K'Aie berikan adalah 


  1. Ajakan supaya mereka semangat berlatih
  2. Menemani saat mereka berkompetisi bila memungkinkan. -> Yang dimaksud memungkinkan adalah bila dibolehkan untuk menemani. Biasanya kalau kompetisi di sekolah, kami tidak menemani karena memang tertutup.
  3. Tetap berikan semangat apapun hasilnya. Yang penting mereka gak melakukan kecurangan

Tapi pernah beberapa kali Chi melihat langsung sikap orang tua yang menurut Chi justru kurang mendidik di saat anak sedang berkompetisi.


Memalsukan Data Peserta


Chi beberapa kali mendengar pengakuan orang tua yang beli piala karena anaknya kalah lomba. Biasanya, sih, alasannya karena anaknya menginginkan punya piala walaupun belum mengerti tentang arti juara. Asalkan sudah punya piala, mereka akan senang. Daripada terus-menerus nangis meminta piala. Sebetulnya, Chi gagal paham dengan alasan beli piala supaya anaknya senang. Tapi, ternyata ada yang lebih bikin Chi gagal paham lagi.

Ketika masih duduk di bangku TK, Keke beberapa kali ikut lomba mewarnai dimanapun. Biasanya, sebelum lomba dimulai, para peserta diminta untuk mendaftar ulang dengan menyerahkan foto copy akte kelahiran.

Saat sedang antre daftar ulang, Chi mendengar 2 orang ibu yang baris di depan sedang asik berbincang-bincang. Salah seorang dari mereka bercerita kalau yang akan ikut berlomba nanti adalah keponakannya tapi nama yang didaftarkan adalah nama anaknya. Alasannya adalah keponakannya sudah seringkali memenangkan juara lomba mewarnai. Ibu itu berharap kalau keponakannya yang ikut, bisa menjadi juara. Tapi tentu saja nanti yang akan tertulis disertifikat adalah nama anaknya. Begitu juga dengan piala dan hadiahnya. Semua untuk anaknya kalau sampai menang.

Chi gagal paham sama pemikiran ibu tersebut. Seandainya keponakannya menang, kebanggaan seperti apa yang akan dirasakan oleh anak? Apa nikmatnya, sih, merasakan kebanggan semu? Lagipula, bukankah itu sama aja dengan mengajarkan anak untuk berbohong? Mengajarkan keponakannya berbohong juga.


Mengatur Anak


Pernah lihat reality show "Abby's Ultimate Dance Competition"? Tayang di Lifetime Channel. Chi kadang-kadang aja nontonnya. Abis suka gregetan sama tingkah laku para orang tua. Udahlah sesama orang tua saling sikut-sikutan. Pada merasa anaknya yang paling hebat. Kadang ribut juga sama Abby, sang pelatih. Orang tuanya terlalu mengatur, sampe Abby jadinya suka pusing dan nyinyir. Padahal kan dia pelatih anak-anak mereka.

Kenyataannya, Chi juga pernah melihat hal seperti itu. Beberapa kali saat menemani Keke lomba mewarnai. Saat lomba, anak gak boleh ditemani. Orang tua atau siapapun yang tidak ikut berlomba harus berada di luar batas area. Ya, kadang batasnya hanya dikelilingi oleh tali. Karena bukan dibatasi oleh tembok, di sinilah suka ada aja orang tua yang mencoba curi-curi kesempatan untuk ikut campur.

Ketika juri yang berkeliling sedang ke arah lain, orang tua ini ada yang memanggil anaknya. Tentu dengan caranya alias tidak berteriak secara lancang. Tapi bagaimana caranya asalkan anaknya menoleh ke arah orang tua. Setelah itu, anaknya diatur-atur harus pakai warna apa aja. Misalnya, untuk pohon harus hijau, awan harus biru, dan lain sebagainya. Kalau anaknya tidak menoleh atau tidak menuruti keinginan orang tuanya, tetap mewarnai sesuka anak, biasanya orang tua seperti ini akan ngedumel berkepanjangan. Beberapa kali Chi menemukan yang seperti ini. Sampe pusing mendengarnya. Yang begini juga mengajarkan anak untuk curang.


Menyalahkan Juri atau Peserta Lain


Keke: "Bun, tim futsal kalah!"
Bunda: "Yaaa ... Gagal jadi juara bertahan, dong?"
Keke: "Iya. Tadi langsung Keke sorakin aja tim yang lawan. Keke teriakin 'Huuu!' Gak cuma Keke, sih, yang sorakin."
Bunda: "Ih, gak boleh begitu."
Keke: "Abis kesel."
Bunda: "Tapi tim lawan main curang, gak?"
Keke: "Enggak, sih."
Bunda: "Kalau gitu fair, dong, menangnya. Gak boleh disorakin. Tapi, kalaupun curang tetep gak boleh disorakin, sih. Biar yang berwenang yang mengurus kalau memang ada kecurangan."

Siapa, sih, yang gak seneng kalau menang kompetisi? Siapa yang gak sedih kalau kalah? Tapi harus gak, sih, langsung menyalahkan dan menuduh berbagai pihak hanya karena kalah? Kekalahan yang dialami gak selalu karena ada kecurangan. Bisa jadi pihak lawan memang lebih baik. Kalaupun kita sudah merasa maksimal, gak jadi jaminan akan menang. Memang pihak lain gak berusaha maksimal juga?

Kalau yakin ada kecurangan, sebaiknya dilaporkan dengan membawa bukti-bukti. Tapi kalau hanya sekadar menuduh tanpa alasan, hanya karena merasa kesal telah kalah rasanya salah, deh. Karena seharusnya kompetisi tidak hanya tentang mengalahkan lawan. Tapi bagaimana bisa berjiwa besar ketika kalah. Dan tidak sombong ketika menang. Sayangnya ada beberapa orang tua yang justru malah mengompori atau mengajarkan kepada anak kalau sampai kalah berarti sudah pasti ada kecurangan. Terlalu yakin kalau anaknya tidak terkalahkan.

Pernah ada di salah satu episode Jo Frost, dimana ada seorang anak yang sangat senang ikut kompetisi. Tapi ketika kalah itu seperti bencana buat keluarga. Karena bisa berhari-hari anaknya ngambek dan ngamuk di rumah. Saran Jo Frost kepada orang tua si anak (bahkan di depan anaknya langsung) adalah meminta untuk berhenti ikut lomba selama attitudenya masih seperti itu. Ya, karena (sekali lagi) kompetisi bukan hanya tentang menang ... menang ... dan menang.

Kalau Chi coba menerka, seperti alasan kenapa orang tua melakukan hal-hal tersebut karena ingin anaknya senang bahkan bangga. Gak ingin anaknya jadi sedih karena kalah. Toss dulu kalau begitu. Chi juga ikut bangga kalau Keke atau Nai menang. Dan ikutan sedih kalau mereka kalah. Tapi biarkan semua berjalan secara natural aja, lah.

Ketika mereka berkompetisi, ajarkan untuk mempunyai semangat sejak persiapan. Beruasaha maksimal saat kompetisi. Dan, terima hasilnya dengan lapang dada. Ambil positifnya aja, malah bagus kalau anak bisa merasakan sedih saat kalah. Seperti halnya merasakan senang saat menang. Daripada gak ada ekspresi sama sekali? Yang penting adalah jangan berlebihan. Euforia saat menang atau ngamuk saat kalah.

Beberapa kali melihat langsung kejadian seperti itu. Pertanyaannya, apa Chi gak pernah menegur? Chi memang gak pernah menegur. Alasannya karena gak kenal dengan orang-orang tersebut. Apa iya kalau trus Chi tegur dengan cara baik-baik sekalipun mereka akan terima? Kalau jadi marah bagaimana? Males aja rasanya ngelihat ribut-ribut di depan anak-anak. Tapi setidaknya Chi gak mau melakukan 3 hal itu. Semoga banyak orang tua lain yang juga tidak melakukan 3 hal tersebut saat anak sedang berkompetisi, ya :)

Setiap orang tua memang ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Tapi, pikirkan lagi tentang yang dimaksud yang terbaik. Jangan hanya karena ingin memberikan kebahagiaan tapi sebetulnya kebahagiaan semu. Atau (secara gak sadar) mengajarkan sesuatu yang gak baik.

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Rabu, 20 Januari 2016

Menentukan Jam Belajar Anak

Bagaimana Menentukan Jam Belajar Anak? Chi pernah mendengar pro kontra tentang menentukan jam belajar anak. Ada yang beralasan dengan jam biologis manusia jadi sebaiknya jangan belajar saat malam hari.

Chi nyimak aja, deh. Paling males ikutan pro kontra. Ada kalanya (bahkan seringkali) sebuah perbedaan pendapat gak perlu diladeni. Senyum-senyum aja. Apalagi kalau kita udah yakin dengan yang dipilih. Kita juga yang menjalani, kan? Bertanggung jawab saja dengan pilihan yang sudah dipilih itu. Gak usah terlalu mendengar katanya ... katanya ... kalau memang kita gak butuh :)

Lalu bagaimana cara Chi menentukan jam belajar anak? Bagaimana ceritanya Keke dan Nai bisa punya kebiasaan belajar setelah maghrib?


Dunia Anak adalah Dunia Bermain


Alasan utamanya adalah Chi pengen mereka punya banyak waktu bermain. Pulang sekolah mereka harus bermain. Chi pikir waktu yang tepat untuk bermain adalah siang dan sore. Mereka masih bisa main di luar rumah kalau siang dan sore. Sedangkan kalau malam hari area bermain mereka lebih terbatas, yaitu hanya di rumah. Mana boleh Chi membiarkan mereka main di luar pada malam hari? Kecuali memang ada sesuatu yang khusus.

Bermain pada siang hingga sore hari juga mencegah mereka untuk tidur siang. Chi larang mereka untuk tidur siang. Karena kalau mereka tidur siang walaupun cuma sebentar, energi mereka langsung full terisi lagi hingga larut malam. Kalau tidurnya larut malam, besok paginya bakal susah banget dibangunin. Bakalan rewel karena masih mengantuk. Kalau ke sekolah dalam keadaan mengantuk, bagaimana mau fokus belajar? Efeknya berantai, kan? (Baca: 5 Tip Supaya Anak Tidur dengan Tertib dan Nyenyak).

Tapi, sekarang ini Chi perhatiin anak-anak sudah mulai mengerti. Kalaupun tidur siang itu karena kondisinya bener-bener capek. Kalau udah cape, 'digoda' sama gadget juga gak bakal mempan. Mereka tetap akan tidur siang. Tidur malam pun tetap sesuai kebiasaan. Asalkan tidak mengganggu jam tidur malam, Chi membolehkan mereka untuk tidur siang.

Kalau mereka bermain sepanjang hari apakah gak kecapean untik belajar saat malam hari?

Ketika Keke dan Nai masih balita, Chi yang mengukur tingkat keaktifan mereka. Mereka boleh main lari-larian, sepeda, atau permaian yang aktif lainnya. Tapi, jangan pula terlalu aktif hingga menguras energi. Biasanya Chi selingi dengan mengajak anak-anak menonton film kartun kesayangan atau dengan permainan lain yang gak terlalu memerlukan energi besar, lah.

Semakin besar, mereka sudah bisa dikasih tau. Boleh bebas bermain asal jangan terlalu cape hingga gak mampu konsentrasi belajar. Kalau sampai terjadi, maka konsekuensinya adalah pengurangan jam bermain untuk keesokan harinya. Kalau udah begitu, siapa yang mau terima konsekuensi? :)


Kecapekan Kalau Mikir Melulu


Setelah SD, jam belajar mereka di sekolah semakin panjang. Sebelum menentukan jam belajar anak, sebaiknya kembalikan kepada diri sendiri. Coba pikirkan ... Apa gak cape, udah seharian belajar di sekolah, sampai rumah harus langsung belajar lagi? Kalau Chi, sih, pastinya cape.

Chi mencoba membayangkan kalau jadi mereka. Ketika pulang sekolah, rasanya hal pertama yang diinginkan adalah bermain atau beristirahat. Cape mikir melulu. Bisa-bisa stress kalau terus-terusan ketemu sama buku pelajaran :D

Itulah kenapa Chi biarkan mereka untuk bermain. Otak juga perlu diistirahatkan. Anak-anak juga harus dibikin bahagia dengan memberikan hak mereka untuk bermain.


Diskusi


Gak mau juga Chi dianggap ibu yang terlalu banyak mengatur. Secara berkala Chi suka mengajak mereka diskusi tentang menetukan jam belajar. Ya, kali aja mereka punya pendapat lain. Misalnya, mereka justru inginlangsung belajar lagi di rumah setelah pulang sekolah. Kalau memang seperti itu yang mereka mau, mungkin akan Chi izinkan kalau setelah dipertimbangkan memang itu yang terbaik.

Ternyata, mereka pendapatnya sama ma Chi. Pengennya pulang sekolah itu bermain atau beristirahat. Cape kalau belajar melulu. Kalau udah begitu berarti gak perlu ada perdebatan lagi. Paling Chi mengingatkan mereka untuk bertanggung jawab. Karena mereka sudah sepakat dengan hal ini.

Alhamdulillah, sejauh ini mereka bertanggung. Ya, kalaupun ada kalanya mereka susah disuruh belajar itu masih bisa diselesaikan, lah. Belum menjadi sebuah kebiasaan. Ada kalanya kita juga suka malas dengan rutinitas, kan?

Jadi, terserah aja orang mau berpendapat apa tentang menentukan jam belajar anak. Tapi buat Chi, waktu yang paling cocok buat untuk Keke dan Nai belajar adalah usai maghrib. Ya, semua kembali ke kondisi masing-masing

Buat Chi, gak perlu berlama-lama juga belajarnya. Karena waktu tidur yang cukup juga sangat penting. Makanya, Chi gak pernah memaksakan belajar sampai larut malam dengan alasan mereka belum mengerti. Percuma, deh. Mana bisa menangkap pelajaran kalau mata udah mengantuk? Lebih baik tidur sesuai jadwal tapi bangun lebih awal kalau memang dirasa perlu untuk menambah jam belajar.

Continue Reading
4 komentar
Share:

Senin, 18 Januari 2016

Boros, Mubazir, atau ...

Boros, Mubazir, atau ... ketika kami menuruti keinginan Keke untuk tidak ikut tes memanah?
Ket: Di foto ini kegiatan memanah di salah satu tempat bermain. Tapi ekskul sekolah juga alat panahannya sama seperti ini.


"Bun, ada ekskul baru di sekolah. Ekskul panahan. Keke boleh ikut, gak?" tanya Keke saat tahun ajaran baru. Awal semester ganjil yang baru saja usai.


Ini adalah postingan lanjutan dari yang sebelumnya, yaitu Apa Harus selalu Kejar Prestasi? Ada lanjutannya karena di postingan awal, Chi tidak menjelaskan kenapa Keke akhirnya dibolehkan ikut panahan. Dan, juga tidak dijelaskan kenapa akhirnya kami mengizinkan Keke untuk tidak ikut tes kenaikan tingkat.

Awalnya, Chi gak langsung mengizinkan. Alasannya adalah kegiatan panahan itu sebaiknya berkelanjutan karena ada tingkatannya. Tapi, saat ini Keke sudah kelas 6. Dimana kebijakan sekolahnya adalah hanya memberikan kegiatan ekskul selama semester ganjil saja untuk siswa kelas 6. Semester genap sudah fokus kepada pendalaman materi untuk persiapan menghadapi ujian sekolah.

Kalau Keke dibolehkan ikut panahan, berarti dia hanya bisa ikut 1 semester saja. Buat Chi itu gak cukup. Kalau dia harus naik level bagaimana? Rasanya Keke susah buat Keke untuk naik hingga beberapa level kalau jatah ekskulnya hanya tinggal 6 bulan lagi. Kalau mau lanjut di luar sekolah juga bingung. Gak ada kursus panahan yang dekat dengan rumah. Kalau lokasinya kejauhan nanti kasihan. Bakalan capek di jalan.

Awalnya, Chi minta Keke untuk memikirkan kembali keinginannya. Apalagi dia sudah kelas 6. Cuma bisa ikut ekskul panahan 1 semester saja. Keke tetap ingin ikut panahan. Dia juga janji akan konsisten latihan walaupun cuma 1 semester. Chi juga meminta Keke untuk menjelaskan kenapa ingin ikut panahan. Dia, sih, cuma bilang kalau ingin ikut karena suka. Dulu, Keke memang pernah coba ikut panahan di acara ulang tahun Wanadri ke-49 dan dia suka.

Kemudian, Chi berdiskusi dengan K'Aie tentang keinginan Keke untuk ikut panahan tapi cuma bisa 1 semester. Berdiskusi juga tentang uang latihan yang harus dibayar. Boros, mubazir, atau tidak mengeluarkan sejumlah uang untuk kegiatan yang hanya bisa diikuti 1 semester. K'aie langsung membolehkan asalkan Keke serius latihannya. Ketika disampaikan ke Keke tentang keputusan kami, dia pun kesenangan.


Yup! Gak semua hal langsung kami putuskan. Gak setiap permintaan anak langsung kami kabulkan. Seringkali harus ada diskusi dahulu. Bahkan bisa juga berakhir penolakan kemudian anak-anak agak kecewa. Ya, siapa juga yang suka ditolak. Sedih dan kecewa itu wajar. Asal jangan berlebihan aja. Setelah ada keputusan, tugas kami berikutnya adalah menjelaskan kenapa permintaannya diterima atau ditolak.

Ketika kemudian Keke menolak untuk ikut tes kenaikan tingkat, Chi memang sempat kecewa. Bahkan sempat mempertahankan pendapat walaupun Keke bersikeras dan ayahnya juga sudah mengizinkan. Sayang uang yang sudah dikeluarkan memang menjadi salah satu alasan yang pertama kali terlintas. Alasan berikutnya adalah Chi ingin setidaknya Keke punya 1 sertifikat naik tingkat di panahan walaupun setelah itu belum tau mau melanjutkan kemana. Pada akhirnya, Chi pun ikut menyetujui keinginan Keke.

Apakah itu artinya kami sudah mendidik Keke menjadi anak yang boros? Keinginannya dikabulkan tapi kemudian dia menolak ikut tes. Kesannya jadi buang-buang duit. Apakah uang yang sudah kami keluarkan menjadi mubazir karena Keke memilih gak ikutan tes? Atau ada alasan lain?

Ya ... awalnya Chi juga berpikiran begitu. Duh, sayang ajah duitnya! *Ibu-ibu, kan, sudah karakternya menjadi sosok yang penuh perhitungan hehehe* Tapi ... setelah dipikir-pikir lagi dengan kepala dingin, rasanya gak sia-sia juga. Mungkin kesannya Keke jadi main-main karena cuma ikut latihan tapi gak mau ikut tes. Kalau begitu, kenapa gak main di tempat yang ada area panahan aja?

Bermain panahan di salah satu area bermain yang ada fasilitas itu memang bisa saja. Tapi, mencari tempat bermain seperti itu di sini lokasinya jauh. Kami harus piknik ke suatu tempat. Kalau udah piknik itu artinya


  1. Belum tentu dilakukan seminggu sekali 
  2. Pastinya ada uang bensin yang lumayan
  3. Kalau piknik berarti harus bayar tiket masuk lokasi wisata. Dan untuk area permain seperti panahan biasanya harus bayar lagi
  4. Kalau bermain panahan di lokasi wisata paling maksimal cuma dikasih 15 anak panah. Yang duraisnya paling cuma skeitar 15 menitan sekali main. Mau lebih, berarti harus bayar lagi
  5. Yang namanya piknik berarti harus ada uang makan dan uang bermain lain selain panahan

Kalau dilihat dari semua poin di atas itu artinya uang, uang, dan uang. Dihitung-hitung cuma untuk sekali main panahan di area wisata, malah pengeluarannya bisa lebih mahal dari biaya ekskul panahan Keke selama 1 semester. Karena banyak biaya lain-lainnya :D

Sedangkan kalau dia ikut ekskul panahan, ada beberapa manfaat yang bisa didapat


  1. Dilatih oleh pelatih profesional. Jadi gak sembarangan melepas anak panah
  2. Diajarinnya bertahap. Kalau di tempat wisata, kan, pelatihannya singkat. Cuma sekadar bisa melepaskan anak panah.
  3. Latihannya seminggu sekali dengan sekali latihan sekitar 1,5 jam
  4. Melatih fokus dan kesabaran secara rutin
  5. Sekalian olahraga juga karena kalau sampai meleset dari target disuruh push up

Jadi, kalau mau dipertimbangkan lagi, termasuk hitung-hitungan duitnya, gak rugi juga. Perbedaan antara bermain panahan di tempat bermain dengan kursus memanah di sekolah jelas ada. Kalau ikut ekskul jelas lebih dapat ilmunya.

Sedikit cerita di luar kegiatan memanah ... Beberapa bulan sebelumnya, Nai pernah mau ikut pertandingan Taekwondo. Tapi, ketika latihan untuk lomba, Nai mengundurkan diri dengan alasan belum siap. Sebagai orang tua, tentu saja kami menyayangkan keputusan Nai. Begitu juga dengan pelatihnya. Menurutnya, Nai walaupun berbadan kecil tapi berani. Kemampuan tendangannya juga bagus.

Ya, mau bagaimana lagi? Sudah dibujuk, Nai tetap gak mau dengan alasan belum siap. Kalau dipaksa tentunya gak baik, kan? Nanti malah asal-asalan. Seperti halnya dengan kursus menggambar. Berkali-kali tempat kursus memintanya untuk ikutan lomba, bahkan sampai ceritain kalau ada salah satu peserta yang akhirnya dikirim untuk lomba ke luar negeri karena juara nasional. Hingga detik ini Nai belum mau.

Tapi pernah dia ingin ikut lomba spelling bee. Dia berusaha keras belajar supaya terpilih audisi. Dan menjadi salah satu wakil sekolah. Ternyata Nai gagal terpilih. Rasa kecewa memang ada. Tapi, setidaknya dia sudah melakukan dengan sepenuh hati. Kayaknya kalau sudah melakukan dengan sepenuh hati memang lebih puas walaupun hasilnya belum seperti yang diharapkan, ya.

Itulah kenapa ada kalanya kami tidak memaksa. Semua disesuaikan dengan masalah dan juga kondisinya. Ini juga seperti mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab. Keke dan Nai punya alasan yang bisa diterima oleh kami. Menurut Chi itu bagian dari tanggung jawab karena gak hanya sekadar gak mau dan harus dituruti. Akhirnya Chi merasa ini bukan sesuatu hal yang boros, mubazir, atau sia-sia, kok. Karena tetap ada yang bisa diambil dari setiap keputusan. :)

Continue Reading
22 komentar
Share: