Tuesday, March 31, 2020

Tips Menjelaskan Pandemi Virus Corona Kepada Remaja

Tips Menjelaskan Pandemi Virus Corona Kepada Remaja

Tips Menjelaskan Pandemi Virus Corona Kepada Remaja - "Silakan kalau memang mau main. Tapi, jangan pernah pulang ke rumah sebelum pandemi selesai!"

Waktu Pemprov DKI membuat keputusan anak sekolah libur selama 2 minggu, Chi pernah marah besar seperti itu ke Keke. Kalau gak salah di hari ke-2 atau 3 gitu, deh.


tips menjelaskan pandemi virus corona kepada remaja



Apa itu artinya Chi kejam ke anak?

Hmmm .... sebelum Chi akan jelaskan di postingan ini. Bahwa menjelaskan pandemi virus Corona kepada anak remaja itu ada dramanya juga. Di sini Chi akan coba berbagi tips tentang hal ini, ya.


Wajarkah Remaja Memberontak?


tips mengatasi pemberontakan remaja
Sumber infografis: School of Parenting

Menurut beberapa artikel yang Chi baca, salah satunya dari situs school of parenting. Ternyata wajar aja kok kalau anak remaja itu memberontak. Banyak faktor yang mempengaruhi. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai orang tua menanganinya.

Keke sebetulnya sudah mengerti tentang pandemi COVID-19 ini. Bahkan, begitu Presiden RI, Joko Widodo, mengabarkan bahwa sudah ada 2 orang yang positif terkena Corona di Indonesia, Chi langsung mengumpulkan anak-anak pada hari itu juga. Chi mengajak Keke dan Nai berdiskusi tentang perjalanan panjang di berbagai negara yang terkena dampak wabah ini.

Setelah itu, Keke pun libur sekolah sekitar 2 minggu karena kelas 12 ujian. Kalau sedang libur, biasanya Keke sering bermain dengan teman-temannya. Tetapi, karena sudah mulai ada wabah di Indonesia, Chi jadi agak menahan. Meminta Keke lebih banyak di rumah.

Keke pun patuh. Dia hanya minta dizinkan sekali jalan-jalan malam sama teman-temannya di hari ulang tahunnya. Dia ingin mentraktir teman-temannya. Dengan agak berat hati, Chi pun mengizinkan. Itupun dengan banyak sekali syarat supaya tetap aman.

Ketika liburan sekolah hampir usai, Gubernur DKI, Anies Baswedan, mengumumkan kalau seluruh sekolah di Jakarta diliburkan. Nai bersorak gembira karena beberapa hari sebelumnya ngiri lihat kakaknya libur, sedangkan dia tidak. Tetapi, Keke langsung terlihat tidak senang.

Dia bukan tidak mengerti tentang dampaknya wabah Corona. Tetapi, pemberontakannya dia karena bosan. Hampir 2 minggu di rumah. Kemudian harus lanjut lagi 2 minggu berikutnya. Bisa dibilang hampir selama bulan Maret, dia gak sekolah.

Keke berontak ingin bermain dengan sepupunya. Ya memang Chi pernah bilang kalau mau bermain ke rumah sepupu aja yang memang dekat rumah. Tetapi, waktu itu kan Chi belum tau kalau wabahnya akan sedahsyat itu di Indonesia.

Makanya Keke marah ketika Chi dengan tegas melarang. Sampai akhirnya Chi mengeluarkan ancaman tersebut.

Kami sebetulnya termasuk orang tua yang lebih suka mengajak anak-anak berdiskusi. Membolehkan mereka mengungkapkan isi pikiran. Mengritik orang tua pun gak apa-apa.

Tetapi, untuk beberapa hal, kami juga harus tegas banget. Sesekali bersikap otoriter. Mengeluarkan peraturan tanpa kompromi.Tentu tujuannya demi kebaikan anak.

Menghadapi anak remaja bisa bikin jungkir balik. Mereka sudah mulai lebih berani mengeluarkan pendapatnya. Bahkan seringkali merasa benar sendiri karena egonya memang lagi besar.

Menurut artikel dari School of Parenting, masih wajar kok kalau anak remaja memberontak. Ada beberapa faktor penyebabnya. Salah satunya faktornya adalah peningkatan perbedaan dengan orang tua.

Yup! Jadi jangan langsung mudah menghakimi anak remaja yang sedang memberontak, ya. Memang bisa jadi sedang masanya. Meskipun tetap harus ada solusinya.



Back to Content ↑


Menjelaskan Pandemi  COVID-19 Kepada Remaja


remaja, pandemi covid 19,
Keke dan sahabat-sahabatnya saat wisuda SMP


Perbedaan pendapat inilah yang memicu keributan antara Chi dan Keke pada saat itu. Keke merasa selama dia bisa menjaga aturan social distancing, berarti gak apa-apa dong tetap sesekali keluar. Tetapi, Chi gak sepakat dengan hal itu.

Ya okelah Keke memang paham tentang aturan social distancing yang dikeluarkan oleh WHO saat keluar. Tetapi, keluar rumahnya itu bisa saja mempengaruhi beberapa temannya untuk ikutan main juga. Belum tentu juga temannya bisa disiplin untuk tetap aman saat di luar rumah.

Nah itulah kenapa WHO dan banyak pihak berwenang lainnya mengeluarkan himbauan boleh keluar rumah untuk alasan yang penting. Saat ini bermain bersama dengan teman di luar rumah bukan sesuatu yang penting. Jangan sampai remaja menjadi carrier, kemudian menularkan virus ini ke orang tua dan saudara.

Tentu untuk meredam pemberontakan remaja harus ada caranya. Tips ini sebetulnya udah Chi lakukan berulang kali. Tidak hanya saat pandemi sedang terjadi.



Back to Content ↑


Bersikap Tenang

Punya anak remaja, apalagi sedang puber, bisa bikin Chi sering narik napas panjang. Malah kadang-kadang sampai menangis. Pokoknya jungkir balik banget, deh hahaha. Tetapi, memang harus tetap berusaha lebih banyak tenangnya. Kalau enggak, nanti bawaannya emosian dan panikan terus.


Ajak Diskusi

Chi sering mengajak anak-anak berdiskusi. Anak remaja sepertinya agak sulit kalau sekadar dikasih tau apalagi diperintah harus begini atau begitu. Mereka mulai ingin pendapatnya didengar. Termasuk tentang virus Corona ini dan segala macam efeknya. Chi pun ajak mereka untuk berdiskusi.


Memahami Perasaan

Dalam batas tertentu, memberontak bagi kami memang termasuk wajar. Chi berusaha memahami perasaan mereka. Marah, senang, sedih, kecewa, dll kan memang sebetulnya manusiawi asalkan gak berlebihan.


Tegas

Bila ketiga cara di atas sudah dilakukan, ada kalanya harus tegas. Mulai menekankan posisi sebagai orang tua yang wajib dipatuhi pendapatnya. Gak semua bahasan harus diakhiri dengan cara ini, kok.

Chi juga lebih suka mengajak anak-anak diskusi. Mendengarkan pendapat dan perasaan mereka. Kalau Chi ngomel malah lebih sering diketawai sama anak-anak, bahkan sama K'Aie. Pada bilang kalau ekspresi dan gaya Chi saat ngomel itu lucu. Berasa banget kan ya sering gak ada wibawanya kalau ngomel hahaha.

Tetapi, meskipun sering diketawain, semua tau kok kapan Chi bener-bener merasa marah. Ya contohnya saat mengeluarkan ultimatum seperti itu. Makanya jangan sampai sering-sering. Hanya dalam kondisi tertentu aja.

Contohnya di saat wabah Corona ini. Memang iya, kami berusaha mendengarkan dan mengerti perasaan anak-anak. Tetapi, bila mereka tetap ngeyel, harus ada ketegasan. Semua dilakukan demi kebaikan mereka. Makanya Chi sampai ngomong kayak gitu ke Keke.

Kalau masih gak nurut juga, lebih baik diam selama beberapa hari. Biar K'Aie yang lebih banyak berinteraksi sama anak. Untungnya kejadian begini jarang banget. Keke dan Nai cenderung menurut setelah diajak diskusi.



Back to Content ↑


Mood yang Turun Naik


pandemi corona, covid 19 remaja
Keke main cajon saat wisuda SD


Setelah mengeluarkan ancaman itu, Keke pun berhenti merengek. Memang gak bikin dia langsung ceria. Wajah murung masih terlihat. Ya gak apa-apa, lah. Setidaknya dia tidak ke mana-mana dulu. Lebih aman di rumah.

Hingga memasuki 2 minggu masa social distancing, semua berjalan aman. Nyaris tidak ada lagi drama yang bikin kepala pening. Termasuk tentang tugas sekolah anak-anak. Semua bisa kami jalani dengan santai.

Hingga kemudian Keke terlihat mulai uring-uringan lagi ...

Bunda: "Lagi galau, ya?"
Keke: "Bunda sok tau, ih!"
Bunda: "Ya tau, lah. Bunda kan yang mengandung, melahirkan, dan ngurusin Keke. Bisa kelihatan dari bahasa tubuh Keke hehehe.

Setelah ngomong gitu, Chi langsung ninggalin Keke. Selain harus bersikap tenang, menghadapinya harus tarik-ulur. Kalau dipaksa harus ngaku nanti malah bikin Keke marah.

Chi menganggap Keke sedang galau memang terlihat dari bahasa tubuhnya. Mau ditutupin kayak apa, Chi punya feeling dan merasakan kalau anaknya sedang galau. Diamnya Keke saat galau dan tidak tuh beda.

Selain itu, kegalauannya terlihat saat dia bermain gitar listrik. Volumenya dikencengin dan dia nyanyi sekenceng-kencengnya juga. Biasanya gak begitu kalau moodnya sedang baik.

Kami gak menyuruh Keke menurunkan volumenya. Kecuali saat adzan berkumandang. Setelah adzan dan dia selesai sholat, silakan aja mau gitaran yang kenceng lagi.

Moodnya mulai membaik setelah makan siang. Keke video call sama salah seorang sahabatnya yang juga sama-sama suka musik. Di hari itu, Keke ngegitar trus temennya yang nyanyi.

Udah mulai kelihatan galaunya mereda. Main gitarnya udah gak kekencengan volumenya. Mulai kelihatan ketawa-tawa lagi. Bahkan sorenya, Chi mulai dibecandain lagi ma Keke. Mulai keluar lagi usilnya hehehe.

Tapi, ya gitu. Moodnya lagi turun naik akhir-akhir ini. Pelarian ke alat musik atau mendengarkan lagu dengan volume yang kenceng. 

Kami pikir, biarkan aja sejenak dia melepaskan emosi. Selama itu gak sampai keterlaluan. Gak perlu diintervensi sama orang tua.

Biar bagaimana, memang menguji kesabaran banget kan masa self-quarantine ini. Bahkan Chi yang tipe orang rumahan pun rasanya sesekali ingin teriak. Apalagi Keke yang usianya masih remaja. Usia di mana darah mudanya sedang bergejolak.

Bagaimana dengan Nai? Mengingat Nai kan juga sudah masuk usia remaja.

Sampai sejauh ini, Nai lebih tenang. Dia malah betah banget di rumah. Gak mau balik lagi ke sekolah hahaha. Dia juga kangen dengan teman-temannya. Tetapi, dia melepas kangennya dengan cara chatting dan video call. 

Nai juga lagi seneng belajar makeup. Di masa physical distancing ini, Chi minta Nai abisin aja stok make up bundanya. Daripada jarang dipakai trus tau-tau kadaluarsa hehehe.

Ya tapi, bukan berarti Keke gak punya kesibukan makanya dia uring-uringan. Keke juga di rumah tetap berkegiatan. Cuma memang lagi bosen aja. Apalagi dia kan juga senang main di luar.

Ya begitulah serba-serbi dunia remaja. Meskipun sebetulnya sudah mengerti, kadang-kadang emosi mereka masih suka lebih gede. Makanya harus diingat terus secara konsisten. Tentunya dengan cara yang bertahap. Kalau langsung dikerasin malah bisa-bisa mereka semakin berontak.

Satu hal lain permintaan Keke yang belum bisa dipenuhi adalah minta dipasang lagu drum setnya. Tidaaak!  Di rumah kami yang sekarang belum dibuat ruang kedap suara. Kalau nekat main drum, bisa-bisa diomelin tetangga hahaha.

Lagian di rumah juga udah ada cajon. Biar aja Keke main cajon kalau kangen sama alat perkusi. Gak bakal diomelin tetangga meskipun mukul alatnya kekencengan hehehe.


Back to Content ↑

Thursday, March 26, 2020

Ketika Anak Belajar di Rumah dan Semua Ibu Mendadak Menjadi Guru Gara-Gara Corona

Ketika Anak Belajar di Rumah dan Semua Ibu Mendadak Menjadi Guru Gara-Gara Corona

Udah semingguan para pelajar di DKI dan beberapa kota lain belajar di rumah karena pandemi COVID-19. Para ibu pun mendadak menjadi guru. Gimana rasanya? Masih sanggup atau sudah mengibarkan bendera putih? Hehehe.

anak belajar di rumah karena corona, ibu menjadi guru



Santai Ketika Ibu Mendadak Jadi Guru


Selama seminggu ini, Chi dan K'Aie santai banget dengan kegiatan belajar anak-anak di rumah. Padahal tugas mereka juga gak sedikit. Kok, bisa?


Sudah Terbiasa Belajar dan Bertanggung Jawab

Idealnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kalau sudah berjalan baik, di sekolah sudah cukup. Chi pernah merasakan itu saat anak-anak masih SD. Dengan belajar di sekolah aja, sebetulnya mereka udah mengerti. Tetapi, Chi tetap usahakan membiasakan mereka untuk mengulang pelajaran sekitar 1-2 jam sehabis maghrib.

Kadang-kadang mereka menolak untuk belajar kalau merasa udah yakin banget paham dengan pelajaran di sekolah. Ya paling Chi cuma ngetes dengan beberapa pelajaran. Kalau ternyata memang bener bisa, silakan deh mereka kembali bermain.

Begitu mereka masuk sekolah negeri, kondisi KBM memang berasa kurang ideal. Mereka tetap berusaha belajar sendiri. Kalau udah mentok baru tanya orang tua. Bisa juga minta bantuan pihak lain, misalnya didaftarkan ke bimbel.

Semakin mereka besar, Chi tidak mewajibkan lagi belajar. Chi anggap mereka sudah tau tanggung jawab dan konsekuensi. Jadi silakan atur sendiri mau belajar atau enggak.

"Bunda gak pernah memaksa dapat nilai bagus. Tetapi, yang Bunda lihat itu usahanya."

Kalimat itu terus disounding sejak mereka kecil hingga sekarang. Chi pernah lho beberapa kali marah besar karena nilai mereka jelek. Bukan karena kecewa dengan nilainya, tetapi Chi kecewa karena gak kelihatan belajar.

Bagaimana kalau mereka dapat nilai bagus, tapi gak kelihatan belajar?

Ya Chi cuma bilang, "Bagus, deh." Dengan ekspresi yang sengaja agak dingin hehehe. Chi maunya mereka tuh berusaha. Jangan terbiasa menyepelekan.

Di masa social distancing ini, mereka pun udah otomatis terbiasa belajar sendiri. Udah tau resikonya kalau gak belajar. Chi gak mau ribet ngomel-ngomel untuk hal ini. Harus tetap jaga kewarasan selama masa isolasi hihihi.


Back to Content ↑


Kerjasama dengan Suami

Sebagai ibu rumah tangga yang otomatis waktunya lebih banyak sama anak, tentunya Keke dan Nai lebih banyak tanya ke bundanya kalau urusan pelajaran. Sebisa mungkin Chi akan ajarin mereka.

Tetapi, Chi juga beberapa kali minta anak-anak nanya ke ayahnya. Kadang-kadang gak perlu menunggu alasan lagi ribet. Chi suka minta gantian ngajarin anak, di saat lagi ingin bersantai. Ya pokoknya gak mau menjadikan kegiatan belajar dan mengajar anak hanya dibebankan ke ibunya hehehe.


Back to Content ↑


Minta Bantuan Pihak Lain

Waktu SD, anak-anak ada pelajaran bahasa Sunda. Kalau ada PR, Chi minta mereka tanya ke neneknya hahaha. Kalau Keke atau Nai gak ngerti bahasa Arab, Chi minta mereka kembali bertanya ke guru. Chi bisa membaca tulisan Arab. Tetapi, masalah di buku pelajarannya gak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekali. Jadi mana Chi paham artinya hehehe.Kalau udah gitu biasanya Chi minta mereka belajar semampunya aja.

Bisa juga dengan Googling. Misalnya waktu SD, anak-anak pernah dapat soal matematika tentang akar pangkat. Kalau cuma akar pangkat 2, Chi masih bisa lah langsung ngajarin. Begitu masuk akar pangkat 3 dan seterusnya mulai deh pusing hahaha.

Chi pun langsung googling. Sekarang banyak kok artikel yang memberikan pelajaran secara cuma-cuma. Kalau untuk matematika, Chi cari cara termudah untuk menyelesaikan soal. Alhamdulillah ada aja artikel yang menulis. Bahkan sampai sekarang, Googling masih menjadi andalan Chi kalau anak-anak minta diajarin.


Back to Content ↑


Terima Fakta Kalau Ibu Gak Menguasai Semua Pelajaran

Nai: "Buuun! Tau gak nilai ulangan IPA Ima berapa? Dapat 9, Buuuun!"
Bunda: "Alhamdulillah. Perasaan tiap kali diajarin Bunda nilainya lumayan, Dek. Waktu itu matematika juga tinggi, kan."
Nai: "Iya. Ya udah Ima kalau gitu belajarnya sama Bunda aja, ya?"
Bunda: "Haaaah? Hadeuuuuh ... hadeuuuhhh .... Bisa-bisa Bunda gak ngapa-ngapain kalau ngajarin terus. Pelajaran sekarang makin susah hehehe."

Kami pun tertawa bersama. Tentu  aja seneng banget nilai Nai bagus setelah Chi ajarin. Tetapi, kalau udah usaha tanya sana-sini gak bis ajuga ngajarin, ya harus terima kalau faktanya gak semua pelajaran kita kuasai.

Buat Chi dengan menerima kenyataan bisa bikin diri sendiri gak jadi stress. Gak selalu menuntut anak untuk mendapatkan nilai bagus. Lha, kita aja sebagai ibunya gak menguasai semua. Masa anak harus dituntut terus bagus nilainya.

[Silakan baca: Desperate Motherhood - Drama Ibu-Ibu Sekolahan]

Di masa belajar di rumah akibat pandemi COVID-19 ini, anak-anak juga kadang-kadang dapat soal yang gak mudah. Ada beberapa dramanya juga. Bahkan ada 1 tugas yang gak Nai kerjakan sama sekali dengan alasan terlalu berat.

"Adek udah tau kan konsekuensinya kalau gak ngerjain?"

Nai bilang tau dan mau bertanggung jawab. Ya udah, kami pun gak mau ribet memaksa untuk tetap mengerjakan. Biarkan aja dulu. Mudah-mudahan juga ada evaluasi setelah masa social distancing ini selesai.


Back to Content ↑


Pahami Dari Sisi Orang Lain

Sejak dulu, Chi memang tidak melepaskan begitu aja urusan KBM ke guru. Ya bayangin aja, Chi hanya punya 2 anak rasanya gak bisa selalu menyatukan pikiran mereka. Gaya belajar mereka berbesa. Bagaimana coba guru yang setiap hari harus ketemu dengan puluhan karakter murid?
 
Ketika anak-anak dikasih tugas banyak di masa pandemi ini, sebetulnya gak mudah juga bagi para guru. Bayangin aja hp para guru mendadak full memorynya karena harus terima banyak tugas.

Kenapa gak lewat media lain?

Bagi generasi digital, pindah belajar ke Google Classroom itu hal mudah. Tetapi, bagi para guru, apalagi yang udah sepuh, itu udah jadi beban baru lagi.

Belum lagi mereka pun harus tetap ke sekolah. Gak tau di jalan terpapar virus atau enggak. Kabar baiknya, katanya sekarang para pengajar pun diminta untuk Work From Home. Alhamdulillah.

Pikirin juga deh mereka yang jadi tenaga kesehatan. Serempongnya jadi guru dadakan, setidaknya setiap hari masih ketemu anak. Masih bisa meluk dan becanda ma mereka. Bisa menjaga kesehatan anak-anak dari virus Corona.

Sedangkan mereka yang berada di garda terdepan, setiap hari malah berhadapan dengan virus ini. Risiko yang dihadapi sangat tinggi. Malah bisa berisiko juga mereka yang jadi pasien berikutnya. *Semoga gak ada lagi garda terdepan yang jadi korban. Patah hati Chi setiap kali baca berita ini 😭😭

Para garda terdepan ini kan juga ada yang jadi ibu seperti Chi. Tentu batinnya juga pengen meluk anak setiap saat. Jadi merasa banget kalau kerempongan yang Chi alami, gak seberapanya dibandingkan para nakes.

Coba bayangin kalau para nakes ini memilih untuk lebih berada di rumah dan menjadi guru bagi anak-anak. Trus yang ngurusin kesehatan masyarakat dan membasmi pandemi Corona ini siapa?

[Silakan baca: Tips Belajar Asik dan Menyenangkan Bagi Anak]


Back to Content ↑


Evaluasi Belajar di Rumah di Minggu Pertama


tips belajar di rumah aja, menjadi guru bagi anak

Berikut adalah evaluasi belajar di rumah untuk minggu pertama. Evaluasi ini udah Chi tulis di FB. Jadi, mungkin beberapa teman pernah baca tulisan ini.

Back to Content ↑


Keke (SMA)

Tidak ada tugas sama sekali. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di rumah diganti sama UTS online. Gak tau apa pertimbangannya karena selama ini sekolahnya justru gak pernah ada UTS.

Ada beberapa drama selama UTS berlangsung. Chi beberapa kali kesiangan bangun! Otomatis Keke pun ikut kesiangan ikut UTS di jam pertama. Untung masih keburu hehehe.

Pernah juga udah mau selesai ngerjain, trus HPnya error. Ini gara-gara dia ngerjain UTS sambil usilin bundanya. Akhirnya langsung serius ngerjain karena waktunya tinggal dikit dan dia harus ngerjain ulang. Hahaha usil, sih!

Tadi pagi lagi serius ngerjain soal, tau-tau bubar jalan karena ada kecoa melintas. Keke langsung ngibrit. Ayahnya yang sibuk ngusir kecoa wkwkwkw!

Ada juga guru yang menunda UTS. Katanya nanti aja kalau KBM sudah kembali normal. Keke pun senang hahaha.

Di hari pertama, murid diminta setor foto lagi ngerjain UTS ke walas. Kayaknya sesi ini lebih lama daripada Keke ngerjain soal. Beberapa kali diulang. Sampai dia sreg baru boleh dikirim. Padahal semua anak yang kirim foto juga pada muka bantal.


Back to Content ↑


Nai (SMP)

Jadwal pelajaran dan tugas dibagikan setiap hari. Jadwal belajar online mengikuti jam sekolah. Tugas yang dikumpulin juga per hari.

Jadi selama jam belajar, Nai lebih banyak di kamar. Sesekali aja keluar buat makan atau ke toilet. Selesai 'jam sekolah' dia udah santai. Bisa nonton, bikin camilan, dll.

Soal-soal yang dikasih juga masih sanggup dia kerjakan tepat waktu, kecuali pelajaran olahraga. Dia menolak tugas harus bikin video lagi olahraga di rumah.

"Bunda sih terserah aja. Kalau Adek gak mau bikin, harus berani tanggung jawab. Terima risikonya kalau sampai ditegur guru, ya."

Nai pun menyanggupi. Ya udah, Chi gak mau ribetin.


Back to Content ↑


Keponakan (SD)

Kemarin keponakan sempat japri buat curhat ke Chi. Katanya kesel karena liburan malah dikasih banyak tugas.

Kalau Chi lihat, tugasnya sebetulnya gak banyak juga. Tetapi, konsep anak SD sepertinya libur itu berarti gak belajar. Ya udah Chi coba kasih pengertian aja yang kira-kira masuk dengan usianya. Kelihatannya sih dia paham.

Setelah 5 hari pertama terlewati, Chi ajak Keke dan Nai untuk review KBM secara online. Mereka pun kompak menjawab lebih betah di rumah! Huahahahaa kayaknya Chi kurang galak, nih!


Back to Content ↑


Semua Ada Prosesnya


Ya bisa dibilang Chi agak merasakan buah manisnya. Anak-anak udah terbiasa belajar dan bertanggung jawab. Sedangkan Chi juga sudah terbiasa untuk tidak menjadi ibu yang perfeksionis. Makanya di masa belajar #dirumahaja ini lebih santai. Nyaris tanpa drama.

Jadi inget, waktu anak-anak belum sekolah, Chi dan K'Aie pernah pengen banget memilih homeschooling. Makanya sampai bikin blog khusus buat menuliskan jurnal HS Keke dan Nai. Tetapi, dengan pertimbangan panjang, kami membatalkan rencana tersebut. Ya anggap aja sekarang lagi merasakan rencana homeschooling yang sempat tertunda hehehe.

Semua memang ada prosesnya. Tetapi, bagi yang pontang-panting pada saat ini, yuk tarik napas sejenak. Saat ini memang kondisinya sedang tidak normal. Tidak hanya bagi kita para ibu, kok.

Jadi coba tarik napas panjang sejenak. Setelah itu baru pikirin lagi baiknya gimana. Kalau perlu cari circle yang senasib biar sama-sama memberi dukungan.

Semangat untuk semua! Semoga pandemi COVID-19 ini segera berlalu. Mudah-mudahan sebelum Ramadhan. Aamiin.

Btw, beneran nih gak ada drama selama belajar di rumah. Ada! Tetapi, seru-seru aja. Nanti ya di postingan lain bakal Chi ceritain.


Back to Content ↑

Tuesday, March 24, 2020

Berbisnis Online di AVANA Indonesia Keuntungannya Banyak!

Berbisnis Online di AVANA Indonesia Keuntungannya Banyak!

Kejadian pandemi COVID-19 begitu menghentak! Semua lini kena imbas, termasuk ekonomi. Cemas? Pastinya. Tetapi, terlalu larut dalam kecemasan juga gak menghasilkan solusi apapun.

berbisnis online di avana indonesia keuntungannya banyak

Buka Toko Online Lagi Gak, Ya?


Saat anak-anak masih kecil, Chi pernah buka toko online. Buka tokonya di Facebook. Alasannya karena lebih sering buka media social yang ini daripada lainnya. Belum tertarik buka toko di e-commerce juga pada saat itu.

Meskipun mulai menghasilkan, Chi akhirnya memutuskan untuk menutup toko online yang sudah dibangun. Kesibukan mengurus anak-anak menjadi alasan utama. Makanya setelah melalui berbagai pertimbangan, diputuskan untuk tutup aja.

Sekarang, mulai kepikiran lagi jualan online. Udah beberapa bulan terakhir sih jadi bahan diskusi antara Chi dan K'Aie. Topik diskusinya itu jualan apa?

Dulu, Chi jualan baju anak dan dewasa (perempuan) serta kerudung. Sekarang tuh lagi mikir mendingan mulai jualan barang yang sama kayak dulu atau bantuin mengembangkan usaha online K'Aie yang udah jalan sekian tahun.

Udah beberapa tahun terakhir ini, K'Aie menjual botol minuman merk Nalgene dan KOR. Sebelum memutuskan menjual botol minum ini, kami sudah lebih dulu menggunakannya. Udah paham bagaimana kualitasnya.

Salah satu perlengkapan sekolah anak-anak yang paling awet tuh botol minum dari 2 brand ini. Tahan banting banget! Sekalinya ganti ya karena hilang, bukan rusak hehehe. Gak cuma dibawa ke sekolah, botol-botol ini juga suka kami bawa jalan-jalan ke manapun dan juga untuk isi air minum di rumah karena memang ada beberapa ukuran.


Mengembangkan Jualan Online yang Sudah Berjalan


Sepertinya, Chi akan memutuskan membantu jualan online K'Aie aja. Alasannya karena sudah berjalan selama beberapa tahun. Daripada jualan masing-masing, mendingan saling bantu dan lebih dikembangkan lagi.

Apalagi sejak semakin gencar masyarakat yang peduli dengan lingkungan, semakin banyak pula yang mencari botol minum. Alhamdulillah. Sekarang tinggal mikirin gimana cara mengembangkannya, nih.

Sebetulnya dulu juga pernah bantuin usaha K'Aie. Itu foto yang paling atas ada tulisan @kenai_OZ adalah nama toko online di IG yang pernah Chi buat. Tetapi, ya gitu deh. Gak dikelola serius karena saat itu lebih fokus ke hal lain. Akhirnya cuma upload produk, setelah itu gak dijalanin.

Giliran sekarang, baru juga diniatin mau mengembangkan usaha, malah ada pandemi COVID-19. Duuuuh Corona ini memang bikin galau, yaaa!

"Justru mumpung saat ini penjualan lagi agak menurun, saatnya beberes dan review, Bun. Cek stok barang dan mikirin mau digimanain lagi buat ngembanginnya. Kalau lagi normal mungkin belum tentu sempat. Insya Allah, kalau nanti udah lewat masa pandemi Corona ini, kita udah bisa langsung start karena udah beres persiapannya."

Nyeeeess! Chi langsung berasa adem denger ucapan K'Aie. Bener juga, ya. Mumpung K'Aie juga saat ini lagi kerja di rumah, justru jadi punya banyak waktu bagi kami untuk berdiskusi tentang bisnis online ini.


Mengembangkan Sayap Jualan Online di AVANA


Pas banget nih Chi ketemu info tentang AVANA Indonesia. Jadi ini tuh situs yang akan membantu para pebisnis online untuk lebih maju.

Jadi gini ...

Berdasarkan pengalaman Chi jualan di FB kendalanya adalah promosi. Beneran harus sering-sering promosi. Tetapi, ya kalau bisa jangan sembarang ngetag orang lain. Salah-salah nanti malah pada kesel karena ditag sama seller online.

Kemudian, K'Aie pun membuka toko di salah satu e-commerce. Lumayan membantu untuk urusan pemasaran. Tetapi, tetap masih berasa kayak gak punya toko sendiri.

Terpikirlah untuk bikin toko online. Bahasan diskusi berikutnya adalah siapa yang akan mengurus web storenya? Kan, harus dioptimasi juga. Sedangkan kami masih punya kesibukan yang lain.


Langsung Dapat 3 Jenis Toko Online di AVANA

alasan memilih jualan online di avana

AVANA adalah Social Commerce platform yang mempermudah para pengusaha, pelaku UKM, dan UMKM untuk berjualan online. Dengan memodernisasikan media sosial seperti Facebook, Messenger, dan Instagram, pelanggan bisa melakukan transaksi pembelian sampai pembayaran di media sosial. Pelanggan kini tidak perlu meninggalkan laman media sosial penjual ketika melakukan proses pemesanan dan pembayaran. Mereka bisa melakukan semua proses ini langsung di media sosial penjual. Ada tiga toko online utama AVANA yang bisa pengguna dapatkan yaitu Webstore, Facebook store, dan Messenger store.

Setelah mencari tau, sepertinya AVANA ini social commerce Indonesia yang Chi butuhkan, deh. Hanya dengan memiliki satu akun, kita sudah bisa mendapatkan 3 toko online sekaligus. Pas banget kan dengan  yang Chi inginkan selama ini?

cara membuta toko online di avana

Untuk memulainya pun gak sulit. Tinggal ikuti 3 langkah ini, yaitu

  1. Daftar akun di avana.id
  2. Buka toko
  3. Mulai penjualan

Senangnya lagi, ketiga toko ini saling berintegrasi. Teman-teman hanya cukup buka 1 dashboard aja untuk update produk. Begitupun dengan stok barang. Misalnya nih kalau ada yang beli produknya lewat webstore, otomatis jumla produk di 2 toko lainnya juga ikut berkurang. Jadinya sebagai pemilik toko gak ribet bolak-balik update di 3 toko yang berbeda.


KeNai Store Sudah Ada di AVANA

keuntungan jualan di avana indonesia
avana indonesia, social commerce

Penasaran, Chi pun coba buka toko di AVANA. Coba buka yang gratis aja dulu karena masih penasaran semudah apa sih mengoperasikannya.

Ternyata beneran gak sulit, kok. Sama aja kayak ngeblog biasa. Setelah daftar kemudian mulai deh masukkan beberapa produk yang akan dijual. Lengkapi dengan deskripsi produknya juga, ya.


cara berjualan di avana
avana indonesia

Seperti inilah tampilan Webstore "KeNai Store". Masih sederhana banget karena memang masih baru. Nanti pelan-pelan diberesin. Tapi, Chi gak perlu risau untuk urusan optimasi webstore-nya. Sudah ada tim AVANA yang akan membantu. Gak perlu khawator juga dengan bandwith karena unlimited.

Selain webstore, toko online yang Chi buat ini juga otomatis ada di Facebook Store. Otomatis juga berjualan di Instagram. Semua folower kita di medsos pun jadi berpotensi untuk menjadi pelanggan. Untuk pemasarannya juga bisa dijalankan dengan mudah.

Toko ketiga yang Chi dapatkan adalah Messenger Store. Kalau ini konsepnya chatting. Tetapi, yang membedakan dengan aplikasi messenger lain adalah di toko ini kita bisa kirim katalog online. Pelanggan bisa langsung membeli atau melihat detil produk hanya dengan klik produk tersebut.

Tim AVANA Indonesia juga akan siap setiap saat. Termasuk untuk menjawab semua pertanyaan yang masuk dari semua toko. Jadi meringankan kerja dan menghemat waktu pemilik toko banget kan, ya.


Lomba Blog AVANA Indonesia



Masih penasaran berbisnis online di AVANA Indonesia? Kalau kata Chi, mendingan coba aja langsung praktek dengan membuka toko online di sana. Pilih yang gratis aja dulu.

Nah, buat teman-teman blogger, pengalaman membuka toko online di AVANA bisa diceritain nih di blog. Nanti artikelnya dilombakan. Siapa tau menang. Hadiahnya lumayan banget, lho. Info lengkap tentang lomba ini silakan ke link yang ada di poster itu atau ke IG @avana.id

Chi masih optimis bisnis online pangsa pasarnya semakin besar di tahun 2020 dan ke depannya. Ya, mungkin saat ini melambat sejenak. Tetapi, manfaatkan dengan mulai membuat rencana berbisnis online. Yuk!

Sunday, March 22, 2020

Bunga Papan Sebagai Ungkapan Kasih Sayang dan Rasa Peduli

Bunga Papan Sebagai Ungkapan Kasih Sayang dan Rasa Peduli

"Teh, lihat deh bunga papan yang dikirim Femi. Waktu itu yang datang ngelayat mikirnya apa, ya? Hahaha."

Chi pun bergegas keluar untuk melihat papan bunga yang dimaksud. Bunga papan yang dikirim oleh adik ipar. Di papan bunga itu tidak hanya tertulis ucapan turut berbelansungkawa. Tetapi, ada juga nama perusahaan yang mengirim. Nama salah satu brand kecantikan ternama di Indonesia, tempat adik Chi bekerja.


Bunga Papan Sebagai Ungkapan Kasih Sayang dan Rasa Peduli

Chi pun ikut tertawa. Dari beberapa papan bunga yang dikirim, memang yang dari brand kosmetik ini yang terkesan 'feminin'. Ngikik membayangkan ada tamu yang bingung, ada hubungan apa almarhum papah dengan brand ini.

Kami tertawa bukan berarti tidak berterima kasih, kok. Justru kami sangat berterima kasih dengan semua perhatian yang sudah diberikan oleh keluarga, sahabat, teman, dan juga tetangga. Kami ngikik untuk saling menghibur diri saja pasca ditinggal papah secara mendadak. Itupun kami nyadarnya setelah beberapa hari. Setelah mamah minta seluruh bunga papan mulai dibersihkan. Bunga yang masih segar dikumpulkan untuk dipajang di rumah.


Asal-Muasal Bunga Papan di Indonesia


Papan bunga adalah pajangan khas Indonesia untuk memberikan ucapan selamat untuk perkawinan, kelahiran dan perayaan lainnya serta dukacita untuk pemakaman. Pesan-pesan yang disertakan ditulis dengan huruf-huruf yang terbuat dari beberapa bunga plastik. Panel-panel yang dirancang penuh warna ditempatkan di depan rumah kediaman yang merayakan, namun sering kali juga dipajang secara berkelompok di jalanan padat. -Sumber: Wikipedia-

Bisa dikatakan memberi bunga adalah sebagai bentuk ungkapan yang spesial. Misalnya untuk menyatakan cinta, hadiah ulang tahun, selamat atas kelulusan atau wisuda, hingga kematian. Memang bentuknya bisa macam-macam, tidak selalu bunga papan. Tetapi, apapun itu tetap saja bunga adalah ungkapan yang spesial.

Memberi bunga sebagai ungkapan kasih sayang atau kepedulian tidak hanya dilakukan orang ke orang. Tetapi, bisa juga dilakukan oleh sekelompok orang untuk seseorang hingga dari instansi ke seseorang atau instansi lain. Contohnya saat papah Chi wafat. Kebanyakan yang kirim papan bunga adalah mengatasnamakan perusahaan. Kami sangat berterima kasih untuk perhatiannya.

Dari beberapa artikel yang Chi baca, seni merangkai bunga sudah ada sejak tahun 2500 sebelum Masehi di Mesir. Hal ini berdasarkan artefak yang ditemukan oleh arkeolog. Karangan bunga dianggap sebagai simbol relijius dan kesucian.

Seni merangkai bunga terus mengalami perkembangan zaman. Bentuknya pun bermacam-macam. Tidak hanya berupa bunga papan. Selain sebagai ungkapan kasih sayang, karangan bungan juga menjadi simbol sesuatu hal.

Di Indonesia, bunga papan sudah ada sejak tahun 1970an. Dulu, papan bunga lebih dikenal dengan nama Steekwerk yang berasal dari Bahasa Belanda. Steek (menyulam) dan weerk (pekerjaan). Jadi bisa diartikan steekwerk adalah kegiatan seni merangkai bunga dalam suatu media.

Tetapi, di Indonesia hingga tahun 1980an yang dimaksud steekwerk adalah bunga papan. Meskipun pada awalnya medianya agak berbeda. Kalau dulu dibuat dari gulungan tanaman rambat yang dipadatkan dan dirapatkan di atas bambu berukuran besar hingga menjadi sebuah papan. Untuk menutupi gulungan tanaman tersebut dirangkai bunga untuk membentuk rangkaian ucapan.

Bunga papan di Indonesia terus mengalami perkembangan. Tadinya medianya hanya tanaman rambat dan bunganya pun itu-itu aja. Sekarang styrofoam dijadikan sebagai papan. Bunga yang digunakan pun lebih beragam sehingga semakin menarik untuk dilihat.

Ucapan pada bunga papan juga semakin beragam. Kalau dulu, paling ucapannya hanya "Selamat Berbahagia" atau "Semoga Sukses". Kalau sekarang, lebih beragam lagi. Pesan papan bunga bisa bertuliskan "Turut Berduka Cita", "Happy Wedding", bahkan suka ada aja yang pakai kalimat lucu-lucu.


Membeli Bunga Papan di bungapapanku.id



Teman-teman pernah gak kebingungan saat harus membeli papan bunga. Gak tau di mana yang jual papan bunga. Kalaupun tau, lokasinya ternyata jauh. Padahal maunya dikirim secepatnya.

Kalau seperti itu, coba beli online aja, deh. Teman-teman bisa buka situs bungapapanku.id. Di sini tuh tempatnya jual bunga papan dengan kualitas terbaik dan bisa dikirim ke seluruh kota besar di Indonesia.

Cara memesannya pun mudah banget. Tinggal buka situs bungapapanku.id atau lewat aplikasi (Google PlayStore) BungaPapanku. Hanya butuh waktu 1-2 menit saya untuk order. Pembayarannya bisa melalui transfer ke rekening BCA, OVO, Gopay, atau DANA.

Rangakaian bunga dan ucapannya bisa sesuai order. Pastinya dirangkai oleh para profesional terbaik agar customer pun merasa puas.

Sekarang udah gak bingung lagi kan kalau harus mencari bunga papan? Follow juga IG @bungapapanku.id untuk mendapatkan diskonnya, ya.

Friday, March 20, 2020

Rencana Kulineran di Manado

Rencana Kulineran di Manado

Sedih ... Sedih ... Sedih ....! Sedih banget sama keadaan sekarang. Di mana COVID-19 alias Corona menjadi sebuah pandemi.

Rencananya, di bulan Maret ini kami akan jalan-jalan. Setahu Chi ada tanggal Merah di hari Rabu (25/3) karena Hari Suci Nyepi. Kalau libur di hari Rabu kan suka berasa nanggung, ya. Jadi pengen nambahin libur, entah itu di hari Senin-Selasa atau Kamis-Jumat. Trus, kami jalan-jalan ke mana gitu sekeluarga.


Rencana Jalan-Jalan ke Manado

Eits! Tunggu dulu! Rencana jalan-jalan kami yang sebetulnya baru wacana sudah langsung diputuskan untuk DIBATALKAN. Gak nyaman juga lah jalan-jalan di saat seperti ini. Apalagi sudah keluar himbauan untuk #dirumahaja. Sebagai masyarakat awam, tentu kami berusaha patuh dengan himbauan ini.

Sedih lah pastinya. Tetapi, masih ada rasa optimis kalau badai akan segera berlalu. Semoga saja sebentar lagi. Aamiin.

Daripada malah jadi galau melulu, mending bikin rencana aja deh mau ke mana. Chi tuh pengen deh bisa ke Sulawesi. Ini salah satu pulau di Indonesia yang belum pernah dikunjungi. Padahal sekarang ada kakak ipar yang tinggal di sini.

Hmmm... enaknya ke mana, ya?

Pengen sih ke Manado. Sebelum itu, Nginep Mana lagi di Manado yang Bisa Jadi Cerita seru? Chi mau cek beberapa villa di Manado dulu. Biar tau mana yang paling menarik.

Beberapa tahun lalu, K'Aie pernah ditugasin ke ibukota provinsi Sulawesi Utara beberapa tahun lalu. Pulangnya bawa oleh-oleh cakalang fufu dan klappertaart.

Banyak yang menganggap ikan cakalang adalah ikan tongkol. Memang mirip, tetapi sebetulnya berbeda. Ikan cakalang sering disebut tongkol putih karena warnanya lebih terang dari tongkol.

Fufu itu artinya proses pengasapan. Ikan cakalang dibelah dua, dibumbui, dan dijepit dengan bambu. Setelah itu diasapkan. Proses pengasapan ini membuat ikan cakalan bisa bertahan cukup lama.

K'Aie pulang dari Manado membawa beberapa ekor ikan cakalang fufu. Hampir setiap hari kami makan ikan ini ditemani dengan sambal dabu-dabu dan nasi hangat. Kalau sambalnya Chi bikin sendiri. Rasanya nikmat banget! Gak ada bosannya kami makan ikan ini lengkap dengan sambalnya.

Sayangnya Chi gak mencicipi Klappertaart. Padahal waktu itu K'Aie bawa lumayan banyak. Tetapi, Chi yang memang lebih suka makanan manis, gak tertarik untuk nyobain.

Chi baru tertarik untuk nyobain setelah bikin sendiri. Kayaknya K'Aie suka banget sama Klappertaart. Jadi pengen nyenengin suami ceritanya hahaha. Setelah Chi cobain, lha ternyata rasanya enak. Jadi menyesal waktu K'Aie bawa dari Manado, gak Chi sentuh sama sekali oleh-olehnya itu. Kan, sampai sekarang jadi penasaran gimana rasanya kalau beli langsung dari sana hehehe.

Banyak yang bilang kalau di Manado harus hati-hati dengan makanan. Banyak yang tidak halal. Tetapi, kalau Chi baca beberapa artikel tentang kulineran di Manado, sepertinya banyak juga kok yang halal.

Kalau di rumah, Chi suka masak ayam rica-rica dan woku belanga. Kalau melihat resep aslinya memasak woku belanga seharusnya dimasak di wadah tanah liat. Tentu aja Chi gak punya alatnya. Jadi paling mendekati resepnya. Itu aja anak-anak dan K'Aie udah suka.

Manado juga punya kuliner nasi kuning. Tetapi, berbeda dengan nasi kuning yang ada di pulau Jawa. Dari mulai lauk-pauk, sambal, hingga membungkusnya pun beda. Chi belum pernah cobain. Di Jakarta gak tau cari di mana. Makanya makin pengen ke Manado.

Chi pernah cobain sayur pangi atau sayur daun kluwek. Ini juga unik cara memasaknya. Sayur yang sudah diiris dan bumbu dimasukkan ke dalam buluh bambu kemudian dibakar. Jadi sayur ini tidak ditumis atau diolah seperti sayur pada umumnya.

Tetap harus hati-hati kalau makan sayur pangi di daerah asalnya. Kalau sayurnya terlihat sangat berminyak, itu bukan karena ditumis. Tetapi, lemak babi ditambahkan ke dalam buluh bambu. Tentunya sayur pangi yang pernah Chi cobain tidak menggunakan lemak apapun. Makanya teksturnya kering, tetapi rasanya tetap enak.

Banyak aja ya yang bisa dinikmati kalau jalan-jalan ke Manado. Itu baru kulinerannya. Belum lagi kalau mencari tau tentang keindahan alam dan budayanya. Jadi makin pengen kan pergi ke sana.

Semoga ya bisa terwujud. Udah kangen jalan-jalan! 

Wednesday, March 18, 2020

Rumah Dijual di Semarang : Saatnya Punya Hunian di Kota Besar Hanya dari Rp300 Jutaan

Rumah Dijual di Semarang : Saatnya Punya Hunian di Kota Besar Hanya dari Rp300 Jutaan

hunian di semarang mulai 300 juta
Foto: semarangkota.go.id


Anda yang ingin hunian sekaligus investasi, bisa pertimbangkan untuk membeli rumah dijual di Semarang.

Tak berlebihan, karena Semarang yang tak lain adalah ibu kota dari Provinsi Jawa Tengah ini termasuk salah satu kawasan paling bekembang. Hal ini bisa dilihat di berbagai sektor, contohnya pedagangan, pertambangan dan parwisata.

Apalagi jika melihat lokasinya yang dikelilingi oleh sejumlah daerah besar, salah satunya Salatiga, dan juga berada di lintasan Jakarta -Surabaya, membuatnya jadi salah satu kawasan strategis. Hal tersebut tentunya bisa jadi alasan untuk Anda berinvestasi, khususnya di bidang properti.

Apalagi bukan itu saja, Semarang juga didukung oleh infrastruktur dan fasilitas sosial yang memadai. Misalnya saja jalan bebas hambatan seperti Tol Srondol-Bawen, dan yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo adalah Tol Semarang-Batang.

Tol baru ini memiliki panjang sekitar 75 km yang menghubungkan Kota Semarang dengan Kabupaten Batang di Jawa Tengah, dan juga menjadi bagian dari Jalan Tol Trans Jawa, yang melintang dari Merak, Banten hingga ke Banyuwangi, Jawa Timur.

Lalu kelebihan Semarang lainnya, tidak hanya memiliki bandara dan stasiun seperti daerah lain, tapi di sini juga terdapat pelabuhan. Jadi tak heran jika sektor perdagangannya berkembang.

Pelabuhan Tanjung Emas memiliki luas perairan sekitar 400 hektare dan luas lahan 500 hektare. Letaknya sekitar 5 km dari pusat Kota Semarang.

Pelabuhan ini dilengkapi oleh berbagai fasilitas seperti pemecah gelombang, kolam pelabuhan, dermaga, gudang, terminal dan masih banyak lagi. Sementara peralatan yang dimiliki antara lain ada Kapal Tunda dan Kapal Pandu. Sementara pelayanan yang tersedia contohnya adalah Pelayanan Kapal, Pelayanan Barang, Pelayanan Tanah dan lain sebagainya.


jual rumah di semarang
Foto: wikipedia.org


Dengan infrastruktur yang memadai dan lokasinya yang dianggap menguntungkan, daya tarik Semarang memang tak bisa dipungkiri, buktinya banyak pengembang besar yang berinvestasi di sini dan mengembangkan properti mereka mulai dari area komersil hingga hunian seperti rumah tapak.

Pengembang terkemuka ini antara lain adalah Lippo Group, Sinarmas Land Group dan lain sebagainya dengan nilai investasi yang tak tanggung-tanggung, yakni mencapai triliunan rupiah di atas lahan seluas ribuan hektar.


Beli Rumah Dijual di Semarang, Ini Keuntungannya


Sementara bagi Anda yang ingin berinvestasi dengan membeli rumah dijual di Semarang, potensinya juga tak kalah menarik. Karena Semarang menjadi salah satu Kawasan dengan kenaikan harga properti terbilang tinggi yakni sekitar 10% (data 2017).

Dengan kenaikan ini, bahkan Semarang masuk dalam kota di Pulau Jawa dengan pertumbuhan harga hunian paling tinggi.

Peluang investasi dengan membeli rumah dijual di Semarang tak hanya dari nilai jualnya saja, tapi juga nilai sewa.

Apalagi dari hasil survei ditemukan bahwa ketersedian hunian yang bisa disewakan seperti kos-kosan masih relatif kecil, sehingga ini bisa jadi peluang bagi Anda yang tertarik untuk berinvestasi.


mencari hunian di semarang
Foto: pixabay.com


Cari Hunian, Ini Daya Tarik Rumah Dijual di Semarang


Tapi kalau Anda mencari info rumah dijual di Semarang khusus untuk dihuni atau ditempati tentunya juga ada sederet daya tarik dan kelebihan yang bisa Anda rasakan.

Selain dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai dan lokasinya yang strategis, Semarang juga bisa jadi hunian menarik sebagai domisili karena dilengkapi oleh fasilitas sosial yang mumpuni.

Misalnya saja pusat perbelanjaan besar seperti Paragon City Mall, Ciputra Mall Semarang, Java Supermall dan DP Mall. Lalu juga ada pusat kesehatan seperti Semarang Medical Center RS Telogorejo, Kariadi Hospital dan masih banyak lagi.

Sementara untuk pusat pendidikannya, terdapat sejumlah kampus unggulan misalnya saja Universitas Dipenogoro, Universitas Negeri Semarang dan Politeknik Ilmu Pelayaran.

Lalu kalau bicara tempat wisata dan destinasi kuliner, Semarang juga punya sederet pilihan yang tak hanya dikenal di kota ini saja, tapi juga hingga se-Indonesia.

Untuk kulinernya, Semarang dikenal dengan jajanan seperti lumpia, wedang, tahu gimbal dan lain-lain. Sementara untuk makanan khasnya di sini Anda bisa menjumpai bandeng presto, nasi ayam, soto, pecel dan sebagainya.

Menariknya lagi, untuk makan enak di Semarang tak perlu ke restoran atau tempat mahal karena banyak pilihan angkringan dan jajanan kaki lima yang rasanya nikmat dengan harga murah.

Sementara kalau bicara destinasi wisatanya, Semarang punya beragam pilihan, mulai dari wisata budaya, sejarah dan religi dengan pilihan seperti Lawang Sewu, Mesjid Agung Jawa Tengah, Sam Poo Kong Temple, GPIB Immanuel, Kota Lama, Lapangan Pancasila Simpang Lima.

Sementara pilihan wisata alam di sini ada Brown Canyon, Wana Wisata Penggaron dan sejumlah air terjun contohnya Curug Benowo.


Foto:pexels.com


Buktinya, kalau Anda mengunjungi www.99.co/id, Anda akan menjumpai banyak iklan rumah dijual di Semarang dengan harga di bawah Rp500 juta. Dan semuanya bisa Anda pilih sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya sebuah rumah di Banyumanik, dengan luas 36 m2 dan tanah 105 m2 dan memiliki 2 kamar tidur, ditawarkan seharga Rp300 juta-an.

Dengan harga yang kurang lebih sama, Anda bisa beli rumah di kawasan Tembalang yang jadi salah favorit pencari hunian. Dengan harga tersebut Anda bisa memiliki rumah seluas 36 m2 dan 2 kamar tidur.

Ingin tinggal di kawasan pegunungan yang sejuk dan masih asri? Ada pula pilihan hunian di kawasan Ungaran Barat yang dijual seharga Rp400 juta-an dan berluas 90 m2 dengan 3 kamar tidur.

Pilihan dan info rumah dijual di Semarang lainnya bisa Anda cek di 99.co Indonesia ya!