Sunday, November 29, 2015

Normal vs Caesar Lebih Sakit Mana?

Normal vs Caesar Lebih Sakit Mana?

Normal vs caesar lebih sakit mana? Hmm ... sebetulnya Chi gak bisa menjawab secara pasti karena dua kali melahirkan semuanya dilakukan dengan operasi caesar. Bedanya waktu melahirkan pertama, caesarnya spontan setelah bukaan komplit dan berusaha untuk mengejan. Kemudian dengan beberapa pertimbangan dari dokter, diputuskan untuk caesar saat itu juga. Kalau kelahiran yang kedua, operasi caesarnya sudah direncanakan. Terkena plasenta previa sehingga sangat disarankan untuk caesar. Ya, walopun keduanya caesar, setidaknya Chi sudah merasakan sedapnya mules ketika mau melahirkan. Sampe lengkap pembukaannya hehehe.

Setelah masuk ruang inap, dikamar sudah ada 2 orang ibu yang lebih dulu melahirkan. Chi memang sengaja pilih kamar kelas 2 yang isinya untuk 3 orang ibu. Chi pikir selama proses melahirkan tidak memerlukan perhatian khusus alias dilancarkan, kayaknya kelas 2 juga cukuplah. Biar di kamar juga gak sepi hehehe *Bilang aja penakut :p

Kompakan, nih, kami bertiga sama-sama melahirkan secara caesar. Ketika Chi baru masuk, langsung ditanya sama mereka melahirkan dengan proses apa. Setelah dikasih tau kalau melahirkan caesar, mereka kompakan bilang sekarang Chi masih enak karena obat bius masih berasa. Tunggu sampai obat biusnya hilang, nanti baru akan berasa 'nikmatnya' caesar.

Chi memang pernah beberapa kali denger kalau normal sakit saat proses melahirkan, tapi setelahnya tidak. Kebalikan dengan normal, kalau caesar pas prosesnya gak sakit tapi sakitnya baru nanti setelah biusnya hilang. Ya, walopun udah beberapa kali dneger seperti itu, tetep aja bikin hati rada kecut membayangkan sakit kayak apa yang bakal Chi rasakan hehehe. Alhamdulillah, setelah biusnya hilang Chi biasa aja. Memang sih kalau tertawa terbahak-bahak, bersin, atau batuk dibagian jahitan suka rada sakit. Tapi gak terus-terusan. Paling antisipasinya ketawanya rada ditahan, begitu juga kalau mau batuk atau pilek :D

Seusai caesar sampai beberapa minggu *tapi gak sampe sebulan, sih*, Chi gak mandi, lho. Kayaknya seusai melahirkan pertama kali adalah waktu terlama Chi gak mandi. Setiap hari cuma dilap pake washlap ajah hahaha. Berhari-hari gak mandi rasanya udah kangen banget sama perlengkapan mandi dan air hahaha.

Saat itu Chi gak mandi karena anjuran dokter kandungan. Luka dibagian jahitan hanya ditutup dengan kain kassa dan plester biasa. Sebetulnya udah ada plester tahan air, tapi dokter kandungan yang menangani Chi gak mau kasih. Alasannya, para ibu yang baru melahirkan secara caesar dan dikasih plester tahan air suka cenderung merasa aman. Misalnya ketika bayinya sedang tidur, langsung deh berlama-lama mandi atau nyuci. Padahal walopun udah pake plester tahan air harus tetap dipantau. Jangan sampai plesternya rusak dan luka kemasukan air. Bisa infeksi nanti kalau sampai terjadi.

Karena Chi cuma dikasih perban biasa, akhirnya beneran gak mandi, deh. Begitu anak kedua lahir, dokter memberikan plester tanah air. Chi gak bertanya kenapa bisa berbeda dengan yang pertama. Ya, mungkin dokternya kali ini udah punya feeling kalau Chi bukan orang yang mau berlama-lama basah-basahan buat nyuci baju wkwkkw.

Pakai plester yang tahan air juga harus diperhatikan. Selain gak boleh berlama-lama di dalam air, kelembabannya harus dijaga. Setelah kena basah harus langsung dilap dengan handuk bersih. Caranya cukup ditekan dengan lembut saja. Jangan digosok-gosok nanti malah rusak plesternya. Kondisi plester juga harus rajin dicek. Kalau ada gelembung kecil saja harus periksa ke dokter. Gelembung kecil di plester bisa jadi menandakan adanya bagian yang bolong. Nanti dari bagian yang bolong bisa kemasukan air.

Alhamdulillah, 2 kali caesar rasanya aman saja. Gak ada sakit yang sampai bagaimana banget. Pemulihannya juga cepat. Jadi, antara normal vs caesar lebih sakit mana? Kalau kata Chi, sama aja lah. Ya, walopun Chi gak tuntas juga merasakan proses normalnya. Gak sampe bayinya lahir. Tapi, apapun itu bagi Chi jangan pernah membanding-bandingkan kesempurnaan seorang ibu dari caranya melahirkan. Mau proses normal atau caesar, ibu tetaplah ibu.

Thursday, November 26, 2015

Seberapa Penting Melengkapi Kotak P3K di Rumah?

Seberapa Penting Melengkapi Kotak P3K di Rumah?

Seberapa penting melengkapi kotak P3K di rumah? Sebelum dijawab, kepoin dulu aja isi kotak P3K yang ada di rumah Keke dan Nai, ya :)


Obat Penurun Panas

Obat penurun panas selalu kami sediakan. Waktu mereka masih balita, kami hanya menyetok 1 merk penurun panas karena memang merk itu yang cocok. Kalau sekarang sih merk apa aja asalkan kandungannya paracetamol. Keke dan Nai gak cocok dengan obat penurun panas berbahan ibuprofen. Pasti gak lama setelah mengkonsumsi obat yang mengandung ibuprofen suka menangis karena lambungnya sakit. Ternyata, setelah Chi cari tau, ibuprofen memang bisa berefek ke lambung kalau gak cocok. Paracetamol cenderung aman untuk Keke dan Nai.

Walopun selalu menyediakan obat penurun panas, gak otomatis begitu mereka demam langsung dikasih obat, lho. Tunggu sampai suhu tubuhnya mendekati angka 38 derajat celcius baru dikasih obat sesuai dosis. Kalau sampai 3x24 jam belum sembuh juga, bawa ke dokter anak. Tapi kalau sudah diatas 39,5 suhu tubuhnya, Chi langsung bawa mereka ke dokter walopun belum 3 hari.


Thermometer

Alat kesehatan yang berfungsi mengukur suhu tubuh. Ada berbagai macam bentuk thermometer di pasaran, dari yang mulai masih menggunakan air raksa hingga digital. Tapi dokter anak kami selalu menyarankan kalau yang terbaik adalah yang menggunakan air raksa. Memang lebih lama didapat hasilnya dibandingkan yang digital. Tapi kami nurut aja, deh. Karena selama ini udah cocok banget sama dokter anak kami.


Obat Luka

Anak rentan jatuh lalu kulitnya treluka dan berdarah. Selalu sediakan obat luka. Biasanya kami sediakan 2 macam, yang cairan dan cream.


Plester

Kalau ada obat luka juga biasanya ada plester. Dan kalau ngomongin plester jadi inget waktu Nai kecil seneng banget pake plester (Baca: Nai dan Plester) :D


Kain Kassa dan Kapas

Jaga-jaga kalau plester aja gak cukup. Kapas bisa dipakai salah satunya untuk membersihkan luka.


Obat Memar

Gak hanya jatuh dan mengakibatkan kulitnya berdarah. Anak juga beresiko terbentur ketika beraktivitas sehingga kulitnya memar.


Obat Diare

Biasanya kami menyediakan obat dalam bentuk serbuk yang mengandung lactobacillus. Sebetulnya pakai oralit juga bisa, sih.


Balsam

Sangat membantu kalau anak-anak sedang pilek. Balsam bisa menghangatkan. Apalagi Nai kan punya asma, kalau dikasih balsam dadanya saat sedang pilek lumayan bisa membantu melegakan pernapasannya.


Obat Biang Keringat

Anak-anak juga gampang biang keringat. Tapi biasanya Chi suka taro di kulkas. Mereka seneng banget kalau lagi pas biang keringet trus dikasih cairan untuk biang keringat yang baru keluar dari kulkas. Rasanya dingin hehehe


Catatan Kesehatan


Selalu dekatkan kotak P3K dengan catatan kesehatan. Siapa tau memang harus langsung ke dokter

Jadi seberapa penting melengkapi kotak P3K di rumah? Menurut Chi sih penting. Selalu menyediakan kotek P3K juga mengurangi kepanikan ketika anak-anak sakit. Bisa bayangkan kalau anak tiba-tiba demam di saat tengah malam sedangkan tidak ada obat di rumah?

Selain menyediakan kotak P3K, pastikan juga kualitasnya. Terutama obat yang harus diminum. Rajin dicek tanggal kadaluarsa. Jangan mentang-mentang obatnya gak pernah dipakai lalu dianggap aman terus. Obat yang udah dibuka segelnya juga biasanya gak lebih dari 3 bulan kami simpannya. Selain itu perhatikan juga tempat penyimpanan obat. Gak semua obat cocok ditempatkan dimanapun.

Apa isi kotak P3K, Teman-Teman? *Gantian Chi yang kepoin :)

Tuesday, November 24, 2015

Aaahh ... Jerawat!

Aaahh ... Jerawat!

Temen A: "Ke, kok jerawatnya lama ilangnya, sih?"
Keke: "Gw sih santai aja karena semua pasti ada hikmahnya. Kalau muka gw udah gak jerawatan nanti kegantengan gw balik. Kalau gw balik ganteng, ntar dikejar banyak cewek. Cape dong gw dikejar-kejar."

Hehehe itulah obrolan Keke dengan salah seorang temennya. Salah satu ciri anak puber itu memang gak cuma suara aja yang berubah. Fisik pun mengalami beberapa perubahan. Keke semakin tinggi sekarang, perutnya semakin langsing. Bahkan Chi mulai kalah tinggi sama Keke. Mukanya mulai berjerawat di sana-sini.

Untuk urusan jerawat, Chi gak pernah melihat dia risau. Memang ketika di awal puber, Keke sempat gampang uring-uringan sikapnya. Udah gitu lebih senang menyendiri. Pokoknya Chi sempat rada jumpalitan menghadapi sikapnya, lah. Menurut beberapa artikel memang salah satu ciri anak puber seperti itu. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai terlewati. Chi juga sudah berbagi melalui tulisan sebelumnya, yaitu "Jumpalitan dan Tip Menghadapi Anak Puber"

Setelah masa jumpalitan sedikit demi sedikit terlewati, ada hal baru lagi yang terjadi pada Keke. Chi perhatiin dia sekarang lagi memperhatikan penampilnnya. Terutama di bagian rambut. Kalau mau sekolah, suka rada lama dia berkaca untuk merapikan rambut. Padahal dulu mah boro-boro peduli sama urusan rambut.

Kalau rambutnya udah dirapihin, dia suka kesel kalau Chi usap-usap. Katanya bikin rambutnya jadi berantakan lagi. Hadeuuuhh ... Padahal Chi kan masih suka kangen untuk ngacak-ngacak rambut anak sendiri hihihi. Apalagi kalau mau berangkat sekolah, biasanya setelah cium pipi mereka, Chi suka usel-usel kepala. Tapi kali ini Keke suka protes hihihi.

Keke pernah cerita, salah seorang temannya berteriak-teriak karena ada jerawat di wajahnya saat bercermin di toilet sekolah Padahal kata Keke cuma 1 doang jerawatnya, dia aja yang banyak cuek hehehe. Tapi sekarang jerawat di wajah temannya sekarang udah mulai banyak. Temennya udah gak sehisteris sebelumnya. Rupanya udah pasrah hehehe.

Chi jadi mikir lagi waktu zaman masih abege kayak begitu gak, ya? Mungkin iya, mungkin juga enggak. Udah lupa :p Tapi memang setiap perubahan yang terjadi pada diri anak yang lagi puber baik secara fisik maupun emosional, gak cukup hanya dengan diamati. Harus dibimbing juga. Ketika Keke sudah mulai memperhatikan fisiknya, Chi sesekali mewanti-wanti.

Chi ingatkan untuk lebih memperhatikan perawatan tubuh. Ya, untuk anak seusia Keke masih dengan mandi bersih masih cukup, lah. Tapi memang harus rutin diingatkan. Siapa tau ada masanya terburu-buru ketika mandi. Rasanya belum perlu bantuan roll on, sabun muka, dan lain sebagainya. Apalagi minyak rambut :D

Keke juga mulai memperhatikan model rambut. Beberapa model rambut yang lagi ngetrend pernah dia ajukan ke Chi. Cuma Chi selalu ingatkan kalau masih sekolah jangan aneh-aneh, lah. Yang standar ajah.

Hmm ... kayaknya perjalanan bakal panjang nih kalau udah ngomongin ikutan trend. Apalagi trend abegeh mah banyak macemnya. Punya sepasang anak, mungkin akan berbeda-beda seleranya. Kudu siap jadi satpam supaya jangan sampai mereka kebablasan ikutin trend. Tapi juga jangan jadi satpam yang galak amat, lah. Tetap berusaha memahami walopun ada kalanya harus tegas. Biar gimana orang tua pernah muda, kan? Jadi, belajar terus memahami mereka.

"Merekaaa pun pernah mudaaa ..." *mendadak nyanyi :D*

Sunday, November 22, 2015

Kenapa dan Kapan Butuh Me Time?

Kenapa dan Kapan Butuh Me Time?

Kenapa dan kapan butuh me time? Butuh me time supaya pikirna gak mumet. Dan, Chi butuh me time setiap hari hehehe. Udah berarti segini aja postingannya :p *enggak, ding ...*

Me time dibutuhkan untuk menjaga pikiran tetap waras. Begitu menurut kebanyakan orang. Iya, sih, Chi juga merasa kalau abis menikmati me time pikiran dan suasana hati kayak di charge lagi. Rasanya kalau udah lama gak me time pengen teriak. Bawaannya uring-uringan.

Chi pernah dengar saran kalau me time itu sebaiknya dilakukan secara berkala. Jangan tunggu sampai hati udah keburu lelah. Nanti me timenya kayak orang kalap. Gak akan ada puasnya. Begitu me time selesai, kembali jadi uring-uringan.

Semua orang bahkan bayi sekalipun membutuhkan me time. Tapi, yang paling sering terlihat berteriak menginginkan me time sepertinya kaum perempuan. Itu dikarenakan perempuan lebih kompleks. Mau perempuan rumahan kayak Chi atau pekerja sekalipun, tugas perempuan lebih kompleks. Ditambah lagi perasaan perempuan yang lebih sensitif. Bahkan ada masa-masa' dimana perempuan suka kelihatan lebih galak. Tau lah .. itu yang dinamakan PMS hehehe. Ya perempuan seringkali terlihat membutuhkan me time.

Me time juga gak perlu selalu menghabiskan waktu banyak, kok. Dan, gak perlu juga selalu menghabiskan biaya mahal. Setelah membaca blog Happy Fresh, ternyata me time juga bisa dilakukan secara sederhana.

Kalau teman-teman, kenapa dan kapan butuh me time, nih? Yuk, sesekali kita me time :)

Saturday, November 21, 2015

Debat Kusir dengan Anak? Bikin Cape

Debat Kusir dengan Anak? Bikin Cape

Rio *bukan nama sebenarnya*: "Mah, kalau makannya gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Harus habis."
Rio: "Tapi kalau gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Harus habis! Biasanya juga habis."
Rio: "Iya, tapi kalau gak habis, boleh?"
Mama Rio: "Mama kan udah bilang harus habis!"

Nada mama Rio semakin meninggi terlebih Rio menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Akhirnya, Mama Rio menjadi marah. Rio juga ngambek karena gak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Acara makan jadi bubar jalan. Chi pun geleng-geleng ngelihatnya. Debat kusir dengan anak memang bikin cape.

Iya, Chi memang melihat kejadiannya. Chi juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Biasanya kalau lagi begitu karena Chi lagi cape. Maunya anak langsung nurut sama orang tua. Kalau disuruh A ya harus melakukan A. Gak usah pake bantah, pokoknya nurut. Maksudnya biar cepet supaya Chi bisa istirahat. Namanya juga anak-anak, dikasih jawaban belun tentu selesai. Bisa-bisa nyambung dnegan berbagai pertanyaan kenapa. Tapi langsung memaksa mereka menurut juga gak jaid solusi, nyatanya malah urusan jadi panjang. Bahkan emosi jadi kepancing juga. Keduanya sama-sama cape, tapi pilih mana?

Chi punya beberapa solusi, berdasarkan pengalaman pribadi tentunya.

"Gak boleh, Nak. Makan itu harus dihabiskan."

Rio anak berusia 5 tahun. Kayaknya kalau ngomong sama anak balita harus jelas, jangan abu-abu. "Mah, kalau makannya gak habis, boleh?" Diakhir kalimat Rio menggunakan kata 'boleh', berarti dia menunggu jawaban ya atau tidak. Sebaiknya jawab dengan kalimat, "Gak boleh, Nak. Makanan harus dihabiskan." Kalau Rio hanya sekadar bertanya maka dia gak akan mengajukan pertanyaan lain. Paling dia akan melanjutkan membuat pernyataan seandainya gak mau menghabiskan makanan.

"Kenapa gak boleh, Mah?"

Kadang anak bertanya itu sebetulnya mengharapkan hanya 1 jawaban. Anak ingin orang tuanya mendukung apa yang dia mau. Misalnya kayak cerita Rio, bisa jadi dia sebetulnya mengharapkan mamanya mengizinkannya untuk tidak menghabiskan makanan.

Biasanya kalau anak-anak udah mulai bertanya kenapa, gak selalu harus Chi jelaskan lebih dulu. Ada kalanya perlu juga untuk membalikkan pertanyaan. "Kenapa harus gak habis? Biasanya kan kalau makan habis." Coba perhatikan jawabannya, deh.

Biasanya kalau ditanya balik mereka akan memberikan alasannya. Tapi kalau cuma jawab, "Ya, pengen aja." seringkali Chi tolak permintaan mereka. Chi selalu bilang kalau jawaban seperti bukan alasan. Akibatnya kalau Chi sekali waktu jawab kayak gitu, mereka akan balik nasehatin bundanya hahaha.

Alasannya yang mereka lontarkan harus dipertimbangkan. Kalau masuk akal, boleh dicari solusinya. Misalnya, porsinya dikurangi atau ganti menu lain kalau memungkinkan. Tapi, kalau alasannya ingin buru-buru main biasanya Chi gak kasih izin malah dikasih nasehat plus ngomel dikit *ups! :p*

Ngeladenin pertanyaan anak memang bikin cape. Tapi kalau debat kusir malah lebih cape lagi. Udah gitu, endingnya debat kusir suka gak enak. Kalau udah dijawab tapi anak masih bertanya juga, sebaiknya dikasih ketegasan aja. Apalagi kalau bertanyanya pas waktunya makan. Bisa keburu dingin nanti hidangannya. *Padahal aneka rendang yang menggoda sudah didepan mata :D*

Thursday, November 19, 2015

#IndonesiaDigitalNation - Harapan Sederhana dari Seorang Ibu Penjual Buah

#IndonesiaDigitalNation - Harapan Sederhana dari Seorang Ibu Penjual Buah



Chi tersenyum melihat video di atas. Ibu Sri Yatmi, seorang penjual buah, menyadari kalau internet dibutuhkan bagi anak-anak sekolah. Sekarang banyak tugas sekolah di jenjang apapun memerlukan internet. Apakah ibu Sri Yatmi juga akrab dengan dunia internet? Ternyata tidak. Ibu Sri hanya berharap internet tidak membawa dampak yang aneh. Pokoknya yang positif aja, lah.

Cukupkah hanya sekadar berharap, sedangkan kita adalah orang tua yang gaptek?

Teman-teman suka nonton serial CSI Cyber? Kalau parnoan, rasanya pengen jauh-jauh deh dari dunia internet. Tapi, bagaimana mungkin bisa menjauh kalau ternyata kejahatan cyber bisa menyentuh lapisan apapun. Bahkan bagi kita yang tidak internetan sekalipun bisa ikut menjadi korbannya. Karena kejahatan cyber yang diceritakan gak cuma sekadar akun socmed yang dihack.

Di salah satu episode diceritakan seorang anak tewas tertembak. Setelah diinvestigasi, korban ternyata penggemar berat game online. Diimingi-imingi oleh salah satu akun akan diberi banyak hadiah game asalkan mau jadi kurir. Korban pun setuju tapi karena ketakutan, barang yang dibawa yang ternyata senjata terjatuh dan melesatkan peluru ke tubuhnya.

Awalnya orang tuanya gak percaya. Dengan menunjukkan tampilan tab anaknya yang terlihat bersih dan aman, orang tuanya menganggap tim CSI telah salah. Mereka juga selalu mengingatkan dan mengecek tab anaknya. Orang tuanya dkasih tau kalau di tab anaknya itu ada aplikasi parenting control. Aplikasi ini harusnya untuk orang tua. Digunakan untuk menyembunyikan berbagai aplikasi yang dianggap terlarang bagi anak untuk dilihat. Tapi orang tuanya gaptek, aplikais parenting control yang seharusnya mereka yang punya kuasa justru malah anaknya yang menggunakan untuk menyembunyikan berbagai aplikasi. Begitu dibuka, kagetlah orang tuanya karena ternyata di dalam tab banyak diinstal aplikasi yang berbahaya bagi anak.

Chi yakin dalam dunia nyata banyak kejadian seperti itu. Anak lebih cepat mengikuti penrkembangan dunia maya dibanding orang tua. Chi salah satu contohnya. Beberapa kali, Chi lihat Keke dan Nai lebih tau aplikasi apa aja yang lagi hits. Untungnya mereka selalu bercerita dan selalu minta izin kalau mau install.

Chi juga beberapa kali minta tolong ke anak-anak untuk urusan digital. Seperti beberapa hari lalu, HP baru aja diupgrade, eh banyak tampilan yang berubah trus Chi mendadak gaptek lagi, dong. Cara tercepatnya adalah nanya ke anak-anak. Kenapa bukan Tanya ke K’Aie? Karena nunggu dia pulang kantor bakalan lama ajah hehehe. Dan, terbukti cukup dengan tanya ke anak-anak udah bisa dapat jawaban cepat :D

Internet memang seperti 2 sisi mata pisau. Kalau cuma mikir kejahatannya aja memang bikin seram. Tapi, sebetulnya banyak banget hal positif yang bisa didapat dari internet.


Dampak yang Paling Dirasakan dengan Adanya Internet


Blogging

Sebagai blogger, udah pasti internet adalah salah satu perangkat ‘perang’ utama yang dibutuhkan. Udah banyak banget manfaat yang Chi dapatkan dari dunia blog. Chi bisa menuliskan beratus-ratus bahkan sekarang sudah lebih dari seribu catatan kehidupan kami terutama anak-anak. Catatan digital yang bisa kapanpun kami baca untuk bernostalgia. Dari sebuah catatan perjalan, berbonus pertemanan, networking, hingga pundi-pundi uang.


Teman Belajar

Hari gini, siapa yang belum pernah mengandalkan Google untuk mencari berbagai info? Kalau zaman Chi kecil dulu mungkin andalannya buku ensiklopedia. Tapi kalau sekarang, Google lah yang menjadi andalan. Karena kita membutuhkan informasi secara cepat.

Sejak kurikulum sekolah menjadi tematik, internet semakin dibutuhkan. Tapi apapun kurikulumnya, Chi gak pernah memposisikan diri sebagai orang yang paling tau di depan anak-anak. Ada kalanya ketika anak mengalami kesulitan belajar dan Chi gak tau jawabannya, kami bersama-sama mencari tau lewat internet.

Sebetulnya gak hanya 2 hal itu aja, sih. Banyak banget manfaat yang bisa Chi rasain. Bisa dikatakan internet buat Chi saat ini gak hanya untuk berkomunikasi dan belanja online, tapi berbagai kegiatan sudah bersentuhan dengan internet.

Harapan Chi untuk dunia internet ini sangat besar. Zaman globalisasi tentu aja kebutuhan internet semakin dibutuhkan. Chi sih berharap kecepatan internet di Indonesia semakin baik karena katanya kecepatan internet di kita masih jauh dibandingkan negara lain. Tapi, kecepatan yang jauh aja, pengguna internetnya Chi yakin semakin banyak. Nah, harapan Chi selanjutnya adalah semakin banyak yang menggunakan internet untuk hal positif. Cape gak, sih, setiap kali buka social media yang dlihat Cuma nyinyir sana-sini, atau pada debat kusir yang gak jelas? Padahal seharusnya dunia internet dimanfaatkan untuk saling berbagi informasi bermanfaat. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Perkembangan internet memang dibutuhkan, tapi perkembangan dewasa dalam berinternet juga seharusnya mengikuti.

Teman-teman pernah lihat web www. Indonesiadigitalnation.com? Coba buka webnya, deh. Banyak video yang mengispirasi dari berbagai lapisan masyarakat yang sudah merasakan manfaatnya internet. Ya, banyak-banyakin aja melihat yang positif di dunia internet biar bisa mengurangi dampak negatifnya :)  

Wednesday, November 18, 2015

Undangan pernikahan, kok begini?

Undangan pernikahan, kok begini?

Foto milik: For The Love of Stationary
Sumber: Bridestory


Undangan pernikahan, kok begini? Mirip kayak undangan ulang tahun M** (menyebut salah satu nama resto fastfood yang sering ngadain acara ulang tahun buat anak-anak)”, ujar salah seorang sesepuh di keluarga Chi. Gak ditanggapi, hanya nyengir mendengarnya. Chi pikir yang penting orang tua udah setuju.

Undangan pernikahan Chi dan K’Aie saat itu memang hanya selembar. Konsepnya memang mau dibikin seperti kartu pos. Tapi, sesepuh malah ingetnya kayak kartu undangan ulang tahun hahaha.

Undangan yang hanya selembar itu, satu sisinya menampilkan foto Chi dan calon suami. Fotonya juga cuma lewat photo box yang hasilnya kami scan. Kemudian, kami utak-atik lewat photoshop biar gak kelihatan photo box banget hihihi. *maaf, Chi gak kasih lihat contoh undangannya, ya. Karena waktu itu belum berhijab* Dikasih tulisan juga nama kedua mempelai. Di sisi lainnya, berisi beberapa detil yang memang harus ada di setiap undangan pernikahan. Warnanya kami bikin sephia biar terkesan alami seperti warna tanah.

Sebelum memutuskan berbentuk post card, ada beberapa pilihan lain yang kami pikirkan. Tapi, semuanya gak lazim, sih. Setidaknya untuk ukuran saat itu. Sempet kepikiran message in the bottle, tapi bingung cari botolnya karena udah mepet waktunya. Sempet juga pengen bikin kayak poster film karena kami pernah dapat undangan kayak gitu dan kelihatan keren. Tapi, dipikir-pikir kok kayaknya gede aja ukurannya. Ya, udahlah post card aja hehehe.

Bentuk undangan memang ada beragam. Dari konvensional sampai unik. Ada yang terlihat sangat sederhana hingga mewah. Ada yang berpendapat, undangan gak perlu lah mewah. Sayang kertas dan semakin mewah maka semakin mahal harganya. Mending budgetnya untuk makanan. Tapi, kalau buat Chi terserah yang punya hajat aja, sih. Masing-masing punya pendapat pribadi. Cuma ya kalau bisa, jangan sampai undangan terkesan mewah, giliran makanan apa adanya bahkan kurang. Sama satu lagi, mau sederhana atau mewah sekalipun, jangan lupakan detil penting yang harus ada di setiap undangan.


Detil apa aja sih yang harus ada di setiap undangan pernikahan?


Nama kedua mempelai dan juga nama orang tua kedua mempelai.

Iya, dong biar tau siapa yang mengundang. Nama kedua orang tua juga perlu karena kadang kita mengenal orang tuanya tapi gak mengenal mempelainya. Nama juga penting karena kadang di dalam satu gedung suka ada 2 hajatan pernikahan. Kalau kita gak tau siapa yang mau nikah, trus mau datang ke hajatan yang mana?


Alamat dan petanya

Namanya juga mengundang, pasti harus kasih alamat. Walopun sekarang udah zamannya google maps, tapi memberi peta di undangan kayaknya masih wajib, deh. Karena waktu itu undangan Chi berbentuk kartu pos dimana spacenya terbatas banget, jadi untuk peta disisipin pakai selembar kertas.


Tanggal pernikahan

Sama jamnya juga. Nanti bingung orang mau datang kapan. Tapi, teman-teman pernah gak datang ke acara undangan eh gak taunya salah lihat tanggal. Kalau itu sih sih salah sendiri, ya hehehe.


Detil khusus tapi penting

Umumnya pernikahan itu di dalam ruangan. Entah di rumah, gedung, atau hotel. Tapi, sekarang banyak juga undangan pernikahan di ruang terbuka. Sebaiknya dikasih keterangan di undangannya. Karena Chi pernah datang ke undangan yang diadakan di taman. Banyak tamu perempuan yang menggunakan high heels. Masalahnya kalau pake high heels yang ujungnya lancip gitu suka pada nancep di rumput. Akhirnya bikin repot kalau jalan. Untungnya Chi bukan penggemar high heels, sih. Jadi, gak bermasalah saat itu.

Mungkin kita ingin tamu menggunakan dress code. Gak apa-apa juga, sih. Apalagi kalau resepsinya dibikin privat dengan jumlah undangan gak terlalu banyak. Cantumin juga diundangan, kalau ada dress code yang ditentukan.

Ada juga undangan yang cantumin keterangan RSVP. Kalau menginginkan seperti itu harus dicantumkan contact personnya juga. Dan, kita yang diundang harus menghormati. Jangan sampai datang tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Apalagi datang membawa pasukan :)

Detil khusus yang sudah umum saat ini adalah tulisan yang mengimbau untuk tidak memberikan hadiah berupa benda kepada mempelai. Hanya menerima angpau. Waktu Chi menikah, gak ada tulisan seperti itu di undangan, karena kayaknya aturan ini udah jadi umum. Memang semua tamu pada kasih uang, sih. Kecuali beberapa keluarga ada yang memberi kado.

Pokoknya apapun bentuk undangannya, jangan lupa detil terpenting yang harus ada di setiap undangan. Tapi kalau bingung cari undangan, Teman-teman bisa cari infonya di Bridestory. Di sana banyak banget pilihan vendor undangan pernikahan dari seluruh Indonesia bahkan dunia. Coba, deh, pilih-pilih di sana. Atau siapa tau kita jadi dapet inspirasi pengen bikin undangan pernikahan seperti apa setelah buka web www.bridestory.com

Monday, November 16, 2015

Ngeblog Asyik Itu Diawali Dari Niat

Ngeblog Asyik Itu Diawali Dari Niat

Ngeblog asyik itu diawali dengan niat. Awal November lalu, Chi sekeluarga camping ke Tanakita. Kali ini, kami camping di riverside, salah satu new camp area Tanakita (sekarand Tanakita punya 4 camp area). Pilih di sana karena memang udah gak ada pilihan lain. Semua area penuh hehehe.

Di riverside ini suasananya tenang banget. Camping di pinggir sungai, aktivitas yang terdekat ya bermain air di sungai. Kalau mau kegiatan lain seperti yang selama ini biasa kami lakukan, harus berjalan kaki dulu. Naik kendaraan pribadi atau carter angkot juga boleh kalau males ngos-ngosan :D

Gak cuma rada jauh dari aktivitas. Di riverside juga susah signal internet.Jadi, selama 2 hari 1 malam di sana, kami benar-benar family time. Ya, sesekali Chi memang buka laptop untuk ngedraft tulisan. Dan, jadilah sekitar 5 draft tulisan selama disana yang siap untuk dipublish.

Membuat 5 draft tulisan selama di sana, gak terlalu mengurangi family time, kok. Karena ternyata, yang selama ini banyak menyita waktu adalah godaan untuk bersocmed. Buat Chi, socmed itu gak cuma menguntungkan tapi juga godaan. Ketika membuat 1 postingan aja bisa berlama-lama, ternyata kalau dipikir lagi waktu terlama adalah karena tergoda socmed melulu huahahaha! Nah, karena di sana gak ada signal internet sama sekali, jadi Chi bener-bener fokus.

Kalau lihat perkembangannya, dunia blog sekarang ini semakin ramai, ya. Bahkan gak sedikit brand yang mulai melirik blogger sebagai perpanjangan marketing. Selain biayanya lebih murah, blogger juga dinilai mampu menyampaikan pesan secara viral. Sebut aja beberapa blogger ternama yang seringkali bikin blogger lain iri karena kesuksesan mereka.

Lalu apa hubungannya camping dengan monetize blog?


Niat Sebelum Mulai Ngeblog


Hubungannya adalah ... Kalau mau flash back ke awal ngeblog, kondisi saat camping di Tanakita itu seperti saat pertama kali Chi mengenal blog. Bener-bener fokus tanpa ada gangguan dari social media. Gimana mau bersocmed kalau karena biaya internet mahal ajah :D *Yak! Point utamanya adalah di fokus.*

Dulu mau nyalain internet aja udah kayak nyalain mobil tua yang harus dipanasin dulu. Suaranya yang krik ... krik ... panjang dan nyaring itu pertanda Chi baru buka internet. Rada deg-degan juga, sih, karena ketahuan banget kalau lagi internetan. Ya itu artinya kalau tagihan telpon jadi mahal di bulan tersebut bakal langsung ketahuan siapa yang paling sering internetan. Mana dulu kalau mau nelpon berarti internet harus dimatiin dulu hehehe.

Tapi karena dari awal memang udah punya niatan untuk ngeblog, Chi bisa konsisten menjalaninya. Niatan Chi waktu itu adalah ingin membuat catatan perjalanan hidup Keke dan Nai.


Setelah Niat, Berikutnya adalah Konsisten


Niat itu harus kuat, itulah yang Chi rasakan selama ini. Kemudahan memang kadang suka memanjakan. Sekarang kalau internet mati suka rada kesel. Padahal dulu mau internetan aja harus bener-bener atur strategi hehe.  Dulu dengan segala keterbatasan jaringan internet, Chi tetap konsisten ngeblog. Caranya dengan ngedraft di word, nyalain internet kalau mau publish aja. Atau orat-oret di kertas dulu. Kalau udah jadi, disimpan di word. Jadi gak perlu berlama-lama dan ujung-ujung jadi mahal bayarnya kalau lama.

Kalau lagi ada rasa malas ngeblog, biasanya gak dipaksain. Nyantai aja dulu. Tapi kalau udah ada tanda-tanda malas berkepanjangan, itu artinya harus kembali lagi ke niat. Apakah niatnya masih kuat atau tidak. Insya Allah, niat Chi untuk mencatat cerita tentang Keke dan Nai masih kuat. Jadi kalau mulai timbul rasa malas, diingetin lagi sama niat.

Ah, masa sih Chi malas? Update blognya kayaknya tiap hari?

Ssstt ... ini rahasianya, ya. Bikin draft kalau lagi banyak waktu hehehe. Ketika waktu kita lagi sedikit, draft yang ada tinggal di publish. Atau bisa juga bikin poin-poin utamanya dulu, nanti tinggal dikembangin.

Konsisten memang bukan berarti harus ngeblog tiap hari, kok. 1 atau 2 minggu sekali juga gak masalah, asalkan konsisten. Jangan kali ini setiap hari menulis, berikutnya berbulan-bulan gak menulis.


Udah ... yang penting menulis tapi perhatikan konten


Suka galau gak kalau lihat tampilan blog orang lain cakep. Pengen blog kita secakep itu tapi gimana caranya? Atau pernah galau gak nentuin apakah blog harus ber-niche atau lifestyle (alias campur-campur). Galau sih boleh-boleh aja, tapi jangan kepanjangan. Apalagi sampe gak nulis-nulis. Padahal yang namanya ngeblog itu utamanya adalah menulis.

Dari awal blog ini memang ber-niche. Tapi dulu Chi mana ngerti berbagai istilah blog, termasuk niche. Ber-niche karena memang niatan awal adalah ingin menulis tentang Keke dan Nai. Jadi kebanyakan cerita tentang parenting. Buat yang masih bingung, mending nulis aja dulu yang konsisten. Nanti juga bakal ketemu arahnya kemana, apa tetap lifestyle atau berniche.

Lagipula daripada terlalu memusingkan hal itu mending diasah terus tulisannya. Paling gak paham lah do's and dont's menulis blog. Copas jelas dilarang keras. Apalagi kalau trus seolah-olah mengaku-aku kalau itu tulisan kita tanpa mencantumkan sumber.

Jadi diri sendiri juga bukan berarti cuek dengan sekitar. Maksudnya, jangan merasa 'inilah saya' trus nulis seenaknya. Menyakiti banyak orang, contohnya melanggar SARA. Tetaplah jadi diri sendiri tapi beretika. Ada beberapa tip lainnya, sih. Tapi bisa dipelajari sambil jalan, kok.


Passion yang Menghasilkan Rezeki itu Nikmat


Siapa, sih, yang gak pengen blognya bisa menghasilkan uang? Chi si pengen banget hehehe. Alhamdulillah, udah ada rezeki dari blog. Tapi, sebetulnya rezeki gak harus tentang uang aja. Rezeki banyak teman, mendapatkan barang, dan lainnya juga bisa dikatakan rezeki. Tapi, memang lebih nikmat lagi kalau rezeki didapat karena passion terhadap sesuatu yang kita lakukan.

Dulu Chi itu suka rada ngiri sama K'Aie karena kayaknya enak banget kerjanya. Yang namanya kerja sih pasti sama lah. Dimana-mana ada cape dan stressnya. Tapi, kerjaan K'Aie itu sama dengan passionnya. Dia mana mau kerja kantoran seperti di bank? Passionnya dia adalah di dunia adventure. Dan dia sekarang bekerja di bidang adventure. Ya, semacam hobi yang menghasilkan jadinya. Kalau begitu enak, kan?

Chi udah merasakannya sekarang. Blogging udah jadi passion. Memang nikmat ternyata hehe. Tapi sebelum tau apakah ini passion atau bukan, tentunya ada yang namanya proses. Dulu Chi mana tau kalau ngeblog bakal jadi passion. Pokoknya taunya menulis. Eh, lama-lama betah. Rasanya kalau gak ngeblog itu ada yang hilang *tsaaahhh! hahaha*

Terakhir, Chi gak percaya sama proses instant. Rasanya gak mungkin hari ini mulai ngeblog, besoknya langsung dikenal. Brand aja butuh sosialisasi kalau mau dikenal. Malah kalau kata Keke, "Mie intan aja harus dimasak dulu baru dimakan." Jadi, gak ada yang namanya proses instan. Coba deh tanya ke beberapa blogger yang sudah lama ngeblog, pasti banyak prosesnya kalau perlu jungkir balik. Tapi yang penting tetep semangat!

Nah, itu rahasia Chi kenapa rajin posting. Semuanya diawali dengan. Dan, niatlah yang terus mengingatkan Chi kalau semangat sedang menurun. Bagaimana dengan teman-teman? Apa yang bikin ngeblog jadi asik?

Sunday, November 15, 2015

Anak Berulah, Belajar Dari Siapa?

Anak Berulah, Belajar Dari Siapa?

Anak berulah, belajar dari siapa? "Anak saya kuat banget jajannya di sekolah, Teh. Setiap hari pasti minta jajan. Mana dia udah tau duit. Kalau minta jajan selalu bilang pengennya yang biru. Tau lah belajar dari siapa. Kami orang tuanya gak pernah ngajari begitu."

Seseorang yang Chi kenal bercerita tentang anaknya yang masih TK tapi seneng banget jajan kalau di sekolah. Sebetulnya kami ngobrol berbagai macam topik. Salah satunya tentang anak-anak.

Kalau dipikir-pikir lagi, atau coba dibalikin ke diri sendiri, pernah atau sering gak ketika anak berulah trus langsung ngebatin sendiri 'belajar dari siapa, sih? Perasaan gak pernah ngajari begitu?' Kalau Chi pernah, bahkan lebih dari sekali. Pertanyaan selanjutnya adalah apa trus cuma diam aja?

Pernah satu hari Keke bercerita kalau beberapa teman di sekolahnya, terutama yang perempuan, seneng nonton sinetron GGS *Udah pada tau dong GGS singkatan dari apa? Hehehe*. Keke bisa menceritakan lho seperti apa jalan cerita GGS. Bahkan dia tau siapa aja pemainnya.

Ketika mendengarkan Keke bercerita, dalam hati Chi rada membatin 'Duh, Keke kenal juga sama sinetron.' Rasanya rada kesel juga karena di rumah bisa dikatakan steril dari yang namanya sinetron. Lebih memilih beberapa channel di tv kabel atau televisinya dipake buat main game. Tapi kalau Chi cuma sekadar membatin atau nyimpen kesel sendirian kayaknya gak bagus juga. Dan, gak mungkin juga melarang Keke bermain dengan temannya hanya karena mereka suka nonton sinetron.

Yang pertama Chi lakukan adalah mendengarkan cerita Keke sampe tuntas. Sejauh mana dia tau tentang sinetron itu. "Keke gak ngerti, Bun. Ceritanya aneh banget tapi temen-teman ada yang suka. Apalagi girls, tuh. Kayaknya gimana kalau udah cerita tentang GGS."

Oh, syukurlah Chi mendengarkan sampai akhir. Ternyata Keke sudah bisa menilai dan Chi setuju dengan pendapatnya. Paling Chi tinggal menambahkan dengan menjelaskan kenapa selama ini melarang mereka untuk nonton sinetron. Ya, salah satunya seperti penilaian Keke itu.

Itulah, sering kali ketika anak berulah yang gak sesuai dengan yang orang tua pikirkan, kita hanya berkata "Belajar dari siapa, ya? Perasaan gak pernah ngajarin kayak gitu." Atau kita berpikir begini, "Oh, ini gara-gara terpengaruh si A. Makanya anak saya jadi begitu." Tapi abis itu kita gak melakukan apa-apa.

Padahal, semakin anak besar, pengaruh dari luar pun semakin besar. Kita mungkin punya sejumlah peraturan ini-itu untuk kebaikan anak. Tapi masalahnya anak kan gak selalu 24 jam bersama orang tuanya. Memang kita wajib juga mengajarkan anak mana yang baik dan tidak. Tapi, gak menutup kemungkinan juga kalau suatu saat anak tau hal lain di luar yang kita pelajari. Atau bahkan yang kita larang.

Untuk beberapa kasus tertentu, mungkin kita bisa tegas berkata kepada anak untuk tidak bermain dengan orang tertentu. Terutama kalau temannya sudah mempengaruhinya dengan sangat buruk. Tapi gak bisa juga kan sedikit-sedikit kita melarang anak untuk jangan bermain dengan si A. Besoknya melarang main dengan si B, si C, dan lain-lain. Bisa-bisa anak kita gak berteman nantinya.

Hanya menyalahkan tapi tanpa melakukan aksi menurut Chi itu sama aja dengan kebiasaan ketika melihat anak jatuh trus yang disalahin kursi, lantai, bahkan si kodok. Padahal apa salah benda-benda itu? Jatuh memang sakit, tapi kalau cuma sekadar menyalahkan apa trus selesai begitu saja? Ya, mungkin anak juga harus dikasih tau supaya lain kali berhati-hati. Tentunya setelah sakitnya reda dulu.

Begitu juga ketika anak berulah karena terpengaruh orang lain. Misalnya kayak curhatan di atas, dimana anaknya selalu jajan setiap hari. Apa cukup hanya dengan mengeluh, "Gak tau lah belajar dari siapa. Kami gak pernah ngajarin kayak gitu." Ya mungkin saja anak jadi gemar jajan karena pengaru temannya. Tapi, kalau orang tuanya juga terus mengabulkan permintaan si anak untuk jajan, masalahnya gak akan berhenti. Mengeluh juga gak akan jaid solusi.

Jadi, ketika kita mulai melihat ada gelagat anak berulah yang kurang diharapkan, mulai cari penyebabnya lalu temukan solusinya, yuk! :)

Thursday, November 12, 2015

Happy di Hari Ayah Nasional

Happy di Hari Ayah Nasional


Happy di hari Ayah Nasional. Etapi kayaknya setiap hari berusaha dibikin happy aja, deh *apaan, Bunda setiap hari main hayday cerewet melulu! Mungkin anak-anak akan jawab begitu wkwkwk*

Teman-teman, tahukah kalau hari ini adalah Hari Ayah Nasional? Hari Ayah memang gaungnya belum seperti Hari Ibu. Padahal Ayah juga punya peran penting dalam pola asuh anak. Tapi, kali ini Chi skip dulu ah ngobrolin serius tentang parenting. Obrolin yang ringan aja tentang sosok ayah :)

Tanggal hari Ayah di berbagai negara berbeda-beda. Tapi yang terbanyak adalah minggu ke-3 di bulan Juni. Amerika dan lebih dari 75 negara lainnya termasuk negara tetangga, Malaysia, hari Ayah jatuh di minggu ke-3 Juni. Di Indonesia, hari Ayah jatuh pada tanggal 12 November

Konon, sejarah terbentuknya hari Ayah Nasional pemrakarsanya justru bukan para ayah tapi para ibu yang tergabung dalam Perkumpulan Putra-Putri Ibu Pertiwi. Deklarasi yang dilakukan pada tanggal 12 November 2006 ini dilakukan di Pendapi Gede Balaikota Solo, Jawa Tengah. Ayah dianggap sebagai sosok penting dalam keluarga yang juga ikut membentuk karakter pada anak. Itulah alasan dibalik adanya deklarasi Hari Ayah.



Bunda: "Hari ini, kalian harus nyenengin Bunda, ya. Gak boleh bikin pusing."
Nai, Keke: "Emang kenapa?"
Bunda: "Gak tau, ya, kalau hari ini hari Ayah?"
Keke: "Hari Bunda aja gak inget, apalagi hari Ayah hehehe."
Nai: "Iya. Lagian ini hari Ayah, kok malah Bunda yang harus dibikin seneng?"
Bunda: "Karena kalau Bunda bahagia, Bunda jadi punya energi buat ngebahagiain ayah wkwkwk. Inget, ya, harus ngebahagiain Bunda hari ini."
Keke, Nai: "Gak mauuu hahahha!"

Duh! Ini anak-anak gak sepakat sama quote Rio 2 "Happy Wife, Happy Family" kayaknya hehehe.


Awalnya, Chi lagi asik duduk berduaan ma K'Aie, anak-anak main di sungai. Ngelihat ayah sama bundanya berdua, mereka tuh suka usil misahin, apalagi Nai. Dia selalu aja nyempil di tengah kalau orang tuanya lagi berduaan wkwkw


Seringkali para ibu, termasuk Chi, menginginkan me time. Me time kadang diidentikan dengan menyepi sejenak dari segala rutinitas keluarga. Termasuk berada gak didekat keluarga untuk waktu sejenak. Misalnya, belanja sendirian atau paling gak sekadar memanjakan diri di kamar mandi tanpa ada gangguan dari anak-anak hehehe.

Tapi, ada juga momen kebersamaan dengan keluarga yang buat Chi juga termasuk me time. Moment dimana anak-anak asik ngobrol asik dengan ayahnya. Seringkali kalau mereka lagi asik ngobrol dengan ayahnya, Chi hanya mengamati saja.



Kadang mereka asik ngobrol bertiga. Tapi ada kalanya, K'Aie ngobrol asik hanya dengan salah satu dari mereka. Kalau lagi ngobrol berdua, topiknya bisa berbeda-beda. Tapi kalau lagi ngobrol sama Keke kadang Chi suka ada gak ngertinya. Apalagi kalau udah ngobrolin perangkat komputer. Hadeuuuhh ... itu segala macam spec dan software diobrolin. Jadi kalau Chi terdiam, itu antara menikmati mereka ngobrol berdua dan gak ngerti sama topik obrolannya hahaha. Kalau sama Nai, ayahnya kompak untuk urusan ngemil.

Gak mungkin banget Chi ajarin ini ke Keke dan Nai
Kalau lagi aktivitas begini, boleh ngelewatin kepala ayahnya :p


K'Aie juga yang selalu ngajarin Keke dan Nai jumpalitan. Tuh, kayak di foto di atas. Kalau Chi mana bisa. Ya kalau cuma sekadar lari-larian aja bisa, lah. Tapi kalau jumpalitan kayak begitu mereka mencontoh ayahnya. Bagus, lah, jadinya aktivitas fisik juga masih Keke dan Nai jalanin.

Di mata Keke dan Nai juga ayah itu sosok yang paling mudah diluluhkan kalau mereka menginginkan sesuatu. Tapi, Bunda adalah bossnya. Seringkali permintaan jadi mentok setelah sudah sampai bunda. Mereka sendiri yang bilang begitu wkwkwk.

Selamat hari Ayah Nasional! Hmmm ... ini beneran gak bisa minta "Happy Wife, Happy Kids", ya? Ntar tanyain lagi ke anak-anak, ah hihihi. Untuk K'Aie disediain aja menu camilan Singkong Thailand. Sukanya singkong, sih :D

Wednesday, November 11, 2015

Sedia CNI Ester-C Sebelum Hujan

Sedia CNI Ester-C Sebelum Hujan


Sedia CNI Ester-C sebelum hujan, yuk! Sekarang kan udah mulai masuk musim hujan. Selalu sedia payung aja gak cukup, lho. Butuh juga asupan yang baik bagi tubuh. Sebetulnya gak hanya saat musim hujan aja, Chi merasa butuh Ester-C.


3 alasan kenapa Ester-C dibutuhkan


Membantu menjaga stamina tetap fit terutama saat musim hujan

Di antara 2 musim, kemarau dan hujan, Chi paling suka musim hujan. Rasanya pengen mandi hujan terus *eh :p* Walopun seringkali Chi harus khawatir apabila hujan turun di malam hari saat K'Aie belum pulang. Ketika curah hujan sedang tinggi, bisa hampir tiap hari dia kehujanan. Kalau gak dijaga staminanya mungkin akan mudah sakit. Biasanya, nih, 3 penyakit yang suka mengintai saat musim hujan adalah influenza, diare, dan demam berdarah.


Mengencangkan kulit

Apakah perempuan harus bermake-up? Mungkin jawabannya bisa beragam. Tapi apakah perempuan harus menjaga kesehatan kulit? Chi yakin mayoritas akan menjawab iya. Kita boleh aja gak suka atau gak biasa bermake-up tapi bukan berarti harus cuek dengan muka yang kusam dan kasar. Apalagi menjelang usia 35 tahun ke atas biasanya problemnya makin bertambah, deh. Mulai timbul flek hitam hingga keriput halus.


Mencegah alergi

Ini mungkin kasuistis, ya. Gak semua mengalami ini. Tapi, Chi punya alergi terhadap debu. Kalau udah terkena pemicunya, efeknya ke kulit tangan dan kaki. Timbul bintik merah yang berair. Kalau alergi sudah muncul jadi serba salah. Gak digaruk, rasanya gak tahan karena sangat gatal. Kalau digaruk, bintiknya akan pecah lalu airnya akan menimbulkan bintik baru. Stress lah pokoknya kalau udah alergi timbul. Karena penyembuhannya bisa lama banget.

Dari kecil udah kenyang sama yang namanya dokter kulit. Bolak-balik dokter kulit hingga udah gak terhitung lagi. Obat minum, obat oles, hingga obat rendam dari berbagai merk sudah pernah dicoba. Pernah salah satu kejadian terparah adalah masuk kuliah. Tangan dan kaki, habis terkena alergi. *Untungnya K'Aie dulu tetep naksir, ya wkwkwk*

Dari kejadian terparah itu, Chi dikasih suplemen vitamin E dan C. Ternyata manjur, alhamdulillah. Asupan vitamin yang rutin bisa menjaga tubuh tetap fit. Selain itu ketika alergi lagi menyerang, Chi merasakan vitamin mampu membantu mempercepat penyembuhan.


Kenapa memilih Ester C-Plus?


Vitamin C adalah nutrisi utama untuk meningkatkan sistem imun. Selain dari buah-buahan, zat gizi ini bisa ditambahkan melalui suplemen vitamin C. Namun, cerdaslah dalam memilih suplemen. Pilihlah yang paling baik dalam penyerapan atau konsekuensinya untuk lambung Anda -sumber: CNI Ester-C-

Teman-teman gak perlu khawatir dengan lambung. PT Centranusa Insancemerlang atau CNI (Cretive Network International) sebagai distributor CNI Ester-C mengklaim bahwa produk ini aman bagi lambung bahkan untuk menderita maaag sekalipun. Kualitas dan keasliannya pun terjamin. Lagian lebih aman juga daripada harus suntik vitamin C *Duh, bayangin kata suntik aja, Chi udah serem duluan*

Untuk menjaga stamina tubuh agar tetap fit dan juga kulit tetap kencang bisa dilakukan dengan berbagai car. Misalnya memperbanyak konsumsi sayur dan buah, hindari polusi, hindari minuman beralkohor serta rokok, olahraga teratur, Meminum air putih minam 8 gelas sehari, istirahat yang cukup, memilih kosmetik yang aman, dan hindari stress. Tapi, ada kalanya semua itu sudah dilakukan, kita tetap butuh tambahan suplemen. Apalagi bulan Desember gini biasanya banyak liburan. Atau kerjaan semakin meningkat karena akhir tahun. Ditambah musim hujan pula.

Sedia CNI Ester-C sebelum hujan. Kenapa harus sebelum hujan? Teman-teman tau kan kalimat ' lebih baik mencegah daripada mengobati'? Itulah kena sebaiknya, kita pun mulai mengkonsumsi Ester-C secara rutin. Jangan tunggu stamina drop dulu baru baru konsumsi CNI Ester-C.

Teman-teman apabila ingin mendapatkan CNI Ester-C bisa datangi gerai CNI terdekat atau beli online di www.geraicni.com. Jangan lupa baca aturan konsumsinya, ya :)

Monday, November 9, 2015

Pilah-Pilih Sekolah

Pilah-Pilih Sekolah

Dalam beberapa bulan ke depan, saat tahun ajaran baru berganti, Keke akan mulai menyandang status baru menjadi anak SMP. Chi pun semakin gencar pilah-pilih sekolah untuk Keke. Dari dulu, Chi selalu punya kebiasaan mencari sekolah untuk anak-anak, terutama Keke, sejak paling tidak 2 tahun sebelumnya. Kenapa terutama Keke, karena Nai biasanya tinggal ngikut aja pilihan sekolah yang udah duluan dimasukkin kakaknya. Lagipula Nai selalu setuju, Dia seneng kalau bisa sekolah bareng kakaknya.

Malah dulu waktu Keke mulai SD dan Nai masih di TK, sempat untuk beberapa saat Nai sedih karena kakaknya udah gak ada di sekolah. Selama 2 tahun mereka sempat pisah karena bersekolah di 2 tempat berbeda. Nah, menjelang Keke masuk SMP ini, Nai udah dibilangin kalau kemungkinan akan pisah sekolah. Memang masih ada kemungkinan Keke akan sekolah di tempat yang sama dengan SDnya sekarang. Tapi, ada beberapa alternatif sekolah pilihan lain yang kami tuju.

Sejak kelas 5, Chi sudah mulai memikirkan sekolah lanjutan untuk Keke. Di awal lebih banyak diisi dengan pedebatan antara Chi dan K’Aie. Negeri vs Swasta yang menjadi perdebatan kami berdua. Chi pilih swasta dengan alasan jumlah murid per kelas lebih sedikit dan lokasi dekat dengan rumah. Malah masih di lokasi yang sama, jadi Chi gak terlalu ribet kalau harus antar jemput anak. Keke bahkan udah terbiasa naik sepeda ke sekolah kalau lokasinya dekat. Kekurangannya memang di biaya karena udah pasti mahal. Tapi, pengalaman selama ini, sih, walopun mahal tidak ada biaya ini-itu lagi selama tahun ajaran berlangsung. Cukup sekali bayar aja setiap menjelang tahun ajaran baru.

K’Aie memilih sekolah negeri dengan pertimbangan kalau udah tingkat SMP dan SMA, syukur-syukur sampe kuliah, sebaiknya negeri. Dari biaya juga sepertinya tidak semahal kalau memilih swasta. Memang masih sepertinya karena kami belum survey langsung sekolah negeri yang dipilih. Apalagi Keke pengennya kalau pilihan jatuh ke SMP negeri, maunya yang kelas international. Denger-denger kalau model sekolah international negeri kan kayak swasta baik dari rasio jumlah murid, biaya, dan lain-lain.

K’Aie setuju aja kalaupun Keke memilih sekolah international yang penting negeri. Sedangkan Chi, masih tetap ngotot di swasta. Lokasi juga menjadi perdebatan pendapat. Kalau di negeri, Keke harus naik angkot, sedangkan swasta kan enggak karena dekat rumah. Buat K’Aie, gak apa-apalah anak naik angkot. Asalkan diajari dan yakin Keke bisa. Tapi, buat Chi rasanya masih berat kalau ngizinin anak naik angkot sendiri. Padahal dulu Chi juga ke sekolah turun-naik angkot. Giliran udah jadi ibu malah parnoan sama anaknya hehehe.

Setelah beberapa kali berbeda pendapat. Berkali-kali dipikirkan plus-minusnya, Chi pun setuju akhirnya setuju untuk sekolah negeri. Walopun masih deg-degan banget, nih. Beberapa teman Keke udah ada yang terdaftar menjadi di SMP swasta. *Yup! Untuk sekolah swasta, pendaftaran siswa baru untuk berbagai jenjang udah mulai dibuka.* Karena sekarang prioritas Keke adalah ke negeri, masih deg-degan banget, nih. Negeri kan baru buka pendaftaran nanti setelah pengumuman kelulusan. Berarti masih beberapa bulan lagi. Kayaknya untuk saat ini, survey ke berbagai sekolah negeri piluhan dulu aja, deh.

Pada akhirnya nanti keputusan memang masih bisa berubah. Bisa berbeda dari rencana. Seperti dulu, Chi udah niat banget untuk home schooling bagi Keke dan Nai setelah lulus TK. Surveynya sampe 2 tahunan. K’Aie pun setuju untuk home schooling. Tapi, dalam perjalanannya, dengan beberapa alasan kami akhirnya memilih sekolah konvensional. Sekolah yang dijalani Keke dan Nai sekarang. Alhamdulillah, gak salah pilih juga karena sekolahnya masih termasuk child friendly.

Kriteria sekolah pilihan memang gak cukup hanya dengan mempertimbangkan biaya dan lokasi saja. Sekolah ternama dan favorit sekalipun belum tentu pasti cocok dengan anak. Walopun Chi juga gak memungkiri ketika memilih sekolah, yang pertama dilirik adalah sekolah favorit dulu. Karena pasti ada beberapa alasan kenapa banyak orang memfavotitkan sekolah tersebut. Tapi, sekali lagi bukan berarti cocok, lho.

Pengalaman adik Chi yang paling kecil pernah sampai 2 kali pindah sekolah. Waktu TK, dia sekolah di sekolah ternama yang banyak difavoritkan orang. Nyatanya, gak lama dia mogok sekolah. Lokasinya sekolahnya lumayan jauh dari rumah. Chi yang setiap hari antar-jemput dia. Bahkan nungguin di sekolah. Makanya, Chi waktu kuliah dulu ambil kelas sote karena pagi-pagi bertugas antar-nunggu-jemput adik di sekolah hihihi.

Tapi, yang paling bikin dia mogok adalah setoap hari sekolahnya kasih PR. Buat adik Chi, PR setiap hari bikin dia gak suka. Akhirnya mogok sekolah dan berujung dengan pindah. Sekolah barunya hanya sekolah biasa yang lokasinya dekat rumah. Tapi, sekolahnya masih seperti TK zaman dulu yang lebih banyak bermainnya. Adik Chi betah di sana.

Ketika SD, dia kembali masuk sekolah ternama. Awalnya betah, sampai kemudian dia mogok sekolah karena dihukum gurunya dengan dipukul telapak tangannya. Mogok sekolah setiap hari Sabtu. Awalnya, orang tua berpikir karena Sabtu mereka libur kerja, jadi adik Chi ikutan gak mau sekolah. Tapi karena terus-terusan gak mau sekolah setiap hari Sabtu, baru deh ketahuan masalah sebenarnya setelah ditanya. Guru yang bersangkutan hingga kepala sekolah sudah datang ke rumah untuk meminta maaf, tapi adik Chi tetap bersikeras untuk gak mau sekolah. Ya, sudah daripada terus-menerus mogok, solusi satu-satunya adalah pindah sekolah. SD yang baru hanyalah SD biasa, jam sekolahnya juga gak panjang. Tapi adik Chi betah di sana hingga lulus.

Masuk jenjang SMP dan SMA kelihatannya gak ada masalah. Gak ada lagi ceriita pindah sekolah bahkan adik Chi berprestasi di kedua jenjang itu. Begitu juga ketika kuliah, semuanya lancar. Sekarang dia udah lulus, tinggal nunggu wisuda. Alhamdulillah, ada lowongan karir yang terlihat menarik di depan mata baginya. Salah satu perusahaan ternama mulai meliriknya.

Pelajaran yang Chi dapat dari sana adalah memilih sekolah yang baik itu personal banget. Biar kata banyak orang bilang sekolah A, B, C itu adalah yang terbaik dan favorit, belum tentu cocok untuk anak. Dan, jangan pula sebagai orang tua memaksakan kehendak apalagi demi alasan gengsi. Supaya orang melihat kita punya anak yang hebat karena masuk sekolah favorit.

Pertimbangkan dari sisi anak, apakah kira-kira dia akan suka atau malah jadi stress? Memang sih kita gak akan pernah tau kalau belum pernah coba. Tapi ketika survey kan bisa tanya-tanya berbagai hal. Dari hasil tanya-tanya itu bisa dipertimbangkan kira-kira anak akan suka, gak? Chi malah dari dulu selalu melibatkan anak. Ajak anak untuk melihat calon sekolah barunya. Karena pendapat anak itu penting. Apalagi yang akan menjalani itu anak, bukan orang tua.

Teman-teman lagi pusing juga memilih sekolah? Sama, dong hehehe. Selamat memilih, ya. Semoga dapat sekolah yang tepat :)

Wednesday, November 4, 2015

Anak Bersikap Kritis. Positif atau Negatif?

Anak Bersikap Kritis. Positif atau Negatif?


Anak bersikap kritis. Positif atau negatif? Beberapa kali ketika Chi bercerita tentang Keke atau Nai di blog ini atau di social media, suka ada aja yang berpendapat kalau mereka adalah anak-anak yang kritis. Sebetulnya, gak cuma Keke dan Nai yang sering dibilang anak kritis. Seringkali Chi perhatiin setiap ada anak yang berani berpendapat selalu ada aja yang komen kalau anak tersebut kritis.

Reaksi pertama Chi ketika ada yang menganggap Keke dan Nai adalah anak kritis adalah senang. Chi anggap itu komentar yang positif. Tapi, lama-lama penasaran juga sebetulnya seperti apa sih yang dimaksud anak yang kritis? Apa jangan-jangan semua anak yang berani bicara dianggap kritis?

Chi coba mencari tau berbagai hal tentang anak kritis melalui berbagai artikel di internet. Dari sekian banyak ciri anak yang dianggap kritis di berbagai artikel, Chi menangkap benang merahnya adalah di komunikasi. Anak yang kritis adalah anak yang pintar dan berani berkomunikasi.


Sumber informasi (nyaris) tanpa batas


Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa anak-anak sekarang seringkali dibilang generasi yang kritis dibanding anak-anak pada zaman Chi kecil? Chi gak percaya kalau hanya sekadar mendapatkan jawaban memang sudah beda zamannya. Chi rasa ada pemicunya, gak mungkin hanya karena beda zaman trus otomatis anak jadi kritis.

Kalau dulu orang tua udah kasih nasehat atau menegur, paling Chi cuma diam dan menunduk. Abis gak tau juga harus bagaimana. Mau berargumen juga serba salah. Berbeda banget dengan Keke dan Nai sekarang, seringkali kalau Chi ajak berdiskusi, nasehati atau menegur, mereka akan bertanya "Kenapa?" Satu pertanyaan kenapa akan dilanjutkan dengan rentetan kenapa lainnya. Kalaupun gak bertanya kenapa, mereka akan membela pendapatnya. Memang kadang belum tentu saat itu juga. Ketika Chi sedang marah, mereka juga seringkali diam tanpa sedikitpun membantah. Tapi, kemudian setelah suasana mereda mereka mulai memberikan pembelaan.

Chi rasa salah satu penyebab anak zaman sekarang menjadi lebih kritis adalah karena lebih banyak pilihan sumber informasi. Dulu, sumber informasi terbesar adalah dari orang tua dan guru. Iya, teman memang bisa memberikan informasi tapi gak banyak. Hiburan seperti channel televisi pun cuma ada 1, yaitu TVRI yang isinya adem banget, ya. Kalau sekarang kayaknya udah lebih dari generasi MTV, deh. Karena hiburan seperti musik, film, hingga game sudah ada dimana-mana. Dengan mudah didapat. :D

Beda banget sama zaman sekarang, informasi bisa dari manapun bahkan nyaris tanpa batas. Informasi yang semakin banyak bisa berakibat semakin banyak pula yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak. Ketika Chi mengajak anak-anak berdiskusi, mereka akan bisa membanding-bandingkan berdasarkan apa yang mereka tau. Begitu juga ketika Chi menegur mereka. Biasanya mereka akan memberikan pembelaan. Seringkali Chi mengingatkan diri sendiri untuk selalu update dengan sesuatu yang kekinian. Tujuannya untuk bisa memahami cara berpikir mereka.


Komunikasi terbuka



Sebisa mungkin, Chi memang memberikan anak-anak kebebasan berkomunikasi. Karena Chi dan K'Aie gak mau kalau mereka melakukan sesuatu secara diam-diam. Iya, kalau yang mereka lakukan itu untuk hal yang benar. Tapi, kenapa juga harus diam-diam kalau melakukan sesuatu yang benar?

Yang terjadi, beberapa kali mereka melakukan secara sembunyi-sembunyi dan begitu ketahuan alasannya karena takut bunda marah. Duh! Kesel juga sih sebetulnya kalau Chi sampe tau belakangan. Tapi, alasan mereka memang rada menusuk juga. Takut bunda marah, apa itu artinya Chi segitu galaknya? Kalau udah gitu langsung mengajak mereka berdiskusi. Mencoba untuk introspeksi juga. Sepertinya yang namanya berkomunikasi memang seperti harus belajar sepanjang hidup, nih.

Kayaknya bentuk komunikasi yang lebih terbuka ini juga bikin anak menjadi lebih kritis. Ini, sih, berdasarkan pengalaman pribadi dan juga pengamatan Chi terhadap sekitar. Kalau Chi perhatiin, orang tua zaman sekarang seringkali menempatkan diri seperti seorang teman kepada anaknya. Dan, biasanya anak akan lebih terbuka kalau caranya seperti itu.


Anak kritis itu positif atau negatif, nih?


Dari beberapa artikel yang Chi baca, anak yang kritis itu mengarah ke hal positif. Mereka lebih berani dan percaya diri saat mengeluarkan pendapat. Tapi, ada beberapa anak yang memang terlalu berani hingga terkesan tidak sopan. Misalnya, mentang-mentang orang tuanya bersikap seperti teman, anak lalu bersikap semaunya. Padahal anak tetap harus tau kalau yang mereka hadapi adalah orang tua. Nah, kalau yang seperti ini jangan dibungkam suara kritisnya tapi diarahkan. Bagaimana agar anak tetap kritis tanpa terkesan kurang sopan.

Bagaimana? Teman-teman senang dong punya anak yang bersikap kritis? Atau malah jadi ribet menghadapi ocehan mereka? :D

Monday, November 2, 2015

Hati-hati Mengkonsumsi Rumput Fatimah

Hati-hati Mengkonsumsi Rumput Fatimah

Hati-hati Mengkonsumsi Rumput Fatimah. Banyak yang menganggap kalau meminum air rendaman rumput fatimah akan memperlancar persalinan. Ternyata ...

Suster: "Ibu pernah mengkonsumsi rumput fatimah?"
Saya: "Enggak. Memangnya kenapa, Sus?"
Suster: "Sebaiknya jangan, Bu. Biasanya yang minum rumput fatimah, suka over mulesnya. Pembukaan baru 1, tapi mulesnya udah kayak bukaan 10. Malah bisa lebih besar lagi resikonya. Bisa ke nyawa, Bu. Bahaya."

Obrolan di atas adalah tanya-jawab saat Chi sedang diperiksa kandungan waktu hamil anak pertama. Saat itu sudah bukaan satu, dokter kandungan meminta Chi ke ruangan persalinan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Chi langsung keringet dingin mendengar jawaban suster tersebut sampe gak berani bertanya lebih lanjut.

Chi memang berbohong ketika mengatakan gak pernah meminum rumput fatimah. Feeling aja, sih. Chi merasa mengkonsumsi rumput fatimah memang sesuatu yang salah. Kayaknya bakal ditegur suster kalau ngaku minum hahaha.

[Silakan baca: Tips Mempersiapkan Persalinan]

Selama ini, Chi gak pernah mengkonsumsi apapun selain yang dianjurkan dokter kandungan. Tetapi, sehari sebelum ke rumah sakit, Chi mengkonsumsi rumput fatima. Gak banyak, sih, cuma beberapa teguk aja. Gak sampe segelas.

Alasan Chi meminum rumput fatimah sebetulnya hanya karena gak enak hati menolak tawaran mamah. Selama hamil, Chi mersa udah terlalu sering menolak. Ya, mamah kan kadang-kadang masih suka percaya mitos tentang kehamilan. Sementara Chi bertolak belakang.

Mamah makin sering bertanya kapan melahirkan. Mungkin karena pengen cepat-cepat menimang cucu pertama. Ketika waktu perkiraan melahirkan dari dokter kandungan udah lewat, mamah semakin cemas aja,. Padahal Chi santai aja. Selama dokter bilang kandungan Chi sehat. Lagipula dokter juga udah kasih batas waktu kalau sampai beberapa hari dari HPL gak juga melahirkan, maka akan segera diambil tindakan.

Mamah pun memberi minuman air rendaman rumput fatima. Ini juga karena saran dari salah seorang teman mamah. Rumput fatimanya juga dari teman tersebut. Chi sebetulnya males-malesan minumnya. Tapi, karena gak enak keseringan menolak saran mamah, akhirnya diminum. Tapi, cuma sedikit *sisanya dibuang secara diam-diam 😁*

Menjelang subuh, Chi merasa ada yang aneh di badan. Kayak mules gitu. Pas, ke WC gak taunya udah ada sedikit bercak. Itupun Chi dan K'Aie masih santai banget. Kebetulan di pagi itu memang udah ada jadwal konsultasi ke dokter. Pamit sama orang tua mau konsultasi, bukan melahirkan.

Setelah melahirkan, Chi baru mulai cari tau tentang rumput fatimah. Ternyata bener, mengkonsumsi air rendaman ini berbahaya bagi ibu dan bayi dalam kandungan. Bahkan taruhannya bisa nyawa.


Rumput fatimah memang bisa merangsang kontraksi. Tapi, kontraksi yang berlebihan bisa mengakibatkan bayi dalam kandungan tidak kuat dan meninggal. Bahkan rahim ibu pun bisa robek. Akibatnya ibu dan bayi bisa meninggal. Untuk dosis kecil memang katanya aman dan bisa memperlancar persalinan. Masalahnya kita kan gak bisa mengukur seberapa besar dosis yang tepat. Hanya ahli medislah yang tau dosis yang tepat.

Jadi, memang sebaiknya jangan meminum air rendaman rumput fatima ini, ya. Setelah mengetahui bahayanya, langsung bersyukur gak terjadi apa-apa dengan Chi dan Keke meskipun udah terlanjur diminum. Kami berdua selamat dan sehat. Alhamdulillah.

[Silakan baca: Hamil dan Melahirkan]

Untuk teman-teman yang saat ini sedang mengandung, sebaiknya sangat berhati-hati ketika mengkonsumsi sesuatu, ya. Banyak tanya dulu deh sama dokter kandungan atau bidan. Apalagi sekarang zaman internet, coba cari-cari infonya dulu. Kemudian diskusiin lagi ke ahli medis yang tepat. Jangan sampai menyesal kemudian. Jangan pula ikutin kelakuan Chi yang berbohong kepada suster. Untung aja, kami gak kenapa-napa. Please, jangan diikuti, ya.