Selasa, 31 Januari 2017

Percaya Diri Membuat Konten Kreatif

Percaya Diri Membuat Konten Kreatif

Percaya Diri Membuat Konten Kreatif - Chi kerap berpikir seperti apa sih yang dimaksud konten kreatif? Cukupkah hanya dengan membuat tulisan yang menarik? Perlu infografis? Perlu foto? Perlu video juga? Sudah kreatif kah berbagai konten yang Chi buat?

Pertanyaan berikutnya adalah seberapa penting memiliki perangkat yang didukung dengan  Intel Core i3/Intel Core i5/Intel Core i7 Processor dalam hal proses membuat konten kreatif? Apabila diibaratkan sebagai otak, maka semakin canggih processor yang dimiliki perforrmanya pun bisa diandalkan. Pekerja di bidang grafis dan IT biasanya menggunakan Intel Core i5 atau i7 karena mampu bekerja secara multitasking dengan kecepatan yang sangat baik. Bagaimana dengan blogger? Apakah sudah perlu menggunakan processor secanggih ini? Chi akan bahas di sini, ya.

Kreatif Itu ...


kreatif/kre·a·tif/ /krΓ©atif/ a 1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yang -- menghendaki kecerdasan dan imajinasi;

Begitu arti kreatif menurut KBBI. Hmmm ... berarti harus memiliki daya cipta. Dan konten kreatif seharusnya menarik perhatian para pembacanya. Sebuah tulisan tidak mutlak harus ada infografis, foto, atau video. Pilih saja salah satu yang sekiranya bisa memperkaya konten yang dibuat dna terlihat semakin kreatif.


Pernah Merasa Minder Ketika Menulis


Teman-teman pernah merasa minder ketika akan menulis sebuah konten? Chi pernah, minder banget malah.

Ada pengalaman berharga ketika Chi mengikuti salah satu lomba blog yang diselenggarakan oleh importir teh ternama. Dari mulai Chi datang ke konferensi pers hingga ke beberapa resto/cafe yang ditentukan, perasaan Chi minder luar biasa.

Gimana gak minder kalau melihat kamera para food blogger yang rata-rata mirrorless atau dslr. Sedangkan Chi masih pake kamera kecil mungil yang biasa disebut digital camera. Berasa liliput banget hehehe. Dalam hati sempat terbersit gak berharap menang karena dari perangkat aja udah merasa kalah.

Kemudian Chi berpikir kalau minder itu wajar tapi orang lain gak boleh tau! Maka dengan (sok) pede, Chi pun berusaha terlihat tetap meyakinkan. Udah gak mau lagi berpikir menang atau kalah. Yang penting berusaha memberikan hasil terbaik yang Chi mampu. Intinya sih jangan sampai pihak penyelenggara sampai kecewa dengan tulisan yang dibuat. Mereka sudah mengundang dengan baik, tentu Chi pun harus memberikan tulisan terbaik. Perkara menang atau kalah gimana nanti, deh.


Percaya Diri Membuat Konten Kreatif
Percaya Diri Membuat Konten Kreatif
 Dipertemukan dengan 2 food blogger yang jago banget, yaitu ci Ratna (Surabaya) dan mas Putra Agung (Bandung). Kami bertiga diundang exclusive dinner bersama chef Peter Kuruvita. Pengalaman yang gak terlupakan hingga sekarang.
Foto milik: @r47natjan


Alhamdulillah, tulisan yang Chi buat berhasil menjadi juara 1 lomba blog. Tidak hanya itu, beberapa bulan setelahnya, 3 orang juara pertama dari 3 kota berbeda mendapat undangan makan malam exclusive bersama chef Peter Kuruvita. Pengalaman yang bener-bener gak bisa dilupakan.

Percaya diri, kunci utama membuat konten kreatif

Dari pengalaman itu, Chi menjadi yakin percaya diri adalah kuci utama membuat konten kreatif. Kalau dikuasai sama minder malah jadinya mati gaya. Tiba-tiba gak punya ide. Kalaupun ada ide, ragu-ragu untuk dikeluarkan karena khawatir begini begitu. Udah mengkeret duluan. Jadinya malah gak nulis sama sekali.

Percaya Diri Membuat Konten Kreatif
Salah satu foto untuk artikel di lomba teh tersebut. Foto menggunakan camera digital. Kira-kira udah bikin ngiler belum, nih? 😊


Beberapa Hal yang Mampu Mendongkrak Rasa Percaya Diri


Mengubah rasa minder menjadi percaya diri gak datang begitu saja. Chi butuh beberapa hal supaya rasa percaya diri itu kembali terangkat sehingga mampu menghasilkan konten kreatif


Menulis Hal-Hal yang Kita Kuasai atau Sukai

Ada atau gak ada lomba, hingga saat ini Chi belum tertarik menulis fiksi ataupun puisi. Alasannya karena gak menguasai. Semenggiurkan apapun imbalannya, tetap aja mengibarkan bendera putih kalau disuruh menulis fiksi atau puisi. Jadi mulailah menulis dari hal-hal yang disukai dan kuasai. Jangan ikut-ikutan. Menulis dari hal yang disukai dan dikuasai secara konsisten juga bisa menciptakan branding bagi blog kita.


Mencari Inspirasi dan Riset dari Berbagai Hal

Membaca bisa menjadi salah satu cara untuk mencari inspirasi. Dulu Chi suka sekali membaca. Sekarang pun masih suka. Hanya saja frekwensi membaca saat ini sudah tidak seperti dulu. Tapi bukan berarti berhenti membaca. Untungnya sekarang berbagai informasi bisa didapatkan tidak hanya dari buku. Melalui internet pun banyak informasi yang bisa diambil. Asalkan bisa menyaringnya. Sering blogwalking juga bisa dapat inspirasi, lho.

Kalau minat membaca buku agak menurun sedikit, tapi menonton justru lagi meningkat. Bisa betah berlama-lama di depan tv. Biasanya Chi nonton berbagai film di HBO atau Fox Movies Premium. Chi juga suka nonton serial kriminal di berbagai channel. Sekarang mulai ikutan Keke dan Nai menonton vlog. Setelah menonton, kadang suka ada inspirasi pengen menulis ini dan itu.


Berbagai Perangkat untuk Nge-Blog

Perangkat untuk nge-blog sebetulnya cuma pc atau laptop. Malah sekarang nge-blog lewat smartphone pun bisa. Asalkan punya salah satu dari ketiga perangkat tersebut dan ada kuota internet langsung bisa nge-blog, deh. Tapi bila ingin membuat konten kreatif sebaiknya ada perangkat tambahan.

Salah satu perangkat tambahan yang Chi pakai adalah kamera. Setuju kalau kamera smartphone saat ini udah banyak yang bagus. Tapi Chi tetap lebih suka motret menggunakan kamera. Dan karena Chi lagi berminat nge-vlog, maka mulai nyicil sedikit demi sedikit perangkat untuk vlog.


Latihan dan Terus Update Ilmu

Membandingkan tulisan sendiri di awal nge-blog hingga sekarang tentu saja ada perubahan. Dunia blog pun terus berkembang. Dulu Chi sekadar menulis kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun kemudian mulai mengenal lomba blog dan mendapatkan job. Permintaanya pun semakin beragam. Chi merasa harus terus latihan menulis sekaligus latihan memperkaya tulisan. Gak percaya dengan namanya proses instan. Ibarat pisau, semakin sering diasah maka semakin tajam. Jadi jangan berhenti untuk terus latihan.


Kuasai Perangkat yang Dimiliki

Siapa sih yang gak mau punya perangkat canggih? Chi pastinya gak bakal nolak. Balik lagi ke cerita pengalaman lomba blog teh itu, sempat ada rasa menyesal kenapa gak punya kamera mirrorless atau dslr. Rasanya pengen pergi saat itu juga ke toko kamera hehehe.

Tapi setelah dipikir lagi, kenyamanan Chi saat ini adalah di camera digital. Masih suka bepergian kemanapun bersama anak-anak, lebih praktis kalau bawa camdig. Apalagi kalau berpetualang lebih bisa leluasa motret sambil jagain anak-anak bila menggunakan camdig. Mungkin kalau mereka udah gedean dikit baru mulai pake mirrorless atau dslr, ya *Setahun terakhir ini udah mulai coba sesekali bawa dslr, sih*

Selain itu, camdig yang dipakai ini juga udah Chi kuasai. Jadi merasa bisa maksimal aja menggunakannya. Begitupun dengan perangkat lain, misalkan laptop atau pc. Sebaiknya kuasai perangkat yang kita miliki. Syukur-syukur kalau kemudian memiliki perangkat yang canggih.


Mengapa Ingin Memiliki ASUS Vivo All in One V220IC?


Notebook dan PC ASUS makin keren aja, ya! Pengennya sih punya keduanya. Tapi kalau disuruh memilih mana yang paling diinginkan, maunya ASUS Vivo All in One V220IC.

Komputer memang gak bisa mobile dibandingkan notebook. Tetapi karena kegiatan nge-blog Chi lebih banyak di rumah, lebih suka dan nyaman menggunakan PC. Sayangnya sudah sekitar 2 tahun ini, komputer di rumah rusak dan belum sempat dibenerin.


Cantik, Minimalis, dan Elegan

Percaya Diri Membuat Konten Kreatif

Namanya juga perempuan, gak apa-apa dong kalau melihat sesuatu dari tampilannya dulu? ASUS Vivo All in One V220IC ini terlihat cantik sekali. Tampilannya simpel, ramping, dan minimalis.  Tidak terlihat adanya desktop itu karena hampir seluruh perangkat kerasnya menyatu dengan layar sehingga gak banyak makan tempat.

Percaya Diri Membuat Konten Kreatif

Terinpirasi dari berbagai berbagai karya desainer ternama. Crevasse adalah salah satu desain terkenal dari Zara Hadid juga turut menginspirasi. Tidaklah mengherankan bila tampilan ASUS Vivo All in One V220IC terlihat elegan dan tidak kaku. *Di rumah ngeblog boleh dasteran, tapi perangkatnya tetap elegan*


Full HD Display

Kami sekeluarga suka menonton tv. Tapi beberapa tahun lalu, Chi pernah merasa K'Aie rada rese untuk urusan menonton. Buat Chi, menonton itu tinggal duduk manis di depan layar (tv/pc/laptop). Tapi bagi K'Aie tidak seperti itu. Spec untuk menonton tv bener-bener dia perhatiin. Kualitas tayangan yang dihasilkan seperti apa, benar-benar dipertimbangkan.

Namun Chi pun harus menarik anggapan tersebut. Memang terasa beda ya, sekadar menonton dengan menonton yang didukung perangkat berkualitas. Pantas aja K'Aie sangat pemilih sebelum menentukan alat elektronik.


Percaya Diri Membuat Konten Kreatif

Display ASUS Vivo All in One V220IC sudah memiliki kualitas Full HD dengan resolusi 1920 x 1080 pixel. Tayangan akan terlihat lebih jernih dan warna maupun objeknya lebih hidup. Ditambah lagi dengan layar berukuran 21,5 inchi serta engsel pada bagian penopang yang mampu dimiringkan ke atas dan ke bawah membuat sudut pandang semakin nyaman dan penonton semakin dimanjakan.

Saat ini, Chi sedang memiliki semangat yang tinggi untuk belajar vlog. Selain memaksimalkan peralatan yang sudah dimiliki, mulai nyicil peralatan lain (termasuk pengen punya ASUS Vivo All in One V220IC), menonton menjadi salah satu aktivitas untuk belajar vlog. Chi jadi semakin perhatiin detil setiap tayangan. Bagaimana tayangan tersebut bisa bercerita, perpindahan antar scene, dan lain sebagainya. Vlog juga pada akhirnya bisa membantu memperkaya setiap konten yang Chi buat.


SonicMaster Premium

Apalah artinya kualitas tayangan yang oke tapi kualitas suaranya mendem. Berasa kurang maksimal kepuasannya. Dengan teknologi SonicMaster Premium, ASUS Vivo All in One V220IC memiliki kualitas suara sebening kristal dan bertenaga. Mendengarkan musik, game, film, pidato, atau apapun bisa dioptimalkan dengan mudah karena penggunaannya yang user friendly.


10 Titik Sentuh pada Layar

Percaya Diri Membuat Konten Kreatif

Teman-teman pernah menonton serial CSI atau Hawaii Five O? Kalau iya, mungkin pernah lihat meja besar kurang lebih sebesar meja bilyar yang sebenarnya layar. Trus, para agen tinggal menyentuh kalau mau ngebesarin foto, kirim foto, atau mencari data apapun yang dibutuhkan. Keren banget, deh!

Nah, ASUS Vivo All in One V220IC juga sudah memiliki layar dengan kemampuan seperti itu. Kita bisa menggunakan sepuluh jari sekaligus untuk menyentuh layarnya dan mengontrol apapun aplikasi yang diinginkan dengan mudah. Fitur touch screen bisa membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan mudah.


Intel Core i5 Processor

Dunia blog semakin berkembang dengan cepat. Sekitar tahun 2007, saat Chi mulai nge-blog, aktivitas ini hanya berupa menulis. Gak perlu pakai foto, apalagi infografis atau video. Asal bisa publish tulisan aja rasanya udah cukup. Saking sederhananya nge-blog pakai pc dengan processor biasa aja dan kecepatan internet yang lambat pun masih bikin nyaman. Yang penting nge-blog.

Siapa sangka dalam kurun waktu 'hanya' 10 tahun dunia blog berkembang pesat. 10 tahun termasuk waktu singkat, lho. Tadinya cukup dengan tulisan, sekarang blogger dituntut multitasking bila ingin membuat konten kreatif.


Membuat konten kreatif tidak hanya untuk lomba atau job review saja, kok. Menulis konten untuk pribadi bila dibuat kreatif tentu akan membuat pembaca semakin senang. Dan kita makin senang kalau blog semakin banyak pembacanya. Setuju, kan?

Processor itu ibarat otak. Harus memiliki otak yang cerdas agar performa memuaskan. Tadi di awal, Chi bertanya apakah blogger sudah perlu menggunakan perangkat yang canggih seperti ini? Jawabannya iya.

Dengan tuntutan membuat konten kreatif tentu butuh processor yang multitasking. Kebiasaan Chi banget kalau lagi di depan layar komputer atau notebook gak cukup buka satu window. Termasuk ketika lagi nge-blog. Pasti juga sekalian buka social media, sesekali editing foto atau video, cari data pendukung dan lain sebagainya. Mungkin kalau 'otak'nya gak kuat, notebook atau komputernya udah teriak, "Capek, deeeehh!"

Karena ASUS Vivo All in One V220IC sudah didukung oleh Intel Core i5 processor generasi ke-6. Nge-blog sekaligus membuat video, infografis, mencari data yang dibutuhkan, dan lain sebagainya tidak membuat kinerjanya lambat. Lebih dipuaskan lagi karena ASUS Vivo All in One V220IC menggunakan grafis NVIDIA® GeForce 930M. Gambar yang terlihat jadi lebih halus serta mendukung kerja multimedia dengan cepat walaupun filenya berat. 

Upgrade memory RAM-nya pun gampang. Teman-teman tinggal masukkan memorynya di slot yang terletak di belakang layar. Body pc ini memang terlihat ramping, tapi teman-teman gak perlu khawatir dengan memory penyimpanan. ASUS Vivo All in One V220IC tetap mampu menyimpan data dalam jumlah besar.

Tadinya Chi kepikiran untuk benerin PC yang udah sekitar 2 tahun ini rusak. Setelah mencari berbagai info tentang ASUS Vivo All in One V220IC malah jadi pengen banget ganti baru aja. Biar nge-blognya makin lancar dan makin semangat bikin konten kreatif. Mumpung lagi semangat bikin vlog juga, nih! Kan, nanti jadi makin kece artikel di blog kalau ada vlognya.

Continue Reading
52 komentar
Share:

Minggu, 22 Januari 2017

Belajar Semangat dari Ayu Ningtias


Tentang Ayu Ningtias


Nama lengkapnya Ayu Citraningtias, tapi dengan alsan supaya lebih ringkas dipendekkan menjadi Ayu Ningtias untuk nama di semua akun social media miliknya. Ayu adalah seorang ibu muda yang memiliki seorang bayi perempuan berusia 7 bulan. Saat ini Ayu wara-wiri Sampit - Palangkaraya mengikuti suami yang terkena mutasi.

Ayu pernah diberi julukan olok-olokan ELSE (Elek Semangat) saat masih SMP oleh teman-temannya. Setiap hari, Ayu harus menempuh jarak sejauh 20 km dengan sepeda onthel ke sekolah. Semangat yang tinggi itu terbayar dengan berhasil masuk SMA favorit. Dan tidak hanya itu, kebahagiannya bertambah karena di SMA sudah tidak lagi dibully sehingga Ayu lebih bisa mengembangkan diri.

Bergabung di ekskul pecinta alam menjadi tempatnya untuk mengembangkan diri. Berhasil mendapatkan beasiswa saat kuliah, skripsinya masuk koran, dan berhasil lulu cum laude pada tahun 2011 menjadi rangkaian kesuksesan Ayu berikutnya. Ayu diterima bekerja di salah satu perusahaan electronic ternama hingga dia menikah dan kemudian resign karena ikut tugas suami di Sampit. Membaca kisahnya di Arisan Blogger group 1 ini membuat Chi berkesimpulan kalau Ayu memiliki semangat tinggi yang harus dicontoh banyak orang, termasuk Chi.


Postingan Terfavorit


Beberapa tahun lalu kulkas di rumah Chi rusak dan gak bisa diperbaiki lagi. Bukan karena gak pernah dirawat, tetapi karena listrik di rumah yang saat itu gampang byar pet. Mana waktu itu belum pasang stabilizer. Sedih banget rasanya.

Mengingat kulkas adalah benda yang penting untuk kami, maka beberapa hari kemudian kami memutuskan membeli kulkas baru yang masih bertahan sampai sekarang. Sedihnya, kulkas penggantinya gak segede kulkas lama. Yang sekarang agak kekecilan jadi cepat penuh isinya. Pengen beli dengan ukuran yang sama, masih belum kebeli, euy 😞 Tapi tetep bersyukur, setidaknya ada kulkas pengganti.

Merawat kulkas tidak sulit. Tapi tetap harus dirawat supaya awet lama. Cara perawatannya bisa dibaca di postingan "Tips Merawat Kulkas." Salah satu postingan yang ada di blog Ayu. Lifestyle menjadi niche blog Ayu, www.ghendiss.com. Teman-teman bisa menemukan tip lainnya atau artikel apapun tentang kehidupan sehari-hari di sana. Yuk, blogwalking ke blog Ayu Ningtias.


Ayu Ningtias


www.ghendhiss.com (lifestyle)
www.ayuningtias.com (parenting)

FB: Ayu Ningtias
Twitter: @ayuningtias90
Instagram: @ayuningtias

Continue Reading
6 komentar
Share:

Jumat, 13 Januari 2017

Tips Kulit Tetap Sehat dan Lembut Saat Traveling dengan REDWIN Sorbolene Moisturiser

Kulit Sehat dan Lembut dengan REDWIN Sorbolone Moisturiser

Tips Kulit Tetap Sehat dan Lembut Saat Traveling dengan REDWIN Sorbolene Moisturiser - Suami: "Bun, lihat tuh Keke mulai garuk-garuk. Kayaknya kulitnya mulai kering."

Eyaampuunn! Saya pun langsung mengambil tas dan memberikan moisturiser ke Keke. Selama beberapa hari camping di tempat yang dingin, saya lupa memberikan pelembap kepada anak-anak dan suami. Bahkan kepada diri saya sendiri.

Padahal saya pun sudah mulai merasa kulit semakin hilang kelembapannya terutama di area wajah. Kalau di tangan dan bagian lainnya, belum terlalu saya rasakan. Mungkin karena setiap hari tertutup pakaian dan tidak terkena matahari langsung, jadi gak begitu merasakan gejala gatal seperti yang Keke rasakan. Meskipun udah berasa kering juga.

Kebiasaan saya banget, nih! Kalau lagi liburan suka lupa merawat diri. Padahal selalu bawa dari rumah. Tapi sering lupa dipakai. Yang diinget cuma mandi aja abis itu selesai. Duh ... duh ... Beneran pelupa!

Untuk traveling akhir tahun lalu, saya bawa REDWIN Sorbolone Moisturiser. Untuk pertama kalinya saya pakai pelembap ini bahkan tutup bagian dalamnya pun masih tersegel rapat ketika saya bawa. Bagian tersegel ini salah satu yang bikin saya suka dari pelembap ini, lho. Tapi sebelum saya bercerita lebih lanjut tentang segel dan kelebihan lain dari REDWIN Sorbolone Moisturiser, mendingan cari tahu dulu apa aja penyebab kulit kering.


Penyebab Kulit Kering


Kulit yang berkurang elistisitasnya akan membuat kulit menjadi kering. Yang dirasakan biasanya kulit terasa kencang dan gatal. Beberapa penyebab kulit menjadi kering antara lain


Perubahan Suhu

Kulit Sehat dan Lembut dengan REDWIN Sorbolone Moisturiser 
Beberapa hari di udara dingin membuat kulit kami kering karena sempat lupa pakai pelembap


Selama beberapa hari camping di udara dingin membuat kulit kami menjadi kering. Itu karena pada suhu yang dingin, kelembapan udaranya rendah. Hal ini hanya terjadi di tempat yang berusaha dingin saja. Masyarakat perkotaan, seperti Jakarta, yang sehari-harinya berada di ruangan AC juga beresiko mengalami kulit kering. Karena ruang ber-AC juga memiliki kelembapan udara yang rendah


Mandi Dengan Air Panas

Mandi dengan air panas menyebabkan kelembapan alami pada kulit mudah hilang. Ini masih jaid PR banget buat saya yang hobi banget mandi air panas. Apalagi kalau pakai shower bisa makin lama mandinya. Padahal semakin lama mandinya, resiko kulit menjadi kering semakin besar


Jangan Menggosokkan Handuk ke Tubuh

Biasanya kita cenderung menggosokkan handuk ke tubuh supaya cepat kering. Padahal yang benar adalah menepuk-nepuk handuk ke tubuh supaya kelembapan kulit tetap terjaga.


Kurang Asupan Cairan

Tubuh kita memerlukan cairan supaya tetap lembap. Kalau jarang minum, lama kelamaan kulit menjadi kering.


Pertambahan Usia

Seiring bertambahnya usia, pelembap alami dalam tubuh semakin berkurang. Coba deh pegnag kulit bayi dan kulit kakek/nenek pasti terasa bedanya, kan?


Pemakaian Sabun

Pemakaian sabun gak selalu membuat kulit menjadi lebih lembap. Malah bisa jadi membuat kulit semakin kering kalau sabunnya gak cocok. Menggosokkan sesuatu ke tubuh juga bisa bikin kulit cenderung kering. Makanya kalau mandi mending jangan terlalu sering scrubing, sesekali aja melakukanya.


Penyakit

Mengkonsumsi obat tertentu dan juga memiliki riwayat penyakit tertentu bisa menyebabkan kulit menjadi kering.


REDWIN Sorbolene Moisturiser Membuat Kulit Tetap Sehat dan Lembut


Oke, sekarang saya mau menceritakan tentang REDWIN Sorbolene Moisturiser. Berikut beberapa hal yang membuat saya suka dengan pelembap ini


Tersegel Rapi

Kulit Sehat dan Lembut dengan REDWIN Sorbolone Moisturiser 

Teman-teman kalau beli pelembap di minimarket/hypermarket biasanya memilih deretan yang mana? Kalau saya memilih di deretan tengah atau belakang. Gak pernah memilih deretan depan karena biasanya deretan depan sudah dicobain oleh beberapa orang meskipun di kemasannya tidak tertulis 'Tester'.

Kalau udah dicobain gitu, isinya pasti udah berkurang. Belum lagi masalah higienis. Makanya saya selalu memilih deretan tengah atau belakang meskipun gak ada jaminan juga udah dicobain atau belum. Tapi kalau REDWIN Sorbolene Moisturiser ini bagian dalamnya (lubang tempat keluar pelembap) tersegel. Teman-teman tinggal buka tutupnya, trus lihat aja kalau lubangnya masih tersegel rapat berarti belum dicobain orang.


Selain alasan isi kemasan yang berkurang dan higienis, produk yang tersegel juga bisa memastikan usia pemakaian. Untuk REDWIN Sorbolene Moituriser ini usianya 24 bulan setelah segel dibuka. Jadi jangan lihat tanggal expired lagi kalau kemasan sudah dibuka, ya.


Tekstur dan Warna

Kulit Sehat dan Lembut dengan REDWIN Sorbolone Moisturiser

REDWIN Sorbolene Moituriser ini berwarna putih susu dan teksturnya agak creamy. Pemakaian pertama masih kurang terbiasa sama teksturnya. Saya terbiasa dengan tekstur pelembap yang agak cair. Trus pas diusap kayak sedikit lengket gitu. Untungnya gak berlangsung lama, sih. Pelembapnya cepat menyerap ke kulit. Dan, semakin dingin suhu udara, semakin cepat menyerapnya. Saya sudah mencobanya saat camping (suhu udara dingin) dan di rumah (suhu udara panas). Begitu juga ketika di oleskan sebelum tidur (suhu udara dingin karena AC). Kayaknya lebih cepat menyerap saat suhu udara dingin.


Kelembapan Bertahan Lama

Kulit Sehat dan Lembut dengan REDWIN Sorbolone Moisturiser

Kalau lagi rajin, saya bisa berkali-kali pakai pelembap dalam sehari. Gak hanya setelah mandi dan sebelum, tapi juga setelah sholat. Rasanya kulit menjadi kembali kering ketika terbasuh air. Dan saat terbasuh air pelembapnya jadi berasa keluar, kulit kayak jadi licin.

Tapi, REDWIN Sorbolene Moisturiser ini sepertinya beneran menyerap banget ke kulit. Paling saya merasa sedikit licin aja ketika kulit terkena air. Setelah diusap dengan handuk, kulit saya masih berasa kelembapannya tanpa saya harus mengoleskan pelembap lagi. Saya cukup 2x saja memakai pelembap ini setiap harinya, yaitu setelah mandi dan sebelum tidur.


Tanpa Pewangi

Saya suka pelembap yang wangi. Apalagi kalau bertahan lama di kulit, bisa-bisa tangan saya ciumin terus hehehe. Tapi pelembap dengan pewangi juga suka bikin saya bingung setelah selesai mandi. Langsung pake pelembap gak, ya? Salah satu waktu terbaik saat pakai pelembap kan setelah mandi. Tapi kalau kulit masih wangi sabun mandi, saya suka gak rela aja gitu kalau wanginya ditimpa dengan pelembap. Akhirnya saya suka agak menunda pakai pelembapnya. Kalau wangi sabunnya udah menguap, baru deh saya pakai pelembap.

REDWIN Sorbolene Moisturiser ini gak ada wanginya. Pada saat tutupnya dibuka untuk pertama kali kayak wangi obat. Tapi lama kelamaan, saya merasa wanginya kayak produk skin care Keke dan Nai saat mereka kecil. Karena gak ada wanginya, saya jadi gak ragu lagi mengoleskan pelembap setelah mandi.


Salah satu karakter sorbolene adalah tidak berbau. Mungkin bagi masyarakat Indonesia, pelembap yang tidak wangi masih belum familiar. Tapi di negara asalnya, Australia, berdasarkan survei Aztec Australia 2012 REDWIN Sorbolene Moisturiser sangat sukses menguasai pasar dan menjadi pelembap sorbolene no. 1 di Australia.


Cocok untuk Segala Usia dan Segala Jenis Kulit

Kulit Sehat dan Lembut dengan REDWIN Sorbolone Moisturiser

Wanginya yang netral membuat moisturiser ini cocok untuk dipakai siapapun. Bahkan untuk bayi pun cocok. Dan cocok untuk semua jenis kulit. REDWIN Sorbolene Moisturiser bisa cocok untuk segala usia dan segala jenis kulit karena tidak mengandung bahan asitif keras seperti pewarna buatan, paraben (pengawet), dan wewangian. 

Sorbolone adalah sejenis krim yang tidak menyebabkan iritasi sehingga bisa digunakan untuk berbagai usia dengan beragam jenis kulit, termasuk kulit sensitif. Elemen Petroleum pada sorbolene mampu melindungi kulit dari bakteri dan virus. Sehingga di dunia kedokteran kulit, sorbolone sering diresepkan untuk pasien yang memiliki masalah kulit.

Moisturiser dengan Vitamin E

 Kulit Sehat dan Lembut dengan REDWIN Sorbolone Moisturiser

Kelebihan REDWIN Sorbolene Moisturiser semakin disempurnakan dengan vitamin E yang diperoleh secara alami dari minyak biji gandum. Vitamin E memang banyak manfaatnya bagi kesehatan kulit. Saya pun termasuk yang cukup rutin mengkonsumsi vitamin E karena memiliki kulit yang sensitif.

Vitamin E yang diperoleh dari minyak biji gandum berfungsi untuk meremajakan dan menutrisi kulit yang kering, pecah-pecah, kasar, dan bersisik. Kandungan vitamin E juga bisa untuk menagkal radikal bebas dan mencehak penuaan dini


Sertifikat Halal

REDWIN Sorbolene Mosituriser memang belum ada sertifikat MUI. Tetapi sudah mengantongi sertifikat halal resmi dari AFIC (Australia Federation of Islamic Council). Jadi saya tenang lah pakai pelembap ini.


Praktis

Suami dan anak-anak saya udah cobain juga produknya. Senangnya mereka pun cocok pakai pelembap ini. Buat kami, juga jadi praktis karena gak perlu bawa beberapa pelembap. Selama ini kami seperti itu, masing-masing bawa pelembap favoritnya. Kalau sekarang cukup bawa satu pelembap ini saja sudah cocok buat semua.


Mudah Didapat

 
Sumber: Fanpage REDWIN Indonesia


REDWIN Sorbolene Moisturiser untuk kemasan tube (100 ml) yang saya pakai ini harganya IDR75K. Ada lagi yang kapasitasnya lebih besar yaitu 500 ml dan 1 lt.Mudah didapat pula karena pelembap ini sudah ada di Carefour, AEON, The Food Hall, Ranch Market, Lotte Mart, dan lain sebagainya.

Nah itulah tip dari saya agar kulit tetap sehat dan lembut saat traveling. Jangan sampai lupa membawa REDWIN Sorbolene Moisturiser. Dan, tetap rutin memakainya saat traveling. Gak seru kalau pulang ke rumah kulit malah jadi bermasalah. Yuk, cobain!


REDWIN Indonesia


Fanpage: REDWIN Indonesia
Twitter: @RedwinID

Continue Reading
20 komentar
Share:

Rabu, 11 Januari 2017

Menulis Itu Asyik!

Menulis Itu Asyik!

Menulis Itu Asyik! - Salah seorang teman di sekolah Keke dan Nai beberapa kali meminta Chi untuk memberikan pelatihan menulis kepada anak-anak usia 9-14 tahun. Berangkat dari kekhawatiran orang tua yang melihat anak-anak zaman sekarang susah kalau disuruh menulis. Kalaupun menuangkan cerita lebih suka membuat komik.

Maunya orang tua, anak-anak bisa menulis cerita seperti kayak tugas zaman sekolah dulu bikin karangan. Lebih bagus lagi kalau bisa menulis reportase. Nilai plus kalau tata bahasa tulisannnya pun sesuai dengan KBBI. Buat orang tua kemampuan ini akan berguna bila suatu saat mereka harus bikin karya tulis, skripsi, dan lain sebagainya.

Awalnya Chi menolak. Lha, Chi aja masih banyak belajar untuk urusan penyusunan kata-kata. Seringkali masih suka lihat KBBI supaya bisa menulis dengan tepat. Lagipu anak-anak Chi sama seperti anak-anak lainnya. Nai juga lebih suka membuat komik dan Keke lebih suka bercerita langsung daripada ditulis. Keke juga kayaknya dia lebih tertarik nge-vlog dari nge-blog. Jadi bagaimana mungkin bisa ngasih pelatihan untuk anak-anak lain kalau buat Chi aja masih PR banget.

Chi pun mengusulkan untuk ganti topik. Bukan tentang pelatihan menulis tetapi memberikan motivasi. Menurut Chi, anak-anak harus dibangkitkan dulu minatnya. Terlebih sekarang era digital dan anak-anak sangat akrab dengan gadget. Bakal susah meminta mereka untuk menulis di selembar kertas bila tidak memiliki minat.

Apapun media yang mereka gunakan, bebaskan saja. Mau di buku, kertas gambar, blog, atau socmed juga biarkan saja. Mau cerita seperti membuat cerpen, novel, atau komik pun gak apa-apa. Yang penting timbulkan minatnya dulu dan pelan-pelan anak mau belajar bagaimana menulis atau bercerita dengan benar.

Perubahan topik pun disepakati, giliran waktunya yang mundur melulu. Teman Chi ini sudah meminta sejak tahun 2015. Tapi, waktunya yang gak klop. *(Sok) sibuk sekali Chi πŸ˜‚* Setelah berkali-kali mundur, akhirnya sepakat acara dilakukan pada awal April 2016.


Membangkitkan Minat Menulis


Sesi Motivasi

Karena topiknya berubah, Chi memilih lebih memberi motivasi bukan pelatihan. Kegiatan dilakukan 2 sesi. Sesi pertama memberikan motivasi dengan bercerita tentang kegiatan menulis. Karena Chi seorang blogger, jadi banyak bercerita tentang blog. Di akhir sesi pertama, semua peserta diminta untuk membuat cerita pengalaman yang berkesan. Dikumpulkan pada saat sesi kedua.

Chi mulai mengenalkan apa itu blog, bagaimana membuat blog dengan blogspot, serta keuntungan menjadi blogger termasuk diantaranya job review. Ketika menceritakan job review, Chi gak berharap mereka langsung berpikir tentang monetize. Yang Chi harapkan adalah konsisten menulis dulu. Tapi, sedikit saja diulas tentang job revie supaya jadi salah satu penyemangat.

Seperti yang sudah Chi duga, anak-anak tersebut gak gaptek. Memang sih ada beberapa anak terutama yang masih kecil-kecil belum mengenal social media apalagi blog. Tapi untuk yang ABG udah ada beberapa yang mulai menulis di blog. Biasanya mereka menulis di Tumblr.

Karena sebagian sudah akrab dengan dunia digital, Chi pun mengingatkan mereka tentang pentingnya netiket. Jangan pernah berpikir untuk menjadi bijaksana ketika sudah dewasa. Karena sebetulnya sikap bijaksana itu gak berbanding lurus dengan usia. Bijaksana juga bukan berarti sok tua. Tetap aja menulis seperti yang kita mau asalkan tidak melanggar dan menyakiti apapun/siapapun. Gak lucu kan kalau status atau postingan yang kita buat menjadi viral karena pemberitaan negatif apalagi kena UU ITE.

Hanya karena tidak bertatap muka, jangan pernah menganggap kita bisa menulis seenaknya di dunia maya. Karena sebetulnya di dunia maya kita tidak sendiri. Catatan digital kita bisa terbaca oleh banyak orang.


"Everything you post on social media impacts your personal brand. How do you want to be known?" - Lisa Horn, a.k.a The Publicity Gal

Chi juga membahas tentang idola. Apalagi untuk anak-anak abege yang sudah melek digital, idolanya mungkin sudah bukan Dora The Explorer, Barney, atau Hi-5. Beberapa nama vlogger ngetop sekarang menjadi idola. Tapi karena ini bahasannya tentang menulis, maka Chi memberi contoh beberapa influlancer muda yang bisa dijadikan idola. Sebut saja diantaranya adalah Evita Nuh, Sri Izzati, Kartika Putri Mentari, Astari Radnadya, Handiko Rahman, Fatur Rosiy, Indi, dan beberapa nama lainnya. Chi menyebutkan nama-nama tersebut sambil menceritakan sedikit profil mereka. Chi perlihatkan juga blog mereka. Beberapa ada yang perlihatkan IGnya juga.

[Silakan baca: Ngeblog Asyik Itu Diawali Dari Niat]


Menulis Cerita dan Berdiskusi

2 minggu berikutnya lebih banyak ke arah diskusi. Ada seorang anak berusia 9 tahunan yang menunjukkan tulisannya. Dia membuatnya di selembar kertas karena belum memiliki social media. Awalnya malu-malu. Kemudian setelah dibaca, Chi ajak berdiskusi sama-sama supaya tulisannya semakin enak dibaca. Chi berusaha untuk tidak menggurui karena masih banyak belajar. Bisa dibilang kami sama-sama belajar di sini.

Ada salah seorang anak remaja yang pada sesi pertama kelihatan mengantuk. Sikapnya bikin Chi sempat grogi. Jangan-jangan cara Chi berbicara memang ngebosenin? Tapi, Chi berusaha percaya diri aja karena melihat anak-anak lain banyak yang semangat.

Nah, pas pertemuan sesi kedua Chi gak menyangka kalau anak ini akan datang lagi *memang gak ada keharusan datang 2 sesi karena bayarnya kan per sesi*. Udah gitu anak ini terlihat semangat berbeda dengan pertemuan pertama. Rupanya dia semangat karena bisa menunjukkan karyanya. Dia sangat gemar menggambar. Chi perhatikan gambarnya bagus dan bercerita. Di sini pun Chi jadi tambah yakin kalau anak akan semangat bila sudah tertarik apalagi sudah menemukan passionnya. Ketika Chi ajak ngobrol tentang menggambar, dia senang banget.

Sekitar 15-20 anak yang ikut dengan usia yang beragam. Untuk anak-anak yang remaja udah lumayan tertib. Nah, yang kecil-kecil ini yang belum duduk rapi berlama-lama. Ada yang jalan-jalan, ada yang ngemil melulu, pokoknya ada aja tingkah mereka. Tapi Chi sih senang aja. Cuma kalau disuruh rutin mungkin mikir juga, ya. Betapa hebat para guru yang bisa mengajar anak-anak dengan sabar, ya πŸ˜‚

[Silakan baca: Bila Anak Kecanduan Game, Cari Solusi Hingga ke Akarnya]


Faktor Hambatan Menulis


Menulis Itu Asyik!

Di akhir sesi pertama sempat ada tanya jawab tentang social media yang mereka tahu. Dari foto di atas terlihat kalau sebagian diantara mereka memang sudah melek digital. Seperti yang Chi tulis di atas pun sudah ada yang punya Tumblr.

Sekarang, apa sih hambatan menulis sehingga merasa sulit?


Kurang Inspirasi / Ide

Masalah klasik banget ini, ya. Dan, anak-anak pun mengalami hal sama. Padahal kata Ani Berta, ide itu seperti udara yang mudah ditemukan dimanapun. Chi pun coba mengajak mereka memancing ide. Caranya dengan memberi beberapa pertanyaan seperti ini ...

  1. Siapa yang setiap pagi rajin sarapan? *Sebagian ada yang bilang iya, sebagian lagi tidak
  2. Apa alasannya gak mau sarapan? Masih ngantuk? Belum lapar? Atau ada alasan lain?
  3. Apa alasan untuk yang rajin sarapan? Diharuskan oleh orang tua? Karena menunya enak? Atau juga ada alasan lain?
  4. Menu sarapan paling enak yang pernah dimakan itu apa dan kenapa?

Dari rangkaian pertanyaan sederhana seperti itu aja bisa menciptakan berbagai ide, misalnya

  1. 5 Menu Sarapan Favorit Untuk Saya
  2. Resep Nasi Goreng Buatan Bunda
  3. 5 Alasan Kenapa Saya Tidak Sarapan

Jadi, ide beneran ada di mana-mana, kan 😊


Males, Pegel, Kurang Waktu, dan Ngantuk

Untuk poin nomor 2 s/d 5 Chi satuin karena saling berkaitan. Anak-anak sekarang beban pendidikannya lebih berat. Zaman Chi sekolah, masih punya banyak waktu untuk bermain. Sedangkan kebanyakan anak-anak zaman sekarang sebagian besar waktunya diisi untuk belajar.

Pulang sekolah udah sore. Trus masih banyak yang lanjut untuk ikut berbagai macam les. Sampe rumah udah selepas maghrib. Belum lagi kalau ada PR. Bisa-bisa larut malam mereka baru tidur cuma untuk urusan belajar akademis.

Gak heran kalau mereka merasa kurang waktu untuk melakukan kegiatan pribadi termasuk menulis. Sampe rumah badan udah pegal, mata pun mengantuk. Kalau udah gitu, males mau melakukan kegiatan lain. Lebih suka tiduran nonton tv atau pegang hape.


Alat Pendukung Kurang Nyaman

Gak punya laptop, bolpen buat menulisnya gak enak, dan masih banyak alasan lain yang bikin mereka menunda-nunda latihan menulis. Chi mencoba memotivas bahwa untuk menulis gak perlu harus punya laptop dulu, bolpen yang mahal, atau punya ini-itu. Keterbatasan jangan bikin kita jadi brenti beraktivitas.


Kurang PD

Khawatir dibilang karyanya jelek menjadi salah satu alasan kurang percaya diri. Memang sebaiknya kita pun jangan mudah menghakimi supaya gak bikin orang lain jadi minder. Kita juga harus belajar untuk percaya diri. Dipilih-pilih aja pendapat berbagai orang. Ada kalanya kita mendengarkan termasuk ketika mendapat kritikan membangun. Tapi kalau yang menghakimi sih abaikan aja.

Prakteknya memang gak gampang. Chi aja kadang masih suka ilang timbul rasa percaya dirinya. Yang penting tetap berusaha πŸ˜ƒ

Sebagai penutup, Chi bilang ke anak-anak itu untuk terus berusaha. Sebaiknya jangan mengharapkan proses instan. Tapi bagus banget kalau mereka mau belajar menulis sejak dini. Karena untuk berkembangnya masih sangat besar. Apalagi anak-anak pemikirannya masih kreatif. Coba aja perhatikan para blogger atau vlogger muda. Kreatif-kreatif, kan?

Selesai acara, Chi lupa buat foto-foto sama mereka. Cuma fotoin yang di papan tulis itu aja. Jadi gak ada kenangan fotonya. Apalagi pas sesi kedua, Chi langsung ngacir setelah selesai acara karena mau main detektif di Kemang. Tapi, setidaknya ini juga jadi pengalaman berharga buat Chi. Senang bisa berbagi pengalaman bersama anak-anak 😊

[Silakan baca: Serunya Menjadi Detektif di Escape Hunt Jakarta]

Continue Reading
46 komentar
Share:

Kamis, 05 Januari 2017

Jaim, Sombong, Tidak Bersosialisasi, Atau ...


Jaim, Sombong, Tidak Bersosialisasi, Atau ... - Ah, sebelum terburu-buru memberi label negatif untuk anak, mendingan coba baca postingan ini dulu, yuk!

Sore itu, Chi lagi berusaha untuk tidur siang menjelang sore di tenda. Tiba-tiba Nai datang menghampiri.

Bunda: "Hallo, Dek. Gak main?"
Nai: "Enggak, ah."
Bunda: "Adek pengen main perosotan, ya?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Tapiiii ..."
Nai: "Ima malu."
Bunda: "Kenapa harus malu. Main aja sana, mumpung banyak temannya."
Nai: "Enggak, ah. Di sini aja."
Bunda: "Ya, udah. Bunda tidur dulu, ya. Adek jangan ganggu."

Chi pun mencoba untuk tidur. Gak ada niatan untuk menemani Nai bermain perosotan walaupun dia terlihat sangat ingin. Tapi percuma juga Chi bujuk untuk menemani, pasti akan ditolak. Kalaupun mau, dia akan terpaksa bermainnya. Jadi, daripada Chi kesal, mending tidur aja. Apalagi hampir semalam suntuk Chi belum tidur. Saatnya nge-charge tenaga sejenak mumpung udara lagi sejuk dengan angin sepoi-sepoi. *Kemudian Chi pun bablas tidur sampai lewat maghrib. Itu juga dibangunin πŸ˜…

Baik Keke ataupun Nai memang bukan tipe anak yang langsung mudah berbaur. Kalau Teman-teman baca berbagai postingan celotehan Keke dan Nai di blog ini ataupun di status FB, mereka seperti anak yang cerewet memang benar. Tapi begitu ketemu banyak orang baru, biasanya mereka lebih banyak diam dan nempel terus sama ayah atau bundanya.

Bahkan dengan lingkungan atau orang yang udah mereka kenal pun begitu. Itulah kenapa Chi gak pernah nemenin anak-anak field trip. Pasti akan nempel terus sama bundanya daripada bermain sama teman-teman. Padahal bukan berarti mereka gak punya teman. Tapi begitu ada orang tua, mereka lebih memilih menempel ma orang tua.


Dulu, Chi suka kesal, ya. Kalau lihat anak-anak lain kok gampang banget akrab dengan sesama anak lainnya bahkan dengan orang dewasa. Jadi kan orang tuanya gak ketempelan melulu. Kok, Keke dan Nai gak bisa begitu? Ditanya sama orang, suaranya pelan kayak malu-malu padahal aslinya cerewet. Kalaupun gak nempel ma orang tua, mereka memilih menyendiri.

Tapi setelah dipikir lagi, Chi pun begitu. Chi lebih senang menyendiri. Kalau ketemu orang baru lebih suka jawab dengan kalem. Padahal kalau udah akrab mah bisa cerewet hahaha.

Baca buku, dengerin musik, atau sekadar mengamati orang yang lalu-lalang. Kayaknya menurun ke Keke dan Nai hehehe. Bahkan beberapa kali Chi bilang kalau jari-jari ini lebih cerewet dibandingkan mulut. Karena memang lebih cerewet bikin status atau postingan daripada cerewet ngobrol. Chi pun menolak anggapan dibilang jaim, sombong, tidak bersosialisasi, atau apapun. Karena ini kan tentang kenyamanan bagi diri sendiri aja sebetulnya. Ya, mungkin kami memang nyamannya seperti itu.



Beberapa hari kemudian, Chi lihat Nai mulai berteman. Dia terlihat asik main perosotan bersama teman-temannya. Chi sempat samperin dan melihat Nai bermain, gak sekalipun Nai nyamperin buat nempel. Nai tetep ceria dan asik bermain bersama teman-teman barunya.

Ya, sebetulnya hal-hal seperti ini cuma masalah waktu, kok. Yang penting sebagai orang tua, udah mengajarkan bagaimana berteman dengan baik. Kalaupun bukan tipe yang langsung akrab, gak masalah. Mungkin tipenya memang seperti itu. Harus menyamankan diri dulu dengan suasana dan lain sebagainya. Baru deh akrab dengan orang lain.

Bunda: "Dek, kok tadi main perosotan, sih?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Caranya gimana tuh Adek bisa ikutan main ma temen-temen?"
Nai: "Ya, kan Ima lagi lewat trus Ima bilang gini, 'Eh, Aku boleh gak ikutan main?' Trus, mereka bilang boleh. Jadi Ima main, deh."
Bunda: "Siapa aja nama temannya, Dek?"
Nai: "Gak tau."

Nah, berarti memang gak harus dipaksa, kan? Nanti mereka menemukan caranya sendiri untuk bersosialisasi, kok. Teman-teman ada yang putra-putrinya seperti itu, gak? Kalau iya, sebaiknya jangan dilabelin dengan cap-cap negatif, ya. Terus kasih ajakan aja walaupun caranya mungkin harus tarik ulur 😊

Gak cuma saat main perosotan. Nai juga mulai nyaman saat nge-craft dan melakukan berbagai aktivitas lain bersama teman barunya. Termasuk saat makan bakso bareng. Ya, walaupun kalau ditanya nama temannya dia selalu bilang gak tau hahahaha. Yang penting udah mau berteman, kan? πŸ˜‚


Continue Reading
42 komentar
Share: