Senin, 29 Februari 2016

Berbagai Merk Jam Tangan Di Dunia Dengan Harga Termahal

Penampilan seseorang tentu tak hanya sebatas pakaian, namun juga aksesoris yang dipergunakan seperti jam tangan. Fungsi utama jam tangan adalah sebagai penunjuk waktu. Tapi saat ini jam tangan juga bisa membuat penampilan seorang pria atau wanita menjadi lebih keren. Bentuk serta harga jam tangan yang ada di pasaran bervariasi. Beberapa jam tangan pria original branded dengan model casual dan formal ada yang hanya diproduksi sedikit. Bahkan harganya fantastis hingga mencapai ratusan milyar rupiah per unit.

Dengan harga US$55 juta atau sekitar Rp723 milyar, The Graff Diamond Hallucination patut menjadi arloji termahal di dunia. Jam yang dibuat khusus untuk wanita ini tidak hanya berfungsi menunjukkan waktu namun dapat menunjang penampilan. Sehingga mampu meningkatkan kepercayaan diri bagi penggunanya. Jam tangan ini terbuat dari berlian warna warni yang memiliki ukuran besar. Disatukan di platinum dan ditambah dengan lingkaran jam berwarna pink yang berukuran kecil di tengah jam. Tidak heran jika jam ini memiliki harga yang fantastis.

Kedua adalah Patek Philippe 5004T yang diproduksi oleh Patek Phipippe. Jam tangan yang diproduksi mulai 2013 tersebut merupakan jenis jam artistik versi titanium terakhir dari Patek Phipippe. Dengan tampilan yang artistik dan sporty ditambah dengan kombinasi gaun 5004 mampu menarik perhatian pasar. Hal tersebut terbukti ketika Patek Philippe 5004T dilelang di tahun 2013, jam tersebut terjual dengan harga US$ 3,985 juta atau kurang lebih Rp 55,8 milyar (1 US$=Rp14.000,00).
Jam jenis Franck Muller Aeternitas Mega 4 menjadi arloji termahal ketiga yaitu dengan harga US$ 2,4 juta atau kurang lebih Rp 33,6 milyar. Di design oleh seorang designer jam yang terkemuka bernama Franck Muller, arloji ini hadir dengan kerumitan design yang membuat Anda kagum. Selain berharga mahal, jam ini menjadi jam dengan design yang paling rumit di dunia. Hal tersebut dikarenakan Aeternitas Mega 4 memiliki gerakan yang sangat rumit hingga mencakup 1.500 gerakan individu ketika proses pembuatannya. Tidak hanya rumit namun jam ini memiliki fitur lengkap seperti menunjukkan hari dan bulan.

Jam tangan lainnya yang memiliki harga fantastis yaitu: 

  • Patek Philippe memproduksi The Grandmaster Chime untuk menghormati ulang tahun ke-175 dengan harga $2,6 juta atau kurang lebih 34,2 milyar. Jam asal Swiss ini diproduksi selama 2 tahun dan 100 ribu jam kerja. Jam yang hanya diproduksi 7 unit ini memiliki 2 dial dan 20 komplikasi dari 214 bagian. 
  • Chopard Super Ice Cube yang diproduksi di Swiss memiliki harga sekitar $1,1 juta atau sekitar Rp 15,5 milyar. Hal tersebut dikarenakan jam ini dilengkapi dengan berlian 60 karat, anti gores, dan tahan pada ketinggian hingga 100 kaki. Banya koleksi jam merk Chopard ini dibuat untuk para wanita yang menyukai jam tangan wanita branded original dan elegan dengan desain terbaru. 
  • A. Lange & Sohne Grand Complication dibanderol dengan harga 1,92 juta euro atau US$ 2,05 atau Rp 26,3.

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Minggu, 28 Februari 2016

Mengingat Masa Hamil

Malam-malam gini. Chi coba ingat lagi saat hamil Keke dan Nai, ah. Dulu kan belum ngeblog. Jadi gak dicatat kenangannya :)

Hamil Kebo

Hamil kebo hanyalah istilah, ya. Katanya, hamil kebo adalah hamil dengan kondisi tidak merasakan mual-mual seperti ibu hamil. Chi termasuk yang hamil kebo saat hamil anak pertama maupun anak kedua. Gak merasakan mual sama sekali. Pokoknya perubahan yang terasa adalah perut aja yang semakin membesar. Memang enak karena gak repot, sih. Tapi kadang suka lupa kalau lagi hamil. Suka lari-larian, angkat-angkat, dan lainnya.

Ngidam

Chi gak tau apakah proses kehamilan ada hubungannya dengan ngidam atau enggak. Yang pasti Chi juga gak ngidam sama sekali. Padahal sesekali (pura-pura) pegen apa gitu kayaknya boleh juga, ya :p

Gak Ada Pantangan Makan
Selama hamil, dokter gak kasih pantangan apa-apa. Ya paling di trimester pertama cuma bilang sebaiknya hindari dulu kambing sama duren. Tapi gak apa-apa juga, sih, kalau makan cuma sedikit :)

Dia Bergerak!

Paling seneng, deh, kalau bayi di dalam perut lagi aktif. Di perut kayak ada yang bergerak gitu. Mungkin ini juga yang disebut bonding, ya?

Naik 15 kg

Ketika hamil pertama dan kedua, pertambahan BB Chi sama-sama 15 kg. Tapi, pas hamil anak pertama cuma di perut aja besarnya. Setelah melahirkan juga berkurang lumayan banyak. Sedangkan di kehamilan kedua, melebar kemana-mana hahahha. BB setelah melahirkan pun cuma turun sedikit :)

Sama-Sama Caesar, Tapi ...

Kalau melahirkan pertama, proses caesar spontan. Awalnya sempat usaha melahirkan normal dulu. Hingga pembukaan lengkap ternyata ada kendala. Dan, disarankan untuk caesar. Sedangkan melahirkan kedua direncanakan. Tali pusar menutupi jalan lahir.


Minum Susu Murni

Chi gak suka susu formula, lebih suka UHT atau susu murni. Jadilah Chi langganan susu murni. Berlanjut hingga beberapa tahun. Lalu berhenti karena suka lupa atau malas merebusnya hahaha.

Kayaknya itu aja, sih.  Dulu belum kenal toko online. Jadi segala perlengkapan seperti pakaian bayi dan lain sebagainya bolak-balik ke toko bayi dan sebagainya. Yah, gak terlalu banyak cerita kehamilan, sih. Tapi setidaknya, cerita ini sudah disimpan :)

Continue Reading
12 komentar
Share:

Jumat, 26 Februari 2016

Tetra Pak untuk Bekal Camping Naima

Keterangan: 
 Yoghurt Heavenly Blush rasa Blackcurrant dan Coco Day untuk bekal camping Nai
Ultra Milk UHT untuk bekal sekolah Keke
Sisanya (Greenfield UHT dan Yoghurt Heavenly Blush) untuk konsumsi sehari-hari di rumah

Keke: “Bunda, beli susu, gak? Di kulkas, susu udah habis.”

Huff! Untung aja tadi sempat mampir dulu ke minimarket untuk beli susu UHT kesukaan Keke. Selera sarapan anak-anak terus berubah. Dulu, Keke harus makan berat (nasi yang komplit dengan lauk-pauk). Kemudian berubah lagi. Udah beberapa bulan ini, dia hanya ingin sarapan dengan segelas susu UHT saja.

Awalnya sempat ragu memenuhi keinginan Keke. Khawatir jadi masuk angin karena sarapannya gak maksimal. Tapi karena anaknya bersikeras, akhirnya dibolehkan dengan syarat kalau pulang sekolah trus sakit berarti gak boleh lagi sarapan hanya dengan segelas susu. Paling enggak dikasih cereal seperti sebelumnya. Ternyata, Keke baik-baik saja. Mungkin karena bekal sekolah yang dibawa cukup padat. Jadinya, dia gak kelaparan.

Gak hanya Keke yang suka susu UHT, Nai pun juga suka. Selain susu UHT, mereka juga penggemar yoghurt. Susu dan yoghurt adalah dua jenis minuman yang cukup rutin mereka konsumsi setiap hari. Tapi, Chi sempat ragu ketika Nai mau bawa yoghurt sebagai salah satu bekal camping.

Aman gak, ya? Kan, kalau camping gak ada kulkas? Yah, namanya juga ibu, bawaannya suka khawatir sama keamanan makanan yang dikonsumsi, khususnya untuk anak.
Gak berapa lama, Chi tepok jidat. “Ya, ampun! Ini bukan pertama kalinya Keke dan Nai bawa minuman kemasan kalau lagi traveling. Aman-aman aja, tuh!” Yang membedakan adalah baru kali ini Nai camping tanpa orang tua.

Yah, begitulah kalau udah ngomongin makanan memang suka perhatian. Gak cuma lihat tanggal expired tapi kemasannya juga. Seringkali Chi memilih kemasan yang bentuknya masih bagus. Penyok dikit, langsung gak dipilih. Padahal kalau udah ditaro di kantong plastik kadang agak penyok juga, ya. Dan, sering juga memilih minuman karena suka dengan kemasannya. Abis kemasannya suka banyak yang menarik perhatian!


Kalau diperhatiin lagi, beberapa minuman kemasan karton yang disukai Keke dan Nai itu ada lambang segitiga dengan tulisan Tetra Pak. Atas nama penasaran, Chi langsung kepoin akun twitter @TetraPak_ID. Hmm … pantesan aja aman walaupun gak dimasukkin kulkas. Karena selain menggunakan materi terbaik, kemasannya juga berlapis. Inovasi teknologi pengemasan antiseptik juga hanya sedikit melibatkan tangan manusia serta area pengemasan disterilkan terlebih dahulu sehingga mutu dan keamanan makanan atau minuman tetap terjaga.

Kemasan Tetra Pak juga ramah lingkungan. Ya, sekarang ini lagi semakin berusaha untuk bergaya hidup cinta lingkungan. Bumi makin tua, jangan dibikin sakit. Walaupun bahan baku utama adalah karton yang mana kita semua tau kalau berasal dari pohon tapi gak sembarangan nebang. Suplier kartonnya dipilih yang terpercaya karena menggunakan kayu bersertifikat FSC (Forest Stewardship Council). Intinya hutannya selalu diperbaharui dengan pohon baru. Trus, Tetra Pak juga punya terobosan baru untuk tutup botolnya (Bio Base Cap atau Green Cap). Sepintas sama aja kayak tutup botol lain, sama-sama dari plastik. Tapi plastik tutup botol kemasan Tetra Pak terbuat dari tebu. Cinta lingkungan banget, kan?

Ya, setelah tau tentang kualitas kemasannya semakin yakin aja kalau gak salah pilih. Pilih makanan dan minuman untuk dikonsumsi keluarga memang gak cukup sekadar enak. Harus yang berkualitas juga supaya badan tetap sehat.

Chi jadi ada ide untuk mengenalkan kualitas kemasan Tetra Pak ini ke mereka. Semacam mengajarkan fun science, lah. Tapi kayaknya tunggu Nai pulang camping dulu. Penasaran sama cerita dia nanti. Kayaknya bakal seru ceritanya. Sambil nunggu Nai pulang, bikin singkong Thailand enak juga kayaknya. Mumpung lagi ada stok santan di rumah. Ke dapur dulu, ah.

http://www.kekenaima.com/p/disclosure.html

Continue Reading
44 komentar
Share:

Kamis, 25 Februari 2016

Ketika Anak Demam

Ketika anak demam,  orang tua mana yang gak khawatir? Sama, Chi pun merasakan hal itu.

Rasanya baru beberapa minggu lalu, Chi nyetatus mengucap rasa syukur kalau ternyata hampir 1,5 tahun terakhir ini Keke dan Nai gak ke dokter. Ya, mungkin mereka pernah 1-2 kali sakit tapi gak sampai harus ke dokter. Alhamdulillah :)

Gak taunya beberapa minggu setelahnya, tepatnya minggu kemarin, Nai demam. Selama 1 minggu lamanya Nai gak masuk sekolah. Kayaknya ini gak masuk sekolah terlama yang pernah dialamin, Nai. Sempat ada kekhawatiran Nai terkena DBD atau Typus karena sepertinya kedua penyakit ini sedang marak.

Menurut beberapa info, demam itu adalah pertanda kalau tubuh sedang berusaha melawan penyakit. Caranya dengan menaikkan suhu tubuh agar virus atau bakteri sulit berkembang. Chi juga biasanya gak langsung bawa anak-anak ke dokter kalau suhu tubuh anak terasa meningkat. Ketika Keke masih bayi, Chi pernah ditegur sama dokter anak. Katanya jangan sebentar-sebentar di bawa ke dokter. Ya, namanya juga dulu belum mengerti hehe jadi ketika anak demam, mikirnya langsung aja ke dokter.

Lalu, bagaimana langkah yang harus dilakukan ketika anak demam?

Ukur suhu tubuh


Thermometer itu memang wajib ada di rumah. Gak cukup mengukur suhu tubuh anak hanya dengan meletakkan telapak tangan kita ke tubuh anak. Biasanya kalau belum sampai 38 derajat celcius, Chi minta anak-anak untuk beristirahan dan minum yang banyak. Kalau udah mulai masuk ke angka 38 derajat celcius, baru mulai dikasih obat penurun panas.

Obat penurun panas


Ada 2 macam obat penurun panas, yang mengandung paracetamol dan ibuprofen. Kalau merk, sih, bisa berbagai macam. Keke dan Nai minum paracetamol kalau sedang demam. Mereka gak cocok dengan ibuprofen. Kalau dikasih obat penurun panas yang mengandung ibuprofen, biasanya Keke dan Nai sering mengeluhkan perutnya sakit banget. Malah suka ada muntah. Ternyata, ibuprofen memang gak cocok untuk anak yang sensitif lambungnya (kalau dokter menyebutnya alergi). Nah, ketika anak demam sebaiknya diperhatikan juga kandungan obat penurun panasnya, ya.

3x24 jam


Nah, ini yang bikin Chi dan K'Aie ditegur hehehe. Kata dokter, selama panasnya belum sampai 39 derajat, tunggulah sampai 3x24 jam. Kalau 3x24 jam panasnya belum turun juga, meski masih di bawah 39 derajat, tetep harus dibawa ke dokter. Dan kalau sudah di atas 39 derajat, padahal belum sampai 3x24 jam juga harus dibawa ke dokter. Khawatir kejang kalau suhunya terlalu tinggi.

Saat Keke dan Nai masih balita, dokter selalu bertanya, "apakah anak-anak ada riwayat kejang?" Karena Keke dan Nai gak ada riwayat kejang, mereka tetap disarankan untuk menunggu hingga 3x24 jam baru dibawa ke dokter, kecuali kalau panasnya sudah di atas 39 derajat. Mungkin kalau ada riwayat kejang, berapapun kenaikan suhu tubuhnya harus lekas dibawa ke dokter, ya.

Minggu lalu, kami tunggu sampai 3x24 jam. Memang biasanya langsung periksa darah kalau sudah 3x24 jam. Tapi kalau dibawa 3x24 jam udah dibawa ke dokter dan demamnya masih dibawah 39 derajat, paling cuma dikasih obat penurun panas.

'Jangan Dibungkus'


Ketika panasnya sedang tinggi, biasanya Nai gak mau pakai baju. Pasti langsung dibuka sama dia. Kata dokter justru bagus. Ketika anak demam, badannya 'jangan dibungkus.' Gak pakai baju malah bagus. Kalau orang tua gak tega melihat anaknya gak pake baju, setidaknya beri pakaian longgar yang tangan pendek. Tapi kalau Nai memilih gak pakai baju, cuma celana pendek aja.

Ketika suhu tubuh Nai meninggi, biasanya diawali dengan menggigil dulu karena tangan dan kakinya dingin banget. Kalau ada bagian tubuh yang dingin, boleh lah ditutup sama selimut atau dikasih kaos kaki untuk sementara waktu. Tapi kalau panasnya sudah merata, harus dibuka lagi.

Kompres dengan air hangat


Ketika anak demam, yang tepat adalah kompres dengan air hangat bukan dingin. Chi malah kalau ketika suhu tubuhnya mulai menurun setelah minum obat, anak-anak dimandiin dengan air hangat :D

Banyak minum


Ketika diambil darah di lab, petugasnya bilang kalau darah Nai kental kemungkinan karena jarang minum. Saat sakit, Nai memang agak susah minum dan makan. Sebetulnya dia maunya makan dan minum melulu tapi setiap kali menelan rasanya sakit. Jadi yang masuk cuma sedikit.

Minggu lalu, rumah sakit penuh banget. Sepertinya memang lagi musim sakit. Menunggu hasil tes darah juga lumayan lama. Untung aja rumah sakit gak terlalu jauh dari rumah. Sambil menunggu hasil, anak-anak bisa beristirahat di rumah. Iya Keke juga ikut karena gak mau ditinggal. Lega banget ketika tau hasilnya Nai gak perlu dirawat. Dia radang tenggorokan. Sekarang sudah sembuh. Semoga setelah ini, semua baik-baik saja.

Ketika anak demam, usahakan jangan panik. Kalau Chi selalu menggunakan cara di atas. Jaga kesehatan teman-teman dan keluarga juga, ya :)

Continue Reading
4 komentar
Share:

Selasa, 23 Februari 2016

Budaya Membaca Hingga Tuntas

Budaya Membaca Hingga Tuntas 

Budayakan membaca hingga tuntas, yuk!


Yang namanya pro-kontra sepertinya ada trendnya. Ya, mungkin ini cuma perasaan Chi aja. Tapi, akhir-akhir Chi mulai sering melihat pro-kontra tentang kegiatan calistung bagi anak balita. Membahas tentang boleh atau tidak mengajarkan anak membaca, Chi punya 2 tips jitu. Setidaknya jitu bagi Keke dan Nai karena sudah membuktikan. Kalau teman-teman mau mencoba, silakan baca postingan Chi yang berjudul "2 Tips Jitu Mengajarkan Anak Membaca." Oke, setiap orang tua punya pertimbangan sendiri tentang kapan anak boleh diajarkan membaca. Silakan aja. Kita gak bisa menerapkan standar yang sama untuk setiap keluarga. Tapi, membahas tentang membaca, sebetulnya akhir-akhir ini Chi lagi agak 'gerah'


Teman-teman pernah lihat poster di atas? Kabarnya, gak sampai 12 jam sudah banyak sekali yang share. Hingga artikel ini dibuat, sudah sekitar 1800-an yang share dan lebih dari 1.200 yang komen. Apa pendapat teman-teman ketika melihat poster di sebelah kiri itu? Jangan melihat status di sebelah kanannya karena itu sudah diedit total sama si pemilik status.

Aslinya, Dian Pratama (yang membuat status viral itu) menulis dengan sangat panjang dan tidak seperti yang terlihat di screenschot itu. Gambar yang Chi upload ini, statusnya sudah diedit semua sama dia. Tapi ada cara untuk melihat tulisan awalnya. Caranya, di pojok kanan atas yang ada panah ke bawa itu diklik. Lalu pilih opsi view history. Nah, kelihatan tulisan awalnya, deh.

Kalau teman-teman penasaran, silakan mampir ke akunnya. Tapi yang mau Chi bahas di sini adalah Chi setuju dengan pendapat Dian Pratama ini. Chi punya rasa keprihatinan yang sama dengan dia. Saat ini, rasanya semakin banyak saja warga social media yang menggampangkan share. Seringkali bikin lelah membaca karena selalu diiringi dengan caption yang emosi.

Oke ... oke ... Chi lebih sering gak menanggapi kalau yang seperti itu. Paling sesekali aja kalau udah gregetan sampe ke ubun-ubun hahaha.  Kalau share bisa sangat mudah, begitu halnya dengan hide. *tinggal klik doang* Biasanya Chi lebih memilih untuk hide post kalau melihat yang seperti itu.

Ya, share memang mudah. Tapi saking mudahnya sampai kita lupa untuk 'THINK'. Think before you share. Bahkan kata 'think' juga bisa berarti ...

T - is it True?
H - is it Helpful/Hurtful?
I - is it Inspiring/Illegal?
N - is it Necessary?
K - is it Kind?

THINK. Ya ... THINK ... Yuk, kita sama-sama renungkan lagi. 

Baru baca judul, udah langsung share. Padahal kita juga sadar kalau zaman sekarang makin banyak judul berita yang heboh tapi isi gak nyambung. Tapi entah gimana, tetep aja kita main share. Salah satu contoh adalah heboh tentang Loom Band. Beramai-ramai orang share tentang hal ini tanpa cek dan ricek terlebih dahulu. (Silakan baca: Biasakan Cek dan Ricek, Nak.)

Budaya Membaca Hingga Tuntas

Gak cuma judul, sih. Seringkali cuma lihat foto atau gambar yang diupload juga kita langsung share. Lihat contoh foto yang Chi upload di atas. Rumah ibu yang kebanjiran itu juga sempat viral beberapa waktu lalu.  1 foto dipakai beramai-ramai berbagai media dengan berita yang berbeda. Jadi sebetulnya ibu itu rumahnya di mana?

Lucu memang melihat gambarnya. Chi pun sempat ngakak. Tapi ngakak miris begitu, deh. Dan foto hoax seperti itu sering terjadi. Salah satu yang sempat bikin Chi gregetan adalah tentang seorang calon ibu muda yang wafat karena pre-eklamsia. Tapi kemudian diberitakan oleh salah satu media kalau calon ibu itu wafat karena memakai pemutih wajah sembarangan. Dan kalau ditelusuri, semua berawal dari salah satu komentar yang sok yakin banget kalau almarhumah wafat karena pakai pemutih wajah sembarangan hanya karena melihat foto yang diupload suami almarhumah saat sedang koma di rumah sakit. Hadeeeuuuhh ... -_-


Padahal ngecek foto itu gampang, lho. Segampang kita telusuri berita dengan memasukkan kata kunci. Lihat gambar di atas? Klik ikon kamera lalu upload foto yang mau dicek. Atau paste URLnya juga gak apa-apa. Nanti bisa dilihat, kok, apa foto di berita itu benar atau hoax. Pokoknya Google itu termasuk gudang informasi. Tapi harus hati-hati, gak semua informasi langsung dipercaya. Biasakan untuk memfilter, lah.

Seperti beberapa waktu lalu saat kejadian kebakaran hutan di Sumatera. Okelah kita sama-sama prihatin. Seharusnya ada yang bertanggung jawab dan jangan sampai kebakaran hutan terus terjadi. Tapi juga jangan sampai percaya dengan berita hoax. Chi pernah cek salah satu foto, gak taunya itu foto kebakaran hutan di negara lain yang sudah terjadi sekian tahun silam. Sekarang ini pun semakin banyak netizen yang utak-atik foto seolah-olah kejadian tersebut benar-benar terjadi. Hati-hati, ya, jangan langsung percaya.

Susah juga menduga-duga apa tujuan dari berita yang dishare setengah-setengah atau malah hoax. Dian Pratama, jelas mengakui kalau dia sedang melakukan social eksperiment. Dan, memang terbukti, kan? Banyak netizen yang cuma sekadar lihat gambar atau baca sepotong tapi langsung share bahkan sambil mencak-mencak. Atau malah ada juga kita yang secara sadar/tidak membuat caption yang gak sesuai dengan berita. Hanya karena kita gak suka aja dengan berita tersebut. Kalau kayak begini termasuk pembohongan publik juga kayaknya walaupun kesannya sepele. Ayolah, kita gak perlu melakukan itu hanya supaya orang lain sependapat dengan kita.

Memang ada juga membuat berita heboh dengan tujuan tertentu. Contohnya kalau ada fanpage selalu bikin berbagai status viral yang mengundang emosi. Kabarnya, setelah fanpage tersebut jadi banyak yang like dan comment, fungsinya langsung berubah. Bisa jadi toko online atau fanpage artis pendatang baru. Entah benar atau tidak, tapi sesuatu yang berpotensi memancing emosi manusia memang paling cepat menyebar, deh. Paling mengundang perhatian.

Dan jangan lupakan, ketika ada 2 pihak yang berpro-kontra, biasanya suka ada pihak ketiga yang ingin mengompori suasana. Biasanya sadar atau tidak yang gampang share secara emosi adalah yang paling dimanfaatkan ;)

Hati boleh panas, Chi pun masih suka begitu kalau baca berita yang gak disuka. Tapi, berusaha untuk gak share atau beropini saat masih emosi tinggi. Mungkin ada kalanya ini jari-jari harus diplester. Pengalaman pribadi Chi yang beberapa kali tangannya alergi. Ketika diplester, mau internetan di hape susah, uy! Hehehe ... Atau cukuplah kita minum kopi dulu sejenak buat menenangkan pikiran. Atau terserah aja mau ngapain yang penting jangan ngegampangin share. Ada kalanya perlu sedikit ribet karena menelusuri satu per satu asal berita. Tapi daripada salah? Ketauan banget, kan, jadinya kalau kita termasuk orang yang gampang terpengaruh. Akan ada banyak mata yang menilai dirimu. Seperti apa teman-teman mau dikenal oleh lingkungan sekitar? :)

Ketika masih kecil, orang tua ingin anak-anak bisa membaca. Terlepas dari berbagai pendapat kapan tepatnya anak sudah boleh diajarkan membaca. Tapi dengan apa yang terjadi sekarang, rasanya bisa membaca saja belum cukup.

Yakin kalau anak sudah paham dengan isi buku cerita yang dibaca? Jangan-jangan hanya sekadar membaca. Sepertinya membaca hingga tuntas harus dibiasakan. Dan seringkali pula Chi membahas buku yang sedang atau sudah dibaca oleh Keke dan Nai. Biar tau bagaimana pendapat mereka tentang buku yang dibaca. Apalagi Keke dan Nai, kan, anak generasi digital. Chi sedikitpun gak berharap mereka akan menjadi anak-anak yang ngegampangin share tanpa dibaca. Semoga itu gak terjadi. Aamiin.

Continue Reading
48 komentar
Share:

Minggu, 21 Februari 2016

9 Barang Kebutuhan Bayi yang Dimiliki tapi Jarang Dipakai

Baju bayi, celana bayi, kaos dalem, kaos kaki, ... Ketika hamil anak pertama, Chi semangat banget membuat daftar barang kebutuhan bayi. Sedikit demi sedikit, Chi dan K'Aie mulai membeli barang-barang tersebut di toko grosir khusus bayi dan anak. Dulu belum biasa beli di toko online. Internetan aja masih jarang banget :D

Ternyata, setelah Keke lahir, gak semua barang yang kami beli dipakai secara rutin. Ada yang jarang bahkan ada yang akhirnya gak dipakai sama sekali. Barang-barang tersebut adalah ...

Gurita

Sebetulnya dulu kami gak tau manfaat gurita bayi untuk apa. Pokoknya disaranin untuk punya gurita, kami menurut aja. Setelah Keke lahir, rumah sakit tidak menyarankan bayi dipakaikan gurita. Alasannya, organ bayi masih bertumbuh kembang. Apabila pemakaian gurita terlalu kencang, tentunya akan menghambat tumbuh kembang bayi terutama di bagian dada dan perut. Ya, udahlah daripada kekencengan, kami memilih untuk tidak memakaikan gurita ke anak-anak.

Popok Kain

Benda yang sangat singkat dipakai. Begitu tali pusar copot, langsung pakai celana pendek.

Kaos Dalem
Awalnya sempat ada pertentangan. Chi pengen pakaikan anak-anak kaos dalem sebelum pakai baju lainnya. Malah Chi kasih minyak telon dulu. Tapi, K'Aie gak suka. Alasannya Bekasi itu gerah. Kasihan ngelihat anak udah diasih minyak telon, pakai kaos dalem, trus ditutup lagi dengan kaos lain. Kata K'Aie pakai kaos lengan pendek aja udah cukup. Yang penting, abis mandi dipastikan badannya kering trus kasih AS. Karena kelaparan juga bisa bikin anak kedinginan. Chi sempet ragu karena khawatir Keke dan Nai jadi masuk angin tapi tetep nurut hehehe. Dan ternyata bener apa kata K'Aie. Alhamdulillah, Keke dan Nai baik-baik aja. Walaupun tanpa pakai kaos dalem dan minyak telon. *Minyak telonnya dipakai saat mereka sakit aja*

Bedong

Sama seperti gurita, bedong juga termasuk yang gak dianjurkan. K'Aie pun merasa gerah lihat anak dibedong. Udah gitu, Keke dan Nai juga kayak gak betah dibedong. Pasti gak mau diem padahal gak kenceng bedongannya. Jadi kain bedong juga gak dipakai. Dijadiin buat alas tidur aja, setelah dibawahnya dikasih perlak supaya gak langsung tembus ke kasur kalau mereka ngompol.

Sarung Tangan dan Sarung Kaki

Udah beli tapi juga gak pernah dipakai. Lagi-lagi karena alasan gerah melihatnya. Kekhawatiran kalau wajah mereka sampai luka karena garuk-garuk karena kuku panjang itu tidak terjadi. Karena kami rutin menggunting kuku anak.

Tempat Tidur Bayi

Kami gak kepikiran buat beli tempat tidur bayi. Gak ada uangnya hahaha. Tapi papah saya membelikan cucu pertamanya itu perlengkapan tidur termasuk box bayi. Kenyataannya, box itu sangat jarang dipakai tidur Keke atau Nai saat mereka bayi. Karena Chi kasih mereka ASI, kayaknya lebih praktis mereka tidur satu kasur dengan bundanya. Kapanpun mereka lapar, Chi tinggal kasih ASI tanpa harus memindahkan anak-anak dari boxnya. Akhirnya itu box lebih berfungsi untuk tempat menyimpan pakaian anak-anak karena ketika bayi, Chi tidak pernah menyimpan pakaian mereka di lemari. Di simpan di tempat terbuka aja yang penting pastikan gak berdebu.

Stroller dan Gendongan Bayi

Ini juga kami gak kepikiran untuk beli. Lagi-lagi karena gak ada uangnya wkwkwk. Trus, ada yang kasih stroller ukuran besar. Bagus, sih, tapi jarang banget dipakai karena kami merasa kurang praktis. Agak ribet dimasukkin ke mobil kami. Kemudian, orang tua saya beliin stroller yang kecil. Lumayan sering dipakai karena lebih praktis. Tapi mau stroller apapun, paling dipakainya kalau anak-anak tidur. Mereka jarang mau pakai stroller kalau lagi bangun, biasanya suka rewel. Gendongan bayi juga rada jarang dipakai. Chi gak suka pakai gendongan bayi, lebih suka gendong biasa aja.

Dot Bayi

Kami gak beli dot bayi karena niatannya mau kasih ASI. Ketika Keke dan Nai lahir, hadiah terbanyak yang kami terima adalah dot bayi. Dot memang sempat kami pakai, tepatnya botolnya. Waktu itu Keke sempat dirawat karena bilirubinnya di atas angka normal. Karena saya jadi gak bisa kasih ASI langsung, akhirnya di pompa dan ASInya disimpan di dot untuk diserahkan ke rumah sakit supaya diminum Keke. Setelah itu, gak pernah pakai dot lagi.

Bantal, Guling, dan Selimut Bayi

Ketika bayi, Keke dan Nai gak pernah pakai bantal, guling, dan selimut bayi saat tidur. Beberapa artikel yang Chi baca juga tidak menyarankan bayi diberi bantal. Tapi dulu Chi belum tau tentang anjuran itu. Kalaupun gak memberikan bantal cuma dengan alasan kayaknya gak enak dilihat aja. Kesannya gak nyaman bayi tidur pakai bantal. Beda dengan orang dewasa kalau gak ada bantal kayaknya malah bikin gak bisa tidur. Ketika bayi Chi biarin aja Keke dan Nai tidur tanpa bantal, guling, bahkan selimut.

Itu adalah 9 barang kebutuhan bayi yang dimiliki tapi jarang dipakai oleh kami. Belum tentu sama di setiap keluarga karena kebutuhannya pasti berbeda-beda. Kalau teman-teman, kebutuhan bayi apa saja yang jarang dipakai? :)

Continue Reading
32 komentar
Share:

Rabu, 17 Februari 2016

Through The Years

 

Through the years
Through all the good and bad
I knew how much we had
I've always been so glad
To be with you
Through the years
It's better everyday
You've kissed my tears away
As long as it's okay
I'll stay with you
Through the years

Sepenggal lirik lagu "Through The Years" - Kenny Rogers. Salah satu lagu yang Chi suka. Gak ada bosannya dengar lagu ini. Apalagi suara Kenny Roger yang berat, pas banget sama lagu ini. *peluk-peluk guling, dengerin pas lagi hujan hehehe*

Ceritanya lagi pengen ngomong tentang pernikahan, nih ... Apa ajalah yang penting tentang pernikahan. Bahasan ringan-ringan aja ... Soalnya nulisnya udah menjelang tengah malam. *Ngantuk hehehe ...*
Minggu lalu, 14 Februari 2016, Chi diundang untuk menonton live prformance Marcell Siahaan. Ini juga salah satu penyanyi favorit Chi. Salah satu penyanyi terbaik di Indonesia. Lagu-lagu dan suaranya keren. Tapi, Chi bukan mau ceritain tentang Marcellnya. 

Chi mau cerita tentang game sebelum Marcell tampil. Jadi ceritanya ada 3 pasangan yang diajak game sama MCnya. Ketiga pasangan ini udah menikah. Kalau gak salah, maisng-masing sudah menikah selama 5, 8, dan 11 tahun.

Game sederhana dan sering juga Chi lihat game seperti ini. Game tentang mencocokkan jawaban pasangan. Klop atau enggak jawabannya sama pasangan. Dari beberapa pertanyaan, ada 2 pertanyaan yang bikin Chi ngikik ketika mendengar jawaban dari salah satu pasangan. Kedua pertanyaan itu adalah
  1. Siapa yang paling boros?
  2. Siapa yang paling gampang marah?
 
Salah satu pasangan kompak menjawab kalau yang paling boros adalah istri. Dan untuk yang paling gampang marah, meeka juga kompak kalau jawabannya adalah suami. Pas ditanya alasannya sama MC, si istri menjawab kalau namanya perempuan memang suka belanja. Sedangkan suami menjawab kalau dia gampang marah karena hobi belanja istrinya hahaha.

Entah mereka menjawab jujur atau tidak karena menjawabnya juga smabil ketawa-tawa. Tapi kalau memang benar, berarti suaminya belum paham kalau pernikahan itu ibarat WORKSHOP. Suami yang WORK, istri yang SHOP hehehe *Langsung dipelototin sama banyak suami, takut istri-istrinya jadi terkompori :p*

Kalau bicara tentang pernikahan, memang gak bisa selalu dapat cerita yang manis aja, sih. Kadang ada juga yang asin, asem, dan pahit. Tapi, coba dinikmati aja, lah. Selama masih bisa dinikmati :)

Etapi tapi tumben, nih, Chi ngomongin pernikahan? Biasanya cerita tentang Keke dan Nai terus? Cuma pengen ngobrol aja karena bulan Februari, kan, bulan cinta. Bukan karena valentine karena kami tidak merayakan. Tapi, bulan Februari, tepatnya tanggal 8 Februari adalah tanggal pernikahan Chi dan K'Aie.

Tahun ini adalah ulang tahun pernikahan yang ke-13. Kalau dihitung dari masa pacaran, berarti Chi sudah mengenal K'Aie 20 tahun lebih. Hmmm ... lama juga, ya. Alhamdulillah. Semoga masih ada tahun-tahun kebersamaan berikutnya. Aamiin :)


Through the years
When everything went wrong
Together we were strong
I know that I belonged
Right here with you
Through the years
I never had a doubt
We'd always work things out
I've learned what love's about
By loving you
Through the years

Continue Reading
10 komentar
Share:

Minggu, 14 Februari 2016

Kumpulan Celoteh Anak 3

Ternyata masih banyak kumpulan celoteh anak yang Chi tulis di FB dan belum ditulis di blog. Ini bagian ketiga.

26 Juni 2015

Nai tadi kepleset. Trus bilang kalau lututnya sakit karena kepleset.

Bunda: "Lain kali hati-hati, ya."
Nai: "Bunda, yang penting itu kita jangan kapok kalau sampe jatuh. Misalnya kalau jatuh dari ayunan jangan sampe bikin kapok main ayunan. Apalagi namanya anak kecil itu lagi banyak coba macem-macem."

*Malah jadi bundanya yang dinasehatin -_-*

31 Mei 2015
My mother buys a loaf of bread. The bread is divided into four children. Every children get ... loaf of bread. (write a fraction)

Nai: "Bunda, Ima bingung soal yang ini gimana cara nyelesainnya?"
Bunda: "Begini, dek. Bla.... bla... bla... Nah, hasilnya jadi setiap anak dapet 1/4. Mengerti?"
Nai: "Belum, Bun. Ima masih bingung."
Bunda: "Bingungnya dibagian mana? Rasanya soalnya gak terlalu sulit."
Nai: "Ima bingungnya itu, ibunya pake roti apa? Kok, Bunda gambar rotinya kotak? Emang yakin rotinya kotak?" *muka serius*

*Gubraaakk! Emang rumit cara berpikir anak saiah hahaha*

Keke: "Bunda, menentukan modus data itu gimana? Keke lupa lagi"
Nai: "Ke, modus itu kan seseorang yang kasih bantuan tapi ada maunya. Jadi, cari aja orangnya."

Nai, Keke lagi belajar math. Hadeuuuh ... *Tepok jidat :D*

Nai: "Bunda, belajar itu harus disesuaikan dengan berat badan. Ima badannya kecil, jadi dosis belajarnya jangan banyak-banyak."

*teori dari mana iniiiihhh? Hahaha*

26 Mei 2015

Nai: "Bunda, dihapus (uninstall) aja Pou nya. Ima mau main game lain."

Buat saya, itu terdengar seperti ucapan I Love You, Bunda

18 Mei 2015

Nai: "Bunda, mulai sekarang kalau mau taro foto Ima di blog untuk postingan lomba atau job review harus bayar. Tapi, kalau untuk cerita biasa gak usah bayar."
Bunda: "Bayar berapa?"
Nai: "Bayar pake cilok"

Waduh! Model blog saya udah mulai minta bayaran hahaha

Baca celoteh Nai yang tentang UKK, Chi jadi inget beberapa celotehnya saat belajar. Lupa, sih, tanggal berapanya karena gak Chi bikin juga statusnya. Tapi, belum terlalu lama juga kejadiannya. Cuma gitu, deh, kalau ngajarin Nai itu seringkali harus divisualisasikan. Dan kadang harus detil. Seperti satu cerita celoteh Nai di bawah ini ...

PR membuat poster

Bunda: "Udah selesai buat posternya, Nai? Coba Bunda lihat."

Nai membuat sebuah poster kecil di selembar kertas berukuan A4. Nai memilih tema lingkungan. "Jagalah Hutan Kita" adalah tulisan di poster itu.

Bunda: "Harusnya 'Jagalah Hutan Kami' bukan kita."
Nai: "Bedanya apa kami sama kita?"
Keke: Bedanya itu bla ... bla ... bla ..."
Nai: "Ima masih belum mengerti."
Bunda: "Jadi gini ... Misalnya Bunda ketemu sama orang Amerika. Kalian, kan, tinggal di negara berbeda yang masing-masing punya hutan. Kalau Bunda bilang Jagalah hutan kita' untuk mengajak orang Amerika itu menjaga hutan Indonesia, gak tepat. Karena orang Amerika itu, kan, udah punya sendiri. Sampe situ Ima udah mengerti, belum?"
Nai: "Belum."
Bunda: "Belumnya dimana?"
Nai: "Bunda ngomong sama orang Amerikanya itu pake bahasa Inggris apa Indonesia? Kok, orang Amerika itu ngerti 'Jagalah Hutan Kita'? Emang dia bisa bahasa Indonesia?"

*celupin kepala ke air es hehehe*

Continue Reading
8 komentar
Share:

Sabtu, 13 Februari 2016

Kumpulan Celoteh Anak 2

Bikin postingan tentang kumpulan celoteh anak lagi, ah. Sebagian celoteh anak ini udah pernah di publish di FB, ya.

12 Februari 2016

Di parkiran sekolah, nungguin Nai yang lagi kursus.

Bunda: "Jalan pulang macet banget, Ke. Karena hujan kali. Keke cepet gede, lah. Cepet 17 tahun, biar Keke yang nyetir kalau Bunda cape."
Keke: "Bunda mah aneh! Bunda beberapa kali bilang, 'Duh, anak Bunda cepet banget gedenya. Udah 11 tahun ajah. Padahal Bunda masih pengen lihat Keke jadi bayi.' Sebetulnya Bunda pengennya Keke cepet gede apa malah pengen Keke kecil terus, sih?"

*Bunda mendadak merasa labil hahaha*

Masih di tanggal 12 Februari, tapi kali ini dalam perjalanan pulang ...
Nai: "Ke, Ima punya cerita tadi di kelas. Dengerin, ya ..."
Keke: "Iya."
Nai: "Kekeee ... Kalau dengerin jangan begitu!"
Keke: "Lah, jangan begitu gimana?"
Nai: "Ekspresi muka pas lihat Ima jangan begitu."
Keke: "Keke biasa aja mukanya. Harus gimana, Nai?"
Nai: "Ya, pokoknya jangan begitu. Gini, deh, Keke sambil lihat HP aja. Tapi dengerin, yaaa ..."
Keke: "Iya .. iya ..."
Nai: "Kekeee ..."
Keke: Iya, Imaaa ..."
Nai: "Ima, kan, bilang Keke sambil lihat HP. Tapin jangan dimainin HPnya. Nanti Keke gak dengerin Ima cerita ..."
Keke: "Duuuhh! Ima serba salah, nih."
Nai: "Ya, bukan serba salah. Tapi Keke harus dengerin Ima cerita ..."
Keke: "Iya dari tadi juga Keke mau dnegerin. Tapi Ima bikin Keke serba salah. Bundaaaa ..."

Keke dan Nai saling berdebat. Tapi, gak sambil marah, kok. Mereka tetap ketawa-ketawa debatnya. Chi cuma ngikik sambil nyetir. Begitu Keke minta tolong ke bunda, tawa Chi langsung pecah.

Kalau dipikir-pikir, Chi sering begitu ke K'Aie. Ngelihat Keke dan Nai debat kayak gitu jadi bikin Chi ngaca juga hahaha. Makanya Chi ngikik trus akhirnya tertawa terbahak-bahak :D

10 September 2015

Bunda: "Akhir-akhir ini kepala Bunda sering sakit. Kenapa ya, Dek?"
Nai: "Mungkin karena Bunda udah mulai tua."

Yah Dek, to the point 'ma jleb bener jawabannya. *malah jadi tambah pening hihihi*

19 Agustus 2015 

Nai: "Bunda, kok pagi ini keliatan kayak balon?

Sebuah ucapan selamat pagi yang eheeemmm hahaha... *geragas ayam goreng*

1 Agustus 2015

Lagi ngobrol sama Nai tentang pengalaman jalan-jalan yang asik dan enggak. Trus, sampe ke pertanyaan ini...

Bunda: "Kalau gitu berikutnya mau jalan-jalan kemana lagi?"
Nai: "Ke Indomaret"
Bunda: "Yah itu sih dekat rumah juga banyak."
Nai: "Ke Indomaret di Kota Tua, Bun. Biar jalan-jalan. Pokoknya bikin tur Indomaret. Setiap kota yang didatengin, minimal nyamperin 2 Indomaret."

Kayaknya harus mulai lagi obrolan jalan-jalan yang asik dan enggak. Jangan-jangan jalan-jalannya asik asalkan ada Indomaret :D

[Silakan baca: Jalan-Jalan KeNai di Kota Tua]

12 Juli 2015

Bla... Bla... Mengucapkan selamat hari raya idul fitri *salah satu iklan di TV

Nai: "Hah? Idul fitri? Memangnya udah idul fitri?"

Iklan TV memang suka duluan, Nai. Di sini masih nunggu adzan berbuka puasa. Di TV udah lebaran

Continue Reading
10 komentar
Share:

Kamis, 11 Februari 2016

Menikmati Momen Kebersamaan dengan Keluarga

Lotte choco pie, best moment best bonding

Untuk keluarga modern, waktu untuk bersama keluarga, khususnya dengan anak-anak, mungkin sedikit. Tapi, bukan berarti gak bisa menikmati momen kebersamaan dengan keluarga. Mungkin yang diperlukan sebetulnya hanya tau triknya.

"Mama .. Mama ... ada snack, gak?"

Entah sudah berapa puluh kali atau bahkan ratusan kali mamah mertua menceritakan kesukaan K'Aie terhadap camilan. Kata mamah mertua, di rumah harus setiap hari ada camilan kalau gak ada pasti ditanya. K'Aie memang sejak kecil senang ngemil. Sampai sekarang pun masih harus selalu ada camilan. Nah, menurun ke anak-anak, terutama Nai.

Kalau Chi agak pemilih urusan camilan. Tapi jarang banget menolak coklat. Karena suka banget sama coklat. Camilan yang mengandung coklat juga suka banget. Nah, ada salah satu camilan yang Chi suka banget, nih, yaitu Lotte Choco Pie. Teman-teman suka juga sama LOTTE Choco Pie? LOTTE Choco Pie sudah menjadi salah satu camilan favorit kami sekeluarga. lho.

Peluncuran LOTTE Choco Pie dengan Rasa yang Premium


Kamis, 4 Februari 2016, bertempat di Gran Mahakam, Jakarta, saya dan beberapa blogger lainnya diundang oleh Mommies Daily untuk hadir di acara media gathering LOTTE Choco Pie dalam rangka peluncuran tampilan terbarunya. Saya antusias untuk hadir di acara ini. Karena LOTTE Choco Pie sudah menjadi salah satu camilan favorit kami sekeluarga.

Lotte choco pie, best moment best bonding
Menurut Mr. Hiroaki Ishiguro, President Director LOTTE Indonesia, Choco Pie sudah hadi sejak tahun 1983 di Jepang dan langsung laris dipasaran. Dan mulai masuk pasar Indonesia pada tahun 2014. Sejak setahun terakhir, resep dan pasarnya semakin disempurnakan untuk pasar Indonesia. Kualitas ketat dilakukan oleh LOTTE Jepang dan Korea.

LOTTE Choco Pie yang terbaru vanilla cake yang terbuat dari berbagai bahan terbaik pilihan rasanya lebih lembut, marshmallownya berkualitas tinggi, serta dibalur dengan cokelat premium yang lezat. Rasanya tidak terlalu manis. Aroma vanilla dari LOTTE Choco Pie yang terbaru lebih berasa. Kemasan terbarunya pun lebih terlihat premium. Tapi, tenang aja, walaupun secara kualitas lebih premium, harganya masih mendekat kemasan lama, kok.

Bagi ibu-ibu di Jepang, mereka akan bahagia kalau anaknya bahagia. Menyediakan Choco Pie di rumah adalah sebuah kebahagian yang dipersembahkan bagi ibu untuk anaknya. Karena di sana, anak-anak akan bahagia dan bangga kalau bisa menyuguhkan Choco Pie untuk temannya yang bermain ke rumah. LOTTE Choco Pie juga ingin keluarga Indonesia, khususnya ibu dan anak, memiliki momen kebersamaan. *Ngemil bareng bersama anak memang nikmat :)*

Lotte choco pie, best moment best bonding

Acara hari itu juga menghadirkan bincang-bincang antara Oci Citra Maharani (Brand Manager LOTTE Indonesia), Hanifa Ambadar (pendiri MommiesDaily), dan Maudy Koesnaedi (Brand Ambassador Lotte Choco Pie).

Maudy Koesnaedi mengawali bincang tentang kegiatan sehari-harinya dan juga kebersamaan bersama puteranya. Ada kalanya, di saat keduanya mempunyai kesibukan, Maudy menciptakan momen kebersamaan tersebut saat di kendaraan. Menurut Maudy, kadang perlu trik juga supaya putranya mau diajak bicara. Memberi camilan favorit bisa menjadi trik agar putranya mau bercerita.

Menurut Hanifa Ambadar, di forum MommiesDaily banyak ibu-ibu modern yang curhat kalau merasa tidak punya waktu yang cukup bersama keluarga. Survey yang sudah dilakukan hasilnya rata-rata ibu modern menghabiskan waktu bersama anak hanya 3 jam. Dalam 3 jam itu pun gak terus-menerus ngobrol bersama anak. Harapan memiliki waktu yang lebih fleksibel banyak didambakan oleh ibu-ibu modern.

Lotte choco pie, best moment best bonding

Dengan waktu yang minim, bukan berarti ibu gak bisa punya waktu berkualitas bersama anak. Tetap ada  beberapa cara yang bisa dilakukan ibu untuk menciptakan best bonding moment bersama anak.

  1. Jauhkan gadget saat sedang bersama anak agar bisa fokus bersama anak.
  2. Sediakan camilan. Kadang, anak kalau ditanya jawabnya suka singkat. Kalau belum waktu makan utama, coba kasih camilan, deh. Biasanya dengan adanya makanan atau camilan, suasana bisa lebih cair.
  3. Pancing anak supaya mau bercerita bukan sekadar menjawab singkat. Caranya adalah dengan mengubah pertanyaan. "Bagaimana di sekolah?" Kalau Keke dan Nai ditanya begitu, biasanya mereka akan menjawab, "Biasa aja", "Seru", atau "Ya, begitulah." Pokoknya irit jawabannya hehehe. Tapi kalau ditanya, "Tadi ada keseruan apa aja di sekolah?" Biasanya mereka akan bercerita dengan panjang.
 

Menikmati Momen Kebersamaan dengan Keluarga

Lotte choco pie, best moment best bonding

Maudy mengatakan kalau sejak kecil pola makan putranya cenderung tidak berubah. Makan utama 3x dan snack time 2x. Snack time yang pertama biasanya di sekolah. Karena di sekolah tidak ada yang jualan, biasanya putranya dibekali snack yang premium.

Samaan, deh, ma Keke dan Nai. *Ngaku-ngaku hehehe.* Tapi memang bener. Chi beberapa kali menulis di blog ini tentang bekal Keke dan Nai. Di sekolah mereka memang ada kantin. Memang bersih tapi jualannya begitu aja. Pola makan Keke dan Nai juga termasuk yang teratur sejak kecil. Makan utama 3x, di selanya ada snack time 2x.

Sore hari biasanya paling enak ngemil bareng ma anak-anak. Apalagi musim hujan begini. Biasanya kalau hujan turun dengan deras dan tanpa petir, trus kondisi badan sedang sehat, Keke dan Nai akan mandi hujan. Selesai mandi hujan, bergantian mandi air hangat. Chi pun menyiapkan minuman hangat (bisa susu atau teh) sama camilan. Beuugh! Teman-teman cobain, deh, sesekali kayak gitu. Nikmat banget. Nanti biasanya sambil ngemil saling cerita seru, tuh. Pokoknya rame! :D

Ngomong-ngomong, teman-teman punya cerita momen kebersamaan sama anak yang berkesan, gak? Atau upaya apa yang teman-teman lakukan supaya tetap ada kebersamaan dengan anak-anak. Cerita di sini, yuk! Jangan lupa camilannya, ya :)

Lotte choco pie, best moment best bonding 
Terima kasih banyak untuk undangannya, LOTTE Choco Pie dan MommiesDaily. LOTTE Choco Pie yang terbaru rasanya lebih enak *Padahal yang lama juga udah enak* :) 


LOTTE Choco Pie


Website: www.lotte.co.id

Fanpage: LOTTE Choco Pie Indonesia

Continue Reading
20 komentar
Share:

Rabu, 10 Februari 2016

Kumpulan Celoteh Anak

 
Sepertinya Chi udah lumayan lama gak posting tentang celoteh anak. Sekarang lebih senang menulis celoteh Keke dan Nai d FB. Kayaknya, sayang juga kalau kumpulan celoteh anak gak dipindahin ke blog.

6 Februari 2016

Keke: "Yaaa ... Keke lupa bawa sisir"

*Keke udah gede. Kemana-mana harus nyisir :D*

28 Januari 2016

Nai: "Bunda, tadi di sekolah ada arti peribahasa. Tapi jawaban Ima malah disalahin."
Bunda: "Emang peribahasa apa?"
Nai: "Apa arti bagai katak dalam tempurung? Ima jawab artinya ibu yang lagi hamil."
Bunda: "Ya iyalah, Dek. Pantesan aja disalahin."
Nai: "Bunda, katak di dalam tempurung berarti kataknya belum keluar. Ibu hamil, kan, juga gitu. Bayinya belum keluar. Masa salah?"

*Bundanya langsung cenat-cenut hahaha*

19 Januari 2016
Nai: "Bunda, nanti bakal ada pesantren kilat. Nginep 3 hari. Ima pesen ke Bunda, tolong urus Boo selama Ima pesantren, ya"

*Yang namanya bunda gak bisa istirahat sejenak dari yang namanya urus-mengurus, ya?*
*Boo itu semacam Pou*
*Nasib Bunda :p*

8 Januari 2016

Sepupu: "Ke, menurut kamu, lebih cantikan Raisa apa Isyana?"
Keke: "Raisa."
Sepupu: "Kok, Keke lebih memilih Raisa, sih?"
Keke: "Emang kenapa? Terserah Aku, dong."
Sepupu: "Iya, tapi Raisa, kan, lebih tua dari Isyana."
Keke: "Emang pertanyaannya cantikan mana atau tuaan mana, sih?"


Hehehe ... Bener, Ke. Lagian bukan berarti yang tua gak bisa kalah cantik sama yang lebih muda, kan?

11 Desember 2015

Nai: "Tadi soal UAS SKI ada yang susah. Tapi tetep aja Ima berusaha jawab."
Bunda: "Emang apa soalnya?"

Nai lalu kasih tau soalnya dan ternyata jawaban yang dia kasih salah. Saya pun mulai menegur karena merasa semalam Nai memang kurang belajar.

Nai: "Setidaknya Ima, kan, berusaha jawab, Bun. Daripada Ima kasih jawaban 'Jawabnya ada di ujung langit ...'"

*Jawabnya ada di ujung langit ... adalah  sepenggal lirik lagu Dragon Ball. Dan, dia jawabnya sambil nyanyi*
*Tepok jidat*

8 Desember 2015

Obrolan kemarin sore dengan anak-anak melalui telepon usai acara launching salah satu brand smartphone

Bunda: "Bunda pulangnya bareng ayah, ya. Karena kalau jam segini susah cari kendaraan umum. Tapi, ayah pulang cepet, kok."
Nai: "Iya, deh. Bunda udah makan belum?"
Bunda: "Belum. Ima mau bikinin buat Bunda?"
Nai: "Enggak. Cuma nanya."
Bunda: "Lagi pada ngapain, nih?"
Nai: "Abis selesai bikin mie kuah trus baru mau makan."
Bunda: "Waaa ... pasti rasanya enak banget, deh. Pada pinter masak, nih, anak Bunda."
Nai: "Biasa aja kali, Bun. Mie instant dari dulu kan rasanya begitu-gitu ajah."


*Pujian yang gagal

17 November 2015

Temen A: "Ke, kok jerawatnya lama ilangnya, sih?"
Keke: "Gw sih santai aja karena semua pasti ada hikmahnya. Kalau muka gw udah gak jerawatan nanti kegantengan gw balik. Kalau gw balik ganteng, ntar dikejar banyak cewek. Cape dong gw dikejar-kejar."

Duh, jawaban anak saiaaahh hahaha!

14 Oktober 2015

Di salah satu hypermarket

Bunda: "Nai, tolong ambilin tepung onde-onde, ya."
Nai: "Bunda mau bikin onde-onde? Kenapa pake tepung instant? Bikin sendiri aja, Bun. Rasanya pasti lebih enak. Lagian gampang bikinnya."

*Batal beli tepung onde-onde instant. Langsung mikir, sebetulnya yang generasi instant itu siapa? hehehe*

Cape juga menyusuri satu per satu status tentang celoteh anak. Kapan-kapan diterusin, deh.

Continue Reading
36 komentar
Share: