Rabu, 29 April 2015

5 Tips Supaya Anak Tidur dengan Tertib dan Nyenyak

5 Tips Supaya Anak Tidur dengan Tertib dan Nyenyak. Keke dan Nai itu kalau biasanya kalau tidur gak lebih dari pukul 9 malam. Chi memang melarang mereka untuk tidur larut malam kecuali kalau hari libur. Kalau lagi libur, bolehlah sedikit larut. Tapi karena memang udah terbiasa, tanpa Chi harus sering mengingatkan pun, biasanya menjelang pukul 9, Keke dan Nai udah ngantuk dan bersiap-siap untuk tidur.
Memang pernah ada masa dimana Keke dan Nai tidur sampe larut malam banget. Sekitar pukul 1-2 dinihari. Bangunnya sekitar pukul 10 pagi. Tapi, itu dulu waktu belum sekolah. Kira-kira, saat usia batita. Sekarang udah enggak, lagi.

1. Sedikit memaksa

Ih, emangnya boleh gitu memaksa anak? Kalau Chi sih iya *ups!*. Tapi, sedikiitt hehehe. Iya, jadi mereka itu mulai lebih cepat tidurnya saat Keke mulai masuk sekolah TK. Awalnya diminta tidur dengan cepat dengan alasan besok sekolah. Tapi, cara tersebut gak begitu berhasil. Mereka tetep aja tidur larut.

Selarut apapun mereka tidur, kalau udah sekolah tetep harus bangun pagi, dong. Tapi masalahnya kalau tidurnya terlalu larut, pasti dibanguninnya minta ampun rewelnya. Kalau udah rewel banget, terpaksa gak sekolah. Gak boleh dibiarkan terus seperti itu. Terus berusaha bangunin mereka pagi, lama-lama rewelnya hilang. Mereka mulai terbiasa bangun lebih pagi. Kalau Keke udah terbiasa tertib, Nai pun ikut tertib. Karena dia gak punya teman begadang lagi hehehe.

2. Dilarang tidur siang

Banyak yang bilang kalau anak itu harus tidur siang. Karena tidur siang, bagus buat tumbuh kembang anak. Mungkin iya. Tapi, Chi gak melakukannya. Karena setelah dilihat lagi, kalau Keke dan Nai tidur siang, malamnya pasti bakal larut banget tidurnya. Apa penyebabnya karena mereka kelamaan tidur siang? Enggak juga. Mau tidur siang cuma 30 menit pun, tidur malamnya pasti bakal larut banget.

Gimana kalau pas siang hari mereka ngantuk? Chi banyakin aktivitas yang menyenangkan buat mereka. Menggambar, main gadget, jalan-jalan ke taman di depan rumah, dan lain-lain. Pokoknya, bagaimana caranya supaya mereka gak pengen tidur siang. Kalaupun mereka menolak semua aktivitas yang Chi tawarkan dengan alasan terlalu mengantuk, Chi masih ada 1 aktivitas yang biasanya gak akan ditolak mereka, yaitu main air. Silakan mereka berlama-lama main air. Biasanya kalau udah main air, mereka jadi segar lagi dan gak pengen tidur hihihi. Cuma Chi gak sering-sering tawarin main air, abis sayang kalau keseringan buang-buang air dan sabun madi :D

Kalau sekarang sih mereka kadang suka tidur siang. Tapi karena udah mulai besar, mereka udah ngerti peraturannya. Boleh tidur siang, asalkan tidur malam gak boleh larut. Biasanya mereka udah bisa patuh sama aturan. Jadi, walopun tidur siang, malamnya tetap gak terlalu larut tidurnya.

Kalau anak kita lagi sakit gimana? Minum obat kan bikin ngantuk? Ya, kalau itu special case. Masa' dilarang tidur siang kalau keadaannya kayak gitu :)

3. Menjelang tidur, matikan lampu kamar dan nyalakan lampu belajar

5 Tip Supaya Anak Tidur dengan Tertib dan Nyenyak


Di kamar ada lampu belajar, tapi gak pernah dipake untuk belajar. Lampu belajar di kamar beralih fungsi jadi lampu tidur hihihi. Dulu, Chi selalu tidur dengan lampu yang gak pernah dimatikan. Setelah menikah, Chi menyesuaikan dengan kebiasaan K'Aie yang selalu mematikan lampu. K'Aie itu gak bisa tidur kalau lampu kamar masih terang. Seringkali dia menutup matanya dengan bantal kalau lampu kamar masih terang sedangkan dia sudah ingin tidur. Solusinya ya pake lampu belajar kalau sudah waktunya tidur. Itupun lampunya diarahkan ke tembok atau lantai supaya penerangan kamar remang-remang.

Pernah baca beberapa tulisan memang katanya kalau tidur sebaiknya lampu itu remang-remang. Jadi, aja sekarang kalau tidur, lampu utama dimatikan, lampu belajar dinyalakan. Dan, memang membantu, sih. Anak-anak tidurnya cepat dan nyenyak. Kalau lampu mulai dimatikan berarti saatnya tidur. Kalau pagi-pagi, Chi mulai menyalakan lampu utama, biasanya mereka langsung kelihatan bergerak. Kayak berasa kalau ada perubahan cahaya walopun mata mereka masih merem.

4. Minimalkan aktivitas

Kalau di tip nomor 2, Chi memaksimalkan aktivitas supaya mereka lupa dengan ngantuk dan keinginan untuk tidur siang. Kalau malam hari kebalikannya, Chi meminimalkan aktivitas. Kalau bisa, hindari deh aktivitas yang bikin mereka terlalu aktif, misalnya lari-larian atau loncat-loncatan. Kasih mereka aktivitas yang tenang seperti menggambar atau membaca buku.

Gadget atau nonton tv juga aktivitas yang bikin tenang. Tapi, bikin nyandu. Kalau gak di stop, mereka akan terus nonton sampe larut. Apalagi kalau dikasih gadget. Bisa makin larut lagi. Jadi biasanya, Chi akan mematikan tv kalau sudah waktunya tidur. Kalau gadget malah sebelum pukul 6 sore sudah harus brenti. Kalau sesekali mereka main gadget, boleh aja. Tapi, begitu waktunya tidur, semua harus dimatikan. Ouya, tempat tidur juga harus bersih menjelang tidur, ya. Segala krayon dan benda0benda aktivitas lainnya dirapikan dulu.

[Silakan baca: Redup atau Terang?]

5. Kebiasaan sebelum tidur

Keke dan Nai itu punya kebiasaan harus dipijitin dulu baru tidur. Kalau Keke biasanya punggungnya harus diusap-usap, sedangkan Nai telapak kakinya. Biasanya kalau udah dipijit-pijit atau diusap-usap, mereka bakal cepet tidurnya. Sampe sekarang pun mereka masih minta dipijitin sebelum tidur. Tapi, kalau hari libur, mereka selalu menolak dipijitin sama Chi. Kata mereka, pijitan ayah lebih enak hahaha.

[Silakan baca: 4 Tips Melatih Anak Disiplin Waktu]

Itu adalah 5 tip supaya Keke dan Nai mau tidur tertib dan nyenyak. Manfaat yang dirasakan kalau anak tidur tertib dan nyenyak serta tidak terlalu larut malam adalah mereka mendapatkan jumlah jam tidur yang cukup. Kalau jam tidur cukup, besok pagi mereka akan bangun dengan keadaan yang bugar. Kita bisa bayangkan atau rasakan sendiri, jam tidur yang kurang, cukup, atau terlalu banyak itu pasti rasanya beda ke badan. Efeknya, anak yang tidurnya cukup dan badannya bugar, biasanya akan membantu mereka untuk proses belajar. Jadi, yang namanya proses belajar itu gak selalu berarti duduk di meja dna menghadapi sejumlah pelajaran. Harus dilihat juga, anaknya tidur cukup dan nyenyak atau enggak. Kita aja kalau kurang tidur pasti bakal berasa lemot mikirnya. Iya, gak?

Teman-teman punya tips lain? Berbagi, yuk :)

Continue Reading
32 komentar
Share:

Senin, 27 April 2015

Untuk Ayah yang Luar Biasa - Manfaat Kedekatan Ayah dengan Anak

Bunda: “Yah, kenapa sih, Ayah dulu suka ikut mandiin anak-anak waktu mereka masih bayi?”Ayah: “Namanya juga ayahnya. Masa’ gak boleh mandiin?”
Bunda: “Iiihh, bukan gak boleh. Bunda malah seneng banget. Cuma kayaknya Bunda belum pernah sekalipun tanya kenapa.”
Ayah: “Ya, jawabannya itu tadi.”
Bunda: “Iya, sih. Cuma, bagi kebanyakan orang mungkin aja kurang umum kalau seorang ayah pake ikut terjun ngurusin anak. Apalagi mandiin anak-anak.”
Ayah: “Mungkin karena mereka gak tau caranya atau takut.”
Bunda: “Begitu, ya. Hmm… Bisa jadi, sih. Kok, Ayah tau caranya? Atau gak takut? Kan, Ayah juga waktu itu gak punya pengalaman ngurus anak?”
Ayah: “Tapi bisa dipelajari, kan?”
Bunda: “Iya, sih.”

Ketika Keke dan Nai masih bayi, yang selalu memandikan mereka setiap pagi memang ayahnya. Chi hanya bertugas menyiapkan segala kebutuhan perlengkapan mandi anak-anak. K’Aie bisa memandikan mereka setiap pagi karena jam kerjanya fleksibel. Setiap pagi, yang selalu K'Aie lakukan adalah menyuapi dan memandikan anak-anak, setelah itu baru berangkat ke kantor.

Tentu aja Chi seneng banget K’Aie mau terjun langsung mengurus anak-anak. Gak cuma sekedar memberi nafkah. Dan, saking senangnya, Chi sampe gak pernah bertanya kenapa K’Aie sampe mau ikut turun tangan langsung mengurus anak. Ah, maafkan Bunda yang gak pernah bertanya, ya, Yah ;)

Ngomong-ngomong tentang mandiin bayi, yang K’Aie lakukan gak cuma sekedar cibang-cibung trus selesai. Tapi dari mulai membuka baju, mandiin, hingga memakaikan baju, K’Aie selalu melakukan sambil mengajak Keke dan Nai ngobrol dan becanda. Gak heran kalau mereka selalu tertawa-tawa kalau lagi mandi. Sebelum mandi, dipijat sejenak supaya rileks. Setelah mandi dan dikeringkan badannya, kembali dipijat sejenak. Kalau udah beres hingga berpakaian, baru diserahin ke bundanya untuk disusui.

Waktu anak-anak bayi, setelah mandi dan di kasih ASI, suka langsung pada tidur. Enak kali, badan segar sehabis mandi, rilek setelah dijitin, trus perut kenyang. :)
Masuk usia batita, momen dimandikan sama ayah juga paling ditunggu sama Keke dan Nai. Karena cuma ayah yang berani bikin Keke dan Nai 'terbang' setelah mandi. Mereka anak ketawa-tawa kegirangan :D

Manfaat Bagi Seorang Anak Apabila Ayah yang Memandikan


19 Maret 2015, Chi hadir di acara re-launch produk Zwitsal Classical Baby Bath dan Zwitsal Classical Baby Shampoo. Acara yang diselenggarakan di hotel DOUBLETREE by Hilton Hotel, Jakarta Pusat, bertema "Suamiku, Ayah Luar Biasa." Menjelaskan tentang berbagai manfaat bagi seorang anak, apabila ayahnya ikut berperan aktif khususnya ketika memandikannya saat masih bayi. Menghadirkan 3 narasumber, yaitu Dr. Anne Garcia (Neuroscience Expert), Rika Sandi (Brand Manager Zwitsal, Indonesia), dan Dian Sastrowardoyo (Zwitsal Brand Ambassador).


Menurut Rika Sandi, Brand Manager Zwitsal Indonesia, kampanye “Suamiku, Ayah Luar Biasa” didasari dari hasil survey yang dilakukan oleh Zwitsal kepada para ibu. Berdasarkan hasil survey, 21% para ayah itu selalu membantu ibu dalam mengurus anak. Dari 21% tersebut, 60% para ayah berperan aktif cuma untuk menggendong anak saja. Hanya 9% ayah yang mau memanndikan anak. Padahal memandikan bayi adalah proses terkomplit untuk menstimulasi bayi.

40% ayah beralasan enggan memandikan bayi karena takut dan 29% karena tidak tau bagaimana cara memandikannya. Ketakutan para Ayah umumnya karena khawatir tangan kasarnya akan menyakiti bayi. Zwitsal classic baby bath dan sampoo menjawab kekhawatiran para ayah. Produk ini mempunyai formula ekstra lembut, PH Balance, bisa menjaga kelembaban alami kulit bayi, dan telah teruji hypo-alergenic. Jadi, para ayah gak perlu khawatir lagi akan menyakiti bayi. Ayah tetap bisa menghadirkan momen mandi ceria bersama si kecil.

Selama acara berlangsung, gak henti-hentinya Chi mengucap rasa syukur. Selama ini, Chi selalu berpikir kalau mandi hanyalah untuk menjaga kebersihan. Gak jadi masalah siapapun yang memandikan. Walopun Chi seneng banget kalau K'Aie mau bantuin memandikan anak-anak. Sesederhana itu yang Chi pikir dan rasakan.

Ternyata proses memandikan bayi tidak hanya sekedar untuk menjaga kebersihan. Ada manfaat besar yang bisa didapatkan oleh anak, terlebih apabila ayah mau memandikan. Makanya, Chi terus bersyukur sepanjang acaranya. Karena seandainya K’Aie gak pernah ikut aktif, mungkin ada sedikit rasa penyesalan ketika Chi ikut acara tersebut. Rasanya pengen anak-anak jadi bayi lagi dan meminta K’Aie memandikan mereka. Tapi, gak mungkin juga kita memutar waktu, kan?

Sudah atau sedang menjadi suami siaga? Suami siaga adalah para (calon) ayah yang selalu siaga menemani dan menjaga istrinya saat hamil hingga melahirkan. Trus, sesudah istri melahirkan, selesaikah peran suami menjadi suami siaga? Sebaiknya jangan, ya. Ayah juga sebaiknya turut serta berperan aktif dalam pengasuhan ana dengan kata lain menjadi Ayah Siaga.

Tapi, bukankah seorang ayah kewajibannya bekerja mencari nafkah? Cape dong kalau harus ikut aktif mengurus anak juga.

Iya, benar kalau kepala rumah tangga memang berkewajiban mencari nafkah. Tapi, ayah yang ikut berperan aktif dalam pengasuhan anak itu manfaatnya sangat besar bagi tumbuh kembang anak, lho. Bahkan untuk masa depan si anak kelak.

“Kita tidak bisa hanya menunggu output akhir. Kalau mau anak kita menjadi anak cerdas, anak pintar, anak santun, anak hebat, itu semua output,” tandas Dr. Anne Garcia, Neuroscience Expert. Zaman sekarang ini banyak orang tua instan yang selalu ingin tau hasilnya terlebih dahulu. Padahal semuanya butuh proses. Ketika kita berharap anak bisa berkomunikasi baik dengan orang tua saja butuh proses karena gak mungkin juga dari lahir anak bisa langsung berbicara seperti layaknya orang yang sudah lancar berbicara.

Ada yang namanya priramida kematangan saraf dan fungsi otak. Sebaiknya memang dibentuk sejak bayi dalam kandungan. Tapi, anggap aja pembaca blog ini para suaminya adala tipe ayah siaga semua *Semoga begitu, ya*. Jadi, sekarang kita fokuskan sejak bayi dilahirkan.


Kalau melihat Pyramid of Learning di foto atas, seringkali orang tua hanya ingin lamgsung melihat ujung puncak dari kematangan anak manusia. Orang tua ingin mengejar dan menargetkan supaya anak mempunyai kecerdasan emosi dan kognitif (ada di puncak pyramid), padahal di bagian dasar ada 7 dasar kecerdasan yang kadang luput dari perhatian. Ketujuh dasar kecerdasan yang harus dimulai sejak bayi lahir adalah sebagai berikut:

1. Taktil

Taktil berarti elusan, rabaan, dan segala kegiatan yang berkaitan dengan indera peraba. Umumnya orang berpikir kalau urusan sentuhan kepada anak adalah urusan ibu. Karena ibu sudah dianggap dengan sosok yang penuh kelembutan.

“Berdasarkan pengalaman saya, laki-laki takut menyentuh anaknya mungkin karena takut kekerasan karena merasa lebih kuat. Sedangkan ibu lebih lembut. Sedangkan yang dihadapi adalah anak yang masih butuh kelembutan.” Begitu pengakuan Irgy Fahrezy, moderator acara tersebut, berdasarkan pengalaman pribadinya.

Menurut Dr. Anne, proses terpenting dari bayi yang baru dilahirkan adalah identifikasi. Anak harus belajar identifikasi yang lengkap dan utuh. Anak belajar kelembutan dari ibu. Sedangkan dari sentuhan ayah, anak belajar ketegasan bukan kekerasan.

Banyak ayah yang khawatir ketika menyentuh bayi dan kemudian bayinya menangis. Para ayah merasa tangannya yang kasar sudah menyakiti bayinya. Padahal tangisan bayi tersebut bukan karena merasa disakiti, lho. Bayi mungkin saja kaget dengan sentuhan yang berbeda lalu menangis. Tapi tangisan tersebut juga bisa sebagai ungkapan ‘I love you’ kepada ayah. Karena berkat sentuhan tangan ayah yang tegaslah yang membuat seorang anak merasa memiliki seorang pelindung.

2. Propioseptif

Propioseptif adalah gerak antar sendi. Persyarafan manusia tidak hanya di permukaan kulit, tapi juga ada di persendian. Persyarafan di sendi yang berhubungan dengan kendali otak juga harus mendapatkan stimulasi.

Ayah suka memijat bayi? Umumnya pijatan ayah itu tekanannya lebih mantap dari ibu. Dan disadari atau tidak, seorang ayah cenderung memijat dibagian persendian. Coba, deh, para istri perhatikan kalau suaminya menyentuh. Biasanya akan menggandeng istrinya di pergelangan tangan, siku, atau bahu pasangannya. Begitu juga ketika ayah memijat bayi, cenderung di area persendian.

Manfaat terbesar yang akan dirasakan ketika bayi dilakukan pemijatan di area persendian, kelak akan membantunya melakukan berbagai kegiatan di bagian persendian, misalnya menulis. Dengan stimulus tersebut, otak anak akan mempunyai persiapan mengendalikan tubuhnya untuk mengenali setiap area persendian.

Kalau kita ingin punya anak yang pintar menulis (begitu juga dengan kecerdasan membaca), cikal bakalnya adalah stimulai di bagian persendian. Pintar menulis jangan langsung diartikan kelak si anak harus menjadi seorang jurnalis atau penulis novel, ya. Tapi, setiap manusia memang harus bisa menulis, kan? Ketika masuk sekolah saja anak sudah belajar menulis. Kecerdasan menulis nantinya akan terhubung juga dengan berbagai kecerdasan lainnya.

3. Vestibular

Vestibular adalah keseimbangan dan letaknya di balik telinga. Keseimbangan di daerah telinga berhubungan dengan pendengaran. Seperti halnya stimulus taktil, anak juga harus mendengarkan frekuensi suara yang komplit. Suara ibu yang lembut tapi cenderung tinggi kalau sedang tegang. Brbeda dengan dengan suara ayah yang berat dan membuat nyaman.

“Ah, saya selalu lemah lembut ke anak, kok”

Yakin kalau kita (para ibu) selalu lemah lembut ke anak? Karena umumnya, selembut-lembutnya seorang ibu, suaranya cenderung meninggi ketika sedang tegang dan lelah. Suara ibu yang meninggi ketika sedang tegang itu sangat tidak ramah untuk pendengaran anak.

Kenapa suara yang meninggi sangat tidak ramah terhadap pendengaran? Karena pada pendengaran ada area dimana rumah siput di belakang gendang telinga akan menangkap frekuensi yang lebih rendah dan juga lebih tinggi. Untuk bayi dan anak, apabila mendengar suara yang menentramkan, rumah siputnya akan melingkar yang menandakan telinganya rileks. Sedangkan bila mendengar suara yang meninggi rumah siput akan agak terbuka. Rumah siput yang terbuka menandakan otot dan pembuluh darah di sekitar area telinga sedang tegang dan membutuhkan kerja yang ekstra keras. Itulah kenapa anak butuh mendengar frekuensi suara yang seimbang. Agar dia merasa hidupnya nyaman.

Hmm… pantesan aja kalau Chi sedang ngomel, anak-anak seperti kurang mendengarkan. Mereka lebih nurut kalau ayahnya yang udah kasih nasehat. Makanya, Chi sekarang kalau lagi cape banget, suka meminta K’Aie yang nasehatin anak-anak.

4. Auditori

Pijat sehat Zwitsal

Auditori atau pendengaran berhubungan dengan vestibular. Pernah gak kita perhatiin kalau sekarang ini banyak anak yang cenderung aktif sekali? Menghadapi anak yang sangat aktif, ternyata solusinya bukanlah dengan cara mengkerangkeng alias membatasi gerak mereka. Anak menjadi sangat aktif karena memiliki gangguan keseimbangan di pendengaran akibat dari terlalu sering mendengarkan suara dengan frekuensi tinggi atau hanya 1 macam frekuensi. Solusinya adalah melakukan pijatan di daerah wajah dan telinga. Dan tentu saja mulai melakukan komunikasi yang seimbang.

5. Olfaktori

Olfaktori adalah penciuman. Pada dasarnya ada 3 kelengkapan dasar cara anak mengidentifikasi orang tua, yaitu sentuhan, suara, dan penciuman (bau tubuh ayah atau ibu). Sentuhan, suara, serta bau dari ibu atau ayah akan berbeda. Penting sekali bagi anak untuk merasakan perbedaan. Apabila anak mendapatkan 3 identifikasi dasar tersebut secara komplit sejak dini, maka hal tersebut akan menjadi bekal bagi anak untuk mencapai kecerdasan majemuk. Dan antara satu kecerdasan dengan kecerdasan lainnya sangat berhubungan seperti jaring laba-laba.


Masih ada 2 lagi dasar kecerdasan yang harus distimulasi, yaitu pengecapan (anak mengenal segala rasa yang masuk ke dalam mulut) dan visual (anak bisa distimulai dengan cara melihat kekompakan yang terjadi antara ayah dan ibu). 5 dari 7 kecerdasan dasar menuntut ayah untuk berperan aktif dalam memberikan stimulasi.

[Silakan baca: Anak Ayah]

Cara Dian Sastrowardoyo menantang suaminya memandikan bayi



Udah pada tau dong sama Dian Sastrowardoyo? Artis cantik yang sudah memiliki 2 anak ini juga menjadi Brand Ambassador dari Zwitsal. Dibalik kesibukannya, untuk urusan pengasuhan anak, Dian dibantu oleh asisten.

“Tapi, kalau bikin PR, tidur, sama mandi sore itu biasanya sama Aku. Jadi, ada balance gitu, deh,” ujar Dian Sastrowardoyo.

Walopun dibantu seorang asisten/suster, personal assistant yang terbaik tentu saja seorang suami. Dian memaklumi kesibukan suaminya bekerja. Tapi, ketika weekend tiba, dia meminta suaminya dengan cara memberikan tantangan untuk memandikan putra dan putri mereka saat masih bayi.

Suaminya menyanggupi tantangan tersebut. Setelah semua perlengkapan mandi disiapkan oleh Dian, suaminya tinggal memandikan. Ketika suaminya sedang memandikan anak-anak, Dian selalu berada di samping untuk meng-guide dan juga menenangkan apabila suaminya mulai terlihat agak panik saat memandikan bayi.

Menurut Dr. Anne, apa yang dilakukan oleh Dian dan suaminya itu akan terekam di memori anak-anak mereka. Anak mendapatkan stimulasi taktil dari ayah melalui sentuhan saat memandikan. Anak distimulai visualnya ketika melihat bagaimana ekspresi ayah dan ibunya saat bekerja sama. Anak juga mendapatkan stimulasi auditori dengan cara mendengarkan komunikasi antara ayah dan ibunya saat bekerja sama. Hal tersebut akan menjadi bekal dasar bagi anak dalam hal berkomunikasi. Walopun kedepannya nanti akan ada pengaruh komunikasi dari luar, tapi utamanya pendidikan dasar berkomunikasi adalah dari rumah. Dian Sastro pun mengakui kalau sejak suaminya mau ikut berperan aktif mengurus anak-anak, putra dan putri mereka menjadi lebih koperatif.

Dari cerita Dian, terlihat kalau suaminya masih perlu dibimbing ketika memandikan bayi. Lalu, bagaimana dengan para ayah yang sudah berani memandikan bayi sendiri? Apakah akan memberikan manfaat yang sama?

Pada dasarnya, anak itu butuh pembeda. Sentuhan seorang ayah yang menggunakan otot lebih ke dalam bentuk menekan. Sedangkan sentuhan seorang ibu itu umumnya berupa sentuhan seperti mengelus. Bagaimana cara ayah dan ibu memegang bayi juga terasa berbeda. Tapi, masalah yang mungkin terjadi adalah dalam hal berkomunikasi. Biasanya para ayah suka mati gaya kalau harus berkomunikasi dengan bayi. Nah, usahakan deh mulai sekarang belajar berkomunikasi dengan bayi walopun bayi belum bisa membalas obrolan ayah. Tapi, bayi akan belajar bagaimana suara dan intonasi ayah ketika berbicara dengannya itu berbeda dengan ibu. Bayi akan merasakan sensasi yang berbeda.

Berbicara lagi tentang sentuhan, ketika bayi/anak sudah bisa merasakan perbedaan antara tekanan dan elusan maka susunan syaraf yang tadinya maish tidur bisa terbangunkan. Tubuh manusia mempunyai beberapa model syaraf yang berbeda, yaitu untuk temperature, tekanan, getaran, dan ulasan. Maka, perlu dibutuhkan perbedaan bentuk pijatan dan gerakan memijat.

Merasakan rasa pijatan yang berbeda antara ayah dan ibu, akan bermanfaat untuk masa depan. Anak perempuan yang tidak pernah merasakan sentuhan ayah ketika masih bayi, cenderung tidak bisa membedakan pegangan dari pria atau wanita. Anak sulit membedakan mana sentuhan dari orang tredekat atau yang sembarangan. Karena anak yang mendapatkan sentuhan komplit sejak bayi akan mengerti mana sentuhan yang berbentuk kasih sayang dan perlindungan dengan yang tidak. Dari sentuhan ibu, anak belajar kelembutan. Sedangkan dari sentuhan ayah, anak belajar ketegasan. Sehingga, di masa depannya nanti dia akan lebih bisa bersikap terhadap orang lain yang ingin menyentuhnya. Jadi, untuk para ayah, yuk mulai peduli untuk lebih dekat dengan anak-anaknya sejak mereka dilahirkan.

Pada sesi tanya jawab, Mbak Ani Berta bertanya tentang bagaimana apabila anak tidak mengenali sosok ayah sejak lahir. Menurut Dr. Anne, ada beberapa special case dimana mungkin saja anak tidak berkesempatan mengenali sosok ayah sejak lahir dengan berbagai alasan. Kalau keadaannya seperti itu, anak tetap harus mengenali sebuah perbedaan. Caranya adalah dengan meminta sosok laki-laki lain, seperti kakek atau pamannya untuk ikut berperan aktif.

Tuntutan bagi seorang ayah untuk ikut berperan aktif dalam hal pola asuh bukan berarti para istri tidak mengerti kesibukan ayah dalam hal mencari nafkah. Berperan aktif tidak harus dilakukan setiap hari, kok. Tapi, bisa dilakukan di saat sengang, misalnya weekend. Bagi anak, yang terpenting adalah kualitas. Walopun ayah hanya bisa mengurusnya saat libur kerja, asalkan dilakukan dengan berkualitas itu akan besar manfaatnya bagi anak.


Seusai acara, Chi menyempatkan untuk melakukan tanya-jawab lebih lanjut kepada Dr. Anne. Anak-anak sekarang umumnya sangat aktif yang bisa bikin pusing mengasuhnya. Penyebabnya adalah karena kurangnya keseimbangan pola asuh ayah dan ibu. Tapi, bagaimana dengan ayah yang sudah mau berperan aktif saat weekend, sedangkan di hari lainnya peran ibu tetap terasa lebih dominan dan (sayangnya) banyak berteriak? Setidaknya, ayah yan berperan aktif sudah ikut ‘mewarnai’ dalam perkembangan anak. Nanti pelan-pelan, frekuensi tinggi suara ibu juga mulai dikurangi.

Anak yang tidak mendapatkan pengasuhan lengkap, memang cenderung sangat aktif. Tapi, ada juga anak yang menjadi sangat pendiam walopun kemungkinannya lebih kecil. Pendiamnya anak yang kurang/tidak mendapatkan pengasuhan lengkap itu diam nya buka karena tenang. Tapi diam yang seperti menarik diri dari lingkungan. Dia karena takut dengan lingkungan sekitarnya.

Yuk! Para Ayah mulai lebih dekat lagi dengan anak-anaknya. Untuk para ibu, mulai kurangi deh ngomel-ngomelnya, ya. Apalagi masa emas kedekatan anak dengan orang tua di zaman sekarang ini lebih singkat dibandingkan zaman dulu. Kalau dulu, anak bisa dekat dengan orang tua umumnya hingga anak berusia 5 tahun. Tapi, kalau zaman sekarang, umumnya paling lama itu 2 tahun. Karena setelah itu, anak akan banyak berhubungan denga n orang lain. Akan mulai lebih banyak bersosialisasi. Banyak anak-anak zaman sekarang yang sudah mulai sekolah sedini mungkin. Jadi, waktu singkat yang ‘hanya’ 2 tahun tersebut, sayang banget kalau sampe disia-siakan. Selama 2 tahun pertama, dekatlah dengan anak semaksimal mungkin. Tapi, bukan berarti setelah lewat 2 tahun trus gak lagi dekat dengan anak, lho :D

Oiya, membacakan dongeng juga bagus banget buat anak. Apalagi buat anak yang gayanya auditori. Kalau sudah lebih besar, bacakan juga buku pelajaran. Sesekali gantian sama ayahnya, jangan ibu terus. Biar anaknya yang merasakan perbedaan. *Hmmm… Keke banget ini sih gaya auditori. Tapi, untuk urusan bacain buku pelajaran kayaknya Chi belum pernah gentian sama K’Aie. Wajib dicoba, saran dari Dr. Anne :D*

Tantangan Sejuta Menit Zwitsal


Kalau udah baca tulisan Chi di atas, kira-kira para ayah mulai mau ikut berpartisipasi mengurus anak, gak? Ibu-ibunya berani gak nih, kalau ayah ikut aktif mengurus anak? Kalau keduanya jawab iya, ikut “Tantangan Sejuta Menit Ayah Luar Biasa” dari Zwitsal, yuk! Hadiahnya keren banget, lho., yaitu Paket produk Zwitsal selama 1 tahun untuk 3 orang pemenang dan voucher Bilna senilai Rp 500,000 untuk masing-masing pemenang.

Kalau kayak gitu, bisa bikin istri makin cinta gak, sih? Kalau Chi sih iya. Gimana gak makin cinta kalau melihat suami yang mau terjun berpartisipasi aktif mengurus anak? Tuh terbukti juga kalau mau bikin istri seneng itu gak sulit sebenernya. Ikut bantuin ngurus anak, udah bikin istri tambah cinta. Udah gitu, kalau ikut lomba Zwitsal trus menang, hadiahnya produk selama 1 tahun! Wuiihh, coba kita berhitung, yakin banget bakal menguntungkan. *uang belanja langsung amaaann hehe*

Kalau perempuan gampang terharu sih udah biasa banget, ya. Tapi, kalau laki-laki gimana? Terharu gak, kalau kelak mendengar anak ngomong gini, “Who need a Superman, when I have my dad.” *Ugh! Ngebayanginnya aja udah terharu :)*

Jadi, ikut “Tantangan Sejuta Menit Ayah Luar Biasa” ya. Ditunggu sampai 24 Mei 2015. Tapi, jangan sampe mepet deadline ikutannya. Karena ada beberapa tantangan yang harus diikuti, lho.Kalau ayahnya masih enggan, tugas para ibu nih untuk kilik-kilik suaminya supaya mau berperan aktif. Sediakan perlengkapan bayinya. Pasti pada pengen dong bisa bilang, "Suami, Ayah Luar Biasa" :)

Biar semangat, kita lihat yuk bagaimana cara memandikan bayi di video ini :)


Sayangnya, K’Aie gak bisa ikut tantangan dari Zwitsal, nih. Keke dan Nai udah gede-gede. Nai aja udah mau 9 tahun usianya. Tapi, di mata Chi, dari dulu hingga sekarang (dan semoga nanti) K’Aie selalu jadi ayah yang luar biasa. Chi sangat beruntung memiliki K'Aie. I love you soooo much

Continue Reading
34 komentar
Share:

Jumat, 24 April 2015

Ketika Body Age Lebih Tua Dari Usia Kronologis

Kemarin, Chi datang ke acara seminar tentang diabetes yang disponsori oleh salah satu camilan. Setelah acara selesai, Chi mengukur kadar lemak dalam tubuh menggunakan sebuah alat yang bernama Bioelectric Impedance Analysis (BIA). Alatnya itu seperti timbangan digital tapi ada alat lagi yang kita genggam. Cara bekerjanya, arus elektroda akan mengalir dalam tubuh untuk kemudian diketahui hasilnya berupa angka digital. Tenang aja, gak berasa apa-apa, kok. Kayak menimbang badan biasa. Prosesnya juga sebentar banget. Sebelum diukur, Chi ditanya tinggi badan dan usia dulu. Datanya dimasukkan ke dalam alat tersebut.
Hasilnya, kadar lemak dalam organ tubuh Chi masih dalam batas normal. Sebelum acara juga dicek tekanan darah dan kadar gula dalam darah. Semuanya masih normal, alhamdulillah. Tapiiii... lumayan kelebihan lemak di bagian bawah kulit dengan kata lain gemuk hihihi. Berat badan Chi akhir-akhir ini juga lagi lumayan meningkat *pake kata lumayan biar lebih enak hihihi* *menghibur diri :p* Trus, body age Chi katanya lebih tua dari usia kronologis (= usia kita sekarang) yaitu xx tahun *rahasia hehehe* Ya, pokoknya Chi dijelasin kalau body age kita lebih tua dari usia kita sekarang, itu biasanya makan sedikit aja cepat gemuk. Bagusnya itu body age haus sama dengan usia kronologis, syukur-syukur kalau lebih muda.

Penyebab body age bisa lebih tua itu biasanya karena kurang olahraga, pola hidup, dan asupan makanan yang kurang terjaga. Kayaknya olahraga dan pola hidup memang lagi jadi masalah buat Chi, nih. Chi akhir-akhir ini lagi males olahraga, mulai rajin makan (terlalu larut) malam lagi, belum bisa mengurangi begadang, dan kurang istirahat banget. Huff! Harus disiplin lagi, nih. Penyakit Chi memang masih suka gak konsisten untuk urusan jaga kesehatan.

Ngomong-ngomong tentang olahraga, ada 3 olahraga yang Chi suka, yaitu

Berenang


Berenang, yuuk! Kurangi lemak-lemak tubuh :)

Ini olahraga paling favorit hehe. Di dekat sekolah anak-anak juga ada kolam renang yang bagus. Chi suka berenang di sana. Biasanya ketika anak-anak sekolah. Berenang sekitar 2 jam. Anggap aja me time hehe. Malesnya kalau berenang itu harus ke luar rumah. Chi emang suka males kemana-mana kalau udah di rumah hihihi. Apalagi kalau musim hujan, bubar jalan deh niatan berenangnya :D

Karena Chi berjilbab, pake baju renang muslimah, lah. Ada 2 baju renang muslimah yang Chi punya. 1 beli, 1 lagi dikasih. Cuma penutup kepalanya itu pendek semua. Chi pengen deh punya baju renang yang penutup kepalanya rada panjang. Karena gak punya, jadi Chi suka akalin pake kerudung berbahan spandeks yang panjang.

Kekurangannya kalau berenang adalah ada pengeluaran buat bayar tiket masuk kolam plus jajan hehehe. Etapi, kalau jajan Chi masih bisa nahan diri, ding. Biasanya sarapan dulu.

Aerobik


Chi juga suka aerobik. Biasanya dilakukan di rumah pake Xbox atau Wii yang jadi instrukturnya. Beli aja game tentang aerobik. Biarpun pake konsol, olahraganya asik, lho. Kalau dilakukan rutin, badan juga rasanya bugar. Enaknya lagi, gak perlu punya baju senam yang bagus. Pake baju rumahan juga cukup banget hehehe. Gak bagusnya, kalau olahraga cuma di rumah itu gak kena sinar matahari. Padahal vitamin D dari sinar matahari itu bagus buat tubuh.

Jalan Kaki


Walopun sekarang lagi trend olahraga lari, Chi sama sekali belum tertarik. Gampang ngos-ngosan hihihi. Jalan kaki aja, lah. Biasanya Chi jalan kaki di seputaran komplek. Tinggal pake baju olahraga dan sepatu, trus jalan sekitar 45 menit. Segitu cukuplah kalau buat berjemur dan cari keringet. Malah kalau mau lebih menguntungkan lagi, sekalian aja ke pasar. Biasanya kalau lagi males, Chi suka nyetir mobil. Kalau lagi semangat olahraga, ke pasarnya jalan kaki.

Kalau ingat hasil body age lagi kayaknya Chi harus mulai berpikir untuk olahraga lagi, nih. Mulai belajar konsisten, ah. Menjaga konsisten itu emang sulit. Tapi memulai untuk konsisten itu lebih sulit lagi. Semangaaatt! Kembalikan body age ke usia kronologis. Syukur-syukur lebih muda. Karena biar gimanapun pengennya sehat ^_^

Continue Reading
12 komentar
Share:

Selasa, 21 April 2015

Quote Mamah Mertua

"Kalau udah di usia Mamah sekarang, yang selalu diingat tentang anak-anak adalah tingkah laku lucu mereka ketika masih kecil. Segala rasa cape saat mengasuh mereka, Mamah udah lupa." - mamah mertua, 74 tahun -

Kalimat yang singkat dari mamah mertua tapi dalam maknanya.

Mungkinkah kita bisa mengenang segala tingkah lucu anak kelak kalau kita tidak pernah dekat sama mereka? Semuanya tentang kualitas. Semoga, Chi juga bisa seperti mamah mertua. Selalu dekat dengan anak-anak *merenung di pojokan*

Ps: Postingan tersingkat yang pernah Chi buat. Khusus untuk mamah mertua, Chi pernah membuat postingannya dengan judul "Superwomen Pun Ada Di Sekitar Kita"

Selamat Hari Kartini :)

Continue Reading
16 komentar
Share:

Senin, 20 April 2015

3K Kunci Keberhasilan Pola Asuh - Bagian 1

3K, Kunci Keberhasilan Pola Asuh. Apa mungkin kita bisa sukses menerapkan pola asuh dengan 3K?

Banyak yang bilang -dari mulai pakar hingga masyarakat biasa- katanya menjadi orang tua berarti harus siap belajar seumur hidup. Gak ada yang namanya sekolah menjadi orang tua. Kalau gadget ada buku panduannya, menjadi orang tua mungkin ada juga, misalnya berbagai macam buku parenting, info dari internet, hingga berbagai seminar parenting. Cuma perbedaannya, gadget adalah sebuah benda. Kita bisa menstel dan meperbaiki gadget dengan mengikuti buku panduan. Kalau gak bisa juga, tinggal datang ke teknisi.

Sedangkan mendidik anak tidak begitu. Yang kita hadapi adalah manusia seperti halnya kita. Dari lahir mereka sudah mempunyai sifatnya sendiri-sendiri. Buku parenting mungkin saja banyak kita miliki, banyak info dari google yang sudah kita baca, belum lagi datang ke seminar parenting pun sampai berkali-kali. Tapi, tetap saja dalam mendidik anak, gak semudah membalikkan telapak tangan. Berdasarkan pengalaman, ada 3 hal mendasar yang bisa menjadi kunci keberhasilan pola asuh.

Kompak


Bunda: "Ke, misalnya nih, ada teman Keke yang suka malak. Keke gak suka dipalakin. Tindakan Keke apa?"
Keke: "Keke bakal lawan, Mau Keke tendang aja."
Bunda: "Masa' langsung ditendang? Apa gak sebaiknya Keke bilang dengan tegas dulu ke yang pemalaknya? Kalau belum berhasil juga, lapor ke guru atau Bunda. Pokoknya, usahakan melawan secara fisik itu tindakan terakhir."
Keke: "Lho, ayah bilang ke Keke kalau ada yang kayak gitu harus dilawan. Sekarang Bunda bilang jangan. Sebetulnya Keke harus bersikap gimana, sih? Jadi bingung!"
Bunda: "Oh, ayah pernah kasih pertanyaan yang sama, ya. Hmmm... mungkin maksud ayah juga sama dengan Bunda. Dengan kita berani bilang tegas gak suka dipalak juga bentuk perlawanan, kan? Tapi, nanti Bunda ngobrol dulu sama ayah, deh. Biar Bunda juga tau yang dimaksud lawan sama ayah itu apa."

Ternyata, tanpa sepengetahuan Chi, Keke dan ayahnya juga pernah mendiskusikan hal yang sama. Gak salah, sih. Karena kadang diskusi antara anak dengan bunda atau ayah terjadi secara spontan aja. Kayak pembicaraan di atas, itu juga terjadi spontan. Saat di perjalanan, sepulang sekolah.

Dalam menerapkan pola asuh kita gak bisa sendiri. Ibu harus bekerja sama dengan ayah. Lalu bagaimana dengan orang tua yang berstatus single parent? Tetep aja, gak bisa sendiri. Kita harus bekerja sama dengan banyak pihak. Dengan orang tua, asisten rumah tangga, pihak sekolah, dan lain sebagainya. Jangan sampai atau paling tidak minimalkan kejadian dimana kita mengajar begini, sedangkan pihak lain mengajarkan begitu.

Masih ingat postingan Chi yang berjudul 5 TipMengajarkan Anak Terbiasa Makan Dengan Tertib? Diantaranya Chi menulis kalau ada perbedaan kebiasaan dalam membiasakan Nai makan. Chi pengennya semua anak duduk di rumah saat makan. Tapi, asisten rumah tangga yang dengan segala macam alasannya, selalu membiasakan Nai makan sambil digendong dan jalan-jalan. Hasilnya, lebih sulit mengajarkan Nai untuk makan dengan tertib karena ada 2 perbedaan pola asuh.

Cerita tentang kekompakan lainnya adalah saat Chi harus menyapih Keke dan Nai. Chi sudah membuat postingannya dengan judul Weaning with Love.  Setiap kali berencana akan menyapih, Chi dan K'Aie selalu berdiskusi lebih dahulu untuk memutuskan kapan saat yang tepat untuk menyapih. Kenapa? Karena proses menyapih bukan hanya sekedar tidak lagi memberikan ASI ke anak setelah itu beres. Tapi, ada yang namanya mellow. Gak cuma anaknya, ibunya juga bisa mellow berat. Akan timbul rasa gak tega untuk ibu, rewel banget untuk anak. Belum lagi kalau ibunya udah mantap menyapih, eh ayahnya yang gak tega.; Trus, meminta istrinya untuk kembali menyusui. Bisa kacau itu dunia persilatan rumah tangga hehehe. Makanya, setelah ada kata sepakat diantara kami, K'Aie selalu menngambil cuti setiap kali saatnya proses menyapih tiba. Dan, buat Chi itu sangat membantu banget! Karena proses menyapih itu melelahkan lahir batin hihihi. Jadi, dukungan suami memang mantab banget. *Terima kasih, Yah. Love you :L*

Tentang masalah kekompakan memang bisa terjadi dari sejak anak dilahirkan hingga kapan pun. Skalanya bisa berbeda-beda, dari kecil hingga besar. Contoh kebingungan Keke tentang maksud melawan itu cuma contoh kecil. Karena belum kejadian dan untungnya kami jadi bisa mendiskusikan hal ini. KAlau Chi amati, salah satu masalah kekompakan lain yang sering terjadi adalah perbedaan pola asuh antara orang tua dengan asisten atau bahkan dengan orang tua.

Chi pun pernah mengalaminya. Ada satu masa dimana setiap kali Chi menegur Keke atau Nai, mereka selalu ke kamar orang tua Chi. Mereka gak terang-terangan minta bantuan, sih. Tapi, dengan begitu aja sudah bisa diartikan kalau mereka minta minta perlindungan. Perlindungan dalam artian mereka gak mau ditegur oleh orang tuanya.

Tentu aja kejadian tersebut suka bikin jengkel. Kalau salah, anak-anak harus dikasih tau hingga ditegur bila perlu. Tapi kalau setiap kali Chi kasih tau atau menegur mereka selalu berlindung, akhirnya pesannya gak pernah sampai. Karena selalu dapat pembelaan dari kakek atau nenek. Kalau sudah begitu, kadang Chi cuma bisa diam dan jengkel sendiri *dilampiaskannya setelah K'Aie pulang kantor*. Atau kadang meledak juga marahnya. Belum lagi kalau ada perbedaan pola asuh. Dimana Chi mendidik Keke dan Nai dengan cara A, orang tua dengan cara B. Kalau ada perbedaan seperti begini, anak akan memilih mana yang lebih menguntungkan buat mereka.

Gak bisa kejadian seperti itu terus didiamkan. Bagaimanapun juga harus ada kekompakan dalam pola asuh. Karena Chi dan K'Aie adalah orang tua Keke dan Nai, kami ingin Nai lebih mendengarkan kami. Apalagi, Chi kan di rumah. Artinya, waktu yang Chi punya memang utamnya adalah untuk mengurus Keke dan Nai. Lebih mendengarkan bukan berarti kami mengajarkan anak-anak supaya menjauhi kakek dan neneknya. Lebih mendengarkan juga bukan berarti membuat keluarga kami menjadi tidak hormat kepada orang tua. Ini semua demi kekompakan. Gak baik kalau perbedaan yang menjadi masalah dibiarkan terus-menerus. Memang butuh proses yang tidak instan sampai kemudian kami akhirnya bisa mencapai keadaan yang seperti sekarang. Keadaan yang lebih saling mengerti satu sama lain.

Kekompakan dengan pihak lain di luar rumah juga diperlukan. Dengan pihak sekolah, misalnya. Itulah kenapa Chi sering bertanya tentang attitute Keke dan Nai ke wali kelas. Gak cuma saat terima rapor aja. Kompak dengan pihak luar juga gak kalah penting. Jangan sampai terjadi perbedaan yang memicu masalah. Apalagi dengan sekolah, dimana selama sekian jam. 5 hari dalam seminggu, para pengajar adalah perwakilan orang tua. Sebagai orang tua, Chi gak bisa menemani saat mereka sedang belajar di sekolah. Jadi, memang perlu ada kekompakan, supaya Chi juga tenang menitipkan anak-anak di sekolah.Alhamdulillah, sejauh ini Chi merasa masih mendapatkan guru-guru yang baik bagi anak-anak.

Bagaimana kekompakan teman-teman dengan pola asuh? Pengalaman sebagai orang tua? Atau yang belum jadi orang tua juga bisa cerita, kok. Untuk 2K yang lainnya, Chi ceritakan di postingan berikutnya, ya.

Bersambung...

Continue Reading
20 komentar
Share:

Minggu, 19 April 2015

Hari Senin, Harga Naik! Serba-Serbi Program Afiliasi CNI


Hari Senin harga naik!

Sering mendengar kalimat di atas? Chi sering dengar, waktu masih gemar nonton salah satu acara lawak di salah satu televisi. Acara lawakan parody dari sebuah talkshow di salah satu televisi lainnya. Kalimat ‘Hari Senin harga naik’ juga sebetulnya merupakan parody dari sebuah acara televisi tentang perumahan yang selalu tayang setiap weekend. Nah, hostnya itu sering bilang yang kalau tanggal sekian harga rumah akan naik. Maksudnya, sih, supaya yang tertarik pada buru-buru beli.

Namanya juga parody, Chi seringkali ngikik mendengar kalimat tersebut. Tapi, kalau kejadian di dunia justru suka dibikin pucing pala berbie kalau dengar harga-harga pada naik. Walopun berusaha untuk gak mengeluh dan selalu berusaha bersyukur masih diberi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan. Pengennya, sih, ada penghasilan tambahan buat bikin dapur tetap ngebul. Atau paling gak bisa beli lipstik pake uang sendiri hehehe.

Sekarang ini, banyak online store yang menawarkan program affiliasi. Salah satunya CNI. Lama-lama, Chi penasaran juga. Tapi, apa itu CNI Affiliate atau program affiliasi CNI? Yuk, Chi jelasin serba-serbinya di bawah ini:

Tentang CNI Affiliate Program

 
CNI affiliate atau program afiliasi CNI adalah kerjasama antara penjual (CNI) dengan pemasar (kita). Pemasar menjual barang milik penjual di website pemasar atau dengan cara lainnya

Cara mendaftar link affiliasi



Cara daftarnya gampaaang! Klik link http://geraicni.com/register-afiliasi.  Kalau belum daftar, isi kolom sebelah kanan (Register). Ikutin aja step by stepnya. Kalau pendaftaran kita di approve, akan dapat nomor referal dan kartu member juga.

Biaya pendaftaran


GRATIS. Iya, gratis.

Keuntungan bergabung di program afiliasi CNI


Kalau sudah terdaftar di program afiliasi, kita bisa mendapatkan poin atau keuntungan transaksi sebesar 10-25%. Tergantung dari produk apa yang dibelanjakan oleh pelanggan non-member yang membeli produk CNI dari link afiliasi yang kita miliki. Chi udah punya link afiliasinya, yaitu http://geraicni.com/Myra. Bolehlah beli produk CNI lewat link afiliasi yang Chi punya hehehe.

Oiya, untuk mendapatkan link afiliasi, setelah mendaftar dan mendapatkan nomor referal, kita harus melakukan transaksi dulu. Klik yes kalau kita memang member CNI, masukin nomor referalnya. Nanti baru, deh, kita bisa mendapatkan link afiliasi pribadi.

Apa yang harus pemasar lakukan setelah menjadi member afiliasi CNI?


Sebetulnya, kalau kita memang gak mau jualan, keanggotaan yang dimiliki bisa untuk dipakai pribadi. Lumayan kan kalau bisa belanja produk dengan harga yang lebih murah dari harga yang tertera? Tapi, kalau kita mau mendapatkan keuntungan lebih dengan cara berjualan, yang harus dilakukan adalah promosi. Promosi dimana? Ya, macem-macem. Di berbagai social media hingga di dunia offline (saat arisan, reuni, rapat RT, dll).

Males melakukan promosi? Berarti gak usah jualan hehehe. Ya, mana ada uang yang jatuh dari langit? Semuanya pake usaha, lah. Cuma kalau jadi member CNI, kan, kita dipermudah. Gak perlu modal usaha, gak usah stok barang di rumah, cuma daftar, setelah itu tugas kita adalah berpromosi. Untuk pengiriman pun dilakukan oleh pihak CNI.

Buat blogger yang jadi member afiliasi CNI gak perlu khawatir blognya akan berubah jadi blog iklan. Kita bisa mendisplay produk-produk CNI di web khusus jualan CNI. Yang namanya jualan, promosi memang sangat penting. Dan, khusus untuk member affiliasi CNI, keuntungan baru bisa di dapatkan apabila ada customer non member yang bertransaksi melalui website afiliasi kita. Nah, giat-giat deh berpromosi.

Huff! Panas ajah udara hari ini. Jadi, membayangkan kalau siang-siang gini ada segelas lemon tea dingin di depan mata. Seger banget kali, yaaa.. Mudah-mudahan Up Honey Lemon Tea yang Chi pesan bisa segera datang :)

Mulai tertarik ikut program affiliasi CNI? Siapa tau bisa jadi pundi-pundi uang kita. Namanya juga rezeki. Dan, gak usah pusing lagi kalau denger kalimat, “Hari Senin harga naik!” Karena udah punya penghasilan tambahan. :D

Info lebih lanjut, silakan lihat di www.geraicni.com

 

Continue Reading
12 komentar
Share:

Jumat, 17 April 2015

iprice Tempat Asik Untuk Para Pemburu Diskon


Siapa yang suka barang diskon! *Langsung tunjuk tangan tinggi-tinggi*

Chi suka cari barang diskon *kalau gratisan lebih suka lagi. Ups! :p* Tapi masalahnya, Chi itu gak bisa nawar. Suka nyerah atau males duluan kalau harus nawar. Chi lebih suka harga yang pasti-pasti aja. Plus diskon yang pasti-pasti juga :D

Biasanya, kalau lagi pengen belanja online, Chi suka buka beberapa web sekaligus. Tujuannya buat bandingin harga. Atau melihat barang-barang yang dijual di beberapa toko online secara bersamaan biar bisa dibadingin. Tapi, suami selalu mengingatkan untuk jangan buka window terlalu banyak. Lagian emang agak ribet juga jadinya. Abis lihat di web OS (Online Store) A, mampir dulu ke OS B, trus pindah agi ke OS C, dan begitu seterusnya. Kalau di dunia nyata udah cape banget kali, ya, pindah-pindah toko sebelum akhirnya memutuskan belanja hihihi.

iprice. Pernah dengar namanya? Your one stop shopping destination, seperti itulah tag line iprice.

Iya, jadi iprice itu tempat asik untuk para pemburu diskon. Karena kita cukup buka web iprice aja, terlihat banyak info diskon dari beberapa OS. Mau diskon dari OS mana? Lazada, Zalora, Groupon, Air Asia, atau lainnya? Tinggal pilih aja.

"Bunda, kok, malem-malem pake lipstik?"


Udah 2-3 bulan ini males banget dandan. Bahkan untuk sekedar pake bedak sekalipun. Kalau jemput Keke dan Nai, udah lama gak dandan. Lagi bener-bener males. Tapi, kalau jalan-jalan, masiih memaksakan diri untuk dandan. Minimal lipstik dan bedak.

Udah beberapa hari ini, lagi kangen pengen dandan lagi. Sampe Nai heran melihat bundanya malam-malam pake lipstik, wkwkwkwk. Sebetulnya, Chi gak pernah membiasan diri dandan kalau di rumah. Cuma ini saking kangennya. Dan, dengan alasan udah lama gak lipstikan, Chi pun pake lipstik malem-malem. K'aie juga nanya hal yang sama waktu sampe rumah. Tumben-tumbenan, pulang kantor, sampe rumah lihat istrinya dandan hihihi.

Sejalan dengan mulai pengen dandan lagi, semangat untuk belanja kosmetik pun timbul lagi. Mulailah Chi buka web iprice, cari-cari kali aja ada kosmetik yang lagi diskon. Chi memang mulai terbiasa beli kosmetik secara online. Karena kadang-kadang Chi suka berlama-lama untuk memilih. Sedangkan kalau beli kosmetik langsung di mall, kasihan juga kalau K'Aie dan anak-anak menunggu Chi kelamaan milih kosmetik :D

Berburu diskon di iprice



Seperti gambar di atas, ada 4 cara untuk berburu diskon di iprice, yaitu

  1. Tau produk yang mau dibeli. - Kalau kita udah tau produk apa yang mau dibeli, mending langsung pakai cara pertama. Kayak kemaren, Chi lagi pengen beli kosmetik. Langsung aja pake cara pertama. Pilih karegori Beauty & Health. Nanti akan ada sub-kategori lagi. Chi pilih Make Up. Setelah itu langsung keluar, deh, berbagai produk make up dari beberapa OS. Kalau pake cara pertama
  2. Pengen beli di OS pilihan. Kadang, kita udah punya OS favorit. Tapi, mau belanja langsung ke webnya, suka bingung mana barang yang harganya normal dan diskon, karena tercampur tampilannya. Kita bisa pake cara ke-2. Seperti terlihat di gambar, Zalora sedang menawarkan 27 coupons, Lazada 31 coupons, dan lainnya. Tinggal pilih, kita mau lihat web yang mana. Lazada, Zalora, Air Asia, Agoda, atau yang lain?
  3. Mencari diskon terbesar. Masih bingung pengen belanja apa dan dimana? Tapi pengennya dapet diskon paling besar. Nah, bisa cobain cara ke-3, tuh. Ada berbagai info diskon dari berbagai OS. Coba aja klik yang paling menarik, siapa tau dapet barang yang diinginkan dengan diskon yang besar juga tentunya :)
  4. Mencari brand tertentu - Cara ke-4 bisa dilakukan apabila kita ingin mencari produk dari brand tertentu. Tinggal gunakan kolom serach di bagian atas. Misalnya, kita ketik 'Nike', maka berbagai produk dengan merk Nike akan keluar. 
 

Setelah pilih-pilih kosmetik dengan cara ke-1, akhirnya Chi dapet yang dicari. Eyeshadow make up palette dan gel eyeliner. Untuk gel eyeliner, Chi udah pernah pake dari merk yang sama dan cocok. Tapi, yang Chi punya warna coklat. Makanya, kali ini beli yang warna hitam. Kalau untik eyeshadow, Chi belum pernah pake merk tersebut. Cuma suka aja lihat pilihan warnanya yang natural. Karena eyeshadow Chi yang warnanya natural udah habis, jadi harus beli lagi. Semoga aja cocok, nih, eyeshadownya.

Oiya, iprice tidak melakukan transaksi pembelian, ya. Selain sumber informasi berbagai diskon, iprice juga tempat berbagai sumber kupon dari berbagai OS ternama. Kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah apabila mendapatkan kupon dari iprice. Caranya gampang banget, kok. Tinggal pilih kupon mana yang kita perlukan, trus masukkan kode kuponnya sebelum transaksi pembayaran. Di iprice juga gak ada keanggotaan, tapi kalau gak pengen ketinggalan info, silakan masukkan email untuk mendapatkan news letter dari iprice.

Katanya, ada kemungkinan kerjasama iprice dengan OS ternama lainnya akan bertambah. Yang pasti, iprice sekarang sudah darir di 7 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Phillipines, Vietnam, Thailand, Singapore, dan Hongkong. Cukup dengan mendatangi 1 platform, yaitu iprice, kita bisa lihat berbagai diskon dari beberapa OS ternama. Asik banget, kan?

Nanti, kalau ada barang yang menarik untuk dibeli, akan diarahkan ke OS yang bersangkutan. Setelah itu kita transaksi dengan OS yang bersangkutan. Bagaimana cara bertransaksinya, tergantung dari masing-masing OS. Tapi pada dasarnya sama aja, sih. Pilih barang yang mau dibeli, transfer, lalu barang dikirim. Garis besarnya, kan, seperti itu.


Hmmm... Sebetulnya ada 1 tas dan sepasang sepatu yang menarik perhatian Chi, gara-gara lihat iprice, nih. Tapi, tunggu gajiaaann. Semoga barang dan promonya masih ada hehehe

Udah datang, nih, barangnya :)

iprice

website: iprice.co.id

Continue Reading
16 komentar
Share:

Rabu, 15 April 2015

4 Tips Melatih Anak Disiplin Waktu

Melatih anak disiplin waktu itu penting. Chi paling sebel dengan yang namanya jam karet. Ya, bukan berarti Chi gak pernah telat. Tapi, kalau yang namanya telat sudah menjadi budaya, kayaknya sesuatu yang enggak banget.

4 Tips Melatih Anak Disiplin Waktu

4 Tips Melatih Anak Disiplin Waktu


Supaya jam karet gak jadi membudaya, tentunya perlu dilatih disiplin dengan waktu. Sejak kapan? Sedini mungkin kalau bisa. Cuma masalahnya, anak sampai usia balita itu belum paham banget dengan yang namanya konsep waktu.

"Kemaren sore, jam 1, Keke diajak jalan-jalan sama Bunda"

Pernah gak denger anak ngomong gitu. Misalnya cerita tentang pengalamannya jalan-jalan pake keterangan waktu 'kemaren sore' dan 'jam 1'. Padahal jalan-jalannya itu minggu lalu, itupun bukan sore tapi pagi.

Sebelum mengkoreksi pemahaman mereka tentang waktu, Chi harus sadar dulu kalau anak usia balita itu pemahaman tentang waktunya masih sangat terbatas. Pelan-pelan dikoreksi dan diajarkan yang benar. Tapi, bagaimana kita melatih anak disiplin waktu kalau mereka sendiri belum paham waktu?

Berikut adalah 4 tip melatih anak disiplin waktu sedini mungkin.

Untuk Bayi, Sesuaikan dengan Jam Biologis

Sejak lahir, bayi sudah mempunyai jam biologis. Kalau diperhatiin, ketahuan kapan mereka lapar, mengantuk, dan BAB. Chi nyesuain aja dengan biologisnya mereka. Misalnya, sampe memandikan mereka saat waktunya makan.

Tapi, ada kalanya bayi itu di saat waktunya mandi dia malah kelihatan lagi nyenyak tidur. Mau dibangunin gak tega. Menurut Chi, lihat kondisi aja. Kalau dia nyenyak tidur karena baru sembuh lagi sakit, biarkan aja. Gak usah dibangunin. Kalaupun udah kesorean untuk mandi, cukup di lap aja. Apalagi biasanya kalau baru sembuh, tidurnya lebih banyak. Mungkin untuk mengganti jam tidur yang kurang ketika sakit.

Kalau penyebabnya karena jam biologisnya yang mulai berubah, Chi coba menyesuaikan aja kalau memungkinkan. Kalau enggak, harus diubah sama kita secara pelan-pelan. Misalnya setengah jam sebelum mandi, anak mulai dibangunkan dengan ditepuk-tepuk lembut pipinya *jangan kenceng-kenceng nepuknya, ya hihihi* Kalau dia udah mulai bangun, diajak ngobrol. Biasanya Keke dan Nai langsung seneng, gak rewel bangunnya.

Perhatikan Sekitar Sebagai Tanda Waktu

"Keke, Nai, sebentar lagi Curious George dimulai. Ayo bangun kalau mau nonton."

Curious George, salah satu kartun yang Keke dan Nai suka waktu kecil. Hal-hal yang mereka sukai juga bisa dijadikan pancingan supaya mereka mau melakukan sesuatu. Karena mereka suka dengan Curious George, berarti mereka gak mau melewatkan setiap episode. Kalau udah gitu, Chi gak pelru repot ngebangunin mereka. Dan, lama-lama mereka akan paham, kalau Curious George mau dimulai berarti mereka bangun pagi.

Banyak, kok, kejadian sekitar yang bisa dijadikan sebagai penanda waktu. Melihat ayahnya berangkat ke kantor artinya pagi hari. Waktunya main ke luar rumah artinya sore hari. Boleh tidur sedikit larut malam artinya mereka lagi libur sekolah.

Gunakan Wall Clock Alias Jam dinding


Jam dinding di rumah juga termasuk yang berjasa melatih Keke dan Nai disiplin waktu.

"Nanti, jam 4 pada mandi, ya"

Walopun jam dinding ikut membantu melatih Keke dan Nai disiplin waktu, tapi komunikasi yang Chi contohin di atas itu kurang tepat. Ketika usia balita (apalagi batita) mana mereka mengerti jam 4 itu gimana. Kasih perintahnya harus lebih detil lagi.

"Nanti, kalau jarum pendeknya ada di angka 4, trus jarum panjangnya di angka 12, kalian bergantian mandi sore, ya"

Minta Keke dan Nai untuk mengulangi perintah, siapa tau instruksi yang Chi kasih kepanjangan. Nanti lama-lama mereka akan ngerti kalau yang bundanya maksud adalah pukul 4 sore. Dan tanpa Chi jelasin dimana jarum panjang dna pendek, cukup dengan Chi bilang jam 4 pada mandi seperti contoh kalimat pertama, mereka udah ngerti.

Pakai jam digital juga bisa, sih. Tapi, Chi lebih suka mengajarkan mereka dengan jam analog. Ya, hitung-hitung sekalian mengajarkan Keke dan Nai matematika sederhana. Dengan membedakan mana jarum panjang pendek, mengenalkan angka-angka, dan lainnya, sebetulnya secara gak sadar mereka sedang belajar matematika.

Ingatkan Sebelumnya dan Kasih Kelonggaran Waktu

Biasanya sekitar 30 menit sebelum mandi, Chi mengingatkan mereka kalau sebentar lagi waktunya mandi. 15 menit kemudian juga diingatkan lagi. tujuannya supaya mereka mulai bersiap-siap menghentukan aktuvitas yang sedang dikerjakan untuk ganti ke aktivitas berikutnya.

Ketika menyusun waktu, Chi juga bikin gak trelalu mepet antara satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Kebiasan sampe sekarang kadang suka menunda dan keluar kata. "Iya, nanti sebentar lagi, Bunda". Terutama kalau lagi asik sama satu aktivitas. Etapi, kalau dipikir-pikir, Chi pun kadang masih suka begitu :p

Itulah kenapa sebaiknya jangan terlalu mepet bikin jadwal. Sebagai contoh, ketika waktunya mandi, mereka masih menunda-nunda, kasih aja kelonggaran waktu yang disepakati, misalnya 15 menit setelah itu diingati lagi.

Dengan membuat jadwal yang gak terlalu mepet sebetulnya menguntungkan buat kedua belah pihak. Untuk Chi, mengurangi/menghindari ngomel karena waktunya maish cukup. Untuk anak, dia akan senang karena dihargai. Siapa tau memang lagi ada sesuatu yang dikerjakan mereka yang menurut mereka penting

Itulah 4 tip melatih Keke dan Nai supaya disiplin dengan waktu. Sejauh ini, Keke dan Nai termasuk anak yang disiplin soal waktu. Ya, walopun kadang ada juga melanggarnya dan membuat mereka mendapatkan teguran hingga hukuman. Tapi, secara keseluruhan masih bisa dibilang disiplin.

Memang yang namanya disiplin itu termasuk waktu harus terus dilatih. Anak yang udah terbiasa disiplin waktu sejak kecil belum tentu besarnya menjadi disiplin. Banyak pengaruh yang bisa merubah kita. Jadi, memang harus terus diingatkan dan dilatih. Karena menurut Chi, merubah kebiasaan dari terbiasa gak disiplin ke disiplin itu lebih susah dibandingkan sebaliknya.

Continue Reading
36 komentar
Share:

Senin, 13 April 2015

5 Tips Mengajarkan Anak Terbiasa Makan Dengan Tertib

5 tips mengajarkan anak terbiasa makan dengan tertib akan Chi bagikan di postingan ini. Karena menyenangkan rasanya punya anak yang bisa makan dengan cara tertib. Makannya gak berantakan, gak lari-larian, pokoknya sedikit atau zero drama saat waktunya makan hehe.

5 tips mengajarkan anak terbiasa makan dengan tertib

5 Tips Mengajarkan Anak Terbiasa Makan Dengan Tertib


Teman Chi: "Anak lo mau, ya, duduk di meja makan. Coba kalau anak gue, udah jalan-jalan gak mau diem. Bikin gak tenang kalau lagi makan."

Temen Chi pernah berkata seperti itu saat kami bertemu. Eits! Chi bukan membanding-bandingkan siapa yang lebih baik, lho. Tapi, memang kalau anak mau tertib duduk saat makan, kita makannya juga tenang. Apalagi kalau anaknya juga udah bisa makan sendiri, nikmat deh rasanya hehehe.

Papah Chi: "Lihat Keke makan itu seneng. Anaknya tertib, gak mondar-mandir. Trus, gak pilih-pilih makan."

Itu ucapan Papah Chi sepulang dari mengajak Keke dan Nai berlibur ke Bali *tanpa Chi dan K'Aie hihihi*

Mamah mertua, "Kalau Keke liburan di sini, Mamah gak khawatir walopun gak sama ayah-bundanya. Makannya tertib. Mamah gak perlu nyuruh-nyuruh. Yang penting sediain aja makanan di meja makan. Pokoknya, Keke itu kalau udah jamnya makan pasti gak usah disuruh juga bakal ambil piring sama makanan sendiri. Makanan apapun juga dimakan sama dia. Apalagi ikan sama sambel. Lahap banget. Mamah suka khawatir kalau ketitipan cucu tapi susah makan. Khawatir sakit. Tapi, kalau Keke enggak. Dia gak pernah susah makan."

Mamah mertua sering bilang seperti kalau Chi titipin Keke. Kadang-kadang, Keke suka nginep di rumah kakek-neneknya kalau liburan sekolah. Nai belum pernah nginep tanpa orang tua. Kecuali waktu ke Bali itu.

Keke memang gak terlalu pemilih untuk urusan makanan. Di blog ini, Chi pernah menulis tip supaya Keke dan Nai tidak melakukan gerakan tutup mulut dan juga gak menjadi anak yang picky eater. Tapi, Chi belum pernah menulis tip tentang bagaimana membuat Keke dan Nai supaya mau makan dengan tertib.

Berikut adalah 5 tip supaya anak terbiasa makan dengan tertib

Biasakan Anak Makan Sambil Duduk

5 tip mengajarkan anak makan dengan tertib
 Gak perlu beli baby chair yang mahal. Ini kursi ada nilai sejarahnya karena dipakai waktu K'Aie mulai MPASI. Trus, dipake sama anak-anak, terutama Keke. Aslinya warna kayu, kemudian kami cat warna-warni. Walopun udah nyaris 30 tahun lebih usianya, kondisinya saat itu masih bagus. Tapi, kayaknya gak bisa diturunin ke generasi berikutnya karena sekarang udah hancur hehehe

Untuk anak yang sudah bisa duduk sendiri, biasakan anak makan sambil duduk. Kalau punya kursi makan, dudukkan di kursi makan. Kalau enggak, bisa didudukin di sofa atau kursi.

Pastikan kursinya aman. Jangan pernah membiarkan anak duduk sendirian tanpa pengawasan. Apalagi kalau kursinya tinggi. Bahaya kalau sampai jatuh Kalau anak belum mampu duduk, biasanya Chi suapin di kasur dengan posisi kepala dan bahu yang agak tinggi (bantalnya ditumpuk). Pokoknya, gak dibiasakan makan sambil jalan-jalan.

Jangan Makan Sambil Menonton TV atau Main Gadget

Waktu Keke dan Nai masih bayi, Chi aja belum akrab sama gadget. HP juga masih punya yang jadul. Cuma bisa nelpon dan sms hehehe. Jadi, gak mungkin juga Keke dan Nai akrab sama gadget. 

Tapi, bisa aja Chi ajak mereka makan sambil nonton tv, kan? Itu gak Chi lakukan. 

Biasanya, saat makan tiba, Chi ajak ngobrol sambil bermain. Alasan kenapa Chi melakukan itu sebetulnya cuma karena seneng aja ajak anak-anak makan sambil ngobrol. 

Ternyata, belakangan ini Chi baru tau kalau anak yang dibiasakan makan sambil menonton tv atau main gadget, fokusnya gak ke makanan tapi ke gadget atau tv. Akibatnya anak gak paham sinyal tubuh kenyang dan lapar. Anak juga gak terlalu paham rasa makanan.

2 Porsi untuk Sekali Makan

2 porsi untuk sekali makan? Apa gak kebanyakan? Enggak, karena 1 porsi dipegang sama Chi untuk disuapin ke anak, 1 porsi lagi untuk mereka makan sendiri. Supaya anak bisa makan sendiri itu butuh latihan. Rasanya, gak mungkin tiba-tiba anak bisa makan dengan rapi dan tertib saat waktunya makan. Anak perlu diajari bagaimana memegang sendok hingga menyuapkan makanan ke mulut. 

Tapi, jangan langsung berharap instan, semuanya butuh proses panjang. Seringkali, makanan yang kita kasih ke mereka itu malah diacak-acak dan tumpah kemana-mana. Dan, itu menyenangkan buat mereka. Dibalik kegiatan mengacak-acak makanan, mereka sebetulnya sedang mengeksplor

Kalau udah begitu, pekerjaan tambahan, deh, setiap kali selesai makan. Beberes bekas makannya dan mandiin anak. Apalagi kalau abis makan sop ikan salmon. Bisa amis sekujur badannya karena belepotan kemana-mana. Makanya, Chi biasanya nyuapin anak dulu baru dimandiin hehehe.

Karena selalu menyiapkan 2 porsi, baby feeding set yang Chi punya gak cuma 1. Ketika masih bayi, peralatan makan mereka memang khusus untuk bayi. Warna dan bentuk baby feeding set umumnya lucu-lucu. Warna dan gambar yang lucu bisa menarik perhatian bayi. Lagipula ukurannya memang disesuaikan untuk kebutuhan bayi, terutama mulutnya. Sendok-garpu bayi kan kecil-kecil. Pas buat mereka, apalagi kalau lagi belajar makan sendiri. 

Trus, ada juga baby feeding set yang ada indikator makanan masih terlalu panas atau sudah bisa dimakan. Keke dan Nai pernah punya. Kan, katanya makanan itu gak boleh ditiup supaya cepat dingin. Gak baik untuk kesehatan. Nah, kalau ada indikator begitu di feeding setnya, enak. Karena tinggal tunggu aja alat makannya berubah warna yang meandakan makanan di dalamnya sudah bisa dimakan :)

Oiya, supaya anak gak menolak, biasanya kalau anak berhasil masukan 1 suapan dengan tangannya, Chi gak langsung kasih suapan dari mangkuk/piring yang Chi pegang. Bisa kepenuhan nanti mulutnya. Bergantian aja.

Waktu Makan yang Konsisten

Bayi dan balita memang belum mengenal konsep waktu. Tapi, kalau kita konsisten dengan waktu makan, tubuh anak akan memberikan sinyal secara teratur kapan dia lapar dan kenyang. Akhirnya, pada saat makan tiba, lebih mudah menyuapi mereka. Saat peralihan dari ASI eksklusif ke MPASI, Chi mengambil salah satu waktu dimana anak-anak biasanya menyusui.

Ciptakan Suasana yang Nyaman dan Menyenangkan

Sebetulnya ini berkaitan dengan poin nomor 2. Ketika melarang anak makan sambil menonton tv dan gadget, biasanya Chi suka ajak anak-anak ngobrol atau sambil nyanyi. Ajak juga mereka merespon obrolan kita. Walopun mereka membalasnya baru sebatas ekspresi atau menggunakan bahasa bayi. Tapi, yang penting merespon. Jadi, buat Chi gak ada itu yang namanya makan jangan bersuara, kayak lirik salah satu lagu anak hehehe. Gak apa-apa anak makan sambil bersuara yang penting bagaimana bersuaranya. Jangan sampe kita ajak mereka untuk tertawa tergelak-gelak saat makan. Bisa keselek nanti. Kalau udah keselek, trus muntah, mereka bakal nangis. Malah buyar kegiatan makannya. Jadi, buat Chi gak apa-apa bersuara, asal jangan berlebihan aja.

Itu adalah 5 tip mengajarkan anak terbiasa makan dengan tertib. Kelima tip itu konsisten Chi lakukan saat Keke mulai MPASI. Tapi, tidak dengan Nai. Saat baru melahirkan anak kedua, Chi memutuskan mempunyai asisten rumah tangga. Saat itu rasanya Chi kerepotan kalau harus mengasuh 2 orang anak sendirian.

Baik Keke maupun Nai, semuanya Chi buat sendiri makanan MPASInya. Tapi, saat memberi makan, Chi suka minta bantuan asisten untuk nyuapin Nai. Sayangnya, asisten ini selalu memberi makan Nai sambil jakan-jalan ke luar rumah. Atau sambil nonton tv kalau di luar lagi hujan. Dari 5 tip di atas, cuma poin 4 aja yang konsisten dilakukan. Karena yang menentukan kapan anak makan tetep Chi.

Chi udah berkali-kali mengingatkan supaya Nai dibiasakan duduk di kursi makan bayi. Tapi, asisten selalu beralasan kalau diajak makan sambil jalan-jalan itu lebih cepat habis. Ya, karena waktu itu memang berasa butuh, Chi jadinya pasrah aja. Gak pernah ngecek juga apa Nai beneran makan atau(jangan-jangan) dibuang. Karena ada kejadian juga, keponakan suka disuapin sambil jalan-jalan sama pengasuhnya. Trus, ada laporan kalau makannya itu gak pernah habis. Seringnya dibuang oleh pengasuhnya. Tapi, kalau pengasuhnya selalu melapor habis makannya.

Apalagi kemudian seperti ada pembelaan dari Mamah Chi kalau Chi juga dulu makan selalu sambil jalan. Kata Mamah, Chi itu kalau belum keliling 7 gang belom abis makannya. Artinya jalan-jalannya jauh dan lama hahaha. Ya, kalau udah digituin semakin aja Chi pasrah. Walopun hati rasanya beraaatt :D

Hasilnya memang berbeda, sih. Sejak memutuskan gak pake asisten (kira-kira Nai usia 1 tahun), salah satu yang harus Chi bereskan memang cara makan Nai yang belum terbiasa makan sendiri. Awalanya, chi sempat berpikir semakin besar anak maka dia akan semakin mengerti dan mudah untuk diajarin. Ternyata, gak sepenuhnya tepat. Nai memang lebih telat diajarkan untuk bisa makan secara mandiri. Tapi, jadinya dia lebih ngeyel kalau diajarin makan dengan tertib karena kebiasaan sebelumnya kan gak seperti itu. Dan, semakin besar uasia anak, dia semakin punya mau atau semakin bisa melawan. Jadi, harus banyak stok sabarnya saat berusaha mendisiplinkan hehehe.

Kalau Keke lebih cepat tertib makannya. Sementara Nai, butuh proses yang lebih lama supaya tertib. Sebagai contoh, ketika usia TK, Keke udah biasa makan sendiri dengan tertib. Sedangkan Nai, masih harus belajar supaya bisa makan dengan rapi. Sekarang, keduanya udah bisa makan dengan rapi dan tertib tanpa jalan-jalan, tapi masih ada kebiasaan yang harus terus diperbaiki dari Nai. Masih belum terlalu fokus sama makan. Makannya masih suka lama. Karena Kalau Nai makan sambil nonton tv, makannya jadi lama karena fokusnya ke tv. Begitu juga kalau sambil ngobrol, suka lama selesai makannya. Keke juga sekarang suka makan sambil nonton tv, tapi karena sejak dini memang sudah dibiasakan makan dengan tertib, dia udah bisa fokus. Gak berlama-lama kalau makan.

Urusan sarapan selalu jadi dilema di pagi hari sampe sekarang. Menyalakan tv di pagi hari adalah salah satu penyemangat anak untuk bisa bangun karena ada tayangan favorit mereka. Tapi, bikin sarapan jadi lebih lama. Sementara, Chi juga gak mau terus-terusan ngomel di pagi hari. Gak asik banget mengawali pagi dengan ngomel dan diomelin hehehe. Drama banget di pagi hari kalau udah ada omelan hehehe. Yaaa, karena dilema itu, Chi jadi kurang konsisten mengajarkan Nai supaya fokus ke makanan :D Tapi, untungnya sekarang udah gak berantakan dan sambil jalan-jalan makannya. Cuma lama aja karena kurang fokus.

Berdasarkan pengalaman, Chi jadi berkesimpulan kalau yang ingin anak terbiasa makan dengan tertib memang harus diajarkan. Diajarinnya harus konsisten. Jangan berharap proses instan. Pelan-pelan aja dan bertahap. 

Bisa aja, sih, anak perlahahan akan sadar dengan sendirinya. Seingat Chi, juga dulu sampe usia SD, Chi masih suka jalan-jalan kalau makan. Tapi, menunggu anak-anak untuk sadar dengan sendirinya itu gak jelas kapan. Kalau dulu Chi Chi masih makan sambil jalan-jalan sampe SD, belum tentu anak-anak juga begitu. Apalagi zaman sekarang gangguan mereka untuk gak fokus semakin banyak. Kalau dulu paling cuma TVRI doang sama jalan-jalan sore hehehe.

Tapi, semuanya kembali ke pilihan masing-masing. Semoga tips di atas bermanfaat, ya. :)

Continue Reading
38 komentar
Share: