Jumat, 27 Desember 2013

Kegiatan Liburan Di Rumah

Liburan sekolah semester ganjil udah berjalan seminggu. Belum ada rencana menghabiskan liburan yang pasti. Keliatannya liburan kali ini kami mengalir aja alias serba mendadak kalau memang mau jalan-jalan. Jadi, yang pasti liburan ini banyak di rumah, nih.

Walaupun begitu bukan berarti kita harus manyun karena gak bisa jalan-jalan, kan? Liburan di rumah juga tetep asyik, kok! Beberapa hari lalu, Chi iseng-iseng bikin kultwit (@ke2nai) dengan hashtag #LiburanDiRumah. Ini rangkumanmya :


  1. Bikin Flying Fox untuk Teddy Bear adalah kegiatan liburan hari pertama Keke & Nai. #LiburanDiRumah
  2. Face painting di rumah? Itu seru banget! Saatnya puas-puasin corat-coret wajah :D #LiburanDiRumah
  3. Kalau di rumah punya banyak botol plastik, gimana kalau dibikin mobil-mobilan. Saya ada tutorial sedehananya di sini #LiburanDiRumah
  4. Fun cooking bersama anak juga asik! Kalau perlu sesekali anak diajak jalan-jalan ke pasar #LiburanDiRumah
  5. Play pretend, yuk! Anakanak itu imajinasinya tinggi. Pasti bakal seru, deh #LiburanDiRumah
  6. Sy pernah ngajarin Keke-Nai ttg metamorphosis kupu2 dg cara main drama. Seru dan diingat terus sm mrk #LiburanDiRumah
  7. Atau gimana kalau kita nge-craft aja? Merasa gak kreatif? Hmmmm... Tenaaaanngg 
    #LiburanDiRumah
  8. Enaknya hidup di zaman sekarang, info gampang di dapat. Tinggal tanya aja sama google, dijamin ide-ide craft bertebaran. Tinggal pilih #LiburanDiRumah
  9. Dulu, waktu Keke-Nai masih balita mereka seneng banget main perosotan kasur ditangga #LiburanDiRumah
  10. Caranya, kasur busa di taro di tangga (biasanya 2 kasur) trus meluncur deh mereka. Yippppiiieee #LiburanDiRumah
  11. Kalau sekarang udah gak mungkin main perosotan kasur. Badannya udah pada besar, jadi gak bakal bisa meluncur :D #LiburanDiRumah
  12. Berendam di bak, main air di pancuran, atau mandi hujan silakan asal sehat :) #LiburanDiRumah
  13. #LiburanDiRumah = main sepeda atau lari2an di luar sepuasnya :D

Itu kultwit yang coba Chi bikin tentang kegiatan liburan di rumah. Ternyata, masih ada lagi, lho. Nih, Chi tambahin :

  1. Bisa membaca lebih banyak buku bersama anak kalau liburan di rumah. Membaca sebelum tidur, saat siang hari, kapanpun.
  2. Jalan-jalan keliling kompleks sambil ngobrol bareng anak juga asik. Apa aja bisa kita ceritain sambil jalan-jalan.
  3. Keluarkan semua permainan. Gak apa-apa, lah, rumah sedikit lebih berantakan kalau lagi liburan. Lebih seru lagi kalau main monopoli, ular tangga, kartu, dan permainan board lainnya bersama-sama.
  4. Kalau lagi kumpul keluarga besar di rumah, asik juga bikin lomba ala 17 Agustusan. Lomba makan krupuk. masukin pensil ke botol, dan lainnya. Gak usah ada hadiah juga tetep seru, kok.
  5. Malem-malem, ngumpul di satu kamar. Nonton funny video di youtube, stel film yang disepakati bersama, atau main game bareng plus ditemani berkaleng-kaleng Pringles. Nikmaaaaattt tiada taraaaaa!

Ya, itulah kegiatan kami kalau liburan di rumah. Tetep asyik, kan? Ada yang ingin menambahkan ide? :)

HAPPY HOLIDAY! :)

Continue Reading
46 komentar
Share:

Selasa, 24 Desember 2013

Kalau Angel Flying Fox

Libur semester pertama udah dimulai. Gak berasa, ya, udah semesteran lagi. Hari pertama libur sekolah (Jum'at, 20/12), di rumah aja. Dan kegiatan liburan hari pertama Keke dan Nai adalah membuat flying fox untuk Angel, boneka teddy bear Nai.

Caranya, tali rapia diikat dari atas ke bawah. Gantungan kunci yang ada cantolannya dijadiin harness buat Angel. Dan Angel pun siap meluncur. Yippppppiiiiieeeee!

Permainan ini menyenangkan, bikin Keke dan Nai ketawa-tawa seharian. Murah meriah, karena gak keluar uang sama sekali. Juga olahraga, mereka bolak-balik bergantian turun naik-tangga.

Liburan memang gak selalu harus mengeluarkan uang banyak. Dengan cara seperti itu pun udah bisa bikin mereka senang. Tapi, semoga bukan modus mereka supaya ayah dan bundanya ngajak liburan outdoor main flying fox :p


Liburan Anak Flying Fox

Continue Reading
34 komentar
Share:

Minggu, 22 Desember 2013

IBU, Cinta Tanpa Akhir

Namanya Dini. Chi udah lama mengenalnya. Hmmm... tepatnya, sih, mengenal namanya. Chi sering dengar namanya dari cerita tante Chi. Jadi, suami dari tante Chi ini sepertinya masih punya hubungan keluarga dengan keluarga Dini. Tapi, Chi kurang paham hubungannya seperti apa.

Dini adalah seorang ibu rumah tangga, memiliki putra berumur 10 tahun. Sebagai seorang ibu rumah tangga, Dini gak pernah memasak untuk suami dan anak semata wayangnya itu. Selalu beli makanan matang. Apakah itu artinya Dini bukanlah ibu yang sempurna? Tunggu! Jangan buru-buru menghakimi, kita baca dulu profilnya sampai selesai, ya :)

Putra semata wayang Dini menderita tuna rungu sejak lahir. Dan katanya, sih, gak bisa diperbaiki. Bahkan dengan alat bantu dengar sekalipun. Dunianya sunyi senyap. Gak hanya tuna rungu, putranya itu juga autis. Karena tuna rungu dan autis, maka putranya di home schooling-kan. Sehari-hari waktu Dini untuk menemani putranya.

Chi mengenal nama Dini memang sejak lama dari cerita-cerita tante dan sepupu. Tapi, baru beberapa minggu lalu Chi bisa bertemu langsung dengannya. Itu karena Dini pindah rumah, dekat dengan rumah Chi sekarang. Tante dan sepupu Chi pun nginep di rumah supaya bisa mengunjungi Dini.

Ketika datang ke rumahnya, terlihat putranya asyik dengan dunianya sendiri. Menurut cerita tante dan sepupu Chi, putra Dini itu karena autisnya memang suka terlihat asik dengan dunianya sendiri. Tapi, ada kalanya juga gak mau diam bahkan marah. Terutama kalau menginginkan sesuatu dimana tidak ada satupun yang mengerti. Kalau sedang menginginkan sesuatu, gak peduli ibunya sedang mengobrol atau mengerjakan hal lain. Kadang kepala Dini digoyang-goyangin sama putranya.

Hanya Dini, lah, yang bisa mengerti bahasa putranya itu sekaligus menenangkannya. Mungkin di sinilah yang kita maksud ikatan batin seorang ibu, ya. Yang bikin Chi terharu sekaligus kagum adalah Dini pun seorang tuna rungu.

Berbeda dengan putranya, pendengaran Dini masih bisa dibantu dengan alat bantu dengar. Bahkan selama kita melakukan pembicaraan tatap mata dengannya, tidak akan terlihat kalau Dini itu tuna rungu. Cara berbicaranya biasa aja.

Penggemar craft pasti akan betah banget kalau main ke rumah Dini. Ruang tamunya diubah menjadi ruang craft. Mirip-mirip ruang craft kayak yang banyak bertebaran diinternet itu. Lengkaaaappp! Chi aja mupeng banget lihat ruangannya.

Craft memang jadi passion Dini. Gak cuma sekedar hobi, tapi juga dibisniskan. Salah satu jualannya Dini adalah boneka. Chi lupa nama bonekanya apa, tapi boneka yang dijualnya itu untuk koleksi. Makanya yang beli kebanyakan kolektor boneka dari luar negeri. Pakaian hingga aksesoris boneka tersebut buatan tangan Dini. Telaten banget!

Chi saat itu sempet tanya, kapan Dini mengerjakan semua itu padahal untuk mengurus anaknya aja udah pasti menyita waktu. Dini bilang kalau untuk craft kebanyakan dilakukan saat putranya tidur.

Gak cuma itu Dini juga sudah menghasilkan buku tentang craft. Dan waktu Chi baca profil di buku itu ternyata Dini juga seorang craft blogger yang sejak lama Chi suka blognya. Ya, ampun ternyata itu Dini. Dunia memang sempit hehehe. Tapi, kalau di blog dia lebih dikenal dengan nama Estha.

Tapi, udah lama dia gak keliatan aktif di blog. Padahal blognya itu pernah menjadi pemenang mingguan blog award internet sehat di tahun 2009. Sekarang lebih aktif di FB. Silakan intip atau add FB Dini Estha kalau mau lihat koleksi craftnya yang bikin kita mupeng.


 
Buku karya Dini. Chi gak tau, selain buku ini apakah Dini juga menghasilkan buku craft lainnya. Yang pasti, selain menerbitkan buku, hasil karya Dini juga pernah muncul di tabloid


Dini juga seorang pecinta kucing. Kalau kata sepupu Chi, kucing peliharaannya banyak dan semuanya keurus. Waktu Chi kesana, Dini cerita kalau salah satu koleksi wig untuk bonekanya baru aja dikoyak-koyak sama kucing. Tapi, dia sambil ketawa aja ngobrolnya. Padahal wig boneka itu lumayan mahal harganya. Chi juga tanya, apa gak khawatir segala perlengkapan craftnya diacak-acak kucing. Dia juga bilang gak apa-apa, nanti juga ketemu. Duh, sabar banget.

Kalau anak lagi tidur, mendingan masak daripada bikin craft sama ngurus kucing.

Adakah yang berpikiran seperti itu? Semoga enggak, ya. Tapi, kalau memang ada, yuk kita berpikir sejenak...

Chi rasa mempunyai anak seperti putra Dini mungkin akan membuat kita lelah lahir-batin karena butuh perhatian ekstra. Ditambah lagi kita juga tuna rungu. Kalau kita yang menjadi Dini, masih bisa menjadi ibu yang murah senyum?

Semua orang butuh me time. Jadi, mungkin aja craft adalah me time bagi Dini sekaligus jawaban kenapa dirinya tetap terlihat sabar dan berbahagia. Semua orang berhak untuk bahagia!

Suaminya aja keliatannya gak pernah protes apakah Dini suka masak atau enggak. Buktinya pernikahan mereka tetap langgeng sampe sekarang. Jadi, kita pun gak usah menghakimi hehehe.

Dini merupakan sosok ibu yang sempurna buat Chi. Ibu, cinta tanpa akhir. Apalagi ketika melihat komunikasi dengan putranya itu bikin terharu. Pelajaran yang Chi dapat dari sosok Dini, seringkali kita terlalu sibuk membuat kriteria ibu sempurna itu harus begini-begitu. Saking sibuknya sampe lupa untuk melakukan aksi. Sementara di luar sana, ada sosok seperti Dini yang gak mau pusing dengan segala kriteria tapi ada hasil nyata dan inspiratif yang dia bisa buat.

Gak afdol kalau di hari ibu ini, Chi gak ungkapin rasa sayang Chi untuk mamah tercinta. "Selamat hari ibu, Mah! Yang paling berkesan buat Chi sampe sekarang, walopun Mamah seorang pekerja kantoran yang sangat sibuk tapi masih nyempetin untuk masak buat keluarga. Masakan mamah tetep yang paling maknyuss. Mamah juga pinter jahit (ketrampilan yang belum juga bisa Chi tiru). Waktu kecil bahkan semua baju Chi hasil jahitan mamah bukan beli di toko. Sekarang, pun, mamah masih suka jahit termasuk buat cucu-cucunya. Maaf, ya, Mah kalau Chi suka ngerepotin minta jahitin seragam Keke dan Nai. Maaf, juga kalau Chi gak bisa bikin postingan yang mengharu biru tentang Mamah. Tapi, bukan berarti Chi gak sayang. Love you full, Mah" :L

Selama anak masih selalu tersenyum kepada ibunya dan mengucapkan 'Aku sayang bunda' dengan apapun bahasanya, maka disaat itu, lah, seorang ibu bisa disebut ibu yang sempurna, apapun kondisinya.

I'm shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

When you tel me that you love me - Diana Ross

Continue Reading
46 komentar
Share:

Kamis, 19 Desember 2013

Bunda Jangan Marah, Ya

"Ajaran yang tidak baik tapi disampaikan dengan cara baik, maka bisa diterima oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya, ajaran yang baik tapi kita menyampaikannya dengan cara yang tidak baik, akan membuat orang lain sulit untuk menerima ajaran tersebut."

Begitu kira-kira kalimat yang Chi dengar di salah satu radio. Dan setelah dipikir-pikir bener juga, ya.

Beberapa minggu lalu, Chi nonton tayangan Jo Frost. Di episode itu ceritanya ada anak yang susah banget disuruh tidur sendiri di kamarnya. Maunya sama ibunya terus.

"Kamu harus tidur di kamarmu sekarang, atau besok gak boleh main bersama teman-temanmu," kata si Ibu.

Bagaimana pendapat orang tua terhadap kalimat yang diucapkan ibu itu di atas? Kalau kata, Chi tergantung. Ya, tergantung intonasinya.

Di episode itu, Jo Frost juga bilang kalau kalimat yang diucapkan ibu itu udah tepat hanya intonasinya ketinggian. Lebih mirip kayak membentak. Intonasi yang tepat seharusnya terdengar tegas tanpa harus terlalu tinggi nadanya dan tidak diucapkan terburu-buru. Dan di episode tersebut, si ibu harus berkali-kali belajar intonasi untuk kalimat yang sama sampai dibilang tepat oleh Jo Frost.

Wew! Untuk 1 kalimat yang sama aja ternyata efeknya bisa berbeda kalau salah intonasinya. Chi jadi mikir sendiri apa jangan-jangan selama ini intonasi Chi banyak yang salah, ya? *langsung introspeksi :p

Tapi, kalau dipikir-pikir mengatur intonasi dan memperhatikan cara penyampaian itu ada benernya juga. Setiap kali Chi menyampaikan sesuatu dengan nada yang tinggi, biasanya anak-anak suka terlihat gak suka dan diekspresikan dengan sedih atau ngambek, minimal protes, lah. Padahal, Chi mungkin saat itu gak marah. Cuma tinggi aja nadanya, mungkin karena lagi terburu-buru atau lagi apa gitu.

Ketika anak-anak UAS, sama sekolah dikasih berbagai worksheet untuk bahan belajar di rumah. Chi minta mereka untuk menyelesaikan semua worksheet tersebut dengan cara dicicil tentunya.

Nai      : "Bunda, Ima udah selesai, nih, worksheet akidah. Tolong diperiksa, ya."
Bunda : "Mana, Bunda lihat."
Nai      : "Tapi, Bunda janji dulu gak akan marah kalau ternyata ada yang salah. Deal?"
Bunda : "Hihihi, kok, pake deal segala?"
Nai      : "Iya, pokoknya kalau Ima salah Bunda kasih tau aja. 'Ima, ini salah. Benerin, ya.' Kayak gitu, Bun. Jangan marah-marah."
Bunda : "Iya, Bunda janjiiiii..."

Chi ngikik denger celoteh Nai, tapi dalam mikir juga jangan-jangan memang Chi suka marah-marah kalau kasih tau? Ya, mungkin pernah walopun gak selalu. Kalaupun marah juga pasti ada alasannya. Atau bisa juga hanya nadanya yang terdengar tinggi, padahal sebetulnya gak lagi marah. Tapi, mendengar celoteh Nai membuat Chi berpikir untuk semakin belajar lagi tentang intonasi.

Nai, terima kasih udah mengingatkan Bunda dengan caramu, ya.

Continue Reading
24 komentar
Share:

Selasa, 17 Desember 2013

2 Tips Jitu Cara Mengajarkan Anak Membaca

2 Tips Jitu Cara Mengajarkan Anak Membaca - UAS sudah selesai, hasil UAS pun udah dibagikan tadi siang. Alhamdulillah, nilai-nilai Keke dan Nai masih bagus. Sambil menunggu saatnya terima raport, selama beberapa hari di sekolah anak-anak ada class meeting. Kalau Keke-Nai lebih suka menyebutnya bermain di sekolah. Karena memang gak belajar sama sekali (gak bawa buku pelajaran juga). Benar-benar santai selama beberapa hari.

Sementara Chi dan anak-anak lagi bersantai-santai, ada juga pemandangan lain yang selalu terlihat menjelang semester ganjil selesai. Brosur dan spanduk tanda dibukanya pendaftaran tahun ajaran baru mulai bertebaran. Biasanya orang tua yang anak-anaknya mau masuk SD mulai mencari-cari sekolah yang cocok. Dan yang sering bikin gelisah orang tua adalah tes masuk membaca-menulis-berhitung (calistung). Apakah anak sudah siap? Sudah mampu? Dan yang tidak kalah penting adalah, apakah dibolehkan mengajarkan anak calistung sebelum masuk usia SD?

Seringkali hal ini bikin beban orang tua. Anak-anak mulai 'dipaksa' belajar calistung. Alasannya supaya bisa lolos tes masuk SD. Padahal cara ini seringkali juga bikin anak merasa terbebani. Tapi mencari SD yang tidak ada tes calistung juga seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Bikin orang tua serba salah.

Chi punya cara jitu untuk mengajarkan calistung. Chi katakan cara jitu karena sudah terbukti ke Keke dan Nai. Mereka sudah bisa calistung sebelum masuk SD. Chi akan berbagi tipsnya tapi untuk mengajarkan membaca dulu, ya :)

Yang pertama kali orang tua lakukan ketika akan mengajarkan anak membaca adalah BUANG JAUH-JAUH pikiran kalau mengajarkan anak membaca itu beban. Merasa terbebani hanya akan menghasilkan sesuatu yang negatif, biasanya anak juga akan terbebani.

Jadi, ajarkan membaca dengan cara yang positif. Caranya, ajak mereka bermain. Pada dasarnya dunia anak adalah dunia bermain. Jangan hilangkan dunia mereka, tapi coba untuk diselami oleh orang tua.


Cara Menyenangkan Mengajarkan Anak Membaca


Ajak Anak Rutin Membacakan buku

Sejak bayi Keke dan Nai selalu dibacakan berbagai buku cerita, terutama menjelang tidur. Jangan langsung kecewa atau patah semangat kalau bayi kita tidak terlihat memperhatikan saat dibacakan buku cerita. Ya, namanya juga masih bayi, harap dimaklum aja. Bahkan ketika usia batita pun, Keke dan Nai kalau dibacain cerita masih suka gak mau diem. Harus pelan-pelan dan konsisten ketika meminta mereka untuk bisa duduk manis saat dibacakan buku.

Selain meminta mereka untuk duduk manis saat dibacakan buku, Chi juga harus beberapa kali mencari ide supaya Keke dan Nai tertarik sama buku yang akan dibacakan.

"Siapa yang mau dibacain buku mobiiiillll? Lucu, lho, ada kucing naik mobil apel! Trus monyet pake mobil pisang. Waaaa... kayak apa, ya, mobilnya?"

Kira-kira seperti itu salah satu ajakan Chi supaya Keke-Nai mau diajak membaca buku. Intonasi dan gaya menyampaikannya juga harus diperhatikan. Anak-anak biasanya akan seneng kalau yang ngajaknya juga keliatan semangat dan ceria.

Keke dan Nai seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya juga punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Waktu Chi bacain mereka buku cerita, seringkali mereka menyela. Kenapa begini? Kenapa begitu? Dia harusnya begini. Kalau dia harusnya begitu.

Dijawab dan ditanggapi aja semua pertanyaan dan pendapat mereka. Memang, sih, menghadapi celotehan anak itu gak akan ada habisnya. Satu pertanyaan atau pendapat selesai, akan nyambung dengan celitehn yang lain. Sering banget,untuk 1 buku yang tipis aja, gak selesai dalam sekali baca hanya karena banyak disela oleh ocehan mereka. Tapi gak apa-apa, itu tandanya mereka tertarik dengan apa yang kita bacakan. Kalaupun dirasa udah terlalu banyak ngobrol daripada baca buku, biasanya pelan-pelan Chi mulai mengerahkan mereka lagi ke buku yang lagi dibaca.

Buku yang dibaca tentu aja harus menyesuaikan dengan usia. Gak mungkin juga bacain buku novel untuk anak balita. Untuk usia bayi hingga balita sebaiknya bacakan pictorial book (buku yang lebih banyak gambarnya daripada tulisan). Anak-anak usia balita ke bawah memang lebih mudah menangkap bahasa gambar daripada tulisan.

"Lihat, deh, Nak. Lucu banget mobil kucingnya, ya. Ternyata huruf depan kucing itu K! Ada yang tau, gak, selain kucing apalagi yang dimulai dari huruf K?" Biasanya Keke dan Nai akan berlomba-lomba menebak. Ada yang benar, tapi ada juga yang salah.

Gak cuma Keke dan Nai yang suka menyela disaat sedang dibacakan cerita. Chi pun kadang mengalihkan perhatian mereka sejenak dari kalimat yang ada di dalam buku dengan memberi mereka pertanyaan atau mengajak mereka berdiskusi dengan buku yang lagi dibaca.

Rutin membacakan buku sudah terbukti bisa membuat mereka bisa membaca tanpa harus merasa terbebani. Gak perlu lama-lama, kok, 10 s/d 30 menit udah cukup setiap harinya. Bahkan, Keke dan Nai gak cuma bisa membaca tapi juga cinta membaca. Menurut Chi, Keke dan Nai bisa cinta membaca mungkin karena merasa selama ini tidak dipaksa untuk bisa membaca. Justru diperkenalkan kalau membaca buku itu asik.

Buat Chi, membuat anak cinta membaca itu lebih penting daripada hanya sekedar bisa membaca. Kalau sekedar bisa membaca, tugas Chi sudah selesai ketika anak-anak bisa membaca. Tapi, akan berat kalau mereka diharuskan membaca terutama membaca buku pelajaran. Akhirnya stress yang baru pun muncul :)

Alhamdulillah Keke dan Nai suka membaca. Kemana-mana selalu ada buku yang mereka bawa, termasuk kalau ke sekolah. Biasanya ada 1 buku bacaan yang mereka masukin ke dalam tas.

Selain bisa membuat anak bisa membaca, rutin membacakan buku kepada anak juga bisa menambah keakraban antara anak dan orang tua. Di awal Chi sudah ceritakan gimana Keke dan Nai seringkali menyela saat Chi lagi membacakan buku dengan sejumlah pertanyaan dan ocehan lainnya. Chi juga berusaha untuk menceritakan dengan gaya yang menyenangkan bagi Keke dan Nai.

"Bundaaaa... bacain buku. 2 cerita, ya."

Sampe sekarang Keke dan Nai masih minta dibacain buku sebelum tidur. Padahal usia balita udah lewat, dan mereka juga udah bisa baca buku sendiri. Bedanya dengan usia balita, sekarang mereka udah lebih tertib kalau dibacakan. Bahkan cerita belum selesai, mereka udah tidur.

Ada kalanya sebelum membaca buku Chi ajak mereka untuk berdiskusi dulu tentang buku yang akan atau yang udah pernah dibacakan. Chi suka minta mereka menarik kesimpulan dari buku-buku yang pernah mereka baca. Menarik banget denger jawaban-jawaban anak, lho. Dari diskusi kecil itu Chi bisa tahu kira-kira moral story seperti apa yang Keke dan Nai tangkap dari buku yang mereka baca.

Bahkan, akhir-akhir ini gantian Keke yang lagi suka banget ngebacain Chi buku Harry Potter hahaha. Sebetulnya, Chi udah tamat baca serial Harry Potter, tapi untuk menghargai Keke maka Chi pun harus mendengarkan apa yang dia bacakan. Jangan sampe Keke kecewa trus semangat untuk membacanya hilang :)


 
Ada rak buku di kamar anak-anak juga bisa membantu minat baca anak, lho :)


Belajar Membaca dengan Cara Bermain

Yup! Dunia anak itu dunia bermain. Jadi, selain membacakan buku cerita, Chi juga rutin mengajak mereka bermain tapi sebetulnya belajar membaca. Setiap postingan tentang belajar selalu Chi arsip di blog ini dengan judul file Metode Belajar. Ada juga yang masih berserakan di blog lama yang udah gak aktif (rencananya mau dikumpulin di sini). Salah satu postingan Chi tentang cara mengajarkan Keke dan Nai belajar membaca adalah tulisan yang berjudul "Nama Saya Badut"

 Nama saya badut, adalah satu ide ketika mengajarkan Keke-Nai membaca


Cukup sering Chi mengajarkan anak membaca dengan cara bermain. Karena namanya juga bermain, terntu aja jarang duduk manis bahkan seringkali berisik. Misalnya kalau mereka menebak dengan benar, Chi akan berseru "Yeaaaaayyyyy hebaaaaattttt!" Berseru sambil mencium Keke dan Nai, kalau perlu sambil jejingkrakan (anak-anak dimana-mana seneng jejingkrakan. Iya, kan? :D)

Kalau mereka salah, jangan lantas dimarahi juga. Biasanya Chi suka pura-pura pingsan atau jatuh ngedubrak ala tokoh kartun. Pokoknya melakukan sesuatu yang bikin Keke dan Nai ketawa tapi juga tetep tahu kalau mereka salah nebak

Gak selalu dalam proses belajar suasananya selalu menyenangkan. Pernah beberapa kali, mungkin Chi agak memaksa atau lagi capek saat itu, jadi mereka pun merasa terbebani. Kalau mereka udah setengah hati apalagi kalau sampe nangis, mendingan stop dulu belajarnya, deh! Gak akan masuk juga.

Makanya Chi semakin yakin kalau ngajak anak-anak itu harus dengan cara menyenangkan. Belajar sambil bermain. Pada dasarnya anak-anak adalah pembelajar sejati. Kemampuan mereka untuk menyerap sesuatu itu luar biasa.Yang penting jangan paksa mereka apalagi sampai terbebani.

Masih galau sama urusan mengajarkan anak membaca? Silakan coba 2 tips jitu cara mengajarkan anak membaca ini. Kalaupun masih belum berhasil, jangan putus asa. Terus mencari karena setiap anak juga punya gaya belajar yang berbeda. Gak bisa disamakan :)

Continue Reading
38 komentar
Share:

Minggu, 15 Desember 2013

Nyaman Banget Belanja Kosmetik Di Lazada

Walaupun sering belanja di toko online, tapi paling jenis barang yang saya beli gak terlalu beragam. Saya hanya belanja pakaian (buat saya dan anak-anak), buku, sama sesekali mainan. Selain itu saya belum pernah coba, dan ada beberapa hal yang saya gak berani beli secara online awalnya. Contohnya alat elektronik, komputer/laptop. Terlalu beresiko buat saya untuk belanja peralatan seperti itu secara online. Selain harganya gak murah, khawatir barangnya rusak, atau penjualnya gak bisa dipercaya.

Suami saya justru sebaliknya. Dia juga sering belanja online, tapi yang dibeli justru barang-barang yang menurut saya punya resiko tinggi itu, kayak laptop, dan lainnya. Menurut suami, gak apa-apa juga, sih, belanja barang-barang seperti itu secara online selama tokonya bisa dipercaya dan bonafid. Karena toko yang bonafid, dalam mengemas pun pasti sangat hati-hati.

Suatu hari, saya butuh beli kosmetik baru. Mau keluar rumah (baca : ngemall) rasanya maleeeesss. Lebih tepatnya, sih, karena lagi pengiritan hehehe. Maksud hati mau beli kosmetik, tapi kalau udah ke mall ‘buntutnya’ itu suka lebih banyak. Bensin, tol, makan, belum lagi kalau kami tertarik sama barang lainnya juga. Bisa-bisa lebih dari 1 tentengan, deh, pulangnya hehehe. Emang, sih, yang namanya belanja itu asik. Tapi kalau lagi pengiritan, kan, rasanya ngenes juga ngelihat berapa uang yang harus dikeluarin. Walaupun saat belanjanya gak inget :D

Saya lalu kepikiran buat belanja kosmetik secara online aja. Tapi sempet ragu-ragu juga, nih. Kalau barangnya kadaluarsa gimana? Karena kosmetik, kan juga kayak makanan gitu, ada masa kadaluarsanya. Solusinya berarti harus cari toko online yang bisa dipercaya. Cari info sana-sini, banyak yang kasih rekomendasi buat belanja di Lazada.

Oke, nih, olstorenya. Tapi, kemasannya gimana, ya? Yang namanya kosmetik itu sensitif juga produknya. Eye shadow, misalnya, kalau jatuh aja bisa hancur lebur isinya. Saya jadi khawatir, kalau beli kosmetik secara online, barangnya akan hancur lebur selama berada di jasa pengiriman.

Nekat! Itu yang saya lakukan. Setelah memilih beberapa item, transfer pembayaran, saya tinggal menunggu barangnya sampe rumah. Saya transfer hari ini, besoknya barang udah sampe rumah. Cepet banget. Deg-degan, saya buka paket kosmetik yang dikemas di dus dengan isolasi besar bertuliskan Lazada.

Ternyata, setiap itemnya di bungkus lagi pake bubble warp. Satu per satu, lho. Kalau kayak gini, sih, memang aman. Setelah bubble wrap dibuka, kosmetik masih utuh dalam plastik kemasan. Sip! Sejak itu, saya malah jadi seneng beli kosmetik lewat online store aja. Gak pake ribet, paling harus pinter-pinter nahan diri supaya kantong gak jebol karena laper mata hehehe.


http://www.lazada.co.id/armando-caruso-kotak-make-up-merah-40287.html
Udah lama ngincer si merah ini di Lazada. Kumpulin uangnya dulu, ah :D


Ngomongin tentang kosmetik, gak selalu berarti untuk tampil ‘wah’ kayak orang mau ke pesta, ya. Kosmetik juga bisa menunjang penampilan kita untuk tetap tampil natural. Kalau bingung gimana caranya tinggal cari di internet aja cara tips cara make-up natural. Kalau udah dapet tipsnya, tinggal belanja kosmetiknya di lazada.co.id, deh. Gampang, kan?

Continue Reading
12 komentar
Share:

Jumat, 13 Desember 2013

Ikut Srikandi Blogger Itu...

Pendaftaran Srikandi Blogger 2014 sudah dibuka sejak tanggal 3 Desember lalu. Dan akan ditutup tanggal 16 Desember 2013. Tinggal 3 hari lagi, nih! Siapa yang belum daftar?

Sebagai salah satu finalis Srikandi Blogger 2013, tentu aja terlarang bagi saya untuk mengikuti Srikandi Blogger 2014. Dan, sekarang saya menjadi salah satu panitia #SB2014. Kalau di KEB kami menyebutnya Makpan (Emak Panitia).

Ketika memasuki masa pendaftaran, suasana di grup KEB gak ada bedanya dengan masa pendaftaran Srikandi Blogger 2013. Banyak yang bilang gak pede. Tau, gak? Saya juga dulu gitu waktu daftar Srikandi Blogger. Malah bisa dibilang setiap ikut lomba, selalu aja merasa gak pede.

Yang suka bikin saya ragu untuk ikutan lomba itu, gimana kalau sampe kalah? Muka saya mau ditaro di manaaaaaa??? Rasanya males, deh, ikutan lomba-lomba. Takut malu. Tapi herannya, justru saya malah pernah memproklamirkan diri sebagai 'banci' lomba. Sering kalah daripada menangnya, tapi justru gak kapok. Ikut lagi... ikut lagi... padahal katanya malu kalau kalah. Gak jelas maunya apa hahahha.

Siapa, sih, yang gak pengen menang. Ikut lomba justru karena tujuan utamanya pengen menang. Tapi kalau tujuan utama gak tercapai, bukan berarti kita kalah total. Masih ada keuntungan lain yang bisa didapat, diantaranya :


  1. Mengasah keberanian apalagi kalau jawara-jawara lomba pada ikut. Lebih tepatnya, sih, belajar menghilangkan rasa gak percaya diri
  2. Biasanya kalau ikut lomba, pengunjung blog lebih naik dari biasanya. Keuntungan buat kita, tuh :)

Tentu aja kita harus mengukur kemampuan diri sendiri. Saya juga gak semua lomba diikutin. Lomba-lomba yang 'terlalu serius' seperti menulis karya ilmiah biasanya saya hindari. Atau lomba lain yang temanya diluar kemampuan saya, misalnya lomba menulis puisi, cerpen, dan lainnya.

Kalau alasannya hanya karena gak pede, saya coba mendobrak rasa gak pede itu. Biasanya saya gak pede karena melihat peserta yang ikutan udah pada langganan juara. Setelah dipikir-pikir lagi, mereka yang sering juara mungkin dulunya juga sering kalah. Cuma mereka gak kapok ikutan lomba, dan kali ini saatnya mereka bersinar. Nah, kalau saya terus dengan 'ketidakpedean' saya, sementara yang bersinar semakin bersinar yang ada saya jadi tambah ciut nanti. Makanya, itulah kenapa saya selalu pasang kacamata kuda kalau ikutan lomba, walopun ada sedikit rasa malu kalau kalah. Etapi, gak bakal lama, kok, malunya. Abis itu semuanya berjalan biasa lagi.

Ikut Srikandi Blogger itu spesial buat saya. Memang, sih, intinya gak jauh beda kayak kompetisi atau lomba-lomba blog lainnya. Ada yang menang dan kalah. Tapi menjadi spesial karena baru kali ini ada ajang penghargaan untuk para blogger perempuan.

Walopun dalam hati kita berkata menulis hanya untuk diri sendiri, gak perlu yang namanya apresiasi. Tapi sebagai manusia, rasanya normal juga kalau merasa senang karya kita itu diapresiasi. Setuju?

Bicara lagi tentang menang dan kalah, ternyata gak selamanya kalah itu bikin kecewa, lho. Bahkan setelah ajang Srikandi Blogger lalu, saya menulis postingan Alhamdulillah Gak Menang. Atau baca juga postingan yang berjudul OPPO N1 itu layak diperjuangkan! Kedua tulisan itu adalah pengalaman pribadi kalau kalah juga ternyata bukan sesuatu yang buruk :)

Jadi, gimana, Maks? Masih ragu ikutan Srikandi Blogger 2014? Ilangin keraguannya dan segera daftar. Mumpung masih ada beberapa hari lagi, nih! Karena ikut Srikandi Blogger itu rasanya spesial!

Continue Reading
12 komentar
Share:

Rabu, 11 Desember 2013

Penghematan Ala Belanja Online

Ibarat mall yang kian hari kian menjamur, terutama di kota-kota besar, toko online pun demikian. Sebagai penggemar belanja online, semakin banyaknya toko online tentu saja bikin saya gembira sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Saya gembira karena makin banyak pilihan toko online yang bisa saya jelajahi. Tapi harus semakin meningkatkan kewaspadaan, karena gak sedikit toko online yang palsu. Mempermainkan kepercayaan customer. Padahal dalam kegiatan jual-beli online, kepercayaan itu adalah modal yang paling utama.

Walaupun semakin banyak toko online, saya tetap punya toko online pilihan. Toko online yang biasanya selalu saya andalkan kalau saya ingin membeli sesuatu. Salah satu toko andalan saya adalah Lamido. Toko online yang satu ini sebetulnya bukan nama yang asing, karena berada di bawah group Lazada.

Salah satu alasan utama saya menggemari belanja online adalah penghematan. Yang namanya penghematan itu kayaknya emak-emak banget, deh, hehehe. Dan ngomong-ngomong tengtang penghematan, gak cuma menghemat uang aja yang harus dipertimbangkan. Hemat waktu juga harus dipertimbangkan, lho.

Continue Reading
17 komentar
Share:

Selasa, 10 Desember 2013

Melihat 'Cahaya Surga' Di Goa Jomblang

Mari lanjutin perjalanan lagi :D

Balik dari melihat goa yang Chi gak tau namanya itu, kami pun istirahat di penginapan. Chi dan K'Aie duduk di teras. Chi masih gak yakin kalau hari itu kami akan bisa turun ke goa Jomblang. Sementara Keke dan Nai asik main gadget di dalam penginapan.

Gak lama kemudian, 2 orang mas-mas yang ada di Jomblang Resort saling berseru kalau sinar matahari kelihatannya mulai muncul. K'Aie pun kemudian mengatakan hal yang sama. Gak pake lama, kami pun bergegas. Untung belum ganti baju, jadi tinggal pake sepatu bot, harness, dan helm.


Siap-siap turun


Kami pun menuju ke lubang tempat kami turun. Gak jauh, kok, jaraknya dari penginapan. Paling cuma 5 menit jalan kaki. Dan walopun udah pernah lewatin sebelumnya, tetep aja liat lubang yang besaaaaaaarrrr banget (kira-kira berdiameter 50 meter) ada di deket kita itu bikin merinding! Untung Keke dan Nai bukan anak yang pecicilan. Ngeri juga kalau anaknya gak mau diem, lari sana-sini. Bisa-bisa suara Chi soak karena teriak-teriak atau Chi iket aja anaknya hahaha

Update status dulu sebelum turun :p
Kayaknya muka Chi keliatan tegang, ya :O


Setelah rundingan sebentar, diputusin K'Aie duluan yang turun, lalu Keke, trus Nai, terakhir Chi. Gimana rasanya turun ke kedalaman 60 meter, Sodara-sodara??? Pasraaaahhhh... Hehehe. Ya, abis mau gimana lagi.

 
K'Aie yang pertama
Keke yang kedua
Nai yang ketiga. Terakhir, Chi dan gak ada yang motoin :D


Sampe bawah, kami gak langsung masuk goa. Tapi yang kami jumpai adalah hutan purba. Menurut penjelasan Mas yang memandu kami, hutan ini dulunya ada di atas. Karena ada sesuatu hal (seingat Chi karena ada pusaran air di dalam tanah), mengakibatkan tanahnya rubuh dan membentuk lobang tempat kami turun itu.

Hutan purba


Walopun rubuh, tanaman-tanaman yang turun tetap tumbuh. Uniknya tanaman-tanaman tersebut sekarang sudah tidak ada lagi di atas. Padahal usianya sudah tua (makanya disebut hutan purba) Dan beberapa peneliti, termasuk yang dari mancanegara beberapa kali datang untuk meneliti tanaman-tanaman yang ada di hutan purba tersebut.

Kami agak lama ada di hutan purba, karena kemudian ada 2 orang perempuan yang ikut. Awalnya mereka cuma ingin lihat-lihat karena penasaran sama goa Jomblang yang sering mereka baca di internet. Tapi, begitu melihat kami turun, mereka pun langsung pengen ikutan.

Setelah semuanya turun dan mendapat penjelasan dari mas pemandu apa yang boleh dan tidak, kami melanjutkan perjalanan. Jalannya cukup licin. Jangan takut kotor kalau main-main ke sini, ya. Yang jelas dari kepala sampe ujung kaki penuh lumpur semua. Walopun ada mata air buat kami cuci tangan, tapi tetep aja sebentar lagi juga kotor lagi :D

Kami juga harus melewati jalan menurun. Mulut goanya gede banget! Lebih gede dari stadion sepakbola tingginya kayaknya. Sempet becanda sedikit, kayak tempat tinggalnya Flinstone hehehe


 
Nai jalan di depan bersama mas pemandu


Kata mas pemandu, dulu di goa ini dulunya banyak sekali kelelawar, tapi sekarang udah gak tau kemana sejak manusia mulai masuk. Goanya gelap sebetulnya, tapi kemudian mas Pemandu menyalakan lampu (yang jelas bukan lampu listrik). Katanya beberapa waktu lalu ada perusahaan rokok ternama yang syuting iklan di sana. Setelah selesai, peralatannya yang banyak itu (termasuk lampu) ditinggal di sana. Jadi, deh, sekarang suka dipake kalau ada yang masuk ke Goa Jomblang. Gak sampe terang benderang, hanya remang-remang, tapi lumayan membantu, lah.

Gak lama kemudian (paling sekitar 15 menitan jalannya), kami pun tiba di goa Grubug. Iyessss, 'cahaya surga' atau juga dikenal sebagai ray of light yang dinantikan pun menyambut kami. Lihat dulu foto-foto di bawah ini untuk melihat keindahannya, ya *walopun di foto dari kamera seadanya hehe



Bromo memang menakjubkan, Semeru itu megah, tapi Ray of Light Goa Grubug ini bikin Chi SPEECHLESS! Gimana gak speechless, berada di kedalaman 100 meter dengan sinar matahari hanya sesekali terlihat rasanya udah gak bisa berkata-kata lagi.

Ray of light sebetulnya ada di goa grubug, tapi karena kami turunnya dari goa jomblang makanya banyak yang mengenalnya goa jomblang. Sebetulnya bisa aja turun langsung ke goa grubug melalui lobang tempat cahaya masuk itu. Tapi, mas pemandunya bilang kalau sekarang sebaiknya udah jangan ada lagi yang turun melalui goa grubug. Khawatir merusak kelestarian dan goanya.

Goa grubuk berada di kedalaman 100 meter. Jadi dari hutan purba tadi bisa dibilang pelan-pelan kami turun lagi sebanyak 40 meter. Dinamakan goa grubug karena ada aliran sungai di dalam goa tersebut, dan bunyinya terdengar 'grubug... grubug...' karena derasnya. Sebetulnya kami bisa turun ke sungai dan bermain air, tapi karena baru aja hujan, sungai biasanya deras dan kotor airnya. Cukup berbahaya kalau turun saat musim hujan.

Di dalam goa grubug juga ada batu yang dinamakan batu gordam. Batunya besar sekali dan cantik Cantik, karena di sekelilingnya penuh lumpur, batu gordam terlihat putih seperti kapur. Apalagi kalau sinar matahari lagi masuk. Keren!

Batu gordam ini dijaga banget kecantikannya. Kalau kita mau foto-foto di dekatnya apalagi sampe naik ke atas batu, sebaiknya copot sepatu bot dan kaos kaki yang penuh lumpur itu. Pokoknya jangan sampe batu gordam yang putih itu ternoda sama lumpur. Trus kalau baju kita yang penuh lumpur gimana? Nah, ini lagi uniknya. Di sekitar area batu gordam itu basah. Air terus mengucur dari langit-langit goa. Kita jadi basah kuyup seperti mandi hujan kalau dekat batu itu. Jadi lumaya, lah, bisa menghilangkan lumpur-lumpur dipakaian.

Kalau K'Aie sebetulnya melarang kami naik ke batu gordam. Cukup dekat-dekat aja. Karena menurut K'Aie, batu itu terus bertumbuh. Sayang kalau sampe diinjek-injek terus.


Batu Gordam yang terkena sinar matahari
Batu Gordamnya keliatan cantik, kan? :)


Ray of light hanya terlihat dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 13.00 aja. Tapi gak terus-terusan kelihatan bersinar. Hanya sesekali aja. Kalau lagi bersinar, goa terang-benderang. Tapi kalau lagi ngumpet mataharinya, lumayan gelap juga. Itupun dengan catatan kalau cuaca cerah. Makanya Chi tadi sempet gelisah kalau matahari sampe gak muncul. Karena yang ditunggu-tunggu, kan, ray of light nya itu.

Setelah puas menikmati 'cahaya surga' (sebetulnya belum puas, sih), kami pun makan siang di dalam goa. Makan siang yang dibawakan sama mas pemandu di ranselnya. Merasakan sensasi juga, nih, makan di dalam goa hehhehe. Tapi inget, ya, sampah jangan dibuang sembarangan. Masukin lagi ke dalam tas. Dibuangnya nanti kalau ketemu tempat sampah.


Makan siang dengan bantuan senter. Menunya sama kayak menu sarapan pagi.


Kami kembali ke rute semla, yaitu ke goa Jomblang. Kembali satu per satu dari kami harus naik. Nai, sempet ngambek di sini. Gara-garanya, mas pemandu minta Nai untuk tandem. Terserah mau tandem sama ayaah atau bundanya. Atau tandem bertiga juga boleh. Tapi, Nai gak mau. Malah dia sampe nangis trus bilang mendingan ditinggalin di hutan ajah! :D

Mulut Goa Jomblang. Perasaan pas turun biasa ajah. Giliran naik, ngos-ngosan


Nai disarankan untuk tandem karena mas pemandu khawatir badan Nai terlalu muter saat ditarik ke atas. Jadi, kira-kira seperti gini... pernah nyobain nimba air di sumur? Kalau kita angkat ember yang penuh air sama ember yang kosong pasti beda rasanya. Tentu aja yang kosong terasa lebih ringan. Tapi, karena kosong jadinya itu ember kegoyang dikit aja bisa muter-muter selama ditarik, kan. Beda sama ember yang berat, posisinya akan lebih stabil.

Nah, itu yang dikawatirin kalau Nai gak mau tandem. Takutnya Nai pusing karena terlalu muter-muter badannya. Tapi, karena Nai ngotot gak mau tandem jadi ya terpaksa deh diturutin permintaannya. Eh, gak taunya Nai malah kesenengan. Gak pusing sama sekali katanya. Malah Keke dan Nai ketagihan pengen turun lagi. Hihihi, kapan-kapan lagi, ya, Nak.


K'Aie kembali jadi orang pertama yang naik, dilanjut Keke, Nai, Chi, terakhir 2 orang perempuan itu.
Beginilah cara kami naik. Pakai tenaga manusia :)


Setelah semua sampe di atas, kami pun kembali ke penginapan. Saatnya mandi-mandi sebelum beberes. Tapi gak taunya... lupa bawa peralatan mandi hehehe. Ketinggalan di mobil. Ya, udah kami bebersih aja pake air, deh. Yang penting udah gak ada lagi yang namanya lumpur-lumpur. Setelah beres, saatnya jalan-jalan ke Jogjaaaaa!!

 
Yang gak nginep di Jomblang Resort tetep bisa caving Goa Jomblang. Nanti mandinya di sini. Bersih dan modern, kok
 Sepatu bot yang penuh lumpur. Sebetulnya gak cuma sepatu, sih, sampe ke baju dan jilbab juga penuh lumpur :D

Oiya, Chi sempet rada gak semangat nulis postingan ini. Karena rekaman video selama kami di sana gak tau kemana. Huaaaaa....

Tips untuk caving goa Jomblang :


  1. Pake baju yang simpel aja. Kaos dan celana kain (usahakan jangan jeans, deh).
  2. Yang berjilbab, pake yang simpel juga. Gak usah yang dibentuk-bentuk. Yang instan lebih enak
  3. Kaos kaki dan sepatu itu harus. Sebetulnya dipinjemin sepatu bot. Tapi waktu itu untuk Nai gak ada ukurannya, jadi dia pake sepatu sekolah
  4. Jangan buang sampah sembarangan, jangan merusak kelestarian, dan jaga sikap, ya :) 
  5. Yang bawa gadget juga hati-hati, deh. Jangan sampe rusak karena kena air. Malah Chi pernah baca di salah satu blog, ada yang kameranya jatuh dari ketinggian 60 meter karena ingin memotret pas lagi turun. DSLR pula. Beuuuggghhh.... Mendingan pake tali pengaman kameranya kalau tetep mau dipake.

Berapa harga menginap di Jomblang Resort dan caving di goa Jomblang? Chi gak tau. K'Aie pas Chi tanya cuma senyum-senyum aja. Bisa jadi artinya harga temen atau malah digratisin sama temennya hehehe. Tapi kalau info yang Chi baca di internet, untuk caving-nya aja itu Rp.450.000,- per orang (sudah termasuk makan siang). Gak tau, deh, kalau sama menginapnya jadi berapa.

Oke, deh, thanks banget buat Cahyo untuk tempatnya. Eits, termasuk sama tempat menginapnya di Jogja juga. Karena di Jogja kami menginap di rumah temen K'Aie ini. Lumayaaann, irit biaya penginapan hehehe. Tapi nanti aja, deh, cerita tentang Jogjanya. Bersambung, ya :)

Untuk yang berminat silakan menghubungi Cahyo Alkantana di 0811117010

Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :

  1. Liburan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
  4. Perjalanan Menuju Bromo
  5. Lava View Lodge - Bromo
  6. Bromo yang Menakjubkan 
  7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane 
  8. Semalam di Blitar 
  9. Sang Fajar Suite 
  10. Menuju Jomblang
  11. Impian Yang (Terlalu Cepat) Menjadi Nyata  
  12. Jomblang Resort

Continue Reading
42 komentar
Share:

Senin, 09 Desember 2013

Google atau Goggle?

Beberapa hari lalu, waktu pulang sekolah, seperti biasa Chi dan anak-anak ngobrol sepanjang perjalanan.

Keke  : "Bun, kemarin Dodo *bukan nama sebenarnya masa' ngomong 'dasar bodoh!' ke ayah. Itu dapet dari mana, ya, kata-kata dasar bodoh?"

Bunda : "Kayaknya dari film Jake and The Neverland, Ke."

Keke  : "Oiya, Kapten Hooknya kan suka bilang dasar bodoh ke anak buahnya, ya, Bun."

Bunda : "Iya. Sebetulnya gak apa-apa juga, sih, nonton Jake selama orang tua ngawasin. Trus dikasih pengertian mana yang boleh dan enggak. Buktinya Keke sama Nai juga suka nonton Jake tapi gak ngomong kayak gitu."

Keke : "Iya, kalau kita sih nonton ya nonton ajah. Gak ngikutin yang jelek-jeleknya."

Bunda : "Itu karena Bunda juga suka kasih tau. Makanya kalian nonton film anak apapun, gak lantas jadi ikut-ikutan gitu aja. Bunda juga dulu waktu kecil juga suka nonton film berantem-berantem kayak Power Ranger, tapi gak bikin Bunda jadi seneng berantem."

Keke  : "Emang Power Ranger dari jaman Bunda kecil udah ada?"

Bunda : "Ada namanya Google Five."

Keke  : "Google...?"

Bunda : "Iya, Goo.... eh, maksudnya Goggle Five hehehe. Mirip kayak Power Ranger gitu, lah, Ke."

Walopun dulu penggemar berat Goggle Five, tapi gak bikin Chi suka berantem. Cuma apa ini ada hubungannya kalau sekarang Chi tergantung sama Google? *analisa ngaco hehehe


Gak tau, lah, ini pasukan Goggle Five lagi ngapain. Mungkin lagi main hulahoop bareng-bareng :p

Continue Reading
28 komentar
Share:

Kamis, 05 Desember 2013

OPPO N1 Itu Layak Diperjuangkan!

Yang namanya kalah lomba, dimana-mana suka ada rasa galaunya, ya. Begitu juga waktu tau kalau saya kalah di blogging contest OPPO. Galau, cyiiinnn. Yang bikin tambah galau, tuh, karena saya udah pengen banget punya smartphone dengan camera yang canggih di dalamnya. Apalagi N-Lens OPPO N1 memang termasuk keren banget. Berharap bisa dapet gratis dari OPPO dengan cara menang lombanya. Eh, ternyata kalah.

Harus diakui yang jadi juara pertama itu keren tulisannya. Tapi, karena ini blog saya, jadi mau pamer tulisan saya tentang OPPO N1 yang di tulis di blog saya yang lain. Tulisan yang saya lombakan dengan judul "Saya Sangat Menginginkan Smartphone OPPO N1!" Walaupun gak menang, tapi saya yakin tulisan yang saya buat cukup informatif, kok. Bisa bikin orang tertarik untuk memiliki OPPO N1 :D

Beberapa hari setelahnya, saya mendapat undangan dari OPPO dengan tema acara N1: The Pre-Unboxing Experience. Awalnya saya gak tau ini acara tentang apa. Tapi kalau coba-coba nebak dari temanya, apa itu artinya yang diundang diminta nyobain N1 gitu, ya? Karena kalau launching gak mungkin, deh. Kan, launching N1 udah dilakukan di Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton tanggal 16 Oktober 2013 lalu. Daaaaaannnn kalau tebakan saya benar, apa itu artinya bakal ada kesempatan kedua untuk bisa memiliki OPPO N1? Semogaaaa... :D

Emailnya gak langsung saya bales karena belum tanya suami. Eh, besoknya, pihak OPPO telpon meminta kepastian saya. Secepat kilat saya tanya ke suami (untung belum berangkat ke kantor). Alhamdulillah, langsung 'surat jalan' langsung. Asiiiiiikkkk!!

Malah suami bilang, "OPPO itu smartphone yang Didit punya. Bagus barangnya."

Apaaaa??? Jadi selama ini sepupu suami pake OPPO? Tau gitu pas mau ikut lomba tanya-tanya dulu ke dia, deh :D


Undangan yang saya terima, 2 hari setelah konfirmasi melalui e-mail


Sabtu, 30 November 2013 at The Cone, Fx.

Hampir pukul 13.00 saya sampai juga di Fx tepatnya di the Cone. Alhamdulillah, Jakarta lumayan lancar hari itu. Saya bisa dateng tepat waktu. Tapi, pas sampe sana ternyata masih sepi.

Hanya ada sekitar 10 meja di sana. Perkiraan saya, acaranya memang gak mengundang banyak orang. Bagus juga, sih, jadinya lebih privat. Saya pun duduk di meja nomor 9, karena setiap undangan sudah ditentukan tempat duduknya.


Baru segelintir yang dateng.


Sambil menunggu saya membaca buku. Tau-tau dari OPPO minta saya untuk foto dulu dengan latar belakang backdrop OPPO sambil megang dus OPPO N1. Duh, baru pegang dusnya aja kayaknya udah mantep banget. Berat banget rasanya pas harus balikin lagi hahahaha

Semua undangan diminta untuk foto dengan memegang produk OPPO. Tapi kenapa cuma segelintir aja yang di upload sama OPPO? Saya gak termasuk. Hiks.. *nangis di pojokan
Jadi, saya tampilin foto 2 Ofans (user OPPO) yang paling rame diacara itu aja, deh. Yang paling kanan, namanya Dimas. Yang sebelah kiri gak tau, abis MCnya selalu manggilnya mas camera 360 hehehe
Sumber Foto : OPPO


Setelah beberapa menit, datang seorang laki-laki bernama Hilman duduk di meja yang sama dengan saya. Kami pun langsung berkenalan.

Mas Hilman : "Udah berapa lama pakai OPPO?"

Saya : "..... saya belum pakai OPPO, Mas."

Mas Hilman : "Lho, trus datang ke sini?"

Saya : "OPPO mengundang saya lewat e-mail untuk dateng ke acara ini. Mungkin karena saya pernah ikut blog contest OPPO."

Mas Hilman : "Jadi, Mbak Blogger, ya? Nulis tentang apa di blognya? Tentang gadget?"

Begitulah kurang-lebihnya obrolan saya dengan Mas Hilman. Kalau gak mirip-mirip banget obrolannya, ya, maaf. Yang penting maksudnya sama hehehe. Dari obrolan itu saya tau kalau Mas Hilman bergabung di OPPO ID Community. Udah beberapa kali ikut OPPO gathering, baik yang dilakukan oleh pihak OPPO ataupun mereka melakukan sendiri sesama anggota. Hmmm... gak heran kalau setiap ada yang dateng, Mas Hilman terlihat akrab sekali. Saling sapa, saling becanda.

Melihat keakraban mereka, saya sempet jadi merasa sepi ditengah keakraban hehehe. Mana perempuannya, kok, baru saya aja yang dateng. Paling kalaupun ada perempuan lain, cuma crew-crew dari OPPO. Walopun begitu, saya diam-diam menikmati becandaan mas Hilman dan teman-temannya. Meskipun gak ikut nimbrung. Kan, saya pemaluuuuu hehehe.

Mayoritas yang datang kesana sepertinya memang member OPPO ID Community *tebakan saya kalau melihat keakraban mereka dan juga dari smartphone yang mereka pegang. Apalagi kalau bukan OPPO. Ada juga, sih, yang diluar komunitas OPPO ID Community, yaitu saya, Mak Eka Fikry (blogger), dan juga salah seorang (saya lupa tanya namanya) yang katanya tertarik buat beli OPPO tapi kata yang jualnya disarankan beli OPPO N1 aja. Dia datang ke acara tersebut karena diundang OPPO dan buat mastiin apa bener rekomendasi penjual kalau smartphone OPPO N1 itu bagus.Trus denger-denger ada juga Kaskuser.


Seperti Ofans lainnya, asik ber-OPPO ria :)


Saya sempet bertanya sama Mas Biyanto dari OPPO tentang acara ini. Katanya OPPO N1 itu baru bisa pre-order. Sambil menunggu produknya datang ke Indonesia, para undangan di acara ini diminta untuk nyobain OPPO N1. Dan setelah melalui tahap penyaringan, blogger-blogger yang pernah ikut lomba OPPO, saya termasuk yang terpilih untuk diundang ke acara N1 : Pre Un-Boxing Experience dengan harapan saya bisa ikut promosiin OPPO N1. Asliiii.... saya tersanjung banget, nih, rada-rada GR juga heheh. Makasih, ya OPPO

Setelah molor 1 jam, acara pun dimulai. Akhirnyaaaaa.... Acara dibuka oleh MC perempuan bernama Dian Ari. Top MCnya. Bawain acaranya asik, gak garing. Diawali dengan penjelasan dari Kevin Ho, Product Manager of OPPO. Kevin Ho, yang juga seorang penggemar gadget ini menjelaskan sedikit tentang OPPO N1.

Salah satu hal yang saya tangkap dari penjelasan Kevin Ho adalah OPPO N1 ini memang cocok untuk mereka yang aktif di dunia maya, khususnya social media. Makanya salah satu keunggulan OPPO N1 itu ada di kameranya.


Kevin Ho, Product Manager of OPPO Indonesis


Trus katanya, di media sosial itu upload foto lebih gampang dapat like daripada update status. Hmmm... benarkah? Nanti saya buktikan diakhir postingan ini :)

Setelah penjelasan dari pihak OPPO, lanjut ke Ery yang terpilih sebagai beta tester OPPO N1. Yang dimaksud beta tester adalah user OPPO yang terpilih untuk cobain pake OPPO N1 selama beberapa hari. Di akhir sesi, Ery mengatakan kalau OPPO N1 ini bukanlah smartphone tapi genius phone.

Kayaknya benar juga yang Ery bilang. Diantara presentasinya itu, saya paling tertarik sama hasil slow shutter N-Lens OPPO N1 trus sama rekaman videonya. Ada salah satu video yang dibuat dengan cara meletakkan OPPO N1 di helm, trus mengendarai motor. Hasilnya tetep bagus, lho!


Salah satu karya Ery dengan OPPO N1 yang dipresentasikan dengan menggunakan N-Lens mode slow shutter.


Sesi yang paling ditunggu-tunggu adalah un-boxing OPPO N1 tentunya! Setiap meja dapat 2 box OPPO N1. Kalau setiap meja ada 4 orang undangan, berarti 1 box untuk 2 orang. Asiiiikkk gak ngantri-ngantri banget dan gak perlu rebutan berarti. Oiya, setiap meja didampingi oleh 1 orang dari pihak OPPO yang akan membantu kami untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Sebelum nguprek OPPO N1, ada coffe break dulu. Tapi saya, sih, tetep aja minumnya air putih hehehe. Plus beberapa camilan yang enak rasanya :)


Bener-bener un-boxing, nih! Boxnya aja masih disegel. Jadi serasa kayak kita yang beli karena harus buka bungkusnya hehehe. Kesan pertama aja udah dapet nilai plus, plus, plus. Kalau kita beli smartphone atau gadget lainnya, boxnya itu terbuat dari dus, kan. Seberapapun mahal harga gadgetnya, boxnya tetep dari dus. Tapi box OPPO N1 enggak.

Bahannya keras, tapi saya gak tau terbuat dari apa. Yang jelas bukan dari kaleng juga. Karena kaleng kan masih gampang penyok walopun keras. Kalau box OPPO N1 terasa keras, kuat, dan terlihat elegan sekali.


 Keliatan sederhana tapi elegan dan berkelas banget, ya, box OPPO N1 :L
ABAIKAN titik hitam di atas tulisan OPPO, karena itu bukan cacat produk. Tapi lensa kamera saya yang terkena noda.
Bagian dalam box. Sebelah kiri, smartphone OPPO N1. Kanan atas, manual book. Kanan bawah, earphone.


Kami diberi waktu 40 menit untuk merasakan OPPO N1 ini. Sebetulnya waktu yang cukup. Hanya sayangnya pendamping kami sepertinya masih baru banget jadi gak terlalu lancar menjelaskan. Padahal saya lihat di meja-meja lain kayaknya pendampingnya pada luwes banget berkomunikasi dengan para undangan. Pendamping di kelompok saya, selain kurang lancar juga kadang meninggalkan meja kami untuk bertanya-tanya ke crew OPPO yang lain.

Dimensi OPPO N1 adalah 170,7 x 82,6 x 9mm
Lebih panjang dari telapak tangan saya. Bagian belakangnya yang dibuat agak melengkung, membuat OPPO N1 ini tetap terasa nyaman dipegang bahkan dengan satu tangan sekalipun walaupun berukuran besar
Gak rela, ah, kalau cuma telapak tangan saya aja yang difoto hehehe


Untuk itu saya sangat berterima kasih dengan salah seorang crew dari OPPO yang akhirnya ikut mendampingi, saya jadi bisa dapat lebih banyak info tentang OPPO N1 (maaf saya lupa namanya, tapi mas yang satu ini juga memandu kuis kalau gak salah :D). Trus ada Wenly juga yang sempat ikut menjelaskan di meja kami. Dan sebelum pulang, saya juga sempet ngobrol-ngobrol sama Mas Iqbal dari OPPO Indonesia. Wah, jadi banyak dapet info, nih ^_^

Mas Hilman dan Mas Jefri asik banget, nih, nyobain OPPO N1 :)
Walaupun 'berbadan besar' tapi SIM Card yang digunakan adalah Micro SIM Card. Cara membukanya dengan menggunakan injector khusus OPPO. Mudah, kok, tinggal ditusukin ke lubang kecil. Tapi, harus pakai injector khusus OPPO, ya. Jangan coba-coba ditusuk pakai jarum
Battere OPPO N1


Mas yang dari OPPO menjelaskan ke saya tentang The Power of Fingers OPPO N1, yaitu

  1. 1 jari untuk gesture. Misalnya, setelah ketika kita menggambar kotak dengan 1 jari kita, otomatis akan keluar tampilan sms di layar. Gak harus kotak, sih. Kita bisa membuat bentuk apapun yang kita mau untuk membuka aplikasi tertentu
  2. 2 jari kita sapukan ke layar untuk mendengarkan musik
  3. 3 jari untuk screenshot
  4. 4 jari untuk kamera *kayaknya yang bakal sering saya pake yang 4 jari ini :D

Yang paling sering saya cobain tentu aja kameranya. Jepret sana-sini. Hasilya gak mengecewakan sama sekali bahkan setelah di perbesar hasilnya. Saya cobain kamera berputarnya yang katanya selain mempunyai jarak pandang lebih luas juga bisa motoin orang tanpa ketauan. Ihiiiiyyy bisa diem-diem fotoin gebetan, kah? Ups! :p

Ngetes kameranya, ah
Saya coba perbesar hasilnya tetep cakeeeeepppp. Jelas dan gak pecah.

Sayang saya cuma bisa ceritain aja di sini tentang hasil fotonya. Buat saya memuaskan banget, dak gak perlu bawa digital camera lagi di tas. Sempet kepikiran untuk upload semua hasil foto dari OPPO N1 yang saya buat ke FB tapi kata mbak yang mendampingi koneksi WiFi di sana gak bagus. Susah buat internetan. Eh, udah gitu saya nurut aja lagi. Lupa, kalau sebelumnya saya sempet internetan dengan gadget pribadi saya menggunakan WiFi di sana, tuh, lancar jaya.

Sampe kemudian, mas yang dari OPPO itu mengingatkan tentang cara internetan di OPPO menggunakan WiFi di sana. Langsung, deh, lancar jaya cuma waktunya keburu habis. Jadi saya cuma sempet upload foto saya sendiri. *Jangan bosan dengan kenarsisan saya hehehe


Begitu internet lancar jaya, yang pertama kali saya buka adalah blog sendiri :D


Upload foto diri sendiri sekaligus buat membuktikan ucapan Kevin Ho di awal acara yang katanya upload foto lebih gampang dapet like daripada status. Emang bener ternyata. Buktinya 2 screenshot di bawah ini.

Ceritanya mau ngebuktiin ucapan Kevin Ho yg katanya upload foto lebih sering direspon dan dapat like ketimbang status
Hmmm... gak ada yang penasaran sama status saya itu, nih. Cuma dapet 1 foto dan 1 like ajah hehehe
Cobain foto dengan fitur beauty. Hasilnya hhhmmmm... kameranya yang cantik apa emang saya yang cantik
Yang jelas, foto yang kemudian saya upload di FB ini 21 komen dan 43 like hingga detik saat saya upload ke blog ini.
Maaf untuk teman-teman yang udah kasih like dan komen di foto ini, gak ada satupun yang saya balas. Bukannya 'sok' cuek, tapi lagi mau dihitung jumlah like dan komen tanpa tercampur sama komen saya :)
Kayaknya teorinya Kevin Ho bener, nih


Sesi berikutnya adalah games. Seru banget gamesnya. Sayang kelompok saya di sesi pertama udah kalah. Nyerah, deh, kalau urusan teriak-teriak. Suara emak-emak kalah sama banyaknya laki-laki yang teriak-teriak hahahaha.

Group saya lagi ikutan games dan langsung kalah di sesi pertama :O
sumber foto : OPPO


Setelah games selesai. ditutup dengan doorprize yang berhadiah 1 unit OPPO (saya gak tau tipe apa, yang jelas bukan OPPO N1) dan makan malam. Saya jarang beruntung kalau urusan doorprze kayaknya :D

Acara ditutup dengan makan malam bersama. Sip, lah, sampe rumah tinggal dengerin Keke dan Nai cerita Frozen. Film yang mereka tonton selama saya ikut acara ini


Sebelum pulang saya lumayan banyak ngobrol dengan mas Iqbal. Diantaranya saya menanyakan apakah OPPO N1 tahan jatuh? Mengingat saya agak ceroboh. Suka menjatuhkan hape. Jadi hape yang ringkih, gak bakal cocok sama saya. :D Kata Mas Iqbal, untuk tipe smatphone OPPO yang sbeumnya itu tahan banting. Apalagi OPPO Find Way S. Udah dicobain di jatuhkan dari lantai 1 mall, gak kenapa-napa. Jadi, OPPO N1 dengan segala kualitasnya tinggi harusnya memang lebih tahan banting.

Trus, di OPPO N1 itu di dalamnya ada kayak alat buat merekam gitu. Akan tercatat kalau smartphonenya kesiram air, jatuh, dan lainnya. Jadi gak bisa tepu-tepu lah kita kalau suatu saat itu smartphone rusak dan harus dibawa ke service. Misalnya ngakunya gak pernah kena air padahal sebetulnya kecemplung.

Ngomong-ngomong tentang service, buat saya itu penting. Service yang menarik ketika menawarkan sebuah produk, bisa bikin saya gampang jatuh hati dengan produk tersebut. Begitu juga sebaliknya, saya suka langsung ilfil kalau service para salesnya gak oke.

Dan untuk produk dari brand ternama apalagi yang harganya gak murah, after sales service itu penting banget. Makanya after sales service termasuk yang pasti saya tanyakan. Dan untuk OPPO, kita bisa datang ke Roxy atau mall Ambassador apabila ingin service.

Lalu bagaimana dengan user di luar kota? Tenaaaaaannnggg... OPPO punya sistem jemput bola. Kita datangi aja tempat kita beli OPPO tersebut. Nanti tetep dari pihak OPPO yang akan menindak lanjuti.

Saat acara tersebut, OPPO N1 memang belum ada di Indonesia. Jadi kalau kita tertarik bisa pre-order dulu. Tapi kata Wenly yang menghampiri meja kami waktu sesi un-boxing, paling lambat tanggal 20 Desember, OPPO N1 sudah bisa dijual di pasaran. Cateeeeettt paling telat, yaaaa..


BERITA TERBARU per hari ini (5/12). Berarti Ofans udah bisa tahun baruan pake OPPO N1, ya :)


Tertarik kah saya untuk memiliki OPPO N1 ini? Semakin tertarik, alasannya :

  1.  Waktu nulis untuk blog contest aja kayaknya udah pengen banget punya OPPO N1
  2.  Sepupu suami juga pake OPPO, jadi udah ada rekomendasi dari sepupu dan juga suami yang bilang OPPO itu bagus 
  3.  Pas dateng ke acara pre un-boxing, saya udah dikasih kesempatan untuk foto sambil megang box OPPO N1 sampe nyobain OPPO. Yang kurang cuma 1, tinggal memiliki aja yang belom. :r
  4.  Pas di mobil dalam perjalanan pulang, suami tanya, "Gimana acara tadi? Bagus gak produknya?" *Apakah ini sebuah kode kalau saya akan dibelikan OPPO N1?:D

Kok, tertarik pengen punya OPPO? Itu, kan, produk China.

Setelah saya dikasih kesempatan menghadiri acara tersebut, saya makin yakin untuk bilang, "Emang kenapa sama produk Cina? Takut kalah gengsi atau takut barang kw?"

Iya, sih, selama ini produk Cina dikenal sebagai surganya barang kw. Jadi kesannya kayak kurang bergengsi. Padahal kalau dipikir-pikir, sekarang produk mana, sih, yang gak diproduksi di Cina? Semua barang bermerk juga diproduksi di Cina kayaknya hehehe. Tapi yang bener-bener ngaku produk asli Cina, ya, brand OPPO ini.

Untuk pasar smartphone OPPO termasuk baru tapi sebelumnya produk-produk OPPO di bawah bendera OPPO Electronic Corps. sudah memproduksi alat-alat elektronik berkualitas sejak 2004. Bahkan untuk produk Blu Ray nya terkenal canggih di kawasan Amerika. (berbagai sumber).

Jadi, udah gak perlu ada alasan lagi takut kalah gengsi atau takut barang kw kalau beli produk Cina, ya. Asal merknya OPPO, dijamin premium kualitasnya.


Yang bikin saya sangat terkesan dengan acara tersebut adalah suasana hangat yang penuh keakraban. Antara para undangan (yang mayoritas adalah user dan tergabung di komunitas OPPO) dengan crew-crew dari pihak OPPO semuanya berbaur. Semuanya akrab dan bisa becanda, Bahkan saya yang belum jadi user OPPO bisa merasakan kegembiraan selama di sana, hingga 6 jam acara berlangsung pun gak berasa sama sekali.

OPPO smartphone memang punya komunitas. Yang mengelola komunitas tersebut dibeberapa media sosial adalah dari pihak OPPO sendiri. Menurut saya ini juga strategi yang bagus dari OPPO. Jadi para user tidak hanya diposisikan sebagai pembeli yang setelah itu selesai. Hubungan baiknya pun tetap terjaga, sehingga user bisa enak berkomunikasi (termasuk kalau ada komplen).

Semoga saya diundang lagi di acara gathering OPPO. Semoga kalau sampe diundang lagi, saya udah pake OPPO. Dan semoga, kali ini jadi rezeki saya untuk bisa mendapatkan OPPO N1 CM Edition yang katanya cuma ada belasan unit itu secara gratis. *Suami kayaknya seneng banget kalau saya bisa dapetin OPPO N1 gratis hahaha


Keakraban seperti ini yang bikin saya pengen gathering bareng Ofans lagi :)


Emangnya OPPO bikin blogging contest lagi?

Iya, tapi cuma untuk yang dateng ke acara pre un-boxing experience ajah. Do'ain semoga kali ini jadi rezeki saya, ya. Apalagi hadiahnya kali ini kata Kevin Ho, di akhir acara, adalah OPPO N1 CM Edition yang katanya cuma ada belasan unit. Limited edition, dong? Huaaaaaaaa mauuuuuuuu....!

Kalau gitu, pas banget sama judul potingan saya, OPPO N1 itu layak diperjuangkan!


Goodie bag dari OPPO. Bagus-bagus, gak asal-asalan produknya.
Semoga berikutnya rezeki dari OPPO gak cuma sebatas goodie bag tapi OPPO N1 CM Edition *ngarep sangat :)


Sumber foto: Sebagian besar milik pribadi. Hanya beberapa yang dari OPPO.

Untuk yang tertarik dengan produk OPPO atau ingin gabung dengan komunitasnya, bisa gabung di:

  1. Fanpage FB : OPPO Indonesia
  2. Group FB : OPPO Indonesia Community
  3. Twitter : OPPO Indonesia
  4. Twitter : OPPO ID Community

Continue Reading
50 komentar
Share: