Thursday, November 27, 2014

Akarnaval 2014 - Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia

Akarnaval 2014 - Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia

Akarnaval 2014 - Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia. Akarnaval adalah aksi seni budaya yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar dalam mewujudnyatakan visi menjadikan pendidikan sebagai bagian dari gerakan budaya yang menghormati hak dan kemanusiaan anak. Dalam pengertian itu, Akarnaval bukan sekedar acara atau proyek yang berdiri sendiri, melainkan suatu titik dari proses berkesinambungan model pendidikan yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar. Dari satu sisi, Akarnaval merupakan pencapaian dari dinamika kegiatan sebelumnya. Di sisi lain, aksi budaya ini merupakan pihajan awal untuk melanjutkan gerak ke depan.

Bertepatan dengan ulang tahun Sanggar anak Akar yang kedua puluh, November 2014, Akarnaval keempat kali ini mengambil tema "Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia." Akarnaval kali ini tidak hanya berisi beragam aksi kreatif, tetapi juga diikuti banyak kelompok peserta dari berbagai negara.


Bunda : "Yah, Sanggar Akar bikin pementasan teater. Kita nonton, yuk!"
Ayah : "Kapan?"
Bunda : "Tanggal 25-26 November. Ada yang jam 3 sore atau jam 8 malam. Mau, kan? Pengalaman pertama buat anak-anak juga, nih, nonton teater. Lagian Sanggar Akar kan kata Ayah bagus."
Ayah : "Iya, memang, Tapi, coba nanti Aie ke sana dulu buat ngobrol-ngobrol."
Bunda : "Oke."


K'Aie memang dari dulu  sudah beberapa kali cerita tentang Sanggar Akar ke kami. Tapi, rencana untuk main ke Sanggar Akar, belom juga kesampaian sampe sekarang. Terakhir ngobrolin tentang Sanggar Akar itu belum terlalu lama. Waktu itu, salah seorang temen Chi mengajak nonton pertunjukkan Stomp. Katanya bagus banget pertunjukkan. Bisa jadi pelajaran untuk anak-anak untuk jadi kreatif. Temen Chi udah sekali ngajak anaknya nonton, dan pengen ngajak anaknya lagi nonton untuk kedua kalinya. Saking suka dan bagusnya katanya.


Stomp itu semacam musik jalanan yang merakyat. Dipopulerkan oleh dua seniman Inggris, yaitu Luke Cresswell dan Steve McNicholas sejak awal 1990. Alat musik yang digunakan itu beragam, seperti panci, drum, tiang, sapu, ember, aneka barang rongsokan, dan lain sebagainya. Pokoknya benda apapun bisa digunakan untuk bermain musik. Pertunjukkannya di kemas dalam bentuk teater musikal dan bisa berbalut komedi juga.

Chi sekeluarga belum pernah menonton pertunjukkan live Stomp, baru lewat youtube. Tapi, yakin kalau sampe bisa nonton pasti Keke dan Nai bakal suka. Pengen, siiiih, cuma harga tiketnya itu, lho. Paling murah Rp300.000,00 dan termahal Rp2.100.000,00. 1 tiket aja udah mahal, apalagi kalau kami yang nonton kan harus dikali 4 hehehe. Kapan-kapan ajaaaa kalau ada rejeki lebih dan mudah-mudahan bakal dateng lagi ke Jakarta :D

Ayah : "Nonton Sanggar Akar aja, lah kalau mau lihat pertunjukkan seperti itu."

Kata K'Aie waktu Chi cerita diajakin temen nonton Stomp. K'Aie memang pernah cerita bagaimana anak-anak di Sanggar Akar bermain musik. Pernah lihat juga di youtube. Mirip-mirip Stomp, lah. Waktu ngobrol-ngobrol itu kami berdua belom tau kalau bakal ada Akarnaval. Jadi, Chi kembali minta K'Aie untuk sesekali ajak anak-anak main ke Sanggar Akar. Eh, gak taunya gak lama kemudian ada Akarnaval.. Assiiikk!



Di Akarnaval 2014 ini ada beragam acara. Dari beragam acara tersebut, ada 2 acara yang bikin Chi tertarik, yaitu

  1. Festival Perkusi - pagelan musik perkusi yang dirancang dalam format festival dan diikuti lebih dari 100 perkusionis dari berbagai daerah baik yang bersifat tradisional maupun modern
  2. Pagelaran teater musikal "Sayap-Sayap Mimpi" - Mengangkat kisah nyata Sanggar Anak Akar

Sayangnya kedua acara yang pengen dilihat itu berlangsung di hari kerja. Yang festival perkusi, hari Jum'at. Pagelaran teater musikal hari Selasa dan Rabu. Kalau begini, Chi harus pilih salah satu. Gak mungkin K'Aie, Keke, dan Nai banyak izin gak masuk kantor dan sekolah. Pilihan pun jatoh ke pagelaran teater musikal.

Sebetulnya apa sih Sanggar Akar itu? Dan, kenapa Chi kepengen banget ngajak anak-anak nontong pertunjukkan Sanggar Akar?


Cikal bakal Sanggar Anak akar adalah program open house untuk anak-anak pingiran yang dikembangkan oleh sebuah organisasi non pemerintah pada tahun 1989. Anak pinggiran yang dimaksud adalah anak-anak jalanan, anak pemulung sampah, anak-anak urban pekerja kota, dan anak-anak pengasong yang tinggal di pemukimanyang tidak kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kenyataan hidup anak-anak menggerakkan niat kami untuk mengembangkan open house menjadi program ruang aman dan nyaman bagi anak-anak.Gagasan pun diwujudkan dengan mendirikan Sanggar Anak Akar pada November tahun1994. Tujuannya saat itu adalah menciptakan rasa aman dan nyaman supayaanak-anak dari berbagai kelompok saling berinteraksi dan setiap anak berani mengekspresikan gagasan dan kemampuannya.


Sumber: http://www.sanggaranakakar.org/index.php?go=sejarah

Alasan Chi untuk mengajak Keke dan Nai adalah ingin supaya mereka melihat kalau anak-anak yang (katakanlah) kurang beruntung hidupnya pun bisa mempunyai karya nyata yang sangat positif dan berprestasi.  Chi juga pengen Keke dan Nai belajar lebih bersyukur lagi dan semakin berkaca dengan melihat perjuangan dan karya anak-anak Sanggar Akar.

"Kenapa, sih, gak boleh? Temen-temen aja boleh. Kan, gampang tinggal ambil ATM?" Seperti itu salah satu rengekan dan menggampangkan sesuatu ala Keke dan Nai.

Ya, mungkin seperti itulah gambaran sikap anak-anak pada umumnya. Keke dan Nai kadang paham kalau diajak bicara tentang bagaimana mencari uang itu harus bekerja keras. Tapi, ketika mereka sedang sangat menginginkan sesuatu kadang mereka jadi lupa. Aneka rengekan pun keluar, permintaan harus dikabulkan sesegera mungkin. Dikiranya tinggal ambil di ATM atau gesek credit card, semua permintaan akan terpenuhi. Apalagi kalau pas mereka lagi merengek minta sesuatu, trus Chi atau K'Aie bilang lagi gak ada uang. Tapi, kemudian mereka melihat orang tuanya beli gorengan atau belanja lainnya. Wesss, tambah kenceng rengekannya. Plus protes, "Katanya gak puang, buktinya itu beli gorengan!". Mereka kadang suka lupa kalau beli gorengan sama permintaan mereka itu harganya udah jauh berbeda hehehe.

Ya, namanya juga anak-anak. Apalagi ditambah dengan lingkungan mereka yang umumnya menengah ke atas. Bahkan ada beberapa yang tergolong sangat mampu. Trus, kalau denger cerita Keke dan Nai atau mengamati pergaulan mereka, ada beberapa yang terkesan menggampangkan permintan. Pokoknya kepengen ini-itu, tinggal minta, dan beres. Plus beraneka cerita 'wah' lainnya. Tentunya Chi semakin harus mengingatkan serta menjaga Keke dan Nai, agar jangan terbiasa selalu melihat 'ke atas'. Atau menjadi anak yang minderan karena permintaannya belum dikabulkan.

Caranya adalah dengan memberi nasehat, mengajak mereka berdiskusi, atau melihat pemandangan lain seperti mengenalkan mereka dengan Sanggar Akar ini. Keke dan Nai memang harus juga belajar melihat 'ke bawah'. Alhamdulillah, pada dasarnya mereka berdua masih anak-anak yang baik. Masih mau bersyukur, mau nurut, dan juga berprestasi. Kalaupun sesekali ada rengekan atau ngambek karena permintaannya gak langsung dituruti, anggap aja itu wajar. Mereka masih anak-anak dan artinya mereka masih punya emosi. Siapa sih yang suka ditolak? Hehehe. Yang penting terus diarahkan aja. Jangan sampe berlebihan ngambeknya.

Hari yang dinanti pun tiba. Kemaren sore, kami menonton pertunjukkan Sanggar Akar. Yipppiee! Bagus bangeeeettt! Gak sia-sia dan gak menyesal Keke dan Nai sampe bela-belain gak sekolah hehehe. Kami sekeluarga puas banget nontonnya.

Cerita komplitnya dilanjut di postingan berikutnya, ya. Nanti Chi akan cerita tentang hal-hal di bawah ini


  1. Deg-degan karena jalanan yang macet banget (wadoooww! Jakarta gak pernah brenti macet, ya! Hehe)
  2. Sempet ada sedikit 'salah paham' tentang harga tiket. Bikin deg-degan juga hehe
  3. Makan di kantin mahasiswa IKJ
  4. Pertunjukkan sanggar akar yang sangat bagus
  5. Ngobrol-ngobrol sama beberapa orang Sanggar Akar, termasuk sama sutradara "Sayap-Sayap Mimpi" setelah pertunjukkan selesai *pengalaman plus yang gak Chi duga sebelumnya hehehe
  6. Kunci mobil sempet hilang. Untungnya ketemu. Kalau enggak, gimana kami pulaaanngg??

Oiya, ini juga pengalaman pertama buat Keke dan Nai untuk nonton teater. Alhamdulillah, selain suka, Keke dan Nai juga sudah bisa tenang selama pertunjukkan walaupun tanpa popcorn dan minuman. Ya iya, lah. Emangnya nonton bioskop hehe. Ya, pokoknya di postingan selanjutnya, ya. ;)

Tuesday, November 25, 2014

LSD Camping Pramuka Pertama Keke

LSD Camping Pramuka Pertama Keke


LSD Camping Pramuka Pertama Keke. Setiap semester pertama di setiap tahunnya, sekolah selalu mengadakan kegiatan pramuka yang bernama Life Skill Development (LSD). Keke dan Nai selalu seneng kalau ada LSD karena semua kegiatannya selalu menyenangkan. Biasanya setelah LSD selesai, anak-anak diberi tanda baru untuk baju pramukanya. Berarti semacam kenaikan tingkat juga, ya.

Biasanya LSD dilakukan di sekolah. Selama 1 hari, tidak ada pelajaran lain, hanya kegiatan LSD. Kecuali untuk anak-anak kelas 5 SD, LSD diadakan di luar sekolah alias camping. Karena Keke sudah kelas 5 SD, berarti Keke pun camping. Camping bukanlah pengalaman pertama Keke. Dia cukup sering camping. Tapi, camping tanpa orang tua merupakan pengalaman pertama bagi Keke.

Tahun ini, camping di adakan di Citra Alam Lakeside, Situ Gintung. Mendengar kata Situ Gintung, yang langsung teringat adalah kejadian musibah tanggul jebol beberapa tahun silam. Aman gak, ya, camping disana? Tapi, feeling Chi mengatakan rasanya gak mungkin sekolah mencari tempat yang gak aman buat anak-anak. Lagipula disinilah gunanya Google, kan? Cari informasi tambahan sebanyak-banyaknya :D

Kalau lihat dari webnya, Citra Alam Lakeside sepertinya cukup bagus tempat camping. Bukan tempat camping yang susah lah buat anak-anak hehe. Kelihatannya masih nyaman.

Gak banyak barang yang Keke bawa. Cuma 1 stel baju tidur, 2 kaos, 1 celana jeans, dan 1 stel pakaian untuk LSD. Gak perlu bawa sleeping bag, karena camping masih di area Jakarta dan sekitarnya. Pasti bakal panas pakai sleeping bag. Cukup kami bekali 2 helai sarung aja. Satu untuk selimutan, satu lagi buat jadi alas atau dilipat untuk ditaro di kepala.

Chi pikir kegiatan LSD akan berjalan lancar. Dan, memang benar. Menurut Keke seru bangeeett! Dia bener-bener seru ceritain segala kegiatan saat LSD. Tinggal Chi aja yang kemudian mencuci pakaian bekas LSD plus sepatu dan kaos kainya yang penuh lumpur hehehe.

Pakaian untuk LSD sebetulnya bebas. Hanya diminta kaos dan celana jeans. Tapi, Chi dan K'Aie minta Keke untuk pakai celana kain. Celana yang paling nyaman untuk kegiatan outbound itu sebetulnya celana kain bukan jeans.

Kalau denger cerita Keke, kegiatannya memang kelihatannya seru banget buat dia. Tapi, masalahnya beberapa barang bawaannya pada ketinggalan! Yang dia bawa pulang cuma 1 stel pakaian LSD, kaos kaki,  dan sepatu yang semuanya penuh lumpur. Keke gak bisa langsung ditanya, karena sampai rumah dia tidur sampe sore. Kecapean banget kayaknya hehe.

Chi coba telpon gurunya, gak diangkat. Coba telpon ke Citra Alam Lakeside untuk menanyakan apa ada barang yang tertinggal. Setelah Chi sebutin barang apa aja, kemungkinan 1 stel baju tidur Keke memang ketinggalan di sana. Tapi, celana jeans dan kaos, gak ada.

Setelah Keke bangun, Chi tanyain kronologisnya. Setelah mendengar cerita Keke, ceritanya seperti ini:


  1. Setelah sampai di lokasi, dia mengganti seragam pramuka dengan baju untuk LSD
  2. Selesai LSD, Keke lalu mandi dan berganti pakaian, memakai kaos dan celana jeans.
  3. Baju dan sepatu yang penuh lumpur itu dia taro di bagian dasar tas. Tentunya sebelumnya seluruh isi tas dia keluarkan dulu
  4. Setelah memasukkan baju dan sepatu yang penuh lumpur, Keke lupa menaruh barang-barang bawaannya yang lain ke dalam tas. 
  5. Keke gak ganti baju lagi sampe keesokan hari. Dia tidur pakai celana jeans dan kaos. Baju tidurnya sama sekali gak dipakai
  6. Besoknya, dia mandi lalu menggunakan kembali seragam pramuka. Baju bekas pakai dia taro di kamar mandi dan lupa untuk dimasukkin ke tas

Trus, kenapa baju tidur Keke bisa ketemu, sedangkan kaos dan celana jeansnya enggak? Setelah keesokan harinya Chi ngobol dengan wali kelasnya, Chi baru tau kondisi kamar mandi di sana.

  1. Di Citra Alam itu memang ada beberapa lokasi kamar mandi tapi umum (bahkan kata Keke, gak ada kamar mandi dan toilet khusus laki atau perempuan. Semua disatukan).
  2. Karena di dekat tenda sekolah Keke lagi ada rombongan anak sekolah SMA yang juga lagi camping, pihak sekolah pun meminta Citra Alam untuk memblok toilet khusus buat mereka. Pihak sekolah khawatir kalau disatuin, nanti bisa kejadian anak-anak SD 'dipaksa' mengalah oleh anak SMA
  3. Kebetulan di hari yang sama dengan sekolah Keke datang, ada sekolah SMP yang keluar dan kamar mandi di area mereka kosong. Pihak sekolah pun berinisiatif untuk memakai kamar mandi tersebut untuk dipakai anak laki-laki supaya kamar mandi dan toiletnya gak nyampur dengan anak perempuan. Tapi, memang gak konfirmasi dulu ke pihak Citra Alam. 
  4. Karena gak konfirmasi, makanya wkatu Chi bilang kemungkinan baju Keke ada di toilet, mereka cuma periksa toilet yang bekas dipakai sekolah Keke. Baru keesokan harinya setelah guru Keke telpon ke sana mereka baru cek kamar mandi yang lain. Tapi, sebelumnya mereka gak menjanjikan barang tersebut masih ada karena katanya di area tersebut udah ada sekolah lain yang sedang camping. Tapi, sampe terakhir Chi ngobrol sama gurunya, pihak Citra Alam belom telpon lagi. Padahal tinggal bilang aja, ya, barangnya ada atau enggak.

Itulah kenapa baju tidur Keke bisa ketemu karena ketinggalannya di tenda. Sedangkan pakaian lain ketinggalan di kamar mandi. Chi gak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, sih. Cuma mungkin lain kali semua pihak lebih cek-ricek lagi. Chi juga lalai, sih.

  1. Gak bikin daftar barang bawaan. Chi pikir bawaanya Keke pas camping gak sebanyak kayak waktu dia pesantren kilat. Kalau pas pesantren kilat aja dia bisa bawa balik semua barang tanpa ada satupun yang ketinggalan, mungkin pas camping juga dia bisa mengulangi hal yang sama. Eh, ternyata enggak. Berarti bikin daftar barang bawaan trus ditaro di tas anak itu penting!
  2. Menginap di hotel berbeda dengan menginap di tenda. Kalau di hotel kan kamarnya luas. 1 kamar pun cuma diisi sekitar 4 anak. Chi minta Keke mencari satu pojokan di kamar yang jarang dilewati orang. Jadi, semua barang di taro aja di satu pojok. Nanti pulang tinggal beberes dan cek-ricek. Sedangkan tenda kan kecil. 1 tenda bisa diisi 10 anak plus 1 guru. Jadi, (menurut cerita Keke dan gurunya) isinya memang semrawut. Semua barang dari semua anak yang menginap di tenda sama bercampur aduk. Mungkin jadinya rada ribet. Pelajaran buat Chi juga, terutama kalau nanti saatnya Nai camping sama sekolah. Gimana caranya supaya gak ada barang yang tertinggal walopun isi tendanya semrawut.

Ah, udah pasrah deh kalau gak bakal ditemuin lagi. Walopun itu celana jeans Keke satu-satunya. Masih baru pula hihihi. Tapi, setidaknya bukan sepatunya yang hilang. Kalau sepatu yang hilang bakal lebih repot lagi. Karena dia cuma punya 1 pasang sepatu sekolah. Mau gak mau harus beli baru. Kalau celana kan bisa dinanti-nanti belinya karena Keke masih punya celana kain.

Berusaha bersyukur aja dibalik kehilangan *tsaaahhh hehehehe. Pokoknya jadi pelajaran buat semua. Termasuk buat Keke. Jadikan ini pengalaman yang smeoga gak terulang lagi :)


Celana jeans baru, yang sekarang tinggal kenangan hehehe


Update:

Paginya postingan ini baru di publish, siangnya pas jemput anak-anak, Keke bawa 1 tas plastik besar di tangan. Ternyata, isinya barang-barang yang ketinggalan. Memang gak semua, sih. Justru baju tidurnya yang gak ada. Hehehe. Ya, gak apa-apa, lah. Setidaknya masih ada rezeki yang balik. Terutama celana jeansnya. Udah gak jadi kenangan lagi :p

Saturday, November 22, 2014

#OOTDID Jeans, Kaos, dan Kets

#OOTDID Jeans, Kaos, dan Kets

#OOTDID Jeans, Kaos, dan Kets. Ceritanya sesekali mau nulis ala fashion blogger, ah *halah gayaaa :p. 

Hari ini, Chi dateng ke acara Campaign.com. Alhamdulillah, akhirnya bisa juga hadir setelah undangan dari campaign.com beberapa waktu lalu Chi gak bisa hadir. Biasa deh, apalagi alasannya kalau bukan urusan anak-anak hehehe.

OOTD (Outfit of The Day) Chi hari ini adalah celana jeans, kaos, jaket jeans, kerudung kaos, plus sepatu kets. Tas selempang gak ketinggalan (biasanya ranselan, tapi hari ini lagi males bawa ransel). Ini, sih gaya Chi sehari-hari sebetulnya. Kalau ke sekolah anak-anak juga selalu casual begini gayanya. Walopun, pernah sesekali pake gamis atau yang rada feminin. Itu kalau jiwa femininnya lagi kumat :D


Tadinya udah mau pake baju yang kayak di foto ini. Tapi pas mau berangkat baru sadar kalau bajunya sobek. Hufff... Untung sadarnya pas masih di rumah. Coba kalau udah di lokasi acara.


Hari ini, jiwa feminin Chi juga sebetulnya lagi rada kumat. Udah rapi dari pagi pake dress kaos, jaket jeans, plus sepatu kets (boots disimpen dulu, deh). Setidaknya pake rok walopun tetep sepatunya mah kets hehe. Nyantai-nyantai sedikit sambil nunggu Keke, Nai, dan K'Aie gantian mandi. Pas, mau berangkat, yaelaaahh roknya ternyata ada yang robek! Huaaaa... Hiks!

Udah gak ada waktu lagi buat ganti pakaian yang macem-macem atau mikirin pake kerudung apa dan lain sebagainya. Bisa-bisa malah telat nanti ke acara. Paling copot dress trus ganti ke celana jeans aja, deh!

Eits, sempet tadinya mau pake rok yang lebih feminin lagi. Tapi, mengingat nanti pulangnya mau cobain naik bis (biasanya kalau gak dijemput suka pake taxi, tapi kali ini mau ngirit dulu. BBM naik hihihi), bisa-bisa K'Aie nanya, "Naik bis, pake baju gitu?" Dan, Chi ngerti lah maksud pertanyaan K'Aie kalau udah kayak gitu. Jadi, memang harus kembali ke style asal. Celana jeans dan kaos. :D

Ngomongin tentang gaya berpakaian, Chi memang paling nyaman yang model kasual begini. Gaya feminin itu paling kalau ada undangan aja. Biasanya sih undangan pernikahan. Ya, masa' ke pernikahan pakai celana jeans dan kaos. Kecuali kalau tema pernikahannya itu casual. Mungkin iya Chi bakal pake yang casual. Buat Chi, gaya yang casual itu gaya yang paling enak untuk dipakai kemanapun. Lebih bikin Chi bisa bebas aktif bergerak. Gak ribet.


Selfie di kantor campaign.com dengan latar belakang lomba Campaign #OOTDID


Oiya, sekarang kan banyak banget tuh netizen yang suka upload foto OOTDnya di social media. Daripada cuma sekedar upload, mending ikutan Campaign #OOTDID, deh. Udah masuk season ke-4, nih.

Style Indonesia kembali lagi dengan campaign #OOTDID season 4. Buat kamu-kamu yang merasa stylish atau senang berpose dengan pakaian-pakaian yang kamu kenakan sehari-hari, ini saatnya kamu untuk memamerkan style terbaik kamu. Cukup dengan upload foto kamu dengan style pakaian kamu dari kepala sampai kaki serta jelaskan tema busana apa yang kamu pakai. - sumber: campaign.com -

Hadiahnya keren banget, deh. Voucher belanja MAP. Periode lomba 18 November s/d 18 Desember. Tuh, ikutan aja. Tinggal upload foto. Perempuan atau laki-laki bisa ikutan. Asal harus foto yang full body, ya. Kalau enggak, gak bakal dinilai sama juri nantinya. Ikutan, yuk!

OOTD Chi hari ini. Apa OOTD teman-teman hari ini?


http://www.campaign.com/OOTDID

Google+ : CampaigndotCom
Twitter: @Campaign_ID
Fanspage: CampaignID
Instagram: @campaign_id

Tuesday, November 18, 2014

Kopdar Blogger Di Tanakita

Kopdar Blogger Di Tanakita

Kopdar Blogger di Tanakita. Berkali-kali datang ke Tanakita, baru kali ini merasa deg-degan...

Oiya, masih ingat 3rd GA berhadiah liburan ke Tanakita yang beberapa bulan lalu Chi gelar dengan pemenangnya adalah Nurul Wachdiyah dan Shinta Ries? Tanggal 8 November lalu, sesuai rencana yang sudah disepakati, kami pun kopdar di Tanakita.


Hujan Deras di Tanakita


Kopdar, Blogger, Tanakita
Ngobrol-ngobrol dulu sambil nunggu Mak Nurul dan Mak Shinta dateng


Walopun Chi udah kangen banget sama hujan, tapi agak berharap saat kami ke sana itu gak hujan sama sekali. Kalau hujan, gak bisa banyak aktivitas yang bisa kami lakukan disana. Paling santai-santai di area Tanakita aja.

Buat Chi sih gak masalah mau hujan atau enggak, sama enaknya. Malah kata K'Aie di Tanakita itu saat hujan. Karena yang terbayang adalah nikmatnya nyeruput kopi di gazebo. Tapi, Mak Nurul dan Mak Shinta kan baru ke Tanakita, sayang banget kalau gak maksimal beraktivitas disana.

Apalagi para pemenang GA juga diminta untuk ikut tubing. Sedangkan tubing itu tergantung sama debit air. Terlalu kering atau terlalu deras, kegiatan tubing ditiadakan. Duh, Chi merasa gak enak juga nih kalau sampe gagal tubing. Deg-degan hihi.

Cuma pasrah begitu hujan turun lumayan besar di hari Sabtu. Ya, masa mau nyalahin Allah? Enggak, lah. Jauh-jauh dari pikiran seperti itu :)


Macet Saat ke Tanakita


Kopdar, Blogger, Tanakita
Mak Shinta datang menjelang makan malam


Macet... macet... macet... Kalau ke Tanakita memang yang bikin malesnya itu menghadapi macet di beberapa titik. Biasanya kalau ketemu pasar. Untuk menyiasatinya, kami berangkat pagi. Paling telat pukul 07.00 wib udah harus jalan. Siangan dikit, bakal kena macet di beberapa pasar karena banyak anak-anak yang pulang sekolah. Sorean dikit, paraburuh pabrik pada pulang. Titik kemacetan bertambah.

Kami pun berangkat pagi, gak taunya di luar perkiraan. Keluar tol, macet parah banget! Sebetulnya yang parah itu yang ke arah Puncak. Tapi, mengular macetnya jadi yang keluar ke arah Sukabumi pun kena imbasnya. Akhirnya, lolos dari tol udah agak siang keburu ketemu anak-anak yang pulang sekolah. Macet sepanjang jalan. Capeee...

Mak Nurul dan Mak Shinta juga sama kena macet. Sekitar pukul 4-5 sore, Mak Nurul dan keluarga datang. Mak Shinta baru datang menjelang makan malam. Chi rada deg-degan nungguin Mak Shinta dateng. Karena jalan masuk ke Tanakita lumayan gelap. Chi khawatir Mak Shinta nyasar hihi. Alhamdulillah, akhirnya sampe juga, ya, Mak :)



Tanakita Riverside


kopdar, blogger, tanakita
Tempat finish tubing. Tadinya nginepnya disini. Dipinggir sungai Cigunung. Anak-anak bisa gak brenti main air, nih :)


Tanakita lagi penuh dengan tamu. 1 hari sebelum berangkat. Chi dikasih tau kalau menginapnya nanti di camp 2. Di tempat finish tubing. Chi tau lokasi finish tubing, karena Keke pernah ikutan tubing. Tapi, terakhir kesana belum ada camp area. Berarti masih baru nih camp areanya. Masalahnya, nyaman atau enggak tempatnya?

K'Aie bilang kalau bedanya cuma di lokasi aja. Segala fasilitas dan kenyamanannya sih tetep sama. Cuma karena Chi memang sama sekali gak ada bayangan, tetep aja deg-degan. Pas hari H dapet kabar lagi kalau ada tamu yang batal datang. Jadi, kami bisa masuk ke Tanakita. Legaaa... Etapi pas Chi lihat camp area Tanakita yang di lokasi finish tubing gitu kelihatannya enak juga. Bener kata K'Aie, gak ada bedanya dengan camp lama.


kopdar, blogger, tanakita

 

Cerita Kopdar Di Tanakita

Alhamdulillah, satu per satu kekhawatiran Chi sirna. Setelah makan malam, kami pun trekking mencari kunang-kunang. Biasanya trekking mencari kunang-kunang, jalan ke arah danau. Gelap-gelapan, makanya butuh senter. Kali ini rute trekkingnya pendek banget jaraknya. Gak terlalu jauh dari tenda. Karena masih pengen jalan, kami lalu melanjutkan jalan-jalan. Sekeluarga aja :)

Kami sekeluarga melanjutkan perjalanan sampai Villa Merah. Kapan-kapan, Chi ceritain tentang Villa Merah, ya :)


Udara di Tanakita saat itu gak sedingin saat kemarau. Kalau pengen merasakan dingin yang cukup menggigit memang datangnya saat kemarau. Kalau musim hujan, rasa dinginnya berkurang. Walopun tetep aja pakai jaket hehe.

Tubing


Tubing pun berjalan dengan lancar. Debit air di sungai Cigunung lagi bagus. Yang tubing kelihatannya pada seneng. Chi sendiri belum pernah ikutan tubing. Tunggu Nai cukup umur dulu untuk tubing. Kalau enggak, siapa yang jagain dia. Jadi, seperti yang udah-udah, Chi menyusuri sungai aja bareng Nai dan anak-anak Mak Shinta plus ditemenin 1 orang crew dari Tanakita.

Yang gak ikutan tubing, menyusuri sungai. Ketemu di tempat finish, trus main air di sungai
Anak-anak flying fox dulu setelah main air di sungai


Mak Nurul, Mak Shinta, makasih banyak ya udah kopdar di Tanakita. Baca juga tulisan mereka, ya. Tulisan dan foto-fotonya keren banget, deh. Chi gak tanggung jawab kalau sampe ada yang mupeng ke Tanakita gara-gara baca tulisan Mak Nurul dan Mak Shinta :D

    Terima kasih banyak, ya, udah ikutan GA Keke Naima :)

    Friday, November 14, 2014

    Anak Ayah

    Anak Ayah

    Anak Ayah. Beberapa hari yang lalu adalah hari ayah. Chi mau ceritain tentang K'Aie, ah. Eheemm hehehe..

    Sejak masih pacaran, Chi udah feeling kalau K'Aie termasuk laki-laki yang bisa dekat dengan anak kecil. Sebetulnya gak cuma feeling, sih. Tapi ada buktinya. Chi punya adik yang selisih usianya 18 tahun. Nah, kalau orang pacaran biasanya kemana-mana berdua atau bareng sama teman-teman, Chi dan K'Aie enggak kayak gitu. Seringnya kemana-mana itu bertiga sama adik Chi. Sejak adik Chi usia kurang dari 2 tahun udah sering ikut kami berdua kalau jalan-jalan. Pacaran sekalian ngasuh adek hehe.

    Alhamdulillah K'Aie gak pernah keberatan, malah asik ajah. Trus, Chi juga punya banyak sepupu yang seumuran adik bungsu ini. Malah ada beberapa yang lebih kecil lagi. Jadi, kalau K'Aie lagi ikutan kumpul sama keluarga besar Chi, selalu dikerubutin sama sepupu-sepupu Chi yang waktu itu masih kecil-kecil. Anak-anak kecil yang ngikutin kami jalan-jalan pun tambah banyak. Udah kayak rombongan sirkus hehehe.

    Makanya, begitu punya anak sendiri, Chi yakin K'Aie akan menjadi ayah yang baik. Gak hanya bisa menafkahi tapi juga bisa ikut mengasuh bahkan menjadi sahabat bagi Keke dan Nai. Buat kami, kedekatan antara ayah dan anak itu perlu banget. Sama pentingnya seperti anak dekat dengan sosok bundanya.

    Banyak sekali yang bisa Chi ceritain tentang seperti apa kedekatan K'Aie dengan Keke dan Nai. Tapi, kali ini kedekatan dalam bermain aja, ya. Mungkin akan lebih banyak foto yang berbicara kali ini.

    Di bawah ini ada beberapa foto lama. Kayaknya benar pendapat dari beberapa orang yang pernah Chi dengar kalau yang namanya laki-laki itu sampai kapanpun akan selalu ada sisi anak-anaknya. Kalau udah ngomongin mainan, K'Aie bisa klop sama Keke. Kebetulan mereka sama-sama suka mobil. Dari yang die cast sampai Radio Control (RC).

    K'Aie punya beberapa koleksi RC. Dari mulai helicopter, big truck, dan car. RC boat aja yang gak punya. Kalau udah ngutak-atik bisa asik sendiri sampe lama. Tapi, gak apa-apalah, daripada punya hobi yang aneh-aneh. Iya, gak? Lagian bisa dinikmati sama anak-anak juga


    Main RC Truck di taman depan rumah
    Kalau ini main di komplek tetangga. Cari lapangan rumput yang luas buat main RC Car :D
    Keke udah bisa ikutan mainin RC
    Nai belum bisa mainin RC. Tapi udah seneng banget bisa dikejar-kejar mobil :D
    Main di Sirkuit RC, Senayan. Lupaya bayar berapa buat main disini. Udah lama banget gak main ke sini. Males jalan kesananya :D
    Masih di Sirkuit RC Senayan

    Dari tadi kayaknya cuma Keke yang deket sama ayahnya, ya. Padahal enggak. Nai pun sama kompaknya kayak Keke. Apalagi kalau Nai dan ayahnya udah makan duren. Hmmm... Bisa-bisa lupa sama sekeliling. Nai dan K'Aie suka banget sama duren. Pokoknya mereka berdua memang anak ayah hehe.

    Seringkali Nai juga terlihat asik ngobrol berdua sama ayahnya. Kayak Keke asik ngobrol berdua sama ayahnya. Biasanya kalau udah begitu, Chi suka diem. Menikmati kebersamaan ayah dan anak yang lagi asik ngobrol. Chi kadang ikutan nguping ajah, itu udah nikmat banget, kok :D

    Nai dan ayahnya lagi asik mengamati tupai yang main di pohon di Tanakita.

    Keterangan: Semua foto dipostingan ini, kecuali yang paling bawah adalah foto tahun 2009. Berarti usia Keke sekitar 5 tahun dan Nai 3 tahun. Memang sengaja upload foto lama :D

    Wednesday, November 12, 2014

    Belajar Sepeda Roda Dua

    Belajar Sepeda Roda Dua

    Belajar Sepeda Roda Dua. Lagi buka-buka foto lama, ketemu kumpulan foto Keke waktu lagi belajar belajar sepeda roda dua. Foto tahun 2009, berarti kira-kira Keke usia 5 tahun. Keke belajar pakai sepeda roda dua dari roda empat cukup sehari aja langsung lancar, lho.


    Cara Cepat Belajar Sepeda Roda Dua


    Sepedanya udah kekecilan


    K'aie udah pernah nawarin dia sepeda baru. Keke gak mau. Namanya anak-anak, kalau udah punya barang kesayangan memang susah disingkirkan barangnya. Padahal sepeda lamanya itu udah agak kekecilan. Dan udah menuntut segera di 'lem biru', sampe beberapa kali dibenerin. Keke tetep gak mau. Tapi, mungkin ini juga yang bikin dia pede mencopot ban kecil sepedanya. Dari roda empat ke roda dua. Karena kalau sampe oleng pas lagi main sepeda roda dua kan kainya dengan mudah menyentuh tanah hehe.


    Belajar di lapangan rumput



    Kompleks tetangga punya beberapa lapangan rumput. Jadi, kami sekeluarga 'nenangga' dulu ke komplek sebelah untuk menikmati lapangan rumputnya. Kenapa sengaja cari lapangan rumput, biar Keke gak trauma kalau sampe jatuh beberapa kali karena jatuh pas lagi belajar sepeda roda dua. Jatuh di lapangan rumput kan gak sesakit dibandingkan jatuh dilapangan aspal.

    Latihannya juga dari pagi. Anggap aja sekalian olahraga pagi. Dan, gak perlu sampe seharian juga kami latihan. Setelah Keke makin pede ngegowesnya, cobain ke jalan langsung bisa deh.

    Jadi, buat orang tua yang pengen ngajarin anaknya gowes sepeda roda dua, coba cari lapangan rumput ajah. Anak lebih nyaman latihannya karena gak perlu takut sakit saat jatuh. Kalau udah nyaman, rasa pede bakal dateng. Anak pun jadi cepet bisa. Orang tua juga gak perlu pegel punggung karena sering-sering pegangin sepeda anak, takut anak jatuh trus luka dan nangis. Win-win solution, kan? Hehe


    Pengalaman Memilih Sepeda untuk Anak


    Itu aja sih tips belajar sepeda roda dua. Sekarang Chi mau cerita sedikit tentang sepeda yang pernah Keke dan Nai miliki ketika balita.


    Gak mau punya sepeda roda tiga

    Dari dulu, kami gak pernah tertarik beli sepeda roda tiga. Kayaknya gak bakal panjang makenya.  Kan, harus pengiritan hehe. Kalau sepeda roda empat kan bisa dicopot 2 ban kecilnya jadi sepeda roda dua. Trus, kalau sepeda roda empat atau dua, biasanya gak perlu terus-terusan dorong. Karena anak-anak udah bisa gowes sendiri. Kalau masih harus didorong-dorong, mending pake stroller aja. Chi males bungkuk buat dorong sepeda. Pegel punggung :p


    Perhatikan ban sepeda

    Sebetulnya, penting gak penting, sih. Karena rata-rata sepeda anak yang dijual disini cocok dipakai sama anak-anak di lingkungan apapun. Tapi, beberapa waktu lalu pas lagi jalan-jalan di salah satu mall, Chi lihat sepeda merk Radio Flyer persis kayak punya Keke waktu kecil. Gak taunya setelah dicoba sepeda itu gak cocok dipakai di lingkungan kompleks kami yang jalanannya pakai paving blocks. Cuma cocok dipakai di jalan utama yang beraspal mulus.


    Waktu itu adik Chi tanya mau dikirimin apa buat Keke. Chi minta sepeda yang gambar sepedanya dikirim lewat email. Seperti foto di atas, sepedanya bagus. Bentuknya klasik, warnanya juga lucu (merah-putih). Bisa digowes mundur juga. Sayangnya begitu dicobain digowes Keke gak suka.

    Sepedanya itu baru enak banget kalau ketemu di jalan aspal yang mulus. Begitu ketemu jalan yang bertekstur apalagi kasar, kayak ngunci gitu bannya. Keke bener-bener harus pake tenaga yang besar banget buat ngegowes. Lama-lama dia jadi males makenya. Beraaattt.

    Keke baru mau pake sepeda itu kalau lagi main di jalan utama. Kata dia, asik banget main sepeda di jalan utama kalau pake sepeda Radio Flyer. Apalagi sepedanya bisa digowes maju mundur. Tapi, Chi yang males nganterin ke jalan utama. Ngapain juga jauh-jauh main sepeda hehe. Akhirnya, sepeda yang jauh-jauh dateng dari US cuma sebentar banget dipakenya karena Keke gak nyaman ngegowesnya. Selebihnya berdiri manis di dalam rumah.

    Kayaknya sih pengaruh bannya. Kalau diperhatiin, bannya itu keras banget (gak lentur). Makanya, cocoknya cuma dijalan aspal mulus aja. Chi gak kepikiran ke sana pas pesen sama adek. Chi pikir semua sepeda pasti sama bannya. Tinggal ukuran diameter bannya aja.

    Kayaknya di kita, ban sepeda model begini masih jarang. Tapi, gak ada salahnya untuk tau karena Chi lihat produknya udah ada di Indonesia. Jangan sampe salah beli karena tergiur bentuknya yang lucu tapi jadinya malah gak kepake :)

    Oiya, kalau Nai belajar sepeda roda duanya gak di lapangan rumput. Di depan rumah aja. Pas Nai belajar, Keke kan udah bisa. Jadi, ada yang nemenin dia belajar. Sekaligus bantuin pegang sepeda Nai. Lumaya, Chi dan K'Aie gak perlu banyak bungkuk lagi :D

    *Sumber foto sepeda Radio Flyer: http://www.diapers.com/p/radio-flyer-classic-red-12-inch-cruiser-107782

    Friday, November 7, 2014

    Lomba Pekan Muharram

    Lomba Pekan Muharram

    Hari Selasa lalu, di sekolah Keke dan Nai diadakan lomba pekan Muharram.

    Keke: "Bun, sebetulnya Keke itu pengennya ikut lomba adzan atau spelling arabic. Tapi, sama guru di suruh ikut lomba tilawah."
    Bunda: "Alasannya?"
    Keke: "Katanya sih Keke termasuk yang bagus bacaan Al-Qur'annya."
    Bunda: "Ya, dicoba aja kalau gitu, Ke."

    Kalau Keke ikut lomba tilawah, Nai diminta ikut lomba mewarnai kaligrafi. Ini udah yang kedua kalinya buat Nai. Tahun lalu, dia ikut lomba yang sama. Kalau Keke, tahun lalu ikut lomba hapalan surat.

    Nai: "Bun, caranya menang gimana, ya?"
    Bunda: "Latihan dan berusaha yang terbaik."
    Nai: "Kayaknya Ima udah berusaha yang terbaik. Tapi, tahun kemaren gak menang."
    Bunda: "Menang itu anggap aja bonus, Nai. Yang penting kita berusaha yang terbaik dulu."
    Nai: "Tapi, Ima kepengen banget menang, Bun. Tahun lalu gak juara sama sekali. Masa' tahun ini enggak juga."

    Ada rasa bahagia dan khawatir melihat keinginan Nai ini. Bahagia karena Nai berarti punya tujuan. Dan, kemudian dia buktikan dengan latihan mewarnai di rumah. Sesekali kami berdua berdiskusi, kira-kira akan diwarnai seperti apa nanti. Walopun belum tau juga pas lomba nanti akan kayak apa lembaran mewarnainya.

    Rasa khawatir yang timbul adalah kalau Nai jadi merasa sangat kecewa ketika ternyata usahanya belum membuahkan kemenangan juga. Chi yakin Nai gak akan menangis gegerungan karena kalah. Dia juga gak akan minta dibeliin duplikat piala. Tapi, kalau Nai udah kecewa, biasanya dia suka sedikit patah semangat. Harus dibangkitkan lagi supaya patah semangatnya gak jadi panjang.

    Chi terus berusaha mengingatkan Nai supaya yang penting berusaha terbaik aja dulu. Pokoknya coba membesarkan hati Nai. Menjaganya supaya jangan sampe kecewa banget kalau hasilnya gak sesuai yang dia harapkan. Mengatakan kepadanya kalau apapun hasilnya selama kita udah berusaha, orang tua akan terus mendukung.

    Pagi hari di hari H, sebelum sekolah...

    Nai: "Ke, kepengen menang gak?"
    Keke: "Iya, lah"
    Nai: "Sama, nih. Ima juga pengen menang. Pengen banget malah. Tahun lalu udah gak menang. Masa' sekarang udah gak menang lagi."

    Duh, Chi dengerin obrolan mereka rasanya gimanaaa... Sebagai ibu, mudah bagi Chi untuk langsung ikut merasa senang ketika anaknya berhasil. Tapi, kalau melihat anak sampe kecewa karena kalah rasanya perasaan Chi gimana gitu, deh.

    Tapi, yang Chi bisa perbuat ya cuma mengajak Nai ngobrol. Chi gak bisa menjanjikan apapun kalau Nai kalah akan dikasih ini/itu supaya dia gak kecewa. Atau pakai cara-cara lain yang kurang mendidik. Aaahh, Nai harus bisa mengatasi rasa kecewanya. Walopun Chi sendiri juga kebat-kebit hatinya. Biar gimana gak tega rasanya kalau melihat anak kecewa.

    Siang harinya, saat jemput anak-anak di sekolah, Chi lihat Nai langsung berlari ke arah mobil. Ditangannya mengacung-acungkan benda yang dibungkus sampul coklat.

    Nai: "Bundaaa....! Ima juara satuuu!"

    Terlihat di wajah Nai kalau dia seneng banget. Apalagi begitu lihat hadiahnya adalah crayon. Tambah seneng hatinya. Nai memang lebih suka dikasih peralatan menggambar dan craft daripada beli mainan seperti masak-masakan, boneka, dan lainnya.



    Chi terharu juga pas tau Nai menang. Terharu karena rasa deg-degan khawatir Nai kecewa banget, sekarang sirna. Pengen nangis rasanya karena bahagia. Tapi pasti bakal diketawain sama Keke dan Nai kalau Chi sampe nangis hehehe.

    Kalau Keke, tidak mendapat juara sama sekali. Tapi, dia bisa mengatasinya dengan baik. Tidak ada rasa kecewa yang berlebihan. Keke sadar kalau pas lomba dia merasa malu dan grogi. Mungkinitu yang menyebabkan kalah.

    Apapun hasilnya, Chi bangga dan bahagia melihat Keke dan Nai. Bangga dan bahagia, usaha Nai akhirnya membuahkan hasil yang dia harapkan. Bangga dan bahagia karena Keke juga mempunyai sikap yang baik ketika kalah.

    Pokoknya terus berusaha yang terbaik, ya, Nak. Ayah dan Bunda selalu dukung kalian.

    Wednesday, November 5, 2014

    Keke Malu, Bunda

    Keke Malu, Bunda

    Wali kelas: "Mama Keke, kalau saya perhatiin sekarang keberanian Keke agak berubah. Dulu waktu kelas 2, kalau disuruh maju ke depan untuk adzan dia selalu mau. Sekarang menolak. Saya bujukin tapi dia tetap menolak."

    Itu laporan wali kelas Keke waktu kelas 4 pas lagi terima rapor (lupa semester ganjil atau genap). Wali kelasnya wkatu kelas 4 memang pernah menjadi wali kelas Keke pas kelas 2. Jadi, sudah cukup hapal dengan karakter Keke.

    Sampe rumah, Chi langsung tanya ke Keke kenapa pernah menolak pas diminta untuk adzan. Awalnya, Keke cuma bilang "Gak mau ajah." Tapi, setelah tarik-ulur pembicaraan, Keke pun mulai mengaku.

    Keke: "Keke malu, Bunda."
    Chi: "Malu kenapa?"
    Keke: "Keke kalau ngomong R kan kayak gini."

    Keke bisa ngomong R, tapi memang agak unik. Banyak yang bilang seperti bule kalau lagi ngomong R. Atau coba kita ngomong kata yang mengandung huruf R tapi lidahnya agak ke dalam. Tetap jelas kedengeran Rnya tapi terasa unik aja.

    Selama ini, Keke terlihat cuek aja dengan keunikannya ini. Baru kali itu Chi denger dia merasa malu karena pengucapan R.

    Chi: "Kok, malu? Kan, dari dulu memang Keke seperti itu."
    Keke: "Abis suka diledekkin."
    Chi: "Sama siapa? Sama temen-temen Keke?"
    Keke: "Enggak, sih. Cuma sama Nina (bukan nama sebenernya)."
    Chi: "Diledekkinnya gimana? Dikata-katain?"
    Keke: "Enggak, cuma tiap kali Keke ngomong, Nina suka bilang 'Iiihh, Keke lucu deh kalau ngomong R.' Keke kan jadi malu, Bun."
    Chi: "Ooohh... Begituuu... Menurut Bunda, Nina itu gak ngeledekkin. Mungkin dia suka lihat Keke ngomong R. Ngegemesin. Lagian, Keke kan sahabatan sama Nina. Jadi, maksud Nina pasti becanda."

    Saat itu, Keke dan Nina memang lagi deket banget. Setiap hari chattingan. Dan, Chi tau semua obrolan mereka. Jadi, Chi rasa Nina memang cuma pengen becanda. Cuma mungkin Keke udah ada rasa malu. Entah karena dia suka sama Nina, atau memang sekedar malu aja.


    Kelas Lima

    Beberapa waktu lalu, sekolah Keke dan Nai mengadakan audisi untuk perlombaan Spelling Bee antar sekolah. Nai kelihatan agak kecewa karena tidak terpilih. sedangkan Keke justru mengaku jawabannya sengaja disalah-salahkan supaya gak terpilih.

    Bunda: "Kok, begitu sih, Ke?"
    Keke: "Keke males ikutan lomba, Bun. Malu."
    Bunda: "Kenapa malu? Biasanya Keke berani."
    Keke: "Gak ah. Malu ajah."

    Kemaren, sekolah Keke dan Nai mengadakan berbagai lomba untuk menyambut Muharram. Keke ikut lomba membaca Al-Qur'an

    Chi: "Gimana tadi lombanya, Ke?"
    Keke: "Keke grogi, Bun."
    Chi: "Grogi kenapa?"
    Keke: "Malu."
    Chi: "Kok, bisa? Ini kan bukannya pertama kali Keke ikut lomba di sekolah. Trus tadi baca Al-Qurannya banyak salah, dong?"
    Keke: "Enggak, sih. Cuma tetep aja grogi."
    Chi: "Penyebabnya?"
    Keke: "Banyak yang nyorakinnya Keke. Masa' begitu nama Keke dipanggil untuk lomba, banyak banget yang teriak 'Yeeeaaayy, Keke!!' Keke kan jaid malu, Bun."
    Chi: "Peserta lain juga begitu kali. Banyak yang nyorakin."
    Keke: "Perasaan enggak, deh. Ada yang namanya dipanggil, gak disorakin. Ada juga yang disorakin, tapi kayaknya gak seheboh pas nyorakin Keke, deh."
    Chi: "Ya itu artinya banyak yang mendukung Keke. Harusnya Keke semakin pede kalau banyak yang dukung begitu."

    Chi gak melihat pertandingannya. Jadi, gak tau persis, apa memang benar gak semua anak disorakin dengan heboh seperti yang Keke ceritain. Atau hanya perasaan Keke aja saking groginya. Tapi, persamaan dengan kejadian waktu kelas 4 adalah Keke sudah mulai punya rasa malu dan grogi.

    Lalu, apa yang harus Chi lakukan?


    Merasa malu itu wajar

    Malu dan grogi itu perasaan yang wajar. Artinya, Keke itu manusia yang punya perasaan. Sekarang tinggal bagaimana mengajarkan Keke untuk mengelola rasa itu. Pokoknya jangan sampai berlebihan. Terlalu pede atau terlalu grogi, sama gak bagusnya.


    Cari tahu penyebabnya

    Di usia Keke sepertinya mulai ada rasa malu ketika melakukan sesuatu. Malu karena disorakin (padahal sebetulnya mendukung), malu karena seseorang yang disukai ngegodain, malu karena alasan lain. Rasanya cepat atau lambat semua itu bisa terjadi sama Keke. Bahkan mungkin ke Nai, suatu saat nanti. Cari tau penyebabnya.


    Tarik-ulur kayak main layangan

    Kadang anak suka gak mau langsung ngaku apa penyebab. Mungkin malu, mungkin takut, mungkin penyebab lainnya. Tarik-ulur aja. Lihat situasi hati dan keadaan.


    Jangan menghakimi

    Kalau sudah tau apa penyebabnya, coba jangan menghakimi. Besarkan hatinya, kalau dia pasti bisa. 'Suntikan' lagi rasa percaya diri kepadanya.


    Chi juga grogian, trus..?

    Sebetulnya, Chi juga grogian kalau disuruh ngomong di depan umum. Bisa keringet dingin dan gemeteran.  Lebih baik Chi nulis panjang lebar di blog hehehe. Tapi, bukan berarti trus Chi bisa langsung membiarkan begitu aja kalau sampe Keke dan Nai grogian juga, kan? Chi akan terus berusaha keras supaya Keke dan Nai gak ngikutin jejak Chi. Chi rasa bisa. Selama ini mereka termasuk anak-anak yang berani mengutarakan pendapatnya di kelas. Berani presentasi juga. Jadi, kalau sesekali merasa malu dan grogi mungkin karena ada penyebabnya. Tapi, berarti mereka bisa kembali menjadi anak yang berani lagi.

    Keke cerita kalau sekarang dia udah mau lagi kalau disuruh adzan. Keke juga berjanji untuk mencoba menghilangkan rasa malu dan groginya itu. Semoga aja. Hal-hal seperti ini memang harus terus diasah dengan latihan.Semangat lagi, Nak! :)

    Monday, November 3, 2014

    Buat Apa Sekolah?

    Buat Apa Sekolah?

    Buat Apa Sekolah?
    Nai: "Bunda, Ima cita-citanya gak mau jadi illustrator lagi, ah. Ima mau jadi ibu rumah tangga aja."
    Bunda: "Kok, tiba-tiba berubah? Alasannya apa?"
    Nai: "Ya, pengen ajah."
    Bunda: "Gak mungkin dong cuma kepengen aja. Harus ada alasan."
    Nai: "Gak ada, Bun. Ima cuma kepengen ajah."
    Bunda: "Masa' sih? Atau Ima lagi bosen ngegambar, ya?"
    Nai: "Enggak, Buuun... Enggak. Emang kenapa sih harus pake alasan segala?"
    Bunda: "Ya, abis tiba-tiba aja berubah cita-citanya."
    Nai: "Ya gak apa-apa, kan? Ima cuma pengen kayak Bunda aja. Kayaknya enak."
    Bunda: "Ooohh.."

    Sebetulnya, ketika ngobrol itu, di hati Chi lagi ada perperangan antara ego dan akal sehat. Makanya, Chi coba mengulur-mgulur pembicaraan aja sama Nai. Padahal sebetulnya pengen ngomel hehe.

    Ego: "Kalau emang cita-citanya pengen jadi ibu rumah tangga, ngapain juga diniatin sekolah tinggi-tinggi. Belajar aja langsung sama Bunda. Belajar mengurus rumah, belajar masak."

    Akal sehat: "Eh! Bukannya sendirinya juga seorang sarjana? Gak masalah kan seorang sarjana akhirnya menjadi full time mom? Malah kamu seringkali bilang ke diri sendiri kalau pentingnya berpendidikan tinggi itu salah satunya adalah membentuk pola berpikir kamu. Lagian, anak-anak kan memang mencontoh orang terdekat. Nai sekarang lagi 'berkaca' ke bundanya. Dia pengen kayak bundanya."

    Chi memang akhirnya harus mengeplak diri sendiri. Berkali-kali Chi merasa bersyukur dan gak merasa sia-sia walopun seorang sarjana tapi menjadi ibu rumah tangga saja. Setidaknya pengalaman akademis, bisa membantu membentuk pola berpikir Chi seperti sekarang. Jadi, kenapa Chi malah berpikir untuk gak perlu nyekolahin Nai ke sekolah yang lebih tinggi kalau memang dia nantinya ingin jadi seperti Chi. Ah, anggap aja Chi saat itu lagi galau hehehe..

    Sekarang Chi sih santai dan ambil positifnya aja..


    1. Terbukti kalau anak-anak itu memang masih suka mencontoh lingkungan terdekat. Kalau sekarang Nai lagi kepengen jadi ibu rumah berarti dia suka dengan apa yang bundanya lakukan
    2. Chi menikmati kehidupan yang sekarang. Nah, berarti gak ada alasan untuk galau kalau suatu saat pun Nai juga pengen seperti bundanya, kan? :)

    Yang namanya ngomongin pendidikan memang selalu menarik dan suka 'panas'. Yang baru-baru ini kita semua tahu, dong. Tentang pro-kontra terpilihnya Menteri Perikanan dan Kelautan, ibu Susi Pudjiastuti. Bukan yang tentang merokoknya, tapi tentang pendidikan akademisnya yang katanya hanya lulusan SMP.

    Dari beberapa pro-kontra yang Chi amati (paling tidak di timeline social media Chi), yang kontra ada kekhawatiran dari beberapa orang tua kalau anak-anak akan menjadikan sosok ibu Susi sebagai contoh dalam dunia pendidikan. "Buat apa sekolah? Gak sekolah tinggi aja bisa jadi menteri, kok?"

    Menurut Chi, sedikit galau gak apa-apa. Tapi, rasanya gak perlu menyalahkan pihak lain, misalnya dengan mengatakan, "Ini gara-gara bu menteri itu, sih. Anak saya jadi males sekolah!" Di luar sana, banyak sosok terkenal yang sukses tapi secara akademis dianggap kurang berhasil. Sebut saja Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Bill Gates, Albert Einstein, dan maish banyak lagi. Trus, kita mau nyalahin mereka semua karena anak malas sekolah? Sementara banyak hasil karya mereka yang kita nikmati?


    Sekolah dan Pendidikan Itu Tidak Sama


    Yang Chi tau, sekolah adalah salah satu TEMPAT mengenyam pendidikan. Chi sengaja mengcapslock kata tempat, untuk lebih menegaskan. Artinya, sekolah tidak menjadi satu-satunya tempat bagi seseorang untuk mendapatkan pendidikan.

    Kita lihat para pelaku homeschooling. Mereka tidak bersekolah di sekolah seperti kebanyakan orang, tapi bukan berarti tidak mendapatkan pendidikan. Mereka terus berusaha menggali dan mendapatkan pendidikan. Ada juga kisah-kisah anak jalanan yang menjadi lebih baik hidupnya walopun secara akademis kurang sukses. Pendidikan tentang kehidupan yang membuat mereka menjaid lebih baik hidupnya.

    Chi dan K'Aie juga dulu sempat berpikir untuk homeschooling aja buat anak-anak sebelum akhirnya memilih sekolah formal. Tapi, apapun yang kita pilih atau jalani, bukanlah tentang sekolah atau tidak, tapi apakah mendapat pendidikan atau tidak?


    Siap berusaha lebih keras?


    "Saya menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah terbaik. Sekolah itu penting. Yang gak tamat sekolahnya seperti saya harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup," kata Sri Pudjiastuti.

    Chi punya buku tentang kisah hidup orang-orang sukses walopun secara akdemis kurang berhasil. Tapi, karena males cari bukunya yang menumpuk di rak, jadi Chi copas aja komen ibu Susi yang banyak beredar di berbagai portal berita. Lebih mudah dicarinya hehe.

    Kalau memang sekolah itu gak penting, kenapa bu Susi yang jelas cuma tamat SMP tapi justru tetap menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah terbaik? Kenapa gak justru menyarankan untuk mengikuti jejak ibunya saja? Apalagi bu Susi kan seorang pengusaha sukses, bisa jadi mudah baginya untuk menurunkan perusahaannya nanti kepada anak-anaknya. Dan, anak-anaknya tinggal belajar saja dari ibunya tentang bagaimana caranya berbisnis.

    Kurang lebih sama kayak yang Chi ceritain di awal. Kalau Nai memang cuma pengen jadi ibu rumah tangga, ya mending belajar langsung aja dari Chi. Ngapain ribet-ribet sekolah? Ah, untung aja Chi bisa segera menyingkirkan ego itu, ya. Alhamdulillah :)

    Oiya, selain ibu Susi, tokoh-tokoh terkenal yang 'kurang' akademisnya juga kesuksesan mereka gak jatuh dari langit. Chi rasa seperti ibu Susi, kerja keras mereka bisa jadi tiga kali lipat dibandingkan kita yang berprestasi akademisnya. Kita siap untuk itu? Kembalikan kepada diri sendiri jawabannya, ya



    Attitude Lebih Penting dari Akademis



    Mungkin kita juga pernah mendengar komentar, "Ngapain sekolah tinggi-tinggi? Yang penting attitude. Banyak yang sekolah tinggi tapi attitudenya memalukan." Iya, memang bener banyak yang berpendidikan tinggi tapi sayang attitudenya tidak layak untuk dicontoh. Tapi, kalau itu jadi alasan untuk kita gak sekolah tinggi, coba baca tulisan yang ada di gambar atas, deh.

    Chi salin di sini, ya. Kali aja gak kebaca tulisannya. Itu tulisan di salah satu halaman novel "Sabtu Bersama Bapak." Novel yang belum juga Chi tulis reviewnya. Padahal itu novel bagus banget :)


    "Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu gak penting, yang penting attitude."

    Dia terdiam.

    "Kemudian mereka akan berkata, "Yang penting dalam membangun karir adalah perilaku kita. Kemampuan berbicara, berinteraksi, bla bla, bla."

    Dia terdiam lagi.

    "Mereka benar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya.

    Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademis itu gak penting.

    Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk.

    Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.

    Kalian masih kelas 2 SMA. Kalian punya waktu untuk banyak hal. Asah soft kill kalian. Belajar juga demi akhlak yang baik.

    Kalau disambungin ke kalimat bu Susi diatas sebetulnya nyambung, ya. Yang gak tamat sekolah harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup. Sedangkan menurut novel tersebut, prestasi akademis itu penting karena membukakan banyak pintu. Tinggal setelah itu kitanya mau memperlihatkan prestasi kita yang lain atau enggak?


    Pemikiran Anak Gak Salah


    Chi beberapa kali bilang kalau anak akan meniru lingkungan terdekat. Tapi, bukan berarti tidak mungkin menjadikan sosok lain sebagai contoh. Nah, sekarang giliran kita gimana menyikapinya. Kalau anak menjadi malas sekolah dan menjadikan para tokoh tersebut sebagai alasan, sebaiknya orang tua jangan langsung uring-uringan. Pemikiran anak seringkali masih sangat sederhana banget. Mereka cuma melihat sosok tersebut gak sekolah tapi berhasil hidupnya. Sesederhana itu.

    Tugas kita yang seharusnya menjelaskan. Tentu aja disesuaikan dengan usianya. Jangan usia masih seumuran Nai tapi dipaksa membaca kisah sukses para tokoh yang ukuran bukunya aja udah berat dan isinya tulisna melulu. Belom apa-apa bisa pusing duluan dia. Mendingan diajak diskusi. Kalaupun mau dikasih buku, sekarang kan banyak buku tentang tokoh-tokoh tapi dikemas untuk usia anak.

    Jadi, masih ingin menyalahkan? Menurut Chi mending kita berusaha yang terbaik bagi diri sendiri ataupun keluarga, ya. Sesungguhnya mereka yang berhasil adalah mereka yang berusaha. Apapun bentuk pendidikannya :)