Monday, September 30, 2013

Pasar Malam

Ketika beberapa teman blogger sedang aktif melakukan gerakan penyelamatan gumuk (Save Gumuk), Chi jadi teringat dengan pasar malam. Sekarang setiap kali lewat pasar malam dimanapun suka ada rasa sedih dan sedikit marah.

Dulu, di deket komplek perumahan tempat Chi tinggal, tepatnya di depan kelurahan dan di samping kiri-kanan lapangan sepakbola ada 2 SD negeri, ada sebuah lapangan sepakbola. Kalo lagi melintas di depan lapangan sepakbola itu, Chi suka melihat ada aja orang-orang yang bermain di sana. Kalau siang, biasanya di pakai anak-anak SD itu bermain atau kegiatan sekolah, karena SD itu gak punya halaman bermain di sekolahnya. Jadi tempat bermain mereka kelihatannya di lapangan sepakbola itu walaupun itu artinya mereka harus ke luar dari halaman sekolah. Kalau sore biasanya banyak warga perkampungan sekitar yang bermain sepakbola.

Keke dan Nai pernah beberapa kali main ke lapangan sepakbola itu. Mereka ke sana kalau pasar malam lagi di gelar. Biasanya Chi pinjem ART mamah untuk ngajak mereka main ke pasar malam. Berangkatnya sore hari dengan berjalan kaki karena memang dekat lokasinya. Beberapa anak-anak kecil dengan ART atau baby sitter masing-masing. Setiap kali pulang dari pasar malam, Keke dan Nai keliatan seneng banget dan selalu antusias bercerita. Akhirnya waktu ada pasar malam berikutnya Chi yang nganterin mereka.

Keke dan Nai bener-bener seneng selama di pasar malam. Sampe susah untuk diajak pulang. Berkali-kali mereka naik berbagai macam permainan yang ada di pasar malam. Jujur aja, sebetulnya ada rasa khawatir melihat berbagai wahana permainan di pasar malam.Jangan bayangkan permainan yang ada di pasar malam semodern dan sebagus permainan yang ada di mall. Bahkan permainannya pun terlihat kusam juga kotor.

Tapi kalo lihat anak-anak segitu senengnya, kayaknya gak tega juga ngelarang mereka untuk gak boleh ke pasar malam. Lagian biar sesekali tau pasar rakyat, jangan taunya mall aja. Ya udah lah gak apa-apa. Gak setiap hari juga. Karena pasar malam cuma ada setiap beberapa bulan sekali. Yang penting di wanti-wanti aja, seperti jangan masukin tangan ke mulut kalau belom cuci tangan. Jangan juga bermain di wahana yang terlalu mengkhawatirkan kondisinya. Seinget Chi dulu mereka gak Chi kasih main bianglala. Abis keliatannya ringkih, trus muternya kenceng banget. Kayaknya ngeri aja. Ya, kekurangannya pasar malam itu dalam hal perawatan.

Melihat Keke-Nai seneng banget di pasar malam, Chi pun berniat kalau ada pasar malam lagi bakal ngajak dan nemenin mereka lagi. Bahagia lihat mereka seneng selama di pasar malam. Trus pulangnya sambil jalan kaki mereka juga cerita-cerita serun. Tapi ternyata itu jadi pengalaman pertama dan terakhir kali Chi nemenin Keke-Nai ke pasar malam... Gak lama kemudian lapangan sepakbola itu ditutup dan kemudian didirikan beberapa ruko. Sementara lahan yang tersisa, ditutupi oleh aspal sebagai lahan parkir :(

Sedih rasanya .... Padahal buat Keke-Nai pasar malam itu berkesan banget, lho. Mereka masih suka bernostalgia tentang pengalaman mereka ke pasar malam. Apalagi kalo di jalan mereka lihat pasar malam. Sekarang kayaknya udah nyaris gak mungkin lagi kami ke pasar malam. Karena udah gak ada lagi lahan luas di dekat tempat kami tinggal yang bisa dipakai untuk pasar malam.

Keke-Nai mungkin masih beruntung. Setidaknya sampai saat ini mereka masih bisa main ke tempat-tempat bermain, indoor ataupun outdoor, kalaupun harus merogoh kocek yang cukup lumayan. Tapi gimana, ya, dengan nasib anak-anak SD itu? Setidaknya sekarang lahan mereka untuk bermain menjadi sangat terbatas. Belum lagi warga perkampungan sekitar yang sering bermain sepakbola di sore hari. Memang, di deket rumah sekarang berdiri lapangan futsal. Tapi lapangan futsal, kan lebih kecil areanya. Dan harus bayar pula! Itupun waktunya terbatas. Beda, dengan lapangan sepakbola yang mereka bisa bebas bermain sampe jam berapapun tanpa ada biaya.

Belum lagi permainan lain. Chi sekarang beberapa kali lihat anak-anak bermain layang-layang, di lahan parkir ruko. Ngeri juga karena dekat sekali sama jalan raya. Coba kalau lapangan sepakbola itu masih ada, mereka pasti bebas berlarian dengan aman. Trus belom lagi fungsi sebagai lahan resapan air jadi hilang karena semuanya udah tertutup rapat sama aspal :(

Setelah dibangun ruko, area tersebut sempat ditutup lagi. Katanya lahan kosong yang tersisa mau dibikin apartemen. Warga sekitar, termasuk warga komplek akhirnya mulai protes. Tepatnya melakukan demo.

Chi juga gak ngerti. Yang namanya apartment itu harusnya ada di tengah kota. Fungsi didirikan apartment itu untuk memudahkan para penghuninya ketika ke pusat bisnis (untuk kerja) atau ke pusat perbelanjaan. Bagi penghuni apartment, gak masalah mereka gak punya lahan yang penting kemana-mana deket. Lagipula biasanya di apartment sendiri udah ada berbagai macam fasilitas dari tempat bermain, pusat kebugaran, malah kalau perlu 'menempel' dengan mall. Setidaknya seperti itu pengertian apartment buat Chi.

Makanya Chi gak ngerti kalau ada yang mau mendirikan apartment yang lahannnya cuma segede lapangan bola, itupun sebagian udah dibangun ruko. Plus lokasinya di pinggiran kota pula! Aneh rasanya kalo dibangun apartement.

Apa segitu banyaknya permintaan pasar untuk tempat tinggal? Setau Chi tempat tinggal sekarang trend modelnya aja yang minimalis, harganya sih melambung terus. Syukur, deh, kalau memang banyak yang beli. Berarti banyak yang sukses, yaaaa. Tapi kan kasian juga, banyak orang-orang yang kehilangan lahan untuk bermain dan beraktifitas hanya karena kepentingan orang-orang tertentu. Lahan untuk resapan air juga hilang.

Baru-baru ini, Chi denger kabar katanya dengan pertimbangan Amdal (Analisis Dampak Lingkungan), akhirnya pembangunan apartment dibatalkan. Hmmm ... Chi sempet berpikir, kenapa baru sekarang? Kenapa sejak pembangunan ruko itu dimulai. Tapi, ya sudahlah ... kembali berpikir positif. Mungkin kalau dibikin apartmen kerusakan lingkungan dan pengaruhnya kepada masyarakat akan lebih parah.

Chi bisa ngerti dan ngerasain, gimana khawatir dan sedihnya teman-teman yang merasa keberadaan gumuk di daerahnya terancam. Chi yang 'kehilangan' lapangan sepakbola aja merasa sedih, kok. Apalagi kehilangan gumuk? Chi belum pernah melihat bentuk gumuk, tapi Chi selalu yakin ciptaan Allah itu gak hanya indah tapi juga pasti gak ada yang sia-sia. Pembangunan yang dilakukan oleh manusia seharusnya bisa bersahabat dengan alam, bukan dengan cara merusaknya.

Semoga sukses perjuangannya, ya, temans!

Continue Reading
40 comments
Share:

Friday, September 27, 2013

Blog Ini ...

"Bun, emangnya semua yang Ima omongin, semua yang Ima lakuin ditulis di blog Bunda, ya?"

Pertanyaan Nai, 2 hari yang lalu, berasa mak jleb buat Chi. Tapi sebelum Chi jelasin, mendingan lanjutin dialognya dulu.

Bunda : "Adek keberatan, ya?"
Nai     : "Keberatan itu apa, Bun?"
Bunda : "Hmmm ... apa, ya? Gak suka gitu, deh."
Nai     : Suka, kok."
Bunda : "Trus kenapa nanya kayak gitu."
Nai     : "Ya, nanya aja."

Obrolan terus berlanjut, tapi intinya Nai tetep suka dirinya diceritain di blog. Malah dia bilang, "Ditulis terus aja, Bun. Biar Ima inget kalo Ima pernah ngapa-ngapain aja." Mungkin maksudnya biar dia punya kenangan yang tertulis kali, ya.

Walaupun dikasih izin, Nai juga punya rambu-rambu yang harus Chi patuhi, yaitu :

  1. Gak boleh ceritain kejelekan Nai, misalnya lagi nangis, ngambek, dan lainnya.
  2. Gak boleh upload foto dirinya yang menurut Nai jelek
 
Di tempat yang berbeda, setelah ngobrol sama Nai, kali ini Chi ngajak Keke ngobrol dengan topik yang sama. Keke juga kasih rambu-rambu yang sama dengan rambu-rambunya Nai. Dia juga pesen supaya Chi tetep menulis tentang dia. Dan satu lagi pesen Keke, "Banyakin cerita celoteh Keke dan Nai, karena itu yang paling Keke suka. Bacanya juga cepet, tulisannya gak panjang" :p

Oke, deh. Izin udah didapat. Alhamdulillah. Sebetulnya bukan kali ini aja Chi ngajak mereka ngobrol tentang blog ini. Secara berkala Chi suka tanya ke Keke-Nai, apa mereka keberatan atau enggak kalau Chi tulis cerita mereka di blog. Selama ini, sih mereka selalu jawab gak keberatan. Malah mereka seneng dan minta Chi terus nulis. Malah mereka suka nanya, "Bun ada cerita baru lagi di blog, gak?"

Secara berkala Chi lakukan karena usia mereka terus bertambah. Biasanya semakin bertambah usia, cara berpikir suka berubah. Siapa tau setelah besar mereka malah jadi malu. Walaupun Chi gak berharap seperti itu, ya.

Trus kenapa Chi bilang kalo pertanyaan Nai itu berasa mak jleb karena ini untuk pertama kalinya anak-anak yang mulai duluan tanya. Biasanya Chi yang selalu tanya duluan ke mereka. Ya, walaupun sama topiknya tapi tetep aja rasanya beda kalau anak-anak yang mulai topiknya duluan.

Tentang rambu-rambu, Chi sama sekali gak keberatan. Rambu-rambu mereka sejalan, kok, sama rambu-rambu yang emang dari awal Chi ngeblog juga udah dibuat. Buat Chi menulis jangan cuma sekedar menulis tapi harus ada aturannya. Setidaknya aturan buat diri sendiri. Dan ini rambu-rambu yang Chi buat untuk diri sendiri, terutama untuk blog ini :

Tulis cerita buruk di atas pasir dan cerita baik ukir di atas batu, Chi tau kalimat ini dari seorang teman dan sepertinya dia suka banget sama kalimat tersebut. Untuk arti yang kurang lebih mirip, Chi pernah lihat salah seorang psikolog bilang, "Diary sebaiknya diisi dengan cerita yang baik-baik aja. Cerita yang kurang baik, seperti rasa marah dan sebagainya, sebaiknya ditulis di selembar kertas. Setelah puas sobek-sobek kertas tersebut."

Chi pikir bener juga 2 kalimat itu. Kadang kalau kita menulis cerita yang jelek (seperti lagi marah sama seseorang), ketika kita baca lagi tulisan tersebut rasa marah atau kesel suka timbul lagi. Padahal sebetulnya masalahnya udah selesai. Jadi mending cerita-cerita yang bikin perasaan Chi gak enak jangan ditulis di blog. Tulis aja di atas pasir atau di selembar kertas, biar setelah puas, tulisan akan tertiup angin, terhapus oleh air, atau berakhir di tempat sampah.

Makanya di blog ini pun rasanya Chi gak pernah nulis cerita tentang 'kejelekan Keke-Nai'. Bukannya supaya orang menganggap mereka anak yang sempurna. Tapi untuk hal-hal jelek, biar itu jadi cerita intern keluarga kami. Kalopun Chi beberapa kali pernah cerita kalo Keke-Nai pernah punya masalah ini-itu, biasanya Chi tulis setelah ada solusinya. Dengan tujuan ingin berbagi, ketika punya masalah seperti ini-itu solusi yang kami buat seperti yang tertulis. Semoga dengan berbagi bisa bermanfaat buat yang membaca. Insya Allah :)

Anak-anak (terutama Keke) juga udah mulai gak mau dilihat orang kalo lagi ngambek. Di rumah aja, kalo lagi ngambek terus Kakek-Neneknya lihat biasanya mereka langsung buru-buru hapus air mata atau kalau perlu masuk ke kamar supaya gak ada yang tau mereka ngambek, kecuali ayah-bundanya.

Nah, kalau sama keluarga sendiri aja, Keke-Nai udah mulai menutupi diri kalau lagi ngambek apalagi di depan orang lain. Kalau Chi tulis di blog berarti, kan, bakal ada orang lain yang tau. Nanti bisa-bisa Keke-Nai malu. Jadi, Chi coba menghargai privasi mereka juga sebetulnya dengan gak menceritakan semua hal ke dalam blog tanpa disaring dulu :)

Upload foto juga Chi usahakan sehati-hati mungkin supaya gak disalah gunakan orang lain. Gak semua foto diupload di blog walopun menurut Chi foto itu lucu. Apalagi Keke-Nai juga udah bisa berkomentar. Jadi mereka udah bisa protes seandainya ada foto yang kurang berkenan tapi Chi upload. Ya, semoga aja kehati-hatian kami gak akan disalah gunakan oleh orang lain.

Trus sampe kapan blog ini berlajut? Belom terlalu kepikiran sampe kapannya. Yang penting sekarang masih dikasih izin sama Keke-Nai, berarti Insya Allah, Chi masih tetap akan menulis tentang mereka :)

Continue Reading
50 comments
Share:

Tuesday, September 24, 2013

Berantem

Salah satu kekhawatiran Chi ketika punya anak laki-laki adalah tentang berantem. Bullying (walopun yg namanya nge-bully gak selalu berantem, ya), tawuran, dan bentuk kekerasan lainnya bikin Chi suka deg-degan. Sebagai orang tua tentu aja Chi selalu mengingatkan dan berdo'a, tapi biar gimanapun kan kita gak 24 jam mengawasi anak-anak.

Pernah Chi ngobrol sama K'Aie dan beberapa teman, mereka umumnya bilang "Selama masih dalam batas wajar, berantem itu gak apa-apa. Namanya juga anak laki-laki.".Malah salah seorang sahabat pernah bilang yang dia lebih takutin ketika tau dikaruniai anak laki-laki adalah bukan berantem. Justru semakin banyaknya laki-laki yang terlihat 'melambai' terutama di televisi, membuat dia khawatir anak laki-lakinya akan seperti itu.

Bener juga, sih, apa kata sahabat Chi itu. Terlepas dari segala teori apakah laki-laki yang seperti itu karena gen atau pengaruh lingkungan, Chi juga sangat gak ingin Keke akan menjadi seperti itu. Naudzubillah min dzalik ...

Balik lagi ke topik tentang berantem yang paling Chi khawatirin kalau anak sampe berantem sebetulnya sikap orang tua. Kalau Chi perhatiin dari cerita sana-sini, yang ada di sekolah anak-anak ataupun di sekolah lain, suka ada aja orang tua yang terlalu melindungi anaknya. Anaknya 'tersentuh' sedikit sama temannya langsung orang tuanya protes keras karena merasa anaknya di bully tanpa mau tau masalah sebenarnya.

Chi tau gak ada orang tua yang mau anaknya punya masalah, Chi pun termasuk kayak gitu. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, untuk beberapa hal sebaiknya anak dibiarkan membereskan masalahnya sendiri. Jangan sedikit-sedikit orang tua ikut campur. Orang tua yang terlalu ikut campur justru gak bikin anak mandiri. Dan kadang ikut campur orang tua juga gak selalu membuat masalah jadi selesai. Malah kadang protesnya orang tua lebih mengerikan, sementara antar anaknya sendiri udah saling akur lagi. Mungkin itu juga yang bikin Chi suka was-was dan berharap jangan sampe Keke berantem sama teman-temannya. Males kalo sampe urusannya sama orang tua yang terlalu protektif. Kecuali kalo udah sampe level tertentu yang memang orang tua harus turun tangan.

Beberapa hari yang lalu, Chi ke sekolah dan ngobrol dengan wali kelas Keke. Dari beberapa obrolan ketauan kalo hari itu Keke mendorong salah seorang temannya, sebut aja namanya X, hingga jatuh dan menangis. X ini badannya lebih tinggi dan lebih besar dari Keke (padahal Keke aja udah tinggi besar), jadi pasti Keke ngedorongnya juga keras kalo X sampe terjatuh. Chi langsung was-was dengernya. Duh! Kok, Keke kayak gitu? Tapi setelah wali kelas cerita permasalahannya, Chi sendiri jadi sempet bingung harus gimana ke Keke *Tadinya udah siap mau ngomel :D

Jadi ceritanya temen Keke yang bernama X ini kalo dia lagi suka dengan seseorang menunjukkan rasa sayangnya dengan mencium. Dan hari ini X keliatannya lagi suka sama Keke jadi berusaha untuk mencium Keke. Keke udah bilang kalo dia gak mau dicium, bahkan Keke terus menghindar setiap kali X berusaha mencium.Tapi berkali-kali Keke menolak dan menghindar, rupanya gak bikin X mengerti. Dia terus aja berusaha mencium Keke yang akhirnya bikin Keke marah trus mendorong X sampe jatuh dan menangis.

Wali kelas Keke bilang kalau sikap Keke sebetulnya bisa dimaklumi. Anak kelas 4 itu umumnya udah banyak yang meninggalkan sikap dan pikiran anak-anaknya. Udah mulai memasuki usia pra remaja. Jadi untuk beberapa hal, seperti misalnya mencium mungkin udah berasa risih untuk beberapa anak. Apalagi X juga anak laki-laki. Bisa jadi Keke semakin risih. Masa laki dicium laki.

Tapi karena Keke mendorong, terlepas dari apa dia salah atau hanya membela diri, wali kelas tetap menasehati Keke. Sementara untuk X juga dikasih tau, kalo sayang sama temen itu boleh tapi gak boleh lagi menunjukkan dengan cara mencium. Baik ke temen laki-laki atau perempuan.

Chi juga bilang ke wali kelas, kalo Keke memang udah mulai risih dipeluk atau dicium di depan umum. Sama orang tuanya sendiri aja dia mulai gak mau diperlakukan seperti kalau di depan umum. Tapi kalo lagi di rumah, sih, tetep aja keluar manjanya :) Jadi, ya, Chi gak heran kalau Keke gak suka dicium sama X. Chi malah jadi bingung untuk negur Keke, karena Keke kan sebelumnya udah beberapa kali nolak dan menghindar cuma X aja gak ngerti-ngerti.

Chi sempet bilang ke Keke kalo X seperti itu lagi, daripada ngedorong mendingan aduin aja ke wali kelas. Tapi Chi mikir juga, apa iya kalo laki-laki itu suka mengadu? Biasanya laki-laki suka ngeberesin dulu masalahnya sendiri? Ngobrol sama K'Aie, malah katanya, "Selama Keke marahnya gak berlebihan. Mungkin sesekali harus seperti itu supaya X ngerti." Duh! Chi sempet bingung, deh.

Selama beberapa hari, Chi sempet rada was-was. Khawatir kalau orang tua X gak terima dan ngajak ribut-ribut. Males banget urusan kayak gitu. Tapi alhamdulillah gak terjadi. Malah udah beberapa hari ini Keke lagi akur banget, tuh, sama X. Kalo denger ceritanya akhir-akhir ini lagi main berdua terus sama X. Tuh, yang namanya anak-anak, mereka cepet akurnya. :)

Chi tanya juga ke Keke, X masih berusaha mencium Keke sejak kejadian itu gak? Keke bilang udah enggak. Tapi kalo ke temen-temen lain, X kadang masih suka cium. Chi juga tanya kalo temen-temen Keke yang lain sebetulnya suka atau enggak dicium X? Keke bilang ada yang gak suka, tapi ada juga yang dia gak tau. Tapi paling kalo dicium, reaksi temen-temennya cuma ngusap-ngusap pipi sambil bilang, "Iiiihhh X!" Gak ada yang marah kayak Keke.

Tapi Chi pikir-pikir lagi kayaknya bener juga apa yang K'Aie bilang. Gak apa-apa lah sesekali nunjukkin rasa marah. Setidaknya Keke sekarang aman dari ciuman, kan? :)

Dan tentang berantem, Chi juga selalu ngingetin Keke supaya :


  1. Sabar, jangan gampang tersulut emosi.
  2. Jangan pernah main keroyokan. Bermasalah sama satu orang, selesaikan langsung dengan orang tersebut. Syukur-syukur kalo gak sampe pake berantem penyelesaiannya. Dan jangan juga mau terpancing untuk bantu ngeroyok orang lain padahal kita gak punya masalah dengan orang tersebut.

Continue Reading
56 comments
Share:

Monday, September 23, 2013

Ya... Coba Keke...

Keke : "Bun, tadi Keke baca suratnya *** (nama dirahasiakan :p) dari sekolah untuk orang tuanya. Dia kepilih jadi salah satu pemain tim khusus. Ya... coba Keke dulu milih futsal, ya, Bun. Mungkin ..." *Keke gak melanjutkan lagi kalimatnya

Salah satu ekskul yang ada di sekolah Keke adalah futsal. Selama ini futsal selalu dilatih oleh guru olehraga, tapi mulai tahun ini ada yang berbeda. Kebetulan ada salah satu pemain sepakbola timnas yang anaknya sekolah di sana. Setelah berbincang-bincang dengan pihak sekolah, pemain timnas ini bersedia bekerja sama untuk membentuk tim futsal khusus. Tim futsal khusus adalah siswa-siswa pilihan yang kelihatannya menonjol kemampuannya ketika ikut ekskul futsal.

Memang bukan pemain timnas itu yang melatih, tapi pelatihnya dia yang pilih. Paling sesekali aja kalau lagi gak ada kegiatan dengan timnas, katanya dia akan ikut turun. Kayak waktu beberapa hari lalu, latihan perdana, dia datang. Tapi yang ada dikerubutin sama anak buat minta foto sama tanda tangan *termasuk Keke minta tanda-tangan dan dia kegirangan banget :O

Keke sendiri dari kelas 1 memilih taekwondo sebagai ekskulnya. Kelas 2 dia sempet ikut futsal, tapi itu juga karena terpaksa. Sekolah punya peraturan baru, ekskul taekwondo baru boleh diikutin anak kelas 3 ke atas. Jadi pas kelas 2 itu, Keke terpaksa milih futsal (ditawarin ekskul lain gak mau). Kelas 3, Keke ikut taekwondo lagi dan dia satu-satunya anak kelas 3 yang ikut taekwondo. Temen-temennya milih ekskul lain, kalo yang anak laki-laki kebanyakan milih futsal. Kelas 4 ini Keke kembali pilih taekwondo.

Waktu Keke bilang kalau salah satu temannya terpilih masuk tim futsal khusus, Keke keliatan agak menyesal nadanya. Keliatannya Keke iri melihat temennya terpilih. Chi sendiri senyum-senyum dengernya, sambil kasih beberapa nasihat ke Keke, yaitu :


  1. Jangan menyesali pilihan, taekwondo juga ekskul yang bagus. Lagian Keke juga yang mau ikut taekwondo. Dan sebagai orang tua, kami juga lebih suka Keke ikut taekwondo.
  2. Iri lihat prestasi orang lain boleh-boleh aja, tapi ubah rasa iri itu jadi semangat dan motivasi. Keke juga bisa berprestasi walaupun gak harus lewat futsal.
 
Pas Chi kasih tau, Keke ngangguk-ngangguk aja. Chi lihat dia gak keterusan, sih, menyesalnya. Waktu latihan taekwondo pun dia tetep semangat. Ya, Chi harap Keke memang ngerti. Insya Allah Keke juga bisa berprestasi

Continue Reading
26 comments
Share:

Sunday, September 22, 2013

Belanja Di Zalora

Pernah belanja di Zalora? Kalau belum pernah, mendingan baca tulisan ini dulu, deh, sebelum mutusin mau belanja di Zalora apa enggak.


Komplit



Zalora, sebagai fashion online store, benar-benar menawarikan produk yang komplit untuk fashion wanita dan pria. Sepatu, pakaian, tas, aksesoris, busana muslim, sports, dan beauty? Semua ada! Atau sukanya dengan barang-barang dari merk tertentu aja? Klik aja bagian 'Brand', bakalan banyak banget brand yang tersedia.



COD (Cash On Delivery)



Biasanya keraguan terbesar kalau mau belanja online adalah bisa dipercaya, gak? Ya, karena bisnis online store itu tentang kepercayaan. Kebanyakan pembeli (terutama kalau belum kenal toko online-nya), suka ada perasaan ragu untuk belanja. Takut setelah pembayaran di transfer, barangnya gak dateng-dateng.

Kalo belanja di Zalora kita bisa COD. Yipppiiieee!! Dan gak cuma untuk pembeli di Jakarta tapi untuk 57 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia!


Ayo cek! Tempat tinggal kita termasuk yang bisa COD, gak?


Free Ongkir



Udah bisa COD, free ongkir pula. Emang nikmat, deh! Karena kalau belanja banyak, ongkir juga lumayan nguras dompet. Jadi kalau bisa free ongkir, apa harus berpikir sampe 2 kali?



Detil



Selain tentang uang, yang suka bikin ragu untuk belanja online adalah barang yang kita beli (baju, celana, sepatu) bakal muat gak, ya? Cuma menulis S, M, L, atau all size aja, atau nomor sepatu,saya rasa kurang membantu. Online store seharusnya memang mencantumkan ukurannya secara detil biar pembeli udah bisa kira-kira barang yang mereka beli ukurannya pas atau enggak.



FAQ




Masih ada pertanyaan? Silakan ke webnya dan lihat bagian FAQ atau hubungi customer servicenya langsung


Udah, ya, saya mau belanja dulu di Zalora. Ada yang mau ikut? :)

Sumber foto : seluruhnya milik http://zalora.co.id

Continue Reading
12 comments
Share:

Thursday, September 19, 2013

Percakapan BB

Akhirnya kami punya BB, yeaaaayyy ...! *Berita gak penting. Emang ada yang nanya? :p

Awalnya kami punya BB karena K'Aie mulai jualan online (klik aja tulisan yang jualan online itu, ya. Kalau mau tau jualan apa. *promosi terselubung :p). Dan menurut saran beberapa temannya, sebaiknya kalau mau jualan (online atau enggak) punya BB. Pengguna BB di Indonesia itu banyak banget, jadi punya BB bisa membantu penjualan. Bener atau enggak, kita gak bakal tau kalau gak membuktikan sendiri, kan? Akhirnya kami pun beli BB. Sejauh ini, sih, pembelinya kebanyakan ordernya lewat sms atau whatsapp

Karena emang cuma dipake untuk jualan, jadi kami pun gak ikut group-group apapun. Males, nanti bunyi terus. Berisik, ah :D Dikatakan BB kami karena memang jadinya BB bersama. Sesekali Chi pake buat bikin status di FB atau twitter hehe. Tapi kalau ada yang tanya Pin BB suka gak Chi kasih. Selain gak tau, juga karena tujuan awal BB kan untuk jualan aja. Lupa, kapan tepatnya, Keke pun mulai pake BB itu. Dan mulai, deh, BBnya berisik ... tang ting tung tiap hari, karena Keke ikut group sama beberapa teman seangkatannya di sekolah.

Sebagai orang tua, Chi dan K'Aie masih bebas untuk melihat isi percakapan Keke dan teman-temannya. Keke juga udah ngerti, karena sering diingatkan kalau dia masih anak-anak, masih harus dalam pengawasan, jadi bukan berarti kami gak menghargai privasinya.

Dari group itu Chi jadi tau kalau beberapa temen Keke memang ada yang udah dibeliin BB tapi ada juga yang masih pake bersama kayak Keke. Chi juga jadi lebih tau temen-temen Keke ada yang bahasanya masih sopan, ada yang rada kasar. Gak ada satupun dari mereka yang pake bahasa 4l4y, tapi tetep aja Chi pusing bacanya kalo mereka udah nulis pake tulisan-tulisan 'berenda' khas BB :r

Chi selalu ingetin Keke untuk tetap menjaga sopan-santun walaupun lagi ngobrol. Siapa tau orang tua temen-temennya juga seperti Chi dan K'Aie, masih mengawasi. Apalagi ada juga temennya yang seperti Keke, pake BB orang tuanya.

Dari semua percakapan itu, beberapa hari lalu ada percakapan yang menarik. Keke sendiri saat itu gak ikutan, karena udah tidur. Ya, dari situ Chi bisa kira-kira, pukul beberapa temen-temen Keke tidur. Kalau Keke pukul 8 udah gak tahan ngantuk, sementara beberapa temen Keke biasanya masuk pukul 10 baru sepi BBnya :)

Ceritanya, salah seorang dari mereka ada yang mau pindah ke Amsterdam, katakanlah namanya A. Trus salah seorang temen Keke lainnya, mengajak 11 orang temannya (termasuk Keke) berdiskusi kira-kira hadiah perpisahan apa yang bakal dikasih untuk A.

Awalnya ada yang tanya kenapa beberapa teman lain gak diajak? Trus dijawab sama yang lain, kenapa-napanya. Pokoknya akhirnya mereka sepakat cuma 12 orang aja yang diajak. Dan harus dirahasiakan. Tanpa bermaksud menilai benar atau salah, Chi jadi tau kalau mereka udah bisa menilai teman-temannya begini-begitu.

Kemudian berlanjut ke pembicaraan tentang uang, yang menurut Chi paling menarik dan kadang bikin Chi senyum-senyum sendiri. Pertama ada yang ngusulin untuk patungan masing-masing Rp.5.000,00. Tapi ada yang gak setuju, katanya terlalu sedikit. Pas yang gak setuju ditanya maunya berapa, dia jawab Rp.6.000,00 aja. Dan langsung dibales sama temen yang lain, nangggung amat! :D Ada yang ngusulin 10 ribu, 15 ribu, 20 ribu, bahkan Rp.17.500,00 *Halah! Lebih nanggung lagi. Susah cari kembalian 500 rupiahnya nanti :p. Yang akhirnya sepakat patungan Rp.20.000,00

Yang menarik, sempat terjadi perdebatan rada sengit antar 2 orang teman Keke. Yang satu ngusulin 10 ribu aja, alasannya uang bulanan dia belum waktunya turun. Itupun tadinya dia ragu untuk ikutan karena uangnya tinggal 10 ribu. Tapi yang temen yang lain bilang, "Kok, kayak gajian orang kantoran aja? Uang tinggal minta aja sama orang tua. Repot banget" Yang pake uang bulanan awalnya tetep gak mau minta, karena merasa udah dijatah sama orang tuanya. Tapi setelah agak sedikit debat dengan temannya, akhirnya mau ngalah dan bilang akan coba minta. Buat Chi percakapan itu menarik, entah seperti apa model pendidikan masing-masing orang tuanya tapi ada anak yang udah bisa mengatur keuangan dan ada juga yang masih berpikir kalau uang tinggal minta.

Percakapan berikutnya bikin Chi senyum-senyum. Setelah disepakati patungan Rp.20.000,00 mereka sepakat juga untuk bikin 3 kelompok. Alasannya supaya hadiahnya jadi banyak. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 anak, yang kalau uangnya udah terkumpul berarti tiap kelompok akan terkumpul Rp.80.000,00. Nah yang bikin Chi ngikik itu, ide-ide mereka untuk hadiah. Pada setuju untuk ngasih coat, alasannya di Amsterdam udaranya dingin jadi coat pasti kepake. Masalahnya emang ada coat dengan harga segitu? Hehehe. Apalagi mereka juga berencana, uang yang terkumpul kalau ada sisanya buat makan-makan perpisahan :O Tapi di sini mereka juga belajar berdiskusi dan membuat keputusan yang disepakati bersama.

Keke sendiri baru nimbrung besok paginya. Dia gak banyak ikut diskusi karena udah banyak diputusin pas dia lagi tidur, Tapi sampe sekarang belom tau juga hadiahnya apa, uangnya juga belom dikumpulin karena temannya memang belum pindah.

Mengawasi anak-anak kalau lagi ngobrol ada manfaatnya juga. Selain menjaga supaya anak sendiri gak kebablasan, juga bisa tau seperti apa, sih, jalan pikiran anak kita dan teman-temannya itu. Dan kadang seru juga, kok. Cobain, deh :)

Continue Reading
36 comments
Share:

Monday, September 16, 2013

Kurikulum 2013, Siapkah Kita?

Hayoo ... Siapa yang selama ini setuju bahkan protes kalao pendidikan di Indonesia itu lebih ke nilai-nilai akademis, sementara karakter diabaikan? Seandainya sekarang kurikulumnya adalah pendidikan karakter yang diutamakan, apa kita akan langsung senang? Kalau Chi, sih, senang, tapi ternyata ada pertanyaan lanjutan ... Kurikulum 2013, Siapkah Kita? *nanya ke diri sendiri

Sabtu kemarin, ada pertemuan orang tua murid kelas 4 dengan pihak sekolah untuk menjelaskan tentang kurikulum 2013 yang baru. Ini poin-poin yang coba Chi catat:


  1. Kurikulum 2013 ini baru percobaan. Hanya 30% sekolah yang ada di Indonesia (negeri dan swasta) yang ditunjuk Diknas untuk uji coba kurikulum 2013. Jadi jangan heran kalau ada orang tua yang anaknya masih pake kurikulum lama di sekolahnya.
  2. Dari 30% itu juga baru di uji coba untuk SD kelas 1 dan 4, SMP kelas 7, dan SMA kelas 10. Tahun depan untuk baru kelas 2 dan 5 ikut diuji coba. Kalo SMP dan SMA, Chi gak tau tahun depan kelas berapa lagi.
  3. Sekolah Keke-Nai juga bukan sekolah yang ditunjuk oleh Diknas untuk ikut uji coba kurikulum baru. Tapi melakukannya secara mandiri dengan alasan selama ini pendidikan karakter menjadi bagian utama dari  sekolah. Dan karena kurikulum yang baru ini mengutamakan pendidikan karakter, yayasan pusat merasa sejalan jadi memustuskan mengikuti kurikulum baru secara mandiri. Selain itu untuk sekolah yang sama, udah ada 4 sekolah yang ditunjuk oleh Diknas. Jadi tetep bisa belajar dari 4 sekolah itu.
  4. Melakukan kurikulum 2013 secara mandiri artinya sekolah menggunakan kurikulum 2013, tapi seluruh pembiayaan (termasuk pelatihan kurikulum baru untuk guru-guru) dan juga tanggung jawab efek dari kurikulum itu sepenuhnya ditanggung oleh sekolah.
  5. Sistem belajarnya adalah tematik. Jadi tidak lagi belajar per mata pelajaran tapi per tema (dengan beberapa sub tema untuk setiap tema). Didalamnya mencakup Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPKn, Olahraga, dan Seni Budaya. Tapi katanya, sih, untuk kelas 1 pelajaran IPA dan IPS ditiadakan. => Karena Keke-Nai sekolah di sekolah islam jadi buku agama terbitan dari yayasan pusat.
  6. Contoh tematik seperti ini ... misalnya sub tema tentang pasar tradisional. Nanti akan dijelaskan apa itu pasar tradisional. cerita pendek tentang pasar tradisional.Pokoknya semua tentang pasar tradional dan didalamnya itu mencakup mata pelajaran yang Chi sebut di nomor 5.
  7. Ulangannya (ulangan harian, UTS, dan UAS) katanya juga bukan lagi per mata pelajaran, tapi per sub tema.
  8. Zaman dulu pernah ada istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Nah, sekarang model belajarnya seperti itu. Kalau sebelumnya guru mendiktekan murid, setelah itu biasanya ulangan. Sekarang murid diminta untuk aktif. Mulai dari aktif di kelas, aktif untuk menggali ilmu dari luar (misalnya internet) yang sesuai dengan tema yang sedang diajarkan saat itu.
  9. Chi sering nonton film barat yang ada setting sekolahan, kalo siswa suka dapet tugas untuk membaca sebuah buku trus dibuat siswa diminta untuk membuat pendapatknya di kertas dan kemudian dipresentasikan di depan kelas. Nah, nanti salah satu bentuk CBSA akan seperti itu. Mungkin untuk tahap awal bukan buku dulu, tapi sebuah cerita pendek, dimana siswa juga diminta membuat kesimpulannya sendiri dari cerita yang dia baca dan dipresentasikan di depan kelas.
  10. Pasti sering denger juga, kan, kalau pelajaran anak-anak zaman sekarang itu sulitnya minta ampun. Pelajaran waktu kita SMP bahkan SMA, sekarang udah diajarin di SD. Nah, kalo sekarang pelajaran kembali jadi jauh lebih mudah. 
  11. Berkaitan dengan nomor 10, gak cuma pihak sekolah yang ngomong kayak gitu tapi temen-temen Chi yang anaknya udah ada yang lebih gede juga bilang yang sama. Katanya pelajaran di kurikulum yang baru ini jauh lebih mudah. Contohnya dulu untuk pelajaran science kelas 4, ada pelajaran tentang tulang-tulang manusia. Dan siswa harus hapal semua bagian-bagian tulang itu (untuk bagian kepala aja ada beberapa tulang, tuh, belum tulang di bagian lain).Mana sekolah Keke-Nai itu, kan, billingual jadi gak cuma harus hapal susunan tulang dengan bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggrisnya juga. Kalau sekarang udah gak ada lagi. Paling cuma disuruh belajar tentang fungsi panca indera aja. Gampang, kan?
  12. Pendidikan akademis menjadi jauh lebih mudah, tapi karakter diutamakan.Penilaiannya di raport adalah tentang Karakter, Pengetahuan, dan Ketrampilan.
  13. Raport di kurikulum baru gak ada angka-angka akademis lagi. Tapi berbetuk narasi. Bisa dibilang raportnya nanti mirip dengan raport TK yang isinya semuanya narasi. Contohnya tentang sopan-santun, aktif., ketertiban, dan lainnya.
  14. Ulangan, UTS, dan UAS tetap ada.Tapi penilaiannya di raport nanti tidak dalam bentuk angka, tetap narasi (nilai di konversikan ke karakter). Contohnya siswa A untuk nilai tematik pertama dapat 80. Nanti di rapor akan tertulis nilainya itu termasuk baik, cukup, atau kurang. Dan dijelaskan secara narasi kenapa untuk tematik pertama, siswa mendapat nilai cukup.Apa siswa A itu untuk tematik pertama siswa yang aktif tapi kelamahannya di tes tertulis, misalnya. Kira-kira seperti itu, deh, penilaiannya.
  15. PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) berubah nama menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Perbedaannya, kalau sebelumnya lebih banyak pelajaran tentang ketatanegaraan yang harus dihapal anak, padahal sebetulnya belum waktunya anak SD belajar seperti itu.Sekarang lebih kepada sikap berpancasila dan gak hanya teori tapi perilaku sehari-hari terutama di sekolah juga dinilai. => Kalo gitu udah gak ada alasan lagi, kalo gak hapal pancasila, ya :)
  16. Chi gak tau apa di sekolah lain juga sama. Tapi berkaitan dengan kurikulum baru ini, untuk kelas 4 akan dibagikan buku 'kebaikanku'. Dimana setiap harinya siswa diminta mengisi kebaikan dan kesalahan apa aja yang mereka uah perbuat pada hari itu. Kemungkinan mereka berbohong itu ada, tapi di situlah kelebihannya karena anak dituntut untuk menilai diri sendiri dengan jujur, kan? Chi sendiri selalu menekankan ke Keke, sepintar-pintarnya berbohong ke manusia, Allah gak bisa dibohongi :)
  17. Kurikulum yang sebelumnya mulai kelas 4 s/d 6. nilai-nilai akademis harus dimasukkin ke Diknas. Tujuannya kalau sampe siswa nilai UANnya kecil, nilai akademis mulai dari kelas 4 itu bisa membantu kelulusan (Chi rasa hal ini yang gak banyak orang tau). Di kurikulum baru, peraturan itu tetap ada tapi dalam bentuk narasi laporannya.
  18. Pelajaran Komputer (TIK) termasuk yang ditiadakan tapi diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran. Sekolah Keke-Nai tetep ada mata pelajaran komputer. Tapi karena diminta juga untuk diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran, jadi kemungkinan ada tugas-tugas yang banyak berhubungan dengan penggunakan komputer termasuk siswa lihai mempresentasikan karyanya itu dengan komputer ketika diminta.
  19. Pelajaran Bahasa Inggris juga seperti TIK. Kalo Chi lihat seperti juga gak termasuk daftar pelajaran yang diwajibkan Diknas tapi kembali ke masing-masing sekolah. Karena sekolah billingual jadi di sekolah Keke-Nai bahasa Inggris masih ada. Tapi Chi gak tau di sekolah lain seperti apa.=> Dan untuk kelas 4 ini karena materi pelajarannya berubah, jadi lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dulu. Sampai ada buku baru dalam bentuk bahasa Inggris dari yayasan pusat yang materinya sesuai dengan kurikulum baru.
  20. UN dihapus masih jadi wacana. Jadi sekolah tetap melakukan persiapan UN untuk siswa-siswinya.

Kurang lebih seperti itu gambaran kurikulum 2013 yang baru. Sekarang plus-minusnya menurut pendapat pribadi Chi :

Plus :


  1. Tas jauh lebih ringan bebannya. Kalau hari Rabu-Kamis, Keke malah cuma bawa 1 buku untuk pelajaran tematik aja (Hari lain ada pelajaran agama, bahasa sunda, bahasa inggris, dan komputer. Tapi tetep ringan juga). Tas yang ringan ini untuk jangka panjang bagus buat kesehatan anak. Karena anak SD itu, kan, masih bertumbuh kembang. Kasihan kalau masih kecil harus bawa tas yang sangat berat. Tas trolley, Chi rasa juga gak terlalu membantu. Karena untuk anak yang kelasnya ada di lantai atas tetep aja harus digendong tasnya kalau naik ke atas. => Dan ngomongin tentang beban tas, Chi jadi kasian sama Nai karena dia baru ikut kurikulum baru 2 tahun lagi. Jadi selama 2 tahun ini dia tetap bawa tas yang sangat berat. Duh :(
  2. Mendidik anak dengan pendidikan karakter itu juga lebih bagus daripada pendidikan yang berbasis kompetensi seperti sebelumnya. Karena membuat manusia lebih manusiawi, tidak menjadikan mereka "robot". Makanya Chi suka dengat kurikulum yang sekarang.
  3. Pelajaran akademis juga Chi nilai lebih pas untuk anak SD. Gak kayak sebelumnya, dimana otak anak dibikin melintir => lagi-lagi kasihan sama Nai, dia masih berat kurikulumnya. Sabar, ya, Nak. Tapi setidaknya kalau untuk akademis mungkin beban Bunda juga lebih ringan jadi bisa fokus ngajari Nai untuk akademis :)
  4. Di poin nomor 9, menurut Chi bagusnya anak jadi dituntut untuk suka membaca. Ya, syukur-syukur ke depannya minat baca masyarakat Indonesia semakin meningkat.
  5. Siswa juga dilatih untuk aktif. Presentasi-presentasi di depan kelas atau diminta aktif untuk bertanya membuat siswa menjadi berani tentu cara presentasi dan bertanyanya harus tetap sopan. => Nai walaupun masih pakai kurikulum lama, tapi Chi udah ajarin untuk lebih berani lagi bicara di kelas. Biar nanti dia udah terbiasa.
 
Minus :

  1. Setiap hari ada pelajaran tematik, kalo sekali ketinggalan bisa seharian anak belajar gak pake buku. Tapi kalau sampe ketinggalan bukan salah Diknas juga. Nanti jadi serba salah. Dikasih pelajaran banyak, bilangnya beban. Dikasih sedikit juga salah. Karena sebenarnya itu kewajiban kita untuk cek-ricek lagi sama buku pelajaran yang mau dibawa.
  2. Objektifitas bisa dipertanyakan. Walaupun pendidikan karakter itu sangat bagus tapi mendidik dan menilai karakter itu sebetulnya lebih sulit daripada menilai akademis. Kalau akademis. guru tinggal kasih soal setelah itu menilai. Nanti tinggal dilihat aja apakah siswanya itu nilainya bagus-bagus atau jelek-jelek? Tinggal tentuin siapa aja yang naik kelas berdasarkan nilai-nilai itu. Sementara menilai karakter itu lebih sulit. Chi aja yang 'cuma ' dikaruniai 2 anak, mendidik dan menilai karakter Keke dan Nai itu butuh proses panjang bahkan sampai sekarang dan nanti. Nah, kebayang gak seorang guru harus mendidik dan menilai karakter anak hanya dari awal tahun pelajaran trus berlangsung cuma 1 tahun aja? Dan yang harus mereka didik gak cuma 1-2 anak tapi puluhan, dengan setiap anak punya karakter masing-masing. Di sini Chi bersyukur, sekolah cuma memaksimalkan 26 anak untuk tiap kelas. Bagaimana dengan sekolah lain yang katanya bisa sampe 40 anak per kelas? Bisakah guru menilai secara objektif? Chi, sih, berpikiran positif dan berharap semoga banyak guru-guru yang bisa objektif. :)
  3. Masa transisi dan kurikulum yang benar-benar baru pula. Kurikulum sekarang bener-bener baru yang gak cuma sekedar ganti nama. Apalagi ini masa transisi, yang Chi tau dimanapun itu masa transisi gak pernah mudah. Kalau kata Chi, sih, kuncinya sabar. Semua pihak harus sabar :)
  4. Masih ada kebingungan dari guru-guru untuk mengisi penilaian. Karena selama ini, kan, guru-guru terbiasa mengisi dengan nilai, sementara sekarang harus berupa narasi. Menurut Chi, sih, itu karena belum terbiasa aja. Mungkin harus sering-sering bertanya sama guru TK gimana cara mengisi raport dalam bentuk narasi.
  5. Pilpres 2014. Umumnya saat pertemuan 2 hari lalu, orang tua murid suka dengan kurikulum baru tapi yang jadi kekhwatiran adalah adanya pilpres dimana kalau ganti presiden kemungkinan ganti menteri dan khawatir dengan adanya ganti menteri akan ganti kebijakan. Bisa-bisa kembali ke yang lama lagi kurikulumnya. Kalo Chi gak salah denger. kurikulum yang baru ini berlaku sampai 2016. Ya, semoga aja gak akan berganti lagi ke model kurikulum sebelumnya, ya. Tetep aja kurikulum yang berpendidikan karakter, kalopun ada kekurangannya diperbaiki.
 
Nah sekarang pertanyaannya.... kurikulum 2013, siapkah kita? Karena seperti dibagian minus poin nomor 2, Chi rasa untuk urusan karakter gak bisa sepenuhnya diserahkan ke sekolah. Orang tua - sekolah - murid harus semakin sering berkomunikasi. Selesai pertemuan itu, Chi malah langsung bilang ke wali kelas Keke, semoga gak keberatan kalau Chi sering-sering tanya tentang sikap Keke di sekolah. Alhamdulillah wali kelas gak keberatan, katanya malah seneng jadi bisa saling membantu pendidikan karakter anak. Nah, sekarang siapkah kita seperti itu? :)

Akhir-akhir ini Chi sering baca status yang di share beberapa teman di FB. Katanya di Australia, Guru SD lebih mengutamakan mengajarkan mengantri daripada matematika. Karena membutuhkan waktu hingga 12 tahun untuk anak bisa mendapat nilai-nilai positif dari mengantri, sedang untuk bisa matematika anak hanya butuh belajar intensif selama 3 bulan saja.


Nah, sekarang model pendidikan kita sedang mengarah ke sana. Tentu aja belum bisa langsung sebagus negara-negara yang udah dulu mengutamakan pendidikan karakter. Itu semua butuh proses yang panjang. Dan tentang segala kekurangan, Chi pikir sambil jalan aja perbaikinnya. Kalopun dianggap belum siap, trus siapnya kapan? Bisa-bisa gak jalan-jalan. Chi gak mau berpikir juga, mungkin karena mau pemilu jadi bikin kurikulum yang bisa memikat hati rakyat? Chi gak mau ribet-ribet kesana. Pokoknya jalanin aja dulu, yang penting udah ada perubahan seperti yang kita inginkan dan bersama-sama kita perbaiki. Semoga memang kurikulum 2013 ini lebih baik. Semangat, ah, buat semuanya :)

Continue Reading
46 comments
Share:

Sunday, September 15, 2013

Kangen

Cuma lagi kangen aja ... Gak tau mau nulis apa :)

K'Aie, Keke, dan Nai. Sebagai tukang foto Chi gak ada :D

Continue Reading
8 comments
Share:

Friday, September 13, 2013

Darah Muda

Walaupun bukan penggemar dangdut, tapi Chi cukup tau lah lagu dangdut Darah Muda - Rhoma Irama itu *bo'ong ding... Chi ketemu liriknya di google :p Dan kebetulan pas dengan apa yang mau Chi tulis. 

2 hari lalu, Chi denger salah satu radio. Topiknya tentang tabrakan maut. Penyiarnya bilang kalo dia pernah liat foto yang di upload temannya di instagram. Foto speedometer yang memperlihatkan temannya sedang mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Kemaren sore, Chi baca salah satu portal berita ternyata foto speedometer trus diupload ke instagram itu lagi jadi trend di kalangan anak muda. Jadi mereka memacu kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi di jalan tol, trus di foto speedometernya, abis itu di upload. Biasanya diupload di Instagram, dengan hashtag #speedometer kita udah bisa nemuin banyak foto seperti itu. Mereka akan merasa semakin keren kalau foto yang mereka upload itu semakin banyak yang nge-like.

Trendnya gak cuma ada di Indonesia, kok. Di berbagai negara juga terjadi trend ini dan para pelakunya anak muda. Trus gak cuma yang ngedarain mobil, pengendara motor juga katanya melakukan. Dan udah ada juga yang jadi korban, di berbagai negara. Kalau udah kayak gini, gak ada hubungannya lagi dengan punay SIM atau enggak. Karena punya SIM sekalipun bukan berarti boleh nyetir seenaknya kayak gitu.

Untuk orang tua yang gak kasih anaknya fasilitas mobil atau motor, menurut Chi gak otomatis bisa bernapas lega juga. Karena kalau Chi perhatiin, anak-anak itu suka saling meminjam. *Hasil dari pengamatan para sepupu yang mulai beranjak remaja :D Nah, kayaknya harus sering-sering diwanti-wanti juga.

Hmmm... darah muda, ya. Bener-bener, deh! Setuju sama lirik di atas. Ya, kalau dipikir-pikir waktu masih muda *berasa udah tua kalo ngomong gini :p, Chi juga pernah melakukan berbagai kekonyolan. Tapi kayaknya masih cukup waras untuk tidak melakukan kekonyolan yang berkaitan sama nyawa sendiri dan juga orang lain.

Kayaknya emang yang namanya anak muda itu harus diarahkan, supaya energinya yang lagi tinggi itu bisa tersalurkan. Yang seneng tawuran, bisa dilatih jadi atlet tinju. Yg seneng kebut-kebutan diarahkan ke sirkuit balap aja. Gimana? :) 

Oiya, sama satu lagi, mengajarkan anak untuk jangan kasi like sembarangan. Contohnya foto speedometer itu. Emang, sih, gak akan berdampak langsung ke anak kita. Tapi karena katanya semakin banyak dapet like, si pelaku semakin merasa gagah. Jadi mending kita gak usah ikut andil, deh. Walopun cuma sekedar sumbang jempol karena yang kayak gitu gak keliatan gagah juga.

A' Keke dan Nai, jangan ngelakuin yang aneh-aneh, ya, Nak. Main mobil-mobilan aja di rumah. Kalau mau ke luar pake sepeda aja. Itu pun jangan jauh-jauh dan jangan ngebut.


Selain gak boleh ngebut, Keke-Naima kalau main sepeda juga harus pake helm. Kalau gak mau, gak boleh sepedaan :D

Continue Reading
30 comments
Share:

Thursday, September 12, 2013

Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga Menurut Anak

Pernah liat debat Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga, mana lebih baik? Dari zaman dinosaurus dulu perdebatan ini udah ada hingga sekarang. Perdebatan yang gak ada ujung pangkal malah berantem kemana-mana. Hadeuuuhh ....

Chi juga sering baca atau dengar curhatan ibu bekerja yang berat hati meninggalkan anak untuk bekerja. Hati rasanya pengen bisa terus nemenin anak, tapi dengan alasan masing-masing menuntut mereka untuk tetap memilih bekerja. Apalagi kalau melihat anaknya udah gak mau ditinggal, biasanya para ibu semakin berat.

Bukan sekedar basa-basi kalau Chi bilang anak-anak sebenernya bisa ngerti, kok. Karena mamah Chi, kan, juga kerja. Berangkat sebelum matahari terbit, sampe ke rumah matahari udah lama tertidur. Maklum, deh, rumah di Bekasi trus kerja di Jakarta, bikin tua di jalan. Otomatis anak-anak bisa banyak ketemu orang tua hanya saat wiken. Tapi kami sebagai anak-anak mengerti, kok :)

Chi sendiri yang sekarang memilih jadi ibu rumah tangga, bersyukur karena punya waktu yang banyak untuk anak-anak. Syukur-syukur juga kualitasnya bagus.

Kalau diperhatiin, semua yang ribut dan yang galau adalah emak-emaknya. Pernah gak terpikir bagaimana menurut anak dari sudut pandangnya? Chi awalnya gak kepikiran tapi akhirnya sempet juga mengalami galau, kayak ibu-ibu yang bekerja. Gara-gara pertanyaan Keke, nih ...

"Kenapa Bunda gak kerja kayak mamah temen-temen Keke? Bunda kerja, dong!"

1-2 kali Chi masih senyam-senyum ditanya kayak gitu. Chi jelasin juga kenapa memilih di rumah aja. Tapi setelah beberapa kali (walaupun gak dilakukan berturut-turut) dia tanya pertanyaan yang sama dan minta Chi untuk kerja, lama-lama Chi galau juga. Jangan-jangan Keke emang beneran gak suka Chi ada di rumah? Jangan-jangan .... Jangan-jangan.... Aaahhhh jadi mikir yang enggak-enggak. Sedih hiks ....

Chi akhirnya nanya balik kenapa Keke selalu minta Chi untuk kerja kantoran. Dan jawabannya, "Enak kalo Bunda kerja. Keke bisa bebas main. Temen-temen Keke suka cerita kalau mereka sampe malem aja masih main, Bun. Kalau Keke kayak gitu, Bunda pasti udah ngomel."

Ohhh ... ternyata itu alasannya. Lagi-lagi tentang bermain. :D Chi sekali lagi jelasin ke Keke kenapa memilih untuk brenti kerja. Tapi kalau memang maunya Keke begitu, Chi bilang sebagai latihan, Keke anggap aja Bundanya lagi kerja. Jadi selama di rumah Keke harus mandiri, kalopun ada kesulitan minta tolongnya sama mamah bukan sama Chi.

Ternyata Keke gak tahan juga. Baru juga beberapa menit, udah manggil "Bundaaaaaa ....". Apalagi kalau mau tidur pasti manggil, "Bundaaaa peluuuukkkkkkk ....!" Kalau udah gitu Chi suka tanyain lagi maunya dia yang pengen Chi kerja. Biasanya dia langsung bilang kalau Chi di rumah aja gak boleh kerja.

Dari permintaan Keke itu, Chi jadi punya hikmah dan kesimpulan, yaitu ...


  1. Sebelumnya Chi selalu berpikir dengan ada di rumah, berarti Chi gak cuma punya waktu yang banyak tapi juga merasa kasih sayang yang Chi berikan ke anak itu berkualitas banget. Padahal mungkin itu hanya sudut pandang Chi aja, sementara dari sudut pandang anak belum tentu. Jadi ternyata orang tua jangan keburu yakin dulu :p
  2. Berkaitan dengan nomor 1, berarti Chi harus introspeksi dan memperbaiki diri. Siapa tau sadar atau enggak ada perlakuan Chi yang bikin anak-anak kurang nyaman, jadi mereka berpikir mendingan bunda kerja aja, deh. Kalau ada Bunda gak enak.
  3. Kadang kita menilai sesuatu itu enak atau enggak karena kita tidak memilikinya atau terbatas, terlepas dari kualitas yang udah orang tua berikan. Misalnya seringkali juga Chi melihat anak yang berharap orang tuanya (terutama ibu) gak bekerja, karena dia ngeliat temen-temennya yang ibunya gak bekerja kayaknya asik banget. Dan dulu Chi juga pernah punya rasa seperti itu, lho. Begitu juga sebaliknya, Keke mungkin merasa temen-temennya yang ibunya kerja itu enak banget karena lebih bebas dari dia.
  4. Biar gimana Keke masih anak, dimana dunia bermain adalah dunianya. Jadi begitu tau ada temennya yang lebih punya banyak waktu bermain, menurut dia pasti asik banget :)

Seperti yang ditulis di nomor 3, yang perlu diingat adalah mereka masih anak-anak dengan pemikiran polos dan spontannya. Bisa jadi mereka mengerti dengan pilihan orang tuanya. Seperti Chi mengerti kenapa Mamah saat itu harus kerja. Tapi ada kalanya ngeliat keadaan temen-temen lain yang berbeda trus kayaknya enak, anak-anak jadi ngiri juga. Kayak Chi yang dulu kadang ngiri liat temen bahkan sahabat yang ibunya gak kerja. Nah, mungkin Keke pun juga begitu, tapi kebalikannya. Kalau dia ngiri ngeliat ibu teman-temannya yang bekerja,
Buat Chi sekarang terus aja berusaha memberikan kualitas yang terbaik semampu kita dan pengertian kenapa sebagai ibu kita memilih bekerja atau enggak. Karena apapun pilihan kita (kantoran atau enggak), insya Allah cepat atau lambat anak akan ngerti, kok :)

Continue Reading
50 comments
Share:

Tuesday, September 10, 2013

Ini Hak Aku! Jadi ...

Waktu lebaran yang lalu, salah seorang yang udah Chi kenal dengan baik bercerita kalau putrinya yang masuk usia remaja (kelas 2 SMP), sekarang kalau dinasehati suka membantah. Tiap kali dinasehati selalu bilang, "Ini hak aku! Jadi terserah aku, dong!"

Chi bilang, "Setiap orang termasuk anak memang punya hak, tapi coba tanya balik ... kewajibannya udah dijalanin belum? Kadang kita suka semangat menuntut hak tapi lupa sama kewajiban."

Sama sekali Chi gak ada maksud untuk menggurui atau sok tau, apalagi Keke-Nai juga belum SMP, jadi Chi belum hapal lika-liku anak SMP #tsaaaahhhh :p. Tapi kalau dipikir-pikir, Chi pun pernah mengalami kejadian yang mirip-mirip melalu protesnya Keke.

"Kenapa, sih, Keke gak boleh main? Kan katanya anak punya hak untuk bermain."

Kadang-kadang Keke suka mengeluh begitu kalau diminta untuk belajar. Biasanya Chi suka bilang, "Kewajiban Keke sendiri gimana? Udah dijalanin belom? Trus tadi siang ngapain?" Kalau udah gitu biasanya Keke suka nyengir ataupun kalau tetep males-malesan setidaknya dia mau belajar dan berhenti bermain.

Chi ngomong gitu karena udah ada kesepakatan bersama kalau pulang sekolah hingga sore itu waktunya bermain. Dan Chi gak akan ganggu atau potong waktunya sekalipun, kecuali untuk hal-hal wajib, sepeti shalat, makan, dan mandi. Sedangkan untuk belajar dilakukan setelah maghrib, itupun paling lama 1 jam aja. Jadi kalau Keke bilang gak boleh bermain itu salah. Karena kenyataannya udah masuk waktunya belajar tapi Keke masih kepengen main.

Trus kenapa Keke bilangnya gak boleh main? Ya, namanya juga usaha :D Apalagi dia masih anak-anak. Trus di salah satu pelajaran (kalo gak salah PKn) ada bab tentang hak dan kewajiban. Nah, di buku itu tertulis salah satu hak anak adalah bermain. Makanya Keke menuntut haknya.

Gak salah juga dengan tuntutan Keke, karena itu artinya dia mengerti tentang hak. Cuma memang harus dibenarkan cara menempatkannya. Selain itu ada juga anak-anak yang belum paham benar tentang apa itu hak. Mereka berpikir pokoknya semua yang mereka lakukan atau mereka inginkan, mau itu baik atau buruk, adalah hak mereka. Padahal gak kayak gitu juga.

Dan yang paling penting juga harus terus diingatkan tentang kewajiban. Jangan sampe Keke atau Nai menjadi anak yang sangat ngotot menuntut hak tapi cuek dengan kewajiban. Padahal yang bener itu harusnya kewajiban dulu dilaksanakan, iya, kan? :)

Continue Reading
36 comments
Share:

Sunday, September 8, 2013

Maunya Apa?

Keke   : "Bun, tahun depan Keke ulang taun yang ke-10, ya? Keke gak mau, ah."
Bunda : "Kenapa emangnya?"
Keke   : "Banyak tempat bermain buat anak-anak yang maksimalnya umur 10 tahun. Berarti tahun depan kalau udah ulang tahun Keke gak boleh main di tempat anak lagi."

"Ooohh, ternyata Keke masih pengen dianggap anak-anak," pikir Chi saat itu.

Keke    : "Tapi Keke pengen langsung ulang tahun yang ke-12 aja."
Bunda  : "Kok, gitu?"
Keke    : "Karena Keke mau main perosotan yang di Fx. Kan, minimal umurnya 12 tahun."

Jadi, Keke maunya apa? Gak pengen lepas masa anak-anak atau justru pengen cepet gede? :p Yang jelas persamaannya adalah berapapun umurnya, dia masih pengen bermain. Ya, namanya juga pemikiran anak-anak :D

Continue Reading
26 comments
Share:

Friday, September 6, 2013

Gendongan Bayi

Ada satu hal yang Chi gak pernah bisa lakukan ketika mengasuh Keke dan Nai, yaitu menggendong mereka dengan gendongan bayi! Mau itu gendongan bayi ala tradisional dengan menggunakan kain panjang, atau gendongan bayi modern dengan segala macam modelnya.

Chi sendiri juga gak tau, kenapa gak pernah nyaman menggendong mereka menggunakan gendongan bayi. Padahal kan katanya gendongan bayi itu membantu kita supaya gak terlalu pegel kalau lagi gendong.

Udah gitu tiap kali Chi gendong mereka dengan menggunakan gendongan bayi, pasti rewel banget. Mungkin karena katanya, kan, perasaan ibu itu bisa mempengaruhi emosi anak. Jadi karena Chi gak pernah merasa nyaman kalau menggendong mereka dengan gendongan bayi, mereka pun jadi ikutan gak nyaman saat digendong.

Mereka baru bisa nyaman kalau Chi gendong mereka dengan tangan aja tanpa menggunakan alat bantu apapun. Kalau jalan-jalan suka bawa stroller. Jadi kalau Chi udah rada pegel, taro mereka di stroller. Tapi gak lama juga, karena mereka maunya digendong. Paling kalau udah gitu gantian sama K'Aie.

Kalo di rumah K'Aie kadang gendong Keke atau Nai pake gendongan bayi yang tradisional itu. Kalau gitu berarti problemnya di Chi, ya. Bukan digendongan bayinya, karena buktinya anak-anak kalau digendong ayahnya pakai gendongan bayi anteng aja :D

Continue Reading
40 comments
Share:

Tuesday, September 3, 2013

Jangan Kayak Gitu, Ya, Nak!

Beli sepatu sekolah menjelang tahun ajaran dimulai memang masih menjadikegiatan tahunan kami. Bukan karena tahun ajarannya, tapi memang sepatu mereka yang mulai sempit. Penyebabnya karena kami kalau beli sepatu memang selalu cari size yang pas dengan kaki. Kami gak suka beliin sepatu anak dengan 1 nomor lebih besar apalagi lebih supaya kepakenya lebih lama. Buat kami pake sepatu kebesaran sama gak nikmatnya kayak pake sepatu kekecilan. Tapi karena selalu beli dengan nomor yang pas, jadinya tiap tahun masih harus beli sepatu.

Cari sepatu itu gak gampang. Seringkali kami harus beberapa kali datang ke mall baru nemuin sepatu yang sreg. Beberapa hari sebelum bulan Ramadan, Chi sekeluarga pergi ke Pondok Indah Mall (PIM) untuk cari sepatu sekolah buat Keke-Nai. Lagi duduk-duduk di area sepatu, datenglah seorang bapak sambil menggendong anak laki-laki. Perkiraan Chi, anaknya ini berumur 2-3 tahun. Disamping bapak tersebut ada seorang bapak lagi yang terlihat lebih tua, mungkin itu kakeknya.

Bapak yang lebih tua itu lalu mengambil sepasang sepatu anak. Lalu sepatu tersebut dipakai ke kaki anak laki-laki yang sedang digendong itu. Ternyata anak tersebut langsung menangis keras sambil menghentak-hentakkan kaki karena gak mau dipakaikan sepatu.

Bapak Tua : "Oh, gak suka, ya, sama sepatunya. Ya, udah di taro lagi, ya ..."

Ketika sepatu tersebut ditaro, anak kecil itu bukannya berhenti menangis justru tangisannya semakin keras sambil menunjuk-nunjuk ke arah sepatu yang barusan di taro.

Bapak Tua : "Loh, kok malah tambah kenceng nangisnya? Jadi mau sepatu ini? Ya, udah diambilkan lagi."

Sang kakek mangambil sepatu itu lagi, tapi pas mau dipakai ke kaki anak itu malah menolak. Akhirnya sang kakek memberikan sepatu itu ke tangan cucunya. Tiba-tiba ...

Plak!

Mendaratlah sepasang sepatu mungil itu ke badan Chi ... Sakit, sih, enggak karena sepatu anak-anak. Cuma kaget aja.

Sang kakek mengambil sepatu itu dan mengembalikan ke tempatnya. Setelah melempar sepatu, mendadak tangisan si anak berhenti. Dan bapak yang dari tadi menggendong anak tersebut berkata, "Oh dia kalau lagi marah emang gitu, Pak. Barang yang bikin dia kesel harus dilempar dulu baru brenti nangisnya ..." Mereka pun berlalu, tanpa mengucapkan maaf sedikitpun ke Chi. Hmmmm ....

Jujur aja, saat itu emang Chi ada sedikit rasa kesal. Dan sempet heran juga pas denger ucapan bapak yang menggendong anaknya itu. Seolah-olah melempar benda untuk melampiaskan rasa marah itu sesuatu yang dibenarkan. Tapi biarin aja, lah, jadi problem mereka. Mungkin Chi sedikit kesal karena Nai ada di sebelah Chi saat itu. Dan itu bukan pemandangan yang bagus buat dia.

Chi akhirnya bilang ke Nai, "Jangan kayak gitu, ya, Nak! Gak boleh melempar barang-barang kalau lagi kesal. Apalagi kalau sampe kena orang lain, Ima wajib meminta maaf." Nai pun mengangguk.

Tentu aja Chi bilang gitunya setelah mereka menjauh, hilang dari pandangan. Karena biar gimana, Chi coba menjaga etika aja. Gak enak kalau mereka sampai mendengar, walaupun mungkin kita berada di posisi yang benar sekalipun. Lagian walaupun Keke-Nai gak pernah ngamuk seperti itu di mall, tapi kayaknya mengurusi anak yang lagi ngamuk itu udah kesulitan sendiri buat orang tua. Apalagi kalau terjadinya di depan umum. Jadi Chi rasa gak perlu kita menambah-nambahi beban mereka :)

Continue Reading
56 comments
Share: