Wednesday, October 25, 2017

Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!

Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!

Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!

Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!



Nai: “Bun, hari Jumat jadi berenang, kan?”
Bunda: “Lihat kondisi ya, Dek.”
Nai: “Tapi ,kan Bunda udah janji!”
Bunda: “Iya tau, kok. Tapi, kepala Bunda lagi sakit. Badan juga kayaknya kurang fit. Mungkin karena Bunda kurang istirahat. Cape banget Bunda.”
Nai: “Yaaaa Gak jadi, deh.”

Chi tau kalau gak jadi Nai pasti kecewa. Apalagi Chi memang udah janji bakal ajak dia berenang rutin seminggu sekali. Tapi, baru mau mulai, udah ada aja halangannya.

Minggu ini…

Nai: “Bunda, besok Ima libur.”
Bunda: “Iya Bunda udah tau.”
Nai: “Kok, Bunda tau?”
Bunda: “Ibu-ibu di group WA udah kasih tau tadi pagi.”
Nai: “Kalau gitu berenang, yuk! Kan, besok libur.”
Bunda: “Hmmm… gimana, ya?”
Nai: “Ya udah kalau gak besok, hari Jumat aja berenangnya abis ambil raport.Besok ke salon.”
Bunda: “Lha?”
Nai: “Yak an rambut Ima udah panjang, Gerah nih, Bun.”
Bunda: “Satu per satu, lah. Berenangnya besok aja.”
Nai: “Kenapa besok?”
Bunda: “Males banget abis ambil rapot langsung berenang.”

Biasanya kalau jemput Nai, Chi suka pakai pakaian rumah aja. Hampir gak pernah dandan juga. Kan nunggu di mobil aja. Jarang keluar dan nunggu di kantin sekolah. Tapi kalau mau ambil raport, pertemuan orang tua murid, atau apapun yang memang harus berhubungan ma sekolah, rada beda lah penampilannya dan sedikit dandan juga. Jadi malesin banget kan kalau abis itu langsung berenang.

Obrolan pun dilanjut…

Bunda: “Mau berenang apa main air, Nai.”
Nai: “Berenang.”
Bunda: “Yakin?”
Nai: “Iya. Memang kenapa, Bun.”
Bunda: “Ya males aja Bunda kalau gak berenang.”
Nai: “Ya tapi gak apa-apa, dong kalau Ima mau main air aja?”

[Silakan baca: Sirkus Waterplay - Bermaisn Air Saat Hujan Pun Tetap Asyik!]

Chi gak jawab. Hanya melirik penuh arti. Nai pun tertawa kecil karena dia tau artinya.

Beberapa waktu lalu, Chi pernah mengajak Nai untuk rutin berenang lagi seminggu sekali. Pertimbangan utamanya karena Nai mau ujian akhir. Dan salah satu ujian praktek untuk pelajaran olahraga adalah berenang.

Di sekolah Nai gak ada kegiatan berenang. Makanya harus belajar sendiri. Keke dan Nai pernah kursus berenang seminggu sekali. Tetapi udah lama berhenti karena mereka sempat bosan. Setelah itu, mereka udah gak rutin berenang lagi. Hanya sesekali aja kalau lagi ingin.

[Silakan baca: Berenang di Kolam Cendol]

Makanya Chi mau rutin berenang lagi. Supaya Nai juga latihan berenang lagi meskipun gak ikut kursus. Kali ini latihan berenang sama bundanya aja.

Dulu mereka kursus berenang di kolam renang dekat rumah. Kolamnya bersih, nyaman, dan makanan di restonya enak hehehe. Enaknya berenang di hari kerja karena sepi, kecuali menjelang sore hingga malam. Banyak warga komplek di sana berenang dan nge-gym sepulang kerja.

[Silakan baca: Berenang, Yuk!]

Di sana ada kolam renang anak, tetapi seadanya. Makanya Chi suka bilang ke mereka kalau cuma ingin main air mendingan langsung ke waterpark aja. Puas bermain air dan seseruan seharian kalau di waterpark.


Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!


Salah satu waterpark yang seru adalah Waterbom di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK). Lmayan jauh dari rumah, tapi kami puas bermain seharian di sana. Paling senang main wave pool. Kami bolak-balik ke sana. Keke dan Nai juga suka main perahu di sana. Memang harus menyewa, tapi sepadan lah karena anak-anak senang.

[Silakan baca: Snow Bay]

Dari beberapa waterpark yang ada di Jakarta. Chi lupa kenapa saat itu memilih Waterbom PIK. Pastinya saat itu masih suasana hari raya dan kami kesana rame-rame bersama keluarga kakak ipar. Dan yang menyenangkan pas ke sana lagi ada diskon tiket masuk. Iyessss! Lumayan banget lho diskonnya.

Harga tiket masuk Waterbom PIK memang lumayan. Meskipun kalau kata Chi sepadan lah dengan berbagai wahana air yang ada di sana. Tapi kan tetep ya kalau harga tiketnya dikali 4 jumlahnya jadi banyak. Makanya Chi suka cari info tentang voucher diskon promo waterbom PIK.

Tanya ke Nai, ah. Mau gak ya jalan-jalan ke Waterbom PIK lagi. Etapi kayaknya dia gak usah ditanya. Langsung dikasih tau aja udah pasti bakalan senang banget. Waktu itu aja di senang banget. Main waterpark memang gak akan ngebosenin.

[Silakan baca: Waterboom Lippo Cikarang dan Astro Boy]

Monday, October 16, 2017

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan

Chi lupa kenapa ada gambar patah hati di sini 😂


Ketemu foto lama (lagi). Foto tentang kegiatan belajar di rumah. Dan ini adalah tulisan tangan Nai ketika belajar angka dengan bahasa Inggris. Kalau lihat tanggal yang tertulis di white board (5 Januari 2013) berarti usia Nai saat itu kurang lebih 6,5 tahun. Udah di kelas 1 SD.

Setiap tulisan tangan yang dibuat, cukup bisa terbaca apakah dia percaya diri atau tidak dengan jawabannya. Tidak hanya saat belajar angka, ya. Tapi belajar apapun yang mengharuskan menulis.

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Walaupun tulisannya kecil-kecil, tetep dong dikasih emoticon ma dia 😁

Coba teman-teman bandingkan foto yang pertama dan kedua. Foto yang kedua tulisannya lebih kecil, kan? Kalau tulisannya kecil seperti itu, bahkan kadang sangat kecil, itu artinya dia sedang tidak yakin dengan jawabannya. Meskipun ekspresi wajahnya kelihatan santai aja.

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Meskipun masih salah, tetapi kalau dilihat dari ukuran tulisan kelihatan kalau Nai mulai percaya diri dan yakin jawabannya benar
Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Udah gede banget nih rasa percaya dirinya. Terlihat dari ukuran tulisannya hehehe

Nah, coba bandingkan foto yang terakhir ini. Gede banget kan tulisannya? Ini artinya Nai udah kepedean. Pokoknya dia udah sangat yakin jawabannya itu benar 😂

Hmmm ... Sekarang Chi lagi coba mengingat Keke kecil. Seperti apa ya Chi dulu mengevaluasi rasa percaya diri Keke. Pastinya bukan dari tulisan tangan karena Keke gak suka menulis 😄


Proses evaluasi ini tentu gak instan. Awalnya Chi merasa aneh dulu, kok ukuran tulisan Nai bisa beda-beda. Setelah Chi amati sepertinya ini berkaitan dengan rasa percaya dirinya pada saat itu.

Nai ini anaknya terlihat cuek. Kalau teman-teman suka baca bagian celoteh anak atau berteman dengan Chi di FB, mungkin akan terlihat bagaimana polosnya Nai ketika berceloteh. Ceplas-ceplos gitu.

Tapi dibalik sikapnya yang kelihatan easy going, Nai termasuk yang tertutup urusan perasaan. Makanya untuk tau perasaan dia sebenarnya, seringkali Chi harus 'membaca' bahasa tubuhnya. Atau melalui tulisan tangan seperti ini,

Kalau teman-teman bagaimana cara mengevaluasi tulisan tangan anak?

Sunday, October 8, 2017

Rebutan Bumbu Dapur

Rebutan Bumbu Dapur

Sumber foto: Pixabay


Postingan ini adalah kumpulan celoteh Keke dan Nai yang pernah Chi tulis di FB

September 28, 2014



Belajar PPKn

Bunda: "Tujuan Belanda pertama kali datang ke Indonesia untuk ...?"
Nai: "Rebutan bumbu dapur?"
Bunda: "Hahahhaa ...! Bukan, Dek! Tapi untuk mencari rempah-rempah."
Nai: "Rempah-rempah itu bumbu dapur, kan?Trus gara-gara rempah-rempah akhirnya perang. Berarti sama aja artinya rebutan bumbu dapur."

*Langsung pingsan, dikasih tau ngeyel 😂

September 4, 2014



Sunlight

Nai: "Bunda, menurut buku, to grow well plant need sunlight. Apa itu artinya seminggu sekali kita harus nyiram tanaman pakai sabun pencuci piring?"
Bunda: "Bukan itu artinya, Deeekk ...!" 😅

August 30, 2016



Mimpi

Bunda: "Nai ayo belajar."
Nai: "Ima ngantuk, Bun." *Pura-pura menguap*
Bunda: "Ada PR. Ayo kerjain dulu baru tidur."
Nai: "Biarin Ima tidur dulu, Bun. Kali aja nanti mimpi ngerjain PR. Trus bunda tersenyum karena PRnya udah selesai."

August 23, 2016



Odol Habis


Nai: "Bundaaa, odol di kamar mandi habis. Ima gak usah sekolah, ya."
Bunda: "Ada, kok."

*Ambil odol dari kotak penyimpanan

Nai: "Yah, Bunda pakai nyetok segala."

😂

August 12, 2016



Flash Disk


Keke: "Bunda untuk pelajaran komputer katanya wajib bawa flash disk."
Bunda: "Ah, macem-macem aja mintanya. Hari gini, flash disk cari di mana coba!"
Keke: "Ya di toko lah, Bun."
Bunda: "Tapi apa masih ada yang jual flash disk?"
Keke: "......." *melongo yang yang bingung*

Gak lama kemudian ...

Bunda: "Oh, flash disk, ya? Di otak Bunda yang kebayang tuh disket hihihi."
Keke: "Hahahaha! Bunda ... Bunda ... Di sekolah juga komputernya udah gak ada yang pakai disket. Jadul banget."

*Otak Bunda perlu diupgrade kayaknya hehehe.*

Tuesday, October 3, 2017

Membuat Cerita Berangkai

Membuat Cerita Berangkai

Membuat Cerita Berangkai

Membuat Cerita Berangkai



Sedang melihat foto lama dan Chi menemukan foto ini. Dulu Chi sering banget bikin kegiatan membuat cerita berangkai kayak begini terutama sama Nai.

Biasanya kami paling sering bermain di parkiran sekolah. Saat Keke dan Nai waktu pulangnya belum bersamaan. Mau pulang ke rumah dulu nanggung banget. Selisihnya cuma 1 jam. Paling sampe rumah cuma minum doang abis itu jalan lagi. Jadi mendingan nunggu di parkiran karena kalau nunggu di kantin sekolah pasti banyak jajannya 😂

Kalau di parkiran, biasanya Chi tidur dan Nai menggambar. Atau ngobrol sambil main cerita berangkai. Tapi kayaknya paling sering tidur 😜

Cara bermainnya mudah. Salah satu dari kami akan melempar satu kata terlebih dahulu, kemudian secara bergantian kami saling merangkai kata. Contohnya seperti ini

Bunda: "Tita ..."
Nai: "Pergi ..."
Bunda: "Ke ..."
Nai: "Pasar ..."
Bunda: "Untuk ..."
Nai: "Membeli ..."
Bunda: "Baju ..."
Nai: "Tetapi ..."

Pokoknya begitu terus, sambung-menyambung sepanjang mungkin. Gak harus pakai kata baku yang penting jangan kasar. Gak perlu juga harus bikin cerita sesuai realita. Bebaskan aja imajinasinya. Apalagi yang namanya anak-anak imajinasinya lagi liar bebas merdeka seluas-luasnya.

Permainan akan berhenti setelah salah satu dari kami mentok untuk meneruskan atau lama kelamaan ceritanya jadi makin lucu dan kami tertawa bersama. Kalau udah gitu biasanya kami bikin kalimat baru. Kegiatan seperti ini bener-bener killing time, lho. Gak bosen menunggu di parkiran, tau-tau Keke udah keluar kelas.

Kalau foto di atas, itu kegiatan di rumah. Cara bermainnya sama aja seperti merangkai kata saat di parkiran. Hanya saja masing-masing membuat beberapa kata sekaligus dan tetap dilakukan secara bergantian. Untuk aktivitas yang di rumah ini tentunya menunggu anak sudah bisa meuliskan beberapa kata sederhana dulu. Kalau belum bisa menulis, sebaiknya bikin cerita berangkai seperti yang kami lakukan di parkiran aja.

Pengembangan lainnya bisa dilakukan dengan membuat masing-masing 1 paragraf secara bergantian. Salah satunya kayaknya pernah Chi tulis di sini. Tapi udah dicari belum ketemu juga. Nanti deh kalau ketemu Chi share lagi ceritanya.

Kegiatan seperti ini juga termasuk belajar tapi dengan cara yang asik. Anak gak sadar kalau mereka sebetulnya sedang belajar. Mereka merasanya seperti bermain. Chi pun gak harus ngomel karena mereka melakukannya dengan senang hati. Sambil bermain, Chi juga melakukan evaluasi. Minim bahkan zero stress lah kalau belajar kayak gini.

Ketika membuat cerita berangkai, Chi jadi tau seberapa banyak koleksi kosa kata anak-anak dan juga sejauh apa imajinasi mereka. Begitupun ketika dibuat dalam tulisan, secara gak sadar mereka juga sedang belajar menulis. Chi jadi tau udah serapi apa tulisan mereka dan apakah sudah benar tulisannya.

Saat diminta membuat cerita 1 paragraf, Chi juga menilai kalau Nai senang dengan cerita yang 'manis'. Seperti tentang anak yang masuk ke dunia permen, es krim, dan yang serba manis lainnya. Sedangkan Keke dengan dunia gamenya. Serunya mereka bisa menggabungkan 1 tokoh anak dalam cerita tersebut ke dalam 1 cerita.

Kalau sedang bermain seperti ini, sebaiknya jangan terlalu cepat untuk melakukan kritikan atau bersikap menggurui. Contohnya seperti foto di atas. Nai menulis 'stobere' yang sebetulnya maksudnya strawberry. Biarkan aja seperti itu untuk sementara. Mereka merasa sedang bermain, nanti kalau dikritik malah jadi bad mood. Semangat bermainnya menurun.

Ya Chi coba balikin aja ke diri sendiri. Kalau lagi asik bersenang-senang trus ada yang mengkritik pasti mood suka jadi berubah. Bukan berarti gak mau terima kritikan, lho. Tapi tempatkan di waktu yang tepat.

Makanya Chi memilih untuk menunggu sejenak. Kritikan atau perbaikan bisa dilakukan ketika sedang belajar. Atau di waktu lainnya yang memang sudah dirasa tepat.

Ah, jadi kangen masa-masa mereka masih anak-anak 😘