Wednesday, September 30, 2015

Bincang-Bincang Bersama Jang Ipan

"Ipan, ini yang namanya Myra Anastasia," seru Mbak Nuniek ketika kami bertemu di acara Fotile.

Mbak Nuniek lalu bercerita kalau Ipan sempat menyangka dirinya adalah Myra Anastasia. *Berarti kita mirip, ya, Mbak hihihi* Chi terkejut ketika kemudian Ipan dengan santun menyapa lalu cium tangan! Ya, semua blogger yang bertemu dengannya tidak hanya disapa dengan santun dan dipanggil 'Kak' tapi juga dicium tangannya oleh Ipan. *Chi langsung berasa jadi orang tua wkwkkw.* Sebelumnya, Chi pernah tau dari Mbak Ani Berta kalau ada peserta Fun Blogging yang datang jauh dari Garut. Akhirnya, Chi bisa ketemu juga dengan urang Garut ini walopun baru sekali :)

Gak cuma kesantunan dan keramahan yang menjadi ciri khas Ipan Setiawan, bujang garut berusia 23 tahun. Tapi, semangatnya juga sangat tinggi. Kalau teman-teman yang berteman dengannya di social media, mungkin akan melihat kalau Ipan ini cukup sering berada di Jakarta. Dari satu event ke event lainnya. Padahal Ipan masih berdomisili di Garut, lho.

Dia sering sekali bolak-balik Garut-Jakarta demi kegiatan blogging. Nah, Chi jadi penasaran apa, sih, yang bikin Ipan bolak-balik ke Jakarta terus. Padahal jarak Garut-Jakarta itu gak dekat. Udah gitu blognya juga aktif. Bagaimana dia mengatur waktunya dan juga semangatnya supaya gak kendor? Ini bincang-bincang online Chi bersama Ipan Sejak kapan Ipan tertarik ngeblog? Alasannya apa?


Ipan dan komunitas Sahabat Pulau


Assalamualaikum, Kak Myra Anastasia :) Alhamdulillah, pertama kali saya ngeblog itu tahun 2009, SMA kelas X. Alasannya, saya membuat blog karena suka nulis. Saya suka baca koran dan majalah remaja. Di situ ada halaman khusus untuk web/blog yang sedang populer. Nah, saya langsung berkhayal, 'Keren banget, ya, kalau saya punya seperti ini. Semua tulisan bisa diupdate dan dibaca oleh siapa saja'.

Kemudian, saya langsung cerita sama salah satu guru. “Pak kalau mau punya seperti ini gimana, ya, cara buatnya?

“Wah, kalau buat website itu susah dan mahal banget, Pan,” jawabnya singkat. Saat itu saya masih di ruangan sambil melototi halaman majalah yang saya pegang, sedangkan beliau langsung keluar kelas setelah saya tanya. Dari sana saya tidak berani lagi bertanya kepada siapapun disekolah. Saya lebih sering menyendiri, mempelajari secara otodidak dari artikel majalah yang saya gunting, dan dari perpustakaan. Lalu, saya mempraktikannya di warnet (karena saat itu saya tak memiliki gadget apapun).

Alhamdulillah, selama 6 bulan mempelajarinya akhirnya saya punya mini blog. Setelah memiliki blog, saya lebih sering menuliskannya di sana. Tak lagi menulis di buku catatan yang tercampur dengan buku mata pelajaran :D


Ipan dan komunitas Taman Bahagia


Ipan, kan, berdomisili di Garut. Tapi, saya lihat Ipan sering sekali ke Jakarta, bahkan bisa berhari-hari. Saya pernah mendengar, Ipan bahkan sampai menginap di masjid. Benarkah?

Iya betul, Kak. Saya asli dari Garut dan rela PP ke Jakarta jika ada acara. Bahkan jika ada dua acara yang beda hari, saya rela menginap di mushola. Pernah juga tidur di Monas, sampai saya diamankan sama pihak kemanan. Disangkanya saya pengamen liar karena selonjoran dan ketiduran. Kagetnya bukan main, tapi Alhamdulillah, setelah dijelaskan panjang lebar akhirnya bisa istirahat di kantor jaga :D #SakitBangetSaatItu 

Dari setiap perjalanan mengikuti banyak acara, akhirnya saya jadi punya banyak ilmu dan wawasan yang didapat dari kakak-kakak blogger lainnya dengan sharing informasi. Itu sangat menyenangkan. Ilmu yang saya dapatkan tak akan pernah ada di sekolah dan di universitas manapun :)

Apa, sih, yang membuat Ipan terus menerus tertarik untuk kembali ke Jakarta? Bukankah Garut punya berbagai tempat wisata dan budaya? Kenapa gak dieksplore sama Ipan?

Jakarta bagi saya adalah universitas kehidupan yang luar biasa, dimana di dalamnya terdapat banyak ilmu, kenangan, dan cerita yang akhirnya menjadi sebuah momen istimewa. Ya, Garut memang memiliki tempat wisata yang indah dan budaya yang megah. Menjadi PR bagi saya untuk mengemas dan mengeksplore Garut menjadi lebih dahsyat. Tentunya dengan ilmu yang saya dapat di dunia blog.

Masih ada hubungan dengan nomor 3, nih. Kita berbincang tentang materi sedikit *semoga Ipan gak keberatan* Pastinya Garut – Jakarta pp, membutuhkan ongkos. Sedangkan berbagai event yang didatangi belum tentu menghasilkan dari sisi nominal. Berarti ada poin plus kenapa Ipan tetap mau datang keberbagai undangan di Jakarta. Bisa diceritakan alasannya?

Memang betul, Kak. Perjalanan Garut-Jakarta membutuhkan nominal ongkos. Tapi bagi saya ilmu, pengalaman, dan momen dari setiap acara lebih berharga. Tntunya kesempatan yang sama tak akan datang dua kali. Maka dari itu setiap ada kegiatan saya selalu semangat untuk ikut :)

Ipan sering juga datang keberbagai event di Jakarta. Blognya pun rajin diupdate. Bagaimana Ipan membagi waktunya?

Syukur Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan dan kesehatan untuk mengikuti berbagai event di Jakarta. Untuk membagi waktunya, pagi-pagi setelah beres-beres rumah dan sebagainya, saya usahakan untuk corat-coret draft postingan reportase event. Kalau tidak ada reportase yang ditulis, saya selalu nulis ringan saja, Kak.

Nah, aktivitas saya lainnya adalah kalau untuk kegiatan pagi menjelang siang sekitar jam 10.00-14.00 WIB, saya berkecimpung di kegiatan sosial kerelawanan desa dan kecamatan untuk memanfaatkan penggunaan tekhnologi belajar TIK dasar. Lalu sore harinya saya habiskan belajar bersama dengan adik-adik kecil di madrasah. Malam harinya, sebelum istirahat saya biasakan untuk browsing ringan, mencari informasi yang update. Alhamdulillah Barokalloh.

Perjalanan Jakarta-Garut membutuhkan waktu berapa jam? Apa yang Ipan lakukan disepanjang perjalanan?

Nah, ini yang lebih seru lagi. Perjalanan Garut-Jakarta membutuhkan waktu sekitar 5 jam (belum termasuk macet). Yang saya lakukan selama diperjalanan adalah membaca buku, browsing, dan corat-coret ide di catatan kecil. Lalu, saya usahakan membuat draft reportase acara. Jadi setelah sampai di rumah tinggal mengedit dan menambah kalimat yang dibutuhkan.

Bagaimana tanggapan teman-teman Ipan sesama Blogger dengan seringnya Ipan ke Jakarta? Apakah ketika kembali ke Garut, Ipan berbagi pengalaman kepada teman-teman? Ada blogger Garut yang mulai terarik ikut jejak Ipan gak, nih?

Alhamdulillah kalau tanggapan teman-teman sesama blogger ketika saya bolak-balik ke Jakarta. Mereka juga memberikan semangat dan tentunya semakin tertantang untuk ikut. Tentu setelah ikut acara di Jakarta saya selalu membagikan ilmu dan pengalamannya ke teman-teman atau masyarakat di desa/kecamatan. Alhamdulillah dengan seringnya saya ikut acara dan selalu ada ilmu yang didapat, akhirnya saya dapat inspirasi membuat komunitas blogger Garut, Kak, yaitu Blogger Academy. Alhamdulillah, saat ini anggotanya ada 3 SMA/SMK/MA yang tergabung dan masyarakat yang ikut belajar bareng. Barokalloh untuk tempatnya sendiri di support sama PT.Telkom Garut :)


Ipan dan kelompok belajar Al-Hasanah


Saya melihat, kelebihan Ipan adalah keramahan, sopan-santun, dan semangatnya yang tinggi. Ngomong-ngomong tentang semangat, pernah gak sih Ipan merasa lelah? Apalagi perjalanan Jakarta-Garut gak sebentar. Bagaimana Ipan menyemangati diri sendiri untuk tetap semangat? Kasih tipnya, ya. Biar banyak blogger yang tertular semangat Ipan.


Alhamdulillah selama ini saya tidak pernah merasa lelah, Kak. Saya bahagia denga apa yang saya lakukan. Untuk menyemangati diri saya sendiri adalah dengan “Ilmu baru dan masa depan”. Jika ingin berubah, ya, harus bergerak. Dari setiap gerakan itulah yang bisa memompa semangat baru.

Apa harapan besar dari Ipan sebagai blogger? 

Harapan terbesar saya sebagai blogger bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat dan bisa memberikan perubahan positif dengan apa yang saya lakukan, Kak.

Yang terakhir, kita bicara ringan aja, ya. Ipan pertama kali ke Jakarta kapan? Ceritain, dong, pengalaman lucu ketika Ipan berada di Jakarta?

Hahaha! Kalau mengingat momen pertama kali menginjakan kaki ke Jakarta, aduuh maluuu banget,  Kak. Desooo nya keluar :D Pertama kali banget ke Jakarta itu tanggal 21 Maret 2007. Saya masih ingat karena dicatat. Tepatnya, saat saya duduk di bangku kelas VII SMP. Saat itu nekad banget dengan membawa uang Rp70.000,00. Uang receh lagi. Niatnya mencari alamat penerbit yang mau menerbitkan naskah puisi, cerpen, dan novel. Nah saat itu saya tau info penerbit PT. Bumi Intitama Sejahtera yang beralamat di Jalan Tanah Tinggi II No.44 Jakarta. Tau infonya dari Koran.

Alhamdulillah setelah kesasar lima kali dengan bantuan terakhir pak polisi, akhirnya menemukan juga tempatnya itu masuk ke dalam banget. Setelah sampai kesana, dengan polosnya saya membawa naskah puisi dalam buku catatan biasa tanpa diketik dan langsung masuk ke penerbitannya. Alhamdulillah, saat itu pihak redaksinya menyambut dengan baik dan terlihat kaget juga melihat saya. Saya masih ingat, namanya Pak.Budi. Beliau berkata “Yakin dari Garut? Anak sekecil kamu sudah berani ke Jakarta? Terus, orang tuamu tau?”

Dengan santainya saya menjawab, "Iya, Pak. Saya dari Garut, dan orang tua saya tidak tau." Ya, karena saat itu  saya meminta izin kepada orang tua saya untuk ikut camping pramuka. Kalaupun saya minta izin jelas orang tua saya tak akan mengizinkan. Alhamdulillah saya dalam keadaan sehat dan selamat sampai tujuan. Dan momen terindah pertama kali saya ke Jakarta, ya, di ajak main ke Monas bersama redaksi penerbitan itu. Usia 13 tahun lah saya mengenal Jakarta, Kak.

Kalau pengalaman lucunya, setiap kali saya ke Jakarta pasti ada momen lucu yang selalu saya temui. Mulai dari menubruk pedagang gorengan di terminal Kampung Rambutan gara-gara tali sepatu saya keinjak. Yang paling gokil pas pertama tau toilet di Jakarta dan menemukan toilet duduk. Saya bingung cari tempat cebokannya dimana, eh, ternyata diputer dari pinggir. Hahahaha! Pertama kali naik trans Jakarta jujur saya bingung banget. Saya naik dan turun diterminal yang sama (naik di halte rambutan dan turun pun di halte rambutan). Seharian keliling naik trans Jakarta. Pokoknya Jakarta itu istimewa banget.

Tuh, gak salah, kan, kalau Chi memilih mewawancarai Ipan. Ketika membaca semua jawabannya, perasaan Chi campur-aduk banget, deh. Terharu melihat semangatnya. Dari mulai yang seperti 'diremehkan' oleh gurunya. Ipan kecil yang nekad datang ke Jakarta hingga ipan yang sekarang tetap tinggi semangatnya. Juga berbagai cerita lucu dan seru yang dia alami. Apa yang dia alami bukanlah hal yang instant. Keterbatasan tidak menjadi alasan bagi Ipan untuk tidka maju.

Selain ngeblog aktivitas Ipan saat ini adalah relawan di KomTIK dan Sahabat Pulau. Ipan juga freelancer di sebuah perusahaan desain dan case gadget. Teman-teman yang ingin mengenal sosoknya lebih dekat bisa blogwalking ke www.jangipan.com. Ada juga info semua akun social medianya di sana :)


Yuk! Kenal lebih dekat dengan Ipan Setiawan biar kita ketularan semangat dan kesantunannya :)


*Catatan: Seluruh foto bersumber dari blog Ipan, yaitu www.jangipan.com

Continue Reading
44 comments
Share:

Tuesday, September 29, 2015

Dove Volume Nourishment: Real Beauty, Real Women

dilema rambut perempuan indonesia, dove hair nourishment, oxyfusion technology, #bebasdilemarambut

Dove Volume Nourishment: Real Beauty, Real Women



Bunda: "Dek, udah keramas, belum?"
Nai: "Iya nanti, Bun."

Akhir-akhir ini, Nai suka agak susah disuruh keramas. Tentunya bukan alasan karena takut pedih di mata. Tapi, selalu aja alasannya lupa. Giliran disuruh balik lagi ke kamar mandi, bilangnya nanti kesiangan ke sekolah. Kalau sore, suka ditunda-tunda. Ujung-ujungnya batal keramas.

Memang, sih, gak sampe berhari-hari juga dia gak keramas. Tetep masih 2 hari sekali, kok. Cuma harus diingatkan terus. Padahal biasanya dia rajin. Kalau perlu abisin stok shampoo dan sabun buat sekalian main busa hehehe.

Nai: "Bun, ini kenapa Ima sekarang suka males keramas. Kalau abis dikerudung suka kayak berantakan, udah gitu rambut Ima jadi kelihatan tipis."
Bunda: "Rambu Ima emang tipis, kan?"
Nai: "Iya, tapi kalau gak keramas lebih kelihatan tebel gitu, Bun."

Eyaampuuunn ... anak usia 9 tahun udah peduli sama urusan kecantikan rambut hehehehe. Padahal dia setiap hari berkerudung. Etapi jangan salah, ya, yang berkerudung pun juga tetep wajib memelihara rambut. Jangan cuma supaya rambut tetap bernutrisi aja tapi juga kecantikannya harus juga diperhatikan. Jangan berpikir 'Siapa juga yang mau lihat? Kan, dikerudung ini?' Lho, kalau melihat rambut kita sendiri tetap cantik pastinya bakal senang banget, kan?

Tanggal 30 Agustus lalu, Chi hadir di Lippo Kemang Village. Dove Volume Nourisment bekerja sama dengan Blogger Perempuan untuk program The Power of Beauty. Hadir sebagai narasumber adalah Leidya Leksokumoro - Brand Manager Dove Hair PT. Unilever, Tbk - dan Citra Natasya - Pendiri House of Perempuan (HoPE).


dilema rambut perempuan indonesia, dove hair nourishment, oxyfusion technology, #bebasdilemarambut
Ki-ka: Citra Natasya, Leidya Leksokumoro, dan Syifa


Bye-Bye, Rambut Lepek!


Ada istilah "Rambutku Mahkotaku". Trus, kita juga pernah dengar istilah "Bad Hair Day." Menurut Chi itu membuktikan kalau urusan rambut memang sangat penting terutama bagi perempuan. Kriteria rambut idaman bagi perempuan itu banyak. Rambut sehat bernutrisi dan terasa lembut aja gak cukup. Perempuan juga ingin punya rambut yang gak kusam, kering, dan lebih bervolume alias gak lepek.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Unilever Indonesia lewat lembaga riset independen di 4 kota besar (Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Medan) terhadap 501 perempuan berusia 25-40 tahun, bahwa 8 dari 10 perempuan Indonesia mengalami dilema rambut.

Urusan rambut pasti gak jauh dari yang namanya shampoo dan conditioner. Tapi, seringkali perempuan mengalami dilema untuk memilih shampoo. Pakai shampoo yang mengklaim bernutrisi, efeknya rambut tetap lepek. Tapi, pakai shampoo yang bisa mengembangkan volume rambut, nutrisinya kurang. Serba salah ketika memilih produk menjadi dilema rambut permepuan Indonesia.

Untungnya sekarang ada Dove Hair Nourishment dengan fragrance berbeda yang membuat perempuan Indonesia gak lagi dilema ketika memilih shampoo.  Dengan Dove Nourisment, nutrisinya dapat juga bikin rambut gak mudah lepek.


Dove Volume Npurisment merupakan terobosan terbaru dari Dove yang diformulasikan dengan Oxyfusion Technology, yaitu perpaduan antara bahan-bahan oxygenfused dalam molekul kondisioningnya dengan bahan nutrisi yang dibutuhkan rambut. Perpaduan ini membuat rambut tetap lembut ternutrisi dan tampak 95% lebih bervolume. Sehingga perempuan Indonesia dapat bebas dari dilema rambut dan lebih percaya diri dalam beraktivitas serta mengembangkan potensi dirinya - Ledya Leksokumoro -

Rambut memang bisa berefek ke rasa percaya diri. Padahal untuk perempuan apalagi yang beraktivitas padat waktu untuk mengurus rambut itu sangat sedikit. Citra Nastasya termasuk perempuan Indonesia yang memiliki berbagai aktivitas padat, terutama outdoor. Dia bercerita awalnya kesulitan dengan rambutnya yang mudah lepek hingga akhirnya bisa menemukan shampoo yang tepat, yaitu Dove Hair Nourisment.

dilema rambut perempuan indonesia, dove hair nourishment, oxyfusion technology, #bebasdilemarambut

"Aku sudah menghabiskan lebih dari 5 botol shampoo dan conditioner, Dove Volume Nourishment memang terasa tepat karena begitu selesai keramas, rambut langsung terasa bervolume. Setelah diblow atau dikeriting pun rambut menjadi lebih awet karena berkat Dove rambut sudah ada massanya." - Citra Natasya -

Dove mengusung tema "Real Beauty, Real Women" menginginkan perempuan Indonesia memiliki rambut indah bernutrisi tanpa harus bersusah-payah. Umumnya, kondisioner itu berat bagi rambut. Tapi formula oxyfusion technology mampu membuat rambut menjadi terasa lembut tanpa membuat lepek. Wangi shmapoo dan conditioner Dove juga enak banget, wanginya bertahan lama. Aman pula dipakai setiap hari. Bagus juga, nih, buat yang berkerudung. Seringkali ketika usai pakai kerudung, rambut jadi terasa lepek. Coba, deh, pake Dove biar rambutnya bisa #BebasDilemaRambut.

Continue Reading
20 comments
Share:

Monday, September 28, 2015

Seporsi Soto Ayam Hangat Untuk Bekal Sekolah


Seporsi soto ayam hangat untuk bekal sekolah itu mungkin gak, ya?

Nai: "Makanannya udah gak hangat, Bun."

Cukup sering juga Chi diprotes sama anak-anak, terutama sama Nai yang lebih suka makanan hangat. Mereka bahkan beberapa kali menyarankan supaya Chi bolak-balik ke sekolah aja. Untuk makanan istirahat pertama, gak apa-apa mereka bawa dari rumah. Tapi untuk istirahat kedua, mereka minta Chi anter menjelang istirahat kedua. Alasannya supaya tetap hangat.

Dulu Chi pernah melakukan seperti itu. Mengantarkan mereka bekal menjelang makan siang. Tapi, kayaknya sekarang agak merepotkan *sok sibuuukk hahaha*. Chi udah berusaha cari tempat makan yang satu set dengan lunch bag. Lunch bagnya katanya bisa menahan panas. Tapi sepertinya gak bisa menahan panas dalam waktu yang lama. Ketika istirahat pertama aja udah berkurang panasnya. Kemudian menjadi dingin di istirahat kedua.

Membuat bento menjadi salah satu cara yang Chi lakukan supaya makanannya tetap habis. Rupanya kadang gak mempan juga. Kalau udah dingin, beberapa makanan gak dihabiskan. Akhirnya Keke dan Nai sampai bikin list, makanan apa aja yang gak enak dimakan ketika sudah dingin. Termasuk makanan kayak nugget aja, gak semuanya mereka setuju untuk dijadiin bekal. Pokoknya langsung dicoret dari list hehehehe.

Pake lunch bag, udah. Ngebento juga udah. Tapi, masih belum berhasil banget. Chi lalu cobain food container OrganicKidz. Katanya, thermal lunch box ini bisa menahan panas hingga sekitar 6 jam-an. Uji coba pertama gak Chi langsung coba ke makanan. Sekitar pukul 10 malam, Chi coba isi dengan air panas, kemudian tutup rapat. Pukul 5 subuh, Chi buka dan air di dalamnya masih panas walopun sudah gak sepanas ketika dimasukkan. Tapi penurunan suhunya memang sedikit. Ya, ini kayak semacam termos air panas. Termos air panas kan bisa membuat air di dalamnya tetap panas untuk jangka waktu yang lama.

Percobaan kedua, Chi bawain sup kacang merah. Pulang sekolah, Nai gak protes tapi dia bilang supnya kurang hangat. Emang, sih, pas Chi masukin supnya ke dalam food container juga gak terlalu panas. Baru dipercobaan ketiga Chi masukin soto ayam yang masih panas. Dan kata Keke, pas disantap di sekolah, kuah soto ayamnya masih panas. Yesss! Berhasil!


Sebetulnya anti bocor. Udah Chi coba bolak-balik saat ada isi air panas, gak bocor sama sekali. Tapi kuahnya tetep Chi plastikin karena namanya juga anak-anak, siapa tau mereka terburu-buru saat membuka tutupnya. Kalau sampe tumpah ke seragam jadinya kasihan.


Chi puas pake food container OrganicKidz ini. Walopun harus dipakai bergantian. *Baru punya 1 soalnya hehehe.* Paling agak kurang dari size aja, cuma 350 ml. Jadi kalau bawa soto ayam, kuahnya aja yang Chi masukin ke food container. Untuk nasi, ayam, dan sayurnya dimasukin ke tempat makan lain.

OrganicKidz ini product dari Canada. Product utamanya sebetulnya botol susu. Ya, karena Keke dan Nai memang gak ngedot dari dulu. Tapi, pas Chi lihat, mereka juga jual food container. Dan, setelah Chi coba, hasilnya memuaskan. Kalau teman-teman tertarik, bisa coba lihat produknya di http://www.toothsie.com/brand/organickidz/

Akhirnya Chi bisa bawain anak-anak seporsi soto ayam hangat untuk bekal sekolah. Berikutnya apa lagi, ya? Sop buntut kayaknya boleh dicoba, nih :)

Produk Organic Kidz juga bisa dilihat di Fanpage FB - Organic Kidz Indonesia. Atau di akun Instagram -OrganicKidzIndonesia

Continue Reading
34 comments
Share:

Friday, September 25, 2015

Benarkah Gurumu Galak?

Benarkah gurumu galak? Yuk, coba pikirkan lagi. Suatu hari, salah seorang sepupu Chi yang masih SMP cerita *sambil tertawa-tawa* kalau dia dan beberapa temannya dipukul telapak tangannya oleh gurunya. Salah seorang temannya tidak terima. Dan dengan sedikit mengancam mengatakan akan memperkarakan masalah. Menurut sepupu Chi, gurunya langsung meminta maaf kepada murid-muridnya. Dan agak memohon supaya masalah tersebut gak diperpanjang. Dan, menurut cerita sepupu Chi sekarang gurunya jadi gak berani menghukum lagi.

Chi: "Memangnya gurumu keras sekali memukul telapak tangan kamu dan teman-teman?"
Sepupu: "Enggak juga, sih."

Oke, keras atau tidak memang relatif, ya. Tapi kalau Chi mencoba mengambil kesimpulan dari cara sepupu bercerita, sepertinya memang gurunya hanya memukul biasa aja.

Chi: "Emang, gara-garanya kenapa sampe dipukul?"
Sepupu: "Gara-garanya kita pada ngobrol di kelas pas guru lagi ngajarin."
Chi: "Ohh ... trus, kalian langsung dipukul."
Sepupu: "Enggak, sih. Pertamanya ditegur dulu, diminta jangan ngobrol saat jam pelajaran. Tapi, gak ada yang nurut. Jadi aja akhirnya yang ngobrol dipukul telapak tangannya."
Chi: "Kalau gitu menurut mu hukuman apa yang pas untuk siswa yang gak nurut sama guru? Kan, awalnya guru gak langsung mukul. Tapi menegur dulu cuma gak pada nurut, kan?"
Sepupu: "Hehehe ..."

Sepupu Chi hanya tertawa tapi gak kasih solusi, hukuman apa yang pantas kalau siswa gak nurut sama guru. Buat Chi ini menggelitik banget.

Di dunia maya, Chi beberapa kali melihat komik yang membandingkan gaya pendidikan sekarang dan dulu. Kalau dulu, gurulah yang paling di dengar. Anak dihukum guru, jangan coba-coba cerita ke orang tua kalau gak mau dikasih hukuman tambahan. Kalau zaman sekarang justru katanya kebalikan. Guru yang terlihat 'menciut' dihadapan orang tua bahkan murid.

Pernah juga, sih, beberapa kali dijadikan bahasan di berbagai grup. Kalau dulu, sih, dipukul pake penggaris aja, anak bisa diem. Berbeda dengan zaman sekarang. Lalu kemudian ada yang menyimpulkan kalau anak zaman dulu lebih tangguh. Ah, kalau soal ketangguhan Chi berada di tengah, deh. Setiap zaman punya tantangan sendiri. Jadi gak ada generasi yang lebih tangguh dibanding generasi lainnya.

Chi juga bukan orang yang setuju kalau anak harus selalu diberi kekerasan supaya menurut. Chi bahkan akan marah besar kalau kedapatan ada guru yang dengan mudah bermain fisik ke anak-anak. Menampar, menendang, dan hal-hal seperti itu sangat tidak boleh dilakukan. Tapi Chi juga sama gak setujunya ketika ada murid yang entah beneran mengancam atau sekedar menggertak gurunya ketika memberikan hukuman. Tapi murid tersebut juga gak nurut kalau dibilangin baik-baik.

Sepupu Chi merasa biasa aja dengan hukuman tersebut. Menurutnya, gurunya hanya menepuk pelan. Entah dengan temannya. Mungkin bagi temannya itu merupakan hukuman yang menyakitkan. Tapi bisa juga hanya sekadar berpura-pura dengan tujuan untuk membalikkan kesalahan. Supaya tetep bebas melakukan kesalahan yang sama.

Makanya Chi nanya balik ke sepupu tentang hukuman apa yang pantas supaya anak-anak menurut. Sayangnya dia gak bisa jawab, sih. Nah, kalau begini agak kasihan sama gurunya, kan? Beliau punya kewajiban mengajar, tapi kalau ada siswa yang berulah pasti suasana belajar mengajar jadi terganggu. Sedangkan beliau gak leluasa memberikan hukuman yang tepat.

Kalau Chi, sih, gak membabi-buta memberikan pembelaan ke anak-anak. Alhamdulillah belum ketemu guru atau wali kelas yang kasar. Tapi Chi juga sering bilang ke anak-anak, kalau mereka ada salah dan ditegur harus terima. Karena bunda gak akan mau belain yang salah kecuali kalau hukumannya keterlaluan. Atau bunda baru belain kalau ternyata anak-anak gak salah tapi tetap dapat hukuman. Biasanya Chi suka cross check dulu sebelum melakukan protes.

Menurut teman-teman, kira-kira bolehkah seorang guru menghukum anak muridnya kalau ditegur sudah tidak mempan? Tapi kalau sudah diperingatkan si murid gak nurut juga, apa yang harus dilakukan. Mungkin kalau di rumah, ceritanya akan seperti sikap orang tua kepada anak. Ketika orangtua mulai bersikap tegas, dianggapnya tega. Padahal tega demi kebaikan gak apa-apa, ya :)

Continue Reading
14 comments
Share:

Thursday, September 24, 2015

Dulu Tukeran Kertas Surat, Sekarang Tukeran Kartu Nama

kartu nama, praktis print

Waktu Chi kecil *usia SD gitu, lah* hobi banget tukeran kertas surat. Banyak banget, deh, koleksi kertas surat Chi saat itu. Tapi, sekarang pada kemana, ya? Ada yang punya hobi sama gak kayak Chi?

Sekarang hobinya lain lagi. Tetep urusan tukeran juga. Tapi kali ini tukeran kartu nama. Bukan hobi, sih, sebetulnya kalau tukeran kartu nama. Lebih karena alasan networking sama selalu aja ditanyain "Ada kartu nama?" Masa' iya jawabnya gak punya melulu. Padahal kartu nama adalah salah satu jalan menuju dapet doorprize *eh :p*

Abaikan yang tentang doorprize itu karena Chi gak terlalu beruntung untuk urusan doorprize. Tapi kalau alasan networking memang iya. Seringkali kalau bertemu dengan seseorang yang baru, terutama di acara blogger, sering ditanya kartu nama. Ketika registrasi ke suatu acara pun suka ditanyain kartu nama. Gak cuma untuk gaya-gayaan, kok. Tapi dengan bertukar kartu nama siapa tau suatu saat bisa saling bekerja sama. Karena ketika memberi kartu nama, kan, gak ke sembarang orang atau sembarang tempat.

Tapi, bukankah sekarang zaman serba digital? Kenapa gak disimpan saja data-data orang yang kita kenal di laptop atau smartphone. Buat Chi tetep aja kartu nama ada kelebihannya. Kayak lebih berasa personal aja. Ibaratnya kayak kita ngucapin selamat melalui dunia digital vs kartu ucapan. Lebih berasa personal aja kalau pake kartu.

Udah agak lama Chi punya kartu nama. Walopun lupa juga kapan pastinya. Kebetulan stok kartu nama Chi untuk blog ini udah mulai menipis. Harus cetak lagi dan kali ini Chi pilih di Praktis Print. Alasannya karena banyak yang rekomen. Trus, harganya juga lebih murah dibanding percetakan waktu Chi bikin kartu nama dulu.

kartu nama, praktis print 
Murah, kaaan? Harga per box isi 100 lembar.


Kalau teman-teman tertarik, buka aja web www.praktisprint.com trus klik 'kartu nama'. Kita bisa memilih salah satu dari 351 template yang disediakan di sana atau menggunakan desain sendiri. Untuk yang memilih template yang sudah disediakan, masih bisa kita live edit sesuai request.

Chi memilih desain sendiri. Gak pake lama desainnya karena Chi pake template dari kartu nama sebelumnya. *untung masih disimpan* Tinggal upload aja trus ikuti perintah selanjutnya yaitu memilih jenis kertas. Ya, karena Chi pakai desain sendiri jadinya memang perintahnya langsung ke pemilihan kertas. Kalau udah oke, baru dicetak *setelah mentransfer uang tentunya*.


kartu nama, praktis print

Kalau teman-teman memilih template yang disediakan oleh Praktis Print, maka akan diminta mengisi beberapa data yang akan tercetak di kartu nama. Setelah oke, baru diminta memilih kertas. Ada 3 jenis pilihan kertas, yaitu Art Carton 260gr, BW 250gr, dan Linen. Masing-masing punya harga yang berbeda. Kalau kita memilih Art Carton, maka akan ada pilihan tambahan, yaitu Tanpa Laminating, Dov, dan Glossy. Tentunya ada biaya tambahan kalau memilih Dov atau Glossy.


Chi memilih yang Art Carton karena dari dulu selalu cetak kartu nama menggunakan jenis kertas Art Carton. Tapi, kali ini Chi menambah dengan Glossy. Kalau dulu gak pernah ada tambahan apapun. Jadi penasaran aja kayak apa, sih kalau dikasih Glossy. Ternyata hasilnya bagus juga, nih.

Gak sulit bikin kartu nama di Praktis Print. Sesuai dengan namanya, memang praktis. Prosesnya juga cepet. Udah gitu mereka juga fast response. Kalau teman-teman mau bikin kartu nama, coba di Praktis Print aja. Nanti kalau udah punya, mau tukeran kartu nama? *Jangan ajak tukeran kertas surat, ya* :)


 
Ini kartu nama Chi yang udah jadi. Template masih sama 'ma yang lama. Bikin simple aja karena gak suka desain yang terlalu ramai. Disamain juga ma header blog ini yang juga gak pernah berubah selama bertahun-tahun. Oiya, untuk nomor hape sengaja Chi tutup, ya. Soalnya kalau di blog, siapapun bisa baca :)

Continue Reading
4 comments
Share:

Tuesday, September 22, 2015

Jangan Memarahi Anak Di Tempat Ini.

Jangan Memarahi Anak Di Tempat Ini. Yup, ada satu tempat di mana Chi berusaha keras untuk gak memarahi anak-anak yaitu di tempat umum. Bahkan ketika di rumah, sebisa mungkin menegur atau memarahinya di dalam kamar saja.

Sebelum, Chi kasih tau alasannya, pastinya kita pernah dong merasa kesal sama anak ketika lagi di luar rumah. Entah anak yang ngerengek minta ini-itu, pecicilan kesana-kemari, dan lain sebagainya. Pokoknya bikin kita jaid kesel. Rasanya pengen ngomelin mereka saat itu juga. Tapi Chi berusaha menghindari itu.

Anak yang dimarahi di depan umum akan merasa malu. Kalau udah malu, akan timbul emosi. Emosinya bisa dikeluarkan dengan cara menangis, ngamuk, atau bahkan diam. Tapi yang pasti kalau sudah emosi akan sulit menerima penjelasan apapun, walopun mungkin dalam hatinya mengakui kalau dirinya salah.

Jangankan di tempat umum, ketika di rumah pun harus lihat-lihat tempat. Chi, kan, masih tinggal sama orang tua. Beberapa kali Chi perhatiin kalau lagi marahin Keke dan dia menangis, ekspresinya langsung berubah jadi cool kalau kakek atau neneknya lewat. Biasanya dia langsung buru-buru usap air mata atau kadang masuk kamar. Chi yakin dia gak suka ditegur atau dimarahi di depan orang lain walaupun itu di depan kakek atau neneknya. Sama, lah, Chi pun juga begitu. Gak suka kalau ditegur di depan orang lain.

Alhamdulillah, Keke dan Nai sebetulnya termasuk yang jarang berulah kalau di tempat umum. Kalau pun iya, paling biasanya mereka pengen sesuatu misalnya mainan anak tapi Chi melarang karena belum waktunya beli yang baru. Kadang mereka langsung mengerti, tapi kadang juga suka agak merengek.

Kalau udah merengek, biasanya Chi mencolek mereka. Begitu mereka lihat muka bundanya, Chi langsung kasih ekspresi yang mereka mengerti *semacam kode hahaha* Kalau gak ngerti juga, Chi biasanya ajak mereka menyingkir sejenak. Caranya dengan rangkul mereka trus ajak ngobrol. Atau duduk di salah satu tempat sambil pesan minum juga gak apa-apa. Nah, disitu pelan-pelan dikasih tau kenapa sebagai orang tua gak suka mereka begitu. Pernah juga gagal dan mereka tetap dibeliin mainan, tapi ada konsekuensinya. Entah itu gak ada jatah mainan untuk berikutnya atau hal lain.

Ekspresi wajah sama intonasi suara tetap harus dijaga kalau menegur mereka di depan umum. Ya, sebetulnya gak cuma di depan umum aja, sih. Cuma kadang Chi masih suka kebawa emosi kalau lagi gak di tempat umum. Suka buru-buru menumpahkan kekesalan dengan cerewet hehehe. *Maafin Bunda, ya, Nak :)* Tapi biasanya diakhiri dengan diskusi, sih. Kapan-kapan Chi bahas tentang diskusinya.

Ngomong-ngomong tentang menegur di depan umum juga Chi suka jelasin di depan anak. Chi wanti-wanti supaya sebaiknya sangat berhati-hati ketika ingin menegur orang. Apalagi menegurnya di depan umum. Jangan sampe orang tersebut malah tersinggung akhirnya menolak mengakui kebenaran.

Terutama di dunia maya harus lebih berhati-hati lagi. Kalau dulu ada peribahasa "lidah tidak bertulang" untuk menggambarkan betapa mudahnya lisan ini mengeluarkan kata-kata yang bahkan seringkali tanpa berpikir. Zaman sekarang udah mengalami pergeseran. Jari-jari walopun bertulang tapi bisa lebih parah dari lidah dan bisa lebih tajam jadi silet. Parahnya banyak yang merasa santai aja ngomong bebas di dunia maya. Mungkin karena tidak ada kontak mata, sehingga merasa tidak ada yang mengawasi.

Seringkali melihat seseorang mencoba menegur orang lain melalui dunia maya. Yang ditegur bukannya menerima tapi malah marah. Ya, mungkin yang ditegur memang punya salah tapi kalau tegurannya dilakukan di dunia maya itu sama aja dengan mempermalukannya. Kalau udah malu, biasanya akan timbul marah, kan?

Berbicara di dunia maya, termasuk social media memang tidak memerlukan kontak mata. Tapi Chi, sih, selalu membayangkan ketika berbicara di social media ibarat berbicara di depan sebuah ruangan penuh orang yang bahkan kita gak tau berapa banyak orang yang akan memperhatikan kita. Justru karena gak tau, kita harus hati-hati.

Mengungkapkan kekesalan tanpa menyebutkan orang yang dimaksud *mungkin untuk menjaga nama baik* juga gak apa-apa. Tapi tetep harus hati-hati. Salah-salah seseorang yang kita maksud malah gak merasa apa-apa, tapi justru ada orang lain yang berprasangka. Menganggap status yang dimaksud adalah sindiran untuknya.

Chi juga masih sangat belajar. Tapi gak apa-apa juga tetap mengingatkan anak-anak. Kalau bisa ketika mau menegur seseorang untuk kesalahannya jangan di depan umum, deh. Di dunia maya ada berbagai ruang pribadi, kan? Email, inbox, direct message, dan lain sebagainya. Kalau di dunia nyata, kita bisa memilih tempat yang dianggap pribadi untuk berbicara tanpa mengundang orang lain yang gak berkepentingan untuk tau masalahnya :)

Continue Reading
5 comments
Share:

Sunday, September 20, 2015

Dari Lawan Jadi Kawan

"Bunda, Keke gak ikutan, ya. Soalnya Keke sama teman-teman mau bikin acara perpisahan buat X."

Saat itu hari terakhir Keke bersekolah di kelas 5. Chi mau ajak Keke dan Nai untuk bolos aja. Kebetulan Chi dapet undangan main inline skate di dunia inline skate. Boleh ajak anak-anak ke sananya. Lagipula udah hari terakhir sekolah, udah gak ada kegiatan apapun. Tapi, Keke menolak ikut dengan alasan akan membuat pesta kejutan untuk salah seorang temannya yang akan pindah ke Kalimantan.

Yang membuat Chi rada terharu adalah temannya ini pernah beberapa kali bermasalah dengan Keke. Dari kelas 2 hingga kelas 4 selalu ada aja masalahnya. Bahkan Chi dan K'Aie sempat dipanggil oleh wali kelas Keke. Chi pun sempat terpikir untuk meminta Keke gak usah bermain dengannya lagi. Cerita selengkapnya pernah Chi tulis di "Memutuskan Pertemanan"

Prakteknya, memutusan pertemanan itu bukanlah hal mudah. Kitanya masih kesal, anaknya udah akrab lagi. Chi juga jadi sulit untuk memaksakan Keke. Chi cuma mewanti-wanti untuk berhati-hati aja jangan sampai terlibat masalah lagi dengan X. Apalagi Chi sempat ketar-ketir pas kelas 5 Keke sekelas lagi. Hufff!

Alhamdulillah, ternyata selama di kelas 5 Keke gak pernah bermasalah dengan X. Malah sekarang dia akrab banget. Hampir setiap hari ceritanya adalah bermain dengan X. Chi pun tertarik kenapa mereka sekarang malah jadi akrab. Menurut Keke, mereka punya 2 kesamaan yaitu sama-sama suka games dan tukang makan.

"Pokoknya kalau lagi istirahat, genk gendut suka kumpul untuk makan bareng, Bun"

Hahahaha ... Chi ngakak pas dia bilang genk gendut. Dia menyebutkan beberapa nama temannya, termasuk dirinya sendiri. Memang anak-anak yang dia maksud *dan juga Keke* badannya pada besar-besar. Mereka juga punya hobi saya yaitu makan. Jadilah ketika waktunya istirahat mereka berkumpul bersama untuk menikmati makanan yang dibawa dari rumah masing-masing :D

Untung Chi gak memaksakan Keke untuk memutuskan pertemanan. Chi membiarkan Keke untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Chi dan K'Aie hanya mewanti-wanti. Memang sih Chi akui ketika memintanya untuk memutuskan pertemanan menggunakan emosi. Abis kesel kejadiannya sampe berkali-kali. Malah sampe dipanggil wali kelas. Tapi, sebetulnya Chi ada rasa mengerti juga kenapa X begitu. Sepertinya dia anak yang lagi butuh perhatian.

X udah pindah ke Kalimantan. tapi mereka masih saling berkomunikasi. Tentunya lewat dunia maya. Apalagi mereka punya hobi yang sama. Sama-sama suka main games. Sekarang mereka berdua dari lawan jadi kawan :)

Catatan: kejadian ini mungkin banget terjadi untuk kasus-kasus di dalam batas kewajaran. Kalau udah di luar batas, Chi juga rasanya masih sulit menjawab karena belum pernah mengalami. Semoga jangan sampai mengalami. Aamiin

Continue Reading
4 comments
Share:

Wednesday, September 16, 2015

Hi, Mbak!

Hi, Mbak! Beberapa waktu lalu sempat viral status heboh dari seorang perempuan yang pengen bisik-bisik sama suami orang. Oke deh Chi gak akan screenshot status FBnya karena denger-denger itu perempuan jadi merasa terganggu gara-gara dibully sama banyak netizen. Terutama perempuan yang udah bersuami.

Padahal katanya dia nyetatus begitu cuma becanda. Hmmm... Kalau memang bener becanda berarti satu bukti lagi kalau untuk becanda sekalipun harus mikir dulu. Gak bisa seenaknya karena semua ada aturan dan resikonya :) Karena Chi gak akan tampilin screen shotnya, jadi Chi copas aja statusnya, ya.


Ngeliat cowok ganteng banget lagi ngajak main anaknya sambil nyuapin makan, sedangkan istrinya lagi sibuk milih baju. Rasanya pengen gue samperin tuh cowok terus gue bisikin “mas dalam islam poligami itu boleh loh"

Chi gak akan membahas *apalagi debat* tentang apakah dalam islam itu boleh poligami atau enggak. Udah lain ranahnya. Tapi buat Chi sih masih banyak cara menuju surga *ihiiiyyy*. Dah segitu aja, Chi mau bahas dari sisi lain.


Reaksi Pertama ... Begitu Menggoda


Reaksi pertama Chi ketika melihat status kayak gitu adalah gemeeezzz... Walopun belum pernah ngalamin *duh, jangan sampe, deh*, tapi suka sebel ajah lihat kasus-kasus kayak gitu bahkan untuk kisah fiksi sekalipun. Makanya Chi suka menghindari tuh baca novel atau nonton film dimana ada alur cerita pasangannya mendua. Suka pengen langsung nimpuk *Chi memang gampang kebawa perasaan hehehe*

Abis itu bertanya-tanya sendiri, 'kenapa harus ada kata ganteng? emang kalau itu cowok jelek, si mbak gak mau bisik-bisik?' *Eeeaaa ...* *Mbak, kali aja itu cowok jadi ganteng karena istrinya yang pinter bikin suaminya jadi berpenampilan ganteng :D*



Suami Bukan Pembantu (?)


Daripada Chi ngomel ke teman, kekesalan itu Chi tuangin ke tulisan. Lumayaaannn masuk majalah Good Housekeeping Indonesia :D


Yup! Ketika melihat status itu, Chi jadi inget kejadian beberapa tahun lalu. Ceritanya, Chi dan beberapa teman berencana mau ketemuan. Chi lalu bilang kalau mau ketemuan sebaiknya saat wiken karena cuma pas wiken Keke dan Nai bisa dijaga sama ayahnya sementara Chi sejenak me time. Tanpa diduga, Chi ditegur sama salah seorang teman. Katanya, kenapa suami disuruh mengasuh anak? Suami kan bukan pembantu.

Chi sempet kaget lah denger teguran itu, rasanya pengen ngeladenin tapi males juga. Chi lebih milih cerita ke K'Aie. Dan dia gak merasa dijadikan pembantu, tuh. Menurutnya menjaga dan mengasuh anak adalah kewajiban bersama. Jadi kalau wiken Chi mau ada acara sejenak, silakan aja. Kan, sehari-hari juga Keke dan Nai udah sama Chi. Alhamdulillah, Chi punya suami kayak K'Aie.

Beberapa waktu lalu, Chi datang ke acara salah satu brand dan membahas tentang parenting. Topiknya adalah peran ayah untuk hal pola asuh. Intinya sih, anak memang membutuhkan pola asuh yang seimbang. Jadi sebaiknya gak ada pembagian, anak urusan ibu dan ayah cuma mencari nafkah. [Untuk artikel lengkapnya bisa baca di "Untuk Ayah yang Luar Biasa - Manfaat Kedekatan Ayah dan Anak"]

Nah kembali lagi ke si Mbak, saran Chi sih sebelum pengen bisik-bisik ke suami orang mending belajar ilmu parenting dulu, deh. Gak apa-apa kok masih single juga belajar parenting. Dan, asal Mbak tau, ya, punya suami yang mau ikut terjun langsung dalam pola asuh tuh nikmatnya luar biasa banget, lho. Udah gitu tingkat kegantengannya itu bisa naik berkali-kali lipat kalau mau ikut ngurusin anak. Beneran, deh. Si Mbak aja jadi melihat kalau itu cowok ganteng, kan? Apalagi istrinya, Mbak. Bisa jadi akan melihat suaminya makin ganteng karena mau ikut ngurus anak :D



Gak Apa-Apa kan Ayah Kuncir Rambut Anaknya atau Kasih Aksesoris Rambut Lainnya?



Chi tuh sebetulnya lebih banyak malesnya bereaksi untuk sesuatu yang lagi viral. Karena sebetulnya butuh cek ricek dulu. Banyak kejadian berita hoax tapi sangat tersebar karena kitanya yang terlalu terburu-buru share. Nah, terlepas dari apakah status si mbak itu cuma becandaan, seriusan, atau hoax sekalipun, tapi memang tipe-tipe yang begitu ada, kan?

Pagi ini Chi jadi kepengen menulis tentang ini karena melihat foto lama waktu kami main di Kampoeng Maen. Kira-kira gimana ya kalau ada perempuan kayak si Mbak itu yang melihat seorang suami lagi kuncirin rambut anaknya sementara istrinya malah asik foto-foto? Pengen bisik-bisik juga? Kalau gitu sini Chi tabok dulu pake ulekan *sadiiiizzz hahaha*

Cerita sebenarnya di foto itu adalah Nai dan Keke pengen main flying fox. Karena petugas yang pasang harness cuma 1 orang, otomatis bikin antrean jadi lama, dong. Pasang harness itu gak bisa sembarangan karena berhubungan dengan keselamatan. Nah, K'Aie kan mengerti gimana cara pasang harness, jadi dia ikut bantuin. Setidaknya sampe Keke dan Nai bermain flying fox. Karena rambut Nai saat itu panjang, K'Aie pun kuncir rambutnya sekalian. Demi kenyamanan Nai juga. Sekalian aja K'Aie yang melakukan setelah Nai selesai dipakein harness.

Hubungannya dengan status si Mbak itu kan mengingatkan kita kalau kita kadang suka melihat dari sisi diri sendiri. Si Mbak itu hanya karena melihat suami ganteng lagi nyuapin anak, langsung mikirnya aneh-aneh. Padahal bisa aja di balik itu si istri pontang-panting mandiin anaknya. Atau bahkan kalau mau diurut lagi ke belakang, bisa aja anaknya bangun dengan mood yang rewel, malamnya si istri kurang tidur karena menyusui, dan lain sebagainya. Jadi mungkin bagi si suami apa salahnya kalau istrinya sedikit menikmati me time dengan mencari baju sedangkan suaminya nyuapin.

Banyak orang yang bilang *Chi juga termasuk yang bilang* kalau ibu itu bisa jadi 'tempat sampahnya' anak-anak untuk urusan makanan. Chi juga merasakan itu. Tapi kalau wiken, justru K'Aie yang jadi 'tempat sampahnya'. Kalau kami pergi ke resto biasanya yang milih makanan duluan itu Chi dan anak-anak. K'Aie nunggu sisa dari anak-anak. Bukannya irit tapi memang sayang kalau sampe gak dihabiskan. Kalau kemudian ada tanda-tanda anak-anak bakal habis makannya, baru K'Aie pesan untuknya. Chi sering menawarkan K'Aie untuk makan duluan, tapi memang K'Aie yang maunya begitu. Kalau lagi gak jalan-jalan pun begitu, saat wiken justru yang jadi 'tempat sampah' anak-anak untuk urusan makanan adalah ayahnya.

Ketika jalan-jalan pun, K'Aie yang lebih sering sama anak-anak. Apalagi ketika mereka masih kecil. K'Aie yang gendong mereka, Chi yang bawa barang atau tas. Kecuali kalau barangnya berat banget, ya. Baru K'Aie yang bawain. Tapi ya gak apa-apa karena kalau bukan wiken kapan lagi K'Aie merasakan kebersamaan ma anak-anak? Memang sih, ketika anak-anak masih kecil, K'Aie yang selalu nyuapin sarapan dan memandikan mereka setiap hari. Tapi kan tetep aja sepanjang hari anak-anak sama Chi. K'Aie maksimalnya di wiken.

Ketika kemudian ada postingan di internet kalau status tersebut bikin para istri tertampar dan jangan salahkan kalau suami sampai poligami, Chi justru gak merasa tertampar, tuh. Lho, emang seharusnya suami-istri saling bekerja sama untuk urusan pola asuh. Jadiii ... kalau di luar sana masih ada perempuan single yang berpikiran seperti si Mbak itu mendingan dihapus deh pikirannya. Mau itu becanda atau enggak, bisa bikin para istri bertanduk dan garang, lho *Jangan main-main sama istri yang lagi ngamuk hahaha*

Kabarnyaaa ... hari ini serial Mom's Time Out season 2 bakal tayang. Yipppiiieee! Ya, sebetulnya karena Mom's Time Out juga sih Chi jadi pengen nulis begini. Karena dijamin kalau ada perempuan yang model si Mbak nonton tayangan itu bakalan makin gelisah pengen bisik-bisik gak jelas. Itu para suami rempong ngurusin anak selama seminggu dan para istri menikmati me time dengan liburan mewah ke negara lain. Wuidiiihh *panaaasss panaaasss :p

Continue Reading
10 comments
Share:

Monday, September 14, 2015

Bila Anak Kecanduan Game, Cari Solusi Hingga Ke Akarnya

Bila anak kecanduan game, cari solusi hingga ke akarnya. Haruskah melarang anak bermain game ketika sudah mulai kecanduan? Jawabannya ternyata tidak.

Beberapa hari lalu, Chi nonton salah satu episode serial parenting - Jo Frost. Serial favorit Chi dan beberapa kali Chi menceritakan di blog ini setiap kali ada episode yang menarik. Episode yang beberapa hari lalu Chi tonton sebetulnya udah pernah tayang ulang beberapa kali. Tapi rasanya tetap menarik untuk ditonton dan masih cocok dengan persoalan pola asuh zaman sekarang, yaitu anak yang kecaduan game.

Episode kali itu ada seorang anak bernama Bailey, usia sekitar 10-11 tahun, setiap hari kerjanya main game selama berjam-jam. Pulang sekolah langsung main game. Makan sambil main game, itupun makanan dan minunamnnya harus disediakan oleh ibunya. Pelajaran sekolahnya jelas terganggu karena yang ada di pikirannya hanyalah game. Tidur malam selalu mengigau tentang game yang sedang dia mainkan. Pokoknya hidupnya hanya seolah-olah untuk bermain game. Ibunya sudah merasa putus asa dengan anaknya lalu meminta pertolongan Jo.

Yang pertama kali dilakukan Jo adalah mengajak Bailey ngobrol. Bertanya seberapa banyak dia bermain game setiap hari. Cara Jo bertanya ke Bailey tidak dengan cara menginterogasi tapi berbicara seperti layaknya teman. Bailey sampai tertawa-tawa ketika diajak ngobrol.

Kemudian Bailey diajak bikin jadwal sendiri tapi peraturannya sehari hanya boleh 1 jam saja bermain seusai pulang sekolah game. Terserah jam berapa yang penting cuma 1 jam. Sisanya terserah Bailey mau berkegiatan apapun. Karena merasa dilibatkan, Bailey jadi semangat walopun dia belum tau sisa waktunya akan dipake untuk kegiatan apa.

Berhasil dengan cara ini? Ternyata belum. Bailey baru sebatas semangat ketika diajak terlibat untuk mengatur jadwalnya sendiri. Tapi dia belum menyadari kalau selama ini kan dia tidak terbiasa memanfaatkan waktunya untik kegiatan lain. Jadi ketika sisa waktu 1 jam bermain gamenya habis, dia langsung merasa jenuh luar biasa kemudian ngambek.

Kejenuhan itu satu masalah awal. Pertanyaan selanjutnya, kenapa Bailey bisa jenuh? Karena dia gak terbiasa memanfaatkan waktu luangnya selain bermain game. Dia lalu curhat kalau ibunya gak pernah mengajak dia bermain karena terlalu sibuk mengurus adik-adiknya. Setiap kali Bailey ajak ibunya bermain, ibunya selalu menyuruh Bailey bermain game. Secara gak sadar, game dijadikan baby sitter Bailey oleh ibunya. Akibatnya lama-kelamaan Bailey pun kecanduan.

Menurut Jo berarti ibu Bailey harus mulai mempunyai waktu supaya bisa mengajak anaknya bermain. Tapi ternyata gak mudah. Salah satu adik Bailey selalu rewel setiap malam ketika tidur. Padahal maunya tuh kalau anak-anak bisa tidur tanpa rewel, ibunya bisa mengisi waktu dengan beberes rumah dan sedikit menikmati me time. Tapi karena selalu rewel, ibunya jadi kurang istirahat. Akibatnya kalau siang hari, ibunya sudah tidak lagi punya tenaga untuk mengajak anak-anaknya bermain.

Kemudian Jo Frost memberi saran tentang bagaimana membuat anak bisa tidur nyenyak setiap malam tanpa harus terus-menerus ditemani. Awalnya memang gak mudah. Butuh kesabaran, disiplin, serta konsisten ketika melakukannya. Tapi setelah berhasil lama-lama permasalahan lainnya mulai selesai.

Ketika adik Bailey sudah mulai bisa tidur nyenyak setiap malam, ibunya jadi bisa mempunyai waktu beristirahat yang berkualitas. Karena malam hari istirahatnya berkualitas, pagi hingga sore hari ibunya bisa mempunyai energi yang lebih.

Energi yang lebih itu salah satunya dimanfaatkan untuk bermain bersama anak. Mengajak mereka jalan-jalan sore, olahraga bareng walopun sekadar bermain trampoline, melakukan art & craft bersama, atau cuma ngobrol seru. Ternyata Bailey suka dengan semua kegiatan tersebut. Diapun gak masalah kalau jam bermain gamenya sudah sangat berkurang karena dia memiliki kegiatan pengganti yang menyenangkan.



Bagaimana dengan Keke dan Nai?


Keke dan Nai juga penggemar game. Chi pernah menuliskan manfaat bermain game yang memang dirasakan oleh Keke dan Nai. Chi dan K'Aie juga sadar kalau game juga berpotensi membuat kecanduan. Nah, ngomong-ngomong tentang kecanduan, Chi seringkali berpikir apa sih yang menyebabkan seseorang bisa kecanduan game? Chi pun berkesimpulan karena game itu mengasyikkan. Segala yang mengasyikkan memang bisa menimbulkan kecanduan kalau tidak bisa mengontrol. Tapi buat anak seumuran Keke dan Nai sepertinya masih sulit kalau cuma sekadar mengontrol begitu saja dengan alasan kesadaran kalau terlalu banyak bermain game itu gak baik. Untuk anak seumuran mereka harus dicari kegiatan pengganti yang sama atau kalau bisa lebih menyenangkan daripada bermain game.

Nai kebetulan saat ini selain suka menggambar, dia sedang suka memasak. Jadi kami berikan dia berbagai kebutuhan memasak serta kepercayaan untuk bereksplorasi dengan berbagai menu di dapur. Baginya itu kegiatan yang sangat menyenangkan. Keke masih punya teman seumuran di komplek. Kadang-kadang mereka bermain sepeda atau bola di luar. Kalaupun lagi gak berkegiatan fisik, Chi biarkan aja kalau Keke lagi bermain game. Karena waktu bermain game memang gak pernah lama setiap harinya. Tetap ada batasan waktu yang harus mereka penuhi. Apalagi sejak Keke mulai bersepeda ke sekolah, pulangnya jadi agak lebih sore karena dia lebih memilih bermain sepeda atau futsal dulu di sekolah. Otomatis makin sedikit lah waktu dia untuk bermain game.

Keke dan Nai pun pernah merasa bosan. Main game dilarang, mau kegiatan lain gak tau mau apa atau lagi gak kepengen. Kalau udah begitu, saatnya Chi mencoba mencari kegiatan yanga sik buat mereka. Kalau gagal, coba cari lagi kegiatan lain. Libatkan juga anak-anak untuk mencari kegiatan. Karena kalau gak dicari kegiatan pengganti, biasanya Keke dan Nai akan tidur siang. Tidur siang bisa jadi masalah baru. Karena alau sampe Keke dan Nai tidur siang, maka malamnya akan tidur sangat larut. Walopun tidur siangnya gak sampe 1 jam. Kalau tidur malamnya udah sangat larut, besoknya susah bangun pagi, ke sekolah jadi uring-uringan. Nah jadi panjang kan masalahnya hanya karena mereka gak berkegiatan di siang hari? :)

Ya, anak-anak memang masih butuh dibimbing untuk mengisi waktu luang. Belum bisa dibiarkan berpikir 'silakan cari sendiri kegiatan waktu luang, mu'. Apalagi kalau yang udah kebiasaan dengan kegiatan itu-itu aja. Begitu dihentikan tentunya si anak akan bingung harus berkegiatan apa. Padahal mereka butuh berkegiatan.

Bukan berarti melarang total anak-anak bermain game gak boleh dijadikan solusi, lho. Chi pernah datang ke satu acara parenting, solusinya kurang lebih sama dengan tayangan Jo Frost. Cari dulu akar permasalahannya lalu selesaikan. Berikan juga mereka kegiatan pengganti yang menyenangkan. Tapi kalau ternyata anak memang sudah sangat kecanduan game, mungkin sudah saatnya untuk dihentikan total kalau perlu konsultasi ke psikolog anak.

Continue Reading
10 comments
Share:

Friday, September 11, 2015

Ketika Bunda Berniat Diet

Ketika bunda berniat diet, maka salah satu cobaan terberat adalah anak-anak dan suami hehehe. Iya, jadi Chi ceritanya lagi berniat mau diet karena berat badan sekarang ini cukup tinggi naiknya. Hampir 60 kg! Padahal biasanya juga setinggi-tingginya itu 55 kg.

Yang bikin Chi niat pengen diet itu karena celana jeans udah pada gak muat. Sempet pinjem celana jeans K'Aie untuk beberapa waktu. K'Aie sih nyaranin supaya Chi beli celana lagi aja. Tapi males banget, ah. Ntar beli trus ngegemukin lagi, masa beli lagi. Emang harus diet berarti solusinya.

Kali ini Chi gak diet pake metode apapun. Cuma berusaha berhenti makan malam aja. Karena Chi merasa mulai tambah gemuk itu rutin makan malam di atas pukul 9 malam. Itupun Chi cuma niat selama weekdays aja. Kalau week end tetep makan malam karena makan malam itu sesungguhnya menyenangkan hahaha.

Tapi niatan Chi untuk gak makan malam itu gak lancar. Ada ajaaa... godaannya. Duh! Di bawah ini beberapa godaan untuk terus makan malam.



Digodain Suami dan Anak-Anak


Seringkali Chi makan malam itu kan di atas pukul 11 malam. Nungguin K'Aie pulang bawa makanan trus kita menggemuk bersama hehehehe. Nah, karena lagi pengen berhenti makan malam, Chi minta sama K'Aie untuk gak makan di depan Chi kalau bawa makanan dari luar.

K'Aie: "Yang pengen gak makan malam siapa. Kok semuanya harus ikut berkorban hehehe."

Duh! Sebuah dukungan yang cakep dari suami wkwkwkwk. Anak-anak juga samanya. Mereka juga termasuk yang rajin menggoda kalau saatnya makan malam *kuaaaattt... harus kuaaaatttt*.

Pernah ya suatu malam Chi gak tahan banget. Cheating, lah makan malam. Eeehh... ketahuan sama Keke. Habislah diledekin sampe besok pagi berlanjut karena Keke cerita ke Nai *garuk-garuk tembok* Jadiii itu juga alasan Chi tetap makan malam saat wiken. Belum bisa tahan sama godaannya. Apalagi kalau wiken kadang cari makan di luar. Masa' yang lain makan, trus Chi enggak? :p



Kurus = Tua (?)


Nai: "Bunda, ini Bunda waktu nikah?"
Bunda: "Iya."
Nai: "Masa' sih?"

Nai lalu berkali-kali lihat wajah Chi trus lihat foto pernikahan, lihat wajah lagi, lihat foto, begitu terus.

Bunda: "Kenapa sih, Dek?"
Nai: "Bunda kayak kelihatan tua pas lagi nikah."
Bunda: "Efek make up kali, Dek."
Nai: "Iiihhh, bukan itu, Bun. Tapi karena Bunda kurus banget. Jadi kelihatan lebih tua."
Bunda: "Yah Dek, jangan gitu, dong."
Nai: "Emang kenapa, Bun?"
Bunda: "Justru Bunda lagi pengen ngurusin badan, nih."
Nai: "Jangan Bun, jangaaaannn... Segini aja, gak usah kurus."
Bunda: "Biar adek bisa ngeledekin perut Bunda terus, ya? Hehehe..."
Nai: "Enggak, Buuunn. Beneran deh, Bunda kelihatan lebih muda sekarang. Ya udah Bunda boleh kurus tapi sedikit ya. Sedikiiiiiittt aja."

Berat badan Chi sebelum nikah memang kurus. Malah pada bilang cungring atau terlalu kurus. Dulu paling cuma 39 kg. Bandingkan sama sekarang yang naik hampir 20 kg hehehe.

Malamnya, Chi cerita sama K'Aie tentang pendapat Nai.

Chi: "Jadi menurut Ayah, Bunda mending kurus apa kayak sekarang?"
K'Aie: "Mending sehat."
Chi: "Ayah gitu, deh. Pilihannya apa, jawabannya apa."
K'Aie: "Tapi iya kan mending sehat?"
Chi: "Iya bener, tapi untuk penampilan, Ayah lebih suka lihat Bunda kurus kayak dulu apa sekarang?"

Dan tetep dong K'Aie jawabannya mending sehat. *Gak tau apa ya kalau Chi tuh sebetulnya lagi minta dukungan supaya semangat ngurusin badan. Susah beneeerr minta dukungan keluarga hahaha*



Sambal


Godaan yang terakhir itu bukan dari keluarga. Tapi dari sambal. Chi itu kan penggemar berat sambal. Dan di kita ini kan kaya akan berbagai jenis sambal. Makan tanpa sambal juga rasanya ada yang kurang sip. Dan sekarang harus berusaha keras mengurangi sambal. Karena kalau udah makan sambal itu gak bisa sedikit porsinya wkwkwkw.

Minta ampun deh sama ketiga godaan itu hehehehe. Untungnya Chi santai aja, sih. Kalaupun malam ini gagal diet, masih ada esok hari :p

Continue Reading
6 comments
Share:

Wednesday, September 9, 2015

Manfaat Bermain Game

Manfaat Bermain Game. Baca artikel di website Tempo sekitar 2 tahun lalu yang judulnya "Video Game Dorong Anak Bertanggung Jawab" menarik perhatian Chi.Menarik karena di tengah pro-kontra tentang game.

Chi dan K'Aie bisa bilang berada di kedua sisi pro-kontra. Dalam artian kami gak menampik kalau banyak game yang tidak layak. Tapi game yang layak juga sama banyaknya. Jadi tugas yang harus dilakukan oleh orang tua adalah memilihkan game untuk anak. Kalau anak udah punya mau main game yang mana, Chi dan K'Aie gak boleh masa' bodoh. Harus tau game apa yang dipilih sama Keke dan Nai.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa juga anak harus dikenalkan dengan game? Jawabannya adalah karena Chi dan K'Aie memang penggemar game. Dulu waktu masih pacaran, kerjaannya kalau gak baca buku Donald Bebek, ya main game hahaha *jarang banget keluar rumah buat pacaran :D* Dan, hobi itu terbawa sampe menikah.

Sempet sih Chi dan K'Aie mengubah kebiasaan main game di malam hari setelah anak-anak tidur. Sleain K'Aie juga ngantor kalau siang, main game di malam hari kan anak-anak gak tau. Jaid siapa tau mereka gak akan ngikutin hobi orang tuanya. Karena Chi pun awalnya sempat parno juga dengan efek game pada anak *walopun sendirinya penggemar game* Tapi karena adik Chi juga senang main game dan Keke selalu melihat, lama-lama dia jadi tertarik. Akhirnya, Chi pun mengalah tapi tentu aja dengan sejumlah syarat yang berlaku hingga sekarang.

Salah satu syaratnya sudah Chi tulis di awal, yaitu mengontrol pemilihan game pada anak. Mengontrol game sebaiknya jangan cuma lihat covernya atau cari info di google. Kalau perlu dimainkan juga oleh Chi atau K'Aie. Atau rajin-rajin melihat Keke dan Nai kalau lagi main. Sesekali ditanya tentang game yang sedang dimainkan. Biasanya Keke dan Nai semangat kalau ditanya. Asalkan nanyanya jangan bergaya ala satpam yang lagi menginterogasi aja.

Gak semua game yang dimainkan anak-anak harus dimainkan orang tua. Tapi yang penting kita jangan sampe kudet juga. Chi pernah nonton salah satu episode serial CSI Cyber, dimana orang tua si anak ceritanya ketat banget melarang main game. Sampe kemudian anaknya terbunuh karena ada hubungannya dengan game, orang tuanya masih gak percaya. Mereka masih berpikir kalau aanaknya tuh anak baik. Diperlihatkan juga tab si anak yang isinya standar banget, tanpa game.

Ternyata, setelah dicek oleh tim CSI, isi tab si anak itu gak standar. Banyak yang sebetulnya belum pantas bagi si anak untuk diinstall. Nah, si anak ini pake aplikasi tertentu sehingga kalau orang tuanya ngecek kelihatannya aman. Nah, menurut Chi justru di sini letak salahnya. Orang tuanya kudet, mereka gak tau tentang aplikasi tersebut. Pokoknya cuma cek kalau desktop si anak kelihatan aman, ya udah. Anaknya yang justru lebih tau aplikasi seperti itu, padahal itu aplikasi justru untuk orang tua dengan tujuan memproteksi anak. Ini malah kebalik. Yuk ah kita jangan kudet :)

Menentukan waktu bermain juga penting dan butuh kedisiplinan. Keke dan Nai dibolehkan main game setiap pulang sekolah sampai memasuki waktu maghrib. Tapi mereka kan pulang sekolah udah lumayan sore. Sampe rumah kegiatannya gak cuma main game, tapi juga makan, mandi, dan sebagainya. Otomatis waktu bermain game mereka gak banyak sebetulnya. Setiap pagi juga kadang main game. Dan diperbolehkan main game saat pagi itu ampuh untuk bikin mereka gak uring-uringan ketika bangun hehehe. Tapi tetep waktu bermainnya gak lama. Kalau lagi libur, bolehlah sedikit banyak waktu bermainnya.

Kalau baca artikel di Tempo, katanya salah satu manfaat bermain game adalah mengajarkan anak untuk berstrategi. Yup! Memang betul juga. Sekarang ini kan banyak game strategi. Anak diajarkan untuk berpikir supaya bisa masuk ke level berikutnya. Semacam belajar problem solving, lah. Tapi harus diingatkan juga, kadang kalau dikehidupan nyata gak semudah kayak di game untuk menyelesaikan masalah.

Banyak juga sih manfaat yang bisa Keke dan Nai dapatkan. Sedikit demi sedikit, kosa kata mereka untuk bahasa inggris bertambah karena umumnya game kan instruksinya dalam bahasa inggris. Game juga menimbulkan rasa senang. Rasanya kita semua butuh ya rasa senang, termasuk anak-anak. Apalagi setelah mumet sama pelajaran sekolah, beri juga mereka kesenangan biar gak ngebul otaknya hehehe.

Mungkin juga ada yang berpendapat kenapa gak dengan cara bersosialisasi di dunia nyata. Itu juga bisa bersenang-senang, kan? Yup! Setuju. Tapi di tempat kami tinggal ini, komplek yang sepi. Nyaris gak ada anak yang bermain di luar. Apalagi yang seumuran Nai, gak ada sama sekali. Keke sih masih mending punya 2 sahabat di komplek yang sesekali mereka bermain bersama. Nai kadang-kadang ikut dengan mereka. Jadi bisa dikatakan untuk bersosialisasi di dunia nyata, lebih sering ketika di sekolah. Singkatnya, memang harus seimbang, lah. Chi lihat Keke dan Nai masih cukup seimbang antara kehidupan di dunia nyata dengan lainnya.

Selain semuanya harus seimbang, yang terus diingatkan adalah kesenangan jangan sampai mengalahkan kewajiban. Beribadah, mandi, makan, belajar, dna beberapa hal lainnya yang merupakan kewajiban tentunya harus diutamakan. Setelahnya silakan deh tuh bersenang-senang, termasuk bermain game. Mari bersenang-senang :)

Continue Reading
4 comments
Share:

Saturday, September 5, 2015

Ajarkan Anak-Anak Untuk Tertib Antre

Hari Kamis lalu (25/7), kami jalan-jalan ke Jungleland. Sebetulnya sebelum puasa, kami berempat sudah ke Jungleland [silakan baca di postingan "Ke JungleLand Saat Weekend Bisa Sampai Malam, Tapi..."] Kali ini kami rame-rame ke JungleLand-nya. Bersama keluarga kakak ipar yang selam ini tinggal di Kalimantan. Dan 2 lagi keponakan dari kakak ipar yang tinggal di Jakarta. Total ada 11 orang yang ke JungleLand. Cerita tentang ngapain aja di JungleLand, nanti akan Chi ceritain di blog www.jalanjalankenai.com. Kali ini Chi mau menceritakan tentang belajar antre.

Salah satu wahana permainan di JungleLand adalah bom-bom car untuk anak dengan tinggi di bawah 135cm. Kalau dikunjungan pertama Nai gak mau ikut main di sana karena gak ada temennya *Keke udah gak boleh karena udah jauh di atas 135 cm tingginya*, dikunjungan ke dua Nai semangat main bom-bom car karena ada sepupu yang sepantaran.

Wahana bom-bom car yang Nai ikutin memang khusus untuk anak-anak. Bahkan orang tua pun dilarang untuk ikutan antre. Tertulis dengan jelas kok aturannya. Sayangnya, ada aja beberapa orang tua yang tidak mematuhi aturan tersebut. Kalau dibilang gak membaca, tulisannya terlihat sangat jelas. Masa' gak membaca? Trus kalau dibilang sengaja abai, alasannya apa?

Kalau alasannya adalah karena anaknya belum bisa antre, menurut Chi di sini orang tua harus tegas. Jangan kasih mereka permainan tersebut walopun anaknya kepengen. Kalau anaknya sampe ngambek, ya itu kembali ke masing-masing orang tua bagaimana menenangkannya. Pokoknya jangan sampe demi menyenangkan anak sendiri tapi kenyamanan anak lain terganggu.

Karena aturannya melarang orang tua ikut antrean, Chi pun berdiri di pinggir area. Agak jauh dari anak-anak karena mencari tempat nyaman, menyiapkan kamera untuk ambil foto saat mereka main bom-bom car. Tapi, kok Nai dan sepupunya gak juga main? Padahal kayaknya mereka sudah antre paling depan dari tadi. Ternyata setelah Chi perhatiin, setiap kali bel tanda usai 1 sesi bom-bom car, anak-anak yang tadinya tertib langsung pada berebutan baris di depan. Nanti kalau gak kebagian giliran, mulai antre lagi. Tapi setelah satu sesi selesai, mereka mulai rebutan lagi. Nai dan sepupunya terlihat diam mengalah.

Chi: "Kok, kalian berdua gak main juga, sih? Perasaan dari tadi antreannya udah paling depan?"
Yasmin: "Kita berdua diselak melulu, Tante."
Chi: "Trus, kalian berdua diam aja diselak terus? Gini, ya kalau nanti sampe kalian diselak lagi bilang dengan tegas 'ANTRI!' Kalau kalian masih gak bisa tegas, biar nanti Tante yang bilang sama mas-nya. Masa' terus-terusan diselak."

Chi memang gak menegur langsung orang tua ataupun petugas JungleLand. Tapi volume suara Chi sengaja dikeraskan. Dan Chi yakin banget petugas JungleLand serta beberapa orang tua yang ada di dekat Chi mendengar ucapan keras Chi hehehe. Chi perhatiin setelah ngomong begitu, salah seorang ibu langsung berbisik ke anaknya supaya mau antre. Nai dan sepupunya pun langsung dapat antrean berikutnya. Ya, baguslah jadi Chi gak perlu sewot lanjutan hahaha.

Untuk kejadian itu rasanya Chi gak bisa terima pembenaran dengan mengatakan "namanya juga anak-anak." Mereka memang anak-anak. Chi pun sangat memaklumi kalau mereka masih berebutan untuk masuk. Tapi, di dekat mereka kan ada orang tua masing-masing.Kewajiban orang tualah untuk mengajarkan anak-anaknya supaya mau tertib antre.

Coba juga bayangkan, seandainya kondisinya di balik. Anaknya yang diselak melulu, apa iya masih mau memaklumi? Jangan-jangan giliran anaknya diselak melulu malah ngomel. Tapi giliran anaknya yang nyelak malah nyantai aja karena yang penting anaknya bisa dapat duluan supaya orang tua gak kelamaan nunggunya.

Duh! Chi jadi berprasangka, kan? Tapi memang miris hati juga melihat anak-anak pada saling berebutan dulu-duluan, sementara orang tuanya pada diam aja. Padahal pagar antrean udah jelas. Kalau mas penjaganya kayaknya udah pusing gimana ngaturnya kali, ya. Lagipula kebiasaan disiplin harus dimulai sejak kecil, kan?

Yuk! Ajarkan anak-anak untuk tertib antre karena gak mungkin mereka mendadak bisa tertib tanpa dilatih :)

Continue Reading
2 comments
Share:

Thursday, September 3, 2015

Minta Pindah Rumah Karena Acara Agustusan

Nai: "Bunda, kita pindah rumah, yuk! Ima gak betah di sini."

Tiba-tiba aja Nai minta pindah rumah. Wah ada apa, nih?

Bunda: "Ada apa Dek? Kok, tiba-tiba minta pindah?"
Nai: "Ima gak betah."
Bunda: "Ya kenapa gak betahnya?"
Nai: "Di sini tuh gak pernah ada acara Agustusan."
Bunda: "Emangnya Ima pengen ikut Agustusan?"
Nai: "Enggak, Bun. Tapi Ima kan pengen tau kayak apa sih acara Agustusan. Di sini gak enak."
Bunda: "Gini aja.. gimana kalau pas tanggal 17 Agustus kita nginep di rumah Nin?"
Nai: "Emang di sana ada acara Agustusan?"
Bunda: "Di sana sih selalu ada."
Nai: "Ya udah Ima mau. Kalau di sini paling cuma pasang bendera mera-putih aja. Gak pernah ada acara."

Sebetulnya kalau dibilang gak tau sama sekali acara Agustusan, enggak juga. Setiap tahun sekolahnya kan juga bikin acara Agustusan. Tapi karena setiap tanggal 17 Agustus kan tanggal merah, jadi biasanya sekolah mengadakan acara Agustusan itu sebelum atau sesudah tanggal 17. Pas tanggal 17nya Nai memang gak pernah ikut acara Agustusan apapun di komplek yang kami tinggali ini gak pernah mengadakan acara Agustusan. Gak heran Nai protes.



Tanggal 17 Agustus lalu jatuh di hari Senin. Lumayan jadinya long wiken. Kami sudah menginap di rumah Aki-Nin anak-anak sejak Sabtu. Tapi rencana kadang tinggal rencana. Sabtu sore badan Nai panas sekali. Dia juga terus-menerus buang air. Semalaman gak bisa tidur karena sakit. Nai berkali-kali bangun untuk ke toilet. Besok hingga Seninnya sudah agak membaik walopun masih agak lemas. Malah giliran Chi yang rada gak enak badan. Kayaknya karena kurang istirahat waktu Nai sakit.

Di sekitar rumah mertua banyak sekali lokasi-lokasi untuk mengadakan lomba Agustusan. Tapi karena Nai masih lemes, akhirnya nonton acara pertandingan yang terdekat dari rumah aja. Cuma jalan beberapa meter. Itu pun cuma nonton sebentar banget. Nai masih lemes, kalau angin-anginan juga khawatir demam lagi. Nai sebetulnya gak mau nonton karena masih gak enak badan. Tapi Chi ajakin sebentar, kasihan kalau sampe harus nunggu 1 tahun lagi untuk lihat acara Agustusan.


Demamnya sudah mulai hilang, tapi badannya masih lemas. Jadi lihat pawai dari balik pagar aja :)


Sorenya ada pawai anak-anak menggunakan berbagai kostum. Nai dan sepupunya melihat dari depan rumah. Syukurlah, setidaknya pawai ini juga sanggup menghibur hati Nai yang memang kepengen banget nonton keramaian Agustusan.

Insya Allah kalau Agustusan lagi gak usah minta pindah rumah lagi, ya Nak. Cukup kita ngungsi sebentar aja ke rumah Nin hihihi.

Kalau teman-teman ada keramaian apa di acara Agustusan ini?

Continue Reading
No comments
Share: