Tuesday, December 26, 2017

Menjadi Pribadi Apa Adanya

netizen, jaga image, pencitraan

Menjadi Pribadi yang Apa Adanya

Sumber foto: Pixabay

Dulu, selama bertahun-tahun, Chi sempat sebal dengan yang namanya jaga image. Kalau zaman sekarang mungkin banyak orang menyebutnya sebagai pencitraan. Di mata Chi, orang tua (terlalu) sering mengingatkan tentang jaga image.

Tertawa ngakak sedikit, langsung ditegur supaya jaga image. Padahal kan tertawa lepas itu nikmat. Terlihat sedih di depan umum juga ditegur. Chi juga kerap ditegur karena jalannya gak rapi. Yaaa ... Anak tomboi begini gimana bisa disuruh bergaya feminin seperti perempuan, termasuk gaya jalannya hihihi.

Sekarang Chi merasakan manfaatnya. Apalagi bila bersosialisasi di media sosial. Tempat di mana setiap hari atau bahkan dalam hitungan menit selalu aja ada kehebohan. Tidak jarang pula viral. Kalau gak kontrol, bisa-bisa kebawa arus.

Sekitar 5 tahun lalu, Chi pernah merasakan kebawa arus sosial media. Alhamdulillah, seingat Chi belum pernah sampai menulis atau berkomentar dengan bahasa yang kasar. Tetapi setiap kali ada perbedaan pendapat, rasanya 'gatal' kalau gak ngeladenin.

Lama-kelamaan merasa lelah juga. Meskipun gak sampai saling memaki tetapi terus berusaha mempertahankan pendapat tetap bikin lelah. Padahal kan bisa aja Chi tinggalkan segala perbedaan itu. Lagipula gak akan juga membawa pengaruh yang bagaimana kalau sekadar berbeda [endapat dengan orang-orang yang hanya dikenal lewat media sosial.

Kesedihan lainnya adalah tentang mudahnya menyambung dan memutuskan silaturahmi saat berpendapat. Chi pernah mendapatkan banyak teman yang sependapat. Tapi dalam waktu tertentu, beberapa teman yang tadinya sependapat pun memutuskan silaturahmi hanya karena berbeda pendapat dalam hal lain. Chi jaid mikir, gimana kalau untuk hal lain lagi kemudian kami sependapat?

"Keep your friend close and your enemies closer." - Sun Tzu, The Art of War

Sun Tzu adalah seorang ahli militer dan stratedi asal China yang sangat terkenal. Bukunya yang berjudul 'The Art of War' sudah sangat mendunia. 'Seni perangnya' ini tidak hanya digunakan di dunia militer tetapi juga untuk berbisnis.

"Keep your friend close and your enemies closer" adalah salah satu strategi Sun Tzu. Kalau dalam dunia pertemanan dan keluarga, strategi ini pasti gak cocok banget, lah. Masa gak boleh tulus dalam berteman. Dan masa kita harus selalu curiga dengan orang yang dekat. Tapi dalam dunia politik atau bisnis, strategi itu bisa aja dipraktekkan. Makanya suka ada aja yang bilang kalau masyarakat awam ketika berbeda pendapat khususnya dalam politik bisa berantem sampai memutuskan tali silaturahmi. Padahal politikus sendiri mungkin sedang makan bersama sambil tertawa meskipun berbeda pandangan.

Eh iya, Chi kan sebetulnya sendang ingin menulis tentang menjadi pribadi yang apa adanya, ya? Trus malah kenapa jadi bahas hubungan silaturahmi ketika berbeda pendapat? Hehehe. Tapi sebetulnya ada hubungannya juga, sih terutama kalau dikaitkan dengan yang namanya pencitraan.

Chi merasa sekarang pengertian itu jadi agak bergeser aja. Pencitraan seperti dianggap sesuatu yang salah. Orang yang melakukan pencitraan seperti dianggap sebagai seseorang yang 'palsu' karena selalu menampilkan yang baik seolah-olah tidak memiliki masalah. Padahal hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Kebalikan dari pencitraan adalah apa adanya. Beberapa kali Chi perhatiin menjadi apa adanya dibandingkan dengan pencitraan. Singkatnya menjadi orang yang apa adanya lebih baik daripada pencitraan. Pernah Chi mengingatkan seseorang untuk jangan menulis status menggunakan capslock semua. Terkesan marah-marah. Tapi pendapat Chi itu malah dibalas dengan omelan. Katanya Chi gak paham dengan kebebasan berpendapat. Suka-suka dia mau nulis apapun. Lagipula dirinya merasa orang yang apa adanya. *Hmmm ... 😏

Melakukan pencitraan gak selalu berarti jelek, kok. Chi sendiri lebih suka dicitrakan sebagai orang baik. Kalaupun tetap ada yang berprasangka jelek, paling Chi introspeksi. Kita memang gak bisa mengatur penilaian orang terhadap diri kita. Tapi setidaknya kita bisa berusaha yang terbaik.

Kalaupun Chi sering menampilkan hal baik seolah-olah tanpa masalah, bukan karena 'palsu'. Smeua yang diceritakan adalah apa yang dialami dan dirasakan. Bukan berarti pula gak pernah mengalami masalah. Tapi yang namanya masalah sebaiknya disimpan rapat-rapat. Kalaupun diceritakan ke media sosial biasanya setelah masalahnya sudah selesai. Itupun dengan pertimbangan yang panjang tentang kepantasan menceritakan masalah tersebut dan apakah ada pihak-pihak yang tersinggung atau tidak. Sesuatu yang menurut kita sepele belum tentu bagi orang lain.

Menjadi apa adanya juga gak selalu berarti bagus. Lihat sudut pandangnya juga. Ada yang merasa menjadi (terlalu) blak-blakan adalah sesuatu yang bagus. Lebih baik menyindir hingga memaki seseorang daripada bermanis-manis dengan seseorang yang kita gak suka. Padahal ya kalau kita memang gak suka, gak perlu juga disindir atau dimaki-maki tapi gak perlu bermanis-manis juga. Ada kalanya mengabaikan menjadi lebih nyaman buat semuanya. Di FB, setiap saat ditanya 'What's on your mind?' Janganlah ditelan mentah-mentah dengan mengartikan bahwa kita bebas menuangkan segala hal yang dipikirkan tanpa filter.

Tulisan ini sebetulnya semacam reminder juga. Chi seringkali mengingatkan Keke dan Nai supaya berhati-hati di media sosial. Apalagi mereka kan masih muda. Seringkali darah muda masih bergejolak. Seringkali pula kejadian yang viral di media sosial diawali dengan emosi. Menulis status dengan emosi yang tinggi, akhirnya viral deh. Padahal yang melakukan itu juga gak selalu dari netizen yang berusia muda, lho.

Beberapa waktu lalu, Keke kesenengan kalau akun IGnya difollow sama selebgram idolanya. Chi gak bertanya kenapa bisa follow Keke. Apa karena Keke sering komen atau karena hal lain? Chi gak bertanya sama sekali. Chi pun gak bilang kalau bisa jadi seleb tersebut sekadar follow kemudian unfollow setelah Keke balik folback. Buat Chi gak semua instagramers seperti itu termasuk yang seleb. Kalau Chi ngomong gitu sama aja menghentikan kebahagiannya. Lagipula jauh sebelum itu, Keke sudah follow duluan si seleb ini.

Jadi Chi paling cuma nasehatin supaya semakin dewasa berinteraksi di media sosial. Seringkali kita gak pernah tau siapa yang memperhatikan diri kita di dunia maya. Gak masalah melakukan pencitraan selama yang ditampilkan bukanlah hal yang dibuat-buat. Dan menjadi pribadi apa adanya juga harus tetapi bukan berarti kebablasan dengan alasan 'saya kan memang apa adanya, gak ada yang ditutupi.'

Selain itu, Keke juga mulai kritis dengan berbagai hal yang terjadi di dunia maya, termasuk tentang politik. Kadang dia suka ikutan komen ini-itu kalau lagi ngobrol ma teman-temannya. Mendukung sosok ini dan itu. Tentu aja Chi gak akan melarang Keke dan Nai untuk berpendapat.  Sebagai masyarakat awam pun harus belajar melek politik dan jangan terlalu naif. Tapi ya jangan sampai jadi ribut juga. Itulah yang sering Chi ingatkan ke anak-anak terutama ke Keke yang saat ini mulai berpendapat.

Yang juga harus dipahami anak-anak adalah berkomunikasi di dunia tulisan lebih rawan salah paham daripada komunikasi langsung. Seperti contoh di atas di mana Chi menyarankan untuk jangan pakai capslock semua. Padahal belum tentu yang menulis sedang marah.

Chi juga pernah ribut ma seorang teman lama di salah satu group socmed sampai banyak yang melerai. Saat itu rasanya sangat kesal sampai Chi gak pengen kenal lagi ma dia. Tapi begitu ketemuan, kami malah cekikikan dan menertawakan kekonyolan kami.

Di lingkungan keluarga pun begitu. Sampai akhirnya ada solusi untuk mengurangi bahasan sensitif di dunia maya. Memang berasa sih perbedaannya. Kalau ngobrol langsung, apapun bahasannya suasana bisa lebih cair. Mungkin karena kita bisa lihat mimik lawan bicara. Ngobrolnya pun sambil ngemil dan ngopi atau ngeteh bareng, kan.

Semoga Keke dan Nai terus belajar bagaimana menjadi netizen yang baik. Chi maupun K'Aie juga akan terus belajar. Apalagi dunia internet selalu berkembang. Menghindari juga sepertinya sulit.

[Silakan baca: Percaya Diri Membuat Konten Kreatif]

Continue Reading
24 comments
Share:

Monday, December 18, 2017

Hidup Sehat dengan Masakan Rumah Bersama 4 Inovasi Dapur Philips

4 inovasi dapur philips

Hidup Sehat dengan Masakan Rumah Bersama 4 Inovasi Dapur Philips


Beberapa hari yang lalu ....

Keke: "Bun, ada paket. Boleh dibuka?"
Bunda: "Buka aja. Isinya perlengkapan dapur, kok."
Nai: "APAAAA? Bunda beli perlengkapan dapur melulu. Trus JATAH kita kapaaaan?"
Keke: "Hahaha tuh Bun kata Ima."
Nai: "Itu Bunda beli melulu biar dapurnya makin bagus. Biar kita gak jajan terus."

Libur sudah di depan mata. Bahkan Keke dan Nai sudah selesai UAS, maunya mereka sih gak usah masuk sekolah aja. Udah nyantai, lagi gak belajar 😂 Jangankan libur panjang kayak gini, sekadar long weekend aja pengennya udah ngacir ke mana gitu, ya. Minimal keliling Jakarta, lah. Nge-mall kek, makan di resto kek, atau staycation gitu.

Insya Allah, dalam waktu dekat kami memang berencana pindah.  Nah, Chi lagi semangat menata bagian dapur, termasuk membeli beberapa peralatan baru yang dibutuhkan. Apalagi dapurnya nanti lebih luas dari rumah yang sekarang. *Jadi makin berasa kayak ratu dapur nanti 😂*

Celotehan Nai tentang tujuan Bundanya menata dapur supaya gak pada jajan melulu memang benar. Mereka tau aja jalan pikiran bundanya hehehe. Sebetulnya Chi gak anti dengan aneka jajanan. Malah kadang kalau akhir pekan, Chi memilih untuk gak masak. Iya dong sesekali 'tukang masak' juga butuh libur 😄. Biasanya kami memilih makan di luar atau tunggu tukang jualan makanan lewat.

Meskipun begitu, gak bikin anak-anak jadi ketagihan jajan. Tetap aja mereka masih lahap dengan masakan yang dimasak bunda. Setiap hari tetap bertanya bundanya masak apa. Malah Keke tetap memilih membawa bekal ke sekolah. Jadi Chi tetap gak khawatir mereka akan ketagihan jajan karena sejak kecil sudah terbiasa dengan masakan rumah.

[Silakan baca: Tips Ramadan Sehat dan Praktis Bersama Philips]

Talkshow Philips Indonesia tentang #ThePowerofHomemadeFood


the power of homemade

Selain terbiasa dengan masakan rumah, alasan lain kenapa Chi tetap memilih masak adalah karena kesehatan. Terutama buat Keke yang sejak kecil memang wajib makan dengan pola dan menu makan yang benar. Lambungnya agak sensitif bila pola makannya berantakan meskipun hanya sesekali gak disiplinnya.

Menurut studi yang dilakukan oleh Julia A. Wolfson, MPP yang menganalisa data survei dari National Health and Nutrition Examination menyebutkan bahwa orang yang sering memasak di rumah mengkonsumsi sedikit karbohidrat, gula, dan lemak daripada yang jarang memasak di rumah.

Kamis (9/12) bertempat di SATOO Garden Shangri-La Hotel, Philips Indonesia mengadakan talkshow dan cooking demo dengan tema "The Power of Homemade Food, Makanan Sehat Berawal dari Rumah. Memasak sendiri memang lebih menyehatkan tetapi terkadang tidak melakukannya karena terkendala waktu. Terutama bagi kaum urban di mana hampir setiap hari selalu berpacu dengan waktu. Kegiatan memasak menjadi urutan nomor sekian untuk dilakukan. Oleh karenanya, supaya kegiatan memasak tetap bisa dilakukan, dibutuhkan peralatan memasak yang bisa diandalkan dari segi kepraktisan tetapi juga dapat membantu menyajikan makanan yang sehat.

Membuka acara ini, MC bertanya kepada kami semua apakah kami sudah yakin proses memasak di rumah sudah tepat. Sejujurnya Chi kadang masih ragu. Niat untuk bergaya hidup sehat sudah pasti selalu ada dan Chi selalu berusaha untuk memasak di rumah. Tapi, kadang-kadang belum yakin dengan prosesnya. Seperti yang dikatakan oleh dr. Cindiawaty Pudjiadi. MARS, MS, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi, "Umumnya ibu dan keluarga Indonesia tahu dan paham soal gaya hidup sehat termasuk bagaimana pola makan sehat bagi keluarga. Namun seringkali diabaikan adalah proses memasaknya yang justru menghasilkan makanan yang tidak sehat karena gizi makanan tidak maksimal. Misalnya proses menggoreng yang tentu saja membutuhkan minyak banyak tetapi penggunaan minyak ini akan meningkatkan total asupan kalori seseorang. Hal ini akan meningkatkan resiko obesitas dan berbagai penyakir lainnya seperti hipertensi, penyakit jantung, dan lain sebagainya."

"Hidup sehat tidak hanya tentang makanan tetapi juga berolahraga. Banyak sekali yang baru menyadari tentang pentingnya hidup sehat setelah diri sendiri atau salah seorang anggota keluarga terkena penyakit," ujar Yongky Sentosa, Head of Personal Health Philips Indonesia.

Yoga, running, dan berbagai olahraga lainnya saat ini sedang menjadi trend hidup sehat di masyarakat. Sayangnya, masih banyak yang berpendapat dengan berolahraga saja sudah cukup. Pola makan tetap seenaknya karena merasa sudah rutin berolahraga. Begitupun sebaliknya, sudah merasa makan makanan sehat tetapi enggan berolahraga. Bahkan refreshing juga dibutuhkan untuk hidup sehat. Semuanya harus seimbang.

Mengatur pola makan sehat yang tepat, berolahraga teratur, serta tidur yang cukup merupakan 3 kunci utama untuk hidup sehat. Sehat tidak hanya jasmani tetapi juga harus sehat mental dan rohani. Sebaiknya berolahraga 150 menit dalam seminggu. Pembagiannya bisa diatur sesuai kebutuhan masing-masing yang penting target 150 menit per minggu tercapai.

[Silakan baca: Chicken Barbeque]

4 Produk Inovasi Dapur Philips


demo masak philips

PHILIPS adalah perusahaan yang fokus pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai wujud mendukung gaya hidup sehat, berbagai produk dapur Philips sudah dikenal dengan kualitas ketahanan, aman, mudah, serta praktis untuk digunakan.

Memasak di rumah dan konsumsi makanan sehat adalah sebuah investasi untuk hari tua.

Menurut dr. Cindiawaty, usahakan dalam 1 porsi makanan yang dikonsumsi memiliki komposisi yang lengkap dan tepat. Kebutuhannya tergantung tubuh masing-masing. Ada yang butuh lebih banyak protein, ada juga yang harus mengurangi karbohidrat, dan lain sebagainya. Setiap tubuh memiliki porsi kebutuhan yang berbeda-beda tetapi yang penting komposisinya seimbang.

Tentang berbagai macam pola diet yang ada saat ini, dr. Cindiawaty menyarankan untuk berkosultasi ke dokter terlebih dahulu. Dokter akan menyarankan diet yang tepat bagi masing-masing tubuh. Tujuan diet yang utama bukanlah menurunkan berat badan tetapi menjadi sehat. Setelah tubuh menjadi sehat, berat badan yang turun adalah bonusnya.

Sayur termasuk asupan yang penting. Masalah yang umum terjadi pada keluarga adalah susahnya anak-anak mengkonsumsi sayur. Apabila ini terjadi, bukan berarti anak-anak tidak usah dikasih sayur. Tetapi, orang tua harus mencari berbagai cara agar anak tetap mau makan sayur. Misalnya menyelipkan sayur ke dalam nugget, membuat mie sayur, atau berbagai macam cara lainnya. Chef Arimbi mempunyai cara lain agar anak-anak suka mengkonsumsi sayur, yaitu dengan mendongeng.

Jangan terlalu banyak mengkonsumsi gorengan apalagi minyak sudah digunakan berkali-kali. Bagi penyuka menu gorengan, Philips memiliki produk bernama Airfryer HD9623. Produk ini mampu menggoreng makanan tanpa menggunakan minyak sehingga kita terhindar dari konsumsi minyak yang berlebihan. Meskipun menggoreng tanpa minyak, hasil masakan tetap lembut di dalam dan garing di luar.

Chef Arimbi Nimpuno dari Arimbi Kitchen melakukan demo masak dengan menggunakan 4 produk inovasi, yaitu Airfryer HD9623, Noodle & Pasta Maker HR2332, Bread Maker HD9045, dan Slow Juicer HR1889.

[Silakan baca: Inovasi Dapur Philips - Memasak Dalam Waktu 45 Menit, Dapat Apa saja?]

Resep Masakan Rumahan ala Philips


Berikut ada beberapa resep masakan pada saat demo cooking. Kalau teman-teman memiliki peralatan ini tentu aja akan mendapatkan resep lebih banyak lagi. Jumlahnya bisa ratusan.


Lasagna Verde (Menggunakan Airfryer HD9623, Noodle & Pasta Maker HR2332, dan Slow Juicer HR1889)

lasagna verde, noodle pasta maker, slow juicer, philips

Dengan daya listrik sebesar 1425 watt, Philips Airfryer tidak hanya bisa digunakan untuk menggoreng tetapi juga memanggang dan membakar berbagai hidangan favorit keluarga. Sedangkan untuk Noodle & Pasta Maker membuat proses pembuatan pasta atau mie menjadi mudah dan cepat. Kita tinggal memasukkan berbagai bahan yang dibutuhkan. Setelah itu proses pengadukan, pembuatan, hingga penggilingan secara otomatis dilakukan oleh alat ini secara cepat. Philips Noodle & Pasta Maker dengan daya 150 watt mampu membuat adonan sekitar 450 gram dalam waktu 18 menit.

Bahan Pasta Verde:
  • 100 gr daun bayam, buang batangnya
  • 1 butir telur
  • 1 cup (250 ml) jus bayam
  • 200 gr tepung terigu
  • garam dan merica secukupnya

Cara Membuat:
  1. Masukkan daun bayam ke dalam Slow Jiicer HR1889, sisihkan airnya
  2. Masukan tepung terigu ke dalam Pasta & Noodle Maker HR2332
  3. Di dalam mangkuk terpisah, campurkan telur dan jus bayam
  4. Tambahkan ke dalam  Pasta & Noodle Maker HR2332
  5. Atur 'cetakan' pasta, tekan tombol power, dan tombol nomor 2
  6. Potong pasta sheet / lasagna sheet sesuai dengan ukuran cetakan

Bahan Isi Pasta Verde:
  • 100 gr daun bayam, buang batangnya
  • 100 gr keju ricotta
  • 1 sdt bubuk pala
  • Garam dan merica secukupnya

Cara Membuat:
  1. Rebus daun bayam selama 2 menit, lalu angkat, dan masukkan ke dalam mangkuk air es
  2. Peras dan keringkan, lalu potong-potong daun bayam
  3. Masukkan ke dalam mangkuk dan campur dengan keju ricotta
  4. Bubuhkan garam, merica, dan bubuk pala. Aduk kembali hingga rata

Cara Membuat Lasagna Verde:
  1. Di dalam cetakan Airfryer, tata lembar pertama pasta verde
  2. Disusul dengan campuran isi pasta verde
  3. Ulangi langkah-langkah tersebut hingga sekitar 4 layer. Layer paling atas dilapisi keju ricotta
  4. Masukkan ke dalam Airfryer dan panggang hingga matang
  5. Sajikan hangat

Roti Jagung ala Arimbi Kitchen (Menggunakan Philips Bread Maker HD9045)

roti jagung, arimbi kitchen, philips bread maker

Biasanya roti digemari sebagai salah satu menu sarapan atau camilan. Tetapi untuk bikin sendiri seringkali merasa malas apalagi kalau mengingat harus menguleni adonan. Dengan Philips Bread Maker HD9045, kita tinggal memasukkan semua bahan ke alat ini.

Philips Bread Maker ini juga memiliki waktu tunda hingga 13 jam. Kita bisa memasukkan semua bahan pada malam hari kemudian setting waktunya sehingga roti akan matang di waktu yang sudah ditentukan. Selain itu, tingkat kematangan roti juga bisa diatur dan mampu memanggang roti hingga seberat 1 kg.

Bahan:
  • 250 gr tepung terigu protein tinggi
  • 55 gr gula pasir
  • 2 gr garam
  • 10 gr susu bubuk
  • 1 gr bread improver
  • 2 gr emulsifier
  • 6 gr ragi instan
  • 1 butir telur
  • 50 ml susu cair
  • 65 ml air dingin
  • 65 gr butter
  • 50 gr jagung cream
  • 50 gr jagung matang

Cara Membuat:
  1. Masukkan semua bahan ke dalam mangkuk Philips Bread Maker HD9045
  2. Pasang dan tutup
  3. Pilih tombol resep nomor 9 untuk "Whole Wheat Rapid"
  4. Pilih "Berat 750 gr" dan "Warna Middle"
  5. Tekan tombol "Start"
  6. Tunggu hingga roti matang lalu lepaskan mangkuk Bread Maker HD9045
  7. Keluarkan roti dan sajikan hangat

Carrot, Orange, and Turmeric Crush (Menggunakan Slow Juicer HR1889)

carrot orange tumeric crush, slow juicer philips

Suara blender biasanya bising. Tetapi kalau Slow Juicer HR1889 ini suaranya halus, bahkan nyaris tanpa suara. Alat ini bekerja seperti memeras buah atau sayur sehingga sari yang didapat lebih banyak dan ampas yang keluar lebih kering. Ampas dari hasil perasan ini bisa digunakan lagi untuk olahan makanan lain.

Bahan: 
  • 2 buah wortel  
  • 6 buah jeruk
  • 1,5 gelas (375 ml) air kelapa
  • 1 kunyit segar
  • 1/2 lemon
  • 1 gelas es batu

Cara Membuat:
  1. Peras wortel, jeruk, kunyit segar, dan lemon menggunakan Slow Juicer HR1889
  2. Sari buah hasil slow juicer dimasukkan ke dalam gelas blender, tambahkan air kelapa dan es batu. Blend hingga tercampur sempurna
  3. Sajikan dingin
  4. Bisa juga sari buah langsung dicampur dengan air kelapa, aduk rata, masukkan es batu. Sajikan dingin 

#ThePowerofHomemadeFood - Makan sehat bisa diawali dari rumah dan itu tidak sulit.

[Silakan baca: Membuat Dragon Fruit Smoothie dengan Philips Duravita Tritan Jar]

Continue Reading
22 comments
Share:

Tuesday, December 12, 2017

Chicken Barbeque

resep, chicken barbeque

Chicken Barbeque


Minggu lalu, Chi mendapatkan kiriman makanan dan minuman. Ada Chicken Barbeque, Donat Kentang, dan 2 botol Juice (Apple Juice serta Spinach, Pineaple, and Lemon Juice). Alhamdulillah, semuanya enak. Tapi kalau harus memilih salah satu yang paling disuka adalah Chicken Barbeque.

Makanan dan minuman tersebut dibuat menggunakan berbagai peralatan dari inovasi dapur Philips. Saat ini, Philips ingin mengajak kita semua untuk mulai bergaya hidup sehat. Salah satunya adalah dengan memasak masakan rumahan. Di postingan berikutnya, akan Chi ulas reportase tentang berbagai peralatan ini, ya.

Sekarang Chi share resep Chicken Barbeque aja dulu. Tapi seperti yang ditulis di awal, masakan ini bukan Chi yang buat, ya. Jadi Chi juga belum tau apakah kalau memasaknya tidka menggunakan Airfryer, prosesnya tetap sama atau enggak. Mungkin kapan-kapan bisa coba, soalnya Chi juga belum punya Airfryer *kodeeee ... kodeeee untuk K'Aie 😁

[Silakan baca: Hidup Sehat dengan Masakan Rumah bersama 4 Inovasi Dapur Philips]

Bahan-Bahan
  • 500 gr ayam, potong-potong sesuai selera
  • 1 sdm kecap manis
  • 1 sdm saus tiram
  • 1 sdm saus tomat
  • 1 sdm saus sambal
  • 1 sdm gula pasir
  • garam
  • 1 sdm lada hitam

Cara Membuat:
  1. Campurkan ayam, kecap manis, saus tiram, saus tomat, saus sambal, gula pasir, garam, dan lada hitam. Biarkan selama 15 menit.
  2. Siapkan Airfryer PHILIPS
  3. Masukkan ayam beserta bumbumnya ke dalam wadah Airfryer
  4. Panggang dengan suhu 200 derajat celcius dalam waktu 10 menit
  5. Sajikan

Kalau lihat dari penampakan dan teksturnya, sepertinya ayam yang digunakan adalah bagian dada tanpa tulang dan kulit. Teksturnya tetap lembut. Bumbunya juga meresap. Dengan waktu pengolahan yang gak sampai setengah jam, masakan ini termasuk praktis, ya.

Update (11/12) - Chi udah cobain bikin Chicken Barbeque tanpa Airfryer. Ternyata bisa dan rasanya enak. Chi jadi lumayan sering masak ini karena bikinnya praktis banget dan rasanya enak. Kapan-kapan Chi tulis resepnya versi tanpa Airfryer, ya.

[Silakan baca: #PhilipsRiceCooker Membantu Menjaga Kehangatan Keluarga]

Continue Reading
47 comments
Share:

Tuesday, November 28, 2017

Ayam Masak Daun Melinjo

resep Ayam Masak Daun Melinjo
 
Ayam Masak Daun Melinjo - Beberapa tahun lalu, Chi pernah makan menu ayam tangkap di salah satu restoran di daerah Jawa Barat. Lupa nama restonya, tapi seingat Chi pulang dari Ciamis. Sepertinya nama menunya memang terinspirasi dari menu tradisional Aceh. Hanya saja tidak menggunakan daun kari tetapi menggunakan daun melinjo.

Chi gak bertanya kenapa tidak menggunakan daun kari. Agak susah menemukan daun kari kali, ya? Tapi, Chi langsung suka dengan rasa daun melinjo yang digoreng. Teksturnya renyah-renyah gimana gitu, deh 😂

Udah pernah cobain masak sendiri di rumah dan suka juga dengan rasanya. Nah, beberapa waktu lalu pengen coba bikin lagi. Tapi, karena agak lupa resepnya, C pun Googling dengan kata kunci Ayam Tangkap dan Ayam Daun Melinjo.

[Silakan baca: Resep Ayam Goreng Bawang Putih]

Eh, dari hasil Googling malah Chi dapat resep baru namanya Ayam Masak Lelem. Kuliner ini berasal dari Manado. Dari berbagai artikel yang Chi baca, daun lelem banyak digunakan pada masakan khas Manado. Tetapi, karena di sini tidak ada daun lelem *penampakannya aja Chi gak tau*, katanya sih bisa diganti dengan daun melinjo. Kebetulan saat itu lagi ada banyak daun melinjo karena memang udah niat mau bikin ayam tangkap ala-ala, jadi ganti resep aja sekalian, deh.

Ada berbagai resep tentang Ayam Masak Lelem di Google. Karena Chi belum pernah cobain rasa asli dari masakan ini, jadinya coba mengkombinasikan berbagai resep aja. Sebetulnya rata-rata mirip resepnya hanya takarannya aja yang berbeda dan ada juga yang menambahkan bumbu ini-itu.


Bahan-Bahan:
 
  • 1 ekor ayam - potong 8 atau 10
  • 1 buah jeruk nipis, ambil airnya
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya
  • Minyak goreng untuk menumis
  • Air secukupnya, kira-kira segelas (+/- 200 ml)
  • 2 batang sereh, digeprek bagian putihnya 
  • 1 ikat daun kemangi
  • daun melinjo diiris kasar
  • 1-2 batang daun bawang, diiris-iris
  • 6-8 lembar daun jeruk, diiris halus
  • 1 lembar daun kunyit 


Bumbu Iris:
 
  • 8 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih


Bumbu Halus:
 
  • 15 buah cabai merah keriting
  • 8 butir bawang merah
  • 4 siung bawang putih 


Cara Membuat:
 
  1. Ayam yang sudah dicuci bersih, diremas-remas dengan air jeruk nipis dan garam. Diamkan sekitar 15 menit.
  2. Panaskan minyak. Tumis bumbu iris dan halus. Kemudian masukkan sereh yang sudah dimemarkan dan juga daun kunyit
  3. Masukkan ayam. Aduk hingga berubah warna
  4. Tambahkan air, masak hingga air menyusut
  5. Masukkan daun melinjo, daun bawang, daun jeruk, serta daun kemangi. Aduk-aduk sebentar hingga matang
  6. Tambahkan gula dan garam. Koreksi rasa. Setelah pas, matikan api dan sajikan.


Tips:
 
  1. Di foto ini, Chi gak kasih daun kemangi *lupa beli 😂
  2. Kalau mau semakin kaya rasa, serehnya bisa diiris tipis jangan sekadar dimemarkan 
  3. Untuk bumbu halus, tingkat kepedasannya bisa disesuaikan dengan selera. Bisa ditambahkan cabai rawit. Chi gak kasih, biar Naima tetap bisa makan

[Silakan baca: Resep Ayam Ungkep Skippy Peanut Butter]

Selamat mencoba! 😋

Continue Reading
34 comments
Share:

Friday, November 17, 2017

Tape Bakar Coklat Keju

Tape Bakar Coklat Keju - Musim hujan mulai datang. Kalau begini antara pengen makan atau tidur melulu. Abis cuacanya enak. Adem dan kadang malah dingin.
 
resep tape bakar coklat keju, cara membuat tapai bakar

Ketika anak-anak masih kecil, mereka seneng banget kalau udah musim hujan karena bakal dibolehin mandi hujan. Sekarang semangat mandi hujannya udah pudar. Lebih suka ngamar sambil nonton tv atau main hp. Biasanya kalau abis mandi hujan, langsung bergantian mandi air hangat. Setelah itu kruntelan bareng sambil minum teh atau susu coklat hangat dan sedikit camilan.

[Silakan baca: Mandi Hujan]

Ngomongin tentang camilan, salah satu yang jaid favorit adalah Tape Bakar Coklat Keju. Ini sih gak perlu nunggu musim hujan. Asalkan ada tape di penjual langganan di pasar, biasanya Chi langsung beli.


Tape atau tapai adalah makanan yang berasal dari singkong atau beras ketan, kemudian difermentasi dengan ragi.

Bahan-Bahan:
  • Tape singkong, potong-potong. 
  • Mentega
  • Meises
  • Susu kental manis putih
  • Keju cheddar 

Cara Membuat:
  1. Tekan tape yang sudah dipotong dengan punggung pisau supaya agak gepeng 
  2. Oleskan mentega tipis-tipis di kedua sisi tape
  3. Panaskan wajan yang datar
  4. Bakar salah satu sisi tape hingga berwarna kecoklatan dan agak gosong sedikit, kemudian balik
  5. Lakukan hal yang sama untuk sisi baliknya
  6. Setelah kedua sisi berwarna kecoklatan, taruh tape di piring
  7. Beri keju cheddar di atasnya
  8. Kemudian taburkan meises dan beri susu kental manis

Catatan:
  1. Chi lebih suka tape yang gak terlalu lembek, biar rasa alkoholnya gak terlalu kuat. Tapi juga jangan yang masih keras
  2. Potong-potong tape dengan uuran sedang. Jangan terlalu pendek atau panjang
  3. Untuk toping, bisa diganti sesuai selera. 
  4. Kadang, Chi gak bakar tape di wajan tapi langsung masukkan ke dalam oven sekitar 4-5 menit 

[Silakan baca:  Resep Muesli SKIPPY® Peanut Butter Energy Bars]

Continue Reading
36 comments
Share:

Monday, November 6, 2017

Nyasar di Pasar

kesasar, pasar
Nyasar di Pasar


Nyasar di Pasar - Teman-teman suka ke pasar tradisional? Kalau Chi antara suka dan enggak. Gak sukanya karena suka malas jalannya. Ke pasar berarti mengambil jatah tidur Chi 😂 Biasa deh kalau anak-anak udah mulai berangkat sekolah, Chi lanjut tidur. Kalau gak gitu, gak bakal bisa tidur lagi. Apalagi kalau anak-anak udah pulang sekolah. Seringnya tambah gak bisa tidur.

Kalau harus ke pasar, jam tidurnya jadi kepotong hehehe. Sebetulnya ada tukang sayur keliling, tapi jualannya kan gak komplit. Memang enak langsung belanja di pasar aja kalau jumlahnya banyak. Lebih irit juga. *Chi paling ke pasar 2-3 hari sekali.

[Silakan baca: Antara Pasar Tradisional dan Pasar Modern]

Untuk pemilihan waktu, lebih suka rada siangan karena gak antre. Kalau pagi, cari parkir aja udah rada susah. Trus di pasarnya suka antre karena banyak pembeli. Apalagi kalau pembelinya udah ngobrol dulu ma penjual hehehe. Kalau berangkat udah siang kan enak bisa langsung dilayani.

Tapi kadang memang suka ada serunya sih kalau pasar lagi rame. Suka rupa-rupa kelakuan pelanggan pasar hehehe. Apalagi yang namanya pasar tradisional kan suka ada aja ibu-ibu yang saling ngobrol, bikin belanjanya jadi makin lama 😂

Walaupun agak siang (biasanya sekitar pukul 10 atau 11) tetap masih segar lah sayur-mayur yang ada di sana. Kalau untuk lauknya, Chi memang dari dulu jarang beli di pasar. Paling di pasar Chi beli lauk seperti ikan mas atau lele, telur, atau ikan asin. Selebihnya mulai dari ayam hingga daging selalu beli di supermarket. Pernahlah sesekali beli ayam di pasar meskipun jarang. Tapi kalau daging belum pernah sama sekali, selalu di supermarket.
 
Tumben Chi cerita tentang pasar?



Iya karena pas lagi buka HP ada foto pasar dekat rumah. Kalau di rumah, pasar tradisional tapi udah agak modern. Lumayan bersih pasarnya dan cukup komplit meskipun gak terlalu besar. Chi juga suka belanja di sana karena semua penjual kasih harga jual yang sama. Tinggal kitanya aja lebih suka belanja di mana. Kalau Chi ada 1 lapak penjual sayur favorit tapi biasanya gak belanja semuanya ke sana. Ada kalanya 1-2 item, Chi beli di penjual lain.

[Silakan baca: Pasar Mini - Manfaat yang Didapat]

Tentang harga, Chi pikir tadinya semua pasar tradisional begitu. Tapi sepertinya enggak. Ketika belanja di pasar tradisional dekat rumah mertua, tiap lapak bisa beda-beda harga jualnya. Bahkan bisa beda lumayan jauh *Pernah sebel aja gitu begitu tau harga 1 ons cabe rawit hijau antara lapak yang satu dnegan yang lain beda lumayan jauh dan Chi udah terlanjur beli dengan harga lebih mahal 😕* Makanya kalau belanja di pasar tradisional dekat rumah mertua, harus hapal lapak penjual yang bisa kasih harga murah.

Tapi memang PR buat Chi kalau udah belanja di pasar tradisional dekat rumah mertua. Selain harus hapal lapak favorit juga harus hapal jalan masuk. Jadi pasarnya masih model tradisional gitu yang biasanya para penjual sayur dan daging terletak di basement.

Kalau di basement gitu gak hanya kotor tetapi juga agak gelap. Udah gitu tekak-tekuk. Lapaknya kayak kios-kios gitu. Nah, tekak-tekuknya ini yang bikin bingung. Lupa di mana pintu keluar hahaha. Beneran gak lucu kalau nyasar di pasar hehehe. Kalau pasar dekat rumah kan udah kayak aula besar. Lapak-lapaknya terbuka jadi kelihatan lah dari ujung ke ujung.

Pernah ada satu kejadian, Chi salah keluar. Malah ada di sisi lain pasar. Sempat bingung sesaat tapi tetap bisa pulang, sih. Cuma jadi lebih jauh aja. Kan cape jadinya 😅

Teman-teman punya cerita seru apa tentang belanja di pasar tradisional?

Continue Reading
37 comments
Share:

Wednesday, October 25, 2017

Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!

Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!

Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!



Nai: “Bun, hari Jumat jadi berenang, kan?”
Bunda: “Lihat kondisi ya, Dek.”
Nai: “Tapi ,kan Bunda udah janji!”
Bunda: “Iya tau, kok. Tapi, kepala Bunda lagi sakit. Badan juga kayaknya kurang fit. Mungkin karena Bunda kurang istirahat. Cape banget Bunda.”
Nai: “Yaaaa Gak jadi, deh.”

Chi tau kalau gak jadi Nai pasti kecewa. Apalagi Chi memang udah janji bakal ajak dia berenang rutin seminggu sekali. Tapi, baru mau mulai, udah ada aja halangannya.

Minggu ini…

Nai: “Bunda, besok Ima libur.”
Bunda: “Iya Bunda udah tau.”
Nai: “Kok, Bunda tau?”
Bunda: “Ibu-ibu di group WA udah kasih tau tadi pagi.”
Nai: “Kalau gitu berenang, yuk! Kan, besok libur.”
Bunda: “Hmmm… gimana, ya?”
Nai: “Ya udah kalau gak besok, hari Jumat aja berenangnya abis ambil raport.Besok ke salon.”
Bunda: “Lha?”
Nai: “Yak an rambut Ima udah panjang, Gerah nih, Bun.”
Bunda: “Satu per satu, lah. Berenangnya besok aja.”
Nai: “Kenapa besok?”
Bunda: “Males banget abis ambil rapot langsung berenang.”

Biasanya kalau jemput Nai, Chi suka pakai pakaian rumah aja. Hampir gak pernah dandan juga. Kan nunggu di mobil aja. Jarang keluar dan nunggu di kantin sekolah. Tapi kalau mau ambil raport, pertemuan orang tua murid, atau apapun yang memang harus berhubungan ma sekolah, rada beda lah penampilannya dan sedikit dandan juga. Jadi malesin banget kan kalau abis itu langsung berenang.

Obrolan pun dilanjut…

Bunda: “Mau berenang apa main air, Nai.”
Nai: “Berenang.”
Bunda: “Yakin?”
Nai: “Iya. Memang kenapa, Bun.”
Bunda: “Ya males aja Bunda kalau gak berenang.”
Nai: “Ya tapi gak apa-apa, dong kalau Ima mau main air aja?”

[Silakan baca: Sirkus Waterplay - Bermaisn Air Saat Hujan Pun Tetap Asyik!]

Chi gak jawab. Hanya melirik penuh arti. Nai pun tertawa kecil karena dia tau artinya.

Beberapa waktu lalu, Chi pernah mengajak Nai untuk rutin berenang lagi seminggu sekali. Pertimbangan utamanya karena Nai mau ujian akhir. Dan salah satu ujian praktek untuk pelajaran olahraga adalah berenang.

Di sekolah Nai gak ada kegiatan berenang. Makanya harus belajar sendiri. Keke dan Nai pernah kursus berenang seminggu sekali. Tetapi udah lama berhenti karena mereka sempat bosan. Setelah itu, mereka udah gak rutin berenang lagi. Hanya sesekali aja kalau lagi ingin.

[Silakan baca: Berenang di Kolam Cendol]

Makanya Chi mau rutin berenang lagi. Supaya Nai juga latihan berenang lagi meskipun gak ikut kursus. Kali ini latihan berenang sama bundanya aja.

Dulu mereka kursus berenang di kolam renang dekat rumah. Kolamnya bersih, nyaman, dan makanan di restonya enak hehehe. Enaknya berenang di hari kerja karena sepi, kecuali menjelang sore hingga malam. Banyak warga komplek di sana berenang dan nge-gym sepulang kerja.

[Silakan baca: Berenang, Yuk!]

Di sana ada kolam renang anak, tetapi seadanya. Makanya Chi suka bilang ke mereka kalau cuma ingin main air mendingan langsung ke waterpark aja. Puas bermain air dan seseruan seharian kalau di waterpark.


Bunda, Ke Waterbom PIK Lagi, Yuk!


Salah satu waterpark yang seru adalah Waterbom di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK). Lmayan jauh dari rumah, tapi kami puas bermain seharian di sana. Paling senang main wave pool. Kami bolak-balik ke sana. Keke dan Nai juga suka main perahu di sana. Memang harus menyewa, tapi sepadan lah karena anak-anak senang.

[Silakan baca: Snow Bay]

Dari beberapa waterpark yang ada di Jakarta. Chi lupa kenapa saat itu memilih Waterbom PIK. Pastinya saat itu masih suasana hari raya dan kami kesana rame-rame bersama keluarga kakak ipar. Dan yang menyenangkan pas ke sana lagi ada diskon tiket masuk. Iyessss! Lumayan banget lho diskonnya.

Harga tiket masuk Waterbom PIK memang lumayan. Meskipun kalau kata Chi sepadan lah dengan berbagai wahana air yang ada di sana. Tapi kan tetep ya kalau harga tiketnya dikali 4 jumlahnya jadi banyak. Makanya Chi suka cari info tentang voucher diskon promo waterbom PIK.

Tanya ke Nai, ah. Mau gak ya jalan-jalan ke Waterbom PIK lagi. Etapi kayaknya dia gak usah ditanya. Langsung dikasih tau aja udah pasti bakalan senang banget. Waktu itu aja di senang banget. Main waterpark memang gak akan ngebosenin.

[Silakan baca: Waterboom Lippo Cikarang dan Astro Boy]

Continue Reading
8 comments
Share:

Monday, October 16, 2017

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan

Chi lupa kenapa ada gambar patah hati di sini 😂


Ketemu foto lama (lagi). Foto tentang kegiatan belajar di rumah. Dan ini adalah tulisan tangan Nai ketika belajar angka dengan bahasa Inggris. Kalau lihat tanggal yang tertulis di white board (5 Januari 2013) berarti usia Nai saat itu kurang lebih 6,5 tahun. Udah di kelas 1 SD.

Setiap tulisan tangan yang dibuat, cukup bisa terbaca apakah dia percaya diri atau tidak dengan jawabannya. Tidak hanya saat belajar angka, ya. Tapi belajar apapun yang mengharuskan menulis.

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Walaupun tulisannya kecil-kecil, tetep dong dikasih emoticon ma dia 😁

Coba teman-teman bandingkan foto yang pertama dan kedua. Foto yang kedua tulisannya lebih kecil, kan? Kalau tulisannya kecil seperti itu, bahkan kadang sangat kecil, itu artinya dia sedang tidak yakin dengan jawabannya. Meskipun ekspresi wajahnya kelihatan santai aja.

Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Meskipun masih salah, tetapi kalau dilihat dari ukuran tulisan kelihatan kalau Nai mulai percaya diri dan yakin jawabannya benar
Mengevaluasi Rasa Percaya Diri Anak Melalui Tulisan Tangan
Udah gede banget nih rasa percaya dirinya. Terlihat dari ukuran tulisannya hehehe

Nah, coba bandingkan foto yang terakhir ini. Gede banget kan tulisannya? Ini artinya Nai udah kepedean. Pokoknya dia udah sangat yakin jawabannya itu benar 😂

Hmmm ... Sekarang Chi lagi coba mengingat Keke kecil. Seperti apa ya Chi dulu mengevaluasi rasa percaya diri Keke. Pastinya bukan dari tulisan tangan karena Keke gak suka menulis 😄


Proses evaluasi ini tentu gak instan. Awalnya Chi merasa aneh dulu, kok ukuran tulisan Nai bisa beda-beda. Setelah Chi amati sepertinya ini berkaitan dengan rasa percaya dirinya pada saat itu.

Nai ini anaknya terlihat cuek. Kalau teman-teman suka baca bagian celoteh anak atau berteman dengan Chi di FB, mungkin akan terlihat bagaimana polosnya Nai ketika berceloteh. Ceplas-ceplos gitu.

Tapi dibalik sikapnya yang kelihatan easy going, Nai termasuk yang tertutup urusan perasaan. Makanya untuk tau perasaan dia sebenarnya, seringkali Chi harus 'membaca' bahasa tubuhnya. Atau melalui tulisan tangan seperti ini,

Kalau teman-teman bagaimana cara mengevaluasi tulisan tangan anak?

Continue Reading
24 comments
Share:

Sunday, October 8, 2017

Rebutan Bumbu Dapur

Sumber foto: Pixabay


Postingan ini adalah kumpulan celoteh Keke dan Nai yang pernah Chi tulis di FB

September 28, 2014



Belajar PPKn

Bunda: "Tujuan Belanda pertama kali datang ke Indonesia untuk ...?"
Nai: "Rebutan bumbu dapur?"
Bunda: "Hahahhaa ...! Bukan, Dek! Tapi untuk mencari rempah-rempah."
Nai: "Rempah-rempah itu bumbu dapur, kan?Trus gara-gara rempah-rempah akhirnya perang. Berarti sama aja artinya rebutan bumbu dapur."

*Langsung pingsan, dikasih tau ngeyel 😂

September 4, 2014



Sunlight

Nai: "Bunda, menurut buku, to grow well plant need sunlight. Apa itu artinya seminggu sekali kita harus nyiram tanaman pakai sabun pencuci piring?"
Bunda: "Bukan itu artinya, Deeekk ...!" 😅

August 30, 2016



Mimpi

Bunda: "Nai ayo belajar."
Nai: "Ima ngantuk, Bun." *Pura-pura menguap*
Bunda: "Ada PR. Ayo kerjain dulu baru tidur."
Nai: "Biarin Ima tidur dulu, Bun. Kali aja nanti mimpi ngerjain PR. Trus bunda tersenyum karena PRnya udah selesai."

August 23, 2016



Odol Habis


Nai: "Bundaaa, odol di kamar mandi habis. Ima gak usah sekolah, ya."
Bunda: "Ada, kok."

*Ambil odol dari kotak penyimpanan

Nai: "Yah, Bunda pakai nyetok segala."

😂

August 12, 2016



Flash Disk


Keke: "Bunda untuk pelajaran komputer katanya wajib bawa flash disk."
Bunda: "Ah, macem-macem aja mintanya. Hari gini, flash disk cari di mana coba!"
Keke: "Ya di toko lah, Bun."
Bunda: "Tapi apa masih ada yang jual flash disk?"
Keke: "......." *melongo yang yang bingung*

Gak lama kemudian ...

Bunda: "Oh, flash disk, ya? Di otak Bunda yang kebayang tuh disket hihihi."
Keke: "Hahahaha! Bunda ... Bunda ... Di sekolah juga komputernya udah gak ada yang pakai disket. Jadul banget."

*Otak Bunda perlu diupgrade kayaknya hehehe.*

Continue Reading
No comments
Share:

Tuesday, October 3, 2017

Membuat Cerita Berangkai

Membuat Cerita Berangkai

Membuat Cerita Berangkai



Sedang melihat foto lama dan Chi menemukan foto ini. Dulu Chi sering banget bikin kegiatan membuat cerita berangkai kayak begini terutama sama Nai.

Biasanya kami paling sering bermain di parkiran sekolah. Saat Keke dan Nai waktu pulangnya belum bersamaan. Mau pulang ke rumah dulu nanggung banget. Selisihnya cuma 1 jam. Paling sampe rumah cuma minum doang abis itu jalan lagi. Jadi mendingan nunggu di parkiran karena kalau nunggu di kantin sekolah pasti banyak jajannya 😂

Kalau di parkiran, biasanya Chi tidur dan Nai menggambar. Atau ngobrol sambil main cerita berangkai. Tapi kayaknya paling sering tidur 😜

Cara bermainnya mudah. Salah satu dari kami akan melempar satu kata terlebih dahulu, kemudian secara bergantian kami saling merangkai kata. Contohnya seperti ini

Bunda: "Tita ..."
Nai: "Pergi ..."
Bunda: "Ke ..."
Nai: "Pasar ..."
Bunda: "Untuk ..."
Nai: "Membeli ..."
Bunda: "Baju ..."
Nai: "Tetapi ..."

Pokoknya begitu terus, sambung-menyambung sepanjang mungkin. Gak harus pakai kata baku yang penting jangan kasar. Gak perlu juga harus bikin cerita sesuai realita. Bebaskan aja imajinasinya. Apalagi yang namanya anak-anak imajinasinya lagi liar bebas merdeka seluas-luasnya.

Permainan akan berhenti setelah salah satu dari kami mentok untuk meneruskan atau lama kelamaan ceritanya jadi makin lucu dan kami tertawa bersama. Kalau udah gitu biasanya kami bikin kalimat baru. Kegiatan seperti ini bener-bener killing time, lho. Gak bosen menunggu di parkiran, tau-tau Keke udah keluar kelas.

Kalau foto di atas, itu kegiatan di rumah. Cara bermainnya sama aja seperti merangkai kata saat di parkiran. Hanya saja masing-masing membuat beberapa kata sekaligus dan tetap dilakukan secara bergantian. Untuk aktivitas yang di rumah ini tentunya menunggu anak sudah bisa meuliskan beberapa kata sederhana dulu. Kalau belum bisa menulis, sebaiknya bikin cerita berangkai seperti yang kami lakukan di parkiran aja.

Pengembangan lainnya bisa dilakukan dengan membuat masing-masing 1 paragraf secara bergantian. Salah satunya kayaknya pernah Chi tulis di sini. Tapi udah dicari belum ketemu juga. Nanti deh kalau ketemu Chi share lagi ceritanya.

Kegiatan seperti ini juga termasuk belajar tapi dengan cara yang asik. Anak gak sadar kalau mereka sebetulnya sedang belajar. Mereka merasanya seperti bermain. Chi pun gak harus ngomel karena mereka melakukannya dengan senang hati. Sambil bermain, Chi juga melakukan evaluasi. Minim bahkan zero stress lah kalau belajar kayak gini.

Ketika membuat cerita berangkai, Chi jadi tau seberapa banyak koleksi kosa kata anak-anak dan juga sejauh apa imajinasi mereka. Begitupun ketika dibuat dalam tulisan, secara gak sadar mereka juga sedang belajar menulis. Chi jadi tau udah serapi apa tulisan mereka dan apakah sudah benar tulisannya.

Saat diminta membuat cerita 1 paragraf, Chi juga menilai kalau Nai senang dengan cerita yang 'manis'. Seperti tentang anak yang masuk ke dunia permen, es krim, dan yang serba manis lainnya. Sedangkan Keke dengan dunia gamenya. Serunya mereka bisa menggabungkan 1 tokoh anak dalam cerita tersebut ke dalam 1 cerita.

Kalau sedang bermain seperti ini, sebaiknya jangan terlalu cepat untuk melakukan kritikan atau bersikap menggurui. Contohnya seperti foto di atas. Nai menulis 'stobere' yang sebetulnya maksudnya strawberry. Biarkan aja seperti itu untuk sementara. Mereka merasa sedang bermain, nanti kalau dikritik malah jadi bad mood. Semangat bermainnya menurun.

Ya Chi coba balikin aja ke diri sendiri. Kalau lagi asik bersenang-senang trus ada yang mengkritik pasti mood suka jadi berubah. Bukan berarti gak mau terima kritikan, lho. Tapi tempatkan di waktu yang tepat.

Makanya Chi memilih untuk menunggu sejenak. Kritikan atau perbaikan bisa dilakukan ketika sedang belajar. Atau di waktu lainnya yang memang sudah dirasa tepat.

Ah, jadi kangen masa-masa mereka masih anak-anak 😘

Continue Reading
24 comments
Share:

Friday, September 29, 2017

Terapi Air Alkali, Pristine 8+ untuk Kesehatan Lambung

Terapi Air Alkali, Pristine +, Untuk Kesehatan Lambung

Terapi Air Alkali, Pristine 8+ untuk Kesehatan Lambung



Keringat dingin mulai terasa lagi. Beberapa kali Chi meringis di sepanjang perjalanan ketika perut mulai protes. Rasa diaduk-aduk sehingga menimbulkan mual dan terkadang sedikit mulas. Bener-bener cukup terasa menyiksa. Rasanya ingin cepat sampai rumah.

Selesai press conference (28/9) tentang produk air alkali Pristine 8+ di Jco Gandaria City, para blogger dan awak media dipersilakan menyantap hidangan yang sudah disediakan. Deretan donut itu terlihat menggiurkan. Begitu juga dengan minumannya. Tapi Chi sempat ragu untuk menyantapnya.

Tentu saja bukan donut dan minumannya yang salah karena Chi tau persis rasanya pasti enak. Tapi sudah lebih dari sebulan ini lambung Chi memang bermasalah. Menyantap makanan hanya 3-4 suap saja sudah bikin perut terasa sangat mual dan kembung. Kadang juga ada sakit di ulu hati. Bahkan timbul mulas juga. Minum pun reaksinya akan sama. Padahal hanya minum sedikit. K'Aie udah beberapa kali ajak ke dokter, tapi Chi masih agak takut.

Mengingat sudah jam makan siang, Chi tetap harus makan karena perut kosong pun akan membuat masalah baru. Sengaja Chi ambil donat yang paling kecil dan hanya minum beberapa teguk saja. Setelah itu langsung memutuskan untuk pulang. Selain khawatir dengan reaksi di perut juga karena masih harus jemput Nai juga di sekolah.


Sebelum pulang, Chi menyempatkan untuk membeli 2 pack Pristine 8+ dulu. Teringat kata-kata mr. Kei Sinohara - Director PT Super Wahana Tehno bahwa di Jepang sudah ada penelitian bila mengalami masalah dengan perut kemudian mengkonsumsi air dengan pH 9,5 selama 2 minggu, maka kondisinya akan membaik.

Sebetulnya Chi pun udah tau dan pernah merasakan manfaat ini. Jadi ingat saat hari pertama lebaran lalu, Keke terkena demam karena terlambat makan. Keke memang gak boleh terlambat makan, terutama untuk sarapan dan makan malam. Akibatnya dia bisa masuk angin dan demam. Tapi karena tahun lalu Keke sempat terkena typus lumayan lama, bikin Chi rada trauma juga kalau dia udah kena demam.

Terapi Air Alkali, Pristine +, Untuk Kesehatan Lambung 
Selama di mudik lebaran, stok Pristine terus buat kesehatan Keke


Trus, K'Aie pun mulai kasih Pristine. Selama sakit, Keke wajib minum Pristine. Kata K'Aie, Pristine bagus buat perut karena pH nya tinggi. Ketika gantian Chi yang sakit karena kecapean, K'Aie pun tetap menyuruh minum Pristine. Chi waktu itu nurut aja walaupun belum terlalu paham juga. Pokoknya yang penting cepat sembuh. Makanya waktu mr. Kei bilang kalau Pristine bagus untuk perut, Chi langsung berasa diingetin lagi.

Sesampainya di rumah, Chi langsung minum sebotol Pristine berukuran 400 ml. Segarnyaaaa ...  Malam harinya Chi cerita K'Aie tentang khasiat air alkali ini.

K'Aie: "Masih mual gak, Bun?"
Chi: "Tadi sih begitu sampai rumah Bunda mulai minum Pristine. Belum ada mual lagi sampai malam ini."
K'Aie: "Ya mungkin selama ini asam lambung naik. Terusin aja dulu minum Pristine sampai enakan perutnya."
Chi: "Iya."

[Silakan baca: Bunda Gak Boleh Sakit]



Alasan Memilih Pristine 8+


Kalau begitu, apa harus menunggu sakit dulu baru minum air alkali? Ya enggak gitu juga, sih. Air alkali itu bagus untuk tubuh. Gak masalah juga bila dikonsumsi setiap hari. Nah, khusus untuk Pristine 8+, di bawah ini ada beberapa alasan kenapa Chi suka denegan produk ini


Kemasan yang Menarik

Terapi Air Alkali, Pristine +, Untuk Kesehatan Lambung

Pertama kali Chi mengenal Pristine 8+ ini sekitar bulan Juni 2015. Berarti udah 2 tahun lebih. Chi masih inget banget karena waktu itu lagi ada acara di salah satu mall dan kehausan. Karena lupa bawa botol minum, Chi beli air mineral di salah satu resto. Nah untuk air mineral, restonya hanya menjual Pristine.

Dengan warna hijau tosca yang cantik, botolnya langsing, dan nyaman untuk digenggam. Disimpan di tas juga gak makan banyak tempat. Sejak itu Chi sering pilih Pristine kalau lagi lupa bawa botol minum.



Rasanya Segar

Air alkali Pristine berasal dari mata air terbaik yang berlokasi di gunung Gede Pangrango. Tampilannya memang seperti air minum pada umumnya, tetapi kalau teman-teman cobain rasanya lebih segar. Kalau cuaca lagi terik kan pengennya minum air dikasih es biar rasanya lebih segar. Tapi Pristine udah gak perlu dikasih es, langsung minum aja memang udah berasa lebih segar.


Mampu untuk Detoks

Terapi Air Alkali, Pristine +, Untuk Kesehatan Lambung

Terapi Air Alkali, Pristine 8+ untuk Kesehatan Lambung



Sebagian besar kandungan dalam tubuh manusia adalah air yang tersebar di berbagai bagian mulai dari kulit hingga organ tubuh. Air memiliki peran penting dalam tubuh manusia. Bahkan manusia bisa tahan berhari-hari tanpa makan daripada tanpa minum. Bila tubuh sampai kekurangan cairan atau dehidrasi bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyakit.

Aktivitas yang padat seringkali buat kita mengabaikan pola makan sehat. Ditambah lagi dengan berbagai macam polusi. Bikin tubuh gampang sakit. Makanya tubuh kita juga perlu didetoks untuk mengeluarkan berbagai racun yang bisa merusak sel-sel dalam tubuh.

Ya inilah yang membedakan Pristine 8+ dengan air mineral lainnya. Kandungan pH pada Pristine yang lebih dari 8 (8,3 -8,5) tidak hanya menghindarkan dari dehidrasi bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup tetapi kandungan pH nya yang tinggi ini bisa berfungsi untuk detoksifikasi. Kelebihan lain dari pH yang tinggi ini adalah bisa membuat awet muda


Teknologi Nihon Trim Jepang

Air minum kemasan pada umumnya setelah dari mata air dilakukan proses filterisasi setelah itu filling (dimasukkan ke dalam botol). Tetapi untuk Pristine 8+ setelah proses filter, selanjutnya adalah ditrim. Seluruh kandungan asam dikeluarkan sehingga hanya basa. Proses ionisasi ini menggunakan teknologi Nihon Trim Jepang yang sudah ada sejak tahun 1982. Terakhir barulah difilling.

Tidak semua sumber air bisa diubah jadi air alkali. Perlu dilihat dulu kualitasnya. Itulah kenapa Pristine 8+ menggunakan mata air gunung Gede Pangrango. Mata air ini tidak hanya segar dan alami tetapi juga bisa diubah menjadi air alkali.


Mudah Didapat

Saat Keke sakit, kami tidak kesulitan mendapatkan Pristine 8+ dalam jumlah banyak. Dengan mudah air mineral ini bisa didapatkan di berbagai minimarket. Tidak hanya kemasan 400 ml, Pristine 8+ juga tersedia dalam kemasan botol berukuran besar hingga galon. Teman-teman juga bisa berlanggan bila ingin minum secara rutin.

Saat press conference, mr Kei melakukan beberapa peragaan. Pertama, membuktikan kalau Pristine benar-benar memiliki pH 8+. Peragaan kedua dengan membandingkan air biasa dan Pristine bila dicampur teh. Hasilnya teh yang dicampur Pristine lebih cepat berproses dan warnanya lebih pekat. Peragaan berikutnya adalah mencampur dengan Betadine. Bila menggunakan air biasa, warna air akan berubah jadi coklat. Sedangkan bila menggunakan air alkali, warna air akan tetap bening.

Peragaan selengkapnya, silakan teman-teman lihat video di bawah ini, ya.



Chi lagi rutin lagi minum Pristine, nih. Alhamdulillah dari kemarin belum ada mual lagi. Perut terasa lebih nyaman. Sehat-sehat selalu untuk semua, ya 😊 

Continue Reading
68 comments
Share:

Wednesday, September 27, 2017

Nai dan Pesantren Kilat di Jambuluwuk Puncak Resort

Nai dan Pesantren Kilat di Jambuluwuk Puncak Resort

Nai dan Pesantren Kilat di Jambuluwuk Puncak Resort 



Ini cerita waktu Nai kelas 5. Setiap bulan Ramadhan suka ada acara buka puasa bersama untuk setiap angkatan. Tetapi khusus anak kelas 5 wajib ikut pesantren kilat selama 3 hari 2 malam. Kalau waktu Keke kelas 5 pesantren kilatnya di hotel Bukit Indah Puncak. Sedangkan untuk angkatan Nai diadakan di Jambuluwuk Puncak Resort.

Berbeda dengan Keke, Nai paling gak mau bepergian tanpa bunda. Kalau hanya field trip sehari aja sih dia masih semangat banget. Tapi kalau harus menginap, nangisnya bisa berhari-hari. Udah gitu nangisnya bukan yang meraung-raung tapi yang diem trus mengeluarkan air mata. Terlihat banyak murungnya gitu.

Tips 1: Chi coba tanya pelan-pelan ke Nai alasan kenapa gak mau jauh dari bunda. Seringkali dia jawabnya, "Gak mau aja." Gak apa-apa juga kalau begitu jawabannya. Pokoknya tarik ulur aja. Sesekali juga tegasin kalau dia harus ikut pesantren karena memang kewajiban dari sekolah.

[Silakan baca: Pesantren Kilat Koper vs Ransel 2]

Kalau kayak gitu, Chi sih pengennya Nai gak usah ikut aja. Tapi ini kegiatan wajib. Bila kelas 5 berhalangan maka saat kelas 6 harus ikutan kalau mau ijazah sekolah keluar. Malah lebih gak enak lagi kan kalau ikut di kelas 6 karena harus bergabung dengan adik kelas.

K'Aie sempat gak tega dan udah siap untuk cuti serta booking villa di Jambuluwuk supaya kami bisa menemani Nai. Chi juga pengennya begitu tapi nanti gak adil untuk Keke. Kalau ada kegiatan sekolah, Keke gak pernah ditemani kecuali memang ada undangan untuk orang tua. Lagipula kalaupun kami ikut menginap di sana juga gak akan boleh mendekati area pesantren. Jadi percuma aja, kan?

Tips 2: Ceritakan juga berbagai hal menyenangkan saat pesantren. Nai sempat ceria ketika dikasih tau bakal ada apa aja saat di pesantren nanti.

Tanpa diduga, sehari menjelang keberangkatan Nai jadi semangat dan ceria. Bahkan seperti biasa, dia mempersiapkan segala kebutuhannya sendiri. Chi hanya tinggal cek dan ricek aja. Tapi begitu saatnya tidur, Nai kembali gelisah dan menangis. Katanya dia takut gak bisa tidur kalau jauh dari bunda. Duh!

Pagi harinya dia kembali ceria bahkan langsung bergabung dengan teman-temannya. Chi dicuekin meskipun gak boleh pulang dulu kalau dia belu naik bis 😂 Untuk barang bawaan, Nai sama aja kayak Keke setiap kali ada acara menginap. Cuma bawa 1 ransel saja. Pokoknya beda banget dibandingkan kebanyakan teman-temannya yang bawa koper besar bahkan beberapa anak lebih dari 1 tas.

Sebelum pulang, Chi titip pesan dulu ke wali kelas. Chi juga ceritain tentang kesedihan Nai. Ya kali aja nanti di sana Nai murung lagi. Walasnya agak kaget karena kalau di sekolah Nai termasuk anak yang mandiri. Ternyata kalau malam hari belum bisa jauh dari bunda.

Tips 3: Ketika orang tua dilarang ikut, wali kelas seharusnya menjadi perwakilan orang tua. Alhamdulillah, guru-guru anak-anak saat SD termasuk yang baik-baik. Chi selalu tenang kalau anak-anak sedang field trip atau menginap untuk acara sekolah meskipun tidak ditemani orang tua.

Besoknya wali kelas Nai nge-WA untuk minta maaf. Katanya semalam Nai menangis gak bisa tidur. Trus dia ditemani temannya tturun ke bawah untuk mengetuk pintu kamar wali kelas. Tapi gak dibuka pintunya karena walas udah terlanjur pulas. Akhirnya Nai masuk lagi ke kamar hingga dia tertidur.

Wali kelas minta maaf karena gak terbangun saat Nai mengetuk pintu. Chi bilang gak apa-apa asalkan Nai udah kembali ceria. Kalau kata walasnya sih udah ceria lagi pas bangun. Dan Nai dijanjiin bakal dibolehin telpon ke bunda saat sore hari.

Sore harinya, Nai telpon. Udah diduga deh dia menangis ketika ngobrol. Chi juga jadi ikutan nangis. Nai gak minta pulang, nangisnya juga gak jejertitan cuma suaranya aja yang terdengar seperti menangis.

Setelah ngobrol sama Nai, lanjut ngobrol sama walas. Menurutnya, Nai sebetulnya cukup mandiri. Termasuk kalau mau mandi atau sekadar ke toilet gak pernah minta ditemani. Cuma saat malam hari aja ada kejadian Nai menangis karena ingat bunda.

Chi berusaha untuk gak mengingat Nai selama di sana. Ya kan katanya bonding antara ibu dan anak itu kuat. Kalau ibu gelisah, anak juga jadi gelisah. Makanya Chi tetap berusaha untuk tidur selama Nai di sana.

[Silakan baca: Pesantren Kilat Koper vs Ransel 1]

Hari ketiga pun tiba, Chi seneng banget bisa ketemu Nai lagi. Nai walaupun terlihat letih juga sangat senang. Di mobil dia cerita ngapain aja selama di sana. Intinya sih semua kegiatannya menyenangkan. Kalau lihat dari foto-foto yang dikirim walas pun Nai terlihat ceria.

Bunda: "Malam kedua adek masih gak bisa tidur?"
Nai: "Enggak, Ima bisa tidur."
Bunda: "Tapi nangis dulu."
Nai: "Enggak juga. Kan malam kedua dibebasin mau tidur sama siapa aja asalkan dari villa yang sama. Trus Ima pilih sekamar sama temen tapi ngobrol dulu sampe ngantuk. Akhirnya tidur, deh. Tapi jadi malam banget tidurnya karena ngobrol."
Bunda: "Nah, Ayah dan Bund ajuga bilang begitu, kan?"
Nai: "Iya hehehe."

Tips 4: Kami tidak memaksakan Nai untuk berani ketika dia bilang khawatir gak bisa tidur kalau jauh dari bunda. Kami menawarkan solusi. Kami bilang ke Nai supaya ngobrol atau cari kegiatan apapun sampai ngantuk biar gak keingetan bunda terus. Awalnya Nai gak yakin bisa tapi akhirnya dia mencoba juga.

Yah begitulah cerita Nai saat pesantren kilat. Tiap anak memang punya cerita masing-masing. Anatara Keke dan Nai aja ceritanya berbeda 😁

[Silakan baca: Pesantren Kilat Antara Terharu dan Cerita Lainnya]

Continue Reading
8 comments
Share:

Monday, September 18, 2017

Transpulmin, Sehangat Pelukan Ibu

Transpulmin, Sehangat Pelukan Ibu



Ngiiik ... Ngiiik ...

K'Aie: "Bun, denger gak ada yang aneh sama napas Nai?"
Chi: "Aneh gimana? Enggak, ah."
K'Aie: "Coba diem deh sebentar. Trus dengerin napasnya."

Ngiiik ... Ngiiik ... Kembali suara 'ngik' yang halus.

Chi: "Iya, sih. Kayak ada suara 'ngik' gitu. Tapi emang aneh, ya? Bukannya begitu kalau lagi pilek?"
K'Aie: "Enggak, ah. Kayaknya Keke kalau lagi pilek gak begitu napasnya. Jangan-jangan asma nih, Bun."
Chi: "Ah, masa? Anaknya lincah gitu, kok. Gak mungkin, ah!"

Chi coba menepis pendapat K'Aie. Dalam pikiran Chi saat itu, orang yang terkena asma kayaknya bakal berat banget napasnya sampai mau ngapain juga susah. Ya mungkin karena terpengaruh iklan atau tontonan lain yang ada adegan sakit asma, ya.

Tapi, Chi lihat Nai masih lincah aja meskipun sedang pilek. Memang sih terdengar suara 'ngik' tapi Chi masih berusaha gak menganggap itu asma. Ya mungkin ini penyangkalan Chi juga karena gak ingin jadi sedih. Ibu mana sih yang gak sedih kalau anaknya sakit?

[Silakan baca: Oksitosin si Hormon Cinta]


Biasanya kalau sekadar influenza, kami gak pernah bawa anak ke dokter. Apalagi selama anaknya masih aktif dan ceria. Ini juga atas saran dokter anak yang biasa menangani anak-anak kami. Katanya jangan terlalu mudah membawa anak ke dokter. *Ketika baru punya 1 anak dan saat itu Keke masih bayi, Chi pernah ditegur dokter karena anak sakit sedikit langsung dibawa ke dokter.

Influenza (batuk, pilek, demam, hidung tersumbat, dan sebagainya) adalah hal yang biasa dialami bayi dan anak di bawah 2 tahun. Daya tahan tubuhnya kan belum sekuat anak di atas 2 tahun. Begitu penjelasan dokter anak kami. Sehingga kami pun belajar untuk tidak mudah panik ketika anak terkena influenza.

Ada beberapa langkah yang kami lakukan saat anak-anak terkena influenza, yaitu:

  1. Pastikan asupan cairan cukup. Kalau masih bayi, tentu saja harus memastikan asupan ASI cukup. 
  2. Berjemur pada saat pagi hari. Sinar matahari pagi tidak hanya untuk kesehatan kulit dan menguatkan tulang, tapi juga bagus untuk anak yang sedang terkena influenza
  3. Bersihkan lubang hidung dari cairan yang mengeras. Ketika masih bayi, tentunya mereka tidak bisa membersihkan hidung sendiri. Dan kalau sudah mampat, bikin anak-anak rewel. Biasanya, Chi bersihkan dengan kapas yang sudah dikasih air hangat. Ini juga atas saran dokter kami yang melarang diberikan obat apapun ke hidung anak-anak.

Tentunya Chi masih sangat berharap dugaan K'Aie salah. Tapi karena K'Aie juga punya tante yang mengidap asma, pastinya dia lebih mengerti ciri-ciri asma yang sedang kambuh daripada Chi. Akhirnya Chi pun setuju membawa Nai ke dokter tapi langsung ke spesialis asma anak.

 
Waktu itu, Nai tidak ada gejala yang harus diwaspadai seperti ini. Tetapi karena curiga dengan bunyi napasnya yang tidak biasa saat influenza, makanya kami memutuskan untuk ke dokter


Bener aja dugaan K'Aie kalau Nai terkena asma. Deretan panjang pantangan untuk Nai diberikan. Duh, mana banyak makanan kesukaan Nai yang harus dipantang. Bakal ribet nih urusannya. Nai pasti akan bertanya-tanya kenapa gak boleh lagi makan ini atau itu. Obat tentu saja diberikan. Dan dalam jangka waktu seminggu, kami diminta untuk kembali lagi.

Seminggu kemudian, kami kembali. Tetapi dokternya sedang ke luar kota. Kami diminta kembali 1 minggu lagi. Saat itu juga kami langsung memutuskan untuk konsultasi ke dokter anak yang biasa menangani kesehatan Keke dan Nai sejak mereka bayi.

Dokter anak langganan kami pun juga mengatakan kalau Nai terkena asma. Tapi kami tidak langsung diberikan banyak pantangan. Menurutnya pemicu asma bagi setiap penderita bisa berbeda-beda. Kami dipersilakan mencari tau sendiri. Bila belum ketemu juga, bisa dilakukan tes alergi.

 
Bersepeda menjadi salah satu aktivitas favorit Nai setiap hari
  
Nai juga suka sekali berenang
  
Keke dan Nai juga suka mandi hujan kalau lagi sehat. Tetapi bila usai mandi hujan terkena influenza, gak usah panik. Salah satu caranya adalah mengoleskan beberapa bagian tubuh mereka dengan Transpulmin
 
Sudah sekitar 2,5 tahun ini Nai ikut taekwondo. Kami mewajibkan Keke dan Nai ikut olahraga ini *Ini difoto untuk buku tahunan, makanya pakai kaos kaki. Kalau latihan beneran sih gak pakai alas kaki sama sekali.


Dokter juga mengatakan selama asma bisa dikelola dengan baik, biasanya tidak kambuh. Jadi gak usah khawatir atau terlalu membatasi aktivitas. Anak yang memiliki riwayat asma tetap bisa beraktivitas normal. Saran yang bikin kami lega. Apalagi waktu itu Chi membayangkan anak yang terkena asma gak boleh cape. Khawatir napasnya tersengal-sengal trus kambuh. Eh, ternyata sama dokter tetap bisa beraktivitas normal.

Karena saat itu asma Nai sedang kambuh, dokter menyarankan untuk diterapi nebulizer selama 4x berturut-turut. Jadi selama 4 hari itu kami bolak-balik ke rumah sakit. Setiap kali selesai diterapi, bagian leher, punggung, dan dada Nai selalu dikasih Transpulmin oleh terapisnya sambil diberi sedikit pijatan ringan.

Ya, sejak itulah kami mulai mengenal Transpulmin. Nai terlihat nyaman setelah dikasih Transpulmin padahal kadang saat di terapi dia menangis. Sebetulnya diterapi nebulizer gak sakit, tapi Nai gak betah disuruh duduk manis selama beberapa saat. Padahal dia duduknya dipangku dan dipeluk sama Chi tapi tetep aja gak betah. Makanya suka nangis. Setelah dikasih Transpulmin baru deh dia tenang. Sepertinya Transpulmin memang bikin badannya menjadi hangat. Chi cium baunya pun enak. Perpaduan antara wangi kayu putih dan bunga chamomile.


Transpulmin BB


Pelukan ibu terhadap anak memiliki banyak sekali manfaat. Dari mulai memberikan rasa tenang dan nyaman. Mempererat bonding antara ibu dan anak. Hingga dianggap mampu membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik dan meningkatkan kecerdasan.

Pelukan yang dibutuhkan tentu bukan yang asal-asalan. Tetapi berikan pelukan hangat yang penuh kasih sayang. Pelukan hangat seorang ibu juga dianggap bisa menjadi obat alami bagi anak yang sedang sakit, lho.

Pelukan ibu memang bisa menentramkan dan membantu anak supaya lekas sembuh. Tetapi gak ada salahnya juga bila anak diberikan obat atau hal lainnya bila dirasa perlu. Tentu saja atas persetujuan dokter. Jangan kasih anak sembarang obat. Bahkan sekadar memberikan balsem pada anak yang terkena influenza pun Chi tunggu saran dari dokter dulu.

Meskipun saat influenza, Keke ataupun Nai cenderung tidak rewel dan tetap aktif tetapi ketika tidur terlihat agak gelisah. Ya itu karena pernapasannya terganggu. Biasanya Chi peluk mereka kalau sudah mulai gelisah. Cukup efektif menurunkan kegelisahan anak-anak karena mereka menjadi lebih hangat dalam pelukan.

 

Meskipun pelukan sudah membuat anak-anak bisa beristirahat lebih tenang saat influenza tetapi setelah mengenal Transpulmin BB, Chi mulai memberikannya terutama menjelang waktu tidur. Dioleskan sambil diberikan sedikit pijatan ke dada, punggung, dan leher. Transpulmin BB berbentuk cream yang mudah menyerap ke kulit, tidak lengket, dan tidak berminyak. Dalam sehari bisa digunakan sebanyak 2-4 kali. Transpulmin tidak hanya menghangat tubuh tetapi wanginya juga bikin rileks. Biasanya tidur Keke atau Nai menjadi semakin nyenyak setelah dioleskan Transpulmin.

Memang penting banget membuat anak-anak tetap tidur dengan nyenyak. Karena yang bikin mereka menjadi rewel saat influenza bukan hanya karena pernapasannya terganggu atau batuk yang terus-menerus. Tetapi kurang beristirahat bikin mereka menjadi lemas, padahal bayi atau anak-anak biasanya kan gak mau diam. Akhirnya mereka rewel. Mau main tapi ngantuk. Giliran tidur malah gak nyenyak. Chi pun ikutan menjadi kurang fit badannya kalau anak-anak rewel saat sakit.


Transpulmin Family Balsam


 

Setelah anak-anak berusia di atas 2 tahun, kami sudah tidak lagi menggunakan Transpulmin BB. Sekarang kami menggunakan Transpulmin family balsam. Selain berbeda di warna tube-nya (Transpulmin BB berwarna putih, sedangkan Transpulmin berwarna kuning), kandungannya juga sedikit berbeda. Pada Transpulmin BB tidak mengandung Champor dan Menthol agar tidak menyebabkan alergi. Sedangkan pada Transpulmin sudah mengandung Champor dan Menthol.


Yang juga Chi suka dari Transpulmin adalah begitu dibuka untuk pertama kalinya, isinya tidak langsung luber kemana-mana. Seringkali kalau ngebolongin salep, cream, atau apapun yang dikemas dalam tube suka langsung luber isinya. Bikin sebel jadinya karena jadi ada yang terbuang isinya. Nah, kalau Transpulmin tidak seperti itu.

Tidak hanya Keke dan Nai yang bisa memakai Transpulmin. Chi pun memakainya ketika sedang influenza. Ya karena Transpulmin kan balsam keluarga. Biasanya Chi oleh ke leher setelah itu ditutup dengan syal. Rasanya hangat sehingga mengurangi frekuensi batuk dan wanginya bikin rileks.

Sejak mengenal Transpulmin, balsam ini selalu jadi salah satu peroduk yang wajib ada di kotak obat. Selalu dibawa ke manapun termasuk saat liburan. Kan kita gak pernah tau ya kapan anak-anak terkena influenza. Apalagi anak-anak punya riwayat alergi. Keke meskipun gak asma tapi kalau alerginya kumat juga suka jadi pilek gitu. Jadi supaya mereka tetap nyaman beraktivitas dan bisa tidur dengan nyenyak saat influenza, maka balsam harus terus ada. Kualitas tidur anak yang kurang baik saat sakit tidak hanya membuat anak semakin rewel, tetapi ibu pun ikutan lemas karena kurang istirahat.

Nai saat caving di Goa Jomblang
  
Nah, kalau begini ketahuan kan anak-anak aktifnya menurun dari siapa? Bundanya cuma bagian motoin aja 😂 
 
Nai menikmati golden sunrise Sikunir setelah sehari sebelumnya menikmati indahnya puncak gunung Prau


[Silakan baca: Melihat Cahaya Surga di Goa Jomblang]

Benar apa yang dikatakan dokter anak-anak kami, bahwa tidak perlu khawatir kalau asma akan menghambat aktivitas. Yang penting dikelola dengan baik supaya jarang atau tidak kambuh lagi. Dan hingga saat ini pun asma Nai belum pernah kambuh. Paling sekadar influenza biasa. Tinggal banyakin asupan cairan dan oles Transpulmin di beberapa bagian tubuh, beres deh.

Sekarang udah gak panik dan khawatir lagi. Transpulmin pun siap sedia membantu memberikan kehangatan. Mudah pula mendapatkannya. Di apotik biasanya tersedia. Semoga sehat selalu, ya.

Continue Reading
24 comments
Share: