Rabu, 13 Januari 2021

Tentang Cerita Pandemi di Tahun 2020

Tentang Cerita Pandemi di Tahun 2020 - "Optimis banget sih menghadapi tahun 2021?"
 
Ada beberapa orang yang berkata kurang lebih seperti itu. Seketika Chi langsung mikir, 'apa iya begitu?'
 
tentang cerita pandemi di tahun 2020

Kalau dipikir lagi, kadang-kadang merasa down juga. Marah, sedih, galau, dan berbagai perasaan lainnya juga suka hadir. Sama halnya dengan perasaan gembira, bahagia, dan lain sebagainya.

Tentua aja kita harus berpikiran positif, tetapi gak boleh sampai berlebihan. Jatuhnya nanti toxic positivity. Berusaha sewajarnya aja merasakan semua emosi. Kalau pun tetap ada rasa optimis karena agar tetap ada semangat untuk hidup.

Baidewei, tahun 2020 itu kan katanya jumpalitan banget. Alhamdulillah tetap dapat merasakan hikmahnya. Apa aja sih hikmah di balik cerita pandemi?


Happy Time Bersama Keluarga


Ini udah Chi ceritain di postingan sebelumnya, ya. Di tahun 2020, kebersamaan dengan keluarga tuh melimpah. Memang gak selalu berjalan mulus. Tetap ada dramanya. 

Tetapi, Chi merasa kebersamaan keluarga ini sesuatu hal yang disyukuri banget. Jadi berasa semakin dekat bondingnya. Alhamdulillah.

[Silakan baca: 2020 Tahun Kebersamaan Keluarga]


Ujian Keimanan

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah : 155)

Di postingan sebelumnya, Chi cerita kalau tahun 2019 itu penuh cobaan sampai lelah lahir batin. Menjelang akhir tahun, mulai agak enak kondisinya. Makanya, Chi bertekad di tahun 2020 mau lebih banyak bersenang-senang.

Tetapi, begitu pandemi datang, amarah Chi jadi memuncak. Kok, kayaknya cobaan gak selesai-selesai? 2019 udah dibikin capek, tahun berikutnya datang pandemi. Adil gak sih ini?

Bener-bener marah di awal pandemi. Pandemi memang sangat menguji keimanan. Apakah kita akan tetap terus bersabar atau malah menjadi gak peduli?
 
Alhamdulillah gak berlarut-larut marah dan sedihnya. Ketika membaca Al-Quran, banyak ditemukan ayat-ayat yang menyejukkan. Terutama tentang sabar menghadapi ujian dan bersyukur. Ayat-ayat yang memang Chi butuhkan dalam kondisi terpuruk.

'Alhamdulillah tahun 2019 bisa dilalui dengan baik, begitu pun di tahun 2020.' Begitu lah yang tertanam di pikiran Chi. Bahwa sesulit apapun tetap bisa dilalui dengan baik. Tetap diberi kesehatan dan kebahagiaan bersama keluarga tercinta.

Itu lah alasan Chi tetap bisa optimis menjalani tahun ini. Bukan kah Allah SWT juga gak ingin hamba Nya berputus asa?

Gak berani juga mengklaim kalau sekarang Chi udah beriman banget. Tetapi, bersyukur dengan segala cobaan ini jadi bisa re-charge keimanan. Banyak hal yang sudah mulai kendor, coba dikencangkan lagi. Paling enggak, kalau lagi dikasih banyak cobaan jangan sampai juga malah nambah banyak dosa. Naudzubillah min dzalik.


Gak Merasa Sendiri


Di saat pandemi ini, bukan hanya Chi yang merasakan ujian. Rasanya hampir seluruh masyarakat dunia merasakan hal yang sama. Buat Chi merasa gak sendiri tuh pengaruh banget. Paling gak bisa memilih circle yang sama-sama menguatkan. Kalau yang masih cuek, mendingan dijauhkan aja, deh.


Mengelola Emosi dan Informasi


Di awal pandemi rasanya horror banget. Selain tidur gak nyenyak, memandang ke luar jendela aja kayaknya serem. Deg-degan aja gitu bawaannya. Meski pun ada rasa nyaman juga karena kami semua ngumpul di rumah.

Sempat kesal dengan Keke karena dia bersikeras ingin main. Untungnya setelah ngotot-ngototan, dia menurut untuk tetap di rumah aja. Lihat orang keluar rumah juga rasanya kesel banget. Pengennya semua diam aja gitu di rumah. Biar COVID-19 gak semakin mewabah.

Tetapi, lama-lama Chi belajar paham. Kita memang gak boleh mengabaikan pandemi. Tetapi, bersikap lebay juga jangan.

Belajar memahami jalan pikiran remaja tentang pandemi dengan cara berdiskusi. Karena yang pusing dengan kondisi begini gak hanya orang tua. Semua generasi bisa terkena imbasnya. Apalagi Gen Z itu sedang masa produktif. Pandemi membuat aktivitas mereka menjadi seperti terkekang. 
 

Ketika K'Aie harus ke kantor untuk pertama kalinya di masa pandemi, Chi rasanya kesel banget. Tetapi, kan memang gak semua kerjaan bisa dikerjakan dari rumah alias work from home.

Kebetulan di saat pandemi, kantornya juga pindah lokasi. Gak mungkin lah urusan pindahan dilakukan digital. Makanya K'Aie tetap harus ngantor untuk ngurusin pindahan. Bahkan ke luar kota juga.

Dari situ, kami belajar bagaimana bisa tetap beraktivitas yang aman di masa pandemi. Kami setuju kalau sebaiknya tetap di rumah aja. Tetapi, bila harus ke luar rumah, tentunya harus tau cara yang aman. Jangan malah bereuforia merasa bisa beraktivitas sebebas-bebasnya. 
 

Lagipula di rumah terus juga gak menjamin 100% aman. Kan kita gak tinggal dalam gelembung yang benar-benar terkunci dari siapa pun. Bisa aja tertular dari tamu, paketan, atau lain sebagainya. 

Jadi memang harus dipahami seperti apa cara hidup yang aman di saat pandemi. Kalau pun masih juga tertular, setidaknya kita sudah berikhtiar maksimal. Bukan karena mengabaikan segala protokol kesehatan.

Belajar memahami ini bagian dari mengontrol emosi dan informasi. Gak semua informasi ditelan mentah-mentah. Nanti malah kesel sendiri. Padahal menghadapi pandemi adalah sebuah perjalanan panjang. Harus dihemat-hemat energinya. Jangan sampai darting melulu bawaannya.
 
Hempaskan semua yang toxic, termasuk toxic positivity. Gak apa-apa kok bersedih. Semua rasa tetap harus punya ruang asalkan dikelola. Chi tau prosesnya gak mudah. Sampai sekarang pun masih harus banyak belajar.


Manusia Beradaptasi


"Jangan khawatir, Bun. Manusia bisa beradaptasi."

Chi tuh suka kasihan sama Keke dan Nai. Di saat mereka sedang aktif-aktifnya beraktivitas, tau-tau jadi serba terbatas. Padahal masa remaja kan biasanya juga lagi seru-serunya main sama teman. Eh, udah hampir setahun ini gak ketemuan sama sekali. Tetapi, justru Keke yang bilang supaya jangan khawatir karena manusia itu makhluk yang beradaptasi.

Benar juga apa yang dikatakan Keke. Awalnya memang kayak 'terpenjara'. Ya meskipun tetap lebih enak bersosialisasi langsung seperti saat normal. Tetapi, beradaptasi membuat di rumah aja tidak terasa terlalu jelek.

PJJ yang awalnya jungkir balik karena banyak drama. Terutama, dari guru-guru yang gaptek. Lama-kelamaan mulai lebih teratur. 
 

Di rumah aja juga bisa tetap hepi-hepi. Mereka yang kreatif mulai menemukan jalannya untuk tetap bisa berkreasi tanpa harus ambil risiko menambah jumlah pasien COVID-19.
 
Kangen banget kumpul dengan keluarga besar. Tetapi, tetap bahagia saat kopdar virtual. Generasi yang lebih tua belajar untuk gak gaptek. Seseruan di saat Lebaran hingga malam tahun baru bersama keluarga bisa tetap asik meskipun secara virtual.


Sortir Pertemanan 


Chi berusaha memahami tentang berbagai aktivitas yang tetap harus dilakukan saat pandemi. Gak mau langsung generalisir kalau semua itu salah. Tetapi, tetap aja ada yang termasuk Covidiot. Pandemi udah berjalan hampir setahun. Tetap aja ada yang gak peduli. Mengabaikan segala protokol kesehatan. Dikasih tau malah ngeyel.
 
Covidiot tuh ngeselin banget. Chi masih santuy kalau lihat ada pro kontra apa pun di dunia maya. Tetapi, kalau ada yang koar-koar gak percaya wabah corona, trus dia ke sana-sini dengan mengabaikan protokol kesehatan tuh rasanya ... eeerrrgghh!

Untungnya di keluarga gak ada yang begini. Kalau pun sempat ada sebar-sebar hoax, masih mau menerima bila ada yang meluruskan.

Di lingkungan pertemanan juga cuma segelintir yang begini. Langsung dijauhin aja, lah. Capek juga ngasih taunya. Mendingan kasih tau atau diskusi sama orang-orang yang sama-sama mau belajar. Biar hati juga lebih adem hehehe.


Aktivitas Menyenangkan Menjadi Self Healing


Siapa yang jadi hobi bercocok tanam sejak pandemi? Udah berapa gelas dalgona yang dibikin? Naik sepedanya udah ke mana aja?

Kalau Chi gak pernah bercocok tanam. Berasa punya 'tangan panas'. Gak telaten juga sama tanaman.

Cuma sekali doang bikin dalgona karena ngeri sama komposisinya. Sepedaan juga gak Chi lakukan karena memang takut hahaha.

Ketiga aktivitas di atas memang termasuk yang booming di saat pandemi. Tetapi, kalau kita cocok dengan ketiganya ya gak usah diikutin. Pokoknya yang penting tetap cari aktivitas yang menyenangkan bagi diri sendiri. Biar gak keingetan pandemi melulu.


Pentingnya Kesehatan


Adanya pandemi semakin menyadarkan pentingnya arti sehat. Sekarang pilek dikit aja bikin deg-degan. Jadi agak parno gitu.
 
Berasa penting deh untuk selalu menjaga iman dan imun. Insya Allah akan aman.
 
Salah satunya caranya dengan mengikuti berbagai artikel kesehatan. Tetapi, jangan ditelan mentah-mentah juga semua berita. Apalagi di saat pandemi begini tuh banyak banget bersliweran berita. Duh, harus semakin disaring, deh. Jangan malah nantinya membahayakan kesehatan diri sendiri dan keluarga.

 

Langit yang Biru

 
Setidaknya untuk 3 bulan pertama pandemi, pernah melihat langit Jakarta yang bersih. Karena PSBB membuat banyak masyarakat tidak keluar rumah. Polusi pun jauh berkurang.
 
Gak hanya di Jakarta aja yang begini. Di medsos bersliweran foto-foto di berbagai belahan dunia tentang dunia yang kembali bersih. Semakin berpikir dan nyadar kan kalau penyebab polusi memang manusia juga. 
 
Ya walaupun sekarang mulai banyak yang beraktivitas lagi, setidaknya mulai peduli deh ya dengan lingkungan. Bisa diawali dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Itulah beberapa hikmah yang Chi dapat selama pandemi. Mungkin nanti bisa ditambah lagi. Semoga pandemi segera berlalu, ya. Aamiin Allahumma Aamiin

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Sabtu, 02 Januari 2021

2020 Tahun Kebersamaan Keluarga

2020 Tahun Kebersamaan Keluarga - Rasanya kita semua sepakat kalau 2020 bukanlah tahun yang mudah untuk dijalani. Bahkan banyak yang bilang kalau hanya ada 2 bulan yaitu Januari dan Februari. Sisanya pandemi hingga sekarang.

2020 tahun kebersamaan keluarga

Tentang tahun yang gak mudah, sebetulnya sudah Chi rasakan sejak tahun 2018. Paling jumpalitan di tahun 2019. Banyak banget cerita sedih. Tetapi, cerita bahagia juga gak kalah banyak. Berasa kayak naik roller coaster. Bahagia dan sedih kadang-kadang jaraknya tipis. Sekarang bahagia, tetapi dalam hitungan jam ada kejadian sedih.

Bukan bermaksud untuk tidak mensyukuri semua kejadian bahagia dan rezeki di tahun 2019. Tetapi, serangkaian kejadian di sepanjang tahun itu membuat Chi lelah lahir batin. Pikiran kadang-kadang suka jadi 'blank'. Seringkali menjerit kecil karena kaget. Padahal K'Aie dan anak-anak sekadar menyapa. Biasanya kalau begitu pikiran lagi kosong.

Gak perlu lah ya Chi ceritain di sini tentang segala kejadian di tahun 2019. Bukan konsumsi publik juga. Malah sebetulnya Chi pengen lupain tahun 2019. Makanya gak pernah diceritain di blog hehehe. Tetapi, yang pasti di awal tahun 2020, Chi bertekad untuk menjadi lebih bahagia.

Sebetulnya dari dulu gak pernah bikin resolusi. Tetapi, dengan segala jumpalitan di tahun 2019, Chi berharap bisa lebih santai di 2020. Udah merencanakan libur agak panjang juga di bulan Maret meskipun anak-anak belum libur sekolah hihihi.


Ingin Semakin Dekat dengan Keluarga


hikmah di masa pandemi

Banyak yang bilang kalau Chi dan K'Aie dekat dengan anak-anak. Tetapi, sampai tahun 2019 itu Chi mulai galau dengan kedekatan ini. 

Chi memang kerap kali bilang kalau bonding adalah sesuatu yang mahal. Gak bisa terjalin instan. Itulah pentingnya mengeratkan ikatan batin ini sejak dini.

Tetapi, semakin besar Keke dan Nai, mulai timbul galau di hati Chi. Masih gak ya bisa dekat sama anak?

Penyebab kegalauannya karena mereka semakin sibuk dengan berbagai kegiatan. Pulang ke rumah udah sore atau menjelang maghrib. Quantity time semakin berkurang. Tinggal quality time yang tetap bertahan dan coba ditingkatkan.

Tetapi, kan tetap aja khawatir. Bisa gak ya kualitas kebersamaan tetap ada meskipun quantitynya berkurang? Teorinya sih seharusnya bisa. Hanya saja mengingat tahun 2019 banyak cobaan yang bikin hati Chi down, jadi suka ada rasa agak renggang bonding ma keluarga. Kalau lagi sensian gitu jadi semakin baper.

Pada saat pandemi, waktu berkumpul bersama keluarga sangat melimpah. Tentu aja gak mau disia-siakan. Meskipun jalannya gak selalu mulus. Salah satu rintangannya adalah aktivitas belajar dari rumah. PJJ memang berasa banget bedanya dengan pelajaran tatap muka. Tetapi, diusahakan enjoy aja meskipun sesekali ada dramanya.

Kami jadi mulai sering ngobrol dari hal receh sampai serius, bergantian memasak (kadang-kadang barengan), mengurus rumah bersama, dan lain sebagainya. Beneran semakin berasa kebersamaannya. Jadi kayak balik ke masa Keke dan Nai masih kecil. Di mana mereka masih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bahkan sekarang K'Aie pun sering di rumah karena gak harus ke kantor setiap hari.

Memang gak selalu berjalan mulus dan adem ayem. Namanya juga keluarga. Ribut-ribut kecilnya masih ada. Tetapi, kebersamaannya juga semakin erat. Perasaan labil, pikiran kosong, emosi yang kerap berubah-ubah secara cepat seperti di 2019 udah jarang Chi rasakan. Di tahun 2020 lebih banyak tertawanya. Menangis udah gak sebanyak tahun sebelumnya. 
 
Bukan berarti tahun 2020 tuh nyaman banget. Chi juga sama kok kayak banyak masyarakat lainnya. Bukan tahun yang mudah. Tetapi, memang secara pribadi lebih bisa bersabar dan banyak tertawa saat menjalaninya dibandingkan tahun sebelumnya.
 
Masih ada hikmah-hikmah lainnya yang patut disyukuri sepanjang tahun 2020. Terutama saat pandemi datang. Kapan-kapan Chi tulis, ya. Sebagai pengingat juga bahwa seberat apapun masih bisa tetap bertahan. Banyak pelajaran berharga di tahun kemarin. Alhamdulillah 
 


Berharap Lebih Baik di 2021


harapan di tahun 2021

Semua berharap tahun 2021 pandemi sudah berakhir. Ya semoga aja do'a dan harapan kita semua ini akan dikabulkan oleh Nya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Meskipun vaksin kabarnya sudah ada. Tetapi, rasanya mengawali tahun masih terasa berkabut. Angka penambahan yang positif Covid-19 di Indonesia saat ini sedang tinggi-tingginya. Rumah sakit penuh di mana-mana. Para nakes semakin kewalahan. Sedihnya lagi yang abai protokol kesehatan masih aja banyak.

Bersyukur dulu sepanjang tahun 2020 menjadi semakin akrab dengan keluarga. Masih bisa merasakan bahagia. Tetap diberi kesehatan dan rezeki. Ya semoga aja tahun 2021 masih bisa tetap bertahan bahkan lebih baik. Gak mau terlalu berekpektasi tinggi juga.

Ya meskipun masih terasa 'berkabut' di awal tahun bukan berarti akan selamanya suram. Seperti foto Chi ini. Ketika perlahan kabutnya menghilang akan terlihat pemandangan yang indah. Insya Allah akan seperti ini. Tetap semangat dan patuh dengan protokol kesehatan, ya!

Thank you 2020. Welcome 2021.

Continue Reading
68 komentar
Share: