Tuesday, October 29, 2013

Perjalanan Menuju Bromo

K'Aie : "Jadi ke masjid Demak, gak?"
Chi     : "Emang keburu?"
K'Aie : "Ya, paling lewat aja."
Chi     : "Terserah aja kalau emang keburu, sih."

Setelah ditimbang-timbang dengan melihat GPS juga, akhirnya kami memutuskan gak lewat Demak. Tapi lewat Purwodadi aja. Keliatannya jarak tempuhnya lebih pendek. Lagipula kami khawatir kayak perjalanan di hari pertama. Banyak buka-tutup, dan truk-truk besar yang bikin lambat.

Setelah kena macet dan sedikit salah jalan di Semarang, kami pun mulai menemui jalan lancar. Sayangnya cuma sementara.... Keliatannya kami salah pilih rute.

Kami lebih sering menemui jalan jelek dan berdebu. Sepanjang jalan badan rasanya pegel karena gujlak-gajluk. Jalanan yang di beberapa titik lumayan parah rusaknya, sempet bikin Chi khawatir kalau knalpot mobil bakal bermasalah lagi kayak waktu itu. Maksud hati menghindari truk-truk besar dan buka tutup-jalan ternyata tetep ketemu. Bahkan di salah satu desa, kami sempat berhenti cukup lama karena jalannya sedang ditutup dari 2 arah karena sedang diperbaiki.


Berhenti cukup lama di salah satu daerah. Banyak penjual tahu, seperti yang disamping mobil kami ini. Tapi tahunya gak ditutup, kalau dari dekat keliatan banget tahunya berdebu. Kalau dijual, kira-kira dicuci dulu gak, ya?

Awalnya, sih, kami menikmati aja rute salah jalan itu. Karena jalur yang kami tempuh itu bukan jalan utama. Masuk pedesaan. Melihat rumah-rumah kayu khas jawa, walaupun sudah banyak yang reyot tetep aja pemandangan yang menarik buat kami. Belum lagi jalanannya juga teduh karena banyak pohon. Trus di Cepu, dari kejauhan terlihat menara-menara ladang minyak dengan api yang berkobar diatasnya. Tapi sayangnya gak ada satupun rumah makan di sepanjang jalan!

Truk seperti ini juga menghambat perjalanan karena jalannya seoerti siput. Jalannya di tengah pula, susah buat disalip.1 truk bak terbuka yang sangat kelebihan beban. Ngeri liatnya.

Keke-Nai mulai rewel. Bisa dimaklumi, karena memang sudah waktunya makan siang. Mereka pun sudah berusaha menghilangkan lapar dengan tidur, tapi  begitu bangun belum juga ketemu rumah makan walopun rumah makan kecil sekalipun. Bahkan minimarket pun gak ada.

Berbagai camilan di mobil juga udah mulai habis. Sampe ganti provinsi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, juga tetep belom ketemu rumah makan. Kata Mas Belalang di FB, salah sendiri kenapa juga lewat jalur tengah. :D Oiya, untung haid di hari kedua juga gak rewel. Gak panik walaupun belom ketemu pom bensin.

Selewat Cepu, kami pun akhirnya brenti di salah satu minimarket. Lupa minimarket mana, pokoknya kalau bukan yang A berarti yang I :p Di minimarket itu kami belanja cukup banyak. Roti, aneka camilan, sampai pop mie. Kalau melihat waktu yang udah mulai sore, kami memang gak berniat untuk cari rumah makan lagi. Jadi makan siang, kami lewati tanpa makan nasi :)

Sebetulnya Chi sempet janjian sama Pak Ies untuk kopdar hari itu di Bromo. Tapi karena prediksi kami lagi-lagi salah, jadi batal, deh kopdarnya. Pak Ies akhirnya menitipkan oleh-oleh ke resepsionis di hotel tempat kami menginap. Terima kasih banyak untuk oleh-oleh khas Blitar yang Pak Ies berikan ke kami, ya :)

Masuk provinsi Jawa Timur jalanan lebih banyak lancarnya. Baru macet lagi begitu masuk Surabaya. Mungkin karena sata itu jam pulang kantor. Jalan tolnya macet, sama aja kayak di Jakarta. Sama-sama ketemu macet.

Memasuki kawasan bromo (lupa nama daerahnya), jalanan mulai menanjak. K'Aie mulai mematikan AC mobil dan buka kaca. Malam itu langit terlihat terang. Katanya, sih karena super moon. Udara seger banget.

Banyak yang bilang kalau Bromo itu kan dingin banget, tapi Chi gak terlalu ngerasa dingin banget tuh. Merasa sejuk aja. Apa iya, Bromo gak sedingin yang dibayangkan? Tunggu aja postingan berikutnya. Yang jelas kami sampai penginapan pukul 11 malam. Dan lagi-lagi gak makan nasi. Pop mie lah penyelamat kami untuk malam itu :)

Cerita sebelumnya dalam perjalanan ini :


  1. Jalan-Jalan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang

Continue Reading
24 comments
Share:

Friday, October 25, 2013

Mereka Berhak Punya Masa Depan

Gak ada foto = hoax

Entah udah keberapa kali Chi baca kalimat itu di dunia maya (blog atau media sosial). Kebanyakan, sih, cuma becandaan. Tapi apa iya kalau gak ada foto itu sama dengan hoax?

Jadi orang tua itu memang gak ada sekolahnya, makanya keberadaan beragam komunitas, fanpage, dan banyak info tentang parenting di dunia maya buat Chi itu seperti ilmu gratisan yang bermanfaat buat panduan. Walopun gak semua saran plek ketiplek diikuti, tapi setidaknya bisa buat bahan pertimbangan, lah. Dan biasanya Chi cuma jadi silent reader.

Ada salah satu fanpage tentang parenting yang Chi ikuti. Dikelola oleh salah satu pakar parenting yang kelihatannya sedang tenar saat ini. Bahkan Chi sempat berencana datang ke seminarnya. Isi status di fanpagenya banyak juga tentang sikap kontra terhadap sistem kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk sering menyalahkan pemerintah. Pendidikan di Indonesia di anggap membuat pendidikan moral para siswa menjadi rendah

Oiya, Chi gak usah sebut siapa nama pakar parenting ini, ya. Karena kalau disebutin, nanti komen-komen yang datang lebih melebar. Nanti malah bahas personal tokoh tersebut :)

Untuk sistem pendidikan di Indonesia, Chi termasuk yang setuju dengan pendapatnya. Kurikulum pendidikan di Indonesia memang masih banyak yang harus diperbaiki. Tapi, kalau kurikulum di Indonesia selalu disalahkan seolah-olah hanya satu-satunya penyebab rendahnya moral para pelajar, Chi gak setuju. Banyak faktor yang menyebabkan moral para pelajar rendah. Mulai dari orang tua, sekolah, hingga lingkungan. Semua punya kewajiban dan tanggung jawab dalam hal ini. Lagipula seburuk-buruknya sistem pendidikan kita, Chi rasa masih banyak anak Indonesia yang berprestasi dan tetap terjaga moralnya. Walopun tentu aja fakta kalau ada siswa yang moralnya jelek gak bisa diabaikan.

Untuk urusan tanggung jawab malah menurut Chi, orang tualah yang harus bertanggung jawab lebih dahulu meskipun di depan kita anak-anak terlihat baik-baik kelakuannya. Simpel aja, Allah menitipkan amanahnya kepada orang tua, bukan kepada sekolah, pemerintah, atau pihak lain. Jadi kalau sampai terjadi sesuatu, orang tua yang harus bertanggung jawab lebih dahulu.

Ceritanya beberapa minggu lalu, Chi baca salah satu status dari fanpage parenting. Statusnya kembali tentang sikap kontra terhadap kurikulum pendidikan dan dikaitkan dengan rendahnya moral. Sayangnya saat itu statusnya dibarengi dengan upload foto yang kurang pantas menurut Chi.

Foto tersebut memperlihatkan beberapa anak SMP (3 laki-laki, 1 perempuan). 1 anak laki-laki merangkul dari belakang anak perempuan itu sambil (maaf) memegang kedua buah dada anak perempuan itu. Sementara anak laki-laki lainnya, posisinya duduk sambil salah satunya memegang paha anak perempuan itu yang mana roknya sangat mini.

Chi yang biasanya selalu jadi silent reader, kali ini merasa gregetan untuk menjawab. Chi komen, merasa prihatin melihat kejadian tersebut. Tapi, Chi juga menyarankan kalau mau pakai foto sebaiknya wajah anak-anak itu diblur dulu. Karena biar gimana mereka masih anak-anak yang berhak punya masa depan. Kasian kalau wajahnya sampe gak diblur. Lagipula semua harus introspeksi, gak cuma sekolah ataupun pemerintah.

Walaupun belum punya anak usia SMP, tapi paling gak semua orang tua pasti ngalamin usia SMP. Dan diusia tersebut, pikiran kita masih labil, gampang ikut-ikutan, serba pengen tau. Ditambah lagi arus informasi zaman sekarang yang seperti tanpa sensor akan membuat anak ikut-ikutan tanpa mikir akibatnya. Bisa jadi mereka melakukan itu karena keluguan dan ketidaktahuan mereka akan akibatnya. Makanya semuanya harus sama-sama bertanggung jawab.

Semua orang tua pasti gak akan mau anaknya mengalami hal tersebut, termasuk Chi.Tapi kalau sampe kejadian, mereka tetap anak-anak yang punya kesempatan memperbaiki kesalahannya dan tetap berhak mendapatkan masa depan yang baik. Menampilkan foto tidak pantas secara terang-terangan tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana kalau anak-anak tersebut dibully? Kemudian mereka stress, depresi, bahkan bunuh diri. Siapa yang akan bertanggung jawab kalau sampai kejadian begitu. Menurut Chi, kita semua yang membully ikut bertanggung jawab karena secara tidak langsung tidak memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki diri.

Coba aja cari infonya di Google, deh, Udah ada beberapa kejadian, anak-anak usia SMP (bahkan paling gak ada  satu kasus seperti ini yang terkenal) yang karena keluguannya melakukan tindakan "bodoh" seperti foto anak-anak SMP itu. Ketika kemudian menjadi heboh di dunia maya, maka terjadilah cyberbullying. Gak tahan dibully tanpa henti, akhirnya memilih jalan pintas yaitu bunuh diri.

Dan kejadian-kejadian yang Chi dapet di google itu, terjadinya di luar negeri. Termasuk di negara yang oleh pakar parenting itu negara yang kurikulumnya bagus karena mementingkan karakter. Kenyataannya kejadian seperti di manapun ada, apapun sistem pendidikannya karena (sekali lagi) hal seperti ini memang jadi tanggung jawab bersama.

Sebagai orang tua pastinya gak berharap anak-anak kita akan seperti itu. Pasti akan merasa sangat marah bahkan sangat kecewa. Tapi, apa lantas membenarkan kita semua untuk melakukan cyberbullying atas kelakuan mereka?

Sebagai orang tua, menurut Chi, juga gak bisa kepedean. Merasa udah membekali anak dengan sejuta kebaikan dan keturunan baik-baik jadi yakin banget gak akan terjadi apa-apa. Terlalu pede malah bikin kita jadi gak waspada. Anak harus terus diingetin sambil kita berdo'a supaya anak-anak gak melanggar kepercayaan yang kita beri (kita kan gak mungkin 24 jam terus-menerus nempel sama anak)

Lalu ada juga salah satu saran bagus kenapa sebaiknya tidak perlu pakai foto. Khawatir akan ada anak lain yang melihat, kemudian mencontoh. Dan akibatnya akan ada korban berikutnya. Hiii...

Seorang pakar parenting mestinya lebih mengerti sama hal ini. Yang harus dia pikirkan gak hanya tentang anak-anak yang masih 'bersih' tapi anak-anak yang terlanjur berbuat salah juga harus dipikirkan. Makanya Chi menyayangkan ketika pakar tersebut mengupload foto yang kurang pantas. Menyelesaikan masalah harus tanpa masalah *pinjem kata-kata pegadaian :) Kalau kayak gini, terkesan (buat Chi) dia hanya pintar bicara teori. Kenyataannya gak semua nasib anak diperhatikan,

Yang terjadi akhirnya adalah pro-kontra yang cukup panjang di status tersebut. Banyak juga yang keberatan dengan apa yang dilakukan oleh pakar tersebut, terutama berkaitan dengan foto. Malah ada yang minta kalau bisa fotonya dihilangkan aja. Lucunya untuk mereka yang pro ada yang menuduh kami sedang melakukan pengalihan isu. Hadeeeuuuuhhh politik kali, ah!

Setelah pro-kontra yang panjang, akhirnya pakar tersebut membuat komentar. Tapi, asli Chi gak ngerti! Biasanya pakar tersebut statusnya to the poin, kali ini dia nulis panjaaaaaaaaang banget! Tapi muter-muter, gak jelas kemana. Awalnya Chi pikir Chi yang lemot nangkep maksudnya. Tapi ternyata banyak juga yang gak ngerti, katanya muter-muter gak jelas. Hmmm... berarti bukan karena Chi yang lemot.

Setelah dibaca berkali-kali, Chi menangkap kesan kalau pakar ini menyalahkan kami yang kontra dengannya. Katanya kami emosi (padahal kenyataannya justru banyak yang kasih tau baik-baik. lho). Dan menurutnya orang yang emosi ketika menanggapi sesuatu sebenernya lagi bermasalah sama diri sendiri alias bukan statusnya dia yang salah tulis.

Apaaaaa???!!!! Menurut Chi aneh banget pendapatnya. Dan yang terjadi akhirnya perdebatan baru tentang pendapatnya yang udah panjang banget tapi gak nyambung sama masalah yang sebenarnya malah cenderung muter-muter yang akhirnya malah menyalahkan. *tepok jidat

Chi sempet kecewa, bahkan marah saat itu, Tapi ya, sudahlah. Dari awal, Chi memang gak pernah mengidolakan satupun pakar parenting. Cukup dibaca-baca aja pendapatnya. Setuju, diikutin. Gak setuju, ya udah. Buat bahan perbandingan aja. Satu lagi pelajaran bagus yang bisa Chi ambil adalah belajar komunikasi yang baik supaya pesan tercapai dengan baik.

Saat Chi nulis postingan ini, ada salah satu contoh cara menyampaikan pesan yang baik menurut Chi. Status milik Om Nh, blogger yang juga trainer. Salah satu status Om NH adalah begini

Gemetar saya mendengar berita kasus video anak SMP ... direkam rame-rame ... masyaAllah ... padahal masuk SMP negeri itu susah. Nilainya mesti bagus. Ini anak-anak pintar seharusnya .... tapi ... aaahhh sayang sekali... Semoga ini kejadian terakhir ...

Sebelum Om NH menulis status tersebut Chi udah tau kasus yang dimaksud. Langsung merasa ngeri dan prihatin. Kalaupun Chi belum tau, kalimat "video anak SMP" udah berhasil menyampaikan pesan dengan baik.  Pesan yang tanpa foto ataupun link videonya pun udah bisa kita ngerti maksudnya. Pesan yang menunjukkan rasa ngeri, prihatin, dan juga (secara gak langsung) mengajak kita untuk introspeksi dan tidak ikut andil merusak masa depan anak-anak tersebut.

Chi gak perlu mencari-cari tau seperti apa, sih, videonya? Buat apa? Buat tau wajah anak-anak tersebut? Trus kalau udah tau, emangnya kenapa? Atau sekedar pengen tau se'hot' apa yang mereka lakukan? Gak perlu tau, lah, kalau buat Chi. Kata-kata "video anak SMP", sudah menunjukkan kalau perbuatan seperti itu memang belum pantas dilakukan anak-anak.Lebih bahaya lagi, kalau akhirnya foto atau video yang gak pantas itu terlihat oleh anak-anak kita. Hiii

Terbukti, kan, tanpa foto itu gak selalu berarti hoax. Ada kalanya pesan bisa tersampaikan dengan baik kalau tanpa foto ataupun link video yang gak pantas. Malah tanpa foto atau video, komen-komennya lebih jelas, Gak pro-kontra kesana-kemari, gak jelas. Karena kadang foto atau video itu sebetulnya cuma buat memenuhi rasa ingin tau kita aja.

Oke, deh, semoga jangan sampai kejadian sama anak-anak. Semoga anak-anak kita tetap terjaga moralnya sampai kapanpun. Aamiin

Continue Reading
44 comments
Share:

Wednesday, October 23, 2013

Maklumin Aja

Lanjutan cerita perjalanannya ditunda dulu... :)

Minggu ini Keke-Nai baru mulai UTS. Kata banyak orang, kalau anak mau ujian yang stress itu ibunya, anaknya mah santaaaaiiii. Bisa jadi memang begitu, tapi yang udah-udah Chi juga gak deg-degan banget kalau anak-anak mau ujian (pernah Chi bikin tipsnya di postingan "UAS? (Gak) Deg-Degan Tuuuhhh...".

Cuma minggu kemarin, Chi baru ngerasain rada kewalahan. Udah kayak nangkep anak ayam. Ketangkep satu, lepas yang lain. Belom lagi ada ulah lainnya. Bikin eksperimen, lah, sampe ngegelendotin.

Ya, waktu Chi lagi ngajarin Nai, dia bukannya duduk tertib malah ngegelendotin. Duduk di pundak Chi, persis kayak anak TK. Keke juga bikin ulah yang lainnya. K'Aie saat itu lagi keluar rumah, ada sedikit urusan, jadi gak bisa bantuin.

Di depan Nai...

Bunda : "Hadeuuuhh, pusing Bunda hari ini. Pada gak mau diem banget. Ya kelakuannya, ya mulutnya."
Nai     : "Harus banyak maklumin aja, lah Bun. Resiko punya anak perempuan, trus cerewet pula." *Nai cengar-cengir ngomongnya :O

Bener, deh. Ada aja jawaban dari anak-anak, ya

Continue Reading
30 comments
Share:

Monday, October 21, 2013

Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang

Seperti yang Chi ceritakan di postingan Gagal ke Masjid Demak, kami sampai di kota Semarang pukul 11 malam dan akhirnya mutusin untuk menginap di Semarang. Selama perjalanan liburan waktu itu memang tidak ada satupun penginapan yang kami booking, kecuali di Bromo. Sengaja memang, karena namanya jalan darat suka gak ketebak. Selain itu kami memang pengen jalan santai walaupun ada rencana perjalanan.

Dan kejadian di hari pertama, rencana mencari penginapan di Kudus malah akhirnya di Semarang. Untung aja gak pake booking hotel dulu. Pokoknya kalau udah malam hari dimanapun kami berada, berarti di situlah kami cari penginapan.

Mencari penginapan di Semarang ternyata gak segampang dugaan kami. Mungkin karena kami gak hapal jalan-jalan di Semarang. Chi terakhir semarang sekitar 12 tahun lalu, itupun kalo ke Semarang biasanya tugas dari kantor. Jadi untuk penginapan dan kendaraan semua udah diurus sama kantor. Kalau K'Aie gak tau terakhir ke Semarang kapan. Bisa jadi lebih dari 10 tahun juga.

Sempet smsan sama Noorma dan dia menawarkan rumahnya untuk menginap. Terima kasih banyak, ya :) Tapi kami gak mau merepotkan. Apalagi Keke-Nai kalau di tempat baru kadang-kadang belum langsung akrab. Khawatir mereka rewel :)

Noorma juga sempet kasih tau hotel yang murmer, tapi karena kami gak hapal jalan di Semarang jadi gimana mobil meluncur aja, deh. Apalagi udah hampir tengah malam, susah cari orang buat ditanya-tanya. Jadi kami lewatin jalan-jalan yang besar-besar aja tanpa kami paham juga itu jalan apa namanya :D

Hotel yang pertama kami datangi adalah Hotel Dafam. K'Aie yang masuk ke hotelnya untuk tanya kamar, sementara Chi nunggu diparkiran karena Keke-Nai udah tidur. Ternyata, kamar yang tersisa tinggal yang harga 800an ribu per malam, di atas bujet kami.

Sempet nimbang-nimbang apa tetep diambil, karena hari udah semakin malam dan badan udah cape banget. Tapi, sayang banget kalau sampe harus keluar 800 ribu cuma buat tidur semalam. Akhirnya mutusin untuk cari-cari dulu sebentar, kalau gak dapet juga baru balik lagi ke Dafam.

Untuk penginapan, kami memang cari hotel yang nyaman tapi sedang-sedang aja harganya. Kisaran 300-500 ribu per malam lah. Karena kami berencana gak akan berlama-lama di satu kota, paling cuma numpang tidur semalam aja. Sayang banget kalau harus ambil yang mahal.

Chi kemudian saranin K'Aie coba tanya hotel Ciputra aja. Dulu kalau lagi tugas kantor, nginepnya di sana. Makanya itu satu-satunya hotel di Semarang yang Chi tau :O Lagipula hotel Ciputra deket sama alun-alun seingat Chi, jadi pasti gampang dicari. Dan memang benar, hotelnya gampang dicari. Tapi kamar yang tersisa tinggal yang harganya 1 juta ke atas. Kayaknya karena musim liburan, hotel dimana-mana penuh.

Kami pun puter-puteran lagi, cari-cari bangunan bertingkat yang ada tulisan Hotel tapi gak ketemu juga. Internet di tab, malam itu lemotnya minta ampun. Bener-bener gak bisa diandalkan buat cari info penginapan.

Pas lagi muter-muter gitu, keliatan ada tulisan hotel namanya Hotel Amaris. K'Aie tanya dulu kamarnya. Masih tersedia dengan harga 450 ribu pe malam. Alhamdulillah, dapet juga hotel yang masuk bujet. Langsung ambil dan hotelnya keliatanya nyaman.

Kamar hotelnya gak besar, serba imut. Tapi buat kami yang penting ada kamar bersih dan kasur empuk buat ditidurin. Kami gak minta extra bed, bingung juga mau ditaro dimana nanti :D Lagipula tidur 1 kasur berempat sesekali gak apa-apalah, malah hangat.


Kamar mandinya imut-imut :)
Ada 1 meja kecil. Lumayan, lah buat naro barang-barang. Disamping meja itu ada lemari kecil
1 kasur buat berempat. Karena rame-rame, posisi tidurnya harus melebar jangan memanjang kayak Keke di foto ini :)

Gak pake lama, begitu masuk kamar, bebersih sebentar trus ganti baju abis itu tiduuuuuuurrrrr. Cuma Nai yang tidurnya belakangan. Mungkin karena dia banyak tidur di jalan, jadi sampe hotel masih seger. Chi juga gak tau Nai tidur jam berapa. Pokoknya begitu badan nempel di kasur, langsung pules saking capeknya :D

Bangun pagi, setelah semua urusan pribadi beres, kami langsung ke luar kamar. Chi dan anak-anak sarapan dulu. Kalau K'Aie masukin barang ke mobil sekalian check out. K'Aie memang gak pernah terbiasa sarapan, paling tiap pagi cuma minum kopi. Apalagi kalau perjalanan jauh, tambah males untuk makan. Kata K'Aie, perut kenyang itu bikin mata ngantuk jadi nyetirnya gak nyaman. Ya, udah jadinya Chi cuma sarapan sama anak-anak.


Menu sarapan. Rasanya lumayan enak, kok :)

Selesai sarapan, kami turun ke bawah, langsung ke Dunkin Donut karena K'Aie lagi ngopi di sana. Di lantai bawah Amaris ini memang ada Dunkin Donut dan Gramedia. Sayangnya pas kami ke sana, Gramedia masih tutup. Ya, iyalah masuk hotel pukul 11 malam trus besoknya check out pukul 07.30 pagi. Jelas aja masih tutup. Tapi bagus, deh, jadinya gak tegoda untuk beli buku :p

Selesai ngopi, kami ke mobil dan siap berangkat. Tapi kemana tab? Sempet panik cariin tab. Yang Chi inget, terakhir di pegang Nai. Yang K'Aie inget, Nai kayaknya naro tab di meja Dunkin Donut. K'Aie langsung balik ke Dunkin. Alhamdulillah, tab nya masih ada. Tergeletak dengan manis di meja tempat K'Aie ngopi. Untungnya masih diparkiran ingetnya. Coba kalau udah jauh baru inget. Waaa... gak tau, deh.

Lagi-lagi karena gak tau jalan di Semarang, kami sempet bingung. Memang sih ada GPS di tab, tapi tetep aja sempet rada bingung mau lewat mana. Udah gitu di jalan Kartini (kalau gak salah), pokoknya yang ada jembatannya itu, kami sempet bolak-balik karena salah jalan.

Semarang juga gak jauh beda sama Jakarta. Macet. Apa karena hari kerja, ya pokoknya kami sempet kena macet sepanjang jalan. Keluar dari kota Semarang baru perjalanan lancar (awalnya...)

Postingannya bersambung, ya. Berikutnya tentang perjalan menuju Bromo.

Postingan sebelumnya yang berhubungan sama perjalanan ini :


  1. Liburan setengah nekat
  2. Gagal ke masjid Demak

Continue Reading
46 comments
Share:

Thursday, October 17, 2013

Ini Rahasianya Membentuk Anak Hebat!

Setiap orang tua biasanya senang kalau mendengar pujian seperti ini...

"Wah! Anaknya sehat terus, ya. Jarang sakit."
"Selamat, ya! Putranya berprestasi terus. Cerdas, deh."
"Umurnya baru 5 tahun? Tinggi, ya? Kayak anak SD."

Senang, ya, kalau dapat pujian seperti itu. Tapi biasanya kita juga pernah mendengar kalimat seperti ini...

"Anak saya itu gampang sakit. Persis seperti saya waktu kecil, sebentar-sebentar sering sakit. Jadi gak heran, deh."
"Pantes aja dia cerdas. Orang tuanya aja dokter, pasti anaknya cerdas."
"Gak heran kalau dia badannya tinggi, sekeluarga badannya tinggi semua. Jadi memang udah turunan."

Tapi ternyata, saya baru tau kalau faktor genetik tidak menjadi faktor yang mutlak menentukan tumbuh kembang anak karena faktor lingkungan juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Jadi, untuk orang tua yang merasa gampang sakitan, merasa biasa-biasa aja kecerdasannya, dan postur tubuhnya juga biasa aja, jangan keburu pesimis karena ada caranya untuk menstimulasi itu semua, kok :)



Tips membentuk anak hebat.



Sistem Imunitas

Umumnya bayi dan anak-anak itu paling gampang terkena batuk-pilek. Keke dan Nai juga begitu. Mereka terkena batuk-pilek karena sistem imun atau daya tahan tubuhnya berkurang. Biasanya penyebabnya itu karena kecapean, kurang istirahat, makan gak benar (bisa karena menu atau jadwal makan yang kurang teratur), dan lainnya.

Kalau sedang sakit, biasanya saya selalu meminta mereka untuk banyak beristirahat Seringkali gak mudah karena yang namanya anak-anak suka gak mau diam walaupun lagi sakit. Tapi yang jelas, saya harus lebih menertibkan lagi dalam urusan makanan. Gizi harus lebih diperhatikan, begitu juga dengan jadwal makan.

Salah satu nutrisi yang dapat berpengaruh dalam pembentukan sistem daya tahan tubuh adalah prebiotik FOS dan prebiotik GOS. Prebiotik GOS berasal dari susu sedangkan prebiotik FOS banyak terdapat pada tumbuhan seperti :


  1. Akar Chicory
  2. Asparagus
  3. Pisang
 
Sepintas bentuknya mirip seperti lobak. Akar chicory merupakan sumber prebiotik alami seperti FOS yang baik bagi tubuh. Akar chicory ditambahkan pada beberapa produk susu.
Sumber: agardenerstable.com


Perkembangan Otak Anak

Alhamdulillah, Keke dan Nai termasuk anak yang cerdas. Tapi rasanya terlalu berlebihan kalau berpikir semua itu karena murni genetik. Saya bersyukur kalau memang faktor genetik cerdas juga ada pada Keke dan Nai. Hanya saja saya juga berpikir, mereka bisa berprestasi karena usaha mereka yang selalu mau belajar dengan baik.

Supaya mereka mampu belajar dengan baik tentu dibutuhkan otak yang baik pula. Untuk itu diperlukan nutrisi yang terbaik agar otak mereka berkembang maksimal.



Pertumbuhan Fisik

Saya dan suami termasuk yang rata-rata saja tingginya, begitu juga dengan orang tua kami. Banyak yang bilang, pertumbuhan fisik itu dipengaruhi genetik. Tapi saya punya 2 orang adik laki-laki yang sangat tinggi. Saya jadi ingin Keke dan Nai kelak jadi seperti om-om mereka, berbadan tinggi tapi tidak obesitas.

Kalau lihat saya dan suami yang tingginya biasa aja, mungkin gak, ya? Ya mungkin aja. Terbukti, kan, sama 2 orang adik saya. Caranya saya harus mengoptimalkan gizi Keke dan Naima untuk pertumbuhan fisik mereka.



Nutrisi Optimal Itu Penting!

Dari 3 hal diatas, yaitu sistem imunitas, perkembangan otak, dan pertumbuhan fisik, terlihat jelas kalau nutrisi memegang peranan penting dalam hal tumbuh kembang anak. Stimulasi lainnya juga mendukung 3 hal tersebut, tapi kalau pemberian nutrisi yang diberi tidak maksimal rasanya stimulasi yang lain juga kurang mendukung tumbuh kembang anak.

Jangan 'tar-sok-tar-sok' alias menunda-nunda untuk memberikan nutrisi terbaik bagi anak, Lakukan sejak mengetahui diri kita hamil karena tumbuh kembang terjadi sejak dalam kandungan. Mulai biasakan mengkonsumsi makanan bergizi. Kurangi atau berhenti jajan makanan yang tidak sehat.

Imunitas pasif diterima janin dalam kandungan melalui plasenta ibu. Setelah bayi dilahirkan, baru sistem imun mulai bekerja. Dan 70% sistem imunitas pada manusia terdapat dalam saluran cerna.

Otak dan sistem syaraf merupakan organ pertama yang terbentuk pada masa kehamilan. Oleh karena itu apabila orang tua ingin mempunyai anak yang otaknya berkembang maksimal, ia harus mengkonsumsi makanan yang membantu tumbuh kembang otak dan sistem syaraf.

Anak yang fisiknya bagus juga gak semata-mata karena genetik, tapi pemberian nutrisi yang optimal pada masa kehamilan mampu memaksimalkan tumbuh kembang fisik seorang anak sejak dalam janin.

Pemberian nutrisi yang optimal jangan hanya pada saat kehamilan, tapi dilanjutkan setelah lahir. Ada istilah Masa Keemasan (Golden Age) pada anak mulai dari bayi hingga balita, Masa dimana tumbuh kembang anak berkembang sangat pesat. Sayang seklai kalau kita sebagai orang tua menyia-nyiakan masa keemasan ini.


Keke dan Nai sudah sekolah. Daripada jajan, mendingan saya bikinkan mereka bekal. Sudah pasti menunya kesukaan mereka. Insya Allah gizi serta kebersihannya juga terjamin :)


Bertanya Kepada Ahlinya

Seringkali saya bingung dan bertanya-tanya, "Udah bener belum, ya, pemberian nutrisi untuk Keke dan Nai? Jangan-jangan kurang atau berlebihan?"

Ketika hamil, saya selalu bekonsultasi dengan dokter kandungan. Setelah lahir, sesekali saya juga berkonsultasi dengan dokter anak. Dan kalau memang diperlukan berkonsultasi dengan ahli gizi juga bisa untuk mengetahui nutrisi yang tepat bagi anak-anak.

Selain bertanya langsung dnegan ahlinya, dulu saya banyak langganan majalah dan tabloid, juga membeli beberapa buku yang semuanya tentang tumbuh kembang anak.

Zaman sekarang malah lebih enak lagi, tinggal tanya ke google banyak sekali info yang bisa kita dapatkan. Tapi saking banyaknya, yang kadang pro-kontra atau gak jelas kebenarannya tentu kita harus hati-hati. Cari banyak perbandingan terutama dari situs-situs yang bisa dipercaya.

www.nutriclub.co.id termasuk situs yang bisa diandalkan. Banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan kalau bergabung di sana, yaitu :


  1. Konsultasi dengan dokter tamu
  2. Berbagi pengalaman di forum dengan para ibu
  3. Info terbaru tentang event
  4. Informasi program baru
  5. Resep menu untuk si kecil

Gabung juga di FB Nutriclub Indonesia atau hubungi Careline number (08001821059).
27 jam sehari, 7 hari seminggu. Berarti kita bisa bertanya kapan aja kita mau dan butuh, Asik banget, ya! Yuk, gabung sekarang juga. Jangan tunda-tunda, karena setiap orang tua ingin punya anak yang hebat, kan? :)

Continue Reading
52 comments
Share:

Sunday, October 13, 2013

Gagal ke Masjid Demak

Lanjutan dari postingan liburan setengah nekat.

Rencana awalnya adalah kami berangkat Sabtu tanggal 22 Juli, tapi karena Chi ada undangan Blogger Gathering dan hari Minggu K'Aie ada reuni SMA, jadi keberangkatan ditunda 2 hari. Baru jalan hari Senin tanggal 24 Juli.

Rencananya juga pukul 07.00 pagi kami jalan dari rumah. Fleksibel, sih, liat kondisi jalan juga karena kalo pagi masih banyak kendaraan yang pergi ke kantor. Udah gitu K'Aie pasang semacam cctv dulu di kamar. Bukan curiga sama orang rumah, tapi tes aja. Siapa tau cctv bisa dipake saat rumah kosong. Agak lama pasangnya karena videonya sempet gak connect ke tab yang kami bawa.

Akhirnya pukul 10.00 kami baru berangkat dari rumah. Jalan tol masih agak padat sampe Karawang dan setelah itu baru lancar. Tapi setelah keluar tol Cikampek lumayan macet rada lama. Jalannya gak terlalu besar, banyak angkot plus lewat pasar pula. Setelah melewati jalan layang (dekat pasar) baru jalan mulai lancar.

Tapi perjalanan lancar gak berlangsung lama. Banyak truk yang nyebelinnya udah lambat, kebanyakan ambil posisi kanan pula. Udah gitu banyak jalan yang diperbaiki. Biasa lah menjelang ramadan dan idul fitri, pemandangan jalan diperbaiki itu dimana-mana.

Pukul 13.00, kami sampai Pamanukan dan mutusin makan siang di sana. Eyaampun panas aja daerah Pamanukan, ya! Panasnya kayak 'menggigit' gitu, lengket lah badan sama keringat. Apa karena deket pantai?



Kami pilih salah satu rumah makan yang keliatannya cukup besar dan bersih. Rumah makan Simpang Jaya Dua. Rumah makan yang menyajikan makanan rumahan dan disajikan dengan cara prasmanan. Ada juga yang bisa pesan, misalnya sop buntut.


Tau ada sop buntut, Nai pilih sop buntut. K'Aie awalnya kurang setuju karena terlalu beresiko. Iya, sih, sop buntut kalau gak bisa masaknya itu gak cuma rasanya yang gak enak tapi daging buntutnya juga bakal keras, gak bisa dimakan. Tapi ternyata lumayan juga rasa sop buntutnya walopun lebih mirip kayak sop sayur yang dikasih buntut sapi, kurang rempah. Tapi setidaknya ada rasanya dan buntutnya lembut.

Makanan yang lain juga cukup enak rasanya. Cuma satu yang mengecewakan, yaitu pepes tahu yang ternyata udah basi. Sayang banget, makanan lain enak di mulut tau-tau harus ditutup sama makanan basi. Lupa habis berapa (gak dicatet :p) tapi seingat Chi termasuk murah juga makan di sana.

Lanjut perjalanan, akhirnya ketemu jalan tol juga. Lancar banget di jalan tol. Pemandangan kiri-kanan tol banyak ditemui ladang tebu dan jagung. Liat ladang jagung kenapa tiba-tiba jadi inget film horor yang ada ladang jagungnya, ya? :r Keluar dari jalan tol, balik kayak kondisi sebelumnya. Banyak truk dan jalan diperbaiki, jadi gak bisa cepat.

Walopun jalanan sering tersendat, kami bener-bener menikmati perjalanan. Ngelewatin satu kota ke kota lain. Banyak banget kota-kota yang Chi baru datangin. Udah gitu anak-anak juga jarang rewel, paling sesekali aja tanya kapan sampenya, mungkin karena belum pernah jalan sejauh ini. Kalo ngantuk, ya tidur, begitu bangun ngobrol-ngobrol lagi :)

Oiya, satu lagi yang menghambat perjalanan hari itu adalah Chi haid hari pertama. Namanya hari pertama, keluarnya suka banyak banget. Jadi sebentar-sebentar brenti di toilet. Biasanya haid hari 1-2 suka bikin Chi males ke luar rumah apalagi jalan-jalan. Ini karena perjalanannya menggiurkan aja, masa' harus batal karena haid



Lupa kami makan malam di daerah mana, kalo gak salah deket sama daerah Kendal, deh. K'Aie pilih makan sate ayam kranyass, yang keliatannya jadi menu andalan di rumah makan itu. Chi pilih asam-asam daging. Keke-Nai, Chi lupa pilih apa :p


Ternyata sate kranyass menurut kami rasanya biasa aja, masih enak sate deket rumah kami hihihi. Justru asam-asam dagingnya yang enak, walopun keliatan banyak lemaknya tapi seger.

Rencana awal sebetulnya sore hari kami pengennya udah sampe Demak. Pengen mengunjungi masjid Demak, kemudian malamnya menginap di Kudus. Tapi rencana tinggal rencana, dari rumah aja berangkat udah cukup siang ditambah lagi perjalanan ternyata gak selancar yang kami perkirakan dan sering brenti di toilet pom bensin.

Pukul 11 malam, kami baru masuk Semarang. Bener-bener gak memungkinkan kalau harus lanjut ke Demak. Badan juga rasanya udah lumayan remuk karena kelamaan duduk, pengen rebahan. Kami pun mutusin untuk nginep semalam di Semarang. Dan ternyata susah cari penginapannya! (bersambung)

Continue Reading
50 comments
Share:

Saturday, October 12, 2013

Liburan Setengah Nekat

Hadeuuuhh, liburan sekolahnya udah selesai lama, ternyata postingan ini masih nyangkut aja di draft hihihi. Oke, mari kita publish!

Kalo beberapa waktu lalu, Chi pernah cerita tentang pengalaman jalan-jalan nekat, kali ini tentang rencana liburan setengah nekat. Dibilang setengah, karena lumayan ada persiapan, gak terlalu grabak-grubuk. Lagian anak-anak juga udah libur. Dibilang nekat karena ini bener-bener liburan kejutan yang gak Chi dan anak-anak sangka sama sekali.

Gak nyangka karena tahun ini kan Nai udah SD, jadi untuk pertama kalinya bayar uang tahunan double dengan jumlah yang lumayan, lah. Trus kayaknya semester genap ini pengeluaran lebih banyak aja. Belom lagi sebentar lagi puasa dan lebaran. Eh BBM naik pula, jadi emang gak berharap apa-apa juga, sih.

Seminggu sebelum UKK, K'Aie tiba-tiba nanya, "Sebentar lagi liburan. Mau ke mana, nih? Enaknya sebelum puasa atau setelah lebaran, ya, kalo mau jalan-jalan?" Buat Chi ini pertanyaan yang gak biasa. Karena biasanya Chi dan anak-anak yang minta jalan-jalan. Kalopun K'Aie ada rencana, biasanya langsung ngajak ke suatu tempat. Kalo pada setuju ya pergi, begitu juga sebaliknya.

Pas UKK hari pertama, K'Aie nelpon dari kantor, nanya anak-anak UKK sampe hari apa? Nah, kalo ada pertanyaan kayak gini biasanya K'Aie mau ngajak jalan-jalan hehe. Chi sempet tanya, mau ngajak jalan-jalan ke mana? Tapi K'Aie bilang cuma nanya aja.

Chi gak percaya, makanya pulang kantor sampe besoknya masih Chi tanya. Karena biasanya kalo K'Aie tanya, berapa lama anak-anak ujian atau anak-anak lagi musim ulangan gak? Itu tanda-tanda K'Aie ada rencana mau ngajak jalan-jalan pas wiken :p Tapi sampe wikennya udah lewat, gak ada tanda-tanda jalan-jalan. Malah kami di rumah aja waktu itu. Berarti emang bener cuma sekedar nanya *tumbeeeeennn :D

Chi kemudian dapet undangan dari Mbak Indah, KEB, ke acara Islamic Festival di akhir Juni. Chi udah minta izin sama K'Aie dan anak-anak, supaya dibolehin dateng sendiri aja. Dan mereka ngebolehin. Bahkan sehari setelah anak-anak selesai UKK, K'Aie masih tanya lagi kepastian Chi untuk datang ke acara itu. Chi bilang mau datang kalau dikasih izin. Setelah itu K'Aie cuma bilang boleh, abis itu berangkat ke kantor.

Eh, malemnya pas sampe rumah tau-tau K'Aie tanya keberatan gak kalo gak jadi dateng ke acara Islamic Festival itu. Karena K'Aie mau ngajakin liburan. Chi kaget, dong. Apalagi pas denger rencana liburan K'Aie adalah ke tempat yang selama ini Chi pengen banget tapi gak yakin dalam waktu dekat bisa ke sana. Alasannya khawatir masih ribet kalo anak-anak masih kecil.

Apalagi kalo diajak liburan panjang biasanya K'Aie selalu beralasan sibuk sama kerjaan. Hmm ... sebetulnya bisa dimengerti, sih. Kalau lagi musim liburan gini, kantor K'Aie justru lagi puncaknya sibuk. Sementara kami keluarganya, kan, juga bisa jalan-jalan lama cuma saat liburan. Jadi emang rada susah, ya. Makanya kaget juga pas denger rencana liburan ini. Berarti bakal cuti lumayan lama, nih. Yippppiieeee ...!

Karena waktu itu masih ada waktu cukup buat persiapan jadi Chi bilangnya liburan setengah nekat. Cukup nekat karena memilih pergi jalan darat dengan mobil kami yang imut. Orang tua Chi dan K'Aie pada kaget dengan kenekatan kami jalan-jalan jauh pake mobil kecil.

Ternyata seru bangeeeettt! Dan tujuan kami adalah .... Tunggu aja, deh, postingan berikutnya. Insya Allah segera di publish juga. Pokoknya buat kami seru bahkan ada yang sempet bikin spechless :)

Continue Reading
26 comments
Share:

Thursday, October 10, 2013

Bayar Hutang

Akhir-akhir ini koneksi internet di rumah sepertinya gak bersahabat banget sama kotak komen blogspot. Susah banget komen di blog yang berplatform blogspot. Termasuk di blog sendiri. Makanya komen-komen yang masuk di beberapa postingan belum Chi bales. Kalau blogwalking pun sekarang jadi silent reader dulu, karena gak bisa komen. Semoga bisa cepet baikan lagi, biar bisa 'bayar hutang' komen ke temen-temen blogger. Herannya cuma kotak komen blogspot aja yang gak bisa, yang lainnya lancaaaarrr...

Sekarang ke topik tentang bayar hutang yang lainnya. Beberapa waktu lalu, Chi nulis "Percakapan BB" tentang Keke yang sekarang mulai pakai BB. Walaupun udah diawasi dengan ketat, tapi ternyata ada yang lolos juga.

Ceritanya Keke bikin kuis kecil-kecilan di group BBnya. Siapa yang nyebutin lagu favoritnya bakal di traktir crepes sama Keke di sekolah. 1 lagu untuk 1 crepes. Harga crepes antara Rp.5.000 - Rp.7.000. Keke ikut-ikutan temennya yang bikin kuis serupa, Tapi temennya cuma menjanjikan 1 butir permen untuk 1 lagu. Nah, Keke hadiahnya crepes. Hadeuuuuhhh!

Mulai tahun ajaran ini Keke memang Chi kasih jajan. Tapi gak banyak, kok. Cuma Rp.5.000 untuk 1 minggu. Sengaja di kasih uang jajan, karena Chi gak tega juga kalau denger ceritanya dimana temen-temennya banyak yang dikasih uang jajan sebagai pengganti bekal.

Kalau untuk pengganti bekal, Chi masih belum setuju. Maunya Chi mereka terus aja bawa bekal. Jadi paling Keke dikasih jajan seminggu sekali aja. Itupun cuma Rp.5.000,- Setidaknya, Keke ngerasain yang namanya jajan. Itupun tetep Chi bawain bekal. Jadi terserah dia, mau dipakai jajan atau ditabung. Kalaupun buat jajan, bekal yang dibawa harus habis.

Kembali ke cerita tentang kuis. Ada 2 orang temannya yang menjawab, tapi salah seorang menjawab 2 lagu. Jadi totalnya, Keke harus traktir 3 crepes. Itupun Chi minta Keke untuk umumin di groupnya kalau kuisnya ditutup. Bisa tekor kalau banyak yang nebak nanti :O

Setelah itu, Chi pun negur Keke dan bilang supaya jangan dilakukan lagi. Chi bilang, boleh aja sesekali bikin kuis berhadiah tapi barang atau uangnya udah harus ada. Jangan menjanjikan macem-macem kalau kita belum punya.

Chi juga ajak Keke diskusi tentang solusinya Keke setuju kalau dibayar dengan uang jajannya. Tapi karena seminggu cuma dikasih Rp.5.000, Keke mau bilang ke temenya untuk bergiliran ditraktirnya. Dan Keke benar-benar membuktikan, dengan bilang melalui BB ke teman-temannya. Teman-temannya pun setuju.

Masalah, gak selesai sampai situ. Keke melakukan satu kesalahan lain yang akhirnya dihukum dengan gak dikasih jajan untuk 1 minggu. Trus gimana dengan janjinya ke teman-temannya? Keke bilang kalau dia nanti akan bilang ke temannya di sekolah kalau bayar hutangnya ditunda dulu. Chi cuma pesan untuk jelasin baik-baik ke temen-temennya. Kalau ada yang gak terima, gak usah tersulut emosi.

Yang Keke gak tau (sampe sekarang), setelah dia di sekolah, Chi sama K'Aie diskusi kalau  ternyata dia sampe di bully sama temannya gara-gara hutang crepes ini mendingan dibayarin sekaligus aja. Tapi sebagai gantinya Keke harus bayar hutang ke orang tuanya. Caranya dengan gak dapat jajan sampai hutangnya lunas.

Alhamdulillah, ternyata teman-temannya mengerti. Setelah lunas, Keke keliatan seneng banget karena berarti dia udah bisa jajan lagi.

Keke memang salah saat itu. Tapi Chi pikir Keke juga dapet pelajaran berharga dari masalah ini dan itu harus disyukuri juga.


  1. Belajar untuk tidak gampang bikin janji-janji. Pokoknya harus hati-hati dengan yang namanya janji.
  2. Belajar bertanggung jawab. Mulai dari bilang ke teman-temannya kalau bayarnya dicicil dan belajar untuk bayar hutang. Karena hutang itu janji.

Continue Reading
28 comments
Share:

Thursday, October 3, 2013

Keke Sang Pemimpin

"Bunda, tadi di sekolah Pak guru tanya arti nama Keke itu apa?"

Keola Sakima adalah nama lengkap Keke. Keola berarti kehidupan, Sakima berarti raja. Kehidupan Raja atau Raja Kehidupan? Sebagai orang tua, saya dan suami, mengartikan nama lengkap Keke adalah pemimpin (raja) dalam kehidupan. Kami berharap Keke bisa menjadi seorang pemimpin.

Menjadi seorang pemimpin bukan berarti Keke harus menjadi presiden, jenderal, boss sebuah perusahaan, atau lainnya. Apapun pekerjaan yang akan Keke pilih nanti, selama itu baik, biarlah Keke bebas memilih. Pemimpin yang kami maksud adalah Keke harus mempunyai jiwa seorang pemimpin.

Diawali dari mampu memimpin dirinya sendiri. Apalagi Keke juga seorang laki-laki, kelak dia juga akan jadi pemimpin bagi keluarga. Dan seseorang yang mempunyai biasanya tidak akan mudah terombang-ambing begitu saja ke segala arus yang kadang gak jelas.

Oiya, karena penasaran, besoknya saya pun tanya ke wali kelas maksud dari pertanyaannya ke Keke. Wali kelas cerita kalau Keke sudah menjelaskan arti namanya. Menurut wali kelas, artinya pas dengan karakter Keke. Di kelas Keke termasuk anak yang bisa bersikap, ketika teman-temannya sedang berisik dia gak otomatis ikut-ikutan. Malah kadang-kadang dia mengingatkan teman-temannya untuk tertib. Dia juga termasuk anak yang aktif bertanya, kalau perlu mengadakan debat kecil dengan gurunya apabila masih pendapatnya berbeda. Wali kelasnya bilang suka sikap Keke jadi bikin kelas menjadi hidup dengan diskusi-diskusinya.

Saya bersyukur bahkan sedikit ge-er mendengar jawaban dari wali kelas Keke. Nama adalah sebuah do'a, dan saya percaya itu. Tapi hanya memberi nama saja tanpa ada usaha, maka apalah arti sebuah nama. Banyak yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang, termasuk dari lingkungan sekitar. Tapi tetap saja orang tua adalah gerbang utama yang seharusnya juga paling bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter anak. Dan walaupun saat ini banyak yang mengatakan bahwa peran ayah itu sangat penting bagi pembentukan karakter anak, tapi yang dari zaman dahulu gak pernah berubah adalah peran penting seorang ibu dalam pembentukan karakter anak.


Apa yang saya lakukan?



Agama

Pendidikan tentang agama harus jadi pondasi dasar dalam mendidik anak. Seorang pemimpin yang baik tentu saja harus mempunyai pondasi agama yang kuat. Selain mengajarkan agama secara langsung, anak-anak juga kami sekolahkan di sekolah islam.


Makanan

Makanan bergizi dan seimbang juga mampu membantu pertumbuhan karakter seorang anak. Anak yang gizinya bagus, akan lebih sehat. Anak yang sehat tidak hanya menjadikannya cerdas tapi juga dapat membantu perkembangan karakter anak. 

Memberikan gizi terbaik bagi Keke, saya lakukan sejak mengandung. Selalu makan makanan dengan komposisi gizi yang seimbang, serta meminimalkan jajan di luar. Sejak lahir, saya memberikan Keke asupan ASI eksklusif kemudian dilanjut dengan MPASI setelah usianya 6 bulan. Setelah bisa menyantap makanan keluarga, saya tetap memerhatikan komposisi gizinya.

Diawali sarapan pagi, supaya Keke mempunyai tenaga cukup untuk memulai aktifitasnya. Kemudian memberikan dia bekal untuk dibawa ke sekolah. Saya tidak membiasakan Keke untuk jajan, walaupun kantinnya terlihat bersih. Tapi membawa bekal yang saya buat sendiri akan lebih ketahuan gizinya.


 
 Salah satu contoh bekal yang Keke bawa ke sekolah. Selain mengenyangkan, komposisi makanannya seimbang dan bergizi menurut saya.


Hari Demi Hari


Mendidik anak menjadi seorang pemimpin, tentunya gak instan. Sejak lahir, hari demi hari, dan terus berlanjut hingga saat anak dewasa nanti. 5 tahun pertama di kehidupan seorang anak tentu aja masa keemasan (golden age) yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendidik seorang anak terutama pada pembentukan karakternya. Karena semakin anak besar, membentuk karakter akan menjadi lebih sulit. Tapi bukan berarti gak mungkin. 

Saya teringat ketika bayi, Keke termasuk bayi yang tenang. Lalu ada teman mamah yang menyarankan supaya Keke rajin dibikin nangis dan dibiarkan agak lama menangisnya. Alasannya, bayi yang terlalu tenang nantinya akan mempunyai suara yang kecil. Suara yang kecil akan membuat anak tidak dianggap dan katanya itu terjadi dengan anaknya.

Saya, kok, kasihan kalo harus sengaja bikin Keke menangis supaya suaranya jadi lantang. Saya lebih suka mengajarkan Keke cara berkomunikasi. Berani bersikap ketika mengeluarkan pendapat termasuk berkata tidak tapi tetap dengan cara yang santun. Terbukti dari cerita wali kelas Keke di atas. Dan sebetulnya gak cuma wali kelas waktu Keke kelas 2 aja yang bilang gitu, saya beberapa kali dapat laporan seperti itu sejak Keke TK.


Keke termasuk anak yang tenang ketika bayi

Walaupun berani mengeluarkan pendapat bukan berarti Keke langsung gampang berbaur dengan suasana sekitar. Kalau bertemu dengan orang atau suasana baru, dulu Keke lebih memilih untuk menempel ke saya. Memaksanya untuk berbaur? Itu sama aja dengan menciptakan suasana buruk untuk hari itu karena Keke pasti akan merajuk.

Padahal sebagai orang tua, saya ingin sekali melihat Keke langsung berani kalau bertemu orang atau suasana baru. Ingin sesekali lihat dia ikut lomba yang mengharuskan dia naik ke panggung, misalnya lomba nyanyi. Semasa TK, Keke selalu gak mau kalau diminta ikut lomba perorangan.

Tapi saya sadar, memaksakan anak hanyalah bentuk keegoisan orang tua. Ngomong baik-baik aja dulu. Mungkin Keke memang bukan anak yang suka tampil sendiri atau mungkin aja karena rasa percaya dirinya kurang. Memaksa dan menghakimi hanya akan membuatnya minder, lebih baik saya tingkatkan rasa percaya dirinya.

Sekarang tiap kali tahun ajaran baru, saya selalu terharu melihat Keke masuk sendiri ke sekolah tanpa harus ngumpet di balik punggung saya. Bahkan tahun lalu, dengan bangganya Keke bercerita kalau dia dipilih jadi salah satu siswa yang ikut lomba membaca Al-Qur'an.


Setiap tahun ajaran baru, saya suka terharu melihat Keke dengan gagah berani masuk sekolah sendiri

Keke gak mempunyai sahabat yang sangat dekat, dalam artian kemana-mana bermainnya hanya dengan itu-itu saja. Tapi menurut laporan guru-guru atau adeknya, di sekolah Keke bermain sama siapa saja. Dari mulai teman seangkatan, kakak-adik kelas, bahkan hingga satpam pun dia bergaul. Saya suka terharu apalagi kalau mengingat dia dulu nempel sekali sama saya.

Waktu TK, Keke pernah bilang cita-citanya adalah menjadi tukang becak. Saya tertawa dengernya. Bukan tertawa meledek, tapi memang lucu aja  buat saya. Saya lalu bilang ke Keke, "Boleh juga tapi kalau bisa Keke jadi boss becaknya. Kalau Boss kan punya banyak becak pastinya." Mendengar cita-citanya didukung, apalagi membayangkan jadi boss becak membuat wajah Keke terlihat senang. Saya memang gak mau mematikan mimpi anak. Mimpi itu perlu, dari mimpi akan mempunyai visi-misi, lalu menjadi cita-cita, kemudian bisa bekerja sesuai dengan minat dan bakat yang mereka inginkan. Mematikan mimpi bisa membuat anak menjadi tidak tahu tujuan hidupnya.

Cita-cita anak bisa berubah-ubah dan punya alasannya. Keke ingin menjadi tukang beca, mungkin karena saat itu dia lagi senang-senangnya dengan lagu 'Becak'. Cita-citanyaya sempat berubah, yaitu ingin menjadi petugas pemadam kebakaran, karena dia ingin sekali memadamkan api neraka supaya gak ada manusia yang masuk neraka. Sekarang cita-cita Keke adalah menjadi anggota TNI.

Gak ada yang salah dengan semua mimpi. Bahkan kalopun suatu saat, dia punya cita-cita 'aneh' menjadi kelinci pink misalnya. Memang tidak akan mungkin Keke menjadi kelinci pink, tapi mungkin dia berpikir seperti karena sedang berimajinasi. Dan siapa tahu kelak dia menjadi seorang ilustrator andal. Jadi tugas saya sebagai orang tua adalah mengarahkan dan membimbing Keke supaya dia dapat mencapai cita-citanya.


Cita-cita Keke sekarang menjadi seorang TNI. Apa ke depannya nanti akan berubah lagi atau benar-benar menjadi TNI? Saya sebagai orang tua hanya membimbing :)

Sejak bayi, saya selalu memberikan Keke banyak buku dan menceritakannya terutama menjelang tidur. Mungkin saat itu Keke belum mengerti, tapi saya berpikir membiasakan anak untuk dekat dengan buku akan mengembangkan daya imajinasinya. Anak yang mampu berimajinasi akan menjadi anak yang cerdas, kreatif, dan selalu ada saja ide-ide segar yang mereka miliki. Hal ini bisa berguna bagi anak di masa depan.

"Bunda, bacain buku trus peluk." Kalau Keke berkata seperti itu berarti dia sudah mengantuk tapi belum bisa tidur kalau saya belum membacakan dia buku (walaupun hanya beberapa lembar) dan kemudian memeluknya.

Sekarang karena usianya sudah 9 tahun, kegiatan yang berkaitan dengan buku gak selalu saya yang membaca. Kadang Keke membaca buku sendiri. Biasanya saya selalu berpesan ke Keke kalau sudah selesai untuk diceritakan lagi ke saya dan apa yang bisa Keke ambil dari cerita tersebut.

Di situ saya bisa menilai apakah Keke benar-benar membaca bukunya. Dan dengan mendengar pendapatnya tentang buku yang dibaca, saya bisa melihat seperti apa cara Keke menangkap nilai-nilai dari setiap buku yang dibacanya. Dari sebuah buku, kadang saya bisa melihat pendapat Keke yang bijak, berani ambil keputusan, dan lainnya.


Tidak hanya buku yang Keke baca. Dengan melihat pameran biasanya Keke suka baca tulisannya. Kalau gak mengerti, dia bertanya. Kalau mengerti, dia akan cerita panjang lebar dengan semangat

Beberapa kali saya dibikin jengkel oleh Keke karena terlihat memprovokasi adik, sepupu, atau temannya. Misalnya kalau dia ingin tambahan waktu bermain padahal sudah waktunya belajar, dia lalu membujuk adiknya sedemikian rupa sehingga adiknya merengek minta dibolehin main. Saya sering jengkel dengan sikapnya yang seperti itu.

Tapi setelah setelah saya pikir-pikir lagi dengan tenang, sebetulnya sikap provokasi Keke itu ada bagusnya. Bukankah seorang pemimpin juga harus mampu mempengaruhi dan mengarahkan orang lain? Jadi sebaiknya diarahkan saja dan jangan dihakimi sikap provokatornya itu. Seperti tadi pagi, Adiknya ngotot ingin sarapan dulu baru pakai seragam, padahal hari udah semakin siang dan sup dihidangkan masih panas. Setelah dikasih tau Keke kalau nanti mereka bisa terlambat, adiknya baru nurut. Nah, ini berarti Keke bisa mengarahkan adiknya dengan benar.


Karena baru bangun, Nai jadi sedikit ngambek. Keke pun bersedia bantuin pakai sepatu dan adiknya nurut. Artinya dia bisa mempengaruhi adiknya :)

Kalau bicara tentang perjalanan Keke menjadi seorang pemimpin memang akan sangat panjang. Karena untuk mendidik anak menjadi mempunyai jiwa pemimpin dilatihnya sedini mungkin dan terus berlanjut sampai sekarang. Yang saya lakukan selama ini adalah terus berkomunikasi dengan baik, membimbing serta mengarahkan, konsisten, dan beri mereka kepercayaan.

Ngomong-ngomong tentang kepercayaan, saya pernah dapat teguran dari Keke. "Bunda teriak-teriak terus, gak percaya banget sama Keke? Keke itu bisa bundaaa..." Saat itu memang saya terlalu cerewet mengingatkan Keke untuk berhati-hati ketika di Tangkuban Perahu. Saya seperti gak percaya dengan kemampuannya dan itu membuat dia protes.

Saya gak marah, justru sadar kalau saya memang salah. Gimana Keke bisa jadi pemimpin kalau kita gak pernah kasih dia kepercayaan? Harusnya saya cukup mengarahkan saja sesekali. Teguran Keke adalah bentuk komunikasi yang bagus.


Menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah. Seringkali menemukan jalan yang menanjak dan terjal seperti yang Keke lakukan di Tangkuban Perahu

Lalu bagaimana dengan adik Keke? Walaupun perempuan, adik Keke tetap harus juga punya jiwa pemimpin. Tapi ceritanya juga akan sangat panjang, jadi kali ini saya hanya akan bercerita tentang perjalanan Keke seorang pemimpin.

Oiya seorang pemimpin juga harus mandiri. 2 hari lalu saya terharu dengan sikap Keke yang bangun dengan semangat dan ingin memasak sarapan dan bekal untuk dia dan adiknya. Saya hanya memantau dari dekat karena Keke pengen melakukannya sendiri.


Bekal sederhana yang dibikin Keke, tapi ternyata habis disantap.

Continue Reading
44 comments
Share: