Kamis, 29 Januari 2015

Kisah 3 Emak Menikmati Liburan Sekolah Di Tanakita

Ini kisah 3 emak menikmati liburan sekolah di Tanakita. Eits! Yang berlibur sebetulnya anak-anak, tapi 3 emak ini ikut-ikutan ajah hahaha. 3 emak yang dimaksud adalah Chi, Teh Nchie, dan Mbak Alaika. Kami bertiga kopdar di Tanakita saat liburan sekolah lalu (20-21 Desember 2014).

Chi sekeluarga udah berangkat dari hari Jumat pagi. Rencananya mau main ke situs megalitik Gunung Padang dulu. Setelah perjalanan yang lumayan panjang *gak bisa cepet-cepet karena macet dan Keke kurang enak badan*, kami pun sampai di Gunung Padang sore hari. Sekitar 1 jam kami berada di sana, kemudian lanjut ke Tanakita.

Sepanjang perjalanan ke Tanakita, hujan mulai turun. K'Aie ngajakin ngebaso dulu di kota Sukabumi. Cuma Nai yang gak mau makan bakso. Dia lebih milih makan sop duren. Sampai Tanakita hujan turun semakin deras.

Gak ada tamu. Jadi gelap aja suasananya hehe

Karena malam itu tidak ada tamu, suasana Tanakita sepiii banget. Hujan yang turun sangat deras, gak memungkinkan untuk mendirikan tenda. Kami sekeluarga pun tidur di kamar yang ada di Tanakita yang biasa dipake tidur para crew. Walopun tidur di dalam bangunan, tapi rasanya dingin banget. Karena gak semua dindingnya tertutup. Ada yang terbuka, sehingga angin bebas masuk. Brrr...

Gak tau deh itu crew Tanakita pada bangun pukul berapa. Pokoknya, pas Chi bangun udah banyak tenda yang berdiri tegak. Setelah bersantai-santai, kami pun memilih cari sarapan di salah satu warung yang ada di pintu masuk taman nasional. Sebetulnya, salah satu crew nawarin bikinin nasi goreng. Tapi gak apa-apa, lah sesekali cari jajanan di luar.

Kami masih selimutan, tenda udah pada berdiri tegak :D
Siap menyambut kedatangan 2 blogger Bandung, pake sepatu boots favorit kalau jalan-jalan outdoor hehehe

Chi dan anak-anak pilih mie instant, K'Aie cuma pilih ngopi. Selesai sarapan, ngobrol-ngobrol sebentar di rumah temen K'Aie. Setelah itu, balik ke Tanakita. Nungguin 2 emak Bandung yang mau datang.

Gak sengaja kompakan sama crew Tanakita. Merah-hitam pakaiannya :D

Setelah Teh Nchie dan Mbak Al datang, hari pertama kami lalui dengan ngobrol terus. Nai sempet beberapa kali nyamperin. Awalnya, Chi pikir dia rewel karena pengen ditemenin. Tapi tambah malam, tambah rewel. Bahkan menangis karena perutnya semakin sakit. Setelah dikasih obat, Nai tidur cepat malam itu. Nai sepertinya masuk angin, karena dari berangkat asupan makannya kurang benar.

Besok paginya, setelah sarapan, kami (Chi, Teh Nchie, Mbak Al, Nai, dan Olive) berencana mau jalan-jalan ke danau. Keke gak ikut. Dia nemenin ayahnya ambil Land Rover buat ajakin kami semua off road. Uhuuy!

Menikmati Liburan sekolah di tanakita
Di perjalanan menuju danau, nyantai dulu di saung :)

Di danau Situ Gunung, kami gak cuma foto-foto tapi juga naik perahu. Untuk pertama kalinya, Chi ngerasain naik perahu di danau situ gunung. Padahal udah berkali-kali ke danau ini. Kalau Keke dan Nai sih, udah pernah beberapa kali naik perahu keliling danau.

Sepatu boots yang ikutan eksis terus. Abis yang punya memang fans berat sepatu boots. Walopun gak banyak juga koleksi bootsnya :D

Setelah keliling danau, kami langsung ketemu sama Keke, K'Aie, dan Adam (temen K'Aie). Kami akan diajak jalan-jalan pake Land Rover. Siap-siap menjerit hahaha! Chi udah pernah diajakin jalan-jalan pake Land Rover di Tanakita. Waktu itu cuma sekeluarga dan K'Aie yang nyetir. Kali ini, Adam yang nyetir. Walopun udah pernah, tetep aja kalau mobilnya nyangkut atau lewatin jalan yang lumayan curam dan hancur bikin jejeritan :D


Belum cukup kalau cuma off road. Lanjut lagi nyobain flying fox. Ada yang gemetaran dan lama banget negonya di atas pohon buat meluncur. Tapi setelah nyobain sekali malah ketagihan *Hayo ngaku! Hahaha* Hujan turun deras juga saat kami main flying fox. Gak apa-apa, lah. Kapan lagi emak-emak kayak kita mandi hujan dengan sengaja? Hihihi

Kelihatan, kan Naima dan Olive yang lagi meluncur?
Kapan lagi, emak-emak bisa bebas mandi hujan kayak gini? Hehehe

Selesai flying fox, balik ke tenda buat bebersih, makan siang dan packing. K'Aie dan Keke sempet ngilang. Gak taunya, mereka pergi dulu buat cari duren. Mumpung lagi musim duren. Sayangnya Teh Nchie dan Mbak Al, katanya gak suka duren. Hmm ... jadi deh kami makan duren tanpa mereka. Rugi lho kalau gak suka duren :p

Biarpun anak-anaknya yang liburan sekolah, sebagai emak kan kita juga berhak ikut menikmati hehe. Chi seneng banget bisa liburan bareng Teh Nchie dan Mbak Al. Semoga lain waktu bisa liburan bareng lagi, ya. :D

Continue Reading
61 komentar
Share:

Senin, 26 Januari 2015

Peranan Orangtua dalam Pendidikan Seksualitas pada Anak Usia Baligh dan Remaja bersama ibu Elly Risman

Peranan Orangtua dalam Pendidikan Seksualitas pada Anak Usia Baligh dan Remaja bersama ibu Elly Risman, M.Psi adalah acara seminar parenting yang Chi datangi hari Sabtu lalu (26/01). Bertempat di sekolah Keke dan Nai.

Sudah 3 tahun tahun terakhir ini, sekolah memang rutin mengadakan seminar parenting. Tahun pertama, seminar parenting tentang Pendidikan Karakter Anak bersama Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd. Yang kedua, Chi lupa sama siapa karena saat itu Chi gak bisa hadir. Dan yang ketiga, alhamdulillah Chi bisa hadri lagi walaupun gak sampai tuntas karena harus mengejar waktu supaya gak telat ke acara Warung Blogger.

Peranan orang tua dalam pendidikan seksualitas pada anak usia baligh dan remaja bersama Elly Risman

Peranan Orangtua dalam Pendidikan Seksualitas pada Anak Usia Baligh dan Remaja bersama ibu Elly Risman


Ibu Elly membuka seminar parenting kali ini dengan sebuah pertanyaan, "Sejauh mana kita telah menjadi orang tua sebaik-baiknya dengan anak kandung?" Disini sebagai orang tua kita semua diajak merenung, apakah yakin sudah menjadi orang tua yang sebaik-baiknya untuk anak? Karena kenyataannya, trend anak dan remaja zaman sekarang adalah terpaparnya pornografi sejak awal. Terutama sejak kelas 4 bahkan ada yang sejak kelas 1 bahkan TK.

Gadget menjadi salah satu penyebab penyebaran pornografi. Banyak orang tua yang hanya mampu membelikan gadget tapi tidak mampu memberikan edukasi gadget kepada anak. Kebanyakan orang tua membelikan gadget hanya karena gengsi melihat orang tua lain mampu membelikan anaknya gadget, masa' kita enggak. Ada juga yang membelikan gadget supaya anaknya anteng. Tapi, sama sekali tidak mengedukasi anaknya apa yang baik dan tidak dalam gadget.
Masih banyak orang tua yang berpikir, "Ah, anak tau apa, sih?" atau orang tua berpikir kalau mereka itu lebih tau dari anak. Padahal anak-anak zaman sekarang itu pintar-pintar. Karena mereka adalah generasi Digital Natives sedangkan orang tuanya adalah generasi Digital Imigrant. Artinya, anak-anak sekarang itu lebih akrab dengan teknologi digital bahkan sejak lahir. Gak heran kalau banyak anak-anak sekarang yang gak gaptek, berbeda dengan orang tuanya.

Kalau orang tua tetap bertahan dengan kegaptekannya, selalu merasa aman, itu berbahaya. Anak-anak akan mudah mendapatkan banyak sekali info dari dunia digital tanpa ada yang membendung dan memfilter.  Orang tua baru sadar setelah terjadi sesuatu terhadap anaknya.

Menurut tabel yang dibuat ibu Elly berdasarkan survey, rumah belum tentu menjadi tempat teraman. 52% pornografi justru terjadi di rumah (termasuk di kamar mandi), 18% di bioskop, 10% di rumah teman, 3% di sekolah, sisanya lain-lain. Mereka mendapatkan pornografi dari film bioskop atau DVD (20%, situs 13%, games 13%, sisanya lain-lain.

Ibu Elly juga melakukan survey kepada beberapa anak pra-remaja. Beliau bertanya, "Sudah siapkah menjadi remaja?" 57% anak mengatakan siap. Tapi, banyak orangtua yang terdiam ketika ditanya persiapan apa saja yang sudah dilakukan dalam menghadapi pubertas? Bisa jadi artinya, anak siap menjadi remaja untuk sesuatu yang salah.

  1. Sudah sejauh mana anak dipersiapkan memasuki pubertas?
  2. Apakah orang tua melakukan sendiri persiapan tersebut atau mengharapkan orang lain yang melakukan
  3. Apa yang ingin dibahas dengan anak?
  4. Sudahkah membahas isu-isu mutakhir tentang kasus-kasus anak dengan anak?

Banyak orang tua yang merasa nanti aja. Belum saatnya, tunggu anaknya cukup umur dulu. Padahal, kasus pornografi mulai banyak terjadi sejak anak usia dini. Mereka melakukan itu karena meniru dari apa yang dilihat karena banyak anak yang sudah akrab dengan gadget sejak kecil tanpa filter. Bicaralah dengan anak, dengan bahasa yang mereka bisa mengerti.

Orang tua juga banyak yang mengharapkan orang lain yang bisa mendidik anak mereka. Anak mereka disekolahkan, di masukkan ke bimbel, TPA, dan lain-lain karena berharap pihak-pihak lainlah yang bisa mendidik anak-anak. Padahal pihak-pihak lain sifatnya hanya membantu. Yang tetap harus bertanggung jawab dan akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT nanti adalah orang tua. Bahkan bu Elly Risman mengatakan kalau banyak orangtua yang lebih peduli, sibuk, dan pusing sama urusan politik ketimbang sibuk dengan tumbuh kembang anak

Tidak percaya diri bicara seks kepada anak juga dialami banyak orang tua. Karena budaya kita yang masih menganggap bicara seks kepada anak adalah sesuatu yang tabu menjadi salah satu penyebabnya. Supaya orang tua menjadi percaya diri saat mangajak anak bicara seks, harus ada 2 hal yaitu sadar dan sepakat.

Sadar

  • Tanggung jawab kepada Allah SWT - Anak adalah amanah yang Allah berikan kepada orang tua. Kalau Allah memberikan amanat tersebut dalam keadaan baik, maka ketika saatnya nanti kita pun harus mengembalikannya dalam keadaan baik.
  • Gentingnya masalah karena isu-isu yang berkembang
  • Anak perlu pendampingan untuk melalui masa pubertas

Sepakat 

Orang tua harus punya concern, commitment, dan continuity untuk menyediakan waktu dan tenaga bersama anak-anak. Komunikasi harus benar, baik, dan menyenangkan.

Menurut bu Elly, Seks dan Seksualitas adalah 2 hal yang berbeda.

Seks

  • Segala sesuatu yang berhubungan dengan alat kelamin
  • Menjadi laki-laki atau perempuan

Seksualitas

  • Totalitas kepribadian
  • Apa yang kau percayai, rasakan, pikirkan, dan bagaimana bereaksi
  • Bagaimana Anda berbudaya, bersosialisasi, dan berseksual
  • Tampil ketika berdiri, tersenyum, berpakaian, tertawa, dan menangis
  • Menunjukkan siapa diri kita

Orang tua harus mengajarkan seksualitas kepada anak sejak dalam kandungan. Bahkan sejak kita memilih pasangan. Orang tualah yang menjadi pendidik pertama tentang seksualitas anak. Cara orang tua mendidik anak ada 3 hal pilihan orang tua:

  • Jangan membeo - menurut ibu Elly, banyaknya pakar parenting yang berbicara bukan berarti kita harus membeo. Membeo itu seperti burung beo yang selalu meniru persis apa yang didengarnya. Tapi lihat dan cerna dulu apa yang dikatakan oleh pakar tersebut, Apabila tidak sreg bagi kita, jangan lakukan.
  • Mengulang sejarah - kalau kita berpikir, dulu gak pernah dipersiapkan masa pubertas oleh orang tua kenyataannya aman-aman saja, gak berarti ketika kita mengulang hal yang sama dengan yang orang tua kita lakukan dulu juga akan tetap aman. Jadi, gak selalu semua sejarah bisa diulang.
  • Merubah fikiran - tiap zaman, beda tantangannya. Penting bagi orang tua untuk selalu mengupdate dan merubah sudut pandangnya.

Agar orang tua merasa percaya diri ketika memberikan pendidikan seksualitas kepada anak adalah:

  • Berlandaskan agama
  • Menyikapi dan mempersiapkan materi sesuai umur anak
  • Berlatih bicara - ada beberapa hal yang mungkin cukup berat bila dibicarakan dengan anak. Supaya tidak salah, orang tua sebaiknya berlatih bicara sendiri dulu.
  • Gunakan istilah al-quran, kitab suci, atau bahasa ilmiah - contohnya, ketika mengenalkan kemaluan, masih banyak orang tua yang bilangnya 'burung' atau 'dompet'. Padahal anak itu berpikir konkrit. Bilang aja ke mereka kalau itu kemaluan. 
  • Jangan jaim - orang tua gak perlu takut salah dalam mendidik anak. Biar gimana orang tua adalah manusia. Sewaktu-waktu bisa salah.

Bu Elly bercerita, suatu hari beliau pernah dikritik oleh salah seorang anaknya yang bersekolah agama. Katanya, beberapa hadist yang selama ini diajarkan ibunya itu hadist lemah. Anaknya lalu memberitahu hadist yang kuat kepada ibunya. Yang dilakukan bu Elly saat itu adalah

  1. Jangan putus asa - ketika kita merasa telas salah mendidik anak, percayalah kepada rahmat Allah
  2. Mentertawai diri sendiri - mampu mentertawai diri sendiri itu salah satu tanda kalau kita sehat
  3. Salah adalah hal yang manusiawi

Sesekali anak juga perlu bicara dari hati ke hati dengan orang tuanya. Apabila orang tua memiliki lebih dari satu anak, jangan dibarengi pembicaraan dari hati ke hatinya. Ayah dan ibu pun mempunyai masing-masing pertanyaan. Karena biasanya pemikiran ayah dan ibu bisa berbeda.

Chi gak selesai ikut seminarnya. Padahal ada sesi praktek berbicara juga. Tapi, setidaknya udah ada beberapa ilmu berharga yang bisa Chi dapatkan. Saat seminar tersebut, Bu Elly juga banyak bercerita tentang kasus-kasus seks hingga pergaulan pada anak bahkan sejak usia dini. Bikin kepala jadi rada cenat-cenut sekaligus mengurut dada, deh.

Tapi, setelah Chi berpikir keras, diputuskan beberapa hal untuk tidak menulisnya disini. Saat itu, bu Elly sangat tegas tidak mengizinkan orang tua yang membawa anak masuk ke dalam seminarnya. Ada beberapa materi yang memang bukan konsumsi anak-anak walopun itu terjadi pada anak. Dan dengan alasan yang sama, Chi pun tidak menulis di sini. Karena blog ini sering dibaca oleh Keke dan Nai. *Sedang dipikirkan media lain*

Dari seminar tersebut *walopun gak tuntas lihatnya*, ada beberapa ucapan bu Elly yang bisa Chi kasih catatan penting:

  1. Selalu berlandaskan agama
  2. Orang tua selalu mendapatkan PR dalam hal mendidik anak
  3. Jangan pernah berharap hasil instan ketika mendidik anak
  4. Selalu update perkembangan terbaru dari dunia anak
  5. Jangan takut salah
  6. Orang tua itu terdiri dari ayah dan ibu. Penting sekali untuk keduanya berperan dalam mendidik anak, bukan hanya tanggung jawab ibu saja.

Continue Reading
45 komentar
Share:

Kamis, 22 Januari 2015

Acara Tahun Baru Yang Tidak Baru

Huahahaha! Selamat datang 2015 yang udah berjalan 22 hari. Chi mau cerita tentang acara tahun baruan 2013 dan 2014. Acara tahun baru yang tidak baru sebetulnya karena udah lewat hehehe. Ya tapi daripada nanti Chi ceritanya di 2016, lebih tidak baru lagi hihihi.

Sebetulnya, gak pernah ada keharusan untuk merayakan tahun baru, sih. Tapi karena kebetulan aja setiap tahun baru itu bertepatan dengan libur sekolah. Kalau lagi libur sekolah, Keke dan Nai kan suka pengen sesuatu yang 'beda'. Maksudnya gak cuma di rumah aja. Kalaupun di rumah aja, ada sesuatu yang spesial, lah.

Dan karena masa liburan sekolah juga, suka jadi momen untuk kumpul bareng keluarga besar. Selain Idul Fitri tentunya. Biasanya sih kumpul di Bandung. Tapi, pernah juga kumpul di salah satu keluarga yang gak tinggal di Bandung. Pokoknya dimana ajalah yang penting kebersamaannya.

Kalau udah begitu biasanya ngobrol-ngobrol sepanjang malam sambil panggang-panggangan. Biasanya daging sapi, ayam, jagung, sosis, dan baso. Tambahannya paling kentang goreng, mash potato, sama onion ring. Walopun begitu, biasanya diantara kami jarang ada yang begadang. Paling pukul 11 malam udah banyak yang tidur kecapean hehehe.

2013
Acara Tahun Baru
Sudah siap tahun baruan, nih. Alat panggangan, daging, sosis, dan marshmallow tentunya :)

2 tahun lalu, keluarga besar pada nginep di rumah Chi. Siang hari di tanggal 31 Desember 2012, kami pergi ke salah satu hypermarket dekat rumah. Beli daging (wagyu, rib eye, tenderloin, dan sirloin), peppercorn, olive oil, briket, dan lain-lain untuk tahun baruan. Kecuali grill atau alat panggangan, karena udah punya. Seseruan ajah. Steak dan makanan lainnya juga gak perlu ditata seperti di resto. Yang penting rasanya enak dan kebersamaannya seru.

Selesai makan, anak-anak lanjut main Uno. Abis itu lajut main confetti pops. Rumah jadi berantakan? Banget! Hahaha. Gak apa-apa, lah. Yang penting happy. Gak ada main kembang api. Udah dipake buat beli daging uangnya hehe. Lagian udah banyak banget yang main kembang api. Tinggal ke luar rumah dan mendongak ke langit aja. Pasti banyak bertebaran kembang api sekaligus suaranya yang jeder-jeder gak ada brentinya.

Spesial malam tahun baru, bebas ngeberantakin rumah. Gak apa-apalah. Daripada bermacet-macetan di jalan hehe.

2014

Rencananya tahun baruan kemaren, kami sekeluarga pengen ke Bandung. Apa boleh buat, beberapa hari sebelum tahun baru, Nai demam. Gak pengen bikin anak-anak kecewa, kami janji kalau Nai udah sembuh, tahun baruan di rumah kakek-neneknya di Jakarta.

Menjelang tahun baru, Nai sudah sembuh. Kamipun menepati janjinya. Paginya, pergi dulu ke hypermarket trus lanjut ke meat shop di daerah pasar Santa. Rame banget meat shopnya. Semua pengen makan daging, saat tahun baru hihihi. Daging yang kami beli pun masih sama kayak tahun lalu (wagyu, rib eye, dan tenderloin) hanya kali ini tanpa sirloin. Porsinya gak sebanyak tahun lalu karena yang ikut makan kali ini cuma sedikit. Alat panggangan, bawa dari rumah. Menuh-menuhin bagasi mobil kami yang mungil wkwkwk.

Sebetulnya, keluarga besar Chi akhirnya pada nginep di Tangerang. Kamipun diajak untuk gabung di sana. Tapi, karena Nai baru sembuh, lagipula udah janji mau tahun baru di rumah kakek-nenek Keke dan Nai, kami pun harus menolak ajakan tersebut. Semoga tahun baru atau kesempatan berikutnya kita bisa kumpul bareng lagi :)

Seperti biasa, kalau urusan panggang-memangggang, dari mulai membumbui sampai memanggang itu bagian K'Aie. Chi bagian goreng-goreng ajah. Biasanya dari pukul 5 sore, K'Aie udah siap-siap, tuh. Keke dan Nai? Bagian makannya ajah hehe.

Walopun tahun baru kami kali ini hanya sepasukan kecil yang merayakan, kami semua tetap merasa senang. Senang karena masih bisa berkumpul. Senang karena semuanya senang. Gak ada alasan untuk galau malam itu :)

Sekali lagi, gak ada maksud untuk hura-hura atau menjadikan tahun baru sebagai suatu hari yang wajib dirayakan. Hanya karena momennya pas dengan liburan sekolah aja dan rezekinya juga ada. Kalau bukan pas liburan sekolah juga kayaknya gak bakal ada kegiatan kayak gini hehe.

Kalau lagi musim liburan sekolah, apalagi tahun baru, kami memang lebih memilih di rumah. Mau kemana-mana penuh! Apalagi tahun baru, bisa-bisa parkir massal di jalan. Pernah ngalamin juga sih beberapa tahun lalu sama anak-anak. Kapok, lah. Jadi, mending di rumah aja. Kumpul keluarga sambil panggang-panggangan. Itu udah nikmat banget. :)

Gak ada mash potato, onion ring, dan marshmallow, saat tahun baru lalu. Pasukannya cuma sedikit. Kalau kebanyakan menu, siapa yang mau habisin? :)

Continue Reading
46 komentar
Share:

Senin, 19 Januari 2015

Bye-Bye Bento!

Sepertinya, Chi sudah harus memantapkan diri untuk mengatakan, "Bye-Bye Bento!" untuk bekal sekolah Keke dan Nai. Bento, berasal dari istilah bahasa Jepang untuk bekal makanan. Isi dalam 1 tempat bekal makanan bento itu lengkap, yaitu nasi, lauk-pauk, dan sayur. Tapi, Chi juga sering lihat bento yang berisi roti dan buah-buah atau camilan lainnya. Bedanya bento dengan bekal makanan biasa, kalau bento ada unsur artnya. Bento gak cuma sekedar diisi berbagai makanan begitu saja. Tapi, juga ditata bahkan dihias supaya terlihat menarik bagi yang makan.

Umumnya, seorang ibu menyiapkan bento untuk anaknya supaya mau makan.Chi pun begitu. Tapi, bukan karena Nai susah makan. Cuma agak lama kalau gak diawasin. Suka banyak mainnya kalau udah makan sama temen-temennya. Akhirnya, bekal makannya jarang habis. Kalau Keke sih gak usah dibento juga (dulu) selalu habis. Karena Nai suka susah menghabiskan makannya, mulailah Chi terpikir untuk membuat Bento. Alhamdulillah, berhasil. Nai mulai mau menghabiskan makanannya.

Chi masih inget, waktu pertama kali bikin bento itu gak jelas banget bentuknya. Maksud hati mau bikin kepala Doraemon. Tapi, bentuknya jadi gak jelas begitu. Orang yang lihat juga kayaknya gak bakal mengira kalau itu Doraemon hehehe. Bahkan bentuk kepalanya juga gak bulat. Gak jelas bentuknya apa. Udah gitu bikinnya lama banget :D
Waktu itu, Chi memang belum mengerti cara bikin bento. Bahkan, Chi belum tau kalau ada yang namanya cetakan bento yang bisa mempermudah bikin bento. Bener-bener waktu itu gak pake alat bantu sama sekali. Nasi dikepal-kepal pake tangan, nori dibentuk pake gunting yang gede hihihi.

Setelah tau, sedikit demi sedikit mulai ngumpulin peralatannya termasuk cetakan bento. Lama-lama terkumpul lumayan banyak. Memang sih, apa yang Chi bikin masih belum sebagus mereka yang sering bikin bento. Tapi yang penting anak-anak senang dan lahap.


Beberapa waktu lalu, Chi sempat berhenti bikin bento. Keke protes karena setiap kali bikin bento, sering dimintain sama teman-temannya. Awalnya, dia gak keberatan berbagi dengan temannya. Tapi, lama-lama Keke keberatan. Dia minta Chi jangan bikinin bento lagi buat dia. Setelah brenti, lama-lama Keke kepengen lagi dibawain Bento. Jadilah, Chi mulai ngebento lagi.

Ketika Nai mulai gak habis bawa bekalnya, Chi mulai berhenti ngebento. Beberapa kali Chi tegur, tetep aja Nai cuma janji. Kenyataannya, bekalnya gak pernah habis. Dia lagi asik main sama teman-temannya. Makanya, suka terburu-buru kepengen main.

Nai sempet protes ketika Chi mulai berhenti bikinin dia bento. Chi bilang ke dia, kalau ngebento itu artinya Chi harus bangun lebih pagi untuk meghias. Kalau trus gak dihabisin, rasanya kecewa. Nai harus belajar untuk menghargai usaha orang lain.

Membuat bento itu membutuhkan lebih banyak waktu ketimbang menyiapkan bekal biasa. Karena harus membentuk nasi, mencetak nori, dan lain sebagainya hingga semuanya tertata dalam 1 kemasan. Dan, Chi harus menyiapkan 2 kemasan setiap harinya. Belum lagi harus mikir dulu, kira-kira mau dibikin apa bentonya. Jadi, kalau Chi minta Nai untuk menghargai usaha bundanya, bukan berarti Chi gak ikhlas. Tapi, anak memang harus belajar menghargai usaha orang lain kalau dia ingin dihargai.

Gak berhasil juga bikin Nai menghabiskan bekalnya, Chi pun bilang akan mengurangi uang jajannya. Keke dan Nai cuma dikasih uang jajan seminggu sekali aja, masing-masing sebesar Rp10.000,00. Setiap kali bekalnya gak habis, Chi akan mengurangi jatah uang jajan sebesar Rp1.000,00.

Nai gak mau uang jajannya dikurangi. Nai janji akan menghabiskan bekalnya. Sampe saat ini, cara tersebut berhasil! Sejak itu, Chi juga mulai berhenti bikin Bento. Iyalah, tujuan awal Chi bikin  bento kan supaya anak-anak mau menghabiskan bekalnya. Kalau cara itu udah gagal, berarti harus cari cara yang lain hehe.

Gak langsung drastis berhenti, sih. Sesekali Chi masih suka bikinin bento sampe akhirnya berhenti total. Chi lupa sejak kapan, udah ada beberapa bulan kayaknya. Anak-anak terutama Nai, terkadang masih suka minta dibikinin. Tapi, Chi pikir berhenti dulu aja, lah. Yang penting tetap bawa bekal dan makannya habis.  Eh, lama-lama keasyikan. Karena bikin dan gak bikin, selisihnya bisa 30 menitan. 30 menit kan lumayan tuh buat nambah-nambah waktu tidur wkwkwk.

Sebetulnya, Chi suka kangen juga ngebento. Apalagi kalau melihat koleksi perbentoan yang udah lumayan banyak. Gregetan rasanya pengen ngebento lagi. Nah, untungnya beli aneka cetakan bento itu gak ada ruginya walopun sekarang udah berhenti. Kayak berbagai puncher, bisa beralih fungsi untuk craft. Beberapa peralatan lain juga begitu. Kalau enggak, simpen aja. Kali aja suatu saat Keke atau Nai pengen belajar bento. Setidaknya, mereka udah punya beberapa peralatannya. Gak perlu nyicil dari nol lagi kayak bundanya hehe.

Buat Chi yang penting Keke dan Nai  mau menghabiskan bekal sekolahnya. Jadi, gak bikin bento pun gak apa-apa. Sesekali memang harus cari akal. Karena satu cara yang udah pernah berhasil, belum tentu selamanya berhasil. Tergantung situasi dan kondisi juga.

Dan yang pasti, ada atau gak ada bento, bawa bekal ke sekolah itu harus. Jajan terus bukan pengiritan namanya. Jadi, semangat terus bikin bekal. Semoga Keke dan Nai pun tetap semangat menyantap bekalnya :)

Continue Reading
72 komentar
Share:

Jumat, 16 Januari 2015

Nai dan Marshmallow

Nai: “Ayah/Bunda! Kapan beli marshmallownya?”

Nai dan marshmallow itu udah kayak teman baik hihihi. Setiap kali mau camping ke Tanakita, marshmallow adalah bawaan wajib buat Nai. Kalau belum dibeliin, bakalan ribut gak brenti-brenti.

Nai dan marshmallow
Camping 2 tahun lalu. Kegiatan yang ditunggu anak-anak, bakar marshmallow di api ungun

Marshmallow itu makanan ringan yang kalau dipegang teksturnya kayak busa. Trus, kenyal kalau digigit. Marshmallow ada yang bagian dalamnya isi selai ada juga yang enggak. Kalau Nai suka yang isinya coklat. Walopun gak seheboh Nai kalau minta marshmallow, Keke suka yang isinya strawberry.

Keke dan Nai memang suka sama marshmallow. Tapi, mereka hanya minta saat pergi camping. Atau kalau lagi ada acara kumpul keluarga yang bikin bakar-bakaran. Alasannya, karena Keke dan Nai lebih suka makan marshmallow yang udah dibakar.
Marshmallow ditusuk dulu pake tusuk sate, atau kalau gak ada ditusuk pakai ranting pohon juga gak apa-apa. Setelah itu dibakar di api ungun atau di panggangan. Setelah dibakar, bagian luar marsmallow akan mengalami karamelisasi. Trus, bagian dalamnya akan sedikit lengket dan mirip kayak mozzarella. Tentu aja bukan dari rasanya, ya. Tapi dari teksturnya yang dapat mulur (bahasa Indonesianya ‘mulur’ apa, ya? Hihihi) panjang dan agak lengket setelah dipanggang.

Bakar marshmallownya cukup sampai kecoklatan aja biar masih bisa dimakan. Kalau sampe gosong, bagian luarnya harus dibuang karena pahit. Padahal bagian luar marsmallow yang sudah dibakar itu enak, lho. Ada tekstur ‘kres-kres’ kalau dimakan. Renyah gitu, deh.

Marshmallow bisa dicamil, dicampur sama makanan/miniman lain seperti es krim atau susu, atau dibakar. Buat kami, paling enak memang dibakar di perapian, apalagi di depan api ungun. Pernah beli buat makan di rumah. Karena males nyiapin panggangan cuma buat sekedar manggang marsmallow, akhirnya Keke dan Nai manggangnya di kompor gas! Hahahaha. Tapi, sensasinya memang beda, ya. Jadi, sekarang mereka cuma minta marsmallow kalau lagi mau camping atau acara BBQ party seperti tahun baru.

Liburan sekolah kemaren, kami sekeluarga camping lagi di Tanakita. Seperti biasa, Nai udah ribut aja pengen marshmallow. Dan, baru berhenti minta setelah dibeliin. Padahal perjalanan masih jauh banget. Malah kami masih harus menuju gunung padang.

Sayangnya, perjalanan kali ini Nai kurang jaga asupan makanan. Chi juga kurang cerewet saat itu. Biasanya, Chi rada cerewet kalau anak-anak mulai susah makan saat lagi jalan-jalan. Rada nyesel juga, sih. Karena akhirnya Nai sempet sakit masuk angin. Rewel dan nangis terus saat camping. Dibujukin sama marshmallow pun gak mempan. Baru diam setelah Chi kasih obat, olesin perutnya pakai minyak kayu putih, trus dia tidur nyenyak sampai besok pagi.

Nai dan Marshmallow
Camping pas liburan kemaren. Padahal udah semangat mau bakar marshmallow. Gak taunya, gak lama kemudian Nai malah sakit. Batal deh, kegiatan yang udah ditunggu.

Besoknya, udah siap-siap mau pulang. Walopun masih utuh marshmallownya, tapi Nai gak mau kalau gak dipanggang. Ya udah, mudah-mudahan masih akan ada camping lagi. Makan yang bener ya, Nai. Biar malamnya, setelah makan malam, bisa puas makan marshmallow.

Teman-teman, suka marshmallow juga?

Continue Reading
35 komentar
Share:

Rabu, 14 Januari 2015

Demam Doraemon

Doraemon, Stand By Me, 100 Doraemon Secret Gadget Expo

Demam Doraemon


Liburan sekolah lalu bisa dibilang kami sekeluarga terkena “Demam Doraemon”. Dari mulai datang ke event “100 Doraemon Secret Gadget Expo” sampe nonton “Stand By me, Doraemon”. Karena itu pula, Keke dan Nai mulai menonton kartun doraemon lagi di youtube setiap hari :D

Saking senengnya diajak ke Doraemon Expo, dari beberapa hari sebelumnya Nai udah bilang mau pakai kaos Doraemon kalau jadi ke sana. Kaos yang Nai pake itu sebetulnya punya Keke waktu kecil. Karena kualitasnya masih bagus dan warnya juga belum pudar, jadi bisa dilungsurin ke Nai.

Keke dan Nai memang bukan generasi Doraemon. Maksudnya, gak kayak bundanya waktu kecil yang setiap minggu pagi duduk manis di depan tv untuk menonton Doraemon. Sekarang tontonan kartun kan banyak banget pilihannya. Apalagi tv kabel yang kami punya gak ada channel ke stasiun tv lokal yang ada Doraemonnya itu hehe.

Tapi, bukan berarti mereka asing dengan kartun Doraemon. Youtube jelas jadi salah satu andalan mereka. Selain itu, Chi masih punya beberapa komik Doraemon yang bisa Keke dan Nai baca. Makanya walopun bukan generasi Doraemon, mereka tetep ikut kena demam Doraemon saat liburan kemaren.
Ngomong-ngomong, kami masih punya sisa 4 tiket Doraemon Expo yang belum dipakai. Udah ada rencana sih kapan mau dipakainya. Walopun masih agak lama, tapi Nai semangatnya udah dari sekarang. Dia semangat karena waktu itu gak jadi beli souvenir, jadi masih ada kesempatan untuk beli souvenir dikunjungan berikutnya hehehe. Semangat yang lainnya adalah dia kepengen kami sekeluarga bebarengan pake kaos seragam, kaos Doraemon !

Nai memang suka kepengen pake seragaman. Paling enggak sama bundanya. Kalau tiap jalan-jalan, dia suka tanya, “Bunda pakai baju apa?” Walopun gak pakai baju yang sama persis, minimal warnanya senada. Kayaknya boleh juga usul Nai untuk pake kaos Doraemon kalau datang ke exponya lagi. Buat seru-seruan ajah. Minimal kembaran antara Nai dan bunda.

Walopun belum memutuskan, Nai udah mulai lihat-lihat kaosnya di toko online. Kaos Doraemon yang dijual banyak yang bagus gambarnya. Tapi, bagaimana kualitasnya? Chi punya 3 tip yang biasa dilakukan ketika membeli kaos secara online: 

  1. 100% cotton – Udah paling juara deh baju yang bahannya katun. Adem dan menyerap keringat. Kaos yang berbahan polyester gak ada enaknya sama sekali. Udara panas atau dingin, serba salah.
  2. 20s cotton combed – Suka lihat gak spesikasi kaos yang menyebutkan 20s, 24s, 30s, dan 40s cotton combed? Katanya sih, semakin kecil angkanya berarti kaosnya semakin tebal. Tapi selama bahannya itu katun, gak usah takut kegerahan.
  3. Lingkar dada – Ketika membeli baju, Chi kurang sreg kalau penjual hanya mencantumkan size S, M, L, bahkan all size. Kadang kalau cuma ukuran kayak gitu suka gak standar. Jadi, mending cari yang detil. Kalau enggak, tanya langsung ke penjualnya biar gak salah pesan. Lingkar sama lebar dada beda, ya. Biasanya lingkar itu hampir 2x lipat lebar dada.

Paling tiga hal itu aja sih yang selalu Chi lihat kalau mau beli kaos. Selama ini sih, sesuai yang Chi mau kualitasnya. Nanti, kalau kami jadi beli kaosnya, diceritain deh ke blog ini gimana rasanya seragaman hehe.

Continue Reading
52 komentar
Share:

Minggu, 11 Januari 2015

E-Sabak Dalam Sudut Pandang Seorang Ibu


E-Sabak. Istilah yang akhir-akhir ini cukup sering Chi baca atau dengar di berbagai media, maupun dalam obrolan-obrolan dengan teman maupun keluarga. Coba aja googling dengan keyword E-Sabak, akan ketemu beberapa berita yang menulis ini. Chi bukan termasuk orang tua yang anti digital. Malah rasanya kami sekeluarga cukup akrab dengan dunia digital. Tapi ketika berita tentang e-sabak ini menyebar, yang langsung terlintas di kepala adalah sudah saatnya kah pendidikan di Indonesia masuk ke era digital?

Sempat terpikir lagi sama Chi, bukankah selama ini sudah ada Buku Sekolah Elektronik (BSE)? Sama-sama digital juga, apa bedanya? Berita yang satu dengan lainnya masih sepotong-sepotong walopun sudah banyak beredar. Selain itu, kita juga dituntut untuk berhati-hati dalam bersikap. Sudah terlalu banyak berita hoax. Semakin banyak yang judulnya bombastis tapi isinya gak nyambung.

Untuk mendapatkan berita terpercaya, akhirnya Chi membaca melalui web kemendiknas. Rasanya gak mungkin berita yang ada di web tersebut hoax, ya. Karena itu web resmi pemerintahan, khususnya kementrian pendidikan nasional.

Menurut Mendikbud, solusi ini berbeda dengan buku sekolah elektronik (BSE) selama ini. Materi ajarnya, kata dia, dibuat interaktif. "Bahan kuis juga bisa dikembangkan lewat E-Sabak,"

sumber: web Kemendiknas (http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/siaranpers/3689)

Oke, berarti pertanyaan tentang BSE terjawab. Walopun belum ada bayangan seperti apa yang dimaksud materi ajar interaktif dalam E-Sabak. Mengingat kurikulum 2013 pun sebetulnya lebih interaktif dibandingkan kurikulum yang lain. Tapi, tetap gak bisa terhindar juga dari pro-kontra. Bahkan, mendiknas pun memutuskan untuk mengevaluasi kurikulum 2013 ini.

Trus, bagaimana dengan urusan internet bahkan listrik? Mengingat dunia digital pasti erat kaitannya dengan kedua bagian itu. Yang di kota aja masih suka byar-pet listriknya. Belum lagi koneksi internet yang kadang lancar, kadang megap-megap. Apalagi katanya E-Sabak ini pertama kali akan diterapkan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Selain itu, daerah-daerah yang bukan perkotaan biasanya indah pemandangannya. Masih banyak anak-anak yang bermain-main dengan alam, di gunung maupun di pantai. Bagaimana jadinya kalau mereka sudah terpapar dengan dunia digital? Masihkah mereka bermain-main dengan alam?

Tapi, mari kita serahkan saja kepada yang ahli. Hal-hal diatas hanyalah pertanyaan-pertanyaan Chi yang seringkali suka pengen tau urusan kayak gini. Mari kita kembali kepada bahasan parenting. Apa hubungannya parenting dengan E-Sabak dalam sudut pandang seorang ibu? Ibu yang dimaksud di sini tentu aja Chi. Ibu dari Keke dan Naima.

Baru aja beberapa malam lalu, Chi menonton film di HBO yang judulnya ada angka 40 gitu, deh. Chi lupa judul tepatnya. Lagipula nontonnya gak tuntas karena lebih memilih tontonan lain. Tapi kurang lebih ceritanya itu tentang sepasang orang tua yang mulai galau ketika memasuki usia 40 tahun. Mulai galau karena merasa hubungan mereka itu udah berkurang kemesraannya. Karena udah sibuk sama urusan anak.

Ada satu adegan dimana mereka merencanakan ingin melakukan liburan berdua. Kedua anaknya diwanti-wanti apa yang boleh dan tidak. Anak pertama marah karena ibunya melarang jauh dari laptop dan internetan selama mereka tidak ada. Menurut si anak, itu bukan urusan orang tuanya. Lagipula si anak beralasan ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan laptop.

Beberapa tahun lalu, saat kami masih cari SD untuk Keke, ada salah satu sekolah yang mengharuskan siswa-inya mempunya laptop saat kelas 3. Hal ini sempat jadi bahan diskusi Chi dan K'Aie. Bukan hanya berdiskusi tentang biaya. Kalau itu masih bisa kami usahakan dan berdo'a. Insya Allah, kalau memang Allah berkenan, usaha dan do'a kami akan dikabulkan. Kami lebih berdiskusi tentang bagaimana persiapan kami ketika harus memberi anak laptop pribadi.

Memang bisa aja untuk awal, diberi laptop bersama. Artinya, harus bergantian pemakaiannya. Tapi ketika tugas sekolah semakin menumpuk misalnya, bisa jadi secara perlahan laptop tersebut akan berganti kepemilikan menjadi hak milik anak. Nanti, bisa-bisa kejadiannya seperti di film HBO yang Chi baru tonton itu.

Keke dan Nai termasuk anak yang akrab dengan teknologi khususnya dunia digital. PC, laptop, tab, hingga hp sudah menjadi 'pegangan' mereka sehari-hari. Chi dan K'Aie memang gak melarang, malah mengenalkan. Tapi tentu saja kami harus mengawasi dan membatasi penggunaannya.

Selain bermanfaat, kita juga tau sisi buruk dunia digital, diantaranya adalah

  • Obesitas
  • Semakin banyak anak yang berkacamata
  • Kurangnya skill bersosialisasi di dunia nyata
  • Mudah emosi
  • Kurang beristirahat
  • Arus informasi yang tidak terbendung dan bahkan tidak terfilter

Sebetulnya masih banyak sisi buruk dunia digital bagi anak-anak. Bahkan ketika beberapa kali mengikuti talkshow parenting, saat sesi tanya-jawab, hampir semua orang tua menanyakan solusi supaya anaknya tidak kecanduan gadget kepada narasumber. Malah ada juga yang udah mulai kecanduan. Padahal topik talkshow parentingnya kadang gak selalu khusus tentang dunia digital. Tapi, masalah yang dihadapi orang tua tentang dampak dunia digital kepada anak memang sepertinya mulai menjadi masalah yang umum dihadapi banyak orang.

Dunia digital sebetulnya bukan hal yang harus ditakuti atau dihindari. Tapi harus diawasi dan diwaspadai. Harus bisa mengelolanya. Ada beberapa hal yang sudah Chi lakukan supaya Keke dan Nai tidak menjadi anak yang kecanduan gadget.

  • Terus menjalin komunikasi yang baik dengan Keke dan Nai supaya secara bertahap mereka paham mana yang boleh dan tidak dilakukan di dunia maya
  • Memberikan batasan waktu. Mereka boleh bermain gadget setiap hari, tapi bukan berarti setiap saat. Ada waktu-waktu yang sudah disepakati bersama.
  • Olahraga. Keke dan Nai harus rutin berolahraga setiap minggunya supaya tidak mengalami obesitas
  • Bersosialisasi di dunia nyata. Keke dan Nai memang cenderung diam bila bertemu dengan seseorang yang baru. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa bergaul. Mereka hanya butuh waktu untuk beradaptasi dan mengenali orang yang baru dikenalnya. Kalau di rumah, bisa dilatih dengan menjauhkan gadget ketika sedang terjadi pembicaraan. Terutama ketika sedang terjadi pembicaraan atau diskusi serius. Mata harus ketemu dengan mata. Bukan hanya mulut yang saling berbicara, tapi matanya menghadap ke gadget masing-masing.

4 hal di atas, rutin dilakukan oleh kami. Mungkin masih ada beberapa hal lain kalau lebih diingat lagi. Setidaknya saat ini Keke dan Nai tidak kecanduan gadget walopun akrab dengan barang-barang tersebut.

Chi pernah membaca komentar, katanya di gadget sebaiknya jangan instal game atau hal-hal gak penting lainnya supaya anak gak kecanduan. Mungkin pendapat itu ada benarnya. Di rumah, kami mencoba memproteksi beberapa kata kunci tertentu supaya kalau sampai dengan (tidak) sengaja anak mencoba, tidak akan bisa terbuka. Tapi permasalahannya kan mereka gak cuma buka gadget saat di rumah. Kalau sudah di luar bisa jadi gak terkontrol kalau kita sebagai orang tua kurang awas atau anak tidak paham mana yang boleh dan tidak.

Selama ini Keke dan Nai selalu meminta izin bila ingin menginstall game. Mereka minta izin bukan karena gak bisa install sendiri, tapi memang peraturan di rumah yang mengharuskan begitu. Jangan salah, anak-anak zaman sekarang itu pintar-pintar, lho.

Dulu mamah Chi pernah punya asisten rumah tangga. Kebetulan ibunya itu pernah jadi ART di rumah kami juga dari Chi bayi hingga SMA. Jadi udah kenal dekat, lah. Waktu baru bekerja, anaknya ini lugu sekali. Kurang lancar berbahasa Indonesia. Bahkan barang-barang elektronik seperti kulkas dan apa fungsinya pun dia gak paham.

Setelah beberapa bulan bekerja, bergaul dengan sesama ART lain, dia pun mulai mengenal HP. Dari situ deh Chi merasa keluguannya sedikit demi sedikit menghilang. Dari yang gak paham barang elektronik, bahkan dia mulai bisa menginstall FB di HPnya. Dari yang mulai gak lancar berbahasa Indonesia, dalam waktu singkat bahasa alay pun dikuasainya. Chi udah pusing kalau dia udah sms dengan bahasa alay. Gak cuma itu, yang mengkhawatirkan adalah ketika mulai punya pacar. Ipload foto-foto dan status kata-kata mesra yang kurang pantas mulai ada di FBnya. Chi dan keluarga seringkali jengah melihatnya.

Karena dia gak bisa dinasehati, kami coba memberi tahu orang tuanya. Tapi dengan alasan itu bukan FBnya, FBnya dihack, dan berbagai alasan lainnya orang tuanya pun percaya kepada anaknya. Orang tuanya percaya lebih karena rasa sayang ke anak, sih. Padahal boro-boro ngerti apa itu hack dan lainnya, FB aja sesuatu yang asing bagi orang tuanya karena mereka memang pasangan yang lugu.

Jadi memang kurang tepat rasanya kalau kita tidak menginstal apapun yang gak perlu di gadget, anak gak akan ngerti. Orang tua yang gaptek, anak juga pasti gaptek. Belum tentu itu. Anak-anak sekarang pintar-pintar.

"Anak-anak hidup di dunia digital. Dunia pendidikan harus mengantisipasi." -Anies Baswedan.

Pendapat Anies Baswedan, menteri pendidikan, itu ada benarnya. Suka atau tidak, dunia digital semakin akrab dengan kehidupan.kami sekeluarga juga banyak merasakan manfaat adanya teknologi digital. Termasuk dalam kegiatan belajar.

Kembali ke E-Sabak, kalau sasarannya adalah daerah 3T, Chi membayangkan mereka yang tinggal di sana adalah mayoritas masyarakat yang masih sangat sederhana pemikirannya. Siapkah para orang tua di sana ikut serta mengawasi dan memberi batasan kepada anak-anaknya bila anak mulai akrab dengan dunia digital? Singkatnya, menjadi orang tua digital juga. Jangan sampe seperti kisah ART yang pernah kerja sama mamah Chi itu.

Sampe sekarang, Keke dan Nai belum punya gadget pribadi. Semuanya masih milik bersama. Bahkan ketika Keke mulai bergabung dengan grup Line teman senagkatannya pun Chi mengatakan masih berhak untuk membaca semua isinya. Chi sendiri gak punya Line tapi tetap mengikuti perkembangan Line karena anak. Memang gak boleh gaptek sebagai orang tua walopun kita bukan pengguna.

Untuk urusan teknis E-Sabak, biarlah mereka yang ahli yang menangani. Mereka pasti lebih paham. Tapi gak ada salahnya kan sebagai seorang ibu yang anak-anaknya akrab dengan dunia digital, mengajak ibu-ibu lainnya dimanapun juga mulai melek dengan dunia digital? Dunia digital seharusnya memang menguntungkan manusia. Tapi manusia juga yang akan membuat dunia digital adalah mimpi buruk. Mau menguntungkan atau mimpi buruk? Semua pilihan ada di diri kita masing-masing :)

Continue Reading
50 komentar
Share:

Rabu, 07 Januari 2015

Etika Job Review

Hari Minggu (28/12), Chi datang ke acara Arisan Ilmu KEB di kantor ID Blog Network. Dengan niatan pengen mengurangi ketergantungan sama taxi 'burung biru' (baca: pengiritan) kalau pergi sendirian, Chi pun naik Trans Jakarta ke tempat acara.

Berangkat dari rumah mertua - karena lagi nginep disana -, dimulai dengan naik taxi bajaj biru sampe halte busway terdekat. 1 menit... 10 menit... 20 menit... 30 menit... sekian menit berikutnya... Bisnya gak dateng-dateng! Halte yang tadinya sepi banget mulai dipenuhi calon penumpang. Yang tadinya pada sabar menunggu, mulai terdengar menggerutu satu per satu. Sekalinya datang, bis sangat penuh. Chi terpaksa naik karena udah pasti bakal telat.

Penderitaan belum berakhir ternyataaah. Halte dukuh atas, tempat Chi transit penuhnya minta ampun. Banyak yang pengen jalan-jalan ke Ragunan. Antreannya mengular sampe ke jembatan atas. Yang didalam halte udah penuh sesak. Bahkan untuk sekedar keluar dari bis aja susah. Banyak juga yang mulai berteriak, terutama yang bawa anak kecil. Chi juga gak tau gimana ceritanya bisa keluar. Bersyukur aja gak lagi sama anak-anak. Pokok, begitu keluar Chi langsung berniat pulang kembali ke kebiasaan asal, naik taxi! Hahaha

Etika Job Review


Oke, segitu dulu curhatnya. Sekarang cerita tentang etika job review, ya. Arisan ilmu kedua yang diselenggarakan oleh KEB kali ini narasumbernya adalah Mak Isnuansa. Blogger yang sudah berpengalaman dalam hal Job Review. Isi blognya kebanyakan job review :D.

Tetap menulis dengan gayamu

Ketika ada tawaran job review, biasanya agency yang menawarkan sudah melihat dulu bagaimana blog kita. Jadi, ketika diminta membuat draft, tetap saja menulis dengan gayamu. Kalau yang biasanya suka bergaya santai, jangan mendadak menjadi formal gayanya ketika menulis review.

'Cerewet' sebelum sepakat

Bolehkah kita cerewet sama klien atau agency? Boleh-boleh aja. Asal, bukan cerewet yang marah-marah, ya. Tapi, banyak bertanyalah sebelum terjadi kesepakatan. Termasuk ketika nanti klien atau agency memberi surat perjanjian kerjasama, kita harus membacanya secara detil. Tanya atau beri masukan kalau dirasa perlu. Jangan langsung ditanda tangan. Karena kalau sudah ditanda tangan, artinya kita sudah sama-sama sepakat dengan perjanjian tersebut. Ada konsekuensi yang akan kita tanggung kalau melanggar kesepakatan.

Jujur dalam postingan

Mak Isnuansa mengatakan ketika menerima job review juga harus jujur dengan apa yang kita tulis. Contoh yang Mak Isnuansa gambarkan adalah apabila kita pernah membuat postingan tentang ketakutan kita ketika naik pesawat. Parno abis ceritanya. Trus, suatu saat dapat job review dari salah satu maskapai. Kira-kira, etis gak sih kalau kemudian kita menulis bahwa naik pesawat itu menyenangkan dan segala puja-puji lainnya? Pembaca yang rutin membaca blog kita pun bisa bingung. 

[Silakan baca: Tentang Review Jujur]

Jangan ambil job review dari produk yang sama dalam waktu bersamaan

Katakanlah saat ini kita sedang bekerja sama dengan salah satu provider, kemudian disaat yang sama mendapat tawaran job review dari provider lain. Gak etis rasanya kalau kita menerima kedua job tersebut dalam waktu bersamaan.

Lain cerita kalau misalnya kita mendapat tawaran dari provider A, kemudian di saat yang hamper bersamaan dapat tawaran juga dari provider B. Selama belum ada kesepakatan dari salah satu pihak, kita masih bisa melakukan negosiasi dan pembicaraan dengan kedua klien itu. Tapi, kalau sudah ada kesepakatan kerjasama dengan salah satu pihak, maka jangan ambil kerjasama dari pihak lain yang jasa/produknya sama. Tunggu dulu sampai kerjasamanya selesai.

Membuat kritikan dalam job review, boleh atau tidak?

Sebagai blogger tentu kita dituntut jujur ketika menulis. Termasuk mereview produk. Boleh aja mengkritik tapi sampaikan dengan santun dan sebisa mungkin juga beri masukan. Nah, kita dituntut belajar deh membedakan kritik dengan cercaan.

Tapi, ada juga brand yang tidak ingin ada kritikan sama sekali. Kalau udah gitu kembali kepada kesepakatan kita dengan pemberi job review. Baca lagi deh tuh poin yang diatas, ‘cerewet’ sebelum sepakat.

Patuh dengan kesepakatan

Setelah terjadi kesepakatan, maka kedua belah pihak wajib patuh dengan kesepakatan yang sudah dibuat. Termasuk ketika harus membuat laporan dari Google Analytic. Iya dong, jangan cuma mau dapet bayarannya tapi trus kita menulis di luar dari yang sudah disepakati.

Membuat label

Ada beberapa pembaca blog yang tidak menyukai postingan iklan walopun ditulis dengan soft sekalipun. Mak Isnuansa menyarankan memang membuat label khusus ketika membuat review. Tapi, kemungkinan ada juga brand yang keberatan postingannya dimasukkan ke dalam label khusus tersebut. Nah, kembali lagi deh ke kesepakatan kita bagaimana dengan klien.

Sabar menunggu bayaran

Biasanya ada perjanjian kapan blogger akan dibayar. Sehari, sebulan, atau bahkan beberapa bulan setelah postingan di publish. Kalau belum jatuh masa pembayaran, sebaiknya jangan nagih-nagih. Misalnya, perjanjiannya akan dibayar sebulan setelah postingan publish, ya jangan baru 20 hari trus kita nagih pembayaran. Pokoknya ikutin aja perjanjiannya seperti apa.

Kesimpulannya, pentingkah mempunyai etika ketika menerima job review? Penting banget! Mau di dunia nyata atau dunia maya, kita tetap harus mempunyai etika. Gak bisa seenak-enaknya.Termasuk ketika mendapatkan job review. Jangan sampai brand atau agency jadi ilfil dan gak mau kasih kita job lagi

Bagaimana dengan kita yang belum pernah mendapatkan job review? Gak ada salahnya untuk tetap belajar etika ketika menulis. Ssstt… ini sih katanya beberapa hal yang bikin kita bisa dapat job review: 

  1. Konsisten menulis – kumpulan tulisan di blog kan bisa menjadi semacam portfolio
  2. Rajin share postingan ke beberapa social media
  3. Sederhanakan tampilan blog – jangan yang rame banget, misalnya banyak bling-bling atau widget yang gak perlu
  4. Paling gak kita tau lah berapa page rank, alexa, atau bagaimana melihat laporan google analytic dari blog sendiri

Jadi, sudah siap mendapat job review? Jangan lupa pelajari etikanya, ya :)

Continue Reading
93 komentar
Share:

Senin, 05 Januari 2015

Ini Benda Yang Wajib Chi Bawa Kemanapun

“Lebih baik lupa bawa dompet daripada lupa bawa handphone.”

Udah lumayan sering Chi denger atau baca kalimat diatas. Setujukah? Hmmm… Untuk beberapa hal, mungkin Chi setuju. Misalnya, kalau lagi jemput Keke dan Nai di sekolah. Gak bakal panik kalau lupa bawa dompet. Jarang jajan juga pas jemput anak-anak. Tapi, rada panik kalau udah lupa bawa hape.

Sebetulnya bukan karena keranjingan online juga, tapi hape itu buat jaga-jaga. Soalnya, pernah ada kejadian mobil Chi mogok di pom bensin. Panik, lah. Abis itu Chi langsung telpon K’Aie. Setelah K’Aie bilang begini-begitu, Chi baru tenang. Pokoknya lebih tenang kalau bawa hape dengan catatan hapenya jangan low bat.

Kalau ngobrolin hape, sekarang ini erat kaitannya sama powerbank. Setuju, gak? Biasanya dimana ada HP, disitu ada powerbank. Awalnya, Chi juga gak bepikir butuh powerbank. Tapi, trus dapet gratisan. Hadiah waktu beli tv. Trus, setelah itu punya 2 powerbank lagi yang semuanya gratisan hehehehe.

Cuma bukan masalah gratis atau enggaknya, sih. Ternyata, setelah Chi pakai powerbank baru nyadar kalau memang butuh. Chi kan suka lupa ngecharge hape. Jadi kalau ada powerbank pas lagi di luar rumah itu menolong banget, deh. Makanya powerbank termasuk salah satu benda wajib yang harus dibawa kemanapun.
Gak cuma buat hape, sih. Chi termasuk yang sering jeprat-jepret pake kamera. Apalagi kalau lagi nemu spot keren. Bakal makin sering jeprat-jepret. Powerbank itu juga sangat menolong kalau battere kamera mulai habis. Makanya, beruntung banget punya powerbank lebih dari satu.

Chi masih pengen punya 1 powerbank lagi sebetulnya. Tapi, pengen punya powerbank yang pake battere AA. Karena pernah ngalamin hape low bat, kamera juga low bat, eh powerbank juga sama. Mati gaya, deh kalau gitu. Makanya, Chi pengen punya powerbank tapi yang pake battere.

Kalau lupa bawa battere gimana? Ya, mungkin aja, sih. Tapi, battere kan umumnya mudah didapat. Di minimarket juga ada yang jual battere AA. Walopun sebaiknya memang pake battere yang bisa dicharge. Tapi, kalau lupa ngecharge battere, kita masih mudah dapat battere dimanapun.

Pengalaman pribadi juga, sih. Dulu pernah punya kamera yang pake battere AA. Chi gak perlu khawatir bakal habis battere. Cuma sayang aja sekarang kameranya rusak. Udah coba cari, tapi katanya sekarang udah gak ada produk kamera yang pake battere AA. Makanya, Chi pikir powerbank yang pake battere termasuk barang yang harus Chi punya, nih! Apalagi Chi lihat di toko online udah ada yang jual. Asiiikk!

Teman-teman ada yang punya powerbank yang pake battere? Ayo cerita disini pengalamannya :)

Continue Reading
60 komentar
Share: