Monday, September 29, 2014

Olahraga Gak Cuma Bikin Badan Bugar

Olahraga Gak Cuma Bikin Badan Bugar



"Anak-anak sekarang umumnya koordinasi auditif motoriknya jelek." Begitu menurut mbak Anna Surti Nina, psikolog yang berbicara pada talkshow "Parenthood Style di Era Digital." Mbak Nini juga menceritakan pengamalan pribadinya ketika sedang mengajak putranya jalan-jalan sore di seputaran komplek. Tiba-tiba dengan santainya, putranya itu membetulkan tali sepatu yang lepas di tengah jalan. Putranya masih belum menyadari kalau dari arah belakang akan ada motor yang melintas.

Menurut Mbak Nina, anak yang koordinasi auditif motoriknya bagus, akan mempunya reflek atau insting yang bagus. Contohnya, ketika sedang berjalan-jalan, seringkali kita tiba-tiba menengok ke belakang karea merasa akan ada kendaraan yang melintas. Dan, ternyata memang benar ada kendaraan yang melintas. Sedangkan anak yang koordinasi auditif motoriknya jelek, tidak mempunyai insting seperti itu. Anak yang koordinasi auditif motoriknya jelek, mempunya tingkat kewaspadaan yang rendah.

Penyebabnya adalah ketagihan gadget. Solusinya bukan dengan cara menghilangkan gadget dari dunia anak. Karena rasanya di zaman sekarang akan terasa sulit sekali apabila anak dijauhkan dari dunia digital. Tapi, orang tua harus melatih anak. Paling tidak, ajak mereka jalan-jalan di sore hari itu sudah melatih koordinasi auditif motorik mereka.

Berkaitan dengan cita-cita, Chi pun mulai merencanakan supaya Keke mulai konsisten berolahraga silakan baca postingan Chi yang berjudul Mencapai Cita-Cita). Selama ini maish tergantung mood. Kalau lagi pengen main gadget, sehabis pulang sekolah, Keke bisa main komputer atau gadget sampai sore. Tapi kalau lagi senang main diluar, bisa dari pulang sekolah dia main di luar sampe sore. Dari mulai lari-larian, main sepeda, bulutangkis, sampai main sepakbola. Kali ini Chi pengen Keke itu konsisten.

Awalnya, Chi minta Keke itu keliling taman pakai sepeda selama 15 menit setiap sore. Tapi, setelah dipikir-pikir, Keke itu kan negotiator. Apapun di nego sama dia. Kalau disuruh keliling 15 menit, bisa-bisa dia cuma lari 1-2 putaran aja, abis itu ngelamain nego untuk mengurangi jatah waktu olahraga. Begitu udah masuk 15 menit, dia akan kesenengan karena jatah 15 menitnya sudah selesai hahaha.

Akhirnya, peraturan pun Chi ubah. Keke harus putar keliling taman sesuai target yang sudah ditentukan. 20x untuk sepeda atau 10 kali untuk lari. Silakan memilih.

Keke memilih bersepeda. Nai juga kepengen ikutan. Sebetulnya Nai gak wajib ikut. Kalau untuk Nai, Chi minta dia setiap hari berlatih berkreasi. Supaya semakin kreatif dan semakin terlatih tangannya. Tapi, kalau Nai juga kepengen ikut Keke untuk latihan, gak akan Chi larang juga.

Ada 3 manfaat yang bisa dirasakan dengan mengajak Keke dan Nai olahraga setiap sore:


  1. Melatih koordinasi auditif motoriknya agak semakin baik. Apalagi sore hari biasanya jalanan di komplek sudah mulai kembali ramai. Tentu harus lebih hati-hati saat mereka bersepeda.
  2. Membuat badan menjadi bugar. Salah satu ancaman terbesar anak yang kecanduan gadget adalah obesitas. Dengan rutin berolahraga, semoga obesitas bisa terhindar dari Keke dan Nai
  3. Melatih ketekunan
 
Awalnya, Chi gak terpikir kalau dengan berolahraga itu bisa melatih ketekunan. Chi pikir hanya aktifitas motorik halus, seperti menulis sambunglah yang bisa melatih ketekunan. Ternyata olahraga juga bisa melatih ketekunan.

Keke itu anak yang cerdas, tapi agak kurang tekun. Seringkali grasa-grusu. Chi sering kali mengingatkan untuk masalah ketekunan. Memang sih udah mulai ada perubahan, terutama sejak dia harus sering belajar huruf sambung. Tapi, tetep aja sesekali harus diingatkan untuk urusan ketekunan.

Untuk urusan ketekunan memang berbanding terbalik dengan Nai. Chi seringkali bilang ke Keke dan Nai, kecerdasan yang kita miliki suatu saat bisa dikalahkan oleh orang-orang yang tekun.

Ketika baru pertama kali olahraga, terlihat sekali perbedaan ketekunan antara Keke dan Nai. Sejak awal putaran, Nai selalu konsisten. Kecepatannya tidak bertambah maupun berkurang. Tidak sekalipun dia mau beristirahat. Padahal begitu sampai putaran ke-10, Chi tawarkan Nai untuk istirahat sejenak tapi Nai menolak.

Lain dengan Keke. Waktu awal putaran, dia melesat cukup cepat. Nai tertinggal lumayan jauh karena tenaga Keke untuk mengayuh sepeda kan juga lebih besar. Tapi, baru juga 1 putaran, Keke udah berhenti. Yang dia lakukan adalah nego supaya putarannya dikurangi. Udah ketebak hahaha.

Berbagai alasan dan bujukan coba dia keluarin. Tapi, tetep gak berhasil. Peraturan gak bisa diubah pokoknya. Chi malah beberapa kali mengingatkan Keke tentang ketekunan. Merasa usahanya gak berhasil, Keke kembali melesat dengan sepedanya.

Keke kembali melakukan negosiasi setelah melakukan 1-2 putaran berikutnya. Setelah gagal, dia kembali melesat dengan cepat. Begitu terus hingga putaran ke-10. Memasuki putaran ke-10, Keke mulai konsisten. Kecepatannya pun stabil. Gak mendadak cepat, gak juga mendadak lambat. Nai yang selesai lebih dulu. Keke menyusul kemudian. Hanya selisih 1 putaran saja.

Setelah beristirahat, minum, dan hilang napas ngos-ngosannya, Chi mulai ajak anak-anak untuk berdiskusi.

Bunda: "Pemenangnya tadi adalah Naimaaa..!!"
Nai: "Yeaaaayy!! Ima menang!"
Keke: "Ya udah biarin aja."
Bunda: "Eiii, Keke gak boleh anggap santai begitu. Yuk, kita evaluasi."

Chi lalu katakan kalau pesan Chi yang tentang ketekunan bisa mengalahkan orang cerdas mulai ada buktinya. Buktinya Keke bisa kalah dari Nai. Eits! Chi bukan menganggap Keke itu lebih cerdas dari Nai atau beliknya, ya. Tapi disini Keke punya kelebihan dalam hal energi. Badan Keke yang lebih besar tentu aja seharusnya akan menang kalau lomba sepedaan lawan Nai yang kecil mungil. Tapi, nyatanya yang selesai duluan justru Nai. Itu karena Nai konsisten. Sedangkan Keke dengan segala macam alasan dan bujuk rayu, dia lebih banyak berhentinya. Jadinya malah belakangan selesainya.

Bunda: "Ibarat mobil, kalian itu mengendarai mobil yang sama. Tapi, kalau Keke yang nyetir bensinnya jadi boros."
Keke: "Maksudnya? Kok, bisa?"
Bunda: "Ya, karena kecepatan Keke gak stabil. Nanti tiba-tiba ngegowesnya ngebut, tiba-tiba pelan banget, trus brenti-brenti. Mobil juga kalau jalannya kayak gitu bakal boros bensin. Sama lah kayak Keke, makanya dari tadi ngeluh cape terus. Coba kalau stabil kayak Nai, dari awal sampai akhir segitu aja kecepatannya. Konsisten. Gak akan terasa begitu cape."

Di hari kedua, Keke mulai konsisten untik 10 putaran pertama. Mulai melakukan nego justru di 10 putaran akhir. Chi tetap gak menuruti permintaan dia. Hari-hari berikutnya, Keke mulai konsisten. Gak ada lagi yang namanya nego dan bujuk rayu. Kalau Nai masih terus konsisten sampai sekarang. Cuma, akhir-akhir ini dia lebih memilih lari daripada sepedaan. Gak apa-apa. Pokoknya yang penting sesuai target.



Setiap selesai berolahraga, Chi selalu mengajak mereka untuk melakukan evaluasi dengan santai dan menyenangkan. Jangan lupa smoothies gak boleh ketinggalan. Biar mereka semangat juga olahraganya. Trus, Chi sendiri kapan olahraganya? Pas anak-anak sekolah, lah. Kalau ikutan olahraga bareng mereka, nanti siapa yang ngitung putarannya :)

Continue Reading
32 comments
Share:

Wednesday, September 24, 2014

Mencapai Cita-Cita

 Catatan Keke tentang cita-citanya. Kenapa Keke menulis ini? Trus, ada diskusi apa setelah menulis ini? Kapan-kapan Chi bikin postingannya, ya. :)


Beberapa hari lalu, pas Chi jemput anak-anak di sekolah...

Keke: "Bundaaa! Lihat ini!"

Sambil berseru, Keke juga melambai-lambaikan selembar kertas

Bunda: "Apa itu, Ke?"
Keke: "Ini janji Kopassus."
Bunda: "Keke dapet dari mana janji Kopassus?"
Keke: "X** (nama temen sekelas Keke yang sengaja Chi rahasiakan) kan punya buku tentang Kopassus, Bun. Tadi, dia bawa ke sekolah. Trus, ada janji Kopassus di bukunya. Ya udah, Keke catet aja."
Bunda: "Tumben, Keke mau nyatet-nyatet. Biasanya rada susah. Lagian buat apaan nyatet begituan?"
Keke: "Bunda kan tau kalau Keke mau jadi Kopassus."
Bunda: "Oiya, ya, Bunda lupa. Keliatannya menjadi TNI itu cita-cita Keke yang paling lama bertahan sampai saat ini, ya?"
Keke: "Iya, Bun. Keke kepengen banget jadi Kopassus."

Obrolan pun beralih ke topik lain. Seperti biasa, lah. Kalau lagi di mobil, obrolan kami memang rupa-rupa kayak gado-gado hehe.

Sore harinya...

Bunda: "Keke beneran tuh serius mau jadi Kopassus?"
Keke: "Beneran."
Bunda: "Trus, apa aja yang udah Keke lakukan supaya cita-citanya tercapai?"
Keke: "Hmmm... apa, ya? Harus banyak bergerak? Jangan main gadget terus?"
Bunda: "Kira-kira Keke udah melakukan itu semua belom?"
Keke: "Udah."
Bunda: "Ah, mana buktinya?"
Keke: "Bunda, waktu Keke di sekolah kan panjang. Di sekolah Keke gak main gadget. Berarti Keke lebih banyak bergeraknya, kan?"
Bunda: "Hehehe, ya bukan begitulah maksud Bunda. Bunda sih maunya kalau di rumah Keke juga rutin berolahraga setiap hari. Kalau sekarang kan belom konsisten. Kalau lagi seneng main sepeda, sepak bola, atau bulu tangkis, Keke bisa terus-terusan ada di luar rumah sampe sore. Tapi, kalau lagi seneng di depan komputer, pulang sekolah langsung nyalain komputer atau main gadget. Mau Bunda sih jangan angot-angotan begitu. Bisa, gak?"
Keke: "Bisa."
Bunda: "Bener, ya?"
Keke: "Iya."

Naima pun mulai ikut nimbrung dalam obrolan di sore hari itu...

Nai: "Bun, kan Bunda pernah cerita kalau dari kecil sampe SMA setiap kali ditanya cita-cita, Bunda selalu jawab pengen jadi arsitek. Trus, kenapa kuliahnya malah di ekonomi? Trus kenapa juga sekarang Bunda gak kerja? Bunda orang yang gagal berarti, ya?"

Jleb! Plak! Pow! Wow! )&%&^$)*%^%#() *dramatisir ala kartun Batman jadul hehe

Tapi, memang gak sekali ini aja anak-anak bertanya apa Chi termasuk orang yang gagal karena tidak menjadi arsitek. Chi selalu memberi jawaban yang sama. Tapi, setiap kali mereka bertanya, suka ada rasa sedikit tertampar juga. Tertampar bukan karena malu kalau cita-citanya gak kesampean. Tapi, Chi khawatir anak-anak akan salah persepsi kenapa Chi sampe gak jadi arsitek.

Sebelum Chi jelasin jawabannya ke anak-anak, Chi mau cerita dulu kenapa anak-anak beberapa kali nanya tentang cita-cita Chi. Namanya juga diskusi, pasti yang baik adalah 2 arah, kan? Wajar aja, ketika Chi bertanya tentang cita-cita mereka, mereka pun akan tanya tentang cita-cita Chi. Kalaupun mereka terus menanyakan hal yang sama, Chi rasa bukan karena mereka gak paham. Tapi, hanya sekedar bagian dari diskusi aja. Dan, menurut Chi sebaiknya kita kasih jawabannya yang sama.

Chi selalu bilang ke mereka, walaupun gak menjadi arsitek bukan berarti Chi jadi orang yang gagal. Orang yang gagal menurut Chi adalah orang yang frustasi. Yang terjadi sama Chi sekarang adalah beralih tujuan. Tapi, bukan berarti gagal karena Chi merasa apa yang Chi jalani sekarang masih hal yang baik.

Keke: "Berarti, kalau nanti Keke gak jadi Kopassus, Bunda gak akan marah?"
Bunda: "Selama Keke gak jadi orang frustasi, kenapa juga Bunda harus marah. Misalnya di masa depan nanti Keke jadi dokter, padahal selama ini Keke pengennya jadi Kopassus. Masa' Bunda harus marah? Kan, jadi dokter atau kopassus sama-sama baik."
Nai: "Kalau Ima gimana, Bun?"
Bunda: "Ya, sama aja. Ima kan selama ini pengen jadi ilustrator. Tapi, kalau nanti gedenya jadinya pengusaha pakaian, gak mungkin juga Bunda marah. Yang penting jangan frustasi dan yang kalian jalanin itu hal baik. Trus, mulai sekarang kalian harus ada usaha untuk mencapai cita-cita. Walaupun mungkin nanti kalau udah gede kalian gak jadi cita-citanya"

Keesokan harinya...

Keke: "Bun, kenapa sih bunda pengen Keke dan Nai harus berusaha dari sekarang? Kan, belum tentu juga nanti kalau gede, Keke dan Nai sesuai sama cita-cita?"
Bunda: "Ya, tapi setidaknya kita kan harus usaha, Ke."
Keke: "Kalau Bunda sebetulnya kenapa gak jadi arsitek?"
Bunda: "Karena Bunda hanya sekedar mau. Tapi, gak ada yang mengarahkan."
Keke: "Maksudnya?"
Bunda: "Ya, namanya juga anak-anak, kadang suka nyebut pengen jadi apa kan belum tentu ngerti alasannya. Trus, umunya anak usia remaja suka galau begitu. Bunda sepertinya termasuk yang begitu dulu. Dan, gak ada yang bener-bener nanya juga menguatkan tujuan Bunda kemana. Makanya, begitu kuliah dan harus memilih, Bunda pilih ekonomi aja, deh. Belajar dari pengalaman, Bunda gak mau Keke dan Nai kayak begitu. Dari kecil udah harus punya tujuan. Apa nanti tujuannya tercapai atau enggak, itu lain cerita. Yang penting udah usaha."

Keke dan Nai pun mulai melakukan usaha untuk mencapai cita-citanya. Apa itu? Nanti di postingan berikutnya aja Chi ceritain, ya. Chi berharap kami semua bisa konsisten berusaha. Chi dan K'Aie berusaha untuk terus mengingatkan dan mendukung mereka. Sedangkan Keke dan Nai berusaha supaya cita-cita mereka tercapai. Aamiin


Buku "Blogger Bicara Parenting", karya bersama para blogger WB ini yang membuat ilustrasi untuk sampulnya adalah Nai. Karya perdana Nai untuk buku
Berminat sama buku ini. Silakan klik Kontak Saya :)

Continue Reading
18 comments
Share:

Monday, September 22, 2014

Mom's Time Out


Apa jadinya kalau posisi di rumah tangga di balik? Suami yang mengurus anak, sedangkan istri bekerja? Ya, gak apa-apa juga lah selama dua-duanya sepakat dan happy. Menurut Chi, sih, begitu :)

Mom's Time Out adalah sebuah acara reality show yang tayang di Lifetime Channel. Sebetulnya kalau untuk review buku atau tontonan tv/film, Chi biasanya nulis di blog khusus review. Tapi, karena ini reality show dengan tema parenting, Chi tulis di blog ini aja, deh.

Mom's Time Out menceritakan tentang kehidupan 3 rumah tangga dari 3 negara yang berbeda, yaitu Singapur, Malaysia, dan Filipina. Masing-masing punya masalah sendiri-sendiri tentang anak-anaknya.

Continue Reading
24 comments
Share:

Wednesday, September 17, 2014

Ibu Harus Serba Bisa

Nai: "Bunda, udah bisa belom kayak gini idungnya?"

Nai lalu mengembang-kempiskan lubang hidungnya. Kalau untuk yang satu itu, dia dan K'Aie memang paling jago hehe.

Bunda: "Susah, Dek. Bunda gak pernah bisa hehe."
Nai: "Masa' sih Bunda gak bisa-bisa? Bunda, jadi ibu itu harus serba bisa."
Bunda: "Masa', sih?"
Nai: "Bunda pernah cerita ke Ima. Katanya waktu Ima masih bayi suka digendong sama Bunda sambil dinyanyiin, kan?"
Bunda: "Iya, emangnya kenapa?"
Nai: "Bunda penyanyi apa bukan?"
Bunda: "Bukan."
Nai: "Trus, kenapa nyanyi? Kan, Bunda bukan penyanyi?"
Bunda: "Bunda nyanyi kan supaya Ima bisa tidur. Apalagi kalau sambil digendong, biasanya anak seneng."
Nai: "Ya, itu artinya ibu harus serba bisa demi anak-anaknya. Jadi, Bunda mau kan sekarang jadi badut supaya Ima seneng?"

Dan, Nai kembali mengajarkan Chi cara mengembang-kempiskan lubang hidung. Tapi, Chi masih juga gagal hahaha

Continue Reading
38 comments
Share:

Monday, September 15, 2014

Parenthood Style di Era Digital

Parenthood Style di Era Digital

Parenthood Style di Era Digital 

Sumber foto: twitter @mondeboromon


Postingan ini adalah catatan Chi waktu datang ke acara talkshow "Parenthood Style Di Era Digital" bersama Majalah AyahBunda dan Monde Boromon. Anna Surti Ariani, psikolog, menjadi narasumber pada acara tersebut. Chi diundang oleh pihak Monde Boromon. Terima kasih, ya :)

Banyak yang berpikir kalau era digital itu dimulai pada tahun 90-an. Sebenarnya era digital sendiri sudah dimulai sejak tahun 80-an. Generasi anak-anak kita sekarang adalah generasi Digital Natives. Artinya, sejak lahir bahkan mereka sudah akrab dengan yang namanya benda digital. Misalnya, anak-anak sekarang ketika lahir ditimbangnya pakai dengan timbangan digital. Sedangkan, generasi Chi dan K'Aie termasuk generasi Digital Immigrant.

Pernahkah kita mengetahui apa aja risiko berinternet bagi anak-anak? Ini dia risikonya:


  • Pedofil
  • Akses pornografi
  • Konsumerisme
  • Akses keamanan finansial
  • Cyberbullying
  • Terlibat cybercriminal baik disengaja atau tidak
  • Serangan terhadap privasi
 
Atau yang besar kemungkinan terjadi dikehidupan sehari-hari bagi anak yang sudah akrab dengan dunia digital adalah:

  • Cenderung kurang sabar
  • Maunya segalanya lebih cepat
  • Agak malas bergerak
  • Kurang mampu menunda keinginan
  • Kurang sensitif pada orang lain
 

Hiii...! Ngeri, ya! Apa kita gak usah ngenalin anak-anak ke gadget aja gitu? Tapi, pertanyaannya adalah apa mungkin? Susah banget pastinya, ya. Sebetulnya gak perlu sampai menjauhkan anak dari dunia digital. Karena dunia digital juga banyak manfaatnya. Yang perlu dilakukan orang tua adalah meminimalkan pengaruh negatif dan memaksimalkan pengaruh positif.

Orang tua mempunyai andil besar untuk membuat anak terpengaruh positif atau negatif dari dunia digital. Banyak orang tua yang menjadikan gadget sebagai penyelamat supaya anak-anaknya tenang. Atau jangan-jangan kita termasuk orang tua yang sudah terjangkit Nomophobia?

Nomophobia sebetulnya istilah baru dan belum resmi. Tapi, karena sekarang ini banyak orang tua yang mempunyai ciri-ciri Nomophobia, sepertinya cepat atau lambat istilah ini akan menjadi istilah resmi. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:


  • Setiap beberapa menit sekali mengecek ponsel
  • Merasa ponselnya bergetar padahal tidak ada getaran sama sekali
  • Lebih suka berkomunikasi via ponsel daripada bertatap muka
  • Tidak menyadari keadaan disekitarnya karena sibuk memfungsikan ponsel
  • Panik dan kebingungan ketika kesulitan sinyal atau battere menipis
  • Jarang mematikan ponsel
 
Kalau ciri-ciri tersebut ada pada orang tua, maka bersiap-siaplah orang tua mengantarkan anak pada era keburukan digital. Karena anak-anak itu mencontoh orang terdekat. Dan, biasanya orang terdekat adalah orang tua. Tapi, jangan keburu panik, ya. Masih ada cara untuk meminimalkan pengaruh negatif dan memaksimalkan pengaruh baik, kok.

Minimalkan pengaruh baik dengan:


  • Dibawah 2 tahun jauhkan anak dari gadget
  • Dampingi anak ketika bermain di dunia digital
  • Batasi waktu bermain
 
Maksimalkan pengaruh baik dengan:

  • Mengenalkan fitur apa saja yang boleh dimainkan anak
  • Carikan anti virus terbaik
  • Carikan software untuk memproteksi anak
  • Minta anak untuk membuat karya dari apa yang dia sukai di dunia digital
  • Bantu belajar bedakan yang boleh diklik dan tidak
 
Di acara talkshow tersebut, saat sesi tanya jawab, ada seorang ibu yang bertanya tentang bagaimana kalau semua tip sudah dipraktekkan tapi tetap tidak bisa melepaskan anak dari ketergantungan terhadap gadget? Kalau sampai terjadi seperti itu, kemungkinan si anak sudah kecanduan. Anak yang sudah kecanduan penanganannya harus lebih intensif lagi. Bahkan kalau diperlukan melakukan terapi.


Tentang Monde Boromon Cookies



Monde Boromon cookies diperuntukan bagi anak usia 1-3 tahun. Bisa dimakan langsung atau dicampur dengan susu. Adapun manfaat dari Monde Boromon cookies adalah sebagai berikut:

  • Sehat dan higienis - cookies ini mengandung komposisi bahan baku, yaitu sari pati kentang, gula, telur, dan madu. Higienis karena 1 box terdiri dari 6 sachet kecil. Setiap sachetnya cukup untuk 1x makan.



  • Melatih motorik halus - cookies ini mudah lumer bila terkena air liur. Teksturnya yang lembut memudahkan untuk dikunyah, menguatkan otong rahang, dan melatih kotorik halus di sekitar rahang. Motorik halus pada tangan juga bisa dilatih karena cookies ini mengajarkan anak untuk meraih, memegang, menjepit, dan menggenggam. Membantu kemampuan kognitif mengenal bentuk dan warna. Melatih motorik halus berhubungan dengan ketrampilan fisik yang melibatkan mata dan tangan. Sedangkan kemampuan kognitif berhubungan dengan kreatif dan kecerdasan.

 

  • Bergizi dan baik bagi pencernaan - cookies ini mengandung sari pati kentang yang bebas gluten, sehingga aman dikonsumsi oleh anak yang menderita penyakit celiac, intoleransi gluten, alergi gandum, dan lainnya. Anak yang mengalami obesitas juga aman mengkonsumsi cookies ini.

 
Monde Boromon cookie memang ditujukan untuk konsumsi anak usia 1-3 tahun. Tapi kalau di atas 3 tahun bahkan orang dewasa ingin mengkonsumsi cookies ini juga boleh, kok. Anggap aja camilan. Setelah Chi cobain, rasanya memang enak!

Selain rasanya yang enak, Monde Boromon cookies ini juga bisa melatih motorik anak. Lihat foto jari Chi yang mencapit cookies itu? Buat kita yang udah dewasa, pasti gampang. Malah gak perlu dicapit, langsung aja digenggam dan makan beberapa butir sekaligus. Tapi, belum tentu bagi anak-anak. Mencapit cookies Monde Boromon termasuk latihan buat jari-jarinya. Belajar berkoordinasi antara mata, mulut, dan jari.

Yang perlu diperhatikan adalah, pada saat makan sebaiknya tidak dibarengi dengan aktivitas lain, misalnya menonton tv, sambil bermain gadget, atau ada juga yang disuapi. Banyak orang tua yang membarengi dengan aktivitas lain dengan alasan supaya anaknya mau makan dengan tenang. Padahal itu salah. Konsentrasi anak akan terpecah belah kalau dibarengi dengan aktivitas lain. Anak tidak mengerti arti kenyang saat makan. Motorik anak juga kurang terlatih. Akibatnya, si anak akan mempunyai masalah sulit untuk berkonsentrasi. Kemampuan motoriknya juga buruk.

Tentunya, kita gak mau jadi orang tua yang mengantarkan anak ke era keburukan digital, kan? Yuk, gak perlu ditakuti tapi dimanfaatkan aja sebaik-sebaiknya dengan mengetahui caranya. Salah satunya dengan melatih pake Monde Boromon cookies, dong :)

Continue Reading
33 comments
Share:

Thursday, September 11, 2014

Like Mother Like Son

 
Salah satu game online yang lagi Keke suka sekarang ini adalah COC. Jadi, coretannya banyak tentang COC


Bunda: "Ya, ampun, Keke! Buku, kok, gak pernah bersih bagian belakangnya. Selalu aja ada coretan."
Keke: "Keke lagi bosen, Bunda"
Bunda: "Bosen kenapa?"
Keke: "Ya, lagi ngebosenin aja pelajarannya."
Bunda: "Tapi, bukan berarti kamu boleh coret-coret buku, dong."
Keke: "Bunda, Keke itu lagi boseeennn."
Bunda: "Ya, tapi jadinya kamu gak konsen sama pelajaran. Belom lagi sayang kan buku dicoret-coret begini."

Udah kesekian kalinya Chi negur Keke karena selalu aja ada corat-coret dibagian belakang buku tulis atau buku pelajaran. Dan, beberapa malam lalu, Chi kembali menegur Keke. Tapi, gak lama setelah menegur waktu itu, Chi ngikik sendiri.


Gambar diambil dari grup FB Hits From The 80s & 90s


Gara-gara foto diatas itu yang bikin Chi mendadak ngikik. Chi jadi inget dulu waktu masih sekolah juga suka coret-coret buku tulis. Mulai dari sampul sampe halaman buku. Yang paling sering jadi korbannya itu halaman belakang. Selalu penuh coretan hahaha

Sekarang cerita berulang. Cuma beda posisi aja. Kalau dulu, Chi diposisi yang diomelin. Sekarang Chi diposisi yang ngomelin. Trus, bedanya lagi kalau dulu Chi nunduk abis pas lagi diomelin. Walopun tetep gak ngilangin kebiasaan coret-coret buku, sih. Ups :p Nah, kalau sekarang, Keke ngejawab kalau ditegur hehehe. Like mother like son! Kalau udah gini, ngikik aja, deh hehe.

Continue Reading
48 comments
Share:

Monday, September 8, 2014

Biasakan Cek Dan Ricek, Nak

Sebetulnya lagi agak hilang semangat untuk ngeblog. Secara gak sengaja Chi menghapus banyak sekali komentar dari teman blogger yang masuk. Ada 15 postingan yang berubah jadi 0 jumlah komentarnya. Padahal komentar-komentar itu salah satu penyemangat ngeblog. Langsung lemes begitu nyadar. Gak ngerti gimana cara ngebalikin semua komentar itu. Maaf, ya. Insya Allah Chi tetep blogwalking, kok. Apalagi komentar yang masuk kan tetep ada di email. :(

--------

Tau mainan loom band yang lagi ngetrend saat ini? Cari aja di google apa itu loom band :p

Chi mulai tau mainan ini pas lebaran lalu. Sepupu lagi seneng main loom band. Tapi, Chi gak tertarik. Anak-anak juga keliatan nyantai aja. Setelah loom band semakin ngetrend, Nai pun mulai minta dibeliin.

Sebetulnya Chi males banget beliinnya. Tapi, karena Nai bilang belinya pake uang THR dia, susah juga buat ditolak. Itu uang kan hak dia mau dipake untuk apa, selama bukan untuk yang terlarang.

Setelah beli, Chi masih cuek. Yang terlihat menikmati justru Keke. Nai masih harus dibantuin kalau bikin. Lama-lama, Chi pun ikut ketagihan tertarik. Chi dan Nai bahkan berencana membuat beberapa loom band untuk dikasih ke beberapa sahabat Nai. Semacam gelang persahabatan gitu.

Belom juga jadi gelangnya, tau-tau di socmed dan hape rame banget pada share link berita tentang loom band yang katanya beracun kandungannya. Ada rasa gak rela karena baru aja mulai suka masa' udah harus brenti? Seperti biasa, kalau ada berita heboh, Chi gak mau langsung ikuitan heboh. Chi suka membiasakan cek-ricek dulu. Cari berita pembanding.

Chi belum ngomong tentang berita ini ke Keke dan Nai karena awalnya sempat khawatir kalau mereka jadi berhenti bermain loom band. Padahal loom band itu bagus buat berkreasi, lho. Ada beberapa manfaat yang bisa didapat anak-anak ketika berkreasi dengan loom band.

Sampe Selasa lalu (2/9), Nai mulai tanya ke Chi apa benar kalau loom band itu beracun? Dia dapat info dari salah seorang temannya. Dan, temannya berhenti pakai loom band. Awalnya, Chi cuma bilang kalau loom band itu masih aman.

Hari berikutnya, Nai masih menanyakan hal yang sama. Dia kelihatan agak sedih. Rencana untuk kasih gelang persahabat ke para sahabatnya bisa terancam gagal karena berita loom band beracun. Padahal dia udah seneng banget sama rencana itu.

Bunda: "Oke, sekarang kita buka google. Keke coba ketik di google dengan kata kunci loom band beracun. Pilih salah satu berita, silakan kalian berdua baca dulu. Setelah itu, Bunda minta pendapatnya kalau udah selesai, ya."

Keke lalu membuka berita tentang loom band yang beracun ini dari portal Bo** Ki**si*

Keke: "Beritanya kurang jelas, Bun. Cuma disebut ada kandungan phthalates. Tapi, berbahayanya gimana?"
Bunda: "Di web itu, ada sumbernya gak dapet dari mana?"
Keke: "Dari web K**pa*, Bun."
Bunda: "Kalau gitu, coba cari berita dari web K**pa* trus dibaca."



Keke: "Bunda, ada yang aneh! Judul beritanya gelang loom band, tapi pas Keke baca sampe abis yang dibilang beracun itu hiasan tambahannya."
Bunda: "Pinter, Keke! Udah paham sekarang kenapa dari tadi Bunda minta kalian untuk baca beritanya sampai habis."
Keke: "Gak terlalu paham, sih."
Bunda: "Tadi, Keke bilang kalau ada yang aneh. Antara judul sama isi berita kelihatan kurang nyambung, kan? Sekarang ini banyak banget berita yang judulnya heboh tapi begitu dibaca isinya suka gak sesuai dengan judulnya. Sayangnya, masih banyak orang yang boro-boro mau melakukan cek-ricek dengan mencari berita pembanding. Sekedar untuk baca beritanya sampai tuntas pun enggak. Langsung termakan sama judul, emosi langsung kebakar."
Keke: "Jadi, kita harus benar-benar membaca, ya, Bun?"
Bunda: "Tepat banget! Coba Keke lihat lagi, ada kira-kira yang mau Keke tambahin lagi pendapatnya?
Keke: "Katanya, berbahaya kalau terhisap atau tertelan. Berarti kalau kita gak hisap atau tertelan, aman ya, Bun? Masa' kita mau nelen karet hehehe."
Bunda: "Yup! Makanya di bungkus mainan itu kan selalu ada standar usia. Kita harus benar-benar patuh. Loom band ini gak boleh untuk anak batita. Karena anak batita itu, apa-apa masih dimasukin ke mulut. Yang kandungannya aman pun belum tentu aman kalau dimasukin ke mulut. Kalau bendanya kotor gimana?"
Keke: Kayak Zahra, ya, Bun. Semua dimasukkin ke mulut. Susah dikasih taunya."
Bunda: "Namanya juga masih batita. Trus, yang di K**pa*s itu, beritanya dari mana sumbernya?"
Keke: "Daily mail."
Bunda: "Silakan Keke buka beritanya di Daily Mail. Atau di BBC juga gak apa-apa. Sama beritanya. Baca dulu, abis itu kasih tau Bunda pendapat Keke, ya"



Keke: "Bunda, kalau diberita ini judulya charm isinya juga tentang charm."
Bunda: "Oke. Truuuss...? "
Keke: "Ada tulisan 'Some'. Some ini artinya gak semua charm itu berbahaya, kan? Cuma beberapa?"
Bunda: "Ya. Tapi, coba Keke tonton videonya untuk memastikan."

Chi lalu mengingatkan lagi tentang penting cek dan ricek. Benar-benar mencari sumber aslinya. Jangan cuma percaya katanya, katanya. Jangan juga langsung main share dan berkomentar macem-macem kalau belum melakukan cek-ricek.

Keke: "Keke boleh bagiin beritanya ke temen-temen, Bun? Biar kalau ada temen yang tanya kenapa Keke masih main loom band padahal beracun, Keke tinggal kasih lihat beritanya."
Bunda: "Silakan aja. Setidaknya kita udah ngasih berita pembanding."

Saat itu yang banyak berdiskusi memang Chi dan Keke. Nai lebih banyak diam, duduk manis di samping Chi.

Nai: "Jadi, Ima tetep kasih gelang gak, Bun?"
Bunda: "Terserah Ima."
Nai: "Kalau temen Ima tetep gak mau terima karena takut racun gimana? Padahal misalnya Ima udah jelasin beritanya."
Bunda: "Nah, sekarang Bunda terserahin ke Ima. Kalau tetep mau kasih, Ima gak boleh marah dan sedih kalau sahabat menolak karena takut. Sahabat Ima kan juga punya alasan. Tapi, kalau Ima gak siap ditolak, sebaiknya batalin dulu rencana kasih gelang persahabatan. Lagian, ada atau enggak ada gelang persahabatan, tetep bisa bersahabat, kan?"
Nai: "Iya, Bun."

Keputusan sementara, rencana untuk kasih gelang persahabatan dibatalkan dulu. Tunggu situasi aman hihihi. Kalau kami, sih, tetep aja berkreasi dengan loom band. Setelah mencari berita pembanding dan pakai feeling juga, kayaknya masih aman.

2 hari setelah diskusi itu, Nai manggil-manggil Chi

Nai: "Bundaaa, sini lihat tv, deh. Loom band katanya berbahaya."

Kami pun menonton berita tersebut sampai selesai.

Nai: "Jadi, beneran berbahaya, ya, Bun?"

Nai berkata dengan nada yang terdengar lemas. Diberita itu katanya ada seorang anak kecil yang matanya buta karena keselepet loom band. Trus, satu lagi ada anak kecil yang pergelangan tangannya nyaris diamputasi karena membiru gara-gara terlalu ketat mengikat loom band dipergelangan tangan.

Chi bilang ke Nai, benda apapun kalau kena mata bisa menimbulkan berbagai resiko. Dari yang ringan hingga buta. Begitu juga dengan pergelangan tangan. Pake jam tangan mahal sekalipun kalau makenya terlalu ketat juga bakal bikin pergelangan tangan membiru. Lama-lama bisa diamputasi karena aliran darah gak lancar bahkan berhenti.

Jadi, gak serta merta salah loom band. Tapi, gimana cara kita berhati-hati. Apalagi kalau anak kecil yang main. Orang tua tetep harus mengawasi dan mewanti-wanti.

Nai terlihat diam. Tapi, gak apa-apa. Nanti, lama-lama juga dia akan mengerti. Mungkin saat itu dia sedang kecewa karena rencananya jadi gagal.

Ada beberapa alasan kenapa Chi mengajak Keke dan Nai berdiskusi tentang loom band ini. Gak semata-mata karena loom band lagi ngetrend. Ini alasannya:


  1. Keke dan Nai udah mulai melek dunia internet. Walaupun ada beberapa kata yang kami 'lock' di internet, tapi bukan berarti 100% aman untuk mereka. Contohnya seperti berita tentang loom band ini
  2. Dengan melek internet, Chi anggap Keke dan Nai udah mampu diajak berdiskusi. Tentu aja disesuaikan dengan gaya bahasa dan cara berpikir mereka.
  3. Zaman sekarang banyak banget berita yang judulnya itu bikin heboh. Padahal isinya gak seperti itu. Sayangnya, banyak juga masyarakat yang cuma baca judul langsung main share. Chi gak kepengen banget Keke dan Nai seperti itu. Biasakan membaca sampe tuntas. Dicerna tulisannya. Lakukan cek-ricek kalau memang diperlukan.
  4. Membiasakan diri untuk selalu membaca sampe tuntas juga artinya membiasakan mereka untuk membaca.
  5. Membiasakan untuk cek-ricek juga membiasakan mereka untuk hati-hati dalam berpendapat. Di dunia maya ini banyak yang berpendapat hanya karena alasan kebebasan berpendapat. Tapi, sebetulnya pendapat mereka hanya asal-asalan. Akhirnya, ada beberapa netizen yang kesandung sama pendapatnya sendiri. Kalau udah gitu, sanksi sosialnya bikin serem.
  6. Yang Chi lakukan ini sebetulnya salah satu bentuk dari sikap orang tua untuk melindungi anak. Abis kalau cuma sekedar dilarang, mereka akan penasaran. Jadi, ajak juga Keke dan Nai berdiskusi. Dengan berdiskusi, Chi juga jadi tau apa jalan pikiran Keke dan Nai

Continue Reading
40 comments
Share:

Wednesday, September 3, 2014

Berburu Playground

Sabtu, 30 Agustus 2014, Chi dapet undangan dari Monde Boromon untuk hadir di acara talkshow yang mereka selenggarakan bekerja sama dengan majalah AyahBunda. Talkshow yang bertema "Parenthood Style Di Era Digital", diadakan di Playparq, Kemang.

Chi seneng banget dapet undangan ini, apalagi temanya tentang parenting. Trus, boleh bawa anak pula. Asik, deh! Tapi, dipostingan berikutnya aja, Chi cerita tentang talkshownya. Kali ini Chi mau cerita tentang playground aja.

Selama ini, kalau ngajak Keke dan Nai main di playground kayaknya belum pernah ada cerita gagalnya. Selalu aja menyenangkan buat kami semua. Ya, menyenangkan buat Chi juga. Kan, waktu kecil gak pernah main di playground :p

Playground sekarang memang banyak yang bagus. Apalagi di mall, tuh. Memang, sih, ada sejumlah harga yang harus kita keluarkan. Tapi, gak apa-apa sesekali, lah. Lagian cari lahan kosong gratisan di kota udah lumayan susah juga, deh.

Chi paling suka dateng ke playground yang besar di mall, trus bayarnya cukup sekali aja alias gak pake tarif per jam alias dari buka sampe tutup mall bayarnya cukup sekali. Kalau kayak gitu, malah jadi murah sebetulnya. Paling siap-siap aja badan jadi pegel abis gara-gara nemenin anak-anak yang biasanya susah diajak pulang kalau udah main di playground :r

Biasanya kalau udah main di playground gitu, memang udah diniatin dari rumah. Jadi, jarang banget dibarengin sama belanja. Bener-bener cuma main di Playground. Itu aja bisa dari pagi sampe sore. Istirahat cuma buat makan siang aja.

Oiya, waktu Chi ke acara talkshow hari Sabtu lalu, kan, diplayground juga. Namanya Playparq. Acaranya dari pagi sampe siang. Kami ada di sana sampe pukul 14.30 wib. Lanjut lagi ke Tamani Kids. Kalau yang di Tamani Kids, undangan ulang tahun. Keponakan K'Aie booking Tamani Kids buat ngerayain ulang tahun anaknya. Jadi lah seharian itu kami sekeluarga di Kemang dari pagi sampe malam.

Keke dan Nai, sih, seneng banget! Kayaknya mereka berdua gak ada capenya sama sekali. Malah sampe sekarang masih minta main lagi di playground. Kapan-kapan, ya, Nak :)

Cuma, dari abis main ke playground hari Sabtu lalu itu, Chi merasa kalau Keke dan Nai udah gede aja. Waktu di Playparq, kebanyakan para mahmud (baca: mamah muda) dengan anaknya yang masih pada balita. Trus, pas di Tamani Kids itu acara ulang tahun anak usia 5 tahun. Yang dateng kebanyakan anak TK, dong. Jadi, berasa lagi kalau Keke dan Nai udah gede ajah hahaha

Jadi sempet mikir juga, kayaknya sebentar lagi mereka udah gak bisa main di Playground, nih. Main di Playground itu kan ada batas usianya. Kalau Nai, sih, masih lama. Tapi, dia suka gak mau kalau gak ada Keke. Sedangkan Keke usianya udah 10 tahun. Paling 2 tahunan lagi. Cuma kalau lihat badannya yang lumayan besar, pada percaya kan ya kalau dia anak umur 10 tahun? :D

Waktu gak berasa banget, ya? Puas-puasin, ah, berburu playground. Berikut manfaat dan tips bermain di playground.



Manfaat Bermain di Playground


  1. Anak bergerak. Bergerak = berolahraga. Memang, sih, yang bener itu anak jangan cuma bergerak saat diajak ke playground. Di rumah pun dia harus aktif bergerak. Tapi, gak ada salahnya juga kan kalau sesekali ajak main di playground?
  2. Menyenangkan. Paling seneng kalau ngajak jalan anak-anak trus merekanya bahagia banget. Chi seneng lihat ekspresinya. Seneng juga lihat celotehan mereka yang bisa gak putus-putus selama beberapa hari. Bercerita tentang keseruan main di playground, walopun sambil sesekali diselingi dengan permintaan minta main lagi hehe
  3. Menciptakan kebersamaan. Salah satu cara asik bermain sama anak adalah dengan mengajak mereka ke playground. Kita sebagai orang tua yang memasuki dunia mereka
  4. Melatih keberanian, kreatif, dan lain-lain. Ada area tertentu yangmenuntut keberanian si anak. Misalnya panjat-panjatan. Ada juga area-arena lain yang bisa mengasah kreatif, dan lain sebagainya.
  5. Belajar bersosialisasi. Chi beberapa kali mendengar mereka cerita kalau pas lagi main diajak ngobrol sama salah satu anak yang lagi bermain juga. Atau, Chi lihat tau-tau mereka lagi ngobrol sama anak lain. Memang, sih, gak sampe berakhir dengan tuker-tukeran alamat dan nomor telpon hehe, tapi itu menandakan kalau mereka juga belajar bersosialisasi
  6. Belajar bertoleransi. Kadang ada beberapa anak yang tidak mau mengalah. Keke dan Nai bisa belajar untuk bertoleransi. Misalnya dengan cara meminta baik-baik untuk gantian atau cari alternatif permainan lain. Daripada memaksa untuk gantian. 
  7. Belajar bersabar. Misalnya antre saat main perosotan, ayunan, atau yang lain. Mereka belajar antre, bersabar dalam antrean, dan gantian. Gak main serobot sana-sini.

 

Tips Bermain di Playground:


  1. Banyak-banyak cari info kalau kita dateng ke playground yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Bisa cari info lewat google atau tanya sana-sini
  2. Wajib bawa kaos kaki. Biasanya playground yang di mall mengharuskan anak ataupun pendamping memakai kaos kaki. Memang di kasirnya suka ada yang jual kaos kaki, tapi sebaiknya bawa kaos kaki sendiri aja. Daripada harus keluar uang buat kaos kaki.
  3. Bawa baju ganti. Seperti yang Chi tulis di atas, lebih suka cari playground yang tanpa harga per jam. Resikonya memang anak susah diajak pulang. Walopun di mall kalau aktif gitu pasti berkeringat juga. Jadi, harus bawa baju ganti
  4. Bawa handuk, baju renang, dan plastik. Ada playground yang ada area basah di tempat bermainnya. Diantaranya adalah Giggles Fun The Factory sama Playparq. Sebaiknya memang bawa baju renang, karena bikin anak-anak lebih bebas bergerak. Waktu pertama kali ke Giggles, gak bawa baju renang. Jadi, mereka bermain dengan kaos dan celana jeans. Udahannya yang repot. Karena berat trus gak bawa plastik pula. Plastik yang disediain di tempat bermain kecil banget.
  5. Anak-anak kalau udah bermain suka lupa makan. Orang tua harus mengingatkan dan tegas juga. Kami selalu bilang ke Keke dan Nai kalau mau main seharian, saatnya makan siang harus mau diajak keluar playground dulu. Gak ada cerita ngambek. Kalau ngambek, sebaiknya bermain diberhentikan trus pulang. Biasanya mereka nurut, sih. Gak membantah kalau diajak makan siang dulu. Abis makan, kan, tinggal mausk lagi. Gak perlu bayar lagi :)
  6. Harus rajin diingatkan untuk minum. Bermain di playground mall itu cape tapi gak selalu bikin haus. Mungkin karena tempatnya dingin. Jadi, harus rajin diingatkan supaya jangan lupa minum
  7. Pake pelembab. Playground seperti Playparq itu lebih banyak area terbukanya. Bermain seharian bikin kulit lama-lama terbakar. Untuk melindungi, jangan lupa pakai pelembab
  8. Dampingi kalau perlu. Walopun playground kelihatan aman, sebaiknya sih dampingi. Apalagi kalau baru pertama kali datang ke suatu playground. Pastikan kalau anak kita udah bisa memanjat dengan baik, meloncat di tempat aman, dan lain-lain. Jangan cuma mengandalkan petugas, deh. Anak-anak yang bermain kan banyak. Suka gak sebanding sama jumlah petugas. Kecuali kalau kita udah yakin, anak-anak aman bermain tanpa didampingi.
Atas: Playparq, Kemang
Bawah: Tamani Kids, Kemang
 Keliatan kalau Keke dan Nai udah gede, ya :D


Itu aja manfaat dan tipsnya. Cari-cari info buat berburu playground lagi, ah :)

Continue Reading
8 comments
Share:

Monday, September 1, 2014

Kurikulum 2013 : Uh(!) atau Aha(!)?

Masih bikin postingan tentang kurikulum, nih. Setelah postingan sebelumnya berjudul "Kurikulum Yang Mencerdaskan". Kali ini tentang kurikulum 2013 yang kelihatannya lagi 'hot' karena banyak yang berpro-kontra. Tapi, Chi bikin postingan ini bukan karena ikut-ikutan, ya. Setahun lalu, Chi udah pernah bikin 2 postingan tentang kurikulum 2013. Silakan baca 2 postingan sebelumnya, yaitu:

  1. Plus Minus Kurikulum 2013
  2. Kurikulum 2013, Siapkah Kita?
 
Kedua postingan itu, Chi buat akhir Agustus dan pertengahan September 2013. Sekolah Keke dan Nai memang sudah menggunakan kurikulum 2013 ini sejak tahun lalu. Bedanya tulisan yang sekarang dan tahun lalu adalah kalau tahun lalu kan baru seumur jagung ngejalaninnya, sedangkan yang kali ini berarti udah 1 tahun ajaran merasakan yang namanya kurikulum baru.

Sekarang, Chi tulis pendapat setelah selama 1 tahun pakai kurikulum 2013. Oiya, yang Chi tulis ini kurikulum 2013 untuk SD. Sedangkan untuk SMP dan SMU, Chi masih no komen. Belom pernah merasakan :)



Setelah 1 Tahun Merasakan Kurikulum 2013



Tematik

Kurikulum 2013 ini mata pelajarannya tematik. Artinya, semua mata pelajaran disatukan di satu buku berdasarkan tema. Waktu Keke kelas 4, ada 9 tema. Chi gak tau di kelas 5 ini ada berapa tema nantinya karena belum semua buku dibagikan.

Salah satu nilai plus dari tematik ini adalah tidak ada lagi materi yang dobel. Maksudnya begini, dulu waktu masih berbentuk mata pelajaran, Chi seringkali merasa materi diajarkan itu dobel. Misalnya, untuk pelajaran hak dan kewajiban ada di matpel IPS dan PPKn. Materinya sama, tapi anak jadi dobel-dobel belajarnya. Apalagi kalau mau ulangan. Kalau di tematik ini gak ada lagi yang dobel begitu. Karena udah disatukan berdasarkan tema-tema.



Tas Menjadi Lebih Ringan

Mata pelajaran untuk hari Jumat. Yang sebelah kiri, pelajaran Keke. Yang kanan, pelajaran Nai


Coba lihat foto di atas. Kelihatan jelas, kan, tas mana yang lebih ringan. Jelas tas Keke, lah. Keke dan Nai memang menggunakan kurikulum yang berbeda walopun sekolahnya sama.

Tahun lalu, kurikulum 2013 baru dilaksanakan sebanyak 30% dari total seluruh SD swasta dan negeri yang ada di Indonesia. Itupun baru kelas 1 dan 4 aja. Tahun ini, kelas 2 dan 5, sudah mulai ikut kurikulum 2013. Tapi, berapa persentasenya, Chi belum tau. Karena belom ada rapat orang tua murid di sekolah. Yang jelas, secara bertahap persentase tersebut dinaikkan hingga akhirnya seluruh tingkatan memakai kurikulum 2013.

Karena Keke tahun lalu kelas 4 dan sekolah termasuk yang ikut kurikulum baru, jadinya Keke udah mulai. Tapi, Nai belum karena sampai tahun ini untuk kelas 3 dan 6 SD di seluruh Indonesia masih menggunakan kurikulum lama.

Foto yang di atas itu, pelajaran anak-anak di hari Jum'at. Hari Jum'at lebih pendek dari hari lain durasi belajarnya. Jadi, pastinya pelajaran Nai lebih berat lagi di hari lain. Sedangkan Keke tetap jauh lebih ringan.

Membawa tas yang lebih ringan tentu aja bagus untuk anak secara jangka pendek dan panjang. Jangka pendek, anak-anak lebih seneng kalau ke sekolah tasnya ringan. Nai sering ngiri melihat tas Keke yang ringan. Iyalah, kita yang udah gede aja seneng kalau di suruh bawa yang ringan apalagi anak-anak.

Dalam jangka panjang juga bagus untuk kesehatan anak. Coba aja googling resiko membawa tas yang sangat berat bagi anak untuk jangka panjang. Gak bagus, lho, buat tulangnya.

Bawa tas beroda seperti koper itu, Chi rasa gak otomatis memberikan solusi untuk bawaan yang berat. Nai dulu bawa tas beroda. Tapi, karena untuk masuk kelasnya harus turun naik tangga, membawa tas beroda justru menurutnya lebih merepotkan. Karena tetap harus menggendong tasnya saat turun-naik tangga. Dan, bentuk tas beroda yang umumnya kaku, bikin dia gak nyaman ketika harus menggendong tasnya saat turun ataupun naik.



Pendidikan Karakter

Pernahkah kita melihat kritikan tentang pendidikan di Indonesia yang katanya lebih mementingkan pendidikan akademis dibandingkan karakter? Chi sering banget baca kritikan seperti itu. Nah, kalau di kurikulum 2013 ini pendidikan karakter lebih utama, bagaimana pendapatnya? Seharusnya, kita lebih senang.

Pendidikan karakter ini umumnya sudah diajarkan di sekolah-sekolah swaswa yang berstandar internasional. Sekolah Keke dan Nai juga sudah menerapkan gaya belajar seperti pendidikan karakter sebelum ada kurikulum ini.

Rapor kurikulum 2013 pun seperti rapor TK. Berisi deskripsi tentang laporan perkembangan tingkah laku anak dan ketrampilannya. Bukan lagi diisi dengan angka-angka. Rapornya pun menjadi lebih besar dan tebal.



Pelajaran Akademis Lebih Menyesuaikan Dengan Usia Anak

Dulu, Chi merasa pelajaran anak SD sekarang ini berat banget. Pelajaran yang dulu Chi belajar waktu SMP atau SMA, sekarang udah diajarin di SD. Di kurikulum baru ini, pelajaran kembali jadi seperti pelajaran anak SD. Menyesuaikan dengan pola pikir anak SD.

Ada pro kontra, sih. Ada yang bilang ini kemunduran, ada yang bilang juga enggak. Chi termasuk yang bilang enggak. Buat Chi, materi belajar memang sebaiknya menyesuaikan dengan usia anak. Anak masih SD, materinya juga harus untuk anak SD. Bukan materi anak SMP apalagi SMA. Memang, sih, mungkin aja ada anak yang mampu, tapi gak sesuai dengan usianya.



Murid dan Guru Dituntut aktif Juga Kreatif

Banyak yang kontra kalau kurikulum baru ini jam sekolahnya lebih panjang. Anak-anak jadi semakin gak punya waktu bermain. Memang benar kalau durasi jam sekolah di kurikulum baru ini sedikit lebih panjang. Tapi, jangan juga terburu-buru menyalahkan pemerintah. Coba dilihat dulu alasannya. Kalau perlu tanyakan langsung ke masing-masing sekolah tentang kebijakan masa belajar sekolah.

Selama ini, umumnya sekolah negeri itu durasi jam sekolahnya pendek. Banyak banget teman dan sepupu Chi yang bersekolah di SD negeri, durasinya paling sekitar 3 jam aja setiap harinya. Yang durasinya panjang itu umumnya sekolah swasta. Kalaupun negeri, biasanya negeri yang kategori unggulan.

Kalau pun ada penambahan waktu, rasanya gak mungkin deh penambahannya melonjak. Sederhananya, kalau SD negeri yang biasa-biasa aja berlipat-lipat tambahan jam belajarnya gara-gara kurikulum baru, nanti yang sekolah swasta atau SD negeri unggulan mau pada pulang jam berapa? Malam hari? Gak mungkin, kan. Jadi, memang benar ada penambahan. Tapi gak banyak. Keke aja tetep gak sampe azhar, kok, jam sekolahnya.

Pemerintah memang selalu punya standar di setiap kurikulum apapun. Termasuk durasi jam belajar. Kalaupun kemudian ada sekolah yang durasinya lebih panjang, itu karena sekolah juga diberi kebebasan untuk menambah jam pelajaran apabila diperlukan. Yang penting bagian wajibnya dipenuhi dan tidak dikurangi. Makanya, itulah kenapa tadi Chi katakan untuk tanya lebih detil ke masing-masing sekolah tentang durasi belajar. Karena setiap sekolah diberikan kebijaksanaan mengatur jam pelajarannya. Kalau cuma ngikutin pemerintah, sih, gak panjang juga jam belajarnya.

Lagipula metode belajar di kurikulum 2013 ini seharusnya lebih menyenangkan. Kalau belajarnya menyenangkan, anak-anak biasanya juga gak akan terbebani, malah seneng.

Ya, di kurikulum 2013 ini, para siswa memang gak terus-terusan duduk di meja dan menerima teori yang seabrek. Di kurikulum yang baru ini, baik murid maupun guru dituntut lebih aktif. Belajar di halaman, berdiskusi, bekerja kelompok, presentasi di depan kelas, dan lain-lain. Cara belajar seperti ini menurut Chi sangat menyenangkan!

Kalau untuk PR, dari dulu sekolah Keke dan Nai memang jarang banget kasih PR, ya. Kalapun ngasih, biasanya sedikit. Udah jarang trus sedikit pula, enak kan hehe. Di kurikulum 2013 ini, PRnya juga masih tetep jarang dan sedikit. Biasanya bentuknya itu membuat kliping atau artikel yang sumbernya bisa kita cari, misalnya dari internet. Kata Keke, kadang tugasnya itu gak cuma dikumpulin tapi juga kadang diminta untuk presentasi dulu di depan kelas.



Anak Berani Mengemukakan Pendapat

Chi suka berandai-andai, kalau aja dulu kurikulumnya kayak gini, mungkin Chi bukan jadi orang yang gampang gugup kalau disuruh bicara didepan orang banyak. Seperti yang Chi tulis di atas, kurikulum 2013 ini menuntut siswa lebih aktif. Salah satunya presentasi di depan kelas.

Kalau kegiatan seperti ini sering dilakukan, tentu bisa mengasah keahlian dan keberanian bicara mereka didepan umum. Guru juga bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri si anak, bagaimana cara berbicara yang baik, bagaimana menerima perbedaan pendapat, dan lain sebagainya. Kalau udah begini, ilmu dapet trus pendidikan karakter pun dapat.


Pelajaran Bahasa Inggris dan Komputer Ditiadakan

Menurut banyak berita seperti itu. Sebetulnya, gak 100% tepat. Bahasa inggris tidak dihilangkan, tapi dijadikan pelajaran ekstrakurikuler. Kalau kurikulum lama, kan, termasuk pelajaran utama. Karena Keke dan Nai sekolah billingual, bahasa inggris tetap jadi ekskul wajib. Artinya, masuk ke dalam mata pelajaran. Entah kalau di sekolah lain, ya.

Bobot pelajaran bahasa Indonesia jadi lebih banyak. Buat, Chi bagus aja, sih. Selama ini, banyak yang lebih fokus ke bahasa inggris sampe belajar grammar segala macem. Memang benar, belajar bahasa inggris itu penting karena bahasa internasional. Tapi, bukan berarti bahasa sendiri diabaikan dna terkesan yang penting bisa ngobrol.

Kalau di sekolah Keke dan Nai, mata pelajaran komputer masih ada. Tapi, kalau mengikuti kurikulum pemerintah, mata pelajaran komputer itu dilebur ke berbagai pelajaran tematik. Artinya, siswa bisa saja mendapat berbagai tugas dimana komputer juga diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.

Bagaimana dengan sekolah yang tidak memiliki lab komputer? Menurut Chi, dengan tidak ada kewajiban mata pelajaran komputer, justru beban sekolah jadi sedikit berkurang. Sekarang tinggal gimana guru kreatif aja mengarahkan para siswanya belajar dengan cara lain tanpa tergantung dengan komputer.



Yang Mengkhawatirkan dari K-13



Hmmm... sebetulnya Chi lebih suka menyebutnya 'masih tanda tanya' daripada 'mengkhawatirkan'. Karena Chi masih berprasangka dan berharap baik dengan kurikulum 2013 ini. Cuma memang tetap ada beberapa hal yang buat Chi masih tanda tanya.


Kurikulum Berubah Lagi

Kita tau sama tau lah kalau kurikulum di Indonesia itu sering berubah. Chi, sih, selalu berusaha siap aja mengalamin perubahan. Seperti postingan sebelum ini, apapun kurikulumnya, Chi berusaha untuk mengolahnya menjadi kurikulum yang mencerdaskan bagi Keke dan Nai. Tetap menolak berpikir kalau anak-anak adalah korban pendidikan.

Chi berharap kurikulum 2013 ini jangan diubah dulu. Setidaknya dalam waktu dekat. Karena yang namanya perubahan itu, selalu diawali dengan masa adaptasi. Dan, dimana-mana yang namanya masa adaptasi itu, masa yang terberat. Kurikulum 2013 ini masih ada di masa adaptasi. Tunggulah sampai berjalan sekian tahun untuk tahu hasil terbaik dan terburuknya.

Tapi mengingat sebentar lagi pemerintahan baru, apakah kurikulum akan ganti lagi? Chi berharap semoga jangan.


Menjadi Aktif dan Kreatif Itu tidak Mudah

Sebetulnya, Keke dan sekolahnya gak terlalu sulit menjalani masa adaptasi ini. Karena, ketika masih pakai kurikulum lama, metode belajar aktif-kreatif yang child friendly pun udah diterapkan di sekolah. Jadi, walopun kurikulum lama itu materinya berat, tetep bisa disampaikan dengan cara menyenangkan.

Masalahnya, gak semua guru seperti itu gaya mengajarnya. Menjadi kreatif, sering kali sulit bagi yang tidak terbiasa. Apalagi buat para guru senior yang sudah berada di zona nyaman. Sudah sangat terbiasa selama puluhan tahun memberi materi sesuai buku pelajaran saja, mungkin akan sulit merubah gaya pengajaran. Biasa hanya satu arah, sekarang kedua pihak harus aktif dan kreatif.



Menilai Karakter Jauh Lebih Sulit

Walopun Chi bukan seorang guru, tapi Chi yakin kalau menilai karakter itu jauh lebih sulit daripada memberi nilai akademis. Sebagai seorang ibu dari 2 anak aja, Chi masih sering berusaha untuk terus menggali dan memahami karakter Keke dan Nai sampe sekarang. Kebayang kan gimana beratnya tugas guru ketika harus bisa menilai setiap anak didiknya dalam waktu yang singkat (hanya 1 tahun ajaran)?

Kalau penilaian akademis itu lebih mudah. Guru tinggal memberi soal, nanti penilaiannya berdasarkan hasil yang dikerjakan anak-anak. Bagus dan jelek ada bukti di atas kertas. Penilaian karakter, gak semudah itu. Guru benar-benar dituntut harus objektif. Gak boleh, tuh, ada perasaan like and dislike ketika memberi penilaian. Gak boleh pilih kasih. Berat, ya. Sementara di satu sisi, guru juga manusia yang punya perasaan :D



Komunikasi

Pendidikan karakter sudah menjadi tuntutan di beberapa kalangan masyarakat. Ketika itu dikabulkan, sebagai orang tua juga harus berpikiran terbuka dan bisa berdiskusi terutama ketika menerima kritik tentang anak kita. Bisa jadi cobaan berat juga bagi seorang guru yang merasa udah berusaha seobjektif mungkin memberikan penilaian, tapi masih ditanggapi dengan tudingan gak enak.

Jujur aja, kadang ketika ada laporan dari guru yang mengkritik sikap Keke atau Nai, suka ada sedikit terbersit rasa sebel. Dan, godaan kepengen langsung ngebela anak dengan berkata, "Masa', sih? Kayaknya anak saya gak begitu, deh!". Jangan-jangan gurunya pilih kasih, atau apalah. Ya, namanya juga ibu. Kadang suka ada rasa protektif ke anak hahaha.

Alhamdulillah, emosi itu gak pernah terlontar. Bisa bersikap untuk menenangkan diri dulu sebelum berkomunikasi kepada guru. Dan, rasanya kalau kita bisa berkomunikasi dengan baik, apapun masalahnya bisa diselesaikan dengan baik, kok. Insya Allah.

Masalahnya, gak semua orang tua seperti itu. Ada lho yang langsung mencak-mencak ke guru. Bahkan sampe nunjuk-nunjuk di depan wajah guru. Nah, kalau memang kita berharap pendidikan karakter itu ada di Indonesia, seharusnya orang tua juga ikut mencontohkan. Gimana menyelesaikan masalah dengan baik. Bisa jadi sebetulnya masalahnya sepele tapi karena udah emosi duluan, akhirannya jadi gak baik.



Sempet Bingung Mengajarkan Pelajaran

Bukunya udah tematik, tapi jam belajarnya masih per mata pelajaran. Suka bingung kalau mau ngajarin Keke mana itu pelajaran IPS, PPKn, dan lain-lain. Paling gampang ya ngajarin matematika. Cari aja halaman yang ada pelajaran hitung-hitungannya. Udah pasti itu matematika hehe.

Tapi, semua itu berproses. Tahun ajaran ini udah disesuaikan. Kurikulumnya tematik, mata pelajarannya juga tematik. :)



Ujian Akhir

Disekolah Keke dan Nai, penilaian akademis tetap diberikan. Semata-mata untuk meminimalkan konflik antara orang tua dan murid. Karena seperti yang Chi tulis di atas, gak semua orang tua bisa tetap bersikap tenang ketika mendapat laporan dari guru tentang perilaku anaknya. Maka, nilai akademis pun tetap diberikan supaya orang tua bisa lebih banyak mempertimbangkan lagi.

Tapi, kebijakan pemerintah sendiri, penialaiannya adalah karakter bukan lagi nilai. Yang menjadi pertanyaan Chi dan juga sempat dilontarkan oleh salah satu orang tua murid tahun lalu adalah bagaimana dengan ujian akhirnya nanti dengan sistem pendidikan karakter?

Penjelasan dari kepsek, sih, ada kemungkinan ujian akhir SD itu memang akan dihapus. Kalaupun tetap ada, tentunya materi disesuaikan dengan kurikulum baru.

Ya, apapun nanti keputusannya, Chi jalanin aja, seperti yang sudah-sudah. Gak ada kurikulum yang 100% menurut Chi. Tapi, setiap zaman selalu ada yang berhasil, kan? Jadi, pantang putus asa. Semangat! :D

Jadi, kurikulum 2013 itu 'uh' atau 'aha', nih? Chi pilih bilang, Aha! :)

Continue Reading
2 comments
Share: