Thursday, December 19, 2019

Sehati TeleCTG, Inovasi Karya Anak Bangsa untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu dan Bayi

Sehati TeleCTG, Inovasi Karya Anak Bangsa untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu dan Bayi - Punya cerita apa seputar kehamilan dan melahirkan? Kalau Chi, saat hamil tidak banyak memiliki cerita. Biasa aja.

Bukan berarti tidak menganggap sebagai momen istimewa, lho. Tetapi, tiap kali hamil, Chi gak pernah merasakan perubahan yang berarti selain perut yang semakin besar. Gak sekalipun merasakan mual. Nafsu makan dan kesehatan pun selalu baik. Alhamdulillah. Kalau bahasa awamnya, kondisi ini banyak yang bilang hamil kebo.


telectg untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi


Ketika hamil anak pertama, dsog memprediksi Chi bisa melahirkan normal. Makanya sempat berusaha sampai bukaan 10 untuk proses normal. Setelah pemeriksaan dalam, dokter mengatakan kalau posisi kepala Keke agak menyulitkan proses melahirkan.

Dengan kondisi seperti itu masih bisa normal, tetapi lebih berisiko daripada SC. Karena kemungkinan risikonya cedera di kepala bila normal, Chi dan K'Aie udah serem aja dong ngebayanginnya. Saat itu juga, kami setuju melahirkan caesar. Bodo amat deh udah menahan mulas sampai bukaan 10, tapi akhirnya operasi juga. Pokoknya yang penting ibu dan anak bisa tetap sehat dan selamat.

Lain ceritanya dengan proses melahirkan Nai. Memang sudah direncanakan untuk caesar karena placenta previa. Seluruh jalan lahir tertutup. Sehingga diharuskan melahirkan dengan cara operasi caesar.


Bila Hamil dan Melahirkan di Daerah Tertinggal


jumlah dokter kandungan dan bidan di daerah tertinggal

Kalau dipikir lagi, Chi harus bersyukur banget, ya. Tinggal di kota besar, di mana dokter kandungan melimpah. Bahkan dekat rumah ada RSIA yang kualitasnya bagus.

Kami bisa spontan memutuskan apakah setuju untuk SC atau tetap normal di kehamilan pertama. Saat memutuskan SC, seluruh tenaga ahli yang membantu dengan sigap membawa saya ke ruang operasi. Prosesnya pun lancar. Keke lahir sehat dengan berat badan 3,99 kg.


jarak rumah sakit di daerah tertinggal

Tapi, coba deh bayangkan ibu hami yang tinggal di daerah tertinggal. Dokter kandungan belum tentu ada. Rumah sakit jaraknya sangat jauh. Itu pun kalau mau ke sana harus melintasi sungai, bukit, dan hutan. Perjuangan banget, deh.

Bidan menjadi ujung tombak untuk ibu hamil dan proses melahirkan. 71% proses persalinan ditangani bidan. Tetapi, bidan hanya boleh menangani ibu hamil dengan risiko rendah dan peroses persalinan normal.

Bila ada indikasi ibu hamil memiliki risiko tinggi, maka dokter kandungan yang harus menangani. Sayangnya jumlah dokter kandungan di daerah tertinggal sangat minim. Jauh sekali jumlahnya dengan daerah non tertinggal.


Sinergi Antara Sehati Group dan Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) untuk Mengurangi AKI dan AKB


telectg sehati group
1. dr. H. Deden Bonni Koswara, MM., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu
2. Mariana A. Sailana, S.Tr. Keb., Pengelola KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang
3.  Dr. H. Yusra M.Pd, Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT).
 4. dr. Ari Waluyo, Sp.OG, Co-Founder & Chief Executive Officer Sehati Group


Senin (16/12) diadakan media briefing SEHATI dengan tema "Peran Telehealth dalam Membangun Manusia Indonesia yang Unggul, Sehat, dan Berkualitas." Saat ini, aplikasi kesehatan memang bertebaran. Tetapi, aplikasi yang dibahas pada media briefing, bukanlah seperti yang pada umumnya kita kenal. Inovasi ini bertujuan untuk membantu menurunkan AKI dan AKB.

Kalau diperhatikan, pemerintah saat ini sering menggaungkan kalimat "SDM Indonesia Unggul". Memang untuk kurun 5 tahun ini, fokus pemerintah adalah meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Salah satunya tentu dengan mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Dengan minimnya akses kesehatan AKI dan AKB banyak terjadi di daerah tertinggal. Oleh karena itu, perlu adanya sinergi antara  PDTT dan berbagai pihak. Salah satunya adalah Sehati Group.


“Saat ini terdapat 74.954 desa di seluruh Indonesia. Sebagian besar desa berada di dalam wilayah geografis yang sulit, khususnya desa-desa di daerah tertinggal, sehingga upaya penetrasi infrastruktur dan akses layanan kesehatan cukup menantang. Meski begitu, Kementerian Desa PDTT berupaya untuk mengintervensi AKI, AKB dan stunting bekerja sama dengan pemain industri teleHealth seperti Sehati Group. teleHealth menjadi salah satu strategi kami dalam mengatasi hambatan geografis dan menjangkau ibu hamil yang berada di desa maupun daerah tertinggal,” ujar Dr. H. Yusra M.Pd, Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT).


TeleCTG, Inovasi Karya Anak Bangsa dari SEHATI Group


telectg inovasi karya anak bangsa

Minimnya akses kesehatan di daerah tertinggal menyebabkan AKI dan AKB menjadi tinggi. Padahal, bila ingin fokus pemerintah untuk meningkatkan SDM Indonesia berhasi, angka kematian ini harus diturunkan.

Untuk itu Sehati Group membuat TeleCTG. Alat ini merupakan inovasi pertama di dunia buatan anak bangsa. Kerjasama antara ahli kesehatan yang sudah bertahun-tahun profesional di bidangnya dengan anak-anak muda yang paham teknologi.


CTG atau Cardiotogography adalah alat yang digunakan untuk memonitor detak jantung jantung janin dan kontraksi rahim.

Kenapa CTG, bukan USG?

Karena USG harganya lebih mahal daripada CTG. Selain itu, tidak sembarangan orang bisa mengoperasikan mesin USG. Dokter kandungan saya butuh latihan dalam waktu yang lumayan lama sudah diperbolehkan mengoperasikan dan menganalisa hasil USG.

Meskipun demikian, pemeriksaan CTG pun sudah bisa memberikan indikasi risiko kehamilan dan janin di dalam kandungan. CTG juga tidak membutuhkan layar seperti USG. Apalagi CTG juga ukurannya kecil. Sehingga memudahkan para bidan untuk membawa alat ini ke mana pun.

Cara kerja CTG dan TeleCTG tidak jauh berbeda. Sama-sama sebagai alat untuk memonitor kontraksi rahim dan detak jantung janin. Bedanya, kalau TeleCTG bisa bekerja secara digital. Alatnya akan tersambung ke salah satu aplikasi di smartphone.


dr. Ari Waluyo, Sp.OG sedang menjelaskan kondisi real time grafik kontraksi rahim dari ibu hamil yang sedang menggunakan TeleCTG


Semua data akan tersimpan komplit di dalam aplikasi. Hasilnya pun real time. Jadi, para bidan juga bisa langsung merekomendasikan untuk segera dirujuk ke rumah sakit bila ada kehamilan yang berisiko.

Wewenang bidan juga lebih terbatas dari dokter kandungan. Dengan TeleCTG, bidan dapat langsung berkonsultasi dengan dsog tentang kondisi ibu hamil yang sedang ditangani.


Menurut dr. Ari Waluyo, Sp.OG, Co-Founder & Chief Executive Officer Sehati Group, “Hingga saat ini solusi Sehati TeleCTG telah digunakan oleh 20.000 ibu hamil dan lebih dari 10.500 bidan di 11 provinsi dan 27 Kabupaten Indonesia. Solusi Sehati TeleCTG beroperasi di daerah terpencil maupun perkotaan. Salah satu Kabupaten yang telah menggunakan solusi ini adalah Indramayu dan Kupang, hasil kerja sama antara Sehati Group dengan Kementerian Desa PDTT dan Dinas Kesehatan setempat. Penggunaan solusi Sehati TeleCTG di Kabupaten Indramayu dan Kupang, telah berhasil menurunkan jumlah ibu dan bayi yang meninggal, mendeteksi faktor resiko, meningkatkan angka rujukan dini dan identifikasi faktor resiko yang berpotensi menyebabkan stunting intra-uterine.”
permasalan stunting di indonesia

Membahas tentang stunting, waktu yang terbaik untuk mencegahnya adalah pada saat kehamilan dan di 2 tahun pertama kehidupan. Yang terbaik memang sejak dicegah sejak dalam kandungan. Sehingga bayi bisa dilahirkan tanpa ada berbagai masalah pada tumbuh kembangnya.

Turut hadir di acara tersebut dr. H. Deden Bonni Koswara, MM., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu. Ya, bahkan di pulau Jawa saja masih ada beberapa daerah yang AKI dan AKBnya tinggi. Salah satunya di Indramayu.


Dari alat ini yang berbentuk kotak ini akan terdengar suara detak jantung janin. Sedangkan grafik kontraksi ibu hamil akan terlihat langsung di aplikasi


dr. H. Deden mengatakan TeleCTG sudah membantu 126 bidan, 892 ibu hamil, dan mendeteksi 167 ibu hamil berisik. Sejak ada alat ini, AKI dan AKB di Indramayu menurun secara signifikan. Pada tahun 2018, AKI di Indrmayu berjumlah 61 juta jiwa. Pada tahun 2019 menurun jadi 34 juta jiwa. Sedangkan untuk AKB pada tahun 2018 berjumlah 242 juta jiwa. Dan turun menjadi 2015 juta jiwa di tahun 2019.


Senada dengan dr. H. Deden,  Mariana A. Sailana, S.Tr. Keb., Pengelola KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, juga mengatakan kalau teknologi ini efektif menurunkan AKI dan AKB di sana. Sejak Desember 2018, sudah ada 14 puskesmas yang menggunakannya. Sebanyak 47 bidan sudah memeriksa 1471 ibu hamil dengan alat ini dan mendeteksi 991 ibu hamil yang berisiko. AKI pun berhasil diturunkan dari 8 juta jiwa menjadi 5 juta jiwa.

TeleCTG memang sudah terbukti signifikan menurunkan AKI dan AKB. Beberapa negara sudah tertarik untuk membeli alat ini. Tetapi, alat ini gak bisa dimiliki perorangan, ya. Karena memang untuk tenaga kesehatan yang berada di daerah tertinggal. Untuk daftar di aplikasinya saya, bisa harus memasukkan nomor STR dulu.

Bukanu pula tantangannya sudah tidak ada. Alat ini menggunakan battere sebagai solusi di daerah yang belum ada pasokan listrik. Kendala lainnya adalah sinyal internet. Mariana mengatakan, ada daerah di Kupang yang belum memiliki sinyal internet dari Indonesia. Sehingga para bidan menggunakan nomor provider dari negara tetangga supaya tetap bisa mengoperasikan TeleCTG.

Diharapkan Kementrian PDTT dan Kementrian lain yang terkait bisa mengatasi permasalahan yang ada. Sehingga AKI dan AKB di daerah tertinggal bisa semakin diturunkan. Demi terwujudnya rencana pemerintah, Memiliki SDM yang unggul, sehat, dan berkualitas. Demi Indonesia maju.

Continue Reading
18 comments
Share:

Saturday, December 14, 2019

Jadikan Temulawak Mendunia, Herbal Asli Indonesia yang Kaya Manfaat

Jadikan Temulawak Mendunia, Herbal Asli Indonesia yang Kaya Manfaat - "Yah, Curcuma abis. Nanti pulang kerja beliin, ya."

K'Aie udah hapal permintaan Chi ini. Kalau dimintain tolong beli curcuma, itu artinya suplemen makanan yang bernama Curcuma Plus. Bukan menyuruhnya ke pasar untuk beli temulawak.


temulawak mendunia, herbal asli indonesia yang kaya manfaat

Keke dan Nai sudah mengkonsumsi Curcuma Plus sejak kecil. Awanya memilih suplemen ini untuk menjaga daya tahan tubuh anak. Selain membiasakan makan makanan yang bergizi, sesekali juga mereka mengonsumsi suplemen.

Biasanya kalau cuaca sedang kurang bersahabat atau musim batuk pilek. Aktivitas yang sedang padat pun juga bisa kesehatan terganggu kalau kondisi tubuh sedang tidak fit. Saat sakit dan dalam masa penyembuhan, suplemen dibutuhkan supaya nafsu makan kembali membaik.


Temulawak, Tumbuhan Herbal yang Kaya Manfaat


manfaat temulawak

Temulawak (Curcuma xanthorriza) adalah tanaman asli Indonesia yang memiliki banyak sekali khasiat. Tanaman ini masuk dalam kelompok jahe-jahean dan banyak tumbuh di dataran Jawa, Kalimantan, dan Maluku.

Bila suka minum jamu, biasanya sudah paham manfaatnya. Manfaat tanaman rimpang atau rhizoma ini memang sudah diakui secara turun temurun. Bahkan beberapa jurnal ilmiah pun sudah mempublikasikannya.

Beberapa manfaat temulawak antara lain meningkatkan imunitas, menjaga nafsu makan, anti radang, anti oksidan, menjaga kesehatan pencernaan, mengatasi masalah pencernaan, hingga mencegah kanker. Mengingat banyaknya manfaat, temulawak pun dinobatkan sebagai Ikon Herbal Indonesia.


Komitmen PT. SOHO Industri Pharmasi untuk Menjadikan Temulawak Mendunia


komitmen pt soho industri pharmasi menjadikan temulawak mendunia

Bila ginseng dari Korea bisa mendunia. Seharusnya kita pun bangga memiliki temulawak. Sayangnya tanaman herbal kita ini masih kalah pamor. Padahal, khasiatnya tidak kalah banyak. Bahkan beberapa artikel yang Chi baca menulis kalau manfaat temulawak lebih banyak dari ginseng.

Curcuma Plus yang Chi tulis di awal adalah produksi SOHO Global Health. PT. SOHO Industri Pharmasi (SIP) memang terus berkomitmen untuk membuat temulawak semakin mendunia.

PT SOHO Industri Pharmasi sudah berdiri sejak 75 tahun lalu untuk bergerak di bidang layanan perawatan kesehatan herbal. Pada tahun 2018 dan 2019, SIP meraih penghargaan Innovative Industrial Research & Development Institution oleh Kementerian Riset & Teknologi RI.


ekspor temulawak

Jumat (13/12) PT SIP melakukan upacara ekspor penutup untuk tahun 2019. Sebanyak 49.187 box berbagai produk berbahan dasar temulawak akan diekspor ke Kamboja. Selama setahun ini, PT SIP sudah melakukan 40x shipment ke berbagai negara yaitu Vietnam, Philipina, Mauritius, Kamboja, Kamerun, Sri Lanka, Mongolia, dan Timor Leste. Upacara yang juga dihadiri oleh BPOM sekaligus bentuk rasa syukur atas tercapainya target.

Hal ini sejalan dengan roadmap "Making Indonesia 4.0" yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo. Pemerintah ingin menggenjot kinerja industri pengolahan non migas yang berorientasi ekspor. Terlebih kepada perusahaan manufaktur yang konsisten memberikan kontribusi terbesar untuk ekspor nasional.


“Temulawak yang SIP gunakan merupakan temulawak organik yang dikembangkan di kebun riset kami, SOHO Center of Excellence in Herbal Research (SCEHR) Sukabumi dengan konsep Seed to patient dan berkolaborasi secara ABGC (Academic, Business, Goverment, Community),” ungkap Presiden Komisaris PT SOHO Global Health, Eng Liang Tan.

Fasilitas riset herbal yang belokasi di Cihanjawar, Nagrak, Sukabumi, saat ini fokus terhadap pengembangan temulawak agar semakin menjadi varietas unggul. Tetapi, tidak menutup kemungkinan ke depannya juga akan dikembangkan tanaman. Apalagi di Indonesia memang kaya akan berbagai tanaman herbal. Sehingga ke depannya akan semakin berkurang bahan baku impor untuk produksi obat.

“Salah satu kunci untuk dapat mewujudkan kemandirian obat dalam negeri, industri harus dapat memenuhi standar kualitas secara konsisten agar produknya dapat diterima oleh negara tujuan ekspor, karena itu Badan POM sangat mengapresiasi keberhasilan SIP mengekspor produk-produk berbahan dasar Temulawak ke berbagai negara,” ujar Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

Apa yang sudah dilakukan PT SIP mendapatkan apresiasi dari BPOM. Adanya fasilitas riset bisa memberikan kontribusi bagi kesehatan masyarakat, kesejahteraan petani, serta memiliki daya saing untuk ekspor. Lebih lanjut, ibu Penny juga mengatakan kalau untuk menjadikan temulawak mendunia memang membutuhkan sinergi yang banyak dari berbagai pihak. Chi rasa, sebagai masyarakat juga bisa ikut dalam sinergi ini. Bersama-sama mewujudkan ikon herbal Indonesia semakin terkenal di dunia internasional.

membuat temulawa dikenal di dunia
Optimis temulawak bisa mendunia!

Continue Reading
20 comments
Share:

Thursday, December 12, 2019

Minat dan Bakat Anak vs Keinginan Orang Tua

Minat dan Bakat Anak vs Keinginan Orang Tua - Apa cita-cita mu?

Chi pernah membaca satu pendapat kalau anak yang masih kecil sebaiknya jangan ditanya tentang cita-cita. Anak mana ngerti. Nanti yang ada malah ibunya kerepotan menjelaskan ketika anak bertanya, "Cita-cita itu apa?"

Menurut pendapat Chi, memang ada benarnya. Anak kecil belum tentu mengerti cita-cita. Makanya, kalimat bertanyanya yang harus diubah. Disesuaikan dengan pemahaman anak.


minat dan bakat anak vs keinginan orang tua


🎤 Susan, Susan, Susan ... Kalau gede mau jadi apa? 🎶

Masih ingat itu lirik lagu apa? #YouSingYouOld 😂


Keke dan Cita-Citanya yang Berganti-Ganti


menanggapi minat dan bakat anak
Tulisan Keke waktu dia masih bercita-cita jadi Kopassus


Bersyukur Chi lumayan rutin update cerita tentang Keke dan Nai di blog ini. Membaca lagi beberapa artikel lama, Keke pernah beberapa kali berganti cita-cita.

Beberapa artikel psikologi yang pernah Chi baca berpendapat, idealnya melakukan tes minat dan bakat anak itu di usia 14-15 tahun atau ketika memasuki jenjang SMA. Di usia itu, anak dianggap semakin terlihat minatnya. Sedangkan, bila masih kecil kemungkinan besar berubah-ubah.

Chi setuju dengan pendapat tersebut. Kalaupun pernah beberapa kali bertanya tentang cita-cita, tujuannya untuk lebih mengenal anak. Apa sih yang dia lagi suka sekarang? Bagaimana pendapatnya dia bila ditanya seperti itu. Dan berbagai alasan lainnya.

[Silakan baca: Menanggapi Cita-Cita Anak]

Waktu masih balita, Keke pernah bilang pengen jadi tukang becak kalau dia udah besar. Saat itu, Keke memang paling suka kalau dinyanyiin lagu 'Naik Becak'. Di benaknya, kalau bisa jadi abang becak, bakal makin sering jalan-jalan.

Lantas Chi bilang kalau abang becak itu tenaganya kuat, makanya harus rajin bergerak. Motivasi itu berhasil! Tau sendiri lah ya, anak-anak sekarang godaan magernya tinggi banget. Tapi, karena saat itu Keke pengen jadi tukang becak, dia jadi anak yang banyak bergerak. Bahkan ketika sedang melakukan gerakan tutup mulut alias susah makan pun, Chi bisa memotivasi melalui cita-citanya.

"Kalau susah makan, nanti lemes. Kalau lemes, jadi gak kuat kayak abang becak, deh."

Selama susah makannya bukan karena sedang sakit, biasanya kalimat seperti itu bisa memotivasi. Kemudian pelan-pelan Chi tingkatkan semangatnya. Chi saranin dia supaya jadi bossnya aja, biar punya banyak becak. Makin semangat deh dia. Pokoknya Chi berusaha menanggapi cita-cita anak dengan santai.

Cita-citanya terus berubah. Dia pernah bercita-cita ingin jadi pemadam kebakaran. Alasannya pengen madamin api neraka. Kasihan di neraka banyak mainan yang gosong, begitu katanya hahahaha!

[Silakan baca: Mau Madamin Api Neraka]

Pernah juga bercita-cita jadi polisi. Kalau menjadi pemadam kebakaran dan polisi itu karena dia senengnya main mobil-mobilan. Tiap kali beli mainan, pasti pilihnya die cast. Hampir gak pernah mau beli yang lain. Makanya cita-citanya pun gak jauh dari sesuatu yang ada mobilnya. Polisi dan pemadam 'kan punya mobil khusus.

Cita-cita yang sempat bertahan lama saat dia SD adalah menjadi Kopassus. Sampai Chi sempat agak yakin kalau kelak dia memang akan masuk TNI. Tetapi, secara perlahan cita-citanya ini memudar ketika mulai memakai kacamata.


Kapan Perlu Melakukan Tes Minat dan Bakat?


menggali potensi anak, mengetahui minat dan bakat anak sejak dini

Ada yang berpendapat tes ini penting. Ada juga yang enggak. Perlu atau tidaknya juga sudah Chi tulis di postingan sebelumya. 

[Silakan baca: Perlukah Tes Minat dan Bakat untuk Anak?]  

Chi berpendapat perlu atau enggaknya itu tergantung dari kondisi masing-masing keluarga. Secara pribadi, tes minat dan bakat memang membantu pertimbangan kami. Menjadi saling melengkapi dengan pengamatan kami.

Chi juga sependapat dengan beberapa artikel yang pernah dibaca kalau tes ini sebaiknya dilakukan saat anak memasuki usia remaja. Ketika anak mulai masuk SMA sudah dihadapkan dengan pilihan mau masuk jurusan IPA atau IPS. 

Mengetahui jenis minat dan bakat anak sejak dini mendingan dengan cara banyakin stimulasi, mengamati perilaku, makin pererat bonding, dan lain sebagainya. Nanti kalau udah remaja, baru deh ikut tes. Karena ketika sudah memasuki usia remaja, masih banyak juga anak maupun orang tua yang bingung minat dan bakat anaknya ke arah mana.

[Silakan baca: Bagaimana Mengetahui Potensi Anak?]

Saat Keke masuk SMA, kami merasa belum perlu melakukan tes ini. Dia udah mantap banget dengan pilihannya. Hanya ingin masuk IPS. Kalau dilihat dari catatan akademisnya sejak kecil memang dia lebih kuat di pelajar sosial daripada eksak.

Diskusi panjang serta mengamati perilakunya sehari-hari juga membuat Chi yakin kalau IPS memang cocok untuk Keke. Analisa kami didukung saat hasil tes keluar. Keke memang cocoknya di bidang IPS. Berbagai bidang IPA justru mendominasi urutan tengah ke bawah.

Dari yang Chi tulis di sini aja terlihat ketika masih kecil, Keke lumayan sering ganti cita-cita. Semakin besar, semakin mengerucut keinginannya. Semakin kompleks juga. Diskusi dan motivasi yang diberikan gak sesederhana seperti saat Keke masih ingin jadi tukang becak.



Lepas dari keinginan menjadi Koppasus, Keke pun bercita-cita menjadi pembalap motor profesional. Dia yang sejak kecil menyukai segala sesuatu tentang mobil. Begitu SMP hingga sekarang malah tertariknya dengan dunia motor.

Melihat minatnya dengan dunia balap motor, ayahnya memasukkan dia ke sekolah balap. Ya daripada nanti malah tersalurkannya di jalan yang salah. Malah ikut balap liar. Mending dimasukin ke sekolah balap yang tepat. Kemudian ikut balap motor yang resmi. Sampai sekarang, Keke masih menggeluti dunia balap motor. Meskipun cita-citanya sudah mulai berubah lagi. 

[Silakan baca: Ketika Keke Bercita-Cita Menjadi Pembalap Motor Profesional]

Ya begitulah lah. Cita-citanya masih terus berubah. Tetapi, semakin dewasa semakin mengerucut. Semakin bisa dilihat minat dan bakatnya mengarah ke mana. Diskusi dengan Keke pun masih terus berlanjut hingga sekarang. Tentu saja lebih kompleks. Tidak seperti ketika dia masih bercita-cita menjadi tukang becak.


Menentang Minat Anak Karena Ambisi Orang Tua?


jenis minat dan bakat anak, tes minat dan bakat di indonesia
Ketika masih SMP, Keke beberapa kali diminta jadi MC acara sekolah. Baik itu acara formal maupun santai. Pakai bahasa Indonesia atau bahasa Inggris


Beberapa tahun lalu, Chi pernah bertekad kalau suatu hari nanti punya anak, tidak akan pernah menentang cita-citanya. Pernah merasakan sendiri, waktu lulus SMA pengen banget sekolah photography atau fashion designer. Tetapi, orang tua tidak memberikan dukungan. Ya memang gak ditolak, tetapi juga gak bersikap mendukung. Akhirnya, Chi pun memilih masuk jurusan ekonomi aja.

Setelah Chi punya anak, apalagi sekarang Keke sudah SMA, prakteknya gak semudah itu untuk mendukung. Jadi merasa bersalah juga sempat menyalahkan orang tua dengan sikapnya waktu itu.

Minat dan bakat adalah 2 hal yang berbeda. Chi sudah menjelaskan perbedaan minat dan bakat di postingan sebelumnya. Memang idealnya hasil minat dan bakat itu sama. Tetapi, bila terjadi perbedaan, 2 hal ini sebaiknya saling mendukung.

Dari hasil tes, Keke tidak mengalami perbedaan. Teorinya memang seharusnya menjadi lebih mudah. Tetapi, justru ada perbedaan pendapat antara Keke dan orang tuanya. Ada beberapa hal yang bikin kami keberatan.

[Silakan baca: Hasil Tes Minat dan Bakat Keke]

Kalau dibilang karena ambisi orang tua kayaknya enggak juga, ya. kami gak pernah mengatur anak harus ambil jurusan tertentu. Memang ada berbagai macam diskusi tentang minat dan bakat, bahkan jauh sebelum ikut tes. Tetapi, ya sebatas diskusi.

[Silakan baca: Mencapai Cita-Cita]


Seni Musik

minat anak ditentang orang tua

Keke pernah bilang kalau lulus SMA pengen melanjutkan kuliah di jurusan seni musik. Sampai saat ini, kami masih keberatan dengan keinginannya. Off the record lah ya untuk alasannya. Tetapi, yang pasti bukan karena anti musik. Ada alasan lain, hanya kami yang tau, termasuk Keke.

mengetahui minat dan bakat anak sejak dini

Kami mendukung kalau anak-anak senang dan ingin beraktivitas di dunia musik. Keke pernah kursus drum sejak TK. Bahkan kami membuat ruangan khusus kedap suara karena dia privat drum di rumah. *Nanti diomelin tetangga kalau ruangannya gak kedap suara hehehe.*

Dia berhenti kursus drum karena kesibukannya di sekolah. Jam pelajarannya semakin sore. Belum lagi ada kegiatan di luar seperti renang dan taekwondo. Semakin membuatnya kesulitan mengatur jadwal kursus dengan guru privatnya.


jenis minat dan bakat anak

Masuk kelas 5, dia sedang gandrung sama beatbox. Minta izin dibolehin masuk sekolah beatbox. Tapi, kami masih keberatan dengan berbagai alasan. Akhirnya dia belajar sendiri lewat YouTube. Mengejutkan ketika dia perform saat acara perpisahan kelas 6. Soalnya dulu dia suka enggan kalau harus tampil di depan umum.

Saat SMP, dia mulai bikin grup band dengan sahabatnya. Hampir setiap hari sewa studio musik buat latihan. Meskipun sekarang sudah beda-beda sekolahnya, mereka masih suka berkumpul untuk latihan. 

Saat SMP, Keke tidak lagi main drum. Dia seringnya pegang bass. Ketika lulus SMP, Keke dibeliin gitar listrik sama ayahnya.

Jadi, kami memang tidak pernah menghalanginya bermusik. Dia mau kursus musik lagi pun, Insya Allah kalau ada rezekinya akan kami dukung. Mau tampil ngeband lagi juga silakan. Tetapi, kalau untuk kuliah di jurusan seni musik, hmmm ... belum keluar izinnya sampai sekarang.

Keke tau banget kenapa masih belum mengizinkan. Tentu melalui diskusi panjang. Lama kelamaan dia mulai menerima untuk tidak mengambil jurusan Seni Musik. Tetapi, begitu hasil Tes Minat dan Bakat keluar, keinginannya kembali mengeras. Diskusi panjang pun dibuka kembali.

"Tuhm 'kaaaan! Bener kata Keke juga. Ini hasil tesnya aja menunjukkan minat dan bakat Keke di musik. Udah lah kuliah di Seni Musik aja."


Sastra Indonesia

Beberapa kali kami juga harus banyak mencari tau. Ketika Keke meminta izin untuk dibolehkan kuliah di Sastra Indonesia, Chi merasa kaget. Alasan utama dia sebetulnya gak jauh-jauh dari musik. Di pelajaran Sastra Indonesia katanya ada Musikalisasi Puisi.

Tetapi, gak sebatas itu. Keke justru lebih dulu mencari banyak informasi tentang kuliah di jurusan Sastra. Dari diskusi itu pun Chi baru tau kalau Keke gemar menulis puisi. Ini berbanding terbalik banget dengan ketika dia masih SD. Sampai sempat minta pindah sekolah gara-gara wali kelas sering meminta murid-muridnya menulis. Eh, sekarang dia malah senang menulis puisi.

Karena Chi nge-blank banget dengan dunia sastra, sempat membuat status di FB. Alhamdulillah banyak sekali mendapat respons tentang kuliah di dunia sastra (terima kasih banyak, ya! 😘). Setelah banyak mendapatkan pendapat, Chi malah jadi tertarik dengan dunia sastra. Kami mengizinkan Keke bila kelak ingin pilih ke jurusan Sastra Indonesia.

Chi juga pernah tanya, kalaupun memang inginnya ke sastra, kenapa pilih Indonesia? Kenapa bukan Sastra Inggris, Jepang, atau negara mana aja selain Indonesia? Keke bersikeras kalau dia hanya tertarik dengan Sastra Indonesia. Dari sisi akademis, sejak dulu memang dia kuat di pelajaran bahasa. Terutama Bahasa Inggris, tetapi pelajaran Bahasa Indonesia juga termasuk bagus nilainya.

Apakah itu artinya sudah menjadi keputusan final?

Belum. Selama dia belum lulus SMA, keputusan masih bisa berubah. Ya begitu hasil tes keluar aja, dia sempat bersikeras ingin jurusan Seni Musik lagi.


FISIP

ambisi orang tua vs minat dan bakat anak

Ada satu lagi jurusan yang Chi masih harus cari informasi banyak, yaitu FISIP. Keke belum pernah bilang tertarik dengan jurusan ini. Tetapi, Chi coba menganalisa sendiri aja dari banyak diskusi dan perilaku sehari-hari.
Dia mulai kritis dengan berbagai isu yang terjadi di tanah air maupun media. Bagus, sih. Tetapi, Chi juga kerap mewanti-wanti dia bila beropini di media sosial. Kalau sama orang tuanya, silakan aja kalau dia mau berdiskusi panjang bahkan berbeda pendapat tentang berbagai isu. Pernah ikut demonstrasi juga 😅

Dengan kekritisannya ini, Chi kadang-kadang berpikir bagaimana kalau suatu saat Keke ingin serius kuliah di jurusan politik bahkan berkarir di bidang tersebut. Apalagi kalau dari hasil tes, FISIP ada di urutan tertinggi ke-3. Nah, ini yang bikin Chi masih galau.

Jangan lah kita sampai buta politik. Tetapi, kalau berkarir di bidang ini, Chi masih berat. Itulah kenapa Chi masih ingin cari tau lebih banyak tentang jurusan FISIP. Siapa tau pemikiran Chi selama ini kurang tepat. Masih butuh banyak informasi tentang FISIP, nih!


Ekonomi

Chi beberapa kali menyarankan dia mengambil jurusan ini saat kami berdiskusi. Tentu sama dengan lainnya. Chi mempertimbangkan berdasarkan banyak hal. Apalagi saat ini Keke sedang getol belajar saham.

Dia membaca berbagai buku tentang saham. Juga rutin ikut simulasi saham. Tetapi, Keke pun sampai sekarang masih bersikeras kalau dia hanya tertarik belajar saham. Dia gak tertarik kuliah di jurusan ekonomi.


Hukum

Dari beberapa jurusan yang pernah dilontarkan oleh Keke, jurusan Hukum menjadi pilihan yang paling bertahan sampai saat ini. Dia sudah mengutarakan ini sejak SMP.

Awalnya karena kagum dengan guru PKn. Menurut Keke, gurunya ini asik banget kalau lagi ngajar. Gak bikin bosan dan mudah dimengerti, Sejak itu deh dia bilang tertarik belajar hukum dan ingin masuk jurusan ini.

Chi pun sempat galau *kayaknya lama-lama dikeplak pembaca nih karena galau melulu hahaha*. Abisnya bayangan Chi tentang dunia hukum tuh serem. K'Aie malah mendukung banget kalau Keke kuliah di jurusan ini. Ditambah lagi, dari hasil tes, minat dan bakat Keke di bidang hukum berada di urutan pertama. Klop banget, deh!


Semoga Jangan Sampai Salah Pilih Jurusan


minat dan bakat anak ditentang orang tua

"Santai aja, lah. Dulu juga saya kuliah di jurusan teknik, eh malah kerjanya di bank."

Pernah gak mendengar kalimat seperti itu?

Chi sering hehehe. Ya, jalan hidup memang kita gak tau. Kuliah di jurusan apa, karirnya di bidang apa. Dan gak perlu juga semuanya disesali.

Tetapi, kalau bisa sih jangan salah pilih jurusan. Pengennya dari mulai sekolah, kuliah, hingga berkarir sudah sesuai dengan apa yang menjadi minatnya. Apalagi katanya 10 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Insya Allah, Keke dan Nai termasuk di usia produktif pada masa itu. Yup! Kami cukup serius memikirkan tentang ini.

Keke masih punya waktu untuk mempertimbangkan. Masih ada sekitar 2,5 tahun lagi. Hasil tes tersebut tentu aja jadi pertimbangan. Meskipun bisa jadi pilihannya nanti di luar yang disarankan.

Apapun pilihannya nanti, harapannya jangan sampai ada penyesalan. Menyesal karena salah memilih jurusan. Dengan pertimbangan yang matang, Insya Allah akan mendapatkan pilihan yang terbaik. Aamiin Allahumma Aamiin.

Continue Reading
110 comments
Share:

Sunday, December 8, 2019

Hasil Tes Minat dan Bakat Keke

Hasil Tes Minat dan Bakat Keke - Beberapa waktu lalu, orang tua murid angkatan Keke diminta hadir ke sekolah untuk menerima hasil tes minat dan bakat anak yang pernah diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan salah satu psikolog. Pastinya Chi pengen banget hadir. Rasanya penasaran dan deg-degan dengan hasilnya.

hasil tes dan minat bakat anak

Mundur sedikit ke waktu Keke akan melakukan tes minat dan bakat. Beberapa hari sebelum melakukan tes tersebut, Chi minta Keke untuk tetap jaga kesehatan. Pada hari H, Keke diminta untuk sarapan dengan benar. Chi pengen Keke serius melakukan tesnya. Supaya hasilnya mendekati akurat.

Acara diawali dengan pesan parenting dari guru BK. Menarik pemaparannya, tetapi Chi tulis di postingan terpisah aja, ya. Biar gak melebar ke mana-mana.

Setelah guru BK selesai memberikan pesan, giliran psikolognya yang berbicara. Awalnya sunyi senyap karena kami semua mendengarkan penjelasan. Baru ramai saat sesi tanya jawab. Apalagi saat sesi tersebut, hasilnya juga dibagikan.

[Silakan baca: Festival Literasi Sekolah 2019 - Cerdas Berliterasi Membangun Masa Depan Generasi Milenial]


Tujuan Tes Minat dan Bakat


Kepala sekolah sudah menegaskan kalau kesempatan untuk pindah jurusan dari IPA ke IPS atau sebaliknya sudah tertutup. Bahkan sudah ada pengumuman. Jadi, apapun hasil tes minat dan bakat yang diterima orang tua tidak bisa dijadikan rujukan supaya anak bisa pindah jurusan di SMA.

Bagaimana kalau ada anak IPA yang ternyata hasil tesnya justru cocoknya di bidang IPS atau sebaliknya?

Ya udah terima nasib aja. Ups! Enggak, ding hehehe. Ya tetep aja gak bisa pindah jurusan di SMA. Tetapi, bisa dijadikan acuan saat anak memilih jurusan saat kuliah. Mumpung masih punya waktu sekitar 3 tahun. Jadi masih cukup waktu untuk menganalisa dan mempertimbangkan.


Minat dan Bakat Gak Selalu Sama


Secara sederhana, minat itu artinya apa yang kita inginkan. Sedangkan bakat adalah suatu bawaan yang sudah ada sejak awal kehidupan.

Minat dan bakat idealnya memang klop. Tetapi, kalaupun berbeda, bukan berarti menjadi sesuatu yang terpisah. Keduanya seharusnya menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.

Seseorang yang mempunyai bakat di bidang A, belum tentu bisa berhasil di bidang tersebut kalau gak memiliki minat. Itu karena gak memiliki motivasi untuk mencapainya.

Sebaliknya, bila seseorang memiliki minat di bidang B, tetapi bisa berhasil meskipun tidak atau kurang berbakat. Dengan catatan, dia harus bekerja lebih keras dibanding orang lain yang memiliki bakat dan minat di bidang tersebut.


Menganalisa Hasil Tes Minat dan Bakat Keke


Laporan tes minat dan bakat yang diberikan ada beberapa lembar. Tetapi, intinya minat dan bakat Keke klop. Seperti yang Chi tulis di postingan sebelumnya, gak merasa kaget dengan hasilnya. Semua sesuai perkiraan Chi.

Di laporan tersebut ada 21 peminatan. Bidang IPA mendominasi urutan terbawah. Dan yang berada di posisi buncit adalah peternakan.

Sebaliknya, bidang IPS berada di atas. Berarti tepat banget nih kemauan Keke saat memilih jurusan SMA. Saat PPDB dia bersikeras memilih jurusan IPS. Sama sekali gak mau IPA karena alasan gak ada minat ke sana.

[Silakan baca: Bagaimana Mengetahui Potensi Anak?]

4 minat terbesar (ini dari urutan tertinggi) Keke berdasarkan laporan tersebut adalah


  1. Hukum
  2. Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
  3. FISIP
  4. Ekonomi

Dari tes tersebut, berdasarkan bakatnya, Keke disarankan untuk masuk jurusan

  1. Law and Social Sciences: International Law and Legal Studies, Criminology, International Relations
  2. Fine and Performing Arts: Music, Music Performance, Music Pedadogy
  3. Business and Management: Marketing, Business Administration and Management, International Business/Trade/Commerce

Yup! Semuanya sesuai dengan ekspektasi. Hasil diskusi panjang bersama Keke yang kami lakukan secara rutin.

Kalau minat dan bakatnya klop berarti jalannya lebih mudah dan didukung banget, dong?

Errrr ... Chi bahas nanti aja. Di postingan lainnya karena masih ada sedikit perbedaan pendapat antara Keke dan orang tuanya hehehe.


Pertanyaan dari Beberapa Orang Tua


Saat hasilnya dibagikan, banyak orang tua yang ingin bertanya. Gak semua mendapatkan kesempatan karena keterbatasan waktu. Chi coba rangkum beberapa, ya.

Anak saya IQnya selalu superior, tetapi kenapa gak pernah juara kelas?

Ini bukan Chi lho yang bertanya. Meskipun di postingan sebelumnya, Chi juga bahas tentang IQ Keke yang superior dan nilai akademisnya yang biasa aja hehehe.

Menurut psikolog, anak-anak yang selalu juara kelas bahkan ikut olimpiade akademis pun ada juga yang IQnya biasa aja. Kalau mereka sampai berprestasi itu berarti mereka berusaha beberapa kali lipat lebih keras dari anak yang IQnya lebih tinggi. Jadi, anak yang berprestasi gak semata-mata karena IQ tinggi. Ada faktor lain yang mempengaruhi.

[Silakan baca: Perlukah Tes Minat dan Bakat untuk Anak?]

Anak saya selalu bilang kalau dia ingin jadi pengacara. Tetapi, kok di sini malah disarankan untuk ke jurusan Seni A (Chi lupa nama jurusannya. Pokoknya berkaitan dengan dunia digital gitu, deh. Jurusan yang kekinian)? Hukum malah ada di urutan ke-8!

"Ibu yakin anaknya ingin menjadi pengacara? Ibu sudah tau alasannya?" tanya psikolog.

Menurutnya, minat anak yang ada di laporan tersebut tidak sekadar berdasarkan apa yang diinginkan anak. Tetapi, ada serangkaian tes yang dilakukan hingga didapat kesimpulan urutan minat masing-masing anak.

Lebih lanjut psikolog menjelaskan, bisa jadi ketika si anak bilang ingin menjadi pengacara hanya karena terpukau dengan kehidupan Hotman Paris yang serba wow.  Tetapi, setelah dilakukan serangkaian tes, baru ketahuan kalau ternyata anak tersebut sebetulnya gak memiliki minat sama sekali di bidang hukum.

Yang saya tau, anak saya selalu bilang ingin jadi psikolog. Tetapi, di laporannya, psikolog malah ada di urutan ke-6 berdasarkan minat. Masih mungkin gak ya dia tetap memilih psikolog?

Mungkin saja. Asalkan keinginannya untuk menjadi psikolog diperkuat lagi. Urutan ke-8 itu masih mungkin sekali untuk naik. Yang tidak mungkin atau sangat terjadi itu, minat yang berada di urutan terbawah, kemudian bisa naik ke atas.

Kalau untuk Keke kayaknya dia gak mungkin ambil bidang IPA. Anaknya IPS banget. Semua bidang IPA ada di urutan terbawah apalagi peternakan, bioteknologi, dan MIPA.

Minat dan bakat anak saya bertolak belakang banget. Tetapi, saya lebih setuju dengan minatnya. Kira-kira, dia bisa tetap bisa ambil jurusan yang sesuai minat gak meskipun gak ada bakat ke sana?

Tetap bisa. Dengan catatan anaknya mau berusaha lebih keras dibandingkan dengan anak yang memiliki bakat dan minat yang sama di bidang tersebut.

Bagi anak yang minat dan bakatnya berbeda akan ada catatan khusus di laporannya. Kelemahan apa saja yang harus dikejar bila anak memilih jurusan berdasarkan minat padahal bakatnya kurang mendukung.

Karena laporan minat dan bakat Keke sama, maka tidak ada catatan khusus di laporannya. Tetapi, apa ini akan mempermudah Keke? Nanti aja Chi ceritainnya, ya hehehe.

Continue Reading
63 comments
Share:

Saturday, December 7, 2019

Perlukah Tes Minat dan Bakat untuk Anak?

Perlukah melakukan tes minat dan bakat untuk anak? Jawabannya, perlu - gak perlu.

Sebelum membahas lebih lanjut, Chi perlu membuat semacam pernyataan dulu. Chi sendiri gak memiliki latar belakang keilmuan psikologi. Jadi apa yang tertulis di artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi. Seorang ibu yang selalu penasaran mencari minat dan bakat anak-anaknya. Mencari tau sendiri, serta ada bantuan profesional juga.

perlukah tes dan minat bakat untuk anak

Perlukah Tes Minat dan Bakat untuk Anak?


Tes Minat dan Bakat Diperlukan Bila ....


Keke dan Nai pernah beberapa kali ikut psikotest. Gak pernah disengajain alias kami datang ke psikolog untuk melakukan tes. Ikutnya selalu karena program sekolah. Ya, tentu aja sekolah bekerjasama dengan psikolog. Setiap kali melihat hasilnya, Chi gak pernah kaget. Selalu sesuai dengan dugaan.

Beberapa tahun lalu, salah seorang psikolog di acara parenting pernah bilang kalau orang tua sebaiknya tidak menggampangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog bila dirasa anaknya memiliki masalah atau hal lainnya yang berkaitan dengan anak. Sebaiknya orang tua mencari tahu sendiri dulu. Karena biar bagaimanapun orang tualah yang kuantitas ketemu dengan anaknya seharusnya lebih banyak daripada seorang psikolog.

Maka dari itu, Chi bikin kesimpulan kalau orang tua sebetulnya bisa mencari tahu sendiri. Cuma mungkin bedanya ada di waktu.

Butuh waktu bertahun-tahun dan banyak sekali trial and error supaya Chi tau karakter Keke dan Nai. Mengamati perilaku anak-anak setiap sat sejak mereka lahir. Hingga kemudian mulai berkesimpulan seperti apa gaya belajar mereka hingga mencari tau tentang minat dan bakat. Seringkali pula, apa yang Chi tau dituangkan ke dalam blog ini. Makanya tagline blog ini 'Catatan Keke Naima'.

Sedangkan, ketika psikotes, hanya butuh 1x tes saja sudah dapat kesimpulan. Ya memang itulah yang membedakan. Bagi Chi, meskipun hasilnya tidak mengejutkan, tetap aja selalu ikut kalau ada psikotes di sekolah. Supaya lebih mantap aja,

Jadi, kalau ada teman-teman yang merasa anaknya gak pernah ikut psikotes dengan berbagai alasan, jangan langsung berkecil hati. Terus saja mencari tau meskipun membutuhkan waktu yang (sangat) lama.

[Silakan baca: Bagaimana Mengetahui Potensi Anak?]

Lantas kapan psikotest untuk mengetahui minat dan bakat anak diperlukan?

Begini ... Kita 'kan gak pernah tau keadaan keluarga orang lain yang sebetulnya seperti apa. Bisa jadi ada beberapa halangan yang menyulitkan orang tua untuk mencari tau minat dan bakat anaknya. Bisa juga karena merasa masih belum yakin. Bila kondisinya seperti itu, coba saja berkonsultasi ke psikolog untuk melakukan tes minat dan bakat.

Kalau Chi pribadi, anak-anak ikut psikotest untuk mencocokkan apakah perkiraan Chi selama ini benar atau tidak. Kalau hasilnya gak cocok, bisa bikin evaluasi ulang. Alhamdulillah selama ini hasilnya selalu klop.

Beberapa artikel yang Chi baca menulis kalau tes minat dan bakat bisa dilakukan sejak dini. Tetapi, paling disarankan mulai dari SMA (usia 14-15 tahun). Di usia dini minat anak masih bisa berubah-ubah. Semakin besar, pemikiran anak semakin matang dan minatnya juga mulai ketahuan lebih condong ke mana.

Tetap Butuh Proses


tes minat dan bakat untuk anak

"Ke, ini hasil tes IQ juga udah keluar. Beberapa kali ikut tes IQ sejak SD sampai sekarang, hasilnya selalu sama. IQ mu di level superior. Tetapi, kenapa ya sekarang nilai akademis mu biasa aja?"

"Karena tingkat kemalasan Keke juga lagi ada di level superior, Bun. Hahahaha!"

Duh, ini bocah ngomongnya santai bangeeeet! Kalau dulu Chi sesantai itu, bisa seharian diomelin kayaknya wkwkwkw.

Hasil tes IQ terbaru yang kami dapat, tingkatan IQ hanya terbagi menjadi 4 kelompok besar. Tingkatan tertinggi ada di level superior. Tetapi, ada juga beberapa artikel tentang psikologi yang membuat tingkatan IQ lebih banyak lagi. Di level Keke itu saja bisa dibagi 3 yaitu superior, very superior, dan genius.

Adakah hubungan tes minat dan bakat dengan tes IQ?

Ada.

Bila orang tua memilih psikotest untuk mengetahui minat dan bakat anak, tetap aja butuh proses dalam mendidik. Hasil yang didapat bukanlah sesuatu yang mutlak. Mau dipakai atau enggak, akan ada konsekuensinya. Kalaupun hasil tersebut akan dipakai sebagai acuan, gak otomatis anak akan berhasil di bidang yang direkomendasikan tersebut.

Misalnya ketikaanak dianggap memiliki minat di bidang seni musik. 'Kan gak tiba-tiba anak tersebut mendadak bisa berhasil di bidang ini. Orang tua tetap harus membimbing agar anak bisa berhasil di bidang yang tepat untuknya.

IQ memang bukan menjadi satu-satunya penentu keberhasilan seorang anak. Ada lagi yang namanya EQ dan SQ. Itulah kenapa Chi tanya ke Keke tentang nilai akademisnya yang semakin ke sini cenderung biasa aja.

Dari jawabannya, Keke juga sebetulnya udah tau permasalahannya. Dia lagi senang main dan ketekunannya mulai berkurang. Memang akhirnya menjadi PR kami bersama untuk menyelesaikan tantangan ini.

Minat dan bakat gak selalu klop. Bagaimana menyikapinya bila hasilnya berbeda? Seperti apa hasil tes dan minat bakat Keke? Chi ceritakan di postingan berikutnya, ya.

[Silakan baca: Belajar Menjadi Pembalap Motor di 43 Racing School]

Continue Reading
72 comments
Share: