Wednesday, November 25, 2020

Perbedaan Chopper dan Blender

Perbedaan Chopper dan Blender - Sejak pandemi, di mana Keke dan Nai masih terus di rumah, Chi jadi semakin rajin bikin camilan sore. Nah, perkara bikin camilan juga suka bikin pusing. Pengennya kan variasi.  Gak bakwan goreng melulu. Makanya kadang-kadang bikin roti, cookies, gyoza, dan lain sebagainya.

perbedaan chopper dan blender
Suka dengan gyoya yang teksturnya seperti ini. Melalui 2 proses berbarengan yaitu kukus dan goreng. Crispy di bagian dasar dan lembut di atasnya.

 

Seringnya memang bikin sendiri. Memang jadi agak ribet, tetapi kan lebih irit hehehe. Selain itu lebih puas juga dari segi rasa maupun jumlahnya.

Tetapi, mau sebanyak apapun bikin camilan, ludesnya cepet banget, deh. Secepat kilat habisnya. Gak sebanding sama waktu bikinnya hahaha. Tetap senang sih karena itu artinya anak-anak suka.

Salah satu makanan yang capek bikinnya adalah gyoza dan dimsum. Paling malas menghaluskan daging ayam dan udangnya. Awal-awal bikin, Chi selalu mencincang dengan menggunakan 2 pisau. Tentu setelah dipotong kecil-kecil dulu. Hadeuuuh! Lama ajah dan bikin pegel tangan.

Kalau lagi telaten ya bakal terus dikerjakan sampai benar-benar halus. Tetapi, kalau lagi malas, jadinya masih suka ada potongan kasarnya. Meskipun rasanya enak, tetapi berasa ada yang kurang aja kalau kalau masih ada tekstur yang kasar.

Kemudian, Chi coba pakai chopper. Hasilnya jelas lebih halus. Tetapi, chopper yang Chi punya ukurannya imut-imut. Tetap jadi agak lama proses menghaluskannya karena harus masukin dagingnya sedikit-sedikit. 
 
Memang gak selama kalau dihaluskan manual menggunakan pisau. Mengurangi rasa pegal di tangan juga. Tetapi, tetap aja berasa lama kalau lagi kurang sabar.

"Emang bedanya chopper ma blender itu apa?"

Begitu reaksi K'Aie ketika Chi minta dibeliin chopper. Wah! Harus dijelasin detil dulu nih supaya permintaan memiliki chopper disetujui.


Kenali Perbedaan Chopper dan Blender


Chopper dan blender memang sama-sama berfungsi menghaluskan. Makanya terkesan gak ada bedanya. Padahal sebetulnya ada perbedaan.

Dari beberapa arikel yang Chi baca, perbedaan pertama adalah dari segi ukuran. Katanya, blender biasanya ukurannya lebih besar. Tetapi, sekarang ini Chi lihat sudah banyak chopper yang dijual lebih besar. Bisa untuk mengolah bahan makanan dalam jumlah besar sekaligus.

Mata pisau chopper lebih besar daripada blender. Makanya mampu menghaluskan berbagai bahan tanpa menggunakan air. 
 
Kalau untuk bikin bumbu halus dan sedang malas mengulek, Chi selalu menggunakan chopper. Kalau pakai blender, rasa masakannya jadi agak aneh. Mungkin karena bumbunya sudah tercampur dengan air.

Menurut Chi, chopper lebih fungsional karena bisa menghaluskan berbagai bahan makanan. Termasuk bahan yang kering. Di rumah juga lebih sering chopper yang dipakai. Tetapi, ukurannya yang imut bikin gemes banget. Karena jadi harus beberapa kali proses.


IDEALIFE - Electric Chopper Blender (IL-219s)


idealife chopper il-219s
 
Setelah permintaan membeli chopper disetuju, mulai deh pencarian produk yang cocok. Chi tertarik banget dengan Chopper 219s

Kalau baca spesifikasinya, ukurannya cukup besar yaitu 700 ml dan 1,5 liter. Daya listriknya pun hanya 100-300 watt.

Mata pisau stainless steel-nya mampu menghaluskan daging, sayuran, dan lain sebagainya dalam waktu singkat. Tinggal tekan tombol ON selama maksimal 5 detik. Cara menggunakannya memang harus ON-OFF (tekan dan lepaskan) hingga tingkat kehalusan yang diinginkan.

Kalau lihat di situs IDEALIFE kelihatannya lagi turun harga nih chopper IL-219s. Dari harga Rp750.000,00 menjadi Rp564.407,00. Lumayan lah turunnya hampir Rp200 ribu.

Chi juga udah lihat video unboxing hingga cara penggunaannya di IG @idealifeonline. Jadi semakin tertarik punya chopper IDEALIFE IL-219s ini. Multifungsi banget, deh!

Kayaknya kalau udah punya ini bakal lebih sering bikin gyoza dan dimsum. Malah Chi udah lama banget pengen bikin siomay. Tetapi, ditunda melulu karena malas menghaluskan dagingnya. Kalau udah punya chopper mah ayo aja, lah. Semakin semangat bikin camilan dan makanan lainnya.

Continue Reading
34 comments
Share:

Tuesday, November 24, 2020

Pentingnya Sarapan dengan KOKO KRUNCH Nutrismarta Agar Anak Fokus Belajar

 
Setiap pagi, Chi menghampiri kamar Keke dan Nai untuk menanyakan tentang sarapan. Kemudian berlanjut dengan pertanyaan, "sarapan apa?"

pentingnya sarapan bagi anak dengan koko krunch

Sudah bertahun-tahun, Chi gak menyiapkan sarapan bagi keluarga. Sebelum pandemi, Chi hanya menyiapkan bekal yang akan Keke dan Nai bawa ke sekolah. Alasan gak pernah bikin sarapan adalah karena kemandirian. Paling Chi siapkan bahan-bahannya. Nanti mereka bebas mau sarapan apapun berdasarkan bahan yang ada. 

Gak sulit meminta mereka terbiasa sarapan. Apalagi untuk Keke. Kalau dia gak sarapan, biasanya pulang sekolah suka agak demam badannya. Katanya selama di sekolah gak semangat. Mau makan bekal juga gak nafsu. Akhirnya demam ringan. 
 
Dan, itu selalu terjadi. Makanya, dia udah gak berani skip sarapan. Udah kesadaran sendiri, deh. Nai meskipun tidak seperti kakaknya juga tetap wajib sarapan. 

 

Sarapan Membantu Anak Selama Belajar di Rumah

 
zat gizi yang dibutuhkan bagi otak
 
Sudah berbulan-bulan, anak-anak menjalani kegiatan belajar dari rumah. Apakah itu artinya mereka tetap rutin sarapan?
 
Pastinya. Sarapan secara teratur dan tepat itu wajib. Termasuk ketika masa pandemi ini di mana semua siswa sedang menjalani Pembelajaran Jarak Jauh.
 
Kamis (19/11) melalui Zoom, Chi mengikuti virtual press conference peluncuran Nestlé KOKO KRUNCH Nutrismarta. Nestlé memiliki komitmen untuk membantu 50 juta anak menjalani hidup sehat.
 
Business Executive Officer Nestlé Breakfast Cereals Indonesia, Alaa Shaaban, mengatakan bahwa, “KOKO KRUNCH Nutrismarta adalah salah satu wujud nyata komitmen Nestlé untuk membantu anak-anak di Indonesia menjalani kebiasaan hidup yang lebih sehat. KOKO KRUNCH Nutrismarta mengandung gandum utuh, kombinasi vitamin B dan zat besi untuk membantu orang tua dalam menyediakan sarapan yang membantu memenuhi kebutuhan gizi seimbang anak. Di samping itu, kami juga ingin mengajak anak-anak Indonesia menjalankan gaya hidup sehat dan aktif dengan menghadirkan KOKO Dance. Gerakan dance yang dipandu KOKO Koala bisa dilakukan di sela-sela waktu istirahat agar anak-anak tetap gembira dan semangat menjalani kegiatan belajar.”
 
5-6 hari dalam seminggu, rata-rata siswa akan beraktivitas belajar daring selama 5-7 jam. Menurut Ahli gizi Dr.Rita Ramayulis DCN, M.Kes, belajar di kelas virtual justru akan lebih membebani otak anak dibandingkan ketika sekolah. Penyebabnya adalah sebagai berikut 
 
  1. Anak harus lebih fokus untuk lebih menangkap pesan suara dari guru dan temannya
  2. Anak membutuhkan tenaga lebih besar untuk memahami bahasa non-verbal guru dan temannya
  3. Anak selalu merasa diawasi oleh guru dan seluruh temannya melalui kamera yang harus selalu on
  4. Anak tidak dapat membedakan waktu sekolah dan bermain karena diadakan di satu tempat
 
Chi pernah bercerita di blog ini kalau Keke lebih suka belajar di coffee shop atau perpustakaan dengan alasan bisa lebih fokus. Kalau di rumah katanya suka tergoda untuk tidur, main game, atau menonton tv. Ternyata, apa yang dia sampaikan beralasan, ya. Kalau mendengarkan poin yang disampaikan bu Rita, penyebab PJJ menjadi berat adalah karena area belajar dan bermain ada di tempat yang sama.

 

Sarapan Jangan Sekadar Kenyang

 
 karbohidrat sebagai sumber glukosa
 
“Tidak mudah bagi saya untuk membagi waktu antara melakukan work from home sekaligus menemani tiga anak belajar dari rumah. Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh selama pandemi cukup menyita energi dan konsentrasi anak-anak, sehingga saya merasa perlu untuk mempersiapkan asupan zat gizi yang seimbang terutama saat sarapan untuk mengawali hari dengan semangat. Namun, saya tidak khawatir karena dengan KOKO KRUNCH saya dapat menyiapkan sarapan secara praktis dengan rasa lezat yang disukai anak-anak,” ujar Donna Agnesia.
 
Hampir semua orang tua, terutama ibu, mengalami keriweuhan yang sama seperti yang Donna Agnesia alami, kan? Apalagi di saat belajar dari rumah, anak seperti tidak dikejar dengan waktu. Tidak harus terburu-buru sarapan supaya gak terlambat masuk sekolah. Bahkan ada yang sarapan sambil belajar daring.

Penggunaan gadget yang berlebihan memang bisa berdampak terhadap pola makan yang tidak teratur dan tidak sehat. Oleh karenanya sangat penting bagi orang tua untuk memastikan menu sarapan yang sehat dan bergizi. Jadi tidak sekadar kenyang. Agar anak bisa tetap fokus selama mengikuti kegiatan belajar daring.

Ketika tidur di malam hari, hormon pertumbuhan akan bekerja untuk proses tumbuh kembang anak serta meregenerasi berbagai sel. Itulah penyebab anak tetap mengeluarkan energi saat sedang tidur. Akibatnya terjadi penurunan glukosa karena setelah 5 jam tidak ada asupan makanan yang masuk.
 
Itulah kenapa sarapan menjadi sangat penting. Anak yang tidak sarapan biasanya tidak memiliki energi yang cukup untuk mendukung proses belajar. Selain itu, juga bisa mempengaruhi indeks masa tubuh. Melewati sarapan dianggap lebih berisiko menimbulkan kegemukan daripada makan malam menjelang tidur. 
 
Terjawab deh ya kenapa Keke kalau melewatkan sarapan selalu lemas dan gak fokus belajar. Saat tidur, energinya juga keluar. Kadar glukosa yang turun saat dia tidur harus segera digantikan. Karena glukosa adalah sumber energi untuk otak.
 
Tetapi, jangan pula berhenti di sarapan. Pola makan yang baik dan teratur harus sepanjang hari. Fungsi tubuh yang baik akan membangun psikis dan mental yang baik. Anak-anak bisa fokus saat belajar di rumah serta tetap bahagia.
 
jadwal dan porsi makan anak dalam sehari
 
Dalam sehari, jadwal makan yang disarankan adalah 3x makan utama dan 3x selingan. Komposisi porsinya adalah sarapan (20%), selingan pagi (10%), makan siang (30%), selingan sore(10%), makan malam (25%), dan selingan malam (5%).


KOKO Dulu Baru Sekolah

 
koko krunch nutrismarta

“Salah satu sumber gizi yang penting adalah serealia utuh, karena serealia utuh masih memiliki keseluruhan tiga lapisan (kulit, endosperma, dan inti)  yang mengandung lebih banyak serat, vitamin B, karbohidrat dan protein. Vitamin B dan zat besi juga berperan penting dalam membantu mengoptimalkan fungsi organ dan jaringan tubuh anak, karenanya sangat dianjurkan untuk diberikan dalam menu makanan dan minuman sehari-hari pada anak. Kombinasi vitamin B (B2, B3, B6, B9) membantu proses metabolisme energi sedangkan zat besi merupakan komponen hemoglobin yang membawa oksigen dan zat gizi ke seluruh tubuh termasuk otak," ujar Dr.Rita Ramayulis DCN, M.Kes
 
Donna Agnesia mengatakan kalau menu sarapan yang paling praktis dan disukai oleh anak-anaknya adalah KOKO KRUNCH. Tentu ini pilihan yang tepat. Karena seperti yang dijelaskan oleh Liena Desbi, Brand Manager Nestlé Breakfast Cereal Kids, KOKO KRUNCH tidak hanya praktis dan enak, tetapi sudah lengkap kandungan gizinya.

manfaat gandum utuh
 
KOKO Krunch Nutrismarta mengandung gandum utuh, tinggi zat besi, dan tinggi vitamin B. Komposisi gizi ini cukup untuk mendukung anak tetap semangat mengawali aktivitas di pagi hari. Belajar dari rumah pun menjadi lebih fokus.

Jadi. KOKO dulu baru sekolah, ya!

Continue Reading
42 comments
Share:

Sunday, November 22, 2020

Tantangan Memiliki Anak Remaja

Tantangan Memiliki Anak Remaja - "Mbak Myra mah enak, anak-anaknya udah pada gede. Udah gak repot kayak saya yang ke mana-mana masih diikutin anak."
 
mendidik anak remaja pusing gak sih
 
Lumayan banyak juga yang bilang kalau hidup Chi sekarang enak karena anak-anak udah pada gede. Malah ada juga yang menyarankan untuk punya anak lagi. Alasannya kami dianggap masih muda. Masih sanggup lah direpotin ma bayi atau anak kecil lagi.
 
Bersyukur dulu deh kalau memang dibilang hidupnya enak. Berarti terlihat bahagia hehehe. Setelah itu, kadang-kadang Chi menjelaskan panjang lebar. Kalau lagi agak malas, menjawab singkat aja. Tetapi, sering juga cuma nyengir 😄.

 

Punya Anak Remaja Itu Asik dan Seru

 
Beberapa waktu lalu, Chi diajak KEB untuk ikut #KEBNgobrol live IG. Temanya adalah "Mendidik Anak Remaja Pusing Ngga Sih?" Mak Efi Fitriyah yang menjadi host pada malam itu menanyakan tentang mengatur waktu antara mengurus keluarga dan hobi.
 
Chi jawab kalau saat ini justru lebih fleksibel mengatur waktu. Berbeda dengan ketika Keke dan Nai masih kecil. Di mana pusat dunia mereka adalah bundanya. Kemana bunda pergi selalu diikutin, termasuk ke wc. Para ibu yang punya anak kecil biasanya merasakan hal sama, deh hehehe.
 
Tidak hanya itu. Ketika mereka remaja, banyak hal yang sudah bisa dilakukan sendiri. Chi gak perlu lagi nyuapin, mandiin, bahkan menemani mereka bermain. Jadi Chi pun punya waktu me time yang lebih banyak selain mengatur waktu lebih fleksibel.

Ngobrol dengan anak remaja juga udah dengan banyak topik. Bisa lebih seru obrolannya. Kadang-kadang kami satu frekwensi. Tetapi, kadang-kadang juga bisa berdebat.

Ketika Keke dan Nai mulai remaja, Chi juga sering jalan-jalan berdua ma K'Aie. Awalnya agak baper karena merasa ada yang hilang kalau jalan tanpa anak. Tetapi, lama-lama asik juga. Berasa jadi pacaran lagi hehehe.

Tuh! Memang asik kan punya anak remaja. Makanya mungkin itulah kenapa suka banyak yang bilang kalau hidup Chi sekarang udah enak. Karena anak-anak udah pada remaja. Sehingga bundanya terlihat santai dan gak rempong lagi.

Padahal yaaaa ... Di masa remaja inilah justru Chi merasakan jumpalitannya sebagai orang tua 😂.


Pola Asuh Anak Remaja itu Berat!


Chi menulis ini bukan bermaksud untuk mengeluh, ya. Tetapi, sebagai catatan bagi diri sendiri, kalau memiliki anak remaja itu tidak sekadar asik. Juga penuh tantangan. 

Remaja itu fase di mana sedang mencari jati diri. Di satu sisi, mereka merasa sudah bukan anak kecil lagi. Kadang-kadang jadi suka sulit diberi nasehat. Merasa dirinya paling tau dan paling benar. Padahal, di sisi lain, mereka masih perlu banyak sekali arahan.

Apalagi, sekarang pengaruh bisa dari mana-mana. Beda ma zaman Chi dulu. Sekarang buka internet aja bisa dapat ribuan bahkan jutaan sumber yang bisa mempengaruhi pikiran dan perilaku kita. Itu baru dari internet, belum dari tv, teman, dan lain sebagainya. Kebayang kan seperti apa efeknya kalau diri sendiri gak mampu memfilter pengaruh sebanyak ini?

Berbagai permasalahan kerap timbul ketika mereka mulai puber. Bahkan banyak yang mengatakan kalau usia remaja rentan mengalami depresi. Bisa menjadi tantang yang berat bagi orang tua yang memiliki anak remaja. 
 
[Silakan baca: Masa Puber Bikin Baper]


Masalah yang Sering Dialami Remaja


“Fase perkembangan anak memang punya tantangan masing-masing. Tidak bisa dikatakan kalau anak pada masa balita lebih mudah diurus dibandingkan anak-anak yang masuk pada usia pra-remaja. Hanya saja, memang menghadapi anak-anak yang mulai masuk pada usia pra-remaja ini lebih banyak tantangannya, karena mereka sudah memiliki keinginan sendiri. Berbeda dengan anak balita, yang memang mudah mengikuti keinginan orangtuanya." ujar Vera Itabiliana K. Hardiwidjojo, Psi.

Sumber: Bagaimana Menghadapi Problem Pra-Remaja

 
Yup! Setiap fase memang memiliki tantangan masing-masing. Nah, sekarang apa aja sih masalah yang kerap dialami remaja?

 

Remaja Mulai Memperhatikan Penampilan

Sejak masa pra-remaja biasanya mulai suka memperhatikan penampilan. Secuek apapun karakternya. Perubahan secara fisik anak yang mulai puber bisa menjadi salah satu pemicunya.  
 
Keke pernah kebingungan ketika pertama kali mimpi basah. Nai pun sempat gak mengerti bagaimana caranya menggunakan pembalut waktu pertama kali haid. Perubahan-perubahan seperti ini juga bisa mempengaruhi penampilan mereka. Mulai membandingkan fisik diri sendiri dengan idola atau teman sebaya. 
 
Untuk beberapa anak, juga bisa bikin insecure. Apalagi kalau kemudian si anak dibully. Pada melakukan body shaming.


Keke dan Nai mulai milih-milih skincare apa yang tepat untuk kulit mereka. Pokoknya urusan penampilan mereka udah punya selera sendiri. Mulai ada rasa gak percaya diri kalau penampilan gak sesuai yang mereka inginkan. 
 
[Silakan baca: Nai dan Haid Pertama]


Bullying

Masalah bullying dan senioritas juga biasanya mulai dialami saat fase pra-remaja. Chi pernah membaca obrolan Keke dengan beberapa temannya saat baru masuk SMP tentang susahnya berbaur. Masalahnya karena mereka berasal dari sekolah swasta. Udah langsung ada cap 'anak borju'. 

Padahal mereka sebetulnya ingin sekali bisa bergaul dengan banyak orang. Tetapi, stigma itu kerap menghalangi. Butuh proses panjang hingga akhirnya bisa berbaur. 
 
Selalu ada alasan bagi seseorang untuk melakukan bullying. Bullying dan dibully sebetulnya sama-sama korban. Anak yang suka menindas orang lain bisa jadi karena terpengaruh dan lama-lama jadi kebiasaan. 


Mulai Merasakan Jatuh Cinta

Chi pernah bilang ke anak-anak kalau bisa jangan pacaran dulu. Tetapi, kita gak bisa melarang orang untuk jatuh cinta, kan? Yang bisa dibatasi adalah menjaga dan mengelola hawa nafsu.

Bagi orang tua, rasa cinta anak remaja mungkin dianggap cinta monyet. Tetapi, dalam sudut pandang mereka bisa jadi sesuatu yang serius. Mereka akan bisa merasakan bahagia ataupun patah hati.Sama halnya seperti orang dewasa yang sedang jatuh cinta.
 
Bila pergaulannya kurang tepat, mereka juga bisa ikut arus pergaulan bebas dengan alasan cinta. Duh! Ngeri banget 'kan kalau begini.

 

Beban Pendidikan yang Berat

Pelajaran zaman sekarang menurut Chi jauh lebih sulit daripada dulu. Di saat pandemi ini, banyak orang tua yang mengeluh karena kesulitan harus mengajarkan anak-anaknya. Makanya, lebih merasa nyaman saat anak-anak bersekolah daripada harus PJJ. Karena tugas mengajar menjadi tugas guru di sekolah atau bimbingan belajar.
 
Tetapi, bagi anak-anak, mau itu sekolah tatap muka ataupun belajar dari rumah, mereka tetap harus belajar. Siapun pengajarnya dan seperti apa suasana. Kewajiban mereka ya belajar.
 
Merekalah yang hampir setiap hari menghadapi pelajaran semakin sulit. Ditambah lagi dengan faktor lain dari pendidikan, misalnya suasana dan pengajarnya. Dan, semakin tinggi tingkat pendidikan, bisa jadi semakin sulit bobot pelajarannya. 
 

 

Tekanan Pertemanan

Salah satu kekhawatiran Chi ketika anak-anak masuk SMP adalah bila dianggap tidak punya solidaritas terhadap pertemanan bila menolak suatu ajakan. Misalnya, ketika diajak untuk tawuran. Bisa jadi si anak tau kalau tawuran itu salah. Tetapi, karena khawatir dianggap gak solider, dimusuhin teman, atau bahkan dibully jadinya terpaksa untuk ikutan. Padahal kebutuhan untuk bersosialisasi bagi generasi Z sedang tinggi-tingginya.

Tidak hanya permasalah tawuran aja, lho. Narkoba, pergaulan bebas, dan lain-lain mulai menjadi cobaan di saat anak-anak mulai remaja. Kadang-kadang permasalahan di kalangan remaja ini awalnya datang dari tekanan pertemanan.


Tips Menghadapi Remaja dan Permasalahannya


tips menghadapi anak remaja dan permasalahannya
 
Di atas adalah beberapa problematika yang bisa terjadi di dunia remaja. Itulah kenapa Chi bilang menghadapi anak remaja itu jungkir balik. Tetapi, usahakan jangan sampai parno juga. Tetap bisa kok kita sebagai orang tua menghadapi remaja


Bonding dengan Anak

Beberapa bulan lalu di FB, Chi pernah nyetatus tentang pentingnya menjaga bonding dengan anak. Status itu berangkat dari berbagai video orang tua yang memarahi anak di saat PJJ. 

Chi paham kok kalau kondisi saat ini sulit bagi semua. Termasuk bagi orang tua yang mendadak menjadi guru bagi anak-anak. Tetapi, usahakan jangan terus menerus melampiaskan kemarahan ke anak-anak. Apalagi sampai menyakiti fisik. 
 
Keke dan Nai juga masih full PJJ sama seperti siswa lainnya. Tetapi, Chi gak mau terlalu menekan. Mendingan ekspektasi pencapaian akademis sedikit diturunkan. Setidaknya mereka tetap tekun udah bagus.

Bonding itu harganya mahal. Bonding juga gak bisa tercipta secara instan. Anak bisa merasa enggan dekat dengan orang tua kalau merasa dimarahin melulu. Bila bonding sudah longgar, untuk mempererat kembali butuh proses panjang yang mungkin saja gak mudah. Itulah kenapa Chi katakan mahal.

Chi pernah tanya ke Keke, alasan sampai usia menjelang 17 tahun ini dia masih mau terbuka dan bebas cerita ke orang tua. "Karena udah terbiasa." Memang sesederhana itu jawaban Keke. Tetapi, kalau anak merasa gak punya kedekatan batin dengan orang tua, sepertinya juga tidak akan mudah bisa terbuka. Malah mungkin akan banyak ditutupi.

Bahayanya adalah kalau orang tua merasa anaknya baik-baik aja. Padahal sebetulnya orang tua gak tau apa yang anaknya lakukan di luaran. Itu karena anaknya gak mau cerita. Lebih memilih sering berbohong karena takut dimarahi. 
 


Banyak Mendengarkan Cerita Anak

Seperti yang Chi tulis di awal, usia remaja itu salah satu fase di mana anak merasa serba paling tau. Egonya lagi tinggi-tingginya. Mereka pun mulai belajar melawan.

Arti melawan di sini, gak selalu dengan cara langsung. Misanya membentak orang tua. Tetapi, bisa juga melakukan perlawanan secara diam-diam. Di depan orang tua kayak yang menurut. Padahal di luar bersikap sebaliknya.

Belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Kadang-kadang mereka tuh sebetulnya hanya ingin didengar. Ketika ditanya solusinya, mereka udah tau apa yang harus dilakukan. Dengan merasa orang tua mau mendengarkan, itu udah jadi salah satu kebahagiaan buat anak.
 
Jangan hanya mendengarkan ketika mereka punya masalah aja. Dengarkan juga keseruan cerita lainnya. Siapa yang sedang mereka idolakan, trend apa yang lagi hits saat remaja, dll. 
 
Ya gak perlu juga ikut-ikutan satu selera. Misalnya Keke dan Nai sekarang lagi gandrung dengan drakor. Chi gak pernah tuh nyinyir sama selera mereka meskipun sampai saat ini belum bisa menikmati drakor apapun.
 
Tetapi, baik kami selalu mendengarkan kalau mereka cerita. Bahkan sesekali ikut menonton juga. Setidaknya kami tau lah mereka sedang mengidolakan siapa atau apa.


Jangan Menyepelekan Masalah Remaja

Kurang-kurangin deh ngomong, "gitu aja dipikirin." Bagi orang tua permasalahan mereka mungkin kelihatan sepele. Tetapi, belum tentu bila dipandang dari sudut remaja.

Permasalahan yang semakin kompleks di masa remaja saat ini juga bikin mereka mudah depresi. Makanya kalau Keke dan Nai lagi curhat, seringkali Chi membayangkan menjadi diri sendiri ketika masih remaja. 
 
Lebih suka diperlakukan seperti apa? Dan, biasanya usia remaja tuh gak suka disepelekan. Mereka malah jadinya kesel dan menutup diri. 
 


Menjadi Teman yang Berwibawa

Kenapa sih remaja lebih suka curhat ke teman daripada orang tua? Karena biasanya teman tidak menghakimi, kasih solusi yang asik, dan tidak menggurui.
 
Makanya di usia ini anak mulai belajar untuk memilih-milih. Siapa sosok yang mau mereka dengar/ikuti dan tidak. Ya bagus kalau mereka dikelilingi oleh lingkungan yang baik. Insya Allah perilaku anak masih bisa tetap terjaga kalau berada di lingkungan yang baik meskipun kurang merasa dekat dengan orang tua.

Sederhananya, nih, kalau anak masih kecil dimarahin orang tua paling nangis dan ngamuk. Tetapi, tetap aja pusat dunia anak kecil adalah orang tuanya. 
 
Nah, ketika mereka mulai merasa besar, perlawanannya belum tentu menangis dan mengamuk. Bisa jadi mulai kabur-kaburan atau melakukan pelarian lainnya. Naudzubillahi mindzalik.

Makanya, Chi dan K'Aie berusaha membangun komunikasi terbuka sejak mereka kecil. Bukan bermaksud untuk mengontrol. Apalagi bersikap otoriter. Tetapi, supaya tetap bisa mengenali karakter dan dekat dengan anak.
 
Meskipun demikian, jangan sampai kehilangan wibawa kami sebagai orang tua. Berusaha menjadi orang tua yang asik supaya bisa menjadi teman bagi anak. Tetapi, mereka juga harus menghormati kami sebagai orang tua. Jadi, ketika suatu saat kami harus tegas, mereka akan tetap menurut dan hormat.

 

Beri Kepercayaan dan Tanggung Jawab Kepada Anak

Chi suka bilang ke Keke dan Nai, harap maklum kalau ayah dan bundanya saat ini masih terdengar cerewet. Terus mengulang-ulang pesan yang sama. Tentu sambil diberikan penjelasan.
 
Menurut kami, hingga anak-anak SMA adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk memberikan bekal dan mengajarkan tanggung jawab kepada anak. Hingga mereka SMA, kegiatan masih terukur. Paling pagi hingga siang atau menjelang sore berada di sekolah. Setelah itu mereka pulang. Kalaupun terlambat biasanya karena kerja kelompok atau mau main sebentar.
 
Berbeda dengan nanti kalau sudah kuliah. Mereka akan semakin sibuk dengan aktivitas. Dan belum tentu bisa sama terukurnya seperti saat masih sekolah. Tentu orang tua butuh menaruh rasa percaya kepada anak. Yakin kalau mereka tetap berada di jalur yang benar. Serta anak sudah memiliki benteng yang kuat sehingga tidak mudah terbawa arus.

Memberikan kepercayaan kepada anak ada proses tahapannya. Ketika baru lahir, anak akan terus diawasi dan didampingi selama 24 jam. Secara perlahan, orang tua gak mungkin terus-terusan mendampingi dan mengawasi.

Pelan-pelan harus mulai dikasih kepercayaan. Tetapi, tentunya juga dibekali dengan benteng yang kuat. Jadi, ketika mereka sedang tidak bersama orang tua, tetap bisa menjaga diri karena benteng pertahanan sudah kokoh.

Meskipun demikian, anak-anak tetaplah manusia yang bisa saja khilaf. Sebagai orang tua, tentu gak pernah sedikitpun menginginkan sesuatu yang gak baik terjadi pada anak. Tetapi, bagaimana bila kemudian terjadi masalah?

Kami selalu berpesan ke Keke dan Nai, apapun masalahnya orang tua akan berusaha mendengarkan. Tetapi, bukan berarti setiap permasalahan, orang tua yang harus membereskan. Mereka juga harus belajar bertanggung jawab. Gak bisa sedikit-sedikit orang tua ikut campur untuk semua masalah.

Gak hanya tentang masalah, sih. Termasuk juga tentang pilihan. Ajarkan mereka untuk bertanggungjawab dengan segala konsekuensi yang dipilih. Orang tua paling mengarahkan, tetapi keputusan tetap ada di tangan anak-anak. Kecuali, untuk beberapa hal yang prinsipil dan gak bisa dikompromikan. Tetap ada beberapa hal di mana mereka harus menurut apa kata orang tua. 
 
Begitupun dengan peraturan. Mereka harus mulai belajar paham aturan, bukan sekadar mengikuti. Bila sudah paham, biasanya akan lebih tau dan mau menerima konsekuensinya.

Seru kan punya anak remaja? Asik kok kalau bisa dekat dengan remaja. Tetapi, harus berusaha siap juga dengan segala tantangan di fase ini. Insya Allah, anak pun akan melewati masa ini dengan baik-baik aja. Bisa jadi bekal ketika mereka nanti dewasa.

Continue Reading
98 comments
Share:

Saturday, November 14, 2020

Apakah Istri Harus Bisa Masak?

Apakah Istri Harus Bisa Masak? Hmmm ... harus gak, ya?
 
Akhir-akhir ini, salah seorang sepupu Chi bertanya apakah perempuan ketika menjadi istri itu harus bisa masak? Masalahnya dia gak bisa masak sama sekali. Di kosan pun gak pernah masak karena tempatnya gak memungkinkan. Jadi, dia lebih sering order makanan.
 
apakah istri harus bisa masak
 
"Tips belajar masak untuk pertama kali tuh belajar bedain bumbu dapur aja dulu."
 
Sepupu sempat gak percaya ketika diceritakan Chi gak bisa masak sama sekali sebelum menikah. Membedakan merica dan ketumbar yang masih berbentuk butiran aja gak bisa. Makanya Chi kasih tips seperti itu.

Sepupu cerita kalau dia antara pengen dan tidak untuk menikah. Dia enggan menikah karena takut dapat ibu mertua yang galak. Apalagi dia gak bisa masak. Dia sering membaca bagaimana nyinyirnya ibu mertua ketika menantunya gak pandai memasak.

Kali ini, giliran Chi yang ternganga. Sepupu Chi ini termasuk orang yang super duper cuek, lho. Anaknya selalu kelihatan happy dan easy going. Di saat banyak teman dan sepupunya udah pada menikah, dia terlihat santai aja. Gak baperan kalau ditanya 'kapan menikah'. Malah kadang-kadang dia duluan yang suka mancing-mancing supaya status jomblonya dibecandain.

Bisa jadi penyebabnya karena saat ini dia sedang dekat dengan seseorang yang kelihatannya serius. Di satu sisi sudah membayangkan indahnya pernikahan. Tetapi, di sisi lain ngeri sendiri membayangkan kalau sampai gak akur dengan ibu mertua.


Punya Ibu Mertua yang Luar Biasa Baik


Chi memang pernah beberapa kali membaca atau mendengar cerita tentang konflik mertua vs menantu. Alhamdulillah, Chi gak mengalami seperti itu.

Almarhumah mamah mertua itu sosok yang luar biasa baik. Sepanjang ingatan, rasanya Chi belum pernah diomelin sama mertua.
 
Mamah mertua juga gak pernah ikut campur urusan parenting. Bukan berarti cuek juga. Malah sering nanya-nanya. Tetapi, selama melihat cucunya bisa terurus dengan baik, buat mamah udah cukup banget. Gak pernah menilai-nilai apalagi sampai menghakimi.
 
Sebagai menantu, Chi bener-bener bisa menjadi diri sendiri. Saat menginap di rumah mertua, gak pernah berusaha jaim. Misalnya mendadak jadi bangun pagi dan rajin beberes demi pencitraan. Padahal kalau di rumah sendiri gak serajin itu. Gak pernah! Pokoknya asik-asik aja hubungannya hehehe.

 

Cara Supaya Bisa Akur dengan Mertua Meskipun Menantu Gak Bisa Masak

 
"Anak saya baru umur 7 tahun aja udah bisa nyalain kompor dan goreng telur sendiri, lho. Masa' ini ada perempuan usianya di atas 20 tahun menyalakan kompor aja gak berani, Ih! Gak mau deh nanti saya punya menantu kayak gitu!"
 
Beberapa hari lalu, Chi membuka salah satu grup di FB. Sebetulnya gak bergabung, tetapi tetap bisa membaca seluruh isinya karena grupnya open public.

Ada netizen yang menulis cerita fiksi tentang seseorang yang bisa memasak. Chi gak baca seluruh captionnya. Lebih seru baca komen-komennya wkwkkw.

Banyak aja yang berpendapat seperti di atas. Bahkan ada beberapa yang lebih ketus. Nyinyir karena ada sosok yang usianya mendekati 30 tahun, tetapi menyalakan kompor aja gak bisa. Trus, ngebanding-bandingin sama anaknya yang udah bisa masak meskipun usianya masih anak-anak.

Kalau baca komen-komennya, pantesan aja sepupu jadi takut untuk menikah. Pada galak-galak banget komennya hehehe. Chi juga jadi membayangkan rasanya punya mertua seperti itu. Konflik melulu sama mertua bisa berpotensi membahayakan pernikahan.

Diskusikan dengan calon suami dan ceritakan apa adanya diri kita
 
Chi menyarankan untuk menceritakan tentang diri sendiri apa adanya ke calon suami. Ngaku aja kalau memang gak bisa masak. Sebetulnya gak hanya tentang masak-memasak. Apapun baiknya dibicarakan sebelum menikah. Jangan ada dusta di antara kita hehehe.

Tanya juga seperti apa tipe menantu idaman versi mertua. Kalau misalnya dia bukan termasuk tipe menantu ideal, sikap pasangannya akan bagaimana.
 
Sikap pasangan itu sangat penting, lho. Tentu bukan berarti kita harus selalu dibela bila ada konflik dengan mertua. Nanti malah bisa merusak hubungan mertua dengan anaknya. Malah mungkin mertua akan sakit hati.

Tapi, harapannya adalah pasangan akan bisa menjadi penengah. Tidak selalu menjadi anak mama dan terus menyalahkan istrinya. Juga gak terlalu membela istri dan melawan orang tua. Sesuai proporsi aja dan tergantung masalahnya.

"Teh, kalau misalnya calon Aku gak masalah punya istri yang gak bisa masak. Tapi, begitu udah menikah trus dia berubah pikiran gimana?"

Menurut Chi, kalau perubahannya secepat itu berarti pasangan sudah berbohong. Ya kembali ke diri kita masing-masing. Semoga masih bisa dibicarakan baik-baik dan ambil keputusan bersama yang win-win solution. Tetapi, bila masing-masing bersikeras, silakan diputuskan apakah dipertahankan atau enggak. Pernikahan kan bicara jangka panjang. Apa bakal betah ketemu ketemu perkara yang sama terus-menerus?


Pernikahan Tetap Langgeng Meskipun Gak Bisa Masak


"Gue gak bisa masak. Tetapi, tetap gue yang memastikan menu harian untuk keluarga. Tetep kasih gizi yang terbaik dengan rasa yang enak, lah.

Salah seorang teman Chi pernah ngomong begitu. Teman Chi yang lain pernah bilang kalau dia setiap hari order makanan. Dia punya banyak nomor telpon resto maupun catering. Gak pernah masak sama sekali.

Chi memang punya beberapa teman yang seperti itu. Sudah berumah tangga, tetapi gak pernah masak sama sekali. Alasannya pun beragam. Ada yang gak bisa masak hingga punya banyak kesibukan.

Tentu yang mereka lakukan sangan bertolak belakang sama Chi. Tetapi, gak perlu juga kan menilai-nilai apalagi menghakimi. Gak perlu menasehati tentang kenikmatan memasak bagi keluarga bila tidak diminta. Apa yang menjadi standar kenyamanan buat diri sendiri dan keluarga kita, belum tentu sama bagi orang lain. 
 
Buktinya lagi rumah tangga teman-teman Chi yang pada gak bisa memasak juga pada langgeng sampai sekarang. Jadi, bisa memasak atau enggak buat Chi bukan tolok ukur kalau rumah tangga akan bahagia dan langgeng. Semua akan punya caranya sendiri. 
 
Pernikahan ideal menurut kita belum tentu sama dengan yang lain. Jangankan dibandingkan dengan teman. Ideal menurut anak belum tentu menurut orang tua, lho.
 
Ada suami yang merasa gak masalah istrinya gak bisa masak. Tetapi, mungkin mertuanya yang gak sreg. Nah, mendingan diobrolin intern, deh. Sebaiknya memang sebelum menikah. 

Usia pernikahan Chi memang baru 17 tahunan. Masih kalah jauh lah pengalamannya sama yang udah puluhan tahun. Tetapi, yang namanya pernikahan itu mengelolanya jangka panjang.

Kebayang gak sih gimana gak enaknya kalau setiap hari cuma ribut urusan bisa masak atau enggak? Itu baru 1 cerita. Sedangkan dalam pernikahan ada banyak suka duka yang datang silih berganti. Kalau bisa sih banyak sukanya. Makanya hal-hal seperti ini memang enaknya diomongin sejak awal.
 
Urusan memasak juga gak harus tugas istri. Adik ipar Chi gak bisa memasak. Dulu, mereka suka beli makanan. Tetapi, sekarang udah punya asisten rumah tangga. Adik Chi gak masalah dengan hal ini.
 
Salah seorang sepupu Chi yang lain bisa memasak. Kemudian, dia menikah dengan seorang chef. Kalau dari ceritanya, malah suaminya yang selalu semangat memasak untuk keluarga sekaligus belanja.  

Jadi ini gimana kompromi antar pasangan. Bisa aja memsak jadi tugas salah satu pasangan atau malah keduanya. Bisa juga malah lebih memilih beli makanan di luar.


Menantu Ideal Bagi Mertua


Gara-gara baca banyak komen tentang standar menantu idaman, Chi jadi ngebayangin kalau kelak punya mantu bakal jadi mertua kayak apa, ya? Duh! Mudah-mudahan bisa kayak almh mamah mertua, ya. Akur gitu sama menantu hehehe.

"Paraaaaah! Bunda Keke memang paraaaah! Setiap hari masaknya enak-enak melulu!"

Seekspresif gitu kalau Keke udah memuji masakan bundanya. K'Aie juga suka memuji, tetapi gak seekspresif Keke. Nai malah jauh lebih kalem. Cenderung diam, tetapi kalau udah makan melulu atau nambahnya berkali-kali berarti suka banget ma masakan bundanya.

Chi memang senang banget kalau udah dipuji ma suami dan anak-anak. Jangankan dipuji, lihat mereka lahap makannya aja udah seneng. 
 
Tapi, kayaknya Chi gak akan membuat standar kelak kalau punya menantu perempuan harus bisa masak, deh. Ya gimana mau bikin standar kayak gitu. Dulu aja Chi gak bisa masak sama sekali.

Kalaupun Chi sekarang jadi bisa dan suka masak bukan karena paksaan, lho. Tetapi, memang kepengen belajar masak. Waktu itu ngebayangin kayaknya seneng aja kalau suami dan anak-anak mau dan suka dengan masakan yang Chi buat. Sejak itu deh mulai belajar masak.
 
Memang belum secara detil membayangkan seperti apa calon menantu yang ideal. Keke dan Nai aja masih remaja. Masih jauh, lah hehehe. Tetapi, ya standarnya asal mereka bahagia dengan pilihannya.
 
Bukan berarti sebagai mertua gak boleh punya standar begini-begitu untuk calon menantu, lho. Boleh banget kok menginginkan calon menantu yang bisa masak. Tetapi, kalau sampai 'mengamit-amitkan' orang lain yang gak sesuai standar kayaknya gimana gitu, ya.
 
Kalaupun memang ada syarat yang saklek untuk calon menantu, mendingan omongin ke anak sendiri. Bilang aja secara jelas pengennya punya mantu kayak apa. 
 
Kalau anaknya menurut tentu akan mencari yang sesuai dengan standar orang tuanya. Tetapi, cinta 'kan kerap kali jadi misteri. Bisa jadi si anak akan jatuh cinta dengan seseorang yang di luar kriteria orang tuanya. 
 
Sebagai orang tua akan bersikap seperti apa bila kenyataannya seperti itu? Menurut Chi harus dibicarakan kekeluargaan. Jangan di depan anaknya kayak menyetujui. Tetapi, sebetulnya gak suka sama menantunya.

Jadi gimana gimana? Udah siap jadi mertua yang disayang menantu? 😂

Continue Reading
48 comments
Share: