Minggu, 29 September 2019

"Bun, Boleh Ikut Demo?"

"Bun, boleh ikut demo?"

Bagaimana reaksi teman-teman ketika anak ikut demonstrasi? Atau paling gak minta izin dibolehkan demo. Langsung melarang atau diizinkan dengan banyak syarat?

ketika anak ikut demonstrasi

Beberapa hari terakhir ini, Chi jadi semakin sering mengikuti berita. Dari mulai masalah Kahutla, KPK, hingga tentang RKUHP dan RUU lainnya yang dianggap bermasalah. Secara pribadi, Chi mendukung demo mahasiswa.

Tentu yang murni tuntutan mahasiswa, ya. Bukan yang merembet jadi bentuk dukungan atau penolakan terhadap rezim tertentu. Kalau untuk satu ini, Chi bener-bener no comment. Gak pernah golput. Tetapi, sudah menjadi prinsip untuk tidak mau menunjukkan siapa yang didukung. Pastinya berusaha seobjektif mungkin. Jangan sampai cinta buta terhadap seseorang atau golongan tertentu.

Kembali ke demo mahasiswa. Meskipun Chi mendukung aksi ini, tetapi ketika anak sendiri minta izin untuk ikutan rasanya bikin lemes dan deg-degan. Kenapa? Chi ceritain selengkapnya di sini. Tetapi, mau flashback sedikit tentang aksi demo tahun '98.

Ikutan Demonstrasi Mahasiswa Tahun '98, Gak?


Beberapa waktu lalu, seorang teman yang pernah satu kampus dengan Chi nyetatus tentang nostalgia ketika ikut demo tahun 98. Tapi, yang bikin agak gak enak dibaca tuh kesannya apa yang dinikmati saat ini seolah-olah hanya jasa mahasiswa yang turun ke jalan. Mungkin karena Chi juga lagi rada baper. Jadinya agak kzl aja bacanya karena gak pernah ikutan demo.

Pada saat itu Chi udah kuliah memasuki tahun ke-3. Mana boleh ikut-ikutan demo sama orang tua. Udah gitu, Chi tipe anak yang gak berani bicara. Apapun yang dibilang orang tua ya diturutin.

Terlepas dari Chi berani bicara atau enggak, inget banget deh pada saat kejadian lagi nemenin mamah ke supermarket. Kami sempat bingung kenapa tiba-tiba rolling door mulai ditutup. Untungnya pas kami selesai bayar jadi bisa segera pulang. Dari radio kami mendengar berita mulai terjadi kerusuhan di beberapa lokasi.

Chi bersyukur kami sampai di rumah dengan selamat. Tetapi, adik ketiga Chi yang saat itu SMA tertahan di sekolah dan terpaksa menginap. Kepsek melarang anak-anak pulang demi keselamatan. Papah akhirnya bisa pulang ke rumah saat malam hari. Itupun setelah putar balik dengan menjebol pagar pembatas jalan. Tentu aja papah gak melakukan sendiri. Semua pengendara mobil saling bantu menjebol pagar karena gak mungkin terus maju. Di depan sudah mulai terjadi kerusuhan.

Dulu, kami belum mengenal hp, apalagi media sosial. Info tercepat ya mendengarkan radio. Kebayang gak cemasnya seperti apa? 2 anggota keluarga belum pulang ke rumah. Kami gak bisa menghubungi sama sekali. Pada saat itu, Chi bersyukur gak ikutan demo. Kalau enggak mamah cuma berduaan ma adik yang paling kecil yang saat itu usianya 5 tahun. Wah, bisa panik banget tuh mamah kalau begitu.

Demonstrasi Mahasiswa dan Keberanian Anak STM Tahun 2019


Ketika Keke minta izin ikut demo, reaksi pertama Chi jelas kaget dan lemas. Pengennya sih langsung ngomong, "Gak usah ikutan dan kamu harus menurut apa kata orang tua!"
Tetapi, Chi menahan diri untuk tidak terburu-buru bertindak seperti ini. Ini tentang kebebasan berpendapat. Kalau Chi langsung melarang malah jadinya gak pernah tau alasan kenapa Keke ingin ikut demo.

[Silakan baca: Begini Cara Berkomunikasi dengan Remaja]

Beberapa hari lalu, Keke datang bersama temannya meminta izin untuk dibolehkan ikut demo. Chi larang dan Keke menurut. Setelah itu, Chi lihat Keke mengambil uang tabungannya untuk dikasihkan ke teman. Katanya untuk ongkos atau uang makan mereka. Tetapi, pemberian Keke ditolak.

"Jangan, Ke. Kita gak enak terimanya kalau lo gak dikasih izin. Udah lo nurut aja sama orang tua."

Chi berusaha menahan nangis di balik pintu, lho.  Biar bagaimanapun Keke sudah remaja. Dia pun termasuk generasi Z yang melek digital. Dia punya hak untuk didengar dan bersikap. Setelah temannya berangkat, hal pertama yang Chi ucapkan adalah, "Apa yang Keke tau? Sepertinya Bunda tertarik, nih!"

[Silakan baca: Instagram dan Generasi Milenial]

Mau Keke tau banyak atau cuma seuprit, ya gak apa-apa. Bahkan kalaupun dia bilang demi solidaritas pun tetap akan Chi dengarkan. Berusaha menghindari tuduhan, "Kamu tau apa, sih? Masih anak-anak mendingan belajar!"

Dengan berdiskusi, apalagi ketika bundanya bilang menarik, bikin dia jadi semangat untuk mengemukakan pendapat. Ini juga bagian dari pembelajaran. Tetapi, kalau menuduh dengan kalimat 'Kamu tau apa? Masih anak-anak!' Chi malah khawatir akan mengerdilkan pikiran dia. Paling enggak, dia jadi males untuk terbuka dengan orang tuanya. Keke pun bercerita apa yang dia tau dan Chi mendengarkan. Setelah itu baru berdiskusi. 

Kemudian Chi jelaskan ke dia kalau larangan itu murni karena rasa khawatir seorang ibu. Apalagi Keke masih SMA. Jadi bukan tentang dukung atau tidak mendukung. Pengennya sih memberi kebebasan bertanggung jawab. Tetapi, rasa khawatir Chi masih sangat besar bila dia harus langsung turun ke jalan.

Kerusuhan tahun '98 masih jelas terbayang. Chi tidak menyalahkan aksi mahasiswa saat itu. Bila tida terjadi demo, mungkin saja kita tidak merasakan kehidupan berdemokrasi seperti saat ini. Tetapi, memang apapun itu imbasnya gak selalu semuanya positif. Seperti kejadian tahun '98, kerusuhan menjadi sesuatu yang harus dibayar mahal oleh masyarakat Indonesia.

Itulah kenapa Chi masih melarang Keke untuk berdemo pada saat ini. Silakan aja kalau ingin mengeluarkan pendapat dengan cara lain. Perjuangan 'kan gak selalu harus turun ke jalan. Semua punya cara dan peran masing-masing. Makanya, ketika Keke setiap hari menyuarakan pendapatnya di Instagram Stories, Chi biarin aja. Sekadar dipantau dan didiskusikan setelahnya.

Bunda: "Ke, teman-teman mu bagaimana?"
Keke: "Gimana apanya?"
Bunda: "Jadi demo? Di daerah mana?"
Keke: "Jadi. Ya di Senayan dan sekitarnya."

Bunda: "Pada pulang jam berapa?"
Keke: "Jam 12 malam."

Chi membayangan kalau Keke ikutan. Bakalan berapa puluh atau ratusan pesan di WA yang Chi layangkan ke dia. Khawatir banget pastinya.

Chi juga bersyukur karena tidak terjadi bullying. Khawatir disangka gak punya solidaritas karena gak ikutan demo. Alhamdulillah ternyata gak kejadian. Malah jadi menambah pelajaran buat Chi kalau anak SMA pun bisa menghargai perbedaan.

Tetap, bukan persoalan yang mudah juga. Biar bagaimana Keke masih memiliki darah muda. Jadi emosinya pun masih turun naik. Bukan emosi dalam artian memaki-maki, ya. Chi berusaha tarik ulur ketika mengajak dia berdiskusi. Kalau bisa jangan sampai malah jadi obrolan yang membosankan. Ya harus banyak memaklumi, lah. Supaya ada win-win solution juga.


[Silakan baca: Darah Muda]

Mungkin lain ceritanya kalau Keke udah kuliah. Tentu aja, mau sampai usia berapapun, Chi maunya anak-anak jangan sampai ikutan demo. Sekali lagi, ini murni karena rasa khawatir sebagai orang tua. Bukan karena dukung atau tidak dengan apa yang didemokan. Semakin besar, anak semakin dilepas dan diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Pastinya apapun itu, do'a orang tua gak putus.

Tentunya Chi berharap juga gak akan ada demo-demo lagi. Kalau ada demo, apalagi semakin besar skalanya, berarti ada sesuatu yang salah di negeri ini. 

Gak usah baper ketika Chi katakan ada yang salah. Ini gak mengarah ke salah satu pihak. Tetapi, ibarat dalam keluarga, bila ada 1 aja anggota keluarga yang protes, berarti ada sesuatu yang harus diselesaikan. Ya belum tentu juga yang diprotes yang salah. Bisa jadi memang protesnya gak jelas. Tetapi, bisa jadi juga salah semuanya.


Keke Pernah Ikut Demonstrasi


Etapi, Keke beneran gak pernah ikut demo? Pernah. Dia ikut demo tentang Krisis Iklim yang diadakan Greenpeace Indonesia. Itupun Chi gak langsung kasih izin. Keke harus menjelaskan dengan detil alasan ikut demo dan kami juga berdiskusi.

Tak lupa kami berikan bekal alias pesan-pesan yang banyak. Apalagi pesan dari Chi. Biasalah di mana-mana ibu kayaknya suka lebih banyak pesannya hehehe.

Ini demo dengan skala kecil dengan tema yang global. Tidak sebatas tentang masalah Kahutla. Demo berjalan cukup lancar. Selesainya pun sore. Chi pun memantau dari IGS-nya.

Kalau cek di berbagai media sosial, demo tentang lingkungan ada di berbagai belahan dunia manapun.  Memang kenyataannya bumi sedang sakit. Coba deh teman-teman nonton animasi The Lorax. Bumi kita belum sesakit itu, tetapi mungkin saja terjadi bila gak disembuhkan. Generasi Keke ke bawah yang akan menikmati masa depan. Kalau gak ada kepedulian dari sekarang, kasihan mereka.

[Silakan baca: Kisah The Lorax yang (Sepertinya) Mulai Jadi Kenyataan]

Kenapa harus demo? Apa gak ada cara lain? Ada, kok. Banyak cara yang bisa dilakukan. Chi pribadi juga lebih suka tanpa demo. Kadang-kadang mau sekecil apapun demo, tetap ada potensi penyusup atau mengganggu ketertiban umum. Capek 'kan kalau lagi di jalan trus kejebak macet karena demo.

Tetapi, seperti yang Chi tulis di atas. Setiap orang punya peran masing-masing. Demo hanyalah salah satu cara. Bila sampai turun ke jalan biasanya tujuannya supaya suara lebih didengar. Jadi, bukan berarti setelah demo, tugas mereka selesai. Bisa jadi mereka ini lebih peduli lingkungan daripada kita. Sudah mempraktekan di kehidupan sehari-hari.

Memang jadi pelajaran juga buat Keke. Apalagi kalau dia sudah berani menunjukkan di depan umum. Jangan sekadar berani menyuarakan pendapat. Tetapi, tidak berusaha mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya dimulai dari hal kecil dulu ketika mulai peduli dengan lingkungan.

Continue Reading
44 komentar
Share:

Rabu, 18 September 2019

ERHA.DNA, Revolusi Teknologi untuk Perawatan Kulit Wajah

Sebagai seorang ibu rumah tangga, kegiatan sehari-hari Chi lebih banyak di rumah. Ke luar rumah paling sesekali aja. Biasanya ke salah acara yang mengundang Chi sebagai blogger.

erha dna, teknologi dna kulit, perawatan kulit wajah

ERHA.DNA, Revolusi Teknologi untuk Perawatan Kulit Wajah


Banyak yang menganggap kalau sering di dalam ruangan berarti aman untuk kesehatan kulit karena tidak setiap hari terpapar sinar matahari. Ternyata, enggak juga. Sering berada di dalam ruangan juga berpotensi mengganggu kesehatan kulit, lho.

Kalau kita sering berada di ruang ber-AC rentan membuat kulit menjadi lebih kering dan gatal karena kelembapannya terganggu. Lebih lanjut bisa menyebabkan iritasi dan gangguan kulit lainnya.

Sebagai seorang blogger, durasi berhadapan dengan layar laptop maupun smartphone juga cukup lama. Mana Chi juga masih belum konsisten melakukan perawatan kulit. Masih banyak malas dan lupanya. Padahal tidak melakukan perawatan kulit yang tepat, bisa mengakibatkan wajah kusam hingga penuaan dini.

Berasa gak sih kalau akhir-akhir ini kulit wajah bermasalah? Chi merasakan. Cuaca panas yang cenderung kering rasanya juga bikin kulit wajah semakin sering. Kadang-kadang gatal dna rasanya seperti ketarik-tarik kalau lagi berasa kering banget.

Skincare yang saat ini sedang dipakai rasanya kurang membantu. Apa jangan-jangan kurang tepat, ya? Karena mencari produk perawatan kulit yang cocok itu relatif. Tetapi, mutlak mendapatkan yang cocok.

Masih ingat postingan di blog ini maupun di IG yang tentang teknologi DNA memilih produk perawatan kulit? Banyak yang bertanya seperti apa teknologinya apalagi cukup dilakukan di rumah aja.

[Silakan baca:  Lakukan Teknologi DNA Sebelum Perawatan Wajah]


Chi termasuk eksklusif user untuk revolusi teknologi DNA ini. Jadi senang banget karena termasuk salah satu user yang pertama kali berkesempatan mencoba sistem pintar perawatan kullit ini dan berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba ERHA.DNA test kit.

Ada 3 tahapan ERHA.DNA, Sistem Pintar untuk Perawatan Kulit yaitu

Smart Assistant



Tahap pertama yang Chi lakukan adalah download ERHA.DNA Apps di Google PlayStore (apps di iOS akan segera menyusul). Download apps menjadi tahap pertama karena nanti untuk order test kit dan lain sebagainya juga lewat apps.

Setelah sign up dan mengisi data diri, diminta menjawab beberapa pertanyaan. Survey-nya dibagi dalam 4 kategori yaitu

  1. Oiliness - Mengukur seberapa berminyak atau kering kulit wajah
  2. Sensitivity - Mengukur tingkat sensitivitas kulit
  3. Pigmentation - Mengetahui kecenderungan kulit mengalami pigmentasi, misalnya bercak kecoklatan
  4. Wrinkles - Memperkirakan kencenderungan kulit untuk mengalami garis halus atau kerutan


Total ada sekitar 20 pertanyaan yang harus dijawab. Gak lama kemudian hasilnya pun keluar. Berdasakan survey, tipe kulit Chi adalah Oily, Resistant, Non-Pigmented, Wrinkled. Intinya sih tipe kulit seperti ini dikatakan jarang mengalami masalah kulit sensitif seperti jerawat.

Hasil tes awal memang ada benarnya juga karena Chi jarang banget mengalami jerawat. Tetapi, agak was-was ketika membaca bagian berikutnya di mana dikatakan memiliki pigmentasi kulit yang kurang melindungi sehingga cenderung untuk berkerut karena kebiasaan gaya hidup masa kini dan masa lalu.

Duh! Urusan kerutan memang paling bikin Chi was-was. Apalagi di usia kepala 4 ini. Gak bisa lah menahan umur, tetapi pengennya 'kan bisa menahan kerutan untuk tidak datang kecepetan. Malah kalau perlu ditunda gitu.

Smart Innovation


ERHA.DNA Test Kit

Sebetulnya ketika mengisi survey, ada beberapa pertanyaan yang Chi agak ragu mengisinya.  Bisa jadi karena merasa punya lebih dari 1 jawaban. Tetapi, ada juga yang bingung karena Chi masih suka ada cueknya untuk urusan perawatan kulit. Masih kurang memperhatikan perubahan kulit wajah. Jadi, masih ada ragunya kalau hasil yang keluar itu 100% akurat.

Makanya, untuk mengetahui hasil yang akurat, Chi mencari tau dengan cara tes DNA kulit. Setelah mengisi survey, Chi order ERHA.DNA test kit melalui apps.

Barang akan datang dalam waktu 2-3 hari kerja. Tetapi, Chi hanya menunggu sehari, barang yang diorder pun datang. Segera deh unboxing karena pengen tau banget hasilnya.

Ada 3 test kit dalam 1 box. Begini tahapan pemakaiannya:

DNA Swab

DNA Swab yang masih tersegel

Sebelum memulai, Chi harus membersihkan mulut dengan menggosok gigi atau mouthwash. Kemudian, tunggu 30 menit tanpa makan dan minum.


Pernah nonton serial criminal di mana salah satu cara untuk memeriksa DNA adalah dengan mengusap swab (bentuknya persis seperti cotton bud, hanya lebih panjang stik-nya) ke pipi bagian dalam? Nah, caranya persis seperti itu.

erha dna, teknologi dna perawatan kulit wajah, dna swab
Usapkan dengan agak ditekan ke pipi bagian dalam sekitar 30-40 putaran.

Chi mendapatkan 2 tabung. Masing-masing untuk 1 pipi. Mudah menggunakannya asalkan mengikuti petunjuk yang ada di buku. Tetapi, harus berhati-hati supaya jangan sampai menyentuh barang lain dan terjadi kontaminasi.

Setelah selesai, masukkan kembali DNA Swab ke dalam tabung. Buka kembali aplikasi untuk melakukan permintaan pick-up. Teman-teman bisa menentukan kapan DNA Swab akan diambil oleh kurir. Tetapi, waktunya hanya di hari kerja, Sabtu-Minggu libur. Gak perlu khawatir tertukar karena setiap tabung sudah ada namanya.

Skin Lens


Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mencuci muka sebelum pengambilan foto. Unik juga cara fotonya. Caranya dengan membuka fitur kamera pada aplikasi. Kemudian pasang skin lens pada bagian belakang kamera.

produk perawatan kulit wajah yang tepat

Ini udah kayak selfie gitu. Tetapi, yang difoto hanya 5 bagian di wajah yaitu pipi kiri, pipi kanan, dahi, hidung, dan dagu.

Karena menggunakan kamera belakang, bisa jadi akan mengalami kesulitan saat menekan tombol kamera. Gak bisa melihat juga hasilnya apakah sudah fokus atau belum. Sebaiknya, lakukan di depan cermin. Tetapi, kalau Chi dibantuin sama Nai. Dia yang pencet kameranya ketika skin lens sudah Chi tempelkan ke kulit dan fotonya terlihat fokus.

Klik 'selesai' untuk mengunggah. Nanti akan ke luar hasilnya di bagian skin reporting. Hanya memerlukan waktu 1-5 menit aja. Tergantung kecepat koneksi internet di tempat masing-masing.

Moisture Testing


Tahapan awalnya sama kayak Skin Lens. Cuci muka dulu dan pastikan wajah tidak terlalu berkeringat, kotor, basah, atau berambut. Kemudian, buka tutup alat Moisture Tester.

Tekan dulu tombol power sebelum digunakan. Setelah terdengar bunyi pendek, tunggu sampai layar LCD menunjukkan angka 0.00 yang konstan (tidak kedip-kedip) dan terdengar 2 bunyi pendek lagi.


Tempelkan ujung alat dengan kuat dann tegak lurus ke lima area di kulit wajah yaitu pipi kiri, pipi kanan, dagu, hidung, dan dahi selama beberapa detik. Lakukan satu persatu hingga terdengar bunyi panjang dan keluar angkanya.


Angka yang tertera dimasukkan ke aplikasi. Kemudian lakukan lagi untuk area lainnya. Setiap area lakukan sebanyak 2x. Sama seperti Skin Lens, setelah semuanya selesai, tunggu hasilnya dalam waktu sekitar 1-5 menit saja.

Pastikan semua alat tidak terjatuh atau terkena air

Setelah DNA Swab dikirim, Chi hanya menunggu sekitar 2-3 hari untuk mendapatkan jawabannya. Hasilnya dikirim melalui aplikasi dan 'raport' yang datang berbarengan dengan produk perawatan kulit.

Smart Treatment


Salah satu laporan via aplikasi. Permasalah terbesar kulit wajah Chi adalah bintik.

Hanya menunggu 2-3 hari kerja, skin reporting DNA Swab pun masuk lewat aplikasi. Produk perawatannya pun juga datang.



Di dalam kotak tidak hanya berisikan beberapa produk perawatan yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Chi juga mendapatkan beberapa lembar Laporan Kulit. Ini berasa kayak terima raport, deh. Bacanya juga sambil deg-degan.

Dari laporan itu tertulis kalau kulit wajah Chi lebih baik dari 46% wanita di usia yang sama. Permasalahan yang Chi alami ternyata bukan kerutan, tetapi peradangan dan bintik. Kelembapan kulit pun kecenderungan potensi berisiko. Penyebabnya karena paparan UV. Ini sih beneran salah satunya karena kelamaan di depan laptop. Udah gitu Chi masih suka lupa pakai pelembap.

produk erha

Cukup melegakan membaca beberapa lembar tentang hasil tes kulit wajah Chi. Kerutan yang selama ini dikhawatirkan ternyata persentasenya masih kecil. Tetapi, bukan berarti harus diabaikan, lho.

Produk yang dikirim ini tentunya sudah disesuaikan dengan hasil test. Jadi, setiap user belum tentu mendapatkan produk yang sama karena masalahnya 'kan beda-beda. Seperti kata ERHA.DNA kalau mencari produk yang cocok itu mutlak.

erha dna

Chi dapat 5 produk yaitu cleanser,  day moisturizer, sunscreen, essence, dan night moisturizer. Tentunya, sudah disesuaikan dengan kebutuhan kulit wajah para user.

Di postingan ini, Chi tidak mengulas hasil pemakaiannya karena produknya juga baru diterima. Tunggu beberapa waktu dulu untuk melihat hasilnya. Bagusnya lagi, di aplikasi ada fitur jurnal. Jadi bisa mencatat perubahan yang terjadi selama pemakaian produk perawatan kulit tersebut.

Karakter genetik kulit wajah sangat beragam sehingga mutlak diperlukan produk perawatan yang tepat. Caranya dengan melakukan tes DNA kulit


Di dalam buku Laporan Kulit juga ada rekomendasi gaya hidup. Ada 2 PR besar buat Chi. Masih kurang istirahat karena masih terus terjaga hingga larut malam (kebanyakan di depan laptop) dan ngopi. Harus mulai dikurangi, nih!

Usia boleh bertambah, tetapi kulit wajah pengennya lebih muda. Untuk itu mutlak memilih produk perawatan kulit yang tepat. Setuju? Info lebih lanjut bisa lihat di erhadna.co.id dan IG @erhadna


Continue Reading
65 komentar
Share:

Sabtu, 14 September 2019

Beberapa Tempat Wisata Belanja di Bandung yang Wajib Dikunjungi

Sudah cukup lama, Chi mengetahui kalau Bandung tidak hanya ramai dengan wisatawan lokal, khususnya jabodetabek, pada saat akhir pekan. Wisatawan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore juga suka pada ke Bandung saat akhir pekan.

beberapa tempat wisata belanja di bandung yang wajib dikunjungi

Beberapa Tempat Wisata Belanja di Bandung yang Wajib Dikunjungi



Untuk datang ke Bandung tentunya menggunakan pesawat terbang. Gak perlu juga mendarat di bandara Soekarno Hatta. Sekarang, sudah ada rute penerbangan dari Bandung ke Singapore atau Malaysia, begitupun sebaliknya. Nanti dari atau menuju ke bandara Husein Sastranegara bisa menggunakan golden bird bandung.

Kenapa direkomendasikan menggunakan Golden Bird Bandara?

  1. Layanan 24 jam dengan waktu yang fleksibel. Kalau naik transportasi umum 'kan ada jam-jamnya.
  2. Penjemputan pasti dan tepat waktu.
  3. Kalau pesawat kita delay, sopir golden bird akan menunggu
  4. Bebas antrean. Udah berasa pakai mobil pribadi karena tinggal naik
  5. Lokasi penjemputan jelas dan aman
  6. Bisa dijemput di depan rumah dan diantar sampai bandara. Atau dari bandara hingga lokasi yang akan dituju.
  7. Harga sudah termasuk sopir, bahan bakar, biaya tol, parkir, dan pajak. Jadi udha gak ada biaya lain-lain.

Kendaraannya mulai dari yang standar kayak Toyota Inova hingga kelas premium seperti Alphard. Banyak pilihan deh pokoknya. Lagipula Chi udah percaya dengan kualitas dan service Blue Bird Group sejak lama. 

[Silakan baca: Antara Bekasi, Bali, dan Bandung]

Balik lagi tentang wisatawan dari negara tetangga. Ini kejadian juga sama dengan keluarga dari suami sepupu Chi. Suaminya warga negara Malaysia. Kalau keluarga besarnya datang ke Indonesia, seringkali menyempatkan untuk datang ke Bandung. 

Biasanya mereka paling sering ke Pasar Baru, Bandung. Belanja beraneka pakaian dengan harga murah. Kalau ngomongin tentang tempat wisata belanja di Bandung yang murah meriah gak hanya di sini aja, kok. Masih ada beberapa tempat wisata lainnya. Yuk!


Pasar Baru Trade Centre

Ini tuh semacam ITC. Di Bandung pun ada beberapa ITC, tetapi yang paling banyak dikunjungi wisatawan ya di Pasar Baru. Gak hanya wisatawan mancanegara. Keluarga Chi juga beberapa kali beli baju seragam untuk acara keluarga di sini. Pilihannya banyak dan harganya juga murah-murah. Gak hanya baju, tetapi ada juga tas, aksesoris, dan lain sebagainya.


Cihampelas

Kalau mau beli jeans lokal, tetapi kualitas bagus di sini tempatnya. Ada juga kaos dan pakaian lainnya. Tetapi, paling terkenal itu jeansnya. Melintasi jalan Cihampelas juga menjadi sesuatu yang menarik meskipun selalu macet. Tokonya banyak yang unik desainnya. Biasanya ada berbagai karakter animasi terkenal. 


Cigondewah

Pengen cari kain dengan harga murah bisa ke Cigondewah. Lumayan jauh lokasinya pusat kota. Di sini jualan kainnya juga bisa kiloan. Harga per kilonya bisa bervariasi. Tetapi, tetap termasuk murah, lah.


Pasar Kosambi

Bandung terkenal sebagai salah satu tempat wisata kuliner, Pasar Kosambi menjadi salah satu tempat untuk berburu oleh-oleh makanan. Di sini ada beberapa toko yang menjual camilan kiloan. Ada banyak pilihannya. Mau yang manis atau gurih, silakan dipilih.


Cibaduyut

Kalau mau cari sepatu buatan lokal sebajk dulu Cibaduyut yang paling terkenal. Dari mulai sandal, sepatu olahraga, hingga sepatu formal pun ada.


Palasari

Buat teman-teman yang gemar membaca buku, silakan ke Palasari. Beraneka buku dijual dengan murah di sini. Coba aja teman-teman tawar harganya biar bisa dapat lebih murah lagi.


Pasar Cimol Gedebage

Kalau teman-teman tidak keberatan mengenakan pakaian bekas, silakan berburu di pasar Cimol Gedebage. Di sini tub surganya pakaian bekas. Ada yang bekas cuci gudang, ada juga impor. Namanya juga pakaian bekas, harus hati-hati memilihnya, ya. Siapa tau ada yang cacat produk di beberapa bagian.


Dago

Kawasan jalan Dago ini selalu ramai. Banyak pilihan kuliner di sini. Sama pastinya ada deretan factory outlet alias FO. Yuk, yang mau belanja pakaian branded dengan harga miring.

Area-area yang ditulis di atas, wilayahnya lumayan luas. Mungkin bisa seharian kalau udah di sana. Harus siap berjalan kaki. Kemampuan menawar pun kadang-kadang diperlukan. Kecuali kalau kayak Chi yang tipe pasrahan aja sama harga hehehe.

Bawa minum juga penting, tuh. Apalagi banyak tempat yang gak pakai AC dan harus berjalan kaki juga dari satu toko ke toko lain. Daripada jajan melulu, setidaknya bawa lah 1 botol minum.

Oiya balik lagi ke bahasan tentang Golden Bird Bandung. Kenapa armada ini juga Chi rekomendasikan karena kalau abis belanja 'kan bawaannya suka jadi lebih banyak. Daripada nanti ribet bawanya ke bandara, mendingan naik Golden Bird. 

Tinggal booking armadanya. Minta jemput di hotel atau rumah tempat kita menginap. Nyaman banget kan kalau begini.

Selamat berbelanja!

[Silakan baca: Dari Jakarta ke Bandung, Enaknya Naik Apa?]

Continue Reading
2 komentar
Share:

Senin, 09 September 2019

Manfaat Google Question Hub untuk Blogger

Akhir Agustus lalu (29/8), Chi diundang oleh Blogger Perempuan untuk mengulik satu fitur terbaru di kantor Google Indonesia. Tentu aja seneng banget dapat undangan ini. Penasaran apa sih manfaat Google Question Hub untuk para blogger?

manfaat google question hub untuk blogger

Manfaat Google Question Hub untuk Blogger


Sore itu, ada 5 blogger perempuan mewakili niche masing-masing. Chi (parenting), Lia Harahap (lifestyle), Marga Apsari  (food), Iva Asih (beauty), dan Lenny Lim (travel). Tentunya ditemani dengan salah seorang perwakilan dari Blogger Perempuan yaitu Aprie.

Sesuai rencana, pukul 3 sore, kami masuk ke ruang rapat. Mbak Fiana Dwiyanti dari Google Indonesia bertanya siapa aja yang sudah coba mengulik Question Hub. Chi pun tunjuk tangan meskipun baru sedikit yang diulik. Tetapi, berasa kayak punya mainan baru.


Daftarkan Blog di Google Search Console


Bila sekadar ingin tau, tema-teman bisa lihat di https://questionhub.withgoogle.com. Tetapi, bila ingin ikut memanfaat fitur ini, maka blognya wajib didaftarkan dulu ke Google Search Console.

Chi tidak akan membahas lebih jauh tentang cara mendaftarnya. Nanti artikelnya malah jadi gak fokus ke mana-mana. Silakan saja teman-teman googling bagaimana cara mendaftarkan blog ke webmaster.


Gak Semua Pertanyaan Bisa Dijawab Google


Gimana sih caranya supaya anak gak melakukan gerakan tutup mulut? Makannya susah banget, nih! Udah cari jawabannya di Google, tetapi belum ketemu.

Teman-teman pernah gak melihat status seperti itu di media sosial? Mencari jawaban supaya anak gak melakukan gerakan tutup mulut (baca: mogok makan), kayaknya gak mungkin gak ada di Google, ya. Udah banyak banget media besar maupun blogger yang membuat konten dengan kata kunci seperti itu. Tetapi, fokus ke kalimat berwarna hitam yang dibold. Yup! Gak semua pertanyaan netizen bisa dijawab oleh Google, lho.


 
Ini salah satu bukti ketika bertanya ke Google dan gak ketemu jawabannya. Chi udah lupa waktu itu nanya apa 😂


Mbak Fiana membuka bahasan dengan membuat contoh tentang konten Borobudur. Sejarah, transportasi menuju, ada apa aja di sana, harga tiket masuk, dan banyak info lainnya tentang Borobudur sudah banyak kontennya di Google. Bisa jadi kita pun termasuk yang pernah membuat artikel dengan kata kunci tersebut.

Kemudian ada netizen yang bertanya tentang harga jual candi Borobudur. Yakali aja dia termasuk crazy rich sampai gak tau lagi punya duit buat beli apa. Makanya kepikiran mau beli Borobudur. Atau ya sekadar kepo pengen tau harga itu candi dan kemudian mengkhayal. "Andai A .... A .... A .... A .... ku jadi orang kaya." *auto nyanyi.

google webmaster
Mau nanya dengan kalimat pendek atau model curhat kayak begini ya terserah aja. Netizen bebas bertanya apapun ke Google

Sah-sah aja netizen mau nanya apapun juga ke Google. Tapi, ya bukan berarti akan selalu dapat jawaban. Nah pertanyaan yang masih sangat sedikit atau bahkan gak ada jawabannya ini akan masuk ke Google Question Hub.

Bila memiliki jawaban dari pertanyaan yang ada di Google Question Hub, tinggal masukin aja URL artikel dari blog teman-teman.

Boleh gak kita jawab pakai URL milik orang lain? Ya, boleh aja. Tetapi, jadinya teman-teman gak akan dapat keuntungan apapun.

google search console, webmaster,
Ini reportnya masih bisa di-scroll ke bawah lagi. Tetapi, Chi screenshot segini aja, ya


Setiap URL artikel yang diinput untuk menjawab pertanyaan netizen akan direkomendasikan oleh Google. Ketika URL artikel yang diinput kemudian di-track oleh Google, akan terlihat performa statistiknya di fitur Question Hub. Kalau memasukkan URL artikel milik orang lain, tentu teman-teman tidak akan mendapatkan keuntungan apapun. Itulah kenapa wajib mendaftarkan blog di webmaster.

Intinya sih saling menguntungkan timbal balik. Netizen mendapatkan jawaban yang tepat. Publisher bisa mendapatkan tambahan pageview.

Teman-teman bisa mendaftarkan beberapa blog yang dimiliki dalam 1 webmaster. Tetapi, kalau kasusnya kayak Chi di mana punya 2 blog aktif (Keke Naima dan Jalan-Jalan KeNai) dengan email berbeda, maka kalau ingin memasukkan URL artikel di Question Hub harus sesuai dengan email yang didaftarkan. Contohnya kalau mau masukin URL artikel di blog ini, jangan sign in pakai email blog Jalan-Jalan KeNai. Nanti gak bakal dapat report statistiknya.

Jangan coba-coba juga untuk ngakalin. Misalnya ada yang bertanya tentang harga jual candi. Kemudian teman-teman, memberikan URL artikel tentang candi. Tetapi, di dalamnya tidak ada penjelasan tentang harga jual tersebut. Seperti ini juga gak akan di-track oleh Google. Mesin pencarian Google udah canggih.

URL artikel yang kita berikan akan direkomendasikan. Tetapi, Google tidak akan langsung memberitahu kepada netizen kalau pertanyaannya sudah dijawab oleh publisher. Itu karena Google sangat memperhatikan privacy. Gak semua netizen suka kalau ketahuan sedang bertanya. Bisa jadi malah merasa risih ketika dapat notif dan jadinya malah gak mau bertanya lagi.


Dapat Ide untuk Membuat Konten


Teman-teman pernah mendapat kesulitan mencari ide untuk membuat konten? Gak pengen blognya penuh debu karena jarang update. Tetapi, bingung mau nulis apa. Coba deh cari ide di https://questionhub.google.com/add-questions

tips mencari konten

Ada banyak topik yang bisa teman-teman cari yang sudah dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori. Klik salah satu kategori yang diinginkan, kemudian akan ada banyak sub-kategori lagi.

ide konten, google question hub
question hub indonesia

Chi coba klik kategori travel, kemudian memilih Jakarta MRT. Setelah itu klik add dan keluar 10 pertanyaan tentang sub kategori ini. Gak semua kata kunci yang kita cari akan keluar 10 pertanyaan. Bisa aja kurang dari itu atau malah lebih. Bila teman-teman ingin lebih dari 10, bisa klik add more. Setelah itu klik done.

Teman-teman bisa membuat konten dari berbagai pertanyaan tersebut. Bisa juga di-reject bila gak ada yang menarik. Bisa juga kita tandai (starred) dulu. Ya kali aja kontennya belum dibikin. Daripada nanti cari pertanyaan lagi, mendingan ditandai dulu. Setelah kontennya ada, tinggal jawab.

Di screenshot atas, Chi contohkan 2 pertanyaan yang di-check list. Bila Chi sudah memiliki artikel dari pertanyaan tersebut, langsung aja masukin URL. Teman-teman bisa 1 URL untuk beberapa pertanyaan sekaligus.

Kalau teman-teman pernah membuat postingan tentang MRT, tetapi belum di dalamnya belum ada bahasan dari pertanyaan tersebut, tinggal edit postingan aja. Gak harus bikin artikel baru. Setelah selesai di-edit, baru deh input URLnya ke Question Hub.


Mencari ide di sini juga suka bikin Chi ngakak karena pertanyaan netizen banyak yang lucu-lucu. Contohnya ketika mencari ide menulis tentang rambut berantakan. Ternyata yang Chi temukan seperti itu.

Apa Chi akan membuat konten tentang rambut berantakan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut? Enggak, lah. Ya, ini kembali ke keputusan masing-masing sebetulnya. Buat Chi pribadi, meskipun menyenangkan bila blog mendapatkan pageview yang banyak, tetap aja gak mau bikin konten yang gak sreg ma hati.

Tetapi, gak semua pertanyaan di Google Question Hub aneh-aneh, kok. Kayak yang MRT Jakarta itu 'kan juga ada yang serius. Bisa dijadikan ide untuk membuat tulisan dari pertanyaan tersebut.

Gak semua pertanyaan netizen yang belum ada jawabannya bisa ditemukan di sini. Google tetap melakukan filter. Pertanyaan yang terlalu seram atau gak patut, gak akan ditampilkan di sini.

Google Question Hub memang masih versi beta. Tetapi, tetap asik buat diulik. Siapapun bisa menggunakan fitur ini. Tetapi, memang paling cocok untuk blogger daripada media besar.  Alasannya karena media besar biasanya sudah memiliki team SEO sendiri. Mungkin gak perlu cara ini untuk mendapatkan pageview dan posisi page one.

Selain itu, biasanya artikel media besar lebih ke berita terkini, viral, kurang detil, atau click bait. Artikel yang everlasting dan bersifat personal cocoknya dibuat oleh blogger. Perhatiin deh pertanyaan-pertanyaan di Question Hub, kebanyakan personal. Nah, bisa tuh dimanfaatkan oleh blogger.

Saat ini Google Question Hub baru ada di 3 negara yaitu India, Indonesia, dan Nigeria. Disarankan banget menulis artikel menggunakan bahasa masing-masing negara. Banyakin aja konten berbahasa Indonesia biar Google makin senang. Mengapa demikian? Karena jumlah konten dengan Bahasa Indonesia yang spesifik dan detil masih belum sebanyak Bahasa Inggris.

Di India, fitur ini terbilang sukses. Semoga di Indonesia pun demikian. Menariknya adalah di India kebanyakan pria yang berkutat di bidang ini. Sedangkan di Indonesia, perempuan juga banyak. Makanya, selain konten Bahasa Indonesia, topik seputar perempuan juga menarik.

Siapa yang dulu suka memanfaatkan G+ untuk menanam link? Nah, ini katanya bisa juga menggantikan G+. Malah bisa langsung menjawab pertanyaan netizen. Tentu aja harus dengan URL yang relevan. Lumayan 'kan kalau bisa menambah pengunjung organik ke artikel yang teman-teman buat?

Mudah-mudahan cukup jelas ya penjelasan tentang Google Question Hub ini. Semoga para blogger bisa merasakan manfaat fitur ini. Selamat mengulik!

Continue Reading
80 komentar
Share:

Selasa, 03 September 2019

Instagram dan Generasi Milenial

"Ayaaaaahh! Banguuuun! Ke sekolah Keke sekarang! Jemput, pokoknya jemput!"

K'Aie yang lagi asik tidur langsung terbangun melihat istrinya teriak panik. Cuma langsung terbangun aja, abis itu nyantai lagi. 😅

"Ada apa, Bun?"

berkomunikasi dengan remaja, instagram dna generasi mile

Instagram dan Generasi Milenial


Chi langsung kasih lihat IG Keke yang fotonya nol. Ok, kalau itu cuma itu sih biasa. Tetapi, Chi panik saat melihat foto profil IG Keke hanya berwarna hitam. Kemudian captionnya 'Bye, World!'

Duh! Ada apa sih ini?


Prank Pamit?


Setelah anak-anak berangkat ke sekolah, Chi lanjut untuk tidur sekitar 2-3 jam. Kebiasaan tidur lewat tengah malam, kemudian bangun sebelum subuh untuk menyiapkan bekal, membuat Chi merasa perlu melanjutkan tidur lagi. K'Aie pun punya kebiasaan yang sama. Kecuali, kalau ada kegiatan pagi. Tentunya gak bisa lanjut tidur lagi.

Chi bangun setelah alarm di hp berbunyi. Setelah itu, sekalian aja cek beberapa media sosial. Ketika Chi buka IG, melihat akun Keke seperti itu. Langsung kaget, lah.

Apa Keke ikutan nge-prank pamit gara-gara ulah seleb YouTuber itu?

Chi langsung berpikiran ke arah sana. Tetapi, rasanya gak mungkin. Selama ini, Keke bukan anak yang mudah ikut-ikutan apapun yang sedang viral.

Ya gini deh kalau jadi orang panikan. Apalagi kalau urusannya ma anak, Chi mudah banget khawatir. Keke juga akhir-akhir ini lagi agak diam seperti sedang kesal.

Sebetulnya bukan sesuatu yang aneh, mengingat mood remaja 'kan masih suka gampang naik turun. Tapi, tetap aja bikin Chi khawatir.  Sampe Chi takut kalau Keke itu depresi.

Sempet ngomong ke diri sendiri kalau itu gak mungkin. Paling hanya darah muda anak remaja yang lagi bergejolak. Gak tau karena apa. Tetapi, mengingat depresi juga bisa jadi semacam silent killer 'kan bikin Chi makin panik. Keke juga baru masuk SMA. Belum tau pasti pergaulan SMA, khususnya di sekolahnya, seperti apa meskipun kelihatan lingkungannya baik.

Chi langsung WA ke Keke untuk tanya dia ada di mana. Ditunggu sekian menit cuma centang satu. Tambahlah panik karena jarang banget Keke cuma centang satu di WA. Meskipun kalau balasnya sih belum tentu langsung.

Karena gak juga centang dua, Chi pun semakin panik. K'Aie yang lagi tidur langsung Chi bangunin. Minta jemput Keke ke sekolah.

"Udah lah, Bun. Gak akan ada apa-apa. Mungkin dia lagi cari perhatian atau apa gitu."
"Iya kalau gak ada apa-apa. Kalau depresi, trus ... trus ... Ya gitu, deh!"
"Trus, Ayah harus bilang apa ke sekolah?"
"Bilang apa aja, kek! Pokoknya jemput Keke sekarang juga! Tapi, sudahlah kalau gak mau. Bunda aja yang jemput!"

Saat itu, Chi gregetaaaan banget sama K'Aie. Udah disemprot masih aja berusaha tenang. Sementara Chi makin panik.

Segera Chi ganti baju. Gak pakai mandi, cuci muka aja. Ganti baju dan dandan seadanya. Begitu Chi siap berangkat, ada WA masuk. Ternyata dari Keke.

"Ada apa, Bun? Keke di sekolah."

Saat itu juga Chi langsung tanya kenapa IGnya seperti itu. Chi jelasin juga kalau merasa sangat khawatir. Tapi, Keke bilang gak ada apa-apa. Dia janji akan jelasin di rumah.

"Jadi, Bunda jemput jangan?"
"Gak usahlah."
"Bener, ya. Tapi, jangan macam-macam!"
"Iya."

[Silakan baca: Berkomunikasi dengan Remaja - Pokoknya Gitu!]


Instagram di Mata Generasi Milenial


Seperti janji Keke, sepulang sekolah dia cerita tentang akunnya. Tetapi, Chi merasa kurang puas karena hanya sebentar. Ya begitulah kalau ngobrol ma anak-anak. Kadang-kadang harus tarik ulur. Chi baru enak ngobrol ma Keke beberapa hari kemudian setelah kejadian panik itu.

Katanya, dia gak suka kalau akunnya difollow ma orang yang gak dikenal. Kalau ini, Chi udah tau. Sejak pertama kali punya akun IG, Keke sangat selektif untuk urusan follow dan difollow. Dulu, akunnya dikunci. Beberapa kali dia dibully, dianggap sombong karena gak juga approved dan folback.

Keke baru buka akunnya karena dia pengen ikutan giveaway. Dia mengincar hadiah di giveaway itu. Chi lupa hadiah apa. Pokoknya saat itu Chi menyarankan kalau mau ikut giveaway, akunnya harus setting public. Biasanya persyaratan giveaway seperti itu. Kalau Keke gak keberatan dengan itu, ya silakan.

Setelah diizinkan ikut, Keke pun membuka akunnya. Untuk beberapa lama, akun Keke gak digembok. Kayaknya lama-kelamaan dia makin jengah karena followernya bertambah dari orang gak dikenal. Makanya dia bikin IGnya kayak gitu.

"Ya, kalau memang itu alasannya, kenapa gak dikunci lagi aja kayak dulu?"
"Dikunci tuh capek, Bun."
"Kenapa? Males ya kalau ada yang maksa-maksa apalagi sampai nge-bully?"
"Jadi banyak yang nge-DM kalau dikunci."
"Lha, emangnya kalau dibikin kayak gitu gak bakal ada yang nge-DM?"
"Ada, tapi gak sebanyak kalau dikunci. Trus, kalau gak Keke follback juga biasanya gak lama di-unfoll. Mungkin karena mikirnya Keke memang beneran gak ada."
"Errrgggh! Ya kalau memang bener begitu, ngomong dong sama Bunda! Udah tau Bunda gampang panik. Jangan gitu lagi!"
"Iya."

Mumpung obrolan lagi berjalan lancar. Chi jadi tertarik banget ngebahas tentang Instagram bersama Keke dan Nai. Penasaran aja, bagi mereka itu media sosial seperti apa, khususnya IG.


Follow, Folback, dan Unfollow

Berbeda dengan Keke yang merasa kesel kalau difollow orang gak dikenal, Nai sebaliknya. Sejak dulu akunnya selalu dibuka. Gak pernah dikunci. Bagi Nai, gak masalah ada yang follow dia asalkan jangan maksa minta follback. Dia pun hanya follow akun yan diinginkan.

Keke itu punya 2 akun IG. Satu akun pribadi, satunya lagi akun tentang motor. Dia dan beberapa temannya yang punya hobi motret motor bagus bikin akun bersama. Dalam waktu sekejap, follower akunnya banyak.

Chi pernah nanya apa Keke beli follower melihat pertambahan yang pesat begitu. Belum lagi setiap foto yang diupload selalu menuai banyak like dan komen.

"Hahaha! Keke punya uang dari mana buat beli follower, Buuuun! 'Kan, Keke gak dikasih uang jajan."
"Ya abisnya cakep bener akun motor Keke."
"Ya itu sih gimana kita bikin foto, caption, dan hashtag. Semua harus pas."

Ugh! Sebuah saran yang kelihatan sederhana. Tetapi, prakteknya susah huahahaha! Chi pernah tawarin Keke untuk mengelola akun IG bundanya, tapi dia menolak. Padahal Chi tawarin upah, lho. Kayaknya karena beda segmen 😅

Kalau untuk akun otomotif, Keke memang tidak membatasi follower. Sayang aja karena kesibukan sekolah masing-masing, udah lumayan lama akun itu vakum.


Tone IG, Yay or Nay?

Keke itu lumayan rajin upload foto di IG daripada Nai. Tetapi, gak sesering bundanya hehehe. Meskipun begitu, jumlah foto di IG feed dia paling cuma 3 atau 5.

Alasannya adalah tone. Keke peduli banget dengan tone IG. Menurut dia, tone di IG wajib bagus. Tetapi, Chi kurang menggali seperti apa tone yang bagus versi Keke. Chi lihat dia gak pernah edit foto pakai filter macam-macam. Ya seadanya aja yang penting fotonya gak blur. Chi keburu mau jalan ke Bandung, makanya bahasan tentang tone ini agak ngegantung.

Foto-foto yang udah di-upload, gak dihapus. Tetapi, dimasukkan ke archieve. Bisa aja suatu saat dia tampilkan lagi di feed kalau sesuai dengan tone. Tebakan Chi, kayaknya tone versi dia itu yang fotonya senada.

Sedangkan Nai gak peduli dengan tone. Sama lah kayak tentang follower. Dia gak mau ambil pusing. Gak pernah juga dia hapus atau archieve foto-foto yang udah di-upload. Tetapi, dia memang jarang banget upload foto. Buka IG tiap hari cuma buat nge-like beberapa foto/video yang dia suka.

[Silakan baca: Berkomunikasi dengan Remaja - Ibu vs Google]

Chi inget waktu Keke baru selesai sekolah balap motor. Ada temannya yang bilang ngapain juga sekolah balap mahal-mahal. Mendingan uangnya dibeliin barang-barang hype supaya bisa eksis di Instagram. Tetapi, gak semua anak generasi milenial seperti itu. Gak bisa digeneralisir juga.

"Tergantung niatannya, Bun. Buat yang niatannya pengen bisa endorse macam-macam dan dibayar, kayaknya follower memang penting. Keke 'kan enggak ke situ niatnya."

Begitulah kata Keke. Gak ada yang bener maupun salah. Kalau memang tetap ingin menjadikan media sosial sebagai ruang pribadi seperti pilihan Keke dan Nai, silakan aja. Begitupun ketika ingin jadi influencer. Bagus malah ya kalau masih muda sudah menghasilkan karya kemudian dibayar.

Hanya pastikan aja untuk terus belajar. Jangan sekadar bikin konten yang penting viral. Kayaknya lebih sedikit nih yang bikin konten berkualitas dari generasi milenial. Masih banyak yang asal ngejar follower, melakukan panjat sosial, dan berbuat apapun asal bisa viral.

[Silakan baca: Begini Cara Berkomunikasi dengan Remaja

Kalau menurut peraturan, usia minimal memiliki media sosial adalah 13 tahun. Berarti Keke dan Nai sudah dibolehkan membuat akun karena usianya sudah sesuai. Tetapi, bukan berarti Chi lepas tangan, lho.

Kedewasaan seringkali gak berjalan seiring dengan bertambahnya usia. Makanya, gak heran di media sosial pun banyak yang sudah dewasa, tetapi melakukan sesuatu yang gak patut. 

Tentu aja, Chi gak akan terus-menerus mengawasi akun mereka dengan ketat. Sedikit demi sedikit harus dilepas dan biarkan juga mereka belajar bertanggung jawab. Harapannya, tentu aja Chi pengen mereka bisa memanfaatkan media sosial dengan baik.

Continue Reading
27 komentar
Share: