Senin, 31 Agustus 2015

Utees.me untuk Netizen yang Kreatif


Selasa, 25 Agustus 2015, bertempat di Lounge XXI - Plaza Senayan, Chi bersama beberapa teman blogger datang ke acara grand launching www.utees.me.

Apa itu uteesme (baca: yutismi)?



 


 
Simpelnya sih seperti tulisan di atas, yaitu Social Media + T-shirt =Utees.me. Zaman sekarang ini bisa dibilang sebagai netizen yang gandrung dengan social media. Chi cukup yakin buat kita yang memiliki handphone, minimal ada 1 aplikasi social media yang diinstall. Ketika buka pc atau laptop juga minimal ada 1 social media yang kita lihat.

Chi juga cukup yakin kalau banyak orang Indonesia yang kreatif. Cuma ya itu, kadang saking kreatifnya gak tau batasan. Contohnya di jalan-jalan, sering melihat coretan yang gak pada tempatnya. Misalnya di tembok rumah orang, pohon, batu, foto orang lain, dan lain sebagainya. Kalau di dunia maya banyak beredar meme yang gak pantas. Entah bermaksud untuk membully atau sekedar lucu-lucuan tapi salah kaprah.

Nah, Utees.me bisa menggabungkan keduanya tapi tentu dalam hal positif, dong. Kalau teman-teman punya ide gambar atau tulisan yang kreatif, karyanya bisa dituangkan ke dalam bentuk kaos. Utees.me adalah sebuah platform social media seperti instagram. Teman-teman bisa tuangkan ide-ide kreatifnya di sana lalu diupload. Kemudian kita bisa mem-print hasil karya tersebut dalam bentuk kaos. Dan gak ada minimum quantity alias cuma mesen 1 t-shirt aja juga boleh.

Tapi kalau hanya ingin sekedar share karya juga gak apa-apa. Siapa tau karya teman-teman banyak peminatnya dan membelinya dalam bentuk kaos. *Yup! Karya kita pun bisa diperjualbelikan. Dan, setiap ada yang membeli karya teman-teman, maka akan mendapatkan royalti $1.1 per t-shirt* Atau kita juga bisa memberi tanda suka terhadap karya tertentu. Mirip-mirip kayak di instagram, lah.

 

Kenapa Harus T-Shirt?


Amrit Gurbani, CEO Utees.me

T-Shirt itu universal. Chi pun menyukai t-shirt. Walopun sekarang selera t-shirtnya beda. Kalau dulu suka t-shirt perempuan yang ketat dan pendek. Sekarang lebih suka t-shirt reguler dan ukuran yang lebih besar dari badan. Di Utees.me itu cukup lengkap. Dari mulai t-shirt regular, female, hingga anak. Size dan warnanya juga banyak. Ke depannya akan dilengkapi dengan t-shirt lengan panjang, hingga t-shirt untuk pet! *lucunyaaaa :L* Bahannya juga enak dipakai. Adem dan gak berbulu.

Oiya balik lagi ke pertanyaan kenapa harus t-shirt? Selain universal, t-shirt juga bisa memberikan keceriaan bahkan untuk kita yang melihat orang menggunakan t-shirt. Amrit Gurbani, CEO Utees.me, menjabarkannya dengan kocak. Menurutnya kalau orang melihat dia berpenampilan formil dengan dia berpenampilan sekarang yang pake t-shirt pasti tanggapannya bisa beda. Apalagi kalau kemudian melihat tulisan di t-shirt. Penilaian orang bisa beda hanya dari apa yang dikenakan. Iya sih, Chi juga kayaknya itu kelihatannya happy atau paling gak lebih santai, lah. Apalagi kalau ada tulisan atau gambar lucu di t-shirtnya.


Your T-Shirt Playground


Ini adalah akun uteesme Chi dan Nai (follow Naisidea, ya :D). Baru ada 1 karya. Nanti lah ditambah lagi. Insya Allah :)


Ketika buka web utees.me ada tagline Your T-Shirt Playground. Yup! ketika pertama kali cobain berkreasi di utees.me langsung bikin Chi ketagihan. Walopun baru 1 yang diupload, tapi sebetulnya ada ide lainnya yang masih diproses.

Gak cuma Chi, Nai juga langsung kesenengan begitu dikenalin utees.me. Dia langsung ambil kertas untuk coret-coret berbagai ide. Nai memang suka berkreasi, salah satunya menggambar. Jadi utees.me itu seperti wadah baru baginya. Gambarnya belum jadi sampe sekarang. Tapi memang jangan coba-coba menyuruhnya cepat-cepat, malah bisa hilang nanti moodnya hahaha.

 
Ini karya yang Chi upload disana. Sebuah curahan hati yang sedang butuh me time wkwkwk. Sekarang kaos ini sedang dalam proses cetak. Gak sabar nih nunggu hasil jadinya :)


Itulah kenapa Chi buka akun disana dengan nama Naisidea. Sebetulnya lebih untuk menampung hasil karya Nai. Sebagai salah satu wadah positif dia untuk berkarya. Walopun gak menutup kemungkinan Chi juga akan share karya di sana. Naisidea sebetulnya berasal dari Nai's Idea yang kemudian disambung. Tapi bisa juga diplesetkan jadi nice idea :)

Nai memangcoret-coret dulu di kertas trus mau dia scan kalau udah oke. Tapi sebetulnya ngedesign di uteesme juga gak perlu seribet itu, kok. Teman-teman yang gaptek photoshop atau gak bisa gambar sekalipun tetep bisa ngedisain kaos di sana. Karena di Uteesme udah banyak sekali dikasih pilihan gambar hingga font. Tinggal klak-klik aja.


Pioneer User Utees.me


 
Saat grand launching hadir beberapa public figure sebagai pioneer user Utees.me. Mereka adalah Ariyo Wahab, Rinni Wulandari, Billy Davidson, Tiara Westlake, Tatjana Saphira, Ridho Hafiedz, Dian Sastrowardoyo. Tapi di acara tersebut, Dian Satrowardoyo tidak hadir.


Teman-teman bisa lihat hasil karya para pioner user tersebut di akun Utees.me mereka. Masing-masing punya ciri khas. Seperti Ridho, design kaosnya banyak berhubungan dengan musik. Ariyo wahab walopun juga seorang penyanyi, tapi karyanya banyak quote romantis. Bahkan kata-kata di kaos yang dikenakannya pada saat itu adalah sepenggal lirik yang dibuatnya untuk istrinya *ihiiiyyy*. Ya pokoknya masing-masing pioneer user punya ciri khas masing-masing dalam karya kaosnya.

Teman-teman juga bisa bikin ciri khas untuk karyanya nanti. Atau campur-aduk juga boleh. Kalau Chi belum tau Naiside bakal ada ciri khas atau enggak. Pokoknya sekarang teman-teman bikin akun dulu aja di sana. Nanti kita saling follow, ya :)

Oiya, siapa pun bisa bikin akun ini. Gak cuma untuk yang tinggal di Indonesia aja. Di luar negeri pun bisa. Mengirim ke luar negeri pun bisa. Dan untuk yang tinggal di Indonesia ada free ongkir, lho :)

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Jumat, 28 Agustus 2015

Keke Mulai Bersepeda ke Sekolah

bersepeda ke sekolah

Mulai tahun ajaran ini, Keke mengendarai sepeda ke sekolah. Butuh waktu 1 tahun baginya supaya dikasih izin mengendarai sepeda. Izin dari Bunda yang paling alot. Kalau dariayahnya sih langsung dikasih izin.

Keke: "Bunda, kapan Keke dibolehin naik sepeda ke sekolah."
Bunda: "Iya, nanti."
Keke: "Nantinya itu kapan, Bun?"
Bunda: "Keke latihan dulu aja sama ayah."
Keke: "Latihan apa? Keke kan udah bisa naik sepeda, Bun."
Bunda: "Ya tapi kan selama ini cuma di komplek. Kalau ke jalan raya belum pernah, kan? Makanya harus didampingi ayah dulu. Biar ayah menilai, Keke udah bisa dilepas atau belum"
Keke: "Ya tapi kapan latihan sama ayahnya, Bun?"

Kapan latihan sama ayah? Itu yang gak pernah bisa dijawab dengan pasti. Karena waktunya gak ada. Tiap wiken nginep melulu ke rumah kakek-nenek Keke dan Nai. Dalam hati sih Chi senang dengan penundaan ini karena memang khawatir banget.

Selama ini kan Keke juga Nai sepedaan di komplek aja. Belum pernah ke jalan besar. Itu pun Chi masih suka ada rasa khawatir. Yang paling Chi khawatirin adalah pengendara motor. Di sini tuh banyak pengendara motor di bawah umur. Udah suka ngebut, gak pake helm, trus satu motor bisa lebih dari 2 orang. Ngeselin lah ngelihatnya.

Kemudian saat ramadhan lalu kami sekeluarga menginap di rumah kakek dan nenek anak-anak. Biasanya kalau buka puasa kita suka pengen makan atau minum yang manis atau gurih kan, ya? Intinya kalau bulan puasa itu jajannya lebih banyak. Cuma masalahnya, kalau di sana belinya gimana?

Yang jualan sih banyak tapi harus ke pasar atau di sepanjang jalan raya. Chi males banget keluar rumah saat itu. K'Aie pun nyaranin supaya Keke aja yang beli pake sepeda. Chi awalnya keberatan tapi Keke bilang berani. Ya sudah lah sesekali di coba. Tentu dengan sederet wanti-wanti Chi berikan ke Keke

Sebetulnya bulan Ramadhan itu bukan pertama kalinya Keke naik sepeda di jalan raya. Kalau lagi di Bandung dia juga beberapa kali main sepeda. Tapi biasanya main di car free day. Lokaisnya pun gak terlalu jauh dari rumah.

Dan ketika ramadhan lalu untuk pertama kalinya Keke dimintain tolong beli martabak juga es kelapa, dia baru sampe rumah hampir pukul 18.30 wib! Wuiiihhh Chi deg-degannya minta ampun. Chi pikir kalau sampe setengah tujuh belum datang juga mau dicari. Walopun gak tau mau cari kemana karena areanya kan luas. Yang jual martabak sama es kelapa juga banyak. Tersebar di beberapa tempat. Mana bulan puasa, kasihan kalau Keke belum buka puasa

Akhirnya, sampe juga di rumah. Langsung Chi samperin dengan pertanyaan. Katanya yang beli martabak sama es kelapa rame banget. Sedangkan tempat jualnya kan terpisah. Tapi Keke udah buka puasa sih. Dikasih segelas es kelapa muda gratis sama abangnya. *Terima kasih banyak udah kasih Keke segelas air kelapa. Semoga berkah buat penjualnya. Aamiin :)*

Kejadian itu gak bikin kapok. Sedikit merubah strategi aja. Yang pertama dia datengin adalah penjual es kelapa karena paling dekat. Pesan dulu, abis itu dia tinggal menuju tukang martabak. Setelah martabak jadi, Keke balik ke tukang es kelapa buat ambil orderannya. Kalau kayak gini biasanya 15 menit sebelum adzan maghrib udah sampe rumah :)

Memasuki tahun ajaran baru, Keke mulai menagih lagi keinginannya bersepeda di sekolah. Apalagi selama ramadhan kan dia udah sering dimintain tolong beli camilan. Artinya dia udah bisa bersepeda di jalan raya. Ya udahlah Chi kasih dengan syarat harus hati-hati dan pakai helm. Dan jangan lupa sepeda dikunci kalau di sekolah.

Hari pertama Keke bersepeda ke sekolah, Chi minta dia berangkat lebih awal dari biasanya. Khawatir telat karena di pikiran Chi kan sepeda gak secepat mobil atau motor. Keke nurut aja karena seneng udah diijinin. Eh, pas siangnya dia cerita kalau datang sekolah kepagian. Chi lupa kalau pake sepeda itu kan dia bisa potong jalan. Lewat perumahan lain yang kemungkinan lebih aman karena jarang ketemu jalan besar. Karena motong jalan pula jadinya sampe sekolah pun cepat. Besoknya hingga sekarang, Keke berangkat ke sekolah gak pagi amat hehehe.

Nai juga minta dibolehin bersepeda ke sekolah. Tapi Chi belum ngijinin. Masih terlalu kecil kalau melewati jalan raya. Tapi dia juga sekarang seneng aja, sih karena bisa ke sekolah naik motor. Katanya kalau naik motor lebih enak daripada naik mobil. Kena angin kalau naik motor hehehe. jadi, walopun Keke dan Nai bersekolah di sekolah yang sama, sekarang mereka berangkat dan pulangnya masing-masing. Keke pulang dan pergi bersepeda. Nai berangkat pakai motor, pulang pakai mobil :)

Berikut ada beberapa tip ala KeNai ketika mulai mengizinkan anak bersepeda ke sekolah:

  1. Pastikan anak sudah bisa bersepeda *ya iya, laaahhh :D*
  2. Pastikan anak mempunyai sensor kepekaan yang tinggi ketika berada di jalan. - Chi pernah datang ke acara parenting (baca: Parenthood Style di Era Digital) dimana anak-anak sekarang itu kurang peka. Normalnya ketika berada di jalanan, ada suara kendaraan di belakang kita reflek nengok tanpa perlu diklaksonin dulu. Nah, anak-anak sekarang tuh banyak yang gak begitu. Malah kadang kalau mereka benerin tali sepatu, bisa aja mendadak duduk rada ke tengah jalan. Atau sering juga kita melihat, seseorang asik gadgetan nyaris di tengah jalanan. Nah, itu salah satu penyebabnya adalah kecanduan gadget. Boleh aja sih gadgetan, tapi kepekaan ini harus terus dilatih dengan cara sering mengajak anak-anak ke luar rumah.
  3. Pastikan anak bisa menyeberang jalan sendiri. Karena ketika bersepeda ke sekolah Keke akan beberapa kali menyeberang jalan. Kalau dia gak bisa melakukan sendiri itu akan sangat merepotkan. Naima belum bisa, makanya Chi belum kasih ijin.
  4. Pastikan kalau anaknya mau disiplin dan gak teledor. Jaket dan helm jelas harus dipake setiap kali mau ke sekolah. Keke pernah tanya kenapa harus pakai helm. Tentu aja Chi ingetin lagi tentang keselamatan. Kemudian dia harus memilih tetap bersepeda denga kewajiban memakai helm atau gak usah sepedaan sama sekali. Gak ada kompromi, ya. *walopun pernah ada satu hari kelupaan karena terburu-buru :)* Keke juga jangan sampai lalai dengan tidak mengunci sepedanya ketika di sekolah. Namanya juga jaga-jaga.

    Di sekolah anak-anak yang bersepeda cuma sedikit. Paling gak sampe 5 orang. Bagusnya bersepeda ke sekolah itu sama aja dengan berolahraga. Lumayan lah sekitar 15 menit sepedaan, pulangnya 15 menit lagi. Kena sinar matahari. Insya Allah kalau rajin olahraga begini, badan pun jadi sehat. Aamiin :)

    Continue Reading
    Tidak ada komentar
    Share:

    Selasa, 25 Agustus 2015

    Happy Fresh Yang Bikin Happy

    happy fresh

    Malas kayaknya masih menempel di nama tengah Chi, nih. Malas ke pasar, malas masak, malas beberes, dan lain wkwkwk. Tapi kalau lagi rajin ya rajin. Walopun kadang-kadang aja :p

    Itulah kenapa Chi suka banget sama yang praktis. Kalau ada yang bisa bantuin kita kenapa enggak. Apalagi di rumah kan gak ada asisten, jadi gimana caranya bisa ada yang bantuin salah satunya belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Belanja kebutuhan bulanan juga bisa, sih.
     
     

    Apa Itu Happy Fresh?

     
    Belanja jadi lebih mudah dan praktis dengan aplikasi Happy Fresh

    Teman-teman pernah tau aplikasi Happy Fresh?

    Happy Fresh adalah aplikasi yang akan membantu kita untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebetulnya gak beda sama toko online lainnya, sih. Cuma bedanya item yang dijual di Happy Fresh itu layaknya kita pergi ke supermarket.

    Supermarket yang ada di Happy Fresh adalah Ranch Market dan Farmer. Chi sih seneng aja dengan kedua supermarket ini. Kalau beli daging, terutama steak selalu beli disini atau di toko khusus daging. Pilihan daging steaknya banyak dan berkualitas.
     

    Pengalaman Belanja di Happy Fresh

    Gak bingung belanjanya kalau udah dikelompokin begini


    Setelah install aplikasi, Chi langsung klik store. Nah, disini tuh ada 2 pilihan:

    1. Pilih lokasi berdasarkan posisi kita sekarang
    2. Pilih lokasi berdasarkan posisi nanti

    Jadi gini, kalau Chi memilih pilihan pertama, nanti akan kita akan dikasih tau supermarket mana aja yang deket dengan lokasi kita. Silakan pilih deh mau belanja di supermarket mana. Tapi kalau di tempat Chi ini cuma ada 1 pilihan. Ada 1 Farmer Market di deket rumah.

    Nah, enaknya belanja di Happy Fresh ini, kita bisa belanja sekarang tapi diantarnya nanti. Maksimal sampai 7 hari ke depan. Misalnya, nih beberapa hari ke depan Chi berencana nginep di rumah mertua. Dan Chi pengen belanjaan Happy Fresh sampai di rumah mertua saat Chi lagi di sana.

    Caranya gampang yaitu pake cara no,2 untuk lokasi. Jadi Chi pilih lokasi yang dekat rumah mertua. Pilih item yang mau dibeli setelah itu tentukan hari dan jam barang tersebut akan diantar.

    Hari dan tanggal yang bisa dipilih sampai 1 minggu ke depan. Yang udah dicoret itu artinya udah full.


    Yup! Bener banget, selain memilih hari kita juga bisa memilih jam. Jadi gak tunggu-tungguan gitu. Waktu itu Chi minta diantar atara pukul 5-6 sore di hari Sabtu dengan tanggal yang juga udah ditentukan. Asik, kan? Jaid Chi bisa boci alias bobo ciang dulu wkwkwk.

    Tepat Waktu, Ramah, dan Packaging yang Oke


    Pukul 5 sore orderan Chi pun datang. Yup! Tepat waktu datangnya. Mas-nya *Chi lupa nanya namanya. Maaf, ya* mengantarkan barang dengan ramah. Chi suka banget deh sama kantong belanjaannya karena gak pake kresek. Jadinya ramah lingkungan.

    Mau tau apa aja yang Chi pesan?


    1. 200 gr daging cincang, karena Nai pengen cobain bikin homemade burger
    2. Jalapeno – Chi penasaran sama rasa pedas cabe ini karena katanya termasuk dari 10 cabe terpedas di dunia. Walaupun belum tau dimasak apa nanti
    3. Cranberry sauce – Ini juga Chi belum tau mau dimasak apa. Tapi kalau lihat acara masterchef Australia atau lihat resep dari luar suka ada aja yang bikin steak dengan cranberry sauce. Chi jaid penasaran sama rasanya, makanya beli saus ini hehe
    4. BBQ Sauce – Sebetulnya kami sekeluarga suka banget Kraft BBQ Sauce. Dan selama ini kami baru lihat adanya di Farmer market. Sayangnya di Happy Fresh belum ada, mungkin lagi out of stock. Jadi Chi coba beli saus BBQ merk lain. Semoga sama enaknya.

    happy fresh

    Begitu barangnya datang, Chi langsung cek kesegaran daging cincang dan jalapeno. Yup! Masih segar dimasukkan ke dalam plastik. Lalu dikasih plastik lagi yang diisi es batu. Kemudian Chi cek tanggal kadaluarsa Cranberry sauce dan BBQ sauce. Masih lama tanggal kadaluarsanya. Bagus, lah berarti memang yang diberikan kepada pelanggan adalah barang berkualitas.

    happy fresh
    Terima kasih sudah megantarkan barang belanjaan dalam keadaan baik, ya.
     

    Biaya Delivery


    Kalau lihat screenshot di atas bagaimana ongkos deliverynya menurut teman-teman? Kalau Chi sih oke aja. Karena kalau keluar kan harus biaya bensin, belum lagi sampe supermarket mampir dulu buat makan siang :D

    Lagian untuk 1 bulan pertama, kita masih dapet free delivery. Kayak Chi, itu gak ada biaya order sama sekali. Atau mau menguntungkan lagi? Masukin kode referral yang ada di foto bagian bawah ini, ya. Kalau teman-teman masukin kode referral tersebut, Chi akan mendapatkan voucher belanja Rp100.000,00 per teman yang menggunakan kode tersebut. Dan, teman-teman akan mendapatkan 1 month free delivery. Tapi gak usah khawatir, teman-teman juga akan punya kode referral kalau install aplikasinya. Dan, semakin banyak yang menggunakan kode referral teman-teman maka akan semakin banyak voucher yang bisa dibelanjakan :)

    happy fresh
    Jangan lupa masukin kode 2C4ty biar belanjanya semakin happy

    Untuk teman-teman yang sibuk, gak sempet belanja, aplikasi ini juga bantu banget. Misalnya dari kantor kita tinggal pilih mau belanja apa aja trus minta dikirim kapan. Enak banget kan ya kalau sampe rumah udah ada barang belanjaannya dan kita tinggal masak. Yang penting install dulu aplikasinya. Di Android dan iOS aplikasi ini udah ada :)

    Mau belanja harian silakan. Sekalian belanja bulanan juga bisa. Yang penting Happy shopping! ^_^

    Continue Reading
    Tidak ada komentar
    Share:

    Minggu, 23 Agustus 2015

    5 Aktivitas Bersama Anak Saat Mati Lampu di Malam Hari

    Di rumah lagi mati lampu. Gampaaannngg... Tinggal ke toko, beli lampu baru trus sampe rumah ganti lampu yang mati, deh hehehe. Canda, ding. Mati lampu yang Chi maksud tentunya mati listrik dari PLN. Kalau padamnya di siang hari kayaknya gak terlalu bermasalah, ya. Tapi kalau malam hari itu lebih ribet.

    Lebih ribet karena masih ada anak-anak. Kalau udah gede mati lampu di malam hari sih gampang, lah. Tinggal tidur aja. Siapa tau pas kita tidur listriknya nyala. Nah, kalau anak kecil kan gak bisa begitu.

    Mati listril di malam hari itu bikin gerah. Tapi sekarang mereka udah bisa nahan kalau kegerahan. Paling tidur di ruang keluarga yang tanpa AC pun adem. Cuma ya itu gak tahan sama nyamuknya. Gak tau ya kayaknya kalau lagi mati listrik nyamuk tuh langsung nyerbu walopun ruangan udah disemprot. Kayaknya nyamuk seneng suasana gelap.

    Untuk meminimalkan kerewelan Keke dan Nai saat listrik padam, Chi punya 5 aktivitas yang bisa dilakukan:


    1. Keluar Rumah Main Senter


    Untungnya rumah ada didalam komplek dan bukan di jalan utama jadinya cenderung sepi. Kalau listrik lagi padam, keluar rumah bawa senter. Aktivitas yang dilakukan bisa main ke taman trus senter disorot ke rumput. Siapa tau nemuin kodok. Atau main lari-larian sambil masing-masing pegang senter.


    2. Bermain Bayangan Tangan


    Bermain bayangan tangan juga bisa bikin anak seneng kalau lagi mati lampu. Kayaknya udah banyak tau cara bermain bayangan tangan, ya. Nanti anak-anak diminta menebak bentuk apa yang dibikin. Atau sesekali mereka yang minta kita untuk nebak. Biarkan aja mereka berimajinasi. Itu bakal seru buat mereka. :)


    3. Nongkrong di Mini Market


    Ngacir ke minimarket buat makan camilan, minum kopi sambil ngeliatin mobil di pom bensin dan juga ngobrol-ngobrol menunggu listrik nyala kembali. Teman-teman pernah melakukan ini ketika lagi listrik padam?

    Karena mati lampu lumayan lama dan lagi males beraktivitas di rumah, Chi mengajak anak-anak keluar. Gak jauh, kok. Cuma di sekitaran rumah. Kebetulan pom bensin dekat rumah gak ikutan padam listrik. Dan di sana ada minimarket dimana kita bisa duduk-duduk buat sekedar makan camilan dan minum.

    Ya udah, Chi dan anak-anak beli beberapa camilan, yaitu roti sama keripik. Trus minumnya kopi sama air mineral. Baru balik setelah nelpon ke rumah yang katanya listrik udah nyala. Lumayaaann ngademnya walopun gak gratis :p Eh, efeknya anak-anak malah sekarang kesenengan kalau mati lampu. Eyaampuuuunnnn... hihihi...



    4. Lomba Makan Kerupuk


    Tau dong lomba makan kerupuk? Yang sering diadakan di saat agustusan? Nah, kami pernah melakukannya saat mati lampu di malam hari. Seru banget karena kalau mati lampu malam kan gelap. Jadi bener-bener mengira-ngira kerupuknya hihihi [Postingannya bisa dibaca di "Lomba Makan Kerupuk"]


    5.  Main Gadget Sampe Listrik Nyala


    Selama powerbank penuh dan kuota internet di handphone masih kenceng, mending main gadget ajah hehehe.. Enggak, ding. Cara yang kelima sebaiknya jangan dilakukan, ya. Apalagi kalau berlama-lama. Bisa bikin rusak mata. Jadi sebaiknya ketika mati listrik di malam hari, cari aja kegiatan yang bikin anak gak rewel.

    Kalau udah beraktivitas trus anak-anak ngantuk tapi rewel karena kepanasan dan banyak nyamuk, kayaknya udah jadi resiko orang tua untuk begadang. Ngipasin mereka hahaha. Makanya kalau lagi mati listri malam hari, Chi suka minta K'Aie pulang lebih cepat. Jaga-jaga kalau padamnya lama, jadi ada yang nemenin nyenengin anak. :D

    Teman-teman punya aktivitas juga bersama anak saat lagi mati lampu, gak? Berbagi cerita yuk di sini :)

    Continue Reading
    Tidak ada komentar
    Share:

    Jumat, 21 Agustus 2015

    Tips Agar ASI Lancar

    Makan sayur daun katuk... Makan ini... Makan itu... Minum ini... Minum itu... Pernahkah teman-teman yang ketika hamil dan menyusui disarankan mengkonsumsi segala macam supaya ASI lancar? Kalau Chi belum pernah. Gak ada satupun yang menyarankan harus mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu supaya ASI lancar. Dokter kandungan juga tidak melarang Chi makan makanan tertentu. Terserah mau makan apa asalkan makanan bergizi dan sehat.

    Ketika hamil anak pertama bahkan anak kedua, Chi banyak mengandalkan info dari berbagai majalah atau tabloid tentang ibu dan anak selain dari orang tua dan lingkungan terdekat lainnya. Dulu Chi belum jadi warga netizen. Belum gaul di dunia maya hehehe.

    Suatu hari saat Chi lagi hamil 4 bulan, tante Chi yang biasa dipanggil Bi Nta tanya begini...

    Bi Nta: "Teh, kalau mandi putingnya suka dibersihin, gak?" *Bi Nta biasa manggil Chi itu Teteh*
    Chi: "Ya, paling pas mandi aja."
    Bi Nta: "Pake baby oil?"
    Chi: "Enggak, sih. Cuma dibersihin biasa aja. Ya gimana kalau kita mandi, lah. Kenapa memangnya, Bi?"

    Bi Nta lalu menjelaskan kalau ibu hamil apabila putingnya diperhatiin lebih dekat, akan terlihat ada bercak putih seperti kerak. Kerak-kerak tersebut menutupi jalannya pori-pori. Kalau terlalu menyumbat bisa mengakibatkan ASI susah keluar.

    Bi Nta juga cerita kalau punya teman yang pernah dibersihkan putingnya saat hamil. Ketika lahir ASInya susah keluar. Setelah diperhatiin ternyata tersumbat dan keraknya udah agak tebal. Dibersihinnya sakit, pas menyusi juga sakit saat diawal.

    Memang bener kata Bi Nta, kalau diperhatiin ada kerak-kerak gitu. Bahkan ada sedikit yang sudah berbulir sangat halus yang menutupi jalan lahir. Untuk membersihkannya gak susah, kok. Ini ada tip agar ASI lancar dari bi Nta yang udah Chi praktekin

    1. Siapkan perlengkapan perawatan (misalnya wash lap atau handuk kecil dan baby oil)
    2. Baskom berisi air hangat
    3. Bersihkan puting dengan wash lap yang sudah dikasih air hangat
    4. Setelah dibersihkan, beri baby oil
    5. Selama proses berlangsung, boleh sambil dipijat payudaranya 
     
      Ketika hamil memasuki bulan ketujuh, di bagian puting mulai berasa ada rembesan air yang menetes. Tadinya cuma menetes, lama-lama banjir hehehe. Bikin basah baju melulu. Pokoknya memasuki kehamilan 7 bulan ini Chi juga termasuk boros breast pad hehehe. Alhamdulillah Chi gak kesulitan saat menyusui. Selamanya lancar jangan kayak banyak jalan, sering macet :D

      Selama ini Chi gak pernah bertanya tentang normal atau enggak keluar cairan (Chi menganggapnya itu ASI) diusia kehamilan 7 tahun. Padahal dalam hati bertanya normal gak, ya? Beneran ASI gak, ya? Mau tanya ke dokter kandungan, Chi khawatir kalau itu jawabannya bukan ASI melainkan yang 'serem-serem'. Nanya ke internet gak kepikiran. Seperti yang Chi ceritain diawal, dulu belom jadi warga netizen hehehe. Dan, Chi gak dapet informasi tersebut dari majalah, tabloid, bahkan dari siapapun.

      Tapi karena Chi merasa baik-baik aja. Anak-anak pun sehat semua, jadinya Chi gak khawatir dengan keluarnya cairan dari payudara ketika hamil 7 bulan. Lagipula dari warna cairan dan baunya pun gak mencurigakan. Pokoknya Chi saat itu pake feeling aja :) Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan kolostrum? Katanya kolostrum itu cairan yang pertama kali keluar. Dan kolostrum ini sangat penting bagi bagi bayi terutama untuk sistem imunnya. Kalau ASI udah keluar sejak hamil, apakah artinya kolostrum akan terbuang lebih dulu?

      Baru beberapa hari lalu Chi menanyakan hal tersebut. Saat itu Chi hadir di acara launching buku IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tentang ASI sekaligus ikut merayakan pekan ASI dunia (World Breastfeeding Week). Nah, mumpung lagi banyak dokter anak dan temanya tentang ASI pastinya para dokter tersebut paham dan pro dengan ASI. Walopun udah lama banget Chi gak menyusui, rasanya masih wajar kalau Chi bertanya tentang hal tersebut, Siapa tau nanti ada yang butuh juga.

      Ternyata feeling Chi benar. Bisa jadi cairan yang keluar saat hamil 7 bulan itu adalah ASI. Dan, kalau sampai itu terjadi berarti bagus, ASInya bakal lancar. Untuk kolostrum juga gak perlu khawatir. Ketika bayi lahir, cairan pertama yang didapat dari ASI tetap kolostrum walopun ibunya sudah mengeluarkan ASI sejak hamil.

      Oiya, salah satu lagi manfaatnya cara ini adalah bisa mengurangi rasa sakit ketika baru pertama kali menyusui. Kan katanya kalau baru pertama kali menyusui, puting ibu masih agak kaku. Trus bayi yang baru lahir belum memproduksi air liur. Akibatnya menyusui bisa terasa sakit. Tapi karena selama hamil Chi selalu bersihin lalu diberi baby oil, ketika pertama kali menyusui gak sakit sama sekali.

      Pas hamil kedua, Chi juga melakukan hal sama. Walaupun sebetulnya Keke belum disapih (silakan baca tulisan Chi yang judulnya Tandem Nursing). Jadi dari awal kehamilan pun ASI udah keluar. Cuma tetep aja melakukan hal sama. Tapi karena Keke belum disapih jadinya Chi ganti baby oilnya pake minyak kelapa. Jadi wangi rendang wkwkwkw.

      Untuk teman-teman yang saat ini sedang hamil, udah coba praktekin tip agar ASI lancar ini belum? Kalau belum coba, deh. Siapa tau nanti berhasil juga kayak Chi.:)

      Continue Reading
      Tidak ada komentar
      Share:

      Senin, 17 Agustus 2015

      Salmon en Croute, Makanan Favorit Baru KeNai

      salmon en croute

      Keke: "Bunda, Keke mau salmon."
      Bunda: "Jangan sekarang ya, Nak."
      Keke: "Kenapa, Bunda?"
      Bunda: "Harganya lagi mahal banget. Tuh lihat."
      Keke: "Yaaaa... Sesekali aja, Bun. Kan, udah lama banget gak makan salmon."
      Bunda: "Iya, tapi gak sekarang."

      Setiap kali mengajak anak-anak belanja, Keke selalu minta dibeliin salmon. Alasannya udah lama sekali gak makan salmon. Tapi, Chi selalu menolak dengan alasan harga salmon lagi mahal. Karena gak juga diturutin, Keke ngadu ke ayahnya.

      Bunda: "Gimana ya, Yah. Salmon harganya lagi mahal banget. Masa' 1 potong fillet salmon, seharga seekor ayam? Bedanya kalau 1 fillet paling cuma buat 1-2 orang sekali makan. Kalau seekor ayam kan bisa rame-rame dan buat makan sehari." *Ini waktu harga ayam di pasar masih sekitar Rp25.000,00 s/d Rp30.000,00, ya :D*

      K'Aie cuma ngangguk-angguk aja. Padahal Chi sebetulnya modus, tuh. Secara gak langsung minta tambahan uang belanja buat beli salmon wkwkwkwk.

      Minggu lalu..

      Bunda: "Keke minta dibeliin salmon melulu. Emangnya pengen dibikin apa, sih?"
      Keke: "Pengen bikin sop, Bun. Enak, seger."
      Bunda: "Hmmm... Kalau untuk sop berarti carinya kepala ikan salmon. Kalau fillet enaknya di steak."
      Keke: "Di steak juga gak apa-apa, Bun. Enak juga."
      Bunda: "Kalau gitu nanti sore kita ke HERO, ya."
      Keke: "Ngapain?"
      Bunda: "Beli salmon, lah."
      Keke: "Beneran, Bun? Yeeeaaayy!!"
      Nai: "Kalau Ima gimana, Bun? Ima boleh beli apa?"
      Bunda: "Terserah. Ima kan seneng masak. Cari aja dulu resep di internet."
      Nai: "Ima mau masak desert, ah. Cari dulu resepnya."

      Ketika Nai lagi cari resep, dia malah ketemu resep Salmon en Croute trus langsung dikasih lihat ke Chi. Hmmm... kayaknya enak, tuh. Resepnya simpel, tapi ada yang Chi kurang sreg karena pakai mustard. Chi ngebayangin kalau salmon dan mustard ketemu kayaknya bakal 'berantem' di lidah :p

      Chi coba cari resep serupa. Ada yang pakai cheese cream. Nah, kayaknya enak tuh kalau pakai cheese. Lagian ada sekotak cheese cream di kulkas yang belum dipakai. Jadi gak perlu beli lagi. Tinggal beli salmon dan bahan lainnya.


      salmon en croute, hero supermarket

      Kami pun pergi ke HERO. Pilih HERO karena dekat dengan rumah mertua *kebetulan lagi menginap disana." Jadi mampir ke HERO dulu sebelum pulang ke rumah.

      Udah lama Chi gak belanja di HERO, padahal waktu Chi masih kecil sering banget ke supermarket ini. HERO supermarket memang termasuk legend karena masih bertahan hingga sekarang. Yang Chi suka, kualitas barangnya masih diperhatikan. Beli bahan yang fresh, mudah di dapat di HERO. Trus yang Chi suka lagi, pas Chi ke sana tuh nuansa Indonesianya dapet banget. Musik yang mengalun adalah lagu daerah. Pegawainya juga memakai seragam yang ada motif batik. :)

      Selera Indonesia memang terasa sekali saat kami di sana. Harusnya Chi sekalian aja beli berbagai bahan segar untuk dibuat masakan Indonesia, ya. Tapi karena Keke lagi pengen salmon jadi bikin masakan ala barat dulu, deh. Kapan-kapan ke Hero lagi, mencari bahan segar. *Ssstt... bulan September nanti HERO akan berulang tahun ke-44 lho. Tuh kalau bukan karena kualitas kayaknya gak mungkin bertahan selama itu, ya. Dan kabarnya bakal ada event keren di hari ulang tahun nanti. Chi jadi penasaran, nih :)*


      Sampe sana langsung cari salmon :)

      Sesampainya di sana, Chi langsung ke bagian daging. Langsung ambil salmon kemudian beberapa bahan lainnya. Nai pilih beberapa bahan untuk dibuat desert dan untuk buat camilan lainnya. Ada roti, whipped cream, buah kaleng, dan lain-lain. Beli juga buah segar untuk bekal sekolah. Tapi gak jadi juga dibuat desert karena sampe rumah satu per satu habis dimakan hehehe. Belanja juga beberapa kebutuhan lain, ya hitung-hitung belanja bulanan.

      Seger-seger banget ngelihatnya, ya :)


      Resep Salmon en Croute


      Bahan:

      salmon en croute
      Sebagian besar bahan-bahannya

      • 1 fillet salmon
      • 1 siung bawang putih
      • 1/2 buah bawang bombay
      • Mccormick peppercornmedley secukupnya
      • Fried olive oil
      • 1 kotak kecil cooking cream
      • 1/2 kotak keju cheddar Kraft, parut
      • 1 ikat bayam, cuci bersih
      • Garam secukupnya
      • 1/4 lembar pastry
      • Tepung terigu
      • 1 butir kuning telur, kocok sebentar
      • 1 sdm unsalted butter

        Cara membuat:

        Salmon yang sudah dikasih olive oil dan peppercorn. Diamkan sejenak. Tapi jangan sampe salmonnya ngambek karena didiemin *plak! hehehe*


        1. Semprot salmon dengan olive oil spray lalu taburi dengan peppercorn secukupnya, diamkan
        2. Petik bayam lalu sobek-sobek. Dicincang-cincang juga boleh tapi kasar aja, jangan sampai halus
        3. Cincang bawang putih dan bawang bombay - tapi beberapa hari lalu Chi nonton Australia Masterchef, kata Marco Pierre White kalau bawang putih sama bawang bombay diparut, selain lebih cepat trus rasa masakan juga bisa lebih enak dibandingkan dicincang. Kayaknya lain kali boleh coba tipnya.
        4. Semprotkan olive oil ke bawang putih dan bawang bombay yang sudah dicincang
        5. Panaskan wajan anti lengket, masukkan cincangan bawang putih dan bombay
        6. Setelah harum, masukkan bayam. Masak hingga matang lalu semprotkan olive oil secukupnya. Angkat. *boleh dikasih sedikit garam kalau mau
        7. Campurkan cooking cream, unsalted butter aduk rata
        8. Kemudian tambahkan keju cheddar yang sudah diparut. Aduk rata kembali lalu bagi 2


          Tampilan cooking cream yang sudah dikasih keju cheddar dan unsalted butter


        9. 1/2 bahan cooking cream dicampurkan ke dalam bayam yang sudah ditumis. Aduk rata
        10. Taburkan meja dan roling pin dengan terigu sedikit saja supaya lembaran pastry gak lengket
        11. Giling adonan pastry tapi jangan terlalu tipis
        12. Masukkan 1/2 bagian cooking cream *dari 1/2 bagian itu di bagi 2 lagi* ke bagian tengah pastry
        13. Masukkan adonan bayam di atas cooking cream
        14. Masukkan salmon di atas adonan bayam, taburi sedikit garam
        15. Masukkan sisa bagian cooking cream
        16. Lipat kulit pastry, balik, lalu letakkan di atas nampan
        17. Kerat-kerat bagian atas kulit pastry. Tipis saja. Jangan sampai robek
        18. Olesi dengan kuning telur
        19. Panggang sekitar 25 menit dengan api bawah
        20. Kemudian panggang dengan api atas sekitar 5 menit atau sampai kulit pastry berwarna kecoklatan. Angkat dan sajikan


        Serba-serbi membuat Salmon en Croute


        Sebetulnya cara membuatnya mudah tapi seperti yang dilihat di foto, tampilannya gagal total hahaha. Cuma kalau rasa boleh, lah. Rasanya enak dan langsung bikin anak-anak suka. Buat Chi selama rasanya enak gak perlu kecewa karena masih nikmat buat disantap. Berikut beberapa serba-serbi saat membuat resep ini:

        • Pastikan semua bahan dalam keadaan fresh, ya.
        • Sebelum dimasukkan ke oven, Chi udah yakin kalau rasanya bakal enak. Karena Chi cobain rasa cooking cream yang udah dicampur keju dan butter rasanya enak. Tumis bayamnya juga enak. Salmon asalkan fresh pasti rasanya enak. Pastry juga selama gak gosong juga enak. Ketika cobain semua bagiannya satu persatu dan enak semua rasanya, Chi langsung yakin kalau bakal enak. Anak-anak juga bilang begitu
        • Seharusnya pake cheese cream tapi gak taunya Chi salah lihat. Yang ada di kulkas itu bukan Cheese cream. Adanya cooking cream. Ya udah Chi langsung mikir enaknya diapain itu cooking cream. Untungnya selalu nyetok keju cheddar dan kebetulan lagi ada unsalted butter. Chi langsung gabungin semuanya. Dan tarrraaaaa...... rasanya enaaaaaakkk :D
        • Tumis bayam yang dicampur dengan adonan cooking cream, butter, dan keju jadi menu baru favorit Keke dan Nai. Chi sampe harus beberapa kali mengingatkan mereka yang terus aja ngegadoin tumis bayamnya. Karena kalau gak begitu bisa-bisa habis dicemilin dan salmon en croute bakalan tanpa tumis bayam hehehe


          Tumis bayam yang sudah dikasih cream ini langsung jadi favorit Keke dan Nai :D


        • Chi beli lembaran pastry yang sudah jadi, Ukurannya panjang, dilipat 4. Kalau dipake semua jelas kebanyakan. Chi pikir pakai 1/4 juga cukup trus agak digiling sedikit biar tipis *aslinya Chi gak tau harus ditipisin lagi apa enggak. Mau baca petunjukknya udah males duluan :D*
        • Namanya masak bareng anak-anak, pastinya lebih ribet. Buat ngegiling aja sampe berkali-kali. Pertama Nai, dia terus-terusan ngegiling sampe tipis. Akhirnya, Chi lipet trus giling lagi. Eh, baru juga Chi beresin, Keke dateng trus digiling lagi sama dia sampe tipis. Eyaampuuunnn! :r
        • Keke sempat tanya kenapa bagian atas harus dikerat-kerat. Chi jawab, supaya terlihat bagus. Sayangnya Chi kerat-kerat pastrynya agak dalam sampe robek. Kemungkinan karena kulit pastrynya terlalu tipis juga digilingnya. Cuma dikerat sedikit langsung kelihatan isinya.
        • Robeknya memang cuma sedikit, tapi kalau udah di oven, kulitnya akan mekar dan membuat robekannya jadi besar. Akibatnya kayak di foto itu. Isinya kelihatan, padahal harusnya tertutup kulit pastry
        • Karena robek, jadi minyak dari salmon ada yang keluar ke nampan. Dimasukkin aja lagi pas mau makan.


        salmon en croute
        Tampilan boleh gagal, yang penting rasanya langsung favorit

        Walopun tampilannya gagal, untungnya rasanya gak gagal sama sekali. Kulit pastrynya berasa kriuknya. Ikan salmon, cooking cream, bayam dan lainnya berasa. Semuanya pas. Saat itu juga langsung jadi favorit keluarga. Yummmyyy!

        Tertarik buat mencoba? :)

        Continue Reading
        64 komentar
        Share:

        Sabtu, 15 Agustus 2015

        5 Alasan Untuk Tega Sama Anak

        Tega sama anak = jahat sama anak?

        Beberapa orang mengartikannya begitu. Anak kita pun mengartikannya begitu dan mengekspresikannya dengan menangis atau marah. Bahkan untuk yang sudah bisa bicara akan berkata, "Bunda jahat!" Kalau udah gitu, kita pun jadi punya rasa bersalah. Dari rasa bersalah trus timbul galau mau diterusin teganya atau luluh saja?

        Berikut ada 5 alasan tega yang pernah Chi lakukan ke Keke dan Nai


        Tega ketika menyapih

        Rasanya ini salah satu bentuk tega yang bikin Chi rada mewek dan sempat berpikir untuk tidak jadi menyapih. Chi sudah menceritakan tentang proses menyapih di postingan "Weaning With Love" Pertanyaannya, kalau memang weaning with love kenapa harus pakai tega? Kenapa gak tunggu aja anaknya yang lepas dengan sendirinya?

        Untuk Keke dan Nai yang ng-ASInya gak kenal waktu dan tempat rasanya sulit menunggu mereka lepas dengan sendirinya. Setiap saat selalu kepengen ASI dan dimanapun. Mereka pun Chi lihat jadi gak leluasa bermain. Pengennya nempel terus sama bundanya untuk nyusu. Susah mau ngapa-ngapain hehehe. Jadi terpikirlah untuk menyapih. *Apakah timbul luka batin terhadap Keke dan Nai? silakan baca aja postingan yang weaning with love itu, ya ;)*


        Tega ketika mendisiplinkan

        Dunia anak itu dunia bermain. Yup, itu bener banget. Lagian siapa sih yang gak suka bermain? Kita aja yang udah besar senang bermain. Masalahnya kalau udah asik bermain, suka jadi gak disiplin. Disuruh makan, mandi, belajar, beribadah, dan lain-lain suka susah karena keasyikan bermain. Di sinilah kita perlu tega dalam menegakkan disiplin. Gak cuma tentang waktu, sih. Disiplin juga bisa untuk hal lainnya.


        Tega ketika mengajarkan mandiri

        Kadang kita suka gak tega melihat anak kecil makan sendiri, bantuin menyapu, makan sendiri, dan lain sebagainya. Akhirnya kita selalu membantu bahkan melayani. Gak sadar waktu berlalu dengan cepat dan anak-anak sudah besar. Setelah besar ternyata kita belum pernah sekalipun mengajarkan tentang kemandirian. Padahal kalau dimulai setelah dewasa itu lebih sulit dibandingkan menanamkan kemandirian sejak dini, lho *pengalaman pribadi*

        5 alasan untuk tega sama anak
        Kalau makan sendiri pasti belepotan. Kadang sampe ke badan dan rambut. Bikin kita jadi punya kerjaan tambahan untuk bersihin hahaha. Tapi kalau selalu disuapin kapan anak belajar mandirinya? :)


        Tapi kadang bukan karen gak tega juga, sih. Bisa juga karena kita malas direpotin. Kalau membiarkan anak makan sendiri, makanan dan minumannya pasti berantakan kemana-mana. Apalagi kalau mereka baru belajar. Meminta mereka untuk mencuci perlengkapan makan setelah dipakai, belum tentu bersih. Kalau udah gitu kita suka males jadinya. Mending disuapin aja biar cepet beres. Mending juga kita yang beberes rumah, deh, daripada dibantuin malah jadinya tambah berantakan. Kita kadang lupa kalau mereka masih tahap belajar. Wajar kalau masih berantakan. Yang mereka butuhkan adalah diajarin, bukan dilarang :)


        Tega menolak keinginan anak

        Nah, ini juga paling sering dialamin. Kalau anak minta sesuatu kadang kita sebetulnya pengen menolak. Karena kita tau kalau gak semua permintaan anak harus dituruti. Tapi kalau melihat wajah mereka *dengan mata yang berharap kayak di kartun Shinchan* trus mikir reaksi mereka yang akan marah, rasanya pengen mengabulkan semua permintaan. Jadi kayaknya kita kayak gak dikasih pilihan. Padahal sebetulnya ada, lho. Termasuk kalau lagi jalan-jalan itu kan anak-anak suka minta ini-itu, alhamdulillah Keke dan Nai belum pernah sekalipun merengek yang sampe nangis-nangis kalau lagi jalan-jalan permintaan mereka ditolak. Tapi bukan berarti mereka langsung mengerti tentang penolakan. Mereka pernah kok sedikit merajuk. Dan kami ada caranya supaya merajuk mereka sedikit aja, jangan sampe nangis di tempat umum. Kapan-kapan Chi kasih tipnya :D


        Tega vs parno

        Chi termasuk ibu yang gampang parno wlaopun tetap berusaha tenang. Salah satu rasa parno yang Chi lawan saat ini adalah mengabulkan permintaan Keke untuk naik sepeda ke sekolah. Ada berbagai pertimbangan kenapa Chi akhirnya bisa tega dan membolehkan Keke naik sepeda ke sekolah. Ceritanya juga kapan-kapan, ya hehehe.

        Mungkin kalau dipikir-pikir masih ada banyak tega-tega lainnya. Tapi tega itu gak selalu berarti jahat, kok. Seperti yang dituturkan oleh dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM., Psi, di salah satu acara yang Chi datangi, katanya tega pada anak itu boleh saja. Asalkan tega demi kebaikan anak. Karena menyikapi cinta pada anak pun harus bijaksana. Cinta sejati pada anak justru yang harus membuat anak menjadi pribadi yang baik dan mandiri.

        Jadi jangan ragu lagi untuk tega sama anak, ya. Tapi tega yang baik tentunya. Dan usahakan komunikasi dengan anak supaya anak gak salah paham :)

        Berdasarkan pengalaman, kekompakan dengan pasangan juga penting. Kalau cuma salah satu yang tega, biasanya suka gagal atau lebih sulit untuk berhasil. Karena anak akan meminta 'perlindungan' dari salah satu pihak :) *Baca postingan Chi yang berjudul : 3K Kunci Keberhasilan Pola Asuh - Bagian 1*

        Continue Reading
        Tidak ada komentar
        Share:

        Kamis, 13 Agustus 2015

        Kemandirian Harus Ditanamkan Sejak Dini

        kemandirian harus ditanamkan sejak dini

        Kemandirian harus ditanamkan sejak dini


        "Biii..., tolong ambilin minum, dong. Yang dingin, yaaa.."

        Itu bukan teriakan Keke atau Nai. Itu adalah teriakan Chi waktu seumuran Keke dan Nai. Bahkan Chi masih melakukannya hingga dewasa. Memang sih Chi selalu berusaha mengucapkan 2 kata ajaib, yaitu tolong dan terima kasih tapi tetep aja semuanya serba dilayani. Tinggal panggil, kalo perlu teriak.

        Sejak kecil hingga dewasa, di rumah selalu ada asisten rumah tangga. Mamah waktu itu bekerja, sehari-hari Chi dan adik-adik sama asisten. Semua pekerjaan dilakukan oleh asisten. Kecuali saat wiken, biasanya mamah yang masak dan juga ikut ngurusin rumah. Sedangkan kami anak-anaknya gak pernah melakukan apa-apa. Semua serba dilayani.

        Pernah sesekali kepengen bantuin, misalnya menyapu. Tapi baru juga pegang sapu udah dilarang. Katanya biar sama bibi aja. Nanti malah gak bersih kalau anak-anak yang nyapu. Ya udah Chi sih tinggal serahin sapunya. Enak kan gak perlu ngapa-ngapain? :)



        Kemandirian Harus Ditanamkan Sedini Mungkin


        Kemandirian harus ditanamkan sejak dini, teorinya sih begitu. Chi pun ingin menerapkan teori itu kepada anak-anak. Apalagi Chi bertekad untuk mengurus sendiri anak-anak tanpa bantuan asisten rumah tangga. Untuk alasan kenapa gak mau pakai asisten, Chi juga sampe sekarang masih bingung. Karena sejak kecil terbiasa dengan asisten, tau-tau begitu menikah langsung punya tekad kuat kayak gitu dan tanpa alasan jelas hahaha. Walopun ketika Nai lahir, sempet punya asisten juga tapi cuma beberapa bulan abis itu gak pake lagi sampe sekarang.

        Buat Chi yang terbiasa dan semuanya dilakukan oleh asisten sejak kecil, lalu sekarang ingin menanamkan kemandirian pada anak sedini mungkin itu bukanlah pekerjaan mudah. Berat banget, bahkan Chi masih merasakannya sampe sekarang. Beratnya bukan karena Chi gak bisa ambil minum sendiri, gak bisa nyapu, gak bisa masak, dan lain-lain. Semua hal itu bisa dilatih dan alhamdulillah Chi bisa. Yang bikin berat adalah melawan rasa malas. Yup! Terbiasa semua dilayani, setelah jadi ibu mengerjakan sendiri. Ditambah lagi PRnya dengan keinginan untuk menanamkan kemandirian pada anak sedini mungkin. Lha Chi aja masih belajar banyak tentang hal itu. Chi berusaha santai aja, lah. Kalau cuma berantakan dikit gak harus dikerjakan hari itu juga kalau emang lagi gak sanggup. Pelan-pelan aja hahaha *pembenaran dari rasa malas :p

        Tapi bukan berarti Chi gak bisa, ya. Alhamdulillah Keke dan Nai masih termasuk anak yang mandiri. Setidaknya untuk hal-hal yang bisa mereka lakukan sendiri, banyak yang sudah bis amereka lakukan tanpa menyuruh. Beda banget sama Chi waktu seumuran mereka.



        Anak mencontoh orang tua

        Gak cuma urusan kemandirian, sih. Tapi Chi merasakan banget kalau memberi contoh itu sebagai salah satu cara mendidik yang paling efektif. Memang berat banget buat Chi untuk menjadi ibu yang rajin. Tapi karena udah bertekad supaya anak-anak jangan sampe mengalami seperti yang pernah Chi alami, maka Chi pun seringkali harus 'memecut' diri sendiri untuk rajin.

        Tapi tetep Chi harus mengukur. Kalau kadang Chi masih suka ada rasa malasnya, jangan paksa juga anak-anak untuk menjadi lebih rajin dari Chi. Toleransi sedikitlah kalau mereka lagi ada timbul rasa malas. Kecuali kalau udah benar-benar malas, bolehlah ditegur. Takaran tergurannya tergantung masalahnya. Nah enaknya adalah kami juga jadi saling mengingatkan :)



        Minimal mandiri untuk diri sendiri


        Minimal hal-hal kecil seperti ambil minum, bawa handuk ke kamar mandi, menaruh pakaian kotor ke keranjang, pokoknya ajarkan segala hal yang bisa mereka lakukan sendiri. Ajarkan ke Keke dan Nai. Supaya mereka gak sedikit-sedikit menyuruh. Kalau kayak gitu, biar pake kata tolong dan terima kasih pun rasanya gak membantu. Mereka harus bisa melakukannya sendiri.


        Jangan langsung dilarang

        Chi paham kenapa dulu dilarang membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena anak kecil kan umumnya belum benar mengerjakannya. Bisa-bisa asisten kerjaannya jadi terhambat. Terhambat karena harus mengunggu sampe si anak selesai beberes tapi ujung-ujungnya dia juga yang ngeberesin segala urusan.

        Tapi segala sesuatu itu emang harus dilatih, kan? Termasuk dalam urusan beberes rumah. Mungkin ketika si kecil yang melakukan akan tetap terlihat berantakan. Tapi sebetulnya mereka sedang membiasakan diri untuk mandiri. Memang gak akan langsung berasa manfaatnya. Ibaratnya nabung berasanya tuh nanti. Bisa beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan.

        Makanya berdasarkan pengalaman, Chi gak mau langsung melarang anak untuk bantu-bantu beberes. Biarin aja, paling diajarin. Kalaupun pernah Chi beberapa kali melarang, biasanya kalau memang Chi lagi butuh waktu cepat.



        Ajak berdiskusi


        Keke dan Nai tau kalau bundanya dulu gak mandiri. Tapi Chi sih jelasin aja ke mereka. Trus kasih tau juga kenapa mereka harus mandiri sejak dini. Kasih juga pujian atau minimal ucapkan terima kasih kalau mereka sudah membantu. Jangan cuma bisa menegur kalau mereka lagi malas. Smeuanya harus berimbang.

        Biasakan juga supaya mereka mau mengungkapkan kesulitannya. Seperti Nai yang sekarang lagi gemar masak, untuk peralatan masak yang kecil dia udah bisa mencuci sendiri. Tapi untuk yang besar-besar, masih harus dibantu atau Chi yang ngebersihin. Biasanya Nai  minta tolong dan bilang kalau dia belum bisa. Chi akan ajarin tapi kalau memang dirasa masih terlalu berat, gak apa-apa Chi bantu bersihin.

        Ya, Chi setuju kalau kemandirian harus ditanamkan sejak dini. Tapi buat orang tua yang masa kecilnya seperti Chi yang garus dilatih duluan adalah diri sendiri. Kalah teman-teman bagaimana? Share yuk bagaimana melatih kemandirian kepada anak :)

        Continue Reading
        30 komentar
        Share:

        Selasa, 11 Agustus 2015

        Viral, Facebook, dan LINE

        Waktu hari raya lalu, berita tentang kemacetan parah di tol Cipali dan Cikampek sempat menjadi obrolan Chi, K'Aie, dan adik bungsu Chi. Kira-kira seperti ini obrolannya.

        Adik: "Kalau lagi macet parah gitu, repot banget kalau lagi kebelet."
        Chi: "Wah iya, tuh. Kalaupun sampe rest area pasti toiletnya rame banget. Hadeeuuuh.. Pokoknya jangan sampe kebelet. Apalagi kalau perutnya yang mules. Kacau, deh bakalan."
        Adik: "Hahahah bener, tuh."
        K'Aie: "Ya, kalau emang terpaksa banget brenti aja di pinggir jalan. Abis mau gimana lagi hahaha."
        Chi: "Wkwkwkw..."
        Adik: "Wah kalau bisa jangan sampe, deh."
        K'Aie: "Lha, kalau udah gak tahan gimana, dong? Hehehehe"
        Adik: "Bukan gitu, masalahnya sekarang semua orang pada pegang handphone. Kalau ada yang iseng motoin, wajah kita kelihatan jelas trus dia bikin meme. Abis itu dia upload ke socmed. Udah gitu viral, kelaaaarrrr urusan. Bisa lebih panjang dari mules ituuuu hahahaha."
        Chi: "Hahahhaa... zaman sekarang apa juga bisa viral. Gak usah harus jadi seleb dulu."
        Adik: "Nah iya, kan? Mending ditahan-tahanin deh biarpun mules juga hahaha."

        Kami pun ngakak ngobrolin tentang segala hal yang bisa menjadi viral di zaman digital ini. Udah gak penting berita baik atau buruk. Udah gak penting perasaan orang, yang penting heboh.

        Ngomong-ngomong tentang social media, Chi juga berusaha rutin mengingatkan Keke dan Nai tentang social media. Keke dan Nai memang masih dibawah umur untuk social media, tapi semua akun mereka Chi yang pegang, termasuk passwordnya. Sebetulnya gak cuma tentang socmed tapi juga tentang apapun yang berhubungan dengan dunia maya. Chi berusaha rutin menjelaskan apa yang boleh dna tidak, serta bagaimana harus bersikap. Karena di dunia maya pun seharusnya kita punya tata krama sebagaimana kita bersikap di dunia nyata.

        Ketika beberapa hari lalu Chi kembali mengingatkan tentang social media ke Keke, Chi kasih contoh socmed yang Chi pakai adalah FB. Setelah Chi panjang-lebar ngoceh tentang FB, Keke dengan ringan menjawab begini, "Tenang aja, Bun. Keke udah gak main FB. Keke sekarang di LINE."

        Gubrak!! Pantesan Keke nyantai hahaha..

        Sebetulnya Chi bisa aja tinggal bilang ke Keke kalau itu sama aja. Mau FB, twitter, LINE, Path, atau social media manapun, tetap aja kita harus punya tata krama. Chi juga tau kalau Keke sebetulnya mengerti dengan yang Chi maksud. Cuma kenapa dia jawab santai seperti itu, memang menarik juga.

        Chi jadi berpikir untuk bisa membuat anak tertarik dengan yang kita omongin, sebaiknya dimulai dari apa yang dia suka. Kebetulan sekarang Keke lagi suka nge-LINE. Sebaiknya memang Chi memberi contohnya itu LINE bukan FB. Biar nyambung, anak juga seneng karena mungkin merasa apa yang dia lakukan itu diperhatiin. Tapi dengan catatan cara ngobrolnya jangan menggurui atau menginterogasi, ya. Nanti anak malah merasa kalau orang tuanya itu kepo banget trus menutup diri, deh.

        Kalau ngobrolin tentang LINE, Chi gak cuma sekedar ngasih wejangan, kok. Sering juga Chi ketawa baca obrolan mereka. Atau minta Keke bercerita karena kadang Chi suka pusing sama bahasa mereka. Suka ada aja istilah baru hahaha. Nanti biasanya Keke dengan semangat mau ngejelasin. Nah, kelihatan kan bedanya kalau memulai pembicaraan dari sesuatu yang sedang dia sukai? Walopun sebetulnya tujuannya sih sama. Sama-sama ingin mengajarkan anak tentang bagaimana berperilaku di dunia maya.

        Chi sebetulnya gak nge-LINE walopun ada akunnya. Tapi memang Chi sadari gak boleh gaptek biar bisa terus ngikutin perkembangan anak. *Jadi jangan ngotot terus jelasin pake FB hanya karena bundanya lebih betah di FB hahaha*. Keke pun terbuka dengan orang tua untuk semua obrolan di LINE. Selain memang peraturan yang kami terapkan begitu, Keke juga gak keberatan. Dia juga gak pake gadget pribadi, masih pakai tablet bersama. Keke pun pernah bilang ke teman-temannya di LINE kalau orang tuanya masih bebas membaca semua isi obrolannya. Walopun ada temannya yang heran karena menurut temannya itu adalah privacy, tapi Keke cuek aja. Dia udah mengerti tentang kesepakatan bersama yang sudah menjadi aturan di rumah ini.

        Yah pokoknya mau itu FB, LINE, atau apapun, sebaiknya terus mengingatkan anak supaya hati-hati. Karena membiasakan hal seperti itu cukup sulit. Orang dewasa aja banyak yang masih asal-asalan di social media. Asal lagi heboh, langsung main share. Atau merasa bebas mau ngoceh apapun dengan alasan kebebasan berpendapat padahal sebetulnya suka-suka gue. Semoga Keke dan Nai gak seperti itu. Kami saling mengingatkan. Seperti Keke dan Nai juga selalu mengingatkan Chi apa aja yang boleh dan tidak untuk ditulis di blog ini atau di semua status FB kalau Chi lagi bercerita tentang mereka :)

        Continue Reading
        32 komentar
        Share:

        Minggu, 09 Agustus 2015

        Ranking 1, Kok Was-Was?

        Ini cerita sekitar awal bulan Juni. Beberapa hari sebelum kenaikan kelas.

        K'Aie: "Kira-kira gimana rapornya anak-anak nanti?"
        Chi: "Kayaknya semester ini bagus. Kalau lihat hasil ulangan Keke, nilai-nilainya banyak yang naik. Yang ngeri nilai-nilai Nai, tuh."
        K'Aie: "Kenapa? Pada turun semuanya?"
        Chi: "Justru pada naik. Dan hampir semua nilai ulangannya 100 terus. Nyaris gak ada yang di bawah 100. Wuiiihh!"
        K'Aie: "Bagus, dong. Ngeri kenapa? Dia masih memaksakan diri untuk belajar?" *Baca postingan yang berjudul "Sepertinya Nai Butuh Piknik."
        Chi: "Enggak, sih. Alhamdulillah, dia udah lebih santai."
        K'Aie: "Trus ngerinya kenapa?"
        Chi: "Sebetulnya sih bukan ngeri dalam artian sesuatu yang harus diperbaiki atau gimana. Sejauh ini Nai juga baik-baik aja, udah bisa lebih santai. Tapi, Ayah tau kan gimana Nai. Apalagi kalau sensinya lagi dateng. Bunda sih terus berharap Nai bisa mempertahankan nilai-nilainya. Cuma Bunda juga mikir kalau suatu saat nilainya jeblok, dia bakal kecewa panjang gak, ya? Ya, ini cuma sedikit kekhawatiran Bunda aja, sih."

        Chi bukannya gak bahagia anak dapat nilai bagus, lho. Tapi buat Chi berapapun nilai yang di dapat anak, Chi harus tau bagaimana anak mendapatkannya. Kalau anak dapat nilai jelek, cari penyebabnya. Bisa jadi karena malas belajar, sedang sakit, soal ulangannya beda dengan yang dipelajari, dan lain sebagainya. Begitu juga ketika anak mendapat nilai bagus. Karena sebelumnya sudah belajar, soalnya terlalu mudah, atau bahkan mencontek? Dengan tau penyebabnya Chi jadi tau harus bersikap apa. Chi sih gak merasa berlebihan kalau setiap tau hasil ulangan yang diapat anak-anak trus Chi evaluasi.

        Seperti Keke, tahun ajaran lalu, dia beberapa kali harus menyelesaikan ulangan math sampai 2 kali pertemuan. Bukan karena gak ngerti, tapi selalu aja waktunya sudah habis sebelum dia menyelesaikan semuanya. Berarti solusinya adalah terus melatih dia supaya bisa lebih cepat mengerjakan soal. Tapi tetap harus teliti.

        Bangga anak punya nilainya bagus terus? Nanti dulu... Chi harus yakin kalau nilai bagusnya bukan dari hasil nyontek. Tapi cara nyari taunya bukan dengan cara menginterogasi seperti terdakwa. Bisa-bisa nanti anak malah kecewa karena gak dipercaya usaha jujurnya. Trus kalau semangatnya jadi kendur kan gak baik. Tanya atau ajak ngobrol aja baik-baik. Bisa sambil becanda, sambil ngobrol, dan lain-lain. Sebelumnya puji dulu hasilnya.

        Alhamdulillah, Keke dan Nai masih pakai usaha sendiri. Memang Chi gak melihat langsung ketika anak ulangan. Tpai kan bisa tau dari laporan guru. Dan, dari hasil ngobrol dengan anak-anak. Orang tua pasti bisa lebih tau bagaimana karakter anak. Bisa pakai feeling apakah anak berbohong atau tidak.

        Hasil rapor kenaikan tahun ajaran lalu, nilai Keke naik dibanding semester ganjil. Kalau semester ganjil, nilai akademisnya banyak angka 9 bawah (nilai 90 s/d 94). Semester genap, mulai lebih naik angka 9nya. Naima nilai-nilainya juga naik dibanding semester ganjil. Dan Nai mendapat ranking 1. Mulai tahun ajaran lalu, setiap anak yang mendapatkan rangkin 1 s/d 3, mendapatkan sertifikat. Tapi di luar ranking 3, gak disebutkan rangkingnya.

        Ngomong-ngomong tentang was-was. Chi bukan gak bahagia dan bersyukur anak-anak nilainya bagus, lho. Termasuk Nai yang ranking 1. Tapi selain Chi harus tau darimana mereka mendapatkan nilai bagus, Chi juga harus mempersiapkan mental anak-anak kalau sewaktu-waktu dapat jelek. Keke pernah dapat nilai jelek. Dan dia orangnya cuek. Dapet nilai bagus dia happy, dapet jelek dia cuek hahaha. Paling Chi sesekali harus mengingatkan jangan terlalu cuek. Harus belajar mengevaluasi. Nai belum pernah dapat nilai jelek. Ada kekhawatiran kalau dia sekalinya dapat nilai jelek akan kecewa. Makanya, Chi merasa perlu berdiskusi hal ini dengan K'Aie. Semoga Nai bisa menyikapi dengan baik kalau sampai terjadi. Walopun semoga jangan juga dapet nilai jelek :p

        Semangat terus belajarnya ya, Nak. Semoga nilai Keke dan Nai bisa terus baik. Attitudenya juga. Alhamdulillah, attitude Keke dan Nai pun di mata para guru juga masih positif. Satu pesan khusus buat Nai, semoga tahun ajaran ini gak keseringan ketinggalan tempat pensil hehehehe

        Continue Reading
        52 komentar
        Share:

        Kamis, 06 Agustus 2015

        Jangan Langsung Panik Apabila Bayi Kuning

        Cerita waktu Keke lahir, ya. Namanya juga melahirkan anak pertama, pasti bahagia banget, dong. *Waktu ngelahirin anak kedua juga bahagia banget, ding :D* Apalagi Keke lahir dengan tubuh yang sehat dengan berat 3,99 kg dan tinggi 51 cm. Pokoknya dari proses melahirkan hingga memberi ASI semuanya lancar. Sampai sehari sebelum pulang dari rumah sakit, hasil lab menyatakan kalau Keke kelebihan bilirubin akibatnya badannya kuning.

        Lebihnya gak banyak, sih. Cuma nol koma sekian dari angka normal. Dokter menyarankan supaya Keke tetap di rumah sakit hingga bilirubinnya kembali normal. Setelah berdiskusi dengan K'Aie, kami memutuskan untuk tetap membawa Keke pulang. Chi bener-bener gak siap kalau anak sekecil itu udah harus dirawat. Chi panik dan stress, lah. Trus merasa bersalah juga.

        Kami pikir lebihnya kan gak banyak. Mudah-mudahan cukup dengan dijemur di pagi hari, bilirubinnya bakal turun. Karena permintaan pulang pasien berasal dari kami, maka kami diminta untuk menandatangani surat pernyataan. Dan diminta untuk kontrol 2 hari kemudian.

        Lha, gak taunya besok dan lusanya matahari gak muncul-muncul. Memang sih lagi musim hujan saat Keke lahir. Jadi aja dia dijemurnya gak maksimal. Hasilnya begitu kami kontrol lagi, bilirubin Keke semakin tinggi. Over 2 koma sekian gitu, deh. Dokter langsung mengharuskan dirawat kecuali kami mau menanggung resiko yang lebih besar lagi. Kalau bilirubinnya udah sangat over bisa berpengaruh ke tumbuh kembang anak, lho. Malah darahnya harus diganti dulu. Serem, ya. Makanya jangan anggap remeh kuning pada bayi. Gak mau ambil resiko lebih tinggi lagi, kami pun nurut sama perintah dokter. Tapi tetep aja bikin Chi sedih banget melihat anak masih bayi udah harus dirawat.

        Dokter bertanya beberapa hal ke Chi. Apa setelah melahirkan, Chi minum jamu? Minum soda? Kasih kamper ke pakaian bayi? Dan beberapa pertanyaan lain. Pertanyaan tersebut untuk mengetahui dari mana penyebab bayi kuning. Memang sih kebanyakan bayi kuning itu bukan karena penyakit karena umumnya bayi baru lahir fungsi hatinya belum sempurna. Tapi tetep harus dicari tau. Siapa tau ada sesuatu yang dikonsumsi atau dipakai yang menjadi pemicunya. Atau bisa juga kuningnya karena penyakit.

        Setelah melakukan serangkaian pertanyaan, dokter anak mempunyai kesimpulan sementara kalau penyebab badan Keke kuning adalah perbedaan golongan darah dengan bundanya. Ibu yang bergolongan darah O memang bisa menyebabkan anaknya kuning apabila golongan darah anaknya tidak sama. Penyalurannya bisa lewat ASI. Ada penjelasan medisnya, sih. Tapi bisa dicari juga ke Google kenapa perbedaan golongan darah ibu dengan anak bisa menyebabkan kuning. *sempet feeling guilty pas tau penyebabynya karena beda golongan darah*

        Karena over bilirubinnya belum terlalu besar, dokter anak meminta Chi untuk tetap memberi ASI. Tapi karena Keke masuk ruang perawatan, jadi ASInya Chi perah trus dimasukin ke botol. Kalau lagi menjenguk, bisa Chi kasih ASI langsung.

        Untung juga ada yang kasih kado botol susu saat Keke lahir. Ya, walopun Chi udah bertekad ASI, tapi itu botol susu tetep kepake juga kalau lagi darurat gitu hehehe. Pompanya aja yang mendadak beli. Jadi kalau ada calon ibu yang sama kayak Chi bertekad untuk ASI, tetep sediain aja perlengkapan bayi kayak botol susu. Gak perlu banyak, cukup 1-2 botol. Yang penting ada, siapa tau mendadak butuh.

        Pokoknya walopun belum tentu penyakit, tapi jangan pernah anggap remeh kuning pada bayi yang baru lahir. Alhamdulillah, Keke cuma 2 malam di rumah sakit. Ketika Nai lahir juga dia sempat kuning. Karena udah pengalaman waktu Keke, kami pun lebih tenang. Nai uga disarankan dirawat, tapi kami memilih untuk dibawa pulang dan dirawat di rumah. Gak cuma dijemur, kami membeli lampu buat terapi sinar

        Untuk terapi sinar, sebaiknya kita jangan sok tau. Harus konsultasi dulu ke dokter. Tanya sebanyak-banyaknya. Karena kalau gak benar melakukannya juga bisa berbahaya buat bayi. Jadi selalu hati-hati banget, ya :)

        Continue Reading
        24 komentar
        Share:

        Senin, 03 Agustus 2015

        Hari Pertama Sekolah, Hari Dimana Mereka (Ternyata) Masih Anak-Anak.

        "Bunda, nanti hari pertama sekolah nemenin, kan?"

        Sekitar dua minggu sebelum tahun ajaran dimulai, Nai sudah bertanya seperti itu. Dan selalu aja seperti itu pertanyaannya setiap tahunnya. Begitu juga Keke, selalu menanyakan dan meminta hal yang sama.

        Kalau Keke dan Nai masih baru masuk TK atau SD sih mungkin permintaan untuk selalu ditemani di hari pertama sekolah itu sesuatu yang umum, ya. Bahkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI sampai bikin infografis tentang pentingnya menemani di hari pertama sekolah. Karena sekolah memang merupakan rumah kedua bagi anak. Tentu anak harus merasa nyaman juga dengan rumah keduanya dimana gak setiap saat orang tua selalu menemani.

        Oleh karena memang penting bagi anak untuk ditemani di hari pertama sekolah. Supaya mereka merasa nyaman dan aman. Terlebih buat anak yang gak mudah langsung akrab dengan suasana baru. Tentu adanya orang tua sebagai pendamping di hari pertama membuat anak merasa nyaman.

        Tapi, Keke dan Nai kan udah bertahun-tahun sekolah di sana. Malah Keke sekarang udah kelas 6. Makanya Chi suka merasa lucu aja kalau mereka masih suka meminta untuk ditemani di hari pertama sekolah. Kadang waktu suka gak berasa berjalan begitu cepat. Tau-tau anak udah gede. Tapi kalau melihat mereka masih minta ditemani di hari pertama sekolah, rasanya itu salah satu momen dimana mereka itu (ternyata) masih anak-anak. Chi sih suka aja ngelihatnya. Walopun kadang Chi suka pura-pura menolak. Trus nanti Keke dan Nai ngerengek minta ditemenin hihihi.


        Pelepasan balon selalu jadi favorit siswa/i di sana. Selalu pada bersorak-sorai kalau saatnya pelepasan balon. Tapi tahun ini Chi merasa mellow lihat pelepasan balon.

        Kegiatan hari pertama di sekolah Keke dan Nai itu gak pernah lama. Paling cuma sejam ajah. Cuma upacara dan pelepasan balon, abis itu bagi-bagi goodie bag *etapi tahun ini tumben gak ada goodie bagnya hehehe*. Upacaranya juga bukan upacara bendera. Tapi upacara perkenalan, dimana seluruh murid dari mulai play group hingga SMP masuk secara tertib dikawal wali kelas masing-masing. Trus MC mengenalkan masing-masing wali kelas. Setelah itu ada sedikit wejangan dari ketua yayasan lalu selesai, deh. Ditutup dengan pelepasan balon sebagai tanda dibukanya tahun ajaran baru. Selesai, deh.

        Upacara pembukaan tahun ajaran ini rada bikin Chi mellow karena bisa jadi upacara pelepasan balon buat Keke di sekolah ini. Belum tau ngelanjutin ke SMP mana tahun depan. Kalau ngelanjutin di sana lagi, berarti masih akan ada upacara pelepasan balon. Dan, bisa jadi Keke masih tetep akan minta ditemenin saat hari pertama sekolah. Gak tau deh kalau SMPnya gak di sana. Mungkin pelepasan balon tetap akan ada. Tapi, belum tentu orang tua masih boleh menemani.

        Makanya Chi rada-rada mellow. Gak berasa kalau anak-anak udah makin gede. Apalagi pas lihat anak-anak playgroup masuk ke halaman upacara. Eyaampun mungil-mungil bangeeett! Trus diantara mereka ada yang ceria, ada juga yang nangis. Jadi inget kalau Keke dan Nai juga pernah semungil itu. Ketika TK, Keke masih menangis. Ketika masuk SD, giliran Nai yang menangis. Dan, Chi harus menemani mereka upacara saat itu hihihi.

        Sekarang sih mereka cuma minta ditemenin aja. Sampe pintu gerbang, Keke langsung ngacir main sama temennya. Kalau Nai. harus diantar ke kelas barunya dulu baru main sama temannya. Jadi, sebetulnya begitu sampe di sekolah, bundanya dicuekin hahaha. Tapi, gak-apa, lah. Request setahun sekali aja. Karena setiap pagi kan yang anter ayahnya. Cuma di hari pertama sekolah aja buat mereka bunda wajib menemani sampe selesai. Ah, ternyata mereka masih anak-anak kalau udah kayak gitu :)

        Continue Reading
        46 komentar
        Share: