Saturday, June 26, 2021

Mamah Sudah Divaksin Sinovac untuk Lansia

Mamah Sudah Divaksin Sinovac untuk Lansia awal Maret untuk yang pertama. Sedang awal April untuk yang kedua. Jedanya memang sebulan.
 
persiapan traveling agar perjalanan aman dan menyenangkan
Mamah pakai double masker saat ke rumah sakit. Padahal saat itu belum ada himbauan untuk menggunakan 2 masker


"Kapan, ya, mamah divaksin?"

Berkali-kali mamah bertanya seperti itu. Terutama sejak mulai beredar berita kalau vaksin sudah mulai diproduksi. Mamah semakin sering bertanya ketika tau kalau adik Chi yang tinggal di US sudah divaksinasi.

"Indra aja udah divaksin. Masa' mamah belum?"

Hadeuuuhh, Mah. Beda kali pelaksanaan vaksinasi di US dan Indonesia hihihi. Chi berusaha memaklumi aja, lah. Sangat maklum karena pandemi memang sangat melelahkan lahir dan batin. 
 
Mamah nyaris tidak pernah ke mana-mana sejak pandemi. Sekadar ke minimarket depan komplek pun tidak dilakukan. Belanja sayur pun diantar ke rumah.

Mungkin secara fisik, Mamah kelihatan tidak capek. Tetapi, sangat kangen sekali dengan anak dan cucu. Lebih dari 6 bulan di awal pandemi, kami gak ketemu sama sekali. Hanya berkomunikasi lewat smartphone dan sesekali video call. Mamah juga kangen ingin ke kuburan papah.
 
Mamah sempat agak mutung karena dapat kabar kalau lansia gak boleh divaksinasi. Chi memahami kesedihan mamah. Juga harus jelasin beberapa kali kalau semua vaksin saat ini masih bersifat darurat. Jadi tentu harus berhati-hati penggunaannya. 


Banyak Pilihan Lokasi Vaksinasi COVID di Jakarta

 
Ketika mengetahui kabar kalau vaksin untuk lansia sudah ada, kami gerak cepat mencari informasi cara mendapatkannya. Mamah memiliki KTP DKI, tapi sudah tidak tinggal sesuai dengan domisili yang ada di KTP. Makanya kami harus aktif mencari informasi.

Tadinya mamah mau ikut di tempat adik Chi. Mamah sedang tinggal di sana untuk beberapa waktu. Ternyata, rumah sakit dan puskemas terdekat hanya melayani vaksinasi yang sesuai dengan domisili. Mau bikin surat domisili, pak RTnya baru aja wafat karena Covid.Adik Chi juga warga baru di sana. Jadi masih bingung mengurus berkas kalau pak RT udah wafat.

Di puskesmas dekat rumah Chi juga bisa, asalkan ada surat domisili. Tadinya mau diurus ke pak RT. Tetapi, kemudian adik dapat kabar kalau RS Duren Sawit menerima semua peserta vaksinasi dari mana pun. Asalkan  memiliki KTP DKI. Gak harus daftar online juga. Bisa langsung datang ke lokasi.
 
Alhamdulillah, di Jakarta banyak pilihan lokasi vaksinasi COVID-19. Gak bisa di tempat kita tinggal, kemudian langsung dapat informasi tempat-tempat lainnya. Mamah juga bisa dapat kuota dari kantor adik Chi. Tetapi, karena udah lebih dulu divaksinasi di RS Duren Sawit, maka mamah gak daftar lagi.

 

Tekanan Darah Mendadak Tinggi Menjelang Divaksinasi

 
Adhi: "Teh, mamah tensinya tinggi sampai di atas 200. Udah beberapa kali diulang cuma turun dikit. Diulang lagi aja atau gak jadi vaksin?"
 
Chi: "Coba ulang 2-3x lagi. Kalau masih tinggi juga, ajak pulang aja. Gak bagus juga buat mamah berlama-lama di rumah sakit. Insya Allah tetap sehat meski pun gak divaksinasi."
 
Adhi: "Iya, Teh."
 
Perbincangan pagi itu antara Chi dan adik via Whatsapp. Sebelum divaksin, peserta diberikan beberapa pertanyaan dulu. Khusus untuk lansia ada pertanyaan tambahan yaitu
 
  1. Apakah kesulitan menaiki 10 anak tangga?
  2. Apakah sering merasa kelelahan?
  3. Apakah memiliki paling sedikit 5 dari 11 penyakit yaitu hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, gagal jantung kongestif, serangan jantung, asma, nyeri dada, nyeri sendiri, dan penyakit ginjal.
  4. Apakah mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100-200 meter
  5. Apakah mengalami penurunan berat badan yang bermakna dalam 1 tahun terakhir?
 
Alhamdulillah, mamah tidak mengalami semuanya. Kalau pun tensi mamah tinggi saat mau divaksinasi bukan karena hipertensi.
 
Tekanan darah naik belum tentu karena hipertensi. Ada banyak penyebabnya. Stress dan kecapean juga bisa membuat tensi menjadi tinggi.
 
Ketika Chi menceritakan tentang tensi mamah yang mendadak naik menjelang divaksinasi, banyak yang mengalami hal sama. Dan, gak semuanya lansia. Beberapa teman mengalaminya sendiri. 
 
Bisa jadi memang penyebabnya karena capek. Mungkin di jalanan terkena macet atau susah cari parkiran. Stress karena mau disuntik juga bisa menjadi salah satu penyebab.

Mamah memang takut saat mau divaksinasi. Selama pandemi gak pernah keluar. Sekalinya keluar malah ke rumah sakit terus. Tempat yang paling berisiko terhadap virus. 
 
Selama di rumah sakit, mamah gak berani minum. Padahal katanya haus banget menunggu lumayan lama. Mamah juga bawa botol minum sendiri. Tetapi, takut banget buka masker, Mana ketika dipanggil gak boleh ditemenin. Semakin membuat mamah tegang.
 
Para nakes gak akan langsung meminta peserta vaksinasi pulang bila tensi di atas 180. Peserta diminta untuk beristirahat sekitar 10-15 menit untuk kemudian ditensi lagi.
 
Ada sekitar 4-5x mamah diulang. Berarti hampir 1 jam lamanya. Makanya Chi menyarankan ke adik untuk dibawa pulang aja bila tinggi terus. Nanti di rumah diajak ngobrol biar gak tegang kalau diajak vaksin lagi.
 
Selama pandemi, kan, mamah di rumah aja. Sekalinya ke luar rumah untuk ke periksa kulitnya yang gatal. Ke luar rumah yang kedua dan ketiga untuk vaksinasi. Selain itu, mamah hanya di rumah.

 
Insya Allah tetap aman meski gak divaksin. Tinggal kitanya aja yang masih ke luar rumah untuk lebih ketat dengan prokes. Jangan sampai bawa virus ke rumah. Apalagi sampai nularin semua orang. Naudzubillahi min dzalik. 

Vaksinasi kedua bukan berarti menjadi lebih lancar. Mamah malah lebih banyak pengulangan tensinya. Kata mamah, saat vaksinasi kedua justru perasaannya lebih tegang. Makanya tensinya susah turun hehehe.


Vaksinasi Pertama dan Kedua Harus di Tempat yang Sama


Alhamdulillah, vaksinasi Sinovac mamah sudah komplit. Jeda antara yang pertama dan kedua itu sebulan karena lansia. Menurut nakesnya, kalau yang lebih muda jedanya 2 minggu.

Menurut mamah, RS Duren Sawit tempat mamah divaksinasi pelayanannya bagus dan tertib. Para nakesnya juga ramah.

Banyak tingkah laku para lansia yang udah kayak anak-anak lagi. Udah dibilang jangan mondar-mandir atau turun-naik tangga, tetapi tetap aja dilakukan. Super duper sabar, deh, para nakesnya. Kata mamah udah kayak di sekolah TK hehehe.

Tetapi, antreannya memang lama. Karena go show, K'Aie yang jalan duluan ke rumah sakit setelah sholat Subuh untuk ambil nomor. Sekitar pukul 7 pagi, mamah dan adik berangkat. Sampai sana masih harus menunggu sekitar 3 jam. Agak melelahkan bagi lansia.

Makanya kami berencana mencari lokasi vaksinasi yang bisa drive thru aja untuk tahap 2. Biar mamah bisa istirahat di mobil ketika menunggu.

Ternyata gak bisa. Mamah harus divaksinasi kedua di tempat yang sama. Untungnya pengalaman kedua gak lama antreannya. Karena pihak rumah sakitnya duluan yang menghubungi. Mengingatkan jadwal vaksinasi kedua. 
 
Mamah termasuk yang awal divaksinasi. Jadi, Chi gak tau peraturannya masih sama atau enggak. Seharusnya, sih, kalau semua data masuk ke situs Peduli Lindungi, bisa divaksinasi di mana pun untuk dosis berikutnya, ya. Tinggal lihat datanya aja. Tetapi, memang ada baiknya tanya dulu, deh. Siapa masih harus di tempat yang sama atau bisa beda.


Efek KIPI Setelah Divaksinasi Sinovac


Setelah divaksinasi jangan langsung meninggalkan lokasi. Tinggal dulu sekitar 30 menit untuk memantau ada efek KIPI atau tidak. Bila terjadi efek yang berat, kan, bisa langsung segera ditangani.

Setelah vaksinasi pertama mamah gak merasakan efek apapun. Biasa aja seperti sebelum divaksin. Mamah baru merasakan ada efeknya saat yang kedua. Mengantuk luar biasa sampai gak bisa ditahan. Seharian setelah divaksin, Mamah tidur terus. Alhamdulillah, hanya itu efek yang mamah rasakan pasca divaksinasi.

Baidewei, seminggu yang lalu, Chi dan K'Aie baru aja divaksinasi AstraZeneca. Serem gak efek KIPInya? Nanti Chi ceritakan, ya. 

Pokoknya yang penting udah divaksin pun tetap wajib patuh protokol kesehatan 5M. Indonesia masih jauh dari herd immunity. Jadi, jangan abai dengan prokes dan bersedia divaksin kalau ingin pandemi berakhir.
 

Continue Reading
42 comments
Share:

Friday, June 25, 2021

Setahun Lebih Pandemi di Indonesia, Sehat-Sehat, kan, Semua?

Setahun Lebih Pandemi di Indonesia, Sehat-Sehat, kan, Semua? Gak pernah menyangka pandemi masih ada setelah 1 tahun. Kirain hanya hitungan bulan. Ya meskipun keberadaan vaksin seperti semacam angin segar karena membawa harapan baru. Tetapi, tetap saja masih terasa belum tau kapan pandemi akan berakhir.

setahun lebih pandemi di indonesia sehat-sehat kan semua

Satu hal yang sangat Chi syukuri setelah melewati masa 1 tahun pandemi adalah mampu bertahan. Takut iya, cemas iya. Tetapi, tetap bertahan dan sehat. Alhamdulillah.

"Men sana in corpore sano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat)"
 
Chi hafal banget dengan ungkapan tersebut beserta artinya saat masih sekolah. Kayaknya dulu kalimat tersebut sering didengungkan. Bahkan di pelajaran sekolah pun ada.

Tapi, Chi gak pernah bener-bener paham artinya. Bertahun-tahun hanya meyakini kalau sehat tuh secara fisik. Bisa beraktivitas dengan nyaman.

Lama-kelamaan Chi mulai tau kalau yang namanya sehat itu gak hanya fisik. Mental juga perlu dijaga kesehatannya.


ngobrol literasi keuangan bareng fwd

Jumat (4/6), Chi menyimak webinar yang diselenggarakan FWD dengan tema , “Setahun Lebih Masa Pandemi, Apa Kabar?” Acara ini merupakan bagian dari salah satu kampanye ‘FWD Bebas Berbagi’ dengan memberikan informasi tentang literasi keuangan ke berbagai komunitas. Pada diskusi tersebut, kesehatan finansial dibahas karena berkaitan erat dengan kesehatan mental dan fisik.


Tips SANTAI Sehat Mental di Masa Pandemi


tips santai sehat mental di masa pandemi

Membuka acara ‘Yuk Ngobrol Bareng FWD!’, Maika Randini atau biasa dipanggil ibu Kiki, Chief Marketing Officer FWD Insurance, mengatakan bahwa tantangan terbesarnya di masa pandemi adalah menjadi ibu sekaligus pekerja kantoran. Sebelum pandemi, setiap hari anak belajar di sekolah dan ibu bekerja. Tetapi, ketika pandemi datang, kedua pe ini bisa berbenturan.

Pandemi memang datang tanpa diduga. Hidup harus terus berjalan meskipun belum jelas kapan pandemi berakhir. Bu Kiki melakukan rutinitas untuk diri sendiri dengan berolahraga +/- 1 jam. Agar kesehatan mental tetap terjaga.

Ira Gustiana , M. Psi., Psikolog Anak, Remaja, & Keluarga Founder Ruang Tumbuh mengatakan, kalau di Amerika Serikat pernah diadakan riset kepada 1900 perempuan di masa pandemi. Hasilnya sebagian besar ibu yang paling rentan terkena stress.

Lebih lanjut mbak Ira atau biasa dipanggil mbak Ayank ini mengatakan kalau di Indonesia juga terjadi peningkatan stress saat pandemi. Begitu pun dengan angka perceraian dan KDRT.

Finansial bisa mempengaruhi kondisi rumah tangga yang sehat. Meskipun banyak yang mengatakan kalau uang bukanlah segalanya. Tetapi, faktanya banyak aspek yang membutuhkan uang. Ada banyak hal yang harus tetap dibayar misalnya uang sekolah, listrik, kuota, dan lain sebagainya.


Ibu sehat = anak sehat + suami sehat

Chi teringat dengan quote paling favorit di film animasi Rio 2 yaitu “Happy Mom, Happy Family”. Buat Chi memang bener banget, lho. Kalau diri sendiri lagi uring-uringan rasanya mengurus keluarga juga suka berantakan. Maunya ngomel melulu.

Apalagi di saat pandemi ini banyak ibu yang menjadi lebih stress karena banyak tantangan yang harus dihadapi. Menjadi ibu sekaligus pekerja misalnya.

[Silakan baca: FWD Community Ladies Talk - Bahagia Menjadi Ibu Rumah Tangga]


agar tetap sehat mental di masa pandemi

Sangat penting bagi para ibu untuk mengelola emosi. Belajar terampil meregulasi emosi ketika berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan. Mbak Ayank memberikan tips SANTAI agar para ibu bisa tetap sehat selama masa pandemi.


Sehat Fisik Mendukung Kesehatan Mental

Beberapa kali Chi mendengar/membaca pengalaman yang pernah terkena COVID. Katanya, tidak hanya badan yang sakit. Tetapi, mental juga bisa kena.

Oleh karenanya jangan hanya tubuh yang diperhatikan kesehatannya. Tetapi, agar mental tetap sehat, salah satu caranya adalah berolahraga secara teratur dan mengkonsumsi asupan gizi seimbang.


Adaptasi dengan Pola Kebiasaan Baru

Pandemi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya ini membuat banyak perubahan rutinitas di kehidupan manusia. Mendadak harus sekolah atau bekerja dari rumah dan lain sebagainya.

Agar hidup bisa terus berjalan harus berusaha beradaptasi. Buat rutinitas baru yang disesuaikan dengan kondisi pandemi.

Atur lagi time manajemennya. Apalagi kalau kita memiliki peran ganda. Bila perlu tunda beberapa aktivitas sampai kondisi benar-benar aman.


Networking dengan Tetap Menjaga Interaksi Sosial

Kondisi pandemi memang membuat kehidupan bersosialisasi menjadi sangat berubah. Biasa ketemu banyak orang, sekarang semuanya harus di rumah.

Tetapi, jangan sampai tidak bersosialisasi sama sekali, ya. Tetap lakukan kontak sosial minimal selama 15 menit per hari.

Kontak sosial di masa pandemi bisa dilakukan dengan berinteraksi di WA meskipun sekadar jadi silent reader. Cari postingan yang receh, tapi bisa bikin ketawa. Pokoknya pilih kontak sosial yang menyenangkan. Kalau yang toxic hempaskan saja.


Tahan Diri dan Atur Regulasi Emosi dengan Teknik Pernapasan Sederhana

Pernah gak marah sama anak, terus menyesal sesudahnya? Tapi, kemudian marah lagi, terus menyesal lagi. Gitu aja terus.

Sikap seperti ini bisa bikin anak menjadi bingung. Sering juga kan yang terjadi ketika ibu marah, anak bukannya menurut. Tetapi, malah semakin rewel dan bikin ibu jadi makin kesal.

Sabar ya, Buuu.

Di saat pandemi begini kesabaran para ibu memang seperti terus diuji. Tetapi, daripada nanti berdampak buruk untuk semua, sebaiknya mulai coba teknik pernapasan yang sederhana, deh. Jangan langsung ngomel ketika sedang kesal.


Atasi Kelelahan dengan ‘Me Time’

Gak boleh merasa bersalah ketika melakukan ‘me time’. Justru ‘me time’ sangat penting. Gak perlu pergi jauh atau lama-lama, kok. Cukup dilakukan 15-30 menit per hari.

‘Me time’ gak otomatis mengatasi kelelahan bila dilakukan tidak tepat. Sejatinya ‘me time’ itu waktu yang disediakan bagi diri sendiri. Tetapi, banyak ibu ketika ‘me time’ pikirannya masih ke urusan rumah tangga, keluarga, dan lain sebagainya. Sehingga tidak benar-benar menikmati ‘me time’.

Kesalahan lainnya saat ‘me time’ malah emosi berubah jadi jelek. Misalnya, nonton film drama, tetapi yang ceritanya bikin sedih. Perasaan jadi campur aduk setelahnya dan baper melulu. Nah, berarti ini ‘me time’ yang kurang tepat.


Ingat! Fokus pada Sesuatu yang Bisa Dikendalikan

Dalam hidup ada berbagai hal yang bisa dikendalikan dan tidak. Manusia juga gak pernah tau apa yang terjadi di masa depan.

Kurang-kurangin overthinking, ya. Jangan selalu berpikir, “kalau gini … kalau gitu … kalau …” Fokus dengan apa yang bisa kita kendalikan.


Jangan mengharapkan hasil instan ketika melakukan tips SANTAI. Ketrampilan ini harus dilakukan terus-menerus hingga ibu bisa memberikan respon yang tepat terhadap suatu masalah.

Pandemi sudah berjalan lebih dari 1 tahun. Bila pandemi berakhir, resiliensi akan meningkat. Artinya, bila melalui pandemi dengan baik, akan membuat kita menjadi pribadi yang mampu beradaptasi dan tangguh menghadapi situasi sulit.

[Silakan baca: 2020 Tahun Kebersamaan Keluarga]


Perencanaan Keuangan Syariah Menuju Keberkahan Finansial


perencanaan keuangan syariah menuju keberkahan finansial

Berapa penghasilan yang harus dimiliki supaya merasa cukup?

Menurut Mbak Rista, Zwestika, CFP, Co-Head Advisory Finansialku.com, ukuran cukup gak ada patokannya. Setiap orang punya jawaban yang berbeda. 
 
Ada yang penghasilannya kecil, tetapi tetap merasa cukup. Kebalikannya ada yang berpenghasilan besar, tetap saja merasa kurang.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur

prinsip utama keuangan syariah

Bersyukur merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Karena kecil atau besar penghasilan akan ada masalahnya masing-masing. Diawali dengan rasa syukur yang besar atas harta yang didapat. Kemudian dilanjutkan dengan menjaga, mengelola, dan membelanjakan.

Kondisi saat ini memang menyulitkan banyak pihak. Banyak yang mengalami kesulitan ekonomi karena pendapatan yang menurun. Bahkan sampai ada yang terkena PHK.

Selama masih memiliki waktu produktif, gunakan sebaik-baiknya agar tidak terjadi penyesalan. Fokus pada solusi, jangan masalah. Karena fokus pada masalah hanya menciptakan berbagai alasan. Bahkan bisa melakukan kekerasan, misalnya menjadikan anak sebagai sasaran kemarahan.


Sehat Secara Finansial di Masa Pandemi bersama Asuransi Bebas Handal

 
cara mewujudkan tujuan keuangan dengan perencanaan keuangan syariah

Memahami literasi keuangan adalah hal yang sangat penting. Tujuannya agar tetap dapat mengelola keuangan dan membuat berbagai keputusan secara cerdas. Termasuk di saat kondisi menghadapi kondisi yang tidak terduga dan sulit seperti di masa pandemi ini.
 
Lakukan financial check up tentang kondisi keuangan saat ini. Salah satu fondasi penting sehat secara finansial adalah memiliki keamanan. Salah satunya dengan diproteksi melalui asuransi.
 
Menurut Mbak Rista, keputusan memilih asuransi konvensional atau syariah ada di tangan masing-masing. Tetapi, sebelum memilih produk asuransi, sangat penting untuk mengetahui dulu perbedaan dan manfaatnya.
 
Pada Asuransi Syariah terjadi risk sharing antara peserta asuransi. Peserta sepakat untuk menanggung bersama kemungkinan timbulnya musibah yang lazim disebut risiko dengan alokasi dana kebajikan atau tabarru’. Akad atau perjanjian dalam Asuransi Syariah terdiri dari akad Tabarru’ dan Tijarah

Asuransi Konvensional terjadi risk transferring dari peserta asuransi kepada perusahaan asuransi dengan membayar sejumlah premi. Akad atau perjanjian asuransi konvensional adalah Jual-Beli.

Tujuan perencanaan keuangan syariah adalah mencari ketenangan dan keberkahan untuk mendapatkan Ridho Allah SWT

Siapa pun bisa memiliki asuransi syariah. Tidak sebatas hanya untuk umat muslim.

[Silakan baca: Asuransi Sebagai Bagian dari Gaya Hidup]
 
aplikasi fwd max

FWD Insurance memiliki asuransi berbasis syariah yang dapat memberikan manfaat rawat inap dan perlindungan hingga usia 60 tahun yaitu Asuransi Bebas Handal. Ada 3 keunggulan dari produk ini, yaitu
 
Terjangkau – Kontribusinya mulai dari Rp75.000,00 per bulan. Manfaatnya hingga Rp100 juta per tahun. Bila nasabah melakukan pembayaran tahunan, maka akan mendapatkan free 1 bulan kontribusi.
 
Simple – Produk ini bisa dibeli dengan mudah secara online. Nasabah bisa membeli melalui aplikasi FWD MAX atau website ifwd.co.id.
 
Lengkap – Tidak hanya biaya kamar yang ditanggung. Tetapi, seluruh biaya perawatan dengan nilai manfaat hingga Rp100 juta per tahun 
 
Asuransi Kesehatan Online FWD ini memang cocok banget deh dengan kondisi sekarang. Proses pembeliannya dilakukan secara online. Bila dipakai juga cashless karena tinggal menunjukkan kartu asuransi. Cara ini menimbulkan rasa aman dan nyaman.
 
Alasan untuk tertarik dengan produk asuransi berbasis syariah ini adalah tidak dijual dalam bentuk paket asuransi unit link. Murni hanya asuransi kesehatan. Produk ini juga memiliki manfaat khusus COVID-19 tanpa tambahan biaya untuk seluruh nasabah atau yang baru bergabung selama periode 1-30 Juni 2021. Manfaat khusus ini meliputi perlindungan dan biaya pengobatan selama isolasi mandiri (Isoman).
 
Semoga kondisi fisik, mental, dan finansial kita semua selalu sehat, ya. Aamiin Allahumma aamiin. 

Continue Reading
70 comments
Share:

Monday, June 14, 2021

Pengalaman Mengikuti Wisuda Virtual 2021

Pengalaman Mengikuti Wisuda Virtual 2021 - Sebetulnya, Chi lagi gak semangat banget untuk melakukan berbagai hal. Termasuk, membuat postingan di blog. Padahal banyak ide konten yang bersliweran.
 
Tetapi, Chi lagi kecewa banget dengan peraturan PPDB DKI 2021 yang dirasa sangat gak adil. Kirain, tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya yang menuai kisruh. Ternyata, malah lebih parah, terutama bagi siswa yang pintar secara akademis. Selain peraturan yang dirasa tidak adil, banyak pula ditemukan salah input yang menjadi keuntungan salah satu pihak. 
 
 
Banyak anak cerdas secara akademis, salah satunya Nai, harus tersingkir karena peraturan ini. Buat yang menyimak omelan Chi di IGS, mungkin udah tau, ya. Kalau penasaran, silakan aja ke akun @ke2nai, kemudian pilih highlight PPDB DKI.

pengalaman menghadiri wisuda virtual
 
Pengen hibernasi dulu ke mana gituuuu. Tapi, gak mood juga. Ya udah, deh, update konten aja. Kasihan ini blognya nanti lama-lama debuan. Terus husnudzon kepada Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik. Keinginan Nai untuk bisa bersekolah di sekolah negeri yang diinginkan akan terkabul. Aamiin Allahumma Aamiin.
 
Berhenti sejenak sedihnya. Sekarang, Chi mau ceritain tentang acara wisuda virtual sekolah Nai. Karena hal ini juga penting untuk diadakan. Kalau gak ada pandemi, rasanya gak mungkin ada wisuda online. Kecuali, kalau hidup sudah digital banget. Sudah ada banyak sekolah dengan konsep digital atau hybrid.

Wisuda Nai tahun ini berlangsung sangat sederhana. Ya, sebetulnya ketika mereka SD pun konsep wisudanya tidak mewah meskipun bersekolah di swasta yang lumayan biayanya. Tetapi, kalau wisuda, tetap aja dilakukan di aula  dengan cara sederhana.

Malah jauh lebih mewah acara wisuda waktu Keke lulus SMP. Diadakan di salah satu hotel berbintang. Tentunya hal ini berjalan karena inisiatif dan biaya pribadi orang tua. Karena sekolah negeri kan tidak boleh memungut bayaran sepeser pun.

[Silakan baca: Keke dan Wisuda]

Jadi, sebetulnya gak ada rasa sedih yang berlebihan ketika wisuda dilakukan secara sederhana. Chi pun sempat bertanya kepada Nai. Siapa tau dia merasa sedih karena tidak bisa merayakan wisuda bersama teman-temannya. Tetapi, dia merasa biasa aja.

Beberapa minggu sebelum hari H, kami diminta membuat video pengalungan medali. Durasinya tidak boleh lebih dari 7 detik. Disarankan kedua orang tua ada dalam video tersebut. Tetapi, Keke saat itu lagi gak ada. Jadi, K'Aie yang rekam video. Sehingga hanya Nai dan bundanya yang ada di layar.
 
wisuda virtual smp negeri
Sumber gambar: We Bare Bears


Beberapa hari menjelang hari H, orang tua dapat pengumuman tentang pelaksanaan wisuda online. Siswa diminta berseragam batik sekolah. Sedangkan orang tua menggunakan batik. Link zoom pun diberikan. Orang tua dan siswa juga diminta berada dalam satu screen. Chi langsung teringat sama We Bare Bears hehehe.

Karena hanya online, persiapan kami gak banyak. Hanya K'Aie yang mandi dulu. Chi dan Nai enggak hehehe. Chi pun dandan seadanya, hanya menggunakan lipstik. Kami pun hanya mengenakan atasan yang diwajibkan. Bawahannya tetap aja pada pakai celana pendek hihihi.

Kami menonton acara wisuda di kamar Nai. Chi yang kurang tidur selama beberapa hari, melihat kasur dan dinginnya AC rasanya jadi tambah ngantuk hihihi. Udah gitu sepanjang acara ternyata banyak yang off-camera. Yaaaa ... kalau gitu ngapain juga pakai baju rapi wkwkwk! 
 
pengumuman kelulusan online saat pandemi

Keke dan Nai asik sarapan mie kuah semangkok berdua. Padahal Keke lagi PJJ, sempet-sempetnya ikutan wisuda online adeknya. Ya gini, deh, kalau wisuda online. Acara dimulai pagi hari, kami belum pada sarapan. Jadi, self service aja, ya hehehe.

wisuda virtual pandemi

K'Aie hanya menyaksikan sekian menit. Trus, keluar dengan alasan ada orderan masuk. Mau bungkusin pesanan biar bisa segera dikirim.

Iya, memang bener ada orderan, Tapi, selesai ngebungkus, gak balik lagi ke kamar Nai buat mengikuti acara wisuda sampai selesai. Pas Chi lihat, lagi asik main game di ruangan lain. Eyaampuuuunn! 😂

Tau gitu, Chi numpang tidur juga, ya. Mana acaranya seremonial banget. Semakin bikin Chi mengantuk. Tetapi, sengaja ditahan, khawatir nanti diminta menyalakan kamera saat nama Nai dipanggil. 
 
Kan, biasanya di tiap acara wisuda akan dipanggil satu per satu siswanya. Eh, ternyata ini gak ada, dong. Bahkan video pengalungan yang udah dibuat pun gak ditayangkan. Beneran seremonial banget. Banyakan pidato dari sana/i dan mengumumkan kelulusan 100% hihihi.

Kesel, sih, enggak. Malah bikin kami terus cekikikan. Ya, abisnya bener-bener acara wisuda terunik! Dan, ini terjadi karena pandemi COVID-19.  
 
Tetapi, konsep acara wisuda virtual di setiap sekolah bisa berbeda-beda, ya. Chi lihat, banyak teman yang persiapannya juga sama seperti wisuda pada umumnya. Tetap, berpakaian formal dan dandan, meski pun virtual.

Kalau di sekolah Nai bener-bener santai banget. Makanya, gak ada foto-foto ala wisuda. Mukanya masih pada baru bangun semua hahaha! Alhamdulillah, Nai juga anaknya santai. Gak merasa gimana gitu dengan konsep wisuda seperti ini.

"Bun, enak juga wisuda kayak gini. Santai banget! Mudah-mudahan tahun depan, wisuda Keke kayak gini juga."

Aaaahhh, tidaaaak! Wisuda Virtual memang sungguh unik. Kelak akan menjadi kenangan yang spesial. Tetapi, gak mau lah kalau sampai mengalami lagi. Bukan tentang santai atau sederhananya. Tetapi, kalau tahun depan masih virtual juga, kan, artinya pandemi masih ada. Duh, jangan sampai terjadi. COVID-19, segera pergi jauuuuuhhh! 
 

Continue Reading
36 comments
Share:

Tuesday, June 1, 2021

Imperfect Parenteen, Bukan Buku Parenting

Imperfect Parenteen, Bukan Buku Parenting - Apakah teman-teman pernah merasa bersedih karena merasa tidak menjadi orang tua yang sempurna? 
 
imperfect parenteen bukan buku parenting

Pada awalnya, Chi merasa seperti itu. Di awal menjadi orang tua, puluhan bahkan ratusan kali merasa bersalah. Anak sakit langsung merasa gak becus mengurus kesehatan anak. Usai marahin anak, bapernya berkepanjangan karena feeling guilty. Khawatir anak jadi benci ibunya. Banyak lah cerita baper lainnya.

 

Di Balik Cerita tentang Buku Imperfect Parenteen

 
Beberapa bulan lalu, penerbit EA Books (bagian dari Buku Mojok Group) menghubungi Chi via email. Katanya ingin membukukan beberapa tulisan di blog ini yang tentang pengasuhan remaja.

Bagi Chi membuat buku adalah sesuatu yang sangat baru. Bahkan punya rasa yang berbeda. Dari dulu, beberapa kali pernah berusaha menulis untuk media selain blog, tetapi rasanya beda. Malah jadi banyak nge-blank. Makanya sebelum menyetujui, Chi bertanya lebih detil dulu. Khawatir nanti malah jadi mandek ngerjainnya karena merasa gak dapat 'feel-nya'.

Ternyata, Chi gak harus menulis ulang. Semua tulisan di buku ini, sudah ada di blog. Editor di EA Books yang kemudian merapikan tulisan-tulisannya. Misalnya, mengecek ada typo atau enggak. Mengganti kata 'Chi' menjadi saya. Tentu saja setelah selesai, Chi diminta mengecek draftnya terlebih dahulu untuk kemudian disetujui atau tidak.

Setelah draft naskah disepakati, menentukan judul ternyata ruwet juga. Ada beberapa usulan judul dari penerbit. Tetapi, Chi juga dipersilakan bila punya usulan lain.

Saat itu, Chi belum ada ide untuk judul. Tetapi, mengutarakan keinginan jangan sampai terkesan seperti buku teori parenting. Chi gak punya latar belakang keilmuan parenting. Semua yang ditulis di blog kemudian dituangkan ke buku memang tentang pengalaman pribadi.
 
Kemudian diusulkan judul Imperfect Parenteen. Chi langsung setuju karena sejatinya memang tidak ada satu pun orang tua yang sempurna. Tetapi, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.


Dari Blog ke Buku


buku parenting remaja

Kalau begitu, kenapa gak baca di blog aja?

Seperti yang sudah Chi tulis di awal, pihak EA Books yang lebih dahulu menghubungi melalui e-mail. Mas Rifai dari EA Books mengatakan sebelumnya sudah terlebih dahulu membaca postingan-postingan di blog ini, khususnya di label 'Parenteen'. Kemudian menawarkan untuk membuat buku parenting remaja.

Tentu aja Chi merasa diapreasiasi dengan penawaran ini. Tulisan-tulisan keseharian tentang Keke dan Nai dianggap menarik untuk dijadikan buku. 

Setelah berpikir untuk beberapa saat, memang rasanya tidak semua membaca blog. Dengan dijadikan buku, harapannya akan memberi manfaat lebih banyak lagi.

Selain itu, di buku Imperfect Parenteen ini hanya berisi tentang cerita pengasuhan anak remaja. Sedangkan kalau di blog kan tulisan-tulisannya sejak Keke dan Nai masih kecil. Juga ada beberapa tulisan lain. Meskipun untuk membaca cerita mereka sejak ABG bisa langsung dicari di label 'Parenteen'.
 
Chi tuh seringkali merasa buku parenting tentang pola asuh remaja masih jarang banget. Berbeda dengan buku parenting untuk bayi hingga balita yang sumbernya melimpah ruah. Berbagai tabloid, majalah, hingga situs khusus ibu dan anak pun mayoritas topiknya masih seputaran tentang masa kehamilan serta pola asuh untuk bayi hingga balita.

Padahal pola asuh ketika anak mulai puber tuh juga penting banget, lho. Chi mulai merasakan jumpalitannya menjadi orang tua justru ketika Keke dan Nai mulai ada di fase ini. Beberapa kerabat dan teman pun merasakan hal yang sama. Memiliki anak remaja tuh banyak tantangannya.


Jadi, meskipun Imperfect Parenteen bukanlah buku teori parenting, Chi juga berharap kalau buku ini bisa meramaikan ranah pola asuh anak remaja. Ya meski pun mungkin gak gede-gede amat kontribusinya. Etapi, boleh banget dong ya berharap buku ini menjadi best seller. Aamiin Allahumma aamiin.
 
Harapan Chi, setidaknya bisa mengajak para orang tua, terutama yang saat ini memiliki anak remaja, untuk sama-sama bergandengan tangan. Meski pun remaja kerap kali bikin pusing, tetapi tetap menyenangkan banget, kok.


Di Mana Membeli Buku Imperfect Parenteen?


harga buku imperfect parenteen
Harga buku Imperfect Parenteen Rp68.000,00


Saat ini, buku Imperfect Parenteen dijual secara online. Ada beberapa cara untuk membeli buku ini yaitu:

  1. Beli di bukumojok.com
  2. Untuk mengetahui online bookstore mana aja yang menjual bisa cek di Instagram dengan hashtag #ImperfectParenteen. Bisa juga bertanya ke akun IG @EAbooks atau @bukumojok
 
Semoga buku ini bisa menjadi berkah untuk semua, ya. Sekaligus penyemangat untuk terus menulis. Aamiin Allahumma aamiin.

Continue Reading
94 comments
Share: