Tuesday, September 29, 2020

Nai dan Penilaian Tengah Semester

Gimana pekan Penilaian Tengah Semester di masa PJJ? Lancar atau malah ada drama? Tergoda untuk bantuin, gak? Hehehe.
 
penilaian tengah semester

Nai dan Penilaian Tengah Semester


 
Nai sempat ada sedikit drama saat mata pelajaran matematika. Jawabannya belum diterima gurunya padahal status sudah submit. Masalah teknis yang entah di mana kesalahannya. Mungkin koneksi internet atau lainnya.
 
Sedangkan Keke, gak pernah ada PTS di sekolah. Jadi, dia tetap belajar seperti biasa. Nyantai banget lah dia.
 
Kemarin, Chi lihat fitur 'see your memories' di FB. Ada 2 celoteh Nai yang belum pernah ditulis di bloh. Pas banget nih celotehannya dengan minggu PTS dan postingan Chi sebelumnya tentang ambisi.
 
[Silakan baca: Berusaha Melupakan PAT]
 
 

Celoteh Nai


28 September 2017
 
Nai: "Bun, kalau nilai ulangan ada angka 9 Bunda seneng kan?"
Bunda: "Iyalah."
Nai: "Yes! Berarti gak apa-apa kalau dapat nilai 59, 69, 79, atau 89." 
 
*Eerrrghhh ....
*Menjelang UTS kayaknya dia udah bikin tameng duluan


Nai yang Santuy


Cerita di atas adalah celotehan Nai waktu dia berusia 8 dan 11 tahun. Sampai sekarang karakternya pun sebetulnya masih begini. Ceplas-ceplos kalau ngomong. Ketika menghadapi kegagalan pun dia bisa bersikap santai. 
 
Kalau udah punya mau memang dia cukup keras. Makanya anaknya tekun banget. Tetapi, memang beberapa kali kejadian dia terlalu berambisi. Makanya jadinya malah 'tumbang'.

Ya, semua bisa dijadikan pelajaran. Mana yang harus dipertahankan, dikembangkan, atau sedikit diredam 😘.

[Silakan baca: Nai dan Ambisinya]

Continue Reading
44 comments
Share:

Sunday, September 27, 2020

Nai dan Ambisinya

Chi pernah baca tentang efek orang tua yang terlalu berambisi kepada anaknya. Tentu saja, kami tidak ingin seperti itu. Makanya, suka berdiskusi dengan anak-anak. Biar tau apa yang mereka mau dan pikirkan.
 
anak memiliki ambisi yang tinggi

Nai dan Ambisinya


 
Menjadi, orang tua yang gak ambisius juga katanya lebih asik di mata anak. Karena anak tidak dituntut harus menjadi ini itu untuk menuruti ambisi orang tua. Ya syukurlah kalau memang dianggap sebagai orangtua yang asik. Tetapi, bukan itu juga yang ingin dibahas di sini.

Berusaha menjadi orang tua yang tidak ambisius, ternyata bukan berarti anak tidak memiliki ambisi yang kuat. Bahkan akhir-akhir ini setidaknya ada 2 kejadian yang bikin Nai jadi ngedrop. Dia terlalu memaksakan diri sendiri.


Berambisi Menjadi Ketua OSIS


bila anak berambisi tinggi

Ini kejadian waktu Nai di kelas 8. Dengan riang dan terlihat semangat, dia cerita kalau sedang mengikuti seleksi calon Ketua OSIS dan Ketua Paskibra.

Ekspresi Chi saat itu campur aduk. Senang karena Nai memiliki aktivitas yang bermanfaat. Terkejut karena setahu Chi, Nai ini tipe anak yang introvert. Dia memang senang dengan ekskul Pakibra. Tetapi, gak menyangka aja kalau dia berani mencalonkan jadi kedua.

Perasaan lainnya adalah galau. Menurut Chi, kedua jabatan itu sama-sama bagus. Tetapi, juga memiliki tanggung jawab yang tidak mudah. Chi pun menyarankan ke Nai supaya memilih salah satu. Supaya dia fokus.

Nai bersikeras ingin ikut keduanya. Dan dia tipikal yang keras kalau sudah punya mau. Jadi, Chi paling tarik ulur aja. Tetap mendukung, tetapi juga mengingatkan.

Nai benar-benar serius dengan keinginannya. Dia mengkonsep beberapa program untuk dipresentasikan. Usahanya memang sangat keras. Chi seringkali mengingatkan Nai untuk makan dan istirahat yang cukup.

Pemilihan Ketua OSIS dan Paskibra diselenggarakan berdekatan. Sayangnya, menjelang pemilihan, Nai pun tumbang. Dia sakit hingga gak bisa sekolah.

Nangis banget dia saat itu. Terpaksa mengundurkan diri dari keduanya. Chi ikut merasakan kesedihannya. Rasanya pengen ikut nangis bersama. Tetapi, 'kan harus berusaha tegar di depan Nai.

Chi ajak dia ngobrol berdua secara pelan-pelan. Alhamdulillah, kekecewaan Nai berangsur berkurang. Dia mulai ceria lagi.
 
Selang beberapa bulan kemudian, Nai terpilih sebagai Ketua Panitia Lomba Paskibra yang akan diadakan secara nasional. Setiap tahun, sekolah Nai mengadakan lomba ini dengan peserta se-pulau Jawa. Karena selalu berjalan lancar, rencananya mau ditingkatkan jadi skala nasional. Dan Nai terpilih sebagai ketua panitia. Tentunya bukan tugas yang ringan.

Setelah terpilih sebagai ketua, kesibukan Nai pun bertambah. Sayangnya pandemi COVID-19 datang dan semua kegiatan pun dihentikan. Padahal kalau gak ada wabah kemungkinan Oktober ini lombanya digelar.

Nai: "Bun, Ima heran, deh. Giliran Ima santai, gak kepengen banget gitu terpilih, eh malah dipilih jadi ketua. Tetapi, giliran waktu itu, Ima sampai sakit."

Bunda: "Ya justru karena Adek santai. Makanya jadi lebih fokus. Kalau sebelumnya 'kan Adek terlalu berambisi. Ikut 2 pemilihan pula. Akhirnya Adek stress sendiri."

Nai: "Iya ya, Bun hehehe."


Berambisi Masuk Sekolah Negeri


berambisi masuk sekolah negeri

Ini kejadian yang baru banget. Kurang lebih 1 bulan yang lalu. Chi mulai merasakan ada yang berbeda dari Nai. Dia semakin jarang terlihat keluar kamar. Setiap kali masuk ke kamarnya, Nai lagi di depan laptop. Bahkan hingga larut malam.

Sebetulnya, sejak dulu Chi punya aturan kalau anak-anak gak boleh tidur larut malam. Meskipun ada tugas yang belum selesai, tidur harus tepat waktu. Biar bagaimanapun mereka masih harus terbiasa tidur dengan jumlah waktu yang cukup.

Tetapi, kali ini Nai terlihat ngeyel. Dia memang bukan tipe yang meledak-ledak kalau melawan. Hanya saja suka terlihat masih di depan laptop. Padahal harusnya dia sudah tidur dari tadi.

Awalnya, Chi pikir dia lagi banyak tugas sekolah. Sempat merasa kesal juga karena tugas sekolah kok gak kira-kira. Nai belajar terus sampai tengah malam. Itupun Chi paksa dia harus tidur. Kalau enggak kapan istirahatnya?
 
 
Ternyata bukan. Dia katanya pengen belajar aja karena ada yang belum mengerti. Nai memang tekun anaknya. Tetapi, kalau sampai larut malam, gak bagus juga. Chi kembali mengingatkan Nai untuk jaga kesehatan.

Sebetulnya Chi udah merasa ada sesuatu yang salah. Nai bukan hanya jadi jarang keluar kamar. Senyumnya juga menghilang. Muram terus ekspresinya. Judes juga kalau diajak ngobrol. Mulai agak sering sakit-sakitan. Ngebaking udah gak pernah dia lakukan lagi.

K'Aie sempat berpikir apa perubahan Nai itu karena PMS. Tapi, Chi yakin bukan. Perubahannya beda, meskipun kelihatan uring-uringan. Lagian kalau PMS paling beberapa hari aja gak sampai berminggu-minggu.  

[Silakan baca: Nai dan Haid Pertama]
 
Nai ini aslinya suka becanda, celetak-celetuk, dan kayak terlihat santai. Ketekunannya juga tinggi. Tetapi, kalau untuk urusan pribadi sangat tertutup. Agak sulit mengorek Nai supaya mau terbuka. Persis banget lah sifatnya kayak ayahnya.

Jadi, Chi juga mau langsung menebak permasalahannya. Meskipun sudah merasa ada sesuatu yang salah. Bahkan udah menebak-nebak kira-kira apa permasalahannya. Paling hanya mengingatkan tentang pentingnya menjaga kesehatan. Jangan sampai lupa minum, makan, dan istirahat. Chi juga bilang kalau ada apa-apa cerita.

Hingga suatu hari, Chi sedang kesal. Nai pun kena pelampiasan marah. Padahal dia gak salah apa-apa. Dia langsung teriak, "Ima benci PJJ!" Dia menangis sampai sesenggukan.

Chi langsung ajak masuk ke kamarnya. Membiarkan Nai nangis sampai puas. Jarang banget lho Nai nangis seperti itu. Setelah selesai menangis, Chi minta Nai untuk bercerita.

Dugaan Chi selama ini benar. Nai belajar supaya nilai-nilainya baik. Tetapi, semakin keras dia belajar, justru nilainya semakin turun. Hal ini bikin dia kecewa dan terpuruk. Selalu terlihat murung dan mulai sakit-sakitan.

"Dek, memang selama ini Bunda pernah menuntut Adek untuk selalu punya nilai sempurna? Memang Bunda selalu langsung marah kalau Adek dapat remedial?"

Nai bilang gak pernah. Ya, kami memang gak pernah memaksa anak-anak untuk selalu mendapatkan nilai bagus apalagi sempurna. Kami juga gak pernah marah kalau mereka ulangannya harus remedial. Selama kami tau mereka sudah berusaha belajar itu cukup.

Karena buat kami yang penting tekun. Kalau sudah tekun belajar, tetapi belum bagus nilainya ya gak apa-apa. Lagipula gak harus juga mereka menguasai semua mata pelajaran.

Nai menjadi begitu keras terhadap dirinya karena dia pengen banget masuk sekolah negeri. Terutama, di sekolah yang sama dengan Keke. Perubahan peraturan PPDB tahun ajaran ini yang drastis memang terlihat sangat tidak menguntungkan bagi Nai. Kans dia menjadi kecil banget.

Sebetulnya Chi udah menebak permasalahan itu sebelum Nai cerita. Ya mungkin ini yang dinamakan feeling seorang ibu. Meskipun anaknya belum mau cerita, tetapi bisa merasakan ada sesuatu yang salah.
 
Hati Chi seringkali merasa pedih banget setiap kali melihat Nai begitu tekun belajar. Chi suka menangis di depan K'Aie. Gak tega rasanya kalau dia sampai gagal masuk SMA Negeri melihat ketekunannya belajar.  Jadi semakin kesel banget dengan perubahan sistem PPDB DKI.

Chi gak akan cerita di sini ya seperti apa perubahannya. Karena udah ditulis panjang banget di blog ini. Jadi meluncur aja ke postingan Chi tentang perubahan peraturan PPDB tahun ini yang membuat banyak sekali orang tua berdemo.
 

"Menurut Adek, memangnya kakak mu jago matematika? Dia beberapa kali remed. Tapi, kakak mu santuy aja kayak gak ada masalah hehehe. Tapi, ya Keke juga punya kelebihan di mata pelajaran lain."

Chi juga cerita zaman masih sekolah. Meskipun masuk jurusan IPA, gak otomatis pelajaran eksak pasti jago. Biologi menjadi kelemahan. Saat kuliah matkul akuntansi yang kepayahan. Udah pasti remed melulu, deh. 
 
"Dek, meskipun Bunda remed melulu untuk beberapa pelajaran, tetapi buktinya Bunda masih hidup dan bahagia tuh sampai sekarang hahaha."

Ketika Chi menceritakan pengalaman remedial diri sendiri dan Keke, mulai terlihat senyum kecil di wajah Nai. Sebetulnya, Nai juga pernah merasakan remedial. Hanya karena kali ini dia sedang terlalu keras dengan dirinya, remedial malah membuatnya jadi terpuruk.

Melihat Nai mulai tersenyum kecil, Chi merasa agak bersalah. Selama ini, Chi memang kurang banyak cerita ke Nai. Lebih terbuka ke Keke.
 
Karena Keke juga anaknya terbuka. Apa aja bisa dia ceritain. Makanya Chi pun suka cerita tentang masa sekolah dan lain sebagainya. Termasuk kalau lagi galau juga kadang-kadang curhat ke Keke hehehe.

Tentu gak sekali itu aja Chi ajak ngobrol. Chi pun mulai lebih banyak ceritain lagi tentang pengalaman masa sekolah dan lain sebagainya. Diselipin juga dengan pesan tentang masuk sekolah negeri. Kalau sampai gak keterima, boleh banget kok kecewa, marah, atau sedih. Asalkan jangan kebablasan. Gak apa-apa masuk SMA swasta kalau memang itu udah jalannya. Gak otomatis, masa depannya jadi suram kalau keinginan belum dikabulkan.

Sama-sama berusaha dan berdo'a. Jangan pula sampai memaksakan diri. Apalagi ini udah kejadian kedua, Nai terlalu keras sama dirinya sampai murung dan sakit-sakitan. 
 
Sehari setelah kejadian Nai menangis, Chi izin ke wali kelas untuk tidak ikut PJJ dengan alasan sakit. Memang bener Nai sedang sakit. Kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk belajar meskipun dari rumah.

Selama sakit, Chi minta Nai untuk membebaskan diri. Terserah mau melakukan apapun, selain belajar tentunya. Dan, dia memilih marathon menonton drakor "It's Okay to Not Be Okay". 
 
Dia juga ketawa-tawa dan sesekali terlihat menari mengikuti boyband Korea favoritnya. Jangan tanya boyband apa yang Nai suka, ya. Berkali-kali dikasih tau, tapi Chi gak pernah hapal juga namanya hehehehe.
 
Gak apa-apa dia mau melakukan apapun. Pokoknya yang penting hatinya senang dulu. Lupakan semua pelajaran sekolah untuk beberapa saat. Jangan pula sampai lalai sholat, makan, minum, dan istirahat.

Secara perlahan, Nai mulai terlihat cerah lagi wajahnya. Mulai suka ngemil dan ngebaking lagi. Celetukannya yang bikin gemes mulai keluar lagi. Alhamdulillah ya Allah. Chi merasa terharu banget karena Nai mulai membaik.
 
[Silakan baca: Nai dan Hobi Baking]


Tips Menghadapi Anak yang Berambisi Tinggi


tip menghadapi anak yang ambisius
Karakter Nai kalau lagi happy ya begini. Suka usil dan bikin gemes

Chi akan coba berbagi tips menghadapi anak yang memiliki ambisi tinggi. Ya mungkin tips ini akan berbeda-beda bagi setiap anak. Tetapi, setidaknya cara ini yang kami lakukan ketika menghadapi Nai.


Introspeksi

Setiap kali anak sedang memiliki masalah, Chi dan K'Aie suka berdiskusi dan introspeksi. Apakah masalah yang sedang terjadi karena kami sudah melakukan kesalahan?

Bisa juga tanya langsung ke anaknya. Seperti yang Chi tulis di atas. Bertanya ke Nai apakah selama ini kami suka memaksakan kehendak sehingga Nai jadi begitu berambisi.


Pahami Karakternya

Sifat Nai yang tertutup untuk urusan pribadi memang seringkali bikin gregetan. Chi pengennya tuh semua anak terbuka. 
 
Karakter Nai memang persis ayahnya. Jadi, gak kaget juga sebetulnya. Memahami karakternya buat Chi lebih baik daripada memaksa untuk berubah. 

Tertutup di sini bukan berarti dia pendiam banget sampai gak pernah ngobrol ma keluarga. Nai dan ayahnya tipe yang menutup diri untuk masalah pribadi. Lebih suka memendam dan menyelesaikan masalah sendiri. Bukan karena gak percaya ma orang. Memang begitu sifat mereka berdua.

Tetapi, kalau untuk hal lain bisa ngobrol. Malah celetukannya suka bikin gregetan. Abis suka gak terduga dan bikin ketawa.


Selalu Ada Untuknya

Sejak kecil, kalau Nai udah nangis sesenggukan sendirian di kamar itu artinya dia lagi sedih banget. Tetapi, gak otomatis dia mau langsung cerita kalau di tanya. Mulutnya bisa tetap terkunci rapat dan memilih bilang, "Gak apa-apa."

Paling yang Chi lakukan adalah tarik ulur. Sesekali dipancing supaya mau terbuka. Kalau dia tetap diam ya udah. Dipaksa untuk terbuka malah bikin Nai semakin menutup diri.
 
Sesekali Chi samperin buat nanya udah makan atau belum. Ingetin dia untuk minum dan istirahat. Elus-elus kepalanya sambil sesekali berkata dengan lembut, "Kalau ada apa-apa cerita ya, Dek." Kalau pun Nai belum mau cerita, setidaknya Chi berharap dia tau bundanya akan selalu ada untuknya.
 
Kadang-kadang, Chi nyamperin dia sekadar untuk bilang, "Dek, udah lama gak bikin kue. Bikin, dong. Bunda kangen nih sama buatan Adek." Ya maksudnya untuk mencairkan suasana. Berharap juga Nai akan berpikir kalau dia punya potensi dan passion yang sebetulnya disukai orang lain.
 
 

Dengarkan, Dipuji, dan Beri Saran

Dari 2 kejadian di atas, Chi suka gregetan pengen bawel. Suka pengen bilang, "Adek nih kenapa sih gak langsung terbuka. Harus nunggu sampai sakit-sakitan dulu. Coba nurut sama Bunda!"
 
Berusaha banget gak Chi lakukan kebawelan itu. Daripada Nai jadi kesel karena diomelin. Bisa-bisa dia semakin menutup diri.
 
Etapi, pas marah keluar juga kalimat, "Kenapa sih Adek tertutup banget! Kesel Bunda lihatnya!" Meskipun setelah Chi marah itu, Nai akhirnya mau cerita. Tapi, sebaiknya jangan dilakukan sering-sering, ya. Khawatirnya malah anak jadi semakin tertutup.
 
Setelah Nai mau terbuka, yang pertama kali Chi lakukan adalah mendengarkan. Biarin aja dia cerita dulu sepuasnya. Jangan disela omongannya. Berusaha jadi pendengar yang baik. Kalau udah selesai, Chi langsung kasih pujian. 

Kenapa harus dikasih pujian?

Karena yang dilakukan Nai bagus, kok. Dia berani mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS dan Ketua Paskibra aja udah langkah bagus. Dia tekun belajar, tentu bukan hal jelek. Keinginan kerasnya untuk mencapai sesuatu memang bukan sesuatu yang jelek.
 
ambisi/am·bi·si/ n keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;

berambisi/ber·am·bi·si/ v berkeinginan keras mencapai sesuatu (cita-cita dan sebagainya); mempunyai ambisi: regu bulu tangkis lawan merupakan tim yang sangat ~ dan perlu diperhitungkan
 
Merujuk dari defini ambisi di KBBI juga berarti gak masalah kalau anak punya ambisi tinggi. Jadi, harus dong tetap dikasih pujian. Supaya Nai tetap mau semangat bila ingin mencapai sesuatu.

Selama belajar di rumah pun dia disiplin dan tekun banget. Dia selalu bangun sendiri tepat waktu. Langsung mempersiapkan segala keperluan belajar, termasuk sarapan. Selama kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh berlangsung, dia tetap duduk menyimak dengan baik. Gak diselingin dengan main game, nonton drakor, dll. Bahagia banget 'kan Chi lihatnya.

Setelah dipuji, langkah selanjutnya memberi masukan. Gak selalu dilakukan dengan cara menggurui. Seringkali diawali dengan berbagai cerita pengalaman pribadi. Ya kayak waktu ceritain ke dia kalau nilai-nilai pelajaran bundanya juga pernah beberapa kali jeblok.

Sambil cerita diselipi dengan saran. Intinya gak apa-apa merasakan gagal. Boleh banget merasa kecewa bahkan marah. Asalkan jangan berlebihan aja.
 
Membolehkan anak merasa kecewa, marah, dan sedih saat merasa gagal bagi kami penting, lho. Memang iya sebagai manusia harus tegar. Tetapi, biarkan sejenak merasakan perasaan yang lain dulu. Itu manusiawi banget, kok.
 
 
"Dek, gak apa-apa kalau nanti akhirnya gagal masuk sekolah negeri. Ayah dan Bunda tetap bersyukur dan bangga sama Adek. Karena tau banget kok gimana usaha Adek supaya bisa keterima. Pokoknya usaha aja terus, tapi jangan sampai membebani diri sendiri. Insya Allah, sekolah di mana pun itu akan jadi rezeki terbaik untuk Adek."


Kritikan Sebagai Langkah Terakhir

Mendapatkan kritikan bisa menimbulkan rasa kurang nyaman. Meskipun beberapa kritik memang bersifat membangun. Tetapi, tetap aja harus disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat.

Itulah kenapa Chi menempatkan kritik di langkah terakhir. Menunggu sampai Nai terlihat mulai pulih dulu badan dan perasaannya. Coba deh bayangin ke diri sendiri. Kalau lagi bad mood trus ada kritikan, biasanya rentan baper. Tapi, kalau perasaannya enak, bisa lebih menerima.
 
Begitu juga dengan Nai, kalau perasaannya sedang nyaman dia bisa menerima semua kritikan dengan santai. Pokoknya beda banget ekspresinya, deh.
 
 

Bersabar dengan Proses

Chi bukan ibu peri yang punya kesabaran super duper tinggi, kok. Kadang-kadang terpicu marah juga. Tetapi, menghadapi kejadian begini memang salah satu kuncinya bersabar. 
 
Ketika Nai sudah mau terbuka, bukan berarti semua akan langsung berjalan lancar. Tetap akan ada masa up and down. Jadi bersabar aja dengan semua proses.
 
Chi bilang ke Nai kalau segala ambisinya jangan sampai berhenti. Orang tua merasa bersyukur melihat anak yang tekun dan berkemauan tinggi. Tetapi, jangan sampai kebablasan. Harus belajar mengukur kemampuan. Jangan sampai terlalu keras sama diri sendiri yang akhirnya malah merugikan. KAlau bisa sih jangan terlalu tertutup, lah.
 
Kritikan sebagai langkah terakhir bukan berarti permasalahan selesai. Tetap secara berkala Chi ajak diskusi. Mulai lebih sering mengajak dia ngobrol, mengingat ini bukan kejadian pertama Nai 'tumbang' karena ambisinya.

Sempat ada rasa khawatir kalau Nai bisa depresi bila terlalu berambisi, sedangkan dirinya tertutup. Duh! Naudzubillah min dzalik.

Pikiran tentang depresi, Chi coba tepi jauh-jauh. Anggap aja itu hanya kekhawatiran sesaat. Insya Allah gak terjadi bila masih memiliki iman. Juga memiliki circle yang mendukung dan ada untuknya.
 
Chi tetap Nai anak yang tangguh. Hanya memang perlu belajar lagi dan menahan diri untuk tidak terlalu berambisi. Jangan sampai menekan dirinya terlalu keras hingga batas kemampuan. Karena yang terjadi malah berantakan. Semoga aja Nai bisa ambil pelajaran dari kejadian yang pernah dialaminya. Aamiin.

Alhamdulillah Nai udah kembali ceria. Semoga keinginan dia untuk masuk sekolah negeri, khusus SMAN yang sama dengan Keke, bisa dikabulkan oleh Allah SWT. Mohon do'anya untuk Nai ya, Teman-teman 😘

Bunda: "Dek! Masih betah gak PJJ?"

Nai: "Hehehe."

Bunda: "Ih! Adek mah ditanya malah ketawa. Mau balik belajar ke sekolah, gak?"

Nai: "Enggak!"

Nai menjawab sambil ketawa-tawa usil. Chi udah paham maksudnya. Alhamdulillah, Nai udah kembali ceria lagi.

Continue Reading
92 comments
Share:

Thursday, September 24, 2020

Buah yang Bagus untuk Lambung dan Atasi GERD

Buah merupakan makanan bernutrisi yang penting untuk dikonsumsi setiap hari. Namun bagi penderita GERD serta seseorang yang memiliki masalah lambung lainnya, ada buah tertentu yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi, seperti buah lemon dan jeruk. Sebaliknya, ada juga buah-buahan yang dianjurkan untuk dikonsumsi supaya bisa mengatasi GERD.

Buah yang Bagus untuk Lambung dan Atasi GERD



Penyakit GERD
atau gastroesophageall reflux disease merupakan gangguan lambung yang dialami banyak orang. Penyakit ini merupakan kondisi dimana adanya kerusakan pada otot bagian bawah kerongkongan (sfingter esofagus) yang menyebabkan terjadinya kebocoran. Hal tersebut yang menyebabkan naiknya asam lambung menuju kerongkongan.

Naiknya asam lambung menimbulkan banyak keluhan tubuh lainnya seperti rasa nyeri pada ulu hati, sensasi terbakar pada dada, hingga tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Untuk mencegahnya, perlu adanya kontrol baik dari asupan makanan hingga kebiasaan yang harus dihilangkan. Contoh makanan yang harus dihindari adalah minuman bersoda, kopi dan coklat ketika perut masih kosong.



Mengkonsumsi Buah yang Tepat Untuk Lambung dan Atasi GERD


Pepaya

Pepaya cukup mudah ditemukan disekitar kita, harganya pun terjangkau serta sehat untuk dikonsumsi setiap hari. Buah yang satu ini sudah dikenal sebagai buah yang dapat melancarkan sistem pencernaan karena kandungan enzim papain yang terdapat di dalamnya. Namun, tahukah kamu bahwa pepaya juga baik untuk menetralkan kenaikan asam lambung? Selain itu, kandungan vitamin A, C, K, beta-karoten hingga kalsiumnya sangat diperlukan bagi tubuh.


Apel

Apel memiliki banyak jenis, meskipun demikian, semua jenis apel cenderung memiliki kandungan yang mirip dan sama-sama baik untuk lambung. Kandungan vitamin A, B,C,D, zat besi, kalsium dan magnesiumnya membantu tubuh dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan. Oleh sebab itu, seseorang yang mengkonsumsi pepaya setiap hari biasanya akan mengalami buang air besar yang lancar dan teratur. Selain itu, apel juga dapat menetralisir asam lambung dan membuat perut tenang, terutama bagi seseorang yang memiliki masalah lambung.


Alpukat

Buah yang satu ini seringkali dijadikan menu pada diet sehat. Tidak hanya sebagai sumber serat yang baik, alpukat juga banyak mengandung mineral yang diperlukan oleh tubuh untuk kesehatan dan kecantikan. Alpukat juga buah yang disarankan bagi seseorang yang memiliki masalah lambung. Sebab ia dapat mengendalikan asam lambung serta meredakan maag.


Semangka

Buah semangka dikenal dengan kandungan airnya yang banyak. Bahkan menurut penelitian buah semangka mengandung sekitar 92% air di dalamnya. Semangka juga mengandung mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Tidak hanya itu, di dalamnya juga terdapat kandungan nutrisi yang membuat buah yang satu ini dapat menetralkan asam lambung yang sedang naik.


Melon

pH-nya yang bernilai basa membuat melon menjadi buah yang dianjurkan untuk dikonsumsi penderita GERD. Sebab, kandungan basa pada melon dapat menetralkan asam lambung. Selain itu, buah inipun manis dan menyegarkan tubuh.
Pir

Masih berkerabat dengan apel, buah pir juga dapat menetralkan asam lambung karena kadar pH nya 3,5-4,6. Selain itu, pir juga mengandung serat dan pektin yang baik untuk sistem pencernaan.
Tin

Buah yang berasal dari Timur Tengah yang satu ini memiliki banyak manfaat, salah satunya bagi sistem pencernaan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kandungan kalium, kalsium, zat besi, serta serat di dalamnya. Ketika asam lambung sedang naik, cobalah mengkonsumsi buah tin untuk meredakannya.

Selain mengkonsumsi buah, kamu juga perlu siap sedia obat antasida yang bersifat penetral asam, seperti promag herbal. Sedia payung sebelum hujan sangat diperlukan, apalagi di tengah situasi genting. Selamat beraktivitas kembali dengan normal!

Continue Reading
2 comments
Share:

Tuesday, September 22, 2020

NIVEA Hokkaido Rose Series yang Melembapkan Kulit

Berasa banget gak sih beberapa hari terakhir cuaca gerah banget? Ya meskipun turun hujan juga. Tapi, kalau cuaca lagi terik, keringat rasanya tetap mengucur meskipun di rumah.

review nivea hokkaido rose series

NIVEA Hokkaido Rose Series yang Melembapkan Kulit



Baidewei, apakah teman-teman sudah beraktivitas normal lagi?

Hmmm ... dibilang normal seperti sebelum ada pandemi sih belum. Jakarta malah kembali melakukan PSBB. Ya gak apa-apa lah demi kebaikan dan kesehatan semuanya. Semoga aja pandemi lekas berlalu. Aamiin.
 
 

Tetap Padat Aktivitas Selama di Rumah Aja


Mau di rumah sekalipun, ternyata gak serta merta jadi kaum rebahan. Chi merasa aktivitas tetap aja ada. Malah kayaknya semakin sibuk. Ada aja yang dikerjain.
 
Kesibukan yang lumayan padat ditambah lagi dengan suasana mood yang kadang-kadang turun naik. Me time tentu tetap dibutuhkan. Salah satu me time terfavorit adalah menonton dorama, J-Movie, atau reality show dari channel tv Jepang. Pokoknya Chi suka deh dengan yang serba negeri sakura.  

Kalau lagi asik, jadinya suka begadang. Gak boleh ditiru sih ini karena bikin kurang istirahat. Terlihat pula di wajah yang menjadi lelah. Jadi berasa terlihat lebih kusam.

"Tingginya paparan sinar ultraviolet, baik yang berasal dari matahari ataupun perangkat rumah tangga seperti lampu dan gadget, dapat membuat kulit terlihat kusam," ujar dr Nana Novia Sp.KK.
 
Cung! Siapa yang selama di rumah aja jadi lebih sering pegang gadget?
 
Jadi, di rumah aja bukan berarti kulit kita akan otomatis aman dan sehat, lho. Tetap bisa menjadi kusam kalau tidak dirawat. Perlu tetap melakukan perawatan rutin untuk kulit wajah dan tubuh dengan produk yang kaya antioksidan untuk menangkal radikal bebas


NIVEA Meluncurkan Hokkaido Series yang Kaya Antioksidan


Nestya Rachmawati, Brand Manager NIVEA Face Indonesia, mengatakan, "NIVEA memahami disaat tingkat stres akibat pekerjaan ataupun rutinitas menjadi lebih tinggi dibanding biasanya seperti akhir-akhir ini, kulit wajah kusam yang tampak lelah menjadi permasalahan yang dikhawatirkan banyak konsumen Indonesia. Tingkat stres tinggi juga dirasakan turut memicu keringat berlebih yang berpotensi menyebabkan bau badan. Berkomitmen menghadirkan produk yang dapat membantu menjaga kulit tampak lebih sehat, dengan bantuan teknologi canggih laboratorium NIVEA, tim peneliti kami menemukan solusi yang bersumber dari kekayaan alam berupa Hokkaido Rose. Kami harap inovasi baru ini dapat membantu konsumen Indonesia dalam merawat kesehatan kulitnya."
 
Baru-baru ini, NIVEA meluncurkan produk skincare dan bodycare yang bernama Hokkaido Series. Sesuai dengan namanya, produk ini mengandung ekstrak bunga mawar Hokkaido. Bunga mawar asal Jepang ini memang dikenal kaya akan nutrisi untuk kulit. Ada 3 produk yang diluncurkan yaitu NIVEA Hokkaido Rose Whip Facial Foam, NIVEA Hokkaido Rose Oil Infused Micellar, dan NIVEA Deo Deep Serum Hokkaido Rose.


NIVEA Hokkaido Rose Oil Infused Micellar

nivea hokkaido rose oil infused micellar

Komposisi: Aqua, Isododecane, Glycerin, C15-19 Alkane, Sodium Chloride, Coco-Caprylate/Caprate, Phenoxyethanol, Trisodium EDTA, Isopropyl Palmitate, Caprylyl/Capryl Glucoside, Benzethonium Chloride, Glyceryl Glucoside, Hydrolyzed Pearl, Sodium Ascorbyl Phosphate, Butylene Glycol, CI 16035, Sodium Hydroxide, Rose Extract, Parfum.
 
Sebagai pencinta segala yang serba praktis, Chi suka banget dengan inovasi micellar. Membersihkan make up menjadi jauh lebih praktis.

Pertama-tama, Chi kocok sebentar dulu botolnya supaya air dan minyak di dalamnya menyatu. Kemudian tuang secukupnya ke kapas. Usap perlahan dengan mata dan bibir tertutup.

Oil infused efektif membersihkan make-up waterproof. Gak perlu sampai usrek-usrek wajah dengan keras. Cukup usap perlahan dan lembut, make-up sudah terangkat semua. Begitupun dengan debu dan kotoran lainnya.

Kulit juga terasa lebih lembap dan gak kering karena tidak mengandung alkohol. Diperkaya dengan 36x antioksidan dan vitamin C juga membuat kulit wajah menjadi lebih sehat dan cerah.
 
 

NIVEA Hokkaido Rose Whip Facial Foam

nivea hokkaido rose whip foam

Komposisi: Aqua, PEG-8, Myristic Acid, Glycerin, Stearic Acid, Potassium Hydroxide, Butylene Glycol, Lauric Acid, Palmitic Acid, Glyceryl Stearate SE, Polyquaternium-7, Arachidic Acid, Trisodium EDTA, Oleic Acid, Sodium Benzoate, Glyceryl Glucoside, Cera Alba, Hydrolyzed Pearl, Sodium Ascorbyl Phosphate, Sodium Hyaluronate, Rose Extract, Parfum.
 
Membersihkan wajah dengan NIVEA Hokkaido Rose Oil Infused Micellar hasilnya udah memuaskan. Tetapi, tentunya lebih bagus lagi dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu dengan mencuci muka menggunakan NIVEA Hokkaido Rose Whip Facial Foam.
 
Cara mengaplikasikannya dengan mengeluarkan whip foam secukupnya ke tangan yang sudah dibasahi. Beri sedikit air dan usap perlahan hingga busa krim melimpah. Usapkan pada wajah dan leher yang sudah dibasahi. Lakukan pijatan lembut dengan gerakan melingkar ke atas. Hindari area sekitar mata dan bilas hingga bersih.

Selain busa yang melimpah, facial foam ini juga diperkaya oleh 36x antioksidan dan vitamin C yang berfungsi mencerahkan kulit. Formulasinya juga 0% alkohol. Jadi gak bikin kulit kering. Malah berasa jadi bersih, segar, dan lembap.
 
Bagian yang melembapkannya yang Chi suka. Ada beberapa sabun untuk mencuci wajah yang efeknya bikin kering. Ya meskipun setelah diolesi pelembap, kulit menjadi lembap lagi. Tetapi, Chi tetap lebih suka yang efeknya gak bikin kulit berasa kering kayak ketarik-tarik setelah dicuci.


NIVEA Deo Deep Serum Hokkaido Rose

nive hokkaido rose deodorant

Komposisi: Aqua, Aluminum Chlorohydrate, Isoceteth-20, Octyldodecanol, Paraffinum Liquidum, Glycerin, Glyceryl Isostearate, Parfum, PEG-150 Distearate, Panthenol, Persea Gratissima Oil, Sodium Ascorbyl Phosphate, Glycyrrhiza Glabra Root Extract, Butylene Glycol, Rose Extract.
 
Tidak hanya wajah yang harus rutin dirawat. Tubuh pun memerlukan perawatan. Gak enak banget kalau wajah terlihat terawat, tetapi badannya bau.
 
Chi udah pernah pakai beberapa produk deodorant NIVEA. Semua botolnya dari kaca. Memang agak berat. Tetapi, Chi suka karena transparan. Jadi kelihatan isinya. Bisa siap-siap buat beli lagi kalau tinggal sedikit.

NIVEA Deo Deep Serum Hokkaido ini bikin area ketiak jadi lembap, tetapi tetap kering ke pakaian. Sama dengan dua produk lainnya, juga mengandung 36x antioksidan.

Ketiga produk ini memiliki aroma bunga mawar. Sebetulnya gak semua aroma bunga bakal Chi suka. Lebih suka wangi yang manis seperti aroma fruity. Milih-milih banget deh kalau aroma bunga.

Aroma bunga mawar NIVEA Hokkaido Rose Series ini enak banget! Gak menyengat. Jadi gak bikin sakit kepala. Wanginya sangat lembut serta segar yang menimbulkan efek menenangkan.

Enak banget ketika mencium aroma Hokkaido rose saat membersihkan wajah. Begitu pun di area ketiak juga wanginya enak. Tahan lama pula wanginya.

Teman-teman bisa membeli NIVEA Hokkaido Series ini di official store NIVEA di Shopee. Harganya Rp50.000,00 untuk whip foam, Rp47.000,00 untuk oil infused micellar, dan Rp30.000,00 untuk deo deep serum.

Continue Reading
48 comments
Share:

Sunday, September 20, 2020

Pelatihan Literasi Digital Bagi Pengusaha Ultra Mikro dari Pusat Investasi Pemerintah

"Pandemi sudah masuk Indonesia, Nak. Kita harus siap-siap, ya. Mungkin ini akan menghantam banyak atau bahkan seluruh sektor. Tidak hanya kesehatan."

Memiliki 2 anak yang sudah memasuki usia remaja, membuat Chi tidak terlalu kesulitan menjelaskan tentang pandemi COVID-19. Mereka sudah bisa mencari informasinya sendiri. Kami tinggal berdiskusi.

pelatihan umkm siap online

Pelatihan Literasi Digital Bagi Pengusaha Ultra Mikro dari Pusat Investasi Pemerintah

 
 
Chi juga menceritakan masa di mana pernah merasakan krisis moneter pada tahun 1998. Tentu tidak ingin mengalami lagi. Tetapi, suka atau tidak, pandemi pun datang. Mungkin efeknya bisa lebih besar dan lama dibandingkan saat krismon. 
 
Makanya, meminta anak-anak untuk bersiap diri. Karena di saat ini, Keke dan Nai sedang banyak kegiatan di luar rumah. Sedang asik pula bermain dan nongkrong di coffee shop seperti remaja pada umumnya. Pandemi membuat mereka harus menghentikan kegiatan dan keseruan tersebut selama berbulan-bulan. Mereka masih tetap di rumah aja sampai saat ini.

Adakah hubungan antara berhentinya kebiasaan Keke dan Nai nongkrong di coffee shop terhadap perekonomian Indonesia?

Kalau hanya Keke dan Nai yang berhenti nongkrong, tentu minor banget efeknya. Tetapi, mayoritas masyarakat di dunia saat ini sedang dibatasi aktivitasnya akibat pandemi. Banyak sektor yang terkena hantaman. Perputaran roda ekonomi menjadi terhambat. 

Para pengusaha pun mulai melakukan banyak adaptasi supaya bisa tetap bertahan. Salah satunya adalah memulai memasarkan secara online. Sayangnya, para pelaku usaha mikro masih banyak yang belum memanfaat pemasaran melalui digital.

"Kurangnya pengetahuan dalam memanfaat media sosial secara maksimal, baik dari sisi fotografi produk yang menarik, penulisan caption yang mengundang rasa ingin tahu pembeli, perluasan jangkauan calon pembeli, dan lain sebagainya," ujar Ririn Kadariyah, Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
 
Para pelaku usaha mikro memang masih banyak yang menjalankan usahanya secara konvensional. Kurangnya pengetahuan akan literasi digital menjadi salah satu penyebabnya. Padahal pangsa pasar melalu media sosial berpotensi besar. Apalagi, di saat pandemi ini, di mana pergerakan manusia sedang terbatas demi keamanan dan kenyamanan. Belanja online menjadi salah satu aktivitas yang sering dilakukan.

PIP meyakini bahwa perubahan penjualan dari konvensional ke digital merupakan salah satu bentuk adaptasi bagi para UMKM. Karena apabila gagal beradaptasi, maka debitur UMi akan terhambat berkembang. Akibatnya jumlah penduduk yang berada di dalam garis kemiskinan bertambah dan kembali tergantung kepada bantuan sosial (bansos) pemerintah.
 
Mengingat minimnya literasi digital di kalangan pengusaha mikro, tentu butuh pendampingan dan pelatihan. PIP menggandeng Jagoan Indonesia untuk membantu melakukan upgrading metode pemasaran secara online bagi para pengusaha UMi. 

persyaratan bergabung dalam program pelatihan pengusaha ultra mikro

Dias Satria, founder Jagoan Indonesia, mengatakan ada 3 hal yang dilakukan dalam melakukan pengembangan usaha yaitu

  1. Sosial Media Handling - Para pengusaha akan didampingi mentor dan tim untuk melakukan penetrasi melalui Instagram dan marketplace.
  2. Connecting to Marketplace - Membantu memfasilitasi dan mengotimalisasi pembuatan akun marketplace, Google Bussiness, dan lain sebagainya.
  3. Design Packaging - Mengajarkan para pengusaha UMKM untuk membuat kemasan yang menarik agar dapat menunjang penjualan bila dipasarkan secara online.
 
Tanpa adanya kemauan untuk belajar, program pelatihan ini belum tentu berhasil. Hal ini diakui oleh Rofik Purniawati, Rofikves Pemasok Jamur Putih, Semarang. Meskipun tidak mudah melakukan kebiasaan baru, tetapi dengan kemauan belajar yang keras, diharapkan usaha yang dijalankannya dapat menjangkau pangsa pasar yang lebih luas dengan adanya pelatihan ini. 
 
Hal senada juga diungkapkan oleh Yuyun Wahyuni Nadena Hijab, Jogjakarta. "Bisnis kami memang masih skala kecil dengan pasar yang terbatas. Namun, dengan adanya bantuan modal dan pelatihan online ini,  bisnis kami berkembang lebih cepat. Semakin banyak masyarakat yang tahu Nadena Hijab."
 
Hingga Semester I 2020, PIP telah menyalurkan Kredit UMi senilai Rp7.038.961.333.211,- bagi 2.257.021 usaha di 464 kab/kota di 34 provinsi, melalui 43 mitra penyalur (linkage) LKBB berbentuk koperasi, maupun BUMN yang bergerak di bidang jasa keuangan.
 
PIP merupakan unit organisasi non eselon di bidang pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, PIP menerapkan pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dengan memberikan fasilitas pinjaman maksimal Rp 10 juta kepada para pengusaha Ultra Mikro (UMi). Koordinasi dana diberikan kepada debitur yang selama ini tidak dapat mengakses program pembiayaan dari perbankan dan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). 
 
Pembiayaan UMi disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dengan pola langsung (one step) atau two step melalui linkage koperasi/lembaga keuangan mikro. Saat ini, lembaga yang menyalurkan antara lain PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaan berasal dari APBD, hibah, serta kerjasana pendanaan dan investasi.

Semoga ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha UMi. Bisa tetap bertahan dan memperluas pangsa pasar di saat pandemi. Untuk informasi lebih lanjut bisa lihat di https://umi.id.

Continue Reading
86 comments
Share:

Thursday, September 10, 2020

Mewujudkan Impian dengan Ketenangan Jiwa Bersama FWD Life

Beberapa waktu lalu, Chi menceritakan tentang Nai dengan hobi baking-nya. Memiliki passion memang sangat menyenangkan. Di saat pandemi COVID-19 ini pun passion bisa menjadi salah satu pelipur lara, lho. Bahkan ada juga yang mengatakan kalau passion adalah penakluk stress.

Mewujudkan Impian dengan Ketenangan Jiwa Bersama FWD Life

Mewujudkan Impian dengan Ketenangan Jiwa Bersama FWD Life



Di saat seperti ini memang banyak alasan untuk bersedih. Tetapi, tentu jadi semacam menyia-nyiakan waktu kalau kita hanya terus seperti itu. Lagipula imun tubuh harus terus dijaga. Bersedih bisa membuat kondisi tubuh menjadi ngedrop.


Menjalani Passion dan Merayakan Hidup Tanpa Khawatir


menjalani passion tanpa khawatir

K’Aie berkebun, Chi ngeblog, Nai membuat kue, dan Keke main game online. Itulah beberapa passion di keluarga kami.

Keke pernah bilang pengen bisa ikut salah satu pertandingan e-sport. Makanya dia lumayan rajin latihan. Dia memang lebih ke olahraga. Karena pandemi, jadinya berhenti dulu ngebalap. Beralih nyobain e-sport.

Sedangkan Nai sih gak ada ngomong apapun. Tetapi, Chi cukup berharap kalau passion ngebakingnya ini, kelak juga bisa jadi bagian masa depannya.

Bagi Chi, keluarga adalah segalanya. Masa depan anak-anak masih terbentang luas. Pengennya sih mereka bisa memiliki masa depan yang sesuai dengan passion. Tetapi, akan jadi apapun nanti, tentu harus diusahakan dari sekarang.

Orang tua akan bekerja maksimal agar impian anak bisa terwujud. Agar masa depan dapat terwujud, tentunya harus didukung dengan kesehatan dan perencanaan keuangan yang optimal.

Bagaimana caranya bisa bebaskan langkah untuk impian masa depan dengan ketenangan jiwa?



Lindungi Masa Depan Keluarga dengan Produk Asuransi Jiwa FWD Life


asuransi jiwa fwd life

Kita memang gak akan pernah tau masa depan. Bahkan untuk 1 detik pun. Tetapi, bukan berarti harus pasrah. Tetap harus ada usaha. Termasuk melakukan proteksi demi ketenangan jiwa.

Sejak pandemi, Chi justru semakin merasa pentingnya memiliki asuransi jiwa berjangka. Asuransi semacam bentuk proteksi supaya keluarga bisa melangkah untuk meraih impian masa depan dengan lebih tenang.

Sekarang kesehatan dirasa semakin penting. Berbagai usaha dilakukan agar imun tubuh tetap terjaga. Tetapi, ada kalanya tubuh ngedrop juga.

Seperti beberapa minggu lalu, Chi sempat kena batuk lumayan berat. Sampai suara habis. Sekitar semingguan aktivitasnya lebih banyak istirahat.

Yang namanya sakit memang gak nyaman untuk beraktivitas. Apalagi di saat pandemi begini. Bukan hanya tidak nyaman. Tetapi, juga sempat merasa agak parno. Pikiran udah macam-macam, terutama tentang masa depan anak. Alhamdulillah, masih diberi kesembuhan setelah seminggu sakit.

Presiden Direktur FWD Life, Anantharaman Sridharan mengatakan, “Kami memahami bahwa keluarga merupakan prioritas utama di Indonesia, sehingga penting bagi masyarakat untuk bertanggung jawab melindungi keluarga mereka. Kami berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang asuransi dan memberikan stabilitas dan perlindungan keuangan bagi seluruh masyarakat Indonesia jika ada risiko yang tidak terduga. Peluncuran Asuransi Bebas Rencana Optimal dan FWD Legacy Protection dari FWD Life ini menunjukkan pendekatan kami yang berfokus pada nasabah karena kami sadar tentang pentingnya mempersiapkan masa depan, sehingga nasabah dapat menjalankan passion dan merayakan hidup tanpa khawatir.”

Nah, Chi gak sendiri. Di Indonesia memang keluarga masih menjadi prioritas utama. Bahkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), selama tahun 2017 ada 1,9 juta pernikahan di Indonesia. Jumlah ini terus meningkat. Sehingga kebutuhan untuk melindungi keluarga pun ikut meningkat.

Bagus juga kalau kesadaran untuk melindungi keluarga meningkat bersamaan dengan meningkatnya jumlah pernikahan. Karena membuat asuransi berjangka sedini mungkin memang penting. Semakin cepat membuat, semakin cepat pula masa depan keluarga terlindungi.

Menjawab kebutuhan tersebut, pada tanggal 14 Agustus 2020, PT FWD Life Indonesia luncurkan 2 produk asuransi yaitu Asuransi Bebas Rencana Optimal dan FWD Legacy Protection.

FWD Life ini kan asuransinya sudah terkemuka di wilayah Asia Pasifik. Produk-produknya juga didukung oleh teknologi digital terdepan yang mudah dipahami nasabah. Sudah pula terdaftar di OJK.

Nah, sekarang apa sih manfaat dari Asuransi Bebas Rencana Optimal dan FWD Legacy Protection yang baru saja diluncurkan ini?




Asuransi Bebas Rencana Optimal


  • 100% dari uang pertanggungan akan diberikan jika meninggal selama masa asuransi untuk memberikan dukungan keuangan langsung kepada keluarga.
  • Manfaat meninggal karena kecelakaan untuk pemegang polis dan penerima manfaat sebesar 10% dari uang pertanggungan dengan maksimal Rp50.000.000.
  • Memberikan tambahan manfaat meninggal karena kecelakaan atau ketidakmampuan total tetap hingga 10x uang pertanggungan.
  • Pengembalian premi hingga 120% dari total premi dasar yang dibayarkan jika polis masih berlaku sampai akhir masa asuransi.
  • Fleksibilitas dalam memilih masa asuransi, yaitu 10, 15, atau 20 tahun dengan masa pembayaran premi yang singkat, yaitu 5, 10, dan 15 tahun.
  • Premi yang diberikan tidak akan berubah selama masa pembayaran premi (premi tetap/flat).


FWD Legacy Protection


  • Fleksibilitas dalam memilih masa asuransi, yaitu 10, 15, atau 20 tahun dengan masa pembayaran premi yang singkat, yaitu 5, 10, dan 15 tahun.
  • Premi yang diberikan tidak akan berubah selama masa pembayaran premi (premi tetap/flat).
  • Untuk jumlah uang pertanggungan hingga Rp10 miliar, pengajuan mudah tanpa pemeriksaan kesehatan.
  • Tidak ada financial underwriting untuk jumlah uang pertanggungan hingga Rp12 miliar.

Tentunya tidak ada satupun yang berharap terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di saat ini maupun masa depan. Tetapi, memiliki proteksi memang membuat jiwa menjadi lebih tenang.

Seperti yang dikatakan oleh Direktur, Chief of Proposition & Syariah FWD Life, Ade Bungsu, 2 produk asuransi FWD Life yang baru diluncurkan ini akan memberikan rasa aman kepada masyarakat yang bekerja untuk menghadapi apapun yang terjadi.

Kalau sudah begini, rasanya nyaman dan aman, ya. Mau kerja berasa aman. Menjalani passion juga nyaman. Jadi bisa tetap merayakan hidup.

Continue Reading
153 comments
Share: