Jumat, 27 Februari 2015

Tip Cerdik Hemat Bujet Liburan di Jakarta

tip hemat bujet liburan di Jakarta

Sebagai kota metropolitan, Jakarta dikenal sebagai kawasan yang kurang ramah dalam hal harga untuk para wisatawannya. Bagi para pelancong berkoper tentu itu bukan masalah. Namun, bagi para backpacker, harga tentu menjadi prioritas utama kala berwisata.

Para wisatawan yang mengandalkan dana pas-pasan harus berpikir ekstra keras agar uang yang dibawanya cukup menghidupnya selama berpelesiran ke Ibu Kota. Namun tidak jarang, bujet sudah habis saat liburan belum usai. Alhasil, meminjam dana ke teman ataupun terpaksa pulang lebih awal menjadi pilihan yang realistis dilakukan.

Untuk itu, sebelum berpetualang dengan ransel ke Jakarta, Teman-teman harus menyiapkan segala rencana dengan matang. Ada baiknya pula Teman-teman menyediakan dana tambahan sebagai bahan jaga-jaga jika kehabisan uang di Ibu Kota.

Sebenarnya, Jakarta bukanlah kota yang kejam. Berbagai trik bisa Teman-teman lakukan kala sedang berlibur ke kota ini dengan dana minim. Berikut adalah beberapa tip hemat yang bisa menyelamatkan bujet Teman-teman ketika sedang mengunjungi Ibu Kota untuk berwisata.

1. Beli “Voucher” Hotel Lebih Awal


Saat berlibur, Teman-teman tentu membutuhkan tempat menginap yang aman dan nyaman. Bagi yang punya keluarga di Jakarta itu bukan hal sulit karena mereka bisa menginap di rumah saudara. Namun jika Teman-teman menjadi petualang di Ibu Kota, cara menginap terbaik adalah mencari hotel murah.

Untuk mendapatkan harga yang lebih miring, sebaiknya sebelum berlibur, Teman-teman mulai mencari informasi hotel dan harganya di agen-agen travel online terpercaya. Karena biasanya OTA ini sering mengadakan promo menarik di waktu-waktu tertentu, sehingga teman-teman bisa membeli voucher hotel di Jakarta yang sesuai kebutuhan dan rate yang terbaik.

Namun, kalau pun sedang tidak ada promo, Teman-teman tetap bisa mencari hotel-hotel bertarif murah, misalnya jaringan hotel Ibis ataupun Favehotel yang memang menetapkan rate kamar yang cukup terjangkau. Apalagi, sering kali jaringan-jaringan hotel tersebut memberikan penawaran miring untuk harga inapnya.

2. Cari Hotel Dekat Objek Wisata


Jangan sampai biaya transportasi Teman-teman di Jakarta menghabiskan bujet yang dimiliki untuk liburan. Guna hal tersebut, sebaiknya Teman-teman mencari hotel-hotel yang berada dekat dengan objek wisata yang populer di Jakarta. Lebih baik lagi, carilah hotel di pusat kota karena biasanya daerah pusat memiliki lebih banyak destinasi wisata menarik.

Sebagai contoh, jika Teman-teman ingin sekali mengunjungi Monas dan berbelanja di Pasar Baru yang terkenal dengan produk kain-kainnya tersebut, carilah hotel yang dekat dengan kedua tempat tersebut. Teman-teman dapat memilih menginap di Tune Hotel Pasar Baru ataupun memutuskan bermalam di Amaris Hotel Juanda yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Monas.

Namun jika memang tujuan Teman-teman adalah menikmati berbaga wahana menarik di Dufan ataupun menikmati matahari hari terbenam di Pantai Marina Ancol, lebih baik mencari hotel yang berada di Jakarta Utara. Beberapa hotel yang dekat dengan Ancol dan juga mudah menjangkau pusat perbelanjaan Mangga Dua, antara lain Novotel Jakarta Mangga Dua Square ataupun d’primahotel WTC Mangga Dua.

3. Gunakan Transportasi Massal Bersubsidi

Untuk menyiasati biaya perjalanan wisata Teman-teman selama berada di Ibu Kota, lebih baik menggunakan transportasi massal bersubsidi selama berada di Jakarta. Selain biayanya lebih murah, aksesnya menuju berbagai lokasi wisata juga mudah dan waktu tempuhnya lebih cepat.

Ada dua transportasi massal bersubsidi yang dapat dipilih kala berkunjung ke Jakarta, yaitu TransJakarta dan Commuter Line. Untuk menaiki bus TransJakarta, hanya butuh mengeluarkan dana Rp3.500,00 guna ke segala tujuan, tidak peduli jauh atau dekat. TransJakarta memiliki jalur tersendiri sehingga Teman-teman tidak terlalu berjibaku dengan kemacetan yang kerap merundung kota ini.

Namun jika Teman-teman ingin benar-benar bebas macet, Commuter Line adalah pilihan terbaik. Kereta rel listrik dalam kota yang telah disubsidi ini berbiaya sangat murah serta memiliki waktu tempuh yang tempat. Stasiun-stasiun pemberhentiannya pun dekat dengan berbagai lokasi wisata menarik. Teman-teman bisa turun di Stasiun Juanda jika ingin ke Monas ataupun Pasar Baru. Jika ingin ke museum-museum pun, Teman-teman cukup berhenti di Stasiun Kota.

4. Cari Objek Wisata Gratisan


Banyak objek wisata di Jakarta yang tidak memerlukan biaya untuk memasukinya. Dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata yang gratisan ini, Teman-teman tidak perlu menambah dana untuk membeli tiket masuk tempat wisata tersebut.

Kawasan taman Monumen Nasional (Monas) menjadi salah satu objek wisata yang dapat Anda masuki tanpa biaya, meskipun saat hendak masuk museumnya Anda harus membayar. Anda juga dapat mengunjungi berbagai museum di kawasan Kota Tua yang bebas biaya masuk, seperti Museum Bank Indonesia ataupun Museum Bank Mandiri.

Dengan trik cerdik di atas, dijamin dana Teman-teman akan mencukupi saat berlibur ke Jakarta. Ini karena berlibur seru itu bukan soal masalah dana besar, tapi taktik besar untuk membuat hal-hal kecil menjadi momen berharga sewaktu berwisata.

Continue Reading
22 komentar
Share:

Kamis, 26 Februari 2015

Koleksi Diecast Keke dan Ayah

Salah satu diecast koleksi K'Aie :)

2 malam lalu, Chi nonton serial Castle, ceritanya penjahatnya itu koleksi mobil diecast yang dipajang di kantornya. Chi jadi inget koleksi diecast Keke dan ayahnya. Ketika sekarang trend koleksi batu akik, Keke dan ayahnya tetep aja koleksi diecast hehehe.

Hobi Keke mengkoleksi diecast memang menurun dari ayahnya. Bedanya, kalau Keke segala jenis mobil diecast biasanya dia suka. Asalkan seperti mobil aslinya. Maksudnya itu diecast kan ada yang bentuk mobilnya ‘aneh-aneh’. Nah, kalau Keke lebih suka mobil yang seperti di dunia nyata. K’Aie juga sama. Tapi, K’Aie lebih suka diecast jeep.

Kalau semua diecast yang Keke punya itu untuk dimainin. K’Aie untuk dikoleksi. Tapi, namanya sama anak, akhirnya beberapa koleksinya harus rela dimainin sama Keke :D

Diecast bisa dikoleksi?

Bisa, dong! Malah untuk beberapa model tertentu harganya semakin lama semakin lumayan. Biasanya yang edisi khusus atau diecast keluaran lama seperti foto di atas. Untuk diecast yang berharga ini, tidak dimainkan. Bahkan ada yang tidak dikeluarkan dari bungkusnya. Kalaupun dikeluarkan, ngeluarinnya hati-hati banget. Megangnya juga pake tissue atau lap yang lembut hihihi. Kalau khusus diecast yang berharga, bener-bener disimpan sama K’Aie. Keke pun mengerti untuk gak dimainin. Mungkin untuk beberapa orang terlihat aneh, ya. Mobil-mobilan bisa berharga sampe dikoleksi. Chi pun sebetulnya gak ngerti. Tapi, gak apa-apa, lah. Selama mereka senang *Ihiiiy!* Lagian kalau Chi memaklumi hobi mereka, berarti mereka juga akan memaklumi hobi Chi hehe.

Kalau K’Aie punya koleksi diecast jeep. Keke koleksi beraneka mobil diecast. Temen Keke koleksi diecast Tomica Disney. Mobil-mobilan kecil merk Tomica tapi ada Disneynya. Chi pernah datang ke rumahnya. Bener aja, itu koleksi Tomica Disneynya di mana-mana.

Keke cerita kalau temennya ini penggemar Tomica Disney, terutama kalau film produksi Disney lagi diputar di bioskop trus ada diecastnya, pasti dibeli. Saking komplitnya, sempet bingung juga, sih, waktu temen Keke ini ulang tahun. Abis, sukanya cuma Tomica Disney. Sedangkan koleksinya komplit. Bingung juga, sih, kalau kayak gitu mau kasih apa. :D

Untuk pembelian diecast, kami jatah 1 diecast sebulan sekali. Biasanya dibarengin sama belanja bulanan. Keke udah tau aja kalau belanja bulanan berarti saatnya beli diecast. Membelikan mainan itu slaah satu cara memberikan hak anak untuk bermain. Tapi, tetap kami jatah supaya anak-anak gak bisa setiap ada keinginan membeli mainan permintaannya harus dipenuhi.

Tapi, sekarang udah gak rutin lagi. Bahkan udah lebih dari setahun koleksi diecastnya gak bertambah. Keke udah agak susah kalau diajak belanja bulanan. Dia lebih memilih di rumah. Hobinya pun mulai beragam. Gak cuma koleksi diecast lagi.

Selain itu, Chi juga sampe sekarang menyimpan hampir semua koleksi diecast Keke. Akhir-akhir ini, Keke mulai nanyain lagi koleksi diecastnya. Bukan karena Keke ada salah, trus diecastnya Chi simpan. Tapi, ada alasan lain. Kapan-kapan, Chi ceritain kenapa menyimpan diecast Keke sampe lumayan lama.

Teman-teman ada yang suka koleksi mainan juga? :)

Continue Reading
22 komentar
Share:

Senin, 23 Februari 2015

Ketinggalan ke Bali dan Singapura. Tancap Gas Mengejar ke Hongkong !

Tahun 2015 itu tahunnya liburan. Gimana enggak, banyak juga tanggal merah yang mendekati wiken. Itu artinya bakal banyak long wiken di tahun ini. Yippiie!
Etapi, emangnya mau jalan-jalan kemana?

Ya, belom tau juga, sih. Tapi, buat Chi yang penting liburan itu bisa dimana aja termasuk di luar rumah. Syukur-syukur kalau bisa keluar rumah. Emak rumahan kayak saya ini, butuh melihat suasana luar sesekali hihihi. Lagian semakin banyak jalan-jalan, semakin banyak pula postingan baru di blog jalan-jalan saya *modus* :p

Ketika lagi asik melihat keramaian cit-cit cuwit para netizen di akun twitter, Chi melihat ada tweet yang di retweet teman-teman. Bikin kuping Chi langsung tegak dan mata terbelalak *drama abis ini, sih, ekspresinya*. Tapi, apa yang Chi lihat itu bukan drama, lho. Bener-bener sesuatu yang menarik


Tuh! Menarikkan tweet @GoodLifeBCA yang Chi screenshot itu. Jalan-jalan gratis, nih! Karena yang namanya gratisan memang selalu menarik, maka Chi pun mulai cari tau. Caranya? Klik bcafriends.com dulu, dong.
Tampilan awal ketika buka web BCA Friends. Diklik aja tulisan Facebook-nya.

Buat teman-teman yang belum gabung, yuk ikutan!

Dari 1450 teman yang ada di akun FB Chi, baru sekitar 47 teman *semoga terus bertambah* yang sudah ikut BCA Friends. Chi harus rajin-rajin share web ini di Facebook dan mention banyak teman. Atau start inviting melalui web BCA Friends juga bisa.

Emang apa, sih BCA Friends itu? Sampe Chi semangat banget share webnya dan ajak teman-teman buat gabung? 

BCA Friends adalah sebuah invitasi challenge dari BCA yang mengajak para pengguna Facebook untuk bergabung di web tersebut.

Kenapa kita harus bergabung, padahal kan udah berteman juga di FB? Karena semakin banyak teman-teman FB yang bergabung di BCA Friends, maka kesempatan untuk mendapatkan hadiah itu semakin besar. Hari gini siapa sih, yang menolak hadiah? Apalagi hadiah jalan-jalan.

Ini beberapa keuntungan yang bikin Chi tertarik bangetgabung di BCA Friends

Bisa Berkreasi


Chi suka iseng berkreasi di BCA Friends. Sayangnya, teman Chi masih dibawah 50. Jadi, belum bisa berkreasi macem-macem. Tapi, segitu aja udah nyenengin. Anak-anak juga suka ikutan berkreasi.


Pengen bisa bikin karya unik kayak para pemenang. Tapi jumlah teman Chi di BCA Friends masih sedikit. Jadi bikin kupu-kupu aja. Mudah-mudahan bisa terus bertambah dan bisa jadi salah satu pemenang kreasi unik BCA Friends.

Bertabur hadiah dari mulai voucher belanja hingga jalan-jalan.


Setiap minggunya akan ada tantangan mengajak teman untuk bergabung dengan jumlah minimum yang ditentukan (setiap minggunya berbeda), jika berhasil kita bisa mendapatkan hadiah weekly, yaitu voucher belanja Blibli.com. Lumayan banget! Trus, setiap periode akan ada grand prize winner yang berhadiah jalan-jalan, ada yang ke Bali, Singapura, dan Hongkong. Untuk yang ke Bali dan Singapura sudah ada pemenangnya.Chi mau ngejar hadiah jalan-jalan ke Hongkong. Siapa tau bisa berkunjung ke Disneyland Hongkong kalau bisa kesana.

Harus rajin-rajin pantau leaderboard supaya tau kesempatan kita untuk menang itu besar atau enggak.Peringkat kita di leaderboard juga bisa berubah-ubah.Yang merasa masih di peringkat bawah, tingkatin semangatnya supaya peringkatnya naik.Yang udah di atas, jangan terlena. Nanti kalau sampe kesusul, sakitnya tuh disini *tunjuk jidat hahaha* Seru juga kompetisinya, nih.

 Waks! Chi bener-bener harus semangat mengejar ketinggalan, nih. *ikat kepala kenceng-kenceng. Semangaaat!

Pemenang gak cuma jalan-jalan sendirian. Pemenang berhak mengajak 2 orang temannya yang juga udah ikutan BCA Friends. Gak bakal sepi kayaknya kalau jalan sama teman. Bisa seru abis-abisan nanti. Yuk! Setelah selesai baca postingan Chi ini, langsung klik bcafriends.com. Kita sama-sama mengejar liburan ke Hongkong.

Gabung Juga di Fanpage GoodLife BCA dan Follow @BCAFriends


Sudah like fanpage GoodLife BCA, belum? Chi udah, dong. Karena banyak info menarik yang bisa didapat. Udah pada tau, kan, kalau Chi suka belanja online menggunakan e-banking BCA KlikPay. Bahkan, Chi pernah menulis tentang pengalaman menggunakan BCA KlikPay di blog ini. Nah, kalau lihat fanpage GoodLife BCA, suka ada aja info yang menarik kalau kita belanja meggunakan BCA KlikPay.


Coba juga deh, kalau lagi buka twitter, cek hestek #BlusukanPasarACMI atau #potluckACMI yang di support @GoodLifeBCA. Duh! Itu bikin mupeng beraaat! Pengen, deh, sesekali bisa ikutan. Kulineran bareng dan dapet teman baru.Tapi, pastinya lebih seru lagi kalau ada yang udah kita kenal. Makanya, pada gabung di BCA Friends biar kita bisa ikut acara keren kayak gini bareng-bareng.

Continue Reading
82 komentar
Share:

Festival Budaya di Sekolah Keke dan Nai

Setiap tahun, menjelang akhir tahun ajaran, sekolah Keke dan Nai selalu mengadakan pentas seni yang biasanya dibarengi dengan Festival Budaya atau Culture Festival. Sepanjang Keke sekolah di sana, sudah tiga kali sekolahnya mengadakan Culture Festival. Acara culture festival biasanya membawakan tema dari daerah yang sudah ditentukan. Tidak hanya hiburan yang berasal dari daerah tersebut, tapi seluruh warga sekolah (murid, guru, hingga orang tua) diharapkan memakai pakaian dari daerah yang sudah ditentukan.

Pentas seni dan culture festival kali ini, agak sedikit terasa beda. Gak cuma karena dipercepat, yaitu dilaksanakan di akhir semester ganjil. Dengan alasan, saat kenaikan kelas nanti berbarengan dengan puasa Ramadhan. Jadi, kegiatan pentas seni dimajukan. Pentas seni kali ini juga merupakan pentas seni yang terakhir buat Keke.

Di sekolahnya, pentas seni hanya dilakukan oleh siswa dari kelas 1 hingga 5. Kelas 6 sudah mempunyai acara sendiri. Dan, tahun ini jadi pentas seni Keke yang terakhir, tahun depan sudah bikin acara sendiri bersama angkatannya. Duh, cepet banget waktu berlalu, ya. Chi suka terharu kalau kayak gini. *Terharu karena sadar semakin tua hahaha!*

Sudah 3 kali diadakan Culture Festival, tapi baru kali ini pula Chi taat sama atura hehehe. Culture festival yang pertama itu budaya Sunda. Chi gak bisa hadir karena saat itu Nai masih TK dan diwaktu yang bersamaan ada acara juga di sekolahnya. Jadi, Keke datang ke sekolah bersama ayahnya tanpa kostum baju Sunda :D
Culture festival yang kedua itu tahun lalu dengan budaya Betawi. Chi lupa Keke pake baju apa. Kalau gak salah juga gak pake baju adat betawi. Nai juga gak mau pake kebaya encim. Dia lebih memilih pakai gamis panjang dengan kerudung. Chi pun sama, lebih memilih pake gamis plus kerudung hihihi

Nah, baru culture festival yang ketiga Chi taat sama himbauan hehehe. Temanya budaya Jawa. Tadinya sempet rada males juga kalau harus pake kebaya kayak ke kawinan atau acara formal. Geraaah dan ribet hehe… Untung cuma dibilang pake kebaya untuk yang perempuan. Etapi sebenernya boleh pake batik, sih.

festival budaya, culture festival, sekolah, kebaya
Kebaya kutu baru dipadukan dengan dalaman kaos, celana jeans, dan sepatu boots. Nyaman, deh, kalau begini :)

Karena gak punya kebaya yang siap dipakai, Chi mulai cari penjual kebaya di toko online. Lagi males beli langsung di toko. Waktunya udah mepet, iya kalau langsung dapet. Mending toko online aja, bisa datengin beberapa toko sekaligus kalau online selama kita tau ukuran tubuh sendiri. Di rumah ada, sih, kebaya wkatu menikah tapi ukurannya? Langsing banget Chi dulu, ya hihihi. Chi pikir, kalau gak dapet kebaya, baru pake baju batik yang ada di rumah.

Alhamdulillah, dapet. Yang susah itu cari kebaya Jawa buat Nai. Akhirnya, dia pake kebaya encim, deh. Kalau Keke pake celana pangsi dan kaos angkatan. Tadinya, Chi udah beliin baju lurik. Tapi, gak jadi dipakai karena atasannya harus kaos hitam. Dan, mereka sepakat bikin kaos angkatan.

Keke: “Culture festival yang sekarang bingung, Bun. Keke gak ngerti pak guru ngomong apa.”
Nai: “Ngebingungin banget, ya, Ke.”

Secara bergantian mereka bercerita kalau pak guru yang jadi MCnya ngomong dalam bahasa Jawa. Ya karena temanya budaya jawa jadi MCnya pun berbahasa Jawa. Karena Keke dan Nai bukan orang Jawa, mereka bingung pak gurunya ngomong apa hahaha.

Bunda: “Begini aja, pokoknya kalian jangan jauh-jauh dari rombongan. Biar tau kapan saatnya tampil.”

Tapi, pas hari H, ada 2 MC. Kalau pak guru pake bahasa Jawa, bu guru menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Walopun tampil berbeda, tapi Keke dan Nai sama-sama menampilkan tentang anak-anak yang sedang bermain permainan tradisional sambil menyanyikan lagu anak-anak berbahasa Jawa.

Hmmm… kira-kira Culture Festival berikutnya dari daerah mana, ya? Semoga jangan yang susah-susah nyarinya hehehe.

Continue Reading
18 komentar
Share:

Sabtu, 21 Februari 2015

Gak Ngerti Sama Cara Berpikir Anak Perempuan

Beberapa minggu lalu, Chi pernah nulis cerita ini di status FB. Tentang Keke yang lagi gak ngerti sama cara berpikir anak perempuan di sekolahnya

Begini ceritanya ...

Pulang sekolah, Keke cerita kalau dia pusing sama temen-temen sekelompok belajarnya yang perempuan.

Keke: "Keke, pusing sama girls, Bun. Nentuin tempat belajar aja, sampe seminggu gak selesai-selesai. Ditawarin belajar di salah satu rumah mereka, pada gak mau. Ditawarin belajar di rumah Keke, gak mau. Di rumah boys yang lain, juga gak mau. Giliran ditanya, 'maunya belajar dimana?' Mereka pada kompak jawab, 'Terseraaah...' Keke gak ngerti maunya girls."
Bunda: "Perempuan memang begitu mikirnya, Ke." *ngejawab kalem sambil nyengir*

Status yang Chi tulis di FB hanya sampai situ. Sebetulnya ada pembicaraan lanjutan lagi ...

Nai: "Ima gak kayak gitu!"
Sanggah Nai ketika Chi bilang kalau perempuan memang kayak gitu mikirnya hehe.

Bunda: "Trus, jadinya gimana? Belom ada kepastian mau belajar dimana?"
Keke: "Udah, jadinya di rumah Keke."
Bunda: "Nah, itu akhirnya ada keputusan. Gimana caranya?"
Keke: "Keke tau sekarang kalau menghadapi perempuan itu harus cerdik, Bun."
Bunda: "Maksudnya?"
Keke: "Iya, karena mereka gak jelas mau dimana, akhirnya Keke tanya ke boys pada mau belajar dimana.  Boys langsung setuju belajar di rumah Keke. Setelah ada kesepakatan, Keke langsung nyamperin girls, bilang ke mereka kalau boys pada setuju di rumah Keke. Keke bilang aja, 'Mau apa, enggak? Kalau enggak, cari sendiri tempat belajarnya. Boys ngikut.' Begitu Keke gituin, mereka langsung setuju. Emang harus cerdik kalau ngomong sama girls."

Keke cerita kalau diskusi sama anak laki-laki itu gak pernah lama. Dalam hitungan menit, sudah ada kesepakatan. Sedangkan kalau sama anak perempuan bisa sampe berhari-hari belum juga ada keputusan. Chi ketawa terus mendengar keluhan Keke. Tapi, setelah itu Chi jelasin kalau cara berpikir perempuan dan laki-laki memang ada perbedaan. Kalau laki-laki pusing sama cara berpikir perempuan, perempuan juga suka pusing sama cara berpikir laki-laki.

Chi bilang ke Keke kalau nanti dia akan banyak menemukan perbedaan seperti itu. Harus sabar, harus semakin dilatih cara berkomunikasinya biar lawan bicara (laki-laki atau perempuan) tetap senang ngobrol sama Keke. Yang namanya komunikasi memang harus selalu dilatih. Chi sama K'Aie aja kadang masih suka mengalami perbedaan cara berpikir. Tapi, perbedaan bukan berarti harus dijauhi. Perbedaan juga bisa jadi sesuatu yang mengasyikkan. Semoga Keke (dan Nai juga) bisa terus belajar bagaimana berkomunikasi yang baik :)

Continue Reading
26 komentar
Share:

Kamis, 19 Februari 2015

MPASI Rumahan untuk Anak 6 Bulan Harus Diblender?

MPASI rumahan untuk anak 6 bulan harus diblender?
Ketika masa ASI Eksklusif Keke sudah lewat, ada rasa senang karena pengen coba berbagai masakan bayi untuk Keke. Selain, coba MPASI rumahan, Chi juga coba berbagai makanan instan untuk Keke. Gak taunya, gak ada satupun yang Keke suka.

Beberapa orang bilang, untuk kasih anak MPASI memang harus terus dicoba karena belum tentu sekali dikasih anak langsung suka. Karena anak butuh waktu untuk membiasakan diri, terutama lidahnya. Khusus untuk makanan instant, Chi udah cobain dari yang cair sampai yang agak kental, gak ada satupun yang berhasil.

Ketika, Chi kasih MPASI rumahan juga gak langsung berhasil, sih. Tapi, bukan karena rasa. Penyebabnya karena tekstur. Setelah diamati, Keke gak suka MPASI yang diblender. Apapun makanannya, kalau diblender pasti ditolak. Setelah, Chi coba haluskan dengan garpu di atas saringan kawat, dia baru mau makan dengan lahap.

Memang gak takut kesedak kalau anak usia 6 bulan MPASInya gak diblender dan disaring?

Ada, sih, rasa khawatir. Apalagi pengalaman baru. Tapi, walopun dihaluskan pake garpu, teksturnya dibikin sampe agak halus. Trus, suapinnya sedikit-sedikit. Cuma seujung sendok bayi. Kalau bayi udah merasa nyaman, boleh ditambahin porsi suapannya. Alhamdulillah, selama bayi, Keke gak pernah tersedak.
Kalau melihat beberapa resep MPASI yang Chi punya, ada yang mencampurkan makanannya dengan susu bayi. Tapi, karena Keke gak minum susu bayi, jadi Chi mencampurnya dengan ASI.

Trus, bagaimana dengan anak yang menolak susu bayi seperti Keke dan Nai? Tapi pengen dicampur ASI kayak MPASI Keke dan Nai juga gak memungkinkan?

Ini, sih, bukan bayi. Tapi, salah satu contoh, walopun Keke dan Nai minum susu bayi atau susu formula lainnya secara rutin, tapi sesekali beli susu trus dicampur ke makanan atau minumannya juga gak apa-apa selama anak suka. Contohnya seperti di foto ini.

Kalau keadaannya seperti itu, coba aja campurkan susu bayinya ke dalam MPASI. Siapa tau bayinya malah mau mengkonsumsi susu setelah dicampur MPASI. Kalau gak mau juga, ya , jangan dipaksa. Yang penting sebagai ibu, kita harus terus berusaha cari cara gimana anak mau makan. Yang penting, mau itu dicampur susu bayi atau ASI, harus untuk porsi sekali makan.

Kebiasaan ini, juga ‘menular’ ke Nai. Sama kayak kakaknya, Nai juga gak suka MPASInya diblender. Makan, buah-buahan juga begitu. Mereka lebih suka buah yang dihaluskan dengan garpu. Malah ketika gigi mereka mulai tumbuh, Chi mulai kasih fresh food greeder. Tau kan ya kalau anak mulai numbuh gigi, senengnya gigit-gigit. Kalau di kasih fresh food greeder kan jadi ada rasanya.

Jadi, menurut Chi (berdasarkan pengalaman, lho, ya.) gak apa-apa juga MPASI gak diblender kalau memang anaknya suka. Dan, selama itu gak mengganggu pencernaannya. Seingat Chi, sih, dari semua MPASI yang pernah dicobain, Keke dan Nai itu gak cocok sama pisang. Selalu aja sembelit tiap makan pisang. Tapi, tiap anak itu beda-beda kondisinya. Jadi, bukan berarti apa yang dialami Keke dan Nai, anak-anak lain juga pasti begitu. Yang penting, kita harus terus cari tau supaya anak mau makan. Semangat, ya :)

Continue Reading
22 komentar
Share:

Selasa, 17 Februari 2015

Perlengkapan Ibu Menyusui

“Myr, biasa … aku ke belakang dulu, ya.”

Chi udah ngerti kalau atasan Chi bilang ‘biasa’. Itu artinya beliau akan memompa ASI untuk bayinya. Setelah itu, ASI yang dihasilkan akan disimpan di kulkas, dalam keadaan botol yang tertutup rapat. Setiap hari atasan Chi ini bawa perlengkapan ibu menyusui ke kantor.

Cerita di atas adalah waktu Chi masih kerja kantoran. Jadi, walopun saat itu Chi belum menikah, tapi sudah ada bayangan seperti apa perjuangan seorang ibu kantoran yang sedang menyusui anaknya. Chi sempat berpikir kalau suatu saat nanti juga akan mengalami hal sama.

Tapi, jalan hidup memang gak bisa kita tebak. Ketika mempunyai anak, justru Chi sudah tidak lagi bekerja. Chi memutuskan untuk resign, beberapa bulan sebelum menikah. Walopun begitu, bukan berarti Chi gak punya perlengkapan ibu menyusui, lho. Berikut ini, perlengkapan apa aja yang pernah Chi punya ketika masih menyusui Keke dan Nai.

Breast Pad


Benda yang berfungsi untuk menyerap ASI supaya tidak merembes ke pakaian ini, gak akan mempan kalau Chi cuma pakai 1. Biasanya Chi pakai 2-3 breast pad untuk masing-masing payudara. Alhamdulillah, dikasih ASI yang melimpah dan lancar. Jadi kalau cuma pakai 1, pasti akan cepat merembes ke pakaian.

Bra Menyusui


Namanya perempuan, dimana-mana pasti pakai bra terutama kalau ke luar rumah. Kalau lagi menyusui memang sebaiknya pakai bra menyusui. Lebih mudah bila sewaktu-waktu anak ingin menyusui.

Pompa ASI


Dulu, sama sekali gak terpikir untuk fotoin pompa ASI yang Chi punya. Tapi, kira-kira seperti inilah bentuknya :)

Walaupun Chi di rumah aja dan leluasa menyusui anak-anak kapanpun, tapi tetap butuh pompa ASI. Payudara yang terlalu penuh dengan ASI rasanya sakit. Mau dikasih ke anak masih kenyang. Terpaksa sesekali harus dipompa supaya agak berkurang. Chi pernah coba memerahnya pake tangan, tapi perasaan lama aja. Lebih enak pake pompa ASI. Itupun Chi lebih suka pake pompa yang manual daripada yang elektrik.

Botol Susu


Fungsinya untuk menampung ASI yang telah dipompa. Biasanya setelah itu Chi buang ASInya karena anak-anak kan selalu menyusu langsung ke Chi. Setelah masuk MPASI, Chi suka nyetok ASI juga walopun gak banyak. Nanti ASInya buat campuran MPASI. MPASI yang menggunakan ASI harus sekali makan, ya. Kalau untuk makan lagi harus bikin lagi makanan yang baru.

Handuk Kecil


Ketika sedang menyusui, biasanya payudara yang sedang tidak disusui mengalir deras seperti keran yang dibuka. Supaya gak banjir ke baju, Chi lebih memilih menutupnya dengan handuk kecil kalau lagi di rumah. Jadi yang basah banget nanti handuknya. Begitu juga kalau lagi di luar rumah. Chi sumpel dulu pake handuk kecil karena kalau Cuma ngandelin breast pad, gak cukup.

5 barang itu aja, sih yang Chi perlukan sewaktu masih menyusui Keke dan Nai. Mungkin bagi ibu yang bekerja perlengkapan ibu menyusuinya lebih banyak lagi. Tapi, untuk ibu yang di rumah, bukan berarti gak perlu perlengkapan menyusui, lho. Buktinya, Chi butuh perlengkapan ibu menyusui. Bagaimana dengan pengalaman teman-teman yang sedang atau pernah menyusui?

Continue Reading
38 komentar
Share:

Minggu, 15 Februari 2015

Benarkah Anak Pertama Itu Eksperimen?


Benarkah anak pertama itu eksperimen?

Sudah membaca buku Mommylicious tulisan duo mama, yaitu Mama Arin dan Mama Rina? Mommylious adalah buku kisah tentang pengalaman duo mama tersebut saat mengasuh anak-anaknya. Sebuah buku yang berisi beberapa kisah unik dan lucu yang diceritakan secara sederhana dan tidak terasa menggurui. 2 paragraf akhir dari cerita pertama yang berjudul "Pengalaman Pertama (Catatan Mama Arin)", lah yang membuat Chi ingin membuat postingan ini.

Saat saya menulis buku ini, Cinta telah berusia 9 tahun, dan mempunyai adik bernama Asa, 4 tahun. Saya bukan lagi mama baru. Namun rasanya masih demikian, karena selalu saja ada hal baru yang saya rasakan setiap harinya.

Kehadiran Asa membuat saya merasa memutar ulang kisah romantis saya dan Cinta semasa awal kelahiran dulu. Rasanya tak kalah mendebarkan. Setiap anak adalah unik, setiap tumbuh kembangnya juga unik. Saat Cinta kecil adalah pengalaman pertama saya dalam mengasuh anak. Sekarang, mengasuh Asa kecil juga tetap menjadi pengalaman pertama, yaitu pengalaman pertama mengasuh dua-kakak beradik. Saya bersyukur memiliki cukup waktu untuk menuliskannya.

Pernah beberapa kali Chi mendengar kalau anak pertama itu seperti sebuah eksperimen. Chi sendiri pun kadang merasa dan berpikiran seperti itu. Baik itu karena di dalam keluarga, Chi adalah anak pertama. Maupun ketika mengasuh Keke, yang menjadi anak pertama Chi.

Eksperimen yang dimaksud bukan seperti jargon sebuah iklan produk yang cukup terkenal "untuk anak, kok, coba-coba." Eksperimen disini adalah karena untuk anak pertama seringkali semuanya serba pertama. Pertama kali hamil, melahirkan, menyusui,  memberi makan, masuk sekolah, dan masih banyak kisah pertama lainnya.
Seperti halnya sebuah eksperimen, kadang kita harus coba berbagai metode dulu untuk mengetahui berhasil atau tidak. Misalnya, ketika menghadapi anak menangis, sebagai orang tua baru, Chi masih sangat meraba-raba kira-kira apa yang membuat ana menangis dan bagaimana mendiamkannya. Tentu harus mencoba berbagai cara. Mungkin itu tidak akan terjadi kepada anak kedua dan seterusnya.

Ketika mulai hamil anak pertama, Chi mulai banyak mengkoleksi buku tentang parenting, hingga berlangganan majalah dan tabloid tentang ibu-anak. Pada masa itu, Chi belum akrab sama yang namanya dunia maya. *biaya internetannya masih mahaaal untuk ukuran kantong kami saat itu. Mau ke warnet males hehehe*

Walopun banyak membaca buku, majalah, maupun tabloid tapi pada prakteknya tetep aja gak semudah itu. Ketika hamil, sih masih cukup mudah, ya. Karena mengurus diri sendiri. Kehamilan Chi juga termasuk hamil kebo dan alhamdulillah anak-anak selama dikandungan selalu sehat. Tapi, ketika bayi mulai dilahirkan, disinilah perjuangan baru dirasakan dan semuanya serba pertama. Banyak menerka-nerka harus melakukan apa.

Melahirkan dan membesarkan Keke hingga punya adik masih bisa Chi jalanin dengan mudah. Seingat Chi, Keke gak pernah tantrum, susah makan, atau hal-hal lain yang bikin kepala Chi cenat-cenut dan menguji emosi. Kami seperti saling mengerti. Karena itu pula Chi sempat berpikir, "Kalau mengasuh anak pertama aja mudah, berarti kalau dikasih anak kedua dan seterusnya akan lebih mudah. KArena anak pertama kan seperti eksperimen."

Ternyata, apa yang Chi pikirkan itu gak sepenuhnya benar. Ketika Nai lahir, memang gak seluruhnya pengalaman pertama. Pengalaman ketika hamil dan melahirkan Keke atau Nai, tidak memiliki cerita yang terlalu berbeda. Ketika hamil anak kedua pun Chi kembali hamil kebo. Lahirnya juga kembali melakukan operasi caesar. Alhamdulillah, Nai pun selalu sehat. Menyusui, memandikan, dan beberapa aktivitas lainnya juga gak banyak perbedaan.

Ketika bilirubin Nai tinggi, Chi masih bisa tenang menghadapinya. Bahkan, dengan setelah izin dari dokter anak, kami lebih memilih merawat Nai di rumah. Menaruhnya di tempat tidur bayi yang diberi lampu, penutup mata, dan lainnya. Pokoknya, persis seperti bayi-bayi yang dirawat di rumah sakit karena bilirubinnya tinggi. Hanya saja, kami melakukannya di rumah.

Berbeda ketika Keke mengalami bilirubin tinggi dan disarankan dirawat. Chi langsung sedih luar biasa. Kepala rasanya sakit sekali hingga sulit untuk bangun. Tapi, Chi harus memaksakan dir untuk bangun. Supaya bisa ke rumah sakit dan tetap menyusui Keke. Ketika Nai yang mempunyai bilirubin tinggi, Chi bisa jauh lebih tenang menghadapinya. Mungkin ini juga termasuk eksperimen terhadap anak pertama, ya. Karena belum ada perbandingan. Jadi, kadang masih meraba-raba ketika mengambil keputusan. Termasuk masih suka panikan.

Ujian pun kembali datang ketika Nai lahir. Seperti yang Mama Arin bilang, pengalaman pertama mengasuh kakak-adik. Chi yang tadinya merasa saling mengerti satu sama lain dengan Keke mulai merasa diuji emosinya. Chi merasa Keke mulai berulah sejak punya adik. Beberapa kali emosi Chi meledak. Walopun semuanya baik-baik saja, tapi sampai sekarang kalau mengingat saat-saat itu perasaan bersalah masih juga hinggap :(

Sekali lagi, Chi setuju dengan pendapat Mama Arin kalau setiap anak itu unik, perkembangannya pun unik. Keke dan Nai pun 2 anak yang memiliki kepribadian berbeda walopun lahir dari rahim yang sama. Makanya, Chi suka heran juga kalau sampe ada mom war. Yang lahir dari rahim yang sama aja bisa berbeda, kok, cara kita mengasuhnya. Apalagi kalau dibandingin anak orang lain.

Jadi, benarkah anak pertama itu eksperimen? Ya, mungkin untuk banyak hal, anak pertama akan banyak mengalami segala hal terlebih dahulu. Begitu juga dengan orang tua. Sehingga, ketika mengasuh anak pertama, kadang masih suka menerka-nerka, sebaiknya bagaimana? Tapi, semua itu kan berproses. Sebagai orang tua, kita yang lebih tau anak kita. Pokoknya, mau itu anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, sebagai orang tua kita harus terus berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

Jangan lupa baca buku Mommylicious. Membuat kita berpikir, kalau kita tidak sendiri. Kita semua bukan perfect mom tapi pasti akan selalu sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk anak-anak :)

Continue Reading
46 komentar
Share:

Jumat, 13 Februari 2015

Memilih Mainan untuk Anak Laki-Laki dan Perempuan

Banyak yang bilang, antara memilih mainan untuk anak lak-laki dan perempuan, lebih mudah memilih mainan untuk anak perempuan. Kalau menurut pengalaman Chi, justru lebih mudah memilih mainan untuk Keke daripada untuk Nai.

Pernah membeli beragam mainan untuk Keke, tapi seleranya memang hanya kepada mobil. Die cast, buku tentang mobil, dan lain sebagainya selalu dipilihnya yang bertema mobil. Bahkan gak cuma mainan banyak pakaian hingga spreinya pun bergambar mobil. Kalau di jalan, dia senang sekali mengamati mobil.

Kalau sekarang sih, selera Keke udah lebih beragam. Gak melulu mobil. Tapi, setidaknya dulu waktu masih kecil gak susah, lah, kalau mau beliin dia mainan. Pasti sama dia dimainin dan dirawat.

Yang agak susah itu, beliin Nai mainan. Kalau diajak beli mainan selalu semangat. Tapi, jarang mainannya yang bertahan lama. Cepet bosen aja. Padahal udah macem-macem dicobain. Mainan masak-masakan, Barbie, dokter-dokteran, dan lain-lain.
Walopun begitu, ada beberapa mainan yang lumayan lama dimainin sama Nai, yaitu

Boneka teddy bear


Boneka teddy bear kecil seperti boneka mr. Bean itu lumayan lama dimainin sama Nai. Bahkan dia sempat sedih banget waktu bonekanya sempat hilang. Udah sempet beli yang baru, eh ketemu lagi yang lama hehehe.

Mainan karaoke anak



Kami beliin karena Nai waktu itu seneng banget menari dan menyanyi. Setelah cari sana-sini, dapet juga yang cocok. Seneng banget dia punya mainan karaoke. Makin seneng nyanyi dan joget-joget. Kalaupun gak dipake buat nyanyi, dipake buat main jual-jualanan.

Tiangnya kan bisa dipendekin. Kalau dipendekin, dia pura-pura jadi kasir restoran fast food. Keke jadi pembelinya. Trus mereka main jualan-jualanan. Sekarang mainannya udah mencar-mencar tiap bagiannya hehe.

Pernah juga sih, K'Aie beliin microphone beneran, supaya Nai bisa karaoke beneran. Tapi jadinya malah berisik. Lagipula kalau pasang karaoke beneran itu, Nai masih harus dibantu. Kalau dikasih mainan kayak gini kan dia bisa langsung main sendiri dan dimainin dimana aja.

Chi sempet lihat, mainan ini di salah satu toko online. Tambah bagus aja mainan kayak gini. Karena ada yang bisa dicolokin MP3 atau smartphone biar anak bisa berkaraokean pake lagu favorit mereka.

Peralatan menggambar, melukis, dan craft


Nah, kalau sekarang Chi paling seneng beliin Nai peralatan menggambar, melukis, dan craft. Karena pasti dipakai banget. Nai sampe sekarang lagi hobi menggambar hingga membuat craft. Udah banyak hasil kreasi Nai di rumah. Bahkan, jangan coba-coba buang kertas di depan Nai. Bisa-bisa yang udah masuk tempat sampah pun dipungut. Karena apapun selalu aja dibikin kreasi sama dia. Jadi, kalaupun memang pengen dibuang, harus di luar rumah tanpa ketahuan :D

Continue Reading
26 komentar
Share:

Rabu, 11 Februari 2015

Butiran Debu

Beberapa minggu lalu, Chi lagi merasa sedih berat. Bikin Keke dan Nai nanya kenapa bundanya menangis. Karena Chi gak mau jawab, Nai nebak bundanya sedih karena di antara kami, cuma bundanya yang gak bisa senam hidung sampe sekarang hahaha. Bikin suasana pagi itu, kami sekeluarga jadi ngakak gara-gara tebakan Nai. Yang mau tau apa itu senam hidung, bisa baca postingan Chi yang berjudul "Ibu Harus Serba Bisa."

Siang harinya, sepulang sekolah, Nai kembali bertanya apa bundanya masih sedih.

Nai: "Bunda masih sedih?"
Bunda: "Enggak."
Nai: "Gak apa-apa lagi, Bun. Sedih itu wajar yang penting jangan berlebihan."

Oke, sampe kalimat itu, Nai memang meniru bundanya. Chi sering bilang ke anak-anak, gak apa-apa punya perasaan sedih selama gak berlebihan.

Nai: "Yang penting, Bunda jangan sampe terjatuh kalau lagi sedih."Bunda: ".........."
Nai: "Apalagi trus gak bisa bangkit lagi. Trus Bunda tenggelam di lautan dalam, tersesat, gak tau jalan pulang pula. Nanti Bunda bisa jadi butiran debu, lho."
Keke: "Wkwkwkw ... itu, sih lirik lagu, Naaaiii!"
Nai: "Emang. Tapi emang ada ya yang beneran kayak gitu? Udah jatuh gak bisa bangkit lagi aja udah ngenes. Apalagi sampe jadi butiran debu hehehe."

Hahaha... Tapi, celotehan anak-anak itu berhasil bikin Chi ngakak. Keke dan Nai memang selalu berhasil bikin Chi ketawa.

Continue Reading
28 komentar
Share:

Senin, 09 Februari 2015

Coklat Valentine Dimana-mana

Walopun gak merayakan valentine, tapi yang Chi suka di bulan Februari menjelang valentine ini adalah banyak penawaran coklat valentine dimana-mana. Coklat memang bukan makanan yang susah dicari. Gak lagi valentine aja, coklat gampang didapat, kok. Tapi seneng aja kalau pergi ke super/minimarket aneka coklat dipajang di barisan depan. Kita tinggal pilih, mana yang pengen dibeli.

Kami sekeluarga memang penggemar coklat. Coklat yang paling sering dibeli itu dark atau white chocolate. Kedua jenis coklat yang paling kami suka. Dark chocolate itu enak, karena rasanya yang gak terlalu manis. White coklat lebih manis dari yang dark, tapi gak semanis yang milk.

Gak selalu coklat batangan, sih. Selai coklat, minuman coklat, pokoknya apapun yang serba coklat diusahakan selalu ada stoknya dirumah. Apalagi kalau musim hujan begini, menyeruput secangkir coklat hangat itu enak banget. Saing-saingan sama kopi, deh, enaknya hehehe.

Chi: "Kok, gak ketemu juga ya, Yah? Padahal katanya valentine ini mereka keluarin edisi khususnya lagi."K'Aie: "Nanti coba cari lagi di tempat lain."

Udah beberapa hari ini Chi cari silver queen edisi spesial yang beratnya 1 kg itu. Dikatakan edisi spesial karena di dusnya memang tertulis edisi spesial dan hanya diproduksi setiap menjelang valentine. Pertama kali kami beli coklat silver queen edisi spesial itu tahun lalu. Setelah lewat valentine, kami gak pernah nemuin lagi di toko-toko. Denger-denger, sekarang ada lagi produknya. Jadi sepertinya silver queen seberat 1kg ini memang spesial coklat valentine.

Ngabisin coklat segini banyak tuh, lama ajah hehe

Ngabisin coklat sebanyak itu tentu aja gak sekaligus. Masukin ke kulkasnya juga dipotong dulu hahaha. Tapi ya seneng aja belinya. Trus, tahun ini Chi kepikiran mau cobain bikin martabak silver queen. Ya, daripada beli martabak silver queen di luar yang harganya lumayan banget itu. Mendingan beli aja dulu coklatnya, trus bikin sendiri hehe.

Bisa aja beli coklat batangan yang kecil. Sama-sama silverqueen juga. Berhubung pengen spesial, coklatnya juga pengen edisi spesial, ah. *alesaaan hehehe* Tapi bulan Februari memang spesial karena hari ulang tahun pernikahan kami juga ada di bulan ini.

K'Aie: "Cobain pake Toblerone aja sekalian, Bun."
Chi: "Serius? Iya, deh nanti cari lagi."

Ihiiiyy! Coba cari coklat lagi, ah. Trus nanti eksperimen bikin martabak manisnya sama Keke dan Nai. Karena sejujurnya, Chi juga belom pernah sih bikin martabak manis sendiri. Selalu beli. *Ups!* :p

Continue Reading
74 komentar
Share:

Jumat, 06 Februari 2015

"Bunda Laper, Gak?"

"Bunda laper, gak?"

Setiap sore, Keke dan Nai selalu bertanya seperti itu ke Chi. Kalau Chi bilang enggak lapar, sudah dipastikan wajah mereka akan merengut, sedikit ngambek. Mereka bertanya begitu karena pengen bikinin bundanya masakan ala Keke dan Nai.

Setiap kali ditanya seperti itu, Chi suka serba salah. Sebetulnya sih Chi juga pengen makan sore, supaya menghilangkan kebiasaan makan yang (terlalu larut) malam. Tapi setiap sore, perut seringkali masih terasa kenyang.

Tapi Keke dan Nai itu kan suka gak kasih pilihan. Kalau mereka lagi pengennya bikin makanan berat, biasanya mereka gak mau bikinin Chi camilan atau hanya sekedar es lemon tea. Mereka lebih memilih gak jadi bikin.

Beberapa potong brownies dan lemon tea. Segelas lemon tea hangat ini, enak diminum sore hari. Apalagi kalau cuaca lagi hujan.

Udah gitu, seringkali masakan yang udah Chi buat jadi awet. Karena mereka paling sekali aja makannya, setelah pulang sekolah. Sorenya, mereka seringkali lebih memilih makanan yang mereka buat sendiri kalau Chi mau dibikin masakan. K'Aie pun kalau sampe rumah seringkali gak makan malam lagi. Karena sampe rumah udah terlalu larut malam.
Masakan yang mereka buat memang masih sederhana seperti nasi goreng, mie goreng/rebus, kentang goreng, nugget, atau telor dadar. Belum ala masterchef, lah. Walopun begitu, Chi bahagia banget dengan usaha mereka ini. Bahagia banget karena mereka berusaha memberi untuk bundanya. Buat Chi itu salah satu cara mereka menunjukkan kasih sayang.

Selain makanan berat, mereka juga kadang menawarkan camilan. Mereka suka kasih camilan berupa roti yang dikasih selai trus dipanggang, pancake, dorayaki yang smeuanya mereka buat sendiri. Kalau enggak, camilan lain yang ada di rumah. Minumannya biasanya lemon tea kalau enggak teh manis ajah.

Dulu, Keke dan Nai suka saling berebut untuk aktivitas ini. Dua-duanya kepengen memberikan sajian spesial ala mereka. Chi suka saranin untuk saling bekerja sama. Kalau yang satu bikin makanan, yang satunya lagi bikin minuman. Tapi, mereka suka gak mau. Jadi beberapa kali Chi makan dan minum 2 porsi sekaligus. Tentunya harus dihabisin semua kalau gak mau bikin mereka kecewa hihihi.

Sekarang sih mereka udah bisa kerjasama. Walopun kalau lagi di dapur, seringkali terdengar keramaian tentang pembagian tugas. Tapi yang penting sekarang gak perlu menghabiskan 2 porsi sekaligus lagi hahaha.

Kalau roti panggang dengan selai buah, Chi agak-agak berat nih buat ngabisinnya hihihi

Kalau disuruh memilih, Chi lebih suka mereka kasih makanan berat, sih. Karena Chi gak begitu suka beberapa jenis camilan, contohnya kue kering atau roti dengan selai buah. Tapi, kalau mereka lagi pengennya sediain camilan, Chi juga kadang terima untuk menghargai usaha mereka. Walopun untuk mengunyah camilan segitu banyak rasanya cukup berat buat Chi :r

Untuk minuman juga begitu. Awalnya, Chi lebih suka teh dengan sedikit gula daripada lemon tea. Tapi, karena Keke dan Nai suka dengan lemon tea, jadi kadang mereka menyajikan minuam tersebut. Karena beberapa kali disajikan lemon tea, lama-lama enak juga rasanya. Ada rasa asam yang bikin segar. Namanya lidah kadang perlu dibiasakan juga untuk menyukai sesuatu, ya.

Walopun Chi seringkali merasa masih kenyang di sore hari, gak baik juga kalau terus-terusan menolak tawaran mereka. Bisa redup nanti semangat mereka untuk memasak dan bikin hati bundanya senang. Paling untuk menyiasati, Chi minta makan bersama-sama. Buat mereka gak masalah, malah sering juga mereka yang akhirnya lebih banyak makannya. Tapi yang penting bundanya mau makan masakan mereka. Oiya, biarpun masih masakan sederhana, tapi nasi goreng dan makanan lainnya buatan mereka enak, lho :L

Menyantap makanan yang mereka buat berarti juga harus menghabiskan makanan tersebut. Suka ataupun tidak suka. Lebih baik bilang kalau masakan mereka kurang begini, begitu tapi tetap dimakan sampai habis daripada mengkritik trus gak dihabiskan. Karena anak itu kan mencontoh. Chi selalu mengingatkan mereka untuk menghabiskan makanan. Kalau Chi sendiri gak kasih contoh, maka siap-siap aja dikritik abis-abisan sama Keke dan Nai. Biasanya kalimat pertama yang akan keluar adalah, "Bunda mah begitu. Giliran kita harus habisin makanan yang Bunda bikin. Masa' Bunda gak mau habisin makanan yang Keke sama Nai bikin." Nah! Kalau udah dibalikin begitu rasanya gak enak, lho.

Cuma yang bikin Chi masih suka heran sampe sekarang, kalau Chi lagi lapar trus minta mereka buat bikinin makan justru mereka jarang mau bikinin. Selalu ada aja alasannya untuk menolak. Kalau kayak gini giliran bundanya deh yang manyun hehehe.

Keke dan Nai memasak gak hanya setiap sore aja, sih. Kadang, mereka juga masak untuk bekal sekolah sendiri. Atau sekedar untuk camilan sehar-hari. Kapan-kapan, Chi bikin postingan tentang tip mengajak anak mau belajar masak, ya :)

Continue Reading
40 komentar
Share:

Selasa, 03 Februari 2015

Mie Instan Saus Coklat

Suka makan mie instan saus coklat? Bukannya (katanya) makan mie instan dengan saus coklat itu bahaya? Kami pernah dan alhamdulillah aman. Di postingan ini, Chi ceritain gimana rasanya, ya :)

Mie Instan Saus Coklat


Mulai semester genap ini, di sekolah Keke dan Nai ada mata pelajaran baru namanya Speaking. Ada 4 guru baru asal US yang akan mengajar mata pelajaran tersebut. Mata pelajaran ini hanya khusus untuk melatih anak-anak supaya berani berbicara saja. Karena untuk mempelajari grammar dan lain sebagainya tetap ada di dalam mata pelajaran English.

Nai: "Nanti, kalau guru barunya udah dateng, Ima mau nanya, ah."
Bunda: "Mau nanya apa?"
Nai: "Ima mau nanya gini, 'Can you speak Bahasa?' Nanti kalau gurunya bilang, 'Yes,' Ima mau ajak ngobrol pake Bahasa Indonesia aja."
Bunda: "Deeek ... Guru-guru baru itu kan ada buat ngajarin kalian lebih berani berbahasa Inggris. Ini malah mau diajak ngobrol pake bahasa Indonesia."
Nai: "Hehehe ... Iya ... Iya ..."

Guru yang sudah dinanti Keke dan Nai dengan antusias pun akhirnya datang. Guru Nai, seorang perempuan berkulit hitam namanya Ms. A. Sedangkan guru Keke, seorang laki-laki berkulit putih namanya Mr. I. Keke dan Nai seneng banget kalau ada pelajaran speaking.
Nai cerita, selama pelajaran Ms. A sering bikin permainan. Sebetulnya, Nai antara ngerti dan gak ngerti dengan perintah gurunya. Tapi, setelah dijalani lama-lama dia ngerti. Kalau Keke bilang gurunya suka sekali bercerita. Mulai dari cerita kota kelahirannya sampai perjalanannya ke Indonesia.

Minggu lalu, Keke cerita kalau dia dan teman-teman sekelasnya dapat tugas dari Mr. I untuk masing-masing menceritakan tentang favorite person di selembar kertas. Selain itu, Keke juga cerita kalau gurunya ini suka makan mie instan dikasih saus coklat. Katanya enak dan meminta murid-muridnya buat coba rasanya. Kalau bahasanya Keke sih ditantangin gurunya.

Bunda: "Tantangannya wajib gitu, Ke?"
Keke: "Enggak, sih. Mr. I cuma bilang cobain aja. Katanya enak."
Bunda: "Oh, kirain wajib. Tadinya kalau wajib, Bunda mau minta Keke nantangin balik."
Keke: "Nantangin apa?"
Bunda: "Tantangin makan mie instan pake saus sambal. Biasanya bule kan suka gak kuat pedes."
Keke: "Hahaha iya, bener."

Walopun bukan tantangan wajib, Chi kok penasaran sama rasa mie instan kalau dikasih saus coklat, ya? *dasar tukang makan hihihi*. Kebetulan di rumah masih ada selai Nutella. Chi belum berani pake saus coklat yang encer trus dikasih langsung ke mie. Kalau gak enak gimana? Sayang banget kalau sampe buang makanan. Lagian yang ada stok di rumah ya Selai Nutella. Selalu stok buat salah satu temen roti. Karena selai ini favorit kami sekeluarga.

Sempet baca dulu di google. Kali aja ada yang pernah nulis resep atau cerita pengalaman makan mie instan dikasih coklat. Eh, yang Chi dapat malah banyak info kalau berbahaya makan mie instan dikasih coklat. Pernah ada kasus yang tewas segala katanya. Tapi Chi gak percaya begitu aja, dong. Di dumay itu banyak banget berita hoax. Akhirnya, ketemu juga postingan yang menulis kalau berita makan mie instan pake coklat itu hoax. Dan dia kasih penjelasannya secara rinci plus masuk akal.

Bikin dulu mie instannya. Chi pilih mie goreng instan. Setelah selesai, selainya Chi taro dipinggir. Karena udah mau habis dan udah beberapa hari ini gak makan roti pakai selai jadi agak menggumpal selainya. Gak apa-apalah yang penting rasanya tetep enak. Bikinnya juga cuma 1 bungkus, buat dimakan bertiga. Namanya juga percobaan hehe.

Keke: "Ya, Bunda salah bikinnya."
Bunda: "Salah gimana? Kan mie instan dikasih coklat?"
Keke: "Iya, tapi bumbu mie instannya jangan dimasukkin. Jadi mienya aja. Abis itu dikasih saus coklat."
Bunda: "Yaaa ... Bunda gak tau. Keke kan gak bilang kalau gak usah pake bumbu. Ya udahlah kita makan ajah."

Hmmm ... rasanya campur aduk hihihi. Bayangin ajah gurihnya mie instan dengan coklat, kayaknya kurang menyatu di lidah. Buat Chi, Mie instan itu temennya tetep cabe rawit atau saus sambal. Kalau coklat (dalam hal ini selai Nutella) temennya itu roti atau camilan lainnya. Atau digadoin begitu aja. Kebiasaan yang harus dibuang jauh-jauh sebanrnya. Karena kalau Chi atau anak-anak udah ngegadoin selai Nutella, paling gak bisa langsung habis 1/2 botol dalam sekali ngegadoin hihihi. Digadoinnya gak langsung dari botolnya, tapi taro dulu di piring kecil. Biar selai coklat yang masih di botol tetap bersih.

mie instan saus coklat
Nai waktu masih usia batita. Malah kasih muka serius pas difoto :)

Tapi, waktu Keke dan Nai masih balita, mereka pernah juga ngerasain makan selai coklat langsung dari botolnya. Namanya anak kecil belepotan kemana-mana, dong. Sampe ke rambut dan seluruh badannya. Tapi Chi yakin, itu rasanya pasti nikmat banget buat mereka. Chi juga selalu ketawa kalau lihat wajah mereka yang belepotan coklat.

Gak apa-apa, lah sesekali kasih kesenangan seperti itu. Apalagi namanya anak-anak kan masih banyak bereksplorasi. Supaya belepotannya gak merembet ke barang-barang lain *nanti kita juga yang cape beresin, kan*, biasanya Chi minta Keke dan Nai duduk di lantai yang lumayan jauh dari barang-barang. Kalaupun belepotan ke mana-mana, paling ke lantai sekitar aja. Dan, tetap harus dalam pengawasan, Kalau mereka udah mulai gak mau disuruh duduk manis, berarti kegiatan makan selai dari botolnya harus selesai. Udah saatnya bebersih :)

Balik lagi ke cerita mie instan dan saus coklat. Rupanya, Nai masih penasaran dengan rasanya. Besok paginya, dia bikin mie instan tanpa bumbu trus dikasih selai coklat Nutella, diaduk rata. Menurut Chi, rasanya jadi sedikit mirip pasta, ya. Tapi yang namanya makanan memang kembali ke selera masing-masing, sih. Kalau suka, silakan. Gak suka ya jangan. Kalau selai nutellanya sih teteuup sukaaa :D

Teman-teman ada yang pernah makan mie instan saus coklat? Kalau iya, suka gak dengan rasanya? Tapi kalau sama selai nutella pada suka, dong :)

Continue Reading
70 komentar
Share: