Minggu, 28 Juni 2020

Cara Melindungi Orang Terdekat Dari Penyakit Kritis

Tidak ada satu orang pun yang ingin sakit. Apalagi saat pandemi begini. Sekadar batuk dan bersin aja rasanya udah parno banget. Mau ke dokter? Duh! Bisa mikir ribuan kali, deh!

Kita memang harus semakin memperhatikan kesehatan di masa pandemi. Kalau bisa jangan sampai sakit, deh. Di saat normal aja, sedih rasanya kalau orang terdekat sedang sakit.

cara melindungi orang terdekat dari penyakit kritis

Cara Melindungi Orang Terdekat Dari Penyakit Kritis


Fokus hampir semua masyarakat saat ini memang sedang tertuju ke COVID-19. Virus yang penyebarannya sangat masih dan membuat pandemi. Hampir semua negara di dunia mengalaminya. Tetapi, sebetulnya ada beberapa penyakit kritis lain yang gak boleh diabaikan. Apalagi berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Rikerdas) tahun 2018, berbagai penyakit kritis yang tidak menular seperti jantung, stroke, gagal ginjal, dan lain sebagainya masih menjadi penyebab angka kematian tertinggi di Indonesia.

Apa yang harus dilakukan?


Menjalani Pola Hidup Sehat


Pertama kali yang harus dilakukan adalah menjalani pola hidup sehat. Hal ini membutuhkan kesadaran dan konsisten.

Kami semakin menyadari pentingnya pola hidup sehat saat almarhum papah mertua terkena diabetes. Penyakit ini belum ada obatnya. Tetapi, harus disiplin dengan pola hidup sehat supaya bisa tetap beraktivitas normal. Sayangnya, almarhum memang kurang disiplin sehingga menimbulkan berbagai komplikasi.

Tentu saja ini jadi pelajaran bagi kami. Makan, istirahat, dan berolahga secara teratur dan cukup, kami lakukan. Termasuk saat sedang masa PSBB karena pandemi, di mana godaan untuk makan terus selalu aja ada. Memang kadang-kadang masih suka ada gak disiplinnya. Tetapi, setidaknya sebisa mungkin kami maksimalkan untuk lebih disiplin. Asiknya kesadaran ini dilakukan bersama keluarga.


Menjaga Pikiran Tetap Sehat


Penyakit juga bisa datang dari pikiran, lho. Makanya penting banget untuk mengelola stress. Jangan sampai pikiran terlalu terkuras dengan banyak masalah.

Memang kadang-kadang sulit juga menjaga pikiran tetap positif dan gembira di saat lagi sedih. Itulah pentingnya circle yang saling mendukung. Biar tidak merasa sendirian. Dan mendapatkan dukungan di saat hati sedang sedih.


Pentingnya Memiliki Asuransi yang Cover Penyakit Kritis


cara melindungi orang terdekat dari penyakit kritis
Keluarga besar yang selalu menghibur di saat ada salah satu anggota keluarga ada yang sakit dan lain sebagainya

Saat ini, keluarga besar Chi juga lagi sedih. Beberapa minggu lalu, dokter mengatakan ada benjolan kembali di tubuh tante saya. Padahal udah sekitar setahunan dinyatakan bebas dari kanker. Pengobatan pun mulai dilakukan kembali.

Sedih? Udah pasti! Tetapi, kami semua berusaha untuk tidak berlarut-larut. Tetap ceria dan becanda-canda kalau di WAG keluarga besar. Biar tante merasa senang karena semua anggota keluarga menghibur.

Penyakit kanker memang bukan penyakit yang dalam hitungan hari bisa sembuh. Pengobatannya bis ajangka panjang. Ketika sudah sembuh juga harus tetap menjaga pola hidup sehat. Bahkan yang sudah dinyatakan bebas pun bisa mengalami kembali, seperti yang terjadi pada tante Chi.

Memang penting banget untuk mengenal penyakit yang menimpa diri sendiri atau orang terdekat dengan baik. Jangan mudah termakan hoax. Konsultasi ke dokter spesialis yang tepat. Memiliki circle yang mendukung dan akan terus menyemangati supaya kita atau orang terdekat tetap semangat menjalani pengobatannya.

fwd critical armor, asuransi penyakit kritis

Tidak kalah pentingnya memiliki asuransi yang cover penyakit kritis. Karena penyakit ini seringkali membutuhkan waktu penyembuhan dalam jangka panjang dengan biaya yang tidak sedikit. Bila tidak ada persiapan, bisa memakan pos-pos keuangan lainnya.

Akan lebih menyedihkan bila yang terkena penyakit kritis ini adalah tulang punggung keluarga. Pemasukan mungkin akan terkena imbasnya karena produktivitas berkurang. Sedangkan pengeluaran untuk pengobatan ini mulai menggerogoti berbagai pos keuangan lain.

Memang penting menyiapkan asuransi penyakit kritis sejak dini. Tentu bukan karena kita berharap dapat penyakit. Tetapi, ini ibarat membuat perlindungan untuk orang terdekat. Salah satu upaya supaya jangan panik juga bila penyakit ini menyerang.

FWD Critical Armor adalah produk asuransi penyakit kritis yang komprehensif, dirancang untuk membantu nasabah mengurangi kekhawatiran terhadap kerentanan keuangan saat terserang penyakit kritis.

Produk asuransi penyakit kritis FWD Life memiliki beberapa keuntungan. Asuransi FWD Critical Armor memungkinkan nasabah yang terkena salah satu dari 65 penyakit kritis major atau minor hinggalmlebih dari 3x claim dan dicover dengan 320% uang pertanggungan. Bila hingga usia 80 tahun nasabah tidak terdeteksi penyakit kritis major apapun, maka 100% uang nasabah akan dikembalikan. Tetapi, bila terdeteksi penyakit kritis major, nasabah akan dibebaskan dari seluruh biaya premi. Sehingga bisa lebih fokus dengan pemulihan.

Masih ada beberapa benefit lainnya dari asuransi penyakit kritis FWD Life ini. Patut dipertimbangakan karena tidak memberatkan nasabah. Malah jadi memiliki perencanaan yang matang untuk memproteksi orang terdekat. Bisa mengurangi rasa khawatir dalam menjalankan hidup karena merasa sudah ada perlindungan. Untuk informasi lebih lanjut tentang asuransi ini, silakan kunjungi fwd.co.id

Continue Reading
40 komentar
Share:

Rabu, 17 Juni 2020

New Normal Bukan Berarti Euforia Kebebasan

Saat ini, Indonesia mulai memasuki masa new normal. Sedangkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan bahwa Ibukota RI ini sejak tanggal 5 Juni 2020 memasuki fase PSBB transisi, belum new normal. Artinya berbagai sektor ekonomi mulai dilonggarkan dengan beberapa syarat protokol kesehatan. Tetapi, bila terjadi pelonjakan lagi, maka siap-siap kembali ke PSBB.

new normal bukan berarti euforia kebebebasan

New Normal Bukan Berarti Euforia Kebebasan


Banyak yang antusias menyambut new normal. Bisa dipahami bila antusias ini karena alasan supaya ekonomi kembali bergerak, tetapi dengan kesadaran tinggi mematuhi segala protokol kesehatan. Sayangnya, faktanya new normal justru disikapi dengan euforia. Banyak yang menyerbu pusat perbelanjaan, tempat wisata, atau bahkan sekadar ke minimarket tanpa menggunakan masker. Sedih banget melihat kenyataan ini.


Kesehatan vs Ekonomi


kesehatan dan kebutuhan ekonomi saat pandemi

Saat ini, kesehatan dan ekonomi seperti menjadi 2 faktor yang bertolak belakang. Padahal seharusnya beriringan. Untuk bisa beraktivitas dengan baik membutuhkan tubuh yang sehat. Tetapi, pandemi yang berkepanjangan juga membuat efek domino ke mana-mana, termasuk ekonomi.

Paham banget kalau kesehatan itu penting. Apalagi grafik corona di Indonesia masih terus tinggi. Belum ada tanda-tanda menurun. Pengennya sih di rumah terus karena rasanya memang lebih aman dan nyaman di rumah aja.

Tetapi, di sisi lain kalau PSBB terus berjalan, banyak sektor ekonomi gak bergerak juga bikin sedih. Pandemi COVID-19 ini menghantam hampir semua sektor ekonomi. Pada krisis moneter tahun 1998, UMKM termasuk yang paling bertahan dibandingkan perusahaan besar. Tetapi, saat pandemi ini seperti gak pandang bulu. Siapapun bisa kena efeknya.

Bersyukurlah bagi siapapun yang masih mendapatkan gaji meskipun tidak utuh. Tetapi, banyak yang tetap bekerja, sedangkan gaji ditunda sementara waktu. Malah banyak juga yang kena PHK. Gak mungkin terus-menerus berharap bansos dari pemerintah pusat maupun daerah. Kalau pandemi berkepanjangan, keuangan negara kan juga bisa terganggu. Urusan 'perut' memang kadang-kadang complicated.



Berdamai dengan Corona


berdamai dengan corona

Beberapa waktu lalu, jagat maya juga sempat diramaikan dengan pernyataan presiden Jokowi tentang 'berdamai dengan corona'. Sebetulnya Chi paham maksudnya. Himbauan yang mengajak masyarakat untuk mulai beraktivitas kembali. Tentu saja dengan berbagai persyaratan keamanan yang kita kenal dengan protokol kesehatan.

Tetapi, secara pribadi masih ada rasa penolakan terhadap pernyataan tersebut. Bagi Chi yang namanya penyakit, gak bisa berdamai. Apapun sakitnya, penyakit harus dilawan.

Kalaupun masih ada pandemi dan belum ada vaksinnya, maka wajib berusaha beradaptasi. Caranya ya disiplin dengan protokol kesehatan dan menjaga kondisi tetap sehat.


Ya memang hanya berbeda pemilihan kalimatnya. Karena intinya adalah sama. Disiplin dengan protokol kesehatan, jaga kesehatan, serta di rumah aja kalau gak perlu-perlu banget ke luar rumah itu kunci dalam menghadapi pandemi.


New Normal vs Ignorant People


pandemi, ignorant, covidiot, stupidity

New normal BERBEDA dengan normal. New normal ada dengan alasan supaya perekonomian kembali berjalan secara bertahap. Bukan berarti virusnya sudah hilang. Itulah kenapa protokol kesehatan wajib dipatuhi

Sejak pandemi masuk ke Indonesia, Chi kesel banget dengan ulah masyarakat yang ignorant. Chi selalu menyebutnya covidiot. Padahal ya Chi rasanya gak pernah bilang seseorang itu bodoh, tolol, atau apapun, terutama di media sosial. Tetapi, menghadapi masyarakat yang seperti ini rasanya kekesalan Chi udah termasuk di level tertinggi.



Kita semua memiliki keinginan yang sama. Ingin tetap sehat, bisa beraktivitas dengan normal seperti sebelum wabah, dan ingin virus corona ini segera pergi dai muka bumi. Sayangnya tidak semua masyarakat bisa patuh. Padahal selama vaksin ini belum ditemukan, untuk melawan virus ini dengan cara kekompakan. Pada kompak untuk patuh dengan himbauan hingga perintah.


Chi sendiri sebetulnya lebih memilih untuk tetap PSBB, karantina, lockdown, atau apapun istilahnya yang penting mayoritas masyarakat tetap di rumah aja sampai grafik corona benar-benar sudah turun. Tetapi, di sisi lain juga ada perut-perut yang harus diisi dan kebutuhan lain yang harus dibayar (listrik, internet, dll). Gak bisa terus-menerus mengharapkan bantuan. Perlahan harus mulai beraktivitas kembali. Chi berusaha memahami kedua sisi, tetapi tidak untuk Covidiot.

Mungkin ada yang beranggapan apalah arti sebuah kata, yang penting kan paham maksudnya. Memang bisa jadi begitu. Tetapi, faktanya juga di masyarakat kita masih banyak yang pemahamannya setengah-setengah.

Berdamai dengan corona dan new normal disikapi dengan euforia. Disangkanya sudah bisa bebas kembali seperti sebelum ada wabah. Tempat wisata penuh, mall diserbu pengunjung, dll. Bubar jalan deh segala protokol kesehatan. Ngeriiii!

"We're fighting 2 pandemics, COVID-19 and stupidity"

Jadi ya kalau pengen kita semua tenang, tolong itu yang ignorant dan euforia pada sadar diri dulu. Bikin masyarakat yang sedang berusaha disiplin jadi was-was dan parnoan melulu. Ulah para ignorant ini memang ngeselin. Udah tau penularannya masif, tapi tetap aja cuek dengan segala alasannya. Pantesan aja keluar istilah Covidiot.

Kan sebetulnya gak dilarang beraktivitas di saat new normal. Beberapa sektor, bahkan tempat wisata pun juga udah ada yang sudah boleh buka. Termasuk kalau udah kepengen traveling pun tetap harus patuh dengan protokol kesehatan.


Tetapi, sebisa mungkin kami memilih di rumah aja, lah. Keluar hanya untuk hal penting. Seperti komika Bintang Emon pernah bilang, "Menunda ke mall sekarang gak bakal bikin mall berubah jadi kantin. Gak ke Puncak sekarang, gak bikin puncak jadi pendek."

Sehat-sehat selalu ya untuk semua. Semoga pandemi ini segera pergi. Aamiin

Continue Reading
89 komentar
Share:

Kamis, 04 Juni 2020

Menimbang Homeschooling di Masa Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 sudah masuk ke Indonesia sekitar 3 bulan. Dan selama itu pula para pelajar dan guru, terutama yang berdomisili di DKI Jakarta, mulai melakukan kegiatan belajar mengajar di rumah. Kita sering menyebutnya School From Home atau Pembelajaran Jarak Jauh.

menimbang homeschooling selama pandemi

Menimbang Homeschooling di Masa Pandemi COVID-19




Bagaimana Rasanya School From Home di Masa Pandemi?


rasanya school from home selama pandemi

Reaksi orang tua beragam. Ada yang tenang hingga heboh. Tentu saja masing-masing memiliki alasan.  Chi sendiri sudah membuat satu artikel tentang sikap kami selama masa pembelajaran daring di rumah. 

Setiap rumah tangga memiliki kondisi yang berbeda. Tidak bisa kita langsung menganggap satu pilihan menjadi lebih baik dari pilihan lain.

Sebagai salah satu contoh, di salah WAG pernah terjadi pro-kontra tentang perlu atau tidaknya anak-anak kembali ke sekolah setelah masa PSBB selesai. Sempat ada yang mengatakan, menginginkan kembali ke sekolah di masa new normal adalah orang tua yang tidak peduli dengan anak.

Sebelum pro-kontra semakin memanas, untung saja ada salah seorang yang bersikap bijak. Bahwa ini semua tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Bagi kita, ibu rumah tangga yang sudah biasa menemani anak belajar, tentu tidak ragu lagi memilih tetap sekolah di rumah sampai kondisi benar-benar aman.

Tetapi, bagaimana dengan orang tua yang kemudian harus mulai masuk kantor di saat new normal? Ketika masa PSBB, di mana sebagaian besar dari masyarakat berada di rumah aja mungkin belum jadi masalah. Tetapi, ketika orang tua sudah harus mulai kerja lagi, tentu bisa timbul dilema. 

Efektif gak anak belajar sendiri di rumah, karena orang tua sudah harus ngantor? Saat ada orang tua aja bisa jadi ada beberapa drama. Tetapi, memilih opsi masuk sekolah juga bukan pilihan terbaik di saat pandemi masih ada.

Belum lagi kalau bahas tentang kebutuhan kuota yang meningkat berkali lipat serta permasalahan lainnya. Ya memang bisa beragam masalah yang timbul. Dan setiap rumah bisa memiliki cerita berbeda.

Back to Content ↑



Homeschooling Menjadi Pilihan Saat Pandemi


Semakin banyak yang membuat wacana tentang homeschooling. Tetapi, apakah menjadi pilihan yang tepat?

Chi mau mundur ke sekian belas tahun silam. Ketika Keke masuk TK juga belum. Berarti lebih dari 12 tahun yang lalu. Saat itu kami sempat kepikiran untuk homeschooling.

Kami berencana untuk meng-HS-kan anak-anak saat mereka masuk SD. Saking seriusnya niatan itu, kami mulai mencari banyak info dan mempelajarinya sejak beberapa tahun sebelumnya.

Kami memang gak pernah mendadak ketika membahas sekolah. Bahkan di saat HS sudah tidak ada lagi dalam rencana, kebiasaan ini tetap ada. Misalnya, saat ini Keke baru aja masuk SMA. Tetapi, bahasan kami sudah tentang kuliah. Minatnya ke fakultas apa? Mau kuliah di mana? Bahkan Nai yang masih SMP aja kadang-kadang suka diajak diskusi juga tentang kuliah.

Apalagi ketika mulai terpikir homeschooling. Sesuatu yang buat kami masih 'gelap banget' alias gak tau apa-apa. Saat itu masih banyak yang asing juga dengan homeschooling. Gak banyak yang melakukannya, terutama di Indonesia. Makanya kami mencarinya sejak beberapa tahun sebelum Keke masuk SD.

Kami beli beberapa buku tentang homeschooling. Chi udah lupa buku apa aja yang dibeli. Tapi, dulu lumayan susah beli buku dengan tema ini. Makanya begitu tau ada buku tentang HS, kami suka beli aja dulu.

Kami juga gabung dengan komunitas. Memang gak banyak. Itupun kami memilih silent reader karena benar-benar ingin menyimak seperti apa sih keseruannya yang sudah menjalankan HS. Jangan tanya kami gabung di komunitas apa aja, ya. Waktu itu group-groupnya ada di Yahoo Group. Belum kenal sama FB. Chi gak tau apakah group ini masih ada atau enggak.

Dari pengamatan kami, menjalani HS bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi, bukan berarti pula gak akan berhasil. Menjalankan HS harus benar-benar konsisten, disiplin, dan mandiri. Bahkan harus kompak dengan pasangan.

Homeschooling tidak sama dengan School From Home yang sedang dijalani para siswa sekolah formal di masa pandemi COVID-19
 
Homeschooling itu namanya aja yang 'home'. Tetapi bukan berarti sekadar memindahkan sekolah ke rumah. Metode belajarnya gak selalu di rumah. Mereka yang HS justru lebih luwes dengan tempat, media, dan waktu belajar.

Itulah kenapa Chi katakan harus konsisten, disiplin, serta mandiri. Contoh sederhananya nih mungkin kadang-kadang (atau bahkan seringkali) kita mengeluh dengan berbagai peraturan sekolah. Padahal beberapa peraturan justru untuk membuat para siswa menjadi displin. Akhirnya ya banyak siswa yang 'terpaksa' untuk disiplin daripada kena hukuman.

Di dalam praktek HS, mungkin saja hukuman tidak ada. Tetapi, kalau kitanya gak bisa disiplin, malah jadinya merugikan diri sendiri.

Dulu, kami sempat mengumpulkan dan mempelajari beberapa materi pelajaran SD. Padahal Keke masuk TK aja belum. Kami memang ingin mengetahui seberapa mampu mengajarkan anak-anak. Apalagi materi pelajaran zaman sekarang 'kan katanya lebih sulit.

Kalau sampai HS, kami memang bertekad untuk tidak lepas tangan. Meskipun mungkin saja akan membutuhkan bantuan orang lain, tetap saja kami harus ikut ambil bagian.Ya terlepas ada bantuan pihak luar atau tidak, salah satu poin utama HS adalah tentang kemandirian.

Sampai sekarang kebiasaan ini masih berlanjut. Meskipun kami akhirnya memilih sekolah formal untuk Keke dan Nai. Tetap saja, kami terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar anak.
 
Homeschooling juga bukan berarti belajar seenaknya. Tetap aja harus pasang target. Bahkan banyak yang menyusun kurikulum. Dan yang namanya menyusun kurikulum itu ruweeeet!

Kami waktu itu belum sampai menyusun kurikulum. Barus sebatas mempelajari beberapa kurikulum, khususnya yang ada di Indonesia. Biar bagaimana pun kan tetap harus punya target. Apalagi kalau sampai gak cocok dengan HS, tentunya harus mempertimbangkan apakah tingkat kemampuan anak sudah sesuai atau belum.

Kalau kami perhatikan, mereka yang memutuskan HS itu biasanya satu keluarga ikut terjun dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM). Berbeda dengan pilihan sekolah formal. Tidak semua orang tua mau atau ikut turun dalam KBM karena merasa sudah menjadi tanggung jawab guru di sekolah untuk mengajarkan anak-anaknya.

Di HS tidak seperti itu. Dari mulai memutuskan untuk HS, membuat kurikulum, mengajarkan anak, mencari tempat untuk anak-anak bisa ikut ujian, dan lain sebagainya dilakukan sekeluarga. Makanya harus kompak.

Belum lagi kalau menghadapi pertanyaan orang lain atau keluarga besar. Waktu itu aja kami sudah mebayangkan harus siap bila ditanya atau bahkan ditentang oleh keluarga besar bila kami memutuskan HS. Hal-hal kayak gitu juga bisa bikin lelah lahir batin.

Dulu kami juga pernah bikin blog yang nantinya khusus diisi dengan konten catatan perjalanan homeschooling Keke dan Nai. Tetapi, karena memilih sekolah formal, blog tersebut kami 'matikan'.

Kalaupun kami akhirnya memilih sekolah formal memang karena sudah melalui banyak sekali pertimbangan. Itupun last minute banget. Di saat banyak sekolah swasta sudah mulai melakukan penutupan pendaftaran. Termasuk sekolah yang kami pilih untuk Keke dan Nai. Alhamdulillah mereka dapat SD yang bagus dan cocok.

Bukan berarti kami menganggap HS itu jelek, lho. Justru kami respek dengan para praktisi HS yang konsisten. Kami pun sampai sekarang masih suka terinspirasi dengan semangat mereka. Salah satunya ya dengan tetap ikut anak dalam kegiatan KBM anak.



Back to Content ↑


Kembali ke Sekolah di Masa New Normal


kembali ke sekolah di masa new normal

Apakah homeschooling menjadi pilihan terbaik saat pandemi?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Karena semuanya kembali ke kesiapan masing-masing orang tua.

Chi memang sudah lama tidak mengikuti perkembangan homeschooling. Bisa jadi apa yang dijabarkan di atas sudah ada perubahan. Praktisi homeschooling pastinya lebih tau tentang hal ini.

Banyaklah bertanya dan belajar dari para praktisi homeschooling sebelum membuat keputusan

Chi paham banget kok keresahan para orang tua bila harus menyekolahkan anaknya di saat wabah ini masih ada. Apalagi di Indonesia saat ini grafik positif  corona masih terus meningkat. Serta tingkat kesadaran dan kedisiplinan masyarakat akan menjalani protokol kesehatan yang ketat masih meragukan.

Chi juga merasakan keresahan yang sama. Tetapi, Chi juga gak mau terburu-buru memutuskan homeschooling atau tidak. Apalagi khususnya untuk Nai, tahun ajaran depan Insya Allah naik ke kelas 9.

Seandainya Keke dan Nai masih usia balita, mungkin kami bisa lebih cepat membuat keputusan. Mungkin kami akan memilih menunda sekolah aja. Paling gak selama setahun, deh. Kalau memungkinkan ya sampai vaksin corona ditemukan.

Tetapi, kalau udah pada remaja begini, opsi menunda atau cuti sekolah sepertinya gak mungkin. Mendikbud Nadiem Makarim di akun IG @masmenteri menginformasikan kalau tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada tanggal 13 Juli 2020.

jadwal tahun ajaran sekolah saat wabah corona

Tahun ajaran baru di saat pandemi berarti kegiatan belajar mengajarnya yang resmi dimulai. Sedangkan masuk sekolahnya menjadi wewenang pemda setiap provinsi dan gugus tugas. Bila zona di wilayah tersebut sudah aman berarti sudah bisa kembali ke sekolah. Bila belum, maka KBMnya tetap menggunakan metode pembelajaran jarak jauh.

Di DKI Jakarta, mulai 6 Juni 2020 sudah masuk fase PSBB transisi. Beberapa aktivitas mulai boleh dilaksanakan dengan memenuhi beberapa syarat.

Untuk kegiatan kembali ke sekolah itu masuk ke PSBB transisi fase 2. Fase pertama aja baru mau dilaksanakan bertahap. Itupun bila grafik corona kembali naik, maka harus kembali ke masa PSBB. Berarti fase kedua belum pasti kapan akan dilaksanakan.

Siap-siap aja deh kembali ke School From Home dulu. Saat ini, Keke dan Nai sedang PAT (Penilaian Akhir Tahun). Karena masih pandemi, ujian akhir ini dilakukan secara online.

Hingga saat ini, homeschooling masih jadi opsi terakhir. Kami lebih memilih untuk terus sounding tentang pentingnya protokol kesehatan ke anak-anak. Agar mereka tidak lalai bila suatu saat harus kembali ke sekolah.

Sounding tentang protokol kesehatan tidak hanya kami lakukan di saat wacana new normal mulai digulirkan. Kami sudah melakukannya sejak masa karantina. Meskipun selama kurang lebih 3 bulan ini anak-anak di rumah aja, tetap aja sounding dan diskusi tentang corona termasuk protokol kesehatan dilakukan.

Bukan kami tidak peduli dengan kesehatan anak-anak sehingga lebih memilih opsi kembali ke sekolah daripada homeschooling. Kesehatan jelas hal utama. Makanya, obrolan tentang ini sudah kami lakukan sejak pandemi masuk ke Indonesia. Kami pun sangat tegas dengan hal ini. Bersyukurnya lagi, Keke dan Nai juga tetap patuh untuk di rumah aja.


Keke dan Nai juga termasuk anak yang tertib. Kalau suatu saat harus kembali ke sekolah atau keluar rumah, rasanya mereka gak keberatan untuk terus menggunakan masker dan berbagai protokol kesehatan lainnya.

Malah Nai mah sebelum ada pandemi juga sudah terbiasa pakai masker. Apalagi kalau sedang batuk pilek. Gak perlu disuruh-suruh lagi, udah langsung kesadaran sendiri pakai masker. Dan rasanya untuk seumuran mereka udah gak mungkin ada cerita tuker-tukeran masker, ya hehehe. Paling agak khawatirnya kalau ada teman-temannya yang usil. Ya semoga aja pada gak menganggap remeh hal ini.

kembali ke sekolah di saat pandemi covid 19

Tetapi, seperti yang Chi katakan di atas kalau sebentar lagi Nai akan naik ke kelas 9. Kalau udah kelas 9 paling belajarnya hanya efektif di semester ganjil. Selebihnya dia akan fokus untuk menghadapi ujian. Meskipun kabarnya tahun ajaran depan sudah tidak ada UNBK. Tetapi, tetap aja akan ada penggantinya yang Chi sendiri belum tau bentuknya seperti apa.

Kalau kami memilih homeschooling akan lebih banyak sekali adaptasi yang harus kami lakukan. Iya kami, tidak hanya Nai. Tentu kami harus membuat kurikulum. Mencari informasi bila Nai akan ikut ujian persamaan. Pokoknya akan lebih banyak yang kami lakukan.

Belum lagi pelajaran zaman sekarang susah banget. Waktu anak-anak masih SD, Chi masih bisa mengajari mereka dengan mudah meskipun banyak yang bilang pelajaran anak SD sekarang tuh sulit. Bahkan Chi merasa anak-anak gak perlu bimbel. Cukup belajar di sekolah dan ditambah dengan belajar di rumah bersama bunda.

Tetapi, setelah mereka SMP dan SMA, Chi mulai puyeng sama pelajarannya. Apalagi kalau udah pelajaran hitung-hitungan kayak matematika dan fisika. Sampai sekarang Chi memang masih suka bantuin. Tetapi, udah jauh lebih lambat kecepatannya. Setiap kali ada tugas yang mereka gak mengerti, Chi selalu harus belajar lagi seluruh materi yang ditugaskan.

Karena mulai kesulitan, Keke mulai bimbel di kelas 9. Sekaligus persiapan UNBK. Kalau Nai rencananya baru mulai. Tetapi, dia pernah bilang gak mau. Alasannya enakan diajarin sama bunda. Hadeuuhhh ... bukannya Chi gak suka ngajarin anak. Hanya saja mendingan tetap bimbel juga hehehe.

Setidaknya dengah SFH masih bisa tanya ke guru sekolah. Kalau homeschooling kami harus belajar lebih mandiri lagi. Khawatirnya kami malah tidak sanggup dan keteteran. Seharusnya Nai sudah fokus belajar untuk masuk SMA, malah nanti jadi berantakan. Ujung-ujungnya kan yang kasihan dan jadi korban malah Nai.

Dulu, kami hanya menimbang berdua. Tetapi, karena anak-anak sudah remaja, udah bisa diajak diskusi tentang metode belajar yang pas buat mereka.

Metode school from home memang masih jauh dari kata sempurna. Kalau Chi sih menganggapnya ini metode dadakan. Ya gimana gak dadakan, begitu pandemi masuk ke Jakarta, dalam beberapa hari kemudian KBM di sekolah pun mulai diliburkan diganti pembelajaran jarak jauh.

Cuma tahu doang yang enak digoreng dadakan hahaha! Sedangkan metode belajar ya gak mungkin juga Chi berharap akan langsung berjalan dengan baik. Wajar banget kalau kemudian terjadi kekacauan.

Banyak yang masih pada gagap. Tidak hanya gagap dalam hal internetan karena mendadak harus mengenal zoom, Google Classroom, atau lainnya. Orang tua banyak yang masih gagap karena mendadak harus menjadi guru bagi anak. Begitupun dengan para guru. Pastinya beda banget lah mengajar di kelas dengan online. Makanya, Chi berusaha banyak maklum dulu aja lah dengan semua kegagapan ini. Namanya juga lagi dalam kondisi luar biasa dan di luar rencana.


Para praktisi homeschooling juga ikut terkena imbas dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Bedanya adalah mereka sudah terbiasa untuk luwes menghadapi berbagai keadaan.

Selama pandemi ini, Chi sempat membaca beberapa tulisan dari para praktisi HS. Seperti yang Chi tulis di atas, homeschooling itu bukan berarti mereka hanya belajar di rumah aja. Justru belajarnya bisa di mana-mana. Makanya di saat pandemi ini pun termasuk yang kena imbas. Mau gak mau kan hanya belajar di rumah.

Tetapi, para praktisi HS ini terlihat lebih tenang meskipun juga harus mengalami berbagai penyesuaian KBM selama pandemi. Itu karena mereka sudah terbiasa luwes dengan kegiatan belajar. Makanya lebih cepat beradaptasi dalam keadaan apapun.

Chi pun ikut terinspirasi dengan hal ini. Berusaha membuat kegiatan belajar jarak jauh ini tetap nyaman bagi anak-anak. Termasuk menyamankan diri sendiri untuk berusaha beradaptasi dengan metode belajar seperti ini meskipun masih banyak kekurangan.

Dan mungkin karena merasa nyaman pula makanya Keke dan Nai malah gak pengen balik ke sekolah. Kata mereka, kembali ke sekolah hanyak untuk ketemu teman-teman dan ekskul. Belajarnya tetap di rumah aja hahaha!

Sekarang anak-anak sedang PAT. Sebentar lagi libur sekolah. Biarin deh anak-anak menikmati masa liburannya di rumah aja. Sesekali aja dilibatkan diskusi tentang kegiatan sekolah berikutnya.

[Silakan baca: Berusaha Melupakan PAT]

Sedangkan bagi kita para orang tua, harus banyak pertimbangan sebelum memutuskan. Mungkin setiap orang tua bisa memiliki keputusan berbeda. Yakin deh alasannya pasti untuk kebaikan anak-anak dan keluarga.

Bagi kami, sebisa mungkin anak harus senang ketika belajar. Memang gak mungkin 100% senang, pasti ada lah kesel-keselnya. Tetapi, mau itu sekolah formal atau homeschooling. Setiap keluarga level stressnya bisa berbeda-beda. Yang berhasil di sekolah formal, belum tentu bisa homeschoolingm begitupun sebaliknya.

Jadi pastikan jangan terburu-buru mengambil keputusannya, ya. Fokus saja dengan pilihan masing-masing. Jangan membandingkan pilihan orang lain. Insya Allah, apapun itu akan ada pilihan yang terbaik bagi masing-masing. Aamiin.
libur sekolah di rumah aja saat wabah corona
Anak-anak menikmati liburan sekolah dulu aja setelah selesai PAT. Tetapi, tetap di rumah aja. Gak liburan kemana-mana.

Back to Content ↑

Continue Reading
74 komentar
Share:

Alasan Ingin Tinggal di Meikarta Cikarang

Sejak dulu, Chi selalu ingin punya tempat tinggal yang lokasinya strategis. Dekat dengan sekolah, pasar, mall, dan lain sebagainya. Dan yang tidak kalah penting adalah kemudahan transportasi umumnya.

alasan ingin tinggal di meikarta cikarang

Alasan Ingin Tinggal di Meikarta Cikarang



Apa Kabar Meikarta?


Meikarta adalah proyek pembangunan kota baru berskala internasional yang merupakan proyek investasi Lippo group di area timur Jakarta. Berlokasi di jantung ekonomi Indonesia, Kota Meikarta terletak di pusat keseluruhan industri di Tanah Air dengan Ribuan perusahaan raksasa nasional dan multinasional.

Sempat terdengar kabar kalau pembangunan di Meikarta Cikarang berhenti. Berita tersebut hanyalah hoax.

Hingga saat ini, proyek pembangunan Meikarta terus berjalan. Dan mulai 31 Maret lalu sudah dilakukan serah terima. Sudah ada 2 distric di Meikarta, yaitu:

  1. District 1 memiliki 28 tower yang sudah selesai topping off dan mulai serah terima tgl 31 maret lalu.
  2. District 2 memiliki 30 tower yang saat ini masih dalam progress pembangunan

tenant di district 1 meikarta cikarang

Di district 1 sudah ada sekitar 26 tenant, seperti Cinepolis, JYSK, Solaria Timezone, First Media, Kopi Kenangan, dll. Dan akan bertambah 7 tenant lagi dari mulai klinik, reflexology, dll. Kalau lihat dari beberapa tenant yang ada aja, ini segala ada, ya. Udah komplit dari mulai kebutuhan sehari-hari hingga hiburan.

Mulai bulan Maret 2020 sudah mulai dilakukan serah terima. Semua unit yang sudah diserahterimakan ini dalam keadaan siap pakai. Calon penghuni bisa langsung tinggal di sana. Menikmati berbagai kenyamanan fasilitasnya. Secara bertahap, hingga 28 tower, akan terus ada proses terima hingga akhir tahun 2020.


Meikarta, Kota Baru di Kawasan Cikarang


meikarta kota baru di kawasan cikarang

Bagaimana kalau tinggal di Cikarang?

Hmmm … awalnya gak kepikiran sih mau tinggal di sana. Pernah sekian lama tinggal di Bekasi aja udah berasa jauh. Apalagi di Cikarang.

Tetapi, kalau denger cerita dari beberapa teman yang tinggal di sana, transportasinya sudah lumayan. Sekarang juga udah ada commuter line yang jurusan sana. Jadi seharusnya semakin mudah.

Kemudian beberapa tahun terakhir ini banyak netizen membicarakan tentang Meikarta Cikarang. Apa sih daya tariknya hingga banyak sekali yang membicarakan?

Chi pernah beberapa kali lihat iklannya. Memang menarik banget, sih. Seperti yang selama ini diinginkan. Tinggal di tempat yang dikelilingi banyak fasilitas.

Meikarta memang menawarkan rasa kenyamanan yang berkelas. Tidak pusing menghadapi kemacetan ketika berada di sini. Semua fasilitas berada dalam 1 wilayah.

Berada di area timur Jakarta, gak usah khawatir sama transportasi menuju ke sana. Selain naik commuter line, bagi yang memiliki kendaraan pribadi juga bisa lewat elevated tol Jakarta Cikampek. Lancar deh kalau lewat toll ini.

Malah saat ini sedang ada beberapa pembangunan yang akan membuat urusan transportasi ke Meikarta tuh semakin lancar dan banyak pilihan. Bakal ada Tol Jorr II yang saat ini sedang dibangun. Kemudia bakal ada MRT dan LRT. Malah rencananya, salah satu stasiun Express Train Jakarta-Bandung bakal ada dekat Meikarta. Mantap banget kan, tuh.

Tentu gak hanya transportasi yang dibuat nyaman. Kalau udah berada di Meikarta, fasilitas publik lainnya pun dilengkapi supaya tetap nyaman.

Di Lippo Cikarang sudah ada Siloam Hospital International di Lippo Cikarang dengan kapasitas bed 1.000 s/d 2.000. Untuk sekolah juga ada berbagai sekolah bertaraf nasional dan internasional serta 3 universitas unggulan yang dilengkapi dengan Pusat Penelitian Industri.

Nai termasuk penggemar film banget. Setiap ada film baru, biasanya dia ke bioskop.

Kalau tinggal di sana, udah gak perlu jauh kalau mau nonton karena ada bioskop Cinepolis yang lokasinya di District One Meikarta. Kabarnya juga akan dibangun 1 mall besar di area CBD Meikarta Cikarang.

fasilitas meikarta cikarang

Salah satu daya tarik ingin tinggal di Meikarta Cikarang adalah karena memiliki taman kota. Luasnya pun gak tanggung-tanggung yaitu sebesar 105 ha. Menjadikan Meikarta satu-satunya hunian yang memiliki taman kota sebesar ini.

Di tengah taman ada danau yang cantik. Kemudian dikelilingi juga dengan jogging track, pusat rekreasi, dan hiburan. Memang tujuannya untuk mendukung living healthy dan lifestyle dan para penghuni.

Meikarta juga dilengkapi dengan fasilitas digital. Hari gini kan, ya. Kita semua semakin butuh dengan teknologi digital. Sekarang aja tugas sekolah banyak yang bahan-bahannya cari lewat internet. Belum lagi kerjaan orang tua, termasuk aktivitas Chi sebagai blogger.

Meikarta memenuhi kebutuhan itu. Karena ada internet fiber optic yang stabil dengan kecepatan 1 GBPS untuk akses internet yang super cepat. Anti bad mood deh ini kalau super cepat.

Aplikasi MyMeikarta yang menjadi sarana informasi terupdate untuk semua penghuni, serta dapat melakukan pembayaran dan pengecekan cicilan di Meikarta. Ada fitur CCTV dalam aplikasi ini sehingga penghuni bisa memonitor situasi di lobi dan di koridor unitnya secara live. Kayaknya baru Meikarta deh yang punya aplikasi begini. Keren sih karena sebagai penghuni tentunya harus merasa aman saat tinggal di sana.

Ada yang suka belanja online? Toss dulu kalau begitu hehehe. Di Meikarta ada fasilitas Smart PopBox yang akan memberikan notifikasi di HP penghuni bila ada penerimaan dokumen maupun barang. Jadi gak usah tunggu-tungguan kapan paket bakal datang, ya. Nanti juga akan ada notifnya.

Hunian apartemen di Meikarta Cikarang ini memang cocok deh buat berbagai kalangan, terutama generasi milenial dengan rentang usia 25-40 tahun. Apartemen menjadi hunian ideal karena faktor keamanan, kenyamanan, dan kepraktisan yang mendukung lifestyle.

Apartemen Meikarta memiliki berbagai tipe unit dan harga. Dari mulai tipe studio dengan harga 200 jutaan dan cicilan 1 juta/bulan. Sehingga hunian ini memang cocok untuk yang masih single hingga yang sudah berkeluarga.

Mengingat di kawasan Cikarang ini juga bisa menjadi pusat bisnis, memang akan lebih nyaman lagi kalau kerjanya pun di daerah sana. Tetapi, kalau tetap bekerja di Jakarta, pilihan infrastruktur transportasinya juga sudah banyak pilihan.

Pantas saja banyak yang membicarakan Meikarta Cikarang. Berbagai kemudahan akses dan fasilitas kenyamanannya yang berkelas memang menjadi daya tarik banget. Chi pun termasuk yang ikut berangan-angan bisa tinggal di kawasan Cikarang ini.

Info lebih lengkap juga bisa lihat di

Instagram : themeikarta
Youtube : The Meikarta

Continue Reading
118 komentar
Share: