Monday, June 14, 2021

Pengalaman Mengikuti Wisuda Virtual 2021

Pengalaman Mengikuti Wisuda Virtual 2021 - Sebetulnya, Chi lagi gak semangat banget untuk melakukan berbagai hal. Termasuk, membuat postingan di blog. Padahal banyak ide konten yang bersliweran.
 
Tetapi, Chi lagi kecewa banget dengan peraturan PPDB DKI 2021 yang dirasa sangat gak adil. Kirain, tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya yang menuai kisruh. Ternyata, malah lebih parah, terutama bagi siswa yang pintar secara akademis. Selain peraturan yang dirasa tidak adil, banyak pula ditemukan salah input yang menjadi keuntungan salah satu pihak. 
 
 
Banyak anak cerdas secara akademis, salah satunya Nai, harus tersingkir karena peraturan ini. Buat yang menyimak omelan Chi di IGS, mungkin udah tau, ya. Kalau penasaran, silakan aja ke akun @ke2nai, kemudian pilih highlight PPDB DKI.

pengalaman menghadiri wisuda virtual
 
Pengen hibernasi dulu ke mana gituuuu. Tapi, gak mood juga. Ya udah, deh, update konten aja. Kasihan ini blognya nanti lama-lama debuan.
 
Teman-teman, Chi mohon do'anya untuk Nai, ya. Semoga dia bisa keterima di SMA Negeri yang diinginkan. Aamiin Allahumma aamiin.
 
Berhenti sejenak sedihnya. Sekarang, Chi mau ceritain tentang acara wisuda virtual sekolah Nai. Karena hal ini juga penting untuk diadakan. Kalau gak ada pandemi, rasanya gak mungkin ada wisuda online. Kecuali, kalau hidup sudah digital banget. Sudah ada banyak sekolah dengan konsep digital atau hybrid.

Wisuda Nai tahun ini berlangsung sangat sederhana. Ya, sebetulnya ketika mereka SD pun konsep wisudanya tidak mewah meskipun bersekolah di swasta yang lumayan biayanya. Tetapi, kalau wisuda, tetap aja dilakukan di aula  dengan cara sederhana.

Malah jauh lebih mewah acara wisuda waktu Keke lulus SMP. Diadakan di salah satu hotel berbintang. Tentunya hal ini berjalan karena inisiatif dan biaya pribadi orang tua. Karena sekolah negeri kan tidak boleh memungut bayaran sepeser pun.

[Silakan baca: Keke dan Wisuda]

Jadi, sebetulnya gak ada rasa sedih yang berlebihan ketika wisuda dilakukan secara sederhana. Chi pun sempat bertanya kepada Nai. Siapa tau dia merasa sedih karena tidak bisa merayakan wisuda bersama teman-temannya. Tetapi, dia merasa biasa aja.

Beberapa minggu sebelum hari H, kami diminta membuat video pengalungan medali. Durasinya tidak boleh lebih dari 7 detik. Disarankan kedua orang tua ada dalam video tersebut. Tetapi, Keke saat itu lagi gak ada. Jadi, K'Aie yang rekam video. Sehingga hanya Nai dan bundanya yang ada di layar.
 
wisuda virtual smp negeri
Sumber gambar: We Bare Bears


Beberapa hari menjelang hari H, orang tua dapat pengumuman tentang pelaksanaan wisuda online. Siswa diminta berseragam batik sekolah. Sedangkan orang tua menggunakan batik. Link zoom pun diberikan. Orang tua dan siswa juga diminta berada dalam satu screen. Chi langsung teringat sama We Bare Bears hehehe.

Karena hanya online, persiapan kami gak banyak. Hanya K'Aie yang mandi dulu. Chi dan Nai enggak hehehe. Chi pun dandan seadanya, hanya menggunakan lipstik. Kami pun hanya mengenakan atasan yang diwajibkan. Bawahannya tetap aja pada pakai celana pendek hihihi.

Kami menonton acara wisuda di kamar Nai. Chi yang kurang tidur selama beberapa hari, melihat kasur dan dinginnya AC rasanya jadi tambah ngantuk hihihi. Udah gitu sepanjang acara ternyata banyak yang off-camera. Yaaaa ... kalau gitu ngapain juga pakai baju rapi wkwkwk! 
 
pengumuman kelulusan online saat pandemi

Keke dan Nai asik sarapan mie kuah semangkok berdua. Padahal Keke lagi PJJ, sempet-sempetnya ikutan wisuda online adeknya. Ya gini, deh, kalau wisuda online. Acara dimulai pagi hari, kami belum pada sarapan. Jadi, sel-service aja, ya hehehe.

wisuda virtual pandemi

K'Aie hanya menyaksikan sekian menit. Trus, keluar dengan alasan ada orderan masuk. Mau bungkusin pesanan biar bisa segera dikirim.

Iya, memang bener ada orderan, Tapi, selesai ngebungkus, gak balik lagi ke kamar Nai buat mengikuti acara wisuda sampai selesai. Pas Chi lihat, lagi asik main game di ruangan lain. Eyaampuuuunn! 😂

Tau gitu, Chi numpang tidur juga, ya. Mana acaranya seremonial banget. Semakin bikin Chi mengantuk. Tetapi, sengaja ditahan, khawatir nanti diminta menyalakan kamera saat nama Nai dipanggil. 
 
Kan, biasanya di tiap acara wisuda akan dipanggil satu per satu siswanya. Eh, ternyata ini gak ada, dong. Bahkan video pengalungan yang udah dibuat pun gak ditayangkan. Beneran seremonial banget. Banyakan pidato dari sana/i dan mengumumkan kelulusan 100% hihihi.

Kesel, sih, enggak. Malah bikin kami terus cekikikan. Ya, abisnya bener-bener acara wisuda terunik! Dan, ini terjadi karena pandemi COVID-19.  
 
Tetapi, konsep acara wisuda virtual di setiap sekolah bisa berbeda-beda, ya. Chi lihat, banyak teman yang persiapannya juga sama seperti wisuda pada umumnya. Tetap, berpakaian formal dan dandan, meski pun virtual.

Kalau di sekolah Nai bener-bener santai banget. Makanya, gak ada foto-foto ala wisuda. Mukanya masih pada baru bangun semua hahaha! Alhamdulillah, Nai juga anaknya santai. Gak merasa gimana gitu dengan konsep wisuda seperti ini.

"Bun, enak juga wisuda kayak gini. Santai banget! Mudah-mudahan tahun depan, wisuda Keke kayak gini juga."

Aaaahhh, tidaaaak! Wisuda Virtual memang sungguh unik. Kelak akan menjadi kenangan yang spesial. Tetapi, gak mau lah kalau sampai mengalami lagi. Bukan tentang santai atau sederhananya. Tetapi, kalau tahun depan masih virtual juga, kan, artinya pandemi masih ada. Duh, jangan sampai terjadi. COVID-19, segera pergi jauuuuuhhh! 
 

Continue Reading
No comments
Share:

Tuesday, June 1, 2021

Imperfect Parenteen, Bukan Buku Parenting

Imperfect Parenteen, Bukan Buku Parenting - Apakah teman-teman pernah merasa bersedih karena merasa tidak menjadi orang tua yang sempurna? 
 
imperfect parenteen bukan buku parenting

Pada awalnya, Chi merasa seperti itu. Di awal menjadi orang tua, puluhan bahkan ratusan kali merasa bersalah. Anak sakit langsung merasa gak becus mengurus kesehatan anak. Usai marahin anak, bapernya berkepanjangan karena feeling guilty. Khawatir anak jadi benci ibunya. Banyak lah cerita baper lainnya.

 

Di Balik Cerita tentang Buku Imperfect Parenteen

 
Beberapa bulan lalu, penerbit EA Books (bagian dari Buku Mojok Group) menghubungi Chi via email. Katanya ingin membukukan beberapa tulisan di blog ini yang tentang pengasuhan remaja.

Bagi Chi membuat buku adalah sesuatu yang sangat baru. Bahkan punya rasa yang berbeda. Dari dulu, beberapa kali pernah berusaha menulis untuk media selain blog, tetapi rasanya beda. Malah jadi banyak nge-blank. Makanya sebelum menyetujui, Chi bertanya lebih detil dulu. Khawatir nanti malah jadi mandek ngerjainnya karena merasa gak dapat 'feel-nya'.

Ternyata, Chi gak harus menulis ulang. Semua tulisan di buku ini, sudah ada di blog. Editor di EA Books yang kemudian merapikan tulisan-tulisannya. Misalnya, mengecek ada typo atau enggak. Mengganti kata 'Chi' menjadi saya. Tentu saja setelah selesai, Chi diminta mengecek draftnya terlebih dahulu untuk kemudian disetujui atau tidak.

Setelah draft naskah disepakati, menentukan judul ternyata ruwet juga. Ada beberapa usulan judul dari penerbit. Tetapi, Chi juga dipersilakan bila punya usulan lain.

Saat itu, Chi belum ada ide untuk judul. Tetapi, mengutarakan keinginan jangan sampai terkesan seperti buku teori parenting. Chi gak punya latar belakang keilmuan parenting. Semua yang ditulis di blog kemudian dituangkan ke buku memang tentang pengalaman pribadi.
 
Kemudian diusulkan judul Imperfect Parenteen. Chi langsung setuju karena sejatinya memang tidak ada satu pun orang tua yang sempurna. Tetapi, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.


Dari Blog ke Buku


buku parenting remaja

Kalau begitu, kenapa gak baca di blog aja?

Seperti yang sudah Chi tulis di awal, pihak EA Books yang lebih dahulu menghubungi melalui e-mail. Mas Rifai dari EA Books mengatakan sebelumnya sudah terlebih dahulu membaca postingan-postingan di blog ini, khususnya di label 'Parenteen'. Kemudian menawarkan untuk membuat buku parenting remaja.

Tentu aja Chi merasa diapreasiasi dengan penawaran ini. Tulisan-tulisan keseharian tentang Keke dan Nai dianggap menarik untuk dijadikan buku. 

Setelah berpikir untuk beberapa saat, memang rasanya tidak semua membaca blog. Dengan dijadikan buku, harapannya akan memberi manfaat lebih banyak lagi.

Selain itu, di buku Imperfect Parenteen ini hanya berisi tentang cerita pengasuhan anak remaja. Sedangkan kalau di blog kan tulisan-tulisannya sejak Keke dan Nai masih kecil. Juga ada beberapa tulisan lain. Meskipun untuk membaca cerita mereka sejak ABG bisa langsung dicari di label 'Parenteen'.
 
Chi tuh seringkali merasa buku parenting tentang pola asuh remaja masih jarang banget. Berbeda dengan buku parenting untuk bayi hingga balita yang sumbernya melimpah ruah. Berbagai tabloid, majalah, hingga situs khusus ibu dan anak pun mayoritas topiknya masih seputaran tentang masa kehamilan serta pola asuh untuk bayi hingga balita.

Padahal pola asuh ketika anak mulai puber tuh juga penting banget, lho. Chi mulai merasakan jumpalitannya menjadi orang tua justru ketika Keke dan Nai mulai ada di fase ini. Beberapa kerabat dan teman pun merasakan hal yang sama. Memiliki anak remaja tuh banyak tantangannya.


Jadi, meskipun Imperfect Parenteen bukanlah buku teori parenting, Chi juga berharap kalau buku ini bisa meramaikan ranah pola asuh anak remaja. Ya meski pun mungkin gak gede-gede amat kontribusinya. Etapi, boleh banget dong ya berharap buku ini menjadi best seller. Aamiin Allahumma aamiin.
 
Harapan Chi, setidaknya bisa mengajak para orang tua, terutama yang saat ini memiliki anak remaja, untuk sama-sama bergandengan tangan. Meski pun remaja kerap kali bikin pusing, tetapi tetap menyenangkan banget, kok.


Di Mana Membeli Buku Imperfect Parenteen?


harga buku imperfect parenteen
Harga buku Imperfect Parenteen Rp68.000,00


Saat ini, buku Imperfect Parenteen dijual secara online. Ada beberapa cara untuk membeli buku ini yaitu:

  1. Beli di bukumojok.com
  2. Untuk mengetahui online bookstore mana aja yang menjual bisa cek di Instagram dengan hashtag #ImperfectParenteen. Bisa juga bertanya ke akun IG @EAbooks atau @bukumojok
 
Semoga buku ini bisa menjadi berkah untuk semua, ya. Sekaligus penyemangat untuk terus menulis. Aamiin Allahumma aamiin.

Continue Reading
No comments
Share:

Sunday, May 23, 2021

Terlambat ke Sekolah

Terlambat ke Sekolah -  Libur udah selesesai, Gaesss! Saatnya sekolah lagi hehehe. 

Biar pun masih PJJ, tetap aja berasa kalau lagi liburan sekolah. Setidaknya Keke gak disibukkan dengan tugas sekolah. Kalau Nai udah sebulan lebih libur karena sudah selesai masa belajarnya. Tinggal menunggu kelulusan. Insya Allah, tahun ajaran nanti resmi jadi anak SMA kayak kakaknya.
 
terlambat ke sekolah

Hari ini, lihat postingan di fitur 'see your memories' Facebook. Ada beberapa celotehan Nai tentang terlambat masuk sekolah. Karena belum ditulis di blog, jadi Chi pindahin.

Ini celotehan Nai waktu SD. Beberapa kali terlambat masuk sekolah. Nai waktu SD memang santai banget. Celotehannya suka bikin gregetan.


Gesit vs Terburu-Buru

Bunda: "Tadi kesiangan, ya?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Makanya kalau pagi-pagi tuh gesit biar gak kesiangan."
Nai: "Santai aja, Bun. Kalau terburu-buru nanti malah ada yang ketinggalan."
 
*Gesit ma terburu-buru itu beda, Nai 😅

 

Sama-Sama Terlambat
 
Bunda: "Terlambat lagi ya tadi."
Nai: "Iya."
Bunda: "Tuh adek mah santai banget. Jadi suka terlambat."
Nai: "Tenang. Ima ada temen yang juga terlambat, kok."
 
*Santai banget 😂

 

Ada Apa dengan Kakak Kelas?
 
Nai: "Bunda, ayo cepet! Nanti Ima terlambat."
Bunda: "Masih cukup waktunya. Tumben banget gesit. Biasanya santai banget."
Nai: "Ima males kalau terlambat. Soalnya kelas Ima di ujung jadi harus lewat kelas kakak kelas dulu."
Bunda: "???"
 
*Ada apa dengan kelas kakak kelas? 😄


Kakak Kelas Udah Libur

Bunda: "Dek, ayo cepetan! Jangan terlambat melulu."
Nai: "Iya ... Iya ..."
Bunda: "Nanti kalau terlambat harus lewat kelas kakak kelas lagi, lho."
Nai: "Gak apa-apa. Kakak kelas udah pada libur, kok."
 
*Yaaaa ... Ini sih jadi terlambat lagi 😂
 
Setelah SMP juga dia masih tetap santai. Untungnya gak sesantai ini. Setidaknya gak pernah terlambat ke sekolah. Tetapi, tetap bikin kakaknya gregetan. Makanya kadang-kadang Keke jalan duluan, Nai diantar sama ayahnya. Padahal sekolah mereka berdampingan hehehe.

Kenangan banget ya masa sekolah begini. Saat PJJ ceritanya udah beda lagi. Keke yang terlihat lebih santai. Terkadang ketiduran saat lagi belajar. Sedangkan Nai kebalikannya. Lebih gesit dan udah duduk rapi di meja belajarnya 😀
 

Continue Reading
No comments
Share:

Sunday, May 16, 2021

Asuransi Sebagai Bagian dari Gaya Hidup

Asuransi Sebagai Bagian dari Gaya Hidup - Apakah teman-teman sudah memiliki asuransi? Atau justru masih ragu dengan asuransi? 

asuransi sebagai bagian dari gaya hidup

Kalau untuk Chi pribadi, keinginan memiliki asuransi tuh udah lama banget. Dari sebelum menikah pernah punya asuransi. Waktu itu ada sales asuransi yang menawarkan dan Chi tertarik dengan penawarannya.

Polis asuransi pun dikirim ke rumah. Dengan bangga Chi tunjukin dong ke papah. Eh, yang ada malah dimarahin hehehe.

Papah gak anti asuransi. Tetapi, Chi dianggap kurang berhati-hati. Hanya termakan ‘penawaran manis’ sales langsung menyetujui. Harusnya ditanya dan dibaca dulu lebih detil.

Singkat cerita, Chi langsung membatalkan asuransi tersebut. Terlebih setelah curhat sama salah seorang teman, ternyata dia punya pengalaman gak enak dengan asuransi tersebut. Semakin mantaplah untuk dibatalkan.

Tentu aja ada kerugian materi. Tetapi, gak apa-apa lah daripada nanti kerugiannya semakin besar. Sejak itu, Chi kapok berasuransi.

Hingga kemudian punya anak pertama. K’Aie langsung membuatkan asuransi pendidikan begitu Keke lahir. Chi yang masih merasa kapok, menyerahkan semua keputusan ke K’Aie.

Baru merasakan manfaat asuransi ketika Chi harus dirawat karena DBD. Keke juga pernah dirawat karena typus. Semua pembayaran menggunakan asuransi. Padahal waktu K’Aie cerita kalau kami sekeluarga punya asuransi kesehatan, Chi sempat ngedumel. Seberapa penting sih punya asuransi kesehatan?


Bincang-Bincang Asuransi Bersama FWD Blogger Squad


Senin, 12 April 2021, Chi mengikuti acara virtual FWD Blogger Squad. Acara ini bukan tentang peluncuran produk. Tetapi, berdiskusi tentang literasi keuangan, khususnya asuransi.

Di acara ini, blogger tidak sekadar hadir dan mendengarkan. Kami dibagi menjadi 3 kelompok. Bersama tim dari FWD Insurance, kami saling mengeluarkan pendapat tentang asuransi secara umum.

Asuransi seharusnya menjadi pelindung dari berbagai risiko di masa depan. Ibaratnya seperti sedia payung sebelum hujan.

Sayangnya, literasi keuangan masyarakat kita memang harus ditingkatkan. Termasuk kesadaran berasuransi di Indonesia yang masih rendah. Kami pun saling mengeluarkan pendapat dan berdiskusi tentang penyebab keengganan masyarakat memiliki asuransi.

Faktor pertama adalah alasan ekonomi. Apalagi di saat pandemi COVID-19 ini. Di mana banyak yang ekonominya terganggu. Jadi semakin tidak kepikiran memiliki asuransi.

Asuransi masih dianggap sesuatu yang merugikan. Tidak ada ada seorangpun yang menginginkan mengalami kejadian buruk di masa depan. Tetapi, bila tidak terjadi sesuatu, uang pun akan lenyap. Makanya masih banyak yang berpikir lebih baik berinvestasi daripada memiliki asuransi.

Klaim yang ribet, kasus penipuan asuransi, dan lain sebagainya juga menjadi alasan enggan berasuransi. Atau seperti yang Chi ceritain di awal. Akhirnya sempat kapok dengan asuransi.

Seringkali ketidakpercayaan dan keengganan memiliki asuransi juga timbul karena pengaruh orang lain. Mendengar/membaca berita tentang ribetnya mengurus klaim hingga kasus penipuan, membuat masyarakat berpikir ulang.


Menjadikan Asuransi Sebagai Lifestyle


Pendapat orang memang bisa sangat berpengaruh. Pendapat orang lain pun gak harus dengan yang sudah saling mengenal. Apalagi sekarang era digital. Bila ada netizen yang menceritakan pengalaman buruk berasuransi dan kemudian viral pun sudah bisa mempengaruhi beberapa masyarakat menjadi ragu memiliki asuransi.

Tetapi, gak hanya pendapat buruk aja, kok. Pengalaman baik tentang asuransi juga bisa berpengaruh. Intinya sih pendapat seseorang baik itu positif atau negatif lebih efektif dibandingkan ucapan agen asuransi.

Bukan berarti agen asuransi tidak dibutuhkan, lho. Tetapi, seseorang memang bisa tertarik atau enggan karena mengetahui pengalaman orang lain. Kalau sudah tertarik, baru deh minta info lebih jelas ke agen asuransi.

Salah satu cara membuat masyarakat tertarik dengan asuransi adalah dengan menjadikannya sebagai gaya hidup. Bisa juga untuk melengkapi lifestyle yang sudah ada.

Misalnya, gaya hidup sehat semakin banyak dijalankan oleh masyarakat. Akan lebih baik bila dilengkapi dengan asuransi kesehatan untuk berjaga-jaga dari risiko yang ada. Berwisata juga sebaiknya dilengkapi dengan asuransi perjalanan. Agar jalan-jalannya semakin merasa aman dan nyaman.

Seperti itu lah kurang lebihnya diskusi kami beberapa waktu lalu. Sebagai perusahaan asuransi terkemuka di Asia Pasifik, FWD Insurance berkomitmen mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi.

FWD memiliki produk Asuransi Bebas Handal yaitu asuransi kesehatan dengan fitur utama sebagai berikut:


  1. Terjangkau – Kontribusi mulai dari Rp75.000,00 per bulan
  2. Simple – Mudah dibeli setiap saat secara online 
  3. Lengkap – Tidak hanya biaya kamar. Semua biaya perawatan dengan nilai manfaat hingga Rp100 juta per tahun
  4. Cashless – Proses masuk dan keluar rumah sakit rekanan tidak ribet. Cukup dengan menunjukkan kartu asuransi 


Download FWD Max juga, yuk! Di aplikasi ini gak hanya bisa membeli asuransi secara online. Ada banyak hot promo yang akan mendukung gaya hidupmu.

Baca-baca juga berbagai artikel di fitur Passion Story. Ada berbagai artikel menarik yang bisa meningkatkan literasi keuangan, terutama tentang asuransi. Mengajak kita semua untuk bisa mandiri secara finansial juga. Cek juga akun IG @fwd.id, ya 

Continue Reading
97 comments
Share:

Mandiri Secara Finansial bagi Kartini Masa Kini

Mandiri Secara Finansial bagi Kartini Masa Kini - Banyak yang mengatakan kalau seorang istri itu ibarat menteri keuangan di rumah tangga. Pernyataan yang gak akan Chi sanggah. Tetapi, sempat bikin galau untuk sekian lama.

mandiri secara finansial bagi karti masa kini

Persepsi Chi ketika baru berumah tangga adalah gaji suami diserahkan semuanya kepada istri. Kemudian istri yang mengelola. Tetapi, setelah berjalan beberapa saat, Chi ternyata gak sanggup. Bawaannya malah uring-uringan melulu.

Setelah berdiskusi, kami sepakat kalau uang dikelola oleh K’Aie. Chi paling dikasih uang belanja dan sekolah anak-anak aja setiap bulannya. Sedangkan untuk pos-pos lainnya, diserahkan semua ke K’Aie untuk diatur.

Meskipun sudah ada kesepakatan, Chi masih agak galau? Bener gak sih mengatur keuangan rumah tangga seperti ini? Kok kesannya gak ideal banget. Gak sesuai dengan persepsi Chi sebelumnya.

Chi pun bertanya tentang keuangan rumah tangga ke mamah. Katanya di awal-awal pernikahan, gaji papah dipakai untuk membayar berbagai cicilan. Misalnya cicilan rumah dan kendaraan. Sedangkan untuk kebutuhan harian menggunakan gaji mamah. Tetapi, ketika semua cicilan sudah lunas, papah lah yang memenuhi semua kebutuhan rumah tangga.

Ternyata setiap rumah tangga bisa berbeda-beda, ya. Tergantung bagaimana kesepakatannya dan kenyamanan dengan pasangan. Setelah lebih dari 18 tahun menikah pun kami merasa memang lebih nyaman dengan pengelolaan keuangan seperti saat ini.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dilakukan oleh OJK pada tahun 2016, tingkat literasi keuangan perempuan ternyata lebih rendah daripada laki-laki. Hanya 25,5% perempuan yang melek keuangan, sedangkan laki-laki sedikit lebih tinggi yaitu 33,2%.

Ketika pertama kali mengetahui fakta ini, Chi cukup kaget juga. Bagaimana perempuan bisa menjadi Menteri Keuangan di rumah tangga kalau literasi keuangannya rendah? Lalu bagaimana caranya perempuan bisa mandiri secara finansial?

Tetapi, Chi akui memang mengatur keuangan tidak semudah teorinya. Ketika masih bekerja dan belum menikah, rasanya nyaman aja dengan hal ini. Saat sudah berumah tangga malah jadi ribet. Hingga akhirnya menyerahkan sebagian besar pengelolaan ke suami.


asuransi bebas handal fwd

Mandiri secara finansial bagi perempuan adalah memiliki penghasilan, mampu mengelola keuangan sendiri, serta memiliki kekuatan dalam pengambilan keputusan.

Bulan April mengingatkan kita dengan Hari Kartini. Dan salah satu yang diingat tentang sosok Kartini adalah emansipasinya. Sosok yang kuat dalam memperjuangkan cita-cita dan mandiri.

Di saat ini, salah satu yang diharapkan adalah banyak Kartini yang bisa mandiri secara finansial. Tentu saja butuh pengetahuan literasi keuangan untuk mencapai tujuan ini. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan bagi perempuan yang sudah menikah untuk bisa mandiri secara finansial, yaitu


1. Memiliki Penghasilan

Ketika baru menikah, Chi gak punya penghasilan sama sekali. Memang menjelang menikah sengaja resign. Ingin mengurus rumah tangga.

Tetapi, karena pernah bekerja kantoran, jadi merasakan juga nikmatnya punya uang sendiri dan ingin merasakan lagu. Chi pun mulai jualan baju online. Meskipun cuma berjalan beberapa waktu karena masih ribet dengan mengurus 2 anak yang masih kecil. Akhirnya aktivitas ngeblog lah yang menjadi sumber penghasilan Chi hingga sekarang.

Selama ini, hasil dari ngeblog dan medsos, dipakai untuk diri sendiri. K’Aie bertanggung jawab penuh dengan kebutuhan keluarga. Tetapi, di masa pandemi, dimana hampir semua sektor terkena imbas, termasuk penghasilan K’Aie. Chi bersyukur banget penghasilan dari ngeblog bisa dipakai untuk membantu kebutuhan harian keluarga. Sehingga keuangan keluarga gak oleng banget.


2. Memiliki Tabungan

Uang bulanan yang selalu di transfer K’Aie untuk belanja bulanan dan keperluan sekolah anak-anak selalu Chi usahakan diatur sebaik-baiknya. Seringkali masih ada lebihnya. Dan K’Aie gak pernah keberatan kalau sisanya dijadikan tabungan istrinya. Jadi meskipun saat itu belum ada penghasilan sendiri, saldo tabungan Chi tetap bertambah sedikit demi sedikit.

Pundi-pundi tabungan terus bertambah setelah blog di-monetisasi. Sebagian besar tentu aja ditabung. Chi hanya pakai sedikit untuk menyenangkan diri sendiri. Sesekali jajanin suami dan anak-anak juga.


3. Memiliki Proteksi Diri atau Asuransi

Chi memang sempat kapok berasuransi. Tetapi, setelah berhasil diyakinkan oleh K’Aie dan merasakan sendiri manfaatnya, baru deh mengakui pentingnya memiliki asuransi.

Asuransi kesehatan adalah salah satu yang sebaiknya dimiliki. FWD Insurance punya nih Asuransi Bebas Handal yang bisa dibeli dengan mudah secara online. Kontribusinya dimulai dari Rp75 ribu dan pilihan manfaatnya hingga Rp100 juta per tahun. Produk asuransi syariah ini juga memiliki manfaat khusus COVID-19 tanpa tambahan biaya.


4. Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Awalnya Chi gak kepikiran tentang hal ini. Kemudian dijelaskan oleh K’Aie kalau dana pendidikan adalah salah satu ikhtiar orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Apalagi setiap tahun dana pendidikan bisa semakin tinggi. Jadi memang sebaiknya dipersiapkan sejak jauh-jauh hari,


5. Memahami Pentingnya Investasi

Ada banyak pilihan investasi. Sebaiknya dipahami dulu mana investasi yang tepat. Disesuaikan juga dengan kebutuhan, ya.


6. Menyiapkan Dana Pensiun

Chi dan K’Aie kan bukan PNS. Gak akan punya uang pensiun kalau gak diusahakan sendiri. Padahal pengennya di hari tua bisa menikmati hidup tanpa membuat anak-anak menjadi generasi sandwich.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan supaya mandiri secara finansial. Mungkin teman-teman juga ada usulan lain. Yuk, kita saling berbagi tips.

Dari hasil diskusi dengan tim FWD Insurance dan FWD Blogger Squad, memahami literasi keuangan emmang merupakan sesuatu yang penting. Segala sesuatu bisa terjadi tanpa diduga. Contohnya di saat pandemi ini di mana banyak keuangan rumah tangga yang terganggu. Semakin dirasa penting untuk bisa mengelola dan membuat keputusan finansial secara cerdas.

Yuk download FWD MAX juga, ya. Di aplikasi ini banyak fitur menariknya. Gak hanya bisa untuk beli asuransi secara online. Ada juga berbagai hot promo serta artikel menarik tentang literasi keuangan. Ikuti juga Instagram FWD di @fwd_id ya.

Continue Reading
102 comments
Share:

Saturday, May 15, 2021

Hansaplast Salurkan Dana Pendidikan dan Kesehatan untuk 10 Anak Indonesia

Hansaplast Salurkan Dana Pendidikan dan Kesehatan untuk 10 Anak Indonesia - Masih ingakah dengan kampanye Hansaplast #SelaluAdaMelindungiKeluargaAnda yang berlangsung dari 6 Maret s/d 6 April 2001?

hansaplast bacteria shield

Bertepatan dengan peluncuran produk terbaru Hansaplast yang dilengkapi dengan Bacteria Shield juga diadakan kampanye #SelaluAdaMelindungiKeluargaAnda. Hansplast selalu berkomitmen melindungi keluarga Indonesia sejak lama. 
 
Marketing Director Hansaplast, Dr. Christopher Vierhaus, mengatakan, “Hansaplast telah berkomitmen memberikan perlindungan luka seluruh keluarga Indonesia lebih dari 100 tahun. Terutama saat ini, dimana kami membawa perlindungan ke level yang lebih tinggi dengan peluncuran Bacteria Shield. Sebagai bentuk lebih lanjut komitmen pada perlindungan, kami memberikan aksi nyata untuk mendukung dan melindungi Anak-Anak Indonesia melalui donasi dana kesehatan dan pendidikan. Donasi ini dikumpulkan dengan mengajak seluruh konsumen berpartisipasi dalam kampaye digital “Bacteria Shield: Selalu Ada Melindungi Keluarga Anda”, dimana 1 partisipasi = 1 donasi untuk kesehatan dan pendidikan Anak Indonesia. Bertepatan dengan peluncuran Hansaplast Plester Bacteria Shield, Hansaplast menyalurkan dana bantuan untuk 10 Anak di Indonesia melalui 1000 Guru. Kami terus berusaha meningkatkan komitmen sosial ini dengan harapan semakin banyak lagi keluarga Indonesia yang terlindungi.” 
 
Aspek utama yang menjadi fokus utama donasi kampanye digital #SelaluAdaMelindungiKeluargaAnda Hansaplast bekerjasama dengan 1000 Guru adalah sebagai berikut: 
 
  1. Tabungan Pendidikan: Pendidikan merupakan aspek utama yang menjadi sasaran bantuan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan taraf hidup Anak Indonesia. 
  2. Kesehatan: Sebagai merek pertolongan pertama No. 1 di Indonesia, Hansaplast ingin memberikan akses kesehatan yang lebih baik untuk Anak Indonesia dalam bentuk dana kesehatan atau penyaluran produk-produk Hansaplast Bacteria Shield. 
  3. Bantuan Sehari-Hari: Sebagian dana digunakan untuk mendukung kebutuhan pokok anak dan keluarga sehari-hari. 
 
 hansaplast kami ada untuk keluarga
 
Hansaplast dan 1000 Guru memberikan donasi ke 10 Anak Indonesia. Lokasinya tersebar ke berbagai penjuru yaitu Kupang, Jogja, Sumba, Sulawesi Selatan, Lampung, Bengkulu, Makassar, Banten, dan wilayan lainnya di Indonesia.
 
Masih banyak anak Indonesia yang membutuhkan bantuan. Dengan adanya program donasi ini, anak-anak Indonesia dapat terpenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhan sekolah. Sehingga anak-anak bisa lebih termotivasi meraih cita-cita.
 
Ketua Yayasan 1000 Guru, Jemi Ngadiono memberikan contoh Chika umur 11 tahun dari Sumba Timur yang menjadi salah 1 penerima donasi Hansaplast. Chika adalah anak yang cerdas dan berprestasi yang bercita-cita menjadi dokter. Dia harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh dan medan berbukit untuk pergi ke sekolah. Hansaplast memberikan tabungan pendidikan  dan sepeda penunjang menuju ke sekolah untuknya. Saat ini, Chika dapat mengejar mimpinya dengan lebih baik dan tidak perlu berjalan kaki untuk pergi ke sekolah. 
 
hansaplast cara menangani luka ringan
 
Salut dengan komitmen Hansaplast ini. Tidak hanya melindungi keluarga Indonesia melalui produk perawatan dan perlindungan luka yang berkualitas. Tetapi, juga peduli dengan nasib anak Indonesia dalam hal akses pendidikan dan kesehatan. Karena Hansaplast Selalu Ada Melindungi Keluarga Anda.
 

Continue Reading
No comments
Share: