Kamis, 11 Januari 2018

Resep Sambal Asam Udeung Aceh (Sambal Ganja)

sambal ganja asam udeung

Pertama tau ini waktu Sandra Nova (IG: @5andranova) share resep sambal ganja di FB. Chi yang memang suka banget sama sambal langsung ngeces, dong! Wajib bikin pokoknya. Tapi karena di sini susah banget dapat belimbing wuluh, terpaksa deh sabar menanti nungguin ada yang jual di pasar. 😅Begitu ada yang jual, Chi langsung beli agak banyakan. Chi memang suka gitu, belimbing wuluh bisa untuk sop ikan, opor ayam, dll. Sekarang juga dipakai untuk bikin sambal ganja.

Chi kirain dinamakan sambal ganja karena menggunakan biji ganja. Suka denger aja sih kalau beberapa kuliner Aceh menggunakan biji ganja. Entah benar atau tidak karena Chi memang jarang menyantap kuliner Aceh. Tapi setelah googling, jadi tau kalau sambal ini tidak menggunakan ganja sama sekali. Cuma memang bikin nagih makanya dibilang sambal ganja. Aslinya sih namanya Sambal Asam Udeung. Bahkan ada juga yang menulis kalau namanya Asam Udeung tanpa kata sambal karena di Aceh kata 'Asam' berarti 'Sambal'. Nah, teman-teman yang bisa bahasa Aceh bener gak tuh kalau asam = sambal?

Rabu, 03 Januari 2018

Google.org Mendukung Meningkatkan Minat Baca Anak Indonesia


Beberapa bulan lalu dalam sebuah acara yang bertemakan tentang minat baca anak, Chi baru mengetahui kalau berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World 2016", Indonesia berada di  peringkat ke-60 dari 61 negara. Wuiiihh, hampir jadi yang paling rendah! Menyedihkan, ya. Apa sih yang menjadi penyebabnya?

Kamis (14/12 '17), bertempat di hotel Fairmont Jakarta, Google. org mengadakan acara talkshow sekaligus workshop tentang peningkatan minar baca anak Indonesia. Penyebab rendahnya minat baca anak Indonesia ternyata lebih disebabkan karena kesenjangan. Bagi anak-anak yang tinggak di kota besar dan ekonominya mampu, ketersediaan buku sebetulnya bukan masalah. Hanya saja banyak anak-anak yang perhatiannya sudah teralihkan ke gadget. Sebetulnya tidak salah menggunakan gadget, asalkan digunakan dengan benar.

Kemudian cobalah lihat anak-anak Indonesia di bagian timur. Atau bahkan di pelosok kota besar seperti Jakarta masih banyak anak Indonesia yang jangankan memiliki gadget, buku saja tidak punya. Padahal ketika diberikan buku, anak-anak tersebut sangat antusias membaca. Jadi pada saat ada orang tua yang pusing dengan pelajaran anak yang semakin njlimet, di sisi lain ada anak yang bahkan membaca saja belum mampu.
Saat ini diperkirakan bahwa setiap 100 murid yang masuk sekolah, hanya 25 murid yang memenuhi standar minimum internasional dalam kemampuan membaca dan berhitung.
Selama ini, teman-teman pasti sudah kenal banget dengan Google. Nah, kalau Google.org adalah inisiatif filantropi dari Google yang mendukung berbagai organisai non profit yang menggunakan teknologi untuk mengatasi berbagai masalah kemanusiaan. Sejak didirikan pada tahun 2005, Google.org mendambakan dunia yang adil bagi semua orang dan meyakini bahwa teknologi serta inovasi dapat memawa perubahan di 3 bidang, yaitu pendidikan, ekonomi, dan kesetaraan.

Selasa, 26 Desember 2017

Menjadi Pribadi yang Apa Adanya

Sumber foto: Pixabay

Dulu, selama bertahun-tahun, Chi sempat sebal dengan yang namanya jaga image. Kalau zaman sekarang mungkin banyak orang menyebutnya sebagai pencitraan. Di mata Chi, orang tua (terlalu) sering mengingatkan tentang jaga image.

Tertawa ngakak sedikit, langsung ditegur supaya jaga image. Padahal kan tertawa lepas itu nikmat. Terlihat sedih di depan umum juga ditegur. Chi juga kerap ditegur karena jalannya gak rapi. Yaaa ... Anak tomboi begini gimana bisa disuruh bergaya feminin seperti perempuan, termasuk gaya jalannya hihihi.

Sekarang Chi merasakan manfaatnya. Apalagi bila bersosialisasi di media sosial. Tempat di mana setiap hari atau bahkan dalam hitungan menit selalu aja ada kehebohan. Tidak jarang pula viral. Kalau gak kontrol, bisa-bisa kebawa arus.

Sekitar 5 tahun lalu, Chi pernah merasakan kebawa arus sosial media. Alhamdulillah, seingat Chi belum pernah sampai menulis atau berkomentar dengan bahasa yang kasar. Tetapi setiap kali ada perbedaan pendapat, rasanya 'gatal' kalau gak ngeladenin.

Lama-kelamaan merasa lelah juga. Meskipun gak sampai saling memaki tetapi terus berusaha mempertahankan pendapat tetap bikin lelah. Padahal kan bisa aja Chi tinggalkan segala perbedaan itu. Lagipula gak akan juga membawa pengaruh yang bagaimana kalau sekadar berbeda [endapat dengan orang-orang yang hanya dikenal lewat media sosial.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...