Monday, August 25, 2014

Kurikulum Yang Mencerdaskan

Kurikulum Yang Mencerdaskan

Sejujurnya, walopun pendidikan di Indonesia (katanya) berganti-ganti kurikulum, tapi cuma ada satupun nama kurikulum yang Chi hapal namanya, yaitu Kurikulum 2013 yang baru berlangsung dari tahun kemaren hehe. Walopun, katanya pendidikan di Indonesia itu begini-begitu (banyak cerita negatifnya), Chi sendiri cenderung santai menghadapinya.

Santai bukan berarti gak peduli, lho. Tapi, Chi memilih untuk menghadapi dengan tenang. Chi yakin, apapun bentuk kurikulum kita, akan ada celah atau sesuatu yang bisa kita lakukan supaya anak gak merasa terbebani. Di bawah ini beberapa hal yang Chi lakukan.



Belum mau memasukkan anak di kursus akademis atau bimbingan belajar


Kalau untuk alasan ini, Chi banyak memperhatikan para sepupu yang sekarang di SD hingga SMA. Malah ada sepupu Chi yang sekarang udah kerja sampe SMA gak ikut bimbel sama sekali. Alasannya, kapan punya waktu istirahat dan bermain kalau terus-terusan belajar? Kenyataannya, nilainya bagus-bagus aja.

Sepupu Chi semuanya masuk sekolah negeri. Tidak ada satupun yang ikut bimbingan belajar sepulang sekolah. Pulang sekolah ya pulang. Apalagi yang masih di SD, jam sekolahnya singkat. Paling 2-3 jam ajah.

Di rumah pun mereka belajar, tapi secukupnya aja. Ketika ujian akhir, belajarnya ditingkatkan lagi. Tapi, kelihatannya gak sampe level stress. Masih kelihatan santai. Alhamdulillah, nilai-nilainya pada bagus.

Hal ini, menimbulkan tanda tanya besar buat Chi. Kok, gak seperti yang selama ini Chi baca beritanya di socmed ataupun di berbagai media mainstream. Para sepupu Chi kelihatan santai aja, padahal mereka gak ikut les apapun. Jam sekolahnya juga gak panjang. Apa rahasianya?

Chi rasa yag namanya kecerdasan gak turun begitu aja dari langit. Pernah datang ke acara parenting, katanya kecerdasaan memang ada faktor genetik tapi gak serta merta kecerdasan itu timbul. Justru pengaruh terbesar adalah dari stimulasi. Nah, kayaknya bagian stimulasi ini yang harus dikasih garis merah. Chi harus berpikir bagaimana menstimulasi kecerdasan.

Chi juga berpikir, kalau para sepupu yang sekolah di negeri aja bisa bagus-bagus nilainya harusnya Keke dan Nai bisa lebih bagus. Alasannya, durasi belajar mereka lebih panjang karena sekolah di swasta. Ditambah lagi dengan belajar di rumah. Dan, gak perlu ada tambahan les ini-itu. Logika sederhananya begitu :)

Tapi, Chi juga gak cari sekolah yang durasinya terlalu panjang. Sehabis dzuhur kalau bisa sudah pulang. Pokoknya jangan sampai Ashar. Biar mereka masih punya waktu untuk bermain. Lagian (sekali lagi) kalau para sepupu Chi yang durasi jam sekolahnya pendek aja bisa bagus-bagus nilainya, Keke dan Nai boleh lah cari sekolah yang lebih lama durasinya tapi juga jangan kelamaan.



Belajar itu menyenangkan!


Seperti yang Chi tulis di atas tentang bagaimana menstimulasi kecerdasan. Menurut Chi, salah satu faktor utama untuk menstimulasi kecerdasan anak adalah dengan membuat suasana belajar itu menyenangkan. Chi sering menulis kegiatan belajar Keke dan Nai di blog ini dan diberi label Metode Belajar. Silakan diklik tulisan Metode Belajar (yang berwarna merah) kalau memang mau baca-baca :)

Karakteristik belajar anak juga berbeda-beda. Chi gak akan menjelaskan di sini tentang berbagai karakteristik belajar anak karena cari di Google udah banyak yang menuliskan tentang ini. Mengenali karakteristik belajar anak itu bisa sangat membantu, lho. Bikin anak lebih cepat mengerti dan belajar juga jadi menyenangkan.

Chi merasakan sendiri, punya 2 anak dengan karakteristik belajar yang berbeda. Harus selalu muter otak hihihi. Keke auditori, Nai visual. Untuk materi yang sama, belum tentu Chi bisa mengajarkan dengan cara yang sama walopun mengajarinya di usia yang sama. Contohnya, ketika mengajarkan nama-nama malaikat saat mereka kelas 1 SD. Kalau ke Keke caranya dengan membacakan materi tersebut beberapa kali. Kalau Nai, harus ditambah dengan melihat video Dodo dan Syamil yang tentang nama-nama malaikat.

Jadi, udah kebayang kan gimana beratnya tugas guru kalau dituntut harus bisa mencerdaskan semua muridnya padahal masing-masing murid mempunyai karakteristik gaya belajar yang berbeda-beda. Makanya, Chi gak mau terlalu mengandalkan guru. Dan, kalau ada seorang murid yang nilai akademisnya dirasa kurang mungkin bukan karena gak bisa. Tapi, gak pas gaya belajarnya. Coba dicari dulu karakteristik gaya belajar yang pas, deh. Kalau udah ketemu, tinggal 'diracik' materi pelajarannya sesuai dengan karakteristik gaya belajar anak. :)

Belajar itu harus menyenangkan. Bagaimana dengan bermain sambil belajar? Justru harus. Apalagi mengajar ke anak-anak. Dimana dunia anak adalah dunia bermain. Jangan dihilangkan dunianya. Tapi, gak masalah kalau dunia belajar dibikin seperti dunia bermain.

Mungkin aja ada yang berpikir kalau Chi bisa seperti itu karena tidak bekerja kantoran. Kalau kata Chi gak begitu juga. Teman seangkatan Keke di sekolah ada anak laki-laki yang cerdas akademis, kegiatan ekskulnya juga berprestasi.

Persepsi di masyarakat, umumnya banyak yang bilang kalau anak laki-laki itu lebih gak telaten dibanding anak perempuan. Setau Chi, teman Keke ini kedua orang tuanya bekerja kantoran. Trus, kok, bisa anaknya tetap berprestasi?

Chi pernah tanya ke Keke apa rahasia temannya supaya tetap berprestasi? Keke jawabnya, "Gak tau." Dia kayaknya males ngepoin temennya hehehe.

Sebetulnya, Chi gak cuma sekedar pengen tau aja. Chi pikir, bisa dijadiin cerminan bahkan semangat juga, khususnya untuk Keke. Chi beberapa kali bilang, kalau temannya itu bisa berprestasi padahal kedua orang tua bekerja, maka Keke pun harusnya bisa lebih berprestasi atau paling gak bersaing, lah. Sebetulnya kalimat Chi itu untuk memotivasi Keke.

Nah, kalau kita termasuk orang tua yang bekerja kantoran, coba aja tengok disekitar. Chi rasa banyak, kok, orang tua yang sibuk bekerja tapi anak-anaknya tetap berprestasi. Coba aja belajar bagaimana tipsnya.



Di setiap zaman selalu ada yang berprestasi


Biar kata banyak yang bilang kurikulum kita banyak kekurangan, tapi selalu ada aja yang berprestasi di setiap zamannya. Dan, sampai detik ini selalu menolak anggapan kalau Keke dan Nai termasuk anak-anak korban eksperimen pemerintah yang tidak becus mengatur pendidikan.Chi lebih memilih berkaca dari yang berprestasi. Mengaca dari yang berprestasi itu bisa menimbulkan semangat ketimbang hanya melihat yang gagal terus.

Yang berprestasi juga dari kalangan beragam. Ada yang dari kalangan orang kaya hingga miskin. Ada yang ibunya di rumah, tapi ada juga yang pekerja kantoran. Dan, banyak keragaman lainnya. Nah, kalau mereka bisa, kenapa Keke dan Nai enggak? Harus dicari tau caranya. Siapa tau ada yang bisa menginspirasi

Yup! Buat Chi apapun kurikulumnya dihadapi dengan santai aja tapi serius. Berhenti ngedumel dan mengeluh. Chi juga males berteori atau bahkan membanding-bandingkan dengan negara lain. Males berteori, karena kalau Chi yang jadi pemegang kebijakan juga belom tentu mampu. Males membanding-bandingkan juga karena Chi belom pernah merasakan langsung seperti apa pendidikan di luar negeri. Cuma denger atau baca katanya begini-begitu. Lagian, kami juga tinggal di sini. Suka atau enggak harus dihadapi hehe

Kalau memang kurikulumya dirasa terlalu berat, maka udah jadi kewajiban Chi dan K'Aie untuk meringankan. Pokoknya gimana caranya supaya Keke dan Nai bisa tetep belajar dengan cara yang nyaman dan menyenangkan, syukur-syukur kalau berprestasi. Prosesnya gak instan. Bahkan sampe sekarang, kami masih terus memutar otak bagaimana mengajarkan anak. Karena setiap saat kan selalu dapat materi baru. Semangat aja terus. Dan, anggap aja kalau semua kurikulum itu mencerdaskan :)

Seringkali Chi mendengar atau membaca komentar kalau anak-anak sekarang itu pinter-pinter urusan gadget. Cepet banget update dan ngertinya. Tapi, sering juga Chi membaca/mendengar keluhan orang tua ketika membahas tentang pelajaran. Kasihan anak-anak, alasannya. Nah, sebetulnya anak-anak itu cerdas, kan? Masalahnya, kenapa juga kita sebagai orang tua gak membuat kalau pelajaran itu menyenangkan seperti bermain gadget? Apalagi zaman sekarang banyak banget aplikasi yang menunjang anak untuk belajar. Gunakan itu secara maksimal.



Gak ada tips yang bisa ditiru persis


Kita bisa berkaca dan terinspirasi dari mereka yang berhasil. Tapi, rasanya gak bisa juga 100% persis meniru tipsnya. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Tancapkan rasa positif di hati kalau anak kita itu bisa, walopun mungkin prosesnya gak instant. Kalau memang tetap merasa kurikulum di sekolah terlalu berat, maka tugas kita untuk meringankan. Meringankan bukan berarti membuatkan segala tugas mereka. Itu sama aja nyuapin dan gak bagus buat masa depannya. Meringankan yang Chi maksud itu yang seperti Chi jabarin diatas.

Apapun bentuk pendidikan yang kita pilih untuk anak-anak (sekolah formal ataupun homescholling), Chi yakin yang berhasil adalah orang yang berusaha sungguh-sungguh. Chi gak katakan kalau Chi udah berhasil, ya. Jalan masih panjang banget. Keke dan Nai aja masih kecil-kecil. Yang penting terus berusaha yang terbaik buat kami semua :)

Wednesday, August 20, 2014

Simply Stay by Mustika Ratu. Simply Pretty Everyday

Simply Stay by Mustika Ratu. Simply Pretty Everyday

Dulu, Chi paling anti pake foundation. Gak pernah rata! Selalu aja cemong sana-sini. Untungnya, Chi emang cuek sama urusan dandan. Paling sehari-hari lipstikan aja. Malah kalau lagi gak mood, gak dandan sama sekali.

Jiwa perempuan Chi *halah!, baru keluar justru setelah menikah. Mulai kepengen dandan, walopun sehari-hari lebih banyak dihabiskan di rumah. Belajar dandan secara otodidak. Termasuk belajar pakai foundation.

Mulai suka dandan dan udah bisa pake foundation *ihiiyy!, bukan berarti selesai permasalahan. Make up yang Chi pake jarang bertahan lama. Dalam sekejap, muka udah kelihatan berminyak lagi. Kalau cuma jemput anak-anak ke sekolah atau jalan ke mall aja, sih, kadang Chi masih cuek berdandan minimalis. Tapi, kalau ke suatu acara, misalnya ke kawinan, selain dandan juga pengen pake make up yang bisa tahan lama. Gak sebentar-sebentar harus touch up di toilet :D.



Beberapa hari lalu, Chi dapat sample Simply Stay by Mustika Ratu. Seperti yang kita ketahui, Mustika Ratu adalah brand kosmetik Indonesia. Sudah pasti formulanya disesuaikan dengan warna dan jenis kulit wanita Indonesia.

Simply Stay by Mustika Ratu merupakan rangkaian tata rias dasar untuk wanita Indonesia yang aktif, modern, dan simple dengan kisaran usia 25-40 tahun. Simply Stay mampu mempertahankan riasan hingga 8 jam. Benarkah? Harus dibuktikan tentunya. Kita buktikan, yuk!


Sebelah kiri masih tanpa make up apapun, baru selesai cuci muka. Yang sebelah kanan sudah memakan Simply Stay. Abaikan tangan dan wajah usil K'Aie dan Keke. Baca tutorial sederhana Chi aja di bawah ini, ya :D


Moisturizer



Oleskan moisturizer secara tipis dan merata ke wajah.. Tunggu hingga moisturizer meresap sekitar 2-3 menit. Ada 2 moiturizer Simply Stay, yaitu Normal to Oily Skin dan Normal to Dry Skin. Chi pakai yang Normal to Oily skin pastinya.


Liquid foundation


Simply Stay liquid foundation dari atas ke bawah, yaitu pearly white, smoothie yellow, caramel latte, dan sweet choco. Kalau lihat dari telapak tangan, sweet choco kayaknya cocok buat Chi. Tapi, akhirnya Chi pilih yang caramel latte karena warna kulit wajah lebih terang dari telapak tangan.

Simply Stay mempunyai 4 warna liquid foundation, yaitu pearly white, smoothie yellow, caramel latte, dan sweet choco. Pearly white cocok untuk yang berkulit putih. Smothie yellow untuk kulit berwarna kuning langsat. Caramel latte untuk kulit coklat. Sweet choco berkulit gelap.

Oleskan Simply Stay liquid foundation ke seluruh wajah. Chi biasanya menggunakan kuas dan dioleskan ke arah luar. Olesnya tipis-tipis aja yang penting rata.


Permak wajah dengan shading dan highlight


 Stick foundation sebelah kanan bawah untuk shading. Yang sebelah kiri atas untuk highlight.

Kalau mau permak wajah, gak perlu operasi plastik. Cukup bermain-main dengan make up aja. Samarkan noda atau pengen rada tirus pipinya coba bikin shading degan warna lebih gelap. Gunakan stick foundation, dan ratakan dengan kuas atau jari. Biasanya, sih, Chi pakai jari kalau untuk stick foundation.

Area warna merah, Chi kasih highlight. Yang kuning untuk shading. Olesinnya harus halus rapi dan halus. Jangan sampai kelihatan belang, ya :)


Bedak tabur


Untuk bedak tabur, Chi lebih suka menggunakan kuas karena hasilnya lebih merata. Gunakan kuas yang tebal dan besar dengan cara memutar. Tipis-tipis aja pakainya.


'Lukis' wajahmu


Maksudnya dikasih lipstik, blush on, dan lainnya. Kalau untuk jemput anak-anak ke sekolah, Chi pakai yang tipis aja dan natural. Kalau untuk ke acara yang lebih formal pakai agak tebal yang penting gak menor.

Biasanya, kalau untuk sehari-hari, proses berdandan selesai sampai sini. Tapi, kalau untuk ke acara formal atau bepergian yang lama dan harus dandan, Chi akan lanjutkan lagi dengan menggunakan two way cake. Dan, itu juga kenapa harus sedikit tebal dandannya karena mau ditutup dengan two way cake. Kalau terlalu tipis malah gak akan kelihatan hasil 'lukisan' di wajah :)



Two way cake


Chi pakai yang sebelah kiri atas

Two way cake ini bedak padat yang mengandung foundation. Pemakaiannya dengan menggunakan spons. Karena sebelumnya sudah menggunakan foundation, Chi pakai spons yang kering. Spons lembab baru Chi gunakan kalau sebelumnya belum menggunakan foundation.

Dulu, Chi kalau pake bedak dengan spons itu diusap-usap ke wajah. Ternyata, bukan begitu caranya. Yang benar adalah dengan cara ditekan-tekan secara lembut. Selain membuat lebih rata juga bikin make up jadi tahan lama.


Kuas yang ditengah, yang kayak sapu ijuk, suka Chi gunakan untuk penutup proses berdandan.

Selesai sudah proses dandan. Biasanya Chi tutup dengan kuas yang berbentuk kayak sapu ijuk. Gunanya untuk meratakan hasil kuas.

Foto sebelah kiri, nyobain Simply Stay sehabis maghrib. Makan malem bersama keluarga di salah satu resto dekat rumah. Gak pakai two way cake.
Kalau yang tengah, keesokan harinya. Ada undangan pernikahan pukul 11 siang. Dandan dari pukul 9, pakai semua Simply Stay. Sampe sore make ini tetap bertahan. Gak touch up sama sekali.
Foto yang sebelah kanan, difoto setelah sampe rumah, sore hari. Kelatan sedikit keringetan. Tapi, cukup ditekan dengan tissue aja. Gak harus touch up.
Simply Stay tahan lama? TERBUKTI!



Kenapa harus pilih Simply Stay by Mustika Ratu?


  1. Ada sertifikat HALAL
  2. Formula dan warnanya sesuai dengan kulit wanita Indonesia
  3. Tahan lama
  4. Lembut dan halus 
  5. Mengandung vitamin E dan UV filter
  6. Penggunaannya praktis
  7. Harganya standar


    Harga Simply Stay by Mustika Ratu


    Menurut Chi, harga Simply Stay ini standar, lah. Murah enggak, mahal juga enggak. Tapi, kembali ke maisng-masing orang, ya. Mahal murah, kan, punya standar masing-masing. Mending, chi kaish tau aja harganya untuk bahan pertimbangan :)

    1. Moisturizer Rp15.000,00
    2. Liquid Foundation Rp20.000,00
    3. Stick Foundation Rp50.000,00
    4. Loose Powder Rp60.000,00
    5. Two Way Cake Rp75.000,00

      Cobain, deh, pakai Simply Stay. Kalau kata Chi, sih, gak rugi pake produk ini :)

      Monday, August 18, 2014

      Pesantren Kilat Antara Terharu dan Cerita Lainnya

      Pesantren Kilat Antara Terharu dan Cerita Lainnya


      Pukul 1 siang, 2 bis yang membawa rombongan Keke, teman-teman, dan guru sekolahnya, berangkat menuju hotel Bukit Indah, Ciloto, Puncak. Mendadak rasa haru terasa. Chi langsung mengajak Nai masuk ke mobil untuk segera pulang. Berlama-lama di sana, bisa bikin mewek.

      Rasa haru yang datang tiba-tiba itu bukan karena merasa kehilangan dan bakal kangen berat sama Keke. Tapi, Chi ingat protes Keke beberapa waktu lalu.

      Keke: "Bunda kenapa, sih, gak pernah nemenin kalau Keke field trip?"
      Bunda: "Kan, sekolah melarang orang tua atau siapapun menemani siswa, Ke."
      Keke: "Tapi, mama temen-temen Keke banyak yang nemenin anaknya, tuh!"
      Bunda: "Nanti kalau Keke ditemenin suka nempel sama Bunda terus."
      Keke: "Enggak, lah. Kan, orang tua yang nemenin cuma boleh ngelihat dari agak jauh gitu. Gak deket-deket juga. Gak boleh kali sama sekolah."
      Bunda: "Ya, terus ngapain juga ditemenin kalau gak boleh deket?"
      Keke: "Gak tau, deh. Tapi, Keke pengen sesekali ditemenin Bunda kayak temen-temen Keke. Mau, ya, Bun?"
      Permintaannya itu belum pernah Chi kabulin. Chi lihat, selama ini sekolah sudah cukup baik menjaga dan membimbing para siswa ketika field trip. Keke pun enjoy aja field trip tanpa didampingi orang tua. Jadi, memang rasanya gak perlu ditemenin orang tua.

      Walopun begitu, tetap ada perasaan bersalah dan sedih di hati Chi. Mungkin aja Keke minta ditemenin karena merasa iri melihat beberapa temannya ada mamanya saat field trip. Tapi, sebagai orang tua, Chi merasa sesekali kita harus tega dan mengesampingkan rasa bersalah kalau alasannya tepat dan demi kebaikan anak.

      Sama seperti field trip, orang tua pun dilarang untuk datang ke acara tersebut. Chi langsung ajak Keke ngobrol begitu tau ada beberapa orang tua yang akan datang ke lokasi kegiatan selama anak-anak ada disana. Chi minta supaya Keke jangan merasa iri dan berpikir yang enggak-enggak karena gak ditemenin. Gak lupa, Chi juga menyanjung dan memberi Keke semangat kalau dia pasti bisa walopun tanpa orang tua selama ikut pesntren kilat.

      Alhamdulillah, Keke kelihatan santai aja. Malah dia sibuk bercerita tentang rencananya bersama teman-temannya nanti di hotel. Yang pasti rencana bermain hehehe. Melihat Keke santai, Chi pun jadi tenang. rasa bersalah dan sedih pun hilang.

      Cuma, tiba-tiba aja begitu bis mau berangkat, rasa bersalah dan sedih itu kembali datang. Sempat ada rasa kesal di hati sama para mama yang berencana menemani. Nanti, kalau Keke jadi sedih gimana? Aarrgghh! Sebeell!

      Etapi, setelah dipikir-pikir, gak ada gunanya juga menumpuk kekesalan. Cuma bikin cape hati. Sama halnya dengan Chi, setiap orang tua pasti punya pertimbangan dan alasan masing-masing kenapa memilih untuk tetap ikut ke lokasi atau tidak. Jadi, biarkan aja.

      Lagian ambil positif dan asiknya aja, deh. Karena ada para mama yang ikut, setiap saat Chi bisa menikmati live report di group whatsapp selama pesantren kilat berlangsung. Walopun sempet nangis ketika salah seorang mama mengirimkan foto Keke saat di sana. Chi kangen banget sama Keke. Live report dari para mama bisa jadi memperbanyak info tentang kegiatan. Atau bisa juga untuk bahan cross check ketika Keke udah pulang.

      Oiya, Chi kembali bersedih ketika melihat di malam terakhir banyak anak-anak yang menangis. Apalagi ketika kemudian Chi kembali melihat foto Keke yang sedang menangis. Rasanya, pengen Chi datang saat itu juga untuk memeluk Keke. Chi sedih membayangkan dimana ada beberapa anak yang mungkin bisa langsung dipeluk mamanya, sementara Keke termasuk yang tidak. Sukses malam itu Chi dibikin gak bisa tidur karena sedih.

      Hari Kamis siang, rombongan sudah kembali ke sekolah. Huaaaa... pas turun dari bis, guru dan murid termasuk Keke pada muka bantal semua. Pasti pada tidur, tuh, di bis. Kecapean saat pesantren kilat :p Walopun muka bantal, begitu masuk mobil, Keke tetep semangat banget cerita kegiatannya selama di sana.

      Banyak banget yang Keke ceritain. Diantara, ketika dia dan semua teman sekamarnya pada gak bisa tidur. Gara-garanya, materi di hari pertama yang malam hari adalah tentang jenazah dan shalat jenazah. Hasilnya, sekamar pada sempet gak bisa tidur. Pada gak mau di posisi pinggir tempat tidur yang deket pintu. Pada kepengen ditengah tidurnya hahaha. Oiya, sekamar itu ada 4 orang siswa dengan 1 orang dewasa.

      Seperti yang Chi tulis dipostingan sebelumnya kalau dari jadwal kegiatan kelihatannya padat. Gak ada celah untuk anak-anak berenang. Tapi, Chi tetep bawain celana renang untuk jaga-jaga karena Chi lihat dari web, di hotelnya ada kolam renang.

      Bunda: "Bunda lihat di whatsapp, kamu berenang, ya? Emang gak dingin?"
      Keke: "Dingin banget, Bun. Tapi, enaaak!"
      Bunda: "Itu siang-siang berenangnya, ya? Bukannya seharusnya pada istirahat?"
      Keke: "Harusnya begitu. Tapi, pada gak ada yang mau istirahat. Akhirnya pada main. Ada yang berenang, atau main di aula."
      Bunda: "Ya, harusnya istirahat. Itu jadwalnya, kan, padat. Kegiatan sampai pukul 10 malam, trus bangunnya harus pagi banget. Masih rada malem malah. Makanya, siang itu ada jam istirahatnya sebentar. Biar gak pada kecapekan."
      Keke: "Keke istirahat, kok."
      Bunda: "Oiya? Kapan?"
      Keke: "Pas ada materi, Keke tidur, Bun."
      Bunda: "Heeeeuuu.. itu namanya istirahat yang salah!"

      Ya, begitulah anak-anak. Masih banyak cerita seru lainnya dari Keke selama mengikuti pesantren kilat. Chi juga bertanya, kenapa pada menangis di malam terakhir. Katanya itu malam renungan. Bercerita dan berdoa untuk orang tua. Banyak anak-anak termasuk Keke yang menangis karena ingat sama orang tua sekaligus merasa bersalah karena terkadang masih suka melawan. Chi jadi terharu denger ceritanya.

      Buat Chi yang penting Keke senang selama ada di sana. Kegiatannya bermanfaat, makanan tercukupi. Berangkat dalam keadaan sehat, pulang pun demikian. Dan, tidak ada satupun barang yang tertinggal. :)

      Cerita sebelumnya:


        Wednesday, August 13, 2014

        Pesantren Kilat Koper vs Ransel 2

        Pesantren Kilat Koper vs Ransel 2


        Di postigan Pesantren Kilat Koper vs Ransel 1, Chi udah cerita tentang Keke yang cuma membawa 1 ransel aja untuk ikut pesantren kilat selama 3 hari 2 malam. Padahal teman-temannya pada bawa koper besar, malah ada yang ditambah dengan 1 ransel lagi.

        Hanya membawa 1 ransel aja sebetulnya cukup. Kekhawatiran Chi adalah dengan tanpa pengawasan langsung dari orang tua, apa Keke bisa mengatur pakaiannya supaya cukup? Dan, apakah akan ada barang-barang yang ketinggalan di hotel setelah kegiatan selesai?



        Packing


        Melihat jadwal acara, rasanya tidak ada celah bagi para siswa untuk berkeringat. Apalagi kegiatannya di puncak yang berudara dingin. Kebanyakan acaranya adalah materi di dalam ruangan. Paling pagi-pagi aja ada olahraga. Chi jadi lebih bisa memperkirakan berapa banyak baju yang harus dibawa Keke. Termasuk sedikit baju cadangan tentunya.

        Tidak ada cara khusus banget tentang melipat barang bawaan. Selama ini, kesalahan Chi ketika packing adalah yang penting semua bisa masuk. Terserah mau bawa berapa tas juga. Padahal sebetulnya masih ada celah-celah di dalam tas yang sebetulnya bisa diisi. Tas menjadi padat tapi jadinya gak banyak bawa tas.



        Berdiskusi dengan Keke


        Semua keperluan yang harus dibawa memang Chi yang siapin. Tapi, setelah itu Chi mendiskusikannya dengan Keke. Chi ajak dia sama-sama melihat jadwal kegiatan. Kasih tau pakaian apa aja yang harus dipakai setiap harinya.

        Keke juga diajarin untuk bisa menata isi tasnya ketika pulang. Berangkat dengan 1 tas, pulang pun harus 1 tas lagi. Pastinya harus ada sedikit latihan karena memadatkan isi tas kadang susah-susah gampang. Apalagi Keke kadang masih suka gak apik naro barangnya. Beberapa kali dia menyatukan pakaian kotor dengan yang bersih. Padahal Chi udah kasih plastik untuk pakaian kotor. Kalau mau pergi ke luar kota pun, biasanya Chi atau Nai yang merapikan barangnya.



        Cari tempat aman


        Untuk jaga-jaga supaya barang jangan ada yang tertukar atau hilang, Chi melabeli semua barang bawaannya termasuk pakaian dalam. Tapi, itu aja belum cukup. Chi memintanya untuk segera mencari area yang aman begitu dapat kamar.

        Keke dan teman-teman seangkatannya sering mengadakan acara berenang bersama. Biasanya kalau ada teman yang ulang tahun, dirayakannya di kolam renang. Chi jarang banget nemenin. Paling Chi jemput aja kalau udah selesai berenang atau naik ojek. Pernah juga, sih, minta tolong salah seorang orang tua murid untuk mengantarkan Keke pulang. Nebeng karena rumahnya deketan hehe.

        Kalau lagi berenang begitu, Chi seringkali melihat anak-anak main disatuin aja pakaiannya di satu tempat. Terutama anak-anak yang gak ditemenin orang tuanya ketika berenang. Akibatnya, ketika selesai berenang, mereka suka bingung sama pakaiannya.Karena berenangnya, kan, sepulang sekolah. Jadi, hampir semuanya pakai seragam.

        Belajar dari pengalaman itu, Chi meminta Keke untuk mencari area aman di kamar hotel. Misalnya, salah satu pojok ruangan. Pokoknya, jangan sampai disatukan dengan barang teman-temannya. Biar gak tertukar. Dan, jangan juga taro di area yang sering orang lewat. Bisa ketendang atau keinjek-injek. Kalau udah ditaro di area aman, wlaopun gak setiap saat beresin, yang penting barang bawaannya gak bercampur-campur.



        Buat daftar barang bawaan


        Chi buat daftar barang bawaan sedetil mungkin, termasuk pakaian hingga underwear yang sedang dipakainya. Daftar itu, Chi kasih tau ke Keke biar dia juga tau apa aja yang dibawa. Kemudian, taro di salah satu kantong tasnya. Biar kalau saatnya dia berkemas untuk pulang, tinggal cocokin apa barang bawaannya udah lengkap atau belom. Buat juga 1 daftar yang sama untuk ditaro di rumah. Kali aja, Keke gak sengaja menghilangkannya.

        Setelah kegiatan selesai, semua barang bawaan Chi cek. Perlengkapan, termasuk pakaian yang dibawa cukup jumlahnya. Gak ada satupun yang ketinggalan. Alhamdulillah.

        Kayaknya kalau nanti Nai juga mulai pesantren kilat, Chi akan menerapkan cara ini. Hitung-hitung mengajarkan anak untuk bertanggung jawab juga sama barangnya. Karena Chi denger-denger, ada beberapa temannya yang ketinggalan barang. Malah ada yang sampe 1 tas ketinggalannya. Semoga kalau cara ini Chi terapin juga ke Nai, dia juga bisa berhasil kayak Keke :)

        Monday, August 11, 2014

        Pesantren Kilat Koper vs Ransel 1

        Pesantren Kilat Koper vs Ransel 1

        Keke: "Males, ah, Keke kelas 5. Ada pesantren kilatnya!"
        Bunda: "Gimana, sih. Pesantren kilat, kan, bagus. Nambah ilmu. Malah males."
        Keke: "Sebetulnya bukan pesantren kilatnya yang bikin males, Bun. Tapi, males nginep di puncaknya.Bosen Keke"
        Bunda: "Bosen kenapa? Bukannya malah enak? Puncak, kan, dingin."
        Keke: "Iya, sih, tapi lama-lama ngebosenin. Dulu, Keke pengen banget ke puncak karena jarang. Sekarang, sekalinya ke puncak malah terus-terusan. Kira-kira, 3 minggu lalu kita nginep di Taman Safari, 2 minggu berikutnya mendaki gunung gede. Trus, minggu depan Keke pesantren kilat di puncak juga. Boseeen..."

        Tapi, Keke bosennya cuma di mulut aja kayaknya. Semakin mendekati hari H, dia malah keliatan semakin semangat. Sampe beberapa kali cerita nanti kalau jadi dia punya rencana mau begini-begitu sama temen-temennya :D

        Pesantren kilat diadakan pada pertengahan Juli 2014, hari Selasa siang berangkat dan Kamis siang sudah sampai di sekolah. Pesantren kilatnya di hotel Bukit Indah, Ciloto. Surat pemberitahuan komplit dengan jadwalnya sudah diterima, Chi langsung menyusun apa aja yang harus dibawa sama Keke.


        Udah kayak suasana di bandara karena penuh koper hihi. Ada 1 ransel Keke yang nyempil di sana :)

        Singkat cerita, pas hari H, Keke cuma bawa 1 ransel yang biasa dibawa ke sekolah. Sedangkan mayoritas temannya membawa kopor besar plus 1 ransel. Kalau Chi coba hitung, rasanya cuma ada 3 anak yang bawa 1 ransel aja. Sedangkan lainnya bawaannya kopor plus ransel.

        Sempat ada yang bertanya-tanya, kok, bisa Keke cuma bawa 1 tas ransel? Gak takut kurang? Di bawah ini Chi kasih tau alasan dan beberapa tipsnya.



        Packing


        Rasanya kalau bicara tentang packing, Chi harus berterima kasih dulu sama K'Aie karena K'Aie memang jagonya untuk urusan packing. Dulu, kalau kemana-mana, selalu K'Aie yang packing. Karena kalau Chi yang packing paling tidak bisa bawa 2 tas besar. Sedangkan sama K'Aie bisa jadi cuma 1 tas dengan jumlah isian yang sama. Tapi, lama-lama Chi diajarin juga urusan packing sama K'Aie. Masa' mau diurusin terus hehe.

        Begitu tau acaranya 3 hari 2 malam, Chi yakin cukup dengan bawa 1 ransel aja. Lagipula udah ada pengalaman sebelumnya. Salah satunya waktu Keke dan Nai liburan ke Bali sama kakek-neneknya. 3 hari 2 malam juga. Dan, masing-masing cuma bawa 1 ransel. Berarti di pesantren kilat juga harus bisa cuma bawa 1 ransel.

        Kalau Chi lihat isi koper beberapa teman Keke yang sempat dibuka pas di sekolah karena mau ngambil barang, ada yang di pack berdasarkan hari. Misalnya, pakaian untuk hari Rabu dari mulai baju muslim hingga pakaian dalam di masukkan ke 1 plastik. Untuk hari lain di plastik yang lain, masing-masing plastik udah ada tulisan hari-harinya. Alasannya, sih, biar si anak gak bingung.



        Makanan


        Setiap kali sekolah mengadakan field trip, para siswa diperbolehkan membawa camilan dan minuman dari rumah. Dulu, waktu Keke masih kelas 1, Chi suka bawain camilan yang banyak plus makanan utama pula. Takut Keke kelaperan hahaha.

        Tapi, sekolah selalu memberikan makanan utama (nasi dan lauk-pauknya) dan 1 goodie bag berisi aneka camilan anak-anak.Kalaupun gak bekelin anak-anak makanan pun sebetulnya makanan yang disediakan sama sekolah itu udah cukup. Makanya, field trip berikutnya, Keke dan Nai paling bawa 2-3 camilan aja.

        Jadi, Chi pikir untuk pesantren kilat ini pun akan mempunyai standar yang sama. Walopun sekolah mempersilakan para siswa membawa camilan, tapi Chi yakin sekolah gak akan bikin para siswanya kelaparan :D Keke pun cuma minta dibawakan 1 dus korma sama 1 botol air mineral. Banyak temen-temen Keke yang banyak bawa camilan. Sampe 1 tas sendiri khusus buat camilan.



        Jumlah pakaian


        Kegiatan yang diadakan di hotel di daerah puncak, rasanya gak akan bikin Keke banyak berkeringat. Apalagi kalau melihat surat jadwal kegiatan yang tertulis detil. Rasanya gak ada celah untuk anak-anak berkeringat lebih, kecuali saat olahraga di pagi hari. Karena sebagian besar kegiatan adalah materi di dalam ruangan.

        Jadwal kegiatan yang detil itu sangat membantu Chi untuk menentukan pakaian apa aja yang akan dibawa. Chi tetap lebihkan sedikit pakaian karena gak didampingi orang tua, Chi pastinya gak bisa setiap saat untuk mengingatkan supaya bajunya tetap bersih. Chi juga bawain Keke celana renang. Memang kalau lihat jadwal, sepertinya gak ada celah untuk anak-anak supaya bisa berenang. Tapi, karena di website hotel tersebut Chi lihat ada kolam renang, Chi tetep bawain celana renang. Namanya anak-anak umumnya gak bisa lihat kolam. Pasti pengennya nyebur :r

        Anak-anak itu, kan, biasanya suka asal taro barang, ya. Apalagi kalau pergi tanpa orang tua begini, apa Keke bisa apik naronya? Di rumah aja kadang dia masih suka sembarangan kalau naro barang. Trus, kira-kira bakal ada berapa barang yang ketinggalan? Itu yang jadi kekhawatiran Chi.

        Ada beberapa teman Keke yang ketinggalan barang-barangnya di hotel. Malah ada yang sampe 1 tas ketinggalannya. Gak tau, deh, kenapa bisa begitu. Alhamdulillah, gak ada satupun barang-barang Keke yang ketinggalan.

        Gimana caranya Keke bisa gak ketinggalan barang-barangnya? Di postingan berikutnya, ya. ;)

        Friday, August 8, 2014

        Anti Mall

        Anti Mall

        Masih bulan Syawal, berarti masih sah cerita tentang puasa Ramadhan, kan? :D O'iya, selamat hari raya idul fitri. Taqabbalallahu minna wa minkum.

        Alhamdulillah, puasa Ramadhan kali ini, Keke dan Nai sudah bisa berpuasa sehari penuh. Keke tidak berpuasa hampir 1 minggu lamanya karena demam dan cukup bikin badannya jadi kelihatan lebih kurus. Nai, kalah 2 1/2 hari. Yang 1/2 hari di hari pertama karena belum kuat. 2 hari yang lain karena sakit gigi.

        Selama ramadhan kali ini, ada yang berubah dari Nai. Dia anti sama yang namanya mall dan bepergian ke luar rumah. Katanya, kalau di luar suka banyak yang jual makanan. Dia pasti gak akan tahan.

        Nai memang suka mendadak lapar kalau lagi jalan-jalan ke luar, apalagi mall. Padahal di rumah udah makan dulu. Atau kadang dia sengaja gak mau makan, supaya bisa makan di mall katanya hehe. Makanya, gak heran kalau selama Ramadhan dia bener-bener anti mall.

        Kami, sih, seneng-seneng aja. Selain alasan pengiritan, kami juga kurang suka kalau ke mall pas bulan puasa. Apalagi kalau jalannya pas menjelang buka puasa. Males banget.

        Seinget Chi, di Ramadhan kali ini cuma 2x kali makan di luar. Yang pertama di rumah makan padang. Chi lupa kenapa waktu itu bisa buka puasa di rumah makan padang. Tapi, yang jelas buka puasa di rumah makan padang memang 'menyiksa' buat anak-anak hehe.

        Kalau buka puasa di rumah makan padang itu, gak bisa dateng pas buka. Rame banget, malah bisa gak kebagian tempat. Kami aja dateng sekitar 45 menit sebelum buka puasa udah rame suasananya. Dan gak bisa milih meja. Biasanya, kami memilih meja untuk 6 atau 8 kursi mengingat makanan yang dihidangkan suka banyak. Kali ini kami harus duduk di meja untuk 4 orang karena kami kan berempat.

        Tidak menunggu lama, makanan langsung dihidangkan. Padahal buka puasa masih lama. Tau sendiri, lah, yang namanya masakan padang itu menggugah selera banget. Kalau udah gini, gimana Keke dan Nai gak pada gelisah coba hahaha. Makanan lezat, jelas-jelas terhidang didepan mata hehe. Pokoknya kapok, lah, buka puasa di rumah makan padang. Kasian anak-anak :D

        Jalan-jalan berikutnya waktu udah mudik ke Bandung. Sebetulnya bukan sengaja jalan-jalan, sih. Tapi, mau ke Ace Hardware. Cari tongkat untuk jalan yang ada kursinya untuk papah mertua. Nai beneran gak mau ikut sama sekali. Jadi aja, cuma kami bertiga yang pergi. Bener-bener anti mall hehe.

        Untung Nai gak ikut. Karena gak ada satupun resto di mall yang kami datangi itu yang kosong. Jadi, waktu itu kami beli air mineral aja sama beli yoghurt dan cronut. Wah, kalau Nai ikut bisa tambah ngomel nanti :D

        Sekarang udah gak puasa, Nai mulai ngajak ke mall lagi. Beneran anti mall cuma pas bulan puasa ajah. Kirain bakal berlanjut :r Cuma belom kesampean, sih. Nanti aja, lah, tunggu film Planes main di bioskop. Syukur-syukur ada promo buat nonton :p

        Wednesday, August 6, 2014

        Fabian Selalu Ingin Nomor Satu

        Fabian Selalu Ingin Nomor Satu

        Ketika anak ingin selalu menjadi nomor satu, itu bagus. Mungkin dia memang mempunya jiwa kompetisi. Tapi, ketika si anak selalu ingin menjadi nomor satu, kemudian ketika kalah reaksinya adalah mengamuk atau marah, sebaiknya jangan ikutkan anak tersebut di kompetisi manapun sampai dia bisa merubah sikapnya dalam menghadapi kompetisi

        ------------

        Fabian (3 tahun 9 bulan), keponakan Chi yang sejak bayi tinggal di rumah, selalu aja ingin menjadi nomor satu. Nomor satu dalam hal apapun. Misalnya, ketika dibagikan kue, dia selalu ingin yang pertama dibagi. Ketika ada bel, dia selalu ingin menjadi yang pertama buka pintu. Pokoknya dalam segala hal selalu ingin dinomor satukan.

        Kalau misalnya bunyi bel, dia langsung lari ke pintu, sih, gak apa-apa. Tapi, kadang dia pengen begini-begitu dulu. Orang lain gak boleh buka pintu selain dia. Sedangkan yang ngebel udah berkali-kali karena kelamaan.

        Ketika keduluan maka reaksinya adalah tantrum. Ngambek berkepanjangan yang seringkali diiringi dengan lempar-lempar barang. Kalau ngamuknya di depan Chi atau K'Aie biasanya kami cuekin. Gak akan kami turutin permintaannya kalau dengan cara ngamuk begitu. Tapi, tetep kami awasi. Jangan sampai melempar-lempar barang.

        Kemarin siang, Chi lihat Fabian lari ke kamar Chi. Trus, terdengar suara tangis terisak-isak.

        Chi: "Kenapa nangis?"
        Fabian: "Bian kesel sama Ima. Bian pengen susu coklat yang dibikin Ima."
        Chi: "Tinggal minta, kan? Lagian bukannya teteh tadi nawarin juga ke Bian?"
        Fabian: "Tapi, Ima kasih susu coklatnya ke Aa duluan baru Bian."
        Chi: "Ya, gak apa-apa, dong. Yang penting tetep dibikinin, kan?"
        Fabian: "Gak mau! Bian gak mau keduluan!"
        Chi: "Bian kenapa, sih, gak mau keduluan? Gak apa-apa sekali-kali keduluan."
        Fabian: "Bian pengen nomor satu terus. Nomor satu bagus."
        Chi: "Nomor dua juga bagus, kok."
        Fabian: "Enggak! Nomor satu yang bagus!"
        Chi: "Sini coba Bian lihat Uwa Bunda bikin apa? Bian tebak, ya."

        Chi lalu mengambil kertas dan pensil.

        Chi: "Uwa Bunda bikin apa ayo?"
        Fabian: "Angka dua"
        Chi: "Pinteeeerr! Sekarang Bian lihat lagi, ya. Uwa Bunda mau sulap angka duanya."

        Chi lalu bikin angsa dari angka 2 itu dan meminta Bian menebak.

        Fabian: "Itu angsa!"
        Chi: "Betuuull! Bagus gak angsanya?"
        Fabian: "Bagus."
        Chi: "Berarti angka 2 bagus, kan?"
        Fabian: "Enggak! Angka 1 yang bagus!"
        Chi: "Oke, deh. Uwa Bunda tambahin lagi, ya. Bian suka bintang?"
        Fabian: "Suka."
        Chi: "Di atas kepala angsa, Uwa Bunda kasih bintang, ya. Mau berapa bintangnya? Dua, ya? Kan, angka dua."
        Fabian: "Iya, dua aja bintangnya, Wa."
        Chi: "Ini udah wa kasih bintang. Berarti bagus gak angka dua?"
        Fabian: "Bagus, Wa!"
        Chi: "Kalau gitu Bian gak boleh nangis lagi, ya. Gak apa-apa angka dua juga. Sama-sama bagus, kan?"
        Fabian: "Iya, Wa."
        Chi: "Ya, udah kalau gitu minta susu coklatnya ke teteh Nai."

        Gak berapa lama setelah itu, Nai nyamperin Chi.

        Bunda: "Udah bikin susunya, Dek?"
        Nai: "Udah."
        Bunda: "Bian masih marah-marah atau nangis, gak?"
        Nai: "Enggak, sih. Tapi, abis dikasih susu dia ngomong gini terus, Bun. 'Gak adil... Gak adil...'"
        Bunda: "Maksudnya apa, tuh, gak adil?"
        Nai: "Gak tau. Tapi, tetep diminum, sih, susunya."

        Sore harinya, Chi samperin Bian yang lagi main di kamarnya.

        Chi: "Bian, Uwa denger katanya tadi pagi Bian ngompol, ya?"
        Fabian: "Iya."
        Chi: "Ngompolnya di mana?"
        Fabian: "Di sini sama di sini."
        Chi: "Kok, banyak-banyak amat, sih, ngompolnya?"
        Fabian: "Enggak, kok, cuma dua. Kan, kata Uwa Bunda dua itu bagus. Jadi, Bian ngompolnya juga dua."
        Chi: "Hihihi. Tapi, tadi Uwa denger dari teteh Nai, Bian ngomong gak adil. Berarti angka dua gak adil, ya?"
        Fabian: "Sekarang udah adil, kok. Kan, bagus kata Uwa Bunda."

        Ya, begitulah ngobrol sama anak-anak. Suka ada aja jawaban gak terduganya hihihi. Tapi, anak-anak seusia Fabian,memang umumnya masih berpikir hitam dan putih. Masih agak susah berpikir abu-abu. Keke dan Nai pun pernah mengalami cara berpikir seperti itu. Contohnya, ketika Chi bilang angka 2 itu bagus, dia pun membela diri kalau ngompolnya 2x kali itu karena menurutnya uwa bunda bagus hahaha. Nanti seiring bertambah umur, cara berpikirnya juga bisa lebih kompleks.

        Dan, tentang sikapnya yang selalu ingin nomor satu juga gak bisa dibiarkan kalau selalu mengamuk ketika keduluan. Jangan selalu membela dengan alasan namanya juga anak-anak. Justru, sejak anak-anak harus diajarkan cara berkompetisi atau berbagi yang benar. Kalau baru diajarkan setelah besar, malah jadi semakin susah.

        Cara mengajarkannya, disesuaikan juga dengan caranya berpikir. Seperti, Chi yang mencoba membuat gambar dari angka dua. Ya, walopun belom bisa dibilang 100% berhasil, tapi setidaknya Fabian sesekali sudah mulai mau mengalah kalau keduluan. Gak selalu ingin dinomor satukan terus. Memang harus kontinyu dan konsisten, sih.

        Tuesday, August 5, 2014

        (Pengen) Nyobain Menanam Kangkung

        (Pengen) Nyobain Menanam Kangkung

        Chi: "Ya, kalau Bunda lihat di socmed, kayaknya sekarang makin banyak aja yang berkebun di rumah walaupun lahannya sempit. Sampe kangkung aja ditanem."
        K'Aie: "Iya memang lagi banyak. Cobain tanem, gih, Bun."
        Chi: "Ya, ayah kan tau kalau Bunda itu tangan panas urusan tanaman. Suka gak jadi. Ayah, tuh, yang tangannya dingin."
        K'Aie: "Sebetulnya itu, sih, masalah telaten apa enggak aja."

        Jleb!

        Banyak yang bilang kalau mengurus tanaman itu tergantung tangan juga. Kalau kita termasuk yang 'tangan panas', katanya suka gak jadi kalau menanam apapun. Kebalikannya sama orang yang punya tangan dingin. Dan, Chi percaya itu *pembelaan diri karena belom berhasil menanam apapun selain eksperimen kacang ijo diatas kapas hahaha

        Tapi, ucapan K'Aie yang bilang kalau berhasil atau enggaknya urusan menanam itu tergantung dari ketelatenan, berasa jleb juga. Jangan-jangan Chi yang emang kurang telaten sama tanaman.

        Selama ini tanaman di halaman rumah memang K'Aie yang merawat. Chi cuma penikmat ajah, apalagi kalau lagi berbunga. Paling seneng kalau bunga bakung atau wijaya kusuma lagi berkembang. Cantik, deh! Dulu juga pernah ada bunga teratai. Sayangnya pot tempat teratainya bocor. Jadi, udah gak ada lagi bunganya sekarang.

        Kebanyakan yang numbuh di halaman rumah kami memang pohon bunga. Chi pengen sesekali nyobain tanaman yang bisa dikonsumsi. Dulu, pernah menanam cabe rawit merah. Lebat numbuhnya. Lumayan banget kalau pas harga cabe rawit lagi meroket. Sekarang udah gak ada. Seinget Chi gak sengaja kepotong pohonnya.

        Chi pengen juga beliin K'Aie peralatan berkebun setelah melihat di internet. Tapi, K'aie pasti lebih mengerti peralatan berkebun yang bagus dan pas untuknya. Apa Chi beli bibit tanaman aja, ya? Misalnya bibit tanaman kangkung. Pengen ngebuktiin ke K'Aie, apa iya Chi memang gak telaten sama tanaman.


        benih kangkung
        Benih kangkung yang dijual di Elevenia. Beli kali, ya...

        Coba beli aja kali, ya. Walaopun masih ragu keberhasilannya. Karena Chi pernah nyobain menanam daun bawang. Eh, gagal. Padahal banyak yang bilang katanya gampang banget. Waduh, gak boleh menyerah, nih! Kan, lumayan kalau akhirnya berhasil menanam. Irit uang belanja :D

        Sumber foto:  http://www.elevenia.co.id/product/ProductDetailAction/getProductDetail.do?prdNo=1087090

        Saturday, August 2, 2014

        Tips Mempersiapkan Persalinan

        Tips Mempersiapkan Persalinan

        Chi jarang nulis tentang proses kehamilan dan persalinan di blog ini. Abis, punya blog, setelah Nai berumur kira-kira 1,5 tahun. Jadi, kebanyakan langsung cerita tentang anak, deh.

        Ketika hamil, terlebih memasuki trimester ketiga, segala persiapan dimulai. Gak cuma persiapan untuk keperluan bayi. Yang mana, Chi semangat belanjanya tinggi saat itu. Keluar masuk ITC tanpa lelah hihihi. Apalagi saat kehamilan anak pertama. Kalau yang kedua udah bisa lebih diredam semangatnya :)
        Sebetulnya, gak cuma persiapan untuk bayi. Ibu yang sedang hamil pun juga harus siap-siap. Kalau masih bingung, bisa tanya-tanya yang udah pernah melahirkan atau cari di google tentang persiapan persalinan.



        Persiapan mental


        Buat Chi, mau melahirkan normal atau caesar tetep harus dipersiapkan mentalnya. Walaopun pas hamil pertama, dokter bilang kalau Chi kemungkinan besra bisa melahirkan secara normal, tapi tetep aja mentalnya juga disiapkan kalau sewaktu-waktu harus caesar. Dan, buat Chi saat itu, membayangkan melahirkan secara caesar lebih serem daripada normal.

        Mungkin karena Chi gak pernah ngerasain meja operasi, ya. Jadi, membayangkan ruang operasi yang penuh dengan peralatan operasi beserta prosesnya (kebanyakan nonton film, sih hehe) udah bikin Chi begidik. Kenyataannya, proses operasi caesar gak menyeramkan, kok.



        Persiapan barang bawaan


        Seperti umumnya permpuan yang akan melahirkan, Chi juga mulai mempersiapkan barang bawaan yang Chi taro di traveling bag. Tapi, akhirnya pas saatnya persalinan malah gak dibawa sama sekali tasnya. Bukannya lupa, tapi kurang praktis kata K'Aie.

        Rumah sakit tempat Chi melahirkan memang gak terlalu jauh dari rumah. Jadi, kata K'Aie mending dibawa nyicil aja. Cukup taro 1 pakaian bersih di lemari kecil samping tempat tidur. Setiap hari K'Aie akan bawain Chi 1 stel baju bersih dan baju kotor langsung dibawa pulang.

        Itu kan rumah Chi deket sama rumah sakit. Untuk yang jauh atau tetep pengen bawa barang bawaan, di bawah ini beberapa barang yang bisa dibawa saat waktunya bersalin

        1. Pakaian - Termasuk didalamnya pakaian dalam dan jilbab (bagi yang berjilbab). Jumlahnya disesuaikan aja. Kalau caesar biasanya sekitar 5 hari di rumah sakit.
        2. Peralatan mandi - di rumah sakit tempat Chi bersalin udah disediakan 1 set peralatan mandi baru untuk ibu melahirkan. Tapi, gak ada salahnya kalau memang mau bawa sendiri
        3. Korset melahirkan - Karena Chi caesar dengan sayatan horizontal. Gak berani kenceng-kenceng juga pake korsetnya. Paling sekedar untuk lebih melindungi luka sayatan aja.
        4. Pembalut buat ibu melahirkan - sebetulnya di rumah sakit juga dikasih, tapi Chi kurang cocok
        5. Buku 
        6. Kosmetik - Bedak, lipstik, dll. Tapi, pas Chi melahirkan dulu, peralatan kosmetik ini gak dipake hihi
        7. Dompet, HP - lihat situasi aja. Kalau rumah sakitnya kurang aman, sebaiknya jangan dibawa
        8. 1 stel baju bayi untuk pulang - kalu di rumah sakit biasanya pakai baju dan popok dari rumah sakit
        9. Diapers - buat pulang juga
        10. Selimut bayi - Chi dan K'Aie gak pengen ngebedong anak, trus Keke dan Nai juga keliatannya gak suka dibedong. Jadi, gak ada yang namanya bedong-bedongan. Cukup pakai selimut bayi ajah

          Ada yang namanya gurita buat bayi. Sama seperti bedong, kami pun gak pakein Keke dan Nai gurita waktu masih bayi. Rumah sakit juga melarang. Gurita bisa mengganggu pernapasan bayi. Karena pusat aktivitas bayi, termasuk bernapas, masih berada diseputar perut.

          Walaupun ada yang bilang juga, gak apa-apa juga dipakein gurita selama tali pusar bayi belom copot. Gurita bisa melindungi tali pusar bayi. Yang penting jangan kekencengan ngiket guritanya. Supaya bayi tetep bisa bernapas.

          Kalau Chi dan K'Aie tetep milih gak pakein gurita, deh. Tapi, kembali ke masing-masing (calon) orang tua ajah. Kalau merasa perlu pakai gurita, boleh dibawa untuk persiapan persalinan :)

          Oiya, persiapan persalinan gak cuma 2 hal yang Chi tulis tadi. Untuk baiknya banyak-banyakin cari info, ya. Biar persiapan persalinannya optimal.