Kamis, 27 Februari 2014

Bubun

Kata pertama seorang anak tentunya merupakan sesuatu yang orang tunggu. Apalagi kalau kita juga menjadi orang pertama yang mendengar. Rasanya seneng banget, ya.

Chi gak inget kapan tepatnya Keke dan Nai mengucapkan kata pertama mereka. Abis, Chi baru ngeblog Desember 2007, sih. Keke sudah hampir 3 tahun dan Nai sudah lewat 6 bulan usianya. Chi memang baru menulis secara detil setelah punya blog. Jadi mari kita salahkan blog :p

Tapi, yang pasti Chi inget, perkembangan setiap anak itu beda-beda. Antara Keke dan Nai aja beda tahapannya. Untuk urusan ngomong pun begitu. Hanya satu persamaan mereka, yaitu paling susah mengucapkan kata 'Bunda'. Untuk yang satu itu mereka berdua kompak banget perkembangannya.

Kata 'Ayah' termasuk yang paling cepat mereka bisa ucapkan. Dilanjut dengan mamah, abah, nin, aki, dan om. Tapi, susah banget bilang Bunda. Mereka bahkan sempet ikut-ikutan manggil 'Chi' ke bundanya.  Iya, Keke dan Nai memang sempat ada masa memanggil ayah dan bundanya dengan nama panggilan kami. Eits! Tapi, jangan buru-buru menganggap mereka gak sopan, ya *gulung lengan baju kalau ada yang bilang gak sopan :D
Menurut Chi, ada beberapa faktor kenapa mereka sempat memanggil nama ke orang tuanya, yaitu:

  1. Waktu baru menikah sampe Keke lahir, kami berdua masih saling memanggil nama ketika berkomunikasi. Jadi, Keke pun akhirnya meniru. Apalagi pengucapan 'Bunda' masih susah buat dia. Dan, walopun sudah bisa mengucapkan 'Ayah', dia pun mengikuti. Waktu, Nai lahir, kami sudah saling memanggil ayah-bunda sebetulnya. Tapi, orang tua kan memanggil kami dengan nama, Nai pun ikutan.
  2. Sebagai orang tuanya, kami memang cenderung mendiamkan. Buat kami, selama bersikap dan berbicara dengan sopan, gak masalah kalau anak-anak mau memanggil kami dengan nama. Kalaupun sekarang mereka memanggil kami 'Ayah-Bunda', itu bukan karena ditegur. Tapi, mereka memang meniru dan akhirnya terbiasa.

Jadi, dari 2 poin di atas yang harus diberi garis merah, yaitu "Anak adalah seorang peniru ulung." Kalaupun dia terlihat belum bisa mengikuti, itu karena memang belum saatnya aja. Mungkin masih proses belajar, tapi anak mengerti, kok. Lagipula buruf B dan D memang termasuk yang susah untuk diucapkan, karena ada penekanan.

Chi juga pernah melarang Keke untuk menonton salah satu kartun anak-anak, yaitu Teletubbies. Teletubbies sebetulnya bagus untuk bayi dan batita. Gambarnya yang sederhana, membantu Keke cepat mengerti tentang warna, angka, dan lainnya. Sayangnya, bahasa Teletubbies adalah bahasa bayi. Contohnya, ketika mengucapkan 'little lamb', keempat tokoh Teletubbies selalu bilangnya 'i el em'. Dan, itu diikuti oleh Keke.

Chi tentunya gak pengen Keke berbahasa bayi karena ikut-ikutan. Sama aja nambah-nambah kerjaan Chi dalam mengajarkan Keke berbicara hihi. Jadi, setelah dipertimbangkan, seluruh DVD Teletubbies di simpan. Gak mau mengalami hal yang sama, Nai gak Chi kenalkan dengan Teletubbies sebelum bicaranya lancar :D

Kembali ke kosa kata 'bunda'. Setelah memasuki masa memanggil nama, kata 'bunda' juga mengalami beberapa fase perubahan. Gak kayak menyebutkan 'ayah' yang langsung bisa. Dari mulai kata 'Nda' *lumayaaaaannn, setidaknya mereka udah bisa ujungnya :D hingga 'Bubun'

Dan, kata 'Bubun' ini lumayan bertahan lama. Sampe, Chi berpikir, mungkin memang sebaiknya pake 'Bubun' aja, jangan 'Bunda'. :DWalopun lupa tepatnya kapan, alhamdulillah, Keke dan Nai akhirnya bisa juga menyebutkan kata 'Bunda' :L

Yah, gak usah dimasukkin ke hati kalau kata pertama anak bukanlah untuk memanggil ibunya. Mereka tetep tau, kok, sama ibunya. Yang penting terus aja dilatih. Ajarkan mereka untuk terus berbicara dengan cara sering mengajak berkomunikasi, walopun mereka kelihatanya seperti tidak menjawab. Hindarkan bahasa bayi. Ajarkan mereka untuk bicara yang lantang, jangan hanya diam ;)

Continue Reading
14 komentar
Share:

Rabu, 26 Februari 2014

Anemia Pada Kehamilan

Umumnya, perempuan yang sudah menikah akan bahagia ketika mengetahui dirinya hamil. Tetapi, apakah para ibu hamil sudah tau kalau ketika hamil, anemia bisa menyerang?

Sebenarnya, normal saja apabila ibu hami terkena anemia ringan. Tapi, harus diwaspadai kalau terkena anemia yang lebih serius.

Untuk lebih mengetahui apa itu anemia, dan bagaimana cara pencegahannya, kita baca bersama-sama tulisan di bawah ini, yuk!

Saat Ibu hamil, tubuh akan mengalami perubahan yang signifikan. Mulai dari bentuk tubuh sampai kandungan yang ada di tubuh pun akan berubah (baik meningkat maupun menurun).
Begitu juga dengan jumlah darah dalam tubuh Ibu selama kehamilan akan meningkat sekitar 20-30 persen. Dimana peningkatan tersebut digunakan untuk meningkatkan pasokan zat besi dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk membuat hemoglobin. Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh Ibu.

Kebanyakan Ibu hamil tidak memiliki kandungan zat besi yang cukup selama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan Ibu selama trimester kedua dan ketiga sangat banyak. Jika, kandungan zat besi dalam tubuh Ibu tidak mencukupi, Ibu bisa beresiko terkena anemia.

Anemia adalah kekurangan sel darah merah yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh Ibu hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Yang menyebabkan anemia selama kehamilan biasanya Ibu kurang mengkonsumsi makanan kaya akan zat besi dan folat. Penyebab lainnya adalah terjadinya kehancuran sel darah merah yang kemungkinan terjadi jika Ibu hamil sedang sakit.

Selama kehamilan, tubuh Ibu harus memproduksi tiga kali jumlah darah dari biasanya untuk memenuhi kebutuhan Ibu dan si kecil. Tanpa zat besi yang cukup, produksi sel darah merah akan terhambat dan otomatis suplai sel darah merah ke seluruh tubuh akan berkurang yang menyebabkan anemia.

Jika Ibu memiliki kehamilan yang berdekatan dengan kehamilan sebelumnya (jarak antara kehamilan pertama dan kedua sangat dekat) bisa beresiko terkena anemia pada kehamilan selanjutnya. Selain itu yang resiko lainnya adalah, hamil kembar, sering muntah atau morning sickness, jarang atau tidak mengkonsumsi zat besi dan mengalami menstruasi terus menerus sebelum kehamilan.

Gejala yang ditimbulkan akibat anemia biasanya, Ibu akan merasa cepat lelah atau lemah, pucat pada kulit, detak jantung yang cepat, merasa sesak nafas dan sulit untuk berkonsentrasi. Untuk pencegahannya Ibu bisa melakukan hal-hal sebagai berikut :

Makan makanan yang kaya akan zat besi seperti daging, ayam, ikan, telur, kacang-kacangan dan biji-bijian.
Makanan yang akan akan asam folat seperti kacang-kacangan, sayuran hijau, gandum dan jus jeruk
Makanan yang kaya akan vitamin C, seperti buah jeruk segar dan sayuran mentah yang higienis
Konsumsi vitamin atau suplemen yang mengandung zat besi (resep dokter)

Nutrisi yang kaya akan gizi adalah cara terbaik untuk mencegah anemia dan menjaga agar kehamilan Ibu sehat sampai dengan persalinan. Ibu juga harus tetap menjaga kesehatan tubuh dan terus berkonsultasi dengan dokter untuk tindakan lebih lanjut.

http://www.hematology.org/patients/blood-disorders/anemia/5227.aspx
http://www.ucsfhealth.org/education/anemia_and_pregnancy/
http://www.whattoexpect.com/pregnancy/ask-heidi/anemia.aspx

Continue Reading
4 komentar
Share:

Reward vs Ranking

Reward vs Ranking, mana yang lebih baik? Kalau Chi, melihat selalu ada sisi positif dan negatif. Ya, emang suka ada rasa agak mangkel kalau ada orang tua yang membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain untuk urusan ranking. Padahal ranking 'jelek' bukan berarti nilainya jelek, lho. Karena siapa tau sekelas memang semuanya mendapat nilai bagus.

Jadi, bagusan reward, dong? Hmmm... belum tentu juga.

Jadi begini, di postingan "Rapor Semester Ganjil Nai di Kelas 2", waktu rapor bayangan Nai dapet hadiah 1 set spidol dari wali kelas karena juara 1 untuk nilai-nilainya. Bukan hadiah yang mahal, tapi tetep bikin Nai girang banget. Besoknya, Chi dateng ke wali kelas untuk ngucapin terima kasih.
Wali kelas Nai cerita, kalau beliau memang menjanjikan ke anak-anak akan memberi hadiah untuk berhasil mendapatkan peringkat terbaik di kelas. Tujuannya supaya anak-anak rajin belajar. Memang, Chi lihat ada perubahan semangat belajar dari Nai. Tanpa harus Chi suruh, dia belajar dengan semangat. Dirangkum, dihapal, dan dipelajari. Tapi, Nai gak cerita kalau semua itu karena diiming-imingin hadiah oleh wali kelasnya. Chi sendiri uda ngerasa bahagia banget ngelihat anak bisa dengan kesadaran sendiri belajar. Kan, bundanya jadi bisa santai *eh :p

Tapi, setelah pemberian reward, wali kelas Nai merasa khawatir. Karena pemenang kedua seperti kelihatan kecewa wajahnya. Beliau khawatir, muridnya tersebut akan bersedih, trus cerita ke orang tuanya. Dan, orang tuanya akan menyalahkan wali kelas.

"Saya jadi khawatir, Bun. Kasihan juga melihat wajahnya yang kecewa. Tau gitu, saya bawain hadiahnya lebih dari 1, ya."

Chi bilang aja gak usah khawatir. Menurut Chi, sebagai orang tua, kita juga harus bisa mengajarkan anak untuk berbesar hati apabila mereka sendang merasa kecewa karena kalah. Kecewa boleh, itu perasaan manusiawi, kok. Tapi, jangan biarkan anak-anak menjadi hilang semangat. Kalau kayak gitu, gak akan punya semangat kompetisi kalau maunya menang terus.

Walaupun udah mendapatkan hadiah, ternyata gak otomatis Nai terus semangat belajar. Justru pas rapor semester ganjil, nilai Nai agak turun. Setelah Chi pelajari, penyebabnya buka karena Nai menyepelekan. Merasa udah mendapat hadiah, jadi gak perlu lagi belajar dengan rajin. Ternyata, bukan itu penyebabnya.

Saat itu, Chi lagi lumayan sibuk. Chi 'melepaskan' anak-anak. Terserah mau belajar apa enggak.Walopun Nai udah bisa belajar mandiri, tapi ternyata dia tetap butuh ditemani. Ya, walopun Chi gak ikut campur tangan, yang penting Chi duduk dekat dia walopun mungkin Chi sambil ngerjain yang lain. Saat itu, Chi gak kayak gitu. Bener-bener sibuk sama urusan sendiri. Akhirnya, Nai gak mau belajar padahal Chi udah ngingetin juga tentang hadiah, tapi dia cuek aja, tuh.

Pas terima rapor, wali kelasnya cerita kalau iming-iming yang spidol itu efeknya masih berlanjut dan positif banget. Murid-murid yang gak dapet spidol, jadi makin aktif untuk belajar di kelas. Peningkatan semangatnya kelihatan banget. Trus, nilai-nilai mereka juga pada meningkat. Spidol ternyata mampu bikin anak-anak semangat belajar. Justru nilai Nai pada turun, walopun turunnya sedikit.

reward vs ranking

Di hari pertama semester genap, waktu Chi jemput Nai, Chi lihat dikerudungnya ada gambar emoticon. Emoticon senyum yang terbuat dari kertas biasa trus dikasih peniti. Beberapa anak lain juga ada yang pakai.

Kata Nai, yang dapet bros emoticon adalah anak-anak yang berhasil mengerjakan tugas tepat waktu. Selama libur sekolah mereka memang ditugaskan membuat kliping tentang energy. Wuiihh, bangganya Nai dapet bros emoticon itu. Memberi reward memang gak harus mahal, ya :)

Jadi, mending ranking apa reward, nih. Ya, kalau Chi sih tetep gimana kita menyikapinya. Dalam hidup kita akan dihadapkan beberakali kompetisi. Ada yang dinilai juara 1, 2, 3 dan seterusnya seperti ranking. Ada juga yang seperti reward.

Seneng banget kalau anak kita berhasil menang. Tapi, harus diingat juga supaya jangan sampe terlena baik ketika mendapat peringkat bagus di ranking atau mendapat reward. Dan, ketika merasa kalah, sebaiknya orang tua jangan ikut mematahkan semangatnya. Sebisa mungkin kita harus bisa bikin anak-anak bangkit lagi.

Jadi, buat Chi reward atau ranking adalah gimana kita menyikapinya :)

Continue Reading
18 komentar
Share:

Selasa, 25 Februari 2014

2nd Giveaway : Ayo Nge-bebek Di Resto Bebek Judes

Karena ini GA, jadi postingan ini akan saya pasang dipaling atas (sticky post). Kalau mau lihat postingan terbaru, ada di bawah postingan ini, ya :)

Kalau bicara tentang bebek, maka:

  1. Langsung teringat sama Donal Bebek. Walopun judes, tapi karakter favorit saya sepanjang masa :D
  2. Kadang-kadang, saya suka bersikap cuek bebek *Hmm… gak ngerti juga, deh, kenapa bebek dibilang cuek hihi…
  3. Kalau mau makan bebek mendingan beli ajah daripada masak.

Ngomong-ngomong tentang makan bebek, saya memang lebih suka beli daripada masak sendiri. Alasannya, sampe sekarang saya masih gagal bikin masakan bebek yang enak. Gak tau kenapa. Ya, udahlah gak usah dipusingin selama masih ada resto yang jualan bebek. Malah lebih simple, karena tinggal makan hihihi.

Buat saya, daging bebek itu enak rasanya kalau diolahnya jago. Lebih enak dan gurih dibandingkan ayam, lho. Bebek goreng adalah menu yang biasanya paling saya cari. Apalagi kalau sambelnya juga nendang. Wuiihh! Mantap, deh!
Dengan semakin menjamurnya restoran yang menawarkan menu bebek, mereka tentu harus memikirkan bagaimana caranya supaya konsumen tetap tertarik datang ke restoran tersebut. Kalau saya biasanya suka tertarik kalau ada restoran yang namanya unik.

Resto Bebek Judes. Baru baca namanya aja udah bikin tertarik. Emang kenapa sih itu resto dinamain bebek judes. Menawarkan menu bebek udah pasti, tapi judesnya? Oh, ternyata Judes itu singkatan dari Juara Pedas.

Daftar menu yang ditawarkan juga unik-unik namanya. Bebek perawan goreng dan bakar. Malah ada juga bebek perawan sambal ijo dan balado. Kayak apa ya rasanya bebek perawan? Tapi, yang paling penasaran, kenapa juga dinamain Bebek Perawan? Hihihi.

Daripada penasaran, mending dateng aja ke restonya. Udah banyak cabangnya. Tersebar di Bekasi, Depok, Tangerang, Bandung, Cirebon, Bogor, Depok, dan Semarang

Yang ngaku penggemar pedas, silakan cobain salah satu menu di resto bebek judes. Buktikan keberaniamu makan pedas :)

Oiya, ngomong-ngomong tentang makan bebek, blog ini bekerjasama dengan Resto Bebek Judes mengadakan giveaway dengan tema “Sensasi Makan Bebek Pedas”. Ceritakan pengalaman pribadi blogger ketika makan bebek pedas. Kayak apa sih, sensasi yang dirasakan saat itu?

Catatan tambahan : untuk menghindari pertanyaan yang sama, GA ini berlaku untuk semua blogger walopun belum pernah makan di resto bebek judes. Yang penting ceritakan pengalaman teman-teman tentang sensasi makan bebek pedas, ya :)

Syarat dan ketentuan: 


  1. Blogger
  2. Platform blog bebas : wordpress, blogspot, kompasiana, blogdetik
  3. Posting tulisan di blog masing-masing maksimal 700 kata, dengan tema “Sensasi Makan Bebek Pedas” mulai 7-25 Februari 2014 (Materi konten bisa dilihat di http://bebekjudes.com)
  4. Gunakan bahasa Indonesia, bukan tulisan alay atau disingkat-singkat, contoh 4l4y, yg, ttp, drmn, dan seterusnya
  5. Tulisan harus karya sendiri dan belum pernah di-publish di media mana pun
  6. Setiap kata “bebek“ wajib di-link ke http://bebekjudes.com
  7. Sekurang-kurangnya, sertakan 1 kata-kata bebek Perawan atau bebek Judes (Juara Pedas) dalam tulisan
  8. Memasang banner Giveaway Bebek Judes di sidebar blog, like Fanpage Bebek Judes, dan follow @bebekjudesresto
  9. Tulisan tidak mengandung unsur sara, pornografi, dan tidak menyudutkan pihak manapun
  10. Kirimkan tulisan di kolom komentar ini (Nama, akun twitter, akun FB, judul, dan URL)
  11. Share di twitter dengan format: “Sensasi Makan bebek Pedas bareng @bebekjudesresto (link tulisan) #GABebekJudes cc @ke2nai @AdhiJudes
  12. Diakhir tulisan sertakan kalimat “Tulisan Ini Diikutsertakan Pada Giveaway Sensasi Makan Bebek Pedas”, dengan link hidup mengarah ke postingan ini.

Adapun hadiahnya adalah sebagai berikut:
Juara I : Uang tunai Rp500.000,00 dan Paket Terjudes senilai Rp400.000,00

Paket Terjudes

Juara II : Uang tunai Rp300.000,00 dan Paket Perawan senilai Rp350.000,00

Paket Perawan

Juara III : Uang tunai Rp200.000,00 dan Paket Kramaz senilai Rp250.000,00

Juara 3 Paket Kramaz

10 tulisan pilihan : mendapatkan paket cantik dan kece badai

10 paket cantik untuk 10 tulisan terbaik


Juri : 

  1. Sary Melati (Blogger, Freelancer writer, Co Founder Kumpulan Emak Blogger)
  2. Myra Anastasia (Blogger, Srikandi Persahabatan KEB 2013)
  3. Adhie Widhianto (Owner Bebek Judes Resto) 
 
Banner untuk dipasang di side bar blog


Yuk, ikutan! Catet tanggal DLnya (7-25 Februari 2014). Jangan sampe kelewat :)
Insya Allah, pengumuman pemenang, 10 Maret 2014

Continue Reading
187 komentar
Share:

Senin, 24 Februari 2014

Kapok Mengajar

Selain menggambar, Nai suka sekali dengan craft. Setiap hari, ada aja kreasi yang dia bikin. Dan, gak selalu harus Chi yang ajarin. Kadang, dia cari sendiri di youtube buat dipelajar atau punya ide-ide spontan. Bahan-bahannya juga seadanya di rumah, yang penting ada gunting dan lem. Seringkali, Chi harus diam-diam kalau mau buang sampah, dan menyisakan sedikit saja sampah daur ulang. Karena kalau ketahuan Nai suka dikumpulin. Kertas koran, dus bekas cereal, botol plastik, dan lainnya. Semua dikumpulin Nai buat dibikin kreasi. Walopun gak langsung saat itu bikinnya.

Kalau udah asik menggambar atau nge-craft, Nai udah anteng banget. Malah, Chi suka disuruh menjauh. Kalau udah selesai baru dikasih lihat. Dia juga sering bawa hasil craftnya ke sekolah untuk dilihatin ke teman dan wali kelasnya.

Saking senangnya craft, waktu kelas 1 dia kadang suka minta pindah lagi ke TK. Katanya di TK kegiatannya enak cuma berkreasi, gak kayak di SD. Makanya, di SD ini dia paling seneng kalau udah ada pelajaran SBK, yaitu Seni Budaya dan Ketrampilan.

Hari Jum'at lalu, waktu Chi jemput Nai....
Kata Nai ini kupu-kupu dari kertas origami

Nai     : "Hari ini bad day banget buat Ima, Bun."
Bunda : "Bukannya Ima paling seneng hari Jumat? Kan, ada SBK."
Nai     : "Justru itu karena SBK. Hhhh... Bad day, lah. Cape!"
Bunda : "Emangnya ngapain? Kok, tumben?"
Nai     : "Bunda tau, kan, kupu-kupu yang waktu itu Ima bikin dari kertas origami?"
Bunda : "Iya, tau."
Nai     : "Itu, kan, Ima bikin di sekolah pas lagi istirahat. Ternyata, temen-temen pada suka gitu. Jadi aja hari ini Nai disuruh jadi guru SBK sama bu guru."
Bunda : "Trus, yang bikin Ima jadi bad day apa? Bukannya Ima malah seneng kalau temen-temen pada suka? Di rumah Ima juga suka ngajarin Bunda."
Nai     : "Banyak yang gak mau nurut, Bundaaaaa.... Ima udah ajari, banyak yang tanya-tanya karena gak ngerti. Malah ada juga yang minta bikinin. Ima bilang, kalau mau harus baris biar tertib, biar Ima gak bingung. Tapi, gak nurut. Pada berebutan gitu. Jadi, Ima biarin aja, deh. Terserah aja mau bikin kayak apa. Gak usah mirip sama yang Ima bikin. Abis gak nurut."
Bunda  : "Trus, hasilnya mana?"
Nai      : "Kan, dikumpulin, Bun."

Ada rasa senang mendengar Nai dipercaya wali kelas untuk mengajarkan ketrampilannya ke teman-temannya. Buat Chi itu pengalaman berharga sekali buat Nai. Tapi, ngikik juga membayangkan dia kerepotan mengajarkan teman-teman sekelasnya dan membuatnya kapok mengajar😂

Bunda : "Jadi, gimana rasanya jadi guru?"
Nai     : "Cape, ah!"
Bunda : "Kalau gitu, udah ngerti belom kenapa Bunda suka ngingetin Aa dan adek untuk tertib kalau lagi belajar di kelas?"
Nai     : "Belom. Emangnya kenapa, Bun?" *gubraaaakkk! :O
Bunda : "Ima baru jadi guru SBK sehari aja udah kapok mengajar. Alasannya tadi karena apa?"
Nai     : "Karena banyak yang gak bisa dikasih tau."
Bunda : "Nah, kebayang, gak? Setiap hari, Bu guru harus ngajarin anak-anak untu banyak pelajaran. Tapi, gak semua anak muridnya tertib. Bu guru mungkin pusing. Tapi, gak boleh kapok kayak Ima. Nanti kalau semua guru kapok, yang ngajarin murid-murid siapa?"
Nai     : "Oiya, ya."
Bunda : "Berarti, Ima udah ngerti kan kenapa Bunda sering ngingetin untuk tertib kalau lagi belajar."
Nai     : "Iya."
Bunda : "Kira-kira kalau bu guru minta Ima jadi guru lagi, mau gak?"
Nai     : "Enggak!"
Bunda : "Ya, udah kalau gitu Ima ngegantiin Bunda aja gimana? Kan, kalau jadi Bunda cuma ngurusin 2 anak, A' Keke sama Bunda. Gimana?"
Nai     : "Engaaaaaaakkkk.... Gak mauuuuuuu.... Ima mau jadi anak-anak ajaaaa...!"
Bunda : "Hahahaha"

Seneng banget Chi godain Nai hari itu. Tapi, setuju banget sama Nai. Jadi, anak-anak aja dulu. Dunia anak-anak itu nikmat. Puaskan dirimu jadi anak-anak, ya, Nak. Nanti akan ada saatnya Keke dan Nai akan menjadi orang dewasa. Kalau masa kanak-kanak sudah terpuaskan, Insya Allah, Keke dan Nai gak menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan. Itu harapan ayah dan bunda😘

Continue Reading
24 komentar
Share:

Sabtu, 22 Februari 2014

Beri Mereka Penjelasan

Waktu itu, Chi lagi berkunjung ke rumah salah seorang kenalan. Sepasang kakek-nenek, yang saat kami berkunjung juga lagi ada cucunya sedang asik terpaku menonton sinetron sambil menyantap snack, jajanannya di warung.

Chi    : "Dio *bukan nama sebenarnya, bukannya gak boleh nonton tv sama makan snack kayak gitu sama mamanya, ya?"

Walopun secara pribadi tidak mengenal mama Dio, tapi melalui cerita nenek dan kakeknya, Mama Dio memang sangat tegas dalam urusan menonton televisi dan jajan. Tidak boleh sama sekali, tanpa ada sedikitpun pengecualian. Kalau tahu, mamanya bisa marah besar. Bahkan kakek dan nenek Dio pun bisa ikut kena dimarahi kalau Dio ketahuan nonton tv dan jajan, selama mamanya gak ada. Papa Dio pun tidak jauh berbeda dengan istrinya. Cuma kadang suka agak longgar aja.

Sementara, kakek-neneknya jadi dilema. Dio hanya menurut kalau ada mamanya saja. Kalau mamanya lagi ke luar rumah, Dio seperti anak yang bebas merdeka. Peringatan dari kakek-neneknya diabaikan. Kakek-nenek Dio gak bisa berbuat banyak. Apalagi yang namanya kakek-nenek, memang cenderung ingin memanjakan cucu, kan?
"Gak tega juga untuk terlalu keras melarang Dio. Kasihan, dimarahi terus sama mamahnya. Tapi, kalau gak dilarang, nanti mamanya tau akan dimarahi juga." kata nenek Dio tentang alasannya tidak ingin melarang Dio terlalu keras.

Ketika Chi masih di sana, mama Dio pun datang. Tanpa ada pelukan, atau sapaan hangat, Mama Dio langsung memanggil Dio dan menginterogasinya. Jajan, gak? Nonton tv, gak? Dan, Dio menjawab tidak!

Yup! Dio berbohong ke mamanya. Neneknya pun hanya diam, khawatir Dio dimarahi habis-habisan. Tapi, sesekali neneknya juga bercerita. Dengan hasil yang bisa diduga. Dio akan dimarahi habis-habisan. Membuat kakek-neneknya bersedih, apalagi kalau cucunya sampai menangis.

Chi, gak bermaksud untuk ikut campur sama urusan rumah tangga orang lain. Di satu sisi, Chi bisa memahami peraturan mama Dio. Tayangan televisi banyak yang gak bagus, begitu juga dengan jajanan. Chi pun punya kekhawatiran yang sama, kok.

Tapi, menurut Chi sebaiknya jelaskan juga ke anak-anak tentang larangan ini-itu. Sesuaikan dengan bahasa dan pemahaman mereka saat itu. Chi berpendapat seperti ini juga karena sebelumnya pernah punya pengalaman pribadi. Pengalaman yang pernah Chi tulis di blog ini beberapa tahun lalu dengan judul "Pentingnya Konsistensi".

Chi juga pernah setegas mama Dio untuk urusan jajan. Saat itu, Chi selalu menegur Keke kalau dia ketahuan jajan. Perasaan, sih, Chi udah menegur dan bertanya ke Keke dengan cara baik-baik. Tapi, suatu hari ada jawaban Keke yang mengagetkan. “Ah besok kalo Keke jajan gak mau ngomong lagi sama bunda deh. Abis di tegur terus!!”

Plak!! Chi beneran berasa ditampar waktu Keke ngomong gitu. Sikap Chi itu udah membuat Keke mempunyai niatan untuk berbohong. Tentu aja Chi gak mau kejadian itu berlanjur.

Setelah Chi pikir-pikir lagi, mungkin selama ini cara Chi bersikap tegas dan menegurnya ada yang salah. Bukan berarti kita gak boleh tegas atau gak boleh menegur anak, lho. Menegur dan bersikap tegas kepada anak itu boleh, kok! cuma mungkin caranya yang harus diperhatikan.

Dari situ, Chi berusaha untuk merubah caranya. Lebih banyak memberikan penjelasan supaya mereka mengerti tanpa mengurangi ketegasan. Komunikasi tetap menjadi hal yang utama. Gak hanya Chi yang menjelaskan dan memberi peraturan, Keke dan Nai pun bisa mengungkapkan perasaan mereka.

Sejauh pengamatan Chi, sih, Keke dan Nai tetap disiplin dengan peraturan yang ada, walopun sesekali mereka bertanya alasannya. Dijelaskan aja ke mereka kalau bertanya. Gak bertanya pun selalu dijelaskan.

Chi katakan sejauh pengamatan, karena gak mungkin mengawasi mereka 24 jam, kan. Kepercayaan juga salah satu hal yang bisa Chi berikan ke mereka. Dan, Chi berharap mereka gak akan merusak kepercayaan uanh udah ayah dan bundanya kasih.

Continue Reading
8 komentar
Share:

Rabu, 19 Februari 2014

Untung Hujan

Kejadiannya udah cukup lama sebetulnya. Waktu itu mobil yang biasa Chi pake untuk jemput anak-anak bermasalah. Terpaksalah Chi cari ojek.

Salah satu kekhawatiran Chi kalau harus ngojek pas hujan mulai turun adalah susahnya cari ojek. Ojek yang biasanya mangkal deket rumah, udah ngacir kalau hujan mulai turun. Ditambah lagi, sejak sekolah Keke pindah lokasi, susah untuk cari ojek. Kalau di lokasi lama, deket sama pangkalan ojek.

Chi larang Nai untuk ikut, tapi dia ngotot kepengen ikutan. Dan, seperti yang Chi khawatirkan, susah banget dapet ojek. Kami harus berjalan lumayan jauh sampe ada sebuah motor nyamperin kami dan ngakunya, sih, ojek.

Legaaa....! Akhirnya dapet ojek juga. Tapi, baru juga Chi bernapas lega. Tau-tau di tengah jalan, tukang ojeknya bilang kalau kami bakal diturunin di pangkalan ojek terdekat. Alasannya, beda tujuan. Lah, padahal dari awal Chi udah bileng mau kemana!
Untungnya di pangkalan itu lagi ada tukang ojek. Dan, untungnya lagi tukang ojek itu mau ngegantiin, padahal keliatannya dia baru mau makan. Baru kali ini naik ojek udah kayak naik metromini. Penumpangnya di oper. *tepok jidat Sampe sekolah, Chi gak minta tukang ojeknya buat nunggu. Kasian, ah, dia kayaknya lagi laper.

Seperti yang Chi khawatirin, susah banget dapet ojek untuk pulang. Kami pun, mutusin untuk jalan kaki. Kekhawatiran Chi saat itu kalau gak juga dapet ojek adalah:

  1. Terlalu jauh kalau harus jalan kaki
  2. Hujan baru reda, jalanan becek
  3. Nyaris gak ada ruang untuk pejalan kaki. Habis untuk kendaraan. Makanya, kami berjalan berbaris.
  4. Banyak genangan karena hujan. Abis, gak ada got juga, sih. Got udah ketutup semua sama jalan :(

Sementara Chi khawatir, Keke dan Nai malah tetep aja kelihatan seneng. Sesekali mereka sengaja menginjakkan kakinya di genangan air. Duh, padahal itu sepatu sekolah. Tapi, mereka seneng aja. Namanya juga anak-anak :D

Nai    : "Ke, kita sebetulnya harus bersyukur, lho."
Keke : "Bersyukur kenapa?"
Nai    : "Iya, untungnya abis hujan. Jadi, jalan kaki juga gak berasa cape. Udaranya adem."
Keke : "Iya bener, Nai."

Mereka pun melanjutkan dengan obrolan lainnya. Chi jadi terharu. Di saat Chi sangat khawatir, mereka akan rewel karena capek.. Di saat Chi sesekali berseru, mengingatkan mereka untuk selalu ke pinggir dan gak injek-injek genangan air. Mereka malah kesenengan.

Setelah setengah perjalanan, kami pun ketemu ojek yang lewat. Awalnya Keke dan Nai gak mau. Tapi, Chi bener-bener khawatiir sama kondisi jalan yang gak ramah untuk pejalan kaki. Untungnya, mereka mau juga naik ojek walaupun harus sempit-sempitan di satu ojek. :D

Lumayan jauh juga kami jalan waktu itu. Jangan tanya gimana pegelnya itu kaki sesudahnya :p Tapi, Chi bener-bener terharu dan bersyukur dengar obrolan mereka waktu itu.

Semoga Keke dan Nai selalu menjadi anak-anak yang bersyukur. Aamiin

Continue Reading
22 komentar
Share:

Senin, 17 Februari 2014

Flappy Bird

Siapa yang lagi tergila-gila dengan game Flappy Bird? Hayo, tunjuk tangaaaaaannn! *ikutan tunjuk tangan.

Gara-gara TL selalu dibanjiri dengan tweet tentang Flappy Bird, Chi akhirnya penasaran kayak apa game yang lagi ngetrend itu. Mulai, deh, ngedonlot. Ternyata, grafis gamenya keliatan jadul gitu. Jadi inget konsol game nintendo jaman dulu :D. Cara bermainnya pun sederhana, cuma ketokin jari ke layar tab atau smartphone biar burungnya terbang dan bisa lewatin pipa. Walopun begitu, mainnya susaaaahhh :D

Hari pertama, score Chi gak jauh dari angka 1. Kalau gak kejedot, burungnya nyungsep bebas :r Sampe sekarang, udah 9 hari main paling score rata-ratanya cuma di angka 5 :p Sementara adik dan sepupu Chi scorenya pada tinggi-tinggi ajah. 30 ke atas gitu. Jadi deh, Chi suka diledekin *Faktor U kayaknya, nih :D
Keke pun jadi ikutan. Awalnya suka mentok, nyungsep. Lama-lama, naik scorenya. Tiap hari naik terus scorenya. Dan hari ini best scorenya 53! *Ckckck... Bunda bangga hihihi

Keke   : "Bun, tau gak gimana caranya mengukur kesabaran?" *Keke ngajak ngobrol sambil tetep main Flappy Bird
Bunda : "Gimana caranya?"
Keke   : "Caranya main Flappy Bird. Yang scorenya tinggi pasti orang-orang yang bersabar."
Bunda : "Jadi, maksudnya Bunda lebih gak sabaran dari Keke, gitu?" *pura-pura sensi karea score yang seadanya terus hihihi
Keke   : "Enggak.. gak begitu juga, Bun. Bunda lebih sabar dari Keke, kok."
Bunda : "Kan, tadi Keke ngomong gitu."
Keke   : "Maksud Keke gini, kalau scorenya kecil terus kan suka ada orang yang marah-marah. Padahal daripada marah-marah, sabar aja sambil usaha terus. Nanti scorenya nambah, deh."
Bunda : "Oooohhh gitu. Tapi, jadinya yang lebih sabar Bunda apa Keke?"
Keke   : "Bundaaa... hehehe."

Ini ceritanya bunda maksa ke anaknya hehehe. Tapi, namanya juga becanda. Jadi, kira-kira siapa yang lebih sabar, ya? ;)

Atau, ada yang pernah menguji kesabaran dengan main Flappy Bird? :D

Continue Reading
45 komentar
Share:

Kamis, 13 Februari 2014

Tips dan Manfaat Melakukan Tandem Nursing

Tandem Nursing atau menyusui tandem adalah kegiatan menyusui bayi dan balita secara bersamaan.

Sebelumnya, Chi gak pernah terpikir akan mempunyai pengalaman tandem nursing. Awalnya, sih, karena K'Aie itu pengen Chi hamil lagi. K'Aie pengen jarak antara Keke dan adiknya gak jauh. Biar Keke ada teman sepantaran di rumah, katanya.

Chi berpendapat sebaliknya. Rasanya saat itu belum tega kalau Keke punya adik. Chi belum siap kalau harus berbagi perhatian untuk lebih dari 1 anak. Ditambah lagi Keke masih minum ASI dengan frekwensi yang sering. Kalau Chi hamil lagi, gimana ASInya? Rasanya belum tega untuk menyapih Keke saat itu.

Karena gak ada titik temu, kami pasrah aja, deh. Kapan pun Allah kasih, berarti itu waktu yang terbaik. Dan, keinginan K'Aie yang dikabulkan. Chi hamil lagi saat Keke kira-kira berumur 17 bulan. ASI tetap Chi kasih. Abis belum tega nyapihnya. Walopun begitu, kami tanya juga ke dokter tentang menyusui selama hamil. Secara medis diperbolehkan apa enggak.

"Selama kehamilan ibu gak bermasalah, silakan aja. Dan, jaga juga jangan sampai terlalu sering kontraksi, ya. Kalau seperti itu, sebaiknya dihentikan menyusuinya," kata dokter.
Alhamdulillah, 2 kali merasakan hamil. dan dua-duanya hamil kebo. Bukan arti sebenarnya, lho :D Hamil kebo adalah hamil yang gak merasakan gejala kehamilan, seperti mual dan lainnya. Kondisi janin juga selalu terjaga.

Kontraksi saat menyusui sebetulnya wajar saja. Karena hormon oksitosin, yaitu hormon yang mengalirkan ASI sekaligus merangsang kehamilan, bekerja saat proses menyusui. Yang perlu diwaspadai adalah kalau kontraksinya mengakibatkan rasa nyeri di pinggang bawah, keluar darah, dan lainnya. Pokoknya seperti tanda-tanda mau melahirkan. Kalau seperti itu maka, proses menyusui harus dihentikan. Karena kalau tidak bisa mengakibatkan keguguran.

Alhamdulillah, gejala tersebut gak Chi alamin. Chi tetap bisa menyusui Keke selama masa masa kehamilan. Sampai kemudian waktunya melahirkan, Keke terpaksa disapih. Karena gak mungkin juga Keke ikut nginep di rumah sakit sama Chi. Dan, menurut laporan keluarga, Keke menangis terus semalaman, pengen menyusui. Dan, akhirnya tertidur karena kecapean. Oiya, Keke, saat itu gak minum susu formula tapi mengkonsumsi yoghur. Jadi, waktu Keke terpaksa disapih, pengganti susunya memang gak ada. Masa' malam-malam minum yoghurt.

Besok harinya, pas menjenguk Chi di rumah sakit, Keke kembali menyusui :r Tapi, katanya malam-malam berikutnya, dia udah bisa tidur tanpa menangis. Jadi, menyusuinya siang aja pas datang ke rumah sakit.

Setelah Chi pulang dari rumah sakit, aktivitas menyusui Keke kembali normal. Pagi hingga malam kembali menyusui. Berbarengan dengan Nai. Alhamdulillah, K'Aie mendukung. Paling orang tua aja yang kadang suka sedikit ribut. Ya, mungkin karena tandem nursing itu sesuatu yang gak lazim buat mereka.

Berikut adalah tips melakukan tandem nursing berdasarkan pengalaman Chi pribadi:

  1. Pastikan kalau kondisi kita yang sedang hamil dalam keadaan sehat. Minta rekomendasi dokter kalau perlu.
  2. Kebutuhan adik tentu yang harus diutamakan lebih dulu. Bukan bermaksud pilih kasih, tapi kalau berbicara tentang ASI, tentu aja adiknya yang lebih membutuhkan saat itu. Jadi, kalau memang gak memungkinkan untuk tandem, minta kakaknya yang mengalah.
  3. Salah satu bentuk mengalah kakak terhadap adik adalah posisi menyusui. Tentu kita harus membuat adik bayi pas dulu posisi menyusuinya. setelah itu baru si kakak yang mengikuti.
  4. Jaga kesehatan. Tandem nursing itu membuat fisik lebih cepat lelah karena harus menyangga 2 anak sekaligus.
  5. Menyusui itu bikin lapar dan haus. Kalau sampai menyusui 2 anak sekaligus, berarti lapar dan hausnya juga dobel. Usahakan tetap menjaga asupan gizi yang yang masuk. Jangan sampai kelaparan atau terlalu kehausan.
  6. Jangan percaya dengan mitos yang mengatakan, adik bayi akan kekurangan gizi kalau harus berbagi ASI dengan kakaknya. Selama kita menjaga asupan gizi, ASI bisa tetap terpenuhi, kok. Dan, tubuh kita menyesuaikan.

Manfaat dari tandem nursing: 

  1. Karena benar-benar belum sanggup menyapih Keke, dengan melakukan tandem nursing justru bikin Chi senang dan tenang. Dan perasaan senang juga tenang itu bagus untuk ibu hamil serta menyusui.
  2. Niatan Chi untuk bisa menyusui anak, minimal sampai mereka berumur 2 tahun puntercapai dengan tandem nursing ini.
  3. Keke belajar berbagi. Dia belajar untuk gak berpikir, "Bunda cuma buat Keke".

Continue Reading
28 komentar
Share:

Senin, 10 Februari 2014

Jawaban Yang Membingungkan Anak

Chi rasa banyak orang tua yang ketika memeriksa hasil ulangan anaknya mendapatkan soal yang seharusnya jawabannya benar tapi malah disalahin. Bingung? Begini maksudnya....

Kejadian pertama adalah waktu Keke kelas 1. Di pelajaran IPS, ulangan harian Keke mendapat nilai 100. Tapi, waktu Chi cek satu per satu, ada 1 soal yang membingungkan.


Adi jatuh dari sepeda. Kejadian jatuh dari sepeda merupakan peristiwa yang menyedihkan.


Kata 'menyedihkan', Chi kasih warna merah untuk menandakan kalau itu adalah jawaban yang ditulis oleh Keke. Jawabannya disalahkan, tapi hasil ulangannya tetap dapet 100. Bingung, kan?

Bunda : "Ke, kok, yang ini disalahin? Bu guru salah nilai atau gimana, sih?"Keke  : "Gak tau, Bun. Kata bu guru jawabannya salah."
Bunda : "Lho, jatuh dari sepeda itu kan memang menyedihkan. Kok, salah? Keke gak tanya ke bu guru alasannya?"
Keke  : "Enggak."

Besoknya, Chi mendatangi wali kelas Keke untuk meminta penjelasan. Wali kelas menjelaskan kalau tema pelajarannya adalah "Kejadian Menyenangkan dan Tidak Menyenangkan". Jadi, seharusnya jawaban Keke adalah antara 2 pilihan kalimat itu.

Tapi di sisi lain, wali kelas juga membenarkan jawaban Keke. Makanya tetap di kasih nilai 100. Hanya saja, jawaban seperti itu cuma berlaku untuk ulangan harian. Kalau UTS dan UAS, Keke dan murid-murid lainnya harus menjawab sesuai dengan teori yang diajarkan. Kalau tidak sesuai, ya, dianggap salah.

Kesannya, UTS dan UAS itu teori banget, ya. Tap, mau gimana lagi, suka atau enggak, kita terikat sama sistem. Dan, alih-alih melakukan protes lebih keras lagi, Chi lebih memilih untuk kasih pengertian ke Keke. Kenapa Chi lebih milih kasih pengertian ke Keke ketimbang protes lebih lanjut? Alasannya:

  1. Bukan salah wali kelas. Beliau juga terikat dengan peraturan. Tapi, untuk ulangan harian, beliau bisa lebih fleksibel. Dan, Chi hargai itu.
  2. Protes ke tingkat sekolah, juga pasti sekolah terikat sama pusat yang mengharuskan seperti itu.
  3. Mending jelasin langsung ke Keke, deh, Jalurnya lebih pendek :D

Chi bilang ke Keke kalau jawabannya gak salah. Tapi, memang untuk UTS dan UAS, Keke harus menjawab sesuai peraturan kalau mau dianggap benar. Kalaupun saat UTS atau UAS, Keke tetap memberikan jawaban yang 'salah', Chi gak akan salahin dia. Karena jawabannya itu sebetulnya benar.

Chi jelasin juga, kalau kadang-kadang kita harus berhadapan dengan peraturan yang kaku. Gak cuma, di sekolah aja. Jadi, Chi minta Keke juga belajar untuk beradaptasi aja. Ikutin aja selama itu gak merugikan kita.

Alhamdulillah, Keke mengerti. Dalam perjalanannya, walaupun jarang, pertanyaan-pertanyaan seperti itu sesekali masih didapatkan. Tapi, Keke bahkan Nai juga udah mengerti. Malah mereka bisa menjelaskan ke Chi kenapa jawabannya sempat dianggap salah, padahal seharusnya benar.

Kejadian yang terbaru adalah hari Sabtu (8/2) lalu. Waktu kami lagi di Bandung. Sepupu Chi yang masih duduk di kelas 1 SD mendapat PR matematika dari sekolah. Keke dan Nai ikut nimbrung waktu 'om kecil'nya mengerjakan PR.


2 bulan = ...... hari


Begitu salah satu pertanyaan di PR sepupu Chi. Keke dan Nai pun langsung komen.

Keke : "Pertanyaan, kok, kayak gitu? Kan, tergantung bulannya, dong! Gak semua bulan itu 30 hari hehehehe."
Nai    : "Iya, ya, Ke. Jawabannya jadi beda-beda. Harusnya disebutin bulan apanya dulu."
Keke : "Februari aja cuma sampe tanggal 28."
Dudu : "Ibuuuuuuu.... Jadi, jawabannya berapa hariiii??" *Sepupu Chi itu langsung tambah bingung gara-gara denger komentar Keke dan Nai. Maaaaapppp hihihi :p

Chi juga ngikik dengernya. Tapi, dalam hati, Chi seneng. Karena itu artinya Keke dan Nai udah semakin paham tentang pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya itu 'abu-abu'. Gak heran juga, sih, kalau di sekolah disebut suka debat (terutama buat Keke) hihihi

Kalau bicara skala nasional, mungkin soal-soal yang terlalu kaku itu seperti menghambat cara berpikir anak. Ya, Chi pun setuju. Tapi, buat Chi bukan berarti harus pasrah. Itulah kenapa Chi lebih memilih 'mengalah' untuk mengikuti peraturan dan memilih untuk menjelaskan ke Keke juga Nai. Karena, mereka yang menjalaninya. Mereka harus segera diberitahu dan diajarkan. Dengan harapan, sekaku apapun pelajaran di sekolah bukan berarti cara berpikir mereka harus terhambat. Belajar menyesuaikan aja.

Selain itu, Chi menganggap ini ujian juga buat Chi. Siapa, sih, yang gak senang anaknya dapat nilai bagus? Tapi, kalau Chi terlalu menomor satukan nilai, mungkin Chi akan memaksa Keke dan Nai mengikuti jawaban yang sudah ditentukan tanpa perlu memberi penjelasan ke mereka. Nah, Chi gak mau kayak gitu.

Silakan aja mereka mengikuti aturan tersebut karena itu bagus juga buat mereka kalau nilainya bagus, kan. Tapi, seandainya mereka kasih jawaban 'salah' pun, ya gak apa-apa. Selama yang mereka maksud itu benar. Jadi, Chi bawa santai aja, lah :)

Continue Reading
28 komentar
Share:

Kamis, 06 Februari 2014

Bunda, Gak Adil!

Hari Sabtu lalu, ketika sedang jalan-jalan, tiba-tiba aja Nai protes.

Nai    : "Bunda gak adil banget ke Ayah!"

Chi kaget, dong. Lah, Nai ujug-ujug protes kayak gitu. Perasaan di mobil lagi gak ada obrolan apa-apa. Gak ada yang lagi kesel juga.

Bunda : "Gak adil gimana maksudnya?"
Nai     : "Iya, Ayah selalu kasih uang ke Bunda. Tapi, kenapa Bunda gak pernah kasih uang ke Ayah? Bener-bener gak adil!"

Yaelaaaaahhhh.... Kirain gak adil karena apa. Lagian ada-ada aja pikirannya hihihi. Sementara dibelakang kemudi, K'Aie cengar-cengir :D

Bunda : "Ima juga sama. Gak adil ke Ayah."
Nai     : "Ima gak adil kenapaaaa?"
Bunda : "Ima kan gak pernah kasih uang juga ke ayah. Tapi, ayah selalu kasih uang ke Ima. Hayooooo..."
Nai     : "Iiiihhhh, Bundaaaaaa....! Ima masih anak-anaaaakkk...!"

Ckckck... Anak-anak selalu ada aja jawabannya😂

Continue Reading
46 komentar
Share:

Rabu, 05 Februari 2014

Penampungan

Seminggu lalu...

Ketika kami pulang dari jalan-jalan, jalanan di depan rumah tergenang kira-kira semata kaki. Alhamdulillah, tempat kami gak kebanjiran. Kalaupun waktu itu sempat tergenang sampai semata kaki itu karena hujan yang sangat deras dalam jangka wkatu yang lama. Biasanya setelah hujan agak mereda, air akan langsung surut.

Keke : "Horeeee.... Banjiiiirrr! Main aiiiirr."
Bunda : "Keke, diam! Banjir malah seneng, gimana sih!"

Keke langsung terdiam mendengar sentakan Chi. Setelah beberapa saat, Chi baru sadar, biar gimana Keke masih anak-anak. Yang namanya anak-anak kadang gak mengerti apa itu banjir. Buat mereka tetap aja itu artinya bisa main air.

Tapi, Chi dulu sampe remaja tinggal di perumahan yang sering banjir. Salah satu lokasi yang selalu masuk tv dan media internet kalau banjir lagi melanda. Karena memang parah banget banjirnya. Jadi, sekarang kalau lihat air menggenang dikit aja rasanya udah males banget. Khawatir banjir lagi. Makanya pas Keke ngomong gitu, Chi spontan ngebentak. Maafkan Bunda, Nak.

Walopun begitu, Chi belum pernah ngerasain tinggal di penampungan, sih. Tapi, tetep aja yang namanya banjir itu gak enak. Cuma bisa diam di lantai atas. Ribet lah pokoknya.

2 hari yang lalu...
Keke   : "Bunda, tadi Keke gak belajar. Sekitar 1,5 jam, lah."
Bunda : "Kenapa? Gurunya gak masuk?" 
Keke   : "Enggak, tadi Keke kepilih jadi perwakilan kelas buat ikut ke lokasi penampungan. Nyerahin sumbangan, Bun."
Bunda : "Oiya? Dimana?"
Keke   : "Deket, kok. Di Jati Asih. Ada juga temen Keke yang dapet lebih jauh lokasinya. Tau gak, Bun. Katanya dari 13 RT yang paling parah banjirnya itu ada 7 RT. Jadi, harus tinggal di penampungan."
Bunda : "Gimana kondisi di penampungan?"
Keke   : "Gak sampe penampungan, karena jalan kesananya masih banjir. Jadi, taro sumbangan di PAUD. Di sana ada posko, sumbangan kita diterima sama dicatet, Bun."
Bunda : "Berarti Keke belom ngelihat langsung lokasi penampungan, ya. Tapi, kalau dari hasil pengalaman itu, bisa ngebayangin gak kayak apa lokasi penampungan menurut Keke?"
Keke   : "Di penampungan gak enak."
Nai      : "Pasti karena Keke gak bisa main komputer, makanya gak enak."
Keke    : "Bukaaaaannnn..."

Keke lalu kasih pendapatnya tentang gak enaknya tinggal dipenampungan. Menurutnya, kalau di penampungan itu:

  1. Gak bisa makan banyak. Katanya, gak enak kalau kepengen nambah. Kan, orang yang makan banyak.
  2. Gak bisa tidur sepuasnya, termasuk bangun siang. Pasti rame banget suasananya
  3. MCKnya pasti jorok. Keke memang belum pernah lihat kondisi MCK di penampungan, tapi membayangkan segitu banyak orang yang membutuhkan MCK, Keke gak yakin kalau MCKnya bakal bersih. Ngebayangin aja dia gak mau, katanya.

3 hal itu yang menurut Keke tinggal di penampungan gak enak. Yang bikin Chi agak terkejut, Keke sama sekali menyebutkan tentang game sebagai alasannya. Padahal dia hobi banget main game.

Bunda : "Trus, kalau gitu perasaan Keke gimana?"
Keke   : "Hmmm... apa, yaaa...? Bersyukur, ya, Bun?"
Bunda : "Iya, betul. Keke harus bersyukur, sampe sekarang gak harus merasakan penampungan. Hujan terus-terusan kayak gini, rumah gak kebanjiran, gak mati lampu. Masih bisa sekolah, malah bisa jalan-jalan juga."

Alhamdulillah. Semoga setelah ini, Keke semakin mengerti tentang pentingnya bersyukur. Aamiin.

Continue Reading
26 komentar
Share:

Senin, 03 Februari 2014

Bintaro Jaya Xchange Mall - Pusat Lifestyle dan Belanja Terbaru di Selatan Jakarta

Jakarta dan sekitarnya semakin mengukuhkan diri sebagai kota mall dengan berdirinya 1 lagi mall di Jakarta, yaitu Bintaro Xchange Mall. Mall ini sebetulnya terletak di selatan Jakarta, tepatnya di Tangerang. Tapi, lokasinya yang memang sangat dekat dengan Jakarta, bolehlah kalau mall ini mengklaim sebagai salah satu mall di Jakarta.

Jadi, kira-kira apa yang akan menjadi daya tarik Bintaro Xchange Mall ini?

Nostalgia


Waktu masih kuliah, saya termasuk yang sering pergi ke daerah Bintaro. Bisa 1 atau 2 minggu sekali. Berkunjung ke rumah tante dan bermain dengan sepupu-sepupu saya yang masih kecil. Saking seringnya, rasanya saya sangat hapat di jam dan titi mana aja yang sering macet dan lancar hehe. Setelah mulai kerja dan hingga sekarang menjadi ibu rumah tangga, sudah tidak pernah ke daerah Bintaro lagi.

Ketika saya dan para blogger mendapat undangan untuk mengelilingi Bintaro Xchange Mall, rasanya seperti bernostalgia.Menyusuri jalan-jalan yang sudah lama sekali gak saya kunjungi. Senang aja rasanya :)

Aksesnya Mudah


Ketika saya berkunjung ke suatu tempat, termasuk mall, seringkali gak harus yang dekat dengan rumah. Malah yang jauh itu suka lebih baik saya kunjungi daripada yang dekat. Salah satu alasannya adalah aksesnya mudah.

Bintaro Xchange Mall , lokasinya dekat sekali dengan pintu masuk CBD Bintaro Jaya. Kalau dari rumah saya yang juga dekat dengan pintu masuk tol, itu artinya kalau ke mall ini saya tingggal dari tol ke tol saja. Gak perlu lewat jalan lain. Selama jalan tol gak macet, perjalanannya akan memudahkan karena jalan tol biasanya gak terlalu banyak muter-muter.

Mall ini juga sangat dekat dengan stasiun Jurangmangu hanya berjarak 100-150 meter saja. Jadi, untuk yang menggunakan kendaraan umum, naik kereta bisa jadi salah satu pilihan yang terbaik. Atau bagi penduduk Bintaro Jaya yang ingin pergi ke Jakarta, bisa memarkirkan kendaraan pribadinya di mall ini. Fasilitas parkirnya bisa menampung 1.372 mobil dan 1.100 motor, jumlah yang besar, kan. :)

Green Wall


Menurut rencana, dinding luar mall ini akan dikelilingi oleh tumbuhan. Sepintas saya teringat saya rumah masa kecil yang seluruh dindingnya dipenuhi dengan tanaman rambat. Tapi, green wall di mall ini pasti bakal jauh lebih keren, dong. Karena didisain oleh ahlinya.

Green wall di Bintaro Xchange Mall, masih pendek tanamannya.

Waktu saya ke sana, bangunannya belum terlalu terlihat hijau. Karena tanamannya masih pendek-pendek. Tapi, kalau seluruh tanaman ini sudah tumbuh, tidak hanya akan membuat mall ini ramah lingkungan juga menjadikan green wall terbesar di dunia. Dan, sepanjang pengetahuan saya untuk mall di Jakarta saya baru melihat green wall di mall ini.

Saat ini green wall terbesar di dunia menurut The Guinness Book of Record ada di Singapore (di Collyer Quay)  dengan luas sebesa5r 2.125 m2 terdiri dari 50.972 tanaman dengan 25 varietas. Sedangkan green wall di Bintaro Xchange Mall rencananya akan seluas 2.197 m2 dan tinggi 26 m3 (4 lantai), dengan 150.000 tanaman terdiri dari 53 varietas.

BX Rink


Bukan karena saya jago ice skating, makanya saya menyukai BX Rink. Boro-boro bisa meluncur di es, untuk berjalan menggunakan sepatunya aja menurut saya itu lebih susah daripada pake high heels. Padahal pake high heels aja saya gak lulus-lulus amat hahaha.

Tapi, saya memang suka aja lihat orang yang lagi meliuk di atas es. Walopun cuma sekedar meluncur di atas es. Wiiihhh! Seru ngeliatnya!Saya bisa melihat atraksi itu sambil menyantap makanan di area Food Xchange yang memang mengelilingi BX Rink.

Waktu ke sana, kami disuguhi 3 pertunjukkan. Ada anak kecil yang menari solo bak penari ballet. ada serombongan anak kecil dan dewasa yang berlarian seperti kita melihat lomba sepatu roda, dan ada pertunjukkan ice hockey yang sukses membuat saya jejeritan karena melihat aksi keren mereka sekaligus bikin baju dan celana saya basah. Brrrr....!

Dengan luas ice rink 1.320 m2 dan luas fasilitas pendukung sebesar 1.000 m2 menjadikan BX Rink sebagai arena ice skating terbesar di Indonesia. Bahkan BX rink juga mempunyai skating academy, lho.

BX Rink Skating Academy berada di bawah naungan ISI (Ice Skating Institute) Asia, yang berpusat di Hongkong, dengan nomor member 13-AD092. Program ISI telah berstandar internasional untuk diterapkan di arena es seluruh dunia. Tujuan program, untuk mengembangkan skater yang ingin cepat menikmati aktivitas ice skating sebagai sarana olahraga rekreasi. - sumber: http://kicaubintaro.co.id/bx-rink-bakal-punya-skating-school/ -

Dengan 20 pelatih berpengalaman yang mengantongi sertifikat ISI Asia, siapa tahu di masa depan akan ada anak muda Indonesia yang berprestasi dari arena ice skating. Walopun, Indonesia sendiri bukalah negara bersalju, tapi setidaknya kita sudah memiliki fasilitas yang mendukung.  Tidak ada yang tidak mungkin, seperti cerita di film Cool Running :)
BX Rink Skating Academy

BXc Park


Ada apa aja sih di BXc Park? Di BXc Park, akan ada:

  1. Arrival Court (Drop off)
  2. Main Spine
  3. Maze Garden
  4. Children Playground
  5. Musical Fountain
  6. Koi Pond
  7. Performance Stage
  8. The Grand Lawn
  9. Amphitheatre
  10. Alfresco Dining
  11. Lawn
  12. Fragrant Garden
  13. Flower Meadow
  14. Jogging Track

Puas banget nonton di videotron segede gini. Dan, tiap akhir pekan akan ada hiburan jazz hingga top 40.

Oke, saya gak akan bahas dulu seluruh fasilitas yang ada di BXc Park ini. Apalagi waktu saya ke sana masih taraf dibangun. Diperkirakan sekitar bulan Mei 2014, BXc Park akan rampung seluruhnya. Yang jelas di area The Grand Lawn sudah ada amphitheatre dan terpasang 96 m2 videotron. Bikin nobar disana kayaknya asik. Nonton piala dunia? Atau film?

ECOmmunity memang menjadi konsep kawasan mixed-used ini. 6 hektar dari 25 hektar total kawasan akan dijadikan green belt area dengan berbagai fasilitas pendukung pedestrian walk (untuk pejalan kaki dan pesepeda), seating area, jogging track, panggung, water feature, dan beraneka taman tematik. Seluruh kawasan ini rencanannya akan dikembangkan dalam jangka waktu 15 tahun, terdiri dari shopping centre (Bintaro Xchange Mall), office tower, apartment, hotel, dan  convention centre.

Mall yang berkonsep Ecommunity (Ecology Community) ini, tidak akan lengkap rasanya kalau tenant-tenant Food and Beverages tidak bernuansa Alfresco Dining. Alfresco berarti open air atau udara terbuka. Jadi, Alfresco dining bisa dikatakan bersantap diudara terbuka.
Tentunya tidak semua udara terbuka menjadi teman yang nikmat untuk kita menikmati santapan. Pemandangan yang bagus, taman-taman yang cantik akan membuat kita semakin menikmati santapan yang dihidangkan atau hanya sekedar ngopi di coffe shop.

Saya penasaran akan secantik apa taman ini kalau sudah selesai pembangunannya.

Di Bintaro Xchange Mall, tenant-tenant F&B akan menghadap ke BXc Park. Sekedar duduk dan ngopi sementara anak-anak bermain dan berlarian. Apalagi bakal ada children playgroundnya. Yah, namanya juga masih punya anak kecil Setiap ada children playground, biasanya kami datangi. Karena anak-anak biasanya suka banget.

Bagi warga Bintaro Jaya, keberadaan Bintaro Xchange Mall semakin melengkapi dan memantapkan posisinya sebagai satu-satunya kota mandiri yang terdepan di selatan Jakarta. Sedangkan bagi saya yang warga Bekasi, adanya mall di Jakarta yang ramah lingkungan, rasanya saya siap untuk  "Xplore, Xperience, and the Xcitement" lagi, nih. Yuk!

Continue Reading
33 komentar
Share: