Friday, June 28, 2019

Cara Mudah dan Tepat Mencari Lowongan Kerja

Beberapa hari yang lalu di Twitter lagi ada trending topic dengan hashtag #GajiPertama. Banyak tweet receh yang bikin Chi ketawa dari hashtag tersebut. Tetapi, kalau dibalikin ke diri sendiri, Chi gak ingat gaji pertama buat apa. Ya iya, lah. Udah sekitar 20 tahun yang lalu hehehe.

Lowongan kerja saat ini mulai jadi pembahasan hangat lagi di keluarga besar. Beberapa sepupu Chi ada yang sudah kuliah bahkan udah mulai selesai. Ada juga yang baru diterima kerja. Tetapi, yang level SMA pun ada. 

Nah, buat yang masih SMA pun tetap bisa ikut pembahasan ini. Biar kelak mereka tau seperti apa dunia kerja dan cari mencari lowongan kerja. Berlaku juga untuk Keke yang tahun ini mulai jadi anak SMA, nih!

cara mudah mencari lowongan kerja di glints

Balik sejenak ke zaman Chi cari kerja. Waktu baru lulus kuliah, surat kabar jadi yang paling ditunggu kedatangannya. Satu demi satu iklan baris tentang lowongan kerja dibaca. Seneng banget kalau ada yang sesuai dengan kriteria. 

Mulai deh kirim-kirim lamaran kerja via pos. Dari sekian banyak amplop coklat berisi surat lamaran dan CV yang dikirim, ada beberapa yang mendapatkan panggilan. Bolak-balik ikut proses penerimaan sampai akhirnya diterima di salah satu perusahaan besar.

Kalau mengenang masa itu memang suka bikin ketawa. Apalagi kalau dibandingkan dengan zaman sekarang. Jadi berasa kalau dulu tuh ribet ya untuk urusan cari kerja. Beda ma sekarang yang bisa lebih praktis.

Coba deh lihat info lowongan kerja di glints.com. Ada banyak banget peluang untuk mendapatkan kerjaan di sana. Dengan peluang sebanyak itu, gak perlu juga nyetok sekian banyak amplop coklat dan bolak-balik ke kantor pos buat kirim lamaran kayak yang Chi lakukan dulu.

Di era digital ini mencari pekerjaan bisa semakin praktis. Ada berbagai pilihan kerjaan di situs lowongan kerja. Di Glints, kita tinggal masukin aja kriteria pekerjaan yang diinginkan, skill yang kita miliki, ingin kerja di mana (di luar Indonesia juga ada opsinya), hingga jumlah gaji. Bisa juga kita apply dari berbagai info lowongan kerja yang ada di sana.

Kemudahan kayak begini jangan sampai bikin kita jadi asal-asalan pilih kerjaan, ya. Segala yang masuk kriteria kita apply. Padahal belum tentu tertarik dengan kerjaannya.

Harus banyak pertimbangannya ketika mencari kerja. Contohnya waktu sepupu Chi mendapatkan panggilan kerjaan di Jakarta. Tawaran kerjaan dan perusahannya memang  terlihat oke. Tetapi, sebagai kakak sepupu, Chi termasuk yang cukup cerewet.

“Yakin mau kerja di Jakarta?”

Itu salah satu pertanyaan yang cukup sering Chi tanyain ke sepupu. Bukannya apa-apa, udah beberapa kali kejadian di keluarga begitu dapat kerjaan di Jakarta cuma bertahan sebentar. Alasan yang paling sering adalah gak tahan macet dan panas Jakarta.

Makanya harus dipertimbangkan bener-bener deh kalau mau cari kerja. Sayang kalau kesempatan dibuang begitu aja. Udah keterima, kemudian berhenti karena gak betah. Alhamdulillah sepupu Chi yang ini kelihatannya betah. Anaknya memang lumayan tahan banting hehehe.

Sama sepupu yang lain juga begitu. Macam-macam keinginan mereka tentang pekerjaan. Sebagai kakak sepupu, Chi berusaha kasih masukan. Topik yang cukup menyenangkan untuk dibahas.

Chi juga mulai suka diskusi sama Keke meskipun dia baru masuk SMA. Chi pengen dia mulai tau apa yang menjadi passion-nya. Kerja berdasarkan passion memang lebih enak. 

Kalaupun bukan karena passion, setidaknya dia bisa loyal saat bekerja di perusahaan manapun. Jangan terlalu mudah berpindah-pindah. Makanya harus mulai belajar menimbang-nimbang dari sekarang. 

Ada keluarga atau teman yang lagi cari kerjaan juga. Coba deh lihat infonya di glints.com/id. Semoga bisa mendapatkan pekerjaan yang diimpikan, ya!

Continue Reading
2 comments
Share:

Wednesday, June 26, 2019

3 Cara Hasilkan Uang dari Jalan-Jalan

Siapa sih yang nggak suka jalan-jalan? Semua orang pasti suka jalan-jalan, termasuk Chi. Mau jalan-jalan ke luar negeri atau dalam negeri, semua menyenangkan. Bisa lihat hal-hal baru, budaya baru, orang-orang baru, makanan khas, dan lain sebagainya.

Sayangnya, ada orang yang mengeluhkan kalau jalan-jalan hanya menghabiskan uang. Tapi, apa benar begitu? Bisa iya dan bisa nggak. Iya, jalan-jalan hanya menghabiskan uang kalo kita hanya jalan-jalan, foto-foto, terus pulang.


Padahal teman-teman bisa hasilin uang dari jalan-jalan itu! Gimana caranya? Yuk simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.


1. Ceritakan Pengalaman Jalan-Jalanmu

Suka menulis? Maka, cara menghasilkan uang dari jalan-jalan itu salah satunya dengan cara menceritakan pengalaman selama perjalanan. Teman-teman bisa nulis review restoran, makanan khas, hotel, tempat wisata, atau hal menarik lain yang  ditemui selama liburan.

'Cuma' nulis pengalaman jalan-jalan bisa dapat duit? Yup, bener banget.

Teman-teman pasti tahu Amrazing, Trinity Traveler, dan Gen Halilintar, kan? Mereka bisa menghasilkan uang dari jalan-jalan. Tidak hanya uang, bahkan mereka bisa terkenal banget di Indonesia, bahkan luar negeri.

Tapi ingat ya, teman-teman harus bikin konten yang menarik dan unik agar orang-orang mau membaca cerita perjalanan yang ditulis. Semakin banyak yang membaca cerita perjalanan teman-teman, semakin besar juga peluang teman-teman menghasilkan uang dari jalan-jalan.


2. Publikasikan Cerita Perjalananmu

Setelah teman-teman bikin cerita perjalanan yang unik dan menarik, langkah selanjutnya adalah mempublikasikan cerita yang udah dibuat. Mungkin teman-teman ada bertanya-tanya, media publikasi apa yang paling efektif untuk membagikan cerita perjalanan?

Menurut Chi nih , salah satu media publikasi cerita perjalanan yang paling efektif adalah blog. Kenapa? Karena di blog, teman-teman bisa bebas mau nulis cerita sepanjang apa pun. Teman-teman bisa berkreasi sebebas-bebasnya di blog.

Selain itu, dengan buat blog, teman-teman bisa membangun personal branding yang kuat. Coba lihat travel blogger yang sudah terkenal. Mereka semua punya blog, kan? Nah teman-teman bisa mulai dari blog dulu.

Cara bikin blog pun nggak susah kok. Teman-teman cuma perlu beli domain dan hosting. Teman-teman bisa beli hosting murah dan domain di Niagahoster. Nggak perlu khawatir sama harga, di Niagahoster karena bisa dapat hosting murah dengan kualitas terbaik.

Oiya, di Niagahoster juga banyak promo lho! Teman-teman bisa dapat banyak diskon promosi domain Niagahoster buat beli hosting atau domain sepanjang tahun!


3. Share Ceritamu di Media Sosial

Cerita yang udah teman-teman terbitkan di blog butuh yang namanya exposure. Cara termudah untuk mendapatkan exposure di era digital ini adalah dengan media sosial. Ada banyak media sosial yang bisa teman-teman pake yaitu dari Facebook, Twitter, Instagram, Kaskus, hingga LINE.

Pastikan teman-teman juga join grup-grup yang berkaitan sama traveling dan jalan-jalan di Facebook dan Kaskus ya. Teman-teman bisa membagikan cerita perjalan di grup-grup itu. Selain itu, teman-teman juga bisa berkolaborasi dengan travel blogger lain yang ditemukan di grup Facebook atau Kaskus.

Sudah Siap Mendulang Rupiah dari Jalan-Jalan?

Tentu teman-teman nggak bisa langsung menghasilkan uang dari satu cerita perjalanan saja. Teman-teman harus buat banyak cerita sampai punya banyak pengunjung blog. Setelah itu teman-teman bisa melakukan monetasi blog. Entah itu menggunakan Google AdSense, endorsement, atau kerja sama dengan brand. 

Yuk, ngeblog tentang perjalanan!

Continue Reading
No comments
Share:

Saturday, June 22, 2019

Halalbihalal JNE 2019 dan Berkah di Bulan Ramadan

"Bun, Ayah antar barang dulu."

Kalimat yang paling menyenangkan yang saya dengar selain "Pakeeeet! adalah kalau K'Aie udah bilang mau antar barang. Sama-sama tentang pengiriman barang, tetapi perbedaannya kalau yang satu mengantar sedangkan satunya lagi barang datang.

Kalau kurir udah teriak, "pakeeet!", Chi seneng banget. Udah berasa kayak mau dapat kado ulang tahun. Malah kadang-kadang suka reflek langsung ngintip dari balik gorden kalau ada seruan itu. Eh, gak taunya paketnya dianterin ke rumah tetangga hehehe.

Sudah beberapa tahun ini K'Aie jualan botol minum. Alhamdulillah masih berjalan hingga saat ini. Kami hanya buka toko online. Kalau K'Aie bilang mau mengantar barang, tentunya bukan langsung ke tempat customer. K'Aie akan mengantarkan botol yang dibeli ke JNE.

halalbihalal jne 2019, berkah ramadan, pengiriman logistik terbaik

Kamis (20/6), JNE mengadakan Halalbihalal untuk media dan blogger di Sofia at Gunawarman. JNE ingin memberikan apresiasi kepada para awak media dan blogger karena selalu memberikan support dan turut membantu memberikan citra positif terhadap perusahaan asli Indonesia ini.

Biasanya puncak musim belanja ada di bulan Ramadan atau menjelang hari raya. Kalau dulu, banyak masyarakat yang memenuhi pusat perbelanjaan. Ngabuburit sambil belanja, begitu biasanya.

Dengan semakin menjamurnya online shop, cara berbelanja masyarakat pun mulai berubah. Sekarang mulai banyak yang belanja secara online. Perusahaan logistik seperti JNE pun dibutuhkan.

Menurut bapak M. Feriadi, Presiden Direktur JNE, rata-rata di atas 20 juta per bulan JNE melakukan pengiriman. Tetapi, pada bulan Ramadan, pengiriman melalui JNE mengalami kenaikan hingga 50%. Salah satunya karena dampak peningkatan online shop di Indonesia. Barang-barang yang paling mendominasi selama bulan Ramadan adalah fashion, gadget, dan makanan.

Sesuai dengan dengan tagline "Connecting Happiness", JNE ingin terus melakukan berbagai inovasi baru. Salah satunya adalah dengan membuat sistem pembayaran cashless. JNE terus membangun infrastruktur dan berbagai pelatihan terhadap karyawan. Harapannya pelayanan JNE untuk pengguna semakin baik.

Apa yang terjadi pada bulan Ramadan lalu di mana pengiriman sangat melonjak, membuktikan bahwa semakin banyak masyarakat percaya dengan JNE. Bahkan di bulan Syawal ini pun volume pengiriman masih terus tinggi.

Salah satu online shop yang merasakan peningkatan tajam selama bulan Ramadan adalah Himalaya Outdoor Jakarta yang menjual berbagai perlengkapan outdoor. Andri Susilowati, owner Himalaya Outdoor dan juga member JLC (JNE Loyality Card) mengatakan bahwa usahanya sudah berjalan selama kurang lebih 4 tahun. Produknya buatan sendiri dan hanya membuka online shop di semua e-commerce.

Biasanya pengiriman per hari rata-rata 400 invoice. Selama Ramadan meningkat jadi 2000 invoice. Mbak Andri tidak khawatir dengan pengiriman sebanyak itu karena menggunakan JNE. Barang dipick-up oleh JNE, kemudian dikirim dalam waktu yang cepat.

Turut hadir di acara halalbihalal ini adalah ibu Elly Tan, owner dan sales counter JNE explore yang berlokasi di Tanjung Duren Raya. Ibu Elly menceritakan awal mula menjadi mitra JNE pada tahun 2011 hanya memiliki 2 karyawan. Dengan semakin meningkatnya volume pengirimannya, jumlah karyawannya pun sekarang sudah berjumlah 50 orang.

Dari yang awalnya hanya menerima 10 s/d 25 paket setiap hari, sekarang sudah bisa ratusan paket yang dikirim. Service dan armada yang dimiliki ibu Elly pun semakin bertambah.  Di bulan Ramadan dan Idul Fitri ini terjadi peningkatan sebesar 25%. Pengiriman yang mendominasi adalah fashion muslim.

perusahaan logistik terbaik, apapun belanjanya kirim pakai jne

Semoga saja JNE semakin baik pelayanannya. Terus memberikan kontribusi nyata ke berbagai pihak. Menyesuaikan dengan kebutuhan di era industri 4.0 ini. Aamiin. 

Hayooo siapa yang selama Ramadan ikutan belanja online dan kirim barangnya pakai JNE? Atau malah toko online-nya ikutan kecipratan rezeki lebih juga selama Ramadan?

Continue Reading
34 comments
Share:

Wednesday, June 19, 2019

Agar Tidak Kesepian di Usia Lanjut

Bagaimana caranya agar tidak kesepian di usia lanjut? Katanya, nambah anak lagi!

"Anak-anaknya udah pada gede. Gak pengen nambah anak lagi? Jangan kayak saya. Sepi kalau udah tua, anak-anak udah gede."


Pernah dapat saran seperti itu? Chi pernah banget! Hehehe

Setidaknya ada 2 pendapat bila tau anak-anak Chi udah mulai remaja. Beberapa komentar, "Enak banget ya, anak-anaknya udah pada gede. Udah gak repot lagi orang tuanya." Tetapi, beberapa ada juga yang komen seperti kalimat paling atas. Menyarankan untuk menambah anak lagi supaya gak kesepian kalau nanti kami sudah tua.

Skip dulu pendapat punya anak yang udah gede itu enak. Gak bikin orang tuanya repot. Lagipula Chi udah beberapa kali cerita di blog ini tentang jungkir baliknya mengasuh anak-anak di masa puber.

tips agar tidak kesepian di usia lanjut, aktivitas hari tua

Agar Tidak Kesepian di Usia Lanjut

Image by FuSuSu . from Pixabay

Kali ini, Chi mau bahas tentang masalah kesepian di usia lanjut. Sewot gak ketika disarankan menambah anak? Alhamdulillah enggak. Chi nyengir aja. Kan, cuma disarankan, bukan dipaksa hehehe.


Baper Karena Kesepian


Tentunya Chi belum pernah merasakan bagaimana kesepian di usia lanjut. Usianya belum 'lanjut-lanjut' amat. Hanya sudah masuk kategori usia cantik hahaha! Tetapi, bukan berarti Chi gak pernah baper karena kesepian. Kejadiannya pun setahun yang lalu. Belum terlalu lama.

Gimana gak baper, selama ini Chi jarang banget sendirian di rumah. Paling tidak ada mamah kalau anggota keluarga lainnya lagi sekolah atau ngantor. Begitu pindah rumah, baru deh berasa sendiri saat siang hari.

Apalagi Nai juga mulai jadi anak SMP. Paling enggak, lewat tengah hari baru pulang. Keke malah lebih sore lagi karena sekolahnya jauh. K'Aie tentunya pulang malam karena ngantor. Baper lah Chi karena sendirian di rumah.

Pernah punya asisten rumah tangga, ding. Tapi, sama sekali bukan solusi yang cocok. Malah Chi jadi sering capek hati. Terlalu banyak drama ART 😂.

[Silakan baca: Drama Asisten Rumah Tangga - Si Malas vs Si Rajin]


Solusi Supaya Gak Kesepian di Hari Tua



Punya Hobi

Menggeluti hobi jadi solusi buat Chi buat menghilangkan baper. Saat semua anggota keluarga beraktivitas di luar rumah, biasanya Chi ngeblog atau berselancar di media sosial. Tentunya selain mengerjakan pekerjaan rumah, ya. Menggeluti hobi yang menyenangkan bagi diri sendiri memang bisa jadi obat kesepian. 

Alternatif lain, Chi memilih nonton beberapa serial tv favorit. Dengerin lagu-lagu kesayangan. Malah buat pengusir sepi, kadang-kadang Chi stel lagu dengan volume yang keras trus nyanyi-nyanyi sendiri hehehe.


Berjualan

Berbeda dengan karyawan kantoran, berjualan sepertinya bisa jadi aktivitas tanpa batasan umur. Ini yang dilakukan oleh almarhumah mamah mertua. Sebagai ibu rumah tangga, mamah mertua memang suka berjualan. Gonta-ganti jualannya. Buka salon aja katanya pernah.

Tetapi, yang paling bertahan adalah usaha kuliner. Almarhumah mamah mertua jualan kue yang dititip ke salah satu supermarket. Menurut beliau, berjualan kue itu paling menyenangkan. Bila tidak habis, bisa dimakan sendiri atau dibagi-bagi ke tetangga. "Gak ada istilah mubazir dalam bisnis kuliner," ujar beliau.

Berjualan ini juga bisa berangkat dari hobi. Mamah Chi senang menjahit. Sampai sekarang masih melakukan aktivitas itu. Kadang-kadang juga terima jahitan. Sedangkan almarhumah mamah mertua memang punya hobi bikin kue.


Jalan-Jalan dan Kulineran

Mamah Chi setiap hari memasak. Sedangkan almarhum papah, semakin menjaga pola makan sehat. Tetapi, bila akhir pekan tiba, mamah dan papah 'melanggar' rutinitas itu. Mamah tidak memasak dan papah 'cheating'. 

Mereka berdua jalan-jalan setiap akhir pekan. Seringnya sih kulineran berdua. Tetapi, kadang-kadang sekalian ngemall. Pokoknya udah kayak orang pacaran lagi.

Kurang lebih hal yang saya juga dilakukan oleh mertua. Ketika papah mertua masih sehat, kadang-kadang mereka jalan-jalan. Malah kayak lebih mesra lagi karena memilih naik motor. Kalau orang tua Chi belum pernah tuh berduaan naik motor. Selalu pakai mobil. Kata mamah, "Kalau pakai motor, bisa-bisa papahmu pegel-pegel badannya abis jalan-jalan." 😂


Mengunjungi Anak dan Cucu

Nah ini pernah dilakukan oleh almarhumah nenek. Kalau almarhum kakek pernah, tapi gak sering. Bapak, -panggilan untuk almarhumah kakek-, juga wafat di usia yang belum terlalu lanjut. Ya kayak papah Chi, lah.

Sepeninggal bapak, Emak -panggilan Chi untuk almarhumah nenek-, memilih jalan-jalan mengunjungi anak dan cucu. Lama di rumah mamah dan papah, nanti pindah lagi ke rumah anaknya yang lain. Kadang-kadang pulang ke rumah sendiri. Ya begitu aja terus hingga emak wafat. Chi juga pengennya mamah seperti ini sepeninggal papah.

Chi juga punya tante yang masih melajang hingga usia senja. Kesepian? Alhamdulillah, enggak. Tante dekat dengan keluarga. Jadi meskipun tidak membangun rumah tangga sendiri tetap bisa ramai karena dikelilingi keluarga.


Traveling

Kalau ini dilakukan oleh kerabat suami sepupu saya. Di usia lanjut, sepasang suami istri ini katanya traveling ke mana-mana berdua. Bisa di dalam maupun luar negeri jalan-jalannya. Chi juga pengen sih bisa begini sama K'Aie. Walaupun seru jalan-jalan sama anak-anak. Tetapi, berduaan ma pasangan juga asik! 


Binatang Peliharaan

Almarhum papah seneng pelihara ikan sejak dulu. Bisa berlama-lama kalau di depan kolam ikan. Apalagi kalau udah ngopi sambil baca koran/internetan. Makin lama deh duduk di depan kolam.

Kalau om saya penyayang kucing. Udah kayak punya anak kecil lagi kalau melihat om dan tante saya lagi mengurus kucing hehehe.


Bercocok Tanam

Almarhumah mamah mertua suka banget sama tanaman. Kalau udah mengurus, gak sekadar disiram dan diberi pupuk. Tapi, juga diajak ngobrol tanamannya.

Hobi bercocok tanam menurun ke K'Aie. Memang sampai saat ini Chi belum pernah melihat dia ngobrol ma tanaman. Lha ngobrol ma istrinya aja irit hahaha. Tapi, K'Aie termasuk yang telaten banget sama tanaman. Persis kayak almarhumah mamahnya. Makanya Chi suka bilang kalau halaman rumah udah kayak taman bermain K'Aie. Bisa betah tuh seharian panas-panasan buat mengurus tanaman.


Bersosialisasi

Mamah dan almarhumah mamah mertua tuh rajin ikut kegiatan di lingkungan rumah. Pengajian, PKK, dan aktivitas lainnya. Makanya temannya banyak. Alhamdulillah pada baik-baik juga.

Meskipun demikian, ada baiknya memilih-milih aktivitas. Suka ada kan beberapa aktivitas yang kelihatannya kok malah banyak menghabiskan uang. Makan-makan di sini, arisan di sana, belum lagi setiap ketemuan ada seragaman. Kalau begini bisa-bisa banyakan seragam emaknya daripada seragam sekolah anak-anak. Padahal umumnya penghasilan di usia lanjut sudah tidak sebesar ketika masih produktif 😁.

Dulu, Chi pernah bilang ke mamah dan almarhumah mamah mertua, supaya di rumah aja. Gak usah beraktivitas di luar, lah. Ternyata secara terpisah, keduanya memiliki jawaban yang sama. Supaya jangan pikun.

Menurut mereka, beraktivitas di usia lanjut itu penting. Kalau kebanyakan diam di rumah, nanti malah merasa kesepian banget. Ujung-ujungnya pikun, deh.

Makanya, almarhum papah juga memilih bekerja lagi setelah pensiun jadi pegawai negeri. Alhamdulillah masih ada yang menawarkan pekerjaan. Papah pun masih merasa produktif untuk bekerja. Mamah juga mendukung dengan alasan kalau di rumah justru papah kebanyakan tidur. 

Papah kan udah biasa kerja kantoran. Kalau kelamaan di rumah malah nantinya sakit. Jadi mending tetap punya aktivitas di luar rumah selama masih mampu.

Menurut Chi, menambah anak bukanlah solusi. Bukan berarti Chi menolak rezeki bila dikasih anak lagi, ya. Itu sih lain cerita. Cuma kalau menambah anak hanya dengan alasan supaya gak kesepian di hari tua, kok, rasanya bagaimana gitu.

Namanya punya anak kan gak sekadar bikin, melahirkan, trus buat lucu-lucuan. Memang menyenangkan ketika masih ada anak kecil di rumah. Apalagi kalau udah denger celotehan anak-anak yang memang polos. Rasanya bikin suasana rumah jadi ramai.

Tetapi, punya anak kan juga harus diurus. Makannya, pendidikannya, kesehatannya, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau udah mikirin zonasi PPDB. *Eh! Bagaimana? Bagaimana? 😜

Bersyukur kalau rezekinya ada. Tenaga kita sendiri bagaimana? Yakin masih kuat begadang buat menyusui atau ganti diapers? Udah beda banget lah pasti tenaganya.

Jadi, kalau buat Chi, daripada menambah anak di usia lanjut, mendingan punya aktivitas kayak yang Chi tulis di sini. Setidaknya di lingkungan keluarga Chi sendiri sudah melakukannya. 

Kalau memang tetep pengen ada yang diurus, coba mengurus tanaman atau binatang peliharaan aja. Tetapi, benar-benar yang harus sayang. Jangan sekadar ikut-ikutan. Biar bagaimanapun tanaman dan binatang juga makhluk hidup.

Ada saran lain mengatasi rasa kesepian di usia lanjut?

Continue Reading
44 comments
Share:

Wednesday, June 12, 2019

4 Tips Mencegah Obesitas pada Anak

Pernah kebayang gak bagaimana mencegah obesitas pada anak? Salah satu kekhawatiran orang tua terhadap anak yang umum terjadi adalah urusan pola makan. Biasanya sih orang tua khawatir kalau anaknya udah susah makan. Udah melakukan gerakan tutup mulut. Khawatir berat badannya di bawa normal.

Justru seneng banget kalau makannya mudah. Padahal tetap harus hati-hati juga kalau terlalu mudah makan dan tidak dikontrol malah bisa menimbulkan masalah kegemukan juga, lho.

Di acara halbil lalu, ada salah seorang keluarga yang pangling melihat Keke. Tidak hanya tinggi, tetapi badan Keke dianggap ideal. Berbeda dengan cucunya yang gemuk, padahal seumuran ma Keke. Mulai deh nanya-nanya apa tipsnya supaya badannya bisa seperti Keke.

tips mencegah obesitas pada anak

4 Tips Mencegah Obesitas pada Anak

Keterangan: Keke waktu jadi MC di acara perpisahan kelas

[Silakan baca: Gerakan Tutup Mulut]


Apa itu Obesitas?


Menurut situs IDAI, Obesitas adalah lemak tubuh yang berlebihan yang disimpan dalam tubuh. Obesitas disebabkan oleh energi (kalori) yang masuk lebih banyak dari energi (kalori) yang keluar.

Seseorang termasuk obesitas juga ada cara mengukurnya. Jadi gak hanya melihat seseorang berbadan gemuk, kemudian langsung 'dicap' obesitas. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indikator apakah seseorang memiliki tubuh ideal atau tidak.

IMT = Berat Badan (kg) / (Tinggi Badan (m)) 2

Tetapi, kalau Chi nyaris gak pernah menghitung IMT. Andalannya selalu kurva tumbuh kembang anak yang ada di buku catatan kesehatan anak-anak. Ya, kalau mau lebih detil memang mendingan tanya ke dokter. Pertimbangannya pasti lebih jelas dan terperinci.

Pernah ya ada kejadian waktu Keke berusia di bawah 6 bulan, seseorang 'memaksa' kami supaya mengatur pola makan Keke. Diharuskan diet karena Keke terlihat overweight. Memang bener banget kalau lihat dari grafik pertumbuhan, Keke termasuk overweight untuk anak seusianya. Tetapi, ketika kami konsultasi ke dokter anak, gak langsung didiagnosis overweight.

Kami ditanya dulu pola makan dan asupan Keke bagaimana. Saat itu Keke masih ASI Eksklusif. Justru karena masih ASIX, dokter anak melarang Keke diet. Katanya, gak apa-apa kalau anak yang masih ASIX berat badannya berlebih. Kecuali, kalau Keke sudah diberi asupan lain, tentu wajib diet. Lega deh mendengar penjelasan dokter anak.


Mencegah Obesitas pada Anak Berawal dari Rumah


Pola Makan Teratur dan Sehat

cara mudah mencegah obesitas pada anak
Tampil di acara graduation angkatannya

Harus diakui kalau kadang-kadang kami belum terlalu disiplin dengan pola makan sehat. Ya, kadang-kadang menu sehari-hari kami masih tanpa sayur. Hanya masak lauk. Jajan termasuk jarang. Sebisa mungkin tetap masak untuk makanan sehari-hari. Kalau masak sendiri, Chi merasa lebih bisa mengontrol apa aja yang dikonsumsi oleh keluarga. Senangnya lagi, Keke dan Nai juga bukan anak yang picky eater.

Tetapi, pola makan teratur itu wajib. Apalagi buat Keke. Dia mah telat sedikit. Anaknya gampang masuk angin kalau sampai terlambat makan. Pernah ada yang bilang kalau Keke kok lemah, telat makan aja bisa sakit. Hehehe kalau kami malah melihat dari sisi positifnya. Justru semakin memudahkan kami untuk mengajarkan anak-anak supaya tertib dengan jadwal makan. Kalau sampai malas kan berasa sendiri gak enaknya kayak gimana.

Kalau sedang dalam perjalanan jauh, kami sudah terbiasa membawa bekal. Ke sekolah juga Keke dan Nai masih bawa bekal, ding. Gak tau deh nanti Keke masih mau bawa bekal atau enggak di SMA. Tetapi, setidaknya dia udah terbiasa gak makan sembarangan.

Anak-anak gak melakukan diet apapun. Bundanya aja yang mulai diet karbo hehehe. Pokoknya mereka mah yang penting makan teratur. 

[Silakan baca: 5 Tips Mengajarkan Anak Terbiasa Makan dengan Tertib]


Penggunaan Gadget yang Tidak Berlebihan

Berapa lama waktu yang tepat untuk anak-anak bersentuhan dengan gadget? Sudah banyak artikel yang menulis tentang screen time untuk anak sesuai usia. Silakan googling aja. Tetapi, kalau Chi batasannya jangan sampai terlalu berlebihan.

Ya, kalau melihat Keke dan Nai yang mulai berkacamata, suka feeling guilty juga. Chi suka merasa apa jangan-jangan mereka berlebihan menggunakan smartphone/laptop. Tetapi, Chi juga melihat aktivitas sehari-sehari mereka masih banyak yang jalan alias gak mager juga.

Gadget memang bisa bikin kita mager kalau gak dikontrol pemakaiannya. Udahlah bikin malas bergerak, ditambah lagi kalau pakai ngemil. Tau-tau panik berat badannya nambah hehehe. Tetapi, Chi juga gak mungkin melarang anak-anak untuk tidak mengenal gadget. Sekarang penggunaanya tidak sekadar untuk hiburan. Tugas sekolah aja udah ada beberapa yang menggunakan laptop. Bahkan UNBK pun pakai laptop.

[Silakan baca: Anak Generasi Gadget Juga Bisa Lupa Gadget]


Berolahraga dengan Teratur

agar anak tidak obesitas
Waktu ikut sekolah balap motor

Waktu masih tinggal di Bekasi, Keke dan Nai latihan taekwondo seminggu sekali. Udah setahunan ini berhenti karena belum tau mau latihan di mana setelah pindah. Sayang juga padahal karena udah sekian tahun ikut Taekwondo. Sebelumnya anak-anak pernah kursus berenang seminggu sekali.

Sebelum pindah malah setiap sore, kecuali akhir pekan wajib berolahraga di kompleks. Boleh lari atau sepedaan. Di sini agak berkurang olahraga karena bukan lagi tinggal di komplek. Kurang nyaman kalau mau olahraga di dekat rumah. Enakan jalan ke GOR dulu. Tetapi, paling seminggu sekali.

Berat badan Keke saat ini lagi agak menggemuk. Sebetulnya masih termasuk ideal. Tetapi, karena dia juga kadang-kadang ikut balap motor, sebaiknya badannya lebih kurus lagi. Sekitar 1-2 bulan ini memang dia jarang berolahraga karena sibuk ikut bimbel untuk menghadapi UNBK. Setelah itu mulai masuk bulan Ramadan.

[Silakan baca: Belajar Menjadi Pembalap Motor di 43 Racing School]

Sekarang dia mulai rajin olah raga lagi. Itupun atas kesadaran sendiri. Chi udah gak perlu memaksa dia untuk rutin olahraga. Ya kalau udah kebiasaan, jadinya dengan sendirinya juga dia rutin berolahraga. Biasanya Keke memilih lari setiap hari atau 2 hari sekali.


Istirahat yang Cukup dan Jangan Begadang

Setiap kali libur sekolah, selalu aja jadi PR untuk meminta mereka tidur cepat. Kalau lagi libur sekolah, mereka bisa tidur di atas pukul 11 malam. Padahal kalau hari sekolah, pukul 9 atau setelatnya pukul 10 malam udah dengan kesadaran sendiri tidur.

Semakin larut kita tidur juga bisa bikin berat badan naik. Biasanya menjelang tengah malam suka lapar lagi. Mulai deh tuh cari camilan. Kalau perlu malah makan berat. Beberapa tahun lalu, Chi pernah kayak gitu. Nikmat banget deh makan nasi uduk dan pecel ayam hampir setiap tengah malam kemudian lanjut tidur. Baru menyesal setelah berat badan naik lumayan banyak. 😂

Sekarang mulai kejadian sama anak-anak, terutama ma Keke. Nyaris tengah malam, dia suka makan lagi. Padahal baru aja makan malam. Untungnya setelah lebaran ini dia mulai rutin olahraga setiap sore. Mudah-mudahan aja setelah nanti mulai sekolah, jam tidurnya mulai cepat lagi.

Pola makan, kontrol waktu penggunaan gadget, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup memang koentji! Kenapa semua berawal dari rumah? Karena untuk konsisten menjalankan 4 tips itu enaknya memang dari rumah.

Beberapa kali Chi harus tegas sama mereka. 'Memaksa' mereka untuk mau berolahraga. Berkali-kali smartphone disita karena tidak disiplin. Belum lagi ngomelnya. Wah, itu mah panjang deh kalau Chi udah ngomel. 😂

Semua demi kesehatan mereka juga. Punya berat badan ideal buka semata-mata untuk mencari pujian, tetapi biar sehat. Soalnya pernah juga ada anak tetangga yang harus dioperasi lututnya karena obesitas. Pastinya gak berharap Keke dan Nai mengalami kejadian yang sama. Mendingan mencegah daripada kejadian, kan. Makanya Chi cukup tegas mengingatkan mereka tentang hal ini.

Keke itu sejak lahir sudah cukup besar yaitu 3,99 kg. Kalau Nai sekitar 3,5 kg. Kalau gak disiplin, Keke agak mudah bertambah berat badannya. Kalau Nai persis kayak Chi dulu. Mau makan banyak juga segitu aja berat badannya. Tetap kurus, susah naiknya. 

Tetapi, begitu Chi punya anak kedua, mulai kebalikannya. Sekarang makan sedikit aja kayaknya gampang naik berat badannya hehehe. Makanya mendingan Nai mulai disiplin dari sekarang meskipun berat badannya segitu-gitu aja, deh.

Itu aja sih 4 tips mencegah obesitas pada anak versi keluarga kami. Ada saran lain? 😊

Continue Reading
78 comments
Share: