Saturday, October 24, 2020

5 Cara Mudah Mempersiapkan Makanan untuk Orang Tua yang Sibuk

5 Cara Mudah Mempersiapkan Makanan untuk Orang Tua yang Sibuk

5 Cara Mudah Mempersiapkan Makanan untuk Orang Tua yang Sibuk. Menyiapkan makanan sendiri untuk seluruh keluarga merupakan hal yang penting untuk dilakukan, meskipun kita sedang sibuk dengan pekerjaan. Memasak makanan di dalam kompor gas tentunya lebih terjamin kebersihan dan nilai gizinya jika dibandingkan dengan makanan siap saji atau yang dibeli di luar. Menyiapkan makanan sendiri juga akan meminimalisir kemungkinan terkontaminasi bakteri atau virus dari luar, sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi keluarga.

Namun, bagi orang tua yang sibuk, menyiapkan makanan untuk keluarga bisa menjadi tantangan tersendiri. Jika tidak diatur dengan benar. Menyiapkan makanan bisa sangat menyita waktu dan dapat memengaruhi waktu kerja. Untuk itu, bagi para orang tua yang sibuk, sebaiknya simak dulu 5 cara mudah menyiapkan makanan berikut ini.


1. Membuat Rencana Menu Masakan


Langkah awal untuk menghemat waktu saat mempersiapkan makanan adalah membuat rencana menu masakan. Teman-teman dapat membuat menu masakan selama satu minggu ke depan di waktu luang teman-teman, misalnya di hari Sabtu atau Minggu.

Dengan membuat rencana menu ini, teman-teman tidak perlu bingung mau mempersiapkan makanan apa di saat hari kerja, tinggal eksekusi rencana yang telah dibuat sebelumnya. Buatlah menu yang bervariatif agar teman-teman dan keluarga tidak bosan. Sesuaikan juga dengan kebutuhan gizi dan selera keluarga.

Cobalah untuk berkreasi dengan menu yang dibuat dan tetap mengutamakan menu yang sehat. Misalnya untuk hari Senin teman-teman merencanakan menu sayur dan ikan, Selasa menu dengan protein daging merah, Rabu dengan kacang-kacangan, dan sebagainya.


2. Berbelanja Bahan Makanan Sesuai Rencana Menu


Langkah berikutnya setelah membuat rencana menu adalah berbelanja bahan makanan. Buatlah daftar bahan makanan apa saja yang akan dibeli dengan melihat rencana menu untuk satu minggu kedepan. Untuk dapat menghasilkan masakan yang enak, pilihlah bahan makanan yang segar dan kualitasnya baik.

Saat membeli daging ayam atau ikan, mintalah penjual atau pegawai toko untuk membersihkan dan memotong-motong daging terlebih dahulu. Tujuannya untuk mempersingkat waktu saat mempersiapkan makanan. Perhatikan juga cara penyimpanan bahan makanan setelah berbelanja. Pilih dan pilah bahan makanan apa saja yang harus disimpan dalam lemari es.


3. Mempersiapkan Bahan Makanan


Langkah penting selanjutnya dalam mempersiapkan makanan agar lebih praktis dan hemat waktu bagi teman-teman yang sibuk adalah mempersiapkan bahan makanan yang akan diolah. Mempersiapkan bahan makanan di sini maksudnya adalah membersihkan dan memotong sayuran dan bahan makanan lainnya yang akan digunakan untuk memasak, misalnya jamur, bakso, atau sosis. Untuk daging ayam atau ikan, teman-teman dapat menyimpan dalam keadaan sudah dipotong-potong dan dibumbui, jadi teman-teman tinggal menggorengnya. Untuk daging sapi, sebaiknya disimpan dalam keadaan segar tanpa dibersihkan terlebih dahulu.


4. Membuat Stok Bumbu Halus


Langkah selanjutnya agar mempersiapkan makanan lebih praktis dan cepat adalah membuat bumbu halus dalam jumlah banyak untuk stok. Gunakan blender untuk menghaluskan bumbu dalam jumlah banyak. Stok bumbu halus dapat disimpan dalam wadah tertutup rapat di dalam kulkas. Selain bumbu inti, teman-teman juga dapat menyiapkan bumbu kemiri atau bumbu pedas.


5. Menyimpan Bahan Makanan yang Telah Disiapkan dengan Baik


Bahan makanan yang sudah dibersihkan, dipotong-potong, atau bumbu yang telah dihaluskan sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup atau wadah kedap udara. Teman-teman dapat menggunakan wadah plastik tebal dengan kualitas food grade atau wadah kaca dengan tutup.

Berilah label tanggal penyimpanan pada tiap wadah. Jadi teman-teman dapat mengatur untuk memakai bahan yang lebih lama disimpan terlebih dahulu. Masukkan bahan makanan dalam wadah-wadah tersebut dalam kulkas atau freezer. Saat akan memasak, teman-teman tinggal mengambil bahan yang sudah siap tersebut sehingga proses mempersiapkan makanan menjadi lebih cepat.

Dengan melakukan lima langkah di atas, teman-teman tidak hanya dapat menghemat waktu untuk mempersiapkan makanan, tetapi juga dapat menyediakan menu sehat untuk keluarga meskipun sedang sibuk bekerja. Selain itu, mempersiapkan makanan sendiri juga dapat membuat teman-teman lebih berhemat. Luangkan beberapa jam di akhir pekan khusus untuk mempersiapkan bahan makanan sehingga dapat mempersiapkan makanan dengan lebih cepat di hari kerja.

Wednesday, October 21, 2020

Obrolan Tentang Pandemi Bersama Remaja

Obrolan Tentang Pandemi Bersama Remaja

Obrolan tentang pandemi bersama remaja. Kalau aja gak ada pandemi COVID-19 ...
 
Mungkin saat ini Chi lagi sering menghubungi Keke via telpon atau WA. Mengingatkan dia untuk jangan pulang kemalaman. Trus, Chi suka ngomel-ngomel kalau Keke gak angkat telpon atau balas WA dengan cepat. Padahal dia lebih gercep kalau di-DM lewat Instagram. Begitulah anak generasi Z hehehe.
 
obrolan tentang pandemi bersama generasi z
Komunikasi Terbuka Antara Orang Tua dan Remaja


Keke lagi senang-senangnya ke coffee shop. Seringkali alasannya bukan untuk nongkrong, tetapi buat belajar. Alasannya kalau belajar di rumah, godaan magernya lebih kuat. Selalu pengen main game. Atau malah ngantuk melulu tiap kali lihat kasur. Makanya enakan belajar di coffee shop atau ke perpustakaan nasional.

Iya, Keke juga seneng banget ke Perpusnas. Dia bahkan suka ngajakin Chi untuk sama-sama ke sana. Katanya, tempatnya keren dan asik buat belajar. Tetapi, Chi belum sempat juga ke sana.

Seandainya gak ada pandemi ...

Bisa jadi saat ini Chi lagi gencar mengingatkan Nai untuk tetap disiplin makan dan istirahat. Bila sesuai rencana, harusnya bulan ini sekolahnya mengadakan lomba paskibra tingkat nasional. Nai terpilih sebagai ketua panitia.

Tahun lalu, saat dia menjadi panitia seksi dokumentasi aja udah sibuk banget. Apalagi kalau dia jadi ketua. Pasti Chi bakal lebih bawel lagi mengingatkan Nai tentang pola makan dan istirahat.


Berharap Masa Remaja Tidak Hilang


Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
 
Sepenggal lirik lagu jadul dari Paramitha Rusady yang berjudul "Nostalgia SMA". Ada yang tau atau bahkan hapal lirik lagu itu? Berarti usia kita sama hahaha!
 
Masa remaja memang masa yang seru. Bagi orang tua, ketika anak memasuki masa remaja mungkin bakal merasakan jungkir balik. Anak mulai merasakan puber, cinta monyet, kenakalan-kenakalan kecil yang sifatnya bukan kriminal, dan lain sebagainya.
 
Beberapa kekhawatiran Chi di saat ini memang ada yang berkurang. Misalnya tentang pergaulan remaja. Suka agak ngeri ya dengan kebebasan pergaulan zaman sekarang. Nah dengan mereka ada di rumah terus selama pandemi COVID-19, setidaknya Chi lebih bisa mengawasi.

Khusus untuk Keke, Chi suka khawatir dengan tawuran. Yakin banget kalau secara pribadi, Keke gak pernah mau tawuran. Selama ini pergaulannya juga kelihatannya positif. Tetapi, bagaimana kalau terjebak di jalan? Apalagi siswa laki-laki lebih berisiko. Udah banyak cerita di media, siswa berseragam jadi korban. Duh!

Saat pandemi melanda, tentu kekhawatiran akan tawuran menjadi hilang. Ini salah satu yang sebetulnya bisa disyukuri. Ya berusaha ambil sisi positifnya aja.

Tetapi, ya sedih juga kalau mikirin setidaknya dalam kurun waktu 1-2 tahun ini mereka akan menghabiskan masa remaja dengan cara yang berbeda. Padahal mereka sedang senang-senangnya beraktivitas dan bergaul. Trus, tau-tau seperti berhenti begitu saja. Chi khawatir masa remaja yang seharusnya dijalankan dengan senang menjadi hilang.

Kalau menurut Saskhya Aulia Prima M.Psi, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, di saat pandemi ini Generasi Z rentan terkena stress. Memang tetap bisa berkomunikasi dengan teman secara virtual. Tetapi, tetap aja rasanya ada yang berbeda. Perlu melakukan sesuatu supaya kesehatan mental mereka tidak terganggu.  
 

 

Meningkatkan Bonding dengan Anak Selama Pandemi

 

Di saat Keke dan Nai mulai sibuk dengan kegiatan di luar rumah, Chi sempat baper banget. Jam sekolah mereka semakin panjang. Udah gitu masih ditambah lagi dengan berbagai kegiatan. Sehingga mereka gak langsung pulang ke rumah setelah sekolah usai.

Baper banget lah Chi jadinya karena merasa kesepian. Tetapi, lama-lama mulai bisa menerima bahkan menikmati. Meskipun tetap ada rasa khawatir kalau semakin lama bonding dengan anak semakin longgar.

Ya karena semakin jarang ngobrol bareng. Meskipun teori idealnya kan yang penting quality time, bukan quantity. Tetapi, tetap aja kekhawatiran itu timbul.

Insya Allah pandemi akan berakhir. Meskipun gak tau kapannya. Tetapi, mungkin ketika sudah berakhir, anak-anak akan kembali sibuk beraktivitas.

Makanya di saat pandemi ini, Chi berusaha memaksimalkan lagi bonding dengan anak. Merasa dapat dikasih kesempatan banget bisa setiap saat sama mereka. Seperti ketika anak-anak masih pada kecil. 
 


Belajar Memahami Dunia Generasi Z di Saat Pandemi


Meningkatkan bonding dengan anak itu prosesnya gak instan. Ada kalanya juga turun naik. Sehingga kami harus tarik ulur. Meskipun kadang-kadang, Chi terbawa emosi juga.

Di awal pandemi, Keke sempat berontak. Merasa kebebasannya jadi terbelenggu. Alhamdulillah, sekarang dia mulai enjoy. Eh, giliran Nai yang mengalami masalah karena ambisinya. 
 
[Silakan baca: Nai dan Ambisinya]

Berkomunikasi dengan mereka masih menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk memahami. Berkomunikasi dengan anak remaja, tentu berbeda dengan saat mereka masih anak-anak.

Harus semakin banyak mendengarkan. Bahkan kalau perlu dipancing untuk menemukan solusinya. Karena kadang-kadang mereka sebetulnya udah tau kok solusinya seperti apa. Hanya mungkin saja masih ragu, pengen dipahami, atau ada alasan lain.

Bunda: "Dek, dulu kan Adek bilangnya betah belajar di rumah. Sekarang, malah pengen balik belajar di sekolah?"
Nai: "Sebetulnya Ima lebih betah belajar di rumah, Bun."
Bunda: "Trus, kenapa waktu itu bilang gak suka ma PJJ?"
Nai: "Ima cuma kangen sama ekskul."
Bunda: "Kangen sama temen-temen?"
Nai: "Ya temen-temen, ya ekskulnya."
Bunda: "Tapi, Adek masih suka ngobrol ma temen-temen kan lewat medsos atau apa gitu?"
Nai: "Masih. Cuma kan tetap aja beda."

Singkat cerita, tidak bisa lagi ikut ekskul menjadi sebuah kemarahan buat Nai. Bisa sangat dimaklumi. Mengingat Nai sangat menyukai paskibra. Lagi semangat-semangatnya beraktivitas, tau-tau harus berhenti begitu aja. 
 
Kalau pun saat ini, para siswa sudah boleh masuk sekolah, tetap aja Nai gak akan bisa ikut ekskul lagi. Kebijakan sekolah kalau udah kelas 9 gak ada kegiatan ekskul. Makanya Nai menjadi sangat sedih dan marah.

Bunda: "Bunda paham kemarahan Adek. Tetapi, kemarahan gak bisa terus dipendam. Ya anggap aja berarti udah gak bisa ikut ekskul lagi selama SMP. Trus, Adek biasanya gimana kalau lagi marah?"
Nai: "Ima nge-design."
Bunda: "Oh, jadi kalau Adek sibuk nge-design itu sebetulnya lagi marah?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Kalau baking gimana?"
Nai: "Ima gak pernah baking kalau lagi marah."
Bunda: "Oh gitu. Alhamdulillah. Adek menyalurkan kemarahan dengan cara positif. Banyak sabar juga ya, Dek. Insya Allah, gak akan seterusnya seperti ini." 
 
[Silakan baca: Nai dan Hobi Baking]

Akhir-akhir ini, Nai lagi sering terlihat mendisain. Platformnya macam-macam misalnya Canva, Power Point, dan lain sebagainya. Dari dulu, Nai memang sudah senang menggambar dan berkreasi. Tetapi, sekarang lebih suka berkreasi di dunia digital. Makanya, Chi sempat berpikir, dia melakukan itu karena memang hobi.

Rupanya hobinya yang satu ini dijadikan penyaluran kemarahan. Tugas sekolah buat presentasi, dia design dulu. Padahal diketik di Word aja udah cukup. Kalau lagi gak ngerjain tugas sekolah, dia design menggunakan foto-foto artis Korea yang lagi jadi favoritnya. *Jangan tanya Chi siapa artis favoritnya, ya. Gak pernah hapal naman-namanya hehehe.

Buat Chi gak apa-apa lah. Setidaknya penyaluran kemarahan dia itu positif. Tetapi, tentunya tetap harus diajak ngobrol secara berkala.

Gak harus sama bundanya. Saat ini, Nai lebih terbuka kalau ngobrol sama ayahnya. Gak apa-apa juga. Bundanya harus tahan baper hihihi. Tetapi, yang penting kan dia mau terbuka dengan salah satu orang tuanya.

Bagaimana dengan Keke?

Sama Keke Chi lebih sering ngobrol dan berdiskusi. Karena dia juga anaknya lebih blak-blakan. Makanya kami berdua suka dianggap Tom n Jerry sama K'Aie. Abisnya suka heboh deh kalau lagi berdua. Entah itu ngobrol, becanda, dan kadang-kadang ribut juga hahaha.

Keke: "Bun, kalau nanti Keke kerja gak berdasarkan passion gak apa-apa?"
Bunda: "Kenapa gitu?"

Keke cerita, sejak pandemi ini dia mulai berpikir untuk tidak jadi orang yang terlalu idealis. Padahal sampai kelas X, dia masih ngotot banget pengen kuliah di jurusan musik. Kalau gak ambil jurusan musik, dia mau kuliah di Fakultas Sastra Indonesia. Alasannya masih ada hubungannya dengan musik. Keke suka menulis puisi. Dia berharap dengan kuliah di fakultas sastra akan menambah skillnya.

Kalau kuliah di Fakultas Sastra Indonesia, Chi gak keberatan. Tetapi, kalau bisa jangan ambil jurusan musik. Meskipun gak pernah melarang kalau kelak dia mau berkarir di dunia musik.

Pandemi mulai mengubah pandangannya. Menurutnya, kalau nanti dia lulus kuliah dan dapat tawaran kerja yang bagus bakal diterima. Meskipun bukan passionnya. Nanti kalau udah merasa sukses secara materi, baru deh dia kejar passion. Nah, karena Bundanya ini sering kali bilang pentingnya punya passion, Keke merasa perlu minta izin dulu.

Bunda: "Sebetulnya gak apa-apa, Ke. Ada juga 'kan yang benar-benar memisahkan kerjaan dengan passion. Meskipun katanya sih idealnya itu kerja yang berdasarkan  passion itu lebih nikmat. Tetapi, kan prakteknya kembali ke masing-masing."

Kemarahan Keke tentang kebebasan yang terbelenggu karena pandemi bisa dikatakan sudah mulai reda. Bahkan dia bisa lebih sabar saat hpnya kecebur dan mati total sampai sekarang. 

Bunda: "Keke masih marah dengan pandemi?"
Keke: "Enggak lah, Bun."
Bunda: "Tapi, ini kan belum kelihatan ada tanda-tanda usai. Kalau sampai tahun depan masih sekolah di rumah gimana?"
Keke: "Keke percaya aja semua bakal berakhir. Cuma, gak tau kapannya. Lagian manusia tuh harusnya makhluk yang paling bisa beradaptasi. Jadi, kalau sampai sekarang masih harus di rumah ya gak apa-apa."

Ya Allah, sering kali Chi suka pengen nangis kalau udah ngobrol ma Keke dan Nai. Chi suka sedih kalau melihat masa remaja mereka harus dilalui seperti ini. Tetapi, meskipun kadang-kadang mood yang up and down, mereka tuh dewasa juga.

Bahkan malah Chi merasa suka kurang tegar sebagai ibu. Ya karena melihat kedewasaan cara berpikir dan sikap mereka. Chi jadi suka tertampar sendiri. Sekaligus sangat bersyukur memiliki Keke dan Nai.

Ya alih-alih ingin mengajak mereka berdiskusi supaya bisa lebih memahami dunia generasi Z. Malah kadang-kadang Chi yang jadi banyak bersyukur. Chi bisa lebih memahami dunia remaja. Tetapi, juga merasa dikuatkan oleh mereka. Alhamdulillah.
 

Tuesday, October 13, 2020

Cerita Keluarga KeNai di ID Photobook

Cerita Keluarga KeNai di ID Photobook

Setelah lulus SMA, Chi pernah kepikiran mau ambil kuliah di Jurnalistik. Sebetulnya bukan karir wartawan yang diinginkan. Tetapi, kegiatan memotretnya yang diincar. Pikiran sederhana Chi saat itu adalah kalau jadi wartawan bakal sering memotret. Padahal karir jurnalistik kan luas juga, ya hehehe.
 
cetak photobook di id photobook

Cerita Keluarga KeNai di ID Photobook

 
 
Chi pengen banget kuliah photography. Tetapi, mamah dan papah berharap banget anak pertamanya ini bisa kuliah di fakultas teknik. Ketika, Chi memilih fakultas ekonomi pun reaksinya terlihat kurang antusias.

Sayangnya, Chi juga bukan tipe anak yang terbuka. Chi gak berani bilang mau kuliah di photography. Makanya sempat kepikiran ke jurnalistik. Tetapi, tetap gak berani ngomong juga.Fakultas ekonomi dipilih sekadar merasa ini jalur yang aman karena sedang tidak ingin belajar eksak. Meskipun di SMA masuk jurusan IPA. 


Fotografi Selalu Menarik


cetak foto di id photobook
Foto K'Aie waktu di Everest. Berarti ketahuan 'kan siapa yang mempengaruhi kami sekeluarga jalan-jalan di alam terbuka.

Enggak, Chi gak sedang menyesali nasib. Apalagi kesel sama orang tua, kok. Kejadian itu udah lama sekali berlalu dan Chi merasa baik-baik aja. Cukuplah dijadikan pelajaran, untuk menjadi orang tua yang mau memahami passion anak. Setidaknya sering berdiskusi dengan anak.

Di postingan ini, Chi ingin bercerita kalau sejak dulu hingga sekarang dunia fotografi memang selalu menarik. Meskipun gagal kuliah di jurusan ini, Chi coba untuk belajar secara otodidak. Selalu menyisihkan uang jajan untuk beli majalah fotografi.

Gak hanya beli majalah fotografi. Chi juga sering beli roll film hingga cuci cetak foto dengan menggunakan uang sendiri. Dari dulu sampai sekarang, sering bawa kamera ke manapun.

Chi dan K'Aie pernah membuat kumpulan foto dari lahir hingga menjelang pernikahan. Foto-foto tersebut kemudian ditampilkan di big screen melalui projector saat pernikahan kami. Seneng banget melihat perubahan penampilan kami dari masa ke masa. Hingga akhirnya ke pelaminan.

Sekarang, minat Chi untuk belajar fotografi gak sebesar dulu. Paling yang gak berubah tuh hobi motretnya. Tetap aja masih suka bawa kamera ke mana-mana.

Seneng banget ketika Keke memilih ekskul fotografi di sekolahnya. Bahkan terpilih menjadi ketua angkatan. Sebelum pandemi, dia pernah menang salah satu lomba foto. Hadiah uangnya lumayan banget. Terbayar deh usaha dia menerjang banjir besar Jakarta di awal tahun ini untuk hunting foto. Bahkan besoknya sampai sakit hehehe.
 
Dari selembar foto memang bisa memiliki banyak kenangan. Sejak punya anak, Chi semakin sering motret, terutama motretin anak-anak. Seneng banget melihat tumbuh kembang mereka melalui foto. Melihatnya saja udah menimbulkan berjuta kenangan.
 
 

Cetak Foto di Era Kamera Digital 


id photobook

Di era kamera digital ini, mengumpulkan foto jauh lebih mudah. Tinggal jeprat-jepret, gak perlu mikirin berapa banyak uang yang dikeluarkan. Beda banget 'kan dengan zaman masih roll film. Isi 36 tuh disayang-sayang banget.

Gak mungkin deh kayak zaman sekarang yang untuk 1 pose aja jepretan fotonya bisa puluhan sampai ratusan. Kalau dulu tuh posenya harus dipastikan pas dulu biar gak buang-buang roll film. Mahal, uy!

Bakalan puas banget kalau semua hasilnya bagus. Tetapi, nyengir garing dan pasrah aja kalau fotonya ngeblur, kebakar filmnya, atau gayanya gak pas. Duh, kenangan yang gak terlupakan banget, ya hahaha!

Saking mudahnya memotret di zaman sekarang, membuat Chi jadi rutin menyortir. Kalau enggak gitu, nanti penuh kapasitas memorinya. Tentu aja foto yang dipertahankan adalah yang bagus dan memiliki cerita.

Beberapa foto blur memang ada yang dipertahankan. Biasanya karena foto tersebut memiliki cerita. Bisa bikin tertawa saat melihatnya dan menimbulkan kenangan yang indah. Sayangnya gak ada foto yang jelas. Jadi tetap sayang untuk dibuang.

Chi masih mencetak foto sampai sekarang. Karena melihat berbagai foto di album jauh lebih asik. Tetapi, gak mungkin juga ya mencetak semuanya. Terlalu banyak jumlahnya. Makanya, foto-foto yang dicetak bisa dikatakan best of the best.

Selain best of the best, photobook yang dicetak semuanya dikasih judul. Sampai saat ini udah ada 3 album yaitu
 
  1. 2007 Jalan-Jalan KeNai
  2. 2008 Jalan-Jalan KeNai
  3. KeNai's Family
 
Memang rencananya Chi mau bikin edisi album foto Jalan-Jalan KeNai setiap tahun. Tapi, gak sempat melulu sortir fotonya karena jumlahnya lumayan banyak. 

Awalnya, kepikiran untuk membuat berdasarkan destinasi yang pernah dikunjungi. Misalnya saat keliling pulau Jawa. Tetapi, setelah dipikir lagi kayaknya enakan bikin per tahun. Pilih beberapa foto jalan-jalan yang paling berkesan. 


Berbagai Kenangan di Album Foto KeNai's Family 

 
review id photobook
Keke waktu masih bayi. Kalau yang baju kuning, itu Nai saat bayi
 
 
Album ketiga, Chi namakan KeNai's Family. Udah lama juga ingin punya rangkuman album tentang keluarga kami.

Untuk album KeNai's Family ini, foto-fotonya mulai dari tahun 2004 s/d 2018. Lumayan juga menyortir kumpulan foto selama 14 tahun menjadi 1 album. Tetapi, Chi puas dengan hasilnya. Ada banyak cerita yang terangkum dalam 1 photobook ini.

Di halaman awal ada foto Keke waktu masih bayi. Lahir dengan berat badan 3,99 kg memang membuat Keke terlihat besar. Sempat disangka overweigt oleh salah seorang kerabat. Bahkan Chi sempat dipaksa untuk membuat Keke diet. Padahal saat itu Keke masih ASI Eksklusif.

Untungnya Chi cuek. Terserah aja lah orang mau ngomong apa. Percaya apa kata dokter aja. Dan dokter anak mengatakan gak perlu diet selama masih ASI eksklusif meskipun berat badannya di atas rata-rata. 

Melihat perubahan anak-anak dari masih bayi hingga remaja di album ini memang menyenangkan banget. Tidak hanya itu, beberapa foto perjalanan juga ada di sana. Semacam mengingatkan kalau kami ini keluarga yang bahagia. Ya semoga aja akan selalu seperti itu.


ID Photobook Selalu Jadi Andalan


persiapan travelincetak foto keluarga di id photobookg agar perjalanan aman dan menyenangkan
Keke mulai puber. Badannya mulai mengurus
 
Ketiga photobook yang sudah kami miliki ini dicetak di ID Photobook. Awalnya, Chi cetak 2 album dulu yang tentang jalan-jalan. Eh, kok, bagus banget hasilnya. Langsung deh saat itu juga pengen cetak foto lagi. Tetapi, gak sempat sortir fotonya terus.

Padahal ya kalau udah disortir, tinggal diserahin aja ke ID Photobook. Urusan design biar mereka yang mengerjakan. Sejauh ini, Chi puas dengan hasilnya.

Ketika ada keinginan untuk cetak foto lagi, Chi udah gak mau cari-cari jasa photobook lagi. Langsung aja lah ke ID Photobook. Pengalaman pertama udah memuaskan.

Dan, prosesnya masih sama seperti sebelumnya. Cepat, praktis, serta pelayanan yang ramah. Harga juga menurut Chi masih ramah di kantong. Malah suka ada promo-promo gitu. Coba deh teman-teman kepoin akun media sosial ID Photobook.

Pastinya masih pengen cetak foto lagi di sini. Belum pernah mengecewakan. Untuk album keempat, kayaknya Chi bakal melanjutkan tema jalan-jalan. Masih banyak foto traveling Keluarga KeNai yang belum dicetak di photobook.
 

Saturday, October 10, 2020

Waspada, Botol Minum Kotor Bisa Bikin Diare, Ini Penyebabnya

Waspada, Botol Minum Kotor Bisa Bikin Diare, Ini Penyebabnya

Pemenuhan cairan tubuh harus dilakukan dan diusahakan semaksimal mungkin. Sebab, bila tubuh kekurangan cairan bisa-bisa menyebabkan munculnya dehidrasi. Bila bertambah parah akan memicu terjadinya komplikasi berbagai penyakit organ penting.

penyebab botol minum kotor bisa bikin diare

Waspada, Botol Minum Kotor Bisa Bikin Diare, Ini Penyebabnya



Salah satu cara memenuhi kebutuhan cairan tubuh adalah dengan membawa minum kemanapun pergi. Meskipun demikian, minum yang dibawa sebaiknya air putih, bukan minuman dengan berbagai macam warna dan rasa.

Kebiasaan membawa minum saat berpergian tentunya baik. Tapi, sayangnya seringkali seseorang menilai bahwa botol minum yang hanya diisi dengan air putih tidak perlu dicuci karena tidak terlihat kotor. Padahal, botol yang terlihat bersih itu bisa jadi dihinggapi bakteri serta virus tidak terlihat. Salah satu virus atau bakteri yang bersarang di botol minum bisa menjadi penyebab datangnya diare.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh World Health Organization, diare merupakan bahwa salah satu penyakit dengan tingkat kasus kematian terbanyak, yakni sekitar 4% dari seluruh kasus kematian di dunia. Diperkirakan setiap tahunnya seseorang bisa mengalami 3 hingga 6 kali diare dan 2,2 juta orang diantaranya meninggal dunia. WebMD melaporkan jika usia balita hingga anak sekolah dasar merupakan golongan yang paling rentan terkena diare.


Apa Akibatnya Jika Botol Minum Jarang Dicuci?


Seorang ahli meneliti terkait jenis-jenis mikrobakteri yang terdapat di sebuah botol minum. Hasilnya sangat menakjubkan yaitu kurang lebih 300.000 unit bakteri berkoloni dan bersarang di botol minum. Meskipun tidak semua bakteri tersebut membahayakan tubuh, namun lebih dari 60 persennya masuk ke dalam golongan bakteri yang berbahaya. Termasuk bakteri penyebab diare, seperti E.Coli serta streptococcus.

Untuk itu, para ahli tidak menyarankan anak-anak dibekali minum dengan botol bila botolnya tidak sering dicuci. Pasalnya, anak-anak terutama di usia pelajar kerap aktif bergerak dan tentunya bisa menyentuh banyak benda yang dihinggapi kuman. Kuman-kuman itu kemudian bisa bersarang di botol minum yang ia bawa.

Selain itu, kebiasaan berbagi minum dengan teman juga menjadi faktor banyaknya kuman di botol minum seseorang. Bukan hanya bakteri dan kuman, namun juga kemungkinan penularan penyakit bisa saja terjadi.



Cara Mencuci Botol Minum


Para ahli mengatakan bahwa cara efektif untuk mencuci botol adalah dengan menggunakan sabun pencuci piring serta membilasnya dengan menggunakan air hangat.

  1. Siapkan sabun pencuci piring
  2. Tuang sabun pencuci piring di spons khusus untuk botol 
  3. Lakukan pembersihan pada botol dengan cara mengusap seluruh permukaan dalam serta bagian luar botol.
  4. Bilas berulang kali sampai tidak ada busa yang tertinggal
  5. Tiriskan dengan posisi terbalik 
  6. Hindarkan mengeringkan dengan handuk (khawatir terdapat bakteri pada handuk)
  7. Jika terburu-buru, kamu bisa mengeringkan dengan tisu
  8. Setelah kering, bilaslah dengan air hangat


Lalu, bagaimana bila diare tetap terjadi padahal sudah sering mencuci dan menjaga kebersihan botol minum?

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tenang. Tetap jaga kebutuhan cairan tubuhmu agar tidak dehidrasi. Kita bisa mengonsumsi sup ayam, oralit, maupun air kelapa sebagai cara mengatasi diare di rumah. Namun, bila diare tidak kunjung membaik, sebaiknya minum obat diare seperti Entrostop dan segera lekas ke dokter.

Friday, October 9, 2020

Review Lampu Philips UV-C Disinfektan

Review Lampu Philips UV-C Disinfektan

Sudah 6 bulan lebih pandemi ada di Indonesia. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia. Aamiin.
 
Sedih rasanya ya melihat jumlah penambahan yang positif per hari semakin banyak. Apalagi sekarang Corona rasanya semakin dekat aja. Mulai memasuki klaster keluarga. Bahkan mulai ada yang orang-orang dikenal yang terkenal. Hiks!

review lampu philips uv-c disinfektan

Review Lampu Philips UV-C Disinfektan (sumber foto: Signify)

 
 
Apa yang harus dilakukan?


Ikhtiar Selama Pandemi COVID-19


Di saat ini, kita dituntut untuk tidak boleh lebay maupun abai. Tidak boleh lebay itu misalnya seperti saat awal pandemi. Susahnya mencari masker karena banyak yang membeli. Sampai harganya naik gila-gilaan. 
 
Panic buying dengan menimbun berbagai bahan kebutuhan pokok, sehingga masyarakat lain banyak yang gak kebagian. Juga termasuk sikap yang berlebihan.

Abai itu sikap yang sebaliknya. Sampai saat ini, masih ada aja masyarakat yang mengabaikan pandemi. Entah karena msih denial atau memang bersikap masa bodoh. Sikap seperti ini membuat geram. Apalagi kebanyakan mereka yang positif COVID-19 adalah OTG. 

Yang perlu kita lakukan adalah waspada. Saat ini, ada beberapa kebiasaan baru yang harus dilakukan. Malah kalau menurut Chi, sudah harus memahami juga. Dengan memahami kondisi yang tidak biasa ini, kita jadi tau langkah apa aja yang harus dilakukan. Tanpa harus terpaksa mematuhinya.
 
Protokol kesehatan 3M yaitu Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan tentunya menjadi salah satu langkah pertama. Menjaga iman dan imun juga hal yang semakin penting dilakukan di saat pandemi.
 
 

Unboxing Lampu Philips UV-C Disinfection Desk Lamp


Hal lain yang Chi lakukan adalah menjaga ruangan tetap steril dari kuman. Tetapi, memang gak mudah juga, ya. Kecuali, kalau kami semua selalu berada di rumah dan gak kontak sama sekali dengan luar. Sesuatu hal yang tidak mungkin. Jadi, yang bisa kami lakukan adalah berusaha meminimalkan risiko. 

Beberapa minggu lalu, Chi mengikuti diskusi virtual dengan tema "Sinar UV-C Kawan atau Lawan? Pemanfaatan Teknologi UV-C yang Aman untuk Perlindungan Masyarakat dari Mikro-organisme". Lampu UV-C memang salah satu rekayasa teknologi yang dianggap mampu membunuh kuman.

[Silakan baca: Apakah Lampu UV-C Disinfektan Efektif Membunuh Virus Corona?]

PERINGATAN

Paparan sinar UV-C bisa menjadi kawan atau lawan bagi manusia dan hewan. Oleh karenanya sangat penting untuk mengikuti petunjuk penggunaan dan keselamatan sebelum menggunakan produk

 
Chi memiliki lampu Philips UV-C Disinfektan. Kalau melihat brandnya udah jelas percaya banget dengan kualitasnya. Tetapi, tetap harus dibaca dulu semua petunjuk. Apalagi mengingat sinar UV-C memilik 2 efek yang bertolak belakang bagi kesehatan. Agar lebih efektif membunuh virus dan bakteri. Serta meminimalkan risiko.
 
cara mudah dan efektif disinfeksi ruangan di rumah
 
Lampu ini berukuran 120 x 120 x 247 mm dan berat 800 gr.  Dengan ukuran dan berat seperti ini kira-kira sama seperti lampu meja pada umumnya. Sehingga dengan mudah dipindah-pindah dari satu ruangan ke ruangan lain.

Ada keterangan di bagian dus dan lembaran panduan pengguna menggunakan bahasa Indonesia. Semua keterangannya mudah untuk dipahami.
 
Pada saat kabel lampu ini dicolokkan, langsung terdengar suara peringatan maupun cara penggunaannya. Juga menggunakan bahasa Indonesia. Jadi, semakin mudah untuk dipahami, sekaligus juga diingatkan untuk tetap berhati-hati. 

Rangka lampu ini terbuat dari logam penuh dengan kualitas superior. Hal ini sangat penting untuk menjaga agak produk lebih tahan lama. Karena setelah digunakan, lampu akan terasa panas. Tetapi, tidak akan membuat rangka menjadi rusak.


Cara Menggunakan Lampu Philips UV-C Disinfektan


fitur keamanan pada  lampu philips uv-c

Setelah kabel dicolokkan, kemudian tekan tombol power dan tahan 3 detik untuk membuka kunci. Setelah itu lanjutkan dengan menekan tombol pengaturan waktu. Setelah memilih pengaturan waktu, kembali tekan tombol power untuk memulai disinfeksi ruangan. Step by step yang sebetulnya sangat mudah. Dan, semakin dipermudah dengan audio yang akan memandu pengguna.
 
Jangan gunakan perangkat UV-C sebagai pencahayaan normal
 
Lampu UV-C memang berbeda dengan lampu biasa. Efektivitas disinfeksi lampu ini dalam membunuh mikro-organisme juga tergantung dari waktu, luas, dan tipe area permukaan/objek. Ada 3 pilihan waktu yaitu 15 menit, 30 menit, dan 45 menit. Menurut kertas panduan di sini, setiap ruangan memiliki waktu disinfeksi yang berbeda.
 
  1. Kamar mandi/dapur, luas 13 m2, 15 menit
  2. Kamar tidur, luas 20 m2, 30 menit
  3. Ruang keluarga, luas 28 M2,  45 menit
 
 

Perlindungan Ekstra Lampu UV-C untuk Keamanan Anggota Keluarga

 
bahaya menggunakan lampu uv-c

"Disinfeksi akan dimulai. Untuk menghindari paparan ultraviolet, mohon meninggalkan ruangan dan tutup pintu."
 
Audio langsung terdengar ketika Chi menekan tombol power untuk memulai. Suara tersebut meminta pengguna untuk keluar ruangan dan menutup pintu.
 
Apakah setelah keluar ruangan, lampu disinfeksi akan langsung bekerja?

Belum tentu. Pengguna diberi waktu 30 detik untuk meninggalkan ruangan setelah tombol power ditekan. Tetapi, selama pintu belum ditutup dan terdeteksi ada pergerakan, suara peringatan akan terus terdengar.
 
Ketika pertama kali mencoba, Chi sempat mengalami kegagalan. Suara peringatan terus saja terdengar. Padahal di kamar Nai udah gak ada siapapun. Kemudian, Chi pindah cobain ke kamar Keke. Masih juga gagal. Baru berhasil dipercobaan ketiga yaitu di kamar tidur sendiri.

Chi berkesimpulan kalau keluar ruangan saja belum cukup. Ruangan juga harus dalam keadaan gelap. Baru lampu akan bekerja.

Ketika cobain di kamar Nai, ruangannya masih terang karena cahaya matahari masih masuk. Sedangkan di kamar Keke, komputer masih menyala. 

pengalaman menggunakan lampu uv-c disinfektan di rumah
Di dalam kamar ini sebetulnya gelap pada saat pemakaian lampu UV-C. Penampakan taman di halaman belakang itu pantulan dari jendela.


Saat ruangan sudah dianggap aman, lampu pun akan menyala. Ruangan langsung berwarna biru. Chi pun membuka pintu kamar. Maksudnya buat memotret. Tetapi, lampu langsung mati.

Sensor dapat mendeteksi gerakan manusia atau hewan dalam radius 5 meter. Begitu terdeteksi, perangkat UV-C akan mati secara otomatis dan kembali dalam keadaan terkunci.
 
Tidak hanya saat membuka pintu. Ketika Chi mencoba memotret dari balik jendela pun, perangkat otomatis mati. Sepertinya masih tetap bisa mendeteksi. Akhirnya, Chi memotret dengan agak mepet ke balik pintu.  

Menurut Chi ini bagus banget. Sensor dan pengatur waktu pada perangkat ini dapat memberikan perlindungan ekstra dari bahaya UV-C.

Audio akan kembali terdengar setelah lampu selesai bekerja. Jadi gak perlu juga buka pintu untuk lihat apakah sudah selesai atau belum. Nanti malah perangkat akan otomatis mati kalau terdeteksi ada gerakan.

Tabung UV-C tidak dapat diganti. Tetapi, tenang aja karena masa pakainya panjang banget yaitu 9000 jam. Katakanlah sekali pemakaian disinfeksi adalah 3 jam untuk berbagai ruangan. Berarti bisa dipakai selama 10 tahunan.

Philips UV-C disinfection desk lamp dianggap efektif disinfeksi rumah dengan cara mudah. Meskipun pandemi sudah berlalu, lampu ini tetap bisa dipakai. Karena virus dan bakteri kan tidak hanya corona. Ada puluhan juta mikro-organisme di sekitar kita.
 
Sejak dulu, Chi selalu percaya kalau produk Philips memang sangat awet. Tetapi, supaya produk ini semakin terjaga, tentunya ada beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan

    1. Jangan digunakan bila kabel listrik rusak
    2. Perangkat harus ditempatkan di permukaan yang stabil
    3. Jangan gunakan perangkat UV-C jika produk bersandar. terbalik, atau terjatuh dari permukaan yang datar
    4. Pastikan kabel tidak terhubung dengan listrik saat sedang dibersihkan
    5. Selalu simpan produk dalam kemasan pada saat tidak digunakan dan pastikan kemasan tertutup rapi
    6. Perangkat UV-C hanya bekerja dalam kondisi kering karena produk tidak tahan air
       

      Philips UV-C disinfektan ini tidak dapat digunakan untuk mendisinfeksi area permukaan dari perangkat medis. Jadi, untuk penggunaan di rumah saja. Segala fitur pengamanannya pun sudah dilengkapi sesuai dengan konsumen rumah tangga.
       
      efektivitas lampu uv-c

      Memiliki lampu Philips UV-C disinfektan ini merupakan salah satu ikhtiar kami supaya keluarga tetap sehat dan nyaman selama pandemi. Tentu saja dengan mematuhi semua petunjuk penggunakan agar sinar UV-C tidak menjadi lawan. Tetapi, justru mendatangkan manfaat.

      Wednesday, October 7, 2020

      Makna Logo “Pilihan Lebih Sehat” Ketika Membeli Produk Pangan

      Makna Logo “Pilihan Lebih Sehat” Ketika Membeli Produk Pangan

      “Udah pada sarapan? Makan apa?”

      Setiap pagi, Chi selalu bertanya ke Keke dan Nai apakah mereka sudah sarapan atau belum. Sejak dulu, mereka sudah terbiasa menyiapkan sarapan sendiri. Chi hanya menyediakan bahan dan memastikan mereka sudah sarapan.


      makna logo pilihan lebih sehat ketika membeli produk pangan

      Makna Logo “Pilihan Lebih Sehat” Ketika Membeli Produk Pangan



      Bebas aja mereka mau sarapan dengan roti, buah, nasi goreng, atau lainnya. Untuk minumnya, kami selalu sediakan susu. Biasanya sih kalau sarapan, menunya lebih praktis.

      Di saat pandemi pun, pola makan kami tetap aja sama. Chi lumayan bawel dengan hal ini. Gak boleh berlebihan. Dalam sehari, biasanya kami sekeluarga 5x makan. 3x makan utama yaitu pagi, siang, dan sore/malam. Serta 2x makan camilan yaitu menjelang makan siang dan sore hari.

      Begitupun dalam pemilihan bahan makanan. Tentu berusaha memilih bahan pangan yang sehat. Asupan gizinya juga tepat. Apalagi hari gini. Sebisa mungkin jangan sakit deh, ya. Jadi pola dan gizi makanan harus semakin diperhatikan.

      Kriteria apa aja yang dipertimbangkan saat memilih produk pangan siap konsumsi? Yakin kita sudah memilih produk pangan yang lebih sehat?



      Waspada Penyakit Tidak Menular (PTM)



      Sebelum membahas tentang pertimbangan ketika memilih produk, bahas dulu tentang Penyakit Tidak Menular. Saat ini, fenomenanya menunjukkan tanda-tanda peningkatan jumlahnya, lho. Bahkan sudah masuk ke usia produktif.

      Menurut Dra. Sutanti Siti Namtini, Apt., Ph D, Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM, peningkatan kesejahteraan masyarakat telah mendorong terjadinya perubahan pola makan. Perubahan ini menjadi salah satu kontributor terus meningkatnya PTM seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit sendi/encok.

      Penyebab kematian terbesar di dunia saat ini adalah karena penyakit tidak menular. Berdasarkan data WHO pada tahun 2016, sekitar 71% penyebab kematian karena PTM.

      Lebih dari ¾ kematian karena PTM ada di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Dengan rata-rata usia di bawah 70 tahun. Menurut WHO ada 5 faktor risiko utama penyakit tidak menular yaitu


      1. Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi dalam darah
      2. Kurangnya asupan buah dan sayur
      3. Obesitas
      4. Kurang beraktivitas
      5. Penggunaan tembakau

      prevalensi konsumsi ggl di indonesia

      Konsumsi garam, gula, dan lemak (GGL) per hari juga harus diperhatikan. Asupan gula > 50 gram, garam > 2000 mg, serta lemak total > 67 gr per orang per hari berisiko tinggi terhadap hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.

      Pada tahun 2030 s/d 2040, Indonesia akan memasuki masa bonus demografi. Di mana jumlah penduduk usia produktif (15 s/d 64 tahun) jumlahnya lebih besar. Diperkirakan ada sekitar 64% dari jumlah total penduduk Indonesia.

      Masa bonus demografi ini seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia. Tetapi, mengingat kecenderungan jumlah penderita PTM semakin meningkat, dikhawatirkan justru akan berdampak negatif. Oleh karenanya perlu kerjasama berbagai pihak, untuk mulai peduli dengan pemilihan produk pangan yang lebih sehat.



      Logo “Pilihan Lebih Sehat” Sebagai Cara Cerdas Memilih Produk Pangan


      makna logo pilihan lebih sehat

      Di saat pandemi ini, kesehatan semakin dirasa sangat penting. Kalau bisa sehat terus, deh. Sekarang gak enak badan sedikit aja bisa bikin parno.

      Tetapi, untuk menjaga kesehatan juga harus diupayakan. Mulai bergaya hidup sehat. Salah satunya dengan memperhatikan pola makan dan asupan gizi.

      Ketika memilih produk pangan, biasanya yang Chi lihat pertama kali kemasan. Chi gampang tergoda bila kemasannya menarik. Setelah itu baru lihat apakah ada logo halal atau tidak. Kemudian lanjut ke tanggal kedaluwarsa. Label gizi pada kemasan, biasanya dilihat sepintas aja.

      Seringkali alasannya karena udah percaya. Apalagi kalau Chi udah loyal dengan produk pangan dari brand tersebut, misalnya NestleNestlé. Ya udah, langsung percaya aja sama kualitasnya. Paling pastikan aja jangan sampai udah lewat tanggal kedaluwarsa.


      cara membaca informasi nilai gizi pada produk pangan
      informasi nilai gizi pada kemasan

      Label gizi pada kemasan juga seringkali hurufnya kecil-kecil. Mana tulisannya banyak pula. Jadi pusing mau dibaca. Akhirnya balik lagi aja pilih brand yang udah dipercaya.

      Padahal penting banget lho baca label gizi. Sayangnya konsumen kita masih banyak yang belum terbiasa dengan hal ini. Tingkat literasi yang rendah juga penyumbang faktor kenapa masyarakat masih enggan membaca label gizi. Ada juga yang sudah tau tentang pentingnya membaca label gizi, tetapi memang memilih tidak mau tau.

      “Membaca label gizi pada kemasan merupakan salah satu solusi dalam membantu konsumen untuk lebih cerdas dalam memilih produk pangan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan mengetahui seberapa besar sumbangan zat gizi tertentu yang berasal dari produk pangan yang kita konsumsi. Dalam keseharian, pemenuhan asupan gizi seimbang secara teratur akan memberi manfaat bagi kesehatan tubuh kita secara umum, dan selanjutnya dapat mendukung produktivitas kita,” jelas Dr. Rimbawan dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, dalam webinar (30/9) bersama Nestlé Indonesia yang bertajuk Cara Cerdas Memilih Produk Pangan dengan Logo “Pilihan Lebih Sehat”


      pelabelan gizi pada label
      logo pilihan lebih sehat

      Untuk memudahkan konsumen lebih cerdas memilih produk pangan yang sehat, BPOM mengeluarkan peraturan nomor 22 tahun 2019. Dalam peraturan ini salah satunya mencantum logo “Pilihan Lebih Sehat”.

      Pencantuman logo ini terlihat jelas pada kemasan. Sehingga konsumen bisa langsung mengetahui produk apa saja yang baik untuk dikonsumsi membandingkan dengan produk sejenis dan dikonsumsi dalam jumlah wajar.

      Membandingkannya memang harus apple to apple. Misalnya, ketika kita membeli minuman siap konsumsi harus dibandingkan dengan yang sejenis. Jangan dibandingkan dengan produk lain, misalnya makanan.

      Mengkonsumsinya pun tetap harus dalam jumlah wajar. Jangan mentang-mentang ada logo “Pilihan Lebih Sehat” kemudian bisa bebas dikonsumsi sebanyak apapun kita mau.

      Tujuan pencantuman logo ‘kan untuk memudahkan konsumen memilih produk yang lebih sehat. Karena suka ribet kalau baca info label gizi di kemasan. Bukan supaya bisa dikonsumsi sebanyak-banyaknya, semau kita.

      Menurut Yusra Egayanti, S. Si, Apt, Mp, Kepala Subdit Standardisasi Pangan Olahan Tertentu BPOM, saat ini pencantuman logo “Pilihan Lebih Sehat” baru terbatas pada jenis kelompok pangan yaitu minuman siap konsumsi serta mie dan pasta. Sifatnya pun masih bersifat sukarela untuk para produsen. Tetapi, tetap harus ada persetujuan BPOM

      Ke depannya akan lebih banyak kelompok pangan yang bisa mendapatkan logo “Pilihan Lebih Sehat”. Saat ini, sedang disusun kriteria pangan yang sehat untuk setiap kategori.



      Tips Donna Agnesia Tetap Menjaga Kesehatan Keluarga Selama Pandemi


      susu milo uht pilihan lebih sehat

      Narasumber lain yang hadir di webinar ini adalah Donna Agnesia, sosok ibu inspiratif. Sebagai keluarga yang selalu terlihat aktif, perubahan yang paling terasa adalah semua aktivitas jadi lebih banyak berada di rumah.

      Meskipun demikian, berbagai aktivitas tetap dilakukan. Sejak dulu, keluarga Donna Agnesia memang selalu menerapkan pola hidup sehat.

      Ketika, memilih produk saat belanja, Donna mengaku banyak belajar dari Darius, suaminya, yang memang lebih detil. Langkah BPOM mempermudah masyarakat untuk memilih produk pangan dengan logo “Pilihan Lebih Sehat” tentu saja disambut baik oleh Donna.

      Tips menjalani healthy lifestyle ala keluarga Donna Agnesia adalah menjaga asupan dan pola makan, rutin beraktivitas, istirahat yang cukup, serta menjaga pikiran tetap positif. Semuanya harus serba seimbang. Orang tua harus mengajarkan kebiasaan ini sejak dini meskipun mungkin saja tidak mudah menjalankannya.



      Komitmen Nestlé Indonesia dalam Menjaga Kualitas Gizi Masyarakat Indonesia


      nestle indonesia logo pilihan lebih sehat

      “Sejalan dengan tujuan untuk terus meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi ke masa depan yang lebih sehat, Nestlé Indonesia berharap dapat berperan aktif mendukung masyarakat untuk lebih bijak dalam membaca label produk dan bisa memperhatikan asupan gizi yang dibutuhkan, ujar Ganesan Ampalavanar, Presiden Direktur Nestlé Indonesia.

      Lebih lanjut dikatakan bahwa pengetahuan tentang asupan gizi seimbang serta pembatasan asupan gula, garam, dan lemak di Indonesia merupakan masalah yang membutuhkan perhatian semua pihak. Oleh karenanya Nestlé Indonesia mendukung pemerintah untuk mendorong masyarakat dalam memilih pangan yang baik melalui logo “Pilihan Lebih Sehat.”

      Konsumsi GGL di masyarakat saat ini masih sangat tinggi. Sebagai produsen, Nestlé Indonesia mengurangi kadar gula pada MILO Activ-Go sebanyak 25%. Serta 0% sukrosa pada Dancow Nutritods. Untuk membantu memenuhi kekurangan micronutrient, dilakukan berbagai fortikasi produk.

      Menurut Debora Tjandrakusuma, Direktur Corporate Affairs, Nestlé Indonesia, untuk membantu konsumen membaca label, Nestlé Indonesia sudah melakukan kemudahan dengan mencantumkan informasi nilai gizi pada bagian utama label. Milo UHT sudah diluncurkan ke pasaran dengan mencantumkan logo “Pilihan Lebih Sehat”. Sedangkan Dancow UHT dan Bear Brand akan hadir dengan kemasan baru pada quartal keempat 2020.

      Berbagai produk lainnya sedang diusahakan untuk mendapatkan logo “Pilihan Lebih Sehat.” Dengan cara membuat formula baru agar dapat memenuhi persyaratan BPOM. Dan, tentu saja rasanya juga harus bisa diterima oleh masyarakat.

      Di saat pandemi ini, harusnya juga jadi momentum bagi kita semua untuk mulai lebih memperhatikan asupan gizi. Mulai mau menjalankan gaya hidup. Supaya tuh tetap fit, imunitas tetap terjaga.

      Dengan adanya logo “Pilihan Lebih Sehat” juga membantu menghemat waktu saat belanja, lho. Apalagi saat pandemi begini ‘kan rasanya gak ingin berlama-lama di luar rumah. Jadi pilih aja produk yang sudah ada logo ini, ya