Wednesday, December 31, 2014

Liburan Keluarga Dengan Hair Spa Bareng


Nai: “Iiihh! Bunda rambutnya bau coklat!”

Gara-gara Chi hair spa pake coklat, Nai ribuuut aja sama rambut Chi yang wangi coklat. Tapi, biarpun ribut tetep aja diciumin terus rambut Chi sama dia hehehe.

Ceritanya minggu lalu Chi memang di hair spa pake yang wangi coklat. Waktu itu mbak di salonnya nawarin mau coklat, kopi, atau strawberry. Chi sempet bingung, karena ketiga wangi itu Chi suka semua. Akhirnya, Chi cobain yang coklat dulu, deh. Dan, sukses bikin Chi pengen nyeruput secangkir coklat hangat saat di salon hehehe.

Ke salon memang salah satu me time Chi. Me time memang penting banget supaya gak stress. Termasuk ibu rumah tangga kayak Chi gini justru butuh banget me time. Biasanya sih buat Chi itu asal punya waktu buat online, baca buku, atau nonton tv udah cukup buat me time. Tapi, kadang juga pengen nyalon.

Cuma kalau nyalon itu Chi jarang bisa pergi sendiri. Keke dan Nai pasti selalu ingin ikut. Dan, mereka gak cuma pengen nemenin bundanya tapi juga pengen ikutan nyalon hehehe. Gara-gara suka ke salon bareng, lama-lama jadi kebiasaan. Kalau Chi nyalon sendirian rasanya berasa kurang aja.

Sekarang Keke suka misah. Kalau ke salon dia ke barber shop sama ayahnya. Jadi, dari rumah kita jalan bareng. Tapi, abis itu misah. Keke sama ayahnya, Nai sama bundanya. Kebetulan sekarang salon dan barbershop langganan bersebelahan lokasinya.

Kalau lagi nyalon, Chi lebih suka hair spa daripada creambath karena lebih bagus untuk rambut. Tapi, Chi sekarang lagi pengen hair spa sendiri di rumah. Abis kalau ke salon itu suka males jalannya. Kalau udah di rumah emang bawaannya males keluar hehe.

Lagi kepengen banget cobain hair spa strawberry, nih. Bakalan seger rasanya kalau rambut wangi strawberry. Soalnya Nai juga shamponya wangi strawberry. Chi suka ciumin rambutnya kalau abis keramas. Enak banget wanginya. Makanya Chi pengen hair spa strawberry biar bisa puas nyiumin rambut sendiri. Selain itu hair spa strawberry kan kaya akan vitamin C dan antioksidan. Dipercaya melembutkan dan melembabkan rambut hingga ke akarnya.

Kebetulan lagi libur sekolah, nih. Apa sekalian aja bikin ide buat salon di rumah? Anak-anak pasti seneng banget, deh. Chi juga bakalan seneng karena ada yang ikutan bantuin ngerawat rambut Chi. Apalagi kalau Keke dan Nai yang memijat kepala Chi suka lembut.

Kalau udah rame-rame begini masih disebut me time, gak? Ah, buat Chi yang penting kami masih bisa liburan bersama. Hair spa barengan di rumah juga bakalan seru!

Continue Reading
No comments
Share:

Sunday, December 28, 2014

Penghapus Melayang

Ketika grup FB 80's and 90's lagi ngehits banget, ada banyak status yang tentu aja bikin Chi ketawa ngakak karena bernostalgia. Salah satunya adalah ketika ada yang mengupload foto penghapus papan tulis kapur dan hubungannya dengan guru. Untuk kita yang hidup di tahun tersebut akan langsung mengerti hubungannya. Apalagi kalau bukan tentang 'penghapus melayang'  bila ada anak yang dianggap nakal.

Sampe kemudian timbulah perdebatan. Ada yang merasa anak-anak zaman sekarang itu kurang tangguh. Karena kalau sampe ada kejadian 'penghapus melayang' saat ini, pasti gurunya akan kena kasus. Tapi ada juga yang bilang kalau 'penghapus melayang' bukanlah sesuatu yang lucu karena itu termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap anak.

Bisa ditebak, selanjutnya terjadilah perdebatan... Hari gini, grup manapun kayaknya gak lepas dari perdebatan, ya. Cape, deeehh...

Chi sih gak ikut komen di sana. Ketika ada yang sedang berdebat (baca: ribut) mendingan melipir. Menurut Chi ini bukan semata-mata anak zaman dulu lebih tangguh. Atau juga bukan tentang termasuk kekerasan. Tapi, zamannya memang udah beda. Gaya belajar dan mengajar dna hubungan antara guru-murid sudah terjadi perubahan.

Mungkin ini berkaitan dengan yang namanya kebebasan berpendapat. Dulu, berpendapat belum sebebas sekarang. Jadi, ketika guru memarahi bahkan sampe ada 'penghapus melayang' sekalipun, kita cuma bisa diam. Menatap mata guru pun rasanya gak berani, cuma bisa menunduk. Paling ngedumelnya di dalam hati aja hehehe.

Ketika sekarang sudah dewasa, pengalaman masa sekolah itu jadi sesuatu yang seru dan lucu untuk dikenang. Tapi, ya sebatas bernostalgia aja. Kalau kebiasaan seperti itu masih ada di zaman sekarang, rasanya Chi sebagai orang tua pun juga akan terima. Pasti Chi akan protes ke gurunya kalau Keke dan Nai sampai mengalami. :D

Karena sekarang era kebebasan berpendapat, anak-anak zaman sekarang lebih berani berbicara. Mereka belum tentu mau terima hukuman begitu saja. Apalagi kalau merasa gak salah. Sebetulnya ada bagusnya juga, sih. Selama komunikasinya masih dalam batas sopan santun. Jadi rasanya hukuman seperti 'penghapus melayang' kurang cocok untuk zaman sekarang. Guru harus lebih dekat ke murid-muridnya. Termasuk ketika menghukum harus lebih lembut tanpa menghilangkan ketegasan.

Kalau dibilang anak zaman dulu lebih tangguh hanya karena mengalami lemparan benda-benda yang melayang dan sekarang tidak. Anak zaman sekarang dengan beban pelajaran yang lebih berat dan harus mereka hadapi setiap hari apa gak bikin mereka tangguh juga? Tapi kalau trus dibilang guru-guru zaman dulu kurang baik karena melakukan kekerasan terhadap anak. Rasanya buat Chi enggak juga, ya. Buktinya banyak dari kita sekarang bisa tertawa mengenang itu semua, kan?

Jadi, Chi sih tetap berpendapat beda zaman memang beda gaya. Gak ada yang lebih baik atau buruk. Semua disesuaikan dengan zamannya. Yang dulu, cukup untuk nostalgia aja. Yang sekarang tentu aja mengikuti gaya saat ini.

Entah pada saat Keke dan Nai pada saat mereka sudah berkeluarga nanti seperti apa bentuk belajar-mengajarnya. Mungkin kembali ke masa 'penghapus melayang'? Hehehe... Selama masih dalam batas toleransi ya gak usah terlalu dibanding-bandingkan dengan zaman sebelumnya :)

Continue Reading
38 comments
Share:

Wednesday, December 24, 2014

"Bun, Jangan Peluk Ima."

Tadi sore, Nai bilang kalau dia gak enak badan. Pas Chi pegang, badannya memang panas sekali. Setelah dikasih obat, diselimutin. Chi pun peluk badannya karena dia kelihatan agak menggigil padahal udah diselimutin..

Nai: "Bun, jangan peluk-peluk Ima. Nanti Bunda ketularan."

Tangan Nai pun mencoba mendorong badan Chi supaya menjauh.

Bunda: "Menurut adek, tugas seorang Bunda itu apa sih kalau anaknya lagi sakit?"

Tanpa ada omongan, Nai pun langsung memeluk Chi kenceng-kenceng. Padahal tadinya Chi disuruh menjauh.

Bunda: "Udah, Adek gak usah mikirin Bunda bakal ketularan atau enggak. Yang penting Adek gak menggigil setelah dipeluk sama Bunda."

Nai pun mengangguk.

Bunda: "Lagipula, kalaupun Bunda sampe ketularan. Berarti nanti giliran Adek yang pijitin Bunda."
Nai     : "Bundaaa!!" *Nai mulai kelihatan senyumnya lagi sambil mukul-mukul Chi.
Bunda: "Hahahahaha.. Iya, Bunda becanda. Udah sini Bunda peluk. Istirahat, ya."

Gak lama kemudian, Nai pun tertidur. Chi terharu banget sama kejadian tadi. Menurut Chi, itu salah satu bentuk kami menunjukkan kasih sayang. Chi yakin kalau Nai juga sebetulnya pengen dipeluk. Tapi, dia khawatir kalau dipeluk, Bundanya akan ketularan sakit.

Tentu aja Chi gak bisa mengabulkan permintaannya yang menolak dipeluk. Tapi, Chi juga harus memberikan penjelasan kepadanya supaya jangan khawatir Bundanya akan tertular. Chi rasa Nai mengerti. Buktinya dia langsung balik meluk Chi tanpa ada kata-kata.

Duh, Dek! Bikin Bunda terharu aja, sih. Cepet sembuh, ya, Cantik. Libur sekolah masih lama, nih :)


Continue Reading
64 comments
Share:

Gandengan Tangan, Yuk!

Salah satu acara parenting yang Chi suka, yaitu Jo Frost, setiap episodenya selalu ada potongan-potongan keluhan beberapa orang tua. Yang anaknya susah makan, kecanduan game, yang begini, yang begitu. Seringkali orang tua merasa mereka itu yang paling menderita. Sedangkan orang tua lain itu kayaknya gak punya problem parenting sesulit mereka. Padahal menurut Jo Frost, umumnya orang tua punya problem yang sama.

Waktu Chi datang ke acara parenting "Bermain Pintar Optimalkan Stimulasi Anak", Dr Tetty mengatakan kalau orang tua itu suka ada yang ngirian. Melihat anak orang lain gemuk, dia ngiri kenapa anaknya gak gemuk. Dr Tetty berpesan kalau setiap anak itu spesial. Bahkan dengan anak kembar identik sekalipun gak bisa disamakan.

Menurut Chi, keduanya itu ada benang merahnya. Menurut Jo Frost, disinilah gunanya sesama orang tua saling bercerita. Saling berbagi pendapat berdasarkan pengalaman masing-masing. Sehingga orang tua yang sedang merasa mempunyai masalah tau kalau dia tidak sendiri. Akan merasa lebih ringan menyelesaikan masalah kalau saling berbagi.

Hmmm... ucapan Jo Frost ada benarnya. Sayangnya kadang kita suka langsung merasa iri melihat keadaan anak orang lain. Misalnya kita iri melihat anak lain gemuk, sementara anak kita kurus. Atau kita iri melihat anak lain udah bisa jalan, sementara anak kita belum. Padahal anak kita sebetulnya baik-baik aja, tapi rasa iri yang membuat kita berpikir kalau punya masalah.

Belum kalau menghadapi orang yang merasa pendapatnya selalu benar tentang parenting. Saling membanggakan. Disitulah bisa jadi awal mulanya mommy war. Akhirnya, orang tua yang sedang mengalami masalah malah jadi tambah bingung.

Benar menurut Dr. Tetty kalau setiap anak itu spesial. Anak kita termasuk kurus? Belum lancar jalan? Atau lainnya? Jangan buru-buru galau berlebihan, lah. Selama si anak sehat dan tumbuh kembangnya masih normal, gak perlu jadi resah. Masalah-masalah lain yang berkaitan dengan anak juga begitu. Jangan terlalu membandingkan dengan anak orang lain.

Chi banyak membaca tentang parenting tapi untuk mempraktekannya gak plek ketiplek. Lihat juga dengan karakter anak. Keke dan Nai walopun saudara sekandung  tetep aja untuk beberapa hal yang sama sekalipun, Chi suka agak berbeda perlakuannya. Karena disesuaikan dengan karakter mereka juga. Tahap tumbuh kembang mereka berdua pun berbeda. Keke misalnya lebih cepat jalan ketimbang tumbuh gigi. Sedangkan Nai sebaliknya, giginya cepat tumbuh tapi belajar jalannya lebih lambat. Tapi, selama masih masuk dalam batas normal tumbuh kembang, santai aja. Yang penting terus distimulasi.

Mendingan kita gandengan tangan, yuk! Biar yang sedang merasa punya masalah gak merasa sendiri. Saling menghargai pendapat. Saling mendukung. Karena parenting bukanlah sebuah ilmu pasti. Setiap anak punya karakter, Dan, setiap orang tua punya style sendiri untuk urusan parenting :)

Continue Reading
12 comments
Share:

Monday, December 22, 2014

Nonton Bioskop Di Rumah


Nemuin foto lama, nih. Foto waktu kami sekeluarga melihat album foto menggunakan proyektor. Hmmm… udah lama juga kami gak bikin kegiatan seperti ini. Di blog ini Chi pernah cerita kalau untuk mengisi wiken kami suka nonton ala bioskop di rumah. Tepatnya di kamar. Caranya, speaker tambahan diaktifkan, lampu dimatikan, lalu siap-siap deh kami sekeluarga kruntelan bareng di kamar untuk nonton bersama.

Kalau nonton ala bioskop di kamar masih suka kami lakukan sampai sekarang. Sedangkan kalau pake proyektor udah lama banget, nih. Mendadak jadi kangen dan kepengen gara-gara lihat foto ini. Bedanya dengan nonton di kamar adalah layarnya yang lebih besar.

Alat-alat yang diperlukan itu diantaranya adalah laptop dan proyektor. Untuk layarnya bisa pakai tembok atau seprai warna putih bersih. Jangan ditanya ke Chi gimana caranya masangnya, ya. Itu urusan K’Aie. Chi tau beres aja karena gak ngerti urusan pasang-memasang hahaha.

Mungkin yang bikin kami mulai brenti dari kegiatan ini adalah karena Keke dan Nai waktu itu masih belum bisa diem. Lihat aja kayak difoto. Berlarian kesana-kemari. Mungkin karena merasa layarnya lebih besar jadinya mereka tambah pecicilan. Padahal asyik, lho hehehe.

Kalau sekarang, sih, mereka udah bis atenang kalau diajak nonton. Nanti Chi mau usulin ke K’Aie, ah buat pasang proyektor lagi. Nah, kalau K’Aie kan bagian pasang-memasang peralatannya. Chi bagian siapin kenyamanannya aja.

Kayaknya enak juga kalau taro kasur kecil. Biar nontonnya sambil tiduran. Kasih bantal-bantal juga. Trus siapin minuman segar dan aneka camilan. Popcorn! Jadi makanan wajib saat nonton, deh. Kalau ke bioskop pasti aja harus beli makanan satu ini. Kalau nonton di rumah juga harus sediain popcorn, dong.

Keke dan Nai paling suka popcorn rasa caramel. Emang paling enak sih rasanya dibanding rasa popcorn yang lain. Jadi walopun ada beragam pilihan, pasti pilihnya balik lagi ke caramel.

Gak cuma buat nonton film-film Hollywood, sering juga kami cari video-video yang lucu dari youtube untuk ditonton bersama. Atau bisa juga sekedar nonton film keluarga. Pokoknya yang penting semuanya harus sama-sama senang.

Kegiatan begini, tuh, bikin erat kebersamaan karena gak sibuk sama gadget masing-masing. Bikin gak bosen juga walopun hanya liburan di rumah. Apalagi sekarang udah mulai masuk musim hujan, ya. Suka males juga kalau mau ke luar rumah. Khawatir kejebak macet karena banjir dimana-mana. Eits! Ini bisa jadi ide buat mengisi liburan juga, kan? Yipppiieee!

Ya, udahlah mending mulai siapin lagi proyektor, beraneka film, dan juga popcorn. Memang, ya popcorn itu bagian yang gak boleh terpisahkan ketika menonton.

Bagaimana dengan teman-teman? Suka makan popcorn saat nonton?

Continue Reading
20 comments
Share:

Friday, December 19, 2014

Liburan Jadul

Iyeeess! Udah masuk liburan sekolah lagi, nih! Yang libur sekolah itu memang Keke dan Nai, tetep aja Chi ikutan seneng. Karena kalau mereka libur, berarti rutinitas keribetan di pagi hari ikutan libur dulu hehehe.

Walopun begitu, gak akan bertahan lama kalau mereka gak dicariin kegiatan pengisi liburan. Di rumah memang ada gadget dan konsol game, tapi kayaknya kalau setiap hari main itu mereka juga bosen. Pasti deh suka uring-uringan. Ujung-ujungnya suka nanya kapan masuk sekolah?

Ada sih rencana jalan-jalan untuk liburan kali ini. Tapi kan full selama liburan jalan-jalannya. Jadi, Chi tetep harus mikirin bakal ngapain selama di rumah. Kepikir untuk bikin liburan dengan tema “Libur Jadul.” Gaya bener, ya, pake ada tema segala :p


Monopoli


Seandainya ini bisa jadi uang beneran, ya hehe. Main monopoli itu selain mengasyikkan juga mengajarkan anak untuk belajar bertransaksi.

Lagi beberes rumah, ketemu uang monopoli. Tapi, uangnya aja. Peralatan lainnya masih belum ketemu. Waks! Kalau kayak gini mana bisa kepake? Cari lagi, ah. Kalau enggak ketemu juga, baru coba beli.

Kami sekeluarga beberapa kali main monopoli pas wiken. Keke dan Nai suka banget main monopoli. Herannya, tiap kali main, selalu aja Chi yang kalah. Trus yang menang itu K’Aie terus. Emang gak salah kalau selama ini K’Aie yang mengatur keuangan rumah tangga kami hehehe.


Karet


Nai lagi merangkai karet gelang supaya bisa dimainin


Chi beli seplastik karet di pasar. Trus, K’Aie yang ngajarin Nai bikin rangkaian karetnya. Abis itu kami main, deh. Hmmm… umur emang gak bisa bohong, ya. Chi baru 5 kali lompat aja udah ngap-ngapan. Etapi, K’Aie enggak, tuh. :D


Congklak



Nah, kalau main congklak, Chi termasuk jagonya. Setidaknya gak selalu kalah hehehe. Congklak lagi sering dimainin sama Keke dan Nai setelah maghrib kalau lagi gak belajar.


Kartu


Biasanya kami main kucingan sama cangkulan karena Cuma 2 itu permainan kartu yang Nai ngerti. Tapi, walopun Cuma 2 tetap seru buat dimainin.


Engklek


Karena keterbatasan lahan, kami main engklek di dalam garasi rumah. Caranya, lantai di corat-coret pake spidol hihihi. Nanti kalau ketemu fotonya Chi upload, deh. Kami sih gak masalah lantai di corat-coret. Bisa dihapus juga, kan. Yang penting bisa bermain bersama

Apa lagi, ya? Di rumah juga ada kartu UNO, UNO Stacko, Twister, atau main paper game battleship juga seru. Keke dan Nai gak asing sama beraneka permainan jadul tersebut karena cukup sering dimainin. Di sekolah juga boleh bawa kalau permainan jadul. Permainan modern justru gak boleh.

Kayaknya daftar permainan yang Chi sebut di atas udah cukup buat mengisi hari libur mereka nanti, ya. Bagaimana dengan teman-teman? Sudah ada rencana untuk mengisi liburan? Bikin liburan jadul aja kayak Keke dan Nai, yuk! Cari monopoli dulu, ah. Mumpung liburannya belum mulai.

Continue Reading
26 comments
Share:

Wednesday, December 17, 2014

Bermain Pintar Optimalkan Stimulasi Anak


"Gimana dia mau pintar. Setiap hari kerjanya cuma main. Susah kalau diajak belajar."

"Anak saya maunya main terus. Gimana ya caranya supa mereka mau belajar?"

Seringkah kita mendengar ucapan seperti itu? Atau jangan-jangan kita termasuk yang pernah mengucapkannya?

Sebetulnya, ucapan tersebut gak sepenuhnya salah. Tapi, juga gak sepenuhnya benar. Seringkali kita berpikir kalau yang namanya belajar itu berarti harus duduk manis di meja belajar, menghapalkan sejumlah teori atau mengerjakan soal matematika yang (mungkin) bikin pusing. Padahal yang namanya belajar itu sebaiknya sambil bermain.

Dunia anak adalah dunia bermain. Kita gak boleh menghilangkan dunia itu dari mereka seberapa pun beratnya dunia pendidikan. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan bermain pintar.


Menstimulai Perkembangan Anak Melalui Permainan



Hari Sabtu, 06 Desember, Monde Boromon kembali mengadakan talkshow bekerjasama dengan tabloid Nakita di RS ANTAM Medika, Jakarta Timur. Kali ini temanya adalah "Bermain Pintar Optimalkan Stimulai Anak."

Acara dibuka dengan sambutan dari mbak Hani (Tabloid Nakita), kemudian dilanjut dari pihak RS ANTAM Medika. Sesi pertama adalah tentang "Menstimulasi Perkembangan Anak Melalui Permainan" dengan narasumber Dr. Dyani Kusumowardha, SpA (Dokter Spesialis Anak).

Menurut Dr Dyani, ciri khas anak sehat adalah:


  1. Tumbuh dan berkembang sesuai umurnya
  2. Dunia anak adalah dunia bermain

Faktor genetik bukanlah faktor utama penentu kecerdasan anak. Stimulasi memegang peranan penting untuk menentukan kecerdasan anak.

Ada yang namanya 1000 hari pertama kehidupan. Penghitungan 1000 hari ini bukan dari sejak bayi dilahirkan. Tapi, sejak bayi berada dalam kandungan ibu. Karena ketika berada dalam kandungan, yang pertama kali terbentuk adalah sel-sel syaraf. Oleh karena itu penting sekali bagi ibu hamil untuk makan makanan yang baik dan bergizi.

Ketika lahir, bayi tentu saja gak bisa langsung berjalan, berlari, dan lain-lain. Ada beberapa tahapan-tahapan yang dilalui yaitu miring, tengkurap, angkat kepala, angkat pantat, duduk, berdiri, dan lain sebagainya. Untuk melalui tahapan-tahapan itu, anak mengalami proses belajar. Orang tua mengajarkannya dengan cara menstimulasi.

Proses menstimulasi harus dengan cara dan suasana yang menyenangkan. Kalau perlu diberikan mainan sebagai alat bantu proses stimulasi. Orang tua pun memberikan pujian kepada anak untuk setiap jengkal keberhasilannya.

Sekilas terlihat seperti bermain. Tapi, sebetulnya anak sedang belajar. Hanya saja belajarnya dengan cara yang menyenangkan sehingga si anak tetap ceria. Ini yang disebut bermain pintar.

Stimulasi pada anak juga harus disesuaikan dengan usianya. Contohnya untuk usia 0-6 bulan adalah sebagai berikut


  1. Penglihatan: Menggerakkan benda berwarna cerah
  2. Pendengaran: Bersenandung, mendengarkan musik lembut atau ayat suci Al-Qur'an, mengajak bicara
  3. Komunikasi: Sentuhan, senyum, memanggil nama, mengajak bicara, bermain cilukba

Tahun-tahun awal adalah waktu yang terbaik bagi seorang anak untuk belajar bahasa. Enam bulan kehidupan, bayi bersuara kombinasi dari 70 bunyi yang membentuk semua bahasa di dunia. Yang berkembang adalah apa yang mereka ambil dari lingkungan mereka.

Chi jadi teringat salah seorang teman yang anaknya fasih sekali berbahasa inggris. Menurut ibunya, mereka tidka pernah mengajarkan secara khusus bahasa inggris. Tapi sejak kecil, anaknya memang sering distelkan channel tv disney junior. Kalau mendengar uraian dari Dr Dyani, kemungkinan anak temen Chi ini fasih berbahasa inggris karena sudah terbiasa mendengar.


Hal terpenting yang dapat dilakukan orangtua adalah berbicara dan membaca untuk anak mereka. Selama bertahun-tahun batita dan prasekolah. sungguh penting memberikan anak kesempatan untuk mengalami berbagai bahasa dan bacaan - G. Reid Lyon. Ph. D -

Masa kemampuan belajar anak, ada dalam tahapan berikut:

  • 50% kemampuan belajar dikembangkan dalam empat tahun pertama kehidupan
  • 30% lagi sampai usia 8 tahun
  • 20% sisanya pada usia 18 tahun
  • Segala yang kita pelajari kemudian berkembang dari pola-pola yang dibakukan pada tahun-tahun tersebut

50% kemampuan belajar anak ditentukan pada empat tahun pertama kehidupan, dilanjutkan lagi 30% hingga usia 8 tahun. Total 80% kemampuan belajar anak terjadi saat usia anak adalah usia bermain. Oleh karenanya memang penting sekali untuk tidak menghilangkan dunia bermain dari kehidupan mereka. Kalau ingin mengajak anak belajar maka buatlah seperti sedang bermain alias harus menyenangkan.

Tidak semua permainan menyenangkan mengadung unsur edukasi. Gadget misalnya seperti pedang bermata dua. Banyak aplikasi gadget yang bermanfaat bagi anak. Tapi, jangan sampai membuat mereka jadi kecanduan. Ajarkan juga anak untuk bersosialisasi sambil tetap berhati-hati memilih teman. Permainan yang tepat dapat membantu anak berkembang dengan baik. Orang tua perlu cerdas memilih, mengajarkan, dan mengajak mereka untuk bermain. Jangan lupa selalu memasukkan nilai-nilai agama dalam setiap kesempatan.


Tentang Monde Boromon



Sesi kedua adalah dari pihak Monde Boromon, menjelaskan apa itu Monde Boromon. Sebetulnya Chi sudah mengulas tuntas tentang Monde Boromon dipostingan "Parenthood Style Di Era Digital" Jadi, kali ini Chi akan mengulas, apa sih yang bisa monde boromon lakukan untuk menstimulasi anak khususnya untuk usia 1-3 tahun?

  1. Megajarkan anak belajar meraih, memegang, menjepit, dan menggenggam - ukuran monde boromon yang kecil-kecil bisa melatih jari-jari tangan anak supaya kuat. belajar meraih, memegang, menjepit, dan menggenggam
  2. Langsung lumer dimulut sehingga tidak membuat anak tersedak. Monde Boromon juga bisa membantu menguatkan otot rahang pada anak
  3. Mengajarkan anak mengenal angka. Ketika makan, kita bisa mengarkan anak menghitung berapa butir yang bisa dia capit, misalnya
  4. Mengenalkan bentuk kepada anak
  5. Dan lain sebagainya

    Kebutuhan Nutrisi Untuk Kecerdasan Si Buah Hati



    Sesi terakhir adalah giliran narasumber Dr. Tetty Ernawati Harefa, MS, SpGK (Dokter Spesialis Gizi) yang akan menjelaskan bagaimana agar anak menjadi cerdas karena nutrisi.

    Pertumbuhan dan perkembangan anak memang tidak semata-mata karena genetik, tapi juga ada faktor lain, yaitu


    1. Genetik
    2. Nutrisi
    3. Hormonal
    4. Psikologis

    1000 Hari Pertama Kehidupan menjadi sangat penting karena masalah gizi dan kesehatan pada anak utamanya bukan disebabkan oleh faktor genetik melainkan karena faktor lingkunan. Oleh karena itu penting sekali memperhatikan asupan gizi sejak proses tumbuh kembang janin, bayi, dan anak uasia +/- 2 tahun,

    Ada beberapa orang tua yang suka takut memberikan anaknya makanan yang mengandung lemak. Padahal semua nutrisi itu baik bagi tubuh asalkan komposisinya tepat. Kalau dulu dikenal dengan nama 4 sehat 5 sempurna, sekarang menjadi piramida makanan. Dalam piramida makanan informasi tentang kebutuhan nutris lebih detil karena ada komposisinya. Bahkan air pun dimasukkan di dalam piramida makanan. Kalau di 4 sehat 5 sempurna, air tidka dimasukkan. Padahal kita tahu, air sangatlah penting bagi kehidupan manusia. 2/3 bagian tubuh manusia terdiri dari air.

    Asupan nutrisi tidak hanya untuk tumbuh kembang fisik anak tapi juga untuk perkembangan otak. 6 tahap perkembangan otak adalah sebagai berikut:


    1. Usia kehamilan 3-4 minggu: pembentukan lempeng, tabung, dan sel-sel syaraf
    2. Usia kehamilan 2-3 bulan: Pembentukan struktur jaringan otak
    3. Usia kehamilan 3-4 bulan: sel-sel jaringan otak bertambah jumlahnya dan ukurannya makin besar
    4. Usia kehamilan 3-5 bulan: sel-sel berpindah tempat sesuai tujuan masing-masing dimana sel itu akan berfungsi
    5. Usia kehamilan bulan s/d beberapa tahun setelah lahir: percabangan sel-sel otak bertambah banyak dan saling berhubungan
    6. Mulai lahir s/d anak usia beberapa tahun: tahap mielinisasi ada yang mengatakan sampai usia 5 tahun

    Ketika masih janin hingga anak berusia 3 tahun, anak harus memperoleh nutrisi yang cukup agar pertumbuhan otak terbentuk sempurna. Periode ini dinamakan Periode Emas Pertumbuhan Otak (the golden years) karena pada ini pertumbuhan dan perkembangan otak berlangsung dengan sangat cepat. Tapi dinamakan juga periode kritis karena hanya terjadi sekali seumur hidup dan tidak berulang. Bila terjadi gangguan otak tumbang pada periode ini, tak akan bisa diperbaiki di usia selanjutnya.
      Ada 19 zat penting untuk otak, diantaranya adalah taurin, tyrosine, kolin, Omega 3 dan 6, kolesterol, dan lain sebagainya. Dari 19 zat penting tersebut, ASI merupakan asupan yang paling komplit nutrisinya. Oleh karenanya ASI dianggap sebagai nutrisi terbaik untuk bayi. Anak dengan ASI eksklusif memiliki IQ 12,9 poin lebih tinggi dari anak seusianya.

      Hati-hati terhadap makanan yang bisa merusak otak, misalnya yang mengadung formalin atau boraks. Racun boraks dan formalin dapat mempengaruhi kerja syaraf. Untuk jangka pendek, efeknya adalah iritasi saluran pernapasan, muntah-muntah, pusing, dan rasa terbakar pada tenggorokan. Sedangkan efek jangka panjang adalah kerusakan hati, jantung, otak, pankreas, limpa, dan ginjal.

      Salah satu problem yang sering dialami orang tua berkaitan dengan makan adalah mempunyai anak yang susah makan. Tapi menurut DR. Tetty yang sering terjadi sebetulnya karena faktor ibu yang kurang sabar. Baru juga dikasih makanan baru trus anak melepeh, ibu sudah beranggapan kalau anaknya gak suka sama makanan tersebut. Ujung-ujungnya gak dikasih lagi. Padahal yang namanya makan itu adalah proses pembiasaan. Butuh waktu agar anak terbiasa dengan rasa makanan yang dicicipinya. Dan, setiap anak mempunya proses pembiasaan yang berbeda-beda.

      Untuk menjadikan anak cerdas, orang tuanya memang harus cerdas lebih dahulu. Bukan berarti orang tua harus menjadi seorang insinyur, boss perusahaan besar, atau lainnya. Cerdas yang dimaksud disini adalah harus mau terus mencari dan menggali ilmu untuk kebaikan anak-anak. Informasi melalui berbagai media kan sekarang mudah didapat. Bahkan kita bisa bergabung dengan berbagai forum. Kenapa tidak dimanfaatkan? Kalaupun tidak mencari ilmu melalui dunia maya, kan bisa mencari ilmu melalui tempat lain misalnya posyandu.

      Acara seperti talkshow Boromon ini pun memberikan banyak manfaat supaya orang tua menjadi (lebih) cerdas. Sekarang tinggal kita mempraktekkan ilmunya. Tapi, tentu aja seperti kata Dr . Tetty penanganan setiap anak itu berbeda-beda karena setiap anak itu spesial. Bahkan untuk anak yang kembar identik sekalipun, mereka tetap punya keistimewaan masing-masing. Jadi, jangan membanding-bandingkan.


      Continue Reading
      20 comments
      Share:

      Sunday, December 14, 2014

      Jangan Nol Pengetahuan Sejarah Kalau Jalan Jalan Ke Kota Tua


      Hari Minggu 16 November 2014, kami sekeluarga jalan-jalan ke Kota Tua. Rencana yang udah cukup lama tapi baru terlaksana. Sempet khawatir akan gagal lagi karena November sudah mulai memasuki musim hujan. Apalagi, minggu pagi hujan mulai turun dan gak tau apa akan ada tanda-tanda berhenti atau tidak.

      K'Aie: "Kalau gak brenti juga, nanti kita naik mobil aja."
      Chi: "Gak mau, ah. Ayah kan tau alasannya."



      Chi memang pengen banget ngajak Keke dan Nai jalan-jalan ke Kota Tua. Gak cuma untuk wisata sejarah, tapi juga mengajak mereka naik kendaraan umum. Keke dan Nai memang cukup jarang naik kendaraan umum. Jadi, Chi pengen mengenalkan ke mereka biar jangan sampai asing sama sekali dengan kendaraan umum. Setelah googling, kayaknya ke Kota Tua itu tempat yang tepat untuk mengenalkan mereka dengan kendaraan umum. Karena lumayan komplit, ada Trans Jakarta hingga Commuter Line.

      Walopun sedikit kesiangan dari jadwal semula karena menunggu hujan reda, perjalanan di awali dengan naik bajaj BBG, lanjut Trans Jakarta. Rencananya, mau pulang pake commuter line tapi batal. Udah Chi tulis di postingan "Jalan-Jalan KeNai Batal Naik Commuter Line". Tapi, lumayan lah pengalaman naik kendaraan umum waktu itu.



      Baru-baru ini, Kementrian Pariwisata sudah mencanangkan Kota Tua sebagai salah satu destinasi wisata nasional. Saat kami berada di sana juga memang cukup berasa, sih, kalau Kota Tua itu sebagai salah satu tempat wisata. Tinggal dirapikan saja sana-sini tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.

      Nah, ngomong-ngomong tentang nilai sejarah, memang salah satu tujuan utama jalan-jalan ke Kota Tua adalah wisata sejarah. Banyak bangunan tua peninggalan VOC (penjajahan Belanda). Zaman dimana Kota Tua merupakan pusat perdagangan terbesar berbasis kemaritiman pada zamannya.

      Bunda: "Tujuan Belanda pertama kali datang ke Indonesia untuk?"
      Nai: "Rebutan bumbu dapur!"
      Bunda: "Hahaha..! Bukan, Dek! Tapi, untuk mencari rempah-rempah."
      Nai: "Rempah-rempah itu bumbu dapur, kan? Trus gara-gara rempah-rempah, akhirnya perang. Berarti sama aja artinya ma rebutan bumbu dapur?"

      Nai sudah sedikit belajar tentang sejarah Indonesia untuk pelajaran PPKn. Salah satunya dialog yang di atas itu. Kadang, Nai suka ada ngeyelnya juga hahahaha.


      Memandang Kota Tua dari atas Menara Syahbandar sambil membayangkan pada masa VOC kapal-kapal Belanda mengangkut 'bumbu dapur' hehehe


      Memang sebaiknya jangan sampe nol pengetahuan sejarah kalau ajak anak-anak jalan ke Kota Tua. Apalagi kalau anak-anak sudah belajar tentang sejarah Indonesia di sekolah. Mereka pasti akan banyak bertanya apa ini/itu dan kenapa begini/begitu.

      Ya, gak perlu jadi ahli sejarah juga. Tapi, setidaknya kalau anak-anak bertanya-tanya, ada lah beberapa pertanyaan yang bisa dijawab. Jangan sampe serba gak tau. Trus, ujung-ujungnya mengajak mereka untuk cari di Google.


      Kotor plus bau pantai dan got yang bercampur-baur kami rasakan. Alhamdulillah, anak-anak gak rewel sama sekali.


      Seneng banget bisa ajak Keke dan Nai kesana. Selama di Kota Tua, kami pun berjalan kaki dari mulai halte Trans Jakarta hingga Pelabuhan Sunda Kelapa. Baliknya juga begitu, kami kembali berjalan kaki. Nai agak sedikit rewel karena lelah. Bisa dimaklum, sih, karena cuaca memang cukup terik saat itu. Udah gitu, dia gak mau pakai topi dan kaos kaki. Makanya kakinya agak sakit karena banyak kemasukan pasir saat di pelabuhan Sunda Kelapa. Dan, dia juga paling kepanasan kepalanya karena menolak pakai topi. Padahal bawa topi.

      Tapi, biarpun lelah, Nai menolak digendong. Tetap mau jalan sendiri. Hebat, deh! Ya, paling untuk menghibur hatinya, mampirlah ke minimarket. Sekalian istirahat hehehe. Memang harus fleksibel juga kalau jalan sama anak-anak. Pokoknya harus win-win solution. Anak-anak senang, orang tuanya juga senang. Jalan-jalan pun sukses :D


      Kaki Nai mulai kemasukan banyak pasir di sini


      Berjalan kaki di Kota Tua memang gak bisa disamain kayak jalan-jalan di mall yang sejuk karena AC. Jalan-jalan ke Kota Tua itu melelahkan, banyak debu, kusam, dan bau kurang sedap. Keke dan Nai juga bisa melihat langsung beberapa kehidupan masyarakat di sana. Melihat bapak penjual ulekan hingga yang jualan air. Melewati masyarakat yang tinggal di kolong jembatan. Pemandangan baru bagi Keke dan Nai dan mereka lihat secara langsung. Semoga mereka bisa ambil pelajaran dari jalan-jalan kali ini :)


      Karena keterbatasan waktu, kami gak bisa mengunjungi semua tempat. Mudah-mudahan bisa kesana lagi. Anak-anak juga gak kapok ternyata. Mereka masih pengen balik ke sana lagi. Tapi, mungkin lain kali kami akan menunjuk 1-2 tempat saja lalu didatangi sampai puas. Paling gak tunggu museum Fatahillah buka dulu kali, ya. Lagi di renovasi dan kemungkinan baru buka pertengahan Januari 2015.

      Berapa jam operasional museum-museum yang ada di sana? Bagaimana cara ke sana dengan kendaraan umum? Trus, tips jalan-jalan ke Kota Tua kalau bawa anak-anak itu bagaimana? Chi udah menulis itu semua. Coba aja baca tulisan dimulai dari postingan "Jalan-Jalan KeNai Di Kota Tua."

      Mumpung hujannya belom sering turun. Jalan-jalan ke Kota Tua bisa jadi salah satu alternatif liburan, nih :)

      Continue Reading
      32 comments
      Share:

      Friday, December 12, 2014

      CnS Junior Grand Competition 2014


      Bunda, tadi di sekolah ada audisi spelling bee buat diikutin lomba."

      Keke dan Nai saling rebutan bercerita tentang audisi spelling bee yang diadakan di sekolah. Kalau Keke bilang dia malas ikutan lomba dan sengaja disalah-salahkan jawabannya supaya gak terpilih. Nai kebalikannya, dia terlihat sedikit kecewa karena gak terpilih.

      Bunda: "Keke kenapa disalah-salahin jawabannya?"

      Keke: "Keke males ikut lomba, Bun!"

      Bunda: "Ya, kalaupun gak disalah-salahin belum tentu juga kepilih, kan? Berusaha maksimal aja dulu."

      Keke: "Iya, deh. Iyaaaa..."

      Bunda: "Nai masih kecewa?"

      Nai: "Enggak, sih. Cuma sedikiiiitt aja tadi."

      Bunda: "Gak apa-apa juga kecewa. Asal jangan berlebihan."

      Sebetulnya dalam hati Chi agak sedikit serba salah ketika menasehati Keke. Chi minta Keke jangan sengaja menyalah-nyalahkan jawaban. Tapi, seandainya dia berbuat yang terbaik dia bisa trus kepilih gimana? Sedangkan Keke gak ingin ikut sama sekali. Hmm.. mungkin ke depannya, Chi akan minta Keke untuk berterus terang aja kalau memang gak ingin. Tentunya harus punya alasan yang kuat dan tepat.

      Beberapa minggu kemudian...

      Nai: "Bunda, Ima dapet surat dari sekolah. Baca, deh."

      Bunda: "Bunda lagi nyetir, Nak. Ima bacain aja."

      Nai: "Jadi, minggu depan kan ada lomba di TMII. Ima dipilih sama sekolah buat ikut lomba mewarnai."

      Chi belum pernah denger Nai ikut audisi mewarnai di sekolah. Tapi beberapa waktu sebelumnya ada lomba pekan Muharram, dan Nai juara 1 untuk lomba mewarnai. Mungkin dari situ dia terpilih untuk mewakili sekolah.

      Acaranya sudah berlangsung 2 minggu yang lalu di Istana Anak, TMII. Kami berkumpul di sekolah dari pukul 6 pagi. Siswa/i yang ikutan lomba berangkat pakai mobil antar-jemput sekolah. Orang tua mengiringi aja. Berangkat sekitar pukul 7, dan suasana Istana Anak udah sangat ramai.

      Sebetulnya Chi rada malas ngelihat lomba kayak gini. Pernah Chi tulis alasannya di postingan “Berbagai Tingkah Laku Orang Tua Di Lomba Mewarnai”. Memang bukan urusan Chi, tapi ngelihat yang kayak gitu bikin gregetan. Makanya, Chi itu suka rada males ngajak anak-anak untuk ikut lomba hehe. Tapi, kalau anaknya semangat ikutan, masa' kita harus melarang? Sesekali singkirkan ego orang tua :)

      Saat lomba, Nai Chi minta duduk paling depan, jauh dari orang tua dan pengajar. Benar-benar berusaha sendiri. Memang Nai gak mendapat juara apapun. Tapi, Chi bangga karena Nai udah berusaha maksimal yang dia bisa dengan jujur.



      Godie bag yang rapet-rapet

      “Dek, ini goodie bagnya. Tapi khusus yang ini kasih ke mama, ya.”

      Setiap anak yang ikut lomba, mendapatkan 1 tas goodie yang isinya lumayan banyak dengan aneka camilan dan minuman. Tapi, setiap kali memberikan goodie bag kepada peserta, mbak-mbak yang memberikannya selalu berkata seperti itu. Dalam hati, Chi merasa tinggal tunggu saatnya aja Nai cepat atau lambat akan bertanya tentang benda yang ‘khusus buat mama’.

      Nai: “Bun, emangnya ini apa, sih?”

      Tuh! Benar, kan? Seusai lomba Nai pun bertanya. Benda yang ‘khusus buat mama’ itu adalah minuman jamu untuk wanita yang rapet-rapet itulah. Kayaknya gak perlu Chi jelasin secara detil kali, yaaa… Hahaha.

      Bunda: “Jamu untuk perempuan yang udah dewasa.”

      Untungnya setelah itu, Nai gak bertanya lebih lanjut. Dia cuma bilang, “Oh.”

      K’Aie: “Lagian aneh. Lomba untuk anak kok ada goodie bag kayak gitu.”

      Hihihi bener juga apa kata K’Aie. Kalaupun mau ada goodie bag untuk mama atau papanya cari yang gak bikin anak-anak penasaran kali, yaaa.. Misalnya, kopi arabika. Kalau goodie bagnya kopi, Keke dan Nai juga udah tau apa itu kopi. Lagian aman buat dijawab hehehe.

      Etapi, bukan karena gak ada goodie bag kopi kalau setelah lomba kita lanjut ngopi-ngopi di Rumah Kopi Nusantara yang letaknya pas di seberang Istana Anak. Abis itu lanjut ke museum PPIPTEK yang ternyata berada hampir 3 jam di sana masih kurang puas.

      Cerita ngopi-ngopi di Rumah Kopi Nusantara dan ke museum PPIPTEK dipostingan berikutnya aja. Sekarang baca-baca dulu postingan ini sambil nyeruput kopi. Mumpung lagi hujan, nih. Menikmati hujan memang paling enak sambil nyeruput kopi


       
      Mari kita ngopi dulu :)

      Continue Reading
      30 comments
      Share:

      Wednesday, December 10, 2014

      Creativepreuneur School

      Ini ada di samping Graha Bhakti Budaya. Gak tau untuk acara apa.


      Chi: "Yah, udah beli tiket Sayap-Sayap Mimpi belom?"

      Ternyata K'Aie lupa. K'Aie langsung sms contact person pertunjukkan dan buka web penjualan tiket Sayap-Sayap Mimpi.

      K'Aie: "Kita mau yang kelas berapa, Bun?"
      Chi: "Sebetulnya paling enak VIP, ya. Tapi, lumayan banget kalau dikali 4. Kalau kelas 2 kejauhan posisinya. Paling pas harga kelas 1, sih. Tapi enak gak sih nonton dibagian sayap?"
      K'Aie: "Ambil yang deket sama VIP aja. Jadi, gak terlalu minggir nontonnya."

      Kami pun sepakat memilih tiket kelas 1. FYI, harga tiket VIP Rp150.000,00, kelas 1 Rp100.000,00, kelas 2 Rp75.000,00. Gak lama kemudian, kami menerima sms dari cp pertunjukkan.

      K' Aie: "Kok, katanya harga tiketnya Rp50.000,00 per orang?"
      Chi: "Setau Chi, harga segitu untuk pelajar. Mungkin disangkanya kita mau bawa rombongan pelajar karena nontonnya siang kali."

      Sotoynya, kami gak tanya balik lagi. Langsung transfer sejumlah Rp400.000,00 setelah itu konfirm. Setelah dapat sms balasan, kami baru tau kalau untuk pertunjukkan siang semua harga dipukul rata jadi Rp50.000,00 per orang.

      Sasaran utama untuk pertunjukkan siang memang untuk pelajar. Jadi, pengunjung yang bukan pelajar pun tetap dikasih harga pelajar. Tapi, karena harganya disamakan jadinya gak ada kelas-kelas. Wah bisa berebutan, nih! Ada beberapa pilihan untuk kelebihan uang yang kami bayar. Kami memilih untuk didonasikan ke Sanggar Akar saja.


      Makan siang di kantin mahasiswa IKJ



      Jakarta memang macet! Setelah perjalanan yang lumayan lama karena macet, sekitar pukul 2.15 wib, 45 menit sebelum acara dimulai kami tiba di Graha Budaya, TIM. Ternyata, kekhawatiran Chi kalau bakal rebutan bangku gak terjadi. Penyelenggara sudah menentukan tempat duduk para penonton. Syukurlah.

      Setelah mendapat tiket, kami memilih makan siang di sekitar sana aja. Makan di kantin mahasiswa IKJ. Sempet bingung karena smeua warung kok kayaknya jualan soto semua (ada makanan lainnya juga, sih). Mahasiswa/i pada demen makan soto kayaknya hehehe. Akhirnya, kami pilih aja deh salah satu warung.

      K'Aie pesen mie ayam, Keke dan Nai pilih tongseng, Chi jus alpukat aja. Gak bermaksud diet, cuma masih kenyang hihihi.

      K'Aie: "Yang satu, tongsengnya jangan dikasih pedas sama sekali, Mas."



      Gak berapa lama tongseng pesanan pun datang. Tapi, semuanya dikasih rawit. K'Aie komplen karena udah pesen gak pake pedes. Si masnya bilang kalau tongseng memang harus pedes. Huh? Sejak kapan tongseng harus pedes? Untungnya, rawitnya dipotong-potong, bukan diulek. Jadi, memudahkan kami untuk membuang rawit dan gak bikin kuahnya kepedesan.

      Sebetulnya sayang, sih ngebuang rawit. Harga cabe lagi mahal bangeeett hahaha. Mana si masnya itu kasih rawitnya banyak banget, lho. Tongseng rasa soto ini dengan cepat kami santap. Iya, rasa soto karena gak ada cita rasa tongsengnya sama sekali hihi. Harganya juga menurut Chi bukan harga mahasiswa, ya. Rp25.000,00 seporsi. Apalagi di deket rumah ada yang jualan tongseng harganya gak semahal itu tapi rasanya enak. Ya, sudahlah yang penting makan :D


      Saatnya nonton Pertunjukan!


      Kami kembali ke Graha Budaya mendekati pukul 3 sore. Sudah panjang antrenannya untuk masuk ke teater. Untungnya ada seseorang yang K'Aie kenal. Jadi, aja kami boleh mengikutinya masuk ke dalam teater tanpa antre. Lumayaaann hehehe.

      Senengnya lagi, kami dapet tempat duduk di deretan VIP. Ihiiyy! Emang rejeki. Sambil menunggu acara dimulai, Keke dan Nai membaca koran tentang Akarnaval yang dibagikan. Nai seneng banget waktu namanya dicantumkan sebagai salah satu sahabat Sanggar Anak Akar. Namanya tercantum karena ikut menjadi donatur. Padahal yang kami donasikan tidak seberapa, tapi terimakasih banyak untuk sanggar anak akar karena udah bikin Nai senang. :)

      Acaranya molor sekitar 15 menitan. Penonton dibelakang kami sudah protes. Jalanan memang macet dimana-mana kayaknya. Sampe acara dimulai, rasanya baru setengah kapasitas tempat duduk yang terisi. Tapi, kemudian satu per satu penonton semakin banyak berdatangan bahkan ketika pertunjukkan sudah ditengah perjalanan. Untuk jalan ceritanya Chi udah tulis di postingan Sayap-Sayap Mimpi, ya.

      Selesai pertunjukkan, K'Aie ngobrol dulu sama salah seorang temannya dari sanggar akar anak. Kemudian, kami diajak untuk bertemu dengan sutradara, Ibe Karyanto, di balik panggung. Setelah bertemu dengan sutradara yang biasa dipanggil uwa oleh semua orang ini, K'Aie saling temu kangen. Mereka berdua memang sudah saling mengenal.


      Chi dan anak-anak mendengarkan mereka ngobrol aja sambil sesekali foto-foto. Menurut uwa Ibe, pentas ini disiapkan cukup singkat, yaitu 2 bulan. Kecuali para pemain musik, yang lebih lama persiapannya. Uwa Ibe juga mengajak Keke dan Nai untuk sesekali main ke Sanggar Anak Akar. Apalagi begitu tau Keke suka main drum, diajak untuk bermain musik di sana.

      Kami gak ngobrol lama, karena pentas terakhir akan segera dimulai. Tentu mereka butuh persiapan. Menurut uwa Ibe, di pentas terakhir seluruh orang tua dari anak-anak yang tergabung di Sanggar Anak Akar akan diundang untuk nonton. Itu kalau mereka masih punya orang tua katanya. Duh, Chi sempet sedih dengernya mengingat nasib anak-anak Sanggar Akar kan kelompok kaum pinggiran.

      D pertunjukan terakhir, akan ada juga pengumuman pemenang dari serangkaian lomba Akarnaval 2014. Lalu akan ada Creativepreneur School, sekolah fotografi Sanggar Anak Akar yang digagas oleh Reza Rahardian.



      Hmmm... sayang banget acaranya malam (pukul 7). Kalau pukul segitu, Keke dan Nai udah menjelang jam tidur mereka. Bisa-bisa di dalam gedung mereka tidur hehehe. Yah pokoknya Chi makin penasaran dan kepengen datang ke sanggar anak akar. Semoga kapan-kapan bisa ajak Keke dan Nai kesana. Mungkin sebagai salah satu kegiatan pengisi liburan sekolah? Boleh juga, nih :)


      Kunci mobil hilang


      Merasa puas banget sama jalan-jalan hari itu. Sampe mobil, kemana kunci mobil? Waduh, gimana kami pulang, nih. Sempet khawatir kalau ketinggalannya pas di kantin mahasiswa. Berarti udah beberapa jam yang lalu kalau memang ketinggalan disana.

      K'Aie dan Keke pun pergi menyusuri tempat-tempat yang kami datangi dari awal kedatangan ke TIM. Tinggal Chi yang nunggu gelisah banget. Menunggunya kerasa lama banget. Kalau Nai keliatan cuek hahaha.

      Setelah lama menunggu, K'Aie dan Keke pun datang. Ternyata, kuncinya jatuh di kursi tempat K'Aie duduk. Kemungkinan waktu K'Aie ambil hape buat motret setelah pertunjukkan selesai, kunci mobil kedorong keluar dari tas. Untung aja panitianya cek-ricek lagi tempat duduk penonton setelah acara selesai. Barang-barang yang ditemukan, dikumpulkan di satu tempat. Alhamdulillah. Terima kasih banyak untuk para panitia yang telaten kerjanya.

      Gak kebayang kalau sampe kunci mobil gak ketemu. Mana udah menjelang malam. Jadi inget juga kunci mobil pernah dikasih gantungan yang pake sensor suara. Kalau kita tepuk tangan atau siul, itu gantungan kunci bunyi. Sengaja beli karena suka lupa naro kunci mobil hahaha.

      Kemana ya itu gantungan kuncinya? Kelamaan gak dipasang, lupa naronya. Batterenya juga kayaknya udah habis. Ditepuk sama disiulin udah gak bunyi.Cari lagi, ah. Yang model spy car key aja apa, ya? Biar paket komplit sekalian karena ada kamera dan microphone hehehe.

      Dipertimbangkan, lah. Yang jelas jalan-jalan di hari itu kembali ditutup dengan yang namanya macet banget. Kalau gak macet kayaknya bukan Jakarta, ya. Capek menghadapi macet. melipir sebentar buat makan ramen. Biar sampe rumah tinggal istirahat :D

      Continue Reading
      24 comments
      Share:

      Monday, December 8, 2014

      Kurikulum Teaching With Love

      Lagi heboh pro-kontra tentang kurikulum 2013, ya? Etapi, kapan sih kurikulum di negara kita gak rame dengan yang namanya pro-kontra? Dari sebelum ada kurikulum 2013 juga kurikulum yang sebelum-sebelumnya selalu rame pro-kontra. Emang gak pernah sepi kalau ngomongin kurikulum hehehe.

      Kalau ditanya suka atau tidak dengan kurikulum 2013, Chi akan jawab iya. Oiya, Chi pro untuk K13 yang SD, ya. Kalau yang SMP/SMA masih no comment. Belom ngerasain hehe. Tapi terlepas dari apakah Chi pro atau kontra dengan kurikulum baru ini yang penting adalah Teaching With Love.

      Kalau dikatakan Chi pro dengan kurikulum 2013, tapi bukan berarti dengan kurikulum sebelumnya Chi selalu kritik dan mengeluh terus-terusan, lho (Bisa dibuktikan dengan membaca tulisan-tulisan Chi di file metode belajar). Boleh aja berpro-kontra, tapi kalau Chi hanya fokus kepada kritik dan mengeluh malah jadinya lupa untuk mengajarkan Keke dan Nai. Padahal materi pelajaran segabruk yang harus dipelajari. Lagipula semua kurikulum itu ada ribetnya masing-masing tapi juga ada keuntungannya masing-masing. Gak ada yang 100% sempurna atau 100% buruk.

      Teaching with love yang Chi terapkan adalah mengajarkan Keke dan Nai sesuai dengan karakter gaya belajar mereka. Jadi walopun materinya sama, bukan berarti Chi bisa mengajarkan dengan cara sama ke mereka. Seringkali Chi menulis kalau Keke gaya belajarnya auditori sedangkan Nai itu visual. Tentunya untuk beberapa hal, Chi harus menjelaskan dengan cara berbeda. (Silakan lihat lagi file metode belajar, bagaimana Chi mengajarkan Keke dan Nai). Chi gak bisa 100% mengandalkan ke guru. Chi juga harus terjun langsung mengajarkan Keke dan Nai.

      Kesimpulannya sih, apapun kurikulumnya, Chi berusaha siap aja lah. Etapi, denger dari sumber yang (mudah-mudahan) bisa dipercaya Kurikulum 2013 gak dihentikan total, cuma dievaluasi. Judul berita di media aja yang seolah-olah dihentikan total. Kalau memang bener, syukur lah. Jangan sampe semakin melekat pemikiran "Ganti Menteri, Ganti Kurikulum." Karena buat Chi, sih, apapun kurikulumnya memang sebaiknya jangan gonta-ganti. Sempurnakan aja yang sudah ada. Dan, untuk menyempurnakan itu memang butuh proses yang gak instan. Butuh waktu panjang juga buat pembiasaan.

      Mungkin untuk orang tua yang mempunyai sedikit waktu bersama anak karena harus bekerja akan merasa kesulitan bagaimana mengajarkan anak. Waktunya aja udah habis di jalan dan di kantor. Ya, sebetulnya ang Chi lakuin di atas kan cuma salah satu cara. Untuk orang tua yang bekerja bisa dengan cara meningkatkan kualitas. Misalnya, ketika bertemu dengan anak jangan cuma nanya nilai pelajaran. Tapi, tanya juga perasaannya tentang sekolah, teman, ada kesulitan belajar atau enggak, dan lain-lain. Kasih motivasi yang bikin anak senang bukan yang membebani. Chi rasa walopun cuma 10 menit, kalau ditanya begitu bisa menambah semangat anak untuk belajar dan berprestasi, lho. Karena anak itu sebenarnya seneng kok bikin bangga orang tua. Diskusi-diskusi ringan seperti ini juga termasuk teaching with love.

      Masa' sih? Kan, Chi di rumah? Darimana tau kalau 10 menit aja cukup?

      Iya lah Chi tau. Kan, dulu orang tua Chi dua-duanya juga bekerja. Seringkali ketemunya pagi aja sama wiken. Atau kalau masih penasaran juga, belajar aja dari orang tua yang keduanya bekerja tapi anak-anaknya tetap berprestasi dan bahagia. Di lingkungan sekitar kita pasti banyak contohnya.

      Oiya, belum tertarik untuk memasukkan Keke dan Nai ke bimbingan belajar juga bagian dari teaching with love yang Chi berikan. Kasihan, mereka udah sekolah sampe lewat tengah hari. Masa' masih harus belajar lagi di bimbel. Kapan mainnya? Ngebul nanti otak mereka kalau belajar melulu hehehe. Etapi, bukan berarti orang tua yang memasukkan ke bimbel trus Chi berkesimpulan kalau mereka gak sayang anak, ya. Plisss, jangan di generalisir. Karena setiap keluarga punya pendapat dan kebutuhan masing-masing :)

      Jadi, karena Chi bukan orang yang berwenang mengubah kurikulum (ada yang lebih ahli untuk hal itu). Maka, yang bisa Chi lakukan adalah mengajarkan Keke dan Nai dengan cara Teaching with Love. Apapun kurikulumnya, Chi akan berusaha agar Keke dan Nai tetap bahagia ketika belajar. Syukur-syukur kalau berprestasi juga :)

      Chi: "Bu, model UASnya ganti lagi, ya?"
      Wali kelas: "Iya, Ma. Karena bla.... bla...bla..."
      Chi: "Oh gitu. Saya cuma nanya aja, sih. Karena apapun modelnya, tetep aja harus belajar."
      Wali kelas: "Iya bener, Ma hehehe."

      Obrolin ringan Chi di WA dengan wali kelas Keke. Emang iya, kan apapun modelnya tetep aja harus belajar? Nah, Chi memilih dengan cara Teaching With Love.

      Bagaimana dengan teman-teman? ;)


      post signature

      Continue Reading
      38 comments
      Share:

      Tuesday, December 2, 2014

      Makan Mewah Tapi Murmer Karena BCA KlikPay

      Chi: “Yah, pernah belanja pake BCA KlikPay, gak?”
      K’Aie: “Pernah. Kenapa memangnya?”
      Chi: “Enggak, sih. Cuma pas Chi ke web KlikBCA ngelihat tulisan BCA KlikPay gitu. Pas Chi klik, ada daftar merchant. Itu untuk belanja online, ya?”
      K’Aie: “Iya. Gampang kok pakai BCA KlikPay”
      Chi: Asik, dong! Nanti siang, Chi coba lihat-lihat lagi, ah.”


      BCA KlikPay

      Chi dan K’Aie memang gemar belanja online. Udah makin males aja belanja di mall. Udara di luar lagi geraaahh, trus makin males ketemu macet. Bedanya kalau Chi lebih sering belanja baju dan selalu ‘kalap’ kalau beli buku. K’Aie seringnya belanja peralatan adventure dan computer.

      Chi coba lagi BCA KlikPay, gak taunya harus registrasi dulu. Chi kirain kalau udah punya KlikBCA berarti otomatis udah bisa pakai BCA KlikPay. Tapi, daftarnya gampang banget, kok. Yang gaptek juga pasti bisa. Yakin, deh! Oiya pembayaran BCA KlikPaybisa pakai KlikBCA atau kartu kredit BCA. Chi pilih KlikBCA aja, deh. Motong rekening tabungan.

      Berasa daftarnya mudah banget, jadi aja tergoda buat belanja *alesyaaann, padahal emang pengen belanja hihihi. Dan, (lagi-lagi) Chi tergoda untuk beli buku di salah satu online store langganan. Bener kata K’Aie, lebih memudahkan. Semacam jalan pintas gitu.

      Biasanya kalau Chi belanja di online store ini kan setelah semua barang yang dipilih masuk keranjang belanja dan Chi klik oke, tahap selanjutnya adalah memilih metode pembayaran dengan kartu kredit. Setelah itu, Chi memasukkan nomor kartu yang lumayan panjang. Berikutnya, aka nada halaman baru di website yang meminta Chi memasukkan kembali kode angka yang dikirimkan pihak kartu kredit ke handphone.

      Kalau pake BCA KlikPay, lebih mudah, karena menghilang step memasukkan nomor kartu yang panjang. Begitu selesai transaksi, Chi langsung dapet email dari toko online bersangkutan kalau pembayaran udah diterima. Lumayan mudah.

      Urusan bayarnya paling 5 menit, tapi kayaknya kurang deh. Soalnya memang cepet banget. Yang lama itu pilih barangnya. Buku memang selalu menggoda untuk dibeli hehehe


      BCA KlikPay
      Dalam waktu singkat pembayaran sudah dianggap berhasil

      BCA KlikPay
      Ada banyak merchant yang udah gabung di BCA KlikPay. Tinggal lihat aja di daftar merchant kalau mau tau online store apa aja yang udah bisa pakai BCA KlikPay
      BCA KlikPay

      Ya, udah kalau begitu Chi sekarang tinggal duduk manis nunggu buku-bukunya datang. Sambil nunggu, buka twitter dulu. Ahaaiii! Ternyata, di Twitter @KlikPayBCA sering kasih tau promo-promo seru dari merchantnya. Mulai dari barang-barang dengan harga Rp10.000,00 sampe barang yang didiskon 50%! Belanja lagi? Pengen, sih. :D


      Kenapa Harus BCA KlikPay? from Bank Central Asia

      Continue Reading
      90 comments
      Share:

      Monday, December 1, 2014

      Sayap Sayap Mimpi

      Sayap Sayap Mimpi
      Sinopsis - Sebuah kisah yang terinspirasi oleh perjuangan beberapa kaum muda untuk menemani anak-anak yang dipinggirkan, untuk mewujudkan mimpi berkembang menjadi pribadi yang berintegritas. Perjuangan berawal dari pertemanan Sukma, Raga, dan beberapa mahasiswa dengan anak-anak jalanan, anak-anak pemukiman urban seperti Genta, Atta, Riska, dan Wiwi.
      Kepercayaan yang kemudian tumbuh diantara mereka, menumbuhkan kebiasaan berdialog. Merencanakan segala hal yang dibutuhkan demi kebaikan anak. Termasuk mendirikan Rumah Kita, tempat mereka belajar hidup. Perjalanan pertemanan masih berlanjut, meskipun sudah ada regenerasi. Peran-peran Sukma dan Raga yang sudah mulai menua digantikan oleh Genta dan teman-temannya.

      Adegan anak-anak pinggiran sedang tertidur  di dalam rumah tanpa kasur atau alas lainnya. Dinding rumah yang hanya berlapisan koran dan ada bagian yang sobek merupakan adegan pembuka teater musikal Sayap-Sayap Mimpi.

      Satu per satu adegan berganti. Kehidupan yang banyak Chi tau lewat berbagai media atau melihat langsung ketika berada di luar rumah. Rumah dan lingkungan yang kumuh. Ancaman dan berujung dengan kerusuhan ketika tempat mereka bernaung akan digusur karena 'kalah' dengan rencana pembangunan kota. Keluarga yang kurang harmonis gara-gara urusan ekonomi. Beban sekolah yang berat, dan sebagai anak mereka pun harus ikut mencari nafkah dengan mengamen. Dikejar dan ditangkap tramtib. Menyogok tramtib ketika salah seorang dari mereka ditangkap. Demo menuntut teman mereka di lepas setelah ditangkap tramtib. Perkelahian sesama anak jalanan. Bener-bener potret kehidupan masyarakat pinggiran. Kehidupan yang berat terutama bagi anak-anak.

      Pasukan tramtib yang berseragam orange ini menari dengan lucu. Tapi, kalau dalam dunia nyata kayaknya gak ada lucu-lucunya, ya hehe

      Continue Reading
      38 comments
      Share: