Thursday, December 31, 2015

Thank You, 2015!

Ini waktu acara tahun baru 2014 lalu

Tahun baru 2015 sudah tinggal hitungan jam lagi, nih. Bagaimana cerita teman-teman sepanjang tahun 2015 ini? Semoga banyak cerita menyenangkan, ya. Kalau Chi berusaha mensyukuri aja. Sepertinya tahu 2015 ini dilalui dengan banyak kisah menyenangkan. Yang pasti, sih, jumlah postingan di blog ini sedikit lebih banyak dibandingkan tahun 2014. Kalau tahun 2014 ada 151 postingan, tahun 2015 ada 156 postingan. Alhamdulillah.

Bagaimana dengan resolusi? Kalau untuk yang satu ini kayaknya Chi gak bisa jawab. Karena memang gak pernah bikin resolusi. Ada beberapa yang mengatakan kalau resolusi membuat kita menjadi semangat. Tapi, kalau buat Chi biarkan mengalir aja, deh. Bukan berarti Chi gak punya tujuan. Cuma khawatir baper aja kalau resolusi gak tercapai hehehe

Continue Reading
23 comments
Share:

Tuesday, December 29, 2015

Hari Senin, Hari Pertama Sekolah (Lagi)


Berapa hari lagi sisa liburan? Gak sampe seminggu lagi huaaaa ...!

Hari Senin depan, hari pertama sekolah. Senin, kan, identik dengan I Hate Monday, ya? Hihihi ... Udah gitu hari pertama sekolah pula. Abis tahun baruan banget. Boleh nambah libur gak, ya? *Ups!* *Keke udah kelas 6, gak boleh banyak izin hehehe*

Cari-cari penyemangat, ah, supaya Senin depan semangat. Baca beberapa tip di blog Happy Fresh kayaknya boleh juga dipraktekin, nih. Biar Senin jadi semangat. Tapi, kayaknya Chi perlu juga melakukan beberapa hal lain supaya Senin depan gak gravak-grubuk

Continue Reading
22 comments
Share:

Monday, December 28, 2015

Mau 3 Jam, 8 Jam, atau Seminggu, Sekali Ibu Tetaplah Ibu


Seperti apa, sih, kriteria ibu sejati? Biasanya pertanyaan seperti ini akan memicu mom's war tiada ujung. Dari zaman rikiplik hingga sekarang udah zaman gadget, perdebatan ini masih aja ada. Mungkin sampe banyak orang udah bisa wisata ke bulan pun bisa jadi masih ada. Dan, akan semakin ramai kalau menjelang hari ibu hahaha!

Ibu sejati itu (katanya) yang melahirkan secara normal. Hmmm ... berarti Chi bukan ibu sejati. Dua kali melahirkan dan keduanya caesar. *Okeh, melipir cantik, memilih melihat senyum anak-anak :)

Ibu sejati itu (katanya) yang memberikan ASI Eksklusif lalu lanjut menyusui hingga paling tidak si anak berusia 2 tahun. *Yeay! Berarti Chi termasuk ibu sejati.*

Lha tapi yang bener gimana, nih? Kan, Chi gak melahirkan secara normal, tapi memberi ASI hingga berusia 2 tahun (malah lebih). Jadi, Chi termasuk ibu sejati atau bukan? Yang pasti Chi gak akan menjawab. Karena Chi bukan termasuk yang suka mengkotak-kotakkan seperti itu. Jadi silakan bertanya kepada yang suka mengkotak-kotakkan. Kalau Chi terserah, lah, orang mau bilang apa. Buat Chi cukup lihat anak-anak aja. Selama mereka masih nyariin bundanya berarti Chi masih dibutuhkan oleh mereka :D

Etapi, pas hari ibu yang baru saja lewat ada 1 lagi yang rame. Tentang tweet dari salah seorang public figure yang mempertanyakan peran ibu. Menyinggung peran ibu yang hanya bisa 3 jam bertemu anak-anaknya dalam sehari. Apakah yang seperti itu masih bisa dianggap ibu atau lebih cocok dianggap karyawan? :D

Continue Reading
58 comments
Share:

Sunday, December 27, 2015

Flash! Flash! Flash OPPO R7s!

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash 
Press conference launching OPPO R7s di Empirica, Jakarta. 7 Desember 2015.

Flash! Flash! Flash!

Yup! It's all about flash untuk OPPO R7s.

Etapi, OPPO? Apa itu OPPO?

OPPO adalah smartphone asal Tiongkok. Huh … Bukankah produksi Tiongkok identik dengan barang KW? Lagian gak gengsi pakai barang produksi Tiongkok?

Eits! Santaaaiii … Itu pemikiran saya sekitar 2 tahun lalu. Saat saya baru berkenalan dengan OPPO. Yang kemudian saya semakin berkenalan dengan OPPO setelah diundang ke acara N1 Pre Unboxing Event di The Cone, FX Sudirman Jakarta pada tanggal 30 November 2013 (Baca: OPPO N1 Layak Diperjuangkan!)

Pepatah tidak kenal makan tidak sayang itu berlaku banget. Setelah saya hadir di undangan Pre Unboxing 3 tahun lalu, saya mulai merasa kalau OPPO itu handphone yang bisa direkomendasikan. Kemudian semakin ke sini, banyak yang sudah membuktikan kalau OPPO memang handphone yang keren punya.

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash


Sejarah OPPO
Di acara Pre Unboxing Event itu untuk pertama kalinya saya mengenal OPPO lebih dekat. Saya jadi mengetahui kalau produk Tiongkok gak selalu KW. Lagipula, sekarang apa, sih, yang gak dibikin di Tiongkok? Berbagai barang branded dibuat di Tiongkok. Jadi, kalau kemudian salah satu perusahaan dari Tiongkok memproduksi smartphone dengan kualitas tinggi seharusnya bukanlah hal yang aneh.



OPPO adalah perusahaan yang berdiri sejak tahun 2004. Seiring berjalannya waktu, prestasi demi prestasi terus diraih oleh OPPO. Membuktikan bahwa OPPO memang sebuah brand yang produk-produknya berkualitas. Tidak hanya berkualitas, smartphone OPPO adalah teknologi dengan balutan cita rasa seni yang juga tinggi.

"The Art of Technology" adalah filosofi OPPO. Setiap produk OPPO selalu terinspirasi dari para penggunanya. Terutama anak muda yang selalu ingin memiliki smartphone yang tidak hanya berteknologi tinggi tapi juga stylish. Oleh karenanya OPPO terus mengejar kesempurnaan yang dibutuhkan pengguna. Dimulai dari pengembangan produk hingga after sales service.

Beberapa sejarah yang telah diraih OPPO adalah sebagai berikut:
  • OPPO Blu Ray dijadikan sebagai standar produksi dalam elektronik Blu Ray
  • OPPO Electronics Corp berhasil masuk dalah daftar Fortune 100 Amerika (daftar 100 perusahaan yang berhasil sukses di Amerika)
  • Meraih penghargaan The Best User Experience Smartphone dalam ajang IGRA (Indonesia Golden Ring Awards)
Setiap produk smartphone OPPO juga selalu menjadi yang pertama. OPPO Finder menjadi smartphone tertipis di dunia (tebal 6,65mm). OPPO Find 5  adalah smartphone pertama yang memiliki layar full HD 1080p. OPPO N1 adalah kamera putar pertama di dunia dengan kualitas 13MP.

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash

Teman-teman pernah menonton America's Next Top Model cycle 22? Beberapa kali dalam setiap episodenya para model melakukan selfie dengan menggunakan smartphone OPPO. Woohoo! Jadi masih gengsi pakai produk OPPO hanya karena buatan Tiongkok? Ah, hari gini kalau mikirin gengsi rugi banget! Lagian udah terbukti OPPO memang berkualitas.

OPPO R7s - Style in Flash

Flash! Flash! Flash OPPO R7s! Yeay! It's all about flash!
“Kami melihat bahwa masyarakat Indonesia memiliki antusiasme yang cukup tinggi terhadap seri R7, sehingga kami tertantang untuk memberikan terobosan baru pada seri tersebut. Oleh karena itu, kami meluncurkan OPPO R7s, smartphone pertama OPPO yang serba cepat dengan kemampuan flash performance, flash charging, dan flash camera focus,” ujar Ivan Lau, CEO OPPO Indonesia.
Coba, deh, kalau kita tanya diri sendiri untuk urusan handphone. Handphone yang lemot dan gampang hang bisa bikin bete. Handphone butuh waktu lama dicharge juga bikin kesel. Ujung-ujungnya mengandalkan powerbank. Hasil tangkapan kamera yang gak bagus juga bikin kecewa. abis kelamaan cari auto fokusnya.

Handphone memang seharusnya bisa mendukung aktivitas pengguna. Kalau dulu, fungsi telpon dan sms saja sudah cukup untuk mendukung pengguna berkomunikasi dengan lebih lancar. Seiring perkembangan teknologi, tuntutan para pengguna terhadap handphone lebih banyak lagi. OPPO R7s menjawab semua kebutuhan itu. Smartphone dengan kinerja super cepat untuk berbagai aktivitas yang cepat. Semua serba flash tapi tetap bergaya.

Dengan 7 Alasan Ini, Maka Beri Saya OPPO R7S

"Mas ... Mas ...Udah, ah, penjelasannya nanti saya semakin tertarik untuk punya OPPO."

Tentu saja saya berkata seperti itu dalam konteks becanda. Mas *Maaf, saya lupa namanya hehehe* yang menjelaskan tentang berbagai kelebihan OPPO R7s itu pun tertawa mendengar ucapan saya. Kenyataannya, saya malah bertanya terus. Dan gak bisa dipungkiri kalau semakin banyak mas Sales Promotion Boy itu menjelaskan, saya makin tertarik memiliki OPPO R7s.

Saya memiliki 7 Alasan Kenapa Menginginkan OPPO R7s *alasan ini biasanya yang selalu saya tanyakan dan pertimbangkan kalau mencari handphone baru*

1. Saya Blogger

  

Saat baru menjadi blogger, seperangkat PC dan kecepatan internet yang seadanya sudah cukup bagi saya. Tapi, dengan berjalannya waktu, kebutuhan pun semakin meningkat. Saya membutuhkan internet dengan kecepatan yang tidak lagi seadanya. Kemudian saya pun mulai membutuhkan laptop. Agar bisa ngeblog secara mobile. Bahkan saya mulai membutuhkan handphone yang smart untuk menunjang kegiatan saya sebagai blogger.

Memang hingga saat ini, saya belum juga terbiasa membuat artikel dengan menggunakan smartphone. Tapi saya tetap butuh smartphone untuk mencari berbagai informasi yang dibutuhkan. Blogwalking ke teman-teman blogger, berinteraksi di berbagai social media, mencatat berbagai jadwal, dan lain sebagainya juga lebih banyak dengan smartphone. Dan tidak hanya membantu kegiatan saya sebagai blogger, tapi bisa multitasking.

Sekali berselancar di dunia maya, saya bisa membuka beberapa aplikasi sekaligus. Melihat kualitas OPPO R7s yang dipersenjatai oleh RAM 4GB, sistem operasi ColorOS 2.1 berbasis Android 5.1, Octacore Processor dari Snapdragon 615, membuat loading aplikasi menjadi lebih cepat. Tampilan antarmuka Color OS 2.1 lebih rapi, cepat, stabil, serta lebih hemat baterai.

Sistem ColorOS 2.1 akan membuat OPPO R7s booting 30% lebih cepat. Aplikasi yang dalam 10 menit tidak digunakan akan otomatis ditutup. Karena ColorOS 2.1 mempunya fitur pembersihan otomatis. Aktivasi aplikasi juga dipersingkat menjadi 311 milidetik. 


RAM dengan 4GB itu besar, lho. Buat teman-teman yang suka download berbagai aplikasi bisa bakal bersorak-sorak gembira dengan RAM sebesar ini. Ayo download sepuasnya! Menyimpan banyak rekaman video, donlot musik, dan lain sebagainya juga gak akan ketar-ketir. OPPO R7s memiliki memori penyimpanan internal sebesar 32GB yang bisa diperluas sebesar 128GB dengan kartu MicroSD

2. Kamera Andalan

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash

Seberapa sering teman-teman melihat seseorang melakukan pemotretan dengan menggunakan handphone? Kalau saya, sih, sering banget. Bahkan saya sendiri melakukannya tidak hanya untuk selfie, memotret tingkah lalu anak-anak, tapi juga dilakukan kala reportase.

Apalagi kamera di smartphone saat ini semakin canggih saja. Kamera belakang beresolusi 13mp dan kamera depan 8mp sudah ada beberapa brand smartphone yang memilikinya. Tapi yang membedakan memang hasilnya. Dengan resolusi yang sama belum tentu menghasilkan kualitas foto yang sama.

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash

Saya sudah mendengar testimoni dari sepupu dan juga beberapa teman yang sudah menggunakan OPPO. Semua mengatakan kamera OPPO memang andalan. Ketika saya datang pada acara launching OPPO R7s pada tanggal 7 Desember 2015 di Empirica, Jakarta, 2 orang blogger sekaligus vlogger juga mengatakan kalau kamera yang dimiliki OPPO memang andalan.

Kalau memang butuh kamera bagus, kenapa gak beli kamera pocket, mirrorless, atau DSLR aja?

Alasan belum punya uang yang cukup rasanya belum tentu, ya. Karena gak semua yang lebih memilih mengandalkan kamera handphone beralasan belum punya uang cukup untuk membeli kamera. Saya selalu membawa kamera pocket, tapi memang tetap membutuhkan kamera smartphone yang bagus. Alasan utamanya tentu karena praktis. Saya tinggal mengupload hasil foto ke social media apabila menggunakan kamera smartphone. Menggunakan kamera smartphone kadang membuat saya merasa nyaman. Terutama saat memotret makanan di resto atas inisiatif sendiri *kecuali kalau memang diudang oleh resto tersebut*. Padahal saya butuh foto-foto untuk melengkapi tulisan wisata kuliner di blog saya.


"Kalau motret objek bergerak, hasilnya bagus, gak?"

Saya bertanya seperti itu kepada mas Sales Promotion Boy karena objek yang paling sering difoto adalah anak-anak. Tentunya anak-anak saya sendiri. Tapi, anak-anak saya susah banget disuruh berpose. Pasti bergerak terus. Jadi saya lebih sering memotret candid. Masalah yang sering terjadi adalah objek menjadi goyang dan kurang jelas hasil fotonya.

Pada OPPO R7s ada fitur new Flas Shot. Dalam hitungan 0,1 detik saja sudah flash camera focus. Aman berarti, ya kalau fotoin anak-anak yang maunya bergerak terus. Memotret dalam keadaan yang minim cahaya pun hasilnya masih terang dan jernih. Ada juga fitur beauty untuk memanjakan para penggemar selfie, sehingga tidak perlu donlot aplikasi lain. Mau bikin video juga kualitasnya akan bagus. Bahkan kamera OPPO R7s bisa beresolusi hingga 50mp sebanyak 10 foto. Ya, siapa tau menemukan objek yang bagus banget dan butuh hasil yang maksimal untuk dicetak.

3. Saya Juga Gamer

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash 
Sizenya nyaman buat main game

Hidup saya hampa kalau gak nge-game hahaha!

Buat saya antara rutinitas kerja dan bermain harus seimbang. Menulis di blog memang passion saya. Tapi, kemudian passion saya ini mulai menghasilkan pundi-pundi uang. Jadi, kalau dibilang ngeblog itu murni passion dan me time saya juga sudah tidak bisa lagi. Karena terkadang, saya menulis blog untuk pekerjaan.

Saya membutuhkan keseimbangan lain. Yang saya lakukan salah satunya adalah main game. Sebetulnya dari dulu saya sudah suka main game. Bahkan jauh lebih lama sebelum saya mengenal dunia maya.


Game pertama yang saya mainkan di handphone adalah snake game. Dulu, sih, asik-asik aja ain game kayak gitu. Tapi dengan semakin berkembangnya teknologi, pilihan untuk bermain game semakin banyak pertimbangan. Ingin game yang grafisnya bagus, yang bisa berinteraksi dengan banyak orang, gak gampang error, yang begini ... yang begitu ... Banyak pertimbangan pokoknya. Semakin banyak pertimbangan, tentunya harus didukung dengan kemampuan handphone yang mumpuni.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan kalau handphone dengan 'otak' quad core saja sebetulnya sudah cukup. Apalah artinya octa-core kalau RAM dan baterainya gak mendukung. Tapi OPPO R7s sudah memikirkan itu semua. Octacore Processor dari Snapdragon 615 diperkuat dengan RAM 4GB dan kapasitas baterai 3070mAh Li-Po. Eits! Jangan lupakan 4G LTE pada OPPO R7s. Apalagi sekarang semakin banyak game online yang asik buat dimainkan.

OPPO R7s mempunya dimensi/berat 151,8mm (tinggi), 75,4mm (lebar), 6,95mm (tebal), dan 155gr (berat). Buat saya ukuran dan beratnya termasuk pas. Apalagi buat main game, lebar layarnya pas banget, deh.

4. Internet yang Wuzzz!


"Bundaaa ...! Ngelag melulu gamenya, nih!"

Anak-anak saya suka rada uring-uringan, deh, kalau lagi main game atau buka YouTube di handphone trus nge-lag melulu.

Sekarang sudah banyak provider yang menawarkan jaringan 4G tapi kalau handphone kita gak 4G LTE percuma juga. Keduanya harus saling mendukung. OPPO R7s sudah 4G LTE, lho.

OPPO R7s juga bisa untuk SIM ganda. Tapi, kalau cuma SIM ganda aja kayaknya berbagai brand handphone sudah memiliki, ya. Masalahnya untuk SIM kedua koneksi internetnya biasanya jelek. Nah, kalau OPPO R7s ini mengklaim baik SIM1 atau 2 sama-sama bagus. Gak usah khawatir kalau mau gonta-ganti provider untuk internetan.

Nah, kecepatan internet ini juga sangat membantu kegiatan saya. Misalnya saat harus melakukan live tweet sebuat acara. Butuh respons cepat kalau ada emial masuk. Gregetan, deh, kalau gak bisa langsung balas, padahal sedang dibutuhkan. Bisa manyun kalau koneksi internetnya payah.

5. VOOC Flash Charge

Saya, sih, pengennya handphone yang dipakai cuma boleh dipakai sendiri. Tapi, kenyataannya gak bisa. Anak-anak selalu aja meminjam handphone bundanya. Biasanya buat main game sama buka YouTube. Kalau udah gitu, siap-siap deh baterai cepat habis.

Kalau lagi di jalan, powerbank selalu jadi andalan *padahal pengennya gak sering pake powerbank*. Kalau di rumah, kendalanya suka lupa ngecharge. Akibatnya begitu dibutuhkan, baterainya lagi habis. Mau dicharge, lama aja nunggu penuhnya. Masalah banget, deh.


Kalau punya OPPO R7s bagaimana? Bakal lama banget, dong, ngechargenya karena kapasitas baterai OPPO R7s 3.070mAH. Ternyata ngechargenya gak pake lama, lho.

OPPO R7s punya yang namanya VOOC Flash Charge. Ngccharge 5 menit sudah bisa dipakai untuk menelpon selama 2 jam. Mengisi kapasitas baterai hingga 90% hanya membutuhkan waktu 50 menit saja. Cepet banget, ya. Dan gak perlu khawatir baterai cepat rusak.

Baterai OPPO R7s adalah Li-Po (Lithium Polymer) non removeable. Kelebihan baterai Li-Po adalah aman, ringan, tahan lama, dan ramah lingkungan. Sehingga walaupun kapasitas baterainya besar (3070mAh), OPPO R7s tetap terasa ringan.

6. Tahan Banting


Brakk!!

Ketika saya datang ke acara launching OPPO R7s, salah satu meja display jatuh. Saya tidak tau penyebabnya. Mungkin tersenggol salah satu tamu undangan atau Sales Promotion Boy.

Saya: "Mas, handphone ini tahan banting, gak?"
SPB: "Ya, kalau dibanting dari tempat yang tinggi banget, pasti enggak, Mbak."
Saya: "Ya, gak gitu juga, sih, maksud saya. Cuma kadang, kan, gak sengaja ngejatuhin handphone. Misalnya pas lagi ngeluarin tas."
SPB: "Oh, kalau kayak gitu, sih, tahan banting. Mbak tadi lihat, gak, pas salah satu meja display jatuh? Handphonenya gak apa-apa, kan?"

Saya memang membutuhkan handphone yang tahan banting. Tentu bukan untuk sengaja dibanting. Tapi kemungkinan jatuh, kan, pasti ada. Apalagi suka dipakai sama anak-anak. Kalau jatuh begitu aja gampang rusak, rasanya malesin banget, deh.

OPPO R7s didukung dengan Gorilla Glass 4. Versi keempat ini mengklaim 2 kali lebih kuat dibandingkan versi sebelumnya. Menurut penelitian sudah teruji jatuh dari ketinggian 3,3m ke permukaan kasar seperti trotoar dengan kaca menghadap ke bawah, kualitasnya masih terjaga. Ini yang saya butuhkan, apalagi *sedikit curcol* handphone yang saya pakai sekarang sudah mulai retak kacanya. Heuuu ...

7. After Sales Service dan Komunitas yang Kuat


Siapa, sih, yang berharap punya handphone rusak? Saya rasa gak ada. Tapi tetap aja setiap kali saya membeli peralatan elektronik dan juga handphone, after sales service selalu saya tanyakan. Bagi saya, sebuah produk yang memiliki after sales service mempunyai nilai plus. Pengguna lebih terjamin apabila produk yang dipakainya butuh perbaikan. Hebatnya, after sales service OPPO sudah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya after sales service saja yang menjadi poin plus OPPO. Komunitas pengguna OPPO termausk solid. Saya mengetahui itu sejak 2 tahun saat diundang ke acara unboxing OPPO N1. Mayoritas tamu undangan yang hadir adalah dari komunitas pengguna OPPO. Wah, ternyata mereka suka melakukan gathering, lho. Groupnya pun aktif hingga saat ini.

Kerennya lagi, pihak OPPO pun ikut aktif. Makanya, gak heran kalau OPPO mendapatkan penghargaan "Best User Experience" dari IGRA. Karena OPPO memang sangat memperhatikan apa yang jadi kebutuhan para user. Setiap produk yang dikeluarkan, fitur-fiturnya selalu berdasarkan kebutuhan para user. Fitur yang tidak diperlukan, biasanya tidak akan ada lagi di produk terbaru.

OPPO R7s, all about flash, allaboutflash


Dengan spesifikasi yang oke seperti itu, harga yang OPPO bandrol masih termasuk kelas menengah. Dibandrol dengan harga Rp4.999.000,00 teman-teman sudah bisa memiliki OPPO R7s. Bonus tahun baru cukuplah buat beli handphone OPPO R7s :D

Semua serba flash di OPPO R7s. Flash performance, flash charging, dan flash auto focus. Ya, siapa tau aja kalau udah punya camera mumpuni yang serba flash, rezeki juga serba flash. Mengalir terus. Aamiin.

Ada 2 warna, nih. Gold dan Rose Gold. Teman-teman suka yang mana? Kalau saya, lebih suka yang Rose Gold. Cantik warnanya. Kayaknya pas dengan tagline "Beauty and Technology" kalau memiliki OPPO R7s berwarna Rose Gold. Etapi yang Gold juga sama cantiknya, sih. Yuk, ah, buruan dapetin OPPO R7s di toko terdekat :)


Sumber referensi
  1. http://www.oppo.com/id/smartphone-r7s/
  2. http://www.xiaovee.com/2013/10/narsis-tanpa-batas-bersama-oppo-n1.html
  3. http://blog.ofanstore.co.id/r7-raih-best-user-experience-smartphone-diajang-igra-2015/
  4. http://vnhoel.blogspot.co.id/2013/07/story-of-handphone.html 
  5. http://www.jagatreview.com/2014/11/gorilla-glass-4-dua-kali-lebih-kuat-dibandingkan-generasi-sebelumnya/
OPPO Indonesia


Website: www.oppo.com/id
Fanpage: OPPO Indonesia
Twitter: @OPPOIndonesia  

Continue Reading
24 comments
Share:

Wednesday, December 23, 2015

Anak Generasi Gadget Juga Bisa Lupa Gadget

generasi gadget, kecanduan gadget, tanakita

Anak generasi gadget ternyata juga bisa lupa dengan gadget. Caranya bahkan gak sulit, lho. Mau tau caranya?  Salah satunya ada di pengalaman kami usai UAS lalu.

Ayah: "Ke, Nai pernah ajak teman-teman main kesini?"

Saat itu kami sedang berada di Tanakita. Keke dan Nai kompakan bilang belum pernah.

Ayah: "Ajaklah teman-teman kalian ke sini sesekali. Kapan?"
Keke: "Iya, nanti pas Keke ulang tahun."

2 hari kemudian ...

Bunda: "Ke, siapa aja temanmu yang mau diajak ke Tanakita? Trus maunya kapan?"
Keke: "Ayah itu serius apa becanda, sih, Bun? Keke belum ngomong sama teman. Takutnya Ayah cuma becanda."
Bunda: "Coba Bunda tanya lagi ke Ayah, ya."

Besok paginya ...

Continue Reading
24 comments
Share:

Monday, December 21, 2015

Nilai Rapor Tetap Bagus Walaupun Tidak Belajar Saat UAS

 
Dari salah satu halaman di novel Sabtu Bersama Bapak


Nilai rapor tetap bagus walaupun tidak belajar saat UAS, mungkinkah? Mungkin aja karena itu yang dilakukan Keke dan Nai sejak 2 tahun terakhir ini. Mereka nyaris gak pernah belajar saat UTS dan UAS. Alhamdulillah, nilai-nilai di rapor mereka masih sangat baik. Hasil UAS mereka yang lalu masih bertaburan nilai 100 untuk berbagai mata pelajaran. Di rapor masih bertaburan angka 9, juga untuk berbagai mata pelajaran *pamer dikit, ah :p*

Tapi memang penting banget, ya, nilai-nilai bagus di rapor? Bukankah lebih penting attitude. Nilai rapor vs attitude seperti sebuah bahasan yang selalu meramaikan dunia maya di setiap musim penerimaan rapor. Chi tidak mendewakan nilai rapor. Tapi kalau ditanya mana yang lebih penting antara nilai rapor dan attitude, Chi sepakat dengan jawaban yang ada di novel Sabtu Bersama Bapak. Chi pernah juga menulis tentang hal ini di postingan yang berjudul Buat Apa Sekolah? Di postingan yang lama itu juga ada pendapat ibu Susi Pudjiastuti yang Chi dapat dari berbagai portal berita. Beliau seorang yang cuma tamat SMP, tapi justru mementingkan sekolah bagi anak-anaknya. Ada penjelasannya di postingan tersebut.

Ketika saatnya masuk UTS/UAS, Chi suka ikut bikin status tentang musim ujian ini. Sebetulnya buat seru-seruan aja. Karena melihat beberapa ibu yang kelihatan ribet ketika anaknya sedang UTS/UAS hihihi. Kenyataannya, saat UTS/UAS, kami masih cukup santai, kok :)


Jangan Abaikan Ulangan Harian


Seorang teman pernah bercerita kalau ada seorang ibu di sekolah yang protes ketika anak ibu tersebut rankingnya kalah dengan anak teman Chi ini. Menurut ibu tersebut, nilai UAS anaknya nyaris sempurna untuk semua mata pelajaran. Sedangkan anak teman Chi nilai UASnya masih dibawah nilai anak ibu itu. Tapi kenapa di rapor, justru ranking anak ibu itu kalah?

Wali kelas lalu menjelaskan kalau nilai raport itu, kan, penggabungan dari nilai latihan, ulangan harian, UTS, dan UAS. Memang benar kalau nilai UTS dan UAS memiliki bobot terbesar dibandingkan nilai lainnya. Tapi tetap aja hasil akhirnya adalah penggabungan seluruh nilai.

Anak teman Chi untuk nilai ulangan hariannya selalu bagus. Berbeda dengan dengan anak ibu itu yang nilai ulangan hariannya turun-naik. Akhirnya, walaupun nilai UAS anak teman Chi itu biasa saja, tetap saja rankingnya bagus karena terbantu oleh nilai ulangan harian dan juga latihan.

Bersyukur teman Chi bercerita tentang ini, jadi Chi mulai memperhatikan cara perhitungan nilai. Iya, kadang Chi suka luput sama hal seperti ini hehehe. Dan, setelah diperhatiin, memang benar apa yang teman Chi bilang. Walaupun bobot UTS/UAS lebih besar, tapi karena nilai di rapor adalah menggabungkan berbagai nilai maka jangan diabaikan.


Penting untuk Paham Tipe Belajar Anak


"Keke dan Nai, sih, memang udah pinter. Jadi, gak perlu belajar juga nilainya tetap bagus. Coba kalau Tina *bukan nama sebenarnya*, harus dibantu sama bimbingan belajar," ujar salah seorang yang Chi kenal sangat dekat.

Chi awalnya tersenyum. Alhamdulillah kalau memang Keke dan Nai dianggap anak pintar. Kemudian Chi menjelaskan kalau mereka juga berusaha. Apa yang mereka dapat hari ini, gak semata-mata turun dari langit.

Mengenai bimbingan belajar, menurut Chi gak jadi jaminan sukses. Dulu, saat Chi SMA pernah ikut bimbel. Tetap aja NEMnya hancur apalagi pelajaran matematika hahaha. Gak lolos juga di smeua PTN yang dipilih. Saat ini juga ada teman yang anaknya gonta-ganti bimbel tapi nilai pelajarannya belum memuaskan. Apakah itu artinya bimbel bukan solusi yang baik? Belum tentu juga. Chi gak anti bimbel, kok. Kalaupun Keke dan Nai saat ini tidak ikut bimbel karena merasa belum perlu. Buat Chi, lebih utama memahami tipe belajar anak terlebih dahulu.

Keke yang tipe belajarnya auditori mungkin lebih diuntungkan dalam kegiatan belajar di sekolah daripada Nai yang tipe belajarnya visual. Cukup dengan mendengarkan apa yang diajarkan guru, Keke sudah bisa cepat menangkap. Kekurangannya adalah kalau gurunya tidak paham dengan tipe belajar ini disangkanya Keke gak perhatiin. Karena kadang pandangannya kemana-mana seperti fokus ke arah lain. Atau bahkan suka mengganggu temannya. Padahal sebetulnya kupingnya sedang mendengarkan apa yang diajarkan guru di kelas. Dan Keke senang dengan guru yang gaya belajarnya suka bercerita.

Nai yang tipe belajar visual memang sedikit agak ribet. Karena hampir semuanya harus digambarkan dan dibayangkan olehnya. Makanya, Chi gak kaget ketika Nai sempat keteteran mengejar pelajaran matematika. Karena semua harus dia bayangkan. Salah seorang gurunya juga pernah mengatakan kalau untuk pelajar IPS dan PKn, Nai sedikit lambat menangkap bila dibandingkan Keke saat kelas 4. Chi, sih, gak tersinggung dibandingkan seperti itu. Karena setelah berdiskusi, ternyata gurunya kurang banyak menjelaskan dengan cara menggambar.

Berdiskusi dengan guru memang penting. Supaya saling mengerti. Syukur-syukur kalau guru juga mau menyesuaikan dengan tipe belajar anak murid. Eits! Tapi jangan juga memaksa, lho. Karena Chi merasakan sendiri mempunya 2 anak dengan tipe belajar yang berbeda itu berarti mikirnya juga harus double. Kalau dalam 1 kelas setidaknya ada 20 murid dengan tipe belajar masing-masing. Kebayang, kan, bagaimana ribetnya? :D Itulah kenapa Chi juga belum merasa butuh bimbel untuk Keke dan Nai. Masih bisa berkomunikasi dan bekerja sama baik dengan para pengajar di sekolah.


Belajar yang Benar di Sekolah kalau di Rumah Mau Santai


Bunda: "Mau belajar lagi di rumah, gak?"
Keke/Nai: "Enggak"
Bunda: "Kalau begitu, kalian harus belajar yang benar di sekolah. Waktunya belajar harus belajar. Jangan main-main. Kalau ada yang gak ngerti langsung tanya. Kalau masih belum ngerti juga, baru tanya Bunda."

Ya, walopun sesekali Chi masih dapat laporan kebanyakan ngobrol di sekolah, terutama buat Keke, tapi mereka memang benar-benar membuktikan kalau di sekolah itu belajar. Darimana Chi tau kalau mereka memang belajar? Tentu dari laporan guru salah satunya. Yang berikutnya adalah dari nilai.

Tentang nilai, Chi selalu bilang kalau mereka sudah mengerti pelajarannya maka nilai yang didapat seharusnya bagus. Kalau nilainya ternyata gak bagus, berarti harus dicari penyebabnya. Kalau penyebabnya karena belum mengerti maka cari tau dimana bagian gak mengertinya. Atau jangan-jangan mereka berbohong. Bilangnya mengerti padahal sebetulnya cuma untuk menghindari disuruh belajar. Pada akhirnya akan kelihatan juga dari nilai.

Karena Chi udah sering menemani mereka belajar, sebetulnya akan ketahuan kok dari bahasa tubuh mereka. Bagusnya lagi, Keke dan Nai terbiasa dengan berkomunikasi terbuka dengan orang tuanya. Kalau ada yang gak ngerti, seringkali mereka duluan yang ngomong sebelum ditanya.


Belajar dengan Santai Lebih Mudah Menyerap


Oke, Chi memang kadang masih ada sikap kurang sabarnya. Tapi Chi juga merasakan perbedaan antara mengajarkan anak dengan marah-marah dan santai. Beneran bikin cape hati, deh. Mending kalau abis ngomel trus hasilnya nilai anak-anak bagus. Etapi gak mending juga, ding. Chi suka mikir di pojokan, kalau diomelin itu gak enak. Kalau dibalikin ke diri sendiri, mana nyaman belajar sambil diomelin. Melakukan apapun kalau sambil dimarahin walaupun memang salah itu gak enak kalau abis diomelin.

Tapi, Chi tetap melakukan teguran kalau mereka gak mau juga belajar. Padahal aat itu Chi tau mereka harus belajar. Taunya harus belajar itu dari evaluasi nilai pelajaran. Di lihat aja mana yang paling lemah. Itupun untuk satu mata pelajaran aja belum tentu semua materi mereka lemah. Pokoknya tentukan prioritas mana yang harus lebih belajar lagi.


Beri Kepercayaan dan Belajar Bertanggung Jawab


Beberapa kali Chi menyuruh mereka untuk belajar, tapi tetep aja merenya nyantai. Eeerrgghh! Gregetan banget rasanya. Padahal Chi tau ada materi yang harus mereka pelajara lagi. Ya, Chi memang sempat mengomel kalau keadaannya kayak gitu. Tapi kemudian Chi tegaskan kalau semuanya kembali ke mereka.

Kalau Keke atau Nai lagi susah disuruh belajar dengan segala alasannya, Chi cukup bilang, "Terserah. Bunda lihat hasilnya aja dan sudah tau konsekuensinya, kan?" Biasanya kalau mereka gak mau belajar karena lagi malas, suka langsung bangkit kalau Chi udah ngomong kayak gitu. Tapi kalau mereka menolak belajar karena yakin sudah bisa, mereka akan bilang, "Tenang aja, Bundaaa .." :D

Ya, Chi kasih mereka kepercayaan untuk menentukan mau belajar atau tidak. (Sekali lagi) Chi mulai cape untuk bersikap tegang saat waktunya ujian. Etapi gak tegang-tegang amat, sih. 3 tahun lalu Chi pernah bikin postingan yang berjudul "UAS? (Gak) Deg-Degan Tuuuhhh ..." Di postingan itu Chi kasih tip supaya gak terlalu deg-degan menghadapi UAS (dan UTS). Memang terbukti bikin Chi gak (terlalu) deg-degan. Tapi emang gak ada puasnya, Chi masih pengen mengurangi rasa deg-degan saat UTS/UAS. Karena rasa deg-degan akan berimbas ke mulut yang gak berhenti ngomel hehehe.

Ya, udah 2 tahun ini Chi lebih santai ketika anak-anak sedang pekan ulangan, UTS, dan UAS. Itu artinya Keke dimulai sejak kelas 5, sedangkan Nai sejak kelas 3. Memasuki kelas 5, Chi anggap Keke sudah bisa diajak untuk mandiri dalam hal belajar. Tadinya, Nai belum Chi ikutkan. Tapi dia terpengaruh kakaknya dan ternyata dia juga udah sanggup mandiri.

Caranya dengan melakukan poin-poin yang Chi tulis di atas. Banyak aja poinnya, ya? Atau ribet? Hmmm ... yang jelas menurut Chi segala sesuatu memang butuh proses. Kalau sekarang Chi dan anak-anak bisa bersantai-santai padahal lagi musim ujian itu karena sudah melewati beberapa proses.

Dulu Chi juga selalu mewajibkan mereka untuk belajar. Terlepas dari apakah mereka sudah mengerti atau belum. Itu karena Chi masih mempelajari tipe belajar mereka. Lagipula dulu mereka kan masih anak-anak banget. Masih harus diingatkan untuk disiplin. Masih harus belajar banyak tentang yang namanya tanggung jawab.

Kalau sekarang mereka sudah mulai bisa diajak bertanggung jawab. Kalau ternyata nilai mereka kurang memuaskan karena kurang belajar, mereka sudah tau dan bisa menerima konsekuensinya. Pengurangan jam bermain adalah konsekuensi yang harus mereka terima.

Sampai saat ini konsekuensi pengurangan jam main masih efektif. Siapa juga, sih, yang pengen dikurangi jam bermainnya? Apalagi buat anak-anak bermain adalah dunia mereka. Jadi daripada harus terima konsekuensi pengurangan jam bermain, mendingan mereka belajar dengan benar ketika waktunya belajar. Kalau masih gak ngerti, mereka akan aktif bertanya. Dan, sampai saat ini alhamdulillah berhasil :)

Sebetulnya Chi belajar dari pengalaman juga, sih. Dulu selalu belajar dengan cara SKS (Sistem Kebut Semalam). Gak ada yang marahin karena orang tua, kan, dua-duanya kerja. Tapi puyeng sendiri karena baru heboh belajar menjelang ujian. Kalau di rapor gak masuk 10 besar, baru kena omelan hehehe. Chi gak mau anak-anak seperti itu, apalagi materi pelajaran makin lama makin berat dibanding zaman Chi sekolah. Tapi kalau dengan cara dicicil ternyata mereka bisa tetap berprestasi, tuh. Malah sambil santai belajarnya. Dan dengan santai begini, mereka tetap bisa tidur cepat. Pagi-pagi bangun dengan pikiran dan tubuh segar, deh :)

Justru kalau udah santai begini yang harus Chi lawan adalah ego dari diri sendiri. Kadang kalau melihat hasil ulangan anak gak 100, Chi suka berkata, "Coba belajar, ya. Mungkin nilainya bisa lebih bagus." Padahal itu nilainya udah 9 koma sekian. Emang manusia, ya. Gak ada rasa puasnya hehehe. Berkali-kali Chi harus mengigatkan diri sendiri untuk tidak mementingkan ego. Selalu bersyukur dnegan pencapaian anak selama mereka masih berusaha. Untungnya anak-anak juga suka mengingatkan bundanya :)

Yuk! Kita santai! *Sekarang, saat UTS/UAS deg-degannya adalah periksa alat tulis. Jangan sampe ada yang hilang* :D

Continue Reading
30 comments
Share:

Sunday, December 20, 2015

Perlukah Uang Jajan untuk Anak?


Perlukah uang jajan untuk anak? Sebelum membahas perlu atau tidak, disamakan dulu pengertian tentang uang jajan, ya. Menurut Chi, uang jajan itu adalah uang yang memang hanya untuk jajan. Ya, boleh aja, sih, kalau uang jajan itu ditabung. Tapi hitungan uang jajan gak termasuk uang transport. Karena pernah beberapa kali ada obrolan tentang uang jajan, ternyata setelah uang jajannya dirinci, di dalamnya udah termasuk transport.

Perlu atau tidaknya anak diberi uang jajan itu tergantung alasan masing-masing orang tua. Chi gak sependapat kalau semakin mahal biaya sekolah, maka akan semakin besar uang jajannya. Ada anak yang bersekolah di sekolah mahal, tapi malah gak pernah dikasih jajan. Begitu juga sebaliknya, sekolahnya gak mahal tapi setiap hari anaknya jajannnya banyak. Keke dan Nai, masing-masing uang jajannya hanya Rp10.000,00/minggu. Itupun kadang-kadang mereka masih bisa nabung.

Kenapa Keke dan Nai uang jajannya segitu? Trus bagaimana mereka bersikap ketika tahu ada beberapa temannya yang mendapat uang jajan besar setiap harinya?


Membawa Bekal ke Sekolah


Setiap hari Keke dan Nai bawa bekal ke sekolah. Masing-masing bawa 2 bekal yang dimasukkan ke dalam lunch box. Isi bekal bisa berubah-ubah. Dulu, Keke wajib bawa nasi untuk 2 bekalnya. Sekarang, dia udah gak mau. Keke maunya 1 bekal berisi nasi (bisa juga diganti dengan pasta atau mie). Bekal kedua berisi roti atau camilan lainnya. Membawakan bekal yang isinya mereka suka itu penting, supaya mereka gak merasa terpaksa.

Di sekolah Keke dan Nai memang ada kantin. Catering juga ada. Tapi setelah dihitung-hitung, sepertinya lebih irit bawa bekal. Walopun itu berarti Chi gak bisa santai setiap pagi karena harus menyiapkan bekal. Sekarang masih mending, sih, karena bekalnya udah gak dibento lagi hehehe.


Belajar Bertransaksi


Sebetulnya, dengan dikasih bekal setiap hari maka Keke dan Nai udah gak perlu uang jajan lagi. Tapi, Chi tetap kasih supaya mereka belajar bertransaksi. Belajar bertransaksi itu juga penting, lho. Pertama kali mereka diminta untuk bertransaksi sendiri, masih menolak karena malu. Udah gitu di awal-awal masih suka bingung sama uang kembalian. Pokoknya berapapun uang kembalian yang dikasih penjual, mereka terima aja. 


Kasih Penjelasan Hingga Mereka Mengerti


Ada beberapa teman Keke dan Nai yang memang dikasih uang jajan besar. Chi rutin kasih pengertian ke Keke dan Nai kenapa uang jajan mereka gak besar. Ajak mereka berdiskusi karena biasanya kalau cuma dikasih penjelasan masih kurang. Setidaknya begitu buat Keke dan Nai yang memang rajin bertanya :D


Jangan Mudah Iri dan Jangan Mudah Terima Gratisan Apalagi Sampai Meminta-minta


Walaupun mereka mengerti kenapa gak setiap hari mendapat jajan, tapi bukan berarti mereka gak bisa iri. Namanya juga manusia. Chi ingatkan mereka untuk jangan mudah iri ketika melihat temannya mendapatkan uang jajan yang jauh lebih banyak dari mereka. Ajarkan juga mereka mendapatkan jawaban yang tepat bila suatu saat ada temannya yang bertanya kenapa uang jajan mereka gak banyak.

Meminta-minta kepada teman, sangat Chi larang. Kalau memang mereka butuh uang jajan lebih, sebaiknya ngomong sama orang tua tapi sambil berikan alasan yang bisa diterima. Keke dan Nai pernah beberapa kali mencoba, tapi setelah dipertimbangkan, kami merasa uang jajan yang sekarang sudah cukup. Dan, mereka pun mengerti.

Ada beberapa temannya juga yang dengan mudah mentraktir. Keke dan Nai biasanya suka cerita kalau ditraktir temannya. Chi gak melarang tapi mengingatkan untuk selalu mengucapkan terima kasih. Chi juga mengimbau ke Keke dan Nai untuk tidak terus-terusan menerima traktiran apalagi dari teman yang sama. Tidak bermaksud berprasangka buruk, tapi memang sebaiknya jangan dilakukan. Sesekali Keke dan Nai juga harus bisa menolak bila ada temannya yang mau traktir. Walopun ada pepatah yang mengatakan 'Gratisan itu enak' :D


Jualan


Walopun gak sering, kadang mereka jadi kreatif untuk mendapatkan uang jajan. Keke pernah belajar jualan di sekolah, begitu juga Nai. Beberapa temannya juga ada yang begitu. Bahkan sempat menjamur sampai akhirnya sekolah membatasi kalau barang yang dijual maksimal hanya seharga Rp10.000,00 itupun dilakukan di jam tertentu. Gak boleh mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Bagus, sih, mereka pada punya semangat untuk berjualan. Chi paling ingetin aja untuk gak berjualan yang aneh-aneh (walopun belum pernah kejadian, tapi tetap wajib diingatkan) atau gak maksa teman-temannya untuk beli.

Jadi memang perlu atau tidaknya memberi uang jajan kepada anak-anak itu kembali ke alasan masing-masing. Chi pengennya, sih, anak-anak setiap hari bawa bekal. Tapi kembali lagi semuanya tergantung kondisi.

Kayak Chi dulu waktu masih sekolah setiap hari dikasih uang jajan. Pas SMA malah lebih sering memilih bawa bekal walopun dikasih uang jajan. Kuliah mulai jajan lagi. Tapi sejak SMA, Chi mulai minta jajan bulanan bukan harian. Ya, itung-itung belajar mengatur pengeluaran, lah. Mungkin Keke dan Nai juga akan mengalami berbagai perubahan untuk urusan uang jajan. Tapi untuk saat ini, uang jajan Rp10.000,00/minggu itu udah cukup, lah. :)

Senengnya, tuh, ketika saatnya mereka dapat uang jajan, senengnya kelihatan banget. Mungkin karena mereka gak setiap hari terima uang jajan, jadi begitu dapet uang kelihatan senengnya. Udah kayak orang dewasa kalau abis terima gaji kayaknya hahaha.

Continue Reading
28 comments
Share:

Friday, December 18, 2015

5 Hotel Murah di Malang

 

5 Hotel Murah di Malang - Malang merupakan salah satu kota yang sangat direkomendasikan untuk anda datangi. Kota ini merupakan kota kedua terbesar di Jawa Timur setelah Surabaya. Cuaca sejuk disertai letak geografis yang dekat dengan Gunung Semeru menjadikan kota ini ramai dikunjungi wisatawan.

Selain itu masih banyak juga tempat wisata yang bisa dikunjungi seperti Pantai Balekambang, Pulau Sempu, Museum Brawijaya, Taman Rekreasi Senaputra, Kebun Raya Purwodadi, dan Ijen Boulevard. Teman-Teman juga bisa menikmati kuliner khas Malang seperti Bakso Malang.

Teman-Teman juga tidak perlu khawatir untuk masalah penginapan selama berkunjung di Malang karena ada banyak hotel di kota ini yang dapat anda pesan di aplikasi atau situs Traveloka. Jika anda lebih menyukai hotel yang nyaman namun dengan harga terjangkau maka di Malang ada beberapa hotel yang menawarkan kenyamanan dan kemewahan dengan harga di bawah 500.000 rupiah. Berikut profil dari hotel-hotel tersebut.


1. Swiss-Belinn Malang


Swiss-Belinn Malang merupakan salah satu hotel murah di Malang yang terletak di Jalan Veteran 8A yang merupakan pusat kota Malang. Jumlah kamar yang dimiliki hotel ini sebanyak 203 yang dibagi menjadi 4 tipe kamar yakni deluxe sebanyak 148 kamar, superior deluxe sebanyak 39 kamar, grand deluxe sebanyak 12 kamar, dan suite sebanyak 4 kamar. Untuk tipe kamar deluxe, tamu dapat memilih tipe ranjang double atau twin. Sedangkan untuk tipe kamar lainnya, tamu cuma disediakan tipe ranjang double. Dari situs resminya, harga terendah yakni tipe kamar deluxe dibanderol 460.744++ rupiah per malam. Namun harga mungkin berubah sewaktu-waktu jadi pastikan anda terus mengecek harganya di situs resminya.


2. Ibis Styles Malang


Ibis Styles Malang merupakan salah satu hotel murah di Malang yang berada di Jalan S. Parman No. 45. Jumlah kamar yang dimiliki hotel ini sebanyak 150 yang dibagi menjadi 2 tipe kamar yakni standard dan deluxe. Pengunjung juga dapat memilih ranjang tipe double bed atau single bed. Dari situs resminya, diketahui harga terendah yakni tipe kamar standard dibanderol senilai 333.678++ rupiah per malam. Namun harga mungkin berubah sewaktu-waktu jadi pastikan anda terus mengecek harganya di situs resminya.


3. Amaris Hotel Malang


Amaris Hotel Malang merupakan salah satu hotel murah di Malang yang berada di Jalan Letjend. Sutoyo No. 39 yang merupakan kawasan bisnis dan cuma berjarak 25 menit dari bandara. Total kamar yang dimiliki berjumlah 111 kamar yang didefinisikan sebagai smart rooms. Smart Rooms ini memiliki desain ultra stylish dan dilengkapi dengan fitur seperti LCD TV modern, ac, wifi, dan brankas. Fasilitas lain yang disediakan hotel ini meliputi ruangan untuk meeting, tempat parkir, dan pembayaran dengan kartu kredit. Untuk harga kamar sendiri dibanderol 297.520++ rupiah per malam. Namun harga mungkin berubah sewaktu-waktu jadi pastikan anda terus mengecek harganya di situs resminya.


4. Atria Hotel & Conference Malang


Atria Hotel & Conference Malang merupakan salah satu hotel murah di Malang yang terletak di Jalan Letjen S. Parman No. 87-89. Ada 3 tipe kamar yang ditawarkan yakni deluxe yang berukuran 26 meter persegi, executive yang berukuran 40 meter persegi, dan suite yang berukuran 52,5 meter persegi. Masing-masing kamar dilengkapi dengan fasilitas seperti TV dengan beragam saluran, kotak penyimpanan, meja tulis, sofa, mini bar, telepon, alat pembuat kopi dan teh, slippers, ac, hairdryer, shower dan perabotan kamar mandi. Dari situs resminya, diketahui harga terendah yakni tipe kamar deluxe dibanderol senilai 450.000++ rupiah per malam. Namun harga mungkin berubah sewaktu-waktu jadi pastikan anda terus mengecek harganya di situs resminya.


5. Everyday Smart Hotel


Hotel ini terletak di Jalan Soekarno Hatta No. 2 dan dekat dengan Universitas Brawijaya. Jumlah kamar yang dimiliki sebanyak 129 kamar yang dibagi menjadi 2 tipe kamar yakni standard sebanyak 65 dan superior sebanyak 64. Harga kamar berdasarkan situs resminya mulai dari 220.000 rupiah per malam. Fasilitas yang disediakan yakni wifi, kotak penyimpanan, Led TV, dan kolam berenang.

Continue Reading
14 comments
Share:

Thursday, December 17, 2015

Disney Baby untuk Indonesia

disney baby

Disney Baby untuk Indonesia - Siapakah yang masa kecilnya akrab dengan Disney? Apapun bentuk keakrabannya. Suka nonton kartun Disney, memiliki mainan Disney, atau bahkan pernah ke Disneyland?

Chi, sih, belum pernah satu kalipun ke Disneyland. Tapi kalau dibilang masa kecil akrab dengan karakter Disney memang iya. Selain sering menonton kartunnya, Chi juga langganan majalah Donal Bebek hingga kuliah :D Yup!

Donal bebek, salah satu karakter klasik dari Disney. Lalu ada Mickey, Minnie, Goofy, dan Winnie the Pooh. Dari keempat karakter itu, mana yang Teman-teman suka? Kalau Chi suka dengan Donal Bebek. Karakter bebek yang pemarah ini, tapi ceritanya selalu lucu.

Disney Baby adalah salah satu brand dari Disney untuk bayi dan balita. Karakter yang ada di Disney Baby, sama dengan karakter Disney klasik. Hanya saja karakternya masih anak-anak. Jum'at, 27 November 2015, bertempat di Indonesia Maternity and Baby Expo, Jakarta Convention Center, Disney Baby resmi hadir di Indonesia.


Semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tidak hanya mainan tapi juga berbagai kebutuhan harian bayi dan anak. Semua ingin yang terbaik. Syukur-syukur bisa murah. Untuk itulah Baby Disney mencoba menjawab harapan para orang tua di Indonesia.

Produk Disney Baby mengklaim bisa membantu mempermudah tugas orang. Selain produknya yang fungsional, Disney Baby menginginkan setiap produknya memiliki ikatan emosional dengan keluarga yang memilikinya. Disney Baby menginginkan para orang tua yang pernah tumbuh bersama Disney ikut berperan memberikan kenangan terhadap Disney kepada anak-anak.

Ada beberapa kategori dalam produk Disney Baby, yaitu:


    1. Getting Ready - produk persiapan selama masa kehamilan dan sebelum melahirkan.
    2. In The Nursery - misalnya sprei, tempat tidur, dan sebagainya
    3. Dressing Baby - Berbagai produk pakaian bayi yang fashionable
    4. On The Go - produk yang berkaitan dengan traveling seperti stroller, tas bayi, dan sebagainya
    5. Meal Time - Produk yang masuk kategori ini adalah botol susu, peralatan makanan, cangkir, dan sebagainya
    6. Bath Time - Bak mandi, shampoo, sabun, dan sebagainya masuk dalam kategori ini
    7. Play Time - Boneka dan produk mainan lainnya yang mampu merangsang pertumbuhan bayi
    8. It's First - Berbagai produk merayakan momen pertama seperti ulang tahun pertama, langkah pertama, dan lain sebagainya


       4 fokus utama dari setiap produk Disney Baby adalah:

      1. Fungsional - semua produk Disney Baby harus bisa membantu para orang tua menjaga bayi dan juga kegiatan sehari-hari
      2. Kualitas Tinggi - kualitas tinggi juga berarti sangat memperhatikan keamanan. Jangan sampai membahayakan bayi dan anak
      3. Fashionable 
      4. Personality dari setiap karakter - setiap karakter Disney Baby mempunya cerita masing-masing. Dan semua produk yang dibuat ada personal tellingnya.

        Mickey, Minnie, Donal, dan Winnie the Pooh adalah 4 karakter utama dalam Disney Baby di Indonesia. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada karakter terkenal Disney lainnya yang juga ada di Disney Baby. Karena ingin menghasilkan setiap produk yang berkualitas, Disney Baby mempunyai sejumlah syarat yang ketat dalam hal lisensi termasuk dalam pemilihan pabrik produksi. Saat ini produk Disney Baby sudah bisa didapatkan di berbagai retail store seperti Matahari, Centro, Yogya, Aeon Store, beberapa Hypermarket, dan baby store terkemuka lainnya.

        Disney Baby sudah resmi hadir di Indonesia. Terus mencari partner lokal yang bisa bekerja sama untuk memproduksi Disney Baby. Seperti Disney sudah bekerja sama dengan Batik Keris selama 4 tahun untuk membuat batik dengan brand Disney. Atau karena di Indonesia juga mayoritas muslim, produk pakaian anak sudah ada baju muslim untuk menyambut Idul Fitri. Diharapkan ke depannya produk baby pun akan mengikuti.

        Dengan pengalaman Disney yang sudah sangat lama, Disney Baby berharap akan mampu memberikan berbagai momen kecil di keluarga Indonesia.


        Continue Reading
        No comments
        Share:

        Wednesday, December 16, 2015

        Ketika Teori vs Realita Parenting Beradu


        Chi selalu berharap punya anak yang sholeh/sholehah. Berbakti kepada orang tua, cerdas, dan semua nilai ideal lainnya. Rasanya itu harapan semua orang tua. Setuju, gak? Untuk mencapai harapan itu, orang tua memberikan berbagai upaya maksimal demi kebaikan anak. Tapi sadar gak, sih, kalau kadang yang kita kasih itu hanya teori? Kita sebagai orang masih susah atau bahkan gak bisa mempraktekannya untuk diri sendiri. Padahal anak, kan, lebih mudah dengan cara mencontoh perilaku sekitarnya. Terutama perilaku orang tua.

        Ketika teori vs realita parenting beradu, apa yang dirasakan orang tua? Haruskah gak percaya lagi dengan segala teori parenting dan membiarkan mengalir begitu saja seperti air? Buat Chi, teori parenting itu perlu. Karena semua teori itu seperti salah satu panduan. Apalagi menjadi orang tua gak ada sekolahnya. Prakteknya memang harus mengalir seperti air. Tapi jangan sampai pasrah terombang-ambing. Tetep aja harus dikendalikan.

        Ada beberapa contoh tentang teori vs realita yang semuanya berasal dari pengalaman Chi sendiri.


        Teori vs Realita 1 - Berdiskusi


        Ini kejadian beberapa tahun lalu yang masih Chi ingat dengan jelas. Saat itu, Chi lagi ngajarin Keke pelajaran PKn. Sambil ngajarin, Chi pindah-pindahin channel TV untuk mencari tayangan yang menarik. Ketika berhenti di salah satu televisi swasta, ada tayangan berita tentang para wakil rakyat kita yang terhormat sedang bertengkar. Langsung aja Chi ganti channel.

        "Bunda, kenapa mereka ribut? Kan, di buku pelajaran katanya kalau berdiskusi harus ada bermusyawarah untuk mufakat.

        Yak! Deziiiiiggg!!! Kontras banget momennya di saat Chi sedang mengajarkan PKn dengan tema bermusyawarah anak, di televisi ada segerombolan manusia kekanak-kanakan yang sepertinya lupa dengan pelajaran PKn. Oke, lah untuk angkatan para yang 'terhormat' itu mungkin zaman PMP. Tapi intinya sama aja apa yang dipelajari. Dan, Chi yakin banget ini bukan karena faktor U mereka lupa dengan yang namanya musyawarah. Errrgggh! *Nambah-nambahin PR orang tua buat ngejelasin*

        Yang dilakulan:

        Chi jelasin ke Keke kalau mereka itu kekanak-kanakan. Kekanak-kanakan berbeda dengan anak-anak. Kekanak-kanakan tidak lebih baik dari anak-anak, bahkan lebih buruk. Mereka adalah sosok dewasa yang seharusnya berpikiran dewasa. Sayangnya itu tidak terjadi.

        Mungkin gak terlalu sulit saat Chi menjelaskan itu. Apalagi di tangan ada buku PKn. Chi tinggal jelasin aja sekaligus meminta Keke dan Nai supaya jangan pernah bersikap kekanak-kanakan seperti itu ketika mereka dewasa. Tapi bagaimana dengan orang tua yang sering melakukan Mom's War?

        "Ah, anak saya gak bakal tau ini. Kan, anak saya belum bersocmed, gak saya kasih gadget pula."

        Yakin anaknya gak bakal tau? Bagaimana kalau ketika seorang ibu sedang melakukan mom's war kemudian ada yang screenshot lalu disebarluaskan? Anaknya mungkin gak dikasih gadget, tapi dia akhirnya bisa tau secara (tidak) sengaja saat sedang meminjam gadget temannya. Kalau begitu, apa yang akan dijelaskan kepada anak? Orang tua mengajarkan kepada anak untuk bisa berdiskusi dengan baik, tapi di sisi lain orang tua malah seneng ikutan mom's war. Chi gak tau apa yang akan dilakukan kalau sampai itu terjadi. Karena Chi memang selalu menghindari mom's war ;)


        Teori vs Realita 2 - Gadget Addict


        "Anak saya udah bener-bener kecanduan gadget, deh. Susah banget dikasih taunya."

        Pengalaman Chi, nih, anak itu kalau cuma dikasih tau, gak bakal mempan. Yang ada malah kita cape sendiri karena merasa punya anak, kok, susah bener nurutnya. Padahal mereka itu sebetulnya buka susah nurut, tapi butuh contoh.

        Setelah maghrib, Chi selalu melarang anak-anak untuk pegang hape atau buka laptop. Usai maghrib adalah waktunya belajar, menonton tv, atau melakukan kegiatan lain selain internetan. Tapi, gak bakal mempan kalau cuma melarang. Malah bisa-bisa mereka bakal protes. Misalnya ketika mereka belajar, Chi mendampingi sambil pegang hape. Iya, bener memang mendampingi karena selalu berdekatan dengan mereka. Tapi, fokus Chi saat itu kemana? Ke hape! Nah, kalau gitu gimana anak-anak gak protes. Kalau memang saat itu Chi harus pegang hape, biasanya anak-anak dikasih kelonggaran juga untuk berinternet..

        Yang dilakukan:

        Tidak ada hal lain selain memberikan contoh seperti yang Chi di atas. Contoh lainnya adalah kalau orang tua melarang anak untuk pegang gadget saat makan,  berarti orang tua duluan yang harus mempraktekkan. Orang tua bisa aja beralasan sedang melakukan pekerjaan ketika tetap pegang hape saat makan. Okelah kalau cuma 1x anak biasanya akan diam. Tapi kalau udah setiap saat, anak-anak gak akan peduli apakah yang dilakukan orang tuanya adalah pekerjaan penting atau bukan. Mereka taunya, kalau dilarang pegang hape sambil makan berarti itu juga berlaku untuk orang tua.


        Teori vs Realita 3 - Makan Jangan Pilih-Pilih


        "Bunda, mau makan? Keke/Nai buatin, ya."

        Siapa coba yang gak seneng punya anak suka bikinin makanan buat bundanya? Tapi, masalahnya kadang makanan yang mereka buat bukanlah selera Chi. Roti dan kue bukan makanan yang Chi suka. Selama masih ada nasi, kenapa juga harus makan roti? Hahaha ...

        Chi beberapa kali bilang kalau bisa jangan roti, lah. Tapi, apa yang terjadi? Mereka membalikkan omongan bundanya. "Bunda, kan, selalu bilang kalau makan itu gak boleh pilih-pilih. Apa yang disediain di rumah, itu yang dimakan."

        Yang dilakukan:

        Ya, mau gak mau Chi harus konsisten sama ucapan, walopun rasanya sangat susah sekali menelan roti hahaha. Tapi daripada nanti kalau Chi masak trus mereka menolak karena gak suka trus ngebalikin kejadian penolakan bundanya terhadap roti, mending dipaksain makan, deh. Lama-lama Chi jadi terbiasa juga makan roti dan kue. Walopun tetep, sih, mendingan nasi wkwkkw. Buat teman-teman yang putri/putrinya picky eater, coba dilihat lagi. Jangan-jangan penyebabnya adalah kita sendiri. Anak mencontoh orang tuanya yang memang picky eater.


        Teori vs Realita 4 - Live Tweet


        "Bunda, kan, suka bilang kalau lagi di luar rumah dilarang nyetatus di socmed untuk ngasih tau kita lagi ada dimana. Karena kalau sampe ada orang jahat yang lihat itu bisa bahaya. Tapi kenapa Bunda suka ikutan live tweet? Bukannya itu berarti Bunda kasih tau saat itu lagi ada dimana?"

        Chi langsung nyengir kuda saat mereka bilang begitu hehehe ... Keke dan Nai belum punya akun twitter, tapi IG punya. Dan, kadang Chi share foto di IG dengan caption mau melakukan live tweet. Dari situlah Keke dan Nai tau kalau bundanya suka melakukan live tweet. Dan kemudian timbul pertanyaan kenapa Bundanya melakukan live tweet? Padahal bundanya selalu melarang Keke dan Nai untuk langsung nyetatus apabila saat itu sedang jalan-jalan.

        Yang dilakukan:

        Chi jelaskan kalau itu adalah tuntutan kerjaan. Tapi tentunya alasan itu gak cukup karena poin yang ditangkap oleh Keke dan Nai selama ini adalah tentang keamanan. Chi lalu jelaskan kalau terkadang memang suka ada rasa gak nyaman karena seperti snegaja mengabari saat itu kita sedang berada di mana. Kalau bukan karena pekerjaan, itu bukan hal yang biasa Chi lakukan. Menjelaskan tentang apa yang Chi rasakan kepada anak-anak juga dirasa penting untuk menunjukkan kalau Chi macih tetap berusaha konsisten walopun akhirnya harus 'mengalah' dengan alasan pekerjaan.

        Kemudian, Chi kembali menjelaskan kalau berusaha tetap menjaga keamanan. Setidaknya, apa yang kita tweet benar-benar tentang pekerjaan. Gak menulis hal-hal detil yang personal. Dan, tetap aja Chi mengingatkan Keke dna Nai untuk tetap tidak nyetatus mereka sedang berada dimana saat itu atau berbagai hal yag terlalu pribadi lainnya. Chi tekankan juga kalau mereka masih anak-anak yang tentunya kemungkinan lebih rawan.


        Teori vs Realita 5 - Uji Kesabaran


        "Bunda selalu bilang kalau ada pelajaran yang gak ngerti langsung tanya ke guru. Tapi kalau masih gak ngerti juga, baru tanya ke Bunda. Tapi, kenapa Bunda kadang suka gak sabar kalau lagi ngajarin?"

        Huaaaa ... ujian kesabaran ini termasuk yang paling sering diuji, ya. Dan, berasa jleb aja ketika anak-anak bilang begitu. Iya, lah, Chi selalu meminta mereka untuk menjadi anak yang sabar. Tapi, Chi sendiri malah masih suka ilang kesabaran :p

        Yang dilakukan:

        Langsung meminta maaf. Biar gimana, Ci juga salah karena sudah tidak sabar walopun mungkin karena mereka juga yang berulah duluan. Lalu Chi jelasin, kalau mungkin aja saat itu sedang cape atau kurang enak badan. Chi juga bilang akan terus berusaha untuk sabar. Bukan bermaksud memberi janji palsu, tapi memang harus terus berusaha untuk menjaid lebih baik.

        Sekaligus aja Chi kasih tau kalau mereka harus lebih menghargai usaha guru. Sekian banyak murid dengan karakter berbeda-beda harus dihadapi guru hampir setiap hari. Dan para guru tetap dituntut harus sabar menghadapinya. Sedangkan Chi yang 'cuma ' mengajar 2 anak aja masih suka hilang rasa sabar. Padahal anak kandung, pastinya Chi lebih hapal karakter mereka ketimbang guru. Tapi tetep aja Chi masih suka ilang sabar. Makanya, Chi minta anak-anak menghargai guru, jangan suka memancing kesabaran para guru.

        Sebetulnya kalau mau ditulis apa aja teori vs realita parenting yang bisa beradu itu list bakal panjang banget. Malah mungkin bisa lebih dari 1 postingan. Tapi, silakan aja teman-teman lanjutkan masing-masing hehehe.

        Kalau Chi, sih, termasuk yang gak sepaham bahwa orang tua pasti benar dengan alasan sudah lebih banyak makan asam garam. Orang tua harus dihormati itu Chi setuju. Tapi kalau selalu benar, Chi kurang setuju. Kadang, Chi banyak belajar dari anak. Dari celotehan hingga kritikan mereka. Seperti setiap saat harus siap dikasih cermin oleh mereka. Makanya, Chi bersyukur Keke dan Nai masih mau berkomunikasi baik dengan orang tuanya. Jadi, sebagai orang tua bisa langsung tau dan introspeksi. Jangan sampe anak terlihat menurut, tapi di belakang diam-diam berkata, "Halah, orang tua bisanya cuma teori."

        Continue Reading
        38 comments
        Share:

        Friday, December 11, 2015

        Memilih Tontonan Anak


        Menonton televisi bukanlah suatu aktivitas yang kami larang untuk Keke dan Nai. Kami lebih memilih membatasi dan mengontrol. Membatasai jam menonton. Jangan sampai dalam sehari bisa berjam-jam menonton televisi. Mengontrol tayangan apa aja yang boleh atau dilarang untuk ditonton.

        Bicara tentang memilih tontonan anak, kami juga punya beberapa kriteria tontonan yang boleh atau dilarang. Kriteria ini belum tentu sama di setiap rumah tangga. Karena setiap orang tua pasti punya kriteria dan standar masing-masing.

        Kami menjauhkan sinetron dari anak-anak. Gak terang-terangan melarang tapi kami alihkan dengan totonan atau aktivitas lain yang lebih menarik. Kalau sekarang, sih, Keke dan Nai udah mengerti kenapa mereka tidak dibiasakan menonton sinetron.
        Dulu, pernah ada teman yang mengkritik karena Chi pernah cerita kalau Keke dan Nai suka nonton kartun Tom & Jerry. Menurut teman Chi, kartun Tom & Jerry mengandung kekerasan. Kalau anak-anak sampai meniru, bagaimana? Chi gak membantah tapi diam-diam berpikir. Waktu kecil, Chi cukup akrab dengan tayangan Tom & Jerry, Power Ranger, Ksatria Baja Hitam, dan lain sebagainya. Tapi, kenapa Chi gak meniru adegan berantemnya? Nonton ya nonton aja ...

        Makanya Chi masih membolehkan Keke dan Nai nonton Tom & Jerry. Bahkan Oggy and The Cockroach. Tapi didampingi dan rutin dikasih tau. Kalau yang mereka tonton itu hanya hiburan, bukan untuk dicontoh. Alhamdulillah hingga saat ini Keke dan Nai tidak mencontoh adegan kekerasan atau bullyingnya.

        Tontotan yang katanya aman untuk anak-anak pun gak serta-merta Chi langsung setuju. Teletubbies contohnya. Ketika Keke berusia batita, dia cukup sering menonton Teletubbies. Menurut Chi ini tayangan yang anak-anak banget. Cocoklah buat usia Keke saat itu. Gak cuma sebagai hiburan, Teletubbies juga tayangan yang mengedukasi dengan cara sederhana. Hanya saja buat kami kekurangannya adalah Teletubbies suka menggunakan bahasa bayi ketika berbicara.

        Awalnya kami mengabaikan hal itu. Kami pikir mungkin sengaja berbahasa bayi karena segmennya anak batita. Tapi, lama-lama Keke ngikutin cara tokoh Teletubbies ngomong. Yang tadinya udah mulai lancar beberapa kosa kata, jadi kayak bayi lagi. Udah Chi ajarin tapi tetep aja ngikutin gaya Teletubbies ngomong.

        Karena terus ikut-ikutan, Chi pun harus mengganti tontonan Keke. Dia jadi sering nonton Barney. Chi pilih yang dubbing bahasa Indonesia supaya Keke terlatih untuk berbicara. Alhamdulillah berhasil. Kosa kata Keke semakin lengkap sejak dia suka nonton Barney dan Sesame Street.

        Sempat merasa aneh juga. Keke dan Nai gak mudah terpengaruh dengan adegan kekerasan ala Tom & Jerry. Tapi dengan mudah Keke terpengaruh dengan bahasa bayi ala Teletubbies. Bahkan Chi sampai harus menghentikan nonton Teletubbies. Dan ketika Nai lahi, gak ada Teletubbies lagi di rumah hehehe.

        Ya, mungkin karena setiap anak punya karakter masing-masing. Sebagai orang tua, harus belajar paham sama karakter anak. Itulah kenapa Chi katakan kalau kriteria dan standar memilih tontonan memang bisa berbeda-beda.

        Memang penting untuk mencari referensi tontonan apa yang baik buat anak. Chi pun masih melakukannya sampai sekarang. Misalnya kalau mau ajak Keke dan Nai menonton bioskop. Tapi tetep aja keputusan ada di tangan masing-masing orang tua.

        Bagaimana dengan teman-teman? Tontonan apa yang suka ditonton anak-anak di rumah? Selamat memilih tontonan anak :)

        Continue Reading
        18 comments
        Share:

        Wednesday, December 9, 2015

        Memberi Tahu yang Baik Jangan Membentak

        "Sesuatu yang benar tidak akan mudah diterima apabila disampaikan dengan cara yang tidak baik seperti marah-marah. Sesuatu yang tidak baik akan dengan mudah diikuti bila disampaikan dengan cara baik."

        Ucapan dari seorang ustaz yang bahkan Chi gak tau namanya karena saat itu sedang pindah-pindah frekwensi radio di mobil. Di salah satu radio terdengarlah tausyiah hari Jumat ini. Walopun kejadiannya sudah lama, masih juga Chi ingat.

        Chi setuju dengan kalimat di atas. Siapa, sih, yang suka dimarahin walopun salah? Apalagi kalau sampai dibentak-bentak. Siapa juga yang senang ketika melihat seseorang yang merasa benar sendiri. Memberi himbauan sambil marah-marah apalagi menjelek-jelekkan yang lain. Kalau Chi, sih, mendingan langsung melipir aja, deh, walopun sebetulnya apa yang disampaikan itu benar :)


        Kasus 1

        "BU! JANGAN SUKA NGELIATIN UANG KALAU DI JALAN!! PENGEN DICOPET, YA!!"

        Sengaja Chi capslock tulisannya untuk menggambarkan kalau beberapa waktu lalu pernah dibentak orang gak dikenal. Mau Chi bentak balik orangnya udah keburu ngacir. Sedangkan saat itu Chi lagi di dalam bajaj dan kejebak macet. Ugh! Kesel banget! Apa, sih, maksudnya itu orang?! Tau-tau main bentak aja. Kenal juga enggak!! Macet serta cuaca yang panas membuat Chi makin emosi. Rasa malu juga ada karena disaksikan oleh supir bajaj. Eeerrrgghh!!

        Makin gregetan karena gak bisa balas ngomel. Akhirnya ngedumel sendiri. Sambil mengkhayal, seandainya bisa balas, mungkin gak cuma ngomel. Tapi keplak aja sekalian pake sepatu *ups! :D

        Untuk beberapa saat rasanya panas hati Chi. Tapi setelah sampai rumah, rebahan sejenak di kamar sambil nyalain AC, hati mulai ikutan adem. Setelah itu mulai bisa berpikir jernih. Kalau dipikir-pikir apa yang dibilang orang itu benar juga.

        Saat itu Chi lagi di bajaj, udah mau sampe rumah. Chi pikir daripada nanti ngubek-ubek tas lagi saat turun dari bajaj, mendingan uangnya disiapin duluan. Jadi begitu sampe rumah tinggal kasih uangnya. Posisi duduk Chi yang dekat pintu memang kelihatan banget lagi pegang uang. Waktu itu Chi pegang uang sebanyak Rp15.000,00.Tapi namanya juga penjahat, asal ada kesempatan pasti diambil.

        Bener kata orang itu, apa yang Chi lakukan memang terkesan ngundang pencopet. Walopun Chi melakukannya tanpa sengaja. Tapi karena orang itu mengingatkannya sambil membentak, maka yang Chi rasakan pertama kali adalah keseeeelll luar biasa :D


        Kasus 2

        Seorang teman mengupload foto istrinya yang lagi manyun. Dikasih caption kalau inn adalah wajah istrinya kalau anak-anak lagi UAS. Gak berapa lama, anaknya komen di foto itu. Kata anaknya gimana mau nurut kalau disuruh belajar. Abis bundanya kalau nyuruh belajar sambil ngomel.

        Entahlah, si anak memang beneran gak suka kalau disuruh-suruh sambil ngomel atau hanya sekadar beralasan. Gak tau juga apakah bunda anak tersebut manyun setelah sebelumnya udah ajak anaknya belajar dengan cara lembut. Atau memang dari awal udah ngomel. Tapi untuk alasan yang sama, Chi juga pernah dapat protes yang sama dari Keke dan Nai hehehe.

        Tapi sekarang Keke dan Nai punya cara kalau bundanya udah ngomel. Pipi dicumin tanpa henti sampai Chi ngakak walopun hati tetep mangkel wkwkkw.


        Kasus 3

        Kali ini tentang sejumlah kasus heboh di media massa. Dimana ada aksi, maka ada reaksi. Sayangnya, seringkali saling berbalas pantun tiada akhir. Jadinya malah debat kusir. Mungkin debat kusir karena di dunia maya. Kalau ketemuan bisa saling tonjok-tonjokan atau jambak-jambakan. Chi udah sempat mengulas tentang aksi dan reaksi ini di postingan Sejauh Mana Orang Tua Mengajari Anak?

        Adalah hal wajar dimana manusia tidak suka ditegur atau dimarahi. Teman-teman suka? Kalau Chi, sih, enggak sekalipun memang melakukan kesalahan. Tapi kalau ditegur dengan pelan-pelan, (syukur-syukur) penuh kelembutan, dan tidak mempermalukan di depan umum, rasanya masih akan diterima. Karena teguran juga bisa jadi sesuatu yang baik untuk kita walopun rasanya pahit.

        Nah, kalau cara memberi tahunya dengan membentak, manusia memang akan cenderung defensif. Makanya, jangan buru-buru menghakimi kalau yang ditegur itu keras kepala. Mungkin cara kita kasih taunya yang salah.

        Sering juga Chi mendengar seseorang bisa terjerumus justru karena bujuk rayu. Sesuatu yang salah tapi kalau dilakukan dengan cara yang baik bisa menjerumuskan kita. Pernah Chi datang ke salah satu seminar parentin ibu Elly Risman tentang membaca bahasa tubuh anak. Dikatakan sebagai orang tua wajib bisa membaca bahasa tubuh anak. Karena anak sering juga menyampaikan perasaannya secara tersirat. Jangan sampai kalah dengan pengedar narkoba.

        Para pengedar itu kata beliau pintar membaca bahasa tubuh anak, lho. Mereka lebih suka mendekati anak yang dari bahasa tubuhnya terlihat bermasalah. Karena anak yang seperti itu lebih gampang dibujuk rayu dibandingkan anak yang memiliki kepribadian kuat. Tuh, anak yang yang bahasa tubuhnya mengatakan bermasalah aja, para pengedar melakukan pendekatannya dengan bujuk rayu bukan dengan paksaan apalagi bentakan.

        Chi 100% setuju dengan quote di awal postingan ini. Memberi tau yang baik jangan membentak. Tapi bukan berarti Chi ini orang yang penyabar. Chi masih butuh banyak berlatih kesabaran karena memang sering bablas juga hahaha. Ya, anggap aja postingan ini sebagai pengingat. Selain anak-anak juga yang sering ingetin bundanya :D

        Continue Reading
        34 comments
        Share: