Senin, 30 Maret 2015

Keke Lagi Puber, Nai Yang Sedih


Keke lagi puber, Nai yang sedih. Itulah yang sedang dialami 2 kakak-beradik ini. Tadinya, Chi pikir kalau Keke lagi puber, gak akan berimbas ke Nai. Ternyata, bisa dan bikin Nai sedih hingga sempat nangis sesenggukan.

Nai: "Ayah, kita makan di Tamani Kids Kemang lagi, yuk!"
Bunda: "Jauh amat, Dek. Tamani, kan, juga ada yang deket rumah."
Nai: "Iya, tapi gak ada tempat bermainnya."
Keke: "Keke males, ah. Kalau mau makan aja."
Nai: "Yaaa.. Keke. Ayolah, temenin Ima main."
Keke: "Gak mauuu."
Nai: "Kekeee... Kalau gitu asuh Ima, yaaa.. Kita main bola di sana. Keke suka, kan?"
Keke: "Keke gak mau, Imaaa."

Continue Reading
69 komentar
Share:

Kamis, 26 Maret 2015

Bawa Bekal atau Uang Jajan?

Lunch bag yang setiap hari dibawa Keke dan Nai ke sekolah

Sejak anak-anak mulai sekolah, Chi bertekad kalau anak-anak harus bawa bekal ke sekolah. Lebih higienis tentu jadi alasan utama. Tapi, enggak cuma itu, sih. Waktu anak-anak masih TK, memang gak ada kantin di sekolah. Di sekeliling pun gak ada tukang jualan. Jadi, memang harus bawa bekal. Kecuali di hari Jum'at. Karena setiap Jum'at, sekolah yang menyediakan makanan bagi semua murid.

Ketika masuk SD, kebiasaan bawa bekal pun berlanjut. Di sekolah memang ada kantin, tapi makanan berat yang dijual cuma 1 macam, yaitu baso. Masa' setiap hari Keke dan Nai makan baso.  Bosen, dong. Ada, sih, yang nawarin catering di sekolah. Cuma, setelah dihitung-hitung, jatohnya jadi mahal. Jauh lebih irit bawa bekal sendiri.

Lagipula, anak-anak lebih suka dengan bekal buatan bundanya. Beberapa kali mereka diajak tukeran bekal atau saling berbagi bekal dengan teman. Menurut Keke dan Nai, mereka lebih suka makanan buatan bunda. Alhamdulillah.

Continue Reading
61 komentar
Share:

Selasa, 24 Maret 2015

Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa

Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa

Kekurangan atau kelebihan gizi bisa menjadi masalah. Dengan gizi pula, masalah tersebut bisa diperbaiki. Jum'at, 20 Maret 2015, bertempat di Ruang Mutiara 1, JW Marriot - Jakarta, #Nutritalk kembali digelar dengan tema "Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa"

Acara yang yang dibuka oleh MC, mbak Arletta Danisworo, menghadirkan 2 narasumber, yaitu
  1. Dr. Martine Alles - Director Development Physiology & Nutrition at Danone Nutricia Early Life Nutrition, Netherland
  2. Prof. Dr. Ir. H. Hardiansyah, MS - Guru Besar FEMA IPB

Continue Reading
24 komentar
Share:

Sabtu, 21 Maret 2015

Biaya Keperluan Sekolah yang Tak Terduga

Ketika mencari TK dan SD untuk Keke dan Nai, salah satu pertimbangan adalah biaya. Sudah pasti, lah, itu. Karena harus mencari sekolah yang sesuai dengan kemampuan finansial. Tapi, gak cuma itu aja kalau menyangkut pertimbangan biaya. Selain pertimbangan kemampuan finansial, kami menghindari sekolah yang banyak biaya ini-itu saat kegiatan belajar berlangsung. Misalnya, dapet surat dari sekolah untuk biaya outbound, trus berikutnya dapet surat lagi untuk biaya ini-itu. Kalau nyicil-nyicil, kami gak sreg. Karena kadang suka ada aja biaya yang gak terduga.

Beruntung kami mendapatkan sekolah yang pembiayaannya seperti yang kami mau. Cuma setahun sekali, bayar sejumlah uang dengan beberapa perincian yang sudah tertera di surat edaran. Setelahnya, kami hanya mengeluarkan biaya SPP tiap bulan saja. Buat kami, ini cara yang gak pake ribet.

Ternyata bukan berarti kami sepenuhnya bebas dari biaya sekolah tak terduga. Cuma, penyebabnya bukanlah sekolah. Karena kalau pembiayaan dari sekolah udah jelas. Yang gak terduga itu biasanya karena kecerobohan Keke atau Nai.

Continue Reading
60 komentar
Share:

Rabu, 18 Maret 2015

Peran Gizi Bagi Perkembangan Otak Anak di Masa Depan. Wyeth Nutrition - Celebrating 100 Years of Nourishing Pioneers and Beyond

Hmmm... kayaknya kalau yang ini udah mulai kelebihan gizi :D

Kamis, 12 Februari 2015, Chi menghadiri undangan media dan blogger gathering dari Wyeth Nutrition. Acara yang berlangsung di Balroom 1, Ritz Carlton Hotel - Mega Kuningan, merayakan hari jadi Wyeth Nutrition yang ke-100 tahun.

Hari jadi ini diisi dengan acara bincang-bingan yang bertema "Seberapa penting peran gizi bagi pertumbuhan otak anak? Dan, apa peran Wyeth Nutrition dalam hal pertumbuhan otak anak, khususnya bagi anak Indonesia?" Bincang-bincang ini menghadirkan 4 narasumber, yaitu DR. Dr. R.A Setyo Handryastuti, SpA(K), Ketua UKK Neurologi IDAI , Dr. Endang D. Lestari SpA(K), MPH, Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Alejandro Septien E, Vice President Director PT. Wyeth Nutrition Indonesia, Dr. Djaja Nataatmadja, Senior Medical Manager PT. Wyeth Nutrition

Continue Reading
34 komentar
Share:

Senin, 16 Maret 2015

Jumpalitan dan Tips Menghadapi Anak Puber

Jumpalitan dan Tips Menghadapi Anak Puber


Akhir-akhir ini Chi rasanya jumpalitan menghadapi Keke yang sedang puber. Anak yang sedang puber memang mood swing banget. Emosinya bisa dalam sekejap berubah. Tetapi, bukan berarti dibiarkan begitu saja dan berpikir kalau nanti juga akan stabil dengan sendirinya. Beberapa sumber mengatakan kalau anak yang sedang puber dan tidak tertangani dengan baik bisa membuat si anak depresi, lho. Sampe segitunya, kah? Yup! Mungkin aja.

Bunda: "Ke, masih inget, gak, dulu pas ada lagu ini Keke joget-joget trus dividioin dan diupload ke YouTube?"
Keke: "IYA!"

Obrolan di atas adalah kejadian sekitar 2 bulan lalu. Saat itu kami lagi jalan-jalan dan di salah satu radio mengalun lagu lama yang iramanya energik. Chi bener-bener kaget ketika Keke jawabnya pake ngebentak. Padahal saat itu kami lagi senang-senang aja. Kok, tiba-tiba Keke ngebentak.

Spontan Chi pun balik memarahi. K'Aie lebih sabar dari Chi. Dia menasehati Keke. Tetapi, boro-boro meminta maaf, Keke lebih memilih merebahkan kursi depan dan tiduran. Sikapnya yang seperti itu bikin Chi makin jengkel. Herannya gak lama kemudian Keke kembali ceria seolah-seolah gak terjadi apa-apa. Chi cuma diam melihat sikap Keke. Antara masih kesal karena dibentak dan bingung melihat moodnya yang bisa berubah dengan cepat.

Selain moodnya Keke yang mudah berubah, akhir-akhir ini suka mengungkapkan rasa iri terhadap adiknya. Belum lagi Chi mulai sering dapat laporan dari wali kelas tentang sikapnya ini. Dia mulai melakukan beberapa ulah yang bikin wali kelas harus melapor ke Chi. Nilai pelajarannya pun mulai menurun. Errrgghh! Ngeselin banget gak, sih? Kadang-kadang Chi suka terpancing emosi dan mulai sering memarahi Keke.

Melihat perubahan Keke akhir-akhir ini yang bikin jumpalitan, Chi pun mencari info. Beberapa cara Chi lakukan. Chi berpikir mungkin gaya komunikasi terhadap Keke yang harus diubah. Chi coba ajak dia bicara 4 mata. Coba tebak-tebak perasaannya. Coba berbicara lebih luwes lagi, seolah-olah dia sedang berbicara dengan teman.

Dari beberapa artikel yang Chi baca, anak yang sedang puber ternyata anak yang sedang mengalami fase bingung. Dia sedang mempertanyakan jati diri karena beberapa perubahan terhadap tubuh maupun perasaannya. Di satu sisi, dia merasa jiwanya masih jadi anak-anak. Di sisi lain, dia melihat tubuhnya sudah mulai berubah jadi lebih dewasa.

Keke: "Bun, banyak teman yang bilang, kalau suara Keke udah berubah. Udah gak kayak anak-anak lagi. Memang iya, Bun?"
Bunda: "Ya, suara Keke memang kayaknya udah mulai pecah, sih."
Keke: "Pecah itu apa, Bun?"
Bunda: "Perpindahan dari suara anak-anak ke dewasa. Biasanya akan pecah dulu. Tapi, ini cuma anak laki-laki yang ngalamin. Kalau teman-teman Keke, udah ada yang pecah belum?"
Keke: "Belum, baru Keke. Tapi, Keke tetep masih anak-anak, kan, Bun? Iya, kan, Bun?"
Bunda: "Iya, Nak"

Suaranya yang mulai pecah menjadi salah satu kekhawatiran Keke. Dia gak pengen berbeda dari teman-temannya. Dia merasa aneh kalau jadi berbeda. Dengan puber lebih dulu, dia merasa berbeda dengan temannya. Hal seperti itu membuat perasannya gak nyaman.

Setelah curhat permasalahannya selesai, tetapi gak lama. Wali kelas mulai laporan lagi. Katanya, Keke berkata kurang pantas terhadap salah seorang temannya dan dilakukan beberapa kali. Tiap kali ditegur, dia hanya diam atau cengengesan. Awalnya wali kelas hanya menasehati Keke. Wali kelas tau kalau selama ini Keke gak pernah seperti itu. Tetapi, ketika Keke kembali melakukan hal sama beberapa kali, wali kelas mulai bingung dan akhirnya melaporkan ke Chi. Katanya kelakuan Keke jadi seperti segelintir anak yang memang dalam pengawasan guru karena attitude.

Chi kembali mengajak Keke bicara. Tapi, kali ini Chi gak bisa menutupi rasa kecewa. Keke tidak merasa bersalah sama sekali, malah membela diri kalau yang melakukan itu gak cuma dia. Lagipula dia hanya becanda, begitu alasannya. Walau gak lama kemudian Keke meminta maaf, tetapi dari ekspresi wajahnya terlihat kalau dia seperti gak nyaman ditegur bundanya.

Kekecewaan Chi bukan hanya karena Keke sempat merasa gak bersalah. Tetapi, Chi tau kalau selama ini Keke sudah cukup paham bagaimana bersikap. Sudah bisa membedakan benar dan salah. Dia tau mana candaan yang baik dan bukan. Tetapi, akhir-akhir ini dia seolah-olah seperti mengikuti arus. Sayangnya yang dia ikuti adalah arus yang kurang baik.

Setelah hati tenang, Chi mulai berpikir dan kembali mengajak dia berkomunikasi kembali. Ternyata dia melakukan itu karena ingin dianggap sama dengan temannya. Perasaannya yang kurang nyaman karena suaranya mulai pecah sehingga dia merasa berbeda, membuatnya melakukan beberapa hal yang kurang baik. Alasannya adalah karena anak yang berbuat kurang baik terlihat lebih menonjol. Keke pun ingin menonjol sekadar membuktikan kalau dia masih sama dengan teman-temannya.

Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat belom kelihatan ada masalah lagi. Pengennya jangan ada cerita yang bikin deg-degan lagi, lah. Tapi, memang harus terus dipantau dan semakin memperbaiki kualitas komunikasi. Dan belajar untuk lebih memahami perasaannya. Chi juga harus belajar lebih sabar dalam meghadapi hal ini.

Banyak yang bilang kalau anak yang sudah puber itu akan mulai menjauh dari orang tua dan dekat ke teman. Alasannya, karena si anak merasa orang tua gak mengerti dengan perasaannya. Sedangkan, orang tua merasa anaknya mendadak bandel. Dua pemikiran yang berbeda akan membuat saling ribut. Makanya, anak yang sedang puber akan sering berantem sama orang tua. Dan, anak yang sedang puber jadi lebih dekat ke teman karena teman merasa lebih mengerti dia. Padahal belum tentu yang disarankan oleh teman itu benar, ya. Kalau memang seperti itu, masuk akal juga kalau anak puber itu bisa mengalami depresi.

Di awal masa puber memang sering terjadi pertengkaran antara Chi dan Keke. Setelah tau kalau Keke sedang puber, Chi berusaha untuk lebih mengerti. Gak pengen juga Keke jadi jauh sama orang tua gara-gara dia merasa orang tua gak memahami dirinya.

Kalau udah begini, Chi kadang-kadang merasa lebih mudah mendidik mereka ketika masih kecil. Sehebohnya anak kecil, tetep aja gak mau jauh dari orang terdekatnya. Tapi, kali ini Chi suka merasa was-was. Khawatir salah memahami Keke kemudian dia akan menjauh dan lebih memilih mendekat kepada temannya.

Tapi, jangan salah sangka. Chi bukannya gak pengen Keke dekat dengan teman-temannya. Chi malah pengen punya anak itu supel. Cuma, kalau alasan dekat dengan temannya karena merasa orang tua gak mengerti perasaannya pastinya bakal bikin Chi sedih. Ada rasa khawatir juga, kalau terus didiamkan bisa berakibat salah pergaulan. Naudzubillah min dzalik. Semoga jangan sampai kejadian.

Tips menghadapi anak puber adalah dengan terus menjalin komunikasi dan lebih berusaha memahami perasaannya. Orang tua juga harus kompak bekerjasama dan saling support. Kalau perlu libatkan juga pihak lain.

Chi bersyukur K'Aie termasuk suami yang peduli dengan tumbuh kembang anak-anak sejak mereka dalam kandungan. Ketika Keke mulai puber, Chi minta K'Aie untuk lebih sering berkomunikasi lagi dengan Keke. Alasannya:

  1. Keke sudah mulai masuk masa remaja. Sebagai sesama laki-laki, rasanya akan lebih mudah memahami apa yang sedang dirasakan. Ayahnya kan juga pastinya pernah juga memasuki masa puber.
  2. Emosi yang labil semasa puber juga karena pengaruh hormon. Ada juga yang namanya puberty blues. Chi lebih bisa membayangkan kalau Nai yang mengalami puber. Membayangkan ketika dia uring-uringan saat PMS atau mengalami Baby Blues saat dia punya anak kelak. Mungkin karena Nai itu perempuan. Tapi, Chi gak begitu bisa membayangkan ketika laki-laki yang mengalami perubahan hormon. Pengen seperti apa dia diperlakukan? Makanya, Chi minta K'Aie yang lebih berperan menangani.
  3. Menurut ibu Elly Risman, di salah satu seminar parenting yang Chi ikuti, dalam sehari, laki-laki hanya punya 7.000 kata dalam otaknya. Sedangkan, perempuan itu 20.000 kata. Gak heran kalau perempuan memang pada cerewet. Tapi, cerewet terhadap laki-laki, malah gak akan 'ditangkap' karena kemampuan mereka memiliki kata-kata jauh lebih kecil daripada perempuan. Itulah, kenapa kalau laki-laki bicaranya to the point. Makanya, kami sepakat kalau urusan Keke, K'Aie lebih dominan lagi. 
 
Sebagai orang tua, gak mungkin Chi mengawasi 24 jam. Terus menjalin komunikasi yang baik dengan wali kelas juga merupakan salah satu cara supaya tetap bisa mengetahui keadaan anak-anak di sekolah. Apalagi kalau mmasa puber begini diharapkan bisa menemukan solusi yang sejalan apabila anak-anak mengalami masalah di sekolah. Dari hasil pembicaraan pun, para guru juga sudah memiliki pengalaman menghadapi anak-anak yang sednag puber.

Perasaan zaman dulu masuk masa puber biasa aja, ya? Atau memang Chi aja yang gak merasa karena dulu kan posisinya sebagai anak? Tapi, bisa jadi juga karena masalah dan tantangan zaman dulu dan sekarang itu berbeda. Zaman sekarang lebih banyak faktor yang mempengaruhi anak-anak. Kalau gak terus diperbaiki pola asuhnya, kemungkinan untuk terpengaruh hal-hal gak benar itu lebih terbuka.

Keke yang lagi puber, berimbas juga ke Nai. Dia pun sempat ikutan sedih dan nangis sesenggukan karena masa puber Keke ini. Kapan-kapan Chi ceritain, ya :) Sejak kapan Keke mulai puber? Baca tulisan Chi sebelumnya di "Keke Mulai Puber? Yuk! Kenali Tanda-Tanda Pubertas pada Anak Laki-Laki"

Continue Reading
37 komentar
Share:

Sabtu, 14 Maret 2015

4 Tip Membedong Bayi

Bolehkan membedong bayi? Kalau dulu, semua kayaknya bakalan kompak bilang boleh bahkan harus. Tapi, di zaman digital gini, bisa menimbulkan pro-kontra. Pro-kontra dengan alasan kuno vs modern, dan lain sebagainya.

Jangankan zaman sekarang, waktu Keke lahir pun pro-kontra itu udah ada. Papah Chi beberapa kali protes kalau melihat Keke gak dibedong. Menurut papah, bedong bisa membuat kaki bayi menjadi lurus. Takut menjadi anak yang gak gagah, katanya. Ya, mungkin karena Keke, kan, cucu pertama. Udah gitu laki-laki pula. Bangga kali kalau cucunya kelak terlihat gagah. Jadi, khawatir kalau gak dibedong akan berakibat kepada kaki Keke.

Waktu itu, Chi diam aja tapi ngeyel :p Ya, abis gimana lagi, di satu sisi orang tua sudah lebih banyak makan asam garam. Ada pikiran, siapa tau memang benar yang dikatakan papah. Tapi, di sisi lain, Chi juga gak yakin hubungan antara bedong dan kaki bengkok. Sayangnya, saat itu Chi belom akrab sama dunia internet/ Jadi, belom bisa cari perbandingan yang banyak.

Continue Reading
32 komentar
Share:

Rabu, 11 Maret 2015

Koleksi Diecast Keke Dipajang Lagi

Pagi ini, Chi kembali memajang koleksi diecast Keke. Keke belum tau kalau diecastnya kembali dipajang karena udah keburu berangkat ke sekolah. Chi berharap sepulang sekolah nanti, Keke akan senang melihat diecastnya kembali dan boleh dimainin lagi.

Keke memang beberapa bulan gak main diecast. Semua koleksi diecast yang tersisa Chi simpan di lemari. Awalnya, Keke gak menolak karena tau alasannya. Tapi, akhir-akhir ini dia terlihat kangen dengan diecastnya. Chi belum juga mengabulkan permintaannya. Selain masih ragu, Chi juga sempet lupa menyimpannya di lemari yang mana hehehe.

Sebetulnya, Keke gak punya salah apapun yang menyebabkan diecastnya terpaksa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Tapi, Keke seringkali terlihat sedih setiap kali diecastnya dimainin sama Fabian, sepupunya yang (sekarang) berusia 4,5 tahun.

Continue Reading
42 komentar
Share:

Senin, 09 Maret 2015

Keke Mulai Puber? Yuk! Kenali Tanda-Tanda Pubertas pada Anak Laki-Laki

 Waktu cepat berlalu. Rasanya, belum lama Keke masih bergigi roges. Sekarang, malah udah puber. :)

Kenali tanda-tanda puber pada anak laki-laki. Keke mulai puber? Ahh... tidak!

Beberapa waktu terakhir ini, Chi dan K'Aie seperti mencoba menyangkal kenyataan kalau kemungkinan Keke mulai puber. Mendengar kata puber, terkesan untuk remaja. Sementara buat kami, Keke masih anak-anak. Masih jauh dari kata puber.

Sebetulnya, tanda-tanda adanya perubahan dalam diri Keke mulai terlihat sejak liburan tengah semester lalu. Tapi, kami belum terpikir ke arah sana. Padahal beberapa orang mulai merasa kalau suara Keke sudah mulai pecah. Kami tetap aja berpikir kalau suaranya yang pecah itu karena sedang batuk, bukan karena puber.

Kemudian, beberapa minggu lalu, wali kelas nge-whatssap Chi. Katanya, ada yang mau dibicarain tentang perubahan yang terjadi sama Keke akhir-akhir ini. Menurut wali kelasnya, sikap Keke agak berubah. Menjadi sedikit pendiam dari biasanya. Nilai-nilai pelajarannya pun agak menurun. Wali kelas menduga kemungkinan Keke mulai memasuki masa puber.

Chi bilang kalau kemungkinan itu ada. Tapi, Chi juga bilang kalau mungkin aja Keke lagi sakit. Udah lumayan lama Keke terkena batuk yang membuatnya kurang beristirahat. Bisa jadi sikapnya yang menjadi sedikit pendiam, agak uring-uringan, nilai pelajarannya menurun, dan lain sebagainya karena kurang beristirahat gara-gara sakit.

Walopun begitu, Chi juga udah mulai gak bisa menampik kalau memang ada kemungkinan Keke masuk masa puber. Apalagi yang bicara adalah wali kelas. Tentunya, sebagai guru sudah punya pengalaman bagaimana mengetahui tanda-tanda anak puber.

Chi pun mulai mencari tau banyak informasi mengenai masa puber khususnya bagi anak laki-laki. Dan, beberapa tanda memang sudah ada pada Keke. Berikut tanda-tandanya ...

Continue Reading
80 komentar
Share:

Kamis, 05 Maret 2015

Baju Seragam

Liburan bulan Desember lalu, kami sekeluarga udah kayak yang kena demam Doraemon karena gak cuma rela antre buat nonton Stand By Me tapi juga datang ke event “100 Doraemon Secret Gadget Expo.”Kami bahkan masih punya 4 tiket event Doraemon Expo lagi yang rencananya akan dipakai sehari setelah Keke ulang tahun. Nai malah dari jauh-jauh hari udah berencana memakai baju seragam buat dateng ke exponya.

Tapi, sebagus apapun rencana, Tuhan juga yang menentukan ...

Sekitar hampir 4 minggu lalu papah mertua terjatuh. Kepalanya terbentur dan dalam hitungan detik langsung gak bisa-apa. Sadar, tapi gak bisa melakukan apapun. Makan melalui selang, ngomong gak bisa, bergerak juga gak bisa. Serba gak bisa, bisanya cuma tiduran.

Dirawat di rumah sakit selama lebih dari 2 minggu. Alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan. Sudah pulang ke rumah sejak seminggu yang lalu. Walopun kalau dibandingkan dengan keadaan sebelum jatuh, masih jauh, lah. Kondisinya juga kadang ngedrop. Tapi, disyukuri saja setiap perkembangan yang baik.

Karena keadaan itu, setiap wiken kami sekeluarga 'ngungsi' ke rumah mertua. K'Aie setiap hari, sepulang dari kantor, menjenguk ke rumah sakit sekalian jemput mamah yang setiap hari nemenin papah. Akibatnya, pulangnya jadi lebih larut. Setelah papah pulang dari rumah sakit, malah pergi dulu ke rumah orang tua sebelum ngantor. Bahkan beberapa hari terakhir ini agak jarang ngantor.

Continue Reading
38 komentar
Share:

Minggu, 01 Maret 2015

Berhak Bahagia


"Yakin, mau resign? Emang mau ngapain? Awalnya aja yang enak. Bisa santai-santai, dasteran, gak mikir dandan, bisa nonton infotainment sampe puas. Tapi, lama-lama bosen juga kali. Mau ngobrol sama temen juga susah, karena rata-rata udah pada punya kegiatan."

Entah berapa banyak yang mengeluarkan nada serupa, ketika tau Chi memutuskan untuk resign beberapa bulan sebelum menikah. Rasanya, cuma K'Aie yang benar-benar mendukung tanpa banyak nanya ini-itu. Mungkin, karena K'Aie sudah tau seberapa kuat keinginan Chi untuk resign saat itu. K'Aie juga tau, alasan Chi memilih resign. Alasan yang sangat pribadi.

Sebetulnya, Chi cukup heran juga, kenapa waktu dipelakukan seperti itu lebih memilih diam. Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin karena saat itu Chi juga gak tau jawabannya. Iya, Chi suka nonton tv, tapi kayaknya gak sampe addict, deh. Ngeblog? Bahkan, saat itu, tidak ada internet di rumah. Cuma 1 aja yang Chi yakin jawabnya, yaitu gak akan pake daster karena memang gak suka dasteran sampe sekarang.

Continue Reading
48 komentar
Share:

Tip Mencegah dan Mengobati Ruam Popok pada Bayi

 Senyum seperti ini bisa hilang kalau anak-anak lagi terkena ruam popok

Salah satu masalah yang umumnya dialami oleh orang tua yang sedang mempunyai bayi adalah ruam popok atau diaper rash. Ruam popok adalah iritasi pada kulit bayi di area yang tertutup popok. Chi sering juga menyebutnya lecet. Penyebabnya itu biasanya karena urin dan pup bayi. Seperti iritasi lainnya, rasanya itu sangat tidak nyaman. Biasanya bikin bayi jadi rewel. Chi punya tip mencegah dan mengobati ruam popok pada bayi. Karena walopun jarang, Keke dan Nai pun pernah mengalaminya.

Continue Reading
17 komentar
Share: