Monday, March 30, 2015

Keke Lagi Puber, Nai Yang Sedih


Keke lagi puber, Nai yang sedih. Itulah yang sedang dialami 2 kakak-beradik ini. Tadinya, Chi pikir kalau Keke lagi puber, gak akan berimbas ke Nai. Ternyata, bisa dan bikin Nai sedih hingga sempat nangis sesenggukan.

Nai: "Ayah, kita makan di Tamani Kids Kemang lagi, yuk!"
Bunda: "Jauh amat, Dek. Tamani, kan, juga ada yang deket rumah."
Nai: "Iya, tapi gak ada tempat bermainnya."
Keke: "Keke males, ah. Kalau mau makan aja."
Nai: "Yaaa.. Keke. Ayolah, temenin Ima main."
Keke: "Gak mauuu."
Nai: "Kekeee... Kalau gitu asuh Ima, yaaa.. Kita main bola di sana. Keke suka, kan?"
Keke: "Keke gak mau, Imaaa."

Beberapa kali Nai merengek minta diajak ke Kidzania, Tamani Kids, Chipmunk Playland, dan lain sebagainya. Tapi, berujung kekecewaan karena Keke selalu menolak. Suatu hari, sepulang sekolah, Chi lihat Nai lagi nangis sesenggukan di kamar.

Bunda: "Adek, kenapa?"

Nai gak menjawab. Dia cuma melihat bundanya dengan muka sedih. Kalau udah gitu artinya harus dipeluk. Kalau udah dipeluk, tangisannya langsung pecah. Setelah tenang Chi baru tanya lagi, biasanya Nai mau jawab.

Nai: "Ima sedih, Keke kayaknya udah gak mau main sama Ima."
Bunda: "Masa', sih? Bunda lihat Keke masih mau main sama Ima."
Nai: "Enggak, Bunda. Sekarang Keke suka menolak kalau diajak main ke Kidzania. Gak mau diajak kemana-mana. Di rumah juga begitu, diajak main kadang suka menolak."
Bunda: "Ooohh... mungkin Keke merasa udah besar sekarang. Jadi, dia udah malu main ke tempat seperti itu. Gimana kalau mainnya sama Bunda aja? Ima mau kemana? Ke Chocokids? Atau ke Kidzania?
Nai: "Gak mau! Ima maunya sama Keke!"

Nai agak sedikit berteriak. Kalau begitu Chi elus-elus aja kepalanya. Sebetulnya, setiap kali main ke playland, Chi selalu ikut menemani. Cuma mungkin berasa ada yang kurang buat Nai kalau kakaknya gak mau ikut. Makanya, dia menolak kalau cuma sama bundanya aja.

Agak sorean, Chi panggil Keke. Ajak dia ngobrol 4 mata.

Bunda: "Ke, tadi siang, adekmu sedih. Katanya, Keke sekarang menolak terus kalau diajak main ke playland. Kenapa, Nak?"
Keke: "Keke udah malu, Bunda."
Bunda: "Malu karena...?"
Keke: "Badan Keke udah besar sekarang. Keke malu kalau masih main ke tempat kayak gitu."
Bunda: "Oh, oke.. Nanti Bunda akan bilang ke Nai. Tapi, kalau di rumah tetap main, lah, sama adikmu. Dia sedih, tuh, kakaknya mendadak agak jauh."
Keke: "Iya, Bunda."

Mungkin dalam hati Keke masih pengen main. Tapi, sekarang tingginya sudah sama kayak Chi. Jadi, dia agak risih juga kayaknya kalau bermain di playland yang umumnya diisi sama anak-anak yang masih imut-imut hehe. (baca tulisan Chi tentang Puber)

Sedikit flashback, ya... Ketika Keke masih bayi, ada perbedaan keinginan antara Chi dan K'Aie. K'Aie pengen segera punya momongan lagi. Menurutnya jarak antara anak pertama dan kedua sebaiknya jangan terlalu jauh. Biar mereka seperti berteman. Maksudnya, kalau main itu bisa barengan. Sedangkan, Chi keberatan. Rasanya, gak tega hamil lagi sementara Keke masih ASI. Pengen Chi, jarak antara kakak-adik itu 4-5 tahun.

Karena gak juga ada kesepakatan, kami pasrahkan saja. Mana yang terbaik menurut Allah SWT. Ternyata, keinginan K'Aie yang dikabulkan. Untuk ASI, ternyata gak perlu dikawatirkan karena Chi tetep bisa kasih ASI dengan cara tandem nursing.

Bener kata K'Aie. Mereka seperti berteman. Ya, meski kadang-kadang ada berantemnya, tapi kemana-mana seringnya berdua. Akrab, lah. Chi dan K'Aie sama sekali gak pernah terpikir kalau suatu saat nanti akan mengalami 'gap' anatara Keke dan Nai. Walaupun sifatnya mungkin sementara.

Kalau di rumah sekarang mereka sudah mulai main bareng lagi. Caranya dengan tidak memaksa Keke. Kalau dia memang lagi pengen sendiri, biarkan aja. Chi aja ajak Nai beraktivitas yang seru di rumah. Ternyata, cara ini berhasil. Keke pelan-pelan ngedeketin dan akhirnya mau main bareng lagi. Chi seneng lihatmya. Salah satu kejadian adalah lucu juga kalau melihat Keke lagi bacain buku cerita untuk adeknya. Dia punya style sendiri untuk bercerita dan adeknya ketawa-ketawa :D

Kalau untuk jalan-jalan, sampe sekarang memang belom ada solusinya. Kami juga belum sempat ajak Nai ke tempat bermain yang dia mau. Tapi, kalau tentang tempat bermain memang beberapa waktu lalu Chi sempet mikirnya juga. Kayaknya, sebentar lagi kami pelan-pelan akan meninggalkan hobi bermain di playland. Anak-anak, kan, semakin besar. Sekarang udah dimulai dari Keke. Nai mungkin sekitar 2-3 tahun lagi.

Nah, mumpung Nai masih suka main di playland, puas-puasin dulu berburu playlandnya hehe. Dan, semoga Nai gak sedih lagi, Kelihatannya, sih, sekarang dia udah mulai gak sedih :)

Continue Reading
64 comments
Share:

Thursday, March 26, 2015

Bawa Bekal atau Uang Jajan?

Lunch bag yang setiap hari dibawa Keke dan Nai ke sekolah


Sejak anak-anak mulai sekolah, Chi bertekad kalau anak-anak harus bawa bekal ke sekolah. Lebih higienis tentu jadi alasan utama. Tapi, enggak cuma itu, sih. Waktu anak-anak masih TK, memang gak ada kantin di sekolah. Di sekeliling pun gak ada tukang jualan. Jadi, memang harus bawa bekal. Kecuali di hari Jum'at. Karena setiap Jum'at, sekolah yang menyediakan makanan bagi semua murid.

Ketika masuk SD, kebiasaan bawa bekal pun berlanjut. Di sekolah memang ada kantin, tapi makanan berat yang dijual cuma 1 macam, yaitu baso. Masa' setiap hari Keke dan Nai makan baso.  Bosen, dong. Ada, sih, yang nawarin catering di sekolah. Cuma, setelah dihitung-hitung, jatohnya jadi mahal. Jauh lebih irit bawa bekal sendiri.

Lagipula, anak-anak lebih suka dengan bekal buatan bundanya. Beberapa kali mereka diajak tukeran bekal atau saling berbagi bekal dengan teman. Menurut Keke dan Nai, mereka lebih suka makanan buatan bunda. Alhamdulillah.

Setiap hari mereka bawa 2 bekal ke sekolah. 1 bekal makanan berat (nasi, lauk-pauk, sayur/buah), trus 1 lagi isinya camilan. Tentunya gak dimakan sekaligus. 2 bekal itu untuk 2x istirahat. Biasanya makanan berat, mereka makan di jam pertama.

Semua bekal ditaruh dilunch bag, biar gak berantakan di tas. Pernah Chi taro di tas kain biasa, tapi namanya anak-anak, naronya kan gerabak-gerubuk. Jadi, berantakan di tas. Kalau ditaro di lunch bag jadi rapih. Udah gitu, lunch bag bisa dijinjing. Kalau tas mereka lagi penuh, lunch bag ditenteng aja.

Lunch bag yang mereka punya berwarna hitam polos. Yang penting, kualitasnya bagus. Tertutup rapat, gak mudah sobek, dan tahan air. Tapi, waktu TK, anak-anak rada milih-milih. Pengen lunch bag yang ada gambar tokoh kartun kesukaan mereka. Kayak Keke, waktu TK memilih lunch bag yang ada karakter kartun Thomas.

Oiya, bagaimana dengan uang jajan? Berarti, mereka gak jajan, ya? Mereka tetep dapet uang jajan, kok. Tapi, cuma seminggu sekali. Itupun nominalnya cuma cukup buat 1x jajan aja. Jadi, kalaupun mereka dikasih uang jajan, tetep bawa bekal. Hari dikasih uang jajan disepakati bersama. Itupun, Chi suka tanya mau jajan atau enggak? Kalau jajan, dibawain bekalnya 1 aja. Kalau enggak, dibawain 2 seperti biasa, tapi tetep dikasih uang jajan buat disimpan.

Sebetulnya, Chi seneng aja kalau hari uang jajan tiba karena bisa lebih santai pagi harinya hehehe. Tapi, kalau jajan terus, pengeluaran bulanan bisa lebih bengkak. Bukan prinsip emak-emak itu namanya. Ya, mending sedikit repot di pagi hari buat nyiapin bekal, deh :)

Uang jajan sengaja dikasih, supaya mereka belajar bertransaksi, sih. Sejak TK, mereka udah diajarin bertransaksi. Tapi, maish ditemenin. Setelah SD, mereka belajar bertransaksi sendiri. Kadang, yang kayak gitu butuh keberanian juga. Untungnya, kantin ada di dalam sekolah. Di luar area sekolah, gak ada tukan jualan sama sekali. Jadi, terukurlah lah mereka kira-kira akan jajan apa. Dan, insya Allah lebih higienis dibanding jajan gak jelas.

Sampe kapan mereka bawa bekal? Pengennya, sih, sampe mereka besar. Tapi, lihat nanti, deh. Paling enggak, sampe mereka tamat SD, Chi maunya masih membawa bekal. Uang jajannya seminggu sekali aja.

Bagaimana dengan teman-teman? Bawa bekal, uang jajan, atau memilih layanan catering di sekolah?

Continue Reading
56 comments
Share:

Tuesday, March 24, 2015

Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa

Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa
 
Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa - Kekurangan atau kelebihan gizi bisa menjadi masalah. Dengan gizi pula, masalah tersebut bisa diperbaiki. Jum'at, 20 Maret 2015, bertempat di Ruang Mutiara 1, JW Marriot - Jakarta, #Nutritalk kembali digelar dengan tema "Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa"

Acara yang yang dibuka oleh MC, mbak Arletta Danisworo, menghadirkan 2 narasumber, yaitu


  1. Dr. Martine Alles - Director Development Physiology & Nutrition at Danone Nutricia Early Life Nutrition, Netherland
  2. Prof. Dr. Ir. H. Hardiansyah, MS - Guru Besar FEMA IPB


Gizi Masyarakat Eropa, khususnya Belanda, dan Permasalahannya



Dr. Martine Alles, sebagai narasumber pertama, mengatakan bahwa perubahan sekuler tentang gizi bisa dikatakan positif apabila pertumbuhan tinggi badan rata-rata dari satu generasi ke generasi berikutnya semakin tinggi.

Pertumbuhan tinggi badan di masyarakat memang bisa menjadi refleksi atau cerminan keadaan suatu bangsa. Karena pertumbuhan tinggi badan berkaitan dengan gizi. Gizi yang baik biasanya karena perekonimian membaik. Jadi, bisa dikatakan apabila pertumbuhan tinggi badan rata-rata masyarakat di suatu negara itu baik, perekonomian negara tersebut biasanya membaik.

Belanda termasuk salah satu negara yang sangat memperhatikan gizi masyaratnya. Bahkan sejak tahun 1950, tinggi badan rata-rata dewasa muda Belanda termasuk yang paling tinggi di dunia. Salah satu langkah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah gencar mengenalkan susu ke sekolah-sekolah. Tidak hanya di Belanda, negara-negara di Eropa lainnya juga memberikan subsidi susu ke berbagai sekolah. Walopun, saat ini, subsidi susu sudah tidak ada lagi, tapi konsumsi susu di masyarakat sudah tinggi.

Data tentang pertumbuhan tinggi masyarakat Belanda dari tahun ke tahun yang ditunjukkin oleh Dr. Martine Alles termasuk komplit. Yang menarik adalah, saat ini pertumbuhan tinggi masyarakat Belanda sudah mulai melambat. Tapi, tidak bagi para imigran yang dari tahun ke tahun masih menunjukkan peningkatan. Hal ini membuktikan kalau pertumbuhan tinggi badan seseorang tidak mutlak karena gen semata. Gizi sangat berperan bagi pertumbuhan seseorang.

Gizi sudah harus diperhatikan sejak 1000 hari pertama kehidupan. Bahkan lebih bagus lagi kalau asupan gizi sudah diperhatikan sebelum perempuan dinyatakan hamil. Menurut Dr. Martine, perempuan hamil yang mengalami kelaparan, terutama di trimester pertama, akan beresiko mempunyai anak obesitas dan masalah metabolik. Hal ini dibuktikan dengan grafik, misalnya saat perekonomian Belanda kurang baik karena perang dunia, banyak terjadi kasus permasalahan gizi bagi ibu hamil. Pemberian ASI bisa meminimalkan anak terkena obesitas, lho.

Pertumbuhan badan sudah bagus, sebaiknya asupan vitamin D jangan diabaikan. Saat ini, kurangnya asupan vitamin D menjadi masalah bagi masyarakat dunia. Takut diculik, banyak polusi, takut kanker, kecanduan gadget, dan lainnya yang merupakan bentuk proteksi orang tua yang berlebihan terhadap anak , menyebabkan anak-anak zaman sekarang jarang sekali berada di luar ruangan. Sering berada di dalam ruangan, berlanjut hingga dewasa. Jam kerja yang panjang dan menuntut para karyawan berada di kantor, membuat para pekerja juga kekurangan asupan vitamin D.

Kita tahu kalau sinar matahari adalah penyumbang vitamin D terbaik. Anak yang kurang asupan vitamin D akan menyebabkan tulangnya lemah dan lunak (riket). Kasus kurangnya asupan vitamin D memang tidak hanya terjadi di masa sekarang saja. Pada sekitar abad 19, telah terjadi kasus penyakit riketsia di negara Eropa dan Amerika.

Mengkonsumsi minyak hati ikan kod, dipakai oleh para ahli kesehatan sejak abad 20 karena dianggap mampu memulihkan kekurangan asupan vitamin D. Dan sejak tahun 1961, produksi mentega juga diwajibkan fortifikasi vitamin D.

Menurut Dr. Martine, orang tua juga sesekali bisa mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke alam terbuka. Ajak mereka camping atau kegiatan outdoor lainnya. Karena kegiatan outdoor membuat anak-anak bisa mendapatkan sinar matahari yang dibutuhkan oleh tubuh. Di akhir presentasi, Dr. Martine kembali menegaskan tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan bagi anak.


Pertumbuhan dan Permasalahan Gizi di Indonesia



"Anak-anak sekarang tinggi-tinggi soalnya gizinya udah beda gak kayak zaman kita dulu."

Pernahkah kita mendengar kalimat di atas? Atau jangan-jangan, kita juga termasuk yang pernah mengucapkannya?

Yup! Pertumbuhan tinggi badan rata-rata masyarakat Indonesia pun kelihatannya membaik. Saat ini, menurut Prof Hardiansyah tinggi rata-rata anak muda Indonesia adalah 163cm. Masih jauh dibandingkan masyarakat Belanda yang tinggi badan rata-ratanya adalah 184cm. Kalau Belanda mempunya dokumentasi pertumbuhan masyarakatnya sejak tahun 1858. Sayangnya, di negara kita, pencatatannya masih belum seperti Belanda. Yang jelas, tinggi rata-rata 163cm bagi masyarakat Indonesia saat ini sama dengan tinggi masyarakat rata-rata masyarakat Belanda sekitar 1,5 abad yang lalu.

Grafik perekonomian Indonesia fluktuatif, tapi trennya dari tahun ke tahun adalah memiliki kecenderungan naik. Walopun demikian, sukses di bidang ekonomi ternyata gak berbanding lurus dengan sukses di dalam perbaikan gizi. Masyarakat Indonesia banyak mengalami defisiensi gizi seperti asam amin dan asam lemak esensial, karbohidrat berserat, zat besi, kalsium, zink, asam folat, dan vitamin D.

Banyak yang belum atau kurang paham tentang pentingnya asupan gizi membuat perbaikan gizi di Indonesia berjalan konstan. Sebagai contoh, masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang sekali mengkonsumsi sayur dan buah. Sebetulnya, banyak masyarakat kita yang menyukai sayur. Tapi, umumnya sayur diolah dengan kuah yang banyak. Sayangnya, kuahnya tidak ikut dikonsumsi malah dibuang. Padahal kalau kuah dibuang, berarti banyak asam folat yang terbuang. Oleh karenanya perlu sekali membiasakan mengkonsumsi buah untuk menggantikan asam folat yang terbuang dari kuah sayur.

Asupan cairan yang cukup juga dibutuhkan. Untuk asupan cairan, tidak hanya harus dari air putih. Dari susu, kuah sayur, dna lainnya juga bisa memenuhi asupan cairan. Dr. Martine juga menambahkan kalau asupan cairan yang harus dikurangi adalah yang manis-manis seperti minuman bersoda.

Prof Hardiansyah juga menjelaskan tentang pentingnya asupan vitamin D. Menurutnya, apabila kita berjemur di pantai selama seminggu penuh, maka asupan vitamin D yang ada di dalam tubuh cukup untuk 4 bulan ke depan. Tapi, kecil kemungkinan kita bisa berjemur selama seminggu penuh. Oleh karenanya dengan terkena sinar matahari selama 15-20 menit selama 3-4 kali dalam seminggu itu sudah cukup. Untuk yang suka nge-gym di mall atau ruangan ber-AC lainnya, sesekali cobain juga berolahraga di alam terbuka. Agar tubuh tidak hanya bugar, tapi juga cukup mendapatkan asupan vitamin D.

Selama ini kita tahunya sinar matahari yang terbaik bagi tubuh adalah pukul 07.00 s/d 09.00. Ternyata, sinar matahari yang terbaik justru dimulai pukul 09.00 s/d 13.00. Hanya saja, karena pada jam tersebut, biasanya polusi pun sudah mulai banyak. Jadi, gak apa-apa untuk mendapatkan sinar matahari sebelum pukul 09.00.

Penanganan masalah gizi buruk memang seharusnya menjadi masalah bersama. Dalam keluarga, jangan hanya ibu yang peduli terhadap gizi dirinya sendiri dan juga anak. Para suami pun harus ikut berpartisipasi dalam hal gizi. Dari mulai merencanakan kehamilan, istri melahirkan, ibu menyusui, dan kebutuhan anak. Menjaga agar istri tidak stress selama hamil dan menyusui bisa dilakukan oleh suami sebagai salah satu langkah upaya memperbaiki gizi. Karena istri yang hatinya sennag juga bisa mempengaruhi pola makannya.

Dari dulu sudah ada yang namanya posyandu, tapi sebaiknya di zaman sekarang ini juga didukung oleh pihak lain. Terlebih, komunitas perempuan saat ini semakin menjamur. Ada baiknya saling bahu-membahu dengan berbagai cara.

Dr. Martine Alles menambahkan kalau di Belanda sosialisasi tentang gizi sudah masuk ke ranah sosial media. Tujuannya untuk 'merangkul' para orang tua muda generasi digital agar melek gizi.


Pemenuhan Gizi Tidak Hanya Bersumber Dari Satu Jenis Makanan



Pada sesi tanya jawab, ada salah seorang yang bertanya tentang seberapa besar kemungkinan konsumsi susu di Indonesia bisa tinggi seperti di Eropa. Menurut Dr. Martine Alles, untuk menyamakan seperti di Eropa kemungkinannya sangat sulit karena budaya minum susu juga bukan budaya Indonesia. Selain itu, kebiasaan mengkonsumsi susu di Eropa tinggi juga karena masyarakat mengkonsumsinya tidak cuma dengan cara diminum. Banyak makanan eropa yang menggunakan susu atau produk dari susu, seperti keju, yoghurt, dan lainnya.

Pemenuhan gizi memang bisa dari banyak sumber. Vegetarian tentu konsumsinya tidak sama dengan yang non-vegetarian. Tapi, bukan berarti salah satunya akan kekurangan gizi. Karena sumber gizi bisa didapat dari banyak sumber.

Prof Hardiansyah juga menambahkan kalau pada tahun 80-an, pernah ada sebuah penelitian dimana anak yang pertumbuhannya normal dan anak yang pertumbuhannya termasuk pendek diberi konsumsi susu dengan jumlah yang sama. Hasilnya, anak yang pertumbuhannya normal cenderung lebih cerdas.

Tapi, saat ini hasil penelitian tersebut tidak digunakan lagi. Hasil penelitian yang terbaru adalah anak dengan gizi baik ditambah stimulai yang tepat akan meningkatkan kecerdasannya. Dibandingkan dengan anak yang dibiarkan tumbuh kembang begitu saja. Atau anak yang hanya sekedar makan untuk kenyang tanpa diperhatikan asupan gizinya.


Lingkaran Setan Malnutrisi


Gizi memang sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan. Bahkan gizi bisa dijadikan sebagai cerminan dari suatu bangsa. Lihat video di bawah ini, yuk!


Dari video tersebut diperlihatkan kalau malnutrisi masih merupakan permasalahan bagi bangsa Indonesia. Malnutrisi bagaikan lingkaran setan apabila pemahaman tentang gizi tidak segera ditingkatkan. Lingkaran setan yang tidak terputus, pada akhirnya akan membuat masalah bangsa semakin besar. Karena gizi yang dikonsumsi ibu dan anak saat ini, berkaitan erat dengan masa depan generasi berikutnya. Kasus gizi serta langkah-langkah perbaikan yang sudah dilakukan oleh negara Eropa bisa dijadikan pelajaran oleh bangsa Indonesia.

Ayo Melek Gizi! *Izinkan saya menggunakan tagline Nutrisi untuk Bangsa, supaya kita semua semakin semangat untuk terus mengupdate info dan peduli dengan gizi*

Continue Reading
24 comments
Share:

Saturday, March 21, 2015

Biaya Keperluan Sekolah yang Tak Terduga

Ketika mencari TK dan SD untuk Keke dan Nai, salah satu pertimbangan adalah biaya. Sudah pasti, lah, itu. Karena harus mencari sekolah yang sesuai dengan kemampuan finansial. Tapi, gak cuma itu aja kalau menyangkut pertimbangan biaya. Selain pertimbangan kemampuan finansial, kami menghindari sekolah yang banyak biaya ini-itu saat kegiatan belajar berlangsung. Misalnya, dapet surat dari sekolah untuk biaya outbound, trus berikutnya dapet surat lagi untuk biaya ini-itu. Kalau nyicil-nyicil, kami gak sreg. Karena kadang suka ada aja biaya yang gak terduga.

Beruntung kami mendapatkan sekolah yang pembiayaannya seperti yang kami mau. Cuma setahun sekali, bayar sejumlah uang dengan beberapa perincian yang sudah tertera di surat edaran. Setelahnya, kami hanya mengeluarkan biaya SPP tiap bulan saja. Buat kami, ini cara yang gak pake ribet.

Ternyata bukan berarti kami sepenuhnya bebas dari biaya sekolah tak terduga. Cuma, penyebabnya bukanlah sekolah. Karena kalau pembiayaan dari sekolah udah jelas. Yang gak terduga itu biasanya karena kecerobohan Keke atau Nai.

Udah gak terhitung berapa kali Keke kehilangan peci. Kadang, peci yang hilang bisa ketemu lagi. Tapi, kadang bener-bener hilang. Bahkan, baru-baru ini dia kehilangan peci yang baru dibeli. Cuma dalam hitungan hari udah hilang. Duh!

Kalau pensil sama penghapus udah jarang hilang. Karena Keke dan Nai udah gak pake pensil dan penghapus, kecuali buat menggambar. Mereka udah pake pulpen. Dan, sering hilang juga hihihi. Karena lumayan sering ganti pulpen, biasanya Chi beli pulpen dalam jumlah banyak. Yang sekotak isinya selusin.

Beli pulpen dalam jumlah besar sekaligus, suka lebih murah harganya. Tapi, kasih ke Keke dan Nai gak sekaligus banyak. Mereka cukup bawa 2 pulpen aja setiap harinya. Syukur-syukur awet. Kalau hilang, baru diganti.


Pulpennya biasa, tulisan di pulpennya yang bikin gaya hahaha. Pulpen gratisan seperti ini suka Chi kumpulin buat jaga-jaga kalau Keke dan Nai kehilangan pulpen dan cadangan pulpen di rumah lagi habis


Selain beli pulpen dalam jumlah banyak, Chi juga suka ngumpulin pulpen yang didapat dari acara. Misalnya kalau brand mengundang blogger ke suatu acara, biasanya suka dikasih note sama pulpen. Nah, lumayan banget pulpennya bisa buat dipake sama Keke dan Nai. Buat gantiin kalau puplen mereka hilang hehehe.


Peci, pulpen, penghapus, pensil, tip-x, penggaris, dan lainnya kelihatannya benda kecil, ya. Tapi, gak bisa dianggap sepele juga kalau sampe hilang. Kalau sampe Keke gak pake peci, dia akan mendapatkan hukuman berupa tambahan berdzikir setelah sholat berjamaah. Kalau sampe gak bawa atau hilang pulpen, mereka akan kerepotan kalau harus menulis. Apalagi kalau ada ulangan. Masa' mau pinjem temen terus.

Tentu aja, Chi dan K'Aie selalu mengingatkan mereka untuk lebih hati-hati menjaga barang pribadi. Semua barang pribadi sering dikasih label. Tapi, tetep aja mau dikasih label atau enggak, kalau memang udah hilang ya hilang ajah. Sanksi pun sesekali diberlakukan, misalnya memotong uang jajan untuk menggantikan barang yang dihilangkan. Keke dan Nai biasanya gak protes kalau uang jajan mereka dihentikan sementara kalau kejadiannya seperti itu. Mereka udah tau kalau itu salah, harus bertanggung jawab.

Tapi, tergantung kesalahannya juga. Gak setiap hilang kami kasih sanksi. Dengarkan dulu pembelaan mereka. Dan, pertimbangkan juga seberapa sering mereka menghilangkan. Biar gimana, mereka kan masih anak-anak. Memang bukan suatu pembenaran. Tapi, kalau kita mengaca ke diri sendiri, Chi aja kadang masih suka lupa dimana menyimpan pulpen bekas pake. Kadang, Chi masih memaklumi diri sendiri kalau lagi lupa. Masa' ke anak-anak gak bisa kayak gitu?

Kembali lagi ke bahasan tentang biaya, menurut Chi ketika anak-anak sudah mulai sekolah memang penting banget untuk menyiapkan biaya keperluan sekolah yang tak terduga seperti ini. Bayangin aja, kalau sebulan kehilangan 1 peci aja udah lumayan harganya. Apalagi ditambah kehilangan pulpen, penghapus, dan lainnya. Nai malah pernah kehilangan lunch bag. Dan, Keke sekarang kehilangan botol minumnya.  Lumayan pake banget itu harganya hehehe.

Biaya ini Chi sebut biaya keperluan tak terduga karena memang gak pasti berapa nominal yang harus dikeluarkan setiap bulan. Kayak semester ganjil lalu, Keke lumayan tertib, nyaris gak pernah kehilangan peci dan pulpen. Nai sesekali masih suka kehilangan pulpen. Semester genap ini, Keke rada sering kehilangan peci. Buku pelajaran pun ada yang hilang. Dan, yang terbaru adalah kehilangan botol minum yang udah dia pake sejak TK. Nai kali ini jarang kehilangan.

Nah, yang lagi siap-siap cari sekolah, biaya keperluan sekolah tak terduga begini sebaiknya diperhitungkan. Diambil rata-rata aja, kira-kira berapa dana yang dipersiapkan setiap bulan. :)

Continue Reading
54 comments
Share:

Wednesday, March 18, 2015

Peran Gizi Bagi Perkembangan Otak Anak di Masa Depan. Wyeth Nutrition - Celebrating 100 Years of Nourishing Pioneers and Beyond

Hmmm... kayaknya kalau yang ini udah mulai kelebihan gizi :D


Kamis, 12 Februari 2015, Chi menghadiri undangan media dan blogger gathering dari Wyeth Nutrition. Acara yang berlangsung di Balroom 1, Ritz Carlton Hotel - Mega Kuningan, merayakan hari jadi Wyeth Nutrition yang ke-100 tahun.

Hari jadi ini diisi dengan acara bincang-bingan yang bertema "Seberapa penting peran gizi bagi pertumbuhan otak anak? Dan, apa peran Wyeth Nutrition dalam hal pertumbuhan otak anak, khususnya bagi anak Indonesia?" Bincang-bincang ini menghadirkan 4 narasumber, yaitu DR. Dr. R.A Setyo Handryastuti, SpA(K), Ketua UKK Neurologi IDAI , Dr. Endang D. Lestari SpA(K), MPH, Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Alejandro Septien E, Vice President Director PT. Wyeth Nutrition Indonesia, Dr. Djaja Nataatmadja, Senior Medical Manager PT. Wyeth Nutrition

Continue Reading
29 comments
Share:

Monday, March 16, 2015

Jumpalitan dan Tips Menghadapi Anak Puber


Jumpalitan dan Tips Menghadapi Anak Puber. Akhir-akhir ini Chi rasanya jumpalitan menghadapi Keke yang sedang puber. Anak yang sedang puber memang mood swing banget. Emosinya bisa dalam sekejap berubah. Tetapi, bukan berarti dibiarkan begitu saja dan berpikir kalau nanti juga akan stabil dengan sendirinya. Beberapa sumber mengatakan kalau anak yang sedang puber dan tidak tertangani dengan baik bisa membuat si anak depresi, lho. Sampe segitunya, kah? Yup! Mungkin aja.

Bunda: "Ke, masih inget, gak, dulu pas ada lagu ini Keke joget-joget trus dividioin dan diupload ke YouTube?"
Keke: "IYA!"

Obrolan di atas adalah kejadian sekitar 2 bulan lalu. Saat itu kami lagi jalan-jalan dan di salah satu radio mengalun lagu lama yang iramanya energik. Chi bener-bener kaget ketika Keke jawabnya pake ngebentak. Padahal saat itu kami lagi senang-senang aja. Kok, tiba-tiba Keke ngebentak.

Spontan Chi pun balik memarahi. K'Aie lebih sabar dari Chi. Dia menasehati Keke. Tetapi, boro-boro meminta maaf, Keke lebih memilih merebahkan kursi depan dan tiduran. Sikapnya yang seperti itu bikin Chi makin jengkel. Herannya gak lama kemudian Keke kembali ceria seolah-seolah gak terjadi apa-apa. Chi cuma diam melihat sikap Keke. Antara masih kesal karena dibentak dan bingung melihat moodnya yang bisa berubah dengan cepat.

Selain moodnya Keke yang mudah berubah, akhir-akhir ini suka mengungkapkan rasa iri terhadap adiknya. Belum lagi Chi mulai sering dapat laporan dari wali kelas tentang sikapnya ini. Dia mulai melakukan beberapa ulah yang bikin wali kelas harus melapor ke Chi. Nilai pelajarannya pun mulai menurun. Errrgghh! Ngeselin banget gak, sih? Kadang-kadang Chi suka terpancing emosi dan mulai sering memarahi Keke.

Melihat perubahan Keke akhir-akhir ini yang bikin jumpalitan, Chi pun mencari info. Beberapa cara Chi lakukan. Chi berpikir mungkin gaya komunikasi terhadap Keke yang harus diubah. Chi coba ajak dia bicara 4 mata. Coba tebak-tebak perasaannya. Coba berbicara lebih luwes lagi, seolah-olah dia sedang berbicara dengan teman.

Dari beberapa artikel yang Chi baca, anak yang sedang puber ternyata anak yang sedang mengalami fase bingung. Dia sedang mempertanyakan jati diri karena beberapa perubahan terhadap tubuh maupun perasaannya. Di satu sisi, dia merasa jiwanya masih jadi anak-anak. Di sisi lain, dia melihat tubuhnya sudah mulai berubah jadi lebih dewasa.

Keke: "Bun, banyak teman yang bilang, kalau suara Keke udah berubah. Udah gak kayak anak-anak lagi. Memang iya, Bun?"
Bunda: "Ya, suara Keke memang kayaknya udah mulai pecah, sih."
Keke: "Pecah itu apa, Bun?"
Bunda: "Perpindahan dari suara anak-anak ke dewasa. Biasanya akan pecah dulu. Tapi, ini cuma anak laki-laki yang ngalamin. Kalau teman-teman Keke, udah ada yang pecah belum?"
Keke: "Belum, baru Keke. Tapi, Keke tetep masih anak-anak, kan, Bun? Iya, kan, Bun?"
Bunda: "Iya, Nak"

Suaranya yang mulai pecah menjadi salah satu kekhawatiran Keke. Dia gak pengen berbeda dari teman-temannya. Dia merasa aneh kalau jadi berbeda. Dengan puber lebih dulu, dia merasa berbeda dengan temannya. Hal seperti itu membuat perasannya gak nyaman.

Setelah curhat permasalahannya selesai, tetapi gak lama. Wali kelas mulai laporan lagi. Katanya, Keke berkata kurang pantas terhadap salah seorang temannya dan dilakukan beberapa kali. Tiap kali ditegur, dia hanya diam atau cengengesan. Awalnya wali kelas hanya menasehati Keke. Wali kelas tau kalau selama ini Keke gak pernah seperti itu. Tetapi, ketika Keke kembali melakukan hal sama beberapa kali, wali kelas mulai bingung dan akhirnya melaporkan ke Chi. Katanya kelakuan Keke jadi seperti segelintir anak yang memang dalam pengawasan guru karena attitude.

Chi kembali mengajak Keke bicara. Tapi, kali ini Chi gak bisa menutupi rasa kecewa. Keke tidak merasa bersalah sama sekali, malah membela diri kalau yang melakukan itu gak cuma dia. Lagipula dia hanya becanda, begitu alasannya. Walau gak lama kemudian Keke meminta maaf, tetapi dari ekspresi wajahnya terlihat kalau dia seperti gak nyaman ditegur bundanya.

Kekecewaan Chi bukan hanya karena Keke sempat merasa gak bersalah. Tetapi, Chi tau kalau selama ini Keke sudah cukup paham bagaimana bersikap. Sudah bisa membedakan benar dan salah. Dia tau mana candaan yang baik dan bukan. Tetapi, akhir-akhir ini dia seolah-olah seperti mengikuti arus. Sayangnya yang dia ikuti adalah arus yang kurang baik.

Setelah hati tenang, Chi mulai berpikir dan kembali mengajak dia berkomunikasi kembali. Ternyata dia melakukan itu karena ingin dianggap sama dengan temannya. Perasaannya yang kurang nyaman karena suaranya mulai pecah sehingga dia merasa berbeda, membuatnya melakukan beberapa hal yang kurang baik. Alasannya adalah karena anak yang berbuat kurang baik terlihat lebih menonjol. Keke pun ingin menonjol sekadar membuktikan kalau dia masih sama dengan teman-temannya.

Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat belom kelihatan ada masalah lagi. Pengennya jangan ada cerita yang bikin deg-degan lagi, lah. Tapi, memang harus terus dipantau dan semakin memperbaiki kualitas komunikasi. Dan belajar untuk lebih memahami perasaannya. Chi juga harus belajar lebih sabar dalam meghadapi hal ini.


Banyak yang bilang kalau anak yang sudah puber itu akan mulai menjauh dari orang tua dan dekat ke teman. Alasannya, karena si anak merasa orang tua gak mengerti dengan perasaannya. Sedangkan, orang tua merasa anaknya mendadak bandel. Dua pemikiran yang berbeda akan membuat saling ribut. Makanya, anak yang sedang puber akan sering berantem sama orang tua. Dan, anak yang sedang puber jadi lebih dekat ke teman karena teman merasa lebih mengerti dia. Padahal belum tentu yang disarankan oleh teman itu benar, ya. Kalau memang seperti itu, masuk akal juga kalau anak puber itu bisa mengalami depresi.

Di awal masa puber memang sering terjadi pertengkaran antara Chi dan Keke. Setelah tau kalau Keke sedang puber, Chi berusaha untuk lebih mengerti. Gak pengen juga Keke jadi jauh sama orang tua gara-gara dia merasa orang tua gak memahami dirinya.

Kalau udah begini, Chi kadang-kadang merasa lebih mudah mendidik mereka ketika masih kecil. Sehebohnya anak kecil, tetep aja gak mau jauh dari orang terdekatnya. Tapi, kali ini Chi suka merasa was-was. Khawatir salah memahami Keke kemudian dia akan menjauh dan lebih memilih mendekat kepada temannya.

Tapi, jangan salah sangka. Chi bukannya gak pengen Keke dekat dengan teman-temannya. Chi malah pengen punya anak itu supel. Cuma, kalau alasan dekat dengan temannya karena merasa orang tua gak mengerti perasaannya pastinya bakal bikin Chi sedih. Ada rasa khawatir juga, kalau terus didiamkan bisa berakibat salah pergaulan. Naudzubillah min dzalik. Semoga jangan sampai kejadian.


Tips menghadapi anak puber adalah dengan terus menjalin komunikasi dan lebih berusaha memahami perasaannya. Orang tua juga harus kompak bekerjasama dan saling support. Kalau perlu libatkan juga pihak lain.

Chi bersyukur K'Aie termasuk suami yang peduli dengan tumbuh kembang anak-anak sejak mereka dalam kandungan. Ketika Keke mulai puber, Chi minta K'Aie untuk lebih sering berkomunikasi lagi dengan Keke. Alasannya:

  1. Keke sudah mulai masuk masa remaja. Sebagai sesama laki-laki, rasanya akan lebih mudah memahami apa yang sedang dirasakan. Ayahnya kan juga pastinya pernah juga memasuki masa puber.
  2. Emosi yang labil semasa puber juga karena pengaruh hormon. Ada juga yang namanya puberty blues. Chi lebih bisa membayangkan kalau Nai yang mengalami puber. Membayangkan ketika dia uring-uringan saat PMS atau mengalami Baby Blues saat dia punya anak kelak. Mungkin karena Nai itu perempuan. Tapi, Chi gak begitu bisa membayangkan ketika laki-laki yang mengalami perubahan hormon. Pengen seperti apa dia diperlakukan? Makanya, Chi minta K'Aie yang lebih berperan menangani.
  3. Menurut ibu Elly Risman, di salah satu seminar parenting yang Chi ikuti, dalam sehari, laki-laki hanya punya 7.000 kata dalam otaknya. Sedangkan, perempuan itu 20.000 kata. Gak heran kalau perempuan memang pada cerewet. Tapi, cerewet terhadap laki-laki, malah gak akan 'ditangkap' karena kemampuan mereka memiliki kata-kata jauh lebih kecil daripada perempuan. Itulah, kenapa kalau laki-laki bicaranya to the point. Makanya, kami sepakat kalau urusan Keke, K'Aie lebih dominan lagi. 

Sebagai orang tua, gak mungkin Chi mengawasi 24 jam. Terus menjalin komunikasi yang baik dengan wali kelas juga merupakan salah satu cara supaya tetap bisa mengetahui keadaan anak-anak di sekolah. Apalagi kalau mmasa puber begini diharapkan bisa menemukan solusi yang sejalan apabila anak-anak mengalami masalah di sekolah. Dari hasil pembicaraan pun, para guru juga sudah memiliki pengalaman menghadapi anak-anak yang sednag puber.

Perasaan zaman dulu masuk masa puber biasa aja, ya? Atau memang Chi aja yang gak merasa karena dulu kan posisinya sebagai anak? Tapi, bisa jadi juga karena masalah dan tantangan zaman dulu dan sekarang itu berbeda. Zaman sekarang lebih banyak faktor yang mempengaruhi anak-anak. Kalau gak terus diperbaiki pola asuhnya, kemungkinan untuk terpengaruh hal-hal gak benar itu lebih terbuka.

Keke yang lagi puber, berimbas juga ke Nai. Dia pun sempat ikutan sedih dan nangis sesenggukan karena masa puber Keke ini. Kapan-kapan Chi ceritain, ya :) Sejak kapan Keke mulai puber? Baca tulisan Chi sebelumnya di "Keke Mulai Puber? Yuk! Kenali Tanda-Tanda Pubertas pada Anak Laki-Laki"

Continue Reading
32 comments
Share:

Saturday, March 14, 2015

4 Tips Membedong Bayi

Bolehkan membedong bayi? Kalau dulu, semua kayaknya bakalan kompak bilang boleh bahkan harus. Tapi, di zaman digital gini, bisa menimbulkan pro-kontra. Pro-kontra dengan alasan kuno vs modern, dan lain sebagainya.

Jangankan zaman sekarang, waktu Keke lahir pun pro-kontra itu udah ada. Papah Chi beberapa kali protes kalau melihat Keke gak dibedong. Menurut papah, bedong bisa membuat kaki bayi menjadi lurus. Takut menjadi anak yang gak gagah, katanya. Ya, mungkin karena Keke, kan, cucu pertama. Udah gitu laki-laki pula. Bangga kali kalau cucunya kelak terlihat gagah. Jadi, khawatir kalau gak dibedong akan berakibat kepada kaki Keke.

Waktu itu, Chi diam aja tapi ngeyel :p Ya, abis gimana lagi, di satu sisi orang tua sudah lebih banyak makan asam garam. Ada pikiran, siapa tau memang benar yang dikatakan papah. Tapi, di sisi lain, Chi juga gak yakin hubungan antara bedong dan kaki bengkok. Sayangnya, saat itu Chi belom akrab sama dunia internet/ Jadi, belom bisa cari perbandingan yang banyak.

Yang bikin Chi ragu mungkin karena kalau di rumah sakit, bayi dibedong itu hanya saat diantar dari ruang bayi ke kamar ibunya. Setelah si bayi ketemu ibu, bedong dibuka seluruhnya oleh suster. Tubuh ibu saat menyusui sepertinya akan sekaligus menghangatkan tubuh bayi. Sehingga, bayi tidak merasa kedinginan walopun bedong dibuka. Nah, dari situ Chi pikir kalau bedong memang perlu, tapi bukan untuk dipakai terus-menerus.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Chi semakin meyakini kalau fungsi utama bedong bukanlah untuk meluruskan kaki bayi yang bengkok. Umumnya kaki bayi yang baru lahir memang bengkok. Mungkin karena selama dalam kandungan, posisi kaki bayi, kan, menekuk. Nanti secara alami, kaki bayi akan lurus sendiri, kok. Bayi juga suka menggerakkan kaki dengan cara menendang-nendang. Katanya, itu bisa menstimulus kakinya. Kalaupun sampe usia anak-anak, kakinya tetap bengkok, bukan karena bedong. Tapi, ada masalah dalam tumbuh kembangnya. Silakan berkonsultasi dengan ahlinya. Dan, itu terbukti sama Keke dan Nai. Alhamdulillah, kedua kaki mereka lurus walopun jarang banget dibedong.

Trus, kapan saatnya anak dibedong? Chi punya 4 tip membedong bayi yang biasa dilakukan, yaitu


Sayangnya, Chi dulu belom rajin foto-foto. Jadi, bedong bayi Keke dan Nai gak ada fotonya. Tapi, salah satu model bedong bayi yang menurut Chi aman itu seperti foto di atas. Gak terlalu ketat. Tangan bayi pun bisa, mau dikeluarkan atau tidak

Bedong fungsinya untuk menghangatkan badan

Selama dalam kandungan, bayi selalu merasakan hangat. Ketika lahir, suhunya tidak sehangat di dalam tubuh ibu. Itulah kenapa katanya salah satu penyebab bayi menangis ketika lahir adalah karena adanya perbedaan suhu di dalam dan di luar perut ibu. Kayak kaget gitu berarti, ya. Disitulah fungsinya bedong. Paling gak untuk lebih menghangatkan.


Jangan terlalu kencang ketika membedong bayi

Bayi itu, kan, lagi masa pertumbuhan. Jadi, jangan kencang-kencang membedong bayi, lah. Tulang-tulangnya juga masih lunak. Jangan juga sampe bikin mereka susah bernapas. Dibungkus sekedar untuk menghangat saja. Bukan karena tujuan lain. Coba aja kalau kita dibungkus dengan sangat ketat. Rasanya pasti gak nyaman banget. Apalagi bayi.


Jangan pakai baju berlapis saat dibedong

Ini juga yang suka mengundang pro-kontra di keluarga hehe. Keke dan Nai itu sehari-harinya paling cuma pakai popok kain atau celana pendek, atasannya kaos berkancing tanpa kaos dalam. Nah, keluarga suka khawatir, takutnya Keke atau Nai masuk angin. Tapi, alhamdulillah mereka berdua baik-baik aja. Kami malah suka membayangkan kalau mereka bakal kegerahan pake baju dobel. Apalagi kami kan bukan tinggal di daerah pegungan atau di tempat dingin lainnya. Nah, kalau sehari-hari aja kami gak membiasakan pakaian berlapis, apalagi saat dibedong? Makin gerah, dooong.


Dibedong hanya saat bepergian ke rumah sakit

Iya, Keke dan Nai cuma dibedong kalau lagi ke rumah sakit aja. Biar mereka lebih hangat, lah. Lagipula, rumah sakit tempat dimana berbagai bibit penyakit berkumpul, rasanya membedong bisa membantu memproteksi anak-anak. Tapi, jangan tanya asalan ilmiahnya. Karena ini murni feeling Chis ebagai seorang ibu hehehe. Kalau nge-mall, seringnya pake stroler waktu mereka masih bayi. Jadi, kasih selimut tipis aja. Kalau ke rumah sodara, malah nyaris gak pernah dibedong hihihi

Itu aja 4 tip membedong bayi dari Chi. Selain Chi dan K'Aie memang gak mau anak sering dibedong, Keke dan Nai juga gak suka dibedong. Apalagi kalau sampe tangannya juga ikut dibungkus ke dalam bedongan. Mereka bakal gelisah dan berusaha sampe akhirnya tangannya keluar dari bedongan. Kalau pake bedong yang longgar, mereka masih mau tenang.

Trus, bagaimana setelah mandi atau mau tidur dimana kamarnya ber-AC? Apa bayi gak akan kedinginan kalau gak dibedong? Menurut Chi, tubuh bayi akan terus menyesuaikan dengan suhu ruangan. Kalau memang mandi membuat tubuh bayi menjadi dingin, maka berikan pelukan setelah mandi. Dimulai dari saat bayi menggunakan handuk.

Saat tidur pun begitu. Waktu bayi, Keke dan Nai dipakein baju lengan panjang dan celana panjang yang berbahan kaos. Pakaian tidur seperti itu udah menghangat mereka. Kalau masih dirasa kurang, kasih selimut kain tipis.

Oiya, untuk pasangan yang baru memiliki anak, dan masih ragu atau takut menggendong bayi, berasa banget manfaat apabila bayi dibedong. Menggendong jadi berasa lebih mantap. Tapi, tetap saya sebaiknya jangan terlalu kencang ketika bayi dibedong, ya.

Itu pengalaman Chi ketika Keke dan Nai masih bayi. Zaman sekarang kelihatannya lebih enak karena informasi bertebaran. Kita bisa banyak membandingkan. Kalaupun ada pro-kontra, biarkan aja. Selama kita yakin yang dilakukan adalah untuk kebaikan anak-anak :)

Continue Reading
28 comments
Share:

Wednesday, March 11, 2015

Koleksi Diecast Keke Dipajang Lagi

Pagi ini, Chi kembali memajang koleksi diecast Keke. Keke belum tau kalau diecastnya kembali dipajang karena udah keburu berangkat ke sekolah. Chi berharap sepulang sekolah nanti, Keke akan senang melihat diecastnya kembali dan boleh dimainin lagi.

Keke memang beberapa bulan gak main diecast. Semua koleksi diecast yang tersisa Chi simpan di lemari. Awalnya, Keke gak menolak karena tau alasannya. Tapi, akhir-akhir ini dia terlihat kangen dengan diecastnya. Chi belum juga mengabulkan permintaannya. Selain masih ragu, Chi juga sempet lupa menyimpannya di lemari yang mana hehehe.

Sebetulnya, Keke gak punya salah apapun yang menyebabkan diecastnya terpaksa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Tapi, Keke seringkali terlihat sedih setiap kali diecastnya dimainin sama Fabian, sepupunya yang (sekarang) berusia 4,5 tahun.

Fabian kalau main itu (apapun mainannya) selalu ditendang, dilempar, dan dibanting. Udah gak tau, deh, berapa jumlah diecast Keke yang rusak karena diperlakukan kasar. Belum lagi yang hilang. Kalau udah gitu, Keke suka terlihat sedih. Mau marahin sepertinya merasa gak enak.

Chi sering kasih tau Fabian supaya apik kalau pinjem mainan Keke, tapi sampe sekarang mainnya memang masih sradak-sruduk. Diajarin juga gimana cara main yang apik. Peringatan Chi gak mempan. Sering, sih, Chi kasih tau ke mamah yang memang mengasuh Fabian sejak usia 6 bulan. Tapi, tetep aja sampe sekarang masih kurang apik kalau main.

Udah sempet dibeliin beberapa diecast untuk Fabian. Maksudnya, supaya gak usah pinjem punya Keke lagi kalau masih gak apik. Tapi, gak berhasil juga. Tetep aja pengen pinjem punya Keke, abis itu rusak atau hilang. Karena gak tega, melihat Keke suka sedih, Chi menyarankan untuk disimpan sementara. Dan, Keke mengizinkan. Lagipula kalau terus dipajang, dan cuma melarang Fabian untuk main diecast Keke, dia akan tantrum. Jadi, mending disimpan aja sementara. Lebih aman dan tenang.


Harusnya koleksi diecast Keke lebih banyak dari jumlah kotak yang ada di rak ini. Gimana gak banyak, kalau dia udah kumpulin dari batita.


Keke sudah mengkoleksi diecast sejak batita. Sebulan sekali kami jatah beli 1 diecast untuknya. Kalau diawal-awal, apapun diecastnya Keke suka. Tapi, lama kelamaan dia lebih suka diecast yang seperti minuatur mobil beneran. Diecast keluaran Tomica biasanya yang paling banyak sesuai sama selera Keke. Walopun dia juga koleksi brand lain, sih. Alasan lain kenapa lebih suka beli Tomica adalah ada miniatur kota dan jalannya Keke pernah beberapa kali beli. Dia pernah beli jalanan, pom bensin, dan lainnya. Nah, semuanya disimpen sekarang :D

Keke termasuk anak yang apik ketika bermain diecast. Paling cuma disusun berderet panjang dan dijalanin sedikit-sedikit. Katanya, lagi macet jalanannya hehehe. Nyaris gak pernah Chi lihat dia bikin cerita diecastnya lagi tabrakan. Jadi, kalau ada diecastnya yang sampe kelihatan agak rusak, kemungkinan dia gak sengaja ngejatohin. Pernah juga hilang, tapi jarang banget kejadiannya.

Selain apik, Keke juga hapal semua tipe diecastnya. Chi udah pusing kalau dia udah mulai merasa kehilangan salah satu diecast. Karena di mata Chi semua sama, mobil-mobilan hihihi. Tapi, kalau buat Keke, dia bisa hapal semua detil diecast yang dimiliki. Biasanya kalau udah gitu, Chi serahin sama K'Aie. Karena selain cuma Keke dan ayahnya yang hapal diecast yang dimiliki :D

Chi juga gak bermaksud lebih mementingkan permainan daripada persaudaraan. Tapi, menurut Chi, anak juga harus diajarkan menghargai barang yang dimilikinya. Dibelinya kan pakai uang. Untuk punya uang harus usaha.

Keke udah menghargai mainannya. Tapi, karena kasusnya seperti ini, Chi juga harus melindungi perasaan Keke. Makanya, Chi tawarkan untuk disimpan sementara. Sekarang, Chi coba pajang lagi. Mudah-mudahan Keke seneng. Mudah-mudahan gak diacak-acak Fabian lagi. Lagipula, Chi seneng kalau Keke udah mulai main diecast. Mengurangi keakrabannya dengan gadget :D

Continue Reading
42 comments
Share:

Monday, March 9, 2015

Keke Mulai Puber? Yuk! Kenali Tanda-Tanda Pubertas pada Anak Laki-Laki

Waktu cepat berlalu. Rasanya, belum lama Keke masih bergigi roges. Sekarang, malah udah puber. :)


Kenali tanda-tanda puber pada anak laki-laki. Keke mulai puber? Ahh... tidak!

Beberapa waktu terakhir ini, Chi dan K'Aie seperti mencoba menyangkal kenyataan kalau kemungkinan Keke mulai puber. Mendengar kata puber, terkesan untuk remaja. Sementara buat kami, Keke masih anak-anak. Masih jauh dari kata puber.

Sebetulnya, tanda-tanda adanya perubahan dalam diri Keke mulai terlihat sejak liburan tengah semester lalu. Tapi, kami belum terpikir ke arah sana. Padahal beberapa orang mulai merasa kalau suara Keke sudah mulai pecah. Kami tetap aja berpikir kalau suaranya yang pecah itu karena sedang batuk, bukan karena puber.

Kemudian, beberapa minggu lalu, wali kelas nge-whatssap Chi. Katanya, ada yang mau dibicarain tentang perubahan yang terjadi sama Keke akhir-akhir ini. Menurut wali kelasnya, sikap Keke agak berubah. Menjadi sedikit pendiam dari biasanya. Nilai-nilai pelajarannya pun agak menurun. Wali kelas menduga kemungkinan Keke mulai memasuki masa puber.

Chi bilang kalau kemungkinan itu ada. Tapi, Chi juga bilang kalau mungkin aja Keke lagi sakit. Udah lumayan lama Keke terkena batuk yang membuatnya kurang beristirahat. Bisa jadi sikapnya yang menjadi sedikit pendiam, agak uring-uringan, nilai pelajarannya menurun, dan lain sebagainya karena kurang beristirahat gara-gara sakit.

Walopun begitu, Chi juga udah mulai gak bisa menampik kalau memang ada kemungkinan Keke masuk masa puber. Apalagi yang bicara adalah wali kelas. Tentunya, sebagai guru sudah punya pengalaman bagaimana mengetahui tanda-tanda anak puber.

Chi pun mulai mencari tau banyak informasi mengenai masa puber khususnya bagi anak laki-laki. Dan, beberapa tanda memang sudah ada pada Keke. Berikut tanda-tandanya ...


Usia normal pubertas pada anak laki-laki adalah 10-14 tahun

Mendekati usia yang ke-11 tahun, tanda-tanda pubertas mulai terlihat pada Keke. Berarti masih masuk rentang normal. Menurut beberapa info, kalau terjadi pubertas dini atau terlambat pubertas, perlu dikonsultasikan ke dokter untuk mencari tau penyebabnya. Alhamdulillah, Keke masih masuk batas normal.

1 minggu lalu pun Chi datang ke acara parenting. Setelah selesai acara, menyempatkan diri untuk ngobrol dengan narsum yang berprofesi sebagai psikolog. Yup! Memang benar kalau usia tersebut sudah masuk masa puber.


Muncul jerawat

Beberapa jerawat kecil mulai tumbuh di wajah Keke. Awalnya, ayahnya mengira Keke kurang menjaga kebersihan. Keke selalu menyangkal. Menurutnya, dia masih seperti biasa menjaga kebersihan wajah dan badannya. Perubahan hormonlah yang menjadi penyebab timbulnya jerawat.


Perubahan bentuk tubuh

Bunda: "Ke, perasaan dulu Randy (bukan nama sebenarnya) lebih tinggi dari kamu? Kok, sekarang Keke sedikit lebih tinggi dari dia kelihatannya."

Keke cuma nyengir sambil mengangkat bahu.

Ternyata, ketika masa puber, pertumbuhan anak berlangsung dengan pesat. Jadi, jangan heran kalau bajunya cepat pendek, sepatunya cepat sempit, dan lain-lain. Perut buncit khas anak-anak pun mulai menghilang. Badan menjadi lebih ramping, dada mulai membidang.

Itu yang terjadi pada Keke sekarang. Banyak juga yang bilang kalau Keke sekarang terlihat kurus. Pertumbuhan badannya pun lumayan melesat cepat. Tinggi badannya sedikit lagi sama 'ma Chi. Dia mulai sering bilang kalau baju-bajunya mulai kependekan, sepatunya mulai sempit. Padahal, baru beberapa bulan lalu dia beli itu sepatu.


Bau tubuh

Udah mulai menghilang, bau tubuh khas anak-anak. Sedikit-sedikit bau tubuhnya menjadi bau tubuh orang dewasa. Kami selalu mewanti-wanti Keke untuk lebih menjaga kebersihan badan. Kalau perlu pakai roll on atau spray. Tapi, dia masih gak mau pakai roll on atau spray. Gak apa-apa juga, sih. Bau tubuhnya juga belum mengganggu.


Suara pecah

Suara Keke juga mulai pecah. Awalnya, kami berpikir kalau Keke lagi batuk. Tapi, kalau melihat tanda-tandanya sekarang, bisa jadi suaranya itu memang karena sudah puber.


Mulai tumbuh rambut di beberapa area tertentu

Proses ini bertahap sampai akhir masa puber. Chi perhatiin di kaki Keke sudah mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Kulit kaki anak-anak yang mulus sudah mulai menghilang.


Perubahan alat vital

Tidak hanya penampilan fisik yang nampak, alat vital anak sedang puber pun mulai mengalami perubahan


Mimpi basah

Menurut beberapa info, mimpi basah terjadi di akhir masa puber. Ada juga yang bilang, 2 tahun setelah memasuki masa puber. Karena baru memasuki masa puber, Keke belum mengalami yang namanya mimpi basah. Jadi, Chi belum bisa cerita banyak tentang hal ini.


Emosi yang mudah berubah

Perubahan hormon pada masa puber tidak hanya menyebabkan perubahan fisik tapi juga perubahan emosi. Kadang, anak yang sedang masuk masa puber, emosinya agak gak jelas. Tiba-tiba meledak, tiba-tiba tenang. Keke pun pernah begitu. Karena waktu itu Chi belum nyadar kalau Keke sudah masuk masa puber, Chi pernah terkaget-kaget bahkan balik menjadi marah melihat sikap Keke.

Setiap anak akan memasuki masa puber. Tapi, setiap momen yang dilewati rasanya selalu bikin Chi sedikit mellow. Melahirkan, menyapih, bisa sepeda roda dua, masuk SD, puber, dan lain-lain. Selalu ada rasa sedih dan terharu. Ada juga rasa, kenapa waktu begitu cepat. Rasanya masih pengen menganggap mereka itu bayi yang ditimang-timang. Ugh, sediihh *apa cuma Chi yang gampang sedih kayak gini, ya?*

Tapi, tetep aja harus dilewati dan dihadapi. Masa' harus disangkal? :) Persiapan memang penting. Postingan berikutnya, Chi akan coba menulis cara menghadapi anak puber. Walopun semua anak, akan mengalami masa puber bukan berarti sebagai orang tua bisa menganggap kalau semua proses tersebut bisa dijalani secara alami tanpa perlu pendampingan, lho. Bisa terjadi efek yang gak diinginkan kalau kita terlalu membiarkan. Kapan-kapan, Chi ceritain, ya :)

Continue Reading
68 comments
Share:

Thursday, March 5, 2015

Baju Seragam

Liburan bulan Desember lalu, kami sekeluarga udah kayak yang kena demam Doraemon karena gak cuma rela antre buat nonton Stand By Me tapi juga datang ke event “100 Doraemon Secret Gadget Expo.”Kami bahkan masih punya 4 tiket event Doraemon Expo lagi yang rencananya akan dipakai sehari setelah Keke ulang tahun. Nai malah dari jauh-jauh hari udah berencana memakai baju seragam buat dateng ke exponya.

Tapi, sebagus apapun rencana, Tuhan juga yang menentukan ...

Sekitar hampir 4 minggu lalu papah mertua terjatuh. Kepalanya terbentur dan dalam hitungan detik langsung gak bisa-apa. Sadar, tapi gak bisa melakukan apapun. Makan melalui selang, ngomong gak bisa, bergerak juga gak bisa. Serba gak bisa, bisanya cuma tiduran.

Dirawat di rumah sakit selama lebih dari 2 minggu. Alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan. Sudah pulang ke rumah sejak seminggu yang lalu. Walopun kalau dibandingkan dengan keadaan sebelum jatuh, masih jauh, lah. Kondisinya juga kadang ngedrop. Tapi, disyukuri saja setiap perkembangan yang baik.

Karena keadaan itu, setiap wiken kami sekeluarga 'ngungsi' ke rumah mertua. K'Aie setiap hari, sepulang dari kantor, menjenguk ke rumah sakit sekalian jemput mamah yang setiap hari nemenin papah. Akibatnya, pulangnya jadi lebih larut. Setelah papah pulang dari rumah sakit, malah pergi dulu ke rumah orang tua sebelum ngantor. Bahkan beberapa hari terakhir ini agak jarang ngantor.

Rencana jalan-jalan di bulan-bulan ini ada yang dibatalkan, direncanakan ulang, atau malah jadi ada jalan-jalan gak terduga. Yang dibatalkan itu, salah satu rencana jalan-jalan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari untuk menginap di suatu tempat. Melihat kondisi seperti ini, kami memutuskan untuk dibatalkan dulu. Ke Doraemon Expo juga kelihatannya bakal batal kalau lihat kondisinya. *tinggal mikir, ini sisa tiket yang udah di tangan buat apa? hehehe* Yang sering itu jadinya wisata kuliner. Jenguk papah mertua di RSCM setiap wiken, membuat kami menyempatkan diri mencicipi beberapa kuliner di seputaran Cikini dan Megaria. Buat Chi, ini semacam nostalgia karena masa kecil Chi cukup akrab dengan daerah tersebut :)

Ya, sudahlah ... sekali lagi, yang menentukan memang Tuhan. Gak perlu disesali juga. Mendingan, sekarang cerita yang asik-asik aja. Tentang baju seragam...

Seorang teman pernah cerita ke Chi kalau dia dan suaminya kemanapun selalu seragaman. Mulai dari kaos hingga kemeja. Katanya, kalau suatu saat Chi ketemu dia dan suaminya lagi gak seragaman, itu artinya mereka berdua lagi ada masalah hubungannya. Hihihi ... gampang banget nandainnya, ya :D

Chi gak pernah kayak gitu sama K'Aie. Gimana mood masing-masing aja. Tapi, pernah beberapa kali, gak sengaja warnanya senada. Bahkan gak cuma berdua, senada sekeluarga juga pernah. Misalnya, sama-sama pake warna coklat, padahal gak janjian. Sekalinya berencana mau pake kaos doraemon barengan, malah kemungkinan gagal balik kesana lagi hehe.

Walopun sama K'Aie gak pernah seragaman, tapi kalau sama keluarga besar justru kami pernah beberapa kali usul seragaman. Seru juga ternyata. Di bawah ini beberapa momen dimana kami seragaman


Kaos ulang tahun


Foto Chi di coret, ya. Soalnya saat itu belum pake jilbab trus pake tangan ngutung hehehe


Maret 2008, ulang tahun Keke di Ciamis. Keluarga besar Chi dan K'Aie berkumpul. Untuk anak-anak, kami kasih kaos putih dengan foto masing-masing anak dan ada namanya. Kami gak pesan jadi. Tapi, kami beli kaos putih di ITC, design gambarnya berdua, diprint dan cetak ke kaos semuanya kami lakukan berdua hihihi.


Kaos Spongebob


Kalau lihat koleksi foto-fotonya, Nai sempat pake kaos Sponge Bob. Tapi, Chi lupa kenapa dilepas. Yang kaos coklat juga gambarnya Sponge Bob


Mei 2010, ulang tahun Nai yang ke-4 di Bandung. Rencananya, anak-anak pada pake kaos Sponge Bob. Waktu itu, anak-anak pada suka Sponge Bob. Jadi, gak sulit waktu diminta pakai kaos ini karena udah pada punya masing-masing.



Tema putih



Januari 2012, Tanakita, kumpul keluarga besar Chi. Kami janjian pakai atasan putih untuk dipakai pas pulang. Terserah mau kaos, kemeja, atau apapun. Yang penting putih. Keke dan Nai lagi ngambek di sini. Bahkan Keke gak mau difoto. Sebetulnya bukan ngambek, sih. Mereka sedih karena masih pengen ngumpul bareng keluarga besar. Gak mau berpisah.


Rainbow T-shirt


Deseber 2012. Tanakita, kumpul keluarga besar Chi. Yup! Selain lebaran, di 2012 kami juga 2 kali kumpul keluarga di Tanakita. Kalau yang awal tahun pakai baju dengan tema putih. Akhir tahun, kami pakai T-shirt tapi warnanya beda-beda. Kan, waktu itu lagi ngetren sama yang serba rainbow wkwkwk.

Itulah, foto-foto seragaman ala keluarga Chi. Seru juga sesekali seragaman untuk momen tertentu. Teman-teman pernah seragaman juga, gak? Atau memang selalu seragaman kalau sama keluarga? Barusan, K'Aie bilang kalau beberapa hari lagi orang tuanya akan merayakan ulang tahun pernikahan emas. K'Aie nanya ke Chi punya ide apa? Yang jelas, bukan jalan-jalan, lah. Kondisi gak memungkinkan. Seragaman lagi aja apa, ya?  :)

Continue Reading
28 comments
Share:

Sunday, March 1, 2015

Berhak Bahagia



"Yakin, mau resign? Emang mau ngapain? Awalnya aja yang enak. Bisa santai-santai, dasteran, gak mikir dandan, bisa nonton infotainment sampe puas. Tapi, lama-lama bosen juga kali. Mau ngobrol sama temen juga susah, karena rata-rata udah pada punya kegiatan."

Entah berapa banyak yang mengeluarkan nada serupa, ketika tau Chi memutuskan untuk resign beberapa bulan sebelum menikah. Rasanya, cuma K'Aie yang benar-benar mendukung tanpa banyak nanya ini-itu. Mungkin, karena K'Aie sudah tau seberapa kuat keinginan Chi untuk resign saat itu. K'Aie juga tau, alasan Chi memilih resign. Alasan yang sangat pribadi.

Sebetulnya, Chi cukup heran juga, kenapa waktu dipelakukan seperti itu lebih memilih diam. Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin karena saat itu Chi juga gak tau jawabannya. Iya, Chi suka nonton tv, tapi kayaknya gak sampe addict, deh. Ngeblog? Bahkan, saat itu, tidak ada internet di rumah. Cuma 1 aja yang Chi yakin jawabnya, yaitu gak akan pake daster karena memang gak suka dasteran sampe sekarang.

Hmmm... apa jadinya kalau kemudian mereka yang menyangsikan keputusan itu tau kalau Chi diam karena gak bisa jawab. Apalagi kalau sampe tau, untuk memasak pun Chi gak bisa. Dulu, boro-boro masak. Membedakan mana merica dan ketumbar aja, Chi kebingungan. Wah! Bisa-bisa mereka semakin gak yakin sama keputusan Chi. Dan, semakin merasa berhak jadi 'sutradara' dalam kehidupan Chi. Lagipula, sering kali Chi menemui banyak orang yang beranggapan status ibu rumah tangga itu diiringi dengan kata 'cuma' di depannya. Cuma ibu rumah tangga. Kalau udah tercipta persepsi seperti itu, ngapain juga Chi debat?

Waktu juga yang membuktikan ... Yup! Untung aja waktu itu Chi cuma diam atau paling senyum aja. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan segala persepsi yang mereka buat. Karena memang yang membuktikan hanyalah waktu. Alhamdulillah, kali ini, Chi bisa jawab kalau keputusan yang waktu diambil adalah keputusan tepat.

Di cerita lain ...

Chi pernah kaget waktu salah seorang teman menganggap Chi sudah memperlakukan suami seperti seorang asisten rumah tangga. Gara-gara Chi bercerita kalau Chi dan K'Aie itu melakukan pola asuh dan mengerjakan urusan rumah secara bersama bersama. Temen Chi beranggapan kalau seorang suami tugasnya mencari nafkah, sedangkan urusan pola asuh anak dan rumah adalah tugas istri. Apalagi, Chi juga 'cuma' seorang ibu rumah tangga, katanya.

Lagi-lagi, Chi lebih memilih diam. Kesel, sih. Tapi, Chi memilih menumpahkan segala kesal itu ke K'Aie. Kata K'aie, gak usah dipikirin. Lagian K'Aie juga gak merasa dianggap asisten rumah tangga sama istrinya. Kalaupun ada yang beranggapan seperti itu, ya bisa jadi karena rumah tangga yang dijalaninya mempunyai aturan lain yang berbeda dengan keluarga kami. Biarkan saja. Kita juga gak usah ikutan mengatur atau menilai-nilai.

Lega dan tenang mendengar jawaban K'Aie. Setelah tenang, Chi menuliskan pengalaman tersebut dan kirim ke media. Alhamdulillah untuk pertama kalinya tulisan Chi tayang di media. Jadi, untuk teman yang sudah menganggap Chi seperti itu, terima kasih, ya. Karena persepsimu, jadilah sebuah tulisan dan masuk media :).


We must no allow other's people limited perceptions to define us - Virgina Satir


Persepsi memang bisa mempengaruhi kita. Chi meyakini itu ... Kita bisa menjadi bahagia atau sedih hanya karena persepsi yang orang buat terhadap diri kita. Tapi, semuanya kembali ke diri kita lagi. Kalau kita merenung, apa kita mau menjadi seseorang berdasarkan persepsi yang orang lain buat?

Dalam sehari, berapa kali kita membuat persepsi terhadap orang lain? Sering banget, sering aja, kadang-kadang, jarang, atau gak pernah sama sekali? Chi ingat di buku terbaru Adjie Silarus, 'Sadar Penuh Hadir Utuh', pada bab Semua Berawal Dari Persepsi, ada cerita tentang seorang penyanyi papan atas makan ayam goreng fast food sepotong berdua dengan temannya.

Ketika kemudian ada seseorang yang memotret, mengupload di media sosial, dan memberi caption kurang lebih, "Ih, penyanyi seterkenal itu, kok, beli ayam goreng satu potong untuk berdua." Untung aja penyanyi papan atas tersebut hanya merasa heran. Apa salahnya seorang seleb makan sepotong ayam berdua? Kok, kesannya kayak buruk banget.

Tulisan Adjie Silarus tentang kejadian penyanyi papan atas di bukunya itu, menggelitik Chi. Kembali Chi merenung, sudah berapa sering, Chi melakukan persepsi seperti itu? Seberapa besar pengaruh persepsi yang telah kita lakukan terhadap orang lain? Karena tidak semua orang seperti penyanyi papan atas tersebut yang cuma bersikap heran. Di luar sana, masih banyak yang terpengaruh hidupnya karena persepsi yang kita buat. Persepsi seseorang memang bisa membuat kita tersenyum, tertawa, menangis, sakit hati, hingga merubah hidup seseorang.

Chi pernah menjalani hidup yang sangat tergantung dengan persepsi. Mau melangkah itu selalu ragu-ragu. Selalu ada bisikan, "Apa kata orang kalau Chi begini.. begitu?" Memang benar, sebagai manusia kita harus punya citra yang baik. Tapi, kalau apa yang kita lakukan selalu karena persepsi orang, lama-lama jadi merasa bukan diri kita sendiri. Sedih dan bahagia yang kita dapat akibat persepsi orang lain. Malah rasanya Chi lebih sering menangisnya.

Alhamdulillah, Chi udah mulai bisa lepas dari rasa seperti itu. Chi merasa berhak bahagia dengan segala pilihan yang dijalani, tanpa pengaruh berbagai persepsi. Berhak bahagia dengan menciptakan kebahagian sendiri. Bukan berarti Chi udah tutup kuping dengan segala persepsi orang. Kuping tetap terbuka, kok. Tapi, Chi coba memperbanyak sudut pandang aja. Kalau orang mempersepsikan diri kita baik, bersyukur saja. Kalau jelek, apalagi bukan seperti kejadian sebenarnya, maka berusaha cuek aja. Rasanya jadi lebih ringan kalau kayak begini. Lebih merasa jadi diri sendiri :)

Di zaman digital ini, sayangnya semakin banyak orang yang mudah membuat persepsi. Sebaiknya, kita mulai bijak terhadap persepsi ...



Continue Reading
44 comments
Share:

Tips Mencegah dan Mengobati Ruam Popok pada Bayi

Senyum seperti ini bisa hilang kalau anak-anak lagi terkena ruam popok


Salah satu masalah yang umumnya dialami oleh orang tua yang sedang mempunyai bayi adalah ruam popok atau diaper rash. Ruam popok adalah iritasi pada kulit bayi di area yang tertutup popok. Chi sering juga menyebutnya lecet. Penyebabnya itu biasanya karena urin dan pup bayi. Seperti iritasi lainnya, rasanya itu sangat tidak nyaman. Biasanya bikin bayi jadi rewel. Chi punya tip mencegah dan mengobati ruam popok pada bayi. Karena walopun jarang, Keke dan Nai pun pernah mengalaminya.


Agar Bayi Terhindar dari Ruam Popok


  1. Pilih popok kain yang berbahan lembut
  2. Harus rutin mengganti popok. Apalagi kalau udah pup, jangan ditunda-tunda. Langsung ganti saat itu juga.
  3. Jangan terlalu ketat memakai popok. Kulit juga butuh ruang untuk bernapas.
  4. Jaga area kulit yang ditutupi popok supaya tetap kering dan bersih - Sebelum bayi diberi popok, pastikan dulu kulitnya sudah bersih dari segala kotoran. Kulit juga harus dalam keadaan kering. Biasanya, Chi bersihin pake kapas yang udah disterilin. Setelah bersih, keringkan dengan handuk yang lembut.
  5. Hindari pemakain bedak - Masih jadi perdebatan, sih. Tapi, bagi yang kontra, katanya bedak itu bisa menggumpal di area tertentu. Dan gumpalannya itu yang mengakibatkan terjadinya ruam popok. Yang lebih berbahaya lagi kalau, bedaknya masuk ke lubang kemaluan bayi. Keke dan Nai termasuk yang gak pernah dikasih bedak di area popok.
  6. Pilih pospak yang tepat - Keke dan Nai paling gak cocok dengan pospak yang berbahan plastik. Pasti langsung kena ruam popok. Padahal Chi udah berusaha menjaga tetap bersih dan segera mengganti bilang pup atau pospak sudah mulai penuh karena urin. Tapi, tetap aja terkena ruam kalau pakai pospak yang berbahan plastik
  7. Pakai tissue basah yang non alkohol - Tissue basah yang beralkohol dianggap bisa membuat ruam pada kulit bayi. Chi, sih, lebih memilih menggunakan kapas yang udah disterilin kalau di rumah. Tapi, kalau lagi di luar rumah, membawa tissue basah itu lebih praktis. Biasanya Chi memilih yang non alkohol.

Mengobati ruam popok


Kalau ruam popok terlanjur terjadi, biasanya Chi kasih diaper rash cream. Oleskan tipis-tipis ke area yang terkena ruam. Biasanya, gak sampe 3 hari ruam hilang. Tapi, kalau sampe berhari-hari, berminggu-minggu, apalagi kalau sampe kelihatan semakin parah, sebaiknya periksakan ke dokter. Siapa tau ada penyebab lain dari yang Chi sebutin di atas. Cuma, selama ini belum pernah terjadi sama Keke dan Nai. Paling lama 3 hari, ruam sudah hilang.

Keke dan Nai memang jarang terkena ruam. Ketika bayi, Keke lebih sering pakai popok kain. Tapi, bukan popok kain modern yang katanya bisa menahan urin itu, lho. Dulu, Chi gak kenal sama popok kain seperti itu. Malah kayaknya belum ngetrend hehe. Jadi, masih pakai popok kain biasa yang sekali pipis aja langsung tembus. Tapi, keuntungannya adalah Keke jadi sering ganti popok. Kalau sering ganti popok, berarti kulit yang tertutup area popok sering dibersihkan.

Nai sedikit beda dari Keke. Kalau Keke pake pospak cuma saat bepergian aja, Nai pake pospaknya juga saat tidur malam. Mengurus 2 orang anak, harus Chi akui lebih melelahkan. Karenanya, Chi butuh tidur malam yang berkualitas (baca: nyenyak) hehehe. Makanya, dari lahir, Chi pakein Nai pospak ketika tidur supaya gak sering terbangun. Bangunnya cuma kalau mau menyusui aja.

Walopun Keke dan Nai jarang pake pospak, bukan berarti gak akan terhindar dari ruam popok. Buktinya, mereka sempat mengalaminya. Karena penyebab utamanya itu kan urine dan pup yang lama menempel di kulit bayi. Jadi, mau pake popok kain sekalipun, kalau kulit di area popok kurang bersih akan beresiko menimbulkan ruam popok juga. Terus jaga kebersihan kulit bayi, ya :)

Continue Reading
14 comments
Share: