Rabu, 23 April 2014

Memutuskan Pertemanan

Sebagai ibu, Chi tentunya pengen Keke dan Nai tuh jadi anak-anak yang supel, punya banyak teman. Tapi ketika ada beberapa hal kejadian yang rasanya gak mengenakkan, dengan berat hati Chi meminta mereka untuk menjauhi temannya.

Ini cerita Keke dengan temannya. Kita sebut aja namanya X. Butuh menunggu beberapa bulan buat Chi menulis ini. Nunggu emosi reda dulu dan melihat perkembangan selanjutnya. Postingan ini lumayan panjang, karena harus diceritakan dari awal :)

Kelas 2

Waktu Keke kelas 2, pas Chi jemput di kelas, wali kelasnya bilang kalau Keke tadi memukul temannya. Chi kaget banget karena setau Chi, Keke gak pernah begitu. Chi sering ngobrol dengan wali kelas Keke sejak dia TK sampe sekarang, dan menurut cerita para wali kelas juga Keke bukan anak yang suka memukul.

Menurut cerita wali kelas katanya bukan Keke yang mulai. Justru Keke lagi serius belajar tapi X terus aja mengganggu dan mengajak Keke ngobrol. Keke udah bilang kalau lagi gak pengen diganggu, tapi X gak menggubris.

Menurut wali kelas, X memang agak susah juga dikasih tau. Akhirnya, karena beberapa kali dikasih tau tapi X gak mau denger juga, pemukulan pun terjadi. X menangis tentunya. Keke mendapat nasihat dari gurunya, walopun bukan Keke yang memulai.

Chi masih penasaran, seperti apa sih sikap mengganggunya X sampe Keke segitu kesalnya trus melakukan pemukulan. Dan, rasa penasaran Chi terjawab waktu ambil rapor bayangan pas semester genap.

Karena Keke kena typus, Chi jadi ambil rapor bayangannya pas hari sekolah. Waktu itu jam pulang sekolah, di kelas masih ada beberapa anak yang belum dijemput. Chi dipersilakan masuk ke kelas sama wali kelas Keke. Anak-anak yang belum dijemput langsung mengerubungi Chi dan wali kelas.

Wali kelas meminta murid-muridnya untuk bermain lagi, yang boleh ikut nimbrung cuma Keke. Semua anak menurut tapi tidak dengan X. Dia tetap berdiri di sebelah Chi. Gak cuma berdiri, dia bahkan ikut ngobrol malah lama-lama mendominasi obrolan.

Dia bertanya nilai-nilai Keke dan segala macemnya tentang Keke. Pertanyaan yang seharusnya Chi ajukan ke wali kelas, semua diborong sama X! Wali kelas berkali-kali minta X menjauh dari kami dan berkali-kali pula minta maaf sama Chi atas kejadian itu. Tapi, X sepertinya (pura-pura) gak mendengar. Dia tetep aja di sebelah Chi dan bertanya ini-itu.

Yaaa... Pantes aja Keke jadi emosi banget waktu itu. Anaknya gak bisa dikasih tau. Keke lagi serius belajar, tapi diganggu terus sama X. Dan X gak bisa dibilangin.

Kelas 3

Pas kelas 3, Keke gak sekelas lagi sama X. Awalnya lega, Chi pikir gak bakal ada kejadian apa-apa lagi. Tapi, Chi sering melihat X menangis. Chi suka tanya ke Keke kenapa X menangis. Kadang Keke gak tau jawabannya, tapi kadang dia tau.

Menurut Keke, X memang gampang menangis. Dia seringkali minta diajak main, tapi kalau kalah dalam permainan, terjatuh, dan penyebab lainnya pasti dia nangis. Bahkan main dengan perempuan pun X sering menangis. Kalau udah nangis, X juga suka ngadu ke guru.

Keke cerita kalau dia males main sama temen yang gampang nangis, apalagi suka ngadu. Nanti bisa ditegur kalau sampe diaduin. Kalaupun gak ditegur, tetep aja bikin Keke kesel kalau lihat anak suka ngadu katanya. Setiap kali diajak main sama X, Keke selalu menghindar bikin banyak alasan. Tapi, ternyata diaduin juga karena gak mau ngajak main. Memang sih Keke gak ditegur sama guru, tapi Keke merasa kesel diaduin kayak gitu.

Suatu hari, Chi jemput Keke di sekolah. Trus X nyamperin Chi...

X    : "Tante, katanya Keke suka main game online, ya? Kok, dibolehin sih tante? Game online kan banyak cewek sexynya!"
Chi : "Ya kan Tante awasin. Jadi gak semua game online boleh Keke mainin."
X    : "Tapi game online itu banyak cewek sexynya. Tante tau kan cewek sexy itu apa?"
Chi : "Iya, tapi Keke gak main game online kayak gitu."
X    : "Iya tapi tante tau kan cewek sexy itu gimana pake bajunya? Yang kelihatan ininya..."

Daaaaannn.... X memegang (maaf) payudara Chi! Reflek Chi keplak dong tangannya. Emosi banget, tapi gak kepikiran buat marahin. Chi langsung lari menjauh dari X. :(

Kelas 4

Keke sekelas lagi dengan X. Chi udah khawatir bakal ada kejadian lagi. Setiap hari, Chi jadi lebih sering bertanya ke Keke. Keke masih suka ada cerita kesel dengan X yang katanya gampang menangis dan suka mengadu.

Kekhawatiran Chi pun terjadi. Keke mendorong X hingga terjatuh dan menangis. Chi pernah menulis di postingan yang berjudul berantem. Lagi-lagi, menurut wali kelas bukan Keke yang memulai. Saat itu, X terus berusaha mencium Keke, padahal Keke udah menolak. Akhirnya Keke pun emosi karena X gak bisa dikasih tau.

Chi cerita sama salah seorang orang tua murid yang anaknya seangkatan juga sama Keke. Cerita tentang rasa khawatir Chi yang beberapa kali berkasus dengan X, walopun Keke gak pernah memulai masalah. Chi juga selalu mewanti-wanti Keke untuk lebih berhati-hati dengan X.

Temen Chi yang tetanggaan sama X ini cerita kalau orang tua X seperti lepas tangan. Selama ini yang mengasuh dan selalu datang ke sekolah adalah tantenya. Bahkan katanya orang tua X sedang proses cerai.

Suatu sore, wali kelas Keke sms Chi. Minta Chi datang ke sekolah. Katanya Keke udah usil sama X sampai X terjatuh dan cedera. Ibunya baru aja protes dan akan membawa X ke rumah sakit katanya.

Histeris adalah reaksi pertama yang Chi lakukan. Chi langsung marah ke Keke, gak kasih dia kesempatan untuk membela diri. Chi telpon K'Aie, minta besok nemenin Chi ke sekolah. Chi khawatir emosi di sekolah, jadi butuh orang yang jauh lebih tenang seperti K'Aie.

K'Aie langsung menghubungi wali kelas meminta nomor telpon orang tua X. Setelah dapat, K'Aie langsung telpon tapi gak diangkat. Karena beberapa kali gak diangkat, K'Aie  akhirnya sms. Meminta maaf dan bersedia menanggung pengobatan X. Ibunya bilang gak apa-apa. Cuma begitu aja balasnya.

Setelah agak tenang, Chi tanya ke Keke kronologisnya. Kata Keke, dia sama sekali gak sengaja. Saat itu, dia lagi ngobrol sama beberapa temannya sambil tangannya maju-mundurin salah satu bangku. Tanpa dia sadari, X datang trus duduk di bangku itu. Yang terjadi kemudian, X jatuh. Karena pas dia mau duduk, ternyata bangkunya lagi dimundurin sama Keke. Menurut Keke, X gak langsung jatuh ke lantai, tapi punggungnya sempat kena pinggiran kursi dulu.

Keke yang gak sadar X datang, juga merasa kaget. X menangis dan mengadu ke guru. Keke pundapat teguran dari gurunya.

Setelah Chi pikir-pikir lagi, ada yang sedikit mengherankan dan janggal dari kejadian itu. Kejadiannya itu pagi hari, sekitar pukul 10. Menurut Keke, setelah ditegur trus kemudian dia minta maaf, Keke pun udah bermain lagi termasuk sama X. Siang harinya, Chi juga sempet ngobrol lewat sms sama wali kelas. Karena tadinya Chi gak bisa jemput dan minta Keke ikut salah seorang temannya. Dan wali kelas gak sedikitpun bercerita tentang kejadian di pagi hari itu. Nah, kenapa baru sore harinya ada laporan kalau X cedera? Chi sempet bingung dan merasa aneh.

Besok paginya, Chi dan K'Aie datang ke sekolah. X dipanggil sama wali kelas untuk mengadap kami. Kami berdua minta maaf sama X dan X senyum-senyum aja. Setelah itu X diminta kembali ke kelas.

Wali kelas bercerita kronologi kejadian. Persis seperti yang Keke ceritain. Itu artinya Keke memang gak berbohong. Wali kelas juga gak menyangka kalau kejadian itu ada buntutnya. Karena setelah kejadian itu, X udah terlihat bermain seperti biasa.

Tapi menurut ibunya, sepulang sekolah, X mengeluh punggungnya sakit. Pas diperiksa, punggungnya ternyata merah kayak cedera. Mungkin, ini yang diceritain Keke kalau punggung X memang sempat membentur kursi. Setelah mendapat cerita dari X, ibunya langsung menghubungi wali kelas dan cerita selanjutnay udah Chi ceritain di atas.

K'Aie sempet tanya, X dibawa ke rumah sakit mana? Menurut dokter bagaimana? Ternyata, X belum dibawa ke rumah sakit. Rencananya sepulang sekolah, X baru di bawa ke rumah sakit.

Obrolan kami gak sebatas tentang kejadian itu. Wali kelas juga cerita tentang sikap X yang akhir-akhir berubah jadi pendiam. Padahal biasanya ngoceh terus. Kemungkinan pemicunya adalah masalah di keuarganya menurut wali kelas. Chi pura-pura gak tau aja kalau Chi udah tau rencana perceraian orang tua X.

Trus, wali kelas juga cerita kalau ini bukan pertama kalinya orang tua dipanggil sekolah karena berurusan dengan X. X pernah berantem dengan Z, teman seangkatan Keke juga, di FB. Gak cuma sekali, tapi berkali-kali.

Chi juga tau kalau X dan Z ini sering bertengkar di FB. Heboh kalau mereka udah saling cela-celaan. Bahkan wali kelas suka ikut melerai. Kedua orang tua masing-masing ternyata merasa terganggu dan melapor ke wali kelas. Akhirnya semuanya dipanggil dan urusan diselesaikan di sekolah. Ternyata gak cuma Keke yang bemasalah dengan X.

Selesai menghadap wali kelas, Chi merasa masih ada yang janggal. Kenapa juga X gak langsung buru-buru di bawa ke rumah sakit kalau memang ibunya khawatir X akan mengalami cedera yang mengkhawatirkan? Cerita wali kelas kalau ada orang tua lain yang juga pernah menghadap wali kelas karena anaknya bermasalah dengan X. Ditambah cerita kalau keluarganya sedang bermasalah, Chi punya feeling kalau X ini sedang cari perhatian orang tuanya.

Emosi Chi kembali naik, ketika siang harinya jemput Keke di sekolah. Kebetulan hari itu adalah hari ekskul, dan Chi lihat X lagi ikut ekskul futsal. Bagaimana mungkin anak yang katanya cedera bisa diizinin futsal sama orang tuanya? Trus kalau cederanya jadi bertambah parah apalagi kalau sampe jatoh, Keke juga yang bakal disalahin? Padahal Keke gak ikut futsal :(

Bener-bener kesel Chi lihatnya. Itulah kenapa kadang Chi suka malas berurusan dengan orang tua murid. Suka ada beberapa orang tua yang bersikap berlebihan. Anak diperlakukan seperti porselen. Terluka sedikit, reaksinya berlebihan.

Langsung hari itu juga Chi minta Keke memutuskan pertemanan dengan X. Pokoknya gak boleh bermain dengan X lagi. Setiap pagi sebelum berangkat, Chi selalu mewanti-wanti. Pulang sekolah Chi selalu menginterogasi. Sebetulnya Chi gak tega kalau sampe harus meminta Keke memutuskan pertemanan, tapi beberapa kali kejadian dengan X (bahkan sejak kelas 2) bukan Keke yang selalu memulai.

Dan Chi berpendapat begitu bukan semata-mata Keke anak Chi. Tapi, wali kelas juga mengakui. Walopun bukan Keke yang memulai, tapi kalau terus kejadian kayaknya gak baik juga buat Keke. Makanya, Chi akhirnya terpaksa meminta Keke menjauh dari X.

Awalnya, Keke nurut. Tapi kemudian Keke beberapa kali bilang kalau dia suka serba salah menghadapi X. Kalau dia lagi sendirian trus diajak main sama X, Keke bisa bikin macem-macem alasan. Tapi, kalau Keke lagi main sama teman-temannya trus X kepengen bergabung, Keke merasa gak enak hati kalau harus ngajak teman-temannya untuk menolak bermain dengan Keke. Kalau Keke yang menghindar, nanti malah dia yang jadi gak bermain. Akhirnya, dia tetep bermain dengan X, tapi lebih hati-hati katanya.

Penjelasan Keke bisa dimengerti juga. Gak baik juga kalau Chi masih terus memaksanya memutuskan pertemanan. Chi akhirnya kasih kepercayaan ke Keke untuk megatur pertemanannya dengan X. Paling Chi sering ingetin ke Keke kalau beberapa kali kejadian berkasus dengan X itu gak enak. Kalau memang tidak memungkinkan untuk berteman lagi, ya putusin aja pertemanannya. Tapi, kalau Keke sanggup mengolahnya, silakan aja kalau Keke masih pengen berteman.

Setiap hari, Chi sellau bertanya ke anak-anak tentang kejadian selama sekolah. Tapi, untuk Keke ditambah dengan pertanyaan hubungan dia dengan X. Sampai saat ini pertemanan mereka aman. Bahkan sekarang jadi akrab. Iya, Keke sekarang cukup akrab dengan X. Kalau dulu setiap hari selalu manyun dan ngedumel kalau lihat X, sekarang bisa saling sapa kalau ketemuan.

Menurut Keke, awalnya dia selalu berusaha keras menghindar. Kalaupun harus bermain bareng, Keke menghindar dengan cara halus. Misalnya ketika bermain kucing-kucingan, kalau Keke pas gilran jaga, dia selalu mengejar temannya yang lain. Gak pernah mengejar X. Katanya daripada ngejar X trus pas ketangkep dia gak terima, nangis, dna ngadu ke guru, mending dia ngejar temannya yang lain. Tapi tetep keliatan bermain bersama. Hmmm... cerdik juga nih Keke hehehe.

Atau kalau Keke lagi sendirian dan gak punya alasan lain lagi untuk menghindar, Keke akan ngajak main yang 'aman'. Misalnya baca buku, ngobrol game, dan lainnya. Dari situ, ternyata mereka punya hobi sama katanya. Sama-sama suka baca buku, hobi main game, dan hobi makan hehehe *badannya sama-sama besar :p

Chi sih berharap jangan sampe ada kejadian-kejadian kayak gitu lagi. Yang udah terjadi, ya udah. Keke juga udah mulai berteman dengan X. Pelajaran banget buat semua, terutama buat Chi dan Keke.
  1. Walopun Keke gak memulai permasalahan, Keke tetep harus hati-hati berteman. Terutama sama orang-orang yang kelihatannya mau cari masalah.
  2. Chi bisa melihat kalau Keke udah bisa bersikap dengan baik ketika menghadapi masalah ini
  3. Pelajaran juga buat orang tua, khususnya Chi supaya jangan langsung emosian. Mendengarkan penjelasan anak aja gak cukup. Lihat kondisi, cek dan ricek kalau perlu. Karena siapa tau anak kita gak tepat menceritakannya, atau anak kita yang sedang cari perhatian, atau karena faktor lain.
  4. Walaupun sudah akrab, tetap harus kontrol pertemanan mereka. Sebetulnya mengontrol pertemanan anak kita gak perlu nunggu sampe ada masalah sih. Chi harus tau pertemanan Keke dan Nai. Tapi, kalau kemudian ada masalah harus lebih dikontrol lagi.
post signature

46 komentar:

  1. walah mak chi,,,keterlaluan banget tuh si X kalau udah seperti itu,,sampe memegang barang kita,,meskipun aku jadi mak chi udah aku tabok tuh anak,,,semoga keke dapat teman yg baik ya,,,biar selalu jadi anak yg baik buat papa dan mama :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya sempet emosi juga saat itu. Tp, reaksi saya langsung lari

      Hapus
  2. sama mak.. saya juga kadang suka malas jika berhubungan dgn ortu murid, bener kata chi, para ortu itu menganggap anak2nya kayak porselen, gak boleh kesentuh sedikitpun. Saya pun sering menghadapi para ortu murid yg berlebihan. suka kesel sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kadang suka ada yang berlebihan. Gak cek ricek dulu

      Hapus
  3. Mak, maaf, kalo ada cerita yang kelewat. Apa wali kelas udah coba bicara heart to heart dengan orangtua X? Aku kasihan lihat X. Namanya anak-anak, fitrahnya itu suci. Kalau dia aneh-aneh, mungkin ada masalah dengan keluarga. Salut buat Keke. Salamku untuknya, ya. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya gak tanya lebih lanjut untuk masalah itu, Mak. Pikiran saya saat itu, gimana caranya supaya Keke jangan terus kena masalah gara2 X. Kasihan dia.

      Tapi, kalau saya ambil kesimpulan sendiri seperti wlai kelas udah melakukannya. Saya berkesimpulan begitu karena wali kelas tahu permasalahan rumah tangga orang tua X. Dan orang tua X juga pernah dipanggi ketika X bermasalah dengan Z.

      Hapus
    2. Semakin kuat dugaanku, kayaknya memang something wrong antara X dan keluarganya. Aku ga membenarkan sikap X. Sedihnya kalo keluarganya tidak peduli, sikap X bakal berlanjut sampai dewasa.

      Hapus
    3. Ini drama kanak-kanak yang sangat menarik, hehehe..

      Kalau menurut saya sih ya, X adalah anak yang menderita gangguan kepribadian yang kekurangan kepercayaan diri. Mungkin dia kekurangan perhatian dari orang tuanya, sehingga dia mencari perhatian dari sumber lain (misalnya dari temannya, gurunya, bahkan orang tua temannya). Kebetulan Keke mungkin anak yang baik, jadi X senang mencari perhatian Keke. Tapi dia mencari perhatian dengan cara-cara yang menurut kebanyakan orang itu tidak wajar, sehingga buat kebanyakan orang X itu "rese".

      Wali kelasnya mestinya menaruh X sebagai murid dengan perhatian khusus. Menanganinya dengan bantuan profesional seperti psikolog anak, dan bahkan kemungkinan besar X ini butuh psikiater. Jika X tidak ditolong, ia akan terus mengganggu teman-temannya dan membuat (orang tua) teman-temannya jengkel.

      Tapi itu urusan sekolahnya ya.

      Bagi kita yang berada di posisi orang tua dari temannya X, kita mungkin perlu menjelaskannya baik-baik kepada Keke tentang masalah internal yang mungkin sedang dialami oleh X, sehingga Keke tidak perlu sampai membencinya berlebihan. Sudah betul tindakan Keke yang pura-pura main kucing-kucingan itu. Yang penting, X tidak sampai melakukan tindakan yang merugikan Keke. Yah, anggap saja seperti punya tetangga yang sakit jiwa.

      Hapus
    4. Mak Haya, sy juga berharap semoga X gak seperti itu lagi sp dewasa

      Hapus
    5. Mbak Vicky, saya juga sempet pengen nanya lebih jauh ttg X dan penanganannya dr pihak sekolah sebenarnya. Tp akhirnya saya memilih mending kasih tau ke Keke aja. Setidaknya jangan sampai Keke dirugikan lagi

      Hapus
  4. Keke kelas berapa mak? Duh kalau denger cerita kayak Gini tuh jadi peluk lagi anak2 takut ada yg kurang dari kita sebagai ortu. Sbenarnya kasihan X ya kalau dia emang benar kurang Kasih sayang di rumah ya. Pantes di luar cari perhatian terus. Itu yang pas X pegang dada..uh..no....:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keke kelas 4 SD. Iya, Mak saya juga banyak belajar dr kejadian ini

      Hapus
  5. Waduh kasian ya sama X, tp serba salah juga memang kalo orangnya seperti itu. Mungkin dia cari perhatian yg gabisa didapatnya di rumah ya teh chi

    BalasHapus
  6. Wadooooh Maak itu si X keterlaluan banget yaa..
    Tapi bagemanapun ga bisa nyalahin anak, balik lagi ke orang tuanya. jadi kasian sama si X tuh :( kurang perhatian dari ortunya

    Ya namanya pertemanan pasti hukum alam..kalo nyaman ya lanjoot, kalo ga ya putus deh ;)
    kita bisa belajar dari kasus ini ya Chi, makasih sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Teh. Saya juga gak terlalu nyalahin X, karena kasihan juga.

      Yup, buat saya selama udah aman, gak apa2 juga kalau Keke mau berteman lagi dengan X

      Hapus
  7. Kalimat yang mengena buatku, mommy Chi :

    "Pelajaran juga buat orang tua, khususnya Chi supaya jangan langsung emosian. Mendengarkan penjelasan anak aja gak cukup. Lihat kondisi, cek dan ricek kalau perlu. Karena siapa tau anak kita gak tepat menceritakannya, atau anak kita yang sedang cari perhatian, atau karena faktor lain."

    biar bagaimana perlu keterlibatan orangtua untuk cek & ricek!

    BalasHapus
  8. Setelah menerawang *tsah*, sepertinya si X ada apa2..mirip sama beberapa kasus anak didik SDku tahun lalu mak. Banyak hal yang harus ditelusuri,harusnya wali kelas kerja sama dgn guru BK *kalau ada,harus ada sebenarnya* untuk mencari tahu awal mula kejadian,kenapa si X seperti itu,sudah berapa kali si X berulah,dengan siapa aja dll. Ini perlu diselidiki soalnya, persis tingkahnya sama muridku itu,biasanya anak khusus *baca:usil,suka lari2 dikelas,suka cari gara2,dll atau orang2 menyebutnya dnegan anak na**l tp saya dr dulu menyebut mereka anak2 khusus*.
    Ini makananku tiap hari mak,kasus kasus kasus dan kasus..mulai TK-SMK xixixixi,tapi seru... :)

    salam buat keke ya mak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti Mak HM Zwan udah tau banget penanganannya, ya :)

      Hapus
  9. Duuuh mbak..aku jg jadi ikutan emosi deh...untunglah keke pinter yaa..jd bisa ngatur gimana caranya "berteman" lagi ama si X..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, alhamdulillah skrg udah gak ada mslh lagi. Smeoga gak kejadian lagi :)

      Hapus
  10. ah, jadi kasihan juga sama si X, mungkin benar dia terimbas masalah keluarganya... mudah2an saya pertemanan keke dg X berbuah kebaikan bagi keduanya...

    BalasHapus
  11. aduuuh bocah ya maak, ya gitu deh... mudah-mudahan Keke gak kena masalah lagi ya mak gegara X, dan orang tua X bisa segera menyelesaikan masalah mereka biar gak sampe mengganggu jiwa anaknya, hiks, kasihan bocah itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang mereka udah berteman, Mak. Ya, semoga akan tetap bisa berteman baik

      Hapus
  12. waaw, a kids with a troubles !
    kebawa emosi juga bacanya :))
    yang sabar ya mak Chi *puk-puk*

    BalasHapus
  13. aku pernah myr nyuruh pascal menjauh dari temannya waktu TK A bayangkan anak TK . soalnya pascal nyolek dia ngadu yang gak2 dan ibunya suka ikut campur padahal gurunya tau gak di apa2in

    BalasHapus
    Balasan
    1. suka ada aja anak yg seperti itu ya Lid. Betul, mendingan menjauh deh

      Hapus
  14. Waduh maak....speechless sampai gak bisa habis bacanya. prihatin banget ya mak. Dan pasti sebenernya dilema juga bagi kita sebagai ortu. Tapi memang di saat begini kita harus bersikap ya Mak. Nice sharing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, dan usahakan jangan pakai emosi :)

      Hapus
  15. Aku juga pernah nyuruh anak mutusin pertemanan, Mak. Ke anak yang gede. Soalnya, si temennya itu ngomongnya kasar dan aduuuh... masa baru kelas 5 omongannya mesum mulu. Takut kenapa-kenapa dengan si sulung, ya sudah, aku suruh gak usah deketin dan jangan mau dideketin dia lagi. TFS, Mak. Jadi keingetan lagi sekarang dengan temen-temen anak-anak. Takutnya kejadian dulu terulang lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau dampaknay gak bagus untuk anak kita mending dijauhin dulu deh

      Hapus
  16. Kok anak SD sudah pada punya FB sih, trus ortunya pada belain lagi. Kalau aku jadi wali kelasnya, aku perintahkan ortunya nutup akun anak2nya dulu, baru boleh ngadep aku heheheee..... Aku kasih garis yg jelas juga siapa yang boleh & tidak boleh berteman dg anakku. Berantem itu wajar, udah tuwek2 aja berantem juga kan. Tapi kalau pegang payudaraku, it's a big no, udah hilang dari peredaran percakapanku & anakku saat itu juga, gak boleh kenal lagi anak itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Lusi, guru yang tegas hehehe

      Saya juga sempet emosi saat itu. Tp, akhirnya saya berpikir anak sy yang menjalani kehidupannya. Saya hanya mengarahkan dan memberi tahu. Kecuali kalau memang udah parah banget, baru saya dengan tegas akan melarang :)

      Hapus
  17. Serem Chi bacanya, sampe pegang-=pegang dada Chi segala...duh, prihatin ya, mudah-mudahan X segera mendapat penanganan serius dari orang tua, guru maupun psikolog...apalagi kalo udah mulai ngadu-ngadu gitu, bisa merusak pertemanan orang lain soalnya...

    BalasHapus
  18. kaget pas baca X tiba2 memegang tubuh bagian atas mak Myra :(
    Semoga X mendapat penanganan dari ortunya yaa.

    Aseli speechless saya bacanya...

    BalasHapus
  19. Syukurlah kalau keke udah bisa mengatur batas2 pergaulannya. Saya khawatir kalau sering diajarin mmilih2 temen, entar bisa kebawa sampek besarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak apa-apa milih2 temen, kalau memang teman itu gak baik untuk kita

      Hapus
  20. saya malah jadi kasian ke x, mungkin dia cari perhatian orangtuanya ya dengan membuat masalah-masalah di sekolah.. duh anak zaman sekarang..
    tapi iya ya bun, kalau berteman lalu teman kita sudah merugikan secara tidak wajar kepada kita.. tidak ada salahnya memutuskan pertemanan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya juga ada rasa kasihan

      kalau memang merugikan, sebaiknya dijauhkan dulu

      Hapus
  21. tengkyu for sharing...

    kak Keke pinter dalam memanej berteman... cerdik ;)

    Prihatin dengan X semoga masalah d keluarganya segera selesai dan X segera teratasi

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge