Ayah : "Kenapa anak kodok jalannya loncat-loncat?"

Ceritanya K'Aie kasih tebak-tebakan buat Keke dan Nai. Mereka dengan semangat nebak begini-begitu tapi gak ketebak juga. Dan, akhirnya nyerah.

Ayah : "Namanya juga anak-anak. Anak-anak kan suka loncat-loncat."

Kami memang sering bermain tebak-tebakan lucu, terutama kalau lagi di jalan. Teka-teki menjadi salah satu cara untuk menghilangkan bosan, apalagi kalau jalanan lagi macet.

Kejadian yang lain, Nai kejedot pegangan pintu pas lagi jalan.

Bunda : "Duh, Dek! Hati-hati kalau jalan."
Nai     : "Ya, namanya juga anak-anak, Bun. Maklumi aja kalau kejedot."
Bunda : "Bukan Bunda gak memaklumi. Cuma, kan tetep aja Adek harus hati-hati."

Beberapa kali kalau Nai melakukan kesalahan baik itu disengaja atau tidak. Dia suka bilang, "namanya juga anak-anak." Chi sering jadi ngikik kalau Nai udah ngomong kayak gitu.

Ngomong-ngomong tentang kalimat 'Namanya juga anak-anak', haruskah kita selalu memaklumi kalimat tersebut? 

Menurut Chi, tidak. Sebagai contoh, Chi pernah melihat sepasang keluarga yang berbeda pendapat tentang ulah anaknya yang baru berumur 4 tahun. Anak laki-laki ini kalau udah punya mau harus dituruti, kalau enggak dia akan tantrum.

Suatu hari, si anak ingin mengajak sodara-sodaranya main. Tapi, sodara-sodaranya menolak karena lagi ada aktivitas masing-masing. Marahlah ini anak. Dan, gak cuma marah, sodaranya yang berbadan paling kecil dipukuli dan dicubiti sama anak ini. Sampe sodaranya jerit-jerit.

Ibu dari anak ini kemudian melerai dan menegur anaknya. Ketika sedang ditegur, bapaknya ngomong, "Biarin ajalah gak usah ditegur, namanya juga anak-anak." Yang terjadi, sepasang suami istri ini berdebat dan si anak ngacir.

Chi gak bermaksud mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Lah, saat itu Chi juga cuma diam aja, kok. Tapi, Chi memang gak setuju sama pendapat bapak dari anak tersebut. Anaknya memang masih balita, tapi gak bisa semua ulahnya dimaklumi dengan kalimat 'Namanya juga anak-anak'.

Sedini mungkin anak udah bisa dilatih bagaimana bertingkah laku dan bersosialisasi. Sudah harus diajarkan mana benar dan salah. Malah menurut Chi, anak-anak itu berpikirnya masih hitam-putih, belum masuk wilayah abu-abu. Jadi, katakan salah kalau memang salah. Dan katakan benar kalau memang benar. Memukul, apalagi karena kemauannya tidak dipenuhi, termasuk tindakan salah. Tetapi, tentunya cara kasih taunya harus disesuaikan dengan usianya.

Anak juga bisa bingung kalau situasinya begitu. Sama ibunya ditegur, sama ayahnya malah dibela dengan alasan 'namanya juga anak-anak'. Akhirnya, anak biasanya memilih yang membela. Siapa sih yang gak suka dibela? :)