Waktu Keke masih batita, salah seorang tetangga yang mempunyai putri seumuran Keke, curhat kalau putrinya itu gak sulit makan tapi badannya tetap aja kecil dan dibawah rata-rata. Beberapa minggu kemudian, kami ketemu lagi. Tetangga Chi kembali bercerita kalau anaknya sudah dibawa ke ahli gizi.

Ternyata permasalahannya ada di saluran cerna dimana setiap makanan yang dikonsumsi tidak mampu diserap secara sempurna gizinya oleh tubuh. Gak heran kalau tumbuh kembangnya pun jadi gak maksimal. Untuk beberapa waktu lamanya, si anak melakukan terapi yang diawasi oleh ahli gizi tersebut. Sekarang, tumbuh kembang anaknya pun normal. Terapinya berhasil.

Di kejadian lain, saat Keke berumur 2 tahun 2 bulan, tepatnya saat Nai lahir Keke terkena diare. Lumayan berat diarenya sampai berat badannya menurun drastis. Setelah beberapa hari gak sembuh, kami bawa ke dokter. Chi udah khawatir Keke akan dirawat, melihat badannya yang menjadi sangat kurus dan lemas. Alhamdulillah, ternyata tidak

Dokter hanya meresepkan serbuk prebiotik yang harus dikonsumsi Keke untuk beberapa hari ke depan. "Anaknya minum susu formula gak, Bu? Kalau susu formulanya ada kandungan prebiotiknya jangan di stop, ya. Terus dikasih. Tapi, kalau gak ada, harus brenti dulu minum susunya," saran dokter.

Selama ini Chi taunya kalau anak lagi kena gangguan saluran pencernaan, konsumsi susu harus berhenti dulu. Ternyata, kalau susunya mengandung prebiotik malah disarankan untuk terus dikonsumsi. Beberapa hari kemudian, Keke pun sembuh. Alhamdulillah.

2 kejadian beberapa tahun yang lalu itu membuat Chi sadar kalau:


  • Pencernaan ternyata bisa mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak
  • Prebiotik berfungsi untuk meningkatkan bakteri baik dan mengurangi jumlah bakteri jahat sehingga saluran cerna menjadi sehat
 
 


Gut-Brain Axis


Sebuah hubungan akan terjalin dengan baik apabila komunikasi 2 arah terjalin dengan baik. Begitu juga dengan tubuh kita. Ternyata, otak dan pencernaan pun saling melakukan komunikasi 2 arah. Komunikasi ini yang disebut Gut-Brain Axis.


Pernah gak ketika kita lagi stress, kepala jadi pusing, keringet dingin, trus nafsu makan menghilang? Bahkan kita pun bisa terkena diare atau gangguan pencernaan lainnya. Hal seperti itu akibat psikologis, bukan karena makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Sebaliknya kalau pencernaan kita terganggu karena asupan yang kita konsumsi, kegiatan kita pun jadi terganggu kan? Berkegiatan saat sakit tentu aja gak nyaman, bahkan berpikir pun gak bisa. Kalau anak-anak yang kena biasanya akan rewel, susah makan, dan lain-lain. Perlahan-lahan akan mengganggu tumbuh kembang dan menghambat komunikasi pencernaan ke otak kalau tidak segera ditanganai.


Saluran Cerna Sehat, Anak Cerdas


ASI tidak otomatis menjadikan anak cerdas. Eits! Jangan buru-buru protes, simak dulu penjelasannya, ya :)

Ada 2 hal yang membuat tumbuh kembang anak menjadi maksimal, yaitu:


  1. Nutrisi - Anak-anak harus mendapat nutrisi baik bahkan sejak dalam kandungan, di beri ASI eksklusif ketika lahir s/d 6 bulan, kemudian dilanjut pemberian MPASI, dan seterusnya. Ketidaktahuan orang tua tentang apa aja yang termasuk nutrisi baik, bisa dicari tau dengan banyak bertanya bahkan dengan menggunakan gadget.
  2. Stimulasi - Ketika anak sedang di beri ASI, ibu dan anak saling bertatap mata, tangan ibu yang satunya mengelus kepala anaknya. Memberi makan anak dengan cara menyenangkan, bukan dengan paksaan. Dengan kata lain, stimulasi tida bisa digantikan dengan gadget. Harus ada kontak yang mengakrabkan antara anak dengan orang tuanya.

Nutrisi dan stimulasi saling berkaitan. Nutrisi yang masuk ke dalam tubuh masuk ke otak melalui satu-satunya jalan, yaitu saluran pencernaan. Nutrisi yang baik didukung oleh stimulasi yang baik pula akan membuat tumbuh kembang anak menjadi optimal.


Prosentase komunikasi antara otak dan saluran cerna adalah 80% saluran cerna berkomunikasi ke otak, sisanya sebanyak 20 % otak berkomunikasi ke saluran cerna. Jadi, saluran cernalah yang mengatur otak. Oleh karenanya, saluran cerna disebut juga 2nd brain.

Menurut dr. Wawan, beberapa orang tua baru sadar tentang cerdas atau tidaknya seorang anak ketika melihat nilai rapor sekolah. Ketika rapornya kurang bagus, orang tua baru 'menggenjot' anaknya supaya menjadi lebih cerdas. Padahal yang namanya membentuk kecerdasan itu bukan sejak si anak menerima rapor, tapi sejak dalam kandungan.

1000 hari pertama dalam kehidupan merupakan faktor penting dalam kehidupan seorang anak. Pembentukan sel-sel otak anak banyak terjadi di dalam kandungan. Sehingga ibu hamil sebaiknya:


  1. Jangan memiliki tensi tinggi
  2. Jangan sakit
  3. Jangan stress

Untuk faktor nomor 1 dan 2 di atas, dokter kandungan bisa bantu menangangi. Tapi ketika berhubungan dengan stress, ibu hamillah yang harus mampu mengelola stress tersebut. 

Anak yang baru lahir, sel otaknya masih berkembang hingga usia 1 tahun. Di usia 1000 hari pertama, perkembangan otak anak mencapai 80% otak dewasa. Ketika si anak berusia 6 tahun, perkembangan otaknya mencapai 95% otak dewasa.

Bisa terlihat kalau perkembangan otak itu sangat pesat saat si anak berusia di 6 tahun ke bawah terutama sejak dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. Sayang sekali kalau orang tua tidak memberikan nutrisi dan stimulasi yang maksimal di usia tersebut.


 

Rahasia Kesehatan dan Kenyamanan Saluran Cerna Adalah Prebiotik



Seperti yang Chi tulis di awal, tentang anak tetangga yang tumbuh kembangnya kurang optimal karena slauran cernanya bermasalah. Sederhananya, walopun nutrisi yang dikonsumsi sudah lengkap dan baik tapi kalau 'alat' untuk mencernanya kurang berfungsi maka hasinya juga gak optimal.

Di dalam pencernaan terdapat banyak sekali bakteri baik maupun jahat. 80% sel imun ada di pencernaan. Jadi agar tetap sehat, tentu saja pencernaan harus terus dijaga kesehatannya. Tingkatkan bakteri baik dan tekan/kurang bakteri jahat dalam tubuh. Rahasianya adalah dengan prebiotik.



Ibu mana sih yang gak sedih kalau anaknya sakit? Pasti sedih, begitu juga dengan Chi. Konstipasi, diare, dan kolik adalah gangguan pencernaan yang sering ditemui oleh anak. Kalau udah terkena gangguan pencernaan, anak akan rewel, menangis terus, makan susah, dan lain-lain. Kalau gak segera ditangani bisa fatal. Duh!


ASI eksklusif merupakan makanan terbaik bagi bayi berusia 0-6 bulan. Dalam ASI terdapat banyak biota yang menguntungkan salah satunya adalah Lactobacillus Reuteri yang berfungsi untuk mendukung kesehatan saluran cerna.


Psikologis Anak Juga Mempengaruhi



Urusan memberi makan anak ternyata gak cukup dengan hanya memberi nutri yang baik dan memastikan saluran cernanya berfungsi baik. Psikologis anak pun harus diperhatikan.

Orang dewasa sudah mampu mengolah emosinya sendiri. Ketika dilanda stress, banyak orang dewasa yang bisa tetap menjaga pola makan, nutrisi, sekaligus mengontrol kesehatannya. Tapi tidak dengan anak-anak.

Salah satu problem anak yang sering di risaukan orang tua terkait dengan makan adalah ketika anak melakukan gerakan tutup mulut. Atau sering kali orang tua harus mengajak anak bermain atau berimajinasi ketika mengajak mereka makan. Jarang anak-anak yang hanya cukup duduk di meja makan lalu menikmati makan seperti orang dewasa.

Salah satu penyebab bayi dan anak terganggu pencernaannya adalah stress. Ya, bayipun bisa terkena stress, lho. Bahkan sejak dia berada dalam kandungan. Makanya seorang ibu wajib mengontrol kadar stressnya ketika hamil agar tidak mempengaruhi bayi yang dalam kandungan. Ketika lahir, bayi pun bisa stress karena selama ini berada dalam kehangatan rahim seorang ibu, sekarang dia harus 'berjuang'.



Sama halnya dengan perkembangan otak, 2 tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan periode sensitif perkembangan attachment. Secara garis besar attachment terbagi 2, yaitu secure dan insecure attachment.

Secure attachment terlihat dari kedekatan anak dengan ibunya. Sebagai contoh, ketika ibunya harus pergi sejenak, anak akan menangis tapi kemudian bisa menyesuaikan diri. Ketika ibu pulang, anak akan menyambut dengan rasa gembira.

Insecure attachment terbagi 3, yaitu:


  1. Resistant attachment - ibu yang kurang konsisten dalam pengasuhannya. Ketika ibu pergi sejenak, anak akan menangis. Tapi, ketika pulang, anak akan menyambutnya dengan marah.
  2. Avoidant attachment - ibu yang bersikap dingin terhadap anaknya. Ketika ibu harus pergi, anakpun cuek
  3. Disorganized/Disoriented attachment - ibu yang seperti ini biasanya memiliki masalah di masa lalu yang berkaitan dengan attachment. Anakpun akan menjadi ambigu.

Kalau kita ingin memberikan secure attachment kepada anak, maka orang tua harus mempunyai parental sensitivity, yaitu  kemampuan orang tua untuk memberi umpan balik yang responsif terhadap tanda-tanda yang ditampilkan bayi.

Parental sensitivity juga dapat dilakukan saat kegiatan menyusui atau makan, misalnya:


  1. Menatap mata si bayi, mengusap kepala, tersenyum, bersenandung, atau mengajaknya bicara ketika menyusui.
  2. Menciptakan suasana menyenangkan ketika waktunya makan.
 
Yang harus diberikan catatan, ketika menciptakan suasana menyenangkan saat waktunya makan adalah jangan mengalihkan proses belajar makannya. Misalnya, orang tua mengajak anaknya makan di depan tv sambil nonton kartun dengan alasan anak akan makan kalau sambil nonton film kesukaannya.

Anak mungkin akan makan dengan lahap. Tapi dia tidak belajar proses makan. Anak tidak menyadari kalau dia sedang makan. Buatlah anak belajar makan dengan membuat suasana yang menyenangkan.

Mengenali temperamen anak juga bisa membantu ibu dalam mengajak dan mengajari anak makan.


  1. Easy child - anak yang mudah berespon terhadap segala sesuatu termasuk hal baru biasanya termasuk anak yang mudah makan. Hal ini tentu saja akan memudahkan ibu ketika mengenalkan anak terhadap makanan.
  2. Difficult child - kebalikan dari easy child. Untuk menanganinya, orang tua harus banyak bersabar ketika mengajak anak makan. Jangan paksa atau membuat suasana makan menjadi rusak dan menimbulkan stress pada anak.
  3. Slow to warm up child - anak yang tipe ini berada ditengah-tengah antara easy dan difficult child. 

 

Happy Tummy Council


Happy tummy council adalah sebuah dewan yang terdiri dari lima pakar kesehatan, yaitu:

  1. Prof. Dr. M Juffrie, dr., Sp.A(K), Ph.D
  2. Prof. Dr, Soebijanto Marto Sudarmo dr. Sp.A(K)
  3. Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K)
  4. Dr. Saptawati Bardosono, dr., M.Sc.
  5. Rini Hildayani M.Si. Psychologist.

Happy tummy council memiliki misi untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, khususnya para tenaga kesehatan dan orang tua, mengenai pentingnya saluran cerna bagi tumbuh kembang optimal.

Chi senang sekali dan merasa beruntung diundang ke acara press conference Happy Tummy Council yang ke-2, pada tanggal 3 April 2014 di hotel Gran Melia. Pastinya dapat ilmu parenting baru, terutama yang berkaitan dengan pola makan anak. Tulisan Chi yang ada dipostingan ini juga rangkuman dari penjelasan para pakar kesehatan yang ada di Happy Tummy Council tersebut.

Memang tidak semua pakar kesehatan tersebut datang. Hanya 3 orang dari 5 pakar kesehatan yang ada di Happy Tummy Council yang datang, yaitu:


  1. Dr. Saptawati Bardosono, dr., M.Sc. - menjelaskan tentang "Peran Zat Gizi dalam Tumbuh Kembang dan Kesehatan Saluran Cerna"
  2. Rini Hildayani M.Si. Psychologist. - menjelaskan tentang "Kesehatan Saluran Cerna Ditinjau dari Aspek Psikologis"
  3. Dr. Ahmad Suryawan, dr. Sp.A(K) atau dikenal juga sebagai dr Wawan - menjelaskan tentang "Kesehatan Saluran Cerna dan Perkembangan Perilaku dan Kecerdasan Anak"

Ada satu quote dari dr. Wawan di penghujung acara, "Don't Be Afraid To Be Active Mommy."

Maksudnya, parenting itu berkaitan dengan kedekatan antara orang tua dan anak. Harus punya parenting sensitivity seperti yang dijelaskan oleh ibu Rini. Jadi, mau kita lulusan S3 sekalipun, gak otomatis akan mempunyai anak yang berkualitas selama orang tuanya cuek. Orang tua yang bekerja tetap bisa mempunyai anak yang berkualitas selama orang tuanya peduli terhadap anak.

So, don't be afraid to be active mommy. Yang penting pelajari dan praktekkan terus ilmu parenting. Termasuk ketika kita ingin membuat anak bahagia, maka bahagiakan dulu pencernaannya.

Happy Tummy, Happy Kids!