Anak berulah, belajar dari siapa? "Anak saya kuat banget jajannya di sekolah, Teh. Setiap hari pasti minta jajan. Mana dia udah tau duit. Kalau minta jajan selalu bilang pengennya yang biru. Tau lah belajar dari siapa. Kami orang tuanya gak pernah ngajari begitu."

Seseorang yang Chi kenal bercerita tentang anaknya yang masih TK tapi seneng banget jajan kalau di sekolah. Sebetulnya kami ngobrol berbagai macam topik. Salah satunya tentang anak-anak.

Kalau dipikir-pikir lagi, atau coba dibalikin ke diri sendiri, pernah atau sering gak ketika anak berulah trus langsung ngebatin sendiri 'belajar dari siapa, sih? Perasaan gak pernah ngajari begitu?' Kalau Chi pernah, bahkan lebih dari sekali. Pertanyaan selanjutnya adalah apa trus cuma diam aja?

Pernah satu hari Keke bercerita kalau beberapa teman di sekolahnya, terutama yang perempuan, seneng nonton sinetron GGS *Udah pada tau dong GGS singkatan dari apa? Hehehe*. Keke bisa menceritakan lho seperti apa jalan cerita GGS. Bahkan dia tau siapa aja pemainnya.

Ketika mendengarkan Keke bercerita, dalam hati Chi rada membatin 'Duh, Keke kenal juga sama sinetron.' Rasanya rada kesel juga karena di rumah bisa dikatakan steril dari yang namanya sinetron. Lebih memilih beberapa channel di tv kabel atau televisinya dipake buat main game. Tapi kalau Chi cuma sekadar membatin atau nyimpen kesel sendirian kayaknya gak bagus juga. Dan, gak mungkin juga melarang Keke bermain dengan temannya hanya karena mereka suka nonton sinetron.

Yang pertama Chi lakukan adalah mendengarkan cerita Keke sampe tuntas. Sejauh mana dia tau tentang sinetron itu. "Keke gak ngerti, Bun. Ceritanya aneh banget tapi temen-teman ada yang suka. Apalagi girls, tuh. Kayaknya gimana kalau udah cerita tentang GGS."

Oh, syukurlah Chi mendengarkan sampai akhir. Ternyata Keke sudah bisa menilai dan Chi setuju dengan pendapatnya. Paling Chi tinggal menambahkan dengan menjelaskan kenapa selama ini melarang mereka untuk nonton sinetron. Ya, salah satunya seperti penilaian Keke itu.

Itulah, sering kali ketika anak berulah yang gak sesuai dengan yang orang tua pikirkan, kita hanya berkata "Belajar dari siapa, ya? Perasaan gak pernah ngajarin kayak gitu." Atau kita berpikir begini, "Oh, ini gara-gara terpengaruh si A. Makanya anak saya jadi begitu." Tapi abis itu kita gak melakukan apa-apa.

Padahal, semakin anak besar, pengaruh dari luar pun semakin besar. Kita mungkin punya sejumlah peraturan ini-itu untuk kebaikan anak. Tapi masalahnya anak kan gak selalu 24 jam bersama orang tuanya. Memang kita wajib juga mengajarkan anak mana yang baik dan tidak. Tapi, gak menutup kemungkinan juga kalau suatu saat anak tau hal lain di luar yang kita pelajari. Atau bahkan yang kita larang.

Untuk beberapa kasus tertentu, mungkin kita bisa tegas berkata kepada anak untuk tidak bermain dengan orang tertentu. Terutama kalau temannya sudah mempengaruhinya dengan sangat buruk. Tapi gak bisa juga kan sedikit-sedikit kita melarang anak untuk jangan bermain dengan si A. Besoknya melarang main dengan si B, si C, dan lain-lain. Bisa-bisa anak kita gak berteman nantinya.

Hanya menyalahkan tapi tanpa melakukan aksi menurut Chi itu sama aja dengan kebiasaan ketika melihat anak jatuh trus yang disalahin kursi, lantai, bahkan si kodok. Padahal apa salah benda-benda itu? Jatuh memang sakit, tapi kalau cuma sekadar menyalahkan apa trus selesai begitu saja? Ya, mungkin anak juga harus dikasih tau supaya lain kali berhati-hati. Tentunya setelah sakitnya reda dulu.

Begitu juga ketika anak berulah karena terpengaruh orang lain. Misalnya kayak curhatan di atas, dimana anaknya selalu jajan setiap hari. Apa cukup hanya dengan mengeluh, "Gak tau lah belajar dari siapa. Kami gak pernah ngajarin kayak gitu." Ya mungkin saja anak jadi gemar jajan karena pengaru temannya. Tapi, kalau orang tuanya juga terus mengabulkan permintaan si anak untuk jajan, masalahnya gak akan berhenti. Mengeluh juga gak akan jaid solusi.

Jadi, ketika kita mulai melihat ada gelagat anak berulah yang kurang diharapkan, mulai cari penyebabnya lalu temukan solusinya, yuk! :)