Anak bersikap kritis. Positif atau negatif? Beberapa kali ketika Chi bercerita tentang Keke atau Nai di blog ini atau di social media, suka ada aja yang berpendapat kalau mereka adalah anak-anak yang kritis. Sebetulnya, gak cuma Keke dan Nai yang sering dibilang anak kritis. Seringkali Chi perhatiin setiap ada anak yang berani berpendapat selalu ada aja yang komen kalau anak tersebut kritis.

Reaksi pertama Chi ketika ada yang menganggap Keke dan Nai adalah anak kritis adalah senang. Chi anggap itu komentar yang positif. Tapi, lama-lama penasaran juga sebetulnya seperti apa sih yang dimaksud anak yang kritis? Apa jangan-jangan semua anak yang berani bicara dianggap kritis?

Chi coba mencari tau berbagai hal tentang anak kritis melalui berbagai artikel di internet. Dari sekian banyak ciri anak yang dianggap kritis di berbagai artikel, Chi menangkap benang merahnya adalah di komunikasi. Anak yang kritis adalah anak yang pintar dan berani berkomunikasi.


Sumber informasi (nyaris) tanpa batas


Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa anak-anak sekarang seringkali dibilang generasi yang kritis dibanding anak-anak pada zaman Chi kecil? Chi gak percaya kalau hanya sekadar mendapatkan jawaban memang sudah beda zamannya. Chi rasa ada pemicunya, gak mungkin hanya karena beda zaman trus otomatis anak jadi kritis.

Kalau dulu orang tua udah kasih nasehat atau menegur, paling Chi cuma diam dan menunduk. Abis gak tau juga harus bagaimana. Mau berargumen juga serba salah. Berbeda banget dengan Keke dan Nai sekarang, seringkali kalau Chi ajak berdiskusi, nasehati atau menegur, mereka akan bertanya "Kenapa?" Satu pertanyaan kenapa akan dilanjutkan dengan rentetan kenapa lainnya. Kalaupun gak bertanya kenapa, mereka akan membela pendapatnya. Memang kadang belum tentu saat itu juga. Ketika Chi sedang marah, mereka juga seringkali diam tanpa sedikitpun membantah. Tapi, kemudian setelah suasana mereda mereka mulai memberikan pembelaan.

Chi rasa salah satu penyebab anak zaman sekarang menjadi lebih kritis adalah karena lebih banyak pilihan sumber informasi. Dulu, sumber informasi terbesar adalah dari orang tua dan guru. Iya, teman memang bisa memberikan informasi tapi gak banyak. Hiburan seperti channel televisi pun cuma ada 1, yaitu TVRI yang isinya adem banget, ya. Kalau sekarang kayaknya udah lebih dari generasi MTV, deh. Karena hiburan seperti musik, film, hingga game sudah ada dimana-mana. Dengan mudah didapat. :D

Beda banget sama zaman sekarang, informasi bisa dari manapun bahkan nyaris tanpa batas. Informasi yang semakin banyak bisa berakibat semakin banyak pula yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak. Ketika Chi mengajak anak-anak berdiskusi, mereka akan bisa membanding-bandingkan berdasarkan apa yang mereka tau. Begitu juga ketika Chi menegur mereka. Biasanya mereka akan memberikan pembelaan. Seringkali Chi mengingatkan diri sendiri untuk selalu update dengan sesuatu yang kekinian. Tujuannya untuk bisa memahami cara berpikir mereka.


Komunikasi terbuka



Sebisa mungkin, Chi memang memberikan anak-anak kebebasan berkomunikasi. Karena Chi dan K'Aie gak mau kalau mereka melakukan sesuatu secara diam-diam. Iya, kalau yang mereka lakukan itu untuk hal yang benar. Tapi, kenapa juga harus diam-diam kalau melakukan sesuatu yang benar?

Yang terjadi, beberapa kali mereka melakukan secara sembunyi-sembunyi dan begitu ketahuan alasannya karena takut bunda marah. Duh! Kesel juga sih sebetulnya kalau Chi sampe tau belakangan. Tapi, alasan mereka memang rada menusuk juga. Takut bunda marah, apa itu artinya Chi segitu galaknya? Kalau udah gitu langsung mengajak mereka berdiskusi. Mencoba untuk introspeksi juga. Sepertinya yang namanya berkomunikasi memang seperti harus belajar sepanjang hidup, nih.

Kayaknya bentuk komunikasi yang lebih terbuka ini juga bikin anak menjadi lebih kritis. Ini, sih, berdasarkan pengalaman pribadi dan juga pengamatan Chi terhadap sekitar. Kalau Chi perhatiin, orang tua zaman sekarang seringkali menempatkan diri seperti seorang teman kepada anaknya. Dan, biasanya anak akan lebih terbuka kalau caranya seperti itu.


Anak kritis itu positif atau negatif, nih?


Dari beberapa artikel yang Chi baca, anak yang kritis itu mengarah ke hal positif. Mereka lebih berani dan percaya diri saat mengeluarkan pendapat. Tapi, ada beberapa anak yang memang terlalu berani hingga terkesan tidak sopan. Misalnya, mentang-mentang orang tuanya bersikap seperti teman, anak lalu bersikap semaunya. Padahal anak tetap harus tau kalau yang mereka hadapi adalah orang tua. Nah, kalau yang seperti ini jangan dibungkam suara kritisnya tapi diarahkan. Bagaimana agar anak tetap kritis tanpa terkesan kurang sopan.

Bagaimana? Teman-teman senang dong punya anak yang bersikap kritis? Atau malah jadi ribet menghadapi ocehan mereka? :D