Bullying, pelecehan pada anak, pornografi anak, kekerasan pada anak, dan tawuran. Apa yang ada di benak kita ketika mendengar atau membaca 5 kata tadi? Yang jelas buat Chi semuanya itu sesuatu yang negatif. Kalau mau lebih jelas lagi definisi masing-masing kata tadi, silakan cari di Google.

Buat Chi, kelima hal yang disebut diatas adalah ancaman yang nyata. Bahkan sejak dulu, misalnya bullying. Zaman kita sekolah suka ada yang namanya senior-junior. Trus yang senior suka ada yang 'ngegencet' junior. Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah sebetulnya itu salah satu bentuk bullying? Cuma bahasanya aja gak sekeren sekarang. Dulu kita bilangnya 'gencet', sekarang 'bully'.

Jadi, tanpa perlu Chi menunggu ada heboh kasus tertentu, tanpa perlu melihat video tertentu, proteksi dini dimulai dari rumah sejak mereka lahir itu suatu kewajiban. Memproteksi bukan berarti memberatkan langkah anak-anak. Tapi, kita berusaha untuk membimbing mereka agar jangan jadi pelaku atau korban.

Ketika terjadi suatu kasus dimana si anak menjadi pelaku, mungkin gak sih orang tua juga ikut menjadi sumber penyebab? Padahal kejadian bukan di rumah. Misalnya, di sekolah. Seharusnya sepenuhnya jadi tanggung jawab pihak sekolah, kan? Hmmm... Coba lihat beberapa hal dibawah ini, ya...


"Sini, Bunda pukul lantainya. Nakal, ya, lantainya"


Pernah gak ketika anak terjatuh, kejedot, atau mengalami kecelakaan kecil lainnya, kemudian kita menyalahkan benda mati? Kalau gak pernah, mungkin kita pernah melihat kejadian kayak gitu? Menurut Chi, sebaiknya mulai brenti deh menyalahkan benda-benda mati ketika anak mengalami 'kecelakaan'. Alasannya:

  1. Anak belajar menyalahkan pihak lain yang belum tentu bersalah - Apa salah benda mati? Dari dulu lantai memang ada disitu, tembok juga tetap disana. Kalau mereka bersalah, apa kita robohkan temboknya? Bongkar lantainya? Atau buang mejanya?
  2. Anak juga harus belajar dari rasa sakit - Yang namanya jatuh, kejedot, dan kecelakaan kecil lainnya memang sakit. Wajar kalau anak menangis. Tapi, kalau kita bisa secara tepat mencari akar permasalahannya, anak juga bisa belajar dari pengalaman tersebut. Misalnya, anak jatuh karena lari-larian, padahal udah dibilangin kalau lantai baru di pel. Setelah tangisnya reda, kita bisa menjelaskan dengan bahasa yang bisa diterimanya supaya lain kali lebih hati-hati.
  3. Anak belajar menyelesaikan masalah secara instan. - Ketika orang tua menyalahkan benda-benda mati, biasanya diikuti dengan memukul benda mati tersebut. Umumnya anak-anak akan cepat berhenti nangis setelah melihat orang tuanya memukul benda yang dianggap bersalah. Orang tua pun lega karena anak berhenti menangis. Tapi, itu solusi instant. Anak tidak diajarkan untuk menganalisa masalah dan introspeksi dari persoalan. Yang  namanya instant itu memang enak. Tapi, kalau terus dibiasakan gak baik untuk jangka panjang.
  4. Anak belajar membully - melihat orang tuanya memukul benda mati, biasanya anak kepengen ikutan. Jadilah orang tua dan anak sama-sama memukul benda yang tidak bersalah. Biasanya mukulnya pake nafsu. Plak! Plak! Plak! Disadari atau tidak yang kayak gitu mengajarkan anak untuk membully, lho.


"Gara-gara kodok, ya? Nanti kalau kodoknya dateng lagi, Bunda usir."


Mirip dengan menyalahkan benda-benda mati, tapi kali ini kodok yang jadi sasaran kesalahan. Apa salah kodooookk???

Efeknya bisa sama kayak contoh yang menyalahkan benda-benda mati itu. Bahkan ada tambahan lagi, anak bisa belajar berbohong. Karena, seringkali kodoknya itu gak ada! Orang tua cuma cari-cari kesalahan dari sesuatu yang gak ada supaya anak brenti nangisnya.


    "Jangan nonton Tom and Jerry. Mengajarkan kekerasan."


    Seorang teman, pernah mengingatkan Chi supaya jangan pernah memberi anak tontonan Tom and Jerry. Anak-anak bisa belajar kekerasan, termasuk membully dari film tersebut.

    Pendapat temen Chi ada benarnya. Tapi, Chi juga sebetulnya pengen bilang kalau waktu kecil, Chi pun kenyang dengan tontonan seperti Tom and Jerry, Google Five, Megaloman, dan lain-lain. Dan, gak bikin Chi jadi berandalan atau suka ngebully. Murni menonton tayangan seperti itu hanya untuk hiburan. Cuma di depan temen, Chi nyengir aja. Karena kalau Chi bantah, bakal jadi perdebatan panjang hehehe.

    Chi rasa, kuncinya itu di komunikasi. Sebagai orang tua, kita harus tau persis apa aja yang ditonton sama anak-anak. Jangan pernah lelah untuk mengingatkan mereka supaya jangan ditiru. Tunjukkan mana yang baik dan buruk.

    Bukan berarti Chi gak memfilter tontonan Keke dan Nai, ya. Tetep ada tontonan yang terlarang buat mereka sampai saat ini karena memang belum saatnya. Cuma setiap keluarga kan punya standar masing-masing tentang mana yang boleh ditonton dan tidak. Dan, itu gak usah diperdebatkan. Kalau ada keluarga yang benar-benar ingin anaknya bersih dari segala tontonan, silakan aja. Cuma, kalau suatu saat, anak ke luar rumah dan melihat sesuatu yang gak baik padahal selama ini dia hanya melihat yang baik, sebagai orang tua kita juga harus mampu menjelaskan. Jalin komukasi yang baik pokoknya. :)

    Children See, Children Do.

    Banyak yang bilang kalau anak adalah seorang peniru ulung. Ibarat spons, kualitas spons anak adalah terbaik. Kemampuan daya serapnya masih sangat tinggi. Itu karena kemampuan alamiah seorang anak adalah meniru. Children see, children do. Bukan mengerti benar atau salah. Anak bisa mengerti benar atau salah karena diberi tahu.

    Ketika Chi mau masukkin Keke ke ekskul Taekwondo, salah seorang kerabat mengingatkan untuk mengimbangi dengan memberikan pengertian untuk apa itu Taekwondo. Maksud orang tua mengkursuskan anak-anak ke kursus bela diri (gak hanya Taekwondo) pasti baik. Biar anak punya ilmu untuk melindungi dirinya.

    Tapi, kadang orang tua suka ada yang lupa untuk menjelaskan. Mungkin merasa udah memberikan yang terbaik untuk anak, maka anak akan mengerti dengan sendirinya. Padahal kalau anak gak dikasih penjelasan tentang manfaat punya ilmu bela diri, bisa-bisa malah anak menyalahgunakan ilmu yang dia punya. Apalagi kalau ditambah dengan hobinya menonton film kekerasan dan tidak pernah mendapat bimbingan. Jadi, sesuatu yang baik buat orang tua, belum tentu dianggap baik bagi anak. Itu karena anak gak ngerti.

    Chi juga pernah cerita di blog ini kalau Keke pernah marah besar dan mendorong salah seorang temannya yang selalu ingin memeluk dan menciumnya. Sebelumnya Keke udah bilang kalau dia gak suka diperlakukan seperti itu. Ketika temannya gak juga nurut dan terus berusaha memeluk serta mencium, maka Keke pun melakukan perlawanan.

    Tapi setelah Chi ngobrol dengan wali kelas Keke, Chi pun jadi paham kenapa teman Keke seperti itu. Kemungkinan, selama ini temen Keke diajarkan kalau menunjukkan rasa sayang itu dengan peluk dan cium oleh orang tuanya. Memang benar, peluk dan cium itu bentuk kasih sayang. Chi juga sering kasih pelukan dan ciuman ke Keke dan Nai. Tapi, sebagai orang tua juga harus menjelaskan ke anak, kepada siapa aja kita boleh menunjukkan rasa sayang dengan cara memberi pelukan dan ciuman. Tentu aja gak boleh ke semua orang menunjukkan rasa sayang seperti itu.

    Mungkin kalau dirinci bisa lebih banyak lagi 'kesalahan' orang tua? Orang tua yang justru menjadi penyebab utama segala masalah anak. Padahal umumnya orang tua ingin melakukan yang terbaik bagi anak. Tapi, mungkin gak ngerti caranya. Apalagi anak-anak kan bukan robot. Belum tentu bisa menerapkan formula yang sama ke semua anak. Bahkan ke semua anak kandung sekalipun. Masing-masing anak punya karakter.

    Fiuuuhh! Berat jadi orang tua, ya *Lap keringet Padahal yang namanya orang tua gak ada sekolahnya. Seumur hidup belajar, seumur hidup dapet PR tentang anak-anak. Tapi, bukan berarti harus ditakuti. Rasa khawatir wajar banget, asal kemudian diolah menjadi waspada. Yuk, kita sama-sama introspeksi. Dan, sama-sama berbagi pengalaman menjadi orang tua. Sesama orang tua harus saling support. Apalagi gerbang awal pendidikan bagi anak adalah orang tua