Kalau di luar sana, beberapa ibu sibuk melakukan 'Moms War', kalau 'war' Chi adalah bersama orang tua. Hehehe enggak, ding. Nanti dianggap anak durhaka kalau war sama orang tua :p

Sampe saat ini Chi memang masih tinggal sama orang tua. Dulu Chi suka males bercerita kalau masih tinggal orang tua. Abis suka ada aja yang merasa berhak menceramahi kalau sudah menikah sebaiknya tinggal terpisah. Idealnya memang begitu, tapi setiap orang kan punya alasan masing-masing. Bahkan ada yang alasannya pribadi banget. Dan gak perlu juga kita woro-woro ke semua orang alasannya.

Sesungguhnya tinggal bersama orang tua juga ada suka dukanya. Sukanya tentu banyak. Paling tidak kalau Chi lagi membutuhkan bantuan keluarga, gak perlu terlalu pusing karena sudah dikelilingi orang-orang terdekat.

Katanya kalau sudah menikah sebaiknya hanya ada 1 nakhoda. Tapi, itu kan hanya berlaku untuk pasangan suami istri. Kalau disini kondisinya dalam 1 atap ada 2 rumah tangga. Gak apa-apa juga ada 2 nakhoda karena tiap rumah tangga punya kapal masing-masing. Intinya, biarpun kami masih tinggal bersama orang tua Chi, tetep aja untuk urusan rumah tangga ya masing-masing. Chi dan K'Aie kan juga mau belajar mandiri.

Tapi, kali ini Chi mau cerita tentang dukanya. Cuma sebelum bercerita, Chi harus menjelaskan dulu alasannya biar gak ada yang salah paham. Alasannya adalah:


  1. Yang Chi posting ini bukan bermaksud untuk menceritakan aib keluarga. Chi hanya menceritakan beberapa permasalahan yang mungkin saja secara umum dirasakan oleh keluarga yang masih tinggal dengan orang tua. Tentu aja dibarengi dengan solusi yang pernah Chi lakukan.
  2. Chi hanya membatasi 3 masalah saja. Kalau kebanyakan nanti disangka curhat hehehe. 3 masalah yang ditulis ini karena Chi pernah ngalamin. Dan kemungkinan juga yang lain pun pernah ngalamin


Berbagai Masalah yang Timbul Saat Masih Tinggal Bersama Orang Tua


Menyalahkan benda mati

Beberapa waktu lalu, Chi menulis status di FB kalau kita sebaiknya tidak membiasakan untuk selalu menyalahkan benda mati (ada juga yang menyalahkan kodok, padahal kodoknya gak ada), setiap kali anak mengalami kecelakaan kecil. Chi pun kembali membahas masalah ini di postingan yang berjudul "Mungkinkah Orang Tua Yang Menjadi Sumber Penyebab?"

Dari komentar yang masuk, beberapa mengatakan kalau tidak pernah melakukan hal itu. Sayangnya orang-orang sekitar yang melakukan hal tersebut. Chi asumsikan orang-orang terdekat yang dimaksud adalah kakek-nenek, pengasuh, atau tetangga. Tapi, rasanya kecil kemungkinan kalau itu tetangga, ya? Kecuali kalau si anak memang rajin nenangga tiap hari :D

Apalagi kebiasaan menyalahkan benda mati itu termasuk model pola asuh jaman dulu. Ya walopun gak semua orang jaman dulu kayak begitu.

Kesal rasanya kalau kita sudah berusaha mengajarkan anak dengan tidak menyalahkan benda mati ketika mereka mengalami 'kecelakaan kecil'. Orang-orang sekitar malah mengajarkan seperti itu. Chi pun pernah ngalamin seperti ini. Duh rasanya...


Kakek dan Nenek dijadikan tempat berlindung

Sepertinya sudah umum kalau yang namanya Kakek atau Nenek lebih memanjakan cucu ketimbang mendisiplinkan. Ketika Chi berusaha bersikap tegas sama anak-anak, mereka akan mendekat ke kakek-neneknya seperti meminta perlindungan. Akhirnya, bisa ketebak lah. Chi suka ditegur (biar kata udah menikah, tetep aja di mata orang tua kita tetep anak yang bisa ditegur hehe).

Kalau udah begini, rasanya tambah berat usaha Chi untuk mendisiplinkan anak. Karena merasa seperti 'dimentahkan' usaha untuk mendidik anak-anak.


Dianggap menjauhkan cucu

Ketika masih sekitar umur 4-6 tahunan, Keke suka kepengen tidur sama kakek-neneknya. Chi hanya membolehkan tidur bersama kakek-nenek kalau wiken atau lagi libur sekolah. Kalau Keke sudah keburu tidur dikamar kakek-neneknya, biasanya suka Chi gendong ke kamar.

Nah, biasanya orang tua Chi suka rada sensi. Disangkanya ingin menjauhkan cucu dari mereka. Padahal bukan begitu. Saat itu, Keke masih suka terbangun di tengah malam. Biasanya Chi dan K'Aie udah hapal gelagat kalau Keke mau bangun di tengah malah. Kalau udah gitu, jangan nunggu sampe Keke benar-benar bangun. Langsung usap-usap punggungnya supaya Keke langsung tidur lagi.

Kalau gak langsung ditidurin lagi, bisa-bisa Keke keburu segar. Dan, baru tidur 2-3 jam kemudian. Akibatnya besok paginya dia akan susah dibangunkan buat sekolah. Kalau udah susah banget, akhirnya bolos. Makanya, Chi hanya mengizinkan Keke tidur bersama kakek-neneknya kalau lagi libur aja.

Chi beberapa kali coba mengalah dengan mengizinkan Keke tidur bersama kakek-neneknya. Tapi, ketika tengah malah dia terbangun, gak ada yang langsung usap-usap punggungnya. Karena kakek-neneknya udah nyenyak tidur. Diam-diam, Keke pindah ke kamar orang tuanya tanpa kakek dan neneknya tau. Kalau udah pindah kamar, Chi gak pernah berhasil bikin Keke langsung tidur lagi. Keke udah terlanjur segar dan baru bisa tidur lagi 2-3 jam kemudian.


Solusi Tinggal Bersama Orang tua Setelah Menikah


Komunikasi dengan orang tua

Komunikasi dan diskusikan masalah yang mengganjal tersebut dengan orang tua. Jelaskan kenapa kita merasa kurang setuju. Tinggal boleh satu atap, tapi sudah ada 2 nakhoda di dalamnya. Dan, untuk urusan anak-anak, kita sebagai orang tualah yang wajib menjadi nakhoda mereka. Tentu saja dalam hal ini, antara suami dan istri harus kompak dulu. Jangan sampai udah sama orang tua gak sepakat, dengan pasangan juga begitu. Jadi dobel masalahnya.


Komunikasikan juga dengan anak

Ada lebih dari 1 peraturan untuk hal yang sama bisa mengakibatkan anak menjadi bingung. Kalau udah begitu anak akan memilih mana yang enak buat mereka dan bukan karena benar atau salah. Seperti contoh kasus kedua, Chi atau K'Aie berusaha mendisiplinkan atau sesekali menegur, mereka akan segera berlindung dibalik kakek-nenek. Bukan tentang benar atau salah, tapi mendapat perlindungan dan pembelaan memang lebih enak ketimbang mendapat disiplin apalagi teguran. Tunjukkan kalau kita gak setuju dengan sikap anak. Ajarkan anak-anak bagaimana mereka harus bersikap yang benar menurut kita.


Cara Berkomunikasi dengan Orang Tua


Hormati orang tua

Ketika kita mengajak orang tua berdiskusi yang harus kita lakukan pertama kali adalah menghormati mereka. Biar gimana mereka orang tua kita. Kita juga gak mau kan kelak anak-anak sampe gak menghormati kita?


Hati boleh panas, tapi otak harus tetap dingin

Chi juga pernah mengalami diskusi dengan emosi. Tapi, memang apapun masalahnya, gak akan pernah berhasil kalau diskusinya pake emosi. Jadi kalau ada ketidakcocokan, redakan dulu emosinya. Jangan juga berpikir menang-kalan. Usahakan win-win solution :)


Jangan berharap proses instan

Orang tua mungkin punya ego, merasa lebih banyak makan asam garam dalam urusan mengurus anak. Jadi ketika mendapat masukan belum langsung terima. Apalagi yang menjadikan kita bisa seperti ini kan juga andil besar orang tua. Dimaklumi aja dulu, tapi jangan juga langsung putus komunikasi karena kita kesal.

Kalau sama anak hambatannya kemungkinan cara berpikir. Apalagi kalau anak masih balita. Walopun sudah berusaha menyesuaikan dengan cara berpikir mereka, mengajarkan anak balita tentang hal seperti ini bukan sesuatu yang mudah. Seringkali bikin kita gregetan.

Pokoknya jangan berharap proses instan, deh. Tarik-ulur aja kayak main layangan. Cari waktu yang tepat. Kalau sikon lagi gak memungkinkan untuk berdiskusi, jangan dipaksain. Jangan paksakan ego orang tua bisa luluh secara langsung. Ego berbenturan dengan ego malah bisa saling meninggikan ego. Jangan juga memaksakan anak untuk langsung paham dengan yang kita mau.

Komunikasinya bisa berkali-kali untuk kemudian bisa bikin masing-masing pihak saling mengerti dan menghargai. Pelan-pelan tapi konsisten. Lagian yang namanya instan itu cuma enak di awal, kedepannya belum tentu baik :D

Apabila tejadi perbedaan pola asuh dengan pihak lain, yang perlu diingat adalah harus ada yang dominan dalam hal pola asuh. Menurut Chi, orang tua lah yang seharusnya paling dominan. Karena orang tua selain paling punya hak  juga harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Kalaupun ada keterbatasan waktu untuk mengurus anak, tetap jadi tanggung jawab orang tua untuk mencari orang yang paling dipercaya untuk mengasuk anak-anak. Jangan sampe ketika perilaku anak ada yang kurang sreg trus kita dengan entengnya bilang, "Itu gara-gara diasuh sama kakek-neneknya, makanya anak saya jadi kayak gitu." Lha, trus peran kita sebagai orang tua gimana?

Sekali lagi, postingan bukan bermaksud untuk menjelekkan orang tua sendiri, ya. Hanya ingin berbagi pengalaman karena masalah-masalah seperti ini cukup umum terjadi. Sayangnya, gak semua bisa diselesaikan dengan baik. Silakan kalau memang ada masukan lain dari teman-teman. Kita saling berbagi pengalaman di sini ;)