Keke sekarang udah kelas 5 SD. Pembicaraan tentang akan melanjutkan ke SMP mana, mulai sering dibicarakan antara Chi, K'Aie, dan Keke. Terlalu kecepetan? Enggak juga. Dari dulu Chi memang lebih suka menyiapkan sekolah dari jauh-jauh hari.

Ketika Keke baru masuk TK, Chi udah mulai mebidik kira-kira bakal masuk SD mana aja atau memilih homeschooling. Chi mulai mencari tau lebih detil tentang sekolah yang dipilih begitu juga dengan metode homeschooling. Sampai akhirnya, pilihan pun jatuh di sekolah Keke sekarang. Alhamdulillah, sejauh ini kami semua masih cocok sama sekolah ini.

Keke tentu aja dilibatkan, karena pada akhirnya dia juga yang akan sekolah. Tapi, jangan lupa pertimbangkan juga Nai. Karena Chi sih pengennya mereka tetep satu sekolah, paling gak sampai SMP. Udah ada beberapa sekolah yang dijadikan pilihan. Sedang kami pilih-pilih plus-minusnya. Pokoknya diusahan detil, dinilai dari banyak aspek. Sebelum akhirnya nanti memutuskan.

Kenapa mempertimbangkan sekolah dari jauh-jauh hari? Alasannya, sekolah itu seperti 'jodoh-jodohan'. Kami mencoba meminimalisir kejadian salah pilih sekolah dengan mencari sejak jauh-jauh hari. Apalagi kelas 6 nanti, Chi berharap Keke udah fokus sama ujian akhir aja. Gak usah diribetin lagi harus cari sekolah dimana.

Keke: "Bun, memangnya Keke harus SMA, ya?"
Bunda: "Ya iyalah. Kan dari SMP ke SMA."
Keke: "Maksud Keke, kalau pilih SMK kayak Icha boleh, gak?"
Bunda: "Boleh aja, asal Keke udah jelas minatnya kemana."
Keke: "Maksudnya?"
Bunda: "Icha itu dari dulu kan kelihatan minatnya ke seni. Ketika dia milih SMK yang sesuai sama minatnya, kita semua gak kaget. Nah, kalau Keke udah jelas minatnya kemana, gak apa-apa milih SMK."
Keke: "Emang kalau SMA gak apa-apa ya kalau kita gak punya minat?"
Bunda: "Gak gitu juga, sih. Sebaiknya kita memang sedari awal punya minat. Cita-citanya mau jadi apa. Tapi kalau SMK itu lebih khusus lagi."

Chi lalu menjelaskan perbedaan SMA dan SMK ke Keke dan juga Nai. Lho, kok jadi ngomongin jenjang SMA, ya? Padahal SMP aja belum? Hehehe, kami sekeluarga bahkan suka melakukan obrolan-obrolan ringan sampe nanti bakal kuliah apa dan dimana?

Buat Chi dan K'Aie, penting bagi kami untuk menyiapkan grand design pendidikan Keke dan Nai. Termasuk sesekali mengajak Keke dan Nai berdiskusi untuk urusan pendidikan.Penting untuk melibatkan Keke dan Nai. Karena yang akan menikmati hasilnya nanti adalah mereka. Orang tua mengarahkan berdasarkan pengalaman.

Belajar dari pengalaman pribadi, sih. Ketika lulus SMA, Chi sempet bingung mau kemana dan ngapain. Cita-cita sejaik kecil yang selalu bilang pengen jadi arsitek, mendadak lenyap keinginannya. Padahal orang tua mendukung. Tapi, ketika memilih jurusan lain, ada beberapa yang gak didukung. Akhirnya milih yang penting kuliah. Sedangkan, K'Aie kalau menurut cerita mertua dari kecil selalu jelas minatnya. Berhubungan dengan alam. Sekarang dunia kerjanya pun masih berhubungan dengan alam. Bukan untuk menyesali yang udah terjadi, tapi semoga Keke dan Nai gak mengalami kebingung-kebingungan seperti itu.

Memang seiring berjalan waktu, segala sesuatu bisa aja terjadi. Misalnya, kami berencana menyekolahkan Keke di SMP A, SMA B, lalu kuliah di Universitas C. Bisa aja semua itu buyar karena berbagai faktor. Tapi, selama perubahan rencananya itu karena alasan yang masuk akal, bukan karena kurang persiapan dan akhirnya 'yang penting bisa sekolah', rasanya yang namanya perubahan masih bisa dimaklumi.

Chi dan K'Aie sih pengennya paling lambat setelah lulus SMA mereka tau mau kemana tujuannya. Lebih bagus lagi kalau sejak lulus SMP. Untuk itu kan perlu dibimbing. Rasanya susah kalau mereka harus cari-cari sendiri apalagi tanpa dukungan orang tua.

Keke dan Nai sering diingatkan kalau tugas utama mereka dalam pendidikan adalah belajar sebaik-baiknya. Tugas orang adalah membimbing mereka belajar dan bekerja sebaik-baiknya. Mudah-mudahan apa yang sudah kami sekeluarga rencanakan bisa berjalan dengan lancar. Aamiin