Senin, 08 Desember 2014

Kurikulum Teaching With Love

Lagi heboh pro-kontra tentang kurikulum 2013, ya? Etapi, kapan sih kurikulum di negara kita gak rame dengan yang namanya pro-kontra? Dari sebelum ada kurikulum 2013 juga kurikulum yang sebelum-sebelumnya selalu rame pro-kontra. Emang gak pernah sepi kalau ngomongin kurikulum hehehe.

Kalau ditanya suka atau tidak dengan kurikulum 2013, Chi akan jawab iya. Oiya, Chi pro untuk K13 yang SD, ya. Kalau yang SMP/SMA masih no comment. Belom ngerasain hehe. Tapi terlepas dari apakah Chi pro atau kontra dengan kurikulum baru ini yang penting adalah Teaching With Love.

Kalau dikatakan Chi pro dengan kurikulum 2013, tapi bukan berarti dengan kurikulum sebelumnya Chi selalu kritik dan mengeluh terus-terusan, lho (Bisa dibuktikan dengan membaca tulisan-tulisan Chi di file metode belajar). Boleh aja berpro-kontra, tapi kalau Chi hanya fokus kepada kritik dan mengeluh malah jadinya lupa untuk mengajarkan Keke dan Nai. Padahal materi pelajaran segabruk yang harus dipelajari. Lagipula semua kurikulum itu ada ribetnya masing-masing tapi juga ada keuntungannya masing-masing. Gak ada yang 100% sempurna atau 100% buruk.

Teaching with love yang Chi terapkan adalah mengajarkan Keke dan Nai sesuai dengan karakter gaya belajar mereka. Jadi walopun materinya sama, bukan berarti Chi bisa mengajarkan dengan cara sama ke mereka. Seringkali Chi menulis kalau Keke gaya belajarnya auditori sedangkan Nai itu visual. Tentunya untuk beberapa hal, Chi harus menjelaskan dengan cara berbeda. (Silakan lihat lagi file metode belajar, bagaimana Chi mengajarkan Keke dan Nai). Chi gak bisa 100% mengandalkan ke guru. Chi juga harus terjun langsung mengajarkan Keke dan Nai.

Kesimpulannya sih, apapun kurikulumnya, Chi berusaha siap aja lah. Etapi, denger dari sumber yang (mudah-mudahan) bisa dipercaya Kurikulum 2013 gak dihentikan total, cuma dievaluasi. Judul berita di media aja yang seolah-olah dihentikan total. Kalau memang bener, syukur lah. Jangan sampe semakin melekat pemikiran "Ganti Menteri, Ganti Kurikulum." Karena buat Chi, sih, apapun kurikulumnya memang sebaiknya jangan gonta-ganti. Sempurnakan aja yang sudah ada. Dan, untuk menyempurnakan itu memang butuh proses yang gak instan. Butuh waktu panjang juga buat pembiasaan.

Mungkin untuk orang tua yang mempunyai sedikit waktu bersama anak karena harus bekerja akan merasa kesulitan bagaimana mengajarkan anak. Waktunya aja udah habis di jalan dan di kantor. Ya, sebetulnya ang Chi lakuin di atas kan cuma salah satu cara. Untuk orang tua yang bekerja bisa dengan cara meningkatkan kualitas. Misalnya, ketika bertemu dengan anak jangan cuma nanya nilai pelajaran. Tapi, tanya juga perasaannya tentang sekolah, teman, ada kesulitan belajar atau enggak, dan lain-lain. Kasih motivasi yang bikin anak senang bukan yang membebani. Chi rasa walopun cuma 10 menit, kalau ditanya begitu bisa menambah semangat anak untuk belajar dan berprestasi, lho. Karena anak itu sebenarnya seneng kok bikin bangga orang tua. Diskusi-diskusi ringan seperti ini juga termasuk teaching with love.

Masa' sih? Kan, Chi di rumah? Darimana tau kalau 10 menit aja cukup?

Iya lah Chi tau. Kan, dulu orang tua Chi dua-duanya juga bekerja. Seringkali ketemunya pagi aja sama wiken. Atau kalau masih penasaran juga, belajar aja dari orang tua yang keduanya bekerja tapi anak-anaknya tetap berprestasi dan bahagia. Di lingkungan sekitar kita pasti banyak contohnya.

Oiya, belum tertarik untuk memasukkan Keke dan Nai ke bimbingan belajar juga bagian dari teaching with love yang Chi berikan. Kasihan, mereka udah sekolah sampe lewat tengah hari. Masa' masih harus belajar lagi di bimbel. Kapan mainnya? Ngebul nanti otak mereka kalau belajar melulu hehehe. Etapi, bukan berarti orang tua yang memasukkan ke bimbel trus Chi berkesimpulan kalau mereka gak sayang anak, ya. Plisss, jangan di generalisir. Karena setiap keluarga punya pendapat dan kebutuhan masing-masing :)

Jadi, karena Chi bukan orang yang berwenang mengubah kurikulum (ada yang lebih ahli untuk hal itu). Maka, yang bisa Chi lakukan adalah mengajarkan Keke dan Nai dengan cara Teaching with Love. Apapun kurikulumnya, Chi akan berusaha agar Keke dan Nai tetap bahagia ketika belajar. Syukur-syukur kalau berprestasi juga :)

Chi: "Bu, model UASnya ganti lagi, ya?"
Wali kelas: "Iya, Ma. Karena bla.... bla...bla..."
Chi: "Oh gitu. Saya cuma nanya aja, sih. Karena apapun modelnya, tetep aja harus belajar."
Wali kelas: "Iya bener, Ma hehehe."

Obrolin ringan Chi di WA dengan wali kelas Keke. Emang iya, kan apapun modelnya tetep aja harus belajar? Nah, Chi memilih dengan cara Teaching With Love.

Bagaimana dengan teman-teman? ;)

post signature

42 komentar:

  1. betul mak..kurikulum yg hebat emang teaching with love dan aku juga sempat mak jleb dengan cara mak chi mengajarkan anak2 sempat juga batin suatu hari kalo punya anak mau tak gituin juga ahhhh :)

    BalasHapus
  2. Seperti dirimu mak Chi..aku cocok si kurikulum 2013 ni. Ga memberatkan tp juga merangsang anak jd kreatif. Tapi anakku kn msh kls 1 SD entah gmn yg di SMP or SMA
    Harapanku sih direview n diperbaiki jgn dicabut. Aku pun cb ngajarin nadia dgn gaya yg dia suka...jd meskipun kurikulumnya di bongkar pasang harapanku nadia ttp enjoy n smangat belajar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mak. Makanya syaa gak berani berkomentar untuk ranah SMP dan SMA. Belom ngerasain hehehe

      Toss! Apapun kurikulumnya, kita coba racik lagi supaya anak-anak suka, ya :)

      Hapus
  3. baru aja kemarin ngobrol sama bulekku ttg ini,kata sepupuku pas lihat jadwal ujian seneng hore gitu "ibuk...ujiannya cuma 4 hari,horeee" hahahha....ganti mentri ganti kurikulum,bias aya mak hehehe

    BalasHapus
  4. klo di lingkungan saya, yg mengeluh malah guru2nya :D
    duh, saya bnyk blajar nih tentang mendidik anak dr mak myra...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau utk K13, saya rasa memang beban paling berat ada di guru, Mak :)

      Hapus
  5. Aku juga suka kurikulum 2013 ini. Gak harus menghafal banyak yang bikin anak-anak bete. Kalau sebentar lagi dihapus,berarti siap-siap bete lagi anak-anak. Hihi

    BalasHapus
  6. saya juga selalu mengajar siswa2ku dengan cinta, shg yang tadinya mata pelajaran kimia sebagai mafia di tangan saya mereka sangat suka sekali dan saya juga dapat bonus rasa sayang dari murid2ku

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaa... asik itu, Mbak. Semoga anak-anak saya nanti kalau udah belajar Kimia juga bisa dapet guru yang asik :)

      Hapus
  7. setuju sekali dengan tulisan ini... anak-anakku juga senang dengan K13, katanya enak jadi gak ngapalin melulu, tapi dituntut kreatif juga... tapppiii.. anakku juga sama seperti Keke dan Nai, masih di SD... jadi gak tau K13 buat SMP / SMA seperti apa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. toss, Mak. Anak-anak kita cocok dengan K13, ya :)

      Hapus
  8. setuju ... gw juga suka dengan kurikulum 2013. Terlepas pro dan kontra nya.

    Setiap kurikulum ada positif dan negatifnya lah. Tinggal bagaimana penyampaiannya ke anak2 aja. Yang penting kita sebagai orangtua gak lepas mendampingi mereka belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, Mb. Apapun kurikulumnya, sebaiknya orang tua gak lepas tangan :)

      Hapus
  9. Ya ...
    saya rasa ... apa pun kurikulumnya ... kita itu harus mendidik anak-anak dengan cinta ...
    saya merasa setiap kurikulum itu baik ... tepatnya ... pasti ada baiknya ... kan dipikirkan oleh para ahli ... yang saya yakin melalui penelitian yang tidak sebentar ...
    Bagaimanapun ... basis pendidikan yang paling utama adalah ... keluarga ...

    salam saya Chi
    (8/12 : 24)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, Om. Keluarga adalah basis pendidikan :)

      Hapus
  10. Sebaiknya jangan mencela karya orang, kalau mau direvisi ya direvisi saja ya.
    Anak-anak memag harus tetap rajin belajar, apapun kurikulumnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, setiap kurikulum ada plus-minusnya. Dan, anak-anak harus tetap rajin belajar :)

      Hapus
  11. saya sebenarnya cocok dengan kurikulum 2013 mak, asal gurunya pandai menyampaikan materi. Tapi yang terjadi di sekolah Fawaz, gurunya aktif, bahkan Fawaz mampu menguasai materi, harusnya kalau materi K-13 maka soal ulangan dari Diknas juga per tema kan? ternyata Diknas mengeluarkan soal per materi pelajaran, gimana saya tidak bingung? Mau tau surat edaran Mendikbud tentang kurikulum 2013 yang akan dihentikan? Bisa baca disini http://ruangemak.blogspot.com/2014/12/kurikulum-2013-dihapus.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sudah baca surat edaran itu, Mak. Sudah banyak beredar di timeline saya hihihi. Kebetulan sekolah anak-anak saya udah berjalan 3 semester jadi gak termasuk yang dihentikan sementara.

      Kalau masalah ujian yang per tema atau enggak, sejak pertama kali sekolah saya menggunakan K13 juga beda-beda. Nanti per tema, trus ganti lagi per matpel. Semua ada plus minusnya, sih. Wlaopun enaknya memang seragam.

      Tapi, guru-guru di sekolah anak-anak saya terus memperbaiki. Ketika ulangannya menjadi per matpel, mereka membantu memberi tau halaman berapa aja untuk matpel tertentu. Misalnya untuk IPA hal sekian, sekian, dan sekian. Begitu juga untuk pelajaran lain. Mereka juga membantu bikin rangkuman serta contoh soal untuk masing-masing matpel. Jadi, memang apa yang dilakukan sekolah itu snagat membantu saya untuk mengajari anak-anak.

      Hapus
  12. Teaching with love dan bikin anak tidak merada terbebani emang penting banget mba Myra.

    BalasHapus
  13. Mak Chiiiiiiiiiiii.. aku setuju banget ^^
    Baru tadi aku ngomong sama temenku, "Ya udahlah, mo ganti kurikulum atau nggak, toh guru pertama anak-anak kita ya kita ini," hihihi.. sok dewasa banget yakkk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak sok dewasa juga, sih. Tapi memang seharusnya begitu hehe

      Hapus
  14. Anak2 sekarang pelajarannya berat2 dan pulang nya juga sore2 #Kasihan

    BalasHapus
    Balasan
    1. K13 gak terlalu berat pelajarannya. Anak saya juga gak sampe sore amat pulangnya :)

      Hapus
  15. kurikulum pembelajaran dalam keluarga yang mampu beradaptasi dengan kurikulum apapun ya Jeng Chi. Siip Jeng Chi guru pribadi KekeNai yang menerapkan teaching with love.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Saya mencoba beradaptasi aja ketimbang terlalu mengeluh

      Hapus
  16. Kalau menurut aku, kurikulumnya sudah bagus. Hanya saja terkesan dipaksakan untuk penerapannya. Dari diskusi dengan beberapa teman guru, katanya mereka masih butuh waktu dan pelatihan2 untuk kurikulum itu.

    Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang butuh sosialisasi dan banyak latihan. Saya sendiri gak tau persis ukuran 'kematangan' kurikulum tersebut kaena gak ikut menyusun. Tapi, terlepas dari apakah kurikulum tsb sudah matang atau blm, tetap aja ada masa adaptasi. Di masa adaptasi memang biasanya lebih berat prosesnya

      Hapus
  17. Saya termasuk yang suka dengan kurikulum 2013, bukan apa2, hanya karena Fauzan nyaman dengan kurikulum ini. Dia lebih menikmati cara belajarnya dan gurunyapun mendukung.
    Kalau toh akhirnya nanti balik lagi ke kurikulum lama, sama dengan judul ini, teaching with love. Gimana caranya orang tua membuat anak nyaman belajar. Terus didampingi tanpa perlu dihakimi :)

    BalasHapus
  18. Apapun kurikulumnya. Teaching with love jawabannya. Yess!

    BalasHapus
  19. Aisss..Bunda Keke Nai ini kalo posting mencerahkan ..ya ya ..teaching with love..paling pas emang..

    BalasHapus
  20. Iya Chi, bener. Yang namanya kurikulum ya, anak hanya bisa mengikuti. Dan dengan bimbingan orang tua, semangat belajar anak pastinya bakal meninggi. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. dukungan orang tua bisa bikin anak semangat belajar :)

      Hapus
  21. Hehehehe benar banget Mbak Myr, biar kata kurikulumnya gampang, kalau gak belajar tetap gak naik kelas :)

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge